Asiknya tukeran istri - 4

Fenardi memarkirkan mobilnya di depan pagar berwarna hitam dan berjalan menuju rumah milik Robert. Sebuah rumah besar dengan tiga lantai dan perkarangan yang luas. Anak-anaknya sudah berkuliah di berbagai perusahaan swasta dan rumah itu sekarang hanya ditinggali oleh Robert dan istrinya, Linda.


Ia mengetuk pintu rumah itu dan dalam beberapa menit Linda sudah berjalan keluar. Linda adalah perempuan yang sangat cantik. Rambutnya yang ikal dan dicat warna merah jatuh dengan sangat indah di bahunya. Kulitnya yang putih pucat ditambah wajah orientalnya yang eksotis membuat Fenardi semakin tidak sabar untuk mencobanya. Payudaranya yang cukup besar juga tertata rapi di balik bajunya.

“Siapa ya?” tanya Linda.

“Saya Fenardi, Bu. Dari perusahaan bapak.”

“Oh iya, Pak Fenardi. Apa kabar, Pak? Bapak belum pulang.”

“Iya, Bu. Bapak menyuruh saya menunggu di rumahnya selama ia menyelesaikan beberapa urusan kantor.”

“Oh begitu, ya sudah, silahkan masuk.”

Rumah milik Robert bisa dibilang sangat besar. Ruang tamunya terkesan megah dengan dua buah sofa panjang dan foto keluarganya yang teramat besar menjadi latar belakang.

“Silahkan duduk, mas, mau makan dulu?”

“Tidak usah, Bu, saya sudah makan.”

“Ya sudah, minum saja, gimana? Sirup?”

“Boleh, Bu.”

Linda berjalan ke dapurnya dan menyiapkan dua buah gelas sirup. Fenardi diam-diam mengeluarkan obatnya dan meletakkannya di tangan kirinya. Linda datang dan meletakkan dua buah gelas, satu untuk Fenardi dan satu untuknya. Pada saat itu juga, Fenardi yang berpura-pura memainkan handphonenya dengan tangan kanan, menelepon rumah Robert. Linda berpaling dan berjalan untuk mengangkat telepon itu. Dalam sepersekian detik itu, Fenardi memasukkan obat berbentuk seperti tablet itu ke dalam gelas milik Linda.

Berhasil...!!!

“Halo? Halo? Siapa sih?” Linda meletakkan teleponnya dengan kesal. “Maaf ya, mas, telepon nyasar kayaknya.”

“Enggak apa-apa kok, Bu.”

Linda meminum sirupnya dan Fenardi hanya bisa tersenyum lebar sambil melakukan gerakan yang sama.

Mereka mulai mengobrol masalah perusahaan tempat Fenardi berkerja dan pendidikan anak masing-masing. Lama kelamaan obat itu mulai berfungsi dan Fenardi menyadari Linda yang tatapan matanya mulai sayu dan tersenyum nakal kepadanya. Fenardi berani bersumpah Linda menekan-nekan selangkangannya saat ia menjelaskan mengenai anaknya yang baru mau naik kelas satu SMA.

“Ehm... ibu baik-baik saja?” tanya Fenardi pura-pura.

“Aku baik-baik saja kok, mas Fenardi, emh… cuma aja…”

“Cuma aja?”

“Aku boleh curhat enggak sama mas?”

Fenardi menelan ludahnya. “Mmh… boleh, Bu.”

Linda berdiri dari kursinya dan duduk di sebelah Fenardi. “Iya, mas, aku akhir-akhir ini kesepian deh.”

“Kesepian?”

“Iya, suami aku pergi ke kantor dari pagi sampai malam, sedangkan pembantu pulang hari. Aku jadinya sering merasa, emh... sepi gitu, mas.” Tangan Linda mulai merangkak naik dari lutut Fenardi menuju selangkangannya.

“Emm, mbak, memangnya mau saya temenin?” Fenardi tidak membuang-buang waktu.

“Boleh, mas? Beneran nih? Mmm...” Linda mendekatkan kepalanya dan mencium Fenardi.

Fenardi tidak membuang-buang kesempatan itu dan segera melumat habis mulut Linda. Lidahnya bermain-main berpautan dengan lidah Linda yang bernafas semakin menggebu-gebu.

“Ooh... Mas… mmmmhhh...”

“Ahhhh... mbak Linda… mmmmmhhh!!!”

Linda berjongkok dan membuka celana kerja Fenardi. Ia langsung menarik turun celana dalam laki-laki itu, mengekspos kontol Fenardi yang sudah berdiri tegak dan mengacung bahagia.

“Emm… punya mas gede sekali. Aku suka deh.” genit Linda.

“Jangan cuma dilihat. Coba dicium...”

Linda mendekat dan mengendus-ngendus zakar kontol Fenardi sambil tangannya mengenggam batangnya yang kaku dan tegang. “Emm... aku suka sekali, mas.”

“Ahh… oooh… mmmh… coba dicicipi… mmmh… dijilat gitu!”

Linda tersenyum nakal dan menggerakan kepalanya naik. Ia menjilat kepala kontol Fenardi yang disunat ketat dan mengulumnya dengan kedua bibirnya. Lidahnya menari-nari di lubang pipisnya, mengirimkan sensasi geli penuh kenikmatan ke seluruh penjuru tubuh Fenardi. Fenardi mendesah nikmat dan ia mulai membuka kemejanya. Tangan Linda bergerak naik turun mulai mengocok kontol Fenardi tanpa melepas jilatannya. Perlahan ia melepas genggamannya dan melingkari pangkal kontolnya degan jari jempol dan telunjuknya. Ia menekan lingkarannya ke bawah dan kepalanya mulai menelan habis semua kontol Fenardi.

“Ahh... mbak… emmmhhh… enak banget!! Ooooohhh…” Fenardi merintih manakala Linda semakin mempercepat permainan kepalanya. Fenardi semakin mendesah penuh kenikmatan dan mengerjap-ngerjapkan matanya akibat sensasi yang ia rasakan.

