Tante Nina kena Gangbang

Bugi, Gono, Adon, Feri dan Coki baru saja menggelar ‘konser’ di kamar Coki. ‘Konser’ menurut kamus mereka adalah menonton setumpuk DVD porno. “Sialan, kenapa lu ngajak ‘konser’ pas gue lagi jomblo? Mana di sini sama sekali gak ada cewek,” gerutu Adon sambil mengelap jidatnya yang berkeringat. “Gue butuh pelampiasan nih,” tukasnya lagi sambil mengelus kontol nya yang ngaceng di balik celana bermudanya.


“Sayang Mbak Suti udah pulang,” desah Coki. “Biar cuma babu cuci dan giginya berantakan, tapi bodinya mak! Gak kalah sama J-Lo. Pantatnya itu lho kalo jalan megal-megol!”

“Yah, selera lu kok gak mutu gitu,” cela Gono sambil pringas-pringis. “Gue mana bisa nafsu sama cewek jelek.” Cowok paling ceking ini sedang berusaha mengecilkan kontol nya yang membengkak dengan menempelkan bagian depan celananya yang menggembung pada sekaleng bir Guiness hitam dingin.

“Eh, kalo lagi nafsu gini mau cewek kayak apa kek yang penting dia punya lobang yang bisa dimasukin,” sahut Bugi sambil ngiler usai melihat-lihat cover DVD yang seronok.

Tante tante Nina suka Gangbang, rame-rame ngentot tante, di entot berkali kali mulut tante nyepong kontol
Klik foto untuk memperbesar gambar

“Tul, biar muka kayak setan yang penting legit kayak ketan,” timpal Coki mencoba sedikit bertamsil.

“Lha, trus sekarang kita kudu ngapain? Ke diskotek, panti pijat atau lokalisasi? Gue lagi bokek. Lagian kalau pas ada razia kan konyol. Pokoknya malam ini gue kudu nyolok,” ujar Adon.

“Oh, gue tahu! Lu pada inget sama cewek yang tinggal di rumah belakang gak? Yang sombong itu lho. Yang gue panggil tapi dia malah melengos.”

Karena masih mabuk film porno, empat temannya hanya manggut-manggut tanpa tenaga. Feri yang pendiam malah masih merengut. Ia tidak puas dengan enam film yang mereka tonton. Bukan karena cerita atau pemainnya buktinya kontol nya paling mekar diantara yang lainnya, tapi sudut pengambilan gambar yang membuatnya jengkel. Maklum, si bongsor ini adalah mahasiswa IKJ jurusan penyutradaraan.

“Namanya tante Nina. Sebenarnya mukanya sih nggak cantik-cantik amat, tapi bodinya seksi. Kulitnya putih mulus. Pahanya jenjang en payudaranya sekel. Eh, pas tahu gue pelototin bodinya dia malah maki-maki gue. Heran, kalo nggak mau ditonton ya jangan ngasih kita tontonan dong. Dia jual mahal karena dulunya pernah jadi simpanan bule. Mending bulenya cakep. Udah tua, gendut, gundul lagi.”

“Wah, panjang umur dia,” gumam Bugi sambil melongok jendela. “Cok, itu kan yang namanya tante Nina?”

Keempat temannya segera menghambur ke jendela. Dari lantai dua, mereka bisa melihat gundukan kembar yang mengintip dari belahan blus rendah, paha mulus jenjang dan goyang pantat tante Nina yang membius. Jakun mereka naik turun dan menghasilkan bunyi glek keras. Lalu semuanya saling pandang. Seakan memiliki kemampuan men-scan isi otak empat sohibnya yang kotor, Coki langsung mengajak mereka menyelinap ke rumah kontrakan di belakang. Kebetulan tante Nina memang tinggal sendirian. Tapi ada syaratnya…

“Gue gak mau masuk penjara. Jadi kita harus bikin dia mau main karena suka sama suka.”

“Yaa repot amat. Masa kudu pake rayuan dulu?” omel Adon.

“Gak repot asal ngikutin cara gue. O, ya satu lagi. Karena gue yang kasih tahu kalian, berarti gue dapat giliran pertama. Dan lu, Fer, lu bisa mewujudkan impian lu. Bawa handycam lu.”

