Gangbang seks yang nikmat

Temanku panggil aku Nana, lahir tahun 1996. badanku cukup jangkung untuk ukuran wanita, terakhir kuukur 172 cm, dengan berat 48kg dan tiga lingkar badan 86/60/90. Rambutku lurus sebahu, wajah lonjong, dan kulit putih karena aku WNI keturunan. Saat ini masih kuliah di fakultas sastra di salah satu universitas swasta di Bandung dan ngekost tidak jauh dari kampusku.


Aku termasuk gadis yg sering ke salon dan modis, maka aku sudah tidak asing dengan tatapan nakal cowok-cowok di kampus kalau aku memakai pakaian yg ketat atau agak seksi, apalagi ketika ngedugem dimana aku memakai pakaian yg lebih terbuka. Dalam percintaan, secara jujur kuakui aku bukan type yg setia. Aku sudah mempunyai pacar yg sedang kuliah di Amerika sehingga kami jarang bertemu, kami sudah berjalan lebih dari tiga tahun dan aku mencintainya, tapi darah muda dalam diriku melibatkanku dalam beberapa hubungan one night stand dengan teman kuliah maupun teman dugem, bagiku semua itu hanya hubungan badan tanpa merubah perasaanku pada pacarku.

Kisahku ini terjadi pada pertengahan tahun 2014 yg lalu yaitu libur akhir semester. Waktu itu teman kostku sudah banyak yg pulang, di kostku hanya tersisa seorang pria, dan dua wanita termasuk diriku. yg dua itu tidak pulang karena ikut semester pendek, tapi aku belum pulang karena waktu itu di rumahku tidak ada siapa-siapa berhubung kedua orangtuaku sedang menghadiri pernikahan di kota lain dan kakakku satu-satunya sudah dua tahun yg lalu menikah dan ikut suaminya. Jadi pemikiranku lebih baik kutunda kepulanganku sampai papa dan mamaku pulang 2-3 hari lagi, daripada kesepian di rumah mendingan kuisi waktuku untuk having fun bersama teman-temanku di Bandung. Malam itu aku ngedugem di salah satu tempat dugem di jalan Cihampelas. Teman-temanku mencekoki minuman sementara aku tidak kuat minum, mereka bilang untuk merayakan kenaikan IPK-ku. Aku mabuk sehingga dalam perjalanan pulang dengan mobil Ocha aku numpang ke WC di rumah Risa waktu sampai di rumahnya karena tidak tahan mau muntah. Setelah muntah akupun masih pusing-pusing sehingga terpaksa aku minta Risa untuk menginap di rumahnya semalam saja daripada pulang ke kost dalam keadaan sempoyongan, kan ga enak dilihat.

Singkat cerita akupun menginap di rumah Risa malam itu dan baru terbangun besoknya, hari Minggu jam sebelasan. Kepalaku masih agak berat.
“Lu orang sih, nyuruh gua minum terus, aduh kaya mau mati aja kemarin rasanya tau !” omelku pada Risa.
“Hihihi, gapapa lah Na sekali-kali aja, kan kita baru selesai semester nih !” jawabnya tertawa kecil mengingat keadaanku kemarin.
Akhirnya setelah makan sedikit, Risa mengantarku pulang ke kostku di daerah Sukamekar. Kumasuki pintu gerbang kostku, suasanya sepi seperti beberapa hari terakhir. Di depan pos jaga aku berpapasan dengan Gungun, pegawai/ penjaga kostku yg berusia dua puluhlimaan sedang ngobrol-ngobrol dengan dua orang pemuda yg kira-kira sebaya dengannya, aku tidak tahu siapa mungkin temannya yg penduduk sekitar sini. Aku tersenyum kecil sebagai basa-basi dan mereka membalasnya.

