ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11

Jam 3 sore saya berpikir sebentar kalo tadi saya udah ngentot gangbang sampai 2 jam di gubuk tukang tambal ban . saya sudah berada di depan pintu rumahku sekarang. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi rumah, saya mengambil nafas panjang untuk mengumpulkan kekuatan. Kemudian saya turun dari mobilku, saya sudah membayangkan akan segera tidur pulas krn capai yg amat sangat ini.

Masih terasa sekali, sisa rasa sakit bercampur ngilu pada selangkanganku ketika saya melangkahkan kakiku. Kedua kakiku ini juga masih lemas sedikit gemetar. Tapi saya harus segera mandi, membersihkan badanku sebersih bersihnya, lalu tidur mengistirahatkan tubuhku yg sudah hancur hancuran diperkosa oleh 7 orang tadi.

Suasana rumah sepi sekali, ketika saya terus melangkah sampai ke depan pintu kamarku, saya tertegun melihat sepasang sepatu, sepatunya Cie Stefanny.

Aduh, saya baru ingat kalau harusnya saya les sejak jam satu siang tadi. saya segera masuk ke dalam kamarku. Tak ada siapa siapa di dalam sini, tapi pintu kamar mandiku yg tertutup dgn suara gemericik air dari dalam sana melenyapkan kebingunganku. saya menaruh tas sekolahku di atas meja, duduk di kursi menunggu Cie Stefanny keluar dari kamar mandi.

saya memandangi ranjangku agak lama, saya mulai menyadari keadaan sprei ranjangku sepintas memang rapi, tapi kalau diperhatikan permukaannya terlalu banyak lipatan tak beraturan seperti sprei yg belum disetrika saja.

Apakah krn Cie Stefanny tadi sempat tiduran di ranjangku? Mungkin saja, krn gorden kamarku sekarang ini tertutup. Tapi kalaupun iya, seharusnya sprei tidak sampai lecek di sana sini seperti ini.

‘Klik’, pintu kamar mandiku terbuka, Cie Stefanny yg keluar dari sana sedikit terkejut melihatku.

“Hai… sudah pulang ya Eliza”, Cie Stefanny menyapaku.

“Iya, aduh sori ya Cie, tadi…”, kata kataku terhenti ketika saya terlalu tertarik untuk memperhatikan keadaan Cie Stefanny.

Wajahnya merah segar walaupun ada kesan sedikit capek ditambah nafasnya yg ngos ngosan. Bajunya agak kusut, semua kancing baju juga tidak terpasang, memperlihatkan kaus merah muda di dalamnya yg membalut ketat tubuh Cie Stefanny. Rambutnya yg panjang biasanya selalu indah tersisir rapi kini terlihat sedikit awut awutan. Sungguhpun begitu, Cie Stefanny masih tetap terlihat begitu cantik.

“Eliza?”, tanya Cie Stefanny sambil memandangiku, membuatku tersadar kalau saya sudah terlalu lama memperhatikannya.

“Oh… Cie, anu… Cie Cie cantik sekali”, saya tergagap panik lalu berusaha menjawab apa saja.

Sadar dgn apa yg baru saja kuucapkan, saya jadi malu sekali. Tapi belum sempat saya bereaksi lebih lanjut, tiba tiba saya sudah berada dalam pelukan Cie Stefanny yg melingkarkan tangannya di belakang bahuku.

“Eliza… thanks ya udah bilang Cie Cie cantik…”, kata Cie Stefanny perlahan.

Hangat nyaman sekali pelukan ini, membuatku memejamkan mata kemudian balas memeluk Cie Stefanny begitu saja. Kulingkarkan tanganku pada pinggang guru lesku yg hanya sedikit lebih tinggi dariku ini, kusandarkan kepalaku pada pundaknya.

Tiba tiba saya menggigit bibirku sendiri ketika kurasakan rangsangan pada kedua puting toket ku.

Oh, saya baru sadar, sekarang ini saya tidak mengenakan bra. Berpelukan seperti ini, kurasakan kedua toket kita saling menekan. Akibatnya, tekanan ini langsung mengenai kedua putingku yg tak terlindung bra ini, hal ini langsung menyengat perasaanku.

“Mmmh… Cie…”, tanpa sadar saya merintih ketika pelukan Cie Stefanny makin erat.

“Kenapa Eliza…”, tanya Cie Stefanny pelan sambil melonggarkan pelukannya, sekarang kita berdua saling beradu pandang.

saya tak mengerti apa yg terjadi dgn diriku. Bertatapan seperti ini dgn Cie Stefanny, mendadak gairahku kembali meninggi. Sesaat kemudian saya sudah menerkam Cie Stefanny yg menjerit kecil krn terkejut. Berikutnya saya menjatuhkan lalu menidih tubuh mungil guru lesku ini di atas ranjangku.

Entah dapat kekuatan dari mana, kini saya sudah berhasil mencengkram kedua pergelangan tangan Cie Stefanny lalu menekankan keduanya di atas ranjangku.

“Aduh… Eliza… kamu kenapa mmphhh…”, kata kata Cie Stefanny terputus saat saya memagut bibirnya yg memakai lipgloss dgn sepenuh hatiku.

saya merasakan Cie Stefanny mencoba meronta, tapi saya bertekad tak akan melepaskannya. Kedua telapak kakiku kukaitkan pada kedua pergelangan kaki Cie Stefanny, saya melepaskan pagutanku dari bibirnya sesaat untuk kemudian mencumbui wajah guru lesku yg cantik ini.

“Ohh… Eliza…”, Cie Stefanny merintih.

Akhirnya tak ada lagi perlawanan yg dilakukan oleh Cie Stefanny. Ia menatapku dgn sayu, membuat jantungku semakin berdegup kencang. saya kembali memagut bibir Cie Sefanny, sekali ini ia sudah mau membalas ciumanku ini.

Maka kulepaskan cengkraman tanganku lalu kaitan kakiku dari Cie Stefanny. Setelah beberapa saat saya mencumbui wajah guru lesku ini dgn penuh gairah, kini kita sudah bergumul dgn panas di atas ranjangku. Beberapa lamanya kita saling pagut lalu berpelukan dgn mesra. Desahan serta rintihan kita berdua memenuhi kamarku, kita baru saling melepaskan ketika sama sama kehabisan nafas.

“Eliza… kamu nakal ya…”, kata Cie Stefanny sambil menatapku dgn muka cemberut, tapi jelas sekali ia sedang menahan senyumnya.

saya menjawab dgn menyusupkan wajahku di antara belahan dada Cie Stefanny. Senang rasanya ketika Cie Stefanny memeluk kepalaku lalu mengusap rambutku. Rasanya nyaman sekali, seperti mengobati kelelahanku setelah tadi siang saya harus pasrah melayani tujuh orang yg ramai ramai memperkosaku di tempat tukang tambal ban .

“Cie…”, saya mengguman pelan.

“Ada apa Eliza?”, tanya Cie Stefanny lembut.

“Hari ini, Cie Cie mau ya, menginap di sini?”, tanyaku sambil mendongak serta menatap wajah guru lesku ini dgn penuh harap.

“Kenapa? Kok tumben sih kamu jadi aneh gini, Eliza?”, sekali ini Cie Stefanny menatapku heran.

