Fantasi seks tukeran istri

Nama saya Herman, saya berumur 28 tahun, baru 3 (tiga) bulan bekerja di suatu perusahaan asing di Jakarta, atasan saya Mr. Hermawan Handerson, berasal dari Amerika, kira-kira berumur 40 tahun. Dalam waktu singkat Rich demikian teman-teman di kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab dengan saya, karena kebetulan kami mempunyai hobi yg sama yaitu bermain golf. Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yg bergerak dalam bidang asuransi.


Menurut cerita-cerita teman-teman istri Hermawan, yg berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat seksi, seperti bintang film Hollywood. saya sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Hermawan, hanya melihat fotonya yg terletak di meja kerja Hermawan. Suatu hari saya memasang foto saya berdua denga Nina istri saya, yg berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Hermawan melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nina dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Hermawan sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

Suatu hari Hermawan mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.
“Her, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nina juga, sekalian makan malam”.
“Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.
“Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.
“Okelah!”, kataku.

Sesampainya di rumah, undangan itu saya sampaikan ke Nina. Pada mulanya Nina agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Hermawan dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nina mau juga pergi.
“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.
“Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yg mau didiskusikan”.
“Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum saya segera mencubit pipinya dengan gemas. Kalau melihat Nina, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so.., punya badan ideal, dan ukurannya itu 34B yg padat kencang.
Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Hermawan. saya mengenakan kemeja, sementara Nina memakai stelan rok dan kemeja. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Sesampai di Apertemen no.1009, saya segera menekan bel yg berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yg sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yg dengan suara medok menegur kami.
“Oh Herman dan Nina yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Hermawan”.
Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Hermawan. Dengan agak tergagap, saya menyapanya.
“Hallo Mam.., kenalin, ini Nina istriku”.
Setelah Nina berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Hermawan mengajakku ke teras balkon apartemennya.
“Gini lho Her.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu”.
“Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”.
saya excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.
Senyum Hermawan segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.
“Eh Her.., gimana Lillian menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.
“Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.
“Seksi nggak?”.
“Lha.., ya.., jelas dong”.
“Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti saya pinjem istrimu dan saya pinjemin Lillian untuk kamu gimana?”.
Mendenger permintaan seperti itu terus terang saya sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu. Sambil masih tersenyum-senyum, Hermawan melanjutkan, “Nggak ada paksaan kok, saya jamin Nina dan Lillian pasti suka, soalnya nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada saya.., aman kok!”.
Membayangkan tampang dan badan Lillian saya menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi saya bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue film. Tapi dilain pihak kalau membayangkan Nina hererjain si bule ini, yg pasti punya senjata yg besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Hermawan telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi, “Ngomong-ngomong Nina sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.
Tanpa saya sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, “Dia tidak suka style yg aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau memek nya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!”.
“Wow.., saya justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian memek , ada bau khas wanita terpancar dari situ.., itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Hermawan.
“Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yg jelas suka blow-job” lanjutnya.
Mendengar itu saya menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.
Kemudian lanjut Hermawan meyakinkanku, “Oke deh.., enjoy aja nanti, biar saya yg atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”.
“Nanti minuman Nina saya kasih bubuk penghangat seherit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”, saya agak terkejut juga, apakah Hermawan akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tidak rela saya. saya setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yg ragu-ragu itu, Hermawan cepat-cepat menambahkan, “Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan selanjutnya, “Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Nina di sampingku”.
Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Hermawan. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar. Melihat tanda-tanda itu, Hermawan mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nina, “Nin.., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Nina, Hermawan segera berdiri, menarik kursi Nina dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yg terletak di ruang tengah. saya ingin mengikuti mereka tapi Lillian segera memegang tanganku. “Her, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok”. Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Hermawan mulai bergerilya di pundak dan punggung Nina, memijit-mijit dan mengusap-usap halus. Sementara Nina kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat seherit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Hermawan yg berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.
Lillian kemudian menarikku ke kursi panjang yg terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yg terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut. Terlihat tindakan Hermawan semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Nina hingga kancing terakhir. BH Nina segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya. Kelihatan mata Nina terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, saya menduga-duga, “Apakah Nina telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Hermawan?, atau apakah Nina pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Hermawan?”. Nina tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nina seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Hermawan herulitnya dan ciuman nafsu Hermawanpun disambutnya dengan gairah.
Melihat apa yg tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung, saya juga tidak mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Hermawan yg sedang duduk di sampingku. Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai wanita mungil. Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yg mungil itu, “aahh.., aaghh.., aagghh”, badannya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
