Asiknya tukeran istri - 2

Fenardi bersikap sebiasa mungkin malam itu. Ia duduk di ujung kasur sambil mendengar suara istrinya yang sedang menggosok gigi. Anak laki-lakinya sudah tertidur lelap di kamar atas. Ia sudah melakukan perintah Yossida dengan sebaik mungkin. Sesuai harapannya, ia meletakkan kamera camcorder itu di rak paling atas lemari kamar tidurnya. Ia sudah mengecek dan beruntungnya, kamera itu menangkap semua gambar sesuai harapannya; suasana kasur di kamar tidurnya!


Monica bersikap biasa saja sepulang Fenardi dari kantor, meskipun Fenardi tidak ke kantor hari itu. Ia menyambut Fenardi dengan ciuman di pipi dan mengambil jas kerja Fenardi dengan telaten. Suasana kamar tidur juga begitu rapih, Fenardi tidak pernah mengira Monica pernah bersenggama dengan Yossida selama lima ronde di atas kasur itu.

“Mas, nggak gosok gigi?” tanya Monica saat keluar dari kamar mandi.

“Oh ya, aku hampir lupa.” sahut Fenardi cepat.

Monica melewatinya yang sedang setengah bengong menuju meja riasnya untuk memasang krim malam. Fenardi memperhatikannya sambil menyelinap masuk ke dalam kamar mandi. Ia mulai menggosok gigi saat melihat beberapa bungkus kondom yang baru dipakai di dekat kloset. Fenardi bisa melihat jelas cairan sperma di dalam kondom itu yang masih basah oleh cairan vagina Monica. Tiba-tiba, ajaibnya, alat kemaluannya berdiri untuk kelima kalinya hari itu.

Fenardi mulai terangsang memandangi istrinya yang baru saja selesai memakai krim wajah dan merapihkan rambut. Wajah polos Monica yang begitu pandai menutupi perbuatan kejinya siang tadi membuat Fenardi gemas, sedikit marah, tapi sangat terangsang. Selepas berkumur-kumur, Fenardi beralih ke kasur dan menyalakan lampu kamar tidurnya. Monica ikut menyelinap masuk dan berbaring di sampingnya.

“Monica?” Fenardi memanggil.

“Iya, mas?” Monica menjawab mesra.

“Aku lagi mau nih.” bisik Fenardi.

Monica seperti sedikit terkejut mendengar pernyataan Fenardi. “Aku capek mas.” wanita itu berkata.

Capek. Capek?! Jawaban Monica membuat Fenardi sedikit marah. Ia mengaku capek padahal kelelahan berhubungan seksual dengan Yossida siang tadi. Ia marah Monica menolak dirinya dan beralasan capek.

“Ayo dong, ma! Papa lagi mau nih!” Tangan Fenardi bergerak secepat kilat, menyelinap masuk ke dalam celana dalam Monica. Malam itu Monica hanya memakai daster satin yang tipis, menunjukkan branya yang berwarna putih dan celana dalam tipisnya yang berwarna sama. Fenardi menekan-nekan memek Monica dengan lembut, perlahan, dan pelan-pelan untuk merangsangnya. Bulu-bulu jembut Monica yang subur ia main-mainkan dan klitorisnya yang terasa mengganjal ia tekan-tekan dengan gemas.

“Ahh… mas! Aku capek, mas! Beneran deh…” kilah Monica dengan sedikit menggeser tubuhnya.

Fenardi yang tidak mau menerima alasan itu bangun dengan cepat dan membuka dengan paksa selimut yang mereka pakai. Ia menyerang memek Monica dengan penuh amarah dengan menarik celana dalam putih perempuan cantik itu itu dalam sekali sentakan.

“Mas! Mas apa-apaan sih? Kok kayak gini.” Monica berteriak.