Terasa sekali mereka memandangi badanku yg masih memakai pakaian seksi semalam berupa sebuah rok putih sejengkal di atas lutut dan tank top berdada rendah yg memperlihatkan sedikit belahan dadaku. Aku mempercepat langkahku ke tangga, di dekat tangga akupun berpapasan lagi dengan pegawai kostku yg lain, si Acep yg masih berusia SMA, sekitar enambelas tahun, orangnya agak culun, berambut cepak dan kerempeng, dia sering bertugas membelikan barang pesanan dan mengantar makanan untuk kami, para penghuni disini.
“Eh…Neng, baru pulang yah !” sapanya sambil cengengesan.
Aku hanya menjawab iya saja lalu menaiki tangga, instingku mengatakan kalau dia berusaha mengintip rokku yg mini ketika aku naik, sempat terlihat sekilas olehku ketika sampai di lantai dua dan membelok. Sampai di kamar, aku langsung membuka pakaianku dan masuk ke kamar mandi, langung kubuka shower dan kuguyur badanku dengan air dingin, segar sekali rasanya, udara di luar waktu itu lagi panas ditambah lagi panas alkohol masih sedikit terasa dari dalam badanku.

Selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun sambil mengelap rambutku dengan handuk. Kuambil celana dalam kuning dan kupakai. Aku tidak menemukan baju barongku yg biasa kupakai tidur di gantungan di pintu, baru ingat kalau baju itu sudah kutaruh di tempat cucian. Karena malas mencari baju lain di lemari, akupun lantas melempar diriku ke kasur. Biar saja tidur hanya dengan celana dalam, apalagi cuacanya lagi panas, kipas anginnya juga kumatikan. Kututupi badanku dengan selimut dan kupeluk guling kesayanganku untuk melanjutkan tidurku yg masih belum puas ditambah masih sedikit pening, maklumlah orang ga kuat minum di suruh minum banyak ya gini nih jadinya. Entah berapa lama aku tertidur lelap sekali sampai kurasakan ada rasa geli pada badanku, secara refleks tanganku menepis dan menggulingkan badan ke arah lain. Namun perasaan itu datang lagi dengan lebih hebat, kali ini juga kurasakan pada paha dan dadaku seperti ada yg mengenyot. Kali ini aku terbangun dan kaget sekali melihat ternyata benar-benar ada orang yg sedang mengenyot dadaku dan seseorang lainnya sedang menjilati pahaku. Spontan akupun menjerit, namun sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Ketika aku meronta, gerakanku langsung terkunci oleh tangan-tangan yg memegangi kedua tangan dan kakiku.

Aku mengedip-ngedipkan mata memperjelas pandanganku, aku makin terperanjat dengan keempat wajah menyeringai diatasku, wajah yg tak asing bagiku. yg dua adalah pegawai kostku, Gungun dan Acep dan dua orang temannya yg kutemui di bawah tadi. Aku tidak habis pikir bagaimana mereka bisa masuk sini, padahal pintu sudah kukunci, tapi sekarang bukan waktunya memikirkan itu, sekarang harusnya memikirkan apa yg harus kulakukan menghadapi situasi ini.
“Halo Neng, maaf yah kita masuk sini diam-diam abis ga tahan liat body Neng yg bahenol !” kata Gungun.
“Emmphh…eemhhh !” aku berusaha berteriak walau mulut masih dibekap sambil meronta ketika Gungun meraba payudaraku.
“Udahlah Neng, ga usah ngelawan terus, disini lagi gak ada siapa-siapa kok !” sahut orang yg membekapku yg berambut agak bergelombang dan matanya besar.

Dalam situasi makin kritis seperti ini aku mulai berpikir ulang, aku pernah membaca berita tentang pembunuhan di kost, melawan mereka yg sedang kalap mungkin saja malah mencelakakanku, bukankah lebih baik pasrah saja menuruti mereka. Lagipula aku ini kan bukan perawan dan pria yg pernah main denganku bukan hanya pacarku, bedanya cuma mereka sama-sama WNI keturunan dan yg empat ini bukan. Yah, anggap saja tambah pengalaman seks lah, begitu pikirku positif. yg masih membuatku risau adalah apakah aku sanggup melawan empat orang sekaligus mengingat seumur hidup aku selalu bermain konvensional satu lawan satu. Mungkin sekaranglah waktunya bagiku untuk mencoba rasanya digangbang. Seiring dengan birahiku yg mulai naik, rontaanku pun berangsur-angsur berkurang berganti menjadi kepasrahan. Darahku berdesir dan bulu-buluku merinding ketika tangan-tangan itu menggerayangi badanku, ciuman dah jilatan juga menghujani badanku. Salah seorang teman Gungun tadi menarik lepas celana dalamku. Keempat orang itu menelan ludah menyaksikan keindahan badanku yg sudah telanjang bulat, terutama Acep sepertinya ini baru pertama kali dia melihat badan wanita secara nyata.