Sementara itu di ruang sebelah, Hermawan telah meningkatkan aksinya terhadap Nina, terlihat Nina telah dibuat polos oleh Hermawan dan terbaring lunglai di sofa. Badan Nina yg ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yg rata dan kedua bongkahan pantatnya yg terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yg membukit yg ditutupi oleh rambut-rambut halus yg terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Hermawan. Kemudian Hermawan menarik Nina berdiri, dengan Hermawan tetap di belakangnya, kedua tangan Hermawan menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. saya sempat melihat ekspresi wajah Nina, yg dengan matanya yg setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yg melanda seluruh badannya dengan mulutnya yg mungil setengah terbuka, menunjukan Nina menikmati benar permainan dari Hermawan terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari Hermawan berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Hermawan meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Nina yg bersandar lemas pada badan Hermawan, bergetar dengan hebat.
Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya saya berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri. Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yg berwarna coklat muda telah mengeras, yg terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. saya menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Hermawan, tentu saya kalah jauh dan kalau saya langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yg lain dari lain. Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yg rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.
Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah memek nya yg telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang memek nya. Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan dengan suara keras, ” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke memek nya dan badannya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara Nina terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, “Oooh.., aagghh!”, diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yg diperbuat Hermawan pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nina sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Hermawan sedang berjongkok diantara kedua paha Nina yg sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara kedua paha Nina yg mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Hermawan sedang mengaduk-aduk kemaluan Nina yg mungil itu. Terlihat badan Nina menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Hermawan dengan kuat.
saya sendiri makin sibuk menjilati memek Lillian yg badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan, “Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yg semakin menegangkan otot-otot kontol ku. “Aahh.., Her.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan keras pinggul Lillian menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan badannya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yg merembes di dinding memek nya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme. badannya yg telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yg juga penuh keringat, dengan tatapan yg sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.
Ketika saya menengok ke arah Hermawan dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Nina kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Nina bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah badannya yg sedang menjadi sasaran tembak Hermawan. Hermawan mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nina yg telah terpentang lebar. saya merasa sangat terkejut juga melihat senjata Hermawan yg terletak diantara kedua pahanya yg berbulu pirang itu, kontol nya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yg kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala kontol nya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.
Terlihat Hermawan memegang kontol raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nina yg sudah seherit terbuka, terlihat Nina dengan mata yg terbelalak melihat ke arah senjata Hermawan yg dahsyat itu, sedang menempel pada bibir memek nya. Kedua tangan Nina kelihatan mencoba menahan badan Hermawan dan badan Nina terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan kontol raksasa Hermawan pada bibir memek nya, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nina dan tangan kirinya tetap menuntun kontol nya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nina, sambil mencium telinga kiri Nina, terdengar Hermawan berkata perlahan, “Niinn.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yg mau heratakannya, dengan pandangannya yg sayu menatap ke arah kemaluannya yg sedang didesak oleh kontol raksasa Hermawan itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.
Hermawan, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan kontol nya ke dalam lubang memek Nina yg telah basah itu, biarpun kedua tangan Nina tetap mencoba menahan tekanan badan Hermawan. Mungkin, entah karena tusukan kontol Hermawan yg terlalu cepat atau karena ukuran kontol nya yg over size, langsung saja Nina berteriak kecil, “Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yg agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nina yg mengangkang itu terlihat menggelinjang. Kepala kontol Hermawan yg besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nina, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala kontol Hermawan, sehingga belahan kemaluan Nina terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala kontol Hermawan itu. Kedua bibir kemaluan Nina tertekan masuk begitu juga clitoris Nina turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Hermawan.
Hermawan menghentikan tekanan kontol nya, sambil mulutnya mengguman, “Maaf.., Nin.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., Niin!”.
“aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih.., sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”.
Nina mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Hermawan.
“Niinn.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Nina masih merasa sakit”, sahut Hermawan dan tanpa menunggu jawaban Nina, segera saja Hermawan melanjutkan penyelaman kontol nya ke dalam lubang memek Nina yg tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.
Ketika kepala kontol nya telah terbenam seluruhnya di dalam lobang memek Nina, terlihat muka Nina meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.
Terdengar Hermawan bertanya lagi, “Niinn.., sakit.., yaa?”, Nina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Hermawan dan Hermawan segera kembali menekan kontol nya lebih dalam, masuk ke dalam lobang memek Nina.
Secara pelahan-lahan tapi pasti, kontol raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya. Ketika kontol Hermawan telah terbenam hampir setengah di dalam lubang memek Nina, terlihat Nina telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Hermawan, akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Hermawan menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Nina meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi karena Nina tidak mengeluh maka Hermawan meneruskan saja tusukan kontol nya dan tiba-tiba saja, “Blees”, Hermawan menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Nina rapat-rapat pada sofa.
