Anisa, Ibu nakal (Part 3)

"Duh.. kalian sampai kapan sih di sini terus? Katanya tadi udahan, Tante mau masak makan malam dulu ini.. udahan yah?" kata Anisa yang masih asik mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Bentar tante, beneran terakhir kok.."

"Ampun deh Tante sama kalian ini.. ya udah.. dasar mesum" kata Anisa sambil memanyunkan bibirnya lalu melepaskan celana dalamnya lagi dengan gerakan yang erotis..

Padahal Anisa baru aja selesai mandi dan baru saja ingin mengenakan pakaiannya. Sontak mereka bersorak kegirangan melihat aksi Anisa yang akhirnya mau membuka celana dalamnya itu.

Anisa, Ibu nakal (Part 3)


"Hehe.. gitu dong tante.. duh.. wanginya badan tante, jadi gak tahan nih pengen ngentotin memek nya, pasti enak.. hehe" kata salah satu mereka sambil menciumi harumnya rambut Anisa yang masih basah dan dengan lancangnya mengocok batang kemaluannya sendiri di depan Anisa, sungguh mesum.

"Emangnya kalian apa yang dari kemarin gak mandi, bau gitu badannya.. tambah dekil aja tuh badan kalian.. hihi"
"Biarin dekil, yang penting kontol kita bisa puas ngaduk-ngaduk memek tante, hehe."
"Dasar kalian.. hmm.. kalau ntar tante yang mandiin masih mau nolak?" tawar Anisa menggoda dengan senyum manis.

"Wah.. iya deh kalau gitu tante.. hehe"
"Dasar, kalau itu kalian cepat. Tapi kan kalian berlima, ditambah Niko jadi berenam, ntar malah tante yang jadinya dimandiin peju sama kalian, gak jadi deh.." kata Anisa pura-pura membatalkan mencoba memancing reaksi mereka.

"Yaah.. enak aja gak jadi.." Salah satu dari mereka langsung merundukkan badan Anisa dan ngentotin memek Anisa dari belakang.
"Nggmmhh.. kamu ini.. main tusuk.. ajah.." kata Anisa pura-pura kesal ke remaja itu, tapi dia tetap menikmati perlakuannya. Pria itu dengan wajah kenikmatan menggenjot memek Anisa dari belakang dengan posisi berdiri, tangannya juga bermain di buah dada Anisa meremas-remasnya sesuka hatinya, yang tentu saja membuat air susu Anisa lagi-lagi terbuang percuma.

"Tante.. Windynya kok gak marah ya mamanya kita entotin kasar gini? Hehe.." kata orang yang sedang menggenjot Anisa ini karena menyadari ternyata Windy melihat ke arah mamanya yang sedang di entot itu. Mungkin Windy heran air susu mamanya yang jadi makanannya selama ini malah dibuang-buang gitu. Tapi Anisa malah tertawa karenanya dan tetap membiarkan tangan liar remaja tersebut tetap di dadanya.

"Huu.. tau dari mana kalian, Windynya marah tuh.. iya kan cayang? Masa mama.. kamu dientotin gini? Ayo Windy marahin mereka.. ayo.. kalau perlu aduin mereka ke Papa.. hihi" lagi-lagi Windy yang nggak mengerti apa yang dikatakan mamanya itu cuma bisa tertawa karena menganggap mamanya sedang bercanda padanya.

"Ihh.. Windy, kamu kok malah ketawa sih.." kata Anisa pura-pura sebal, para remaja di sana malah ikut tertawa karenanya. Pria ini melanjutkan lagi menyetubuhi istri orang itu dengan buasnya di depan anak-anaknya itu, sedangkan yang lain setia antri menunggu sambil menggerepe-gerepe badan Anisa.

"Cepetan lo kampret, gue udah gak sabar nih ngentotin ni cewek" kata pria disana kasar yang sepertinya sudah nggak sabaran mengantri.
"Berisik lo njing.. gue belum selesai nih pejuin ni memek, pengen gue bikin hamil nih istri orang.. huahaha" balas orang yang menyetubuhi Anisa nggak kalah kasarnya. Memang pergaulan teman-teman Jaka ini sungguh kacau sekali, mereka memang sudah terbiasa berkata kasar begitu dalam kesehariannya. Mereka lebih mirip preman dan berandalan meski status mereka masih pelajar SMA, itu memang karena kebiasaan mereka yang doyan malakin orang, cabut dan tawuran, ditunjang dengan wajah mereka yang sudah ancurnya dari sana.

"Hush.. kalian ini.. nggh.. omongannya kasar dan jorok amat, ntar anak-anak tante terpengaruh.. Niko kamu jangan tiru mereka ya sayang?" kata Anisa tersenyum ke Niko yang dari tadi cuma kebagian melihat saja.

"Huahaha.. baru sadar gue ada dia di sini. Niko, makasih yah nyokap lo.. gue hamilin boleh yah?" boleh dong.. huahaha" Niko cuma diam dengan sedikit nyengir mendengar omongan pria itu.
"Jangan diam aja lo njing!! Jawab!! gue hamilin yah mama lo ini?" tanyanya lagi membentak hingga membuat Niko tersentak kaget.
"Hush.. Jangan kasar gitu ah kamu ke anak tante, tante gak suka.. Niko, ditanyain tuh.. jawab dong sayang.."

"Ngg. b..boleh" jawab Niko yang sebenarnya membolehkan cuma karena ketakutan, Anisa cuma tersenyum kecil mendengar jawaban anaknya.
"Hehe.. gitu dong.. gue bakal bikin mama lo hamil huahaha"
"Enak aja lo yang hamilin, gue mestinya.. udah untung gue ajak lo semua kemari, kalau gak lo pada cuma bisa ngentotin perek murahan" kata Jaka yang nggak mau kalah.

"Hihi.. apa-apan sih kalian, berebutan gitu pengen hamilin tante.. gak pengen sia-siain kesempatan yah kalian? Huuu. berhadapan dulu ya sama Om.. hihi" tentu saja mereka nggak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, kapan lagi bisa menyetubuhi istri orang secantik Anisa, apalagi sampai memiliki anak dari Anisa.
"Ayok.. mana sini suami tante kita hajar rame-rame.. huahaha" kata mereka yang terdengar sangat menghina.
"Ckckck.. beraninya keroyokan, emang dasar preman kampung kalian.. Udah ah.. lepasin dulu, katanya mau mandi kan?"

"Ntar aja deh tante.. bisa diatur itu.. tapi ntar saya pejuin lagi yah memek tante? Boleh kan Anisa sayang? Hehe.." katanya kurang hajar cuma memanggil nama.
"Tuh kan.. kalian ini memang.. iya-iya, pejuin deh rahim Anisa ini sesuka hati kalian, puas? Dasar.. Kalau Tante beneran hamil dari kalian bisa repot ini, soalnya suami tante gak tahu mesti menghajar siapa di antara kalian? Hihihi.." kata Anisa yang masih saja bercanda tapi tetap nafsuin, membuat remaja yang sedang menggenjot Anisa makin nafsu dan mempercepat adukan kontol nya sehingga membuat Anisa merintih-rintih karenanya.

"Ngmmhh.. awhh.. sakit.. duh.. pelan-pelan dong sayang.."
"Oughh.. ahh.. gila, sedap bener nih memek.." racau pria itu. Mereka terus bersenggama dengan hebatnya. Anisa sendiri malah masih tetap berusaha sesekali tersenyum ke bayinya Windy yang masih saja asik memperhatikan dirinya itu, seakan memperlihatkan mamanya yang sedang berselingkuh dan di entot orang dengan kasar ini adalah hal yang biasa.

Dengan masih di entot dari belakang, Anisa lalu bertopang dengan kedua tangannya pada tempat tidur di dekat Windy terlentang, sehingga kini Windy berada persis disebelah mamanya yang sedang di entot dengan kasarnya ini.
"Kamu.. ngghh.. udah pintar ya cayang ngghh.. gak ngangguin mama ngentot lagi.. Udah biasa ya kamu liatin mama ginian? Ngghh.. Sayang banget kamu masih kecil, kalau gak kan bisa ikutan ngewe bareng mereka.. hihi" kata Anisa sambil menggelitik-gelitik badan Windy. Sungguh gila omongan Anisa bicara seperti itu ke anaknya ini.

"Haha.. iya tuh, ntar kamu bisa ngerasain ‘susu kental’ kita kaya mama kamu ini.. cepat gede makanya.." potong pria disana ikut-ikutan.
"Huu.. maunya kalian, mereka nakal yah cayang? Masa udah ngentotin mamanya, kamunya nanti juga mau dientotin.. padahal kan masih belasan tahun lagi.. hihi"
"Gak apa tante.. bakal kita tungguin kok. mamanya aja cantik gini, pasti anaknya juga.."
"Gombal kalian, gak janji ya.. haha"
Pria yang nggak sabar kini ikutan naik ke atas ranjang dan memposisikan kontol nya dii depan mulut Anisa, lalu dengan seenaknya memaju mundurkan kontol nya ke mulut wanita cantik ini, sehingga Windy kini melihat mamanya di entot depan belakang dari jarak sedekat ini.