Feri memang tak pernah lepas dari handycamnya. Wajahnya yang berjerawat langsung berseri-seri. Ia mendekati Coki lalu berbisik-bisik seperti seorang sutradara yang sedang berdiskusi dengan penulis skenario.

Setelah celingukan ke sana-kemari, mereka memanjat pagar kecuali Gono. Ia tetap berada di luar pagar untuk membunyikan bel agar tante Nina mau keluar. Mulanya Gono enggan, takut dirinya dilupakan dan ditinggal oleh teman2nya. Tapi setelah Coki meyakinkannya, ia mau juga menjadi pancingan.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

tante Nina mengintip dari balik korden. Ia mengerutkan keningnya melihat cowok tak dikenal memencet bel rumahnya dengan getol. Dengan jengkel ia membuka pintu, mulutnya baru saja membuka untuk mengomeli Gono saat sebuah tangan membekap mulutnya dan ada tangan-tangan lain meringkus tangan dan kakinya. Dalam waktu singkat, tante Nina sudah digotong masuk ke dalam kamar tidurnya sendiri. Sedangkan sesuai janjinya, Coki tak lupa membukakan pintu untuk Gono. Kerjasama Coki dan kawan-kawan tak kalah baik dengan kawanan tentara bayaran di film-film Hollywood saat menjebak teroris. tante Nina mendelik begitu mengenali Coki. Berbagai makian terlontar, tapi tak jelas terdengar karena mulutnya dibekap.

“Diam, sayang. Kalau lu terus memaki-maki gue, nanti akibatnya tambah fatal,” ujar Coki sambil mengunci pintu kamar.

Kemudian Coki meminta teman-temannya untuk menelanjangi tante Nina. Bugi yang kesal karena tangannya digigit tante Nina hingga berdarah langsung menjejalkan celana dalam nylon putih berenda ke dalam mulut sang empunya celana. tante itu tidak diikat karena kedua tangan dan kakinya terus dipegangi. Bugi yang duduk di dekat kepala tante Nina memegangi kedua tangan tante Nina, sedang Adon dan Gono duduk di samping kiri-kanan tante Nina sambil mementangkan kaki tante itu dengan selebar mungkin. Usaha mereka tidak mudah karena tante itu terus meronta-ronta. Sementara itu Feri sudah sibuk dengan handycam-nya, lensa handycam terus terarah pada lekuk tubuh tante Nina.

“Begini, kita punya penawaran. Kita kasihan melihat lu tinggal sendirian tanpa pacar apalagi suami. Lu pasti sering masturbasi kalau lagi kesepian. Apalagi umur lu masih muda, belum nyampe tiga puluh. Cewek umur segitu kan lagi horny-hornynya,” ujar Coki sambil mengelus selangkangan tante Nina yang tak berambut, sepertinya habis di-wax. “Jadi kita bisa saling memuaskan. Win-win solution lah.”

tante Nina menggeram marah. Ia melotot sambil menggeleng keras saat payudaranya diremas-remas Adon dan Gono.

“Kalau kami nggak bisa membuat lu orgasme dalam waktu sepuluh menit, kami akan minta maaf, keluar dari sini dan nggak bakalan ganggu lu lagi selamanya. Lu sendiri nggak boleh bilang siapa-siapa tentang kejadian ini atau rekaman gambar bugil lu akan nongol di internet. Tapi kalau lu sampai teriak-teriak enak, maka lu harus mau melayani kami berlima,” ujar Bugi sambil memiting kedua tangan tante Nina.

“Pelan-pelan. Kalau tangannya sampai keseleo atau patah kan nggak seru,” tukas Coki menyabarkan Bugi. Bugi menurut dan mengendorkan pitingannya.

tante Nina mulai gemetar. Sorot matanya tak segarang tadi. Agaknya ia tidak yakin bisa melewati sepuluh menit dengan selamat. Jujur saja apa yang dikatakan Coki tadi benar. Ia memang kesepian dan hampir tiap malam bermasturbasi, kadang sekali, kadang sampai tiga kali. Ia ingin bercinta lagi, tapi hanya dengan orang yang benar-benar dikenalnya.