Fenardi memaksa Monica mengangkang dan membuka paksa kedua pahanya. Ia memandangi memek Monica yang sudah mulai basah. Ia membayangkan sperma dan precum Yossida yang sudah menari-nari di dalam liang kenikmatan itu.

“Aku enggak kuat, Mon. Aku mau memuaskan kamu.” Fenardi melahap habis memek Monica dan menjilat sisi-sisi memeknya dengan penuh semangat.

“Mas, ahhh… enak banget, mas! Ehmmmm…” rintih Monica kegelian.

“Enak kan? Ehmm... memek kamu juga… ehmm, lezat banget!!” balas Fenardi.

“Mas beda dari biasanya… ahhhh… emmmmhhh!!” desis Monica saat lidah nakal Fenardi menekan-nekan masuk ke dalam lubang kecilnya. Lidah itu memelintir ke atas dan ke kiri, sementara tangan Fenardi asyik mengelus-ngelus paha mulusnya. “Mas, aaaah… mas semangat banget sih! Emmmh…” membuat Monica makin merintih dan menggelinjang dibuatnya.

Fenardi melepaskan jilatannya dan memasukkan jari telunjuknya ke dalam memek Monica. Ia menekan-nekan memek sang istri dengan penuh semangat. Membayangkan Monica masturbasi selama mencuci membuatnya sedikit malu. Sebegitu tidak jantan kah dia sampai istrinya harus masturbasi sendiri? Fenardi bertekad memuaskan Monica sebisa mungkin, sama seperti perlakuannya kepada Sinta siang tadi.

“Mas, ahhh... jangan cepet-cepet, mas! Emmmh…” Monica merintih. Fenardi menjilat klitorisnya sambil terus mempercepat permainan tangannya. Ia memasukkan jari tengahnya dan memandangi wajah Monica yang keenakan tanpa melepaskan jilatan mulutnya. Tangannya semakin cepat bergerak ke depan dan ke belakang. Memek Monica semakin basah dibuatnya, Fenardi bisa merasakan tubuh perempuan itu menggelinjang hebat.

“Ohhhh... mas! Mas! Mas!!! Ahhhh!! Ahhh! Ahhh!” Monica menggelinjang hebat dan tubuhnya berkontraksi dahsyat. Ia mengerang penuh nafsu saat cairan vaginanya berhamburan keluar melalui memeknya.

Fenardi yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan ganas menjilat habis semuanya. Setia teguk yang ia telan membuatnya semakin bergairah dan bersemangat.

“Ohhh… mas! Enak banget, mas!” desah Monica dengan mata terpejam rapat.

“Kamu belum pernah digituin kan sama aku?” tanya Fenardi.

Monica hanya terdiam malu. Reaksi diam mendadak yang dilakukan Monica menimbulkan tensi aneh secara mendadak di antara mereka berdua. Monica menyembunyikan sesuatu, bukan hanya hubungan seksual dengan Yossida tadi, namun sesuatu yang lain. Fenardi yang tidak ingin membuang-buang waktu dengan berpikir panjang, mulai bergerak ke depan untuk mencium mulut manis sang istri. Bibir mereka beradu dan terpaut begitu panas. Fenardi dengan gemas melumat bibir dan lidah Monica, lalu menghisapnya dengan rakus. “Hmpphhh… ahhh!!”

Monica yang awalnya terkesan pasrah dan ogah-ogahan tiba-tiba ikut-ikutan menjadi aktif dan menekan kepala Fenardi menuju mulutnya. Tangan kanannya mengacak-ngacak rambut Fenardi dengan penuh semangat sementara tangan kirinya mulai bergerak menuruni perut Fenardi, berusaha mencapai batang kejantanan sang suami yang telah mendampinginya selama limabelas tahun ini. Ia merindukan seks panas seperti ini yang sudah jarang ia dapatkan dari Fenardi, meskipun seks yang ia lakukan siang ini tidak kalah merangsang dan hebatnya. Tapi melihat suaminya tiba-tiba semangat seperti ini membuat Monica menjadi semakin bergairah dan penasaran.