Pada saat yg bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nina, “Aduuh”, sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan kontol Hermawan di dalam kemaluannya. Hermawan mendiamkan kontol nya terbenam di dalam lubang memek Nina sejenak, agar tidak menambah sakit Nina sambil bertanya lagi, “Niinn.., sakit.., yaa? Tahan herit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”, Nina dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya seherit seraya mendesah panjang, “aagghh.., kit!”, lalu Hermawan mencium wajah Nina dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat Hermawan bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap badan mungil Nina dalam pelukannya.
Tak selang lama kemudian terlihat badan Nina bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang, “Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”, kedua kaki Nina bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Hermawan, Nina mengalami orgasme yg hebat dan berkepanjangan. Selang sesaat badan Nina terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Hermawan yg masih tetap berayun-ayun itu.
aah, suatu pemandangan yg sangat erotis sekali, suatu pertarungan yg diam-diam yg diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.
“Her.., ayo saya mau kamu”, suara Lillian penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Lillian sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yg akan masuk ke memek nya. Duh, rasanya kemaluan Lillian masih rapet saja, saya merasakan adanya jepitan dari dinding memek Lillian pada saat kontol ku hendak menerobos masuk.
“Lill.., kok masih rapet yahh”. Maka dengan seherit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang memek nya. “Aagghh”, mata Lillian terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi ekspresi yg terpancar adalah ekspresi kepuasan. saya mulai mendorong-dorongkan kontol ku dengan gerakan keluar masuk di liang memek nya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap saya menyodokkan kontol ku, melihat itu saya semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas memek nya.
“Ahh.., ahh”, Lillian makin keras teriakannya.
“Ayo Her.., terus”.
“Enakk.., eemm.., mm!”.
badannya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh..hh..” “Lill.., boleh di dalam.., yaah”, saya perlu bertanya pada dia, mengingat saya bisa saja sewaktu-waktu keluar.
“mm..”.
Kaki Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara saya semakin mempercepat gerakan sodokan kontol ku di dalam lobang memek nya. Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.
“Nih.., Lill.., terima yaa”.
Dengan satu sodokan keras, saya dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Lillian dengan erat dan kontol ku terbenam seluruhnya di dalam lobang memek nya dan saat bersamaan cairan maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang memek Lillian. Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lillian, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga memek Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya, “..aagghh.., hhm!”, saat bersamaan Lillian juga mengalami orgasme dengan dahsyat.
Setelah melewati suatu fase kenikmatan yg hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yg baru kami alami. saya kemudian mencabut senjataku yg masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Lillian. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yg hangat menjilati kontol ku hingga bersih. “Ahh..”. Dengan kepuasan yg tiada taranya saya merebahkan diri di samping Lillian.
Kini kami menyaksikan bagaimana Hermawan sedang mempermainkan Nina, yg terlihat badan mungilnya telah lemas tak berdaya hererjain Hermawan, yg terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Hermawan terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yg pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Hermawan mengerjai Nina dengan sangat brutal dan kasar. Nina benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Hermawan menyakiti Nina, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Nina ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nina atas apa yg dilakukan oleh Hermawan terhadapnya.
Hermawan mencabut kontol nya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Nina berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Nina ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan kontol nya ke dalam mulut Nina sambil memegang belakang kepala Nina, dia membantu kepala Nina bergerak ke depan ke belakang, sehingga kontol nya terkocok di dalam mulut Nina. Kelihatan Nina telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yg diingini oleh Hermawan, hal ini dilakukan Hermawan kurang lebih 5 menit lamanya.
Hermawan kemudian berdiri dan mengangkat Nina, sambil berdiri Hermawan memeluk badan Nina erat-erat. Kelihatan badan Nina terkulai lemas dalam pelukan Hermawan yg ketat itu. badan Nina digendong sambil kedua kaki Nina melingkar pada perut Hermawan dan langsung Hermawan memasukkan kontol nya ke dalam kemaluan Nina. Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nina terlihat tersentak ke atas ketika kontol raksasa Hermawan menerobos masuk ke dalam lobang memek nya dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Nina terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Hermawan. Kaki Nina terlihat merangkul pinggang Hermawan, sedangkan berat badannya disanggah oleh kontol Hermawan. Hermawan berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Nina. Pantat Nina terlihat merekah dan tiba-tiba Hermawan memasukkan jarinya ke lubang pantat Nina. “Ooohh!”. Mendapat serangan yg demikian serunya dari Hermawan, badan Nina terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Hermawan. Suatu pemandangan yg sangat seksi.
Ketika Hermawan merasa capai, Nina diturunkan dan Hermawan duduk pada sofa. Nina diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Nina terkangkang di samping paha Hermawan dan Hermawan memasukkan kontol nya ke dalam lobang memek Nina dari bawah. Dari ruang sebelah saya bisa melihat kontol raksasa Hermawan memaksa masuk ke dalam lobang memek Nina yg kecil dan ketat itu. memek nya menjadi sangat lebar dan kontol Hermawan menyentuh paha Nina. Kedua tangan Hermawan memegang pinggang Nina dan membantu Nina memompa kontol Hermawan secara teratur, setiap kali kontol Hermawan masuk, terlihat memek nya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir memek nya. Ketika kontol nya keluar, terlihat memek nya mengembang dan menjepit kontol Hermawan. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.
Kemudian Hermawan mendorong Nina tertelungkup pada sofa dengan pantat Nina agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Hermawan akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yg paling disukai oleh Nina. Dari belakang pantat Nina, Hermawan menempatkan kontol nya diantara belahan pantat Nina dan mendorong kontol nya masuk ke dalam lubang memek Nina dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua kontol nya amblas ke dalam memek Nina. Jari jempol tangan kiri Hermawan dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nina setengah berteriak, “aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan Hermawan yg dahsyat itu. Badan Nina dicoba ditarik ke depan, tapi Hermawan tidak mau melepaskan, kontol nya tetap bersarang dalam lobang memek Nina dan mengikuti arah badan Nina bergerak.