“Puuuahhhh… mmmmh… aku suka sekali sama kontol mas Fenardi…” Linda mulai membuka bajunya dan memamerkan payudaranya yang tidak dilapisi bra sama sekali. Payudara besar itu membuat Fenardi begitu bernafsu dan ingin memainkannya. Namun Linda menahannya dan memaksanya untuk tetap duduk. “Tunggu dulu, mas, aku belum selesai lho.”

“Mau ngapain lagi, Linda sayang?”

“Tunggu aja, hihi...” Linda bergerak maju dan menjepit kontol Fenardi dengan kedua payudaranya. Fenardi merasakan sensasi lembut payudara Linda di kontolnya dan ia menggelinjang keenakan. Linda mengapit kontol Fenardi dengan payudaranya dan memainkannya naik dan turun dengan bantuan tekanan dari kedua tangannya. Fenardi yang sedang mengangkang hanya bisa mendesah keenakan sambil menggigiti bibir bawahnya.

“Enak kan, mas? Hmmm...”

“Oooooh... enak banget, Lin… emmmh… mantap!”

Linda melanjutkan kulumannya di kepala kontol Fenardi yang menjembul di antara payudaranya. Fenardi bisa merasakan puncaknya hampir tiba dan tubuhnya berkontraksi kencang. “Ahhhh... mbak Linda… ahhh... aku mau… emmmh… sampai!! Ahhhhh!”

Linda melepaskan kulumannya dan memainkan payudaranya naik dan turun semakin cepat. CROOOT! CROOOT!! CROOOOT!!! Peju Fenardi bermuncratan di payudara Linda yang masih mengapit kontolnya.

“Ahhh... mas Fenardi nakal yah, mmmmhhh...” Linda menjilat peju itu dari payudaranya dan melirik nakal ke arah Fenardi. Fenardi hanya bisa tersenyum puas dan lemas, duduk bahagia di bawah foto keluarga Robert dan Linda.

***

Fenardi – Rabu pukul 19:13

“OOOOOH! MAS! MAS! TERUS, MAS! EMMMH!” Linda berteriak penuh nafsu sambil menunggangi kontol Fenardi dalam posisi woman on top. Fenardi yang sudah mulai kelelahan, harus menuruti libido wanita berusia lima tahun lebih tua itu. Karena menurut petunjuk Hassan, si wanita harus tertidur dahulu baru ia akan melupakan segala hal yang sudah terjadi. Mau tidak mau, meskipun sebenarnya mengasyikkan, ia harus terus mengentoti Linda sampai wanita itu kelelahan. Meskipun ini sudah ronde yang keempat.

“Emmmh… ahhhhh… mas… emmmmhh… enak kan, mas? Hmmmmm…” Linda bertanya penuh nafsu sambil menggigit bibir bawahnya. Memeknya meremas kontol Fenardi dengan amat sangat kencang. Fenardi masih takjub merasakan betapa sempitnya memek wanita yang lebih tua ini. Payudara Linda yang mulai turun bergoyang-goyang seksi penuh nafsu. Putingnya yang sedari tadi mengacung dicubit-cubit gemas oleh Fenardi.

“Kamu seksi banget, mbak… emmmh… emmmmh…”

“Aaahhhhh… mas, cepet… mas… emmmmh…” Linda mencium bibir Fenardi secara tiba-tiba, mengejutkan Fenardi yang sedang sibuk memainkan payudaranya. Namun meskipun mendadak, Fenardi melayani lumatan bibir Linda dengan tidak kalah bersemangat dan memainkan lidahnya sebaik mungkin untuk memuaskan permainan lidah Linda yang teramat liar.

“Mas, enak banget, mas… emmmmhhh…”

“Beneran, mbak? Hmmmm... seenak itu kah? Hmmm...” Fenardi bertanya nakal sambil memainkan pinggulnya semakin kencang.

“He-eh, emmmmh… mas ganteng… ahhhhh!”

“Oh ya, mbak? Emmm…”

“AHHHH! AHHHH! EMMMMH! OOOOHHH!” Linda menggelinjang hebat dan mencapai orgasmenya yang keenam. Tubuhnya bergetar dan berkontraksi. Ia mengeluarkan suara teriakan penuh nafsu panjang. “AHHHHH... MAS… MAS… AHHHHH... AKU SAMPAI… AHHHH!!!”

“Aku juga, mbak… emmmh... ooooh... OOOOH!”

CROOOT! CROOOOT!! CROOOOT!!!

Linda terbaring lemas dan bernafas tersengal-sengal. Fenardi menyeka keringat di dahinya dan memperhatikan jam di tangannya. Ia memikirkan istrinya yang sekarang sedang digilir oleh Santoso dan entah sudah selesai atau belum kegiatan ’ekskul’ mereka. Ia menengok dan melihat Linda yang sudah mulai mendengkur lemas. Wajahnya tersenyum puas.

Fenardi menarik perlahan kontolnya yang sudah mulai melemas dan memperhatika pejunya yang terus mengalir keluar dari lubang memek Linda. Ia membersihkan kontolnya dengan sprei kasur dan mulai memakai kembali pakaiannya yang berserakan di sepanjang rumah. Celana dalam di kasur, celana kerja di lorong dan kemeja di ruang tamu. Sebelum pergi, ia menutup pintu gerbang rumah Linda dan Robert. Dengan mobil sedannya, ia memulai perjalanannya pulang menuju rumahnya.