“Mmm… besok saya ada ulangan bahasa Inggris, ada bahan yg saya belum bisa Cie”, kataku mencoba memberi alasan.

Sesungguhnya saya hanya ingin Cie Stefanny menemaniku hari ini. saya ingin terus memeluknya, mencumbuinya, bahkan kalau mungkin bercinta dengannya. Entah mengapa Cie Stefanny hari ini terlihat amat menggairahkan bagiku. saya sudah membayangkan malam ini saya akan bercinta dgn Cie Stefanny, walaupun mungkin sebaiknya nanti saya lalu Cie Stefanny sama sama menahan lenguhan saat menikmati percintaan kita, supaya tak ketahuan oleh keluargaku.

“Iya Cie Cie ajarin, tapi nanti malam Cie Cie pulang ya… Cie Cie kan nggak bawa baju…”, Cie Stefanny menawar permintaanku dgn ragu.

“Nggak usah Cie, please… Temani saya ya Cie, kan Cie Cie bisa pakai bajuku…”, saya mulai merengek.

“Duh… Kamu aneh deh hari ini, Eliza… Biasanya kan kamu nggak pakai minta ditemanin segala seperti ini… Ya udah, terserah kamu”, kate Cie Stefanny sambil tersenyum, manis sekali.

“Thanks ya Ciee…”, saya langsung meluapkan kesenanganku dgn kembali memagut bibir Cie Stefanny sejadi jadinya.

“Mmmhh…”, Cie Stefanny mendesah, tubuhnya menegang sesaat, tapi kemudian mengendur kemudian pagutanku kembali berbalas.

Kini ciuman kita semakin panas, apalagi Cie Stefanny sudah pasrah dgn kenakalanku. Ia membiarkan lidahku menjelajahi mulutnya, sekarang ini kurasakan lidahku saling mengait dgn lidah Cie Stefanny.

Setelah beberapa saat kita saling mencumbu, tiba tiba Cie Stefanny membalik posisi kita hingga sekarang ia yg menindihku. saya hanya menurut serta memejamkan mata, pasrah menunggu apa yg akan dilakukan guru lesku ini padaku.

“Eliza…”, desah Cie Stefanny di antara nafasnya yg memburu.

“Iya Cie…”, saya membuka mataku lalu menatapnya.

“Kalau kita seperti ini terus, kapan kamu mau belajar? Katanya besok kamu ada ulangan…”, bisik Cie Stefanny.

“Mmm… bentar Cie…”, kataku sambil memeluk lalu balik menindih tubuh Cie Stefanny.

Kini saya menyusupkan wajahku di pundak kiri Cie Stefanny. Bau harum dari rambut Cie Stefanny yg tergerai di depanku ini membuatku tak ingin segera melepaskan guru lesku ini. saya terus bermanja manja di pelukan Cie Stefanny sambil mencium rambutnya.

“Ih… kamu kenapa sih…”, Cie Stefanny menggodaku.

“Mmm… saya suka wangi rambutnya Cie Cie…”, saya asal menjawab sambil memeluk Cie Stefanny.

Kalau saja saya tidak ingat liang memek ku sekarang ini penuh dgn sisa sperma para pemerkosaku tadi, juga pahaku yg berlumuran sperma , saya pasti sudah melucuti pakaianku sendiri lalu juga pakaian Cie Stefanny, lalu bercinta dengannya. Tapi kini saya lebih baik mandi keramas membersihkan tubuhku.

“Cie… Eliza mandi dulu ya…”, saya berbisik di telinga Cie Stefanny.

“Mmm…”, Cie Stefanny hanya mengguman, mirip sekali sepertiku ketika sedang dalam keadaan terangsang serta malas diajak bicara.

saya mati matian menahan gairahku yg menggelegak ini lalu saya beranjak dari tubuh Cie Stefanny. Kubiarkan guru lesku ini terbaring di atas ranjangku, dgn dadanya yg naik turun sesekali. Mungkin Cie Stefanny sendiri juga sedang berusaha menahan gairahnya, membuatku sedikit malu juga setelah berbuat ‘nakal’ pada guru lesku ini.

Sambil menggigit bibir menahan senyum, saya segera mengambil pakaian dalamku dari lemari, lalu saya segera ke kamar mandi. Setelah selesai keramas, saya menyiram lalu membilas seluruh tubuhku dgn sabun cair plus air hangat. Semua debu serta keringat yg menempel di tubuh ini hanyut terbawa air shower, rasanya nyaman sekali.

Tapi yg pasti saya tak mungkin lupa untuk mencuci sperma para lelaki yg beruntung menikmati tubuhku siang hari tadi, baik yg kini sudah mengering di kedua pahaku, juga yg masih tersisa di dalam liang memek ku yg amat becek ini.

Perlahan kumasukkan satu jariku yg sudah kulumuri sabun pencuci memek untuk mengorek semua sisa campuran sperma beserta cairan cintaku di dalam sana, lalu kusemprotkan air hangat sampai liang memek ku jadi terasa bersih serta kesat. Setelah memberi cairan pengharum memek yg juga berfungsi sebagai antiseptik, saya menghanduki rambutku serta tubuhku.

Lalu saya memakai bra serta celana dalamku. tanpa memakai baju, saya segera keluar dari kamar mandi, mengunci pintu kamarku untuk memastikan tak ada gangguan dari luar. Lalu setelah mengambil buku pelajaran bahasa Inggrisku dari lemari buku pelajaranku, sekarang saya sudah duduk di sebelah Cie Stefanny yg masih tiduran di ranjangku.

“Eliza? Kamu…”, Cie Stefanny memandangku sejenak, lalu ia tersenyum malu kemudian memalingkan mukanya.

“Cie, ayo… katanya Eliza disuruh belajar…”, kataku dgn manja sambil memeluk Cie Stefanny.

“Eliza… kamu nakal ya…”, kata Cie Stefanny serta mencubit kedua pipiku dgn gemas.

“Auww… sakit Ciee… ampun…”, saya mengeluh manja.

kita berdua sama sama tertawa geli. Berikutnya saya duduk di sebelah Cie Stefanny, sambil mulai membuka buku pelajaran bahasa Inggrisku.

Setelah menunjukkan beberapa halaman yg menjadi bahan ulangan besok, terutama bagian yg saya merasa cukup sulit, Cie Stefanny mengambil buku serta memperhatikan halaman demi halaman.

Kini saya malah memperhatikan Cie Stefanny, melihat Cie Stefanny masih memakai pakaian lengkap, saya jadi usil.

“Cie, saya lepas bajunya ya…”, kataku sambil mencoba melucuti baju Cie Stefanny.

“E… Eliza… ini…”, Cie Stefanny mengeluh sambil memandangiku, tapi tak sedikitpun kurasakan ada perlawanan ataupun penolakan dari guru lesku yg cantik ini.

saya terus melepas baju Cie Stefany, memang Cie Stefanny sudah pasrah. Ia menurut saja lalu mengangkat tangannya ketika saya menarik lepas baju dari tubuhnya. Lalu kulempar baju hingga terhampar di kursi meja belajarku, yg biasanya kupakai duduk selama les dgn Cie Stefanny.

Kaus merah muda ketat yg masih melapisi tubuh Cie Stefanny kutarik lepas ke atas. Agak sulit saya melepaskan kaus krn begitu ketatnya kaus membalut tubuh Cie Stefanny. saya segera melempar kaus yg kulucuti dari tubuh Cie Stefanny ke tempat yg sama dimana tadi saya melempar baju Cie Stefanny.