Tanpa menunggu jawaban tante Nina, Coki mengambil posisi di depan selangkangan tante Nina. Tubuh tante Nina mengejang saat lidah Coki mulai menjilati klitorisnya. Tapi sesudahnya ia diam, meronta pun tidak. Ia hanya merintih pelan sambil berusaha menahan agar nafsunya jangan sampai meledak. Namun bukan hanya Coki yang bekerja, Adon dan Gono terus meremas dan melumat buah dada bulat kenyal dengan lapar. Sesekali keduanya memuntir dan menggigiti puting cokelat muda yang menggemaskan itu. Sedangkan Bugi menggesek-gesekkan kontol nya yang keras di balik celana selututnya pada ubun-ubun tante Nina.

Dada tante Nina naik-turun. Nafasnya mulai memburu. Dengan lembut dan tak terburu-buru Coki melumat bibir bawah tante Nina. Dijilatinya klentit yang sudah mengeras itu dengan perlahan, sesekali menelusurinya dengan ujung lidahnya. Coki pernah membaca di sebuah majalah kalau klentit sisi sebelah kanan lebih sensitif dari sebelah kiri karena syaraf pada pada sisi kanan berhubungan langsung pada kandung kemih. Jari telunjuk Coki juga sudah mengelus dan menekan dinding atas memek , persisnya pada permukaan halus yang mirip spons. Menurut buku seks yang dibacanya, tempat itu yang dinamakan G-spot.

“Lima menit lagi,” ujar Feri dengan suara serak. Tangannya yang memegang handycam sudah berkeringat. Ia ingin sekali ikut meremas dan menjilati tubuh tante Nina, tapi merekam dokumentasi langka seperti ini lebih penting baginya. Toh nantinya ia juga dapat giliran.

tante Nina memandangi jam dinding dengan pasrah bercampur cemas. Kalau saja ia punya kemampuan untuk memajukan jarum menit dari jarak jauh, tapi yang bisa dilakukannya hanyalah terkapar tanpa daya. Payahnya lagi tubuhnya mulai menggigil oleh hujan serangan dari cowok-cowok yang usianya sekitar sepuluh tahun lebih muda darinya. Sudah lama ia tidak disentuh laki-laki, sekarang malah ada lima meski yang satu sibuk dengan handycam. Astaga! Nanti rekaman itu akan dikemanakan? Eh, apa mereka membawa kondom? Kalau dia sampai hamil gimana? Untung saja hari ini sudah lewat masa suburnya.

“Dua menit lagi,” ujar Feri sambil merekam kehebatan kerja lidah Coki dari jarak dekat. “Lu benar-benar hebat, man. Belajar dari mana sih? Tapi jangan lama-lama nanti sepuluh menit keburu lewat,” bisiknya.

Coki hanya melirik dan mengedipkan matanya. Mendadak ia mempercepat gosokan sambil sedikit menekan G-spot dan mengenyot kacang basah itu dengan mantap. tante Nina mengerang dengan mata terpejam lekat sehingga dahinya berkerut dan kedua alisnya menyambung jadi satu.

“Suara lu seksi. Bikin adik gue tambah gede,” bisik Bugi sambil menyeringai.

tante Nina menggigit bibirnya untuk menahan teriakan-teriakan keluar dari mulutnya. Namun rasa nikmat sudah menguasai sekujur syaraf tubuhnya. Kakinya yang sejak tadi diam mulai kembali bergoyang-goyang. Begitu pula tangannya.

“This is it, Cok! She’s coming!” seru Bugi riang.

Mendengar kata ‘coming’, tante Nina berusaha mengendurkan syaraf-syarafnya, tapi Coki sudah membuatnya gila. Perut bawahnya mulai mengejang dan rasanya ingin meledak. Ia menggeliat untuk menahan ledakan, tapi terlambat. Seiring erangan keras, matanya melotot dan kedua kakinya menjejak ke udara dengan keras hingga nyaris terlepas dari cekalan Adon dan Gono. Bugi mencopot sumbatan mulut tante Nina dan berbisik, “bilang enak dulu kalau nggak, dia nggak akan berhenti ngemut klentit lu.”

Namun tante Nina hanya mengerang-erang sambil menggelinjang ke sana-kemari. Ia berusaha melepaskan diri dari Coki, tapi lidah dan jari Coki terus melekat dengan mantap.

“Ss… sudah… su… dah… please… tol…long…,” desis tante Nina setengah menangis.