***

Yossida – Rabu pukul 19:48

Yossida membuka gerbangnya yang terkunci dan berjalan masuk. Ia memperhatikan keadaan rumahnya yang sepi. Anaknya, Marsha, pulang malam hampir setiap hari. Ia biasanya bermain di rumah sahabatnya dan pulang pukul sembilan malam setiap harinya. Ia tidak melihat ada mobil lain di jalanan luar dan sepatu milik Hassan di depan pintu rumahnya. Ia masih bisa merasakan sensasi memeknya Asih yang begitu rapat dan legit. Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan memek Mona yang benar-benar megambil hatinya, setidaknya memiliki memek lain untuk dimainkan merupakan hadiah tersendiri di sela-sela pekerjaan kantornya yang amat monoton.

“Honey, aku pulang!” ia berteriak dari ruang tamu.

Sinta berjalan keluar dari kamarnya. Ia berpakaian seadanya dan rambutnya sedikit berantakan. Yang paling membuat Yossida terkejut adalah tatapan kosong yang Sinta berikan dan gerak-gerik tubuhnya yang seperti kebingungan.

“Sinta, kamu kenapa?” Yossida menyadari bahwa ini adalah efek samping dari obat yang Hassan berikan.

“Enggak, sayang, aku cuma bingung. Aku lupa ngapain aja dari sore tadi.”

Yossida berpura-pura khawatir meskipun tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu kenapa, sayang? Kayak orang ling-lung begitu.”

“Aku lupa abis jam enam, aku ngapain aja. Abis nonton gosip investigasi itu, aku… aku…”

“Ya udah, kamu sekarang duduk aja dulu. Aku udah makan kok, sayang.”

“Oh iya, kamu kenapa pulang jam segini?”

“Tadi diajak dinner sama pak… emm... Pak Hassan, sebentar.”

“Pak Hassan? Pak Hassan…”

Yossida terdiam menunggu reaksi dari Sinta. “Oh, Pak Hassan yang kemarin ketemu di gathering kantor kamu kan?”

Yossida bernafas lega. “Iya, yang itu.”

“Oh, ya udah. Aku udah masak lo, say. Beneran gak mau makan lagi?”

“Enggak ah, aku udah kenyang.”

Sinta hanya mengangguk lemas dan berjalan masuk ke kamar. Yossida tersenyum puas melihat obatnya yang bekerja sesuai dengan harapannya.

***

Fenardi – Kamis pukul 10:35

“Gimana kemarin? Asih enak enggak?”

“Lumayan, tapi masih enakan istri lo sih.”

“Tenang, nanti bakal dapet gilirannya kok!”

Mereka berdua tertawa sambil membaca sebuah majalah laki-laki dewasa.

“Eh, gila nih toketnya, kenceng banget!” kata Yossida.

“Ya iyalah, dibandingin istri-istri kita.” sahut Fenardi.

“Enak aja! Sinta masih oke ya!”

“Oke sih oke, tapi dibandingin sama Alia?”

“Oh iya, Alia! Lo belom cerita waktu itu gimana abis lo ‘anterin’ pulang.”

Fenardi kemudian menceritakan sesi memekl dan analnya bersama Alia yang tidak bisa ia lupakan. Sejak hari itu, Alia semakin centil dan manis setiap kali bertemu Fenardi. Meskipun mereka sepakat untuk tidak berhubungan dengan sms sama sekali karena masing-masing orang sudah memiliki pasangan.

“Aduh, pengen banget gue yang masih muda begitu.”

“Mau? Kenapa enggak siang ini aja?”

“Lo serius?”

Fenardi hanya tertawa dan berbisik ke arah Yossida. “Ketemuan di ruang fotokopi nanti pas jam makan siang.”

Yossida tersenyum puas dan mengancungkan jempolnya. Buru-buru ia masukkan majalah dewasa yang ia pegang ke dalam meja kantornya saat seseorang berjalan melintas.

***

Yossida – Kamis pukul 12:24

Yossida menunggu dengan tidak sabar. kontolnya sudah mengeras sejak sepuluh menit yang lalu. Tidak henti-hentinya ia mengelus-ngelus selangkangannya sendiri akibat terlalu horny. Suasana kantor di dekat ruang fotokopi memang selalu sepi. Apalagi saat jam makan siang, pantry di kantor mereka terletak sangat jauh dari lokasinya sekarang. Fenardi kemudian masuk sambil diikuti oleh Alia yang sudah tersenyum-senyum centil.

“Ini dia, sob!” kata Fenardi pada Yossida.

Alia masuk dan langsung tersenyum centil kepada Yossida. Ia tidak membuang-buang waktu dan mulai membuka blusnya. Fenardi menutup pintu ruangan itu dan melepaskan celana kerjanya. Yossida mengikuti gerakan Fenardi dan memamerkan kontolnya yang sudah mengacung tinggi ke langit.

“Ih, Pak Yossida udah enggak sabar ya?” tanya Alia.

“Iya dong, Alia, habis kamu cantik banget.” sahut Yossida.

“Ah, bapak ini.” Muka cantik Alia bersemu merah.

Yossida mencium Alia sambil membantunya melepaskan behanya. Ia langsung menyergap payudara Alia yang besar dan lembut, kencang dan menantang. Ia meremas-remasnya penuh nafsu hingga Alia mendesah-desah penuh gairah. Fenardi mulai menggesek-gesekkan kontolnya ke pantat Alia yang masih ditutupi rok dan menciumi lehernya. Alia semakin bergairah akibat sensasi yang ia dapatkan dari dua laki-laki berusia matang dan sudah beristri itu. Matanya sekarang sudah merem melek, memeknya sekarang sudah amat sangat basah. Ia sudah sama sekali tidak memikirkan tunangannya yang menunggunya dengan setia di kampung.

“Emm... tetek kamu enak banget, Al. Emmmmhh...” Yossida sekarang sudah mengemut pentil Alia yang berwarna pink manis dengan tangan kanannya memainkan puting yang lain. Fenardi berhasil menurunkan rok Alia ke bawah hingga gadis itu sudah benar-benar telanjang bulat sekarang.