"Plop" bunyi mulut Anisa yang melepaskan kontol itu.
"Ntar kalau kamu mau semprot di mulut tante bilang-bilang ya.. ntar peju kamu kena Windy, bisa bau peju dia nanti.. hihi" Pria itu cuma tersenyum dan kembali membenamkan kontol nya lagi ke mulut Anisa. Anisa kembali di entot depan belakang dengan kasarnya di depan anaknya ini, bahkan saat mulutnya tersumpal kontol pun dia juga sering tersenyum melirik ke Windy dan menggelitik-gelitik anaknya itu.

"Tante.. mau keluar.. arrggghh. Terima peju saya tante.. moga hamiil" racaunya.
"Saya juga tante.." kata pria yang menggenjot mulut Anisa. Anisa berusaha agar tetap menahan kontol itu di dalam mulutnya sambil melirik tersenyum pada pria di depannya ini.
"Croot.. croott" Sperma pria itu pun keluar dengan banyaknya di dalam mulut Anisa berbarengan dengan yang tumpah di memek nya. Akhirnya mereka melepaskan kontol mereka dari sarang-sarangnya.
"Anyir banget peju kamu, agak kuning lagi.. makan apa sih kamu? ueekk.. mau lihat tante telan juga nih?" kata Anisa setelah menumpahkan sperma itu ke tangannya.
"Iya dong tante, sayang kalo buang-buang"
"Dasar kamu.. nih liat deh" Anisapun memasukkan lagi sperma itu ke mulutnya, memperlihatkan sperma di mulutnya itu dan akhirnya menelannya.
"Ehem.. duh.. Eneg tante nelannya, peju kamu yang paling anyir yang pernah tante telen.. jadi bau gini seruangan, iya kan Windy? Kamu juga kebau kan cayang?"

"Udah? Puas kan kalian?" kata Anisa sambil membersihkan sisa-sisa sperma disela bibirnya.
"Kita belum tante.. " kata pria lain yang belum dapat bagian.

"Huh.. gak ada habisnya kaliannya.. hihi.. ya udah sini.. langsung sekali tiga aja" tantang Anisa dengan telunjuknya. Merekapun langsung menyerbu Anisa, batang-batang kontol mereka yang sudah tegang dari tadi berusaha untuk masuk ke masing-masing lubang Anisa, ketiga lubang Anisa kini kembali dipenuhi kontol , dan tetap mereka lakukan di samping Windy!! Suara desahan dan racauan vulgar merekapun terdengar bersahutan. Ya.. Windy masih saja diperdengarkan kata-kata vulgar, diperlihatkan adegan mesum mamanya, bahkan sampai diakrabkan dengan bau peju. Entah apa yang terjadi pada anaknya ini besok.

"Klentanggg!! Klentenggg!!" tiba-tiba suara gaduh dari bawah mengagetkan dan menghentikan aktifitas mesum ria mereka yang sedang asik-asiknya.

..
..

Sore hari itu, suaminya telah berada di depan rumahnya, dia memarkir mobilnya cukup jauh dari rumahnya. Tentu saja istrinya nggak tahu kalau dia sudah pulang sekarang. Dia ingin mengecek keadaan istrinya diam-diam. Dia ingin menjawab keraguan di hatinya saat ini. Dengan perlahan seperti maling dia masuki pekarangan rumahnya sendiri. Dia putuskan untuk mengecek isi rumah dari jendela samping. nggak ada yang aneh dilihatnya, keadaan di dalam malah tampak begitu sepi seperti nggak ada orang. Apa mereka nggak ada di rumah? Pikirnya.

Namun rupanya terdengar samar-samar suara istrinya dari dalam, ternyata mereka ada di rumah, tapi apa yang sedang dilakukan istriku? Batin Panji karena heran mendengar suara-suara rintihan istrinya tersebut. Tapi untung saja Panji belum berpikir kalau itu adalah suara rintihan istrinya yang sedang kenikmatan di entot.

"Klentangggg!! Klentenggg!!" tanpa sengaja dia menendang tumpukan kaleng bekas minuman soda yang ada disana.
"Sial, bikin kaget" batin Panji.

Dia lalu memutuskan untuk memasuki rumah melalui pintu depan dengan kunci duplikat yang dia miliki. Dia masih melakukannya perlahan. Tetapi di dalam sini memang begitu sepi, apa mereka sedang di kamar? Pikirnya lalu mulai menuju kamarnya di lantai atas.

"Duaaagggh" tiba-tiba sebuah benda tumpul menghantam kepalanya dengan keras dari belakang. Telinganya berdenging. Perlahan Panji merasa semuanya menjadi gelap, seketika dia jatuh dalam pingsannya.

..
..

Panji akhirnya tersadar beberapa jam kemudian. Sosok istrinya lah yang pertama dia lihat.
"Sayang.. udah bangun?" terdengar suara istrinya. Saat dia mencoba bangkit kepalanya masih terasa begitu sakit hingga dia mengurungkan niatnya untuk bangkit.

"Awwhh.."
"Masih sakit yah Pa? itu tadi teman Niko yang pukul.. dia kira Papa maling. Papa sih masuk rumah kaya gitu.."

"Kenapa sih Pa masuk diam-diam gitu? Papa curiga ya mama macam-macam di belakang Papa?" Panji merasa malu sekaligus merasa bersalah mendengar perkataan istrinya itu. Kenapa dia melakukan sampai sejauh ini, nggak mungkin istrinya berselingkuh di belakangnya bukan? Kata hati Panji.

"Papa tidur aja dulu.. masih sakit kan?" tawar Anisa. Panji senang istrinya begitu perhatian pada dirinya. Istrinya nggak tampak seperti mengkhianati dirnya. Maafkan Papa ma, berperasangka buruk padamu, batin Panji dalam hati. Panjipun melanjutkan istirahatnya dengan perasaan lega dan yakin kalau istrinya memang benar-benar setia padanya.

"Ma.. maaf yah.." kata Panji pelan sebelum memejamkan matanya. Istrinya cuma tersenyum manis mendengar perkataan maaf suaminya. Ya.. cuma tersenyum manis. Suaminya masih belum mengetahuinya, dan tadi itu benar-benar hampir ketahuan. Bahkan gilanya saat Panji pingsan tadi para remaja tersebut masih sempat-sempatnya menyetubuhi Anisa, tentu saja karena mereka merasa tanggung. Terpaksa Anisa layani mereka dulu diam-diam sampai mereka akhirnya mau juga pulang.

..
....

Tapi malam itu Panji terbangun dari tidurnya, dia nggak menemukan istrinya disebelahnya. Dia lihat jam telah menunjukkan pukul satu malam. Dia memutuskan untuk mengecek keberadaan istrinya walau kepalanya masih terasa sedikit sakit, dia nggak menemukan Anisa di kamar mandi dalam kamarnya. Dia lalu melanjutkan memeriksa keluar kamar. Rasa curiga yang sempat hilang kini datang kembali. Tapi dia berharap dia salah lagi kali ini. Dia lihat lampu kamar Niko masih menyala jam segini, apa istrinya ada di sana? pikirnya. Dia putuskan menuju kamar anaknya tersebut. Pintu kamar Niko tampak nggak tertutup sempurna, memberinya cukup ruang untuk dapat mengintip ke dalam.

Deggh!!!
Apa yang dilihat oleh Panji betul-betul nggak dapat dia percayai. Istrinya cuma mengenakan celana dalam bersimpuh di depan anaknya. Tubuh putih indahnya hampir terpampang seluruhnya di depan anaknya. Tampak Anisa sedang menggenggam kontol anaknya itu, mengocoknya perlahan dengan lembut sambil tersenyum ke arah Niko. Darah Panji berdesir melihat Anisa melakukan hal tersebut ke anaknya.

Anisa lalu menjepitkan kontol Niko di belahan payudara montoknya, membiarkan anaknya menggoyangkan pinggulnya di sana. Tampak kontol Niko gergesekan dengan nikmatnya hilang timbul di antara jepitan buah dada Anisa.

"Enak sayang?" kata Anisa dengan mengerlingkan matanya ke Niko.
"Enak mah.. oughh"
"Hihi.. nih mama tambahin" Anisa kemudian meremas buah dadanya sendiri, sehingga tampak cairan susunya merembes membasahi kontol anaknya dan dadanya sendiri. Memberikan mata anaknya sebuah pemandangan yang begitu luar biasa.

Apa-apaan ini? Panji yang melihat hal tersebut betul-betul nggak percaya. Itukah yang dilakukan istriku saat aku nggak di rumah? Geramnya. Ingin sekali dia melabrak mereka, tapi tunggu, nggak cuma Niko seorang di sana, ternyata ada satu orang lagi. Ya.. Jaka, teman anaknya itu juga berada di sana. Kini giliran Jaka yang mendapatkan kenikmatan di-titjob oleh Anisa. Memberikan Jaka kenikmatan seperti yang didapatkan Niko tadi.

