Asiknya tukeran istri - 3

Yossida berjalan menghampiri Fenardi yang baru saja membereskan meja kantornya. “Hei, kawan! Mau pulang cepat-cepat nih?” tanyanya.

“Iya, boss. Capek banget gue.” jawab Fenardi.

“Capek ngapain lo?”



“Ya capek kerja lah! Emang capek mau ngapain lagi?”

“Hahaha… gini, Bos. Gue mau nanya sesuatu,”

“Nanya apa?”

“Berhubung anak-anak kita semua lagi study tour hari ini, boleh nggak gue maen ke rumah lo?”

“Mau ngapain?”

“Yah lo ngerti lah, hehehe…”

“Lha terus gue gimana? Nanti Mona tau dong!”

“Masalah itu, gue udah nyiapin acara buat lo malem ini.”

Seorang wanita berjalan menghampiri mereka dari belakang. “Selamat malam, pak Yossida. Jadi pak rencananya mau nganterin saya malem ini?” tanya wanita itu.

Yossida dan Fenardi berbalik secara bersamaan. “Aduh, Alia, maaf ya… tapi saya ada krisis di rumah. Istri lagi resek.” jawab Yossida.

“Ohh, begitu, Pak.” Alia terlihat sedih dan murung. Wajah manisnya yang masih sangat muda dan menarik membuat Fenardi begitu gregetan.

“Tetapi mungkin pak Fenardi tidak keberatan mau nganterin kamu.” kata Yossida sambil melirik Fenardi.

“Benar, Pak?” Alia ikut mengalihkan pandangannya pada Fenardi.

Fenardi melirik Yossida bingung. Yossida mengkedipkan mata kanannya dan tersenyum licik. Fenardi mengerti apa yang Yossida maksud. “Sebentar ya, Alia, saya mau berbicara sebentar dengan pak Yossida.” kata Fenardi.

“Baik, pak.” Alia mengangguk.

Fenardi mengajak Yossida berjalan maju dan berbisik kepadanya, “Lo gila ya, Yos?”

“Gue tau lo naksir ama dia, siapa yang nggak? Dan lagi dia juga kayaknya demen ama lo!” kata Yossida.

“Iya juga sih, tapi apa gak sebaiknya gue maen ke rumah lo aja. Maksud gue, ama Sinta gitu, biar kita… mmh... impas?”

“Dia lagi dapet hari ini, kalau dia juga lagi gak dapet, mana mungkin gue mau jalanin rencana ini?”

“Sial banget…” Fenardi melirik ke arah Alia yang berdiri sambil memainkan handphonenya. “Ya sudahlah, kapan lagi dapet durian runtuh seperti ini.” katanya kemudian.

Yossida tersenyum lebar. “Nah, gitu dong.”

Cerita pesta seks tukeran istri


Fenardi – Sabtu pukul 18.40

“Silahkan masuk, Alia.” Fenardi membukakan pintu mobil sedannya dan membiarkan Alia masuk.

“Terima kasih, Pak.” kata Alia.

Dengan tidak sabar, Fenardi masuk ke dalam mobilnya dan berpura-pura menunggu mobilnya panas. “Sebentar ya, Alia, kalau tidak panas, mobil ini sering mogok.”

“Saya juga, mmh... nggak terburu-buru kok, Pak.” Alia tersenyum manis membalas perkataan Fenardi.

“Rumah kamu dimana, Alia?” tanya Fenardi.

“Saya ngekost di daerah Tanjung Duren, Pak.”

“Enggak jauh dong ya dari sini?”

“Iya, Pak.”

“Enggak usah panggil aku bapak, Fenardi saja.”

“Oke deh, emmh… mas Fenardi...”

“Gitu dong,” Fenardi tersenyum lebar. “Kamu sudah punya pacar, Al?” tanyanya kemudian.

“Belum, Pak. Mmmh… saya belum sempat...”

“Masa wanita secantik kamu belum dapat pacar?”

“Ah, bapak bisa saja…”

Fenardi meletakkan tangannya di atas paha Alia dan memandangi wajah resepsionis cantik itu. Ia bisa mendengar nafas Alia yang semakin tidak teratur dan wajahnya yang semakin mendekat. “Kamu cantik banget loh, Al.” rayu Fenardi.

“Ah, bapak… gombal deh,” Alia tersipu malu.