“Ahhhh... Pak… emmmmhhh…” rintih Alia saat Fenardi jongkok dan mulai menjilati lubang anus dan memeknya secara bersamaan. Tangan laki-laki itu sudah mulai mengelus-ngelus memeknya sambil lidahnya menekan-nekan lubang boolnya. Alia mengangkat satu kakinya ke mesin fotokopi, memberikan ‘akses’ yang lebih terbuka kepada Fenardi. Dia mendesah penuh nafsu saat Fenardi menyelipkan dua jarinya ke dalam lubang memeknyaa yang sudah basah dan menekan-nekannya cepat. Nafasnya semakin tidak beraturan dan tubuhnya mulai menggelinjang-menggelinjang hebat. Yossida mulai mengocok-ngocok kontolnya sendiri penuh nafsu tanpa melepaskan gigitannya pada puting Alia yang mulai mengeras.

“Aku masukin sekarang ya, Alia?” tanya Fenardi.

“Emmh… silahkan, Pak… oooohhhh…”

Fenardi menekan kepala kontolnya ke lubang anus Alia yang masih sangat rapat. Alia memekik kesakitan saat Fenardi berhasil memasukkan kepala kontolnya. Yossida mencium bibirnya untuk menenangkan suara Alia sambil mempersiapkan kontolnya memasuki lobang memek gadis itu.

“Aku masukin juga ya, Alia?” kata Yossida.

“Emmm… dua sekaligus? Aahhhh… emmmmmhhhh…”

“He-eh, kamu mau kan?” tanpa menunggu jawaban dari Alia, Yossida menekan masuk kontolnya ke dalam memek Alia hingga tubuhnya menggelinjang hebat. Fenardi kemudian menahan kaki kanan Alia yang sudah terangkat ke atas mesin fotokopi dengan lengannya, kemudian mengangkat kaki kirinya dengan lengannya yang lain. Alia kini terangkat dari daratan dengan dua buah kontol bosnya sebagai penyangga.

“AHHHH… OOOOOOHHH… AHHHHH...” rintih Alia keenakan.

Yossida bisa merasakan kontolnya yang bergesekkan dengan kontol Fenardi meskipun terhalangi daging dan otot-otot yang lain. Ia tersenyum memandangi sahabatnya yang membantu Alia bertahan di udara dengan menahan pinggangnya. Mereka mulai memompa secara bergantian. Fenardi masuk saat Yossida menarik keluar dan Yossida masuk saat Fenardi menarik keluar. Ritme mereka begitu terkendali, Alia merasakan sensasi seksual yang teramat besar dan memabukkan. Matanya berputar ke belakang penuh nafsu dan ia hanya bisa mengerang-ngerang nakal sebagai balasannya.

“AHHHH… AHHHHH… AHHHHH… PAK! EMMMMH… dua kontol kalian… emmmmhh… enak banget… emmmhh! AHHH... AHHHH...”

“Memek kamu juga rapet banget, Al… emmmmh… ahhh…” sahut Yossida.

“Anus kamu juga... emmmmh! AHHHHHH...” tambah Fenardi.

Tubuh Alia menggelinjang hebat dan berkontraksi akibat orgasmenya yang akan datang sebentar lagi. Ia mengigit bibir bawahnya penuh nafsu dan berharap posisi ini bisa bertahan selamanya.

Pada momen yang sama, Yossida dan Fenardi juga hampir sampai. Mereka berdua pun menyodok masuk kontol mereka secara bersamaan dan mengeluarkan semua peju mereka di dalam. CROOOT! CROOOT! CROOOOT!! CROOOOOT!!!

”Oughhhhh…” Alia melenguh hebat dan mencapai orgasmenya. Ia tersengal-sengal dan mencium Yossida dan Fenardi mesra bergantian. Ia bisa merasakan peju hangat mereka mengalir dalam perutnya. Ia begitu bahagia dan terpuaskan.

Yossida melihat Fenardi yang tersenyum puas dan mengacungkan jempolnya. Yossida hanya mengangguk nakal dan melepaskan ciuman Alia. “Kamu siap ganti posisi, sayang?” tanyanya kemudian.

Alia terlihat kebingungan.

“Iya, sekarang aku mau anal kamu.” kata Yossida.

“Dan aku mau memek kamu.” sahut Fenardi.

Alia terkejut. “APA?!”

***

Fenardi – Selasa pukul 14:45

Setelah threesome mereka yang memuaskan di ruang fotokopi minggu lalu, Alia mengambil cuti karena kelelahan dan masuk kembali senin kemarin. Sikap centilnya belum berubah bahkan kemarin, ia memberikan Fenardi sebuah blowjob di toilet kantor karena begitu nafsu. Di rumah pun, Mona semakin menjadi-jadi dalam meminta jatah. Ia berhubungan hampir setiap malam dan Fenardi merasa sangat bahagia. Hidupnya tidak pernah semenyenangkan ini. Ia tidak menyangka perjanjiannya dengan Yossida bisa membawa begitu banyak berkah, kesenangan, dan kepuasan dalam usianya yang bisa dibilang tidak muda lagi. Ia menjadi lebih semangat bekerja, begitu pula dengan Yossida yang menjadi lebih berkharisma akibat kehidupan seksualnya yang kembali ‘panas’. Hari itu, tiba-tiba mereka mendapatkan panggilan untuk rapat kembali. Mungkin pergiliran berikutnya.

Ruang rapat itu menjadi sangat berisik saat setiap suami menceritakan pengalamannya berhubungan seksual degan istri rekan kantornya yang lain. Hassan bercerita bagaimana Sinta begitu ahli dalam memainkan lidah dan pinggulnya. Betapa montok pantat dan payudaranya untuk wanita yang menginjak kepala empat dan betapa harum dan menggiurkan memek istri Yossida itu. Santoso tidak mau kalah seru dan menceritakan pada Fenardi betapa rapatnya memek Mona. Ia menceritakan bagaimana mereka begitu nafsu melakukan hubungan seksual selama empat ronde di kebun, dapur bahkan ruang tamu mereka.