“Anjrit, jembutnya lebat banget euy !” kata Gungun sambil merabai memek ku yg berbulu lebat tapi rapi, karena sering kucukur rapi tepiannya agar tidak keluar-keluar kalau memakai baju renangku yg seksi.
Teman Gungun yg rambutnya gondrong sebahu menciumi payudaraku, digigit dan disedot-sedotnya putingku yg sensitif. Kuncian mereka terhadapku mengendur dan tangan yg membekap mulutku juga sudah lepas. Kepalaku menggeleng-geleng ketika Gungun mau menciumku, tapi dia lalu memegangi kepalaku sehingga aku tak bisa lagi menghindari mulutnya. Rangsangan yg datang bertubi-tubi membuatku semakin horny dan mulutku pun membuka menerima serangan lidah Gungun, mau tak mau aku harus beradaptasi dengan bau mulutnya. Kumainkan lidahku mengimbangi lidahnya yg menari-nari di mulutku. Ketika asyik berciuman dengan Gungun setidaknya ada dua jari yg bermain di memek ku, aku tidak tahu siapa itu karena aku biasa memejamkan mata kalau berciuman agar lebih menghayati, selain itu tangan yg menggerayangiku ada empat pasang sehingga tidak sempat mengenalinya satu-satu.

Lama juga Gungun menciumiku, itu dia lakukan sambil tangannya menjelajahi lekuk-lekuk badanku, hampir lima menit kira-kira, begitu mulutnya lepas aku akhirnya lega bisa kembali menghirup udara segar walau dengan nafas sudah memburu.Ketika kubuka mata, kulihat di sebelah kananku teman Gungun yg matanya besar itu sedang mengenyoti payudaraku dengan rakusnya, dia sudah membuka pakaiannya, aku melihat kontol nya yg sudah tegang itu menggantung di selangkangannya, bentuknya panjang dengan kepalanya disunat. Iihhh…geli sekaligus terangsang membayangkan aku harus mengulum dan dimasuki benda itu. Si Acep sedang menjilat dan meraba badan bagian sampingku (sekitar perut, paha, dan dada), dia juga masih memakai kaos oblongnya tapi celananya sudah dibuka, kontol nya yg juga bersunat lumayan juga untuk seumuran dia. Ternyata yg daritadi mengorek memek ku adalah si pemuda gondrong, kini dia bahkan mendekatkan wajahnya ke sana dan uuhh…lidahnya menyentuh bibir memek ku dan terasa menggelitik nikmat badanku sampai menggeliat karena itu. Aku bingung apa yg kualami saat itu termasuk perkosaan atau bukan, dibilang ya bisa juga karena awalnya mereka yg memaksa, tapi dibilang tidak juga bisa karena toh aku juga mulai menikmatinya.

“Memeknya enak, wangi loh mmm…ssluurrpp !” sahut si gondrong di bawah sana.
“Oh, ya…nanti juga saya mau nyicipin yah, makannya cepet !” kata Gungun.
“Jangan lama-lama yah, nanti kita kebagiannya bau jigong lu” timpal si mata besar
Kini Acep sudah mencaplok payudaraku dengan mulutnya, walau kelihatan culun jilatannya membuat putingku makin menegang. Gungun juga membuka pakaiannya hingga telanjang. Wah, anunya juga ga kalah gede dari kedua temannya, tinggal milik si gondrong saja yg belum kulihat karena dia masih sibuk menjilat memek ku. Aku harus mengakui enak sekali diperlakukan seperti ini, dalam seks satu lawan satu aku tidak pernah merasakan bagian-bagian sensitifku dimainkan dalam saat bersamaan.
“Uuhh-eeemm….aaahh !” aku tak tahan untuk tidak mendesah ketika lidah si gondrong menyapu bibir memek ku, bukan cuma itu, jarinya pun ikut keluar masuk di sana.
Hal itu berlangsung sekitar lima menit lamanya, kemudian Gungun mengambil posisinya.
“Hayo sini, saya juga mau rasain, gantian dong !” katanya menyuruh si gondrong menyingkir.