Fenardi menaikkan tangan kanannya dan mengelus pipi lembut Alia. Ia menarik wajah gadis itu mendekat dan mencium bibir merahnya. Alia awalnya membalas ciuman itu dengan kikuk, namun setelah lidah mereka bertautan, ia semakin semangat dan mulai melumat bibir Fenardi dengan tidak kalah bernafsu.

“Ahhhh... Pak Fenardi… emmmh…” lenguh Alia.

“Kamu wangi banget, Alia… mmmmh…” puji Fenardi.

“Bapak… mmmh… mau main di kostan aku?” tawar Alia.

Fenardi tidak menjawab pertanyaan itu dan hanya tersenyum lebar. Ia langsung melepas rem tangan mobil itu dan mengendarainya cepat keluar dari gedung perkantorannya. Tangan kanannya sibuk mengendarai setir mobil matic miliknya sementara tangan kirinya tidak pernah ia angkat dari atas paha mulusAlia.

***

Yossida – Sabtu pukul 19.20

“Mona, kamu sudah siap belum? Air baknya sudah penuh.” tanya Yossida.

“Siap dong, mas.”

Yossida berbalik dan takjub melihat Mona yang tampil sangat seksi. Wanita itu memakai daster tipis dari kain sutra sepanjang paha tanpa memakai daleman. Payudaranya terpampang indah dan memeknya yang tembem membuat Yossida tidak bisa bersabar lagi. Rambutnya yang bergelombang ia biarkan tergerai indah. Perlahan ia berjalan menuju Yossida yang masih ternganga memperhatikan kecantikannya.

“Kamu cantik banget, Mona.” puji Yossida.

“Terima kasih, Yos.” Mona mencium bibir Yossida mesra dan memautkan lidahnya dengan lidah laki-laki itu. Tangannya mulai menarik lepas dasi yang Yossida pakai dan membuka beberapa kancing pertama dari kemeja birunya.
“Masa kamu mau mandi pakai baju sih, sayang?” tanyanya manja.

“Memangnya kita bakal mandi?” Yossida bertanya balik.

“Memangnya kamu mau bajumu basah? Hmmm...” Mona tersenyum nakal dan berjalan masuk menuju kamar mandinya. Bak panjang itu telah diisi air hangat hingga penuh dan Mona mulai membuka dasternya, diikuti oleh Yossida yang melepaskan ikat pinggang dan celana kerjanya.

Yossida melepaskan celana dalam putihnya dan berjalan masuk mengikuti Mona. Tidak lupa ia menutup pintu kamar mandi itu. Lekuk tubuh Mona yang menawan membuatnya semakin terangsang. Pantat Mona yang bulat bergetar dengan indah setiap kali ia berjalan mendekati bath-tubnya.

“Ayo dong, Yos, kamu nunggu apa lagi?” ajak Mona.

“Enggak nunggu apa-apa kok, sayang.” Yossida memeluk Mona dari belakang dan mencium lehernya.

“Emmh… Yos, aku masih keringetan loh.” Mona menggelinjang.

“Tapi keringet kamu wangi, hmm... enak sekali…” sahut Yossida.

“Ahh… jangan dijilat leherku, Yos… ahhhh…” Mona mengangkat tangannya dan merenggut rambut Yossida yang sibuk mencumbui lehernya. Nafas Yossida yang menderu-deru membuat Mona tidak kalah terangsang. Ia menggesek-gesekkan pantat sengkelnya ke penis Yossida. Dalam hitungan detik, batang keperkasaan Yossida sudah berdiri tegak menantang.

“Mas sudah semangat aja nih… mmhhh…” Mona mendesah.

“Kamu seksi sekali, Mona…” bisik Yossida di telinga wanita cantik itu.

Mona melepaskan dirinya dari pelukan Yossida dan berjalan masuk ke dalam bath-tubnya yang sudah penuh. Ia melirik centil kepada Yossida dan menariknya masuk. Air hangat di dalam bak mandi itu tumpah bersamaan dengan masuknya kedua manusia yang digelapkan nafsu itu. Mona meletakkan kepalanya di bahu Yossida yang sedang bersandar di dinding.

“Ahhhh… emmmmmmhh…” Mona mulai merintih.

“Rileks saja, Mon.” kata Yossida.

“Mana aku bisa rileks kalau kamunya tegang begitu.” sambil berkata, tangan Mona menggenggam penis Yossida yang tidak melemas sama sekali.

“Kamu semangat sekali, Mona…”

“Kamu juga kan, mas?”