“Aku masukin sekarang ya, sayang?” tanya Fenardi.

“Ahhh… iya, cepetan, mas! Emmmh…” erang Monica sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar.

Fenardi segera mengarahkan penisnya yang sudah tegang mencuat secara sempurna menuju liang kemaluan sang istri. Ia mulai menekan secara perlahan-lahan diikuti desah gelisah Monica. “Ahhh… emmmh... mas! Ooooh… emmh!!” Monica menggigiti bibirnya penuh nafsu. Ia memandangi Fenardi yang sudah bercucuran keringat karena begitu bergairahnya. Monica seakan-akan melihat Fenardi sewaktu laki-laki itu masih menjadi pacarnya di SMA dulu. Setiap kali mereka berhubungan, semua begitu tabu dan menegangkan, membuatnya sangat bergairah. Monica merasakan sensasi itu lagi, entah karena apa. Seks panas yang ia damba-dambakan dengan sang suami selama delapan tahun terakhir datang kembali sudah, tepat setelah ia berselingkuh untuk pertama kalinya. Sungguh hari yang menyenangkan.

BLESS!!

“AAAAAHHH!! Emmmh… ooooh... sayang! Ahhh... tekan, sayang! Eemmmh... tekan yang kuat!” lirih Monica.

Fenardi mengabulkan permintaan wanita cantik itu, ia tekan pinggulnya kuat-kuat hingga batang kontolnya amblas seluruhnya, kemudian tanpa membuang waktu lagi mulai memainkan pinggulnya maju-mundur, menggoyangnya ke depan dan ke belakang.

“Enak, say?” tanya Fenardi di sela-sela genjotan tubuhnya.

“Enak! Eemmmh… enak banget, sayangku! Eemmmh... oohhhh!” desis Monica menikmati gesekan batang kelamin Fenardi di liang senggamanya.

Fenardi menghujamkan penisnya semakin menggila. “Kamu hari ini enak banget! Emmmh... memekmu empuk, sayang! Eemmmh...” ia berbisik dan mencium mesra bibir tipis Monica.

“Ooohh, Fen! Ahhh... cium aku! Emmmh... oooh… cium aku, Fen!” pinta Monica lirih.

Fenardi segera melumat bibir perempuan cantik itu tanpa mengendurkan gerakan pinggulnya yang mulai tidak teratur akibat terlalu cepat menggoyang.

“Ahhhh… ooh…” membuat Monica makin merintih keenakan dibuatnya.

Fenardi berbisik di telinga Monica. “Diputar ya, sayang, tubuhnya?”

Tanpa melepaskan tubuh Monica, Fenardi memutar tubuh sintal wanita berumur 38 tahun itu menjadi posisi menungging. Ia melanjutkan tusukan penisnya dengan gaya doggy style, sama persis seperti gaya yang Yossida berikan kepada Monica pagi ini.

“Ahhhhh… kamu kasar banget, Fen! Eemmmh… oooh…” desis Monica kegelian.

“Tapi… mmmmh… kamu suka kan? Mmmmhhhh...” tanya Fenardi sambil mempercepat tusukannya.

“Ahhhh... Fen, aku mau sampai lagi, Fen! Mmmmh... aaaahhhh... Fen! Fen!” Monica meratap.

“Aku juga, sayang, ooooh!” Fenardi membalas tak kalah menggairahkan.

Dan tak lama, CROOOT! CROOOT! CROOOT!!! Fenardi melepaskan semua pejuhnya di dalam memek Monica. Mereka mengerang lemas secara bersamaan. Fenardi merebahkan tubuhnya di atas punggung Monica yang masih menungging dan menciumi leher sang istri yang basah kuyup oleh keringat.
“I love you, honey…” bisiknya mesra.

“Hah, hah, I love you too…” Monica menutup matanya, berusaha mencerna kenikmatan bertubi-tubi yang ia rasakan hari ini.