Langsung Gungun melumat bagian selangkanganku itu dengan bernafsu, tangannya memegangi kedua pahaku sambil mengisap dan menjilat, mulutnya terbenam di kerimbunan bulu memek ku, gayanya seperti makan semangka saja. Serangannya lebih mantap dari si gondrong yg cenderung monoton, lidah si Gungun sepertinya agak panjang sehingga ketika menyusup ke dalam memek benda itu menyentuh klitorisku juga menjilati dinding memek ku, kontan akupun makin menggelinjang tak karuan. Ketiga orang lainnya tertawa-tawa dan berkomentar jorok melihat reaksiku, mereka pun makin bersemangat mengerjaiku. Payudaraku sedikit nyeri ketika dipencet-pencet si mata besar dengan gemasnya. Si gondrong yg kini sudah membuka bajunya berlutut di sebelahku memegangi kontol nya untuk disodorkan padaku.
“Diisep Neng, enak loh !” suruhnya sambil menggosokkan kepala kontol itu ke wajah dan bibirku.
Walau sebenarnya geli dengan kemaluannya yg hitam dengan kepala kemerahan itu, aku tertantang juga untuk mencobanya, maka kugenggam batang itu dengan tangan kiri dan kuawali dengan menyapukan lidah pada kepala kontol nya. Dia langsung mendesah keenakan karenanya. Entah kekuatan apa yg membuatku demikian liar, padahal sebelumnya dekat-dekat orang seperti mereka saja aku enggan, apalagi untuk ML.

Awalnya aku sangat tidak nyaman dengan aroma kontol nya, namun mau tidak mau aku harus membiasakan diriku. Aku berusaha tidak menghirupnya dan kuemuti dalam mulut sambil sesekali mengocok dengan tangan, kesempatan itulah yg kupakai untuk mengambil udara segar. Sementara rasa geli pada memek ku kian menjalari badanku, rasanya seperti mau pipis. badanku menggelinjang, aku tidak tahan lagi dan mencapai orgasme pertamaku, dari memek ku keluarlah lendir yg dijilatinya dengan lahap.
“Eh-eh, gantian dong, saya juga mau ngerasain pejunya si Neng !” kata si Acep
Acep menggantikan posisi si Gungun, dia menjilati sisa-sisa cairan memek ku. Jilatannya tidak selihai Gungun, maklum karena dia masih hijau, baru pertama kalinya menikmati wanita. Dia lebih suka menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya yg memberi rasa geli. Sekarang Gungun berlutut di sebelah ku dan meraih tanganku digenggamkan ke kontol nya. Keras dan hangat, begitulah kesan pertama begitu jari-jariku melingkari batang itu. Mulailah aku mengocok kontol itu dengan tangan kiriku dan yg kanan memegangi milik si gondrong sambil mengoralnya. Si mata besar masih menyusu dengan nikmatnya pada payudaraku, sepertinya dia ketagihan dengan payudaraku yg montok itu.