"Buruan tante.. udah gak tahan.." pinta Jaka nggak sabaran.
"Hihi.. gak sabar yah kamunya? bentar, masih belum.. sini masukin kontol kamu ke mulut tante" tanpa menunggu disuruh dua kali Jaka segera membenamkan kontol nya ke dalam mulut Anisa. Hati Panji begitu sakit menyaksikan ini, melihat bocah itu dengan seenaknya menggenjot mulut istrinya. Tampak bibir tipis istrinya mengapit batang hitam Jaka dengan rapatnya. Goyangan pinggul Jaka semakin kencang memompa mulut Anisa, lalu dengan menahan kepala Anisa dengan tangannya Jaka coba memasukkan seluruh batangnya sampai mentok ke kerongkongan Anisa. Panji pikir istrinya bakal kewalahan menerima batang kontol itu, tapi dengan mulut penuh kontol Anisa malah tampak berusaha tersenyum melirik ke Jaka, lalu...




..melirik ke arah tempat Panji berdiri.

Panji terkejut bukan main, jantungnya berdegub kencang, darahnya berdesir. Istrinya melihat ke arahnya. Apa Anisa tahu kalau sedang diintip olehku dari tadi? Atau.. dia memang sengaja memperlihatkan ini padaku? Pikir Panji. Tubuh Panji jadi panas dingin dan lemas karenanya. Pandangan Anisa kini kembali menuju ke Jaka dan tersenyum pada remaja tersebut. Tapi sekali lagi, mata Anisa melihat ke arah tempat Panji berdiri. Panji menjadi benar-benar yakin kalau istrinya memang sengaja memperlihatkan ini padanya.

"Enak sayang?"
"Enak tante.."
"Niko, kamu mau juga? Sini.." tawar Anisa ke Niko. Kini mulut Anisa dijejali kontol anaknya sendiri. Lagi, mata Anisa melirik ke tempat Panji berdiri. Apa ini? apa yang sebenarnya terjadi disini? Batin Panji gak mengerti. Kenapa Anisa sengaja menunjukkan ini padaku? Apa dia sengaja membuatku cemburu dan marah? Tapi kenapa? Panji nggak tahu apa yang ada di pikiran Anisa. Dia merasa seperti orang bodoh, ternyata prasangkanya selama ini tidaklah salah. Padahal dia baru saja ingin melabrak mereka. Tapi kenapa? Kenapa aku cuma diam saja sekarang menyaksikan semua ini?

"Ma.. enak.. mau keluar.." erang Niko.
"Keluarin sayang.. tumpahin semuanya ke mulut mama kamu ini.."
"Maa.. Niko.. keluaaaar. argghh.. arghh.."
"Croot. crooot" kontol Niko menumpahkan sperma dengan banyaknya ke mulut ibu kandungnya itu. Semua itu terlihat jelas oleh Panji di luar sini, bagaimana mulut istrinya ditembaki sperma anak kandungnya itu dengan telak. Dan lagi, mata Anisa melirik ke arah Panji berdiri dengan mulut masih berlumuran sperma Niko.

"Lihat nih sayang.. mama telan peju kamu.. Papa kamu gak pernah lo mama telan pejunya.. hihi" kata Anisa sambil tersenyum ke Niko.

Hati Panji semakin sakit, kepalanya sekarang juga kembali terasa sakit, dia bangkit beranjak dari sana karena nggak ingin melihat ini lebih jauh. Dia nggak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Istrinya yang dia kenal selama ini begitu saleh dan santun melakukan perbuatan hina tersebut. Terlebih istrinya melakukan itu dengan anaknya sendiri. Dia kembali ke kamarnya, ingin mencoba nggak mempercayai apa yang dia lihat barusan, diapun tertidur nggak lama kemudian berharap ini semua cuma mimpi.

Esoknya, tampak istrinya berperilaku biasa saja seperti nggak terjadi sesuatu tadi malam. Apa itu benar cuma cuma mimpi? Tapi itu terlalu nyata, dan aku yakin itu bukan mimpi, pikirnya. Istrinya mengobrol dan bercanda seperti biasa saat mereka sarapan, nggak menunjukkan perubahan sama sekali. Kenapa? Apa maksudnya semua ini? Apa aku punya salah padanya? Apa nafkah batinku nggak cukup? Rasanya nggak demikian, dirinya sungguh gak mengerti.

"Suka Pa?" tanya Anisa pada Panji.
"Ha?" Panji bingung dengan maksud pertanyaan istrinya itu. Tapi Anisa cuma tersenyum sambil beranjak menuju dapur meninggalkan suaminya dengan pertanyaan di benaknya. Panji sebenarnya bisa saja bertanya apa yang sebenarnya dia lihat tadi malam pada istrinya itu, tapi dia nggak ingin mengungkitnya. Atau aku memang suka melihat istriku seperti itu? Pikirnya. Sisa hari itupun berlalu seperti biasa.

Malam berikutnya Panji sengaja bangun pada jam yang sama dengan malam sebelumnya untuk memastikan kalau yang dilihatnya tadi malam itu memang bukan cuma mimpi. Tampak pintu kamar Niko juga nggak tertutup rapat kali ini. Dan benar saja, dia melihat istrinya bersama mereka, bahkan kali ini sedang di entot oleh anaknya Niko, sedangkan Jaka berada di sebelahnya sedang dihisap kontol nya. Pemandangan yang membuat Panji tertegun dan nggak sanggup berkata-kata. Kakinya gemetar. Dia yakin kalau ini memang bukan mimpi. Panji begitu geram, bagaimana mungkin istrinya melakukan hal itu, bahkan dengan anak kandungnya sendiri. Tapi ternyata dirinya terbawa nafsu melihat istrinya lagi dientot kontol orang, adegan ngentot antara istrinya dengan kedua anak remaja itu, yang sedang menikmati sexy tubuh dan binal istrinya di depan matanya sendiri. Tanpa sadar kontol nya konak melihat istrinya di entot 2 orang. nggak.. ini nggak benar.. kenapa aku jadi begini meliihat mereka? batin Panji.

"Terus sayang, entotin ibu kandung kamu ini.. ayo kasih pemandangan yang bagus.." kata Anisa yang sepertinya tahu kalau suaminya sudah berada di depan pintu.
"Kamu juga Jaka sayang.. masukin aja kontol besar kamu sesuka hati kamu ke mulut tante.. puas-puasin aja entot mulut tante" sambungnya.

Sambil masih di entot mereka, Anisa sesekali masih melirik ke tempat Panji berdiri. Panji yang melihat itu semua betul-betul nggak mengerti apa yang dia rasakan saat ini, dia begitu geram melihat kelakuan istrinya tapi dia juga terangsang karenanya. Ya.. ini sama dengan kejadian dengan Niko dulu. Ketika Anisa menggoda Niko sedemikian rupa yang membuat Niko marah dan kesal. Tapi kini Niko yang membantu mamanya membuat perasaan Papanya campur aduk seperti itu. Sungguh takdir yang kejam bagi keluarga mereka.

"Hentikan.." kata Panji pada mereka yang akhirnya tiba-tiba masuk. Akhirnya dia putuskan untuk menghentikan kegilaan ini. Kehadiran Panji membuat mereka menghentikan aktifitas mereka. Tapi sepertinya mereka nggak menunjukkan ekspresi keterkejutan sama sekali.

"Ma? Kamu apa-apaan hah?" tanya Panji merasa sangat kecewa dan marah pada Anisa. Mencoba mengetahui alasan istrinya melakukan ini semua.
"Papa marah? Papa gak suka ya?" kata Anisa balik tanya. Sebuah pertanyaan yang nggak sepantasnya dia tanyakan pada suaminya saat ini. Anisa kemudian tersenyum lalu melanjutkan bicaranya lagi.

"Mama cuma kasih mereka pelajaran tentang seks aja kok pa.. dari pada nanti mereka gak tahu harus ngapain saat berhubungan, iya kan pa?" sebuah pernyataan yang terkesan dibuat-buat oleh Anisa.
"Mama juga bantu mereka biar lebih tahan lama.. itu aja kok Pa.." jawab Anisa enteng.
"Tapi apa harus sampai sejauh itu ma?"

"Gak apa kan pa? mama juga gak keberatan kok.. Papa keberatan?" Panji sangat geram dengan perkataan istrinya. Dengan santainya istrinya mengatakan kalau itu cuma sebuah pelajaran. Tapi Panji nggak tahu kenapa dia seperti terbius melihat ini semua. Kenapa pemandangan tadi membangkitkan birahinya. Melihat istrinya sendiri lagi ngentot dengan anaknya dan teman anaknya itu. Anisa melirik ke suaminya lalu tersenyum.

"Papa mau lanjut melihat?"
"nggak!! Hentikan ini semua.. kalian gila" teriak Panji. Anisa cuma tersenyum lalu bangkit dari ranjang dan berdiri menuju lemari pakaian. Dia pilih salah satu baju tidurnya untuk dia kenakan.