Tiba-tiba Mario berdiri dan menepukkan tangannya dua kali. Semuanya langsung terdiam dan menunggu pengumuman dari Mario. “Baiklah, ini sudah waktu yang tepat untuk mengadakan gathering.”

“Gathering?” tanya Fenardi.

“Iya, Fen. Gathering! Selama tiga bulan sekali, kami melakukan pertukaran massal di villa Hassan di puncak.” kata Mario.

“Tapi kami orang baru disini?” Fenardi berkilah.

“Tapi gathering terakhir kami adalah tiga bulan yang lalu! Itu adalah peraturannya.” Mario tetap memaksa.

“Lalu siapa yang akan dapat istri siapa?” tanya Fenardi.

“Itu sih, lihat nanti saja.” Robert, Hassan, Mario, Sunaryo dan Santoso tersenyum lebar.

“Kalian belum pernah ikut sex party?” tanya Mario.

Yossida dan Fenardi menggeleng.

“Gang-bang?” Mario bertanya lagi.

Mereka kembali menggeleng

“Orgy?”

“Itu semua kan sama! Kita belum pernah berhubungan seks yang bukan one-on-one!” jelas Fenardi.

“Masa? Lalu kemarin siapa yang berisik di ruang fotokopi?”
Sunaryo tiba-tiba menyeletuk. Fenardi dan Yossida terkejut mendengar perkataannya.

“Ta-tapi… ba-bagaimana... kau tahu?” gagap Yossida.

“Tenang saja, kawan. Alia itu memang hot kok. Aku mengerti, hehehe.” Sunaryo tertawa.

“Alia? Resepsionis seksi itu? Kalian beruntung sekali!”

Yossida dan Fenardi hanya bisa tertawa terpaksa mendengar pernyataan Robert.

“Jadi, kita berangkat hari apa, bos?” Santoso tiba-tiba bertanya.

“Sabtu pagi ini saya akan melaporkan kepergian kalian sebagai ‘urusan kantor’. Kita akan konvoy mulai di kantor ini jam 7 pagi. Jangan ada yang telat ya, dan… saya rasa kalian tidak perlu membawa baju banyak-banyak.” Mario tersenyum lebar dan diikuti oleh semua laki-laki di ruangan itu. Yossida dan Fenardi saling berpandangan dan kebingungan. Apakah mereka siap untuk sex-party pertama mereka?

***

Fenardi – Sabtu pukul 10:40

Fenardi mengendarai mobilnya melalui jalan tol puncak yang tidak terlalu ramai. Mona tertidur lelap di sebelahnya karena sibuk menyelesaikan semua tugasnya sebagai ibu rumah tangga sebelum mereka bisa berlibur singkat di villa milik pak Hassan. Anaknya sudah ia titipkan ke adiknya dan semua baju sudah ia cuci. Hari itu ia memakai dress selutut yang bisa dibilang cukup mini. Meskipun sebenarya ia lumayan enggan, namun atas permintaan Fenardi, ia hanya bisa menurut. Fenardi memastikan ia bisa melihat mobil Yossida yang melaju dengan cepat di depannya. Ia masih bisa melihat mobil Robert di belakangnya. Ia bahkan bisa melihat Linda yang duduk di sebelahnya. Dari kejauhan pun, ia bisa melihat payudara indah yang dimiliki wanita itu. Tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca spion dan jalan, nafsunya mulai kembali bangun dan menggebu-gebu. Perlahan, batangnya pun mulai mengeras dan menyembul jelas di balik celana jeansnya. Mobil-mobil mereka pun berderetan akibat lampu merah sebelum mengambil jalan tanjakan menuju puncak.

Mona terbangun akibat rem Fenardi yang lumayan mendadak. “Emm, udah mau sampai, sayang?” Mona mendesah ngantuk.

“Baru mau masuk jalan puncak, honey.”

“Kamu kenapa?”

“Maksudnya?” Fenardi bertaya bingung.

“Adek kamu kenapa? Kok berdiri gitu?”

“Kedinginan kayaknya.”

“Kedinginan?! Aneh-aneh aja!”

“Mungkin perlu yang anget-anget kali?” Fenardi melirik Mona centil dan Mona mendengus malu.

“Ih, apa-apaan sih?!” seru wanita itu.

“Ayolah, aku kangen nih.”

“Kangen? Lah emang dua belas jam lalu kita ngapain?”

“Udah kangen lagi…” Fenardi memelas dan memandangi Mona yang perlahan-lahan pasrah.

“Tapi aku malu, mas…”

“Tenang aja, jendela kita gelap kok.”

“Uhhhh…” Mona males-malesan menunduk dan mulai membuka resleting celana Fenardi. Dalam beberapa gerakan, lidahnya sudah mulai menjilati kepala kontol Fenardi yang berwarna coklat gelap.

“OOOOOH… OHHHH… EMMMMH…” erang Fenardi keenakan.

“Emmh… udah banyak precumnya, sayang? Yakin nih kedinginan?” kata Mona.,

“Emmh… enak banget jilatan kamu, Mona… emmhh… ohhhh...”

Mona memasukkan semua batang keperjakaan Fenardi ke dalam mulutnya dan mulai memajukan mundurkan kepalanya ke depan dan ke belakang. Suara gesekan lidahnya dengan kontol Fenardi mengisi keheningan di mobil mereka. Fenardi menelengkan kepalanya ke belakang, tidak sanggup menahan sensasi nikmat yang ia rasakan. Matanya merem melek dan giginya sudah mengigit bibir bawahnya dengan penuh nafsu. Lampu tiba-tiba merubah warnanya, dan ia mulai kembali menginjak gas. Mona melepaskan kulumannya sesaat, menyebabkan Fenardi sedikit jengkel.

“Kok dilepas, sayang?” tanya Fenardi.