“Bilang enak dulu,” perintah Bugi.

“E… enak… en…nak…”

“Yang keras!”

“Enak! Enaaak!”

Baru Coki berhenti. Sekitar bibir dan hidungnya basah mengkilap, tapi ia tampak senang. Dengan wajah berseri-seri, ia membuka pakaian hingga telanjang. Begitu pula yang lainnya termasuk Feri yang akhirnya mau juga menaruh handycam-nya.

Dengan napas tersengal-sengal tante Nina terbaring lemah. Ia hanya bisa melihat Coki merangkak mendekatinya dan langsung menghujamkan kontol nya ke dalam memek yang basah dan licin. tante Nina merintih saat klentitnya yang bengkak dan masih sensitif terasa pedas tergesek rambut kemaluan Coki yang tajam. Coki sendiri terus menghantam pantatnya ke selangkangan tante Nina sambil melumat bibir tante Nina dengan rakus. tante Nina memalingkan wajahnya begitu merasakan lendir memek nya sendiri, tapi Coki memegangi pipinya dengan erat dan terus mengobok-obok gusi dan dinding mulut tante Nina dengan lidahnya. Setelah puas mentransfer ludah mulut bawah tante Nina ke mulut atasnya, kedua tangan Coki sibuk meremas pinggul dan payudara tante itu dengan keras hingga tante Nina kesakitan. Sepertinya kesabaran Coki dalam menghadapi klentit, hilang tak tersisa.

Bugi, Adon dan Gono asyik menonton sambil mengelus-ngelus kontol mereka. Bugi yang mendapat giliran kedua sudah siap di samping ranjang sambil menyuruh agar Coki jangan lama-lama. Coki yang memang sudah hampir selesai segera mempercepat kayuhan pantatnya dan ia menggeram sambil meremas buah dada tante Nina dengan keras. Crot! Crot! Crot! tante Nina begitu kesakitan hingga air matanya menggenang. Ia tidak mengalami orgasme lagi karena tubuhnya belum pulih dari ledakan kenikmatan tadi apalagi remasan tangan Coki menyakitinya.

Bugi langsung maju menggantikan tempat Coki. Ia menyeringai melihat tante Nina menggeleng pasrah.
“Jangan takut, sayang. Biarpun tangan gue lu gigit sampe berdarah, gue bakal bikin lu menjerit-jerit keenakan.”

tante Nina memang langsung menjerit kecil saat kontol Bugi menerobos masuk dengan paksa. Apalagi setelah kedua kakinya yang panjang diangkat dan disampirkan pada pundak Bugi. kontol Bugi langsung melesak masuk menumbuk G-spotnya dengann telak. Teriakan kesakitan tante Nina berubah menjadi lolongan nikmat saat Bugi menghentak-hentakkan pantatnya. Kedua tangan tante Nina menarik-narik seprai hingga hampir robek.

Feri terus merekam dari berbagai sisi. Sedangkan Adon dan Gono mengomentari gaya Bugi dengan kagum seperti komentator yang sedang memuji-muji gocekan Ronaldinho di depan gawang lawan. Coki tampak sirik dengan keberhasilan Bugi merangsang tante Nina. tante itu seperti lupa kalau sedang diperkosa. Ia tampak begitu menikmati kocokan Bugi hingga ikut menghentakkan pantatnya dan berulang kali berteriak ‘Yes! Oh, yes! More… more!! Ughh! Enaaak! Agh… Yes! Enaaak!!”

Akhirnya dengan kepala mendongak, Bugi menggeram seperti ****** herder milik Pak RT. Cairan hangat menyembur-nyembur dari kontol nya ke dalam rahim tante Nina dan kedua tangannya mencengkeram payudara sambil memuntir puting tante Nina. Pinggul tante Nina masih terus bergoyang, teriakannya juga masih jalan terus. Rupanya kontol Bugi yang tinggal setengah mekar masih cukup keras menyodok-nyodok G-spot nya. Selang sepuluh detik kemudian giliran tante Nina mengerang panjang lalu tubuhnya terkulai lemas. Ia mengangguk pelan pada Bugi sebelum memejamkan matanya.

“Eh, siapa yang suruh lu tidur. Belum selesai, sayang,” tukas Adon sambil menarik tante Nina bangun.