Kini saya melihat kedua toket Cie Stefanny yg masih terbungkus bra. Tidak begitu besar, kira kira hanya lebih besar sedikit dari milikku.

Cie Stefanny hanya menatapku dgn ragu, lalu ia menunduk sambil tersenyum malu. saya tak menyia nyiakan kesempatan ini serta segera melucuti sabuk yg dikenakan Cie Stefanny.

“Oh… Eliza… jangan…”, Cie Stefanny kembali merengek, ia menatapku dgn pandangan memelas.

Tapi saya tak perduli, kini saya berusaha melucuti celana jeans yg dikenakan Cie Stefanny. Resleting sudah kutarik turun lalu kurasakan tubuh Cie Stefanny sempat menegang lalu kedua telapak tangan Cie Stefanny menahan pergelangan tanganku, sepertinya Cie Stefanny tak ingin bagian bawah tubuhnya kutelanjangi.

Perlawanan yg jelas jelas hanya dilakukan dgn setengah hati membuatku menggigit bibir lalu menatap Cie Stefanny dgn penuh gairah. Kutarik paksa celana jeans dari pinggang Cie Stefanny lalu terus kulorotkan sampai akhirnya lepas dari kedua kakinya yg indah .

saya melempar celana jeans ke arah kursi dimana baju serta kaos Cie Stefanny tergeletak.

“Nah, gini dong baru adil Cie”, kataku sambil meleletkan lidah.

“Kamu…”, Cie Stefanny memandangku gemas dgn senyum yg tertahan.

Kini kita berdua sama sama hanya mengenakan bra serta celana dalam. Baru kali ini saya melihat tubuh Cie Stefanny dgn jelas, begitu ramping indah. Kulitnya putih sekali, mungkin lebih putih dari kulitku, membuat rambut Cie Stefanny yg lurus serta panjang tampak semakin hitam serta indah.

Bra serta celana dalam warna putih bercampur coklat muda membuat tubuh Cie Stefanny begitu sexy serta menggairahkan. Wajah guru lesku yg cantik merona merah ketika ia menunduk malu, mungkin krn ia melihatku memperhatikan tubuhnya sampai sebegitunya.

Sempat kuperhatikan, ada beberapa bagian dari kedua pangkal paha Cie Stefanny yg membekas merah, sepertinya bekas cupangan. Demikian juga kedua toket nya Cie Stefanny, ada beberapa bekas cupangan juga. celana dalam Cie Stefanny juga sedikit basah, mungkin krn sekarang ini Cie Stefanny sedang terangsang hingga cairan cintanya sedikit keluar membasahi celana dalamnya .

Keadaan Cie Stefanny ini membuatku menduga duga, apakah leceknya spreiku ini krn Cie Stefanny tadi sempat dipermainkan Wawan serta Suwito di atas ranjangku? Apakah beberapa bekas cupangan pada tubuh Cie Stefanny adalah hasil dari perbuatan mereka berdua?

“Kamu kenapa lagi Eliza…”, Cie Stefanny bertanya dgn curiga serta khawatir.

“Nggak apa apa Cie… abisnya asyik ngeliatin Cie Cie yg sexy gini”, saya mendesah dgn penuh gairah sambil kembali menindih Cie Stefanny, ujung rambutku jatuh terhampar di samping wajah Cie Stefanny.

“Eliza boleh kan sayang sama Cie Cie…”, kataku di sela nafasku yg makin memburu.

“Mmhh… boleh sayang…”, desah Cie Stefanny dgn pasrah serta menatapku dgn sayu.



Kepasrahan Cie Stefanny membuatku tak tahan lagi untuk mencumbuinya. saya membelai pipi kiri Cie Stefanny, lalu mengecup mata serta bibirnya. Kurasakan tangan kanan Cie Stefanny melingkar di punggungku, memberikan belaian yg mesra. saya sangat senang serta mendekap tubuh guru lesku ini, rasanya nyaman sekali.

“Mmmh… Eliza… kamu kok tiba tiba seperti ini sih… sejak kapan kamu jadi begini…”, Cie Stefanny merintih ketika saya mencium lehernya.

saya diam sejenak, ingin rasanya saya menceritakan semua kejadian buruk yg menimpaku, termasuk penderitaanku siang tadi di tempat tambal ban , tapi saya pikir lebih baik kuceritakan nanti malam saja.

“saya… nanti aja saya ceritakan Cie… sekarang saya cuma ingin menyayangi Cie Cie…”, saya berbisik pelan di telinga Cie Stefanny.

“Ooh…”, Cie Stefanny mengeluh pasrah ketika saya melanjutkan mengulum daun telinganya yg kiri.

Tubuh Cie Stefanny menegang serta mulai gemetar. Cie Stefanny sudah sangat terangsang akibat perbuatan nakalku ini, dadanya terlihat naik turun mengiringi nafasnya yg mulai tak beraturan. saya sendiri juga sedang diamuk birahi, yg mengalahkan semua rasa capek di tubuhku.

“Tapi… kalau kita begini terus… kamu kapan… belajar…”, Cie Stefanny mendesah terputus putus di sela nafasnya yg memburu.

Meskipun Cie Stefanny bertanya seperti , tak ada reaksi penolakan sedikitpun dari Cie Stefanny. Ia hanya pasrah sambil memejamkan matanya ketika saya masih terus memberikan rangsangan pada tubuhnya.

Sebenarnya saya sendiri sangat lelah, ingin rasanya tidur sambil memeluk Cie Stefanny, tapi kata kata tadi membuatku sadar kalau sekarang ini saya masih harus belajar untuk ulangan besok. Maka saya menyandarkan kepalaku di pundak kiri Cie Stefanny, lalu saya memejamkan mataku sambil berusaha menekan gairah birahiku yg membara ini.

“Iya Cie, sebentar ya…”, saya mengguman serta tak bergerak gerak lagi, hanya menikmati empuknya tubuh Cie Stefanny yg berada di bawah tindihan tubuhku.

Cie Stefanny sendiri juga hanya diam saja, tapi sesekali ia membelai punggungku. saya merasa disayang oleh Cie Stefanny, membuatku senang sekali.

Setelah beberapa menit, barulah saya mau melepaskan Cie Stefanny, duduk di sampingnya. Cie Stefanny sendiri juga duduk, kita saling berpandangan dgn mesra sambil tersenyum geli. Kini sambil sesekali tertawa kecil saling menggoda, kita berdua membahas apa yg harus kupelajari untuk ulangan besok.

yg pasti, saya tahu sejak saat ini, les bahasa Inggris ini adalah les yg paling menyenangkan di antara semua les yg harus kuikuti.

-x-

II. Akibat Mencari Jawaban
“Sekarang bagaimana, anak nakal? Kamu ini udah bisa sangat siap untuk ulangan besok. Terus… masa Cie Cie masih harus menginap di sini?”, tanya Cie Stefanny dgn senyum menggoda.

“Ciee… pleasee… temani saya yaa… sehari iniii aja…”, saya merengek manja sambil merangkul Cie Stefanny.

