Asiknya tukeran istri - 1

Namanya Fenardi, berusia 35 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ia sudah menikah dengan istrinya, Monica, selama lima belas tahun. Kehidupan seks mereka sudah sangat membosankan dan bisa dibilang terasa sangat hambar. Mereka melakukan seks sekali dalam seminggu, itupun kalau ia tidak kelelahan sepulang kantor.


Monica juga tidak menyukai posisi yang macam-macam dan hanya mau melakukan posisi misionaris. Monica sekarang berusia 39 tahun, meskipun begitu ia masih tetap cantik dan elok. Entah apa yang bisa membuat kehidupan seksual mereka begitu membosankan. Padahal dulu sebelum menikah, mereka selalu melakukannya setiap hari seusai kuliah dan pada saat weekend.

Pekerjaan Fenardi di kantorpun selalu mandeg karena tidak ada hal yang baru. Bekerja di dalam sebuah kubikel yang sempit, ia selalu merasa lelah setiap kali mendapatkan tugas dan assignment yang itu-itu saja. Beruntung ia bersahabat dengan Yossida, rekan sekantornya yang kini berusia dua tahun lebih tua. Pada suatu hari, mereka yang sedang makan siang bersama menemukan persamaan dalam kehidupan seksualitas mereka.

“Fen, gua boleh curhat gak sama lo?” tanya Yossida.

“Boleh? Emang kenapa, Yos?” timpal Fenardi.

“Istri gua nih. Entah kenapa sekarang-sekarang ini gua lagi hambar banget sama dia.” jelas Yossida.

“Maksud lo?” Fenardi tak mengerti.

“Iya, gua cinta banget sama dia. Namun setelah menikah belasan tahun, gua ngerasa hambar aja gitu…” mata Yossida menerawang.

“Hambar dalam?” Fenardi merasa penasaran.

“Dalam hubungan seks kami…” cetus Yossida.

Fenardi tersentak mendengar pernyataan ini. Ia tidak menyangka bahwa krisis yang ia alami juga bisa dialami oleh sahabat dan koleganya tersebut.

“gua udah susah banget bergairah kalau sama dia. Rasanya tuh, biasa banget.” kata Yossida.

“Lo udah pernah tanya ke Sinta?” tanya Fenardi.

Yossida hanya menggeleng lemas. “gua udah tanya, kenapa dia ogah-ogahan kalau gua ajak, tapi dia nggak pernah ngasih jawaban yang jelas.”

Mereka berdua terdiam.

“Sabar ya bro, gua juga ngalamin hal yang sama kok.” kata Fenardi pada akhirnya.

“Lo dan Monica? Beneran?” Yossida bertanya tak percaya.

“Iya, gua juga rasanya udah hambar banget setiap kali ML sama dia. Udah nggak ada ‘spark’ lagi kayak pas kuliah dulu.” jelas Fenardi.

“Iya ya, kok bisa begitu. gua jadi bingung.” Yossida mengidikkan bahunya.

“Lo udah berapa lama ngalamin ini?” tanya Fenardi.

“Dari anak gua naek kelas 4 SD.” jawab Yossida.

“Udah lama dong?” sahut Fenardi.

“Lumayan.” Yossida membenarkan.

“Lo pernah coba… ehmm,” Fenardi tidak meneruskan kata-katanya.

“Maen ama pelacur?” Yossida menjawab dengan sedikit ketus.

Fenardi hanya mengangguk takut-takut. Ia tidak ingin menyinggung perasaan sahabatnya yang sedang galau ini. “Sori, gua nggak maksud buat lo marah.” ia berkata.

“No problem kok. gua juga pernah berpikiran gitu.” sahut Yossida.

“Trus?” Fenardi kembali penasaran.

“gua nggak berani ambil resikonya, takut penyakitan gua.” jawab Yossida.

Tiba-tiba sebuah benak bulus terlesat di pikiran Fenardi. Ia pernah menonton sebuah film bokep mengenai pertukaran pasangan yang menggairahkan pasangan yang sebenarnya. Membayangkan tubuh molek dan perawakan Sinta yang cantik membuat kemaluannya berdiri tegang. “gua punya rencana nih.” ia tersenyum pada Yossida.

“Rencana apa?” tanya Yossida tak mengerti.

“Lo belom ambil jatah cuti lo kan?” Fenardi balik bertanya.

“Belom,” Yossida menggeleng.