Acep tidak lama menjilati memek ku, posisinya digantikan oleh si mata besar yg tidak sabar menunggu giliran, karena paling kecil diapun mengalah pada temannya. Si mata besar mencium memek ku dengan bernafsu dan terkesan terburu-buru. Aku dibuatnya semakin bergairah melayani kedua kontol yg menodongku, secara bergantian kukocok dan kuoral menirukan apa yg pernah kulihat di film porno di rumah temanku. Rasa jijikku pada kontol hitam yg kepalanya seperti jamur itu perlahan-lahan sirna. Gungun mengungkapkan ekspresi nikmatnya dengan meremas payudaraku yg digenggamnya, sedangkan si gondrong sambil menekan-nekan kontol nya ke mulutku ketika gilirannya dioral seolah tidak rela melepaskannya. Ditambah lagi Acep sedang asyik memainkan putingku, benda mungil berwarna merah kecoklatan itu dia pilin-pilin dengan jarinya sesekali juga dijilati. Si mata besar pun tidak lama-lama menjilati memek ku, dia lalu bangkit berlutut diantara kedua pahaku dan menempelkan kepala kontol nya di bibir memek ku.

Kuhentikan sejenak aktivitas terhadap dua kontol dalam genggamanku untuk memperhatikan kontol si mata besar mendesak memasuki memek ku. Kutahan nafasku sambil menggigit bibir, proses penetrasi itu kuresapi dalam-dalam. Setelah masuk sebagian dia menghentakkan pinggulnya sehingga kontol itu menghujam sampai mentok, spontan aku pun menjerit kecil dan merapatkan pahaku.
“Waaah…enak pisan, sempit oi !” katanya setelah berhasil membobol memek ku.
Tanpa buang waktu lagi dia menggenjotku, kontol itu keluar-masuk memek ku. Aku meneruskan kocokanku terhadap si gondrong dan Gungun, rasa nikmat yg menjalari badanku semakin membuatku bersemangat mengocok kedua kontol itu. Si Acep juga makin seru mengisapi payudaraku sampai basah kuyup oleh ludahnya juga oleh ludah orang-orang yg tadi mengisapnya. Tak lama kemudian, ketika aku sedang mengulum kontol Gungun, sesuatu yg basah dan hangat menerpa wajah dan leherku dari samping. Ow, ternyata si gondrong sudah keluar, kulepas sejenak kontol Gungun dari mulutku, semprotan berikutnya makin membasahi wajahku begitu aku menengok menghadap todongan benda itu.

“Uhh…isepin yah Neng !” lenguhnya seraya menjejali mulutku dengan kontol nya.
Dalam mulutku kontol itu masih menyemburkan isinya dan itu kuhisapi tanpa memikirkan rasa jijik lagi walaupun baunya yg agak menyengat, mungkin karena saking terangsangnya sampai tidak sadar aku jadi seliar itu. Sampai sejauh ini ponselku yg kutaruh di meja sana sudah berdering sekali dan dua SMS sudah masuk, kubiarkan saja karena tanggung. Aku dapat merasakan kontol si gondrong menyusut dalam mulutku dan pemiliknya terengah-engah.
“Yee, payah lu, belum nojos udah ngecrot !” ledek Gungun pada temannya.
“Enak pisan sih anjrit, sampe ga tahan !” balas si gondrong
Sekarang si mata besar mengajak ganti posisi, mereka lalu membalikkan badanku hingga telungkup. Akhirnya ganti posisi juga pikirku, aku sudah gerah daritadi berbaring telentang sambil dikerjai mereka, punggungku panas sekali rasanya dan benar saja keringatku sudah membasahi sprei dibawahku tadi. Perutku diangkat dari belakang hingga posisiku seperti merangkak. Kutengokkan kepalaku ke belakang dan kulihat si mata besar kembali memasukkan kontol nya ke memek ku.

Tusukan-tusukan kembali kurasakan, kali ini lebih cepat dan dalam. Di depanku si Acep berlutut minta giliran merasakan mulutku. Akupun membuka mulut mempersilakan batang itu memasukinya. Kuemut benda itu tanpa menghiraukan lagi baunya, tidak terlalu besar tapi cukup keras, namanya juga barang ABG. Aku melirik ke atas melihat anak itu merem-melek menikmati kulumanku, lucu juga reaksinya yg amatiran itu.
“Gimana Cep, asyik ga diemot kontolnya ?”
“Si Acep udah gede euy !”
Celoteh-celoteh yg ditujukan pada si Acep itulah yg sempat kudengar waktu itu. Sambil terus mengoral Acep, akupun selalu menggoyang pantatku mengikuti genjotan si mata besar, terus terang rasanya enak sekali seperti diaduk-aduk. Payudaraku yg menggelayut sedang dipegang-pegang si gondrong yg sedang mengistirahatkan kontol nya. Tangan kananku menggenggam kontol si Gungun dan mengocoknya pelan.
“Pelan-pelan aja kocoknya Neng, ga pengen cepet-cepet ngecrot sih !” demikian katanya.
Sibuk sekali aku jadinya dan udara sekitarku serasa makin panas karena dikerubuti empat orang ini, mana badannya lumayan bau lagi. Hanya birahi yg meninggilah yg mengalihkanku dari semua itu.