Fenardi menoleh ke belakang, ke arah kamera camcorder yang ia sembunyikan dengan baik di dalam lemari pakaian. Ia memandangi kamera itu tepat di tengah lensanya, seakan-akan bisa melihat langsung mata Yossida yang sedang tersenyum lebar melihat aksi mereka berdua, dengan tangan penuh peju setelah ’berolahraga’ solo dengan adik kecilnya.

***

Jumat – Pukul 07.27

“Selamat pagi, Pak Fenardi. Bagaimana cutinya kemarin?” seorang resepsionis manis berambut bob bernama Alia menyapanya ramah.

“Bagaimana ya... Ehm, sangat menyenangkan!” jawab Fenardi antusias.

Alia tersenyum centil. Entah mengapa setelah tiga tahun sekantor dengannya, Fenardi baru menyadari betapa menariknya penampilan Alia sebenarnya. Kontak lensnya yang berwarna abu-abu terlihat cantik, terutama jika disandingkan dengan dada Alia yang berukuran jumbo. 36 B jika Fenardi perkirakan.

“Tepat waktu, kawan?”

Fenardi mengenali suara itu. Yossida berjalan di belakangnya dan merangkulnya tanpa ada aba-aba sama sekali. Fenardi hanya tertawa kikuk dan berjalan mengikuti irama langkah Yossida.

“Pertunjukkan hebat semalam, bos!” kata Yossida.

“Bahagia lo ya? Nonton dimana lo?” tanya Fenardi.

“Di kamar kerja gua. Istri gua udah tidur duluan.” jawab Yossida.

“Hmm, jadi kapan giliran gua?” Fenardi bertanya lagi.

“Malam ini dia ada arisan ama tetangganya.” jelas Yossida.

“Ah, sialan!” umpat Fenardi tak sabar.

“Denger dulu. Lo enggak tahu kan apa yang gua denger kemarin?” bisik Yossida penuh teka-teki.

“Apa? Lo denger apa?” tanya Fenardi penasaran.

“Nanti pulang lo gua ajak ke rumah gua. Bilang ke Monica kalau lo mau gua ajak maen capsa.” jelas Yossida.

“Capsa? Maksudnya apaan sih?” Fenardi masih tidak mengerti.

“Percaya ama gua! Sini hape lo. gua yang minta ijin ama Monica.” Yossida menengadahkan tangannya.

Fenardi berusaha mengolah apa yang baru saja ia dengar dari Yossida. Ia yang masih bingung mengeluarkan handphonenya dari dalam kantong celana dan menyerahkannya kepada Yossida.

***

Jumat – pukul 6.40

“Mas Fenardi, Mas Yos, aku pergi arisan dulu ya.” Sinta berteriak dari ruang tamu.

“Oke, silahkan, sayang.” Yossida berlagak malas-malasan menjawab dan fokus terhadap tayangan sepak bola di televisi.

Fenardi sempat melirik dan menangkap Sinta yang mengedipkan mata ke arahnya dengan centil. Setelah yakin Sinta telah keluar dari pagar luar rumah, Fenardi dengan tidak membuang waktu lagi segera menanyakan apa maksud rencana Yossida pura-pura main capsa pagi ini. “Eh, jadi apa maksud lo ngajak gua main ke rumah lo hari ini?”

“Dia udah beneran pergi? Sini, ayo lo ke kamar gua.” ajak Yossida.

Fenardi mengikuti temannya itu dengan perlahan, mereka berjalan beriringan memasuki kamar tempat dimana Fenardi dan Sinta berhubungan badan kemarin pagi. “Ada apa disini?” tanya Fenardi tidak mengerti.

“Lo liat ya,” Yossida membuka laci di samping kiri kasurnya. Di dalamnya terdapat berbagai obat-obatan dan barang-barang yang sepertinya tidak begitu penting.