“Nah, jadi suatu hari kita cuti bareng, kita pura-pura pergi kerja tapi gua maen ke rumah lo dan lo maen ke rumah gua.” Fenardi mengutarakan idenya.

“Terus? Buat apa gua maen ke rumah lo?” Yossida masih tak mengerti.

“Masa lo belom pernah sih ngebayangin begituan ama istri gua?” tanya Fenardi dengan senyum licik.

“AH, GILA LO!” sahut Yossida cepat.

“Eh, dengerin dulu. gua udah ngasih ijin nih buat lo, sekarang tinggal lo aja. Rela nggak memberikan Sinta buat gua?” tantang Fenardi.

Yossida terdiam mendengarkan rencana yang dibuat oleh Fenardi. Perlahan ia membayangkan istrinya yang cantik bersenggama dengan laki-laki lain. Ia terkejut saat betapa angan-angan itu ternyata membuatnya sangat terangsang. “Kalau gua rela gimana?” tanya Yossida pada akhirnya.

“Ya udah kalau gitu, kita ambil cuti besok dan lo maen ke rumah gua sekitar jam sembilan abis nganterin anak lo sekolah. Istri gua biasanya udah selesai beres-beres jam segitu.” kata Fenardi.

“Oke, lo juga jam segituan ke rumah gua. Besok jangan lupa cerita-cerita di kantor pas jam makan siang ya.” sahut Yossida

“Sip. Dan jangan sampai istri kita tahu.” Fenardi menyanggupi.

Mereka pun berjabat tangan dan tersenyum lebar.

***

Fenardi – Kamis pukul 08.50

Fenardi menunggu di dalam mobilnya yang diparkirkan tidak begitu jauh dari kediaman Yossida. Ia sudah memikirkan masak-masak rencana ini dari kemarin siang. Ia berusaha menutupi rasa semangatnya dari sang istri agar tidak dicurigai macam-macam. Membayangkan istrinya Monica dicabuli oleh sahabatnya sendiri membawa sensasi gila yang amat sangat bagi dirinya. Dan kini ia akan bersenggama dengan Sinta, istri Yossida, yang tidak kalah cantik dari Monica. Sungguh tindakan gila!

Fenardi pun turun dari mobil dan berjalan pelan menuju pintu gerbang rumah Yossida yang di cat hitam tinggi. Ia membunyikan bellnya dan menunggu Sinta keluar. Perlahan ia mendengar suara langkah perempuan cantik itu, diselingi dengan desah nafasnya yang tersengal-sengal.

“Lho, mas Fenardi. Tumben datang jam segini?” Sinta memakai celemek yang diikat ketat di belakang, memamerkan buah dadanya yang ranum dan terbentuk indah. Di balik celemek itu, Fenardi bisa melihat tank top yang dipakai oleh Sinta, berwarna orange ketat dan memikat. Wanita itu juga memakai celana pendek berwarna hitam, dari sisi kanan dan kiri terlihat kulit pahanya yang kencang dan mulus. “Ayo masuk, silahkan.” Sinta mempersilahkan sambil tersenyum ramah.

“Terima kasih, mbak Sinta.” Fenardi mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah.

“Ada perlu apa, mas? Mas Yossida sudah pergi dari tadi.” kata Sinta tanpa rasa curiga sedikit pun.

“Ini, katanya Yossida ketinggalan berkas di ruang kerjanya, tetapi ia sedang ada rapat penting, jadinya saya yang disuruh mengambil.” Fenardi berbohong.

“Oh, gitu. Silahkan masuk, mas. Disitu tempatnya.” Sinta menunjuk ruang kecil di bagian belakang rumah.

Fenardi berjalan masuk kesana mendahului Sinta yang sibuk menutup pintu depan. Ia berjalan masuk melalui pintu belakang yang bertemu langsung dengan dapur dan bergerak cepat menuju ruang kerja Yossida. Fenardi berpura-pura mengambil satu dua buah berkas dan kembali menuju ruang dapur dimana Sinta tampak sedang sibuk memasak. “Masak apa toh, mbak?” ia bertanya.

“Ayam goreng, mas. Mas Yossida lagi demen sama makanan ini.” sahut Sinta tanpa menoleh.

“Wah, rajinnya masak. Gimana mas Yossida enggak seneng.” Fenardi mulai merayu.