“Udah mau jalan kan?”

“Ya lanjut aja dong. Nanggung nih…”

“Nanti… nanti kalau kamu tabrakan gimana?!”

“Enggak lah… ayo dong, please?”

Mona juga tidak dapat menahan nafsunya yang sudah lumayan tinggi. Ia bisa merasakan precum Fenardi yang gurih-gurih nikmat bersatu dengan air liurnya. Mona pun kembali memasukkan kontol Fenardi ke dalam mulutnya dan melanjutkan kegiatan nyepong nya dengan senang hati. Lidahnya ia plintir-plintir dan sesekali batang itu ia gigit pelan dan gemas. Fenardi melanjutkan perjalanan mereka dengan sama sekali tidak fokus. Setidaknya ia juga sama sekali tidak bosan.

***

Yossida – Sabtu pukul 11:30

Setelah sempat tersendat akibat macet tadi, Yossida memarkirkan mobilnya di antara mobil milik Mario dan Hassan. Villa milik bos setengah arab itu berukuran sangat besar. Setidaknya ada sepuluh kamar di villa bergaya modern itu. Perkarangannya juga sangat luas dan memisahkan rumahnya dari rumah terdekat lumayan jauh. Suasana juga sangat sepi karena bukan musimnya liburan. Keenam pasangan itupun mulai turun dari mobil masing-masing.

Mario dan Rosita adalah pasangan yang turun pertama. Mario mengenakan setelan kemeja formal yang dibuka dua kancing pertamanya. Usianya yang menginjak 45 tahun tidak terlihat sama sekali akibat perawakannya yang tinggi dengan bulu dada yang rimbun bagaikan Ridho Rhoma. Darah keturunan bule mengalir dengan kental di Mario, terutama di hidungnya yang mancung rupawan. Istrinya, Rosita, di lain pihak merupakan wanita keturunan Jawa asli. Tubuhnya mungil namun sangat seksi. Mungkin hal itu juga karena usianya yang jauh di bawah Mario. Dengan usia yang baru 28, Rosita adalah wanita paling muda di antara ibu-ibu yang mengikuti gathering kali ini. Payudaranya masih sangat kecang dan rambutnya yang ikal-ikal seksi mengingatkan banyak orang kepada Julia Perez.

Hassan adalah keturunan dari bos arab yang sangat kaya. Wajah arabnya yang masih jelas pun terkesan sangat mewah dan gagah, dibantu oleh gaya berpakaiannya yang benar-benar necis. Dengan usia 48 tahun, Hassan memiliki tubuh yang lumayan atletis meskipun tidak benar-benar jadi. Istrinya, Nuraini, juga merupakan seorang gadis keturunan arab yang tidak kalah cantik. Matanya berwarna abu-abu jernih. Hidungnya mancung dan rambutnya panjang sepinggang. Tidak ada orang yang akan menyangka bahwa ia sudah berumur 35 tahun.

Robert dan Linda menyusul mereka kemudian. Linda yang cantik dalam usianya yang menginjak kepala empat masih menawan bagi Fenardi. Robert di usianya yang sudah 46 tahun, terlihat fit untuk usianya. Meskipun jendulan di perutnya tetap ada, ia tidak pernah terkesan gendut atau bahkan jelek. Belum lagi kumisnya yang gagah menawan bagi sebagian wanita.

Sunaryo dan Asih menyusul turun dari mobil kijang mereka. Sunaryo dengan tampang jawanya yang kental tidak terlalu mencolok di antara mereka semua. Namun konon akibat terapi ‘teh basi’ yang intensif, ia memiliki rudal terpanjang di antara mereka semua. Di usianya yang baru menginjak 43 tahun, ia didampingi oleh Asih yang tidak kalah molek dan menggiurkan. Keturunan Tanah Toraja, Asih memiliki wajah kalem yang sangat menawan dan cantik. Lekuk tubuhnya juga tidak kalah hebat dari Rosita yang berusia sepuluh tahun lebih muda.

Santoso dan Mela berhenti di belakang Fenardi dan turun terlebih dahulu. Santoso beserta Mela adalah pasangan impor dari negeri Singapura. Mela bahkan belum terlalu fasih berbahasa Indonesia. Mela berusia 36 tahun, dua tahun lebih muda dari Santoso. Ia memakai sebuah jaket dan celana jeans yang sangat menonjolkan pantat seksinya.

Mereka mulai bersalam-salaman dan berkelompok sesuai jenis kelamin masing. Para suami mulai bersenda gurau tanpa membicarakan rencana ‘hebat’ mereka selama para istri saling bergosip dan berjalan masuk. Suara tawa mereka bergema di dalam villa besar itu

***

Fenardi – Sabtu pukul 20:37

Para istri sedang bergosip sambil meminum gelas-gelas champagne mereka di ruang tamu besar di villa milik Hassan. Suami-suami sedang merokok di teras depan. Fenardi duduk di sebelah Mario dan menghirup puntung rokoknya. “Jadi, jam berapa, bos?” tanya Fenardi pada Mario.

“Sebentar lagi, saat kalian melihat para istri mulai menciumi satu sama lain, sudah saatnya pesta dimulai.” jelas Mario.

“Bos sudah memasukkan obat itu ke dalam gelas champagne mereka?” tebak Fenardi.

“Istriku yang memasukkan ke dalam botol champagne mereka. Tuh liat saja, mereka sudah mulai beraksi.”

Fenardi melirik masuk ke dalam rumah da ia bisa melihat apa yang dimaksud oleh Mario. Semua suami melakukan hal yang sama dan menghentikan obrolan mereka. Semua puntung rokok mereka matikan. Pertunjukkan yang terjadi di dalam jauh lebih mengasyikkan.