"Ya sudah kalau Papa gak suka, mama pakai lagi baju mama" kata Anisa mulai mengenakan pakaiannya menuruti perkataan suaminya. Sekali lagi, entah apa yang membuat Panji jadi berubah pikiran. Dia begitu sakit hatinya, tapi dia nggak memungkiri adanya sebuah perasaan aneh dan bergejolak melihat istrinya di entot orang lain. Istrinya yang dia kenal selama ini begitu sopan, santun dan setia padanya, tapi kini.. inikah sisi lain istriku? Dan kenapa.. aku ingin masih terus melihatnya.

"T..tunggu ma" kata Panji, Anisa melirik ke suaminya tersebut.
"Ya Pa?"
"B..boleh"
"hmm?? Boleh apa Pa?"

"B..boleh lanjutkan kalau mama mau lanjut" kata Panji. Dia nggak tahu apa yang membuatnya berkata demikian. Memperbolehkan istrinya melanjutkan hal itu? Dia pikir dirinya sudah gila.
"Papa yakin?" tanya Anisa memastikan, Panji cuma mengangguk. Lagi, Anisa tersenyum ke Panji. Sebuah senyuman yang nggak dapat dipahami artinya oleh dirinya.
"Makasih ya pa.. kalau Papa mau lihat dari dekat boleh kok.. Papa pasti suka kan?" kata Anisa manja pada suaminya.

"Hehe.. iya, om bakal suka kok" kata Jaka ikut-ikutan. Panji memandang sinis pada bocah itu. Bocah sialan, ini pasti gara-gara kamu, geram Panji. Jaka yang mengerti apa yang dipikirkan Panji malah tersenyum licik dan tertawa cengengesan, membuat Panji ingin sekali menghantam wajah buruknya itu. Panji juga mengalihkan pandangannya ke arah Niko, dia lihat Niko cuma diam dan merunduk, sepertinya dia ada perasaan bersalah pada Papanya. Panji merasa seperti orang bodoh sekarang, dia merasa bagaikan badut yang jadi bahan tertawaan orang. Merasa diri sangat terhina karena perlakuan ini. Sifat plin-plan hati Panji lah yang membuat hal ini terjadi. Sepertinya sifat itulah yang diturunkan pada Niko.

"Sini pa.. liat yang dekat.. biar lebih asik.." kata Anisa menyadarkan Panji dari lamunannya. Sebenarnya Panji ragu mampukah dia melihat ini semua. Nuraninya tentu saja menolak itu semua, tapi birahinya berkata lain.

"Hmm.. Bentar deh pa.. sepertinya mama punya ide deh.." kata Anisa meninggalkan kamar itu. nggak lama kemudian Anisa kembali dengan menenteng handycam di tangannya.
"Nih pa.. Papa cuma mau lihat aja kan? lebih baik kalau Papa sekalian bantuin ngerekam" kata Anisa. Darah Panji berdesir mendengar permintaan istrinya itu. Anisa minta perbuatannya itu direkam oleh suaminya!! Bahkan bibirnya tersenyum saat meminta hal itu!! Panji nggak tahu apa yang dipikirkan istrinya, ini terlalu dalam mengaduk-aduk emosinya.

"Kok ngelamun sih pa? bingung? Hihihi.. gini loh pa.. Mama pikir ntar hasil rekaman ini bisa jadi bahan ajaran untuk Niko dan teman-temannya tentang seks, boleh kan pa? kalau gak mau dikasih gratis ntar kita jual aja ke mereka pah.." gila apa omongan Anisa, menawarkan dirinya menjadi model video porno untuk disebar ke teman-teman Niko dengan dalih sebuah pelajaran. Panji sendiri nggak tahu apakah omongan istrinya ini serius atau nggak.

Seperti terhipnotis, Panji malah menerima handycam itu. Entah kenapa dia menyetujui permintaan gila istrinya itu. Merekam orang terkasihnya di entot oleh orang lain dan anaknya sendiri.
"Yuk mulai tante.. udah gak tahan nih.." suruh Jaka nggak sabaran.
"Iya..iya.. tuh, akhirnya kamu bisa nunjukin ke om gimana kamu ngentotin tante, udah puas kan kamu? Dasar.." kata Anisa mencubit pipi Jaka.

"Pa, mulai yah.." kata Anisa melirik ke Panji lalu tersenyum padanya. Jaka yang memang belum dapat bagian dari tadi langsung mencumbu Anisa. Menyeret Anisa ke atas ranjang dengan kasarnya. Panji yang melihat itu tercengang melihatnya. Sungguh kurang ajar sekali bocah itu memperlakukan istrinya, tapi dia nggak menyangka kalau istrinya malah tertawa cekikikan kegelian karena ulah Jaka ini, yang menyeretnya kasar dan langsung menindih tubuh istrinya. Dan Panji juga nggak menyangka kalau dia konak melihat itu.

"Duh.. Jaka.. awh.. gak sabaran amat main himpit aja.. kasar yah Pa Jakanya?" kata anisa melirik ke suaminya.
Sambil bergumul dengan Jaka, mata Anisa selalu berusaha memandang ke suaminya yang sedang merekam perbuatan mereka. Anisa seperti ingin mengatakan ke suaminya bahwa inilah yang selama ini istri cantiknya lakukan saat suaminya nggak ada di rumah ataupun saat suaminya lengah. Mereka saling berpelukan di atas ranjang, saling berciuman dan mencumbu satu sama lain. Jaka sangat asik memainkan lidahnya di dalam mulut Anisa, begitu juga Anisa yang memasukkan lidahnya ke mulut Jaka.

"Enak bibir tante, manis.. hehe" kata Jaka.
"Manis? Tapi jangan ditelan yah bibir tante, cukup susu tante aja yang ditelan.. hihi" balas Anisa.

Mereka terus bergumul di atas ranjang dengan panasnya. Tubuh merekapun terlihat sudah mengkilap karena berkeringat. Gilanya, Anisa kini bahkan menjilati secara perlahan keringat yang mengalir di dagu Jaka, tentunya melakukan itu dengan melirik ke kamera, ke arah suaminya yang sedang merekam aksi tersebut, sungguh erotis dan liar sekali. Tampak tetesan keringat jaka berpindah ke lidah Anisa yang terjulur menjilati wajah Jaka. Sebuah scene yang betul-betul panas terekam oleh lensa handycam itu.

Jaka juga mengulum dan menjilati seluruh permukaan buah dada Anisa, membuat air susu Anisa mengalir ke mulut Jaka dengan nikmatnya, bahkan tampak air susu tersebut berleleran di sekitar dada Anisa yang juga dijilati oleh Jaka. Jaka yang mulutnya penuh air susu bahkan kini menyuapi Anisa dari mulut ke mulut, membuat beberapa tetes malah tumpah berleleran di dagu Anisa, tapi Anisa malah tertawa cekikikan lalu melirik ke kamera. Mereka kemudian saling membelit lidah dan berciuman sehingga lagi-lagi mereka saling bertukar air liur. Air liur yang bukan milik suaminya masuk ke mulut Anisa bahkan ditelan olehnya. Semua itu direkam oleh Panji dengan jelas. Panji sendiri cuma berdiri dan nggak dapat menggerakkan tubuhnya karena menyaksikan itu semua. Kebimbangan hatinya antara marah dan nafsu mengacaukan perasaannya. Dia malah merekam semua ini. Sial.. kenapa aku melakukan ini, batin Panji.

"Masukin yah tante..?" pinta Jaka.
"Kamu mau masukin?" sambil berkata demikian mata Anisa melirik ke arah Panji yang memegang kamera seolah meminta persetujuan suaminya.

Boleh kan pa bocah ini menyetubuhi istrimu? Menikmati lubang yang seharusnya cuma milik kamu seorang ini? boleh kan pa..? kata Anisa dalam hati. Melihat suaminya cuma diam, Anisa menganggap itu sebagai sebuah persetujuan.

"Masukin sayang.. entotin aja sepuasnya, tapi.. senyum dulu dong ke kamera" kata Anisa. Jaka menurutinya dan langsung tersenyum dengan jeleknya ke kamera, ke arah Panji. Sebuah senyuman yang seakan menghina suami dari istri yang sedang dia entot ini. Panji yang menyaksikan ini sungguh geram hatinya.

"Jleeb" kontol Jaka tampak menyeruak masuk ke dalam memek Anisa, kemudian menggenjot memek istrinya dalam posisi istrinya ditindih tubuh Jaka. Panji terpana melihat istrinya di entot remaja ini dari jarak sedekat ini.

"Oughh.. terus Jaka.. lebih kencang.. aaaahhh. iya.. terus. nggmmhh.." erang Anisa tanpa rasa malu melenguh kenikmatan di depan suaminya.
"Arghh.. Anisa.."
"Ih.. kamu, gak sopan.. nghh.. sebut nama aja ke tante.. ntar Om.. marah lho.." kata Anisa sambil melirik ke suaminya.