“Iya iya… Tadi Cie Cie juga udah mau kok. Tapi… kamu hari ini benar benar aneh, Eliza…”, guman Cie Stefanny sambil membelai rambutku.

saya menatap Cie Stefanny dgn mesra, lalu perlahan saya menyandarkan kepalaku di toket Cie Stefanny yg masih terlindung bra ini. Rasanya saya tak ingin hari ini segera berakhir, saya masih ingin bermanja manja lebih lama di pelukan Cie Stefanny.

“Ko Melvin nggak marah kan Cie kalau saya sayang sama Cie Cie…”, tanyaku bermaksud menggoda.

“Nggak, Cie Stefanny udah putus sama Melvin”, kata Cie Stefanny membuat saya seperti mendengar petir di siang bolong.

“Apa…”, tanyaku tak percaya.

“Udah nggak usah bicarain hal . Liat nih, gara gara kamu, pakai nelanjangin Cie Cie segala, sekarang perut Cie Cie mulas nih. AC kamarmu dingin sekali sih… aduh…”, keluh Cie Stefanny sambil memegangi perutnya yg rata serta indah .

“Aduh… maaf ya Cie… ya udah Cie Cie ke WC dulu aja”, saya tertawa geli lalu beranjak ke lemari bajuku.

saya mengambilkan satu set baju milikku untuk Cie Stefanny, baju rumah yg santai, lengkap dgn bra beserta celana dalamku. Kuberikan semua juga handuk cadanganku, Cie Stefanny beranjak dari ranjangku ke kamar mandi di kamarku ini.

“Cie…”, kataku tiba tiba, membuat Cie Stefanny menghentikan langkahnya serta menoleh ke arahku, tanpa berkata apapun saya langsung memeluk Cie Stefanny serta memagut bibirnya dgn penuh rasa mesra.

saya senang sekali krn pagutanku kembali berbalas, kita berciuman dgn panas untuk beberapa saat lamanya, sampai akhirnya kita saling melepaskan pagutan ini dgn nafas yg tersengal sengal.

“Udah dong Eliza… Bisa bisa Cie Cie nggak jadi ke kamar mandi nih kalau pacaran sama kamu terus”, kata Cie Stefanny sambil cemberut, sesaat kemudian kita berdua tertawa geli.

“Iya deh Cie… oh iya Cie Cie nggak boleh sungkan sungkan lho… pakai aja shampoo juga sabunku ya… nanti saya kasih bonnya kok”, kataku sambil duduk di ranjangku lalu menatap Cie Stefanny dgn senyum usil.

“Oh gitu ya… awas kamu nanti ya… dasar anak nakal…”, kata Cie Stefanny sambil melirikku dgn ekspresi wajah kesal, setelah kita sama sama tertawa geli Cie Stefanny masuk ke kamar mandi.

saya tersenyum, rasanya senang sekali hari ini Cie Stefanny mau menginap di sini.

Sekarang jam 17:30. Sebentar lagi papa mamaku, juga kokoku akan segera pulang. Setelah berpikir sejenak, saya memutuskan untuk mencari jawaban tentang leceknya sprei ranjangku, sekaligus menanyai kedua pembantuku , apa yg telah mereka perbuat terhadap Cie Stefanny.

Maka saya mengenakan baju rumah yg kuambil dgn asal pilih, lalu saya turun ke bawah menuju ke kamar mereka untuk mencari mereka berdua.

Tanpa mengetuk pintu, kubuka kamar mereka, kutemukan Wawan juga Suwito di dalam sana. Mereka terlihat agak terkejut melihat kedatanganku yg memasang muka kesal.

“Ada apa non”, tanya mereka nyaris berbarengan.

“Kalian… apa yg tadi kalian lakukan ke guru lesku? Nggak cukup ya kalian sehari hari memperkosa saya, sampai guru lesku ini juga kalian perkosa?”, tanyaku dgn kesal.

Entah Cie Stefanny masih virgin atau tidak, tapi kalau sampai keperawanan Cie Stefanny terenggut oleh kedua maniak ini, bukankah saya jadi ikut merasa bersalah?

“Lho non, tadi kita memang main main sebentar dgn guru lesnya non. Tapi kita nggak sampai ngeseks kok”, jawab Wawan dgn muka tak bersalah.

“Lalu kalau nggak ngeseks, kenapa badan Cie Cie bisa ada bekas merah merah? Memangnya main mainnya kalian seperti apa?”, saya setengah membentak, entah mengapa saya tak rela kalau membayangkan Cie Stefanny dipermainkan oleh mereka berdua.

“Non, jangan marah dulu, biar kita jelaskan”, kata Suwito yg beranjak berdiri lalu mendekatiku.

Ketika Wawan melakukan hal yg sama, saya sadar akan terjadi sesuatu terhadap diriku. saya mencoba untuk mundur supaya saya berada di luar kamar ini, tapi Suwito lebih cepat, ia sudah menutup pintu kamar ini.

“Kalian mau apa?”, tanyaku dgn panik.

“Lho non ini gimana? Tadi non nanya, gimana kita main main sama guru lesnya non”, kata Suwito sambil cengegesan.

“Tadi begini ceritanya non… tiap hari kitas jam setengah tiga biasanya non kan sudah selesai les, jadi kita mau menemani non tidur siang. Eh nggak tahunya bukan non yg ada di sana, tapi guru lesnya non yg lagi tidur”, kata Wawan, yg begitu kata katanya selesai langsung mendekapku erat.

“Eh… jangan sekarang Wan…”, saya mencoba meronta, saya tak ingin bermain seks menjelang pulangnya papa serta mamaku, apalagi di atas ada Cie Stefanny.

“Tenang aja non, sekarang non berbaring dulu lah”, kata Wawan sambil menyeretku ke ranjangnya, lalu ia membaringkan tubuhku di atas ranjang.

“Kalian jangan gila, papa mamaku sebentar lagi pulang mmpphh…”, kata kataku terhenti ketika Wawan melumat bibirku.

“Ini awalnya kita main main sama guru lesnya non. Selagi dia tidur, Wawan duduk di sebelah kanannya, terus langsung cium cium seperti ”, kata Suwito yg kulihat juga sedang mendekatiku.

Kata kata Suwito ini membuatku sadar kini mereka sedang memperagakan apa yg tadi mereka lakukan terhadap Cie Stefanny untuk menjelaskan semuanya padaku. Gilanya, saya malah terangsang lalu pasrah menunggu apa yg akan mereka lakukan.

“Guru lesnya non terbangun, meronta sebentar, tapi kedua tangannya saya tangkap seperti ini”, kata Suwito sambil meraih kedua pergelangan tanganku, lalu disatukan di atas kepalaku lalu ia memegang dgn erat sampai saya tak bisa bergerak lagi, hanya kakiku yg masih bebas, namun jelas tak ada artinya krn saya malah mulai menikmati ketidakberdayaanku untuk menggerakkan kedua tanganku ini.

“Nah, terus saya lepasi kancing bajunya”, kata Wawan sambil melepasi kancing bajuku.

Lalu tanpa berkata apa apa lagi, Wawan mulai membelai lalu menciumi toket ku, membuatku mendesah perlahan. Tangan Suwito yg satunya membekap mulutku, sungguhpun adalah hal yg tidak perlu krn saya tak akan menjerit.