Tangan Yossida mulai memainkan payudara Mona, meremasnya halus penuh kemesraan. Kedua tangannya mencubit-cubit puting pink Mona yang semakin lama semakin keras. Mona mendesah penuh nafsu. “Ahhhh… Yossida… emmmmh… ahhhhh…”

“Kamu jangan cepat-cepat, Sayang. Nanti aku keluarnya cepet gimana?” tanya Yossida.

“Ya udah deh, mas, aku hisap saja gimana?” tawar Mona genit.

“Masih perlu nanya?”

Mona tersenyum nakal dan merubah posisinya menjadi menungging. Yossida mengangkat pantatnya dan duduk di pojokan bath-tub dengan kakinya sedikit mengangkang. Mona langsung merangkak maju dan melahap habis penis Yossida yang sudah mengacung tinggi. Mona menjilat glans Yossida yang masih tertutupi sedikit kulup. Lidahnya menyelip masuk dan memaksa kulup itu tertarik ke bawah. Kepala penisnya yang berwarna coklat semakin keras setelah kulup itu berhasil ditarik Mona ke bawah.

“Ahhhh… Mona, pela-pelan dong… emmmmh…” Yossida merintih keenakan.

“Kamu seneng kan, mas Yos? Hmmm…” Mona memasukkan semua penis Yossida ke dalam mulutnya dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur ke depan dan ke belakang.

“Ahhhh… emmmhm… enak sekali, Mona…” Yossida merintih semakin keras.

“Mmmmmh... mmmmhhhh...”

“Ahhhh... Mona, terus… ahhhh… terus… emmmh…” tubuh Yossida mulai bergetar pelan.

Tangan Mona terus meremas-remas biji Yossida dengan nafsu. “Ahhh… enak sekali penis kamu, Yos.” bisiknya di sela-sela jilatannya.

“Jilatan kamu juga… emmmmh… enak banget!” balas Yossida.

Mona menurunkan kepalanya dan menjilat kedua kantung kemih Yossida satu persatu. Ia hisap-hisap buah zakar itu satu persatu secara bergantian. Yossida mendesah hebat dan menggelinjang penuh gairah. “Ahhhhhh… mmmmmmh… Mona… mmmmh…”

“Puuuaaaah…” Mona memuntahkan penis Yossida. ”Gantian ya, Sayang?” pintanya kemudian.

“Tentu saja, Manis...” Yossida mencium Mona dan memutar tubuhnya untuk mengganti posisi mereka. Yossida sekarang mulai jongkok dan Mona yang menduduki ujung bath tub.

“Dijilat dong, Say…” Mona meminta.

“Engak usah kamu minta, Mon… Emmmmh!” Yossida menjilati memek Mona dengan begitu bernafsu. Lidahnya dimasukkan ke dalam lubang vagina perempuan itu dan diputar-putar cepat. Kepalanya semakin menekan masuk dan hidungnya menghirup aroma jembut Mona yang membuatnya semakin horny.

“OOOOOHHH… aaaahhh… emmmmh...” Mona menggelinjang hebat dan mendesah lirih. “Emmmmh… mas… enak banget, mas… ahhhh…” Mona memainkan payudaranya. Ia menariknya ke atas dan menghisap putingnya sendiri. “Ahhhh… emmmmhhh… mas… mas…” rintihannya semakin terdengar pilu.

“Ada apa, Mona?” tanya Yossida dengan mulut masih menempel di selangkangan Mona.

“Mau bantu aku nggak, mas?” tanya Mona.

“Bantu apa, sayang?”

“Aku mau, mas, cukur aku dong...”

“Cukur?”

“Iya, mas… aku udah lama enggak... emm... cukuran.”

“Kamu yakin?”

Mona mengangguk dan menjilat lidahnya sendiri. Yossida sedikit kebingungan mendengar permintaan Mona, namun ia terlalu bernafsu untuk mempertanyakan permintaan aneh itu.

“Cukuran sama shave foamnya ada di situ, mas.” Mona menunjuk lemari kecil di sebelah pintu.

Yossida tidak berkata apa-apa dan berjalan keluar mengambil benda yang diminta oleh Mona. Setelah mendapatkannya, ia kembali ke posisinya yang sebelumnya dan mulai menutupi selangkangan Mona dengan shaving foam milik Fenardi.

“Emmmmh… dingin, mas…” Mona merintih. Tubuh montoknya sedikit menggelinjang.

“Kamu beneran mau shave sekarang?” tanya Yossida.

“Ayo dong, mas… aku udah enggak sabar nih.” Mona meminta.