Hawa dalam kamar itu sudah semakin panas, badan Anisa dan Jaka kini betul-betul sudah bermandikan keringat. Kulit putih mulus Anisa dan kulit hitam dekil Jaka itu tampak saling menempel akibat keringat mereka yang bercampur itu. Mereka bersenggama sambil berguling-guling di ranjang dengan terus berciuman, tapi Anisa tetap berusaha sesekali melirik dengan senyum manisnya ke arah kamera disela-sela itu semua. Setelah sekian lama menyetubuhi Anisa dalam posisi itu, kini Jaka memutar tubuh Anisa sehingga kini Jaka yang berada dibawah.

"Sayang.. sini, masukin juga kontol kamu ke pantat mama.. entotin pantat mama kamu ini" suruh Anisa ke Niko yang cuma melihat dari tadi. Panji terkejut, apakah istrinya akan dimasuki dua kontol sekaligus. Dirinya bahkan juga nggak pernah melakukan anal seks terhadap istrinya, tapi malah anaknya sendiri yang melakukan itu kepada mamanya.

"Ayo sayang.. tunjukin dong ke Papa gimana kalian biasanya ngentotin mama.. jejalin aja sekeras yang kalian mau seperti biasa, jangan ditahan-tahan tenaga kalian.. biar Papa bisa liat, iya kan pa?" tapi Panji nggak menjawab.

Mereka mulai menggenjot tubuh Anisa secara bersamaan, kedua lubang bawah Anisa dijejali kontol -kontol mereka. Dan apa yang dilakukan Panji? Dia cuma bisa melihat sambil terus merekam itu semua. Panji merasakan perasaan itu lagi, dia begitu terangsangnya melihat pemandangan ini, sensasi melihat istrinya di entot orang lain di depan matanya. kontol nya menegang merespon pemandangan di depan matanya.
Cukup lama mereka menyetubuhi Anisa di depan suaminya, hingga akhirnya mereka gak kuasa menahan laju sperma mereka.

"Ma.. mau keluar.." erang Niko.
"Jaka juga tante.."
"Cabut sayang.. keluarin di mulut mama aja.." suruh Anisa.

Mereka kemudian mencabut kontol mereka terburu-buru dan mengarahkan kontol mereka ke mulut Anisa yang bersimpuh di atas ranjang. Anisa mengocok kontol mereka bersamaan hingga akhirnya sperma mereka tumpah dengan banyaknya.

"Aghhh.. maaaaa"
"Tanteee.."
"Croot.. crrott" Sperma mereka muntah hampir bersamaan ke dalam mulut Anisa, beberapa mengenai bagian wajahnya yang lain. Semuanya terekam dengan indahnya di depan lensa kamera bagaimana sperma-sperma mereka masuk ke mulut istrinya tersebut. Sambil menerima semprotan sperma yang bertubi-tubi itu mata Anisa melirik ke kamera, ke arah suaminya. Kini Anisa bahkan menunjukkan mulutnya yang menampung lelehan sperma itu ke kamera. Ekspresi Anisa terlihat sangat datar ketika melakukan itu, seperti nggak ada perasaan bersalah dan malu sama sekali melakukan itu di depan suaminya. Anisa lalu memainkan genangan sperma itu di dalam mulutnya, berkumur-kumur dengan sperma itu. Memuntahkannya ke tangannya lalu dia masukkan kembali ke mulutnya, hingga akhirnya dia telan seluruhnya lalu tersenyum dengan manisnya ke arah kamera, betul-betul sebuah senyuman manis seperti wanita gak berdosa, bisa-bisanya dia tersenyum manis begitu ke kamera yang dipegang suaminya setelah menelan sperma yang bukan milik suaminya.

"Enak yah tante? Kayanya tante keenakan nih nelan peju di depan Om.. hehe" ejek Jaka.
"Huh.. dasar kamu.. peju kamu tuh anyir tau, beruntung banget tuh kamu pejunya tante telen, Om aja gak pernah.. iya kan Pa?" kata Anisa sambil mengelap lelehan peju yang juga berceceran di wajahnya. Sebuah ucapan yang nggak sepantasnya dimintai tanggapan pada suaminya.

Aktifitas gila itu akhirnya selesai juga. Panji nggak tahu harus berbuat apa sekarang. Kini dia letakkan handycam itu di atas meja lalu berjalan keluar dari kamar anaknya.

"Pa.. maaf yah.." kata Anisa lirih pada suaminya. Panji cuma diam dan menoleh sebentar lalu meneruskan langkahnya. Istrinya cuma melihat saja suaminya keluar dari kamar. Hati Panji hancur, sakit, dan kecewa. Tapi dia lebih kecewa lagi pada dirinya sendiri yang nggak berbuat apa-apa yang malah ikut hanyut terbawa birahi menyaksikan itu semua. Panji memutuskan untuk kembali ke kamarnya sekarang. Dia nggak peduli apa yang akan mereka lakukan selanjutnya di sana. Dia begitu letih dibuatnya, bukan fisiknya, tapi hati dan pikirannya. Dia nggak menyangka hal ini bisa terjadi pada istrinya, pada keluarganya. Pikiran kacaunya mengantarnya tertidur malam itu. Saat berusaha memejamkan mata, butiran air bening mengalir dari matanya.

Esoknya lagi-lagi Anisa bersikap normal seperti nggak terjadi apa-apa tadi malam. Anisa mengajak Panji mengobrol seperti biasa, Panji berusaha menanggapi obrolan Anisa sebisanya walau sebenarnya hatinya gundah.

Hari-hari selanjutnya juga demikian, istrinya bersikap seperti biasanya. Anisa memang nggak pernah memperlihatkan perbuatan bejatnya itu padanya secara langsung saat siang hari, tapi dia yakin kalau istrinya memang melakukan hal bejat di belakangnya. Semua itu dilakukan sembunyi-sembunyi, tapi terkesan terang-terangan. Panji nggak ingin lagi terbangun malam hari untuk menyaksikan perbuatan istrinya. Dia juga nggak peduli apakah saat dirinya berkerja atau tidur mereka melakukan perbuatan bejat itu lagi. Dia nggak ingin menganggap kejadian itu benar adanya, dia nggak ingin menerima kenyataan bahwa itu benar-benar terjadi meski itulah kenyataan sebenarnya. Panji sendiri nggak tahu sifat diamnya itu apakah sebuah bentuk pemaafan darinya atau rasa kecewanya terhadap istrinya, dia benar-benar bingung. Jika itu sebuah pemaafan, rasanya mudah sekali dia memaafkan perbuatan istrinya itu, karena itu berarti dia menerima dan menyetujui perbuatan terlarang istrinya. Mungkinkah dia memang menyukai melihat istrinya begitu? Panji benar-benar nggak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.

"Pa.. lihat nih.." kata Anisa menunjukkan lembaran uang seratus ribuan pada Panji saat pagi hari. Tentu saja Panji bingung maksud Anisa itu. Anisa lalu tersenyum pada Panji.

"Ini uang jual dvd dari adegan yang kemarin Papa rekam itu loh.." kata Anisa menjelaskan. Apa? gila!! geram Panji. Ternyata rekaman itu benar-benar dijual. Hati Panji semakin kacau, istrinya sudah terkesan seperti pelacur dan bintang porno saja. Anisa kini malah memberikan uang itu pada Panji sambil tersenyum, entah apa yang ada dipikiran Anisa malah memberikan uang itu pada suaminya. Tapi Panji lebih bingung lagi kenapa dirinya malah menerima uang itu.

"Ntar malam datang ya pa.." kata Anisa sambil beranjak dari sisi Panji. Meninggalkan Panji yang tertunduk menggenggam lembaran uang di tangannya itu. Istrinya memintanya untuk datang lagi nanti malam? Ini sungguh keterlaluan. Panji sudah gak kuat lagi. Naruninya sudah memberontak. Dia nggak kuat untuk terus di sini menyaksikan ini semua. Semua pasti gara-gara bocah itu, Ya.. Jaka, anak itu, pikir Panji. Tangannya meremas kuat lembaran uang di tangannya itu.

Malamnya, Panji sedikit ragu apakah dia harus menerima ajakan istrinya itu lagi. Tapi entah apa yang membuat langkah kakinya berangsur dari kamarnya hingga akhirnya dia telah berada di ruang tengah. Tampak istrinya, Niko dan Jaka di sana.

"Ayo Pa.. sini.." ajak Anisa menarik tangan suaminya.
"Apa lagi Ma yang mau kau tunjukkan? Apa semua itu belum cukup hah?" tanya Panji kesal. Tampak istrinya masih berpakaian lengkap, Jaka dan Niko juga telah ada di sana. Dia betul-betul muak melihat wajah Jaka ini. Wajahnya memerah saking marahnya. Ini semua pasti gara-gara kamu bocah brengsek! Sungut Panji dalam hati.