Tapi saya tahu Suwito memang ingin ‘merekonstruksi’ apa yg tadi diperbuat olehnya terhadap Cie Stefanny. Demikian juga dgn Wawan. saya sedang dijadikan model peraga mereka berdua untuk menerangkan bagaimana mereka tadi melecehkan Cie Stefanny.

Sungguh kurang ajar perbuatan mereka ini, tapi jujur saja saya benar benar menikmatinya. Kalau tadinya saya kesal krn mereka kurang ajar terhadap Cie Stefanny, kini saya malah semakin bergairah membayangkan Cie Stefanny tadi diperlakukan seperti ini.

Tiba tiba kurasakan sedikit rasa sakit bercampur geli pada bagian toket ku. Ternyata Wawan sedang sibuk mencupangi kedua toket ku. saya jadi semakin terangsang lalu menggeliat perlahan, kedua kakiku kutekuk sedikit hingga telapak kakiku sepenuhnya menempel pada ranjang ini, lalu kutekankan ke bawah untuk menahan rasa nikmat yg menjalari tubuhku.

“Jangan berteriak ya non”, kata Suwito kepadaku, sambil melepaskan pegangannya pada kedua telapak tanganku, kepalaku ditekan, menuntun saya melakukan gerakan mengangguk.

“Nah, setelah guru lesnya non mengangguk, saya lepasin”, kata Suwito sambil melepas bekapannya pada mulutku.

saya langsung mendesah krn Wawan menyupangi kedua toket ku, ia mulai menyusu bergantian pada kedua puting toket ku dgn rakus. Sementara Suwito melepas celananya, mengeluarkan senjatanya serta menyodorkan ke arah mulutku.

“Diisep non”, perintah Suwito.

Tangan si Suwito bergerak meraih kepalaku, menekan kepalaku ke arah selangkangannya. Kini saya mengoral kontol nya Suwito, sementara Wawan menyibak rok yg kukenakan, lalu ia sudah sibuk menyupang kedua pangkal pahaku, bergantian.

saya mulai gemetar menahan nikmatnya rasa geli yg bercampur sedikit sakit ini.

Sementara Suwito sendiri dgn bersemangat memompa mulutku sambil tangannya meraih toket ku yg sebelah kiri, ia meremas dgn seenaknya, kadang lembut, kadang kasar lalu menyakitiku.

“Mmph..”, saya merintih ketika remasan pada toket ku begitu kuat serta menyakitkan.

Kedua pangkal pahaku sudah basah oleh air ludah Wawan, pasti sudah ada bekas cupangan di sana sini. Kini saya sudah tahu bagaimana bisa ada bekas cupangan di kedua toket serta paha Cie Stefanny.

Tiba tiba kurasakan jilatan pada selangkanganku yg masih terbungkus celana dalam ini. saya menggeliat lemah, tak ada yg bisa kulakukan selain terus memberikan servis oral pada Suwito, yg entah kenapa cepat sekali hari ini dia sudah mencapai puncak.

“Ooh… non Elizaa… sepongan non memang nomer satuu…”, Suwito meracau serta melolong, tubuhnya menggigil tanda kontol nya sudah akan berejakulasi.

kontol berkedut serta menyemprotkan cairan sperma ke dalam mulutku, hanya sedikit. saya cepat menelan semuanya, sudah bosan hari ini saya merasakan genangan cairan sperma dalam mulutku. Setelah saya melaksanakan ‘kewajibanku’ untuk mengulum kontol sampai bersih, Suwito terduduk lemas di bawah sana, sementara Wawan masih sibuk menjilati celana dalamku hingga makin basah saja.

“Ya, kita baru sebentar menemani guru lesnya non, tiba tiba kita dengar suara mesin mobilnya non, jadi kita keluar dari kamar non serta lewat belakang, supaya tidak ketahuan non”, kata Suwito sambil cengengesan sambil menyulut sebatang rokok serta mulai menghisapnya.

“Ohh… sudah, hentikan… katanya kalian udah keluar… harusnya sekarang kan sudah selesai…”, saya merintih ketika Wawan masih saja meneruskan cumbuannya pada liang memek ku.

saya tak heran melihat Wawan tak perduli. Ia malah mengait bagian bawah celana dalamku, pastinya dgn jarinya, lalu setelah menarik bagian bawah celana dalamku hingga liang memek ku terpampang di hadapannya, dgn rakus ia mencucup liang memek ku, membuatku menggelepar keenakan.

Walaupun saya minta Wawan menghentikan perbuatannya, saya sendiri sama sekali tak berusaha untuk melepaskan diri, meskipun saya bebas bergerak. saya malah pasrah dijadikan barang mainan oleh kedua pembantuku ini.

Suwito sudah asyik mencucup puting toket ku yg kiri setelah menaikkan braku sedikit, membuatku semakin tak berdaya serta memilih menikmati semua ini, walaupun saya sadar di atas ada Cie Stefanny yg mungkin akan bertanya tanya kalau saya tidak segera kembali ke sana.

Deru khas mesin mobil papaku di depan rumah menyelamatkanku dari pergumulan lebih lanjut dgn kedua pembantuku ini. Wawan serta Suwito segera melepaskanku, lalu mereka keluar untuk membuka pintu gerbang, tentunya setelah mereka mengenakan baju seperlunya. saya sendiri dgn panik segera keluar dari kamar ini sambil membetulkan letak braku yg sudah tak karuan, saya terus berlari menaiki tangga belakang menuju ke kamarku sambil mengancingkan bajuku.

-x-

III. Makan Malam
Jantungku masih berdegup kencang. saya masuk ke dalam kamarku serta mengunci pintu. Ternyata Cie Stefanny masih berada di kamar mandi. saya duduk di ranjangku sambil mati matian berusaha menekan gairahku yg masih amat tinggi setelah tadi saya dipermainkan kedua pembantuku di kamar mereka tadi.

saya sudah tahu penyebab leceknya sprei ranjangku ini. Ternyata benar seperti dugaanku, Cie Stefanny tadi sempat menjadi korban dua pembantuku yg sudah keranjingan menikmati tubuh gadis Chinese.

saya tahu Papa mamaku sudah pulang, kokoku juga harusnya sudah pulang, krn sebentar lagi kita aka makan malam. Maka saya terus berusaha untuk tak memikirkan semua hal yg bisa membangkitkan gairahku terhadap Cie Stefanny. Lebih baik saya bertemu dgn semua keluargaku dalam keadaan yg wajar, bukan dalam keadaan bergairah seperti ini.

‘Klik’, pintu kamar mandiku terbuka, Cie Stefanny keluar dgn rambut terurai, sedikit basah.

Sungguh Cie Stefanny terlihat begitu cantik sexy di mataku. saya memandangnya dgn tatapan mesra serta kagum, sementara Cie Stefanny sendiri setelah bertatapan denganku, menunduk serta tesipu malu.

Oh, ingin sekali saya memeluk Cie Stefanny, mencumbuinya lagi, tapi saya mati matian menahan diri krn saya tahu masih banyak waktu untuk nanti malam. sekarang ini lebih baik kalau saya tidak terus terusan membakar tubuhku dgn gairahku sendiri, supaya nanti saya punya cukup tenaga untuk bercinta dgn Cie Stefanny.

“Cie, nanti makan sama sama ya Cie, tapi seadanya aja… nggak apa apa ya?”, saya bertanya sambil duduk di atas ranjangku, sekalian mengistirahatkan tubuhku sejenak.