Yossida menekan alat cukuran jenggot yang biasa dipakai oleh Fenardi di selangkangan wanita cantik itu. Ia mulai menarik cukuran itu ke bawah dan membersihkan jembut Mona perlahan-lahan. Sensasi dingin dari silet yang Yossida pakai membuat Mona semakin terangsang. Ia mendesah penuh nafsu dan bergetar hebat. “Ahhhh… emmmmh…” rintihnya pelan.

“Kamu sepertinya nafsu sekali dicukur begini, Mon.” kata Yossida.

“Aku enggak tahu, mas… rasanya… emmmh… enak banget gitu...”

“Oke, sudah bersih.” Yossida membilas memek Mona dan membersihkan sisa-sisa foam dari selangkangannya.

“Bagaimana memekku sekarang, mas?” tanya Mona.

“Enggak kalah cantik kok dari sebelumnya.” sahut Yossida dengan mata tak berkedip memandanginya.

“Ah, mas bisa aja…” Mona tersipu malu.

“Sudah basah saja nih, Mon…” Yossida mencolek celahnya yang sempit.

“Emmmh… masukin sekarang, mas…”

Yossida berdiri dan mendekati Mona. Mona tanpa diberi aba-aba, menarik penis Yossida dan memaksanya masuk menuju memeknya yang sudah bersih dari bulu jembut.

“Ahhhh… Mas Yos… besar banget… emmmmhhh!!” Mona merintih.

“Kamu suka, Mon? Hmmmm...” tanya Yossida sambil terus mendesakkan penisnya.

“Ahhhhh… suka banget, mas… emmmmmmhhh!!” dengan mudah penis itu meluncur masuk dan tenggelam sepenuhnya di vagina sempit Mona.

”Ughhh...” Yossida mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur, ke depan dan ke belakang. Semakin lama ritmenya semakin cepat. Mona mendesah dan memeluk pundak Yossida. Yossida memainkan pinggulnya dan mulai menciumi puting Mona yang sudah keras setengah mati.

“Ahhhh... mas… emmmmmhhhh… fuck! Ahhhhh...”

“Mona… emmmh… Mona… I love you… mmmmhh!!”

“I love you tooo… ahhhhh… emmmmh...”

Tangan Mona melepas pelukannya dan mulai memainkan klitorisnya. Ia menekan-nekan klitorisnya semakin cepat seiring dengan tusukan masuk penis Yossida yang sudah mendekati puncaknya.

“Ahhh... aku udah mau sampai, Mon… emmmmh…”

“Aku… mmmmmhhh... juga, mas… ahhhh…”

“Ohhh… ooohhhh…”

”Cepet… mmmmh… cepet, mas! Mmmmmhhh…”

“OOOHHH… AHHHH… AHHHH…”

CROOOT! CROOOT!! CROOOOT!!!

Penis Yossida menyemburkan semua spermanya di dalam. Mona memeluk Yossida lemas dan mencium bibirnya. Ia melumat bibir Yossida penuh nafsu dan lidahnya berpautan penuh nafsu dengan lidah Yossida. “Kamu hebat sekali, mas Yos. Aku belum pernah sampai secepat itu… mmmmhhhh!”

Yossida membalas ciuman Mona sambil melirik kamera yang ia pasang di bawah kloset yang merekam kegiatan bejat mereka secara sempurna hari itu.

***

Fenardi – Sabtu pukul 19.34

“Ahhhh… ahhhh… ahhhhh… aaahhhhhh…”

“Enak, Alia? Hmmmm?”

“Ahhh… ahhhh… Pak Fenardi… mmmmh… ahhh… ahhh...”

Fenardi menunduk dan mencium punggung seksi Alia tanpa melepaskan penisnya dari memek Alia yang rapat dan benar-benar basah. “Emmmmh… memek kamu sempit banget, Alia… mmmmhhh… enak banget.”

“Ahhhh… ahhhhh… ohhhh… pak… emmmhhhh…”

“Kamu suka penis aku, Alia? Hmmmm…” Fenardi menghunuskan penisnya dalam-dalam dan menahan gerakannya.

Alia menahan nafasnya dan mengerang kencang. “Ahhhhhh… enak banget… emmmh… pak… ahhhhhhh!!”

“Bagaimana ya rasanya lubangmu yang lain?”

“Ahhhh… apa, Pak?”