“Ah, mas bisa aja, mbak Monica kan juga jago masak.” pipi bulat Sinta merona. Dia kembali sibuk mengurusi ayamnya.

Fenardi memandanginya dari belakang, memperhatikan rambut panjang Sinta yang tergerai indah ke punggungnya. Ia bisa melihat bra Sinta yang berwarna hitam dengan jelas sekarang. Fenardi meletakkan berkas di tangannya ke atas kulkas dan bergerak mendekati perempuan cantik itu. “Mbak Sinta kalau lagi keringetan tambah seksi ya.” godanya berani.

“Ah, mas ngomong apa sih?” wajah Sinta makin merona. “Ah, MAASS!” ia menjerit keras saat dengan tiba-tiba Fenardi menyergap tubuh sintalnya dari belakang dan memeluk punggungnya erat-erat. Sinta berusaha melawan sekuat tenaga, namun Fenardi telah mengunci gerakannya. “Ah, mas! Lepasin aku, mas! Ahh... Ahh...” ia terus menjerit dan memberontak meski tahu itu cuma sia-sia.

“Mbak Sinta seksi banget. Aku enggak kuat loh, mbak.” Tangan kanan Fenardi bergerak naik untuk memainkan payudara Sinta yang tersembunyi di balik celemek dan tank topnya. Tangan kirinya yang tidak mau kalah kini sibuk bergerak turun ke bawah untuk menekan-nekan memek Sinta yang masih ditutupi celana pendek dan celana dalam.

“Mas! Jangan, mas! Mas kan sahabatnya mas Yossida, Ohhh… Mas! Auuw!” Sinta menjerit dan menggelinjang.

“Beneran jangan nih, mbak? Tapi kok mbak jadi basah begini sih?” timpal Fenardi ketus.

“Ahh… mas! Ahhh…” Sinta kembali merintih saat Fenardi membuka celemeknya dengan cepat dan membukanya bersamaan dengan tank topnya. Laki-laki itu memainkan tetek Sinta yang besar yang masih diselimuti bra putih tipis, juga memek Sinta yang makin membasah dengan semakin ganas.

“Mas… ouuuwh… mas!!” Sinta semakin merintih dan menggelinjang dibuatnya.

“Mbak udah jarang dapet jatah kan? Aku tahu, mbak sudah lama pengen dibeginikan.” Tangan kiri Fenardi sudah mulai membuka kancing celana pendek Sinta dan menyelipkan tangannya ke balik celana dalam itu. Ia bisa merasakan jembut Sinta yang sudah basah akibat memeknya yang terangsang hebat. Fenardi meremas payudara Sinta yang kini sudah terekspos dengan jelas akibat bra yang menyangganya sudah terlepas. Putingnya yang pink mencuat ke depan karena terangsang hebat. Fenardi memelintirnya berkali-kali dengan jepitan jari telunjuk dan jari tengahnya.

”Ehmm... mas! Oughh...” Sinta hanya bisa mengerang-erang lemas saat Fenardi menciumi leher dan telinganya sambil sibuk menggosok-gosokkan kontolnya yang sudah sangat keras ke belahan pantat perempuan cantik itu.

Fenardi yang semakin bergairah kini memainkan payudara dan memek Sinta begitu keras hingga keduanya menjadi benar-benar basah. Mereka berdua mengerang-ngerang nikmat sambil melenguh-lenguh keenakan. “Mas… ahhhh… jangan disini, mas…” Sinta akhirnya menyerah.

“Hmmm... akhirnya… kenapa tidak dari tadi, mbak?” tanya Fenardi menggoda.

”Ah… mas!!” jawab Sinta dengan muka merah padam menahan gairah.

Fenardi memutar tubuh Sinta secara paksa dan menekannya ke meja dapur. Piring berisi daging ayam fillet yang ada di atas meja pun terlempar keras ke lantai akibat perbuatan bejat kedua manusia itu. Sinta melumat bibir Fenardi dengan begitu beringas bagaikan anak kecil yang belum dikasih makan. Lidahnya berputar-putar di dalam mulut Fenardi, menelusuri setiap inci bagian dalam mulut suami orang itu. Fenardi yang tidak mau kalah dan ikut memainkan lidahnya. Ia memijat-mijat lidah istri nakal itu. Tangannya meremas pantat Sinta yang sudah basah akan keringat. Fenardi mengangkat pantat Sinta dan menaikkannya ke atas meja dapur. Ia pun berjongkok dan mengendus-ngendus area selangkangan Sinta. Aroma cairan memek yang membasahi celana dalam hitam yang dipakai Sinta membuat pikiran Fenardi melayang tinggi.