“Duh Eliza… makanya kamu ini, sekarang Cie Cie jadi nggak enak…”, keluh Cie Stefanny dgn bingung.

“Yee, kenapa pakai nggak enak sih? Nggak apa apa lah Cie…”, jawabku sambil berpikir.

saya baru sadar, berarti nanti Cie Stefanny akan bertemu kokoku.

Sebenarnya mereka ini sempat berpapasan ketika Cie Stefanny akan pulang setelah les selesai, tepat ketika kokoku memasukkan mobil ke dalam garasi. Waktu , Cie Stefanny tidak melihat kokoku, tapi kokoku melihat Cie Stefanny dari dalam mobilnya. setelah Cie Stefanny pergi, kokoku waktu bilang kepadaku kalau Cie Stefanny cantik sekali.

Sekarang ini Cie Stefanny udah putus dari pacarnya yg bernama Melvin . Jadi saya nggak merasa bersalah kalau saya ngenalin Cie Stefanny dgn kokoku. kalau kita makan di rumah, mereka berdua akan bertemu muka untuk pertama kalinya. Lalu nanti saya akan mengatur mereka duduk bersebelahan.

Oh, senangnya kalau kelak ternyata mereka berdua bisa menjadi pasangan, berarti Cie Stefanny akan menjadi Cie Cie iparku.

“Iih… anak nakal, kenapa kamu senyum senyum?”, tanya Cie Stefanny sambil mendekatiku serta dari gerak gerik tubuhnya saya tahu Cie Stefanny akan melakukan sesuatu terhadapku.

Rupanya tadi tanpa sadar saya tersenyum membayangkan semua .

“Rahasia!”, kataku sambil tersenyum geli serta meleletkan lidah.

“Auuw… ampun Cieee”, saya mengeluh kesakitan ketika Cie Stefanny mencubit lenganku.

“Nggak ada ampun, kamu hari ini nakal sekali”, kata Cie Stefanny sambil tertawa, mencubit lenganku yg satunya dgn gemas.

“Aduuh…”, saya mencoba menghindar dgn menjatuhkan badanku ke ranjang, tapi tak kusangka Cie Stefanny malah menyergapku, sekarang ini ia menindihku. Untuk beberapa saat lamanya, kita saling bertatapan, tanpa ampun lagi gairahku langsung naik cepat.

“Eliza…”, Cie Stefanny berbisik mesra padaku, terlihat sekali Cie Stefanny sendiri sedang diamuk gairah.

Bisa ditebak, selanjutnya kita sudah berciuman dgn panas. saya memeluk Cie Stefanny erat erat serta kita saling memagut bibir seperti layaknya sepasang kekasih. Kupejamkan mataku menikmati semua ini, bibirku kubuka perlahan menerima air ludah Cie Stefanny.

Kutelan semuanya dgn cepat, lalu saya menyusupkan lidahku ke dalam mulut Cie Stefanny. Tubuhku bergetar ketika lidahku terjepit oleh bibir Cie Stefanny. saya semakin melayang ketika kurasakan lidahku disedot masuk ke dalam mulut Cie Stefanny, tak ada yg bisa kulakukan selain merintih mesra.

Pelukanku melemah seiring semakin sulitnya saya bernafas. Cie Stefanny sendiri juga tersengal sengal, kita saling melepaskan diri. Tapi Cie Stefanny dgn nafasnya memburu, mulai melepasi kancing bajuku. dgn penuh gairah saya sendiri juga melakukan hal yg sama, saya sudah tak sabar untuk bercinta dgn Cie Stefanny.

‘tok tok tok…’, suara pintu kamarku yg diketuk membuat kita berdua berhenti.

“Eliza, ayo turun, waktunya makan malam…”, saya mendengar suara mamaku.

“Iya maa…”, saya cepat menjawab.

Batal saling menelanjangi, Cie Stefanny serta saya dgn panik langsung berusaha mengancingkan semua kancing baju kita masing masing, juga merapikan rambut kita yg sedikit awut awutan ini.

“Sudah ditungguin semua lho… Mama tunggu di bawah ya, Eliza…”, kata mama lagi.

“Iya ma, Eliza turun bentar lagi…”, saya menjawab lagi.

Akhirnya kita berdua selesai merapikan baju serta rambut kita yg sedikit awut awutan ini. saya serta Cie Stefanny saling pandang serta tertawa geli, melihat tubuh kita yg bisa bisanya berkeringat di kamar dgn AC sedingin ini.

Kini kita berdua keluar kamar. saya menggandeng tangan Cie Stefanny serta kita berdua berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan.

“Eh… ada temanmu toh… Kamu kok nggak bilang sih Eliza?”, tegur mamaku.

“Ma, ini kan Cie Stefanny, guru les bahasa Inggrisnya Eliza. Sorry ya ma, ini tadi Eliza lupa waktu, masih sibuk belajar untuk ulangan besok, terus Eliza masih ada yg belum bisa. Jadi Cie Stefanny mau menginap di sini, untuk ngajarin Eliza sampai nanti agak malam”, saya menjawab sekaligus memberikan alasan mengajak Cie Stefanny menginap di sini, tentunya di kamarku.

Alasan yg benar benar spontan terpikir begitu saja. Meskipun saya sudah selesai belajar, tapi lebih baik kalau mereka berpikir Cie Stefanny menginap di sini krn mau mengajariku untuk ulangan besok.

dgn begitu saya tak usah berpikir keras mencari alasan mengapa saya mengajak guru lesku menginap, lebih lagi, mereka tak akan menggangguku malam ini, semalam bersama Cie Stefanny yg cantik.

“Suk… Ai… Ko…”, Cie Stefanny menyapa semua keluargaku.

“Oh iya, Stefanny ya, Ai kira teman Eliza… Aduh… kamu sekarang jadi makin ayu ya… Ai sampai pangling lho… Ini si Eliza kok jadi ngerepotin, makasih ya Stefanny”, kata mamaku yg tersenyum hangat pada Cie Stefanny.

“Oh… nggak… nggak apa apa kok Ai, Stefanny suka kok mm… ngajarin Eliza”, kata Cie Stefanny tergagap serta tersipu malu.

“Ayo Stefanny, duduk serta makan bersama”, ajak papaku.

“Iya, makasih Suk”, jawab Cie Stefanny dgn kikuk.

saya segera memperhatikan kokoku. Ternyata kokoku tak berani melihat ke arah Cie Stefanny, ia malah menunduk, mukanya memerah. Diam diam saya tersenyum geli melihat hal ini serta sifat usilku segera kambuh. saya menggandeng Cie Stefanny yg hanya menurut saja ke kursi di sebelahnya kokoku.

“Ko, disapa sama Cie Cie kok nggak jawab sih? Nggak sopan ah”, saya pura pura menegur dgn kesal sambil membuka kursi supaya di acara makan malam ini Cie Stefanny duduk di sebelah kokoku.

“Eh… … iya… saya Hengki”, kokoku dgn panik menjawab serta makin salah tingkah.

Setelah menatap sekilas ke arah Cie Stefanny, lalu ke arahku, kokoku segera menunduk lagi sambil tersenyum malu, jelas sekali kalau kokoku jadi salah tingkah.

“saya Stefanny”, kata Cie Stefanny dgn suara pelan. Cie Stefanny menggigit bibirnya sejenak, lalu ia juga menunduk serta tersenyum malu.