Sekitar lima belas menit menggenjotku, si mata besar sepertinya mau keluar, kelihatan dari sodokannya yg makin cepat.
“Annjjiiinngg…aaahhh !” lenguhnya panjang diiringi semprotan spermanya di dalam memek ku yg tak bisa kutolak.
Sialan juga nih orang pikirku, sembarangan main buang di dalam, ga minta ijin atau omong dulu kek padahal gak pake kondom, untung waktu itu aku tidak dalam masa subur, kalo iya kan amit-amit harus hamil sama orang-orang ginian. Begitu kontol nya lepas, aku merasa cairan hangat meleleh membasahi paha atasku. Gungun langsung mengambil alih posisinya menusukkan kontol nya padaku seolah dapat membaca apa yg ada dalam hati kecilku yg masih ingin digenjot karena belum mencapai klimaks alias tanggung. Si Acep yg masih kuoral nampaknya makin menikmati saja, tanpa sadar dia memaju-mundurkan pinggulnya seakan sedang menyebadani mulutku. Dia mengeluarkan spermanya dalam mulutku saat Gungun menggenjotku dengan ganasnya sehingga aku tidak bisa konsentrasi mengisap kontol itu, maka cairan itupun meleleh sebagian di pinggir bibirku.

Setelah Acep melepas kontol nya yg telah kubersihkan dari mulutku, lengan Gungun mengangkat dadaku sehingga kini aku berlutut, Gungun tidak berhenti menggenjotku sambil menopang badanku dengan lengannya yg melingkari perutku. Si mata besar sambil mengistirahatkan senjatanya menggerayangi payudaraku yg membusung dalam posisi itu. Si gondrong memintaku kembali mengoral kontol nya yg sudah mulai bangkit lagi, sepertinya dia suka dengan pelayanan mulutku. Kugenggam kontol nya yg disodorkan padaku, ih…masih lengket-lengket bekas spermanya tadi, sedikit jijik aku dibuatnya namun juga tak kuasa menolaknya. Serta merta kumasukkan benda itu kemulutku, kujilati sisa-sisa spermanya hingga bersih. Di dalam mulutku benda itu semakin mengeras dan bergetar.
“Pelan-pelan aja Neng, buat persiapan ngejos di bawah nanti !” katanya.

Tak lama kemudian badanku kembali mengejang, seperti ada yg mau meledak di bawah sana. Aku melepas kulumanku untuk melepaskan desahan yg tak bisa kutahan lagi, lendirku pun kembali keluar bersamaan dengan badanku. Orgasme kali ini terasa lebih panjang, Gungun masih menggenjot sampai 2-3 menit kemudian hingga akhirnya diapun menghujam kontol nya lebih dalam dan mempererat pelukannya. Dia menggeram dan memuntahkan spermanya ke dalam memek ku, hangat kurasakan di dalam sana. Kami break sebentar sekitar lima menitan. Saat itu Gungun dan Acep memperkenalkan dua orang itu kepadaku, yg gondrong namanya Amad dan yg matanya melotot itu namanya Ifud, memang benar keduanya adalah teman mereka yg tinggal di pemukiman penduduk tak jauh dari sini.