“Ada apaan sih? Cuma obat-obatan gitu?” tanya Fenardi bingung.

“Sabar dulu… mmmmh!!” Dalam sekali gerakan, Yossida menarik lacinya kuat dengan sedikit dicondongkan ke atas. Ia menarik keluar kabinet berisi obat-obatan itu, mengekspos sedikit celah gelap yang tersembunyi di dalam lemari, lalu memasukkan tangannya dan mengeluarkan setumpuk vcd.

“Vcd apa?” tanya Fenardi.

“Bokep lah.” jawab Yossida pede.

“Punya lo?” Fenardi bertanya lagi.

“Bukan, punya Sinta.” sahut Yossida.

“Beneran? Sejak kapan istri lo punya bokep?” tanya Fenardi tak percaya.

“Dari arisannya.” jelas Yossida.

“Arisan?” Fenardi makin bingung sekarang.

Yossida mengangguk dan tersenyum lebar. Ia memasukkan kembali tumpukkan kaset bokep koleksi Sinta dan meletakkan kembali kabinet itu di laci samping kiri kasur.

“Lalu apa tujuan lo nunjukkin ini semua ke gua?” tanya Fenardi tak mengerti.

“Mau yang nggak kalah seru sama yang kemarin?” tawar Yossida nakal. Sebelum Fenardi sempat menjawab, ia mengisyaratkan sang sahabat agar mengikutinya keluar. Yossida mulai menaiki tangga menuju lantai dua, mengajak Fenardi yang masih kebingungan menuju kamar anaknya.

“Anak gua lagi jalan-jalan ke mall, jadi lo bisa lihat kegiatan mereka secara jelas.” jelas Yossida.

“Mereka?” Fenardi masih bingung saat Yossida mengajaknya melangkah masuk menuju balkon kamar. “Lihat apaan, Yos?” tanyanya penuh rasa curiga.

“Lirik ke kiri bawah lo.” kata Yossida.

Fenardi melirik ke bawah dan bisa melihat dengan jelas kegiatan apa yang Yossida maksudkan. Di sebuah taman yang terdapat di perkarangan tetangga Yossida, terlihat tiga orang wanita; mulai dari ibu muda hingga setengah baya, mereka tampak saling tertawa dan bergosip bersama.

“Apaan, Yos? Cuma ibu-ibu lagi arisan gitu.” kata Fenardi.

“Lo liat tivi di pojoknya kan?” tanya Yossida.

“Iya, liat. Emang kenapa?” tanya Fenardi.

“Tunggu aja apa yang bakal dipasang sebentar lagi.” Yossida menyahut.

Seorang wanita berambut panjang berjalan masuk, disambut oleh pekikan hangat para ibu-ibu. Fenardi bisa melihat jelas bahwa wanita itu adalah Sinta, terlihat dari bentuk tubuhnya yang seperti gitar spanyol. Dari gerak-geriknya, Fenardi bisa melihat Sinta mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya; sebuah kaset vcd. Tidak menunggu lama, ia memasukkan video cd itu ke dalam dvd player dan menyetelnya. Kini jelaslah sudah apa yang sedang mereka tonton.

***

Sinta – Jumat pukul 07.34

“Ibu-ibu, aku kemarin baru dapat jatah loh.” Sinta berpromosi.

“Ih, Sinta mah asik banget. Suami aku mana kuat lagi berdiri?” Wanita berusia paling matang di antara mereka menjawab dengan penuh antusias.

“Ah, jeng Martha bisa aja. Emm, tapi bukan dari suami aku!” jelas Sinta terus terang.

Semua langsung nyerocos secara bersamaan. “Ama siapa, jeng? Ih, nggak cerita-cerita!” kata Maria, sang pemilik rumah, berusia sepantaran dengan Sinta namun rambutnya di cat pirang mentereng.