“Kok nggak ngajak salaman sih ko? Masa kenalan kok seperti orang ketakutan gitu… Cie Stefanny ini baik kok, nggak nggigit. Eliza jamin deh ko”, saya semakin usil menggoda mereka berdua.

“Oh iya…”, kata kokoku dgn suara yg terdengar jelas gemetar, tapi kokoku berdiri mengulurkan tangannya mengajak Cie Stefanny bersalaman.

saya sekuat tenaga berusaha menahan tawa melihat keduanya bersalaman dgn begitu canggung serta malu malu. Apalagi sekilas saya melihat papa mamaku tersenyum senyum. Selesai mereka bersalaman, saya tak menduga tiba tiba Cie Stefanny dgn diam diam mencubit pinggangku.

“Auuw…”, saya mengeluh kaget serta tertawa kegelian.

“Kenapa Eliza?” tanya mamaku heran.

“Enggak apa apa ma, tadi kaki Eliza ada yg nginjak… nggak sengaja sih”, saya malah makin usil menggoda Cie Stefanny, yg kini sama sekali tak bisa berbuat apa apa untuk membalasku.

“Duduk sini ya Cie”, kataku sambil ‘membimbing’ Cie Stefanny untuk duduk di sebelah kokoku.

Sempat saya melihat Cie Stefanny menatapku dgn pandangan protes, tapi saya tak perduli serta cepat cepat meninggalkan mereka serta duduk di sebelah mamaku, tentunya dgn perasaan menang di dalam hati melihat Cie Stefanny yg diam diam menatapku dgn gemas.

“Kalau gitu kebetulan. Tadinya papa serta mama bermaksud meninggalkan kokomu di rumah untuk menemani kamu di rumah, sayang. Tapi kalau ada Stefanny yg menemani kamu, nanti setelah makan kokomu bisa ikut papa serta mama menginap di hotel ***** malam ini, untuk menemani tamu papa dari luar kota”, kata papaku.

“Oh ya, nggak apa apa kok Pa”, kataku berusaha untuk bersikap tenang.

Padahal saat ini saya amat senang serta jantungku berdegup kencang, membayangkan nanti malam saya bisa bercinta dgn Cie Stefanny sepuas hati serta tak perlu menahan segala rintihan ataupun lenguhan saat saya tenggelam dalam kenikmatan bersama Cie Stefanny.

Maka acara makan malam ini dimulai, disemarakkan perkenalan kokoku serta Cie Stefanny yg masih sama sama kuliah ini. Walaupun tak terlihat banyak mengobrol, saya tahu sekarang ini kokoku pasti senang sekali bisa berkenalan dgn Cie Stefanny. Papa mamaku juga terlihat suka mengobrol dgn Cie Stefanny.

saya makan dgn tenang, tidak terlalu berusaha menggoda Cie Stefanny serta kokoku, supaya mereka tak semakin canggung selama di meja makan ini. Tanpa sadar saya sendiri mulai melamunkan keadaanku. Kapan, saya bisa seperti ini sama Andi?

-x-

IV. Menggoda Cie Stefanny
“Kok melamun, Eliza? Lagi mikirin apa sayang?”, saya tiba tiba dikagetkan mamaku yg memelukku dari belakang dgn lembut.

“Eh… mama… enggak…”, kataku sambil tersenyum malu serta memeluk tangan mamaku.

“Ya udah, ayo… sudah selesai belum makannya? Tinggal kamu yg masih di meja makan.”, kata mamaku, membuatku sadar.

“Ma, Cie Stefanny mana?”, tanyaku sambil mengalihkan pandanganku ke seputar ruang tamu serta ruangan utama, kemudian saya sudah menemukan jawabannya.

Cie Stefanny, sedang bersama kokoku di sofa ruang utama. Benar benar pemandangan yg jarang, krn kokoku lebih sering bersama teman teman cowoknya, atau kalau tidak ya sibuk dgn komputernya di kamarnya sendiri.

Baru kali ini saya melihat kokoku antusias mengobrol dgn cewek, mereka berdua entah sedang terlibat obrolan apa, yg pasti mereka terlihat akrab serta penuh canda tawa. Lagi lagi saya tersenyum senang melihat semua.

“Stefanny orangnya baik ya, Eliza…”, kata mamaku sambil melepaskan pelukannya dariku.

“Iya ma, Cie Stefanny orangnya baik, sabar, pintar lagi Ma. Pokoknya Cie Stefanny guru lesnya Eliza yg paling baik… auww…”, saya mengaduh krn kedua pipiku dicubit mamaku.

“Sudah sudah, nggak usah promosi. Mama juga tau kok… kamu sudah berapa kali bilang kalau kamu senang sekali mendapat guru les seperti Stefanny”, kata mamaku sambil melihat ke arah kokoku serta Cie Stefanny yg lagi tertawa di ruang utama.

“Ih mama, gitu juga masa Eliza dicubit… sakit nih”, saya merajuk manja, walaupun diam diam saya makin senang krn melihat cara mamaku menatap Cie Stefanny, saya merasa mamaku pasti suka kalau Cie Stefanny bisa jadian sama kokoku.

“Kamu ini sudah besar, masih saja manja seperti anak kecil. Sudah ayo piring kotornya diangkat”, kata mamaku sambil tertawa.

“Iya ma”, saya segera berdiri, mengangkat piringku serta membawa ke dapur.

saya melihat jam, ternyata sudah jam 7:30 malam. saya sebenarnya tak ingin segera merebut Cie Stefanny dari kokoku, tapi saya harus memperlihatkan kalau saya masih harus ‘belajar’ seperti kataku tadi, supaya mama papaku tidak curiga.

Selain , mungkin hal ini malahan bisa membuat kokoku berusaha mencari Cie Stefanny, semoga…

“Ehm…”, saya sengaja berdehem ketika saya sudah ada di ruang utama.

Mereka berdua langsung melihat ke arahku, lalu keduanya tertunduk malu. Sifat usilku kembali kambuh, saya jadi semakin ingin menggoda mereka.

“Koko ini, tadi aja… disapa Cie Stefanny nggak jawab… Sekarang saya mau belajar sama Cie Stefanny, eh Cie Cie malah diculik ke sini. Gimana sih?”, kataku lagi dgn pura pura sedikit kesal.

“Ini… anu…”, kokoku tergagap panik.

Sedangkan Cie Stefanny sempat melotot padaku sekilas, tapi kemudian ia hanya bisa menunduk serta menggigit bibirnya sambil tersenyum malu sekali.

“Ya udah, sekarang waktunya Cie Stefanny nemani saya ya, kalau kalian belum selesai, sekarang tukeran nomer handphone dulu deh, jadi besok kan bisa dilanjutin”, kataku lagi, sekali ini dgn menahan tawa.

“Oh iya, kalau gitu boleh ya saya simpan nomer handphonemu ya Stefanny”, kata kokoku sambil mengeluarkan handphonenya. Yee… harusnya kokoku ini berterima kasih lho sama adiknya ini :p

“Iya boleh”, kata Cie Stefanny dgn suara yg pelan.

saya mati matian menahan geli selagi mereka yg dgn sikap malu malu bertukar nomer handphone mereka. Ketika mereka saling missed call serta menyimpan nomer dalam handphone masing masing, saya melihat papa serta mamaku menghampiri kita semua di ruang utama ini. Maka saya mendekati Cie Stefanny serta merangkul tangan kanannya.