Gungun juga bercerita bagaimana mereka bisa masuk sini. Ternyata mereka iseng mengintipku waktu keluar dari kamar mandi tanpa busana tadi lewat lubang angin diatas pintu kamarku dengan memakai bangku tinggi. Tadinya sih hanya sekedar mau ngintip, tapi tak lama kemudian waktu Amad dan Ifud mau pulang mereka ingin ngintip yg terakhir kali dan menemukanku telah terlelap hanya dengan memakai celana dalam dan selimut yg tersingkap. Situasi kost yg sedang sepi dan nafsu setan mendorong mereka berencana memperkosaku. Maka setelah yakin aku benar-benar tidur, Gungun mencongkel kaca nako yg tepat di sebelah pintu lalu meraih grendel sehingga mereka bisa masuk dan terjadilah seperti ini. Aku sebenarnya marah mendengar semua itu, lancang sekali mereka berbuat begitu, ini kan pemerkosaan namanya, tapi mau marah gimana juga toh aku menikmatinya, salahku juga berpakaian mencolok di depan mereka. Aku menatapi mereka satu-persatu yg memandangi badan telanjangku dengan tatapan kesal sekaligus berhasrat. Tidak tau mau omong apa deh, soalnya perasaanku benar-benar campur aduk sih.

“Bentar yah, mau cuci muka dulu” kataku sambil bangkit dan melangkahkan kakiku dengan gontai ke kamar mandi.
Di sana aku mencuci mukaku dari cipratan sperma agar aroma yg menyengat itu hilang. Keluar dari kamar mandi, kembali aku duduk di kasur dikelilingi mereka. Sudah tanggung untuk dihentikan, jadi kuikuti saja deh permainan mereka. Kali ini si Acep yg masih hijau itu minta diajari cipokan.
“Boleh yah Neng, soalnya saya pengen ngerasain dicium cewek itu kayak apa sih, apalagi cewek cakep kaya Neng” pintanya, mukaku memerah karena malu dan juga tersanjung akan pujiannya.
“Cium-cium-cium !” teman-temannya yg lain menyorakinya
“Sssttt…jangan keras-keras dong, ada yg tau gimana !” kataku memperingatkan sehingga mereka mengurangi volumenya.
Aku memejamkan mataku seperti kebiasaanku berciuman menunggu Acep menciumku, pertama-tama aku merasa bahuku dipegang lalu menempellah bibirnya dengan bibirku. Teknik ciumannya benar-benar amatiran, kaku dan membosankansekali, sehingga aku yg berinisiatif memainkan lidahku baru dia mulai bisa membalasnya, aku melingkarkan tangan memeluknya dan percumbuan kami makin panas.

Selama percumbuan itu juga aku merasakan tangan-tangan lain berkeliaran di sekujur badanku, mengelusi punggung, paha, payudara, dll. Tidak jelas siapa yg melakukan karena aku memejamkan mata, yg jelas darahku mulai bergolak lagi karena belaian ditambah kometar-komentar jorok mereka. Ada seseorang memelukku dari belakang dan menjilati leherku, oohh...benar-benar sensasional, demikian rasanya pertama kali dikeroyok. cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com Lama juga aku berciuman sambil digerayangi, nafasku sampai naik-turun ga karuan karenanya. Setelah itu si Amad gondrong meminta jatahnya, dia berbaring telentang dan menyuruhku membenamkan kontol nya pada memek ku. Akupun naik ke atas kontol nya, benda itu kugenggam dan kueluskan pada memek ku dulu supaya nafsu si Amad mendidih. Kemudian baru aku mulai menjebloskannya perlahan-lahan.
“Ahhh...eeegghh !” desahku saat memasukkan kontol itu, aku memejamkan mata dengan bibir membuka.
Setelah terasa mentok, akupun perlahan menaik-turunkan badanku. Amad juga mendesah kenikmatan karena kontol nya dihimpit dinding memek ku.