“Kamu kok beruntung banget sih bisa sering-sering, suami aku mah sibuk melayar di laut sana.” cetus Ratih, yang berusia paling muda diantara mereka, baru memasuki usia kepala tiga.

“Temen suami aku.” jelas Sinta. ”Padahal dia udah kawin juga loh, tapi dia jago banget mainnya! Enak banget deh, jeng!” Sinta terkikik.

“Aku jadi mulai horny nih.” Maria sudah mulai mengelus-ngelus selangkangannya.

“Eh, tunggu dulu! Dvd yang aku pesen dari forum asik itu baru dateng kemarin.” kata Sinta.

“Ayo cepetan dong dipasang, jeng! Ih, kelamaan nih.” Martha mulai membuka kancing dasternya.

Perlahan suara musik elektrik mulai terdengar. Di layar teve, tampak dua orang wanita bertubuh seksi memasuki ruangan ditemani empat orang laki-laki macho yang batangnya sudah tegang semua. Melihat adegan ini, semua ibu-ibu itu dengan tidak membuang waktu lagi langsung melucuti semua pakaian masing-masing hingga telanjang bulat.

Martha memiliki payudara yang paling besar meski sudah sedikit londoi, lumayan menakjubkan dengan puting coklat yang mencuat keras. Ia mulai menggesek-gesekkan tangannya ke atas memek penuh bulunya yang sudah basah. Dari kursinya, ia mulai melenguh-lenguh sambil memainkan payudaranya dengan tangan yang lain.

“Jeng Martha semangat banget deh, sini aku bantu.” kata tuan rumah hari itu, Maria, yang berusia sekitar 37 tahun. Suaminya terlalu sibuk berpergian ke luar negeri hingga ia menemukan bahwa dirinya juga cukup terangsang dengan bermain bersama-sama sesama wanita. Payudaranya yang lumayan besar dan memeknya yang terawat bersih dari bulu dijamin bakal membuat banyak laki-laki ngiler. Ia mulai mengelus-ngelus payudara Martha sambil menggigiti leher tetangganya itu.

“Ooooh... Mar! Aku nggak pernah bosan deh kalau kamu gituin. Emmmh…” rintih Martha kegelian.

Maria semakin aktif dan mengajak Martha bagun dari kursinya. Ia telah menyediakan matras besar di tengah kursi-kursi yang dipasang melingkar. Dengan tangannya, Maria mengisyaratkan agar Martha merebahkan diri disana. Bertindihan, ia dengan leluasa bisa menciumi pentil coklat Martha dan menyedot-nyedot pentil yang sudah mancung karena horny berat itu. Maria menggesek-gesekkan memeknya agar clitoris mereka berdua dapat bertemu.

“Ratih mau ikutan?” tanya Sinta pada wanita yang tersisa.

“Emmh… boleh, mbak.” jawab Ratih malu-malu, ia menerima ajakan Sinta dengan melumat bibir wanita itu penuh nafsu. Tangannya mulai sibuk memainkan payudara Sinta yang bundar dan mencubit-cubit putingnya. Mereka mengambil posisi di sebelah Maria dan Martha, keduanya tidak mau kalah sibuk, Sinta dan Ratih merubah posisi mereka menjadi 69 sekarang dan mulai menjilati memek pasangan mereka masing-masing.

“Emmm... memek kamu enak banget, Rat.” bisik Sinta.

“Oooooh… ahhhh... mbak, jangan disitu, mbak! Emmmh…” rintih Ratih kegelian.

Aroma jembut Ratih membuat nafsu Sinta semakin membara. Ia mengemut dan menghisap-hisap klitoris Ratih yang menyembul keluar dengan begitu semangat. Sembari melakukan itu, Sinta memasukkan tiga buah jarinya untuk mengobel-ngobel memek Ratih yang sempit dengan tidak kalah semangat.