Fenardi melumasi lubang anus Alia dengan ludahnya. Ia memasukkan telunjuknya tanpa permisi pada Alia. Alia terkejut dan tubuhnya merinding geli. Ia mengerang kesakitan namun juga penuh nafsu. “Ahhhh... jangan, Pak… aku belum pernah... ahhh…”

“Setiap orang kan punya pertama kalinya, Alia, hmmm...”

“Enggak, Pak… ahhh... jangan… ahhhhh!”

“Kamu bilangnya jangan, tapi kok kayaknya malah semakin nafsu, Al?”

“Emmmmh… Pak… telunjuk bapak… ahhhh… anus saya rasanya aneh, Pak…”

“Siap ya bapak anal?”

“Jangan, Pak… ahhhhh!!”

Fenardi mengeluarkan penisnya dari memek Alia dan mengarahkannya sedikit ke atas.

“Pak! Enggak, Pak… ahhhhh…”

“Rileks saja, Alia…”

“Ahhhh… emmmmmhhhh...”

Fenardi terus memaksa penisnya masuk menuju lubang sempit Alia. Ia semakin nafsu melihat penolakan dari gadis itu, terlebih lagi membayangkan istrinya sedang bersenggama dengan Yossida sekarang. Ia sudah tidak tahan lagi.

“OOOOH... PAKK!! AHHHH...”

“Rileks, Alia… ooohhh… rileks!”

Alia membenamkan kepalanya ke atas bantal untuk meredam teriakannya. Ia berkeringat basah dan seluruh tubuhnya menegang akibat sensasi penis Fenardi di lubang anusnya. Fenardi yang mulai merasa nyaman mulai memainkan pinggulnya keluar masuk. Ia melenguh penuh nafsu akibat sensasi jepitan kencang dari anus Alia.

“Sempit banget, Al… mmmhh!”

“Perih, Pak… perihhh… ahhhh!” rintih Alia.

Fenardi bisa melihat percikan darah di penisnya. Namun ia tidak menghentikan gerakannya. “Kamu juga perih kan saat memek kamu pertama kali dijebol? Hmmm...”

“Ahhh... tapi, Pak, itu kan sudah lama… ahhhh… hampir sepuluh tahun yang… emmmh... lalu!”

“Sekarang jadi enak kan? Hmmmm... Nanti juga kamu… ahhh… keenakan… ooooh…”

Air mata Alia mulai mengalir. Ia bahagia bisa merasakan hubungan bersenggama dengan Fenardi, atasannya yang sudah menjadi sasarannya sejak ia mulai bekerja di perusahaan itu, namun rasa perih bercampur nikmat itu terlalu besar untuk bisa ia redam. Ia pasrah dan mulai berusaha untuk menikmatinya.

***

Fenardi – Senin pukul 12.47

Yossida dan Fenardi memasuki ruangan fotokopi di kantornya yang tidak ada orang. Karyawan-karyaman lain sedang mengambil jam makan siang mereka namun Yossida ingin menunjukkan hal lain yang lebih mengenyangkan.

“Eh, istri gue kok bisa udah cukuran ya? Pas ama lo dia udah cukuran belum?” tanya Fenardi penasaran.

“Lebih tepatnya pas ama gue dia cukurannya.” jawab Yossida.

“Sumpah?” Fenardi tak percaya.

“Nih, lihat aja videonya.” Yossida menyerahkan sebuah cd dan memutarnya di laptop Fenardi yang sedari tadi ia bawa. Fenardi tertakjub-takjub melihat adegan langsung istrinya yang sedang bersenggama dengan sahabatnya. Bagaimana istrinya bergelinjang saat penis Yossida memasuki lubang kewanitaannya. Bagaimana ia terlihat begitu nakal meminta Yossida mencukur bulu jembutnya. Bagaimana ia begitu nafsu menjilati penis Yossida. Pemandangan ini membuatnya begitu bernafsu, ia tidak dapat lagi menahan jendolan besar di dalam celana dalamnya.

“Asik kan, bro?” tanya Yossida.

“Enak enggak istri gue?” Fenardi bertanya balik.

“Enggak pernah enggak enak.” sahut Yossida cepat.

Mereka berdua tertawa dan melakukan tos seakan-akan keduanya bangga telah melakukan sesuatu. Mereka melanjutkan menonton rekaman adegan senggama Mona dan Yossida saat seseorang memasuki ruangan itu.

“Lho, ada orang?”