“Kamu wangi banget loh, Sin. Mas seneng banget.” kata Fenardi terus terang.

“Ahh... mas! Ahh…” Sinta mengejang-ngejang nikmat sambil memainkan payudaranya sendiri. “Diisap dong, mas! Ahhh… jangan diciumin mulu! Ahhh…” rintihnya.

Fenardi menarik turun celana dalam Sinta untuk menemukan harta karun yang ia cari dari pagi tadi. Memek Sinta bentuknya sangat indah, dengan bulu lebat yang semakin meningkatkan hasrat. Tanpa membuang waktu, Fenardi pun melahap habis memek itu dan memainkan lubang kenikmatannya dengan lidahnya. Ia menekan-nekan lidahnya masuk untuk mencicipi kenikmatan duniawi yang amat memabukkan itu. Tangan kanannya yang tidak mau kalah ikut memijit dan memainkan klitoris Sinta.

“Ahhh... mas! Ahhh... enak banget, mas! Oooh… emmmmh!!!” Sinta semakin ganas meraung-raung dan menggelinjang kesenangan.

Fenardi melanjutkan kegiatannya memainkan memek Sinta sambil perlahan-lahan membuka baju kantornya yang sudah lepek akan keringat. Ia melemparkan kemeja kerja dan dasinya ke lantai, lalu berdiri mendadak, menghentikan kegiatannya memainkan vagina Sinta.

“Mas, kenapa berhenti?” Sinta bertanya tidak rela.

“Kamu cantik banget, Sin, nggak kalah sama Monica.” jawab Fenardi sambil memainkan kembali tonjolan payudara Sinta yang membusung indah.

“Ahh… mas! Emmmh...” Sinta melumat bibir Fenardi sambil turun dari meja dapur. Ia meraba-raba punggung Fenardi yang atletis dan menghirup aroma tubuhnya yang membuatnya sangat terangsang. Perlahan ia melepaskan ciumannya dan mulai membuka celana bahan yang Fenardi pakai. Selepasnya kancing itu terlepas, Sinta menarik celana dalam putih Fenardi ke bawah dan terkagum-kagum melihat perkakas Fenardi yang sudah mengacung tinggi ke langit.

“Wow, mas! Besar banget! Emmmh...” Sinta mengulum penis itu bagaikan anak kecil yang sibuk menghisap lolipop. Ia melahap habis penis sepanjang 17 centimeter itu ke dalam mulutnya. Aroma jantan khas laki-laki yang berbeda dengan yang dimiliki Yossida membuatnya sangat horny. Sinta tidak pernah tiduri atau bahkan menyepong penis laki-laki lain selain batang milik Yossida sejak mereka menikah, dan itu sudah tujuh belas tahun yang lalu.

“Ahhh... Sinta! Euuummh… kuluman kamu nikmat banget! Oooouuuwh…” rintih Fenardi keenakan.

“Mas suka?” tanya Sinta, tangan kirinya sibuk mengusap-usap memeknya yang sudah basah sambil terus menghisap penis besar Fenardi.

“Kamu mau yang lebih enak?” tanya Fenardi penuh arti.

“Eummmh… sebentar, mas. Ini enak banget… eummmh!!” Sinta terus menyepong dan menghisap penis panjang yang memenuhi rongga mulutnya itu.

“Aku nggak mau buru-buru keluar, Sin.” Fenardi berkata.

“Tapi nanti mas Yossida marah loh kalau dokumennya nggak dikirim.” jawab Sinta menggoda.

“Bilang aja macet.” sahut Fenardi enteng. Dia kemudian melepas celana kerjanya yang nyangkut di kedua kakinya dan menggendong tubuh Sinta bagaikan pasangan suami istri yang baru menikah saat tubuh mereka sudah sama-sama telanjang. Mereka berdua melanjutkan ciuman mereka sambil bertelanjang ria tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Fenardi melemparkan Sinta ke atas kasur yang biasa Sinta tiduri bersama Yossida dan menutup pintu kamar mereka.