Rosita mulai menciumi bibir Mela yang terlihat sedikit bingung. Ia mengambil gelasnya dan meletakkannya di meja terdekat. Mela terkesan sedikit kaku saat diciumi oleh Rosita, namun obat itu mulai bekerja dan dalam beberapa menit, ia sudah menjadi tidak kalah ganas. Perlahan ia membantu Rosita membuka bajunya. Mereka berduapun melanjutkan acara lumatan bibir mereka dan saling memainkan payudara satu sama lain. Nuraini melakukan tindakan yang sama dengan Asih yang sekarang sudah merebah di atas sofa. Ia menindihnya dan menggesek-gesekkan payudaranya. Asih menerima ciuman Nuraini sepenuh hati dan membiarkan lidahnya dipermainkan oleh wanita itu. Mona dan Sinta sama-sama terlihat terkejut melihat aksi liar keempat istri itu. Sinta yang sudah pernah berhubungan sesama jenis mulai meminta izin dari Mona untuk melakukan hal yang sama. Fenardi bisa melihat istrinya menggelengkan kepalanya enggan dan berusaha menolak. Namun obat itu mulai merasuki dirinya dan ia hanya bisa pasrah saat Sinta melumat habis bibir lembutnya.

Para istri dengan kompak saling melucuti pakaian satu sama lain, dan dalam hitungan menit mereka sudah bertelanjang ria sambil bersenggama dengan wanita lain. Sinta menjilati memek Mona yang mulai menikmati permainan dengan sesama wanita. Ia memainkan putingnya penuh nafsu dan Sinta menyodok-nyodok memek Mona yang baru di shave dengan lidahnya. Mela dan Rosita mulai merubah posisi mereka menjadi 69 dan saling menjilati memek satu sama lain. Rosita sudah cukup ahli dalam menjilati memek wanita akibat sesi permainannya bersama Nuraini. Mela mendesah panas dikobar asmara sambil berusaha menjilati memek Rosita. Aroma pesing dan rasa yang gurih itu mulai memabukkan dan meracuni dirinya. Nuraini memeluk Asih dari belakang dan menggesek-gesekkan payudaranya di punggung Asih yang mulus. Ia mencumbu leher Asih mesra sambil tangannya mengobel-ngobel memek berjembut lebat milik Asih yang sudah sangat basah. Asih meraung-raung panas dan memainkan payudaranya sambil merem melek.

Bersamaan, para suami yang sudah melucuti pakaian mereka memasuki ruangan, setengah mengagetkan para istri. Tetapi bukannya membubarkan acara mereka, para istri malah tersenyum dan berdiri dari sofa mereka masing-masing. Perlahan mereka yang sudah setengah mabuk dan terbius obat mendekati para suami masing-masing dan menciumi mereka. Beberapa bahkan tidak membuang waktu dan langsung berjongkok untuk menjilati batang para suaminya. Suasana ruangan cukup ribut dengan erangan penuh nafsu para suami dan suara ‘cekot cekot’ dan ‘slurput slurput’ yang dikeluarkan para istri. Sebelum mereka mencapai klimaksnya, para suami melepaskan isepan dari istrinya dan membaringkan mereka di lantai. Bersamaan, para suami memulai aksi sodok menyodok mulai dari gaya misionaris, doggy, sampai woman on top di atas karpet milik Hassan. Para istri mengerang hebat dan suami hanya bisa ngos-ngosan penuh nafsu.

Cerita ngentot pesta seks suami istri http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com/

“AHHHH… AHHHHH... CEPET, FEN… EMMMMH!!” Mona mengerang hebat.

“Emmmmh… emmmmmhhhh…” rintih Sinta yang ada di sebelahnya.

“Ahh... pak, ahhhh… ahhhhhh!!” Asih menggelinjang penuh nafsu.

“More… emmmmh… more… emmmh... harder… yesss!! Emmmmhh…” Mela sibuk mendesah penuh nafsu menerima sodokan dari Santoso di lubang memeknya.

“UUUUUUUHHH… YEAH! EMMMMH… OOOOHHH…” Rosita memelintir klitoris dan putingnya dengan kedua tangannya, seiringan dengan genjotan Mario yang semakin cepat.

CROOOT! CROOOT!! CROOOT!!!

Setelah hampir bersamaan mencapai klimaks pertama mereka, para suami mulai merubah posisi mencari pasangan sesuai hati mereka. Fenardi mendekati Rosita yang sedari tadi sudah menarik perhatiannya, sedangkan Yossida mendekati Linda yang tidak kalah mengasyikkan.

“Hai, Rosita.” sapa Fenardi penuh nafsu.

“Eh... mas Fenardi… mau main sama… emh… aku, mas?”

“Tentu saja, cantik, emmmhhh…” Fenardi menyelipkan tiga jarinya sekaligus dan mengobok-obok memek Rosita yang sudah sangat basah. Bibir mereka bertautan dan lidah mereka saling bertempur. Fenardi menyodok-nyodokkan jarinya penuh nafsu dan akhirnya memasukkan batangnya. Ia menggenjot tubuh montok Rosita dalam posisi misionaris.

Rosita mengerang hebat menerima serangan dari batang 18 cm milik Fenardi. “OOOH… emmmmh… oooohhh…”

“Enak, Ros? Hmm...” tanya Fenardi diantara tusukan kontolnya.

“Ah… enak banget, mas… emmmh!!!”

Fenardi melirik Mona yang sedang digerayangi oleh Santoso dan Sunaryo sekaligus. kontol panjang Sunaryo sepertinya memberikan sensasi yang sangat besar bagi memeknya. Ia mengerang hebat dari posisi woman on top dengan menanggapi permainan tangan Santoso di buah dadanya. “Ahh… mas, enak banget, mas… emmmh… gede banget, mas… ahhh...”

“Iki yo enak, mbak! Emm... emmmmhh…” sahut Sunaryo.

“Aku masukin dari belakang ya, Sayang…” tanya Santoso sambil tangannya tak lepas meremas-remas payudara Mona.