"Kenapa Om? gak suka ya? Hehe.. Tantenya nih malah ketagihan.. iya gak tante?" kata Jaka cengengesan.
"Hush.. ngomong apaan sih kamu, ntar dihajar Om lho.." kata Anisa sambil melihat ke arah suaminya.
"Yah, cemen itu mah tante main hajar anak kecil, kita selesaikan aja di ranjang. Siapa yang paling bisa bikin tante kelojotan.. hehe" Panji geram mendengar omongan kurang ajar anak ini. Dia pikir istrinya itu apaan?

"Berani gak Om? Takut ya punya Om lebih kecil dari Jaka? Hehe.." kata Jaka melecehkan dan sungguh menghina Panji di depan istrinya sendiri.
"Mungkin sama tuh kecilnya kayak Niko" kata Jaka yang juga meremehkan anak Anisa yang dari tadi cuma berdiri di sana.
"Brengsek!!" Kata Panji mengejar Jaka dan ingin menghajarnya, tapi langkahnya dihalangi istrinya.

"Sabar Pa.." Anisa mencoba menenangkan suaminya, lalu menggoyangkan telunjuk didepannya memberi isyarat jangan. Panji kini menjadi kesal ke istrinya karena menghentikan langkahnya ini, tapi akhirnya dia bisa sedikit meredakan emosinya.

"Gimana Om? Berani tanding sama Jaka?" ajak Jaka lagi dengan nada meremehkan. Sungguh nggak mungkin rasanya menerima ajakan kekanak-kanakan bocah ini, lagian pertandingan macam apa pula itu. Apakah memang ini alasan istrinya mengajaknya lagi malam ini? Sepertinya begitu. Namun Panji akhirnya menerima ajakan Jaka bertarung dengannya. Memang gila sepertinya, tapi dia nggak ingin diremehkan bocah tanggung seperti Jaka. Lagian bisa apa bocah ini?

"Tante.. kali ini juga pakai hadiah kan?"
"Hmm? Kamu mau pakai hadiah juga? Bukannya kamu cuma mau tanding sama suami tante?"
"Iya.. biar lebih semangat tante..hehe.. "
"Dasar, emang kamu mau hadiah apa kalau menang?"

"Ngg.. gimana kalau Jaka dibolehin menghamili tante? Betul-betul sampai tante hamil anaknya Jaka. Jaka penasaran gimana anak Jaka kalau lahir dari rahim tante.. hehe" Anisa terkejut mendengarnya, terlebih Panji. Sebuah permintaan yang begitu biadab, bahkan meminta hal itu di depan suaminya sendiri.

"Hihihi.. gila kamu. Kayanya kamu emang penasaran banget yah mau bikin mama temanmu ini hamil? Tapi masa itu sih hadiahnya sayang? Gak ada yang lain?"
"Yah.. masa yang seperti kemarin-kemarin lagi sih hadiahnya.. move on dong.." kata Jaka sembarangan.

"Brengsek!! Jangan seenaknya kalau ngomong!!" geram Panji memaki bocah itu.
"Pah.. tenang.. lagian Papa gak mungkin kalah kan Pa? jadi gak apa kan Pa kalau taruhannya Jaka boleh menghamili istri Papa kalau dia menang? Mama yakin Papa pasti menang kok.." kata Anisa menenangkan. Panji sebenarnya begitu geram dengan permintaan Jaka ini. Mana mungkin dia menyetujui permintaan itu. Dia masih belum gila untuk membiarkan hal itu terjadi pada istrinya. Tapi dia merasa omongan istrinya ada benarnya, nggak mungkin dia kalah dari bocah ingusan ini. Panji nggak ingin dia diremehkan remaja tanggung seperti Jaka ini.

"Masih belum selesai tante.." potong Jaka lagi.
"Hmm? Apa lagi?" kata Anisa heran.

"Sampai tante benar-benar hamil gak boleh ada yang nyetubuhin tante, termasuk suami tante. Biar Jaka yakin kalau itu benar-benar anak Jaka.. hehe" Gila! Sungguh gila permintaan Jaka ini.

Pandangan Anisa menuju ke suaminya, meminta tanggapan suaminya tersebut.
"Terserah, dia gak bakal menang, dan kalau aku menang aku mau kamu hentikan semua ini" jawabnya. Panji pikir dia harus mengakhiri ini semua meskipun dengan cara seperti ini. Jaka sendiri cuma tertawa cengengesan mendengar persetujuan Panji itu.
"Iya pa.. tentu saja" jawab Anisa tersenyum.

Maka dimulailah pertandingan yang sebenarnya nggak masuk akal itu. Peraturannya adalah siapa yang keluar lebih lama dia yang menang. Mereka akan melakukannya bergantian dengan Niko sebagai saksinya. Jaka yang maju duluan.

"Sini tante.. Jaka tunjukin ke suami tante kalau Jaka lebih hebat.. hehe" Anisa cuma tersenyum pada Jaka dan menghampiri bocah tengik itu. Jakapun langsung menindih tubuh Anisa, mencium dan menggerayangi tubuh perempuan itu seenak hatinya di depan suaminya.

"Jaka masukin sekarang yah tante" kata Jaka sambil melirik ke Panji. Sekali lagi, Panji menyaksikan istrinya di entot di depan matanya, tetapi dia tetap nggak kuasa menolak untuk menikmati pemandangan ini, sepertinya dia sudah gila.

"Ogghh.. enak tante" erang Jaka kenikmatan sambil melirik melecehkan ke Panji, membuat Panji mengepal erat tinjunya. Melihat Panji yang terpancing emosinya malah membuat Jaka cengengesan.
"Pa.. ngmmhh.. jangan.. marah yah.. Pokoknya ntar Papa harus menangin" kata Anisa menenangkan suaminya.

Cukup lama dalam posisi itu, nggak terlihat tanda-tanda Jaka akan orgasme. Anisa nggak ingin suaminya kalah dari Jaka, diapun meminta berganti posisi supaya berada di atas. Anisa ingin dia yang memegang kendali, berusaha sebisa mungkin agar Jaka cepat keluar dengan mempercepat tempo adukan kontol Jaka dalam memek nya. Sebuah pemandangan yang begitu ganjil, seorang wanita dewasa dengan tubuh ideal sedang menunggangi bocah ingusan yang kurus, hitam dan dekil, bergoyang dengan liar dan binalnya layaknya pelacur profesional, yang gilanya dilakukan di depan suaminya sendiri, dan di atas ranjang yang biasanya menjadi tempat percumbuan dia dan suaminya.

"Ayo sayang... entot memek tante, entotin tante di depan suami tante sesuka hatimu. aargghh" erang Anisa yang sebenarnya untuk membuat Jaka semakin horny dan segera orgasme.
"Entotin tante sayang... entotin mama temannya kamu ini, jangan kasih ampunnnn memek nya. Ngecrotin aja peju kamu dalam lobang nonok tante... Bikin mama temanmu ini hamil sayang. tunjukin ke suami tante bagaimana istrinya kamu entot sampai hamil. ngmmhhh."

Tapi ternyata Jaka lebih tangguh dari yang Anisa perkirakan, malah sekarang dirinyalah yang merasa akan segera orgasme. Goyangan liarnya ternyata malah menjadi bumerang baginya, membuat dia merasakan kenikmatan yang luar biasa, terlebih sensasi karena disaksikan langsung oleh suaminya.

"Tante sampaaaaaaaaiiii.. Ngmmhhhh. Pa.. Aaaaaaaaahhhhh" raung Anisa sejadi-jadinya sambil melentikkan badan. Panji nggak pernah melihat istrinya orgasme sehebat itu sebelumnya, ironisnya hal itu nggak di dapatkan dari dirinya, melainkan dari remaja buruk rupa yang nggak jelas ini. Saat orgasme, Anisa bahkan melirik ke Panji dan memanggilnya, entah apa maksudnya, yang jelas membuat perasaan Panji semakin nggak karuan saat itu.

Anisa akhirnya rebah dalam pelukan Jaka, tapi dia segera bangkit dan melanjutkan goyangannya lagi, dia nggak ingin berlama-lama. Jakapun akhirnya keluar beberapa menit kemudian, tentu saja juga menumpahkan spermanya di dalam istri orang itu. Lima belas menit, itulah waktu Jaka.

"Pa.. harus menang yah.. jangan sampai mama hamil anaknya Jaka.." Kata Anisa pada Panji saat gilirannya. Tentu saja dia harus menang, pikir Panji.

Niko merasa aneh juga melihat orang tuanya lagi ngentot secara langsung di depannya. Tapi ternyata semua itu masih kalah panas dibandingkan menyaksikan mamanya ngentot sama orang lain. Anisa ternyata nggak merasakan sensasi seks seperti tadi ngentot dengan kontol Jaka, bahkan dia berpura-pura orgasme karena gengsi dan malu pada Jaka dan suaminya. Anisa berusaha mengatur goyangan pantat nya agar suaminya nggak segera ejakulasi. Namun ternyata Panji terlalu meremehkan Jaka, Panji ternyata cuma bisa entot memek Anisa 10 menit. Mungkin karena tekanan yang terlalu besar pada dirinya. Ya.. Jakalah yang ternyata memenangkan pertandingan gila ini.