Fenardi menutup layar laptopnya terkejut dan bersama-sama membalikkan badannya kikuk bersama Yossida. Mario, boss mereka, sedang berdiri sambil membawa sebuah tumpukkan kertas. Ia terlihat bingung melihat ekspressi kaget mereka berdua yang tidak bisa berbicara apa-apa. Keringat dingin mulai menetes di kedua dahi laki-laki tersebut. Mario mendekat dan bisa mendengar suara erangan-erangan nakal dari dua insan yang berasal dari video itu.

“Nonton bokep ya kalian?” tanya Mario.

“Emmmmh... itu, Pak… emmmmh... anu…” Fenardi tergagap saat mencoba untuk menjawab.

Tanpa minta ijin, Mario membuka laptop itu dan terkejut melihat pelaku kegiatan ’bokep’ itu. Ia mengenali Mona dari acara gathering kantornya enam bulan yang lalu, dan ia tahu pasti Mona bukanlah istri dari Yossida. Ia menengok ke arah Fenardi dan Yossida yang sama-sama menundukkan kepalanya menghadap ke lantai.

“Kamu tahu akan ini, Fenardi?” tanya Mario.

“Emhhh… sebenernya, Pak…”

“Sebenernya?”

“Emmmhhh… kami sudah… emmmhhh… memberikan ijin untuk… anu… untuk…”

“Untuk saling bertukar pasangan?” tebak Mario.

“Iya, Pak. Emmmmh... untuk itu…” Fenardi menundukkan kepalanya. Malu.

“Istri kalian tahu?” tanya Mario lagi.

“Tidak, Pak… kami tidak... emmmh... memberitahu mereka.”

Mario mengangguk-angguk dan mematikan video itu. “Orang-orang sudah mulai kembali ke sini dan akan heboh jika semua orang tahu.” katanya bijak.

Fenardi dan Yossida hanya bisa mengangguk.

“Bisa kalian tutup pintu ruangan ini?” perintah Mario.

Yossida berjalan dan menutup pintu ruangan kecil itu. Mario menarik sebuah bangku dan mempersilahkan mereka duduk. “Aku tidak menyangka kalian tidak memberitahukan ’hobi’ kalian sebelumnya ke saya.” Mario berkata.

Yossida dan Fenardi sama-sama terkejut. “Maksud… maksud bapak?” tanya Fenardi.

“Perusahaan ini perusahaan besar. Lebih dari dua ratus karyawan. Apa kalian kira sedikit jumlah laki-laki paruh baya yang membutuhkan hiburan baru?”

Yossida dan Fenardi tidak bisa berkata apa-apa.

“Yang lebih mengejutkan lagi, kalian melakukannya benar-benar seperti prosedur kami. Tidak memberitahu pasangan yang dimaksud sama sekali.”

Yossida dan Fenardi sama-sama mengangguk.

“Meski begitu, ada satu ada dua orang istri yang sudah mengetahui kegiatan ini. Namun tentunya mereka merahasiakannya dengan baik, sekaligus dengan senang hati ikut berpartisipasi.”

“Emmmhhhh… anu, pak… jadi maksud bapak, di perusahaan ini banyak juga yang… emmmh... bertukar istri?” tanya Fenardi penasaran.

“Lumayan... selain saya, ada pak Yusuf di bagian personalia, pak Robert di bagian akuntan, pak Sunaryo di bagian marketing, pak Santoso di bagian komputerisasi, dan... hmm pak Hassan si vice president.”

Yossida dan Fenardi tidak dapat menutupi keterkejutan mereka.

“Sudah berapa lama kalian melakukan ini?” tanya Mario.

“Hmm, mungkin belum sampai seminggu, Pak.” jawab Yossida.

“Benar, kita baru mulai melakukan ini rabu lalu, Pak.” Fenardi membenarkan.

“Bagus sekali, berarti kalian masih baru ya.” Mario manggut-manggut.

Yossida dan Fenardi sama-sama mengangguk.

“Kita akan melakukan gathering di ruang rapat pada hari rabu ini. Kalian akan saya panggil untuk rapat pada hari rabu siang, dan tentunya, kita akan rapat bukan?” Mario tersenyum lebar. Yossida dan Fenardi membalas senyumannya dengan kikuk.

“Ya sudah, kalian jangan sering-sering cuti kalau tidak mau, terpaksa, saya pecat. Lanjutkan pekerjaan kalian!”

Yossida dan Fenardi menunduk hormat dan berjalan keluar dari ruangan fotokopi itu dengan terburu-buru.

***

Yossida – Rabu pukul 14.37

“Kau sudah menerima panggilannya, Fen?” tanya Yossida pada Fenardi.