“AAAHHH… AHHHH… HE-EH… EMMMH…” Mona mengangguk mengiyakan.

Santoso menyelipkan kontolnya ke dalam bool Mona. Mona menggelinjang hebat dan mengigit bibir bawahnya penuh nafsu. Mela mendekati Sunaryo yang sedang telentang dan menciuminya tiba-tiba. Perlahan ia berjongkok di kepala Sunaryo dan tanpa aba-aba lebih lanjut, Sunaryo menjilat habis memeknya degan sepenuh hati. Mela mendesah hebat dan mencium Mona yang sedang mengerang-ngerang keenakan. Mona menerima lumatan Mela sepenuh hati dan Santoso semakin bernafsu melihat istrinya yang sudah mulai ketagihan bermain dengan sesama jenis.

“Ahh... bo’ol kamu sempit banget, Mona… emmmmhh… ahhhh… ahhhh…” rintih Santoso.

“Does it feel good, honey? Hmm... ahh… ahh...” tanya Mela.

“It’s felt good, baby! Oooohh… oooohhhhh...”

Di sebelah mereka, Yossida menggenjot kontolnya sepenuh nafsu untuk memuaskan Linda yang benar-benar hiperseks. Wanita itu mengerang hebat dan meminta Yossida untuk menyodokknya lebih cepat. “Ayo, mas… ahhh… ahhhh… lebih cepat… emmmmh…”

“Kamu cantik banget, Sin… beneran… emmmhhh!!” rintih Mario.

“Ahh... genjot terus, mas… emmmh... terus… ahhhh…” balas Sinta.

Yossida melihat istrinya yang sedang bergulat dengan dua laki-laki keturunan luar. Sinta mengemut kontol panjang Hassan yang beraroma khas orang keturunan arab. Hassan hanya bisa mengerang menghadapi lumatan maut Sinta yang menghisap habis kontol 20 cm miliknya. Dalam posisi jongkok, Mario sedang tidur terlentang di bawah sambil memainkan pinggungnya naik ke atas dan ke bawah untuk menyodok memek basah Sinta dengan kontol keturunan bulenya.

“Emmh… kontol arab itu… emmmh… enak banget ya?” racau Sinta.

“Kamu suka, Sinta? Hmmm...” tanya Hassan bangga.

“Suka banget, Pak… mmmmmhhhh...” Sinta melumatnya semakin cepat.

“Emut terus… iya, seperti itu… ooooh…” membuat Hassan mengerang keenakan jadinya.

“Emm... memek kamu juga enak banget, Sinta… emmmmhhh…” kata Mario yang terus menggerakkan pinggulnya naik turun.

“Kamu mau tukeran, Mar?” tawar Hassan.

“Boleh.” Mario melepas kontolnya dan berdiri. cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com Tanpa bergerak dari posisi sebelumnya, Sinta memasukkan kontol Hassan yang sekarang tidur terlentang sambil merem melek ke dalam memeknya. Ia juga mulai melumat batang Mario yang sudah basah oleh cairan memeknya sendiri.

Robert duduk di sofa panjang dengan Asih dan Nuraini yang sama-sama sibuk menjilati batangnya. Ia melenguh puas saat ujung kontolnya dicium secara bersamaan oleh kedua istri itu. Mereka memutar-mutar lidah mereka secara berbarengan di kepala kontolnya. Nuraini bergerak turun ke bawah dan menyedot-nyedot buah zakarnya selama Asih mulai menghisap semua kontol Robert penuh nafsu.

“AHHHH… enak banget… emmmhh… hisapanmu… emmmh... Asih… oooh…” erang Robert suka.

“Enak, mas? Aahh... mas belum mau keluar kan?” Asih mengocok kontol Robert sambil mengemut kepala kontolnya yang sekarang sudah keluar dari kulupnya. Nuraini mulai menjilati lobang bool Robert, bahkan memasukkan sebuah jari ke dalamnya.

“Perih… ahhhh... Nur… perih… emmmhhh…” Robert merintih.

“Tapi mas suka kan?” Asih melepaskan jilatannya dan mengangkang di depan Robert. Ia menyodorkan memeknya untuk Robert jilat, dan laki-laki itu tidak membuang-buang waktu. Kepalanya ia majukan dan lidahnya mulai bermain liar. Nuraini melepaskan permainan tangannya dan mulai memasukkan kontol Robert ke dalam lubang anusnya sendiri.

“Ahh… ahh… ooooh… jilat terus, Pak Robert… emmmmhhh…” desah Asih.

Asiknya tukeran istri - 4, memek istri di entot kontol besar toket gede istri dijilat diremas orang depan suami, istri tukang pesta seks nafsu binal istri
Klik foto untuk memperbesar gambar


“Ahh… goyangin dong, Pak… emmmh… goyangin…” Nuraini meminta.

“Sabar… sabar dong kalian… emmmmhhh...” Robert melayani keinginan dua wanita cantik itu dengan senang hati.

Setelah waktu berlalu cukup lama, dan mereka berganti-ganti berbagai macam posisi, juga pasangan. Akhirnya… CROOOT! CROOOT!! CROOOT!!!

“AHHHHHHHH!” Para suami dan istri bejat itu mencapai klimaks mereka secara bersamaan. Tanpa ada rehat yang berarti, dan sebelum efek obatnya hilang, mereka melakukan pergiliran kembali. Hal itu terus terjadi sampai berkali-kali.

Bersambung

Asiknya tukeran istri - 1
Asiknya tukeran istri - 2
Asiknya tukeran istri - 3
Asiknya tukeran istri - 4
Asiknya tukeran istri - 5
Asiknya tukeran istri - 4
Asiknya tukeran istri - 4, cerita seks , Asiknya tukeran istri - 4, memek istri di entot kontol besar toket gede istri dijilat diremas orang depan suami, istri tukang pesta seks nafsu binal istri, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Asiknya tukeran istri - 4

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com