"Brengsek..!!" teriak Panji geram.
"Kenapa Om? marah? Terima dong kekalahan Om.. Jaka yang menang dan Om gak boleh nyentuh memek dan tubuh tante lagi.. hehe"
nggak! apa-apaan ini! Dia nggak terima kalah dari bocah ini. Sebenarnya bukan karena masalah dia lebih cepat keluar dari Jaka, tapi istrinya akan diambil oleh bocah ini. Bahkan mungkin sampai dihamili olehnya. Ini masalah harga diri, masalah kehormatan. Kenapa aku menyetujui permintaannya tadi? Sial. Walaupun dia terlanjur menyetujuinya dan akhirnya memang kalah, tetap saja dia nggak bisa begitu saja membiarkan hal ini akan terjadi. Pandangannya beralih ke Jaka, dia begitu murka melihat bocah ini.

"Dasar brengsek!! Bajingan kamu!!" kata Panji mencengkram leher Jaka. Tapi terlihat ekspresi Jaka malah memandang remeh ke Panji.

"Semua pasti gara-gara kamu.. kau apakan istriku sampai dia jadi begini, bajingan??!"
"Ckckck.. Apa benar-benar Jaka yang salah Om? hehe.."
"Apa maksudmu brengsek?!"

"Apa Om tau Istri Om itu yang memang nakal, dia itu binal Om"
"Jangan sembarangan kalau ngomong bajingan!"
"Hehehe. Jadi selama ini Om nggak tahu? Apa om kira istri Om itu sebaik yang Om kira? Betul-betul kasihan Jaka melihat Om.. Apa om kira dia selama ini duduk manis menunggu Om pulang?"

Cengkraman tangan Panji perlahan melunak karena mendengar yang dikatakan Jaka ini.
"Apa Om kira ciuman dan memek tante Anisa waktu itu untuk Om aja? Apa Om kira tubuh sexy nya cuma Om yang menikmati? Apa Om juga kira cuma kita berdua yang sudah menikmati tubuh tante? Hmm? hehehe.."

"Ke.. kenapa?" kata Panji lirih. Tangan Panji kini benar-benar telah lepas dari Jaka.
"Entah lah.. mungkin karena tante Anisa memang. pelacur binal"
Panji begitu marahnya mendengar ucapan Jaka ini, tanpa sadar tangannya mengepal dan sudah mengangkat tinjunya.

"Stop Pa..!!" teriak Anisa membuat Panji berhenti.

"Gak ada gunanya main pukul begitu, Itu nggak akan menyelesaikan masalah" kata Anisa.
"Apa maksud mama?"
"Yang dikatakan Jaka memang benar, dan Papa sudah menyaksikannya bukan? Bahkan Papa sendiri yang merekamnya. Sebenarnya Mama nggak ingin Papa mengetahui rahasia Mama ini, Mama juga sebenarnya cuma ingin sedikit bersenang senang aja dan mencoba suatu sensasi seks yang baru, tapi mama terlanjur menikmati sensasi ini. Mama juga ingin tahu, apa Papa menikmati melihat mama lagi dientot orang lain? Papa suka kan melihat istri Papa di entot orang di depan mata sendiri? Papa suka kan Mama jadi pelacur orang lain?"

"nggak.. mana mungkin!!"
"Lalu kenapa Papa cuma diam? Marahin kek, tampar kek.. lakukan sesuatu untuk menyelamatkan istrimu!!"

Panji terdiam mendengar ucapan istrinya. Menyelamatkannya? Apa maksudnya?

"Apa papa tahu bahwa walaupun mama menikmati sensasi itu mama juga sedikit berharap kalau Papa melakukan sesuatu untuk menghentikan mama? Apa papa tahu kenapa mama cuma tersenyum melihat Papa nggak berbuat apa-apa? Mama merasa kecewa di balik itu!"

Hati Panji remuk mendengar itu. Jadi itukah arti senyuman istrinya? Senyuman yang dipancarkan istrinya karena dirinya yang cuma bisa diam selama ini? Istrinya berharap pada dirinya untuk menyelamatkannya dibalik itu, tapi.. kenapa dia malah menikmati istrinya di entot di depan matanya!! Istrinya disana di entot pria lain dan dia cuma diam!! Dia seharusnya melakukan sesuatu. Bukan cuma diam dan malah terhanyut menikmati pemandangan itu. Ini salahnya, dia betul-betul merasa seperti sampah karena nggak bisa menyelamatkan istri dan keluarganya. Dada Panji terasa sesak. Langit bagaikan menghimpitnya saat itu.

"L..lalu bagaimana hubunganmu dengan anakmu sendiri itu?" Katanya melihat ke arah Niko.
"Itu memang salah mama, mama terlalu menikmatinya. Tapi bukankah tadi sudah mama bilang kalau mama cuma mencoba menikmati sensasi yang baru? dan sebenarnya tugas Papalah yang menghentikan itu semua setelah mengetahuinya!! Bukan malah diam dan menikmati itu juga!!"

Hatinya makin remuk mendengar kenyataan itu, Panji jatuh tersimpuh. Jadi itukah yang sebenarnya diharapkan istrinya? Walaupun istrinya menikmati permainan nakalnya tapi ternyata di lubuk hatinya dia juga ingin diselamatkan olehku? Dia berharap aku untuk membawanya kembali dan menyadarkannya. Tapi.. aku malah membiarkannya makin tenggelam, nggak berusaha menariknya keluar dan malah ikut menikmatinya? Tuhan.. apa yang aku lakukan. kenapa jadi begini? Sial.. brengsek!!

"M..maaf.." kata Panji lirih, cuma itu yang bisa dia katakan setelah menyadari kesalahannya. Air matanya menetes menyesali dan mengutuk perbuatannya sendiri. Anisa tersenyum pada Panji.

"Terlambat Pa.. Seharusnya Papa melakukannya saat pertama kali mengetahuinya. Sekarang sudah terlalu dalam untuk mama kembali, mama sudah terlanjur menikmatinya. Sekarang mama malah nggak bisa hidup jika nggak melakukan hal itu. Walaupun tadi mama sangat berharap kalau Papa menang, tapi ternyata cara itu juga nggak membantu. Jadi sekarang istrimu ini milik Jaka dan akan mengandung anaknya, begitu kan Pa perjanjiannya?"

Anisa cuma melihat suaminya yang tertunduk dan menangis karena penyesalannya itu.
"Sudah selesai Pa ngomongnya? Mama mau lanjutkan bermain dengan Jaka dan Niko, apa Papa masih mau lihat?"
Panji masih tertunduk sambil bersimpuh di sana. Panji semakin nggak kuat menahan beban di hatinya. Ini sungguh menyiksanya.

"Ups.. sepertinya nggak yah? Ya sudah.. sampai nanti Pa" kata Anisa beranjak dari sana berbalik dari hadapan suaminya, hingga dia hilang dari pandangan Panji dibalik tembok.
"Hehehe.. Sampai jumpa Om.." tambah Jaka.
"Maaf pa.." kata Niko juga sambil berlalu meninggalkan Papanya.

Tinggallah Panji seorang diri disana yang terus meraung menyesali perbuatannya. Sakit, sakit dan sakit, itulah yang Panji rasakan saat ini. Dia nggak menyangka kenyataannya malah menjadi seperti ini. Ternyata yang sebenarnya terjadi nggak seperti yang dia pikirkan, ini di luar dugaannya, termasuk pertandingan aneh itu yang sebenarnya ditujukan padanya agar bisa menyelamatkan istrinya, tapi dia tetap nggak bisa. Sampai nanti? Seharusnya ucapan selamat tinggal yang diucapkan istrinya karena dia nggak sanggup untuk melihat wajah istrinya lagi setelah ini. Lebih baik dia yang pergi dari sini,membawa semua rasa sakitnya itu.

Panji putuskan untuk keluar dari rumahnya sendiri saat itu juga. Biarlah dia bawa semua lukanya dari rumah itu. Dia memutuskan untuk nggak akan pernah kembali lagi. Dia kehilangan istrinya. Kehilangan orang-orang terkasihnya. Semua karena sifat keragu-raguan dan plin-plannya itu.

Panji akhirnya memutuskan hidup sendiri di rumah barunya di luar kota, dia nggak tahu dan nggak ingin tahu bagaimana keadaan istrinya lagi. Anisa dan Niko pun juga demikian, mereka nggak tahu sama sekali kabar suami dan ayahnya itu.

Berbeda dengan mereka semua, Jaka memperoleh kesenangan dibalik penderitaan mereka tersebut. Dia kini betul-betul sepuasnya menyetubuhi istri Panji tersebut, ya.. hingga betul-betul Anisa hamil anaknya. Niko sendiri cuma diperbolehkan mendapat bagian selain menikmati memek yang cuma khusus untuk Jaka. Niko cuma boleh menyetubuhi ibunya lewat belakang atau mulut ibunya saja, begitu juga dengan teman–teman Jaka yang masih sesekali datang.