Adon si gempal menyuruh tante Nina duduk di pangkuan menghadapnya. “Busyet! Lu becek banget,” tukas Adon setengah mengeluh saat cairan memek bercampur sperma dua temannya tumpah membasahi paha dan buah zakarnya. kontol Adon sudah berdiri dengan kerasnya hingga tak perlu bantuan tangan lagi untuk memasuki lubang memek tante Nina.

tante Nina menahan napas saat memek nya kembali ditembus kontol sekeras kayu. Anak-anak kuliahan ini benar-benar berbeda dari Albert Withers, expat Aussie yang dulu memeliharanya. kontol Albert memang besar, tapi tidak sekeras milik mereka. Mungkin karena sudah berusia lima puluh tahun maka kontol bule itu tidak lagi mengacung ke langit tapi membentuk sudut sembilan puluh derajat dari paha.

Adon memegangi pantat tante Nina dan menaik-turunkannya seiring ia menggoyang pantatnya. tante Nina yang lemas berusaha bersandar pada tubuhnya, tapi malah didorongnya menjauh hingga kepalanya terayun ke belakang. Satu tangan Adon melepas pantat tante Nina untuk menyangga punggung tante Nina. Bibirnya yang tebal menyelomot payudara tante Nina yang berayun di depan wajahnya. Mata tante Nina kembali terpejam dan ia mengerang. Semua rangsangan ini membuat liang senggamanya berkedut dan mengeluarkan cairan lagi. Tapi erangannya lembut setengah mendesah, tak sekeras saat kontol Bugi mengocoknya. Tapi lama kelamaan ia mulai merintih nikmat karena klentitnya kembali mengembang setelah tergesek dengan rambut kemaluan Adon. Ia mulai menggelinjang sehingga tubuhnya oleng dan hampir jatuh rebah ke kasur. Tapi Adon menariknya kembali dan tubuh mereka yang basah karena keringat saling menempel. Adon memeluk tante Nina dengan erat dan menekan tubuh tante Nina kuat-kuat sebelum menyemburkan spermanya.

tante Nina yang baru saja dibaringkan Adon langsung disuruh nungging oleh Gono. Dengan sekali hentak, kontol Gono langsung masuk. tante Nina mengerang sambil meringis. Meski tidak begitu panjang, tapi kontol buntek ini berdiameter cukup besar sehingga memenuhi liang memek nya seperti lepet yang menuh-menuhin bungkusnya. Satu tangan Gono mengobel-ngobel payudara tante Nina dan yang satunya mengilik-ngilik klitoris tante Nina. tante itu terus menggelinjang dan merintih nikmat setelah mengalami lima orgasme kecil berturut-turut. Gono sendiri memejamkan mata menikmati kontol nya dikenyot liang memek yang tak henti berkedut.

Coki, Bugi dan Adon menggoda Feri yang terus saja asyik merekam. Seolah tak mendengar ejekan temannya, Feri malah mendekati Gono dan membisikinya sesuatu. Gono menoleh tanpa berhenti mengayun pantatnya. Pandangan takjub Gono membuat tiga penonton saling pandang dengan penasaran. Tapi Feri dan Gono tak mau menjawab pertanyaan yang diberondongkan mereka. Dengan santai Gono menarik tangannya dari klentit tante Nina. Tangannya mengkilat oleh cairan memek bercampur sperma tiga temannya. Lalu ia mengoleskan cairan di tangannya ke bibir anus tante Nina. tante Nina yang sejak tadi mengerang-erang langsung terkesiap. Ia melonjak kaget bahkan berusaha melepaskan diri, tapi Gono memegangi pantatnya dengan erat. Dengan dua jari, Gono menguwek-uwek bibir anus berwarna merah muda itu hingga melembut. Anus tante Nina makin berkerut-kerut karena kegelian. Sentuhan pada anus rupanya membuat tante Nina semakin panas dan meremas kontol Gono kuat-kuat. Bersamaan dengan jeritan tante Nina, Gono juga berteriak. Cairan hangat kembali membanjiri lubang memek tante Nina.