Diserang seperti itu, cairan vagina Ratih langsung mengalir keluar dengan deras diikuti dengan dengus nafasnya yang semakin tersengal-sengal. “Ahhh... mbak Sinta! Emmmh… aaaaahhhhhh…” desah Ratih keenakan. Ia membalas dengan menghisap memek Sinta tak kalah keras.

“Ah, ya... begitu! Jilat terus, mbak! Enak banget! Aku ketagihan sama jilatanmu, mbak! Emmmmh… jilat terus punyaku, mbak…” rintih Sinta.

Ratih mengangguk cepat dan mulai kembali sibuk menghisap-hisap memek mulus Sinta. Lidahnya ia sempilkan masuk ke dalam lubang kecil nan rapat itu dan dengan leluasa ia putar-putar dan ditekan-tekannya penuh nafsu. Sambil tangan kanannya memainkan payudara Sinta yang lumayan besar, putingnya yang sudah mancung ia pilin sekeras mungkin. Sensasi nakal yang Ratih peroleh dari hubungan senggama penuh nafsu dengan Sinta memang begitu hebat, membuatnya horny setengah mati. Sementara tangannya yang lain ia turunkan ke bawah untuk mengelus-ngelus pantat Sinta yang mengkal dan halus menawan. Sesekali Ratih juga mengelus lubang anus Sinta dan menekan-nekan bagian luarnya dengan jari telunjuk, membuat Sinta menggelinjang dan memekik lirih.

“Mbak, ahhh… jangan teken yang itu, mbak! Emmmh…” rintih Sinta.

“Mbak beneran nggak mau?” goda Ratih.

“Mbak, jangan, mbak! Emmmh… ooooh…” lirih Sinta.

Cerita ngentot istri orang http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com/

Ratih tersenyum nakal dan menyelipkan jari telunjuknya masuk. Liang anus Sinta yang sempit langsung menjepit jarinya dengan begitu kencang dan rapat. Tubuh Sinta seketika juga bergetar hebat oleh sensasi baru itu. “Ahhh… mbak! Aku nggak kuat, mbak! Ohhhh...” wanita itu menjerit.

“Masa sih, mbak? Emmmh… kok kayaknya mbak malah menikmati gitu!” Ratih menusukkan jari telunjuknya dan menekannya masuk semakin dalam.

”Ahhhh... mbak!” Sinta kembali mengerang hebat dan membenamkan kepalanya semakin jauh ke dalam selangkangan Ratih.

Maria melepaskan gigitannya dari puting Martha dan memandangi wajah wanita yang kelelahan itu. Ia menjilat habis bibir Martha dan melumatnya penuh nafsu. Martha hanya bisa mengerang keenakan sambil tangannya semakin ganas memainkan memeknya sendiri.

“Mbak mau coba mainan baru aku nggak?” tanya Maria.

“Emm... mainan baru apa, Mar? Aku mau dong!” kata Martha antusias.

“Liat nih, jeng, oke kan?” Maria tersenyum nakal dan mengeluarkan sebuah dildo panjang dengan dua buah sisi.

“Aku mau dong, mbak! Kayaknya, emmmh… enak banget!” Martha menjilat bibirnya.

Maria mulai merangkak turun dan bergeser ke selangkangan Martha. Dengan dildo panjang di tangan kanannya, ia mulai menjilati memek Martha yang sebenarnya sudah amat sangat basah itu. cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com Martha hanya bisa menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, keenakan. Ia melenguh panjang bagai sapi yang mau disembelih saat Maria mulai memasukkan kepala dildo yang berujung tumpul perlahan-lahan ke dalam memeknya yang sudah terbuka lebar.

“Kumasukkan ya, mbak!” kata Maria, tangannya terus mendorong.

“Ahh… Maria, emmmh… enak banget! Ahhhh...” dengus Martha dengan tubuh berjengit nikmat. BLESSS!!! Dildo itu dengan mudah menembus memeknya, mentok hingga ke mulut rahimnya.