Anisa kini telah hamil lima bulan. Saat Anisa hamil, Niko dan Jaka masih juga menyetubuhinya. Bahkan melakukan trisome dengan tubuh hamilnya dijepit tubuh Jaka dan Niko.

"Puas kamu Jaka? Sekarang tante.. udah betul-betul hamil anak kamu.." kata Anisa terengah-engah karena permainan mereka bertiga barusan. Jaka dan Niko sendiri sedang asik menyusu pada Anisa.
"Benar tuh anaknya Jaka tante? Sebelum hari itu kan tante juga pernah dikeroyok mereka, Niko juga ikut.." kata Jaka disela-sela aksinya meminum susu.

"Ihh.. kan kamu yang paling banyak tumpahin di dalam.. anggap aja anaknya kamu.. hihi"
"Hehe.. iya deh, makasih yah tante.. Jaka jadi penasaran gimana hasilnya anak Jaka" kata Jaka mengusap-ngusap perut Anisa yang sudah membuncit itu.

"Huu.. yang pasti anaknya bakal cakep kaya mamanya dong.. hihi" tawa Anisa renyah.
"Jadi maksud tante, Jaka jelek gitu??" kata Jaka pura-pura kesal.
"Hahaha. iya dong.. emang kamu ganteng gitu??" Mereka pun tertawa dengan riangnya.
"Hehe.. biarin, yang penting bisa hamilin cewek cakep.."
"Dasar.." kata Anisa sambil mencubit gemas perut Jaka.

"Niko.. berarti sekarang gue ini bapak lo ya.. huaahahahaa.." kata Jaka ke Niko dengan tawanya yang menyebalkan itu. Niko cuma berusaha tersenyum, di hatinya tentu saja dia nggak terima temannya itu menggantikan posisi Papanya.

"Dasar kamu.. jangan mau ya Niko manggil dia Papa.. gak pantas.. hihi" kata Anisa sambil tertawa ke Niko.
"Dari pada Papa lo yang pengecut yang kini ntah kemana, mending gue aja yang lo panggil Papa.. huahahaha.." ejek Jaka melecehkan, terdengar sangat menyakitkan bagi Niko karena Papanya dihina begitu.
"Ihh.. kamu kok ungkit-ungkit lagi sih, pokoknya gak pantas kamu dipanggil Papa sama anak-anak tante.." balas Anisa.
"Pa..pa.."
Mereka terkejut siapa yang ngomong barusan, tapi ternyata itu Windy. Windy yang selama ini cuma bisa ngomong mama akhirnya bisa ngomong papa.

"Windy..?" Anisa terkejut sekaligus senang akhirnya bayinya bisa ngomong papa, diapun bangkit untuk menggendong Windy dari atas kereta bayinya.
"Hehehe.. tuh Tante, Windy aja bilang papa.. huahahaha.."
"Coba lagi sayang.. pa..pa.. coba" kata Anisa mendikte bayinya dan menghadapkannya ke Jaka.
"Papa.." balas Windy imut lalu tertawa sendiri dengan lucunya. Sungguh tragis memang, kata papa yang pertama terucap bukan ditujukan pada Papa kandungnya Panji, tapi malah ke remaja buruk ini.

"Kamu nakal yah sayang.. udah Mama bilang jangan panggil Om Jaka Papa.. ya udah deh.. nih sama Papa kamu.. hihihi" kata Anisa cekikikan meletakkan Windy ke pelukan Jaka.
"Duh.. tante, Jaka gak bisa gendong bayi.."

"Ye.. belajar dong.. kamu kan Papanya.. rasain, jagain tuh anak kamu.. iya kan Windy cayang.. coba panggil lagi papanya" Dan lagi, Windy mengatakan kata papa berkali-kali dengan lancarnya.
"Hehe.. jangan papa papa terus dong Windy.. coba bilang kontol, memek, peju.. ayo coba.." kata Jaka mulai mengajarkan yang nggak-nggak ke Windy, tapi Anisa malah tertawa mendengar hal tersebut.

"Hihihi.. Jaka! kamu ini.. masa ajarin ngomong gitu sih.. bikin rusak anak tante aja" Bisa-bisanya Anisa ngomong gitu, padahal dia lah yang lebih sering memperdengarkan omongan vulgar ke Windy, bahkan memperlihatkan mamanya bersetubuh didepan anaknya.
"Biarin tante.. kan Jaka yang sekarang jadi Papanya.."
"Dasar kamu.. Papa baru kamu cabul banget tuh Windy.. Hihi"

Untung saja Windy nggak langsung bisa mengatakan hal-hal yang baru saja diajarkan Jaka. Tapi usianya akan terus bertambah, bisa saja beberapa waktu ke depan Windy yang semakin terbiasa mendengar hal-hal cabul mulai bisa mengucapkannya. Ntah perkataan apa yang bisa diucapkan Windy setelah ini. Terlebih Anisa sampai saat ini masih sering memperlihatkan mamanya sedang bersetubuh dan memperdengarkan kata-kata vulgar ke Windy.

"Kalau gitu Jaka juga boleh dong manggil tante Mama atau sebut Anisa aja? Hehe"
"Huh, dasar kamunya gak mau kalah.. iya-iya, suka-suka kamu deh"

"Hehe.. Anisa, kita ngentot lagi yuk.." pinta Jaka cabul tanpa sungkan-sungkan lagi. Niko sendiri merasa aneh mamanya dipanggil cuma dengan nama begitu oleh temannya.
"Hah? Belum puas apa kamu?"

"Belum.. hehe.."
"Huh dasar.. Niko.. kamu keluar dulu yah.. Mama sama Papa baru kamu mau lanjutin mesra-mesraan dulu, kayanya Papa baru kamu ini belum puas juga pejuin rahim Mama kamu, padahal kan udah hamil gini. Kamu tolong jaga Windy dulu yah.." kata Anisa mengambil Windy dari Jaka lalu menyerahkannya ke Niko.

"Kamu main ama kakak kamu dulu yah cayang.. masa liat mama ngentot terus sih.. ntar badan kamu bau peju lagi.. gak mau kan? hihi" kata Anisa ke bayinya. Mau nggak mau Niko akhirnya keluar juga meninggalkan mereka berdua bermesraan di dalam sana. Ya.. ibunya telah diambil Jaka seutuhnya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, walau perih tapi Niko tetap berusaha menikmatinya juga.

"Ma.." panggil Niko ke mamanya sebelum keluar menutup pintu.
"Ya sayang? Ada apa?"
"Besok ini Niko yang gantian hamilin Mama boleh yah Ma?" pinta Niko memelas. Anisa tersenyum mendengar permintaan anaknya itu. Sepertinya anaknya juga penasaran bagaimana rasanya menghamili ibu kandungnya sendiri, bagaimana rasanya membuat anak sekaligus adiknya dari rahim ibunya kandungnya itu.

"Iya.. boleh sayang.. boleh banget malah.." jawab Anisa lembut sambil tersenyum manis pada anaknya itu.
"Wah.. Makasih Ma.." Niko kegirangan mendengar persetujuan mamanya.
"Duh.. kayanya Mama bakal punya banyak anak deh habis ini.. hihihi" sambung Anisa bercanda disertai gelak tawa mereka.


"...Jadi sekarang istrimu ini milik Jaka dan akan mengandung anaknya, begitu kan Pa perjanjiannya?"

"Sudah selesai Pa ngomongnya? Mama mau lanjutkan bermain dengan Jaka dan Niko, apa papa masih mau lihat?"
Anisa melihat suaminya itu masih saja tertunduk bersimpuh di sana.

"Ups.. sepertinya nggak yah? Ya sudah.. sampai nanti Pa" kata Anisa beranjak dari sana berbalik dari hadapan suaminya. Air mata Anisa jatuh dengan derasnya. Kenapa Pa? kenapa nggak kau coba selamatkan aku sekali lagi? Tarik aku Pa!! tarik!! Sebelum aku berjalan lebih jauh darimu dan menghilang dari balik tembok itu..!! Batin Anisa sambil terus berjalan menjauh berharap suaminya memanggilnya. Tapi kenapa? Kenapa kau masih saja diam di sana menatap lantai!! Kau pikir ini betul-betul sudah terlambat!? Aku kecewa padamu. Panji ternyata benar-benar nggak memahami suara hati istrinya itu. Anisa terus berjalan hingga akhirnya hilang dari pandangan suaminya. Panji benar-benar membuang kesempatan terakhirnya, membiarkan istrinya yang masih berharap terus berlalu dan hilang dari hadapannya. Ya.. kerena setelah detik itu semuanya benar-benar sudah terlambat. Setelah detik itu dia benar-benar kehilangan orang-orang terkasihnya, untuk selamanya.

TAMAT
Anisa, Ibu nakal (Part 3)
Anisa, Ibu nakal (Part 3), cerita seks , anisa mama nakal, anissa ibu nakal, doyan ngentot, istri selingkuh depan anak, ngentot threesome, memek dipake, vagina ibu dijilat, memek dikontol besar, memek selingkuh ngentot, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Anisa, Ibu nakal (Part 3)

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com