***

Yossida – Kamis pukul 09.30

Monica mengerang keenakan. Ia berkali-kali harus berteriak sambil menutupi wajahnya dengan bantal akibat sensasi yang begitu nikmat yang ia rasakan. Dengan posisi doggy style, payudaranya yang berukuran lumayan besar bergoyang-goyang seirama dengan gerakan pinggul Yossida yang bergerak maju dan mundur begitu cepat.

“Ahhh, Yossida! Ahhhh… eumhhhhhh… enak banget! Euuumh... kontolmu! Ahhh…” rintih Monica tanpa malu-malu.

“Memekmu juga enak banget, Mon! Eummmh… sempit!” Yossida menggoyangkan pinggulnya semakin kencang. Tubuhnya tiba-tiba mengejang-ngejang dan berkontraksi. “Ahhh… aku mau keluar! Eeummmh...” teriaknya parau.

“Jangan di dalem, mas! Ahhh…” Monica menarik keluar kontol Yossida dengan paksa dan memasukkannya ke dalam mulutnya dengan begitu cepat. Ia mengulumnya sekuat tenaga hingga Yossida tidak dapat menahannya lagi.

“Argggh! Aku… emmh... keluar! Ahhh… oooh!” dia merintih dan CROOT! CROOT! CROOT! Spermanya menyembur kencang dan banyak sekali.

Monica menelan semua peju putih yang Yossida keluarkan. “Enak banget, mas.” ia berkata pelan dengan mulut belepotan. Tubuhnya yang lemas terhempas lelah ke atas kasur, Yossida menyusul tak lama kemudian dengan rebah telentang di sampingnya.

“Tubuhmu enak banget, Mon. Sinta kalah deh.” ujar Yossida sambil menusuk lubang vagina Monica dengan ujung jarinya. Lorongnya yang sempit terasa begitu licin dan basah.

“Penis mas juga enak banget, rasanya beda ama punya mas Fenardi.” sahut Monica tak mau kalah, ia meremas pelan kontol Yossida dan kembali mengocoknya lembut.

Yossida yang masih semangat akan sensasi baru dalam hidupnya belum berniat untuk mengakhiri petualangan seksualnya sekarang. Ia mengangkat tangannya dan ganti meremas-remas payudara Monica. “Payudara kamu lembut sekali.” bisiknya mesra.

“Ah, mas! Aku masih lemes, mas…” kilah Monica saat tahu Yossida ingin minta jatah lagi.

”Tapi aku masih pingin, Mon.” Yossida memaksa. “Kalau cuma kuisep nggak apa-apa kan?” tanyanya.

”Hmm, bolehlah.” angguk Monica pelan.

Yossida kemudian memutar tubuhnya dan dengan rakus menghisap puting di payudara kanan Monica yang berwarna coklat kemerahan dan memancung karena horny. Ia menghisapnya keras-keras sambil sesekali mengigitnya gemas. Sementara tangan kirinya ia gunakan untuk memainkan puting yang lain dengan tidak kalah bernafsu.

“Ahhh… terus, mas! Netek ama aku, mas! Eeuuumh…” Monica pun melenguh keenakan, tanpa mengetahui bahwa sang suami tercinta juga mengalami kenikmatan yang sama dengan dirinya bersama wanita lain.

***

Fenardi – Kamis pukul 11.28

Fenardi mengancingkan kancing kemejanya satu persatu dari bawah. Sinta hanya bisa tersengal-sengal kelelahan karena melakukan tiga ronde tanpa istirahat sekalipun. Ia bahkan tidak berusaha untuk menutupi auratnya yang sudah basah berlumuran sperma Fenardi yang mengalir deras.

“Aku pergi dulu ya, mbak Sinta. Sudah telat, nanti aku bisa diomelin bos.” Fenardi berbohong tanpa memberitahu bahwa sebenarnya ia dan Yossida, suami Sinta, sudah mengambil cuti untuk hari ini.

“Mas… emmhh… habis ini, mas sering-sering main ya kalau mas Yossida lagi dinas keluar.” Sinta merangkan maju menuju tepi kasur yang sepreinya sudah berantakan kemana-mana. Masih telanjang bulat, ia menjulurkan tangannya, minta dipeluk mesra oleh ‘mainan’ barunya.

“Tentu saja, sayang!” Fenardi menciumnya dan melumat habis bibir merah milik Sinta yang terlihat begitu mengundang. Tanpa Fenardi sadari, ia perlahan mendorong Sinta kembali ke kasur sambil terus berpelukan. Tangannya mulai kembali memainkan payudara Sinta tanpa melepaskan ciuman penuh hasrat mereka.