“Ooohhh... emmmmhh… yang cepet, Maria! Eemmmmh…” lenguh Martha saat Maria mulai menyodok-nyodokkan dildo itu keluar masuk dengan cepat di lubang kemaluannya. Dia hanya bisa menggelinjang hebat saat menerimanya. Payudaranya yang besar bergerak naik turun seiring dengan irama kocokan dildo di tangan Maria.

“Ahhhh… emmmmmh… ooooh…” Maria menghentikan gerakannya dan mulai memasukkan ujung dildo yang lain ke dalam memeknya sendiri. Dia dan Martha sama-sama tidur telentang dengan kedua pantat saling bersentuhan, sementara sebuah dildo panjang menghubungkan kedua memek mereka yang terkuak lebar.

“Ahhh... mbak Martha, goyangin pinggul mbak dong! Oooh…” pinta Maria.

“Mmmmh… ahhh… kamu juga dong, mbak! Emmmh… emmmh…” sahut Martha.

Ratih dan Sinta yang berbaring tak jauh dari situ, mulai mengubah posisi mereka dengan tetap saling berpagutan mulut. Sinta menciumi Ratih penuh nafsu sambil meremas-remas kencang payudara wanita cantik itu. Ratih yang tidak mau kalah menarik rambut panjang Sinta ke belakang dan menjilati leher Sinta yang halus dan menggairahkan.

“Emm... mbak Sinta, kita bantuin mereka yuk?” bisik Ratih pada Sinta.

“Boleh, ayo kita ikut nimbrung.” angguk Sinta.

Mereka berdua tersenyum dan merangkak menuju Martha dan Maria yang sama-sama menutup mata penuh kenikmatan. Ratih menggenggam dildo tepat di bagian tengah dan mulai menggerakkannya maju-mundur, menusuk alat kelamin Martha dan Maria secara bergantian, sambil sesekali menekan dildo itu keluar masuk secara bersamaan di memek mereka berdua. Tangan kirinya ikut bekerja dengan memainkan klitoris Sinta yang semakin bergairah melihat erangan penuh nafsu dari Maria dan Martha. Sinta sendiri mendekati selangkangan Martha dan menjilati klitoris wanita setengah baya itu yang tersembul manis di balik hutan rimba miliknya. Klitoris itu ia pelintir dengan lidahnya dan sesekali ia hisap penuh nafsu.

“Mbak Sinta, ahhhhh… isapan mu, oooh… Ratih! Emmmmh… dildonya… ahhhh...” rintih Martha kebingungan.

“Makin cepet, Rat! Ayo, emmmmh… aahhhh... oooohhhh...” desah Maria tak mau kalah.

“Ahh… segini gimana, mbak, cukup cepet nggak?” tanya Ratih sambil mengocok dildo di tangannya semakin kencang.

Asiknya tukeran istri, waktu vagina istri dipake cowok lain, payudara besarnya dikulum kenyot remas
Klik foto untuk memperbesar gambar


”Ahhhh... ahhhh... ahhhhh… emmmh…” membuat Martha dan Maria menjerit berbarengan penuh kenikmatan.

Ratih mulai menyondongkan tubuhnya menuju Maria dan menjilati puting merahnya yang sudah mencuat karena horny. Keempat wanita itupun melanjutkan ‘arisan’ penuh nafsu itu selama satu jam ke depan tanpa menyadari bahwa ada dua orang laki-laki yang memperhatikan kegiatan mereka dari beranda di rumah sebelah.


Bersambung

Asiknya tukeran istri - 1
Asiknya tukeran istri - 2
Asiknya tukeran istri - 3
Asiknya tukeran istri - 4
Asiknya tukeran istri - 5
Asiknya tukeran istri - 2
Asiknya tukeran istri - 2, cerita seks , Asiknya tukeran istri, waktu vagina istri dipake cowok lain, payudara besarnya dikulum kenyot remas, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Asiknya tukeran istri - 2

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com