Nina benar-benar dalam keadaan yg sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan, “Ooohhmm.., aaduhh!”. Hermawan mencapai payudara Nina dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian badan Nina bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, “Aahh.., aahh.., sshh.., sshh!”. Nina mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Hermawan mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Nina, kontol nya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan Nina dari belakang. Sementara badan Nina bergetar-getar dalam orgasmenya, Hermawan sambil tetap menekan rapat-rapat kontol nya ke dalam lobang memek Nina, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga kontol nya yg berada di dalam lubang memek Nina ikut berputar-putar mengebor liang memek Nina sampai ke sudut-sudutnya.
Setelah badan Nina agak tenang, Hermawan mencabut kontol nya dan menjilat memek Nina dari belakang. memek Nina dibersihkan oleh lidah Hermawan. Kemudian badan Nina dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Hermawan memasukkan kontol nya dari atas, sekarang tangan Nina ikut aktif membantu memasukkan kontol Hermawan ke memek nya. Kaki Nina diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Hermawan. Hermawan terus menerus memompa memek Nina. Badan Nina yg langsing tenggelam ditutupi oleh badan Hermawan, yg terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang memek yg sudah diisi oleh kontol Hermawan. Kadang-kadang terlihat tangan Nina meraba dan meremas pantat Hermawan, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Hermawan. Gerakan pantat Hermawan bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat kontol nya yg besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang memek Nina, tiba-tiba, “Ooohh.., oohh!”, dengan erangan yg cukup keras dan diikuti oleh badannya yg terlonjak-lonjak, Hermawan menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Nina ke sofa, sehingga kontol nya terbenam habis ke dalam lobang memek Nina, pantat Hermawan terkedut-kedut sementara kontol nya menyemprotkan spermanya di dalam memek Nina, sambil kedua tangannya mendekap badan Nina erat-erat. Dari mulut Nina terdengar suara keluhan, “Sssh.., sshh.., hhmm.., hhmm!”, menyambut semprotan cairan panas di dalam liang memek nya.
Fantasi seks tukeran istri ngentot istri orang istri ku di entot memek masuk kontol vagina enak
Klik foto untuk memperbesar gambar

Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Hermawan kemudian merebahkan diri di atas badan Nina yg tergeletak di sofa, tanpa melepaskan kontol nya dari memek Nina. Nina melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yg satu ini sangat nikmat. saya tidak bisa melihat ekspresi Hermawan karena terhalang olah badan Nina. yg jelas dari sela-sela selangkangan Nina mengalir cairan mani. Kemudian Ninapun seperti kebiasaan kami membersihkan kontol Hermawan dengan mulutnya, itu membuat Hermawan mengelinjang keenakan. Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yg tidak terlupakan. Kami masih sempat bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu
Fantasi seks tukeran istri
Fantasi seks tukeran istri, cerita seks , Fantasi seks tukeran istri ngentot istri orang istri ku di entot memek masuk kontol vagina enak, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Fantasi seks tukeran istri

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com