Gerak naik-turunku semakin cepat sehingga payudaraku ikut bergoncang-goncang. Dengan aku yg memegang kendali, si Amad kelihatan kelabakan, dia mendesah-desah gak karuan. Kelihatan sekali pengalaman seksnya masih dibawahku. Dia julurkan tangannya meraih payudara kiriku, sepertinya dia gemas melihat payudaraku yg juga naik-turun itu. Dua orang lainnya duduk menonton liveshow kami, Gungun sebelumnya telah turun ke bawah untuk memeriksa keadaan dan berjaga-jaga di pos jaga dekat gerbang. Tak lama kemudian si Ifud mendekatiku dan berdiri di sebelah menyodorkan kontol nya yg langsung kugenggam. Jadilah aku bergaya woman on top sambil mengocoki kontol Ifud. Amad, ternyata tidaklah setangguh yg kukira, tampang boleh sangar kaya preman, tapi dia orgasme dalam waktu yg relatif singkat, isi kontol nya tertumpah dalam memek ku. Aku paling senang ML di saat safe seperti ini, bebas dari rasa was-was walau pasanganku buang di dalam. Tanpa malu-malu lagi, kupanggil si Acep agar menuntaskan birahiku. Aku duduk di kasur membuka kedua pahaku seakan mempersilakan anak itu menusuknya, aku harus membimbing kontol nya memasuki memek ku karena ini pertama kalinya bagi dia.

Setelah kepalanya menekan bibir memek ku, kusuruh dia mendorong pantatnya.
“Ohhh...yess !” desahku ketika kontol perjaka itu menghujam ke dalam.
Selanjutnya yg kurasakan adalah gesekan-gesekan antara kontol nya dengan dinding memek ku. Acep pun semakin menikmati persebadanan pertamanya itu dengan makin cepat menusuk-nusukkan kontol nya hingga akhirnya kitapun orgasme bersama atas bimbinganku tentang mengatur tempo genjotan. Sisa waktu sekitar sejam lebih kedepan aku terus disebadani mereka baik secara bergilir maupun barengan. Hingga akhirnya kami semua pun kelelahan bersimbah peluh. Wajahku sekali lagi belepotan sperma karena salah seorang membuangnya di sana ketika orgasme. Sejak itu mereka sering memintaku melakukan hal yg sama lagi, terutama Acep dan Gungun. Terkadang memintanya agak memaksa pula. Memang sih awal-awalnya aku cukup menikmati, tapi lama-lama kesal juga karena mereka makin gak tau diri, misalnya pernah satu malam Gungun mengetuk pintu minta jatah lagi, sehingga mengganggu tidurku.

Gangbang seks yang nikmat, banyak kontol masuk memek ku, tubuhku di gangbang enak sensasinya
Klik foto untuk memperbesar gambar

Aku sampai pernah marah dan mengancam akan melapor ke pemilik kost sehingga mereka agak ngeper, terutama setelah Gungun keceplosan ngomong tentang itu ke pamannya yg menengoknya dari kampung, sehingga pria paruh baya itu juga sempat minta jatah padaku (kalau sempat akan kuceritakan juga). Aku tidak ingin hal ini tercium kemana-mana, apalagi sampai ‘kecelakaan’ gara-gara mereka, maka kuputuskan setelah sewaku habis bulan itu, aku pindah ke kost lain yg agak jauh dari tempat itu hingga saat ini. Terkadang terbesit di benakku ingin mengulangi lagi keroyokan seperti itu, tapi ah...tidaklah, terlalu berisiko tinggi terhadap imej dan kesehatan nantinya. Bulan September lalu aku sempat bertemu lagi dengan si Gungun ketika sedang berjalan di dekat kost lamaku itu, kelihatannya di baru dari membeli sesuatu.
“Neng, udah lama yah !” sapanya sambil senyum cengengesan.
Aku membalas dengan senyum kecil saja sambil terus melangkah agak jutek.
“Siapa tuh Na ? masa lu kenal sama yg gituan ?” tanya seorang temanku yg jalan bareng.
“Ohh, itu cuma babu di kost lama gua, masih inget gua juga dia yah” jawabku santai.
“Naksir ke lu kali” timpal temanku yg lain disusul tawa kami. Nantikan cerita seks kami lainnya...
Gangbang seks yang nikmat
Gangbang seks yang nikmat, cerita seks , Gangbang seks yang nikmat, banyak kontol masuk memek ku, tubuhku di gangbang enak sensasinya, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Gangbang seks yang nikmat

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com