“Ah, mas! Aku mau lagi, mas! Euuummh…” rengek Sinta.

“Sekali lagi aja yah?” tawar Fenardi.

“Itu juga kalau mas nggak mau lagi, hehe.” Sinta tersenyum centil.

Fenardi melanjutkan ciumannya dan mulai membuka resleting celananya lagi. Penisnya sudah kembali tegang dan mengacung maju, minta cepat-cepat diselipkan di lubang yang baru saja ia jelajahi hari ini. Sinta semakin bergairah mendapati putingnya bersentuhan dengan dada Fenardi yang berbulu halus dan jantan. Ia melenguh penuh nafsu sambil mengangkat kedua tangannya ke belakang, memamerkan kemaluannya yang sudah gatal pada Fenardi yang asyik menciumi leher dan bagian belakang telinganya dengan ganas sambil perlahan-lahan mengarahkan penisnya.

cerita tuker istri ngentot http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com/

“Ahhh… massss… euuummmh…” rengek Sinta saat kontol Fenardi mulai menerobos pelan lubang kemaluannya.

“Sinta, kamu seksi banget! Aku suka banget wangi tubuh kamu! Euuummmhhh…” Fenardi mencucup dan menciumi puting payudara Sinta.

“Ahh, mas! Buruan dong, mas! Aku udah nggak kuat nih… eummmh… oooh…” ratap Sinta penuh nafsu.

Dalam sekali sodokan kuat, Fenardi memasukkan semua batang kemaluannya diikuti erangan nikmat oleh Sinta. “Ahhh, mas… oooh…”

Pinggul Fenardi mulai aktif, bergoyang ke depan dan ke belakang sesuai irama tusukannya. Ia memandangi wajah Sinta yang penuh kenikmatan. Membayangkan istrinya memperoleh perlakuan yang sama oleh sang sahabat membuatnya semakin menggila. Ia mempercepat sodokannya hingga Sinta menjadi semakin terengah-engah. Sinta mulai mengoceh tidak jelas sambil berusaha menahan rasa nikmat yang ia rasakan. Tangannya semakin liar, menarik-narik seprei kesayangannya yang terlihat semakin mengenaskan seiringan dengan sodokan liar Fenardi.

Tiba-tiba Fenardi berhenti. Dengan segenap kekuatannya, ia merenggut punggung Sinta dan mengangkatnya dari kasur. Sinta mengerti posisi ini dari blue film yang diam-diam ia tonton bersama tetangganya, Maria, dan segera melingkarkan kakinya di punggung Fenardi. Bibirnya kembali berpagutan dengan Fenardi yang sekarang membantu Sinta bermain enjot-enjotan.

“Cepet, mas! Ahhh… emmmh… aku mau… emmmh... nyampe!!” rengek Sinta pilu.

“Aku juga, Sin! Ooohh… ahhh…” Fenardi memekik saat spermanya meledak.

“Mas! Ooohhh… aahhhh…” jerit Sinta yang menerima guyuran cairan hangat pada lubang kemaluannya.

***

Yossida – Kamis pukul 12.34

Batang penisnya masih sedikit ngilu setelah melakukan vaginal seks dengan Monica sebanyak lima kali berturut-turut. Entah setan apa yang merasukinya hari itu, namun ia seperti mendapatkan stamina baru. Stamina mengagumkan dimana biasanya ia sudah lemas setelah berhubungan sekali saja dengan Sinta. cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com Ia masih bisa mencium aroma kencing Monica yang bercampur dengan cairan vagina dari memek dan jembutnya. Aroma memabukkan itu yang membuatnya begitu ketagihan dan tidak bisa berhenti.

“Hai, kawan!” Fenardi memanggilnya tiba-tiba dari belakang.

Yossida yang sedang berangan-angan, terkejut dan berdiri secara refleks. Mereka sudah berjanji untuk ketemu di sebuah kafe yang lumayan jauh dari lokasi kantor mereka. Ia menyambut Fenardi dengan pelukan hangat dan bisa mencium aroma yang khas dari tubuh laki-laki itu. Aroma sabun mandi istrinya.

“Hai, sobat! Ayo duduk.” Yossida menyambut dengan ramah.