tante Nina ambruk ke atas seprai yang bau dan basah kuyup oleh cocktail keringat, cairan memek dan air mani. Matanya yang hampir terpejam segera melotot begitu melihat kontol Feri yang berukuran super melintas di depan hidungnya. Tanpa disadarinya tubuhnya gemetar dan lubang memek nya terasa ngilu sebelum ditembus kontol pejantan terakhir. Feri menitipkan handycam-nya dulu pada Coki dan mulai mendekati tante Nina. Ia duduk bersandar di headboard ranjang dan menarik tubuh tante Nina yang tergolek di hadapannya. Dimintanya tante Nina duduk di pangkuannya, tapi tidak seperti Adon tadi kali ini tante Nina memunggunginya. Kaki tante Nina dipentangkan lebar dan ditaruh di atas kedua lutut Feri. Dengan perlahan, Feri memegangi pinggang ramping tante Nina. Diangkat dan diturunkannya tubuh tante itu hingga kontol nya menusuk masuk ke dalam memek nya. tante Ninah mendesah puas. Namun baru saja mem*knya meremas-remas gada raksasa itu, ia kecewa. Tiba-tiba Feri saja mengangkat tubuhnya dan melepaskan kontol nya. Apa karena terlalu becek? tante Nina ingin bertanya, tapi malu. Lagipula Feri kembali menurunkan tubuhnya.

tante Nina menjerit kesakitan. Ternyata kontol besar itu menghujam lubang anusnya setelah mencelup lubang memek nya untuk mendapat lubrikasi. Ia meronta dengan sisa-sisa tenaganya, tapi sia-sia. Feri terus menarik pundak tante Nina ke bawah. Tubuh tante Nina melengkung karena menahan nyeri saat seluruh kontol Feri masuk ke lubang anusnya. Baru kali ini anusnya diperawani, sialnya dengan kontol sebesar ini. Feri diam sejenak dan meremas-remas payudara tante Nina dengan lembut. Ia juga membisiki tante Nina dengan berbagai pujian dan rayuan. Usahanya menenangkan tante Nina berhasil, tante itu akhirnya berhenti berontak dan menyandarkan tubuhnya dengan pasrah. Feri mulai menaik-turunkan tubuh tante Nina. Satu tangannya beranjak meninggalkan payudara dan menelusuri perut rata tante Nina menuju klitoris tante Nina yang sudah memerah.

tante Nina menggelinjang saat jari telunjuk Feri menggaruk sembari memutar-mutar kacangnya. Payudaranya berguncang sehingga membuat empat penonton kembali ngos-ngosan karena pemandangan merangsang ini membangunkan kontol mereka. Coki yang tidak tahan menyerahkan handycam pada Bugi dan merangkak maju mendekati tante Nina. Protes teman-temannya tidak dipedulikannya. Rupanya ia masih kesal mengapa tante Nina tampak begitu menikmati kontol teman2nya, tapi tidak miliknya.

Telunjuk Coki menyelonong masuk ke dalam liang memek tante Nina dan mengobok obok G-spotnya dan mulutnya menerkam salah satu payudara tante Nina. tante Nina mendesis-desis sambil memandangi Coki. Pandangannya seperti orang fly, ya tante itu sedang terbang di dunia fantasi. Cairan memek yang terus keluar mengalir ke anus membuat gerakan kontol Feri semakin lancar. Kaki tante Nina mengejang dan teriakan lantang pun menyusul hingga Coki harus membekap mulut tante Nina. Dua tangan Coki berada pada dua mulut tante Nina. Feri terus memompa memek tante Nina tanpa ampun. Ia belum juga ejakulasi meski tubuh tante Nina sudah terkulai lemas. Akhirnya crrott…crott…crot…crot. Semburan panas mengisi lubang anus tante Nina hingga ia terlonjak.

Bermain selama lima ronde berturut-turut membuat tenaga tante Nina habis. Begitu Feri melepaskannya, ia roboh tanpa bisa berkata-kata lagi. Ia baru membuka mulutnya setelah Adon kembali meraba payudaranya. “Besok… besok lagi saja, ya…,” ujarnya memelas dengan lirih
Tante Nina kena Gangbang
Tante Nina kena Gangbang, cerita seks , Tanten Nina suka Gangbang, rame-rame ngentot tante, di entot berkali kali mulut tante nyepong kontol, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Tante Nina kena Gangbang

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com