“Sudah, kau?”

“Yup, ruang rapat kan?”

Mereka berdua mulai berdiri dan berjalan menuju ruang rapat yang dimaksud.

“Apakah kau memikirkan ini dua hari ke belakang?” tanya Yossida.

“Selalu. Bahkan meskipun hampir dua hari ini gue berhubungan mulu sama Mona, entah kenapa pikiran gue selalu ke pertemuan ini.” jawab Fenardi.

“Dua hari ini berturut-turut? Semangat amat lo?” sindir Yossida.

“Iya dong, sekali di dapur. Sumpah waktu itu Mona tahu-tahu ngajakin gue abis makan malem.”

“Terus?”

“Iya, rupanya tuh seharian dia pakai semacam vibrator kecil di dalam memeknya. Pas gue buka celana dalemnya, dia tuh udah basah banget.”

“Anjrit, asik banget.”

“Penis gue masuknya aja udah gampang banget. Gak nyampe sepuluh menit, kita berdua sama-sama nyampe.”

“Yang kedua?”

“Kalau ini lebih gila lagi, dia ngajakin gue di balkon pas malem-malem.”

“Di balkon?”

“Iya, entah nonton apa aja dia akhir-akhir ini.”

“Gak masuk angin lo?”

“Kagak dong, udah minum tolak angin.”

“Terus gimana begituannya?”

“Maknyuss! Gue maenin dia sekarang di anusnya. Rapet parah! Dia bilang dia belum pernah, tapi entah kenapa gue rasa dia bo’ong.”

“Gak mungkin gitu doang kan?”

“Enggak lah. Dia gue doggy style selama beberapa menit, terus berubah posisi sampai dia meluk gue sambil gue duduk di bawah.”

“Emm, enak banget lo kayaknya.”

“Belom lagi memeknya yang lezat banget. Beneran deh, Yos, entah kenapa libido gue naek drastis seminggu ini. Gue berasa anak kuliahan lagi!”

“Sama, bro! Gue juga.”

“Lah lo gimana ama istri lo? Bukannya lagi dapet?”

“Kan berdarahnya di meki, gue maennya ya di bool.”

“Asik deh, gimana rasa anus istri lo?”

“Mantap, bro! Dari woman on top ampe misionaris, semua gue coba. Dia bahkan minta belajar deepthroat sama minta di face-fuck.”

“Face-fuck?”

“Iya, jadi dia mau ngulum penis gue selama gue maenin pinggul gue maju mundur ke depan dan ke belakang kayak kalau lagi vaginal seks.”

“Rasanya gimana?”

“Sumpah mati, asik banget, sob!”

“Lain kali gue harus coba, semoga aja pinggang gue enggak ngilu duluan.”

“Bicara begini jadi tegang punya gue.”

“Sama. Eh, kita udah nyampe.”

Yossida dan Fenardi berdiri di depan sebuah pintu ruang rapat dan membukanya. Di dalamnya lima orang laki-laki berusia 40 – 50an sedang duduk sambil bersenda gurau.

“Nah, ini dia anggota baru kita!” Mario menyambut mereka sambil tersenyum lebar.

“Yossida dan Fenardi kan? Saya rasa kalian saya sudah kenal saya.” tanya seseorang yang bertubuh gendut.

“Tentu, pak Hassan.” Fenardi dan Yossida menunduk hormat.

“Ah, tidak usah terlalu formal. Silahkan duduk dan tolong tutup pintunya.” kata Pak Hassan.

Mereka duduk di sebelah Santoso dan Sunaryo yang langsung menyambut mereka hangat.

“Wah, Fenardi! Tidak kusangka kau juga suka main beginian.”

“Iya, pak Santoso, sudah jenuh-jenuhnya.”

“Aku juga begitu tiga tahun lalu, untung aku bertemu dengan Mario dan Hassan. Tiga gelas bir kemudian, terbentuklah klub ini.”

“Benar! Klub tukar istri!” Robert menyahut dari seberang meja dan tertawa lebar.

“Kau sudah berapa lama melakukan ini, Yos?” Sunaryo bertanya pada Yossida.

“Baru seminggu, Pak.” jawab Yossida.

“Wah, baru sekali! Bagaimana kau mengetahui mereka, Mario?” tanya Sunaryo pada Mario.

“Mereka lagi nonton hasilnya saat aku masuk di ruang fotokopi.” sahut Mario.

“Kau rekam semua itu? Asik kali!”