“OK,” Fenardi tidak membuang waktu dan duduk di seberang Yossida. Mereka berdua saling tersenyum lebar. Selama beberapa detik ke depan, tidak ada yang berkata apa-apa. Mereka hanya tersenyum cengengesan mengetahui bahwa sahabat mereka telah melakukan perbuatan bejat dan terlarang dengan istri mereka masing-masing.

Pada akhirnya, Fenardi memecahkan keheningan aneh di antara mereka berdua. “Jadi, bagaimana tadi?” tanyanya sedikit malu-malu.

“Bagaimana ya?” Yossida tersenyum kikuk dan nakal. “Menyenangkan pastinya.”

“Hahaha, bagus lah kalau begitu. Istrimu juga tidak kalah menyenangkan.” sahut Fenardi.

Yossida mengangguk malu, dan puas. Seakan-akan bangga istrinya dianggap ‘memuaskan’ oleh laki-laki lain. Sahabatnya sendiri. “Enggak kapok kan?” tanyanya kemudian.

“Apa yang harus dikapokin? Kalau bisa sih, kita lanjut lagi.” kata Fenardi penuh semangat.

“Pasti lah itu. Ini enggak akan kita selesaikan secepat itu. Tapi yang pasti, lo jangan tiba-tiba berhenti berhubungan sama Sinta. Biar istri kita juga nggak curiga.” ujar Yossida.

“Mengerti, sobat!” Fenardi mengangguk. “Ngomong-ngomong, lo mulai jam berapa tadi?” tanyanya penasaran.

“Jam sembilan kali ya? Pokoknya istri kamu baru selesai nyuci.” sahut Yossida.

“Dia gampang diajaknya?” tanya Fenardi lagi.

Yossida tersenyum dan menjulurkan tubuhnya maju, menandakan ia mau membisikkan sesuatu. “Percaya atau enggak, istri kamu tuh baru saja masturbasi di dekat tempat cucian.”

“Sumpah?!” Fenardi sedikit terkejut mendengar hal itu.

“Beneran! Pas gua datang, gua langsung sadar, kok celana pendeknya rada basah-basah ya di bagian itu. Dan dia juga lagi tersengal-sengal. Tinggal gua ungkit-ungkit dikit. Bles!” Yossida menunjukkan kode kontol yang nusuk memek dengan jari-jarinya.

Fenardi merenung sedikit. Ia tidak pernah menyadari bahwa istrinya bisa sebegitu binalnya.

“Bagaimana dengan Sinta?” tanya Yossida kemudian.

“Awalnya dia sedikit melawan, tapi pada akhirnya nyerah juga.” jawab Fenardi.

“Nggak mungkin cuma satu ronde kan? Tiga jam loh itu.” Yossida tersenyum.

“Masa cuma sekali, eman-eman dong. Lagian, jarang-jarang rudalku ini bisa bangun lebih dari sekali setiap harinya!” sahut Fenardi.

“Jadi?” Yossida mengejar.

Asiknya tukeran istri ngentot vagina penis suami orang masuk vagina istri ku, payudara besar istri diremas orang lain saat aku
Klik foto untuk memperbesar gambar


“Ehmmm… segini!” Fenardi menunjukkan angka empat dengan jarinya.

“Kalah lo! gua lima!” Yossida menyombong.

“Pffft… beneran?” Fenardi mendelik tak percaya.

“Beneran lah, ngapain gua bo’ong?” Yossida merasa menang.

“Mantap lah, kawan!” Fenardi menyalami sahabatnya itu.

Mereka berjabat tangan dengan begitu bersemangat, beberapa orang di sekitar mereka sampai kaget mendengar suara tangan mereka yang beradu begitu keras.

“Ngomong-ngomong, habis dari sini, bisa temani gua ke mangga dua?” tanya Yossida.

“Untuk apa?” tanya Fenardi tak mengerti.

“gua ada rencana.” Yossida tersenyum lebar dan mengerdipkan matanya, mengisyaratkan rencana bejat lain yang terlintas di otaknya.

Bersambung

Asiknya tukeran istri - 1
Asiknya tukeran istri - 2
Asiknya tukeran istri - 3
Asiknya tukeran istri - 4
Asiknya tukeran istri - 5
Asiknya tukeran istri - 1
Asiknya tukeran istri - 1, cerita seks , Asiknya tukeran istri ngentot vagina penis suami orang masuk vagina istri ku, payudara besar istri diremas orang lain saat aku, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Asiknya tukeran istri - 1

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com