“Be-begitulah, Pak… hehe.” Yossida tertawa kikuk.

“Langsung saja ke acara kita. Baik, setelah minggu lalu kita melakukan rotasi kita dengan amat sempurna. Bagaimana rasanya Rosita, Santoso?” Mario berdiri dari kursinya.

Santoso hanya bisa mengacungkan jempol.

“Dan saya rasa semua juga puas kan?” tanya Mario pada semua peserta rapat.

Semua kecuali Fenardi dan Yossida mengangguk.

“Saya sudah memasukkan nama Mona, istri Fenardi, dan Sinta, istri Yossida, ke dalam kotak kocokan kita.” kata Mario memberitahu.

“Kotak kocokan?” Yossida bertanya tak mengerti.

“Kamu tahu kan prosedur arisan, Yos?” tanya Mario.

“Oh, seperti arisan…”

Fenardi mendekati Yossida dan berbisik di telinganya. “Jadi inget arisan istri lo,”

“Sssst!”

Cerita suami istri pesta seks http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com/

Fenardi tertawa mendengar reaksi Yossida.

“Dari semua istri, hanya istri saya, Rosita, dan istri Hassan, Nuraini, yang mengetahui ‘permainan’ kita. Oleh karena itu, siapapun yang mendapatkan kedua nama itu bisa melakukannya tanpa ‘taktik’ tertentu.” Mario menjelaskan.

“Benar sekali. Untuk istri Robert, Linda. Istri Sunaryo, Asih, dan istri Santoso, Mela, kita harus memakai sebuah trik khusus.”

“Lebih tepatnya obat khusus.” Hassan mengeluarkan sebuah kotak obat dari bawah mejanya.

“Obat?” Fenardi melongokkan kepalanya.

“Iya, obat peningkat nafsu seksual yang Hassan temukan di Arab. Dengan obat ini, istri-istri yang tidak tahu menahu itu akan menjadi horny seketika. Ingat, seketika dan bersedia melakukan hubungan itu. Tetapi setelah ia tertidur dan kelelahan, ia tidak akan mengingat hal yang terjadi. Semua bagaikan mimpi basah bagi mereka.” jelas Mario.

“Tapi, Pak, apakah tidak ada efek sampingnya?” Fenardi bertanya ragu.

“Meskipun kita bisa merayu mereka dengan cara tradisional, apakah tidak akan ribet jika satu istri nanti memiliki enam selingkuhan?” tanya Mario.

Fenardi hanya bisa diam.

“Tenang saja, Fen. Kita memakai dosis yang tepat dan hanya dipakai satu kali dalam satu minggu. Istrimu tidak akan mendapatkan efek samping apa-apa. Obat ini sudah dipakai ratusan tahun di arab sana dan belum ada yang meninggal.” jelas Hassan.

“Benar, sob, istri aku saja tidak apa-apa.” Sunaryo meyakinkan mereka berdua.

“Kau tidak akan menyesal, Fen, aku pun tidak.” Robert tersenyum nakal.

“Percayalah sama kita.” Santoso berusaha meyakinkan mereka berdua.

“Baiklah, kurasa tidak ada salahnya.” ucap Fenardi pada akhirnya.

“Emh… tapi, istri saya lagi dapet.” Yossida tiba-tiba berbicara.

Asiknya tukeran istri - 3, istri pesta seks depan suami sambil ngentot memek masuk penis besar orang lain, istri nakal
Klik foto untuk memperbesar gambar


“Kalau begitu Sunaryo bisa dipastikan mendapat jatah istrimu hari ini. Ia tidak keberatan melihat… hmm… sedikit darah.” kata Mario.

Sunaryo mengangguk-angguk dan berbisik kepada Yossida. “Jadi tambah anget.”

Yossida hanya bisa merinding membayangkannya.

“Baiklah, mari kita mulai. Nama pertama dimulai dari pendatang baru kita. Fenardi mendapatkan…” Mario menahan perkataannya dan mengocok kotak kardus itu dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas saat ditekan ke atas meja.

Bersambung

Asiknya tukeran istri - 1
Asiknya tukeran istri - 2
Asiknya tukeran istri - 3
Asiknya tukeran istri - 4
Asiknya tukeran istri - 5
Asiknya tukeran istri - 3
Asiknya tukeran istri - 3, cerita seks , Asiknya tukeran istri - 3, istri pesta seks depan suami sambil ngentot memek masuk penis besar orang lain, istri nakal, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Asiknya tukeran istri - 3

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com