“Ayo Cie, sekarang sama Eliza dulu, besok besok aja baru sama koko, lagian koko kan udah mau pergi”, kataku sambil meleletkan lidah ke kokoku.

“Sudah ya, tukar tukaran nomer hanpdhonenya?”, mamaku malah ikut menggoda mereka berdua

Entah bagaimana keadaan Cie Stefanny, tapi saya tak bisa lagi menahan geli hingga saya tertawa sambil menutup mulutku melihat kokoku yg tidak bisa berbuat apa apa selain salah tingkah dgn wajah yg merah seperti kepiting rebus,

“Kalau sudah, ayo kita pergi. Stefanny, kita berangkat dulu, titip Eliza ya. Eliza, jangan bikin repot Stefanny ya”, kata papaku berpamitan.

“Oh… iya Suk, Ai”, kata Cie Stefanny yg terus menunduk malu.

“Lho lho? Koko kok nggak pamitan sama Cie Stefanny sih?”, saya memprotes dgn pura pura kesal.

“Oh… … Stefanny, saya pergi dulu ya”, kata kokoku dgn suara yg pelan.

“Iya…”, kata Cie Stefanny dgn suara yg tak kalah pelannya.

Mereka semua keluar menuju ke garasi, saya dgn senang menarik Cie Stefanny pergi menuju kamarku.

-x-

V. Bercinta dgn Cie Stefanny
“Eliza… kamu ini nakal sekali ya…”, Cie Stefanny berbisik dgn suara pelan sekali saat kita menaiki tangga, tapi saya bisa merasakan kalau Cie Stefanny mengatakan hal dgn gemas sekali.

saya hanya tertawa geli serta terus menuju kamarku. Setelah kita masuk serta saya mengunci kamar, tiba tiba saja Cie Stefanny memelukku dari belakang serta menyusupkan kedua tangannya, mencari serta meremas kedua toket ku dgn lembut.

“Ouw… Cie…”, saya mengeluh, terangsang.

“Anak nakal… sekarang kamu Cie Cie hukum”, desah Cie Stefanny di sela nafasnya yg memburu.

“Ampun Ciee…”, saya menggeliat terbakar gairah ketika Cie Stefanny yg tak melepaskan remasannya pada kedua toket ku, menarik tubuhku sampai ke tepi ranjang.

“Enak aja kamu minta ampun… udah bikin Cie Cie malu tadi…”, kata Cie Stefanny gemas serta memperkuat remasannya pada kedua toket ku.

“Aduuh… mmmh… malu kenapa Cie…”, saya merintih tapi masih juga nekat menggoda Cie Stefanny.

“Kamu iniii… masih pakai nanya lagi… awas ya…”, Cie Stefanny menarikku sampai kita berdua jatuh terduduk di atas ranjangku serta kini tubuhku ada di pangkuan Cie Stefanny.

saya sama sekali tak berniat kabur, kubiarkan Cie Stefanny memelukku serta meremasi kedua toket ku.

Malah tubuhku kusandarkan pada Cie Stefanny, kupegang kedua punggung telapak tangan Cie Stefanny yg masih meremasi kedua toket ku dgn lembut. Dada Cie Stefanny yg menempel di punggungku membuatku bisa merasakan degup jantung Cie Stefanny yg begitu cepat. saya sendiri juga dalam keadaan yg sama, bedanya saya lebih bisa menguasai diriku, setelah beberapa kali saya harus pasrah ‘diperkosa’ Sherly serta Jenny. Mungkin gara gara perbuatan mereka berdua , hingga membuatku menjadi suka dgn sesama wanita seperti ini.

Sudah sejak tadi sebelum les, saya menahan gairahku untuk bermesraan serta bercinta dgn Cie Stefanny. Sedangkan Cie Stefanny sendiri tampaknya masih canggung serta malu malu, sama seperti diriku waktu pertama kali digoda Sherly, lalu Jenny. saya bisa merasakan tangan Cie Stefanny agak gemetar waktu meremasi kedua toket ku ini.

Maka saya memutuskan untuk ‘memaksa’ Cie Stefanny bermesraan denganku.

Kutarik lepas kedua tangan Cie Stefanny dari toket ku, lalu saya membalik badan serta menarik lepas baju rumahan yg kukenakan, tentu saja kemudian saya juga menarik lepas baju yg dikenakan Cie Stefanny. Mudah saja saya melakukannya, krn baju rumahanku memang longgar untuk ukuran tubuhku, sedangkan ukuran tubuh Cie Stefanny sama sekali tak beda dgn ukuran tubuhku.

Selain memang tak ada perlawanan dari Cie Stefanny yg sudah pasrah. Muka Cie Stefanny semakin merah ketika saya merangkulkan tanganku ke belakang punggung Cie Stefanny, melucuti bra yg dikenakannya.

“Cie Cie takut ya”, saya berbisik mesra pada guru lesku ini sambil membuang bra ke samping ranjang.

“Mmm… nggak tau…”, Cie Stefanny hanya menggeleng lemah dgn ragu.

Perlahan saya meraih celana dalam Cie Stefanny dgn kedua tanganku. Setelah jari jari tanganku mengait bagian celana dalam di kedua pinggangnya, kutarik lepas ke bawah dgn perlahan. saya tahu ini akan membuat Cie Stefanny sangat terangsang, ditelanjangi secara perlahan seperti ini.

“Eliza…”, desah Cie Stefanny.

“Iya Cie…”, saya pura pura perhatian serta bertanya, tapi saya terus melorotkan celana dalam Cie Stefanny sampai akhirnya lepas dari kedua kakinya yg indah ini.

“Cie Cie ini mau kamu apain…”, tanya Cie Stefanny dgn suara bergetar sambil memejamkan matanya.

“Eliza mau liat Cie Cie nggak pakai baju. Boleh kan Cie?” tanyaku dgn manja.

Cie Stefanny hanya diam serta menggigit bibirnya.

“Tapi kalau Cie Cie masih virgin, Eliza pasangkan lagi celana dalam ini, Cie”, kataku sekalian memastikan apakah Cie Stefanny masih virgin atau tidak.

“Nggak… Cie Cie udah nggak…”, Cie Stefanny menggeleng lemah, matanya tetap terpejam.

saya membuang celana dalam ke samping ranjang, lalu saya merangkak, lututku sengaja kutempelkan di depan selangkangan Cie Stefanny yg sudah terbaring pasrah di atas ranjangku. Tanpa menindih tubuh Cie Stefanny, perlahan saya membelai wajah guru lesku yg cantik ini dgn kedua tanganku.

Kurasakan tubuh Cie Stefanny menegang sesaat, tapi kembali melemas.

dgn nafas yg mulai memburu, saya melanjutkan belaianku ke bawah, menyusuri leher Cie Stefanny yg mulus serta jenjang ini perlahan, menggunakan semua ujung jari tanganku. Cie Stefanny hanya mendesah serta matanya tetap terpejam pasrah.

Kini saya membelai pundak Cie Stefanny, kemudian lengan bagian luar serta terus ke bawah. saya menikmati pemandangan di depanku, ekspresi wajah Cie Stefanny yg seperti menahan sakit, dgn bibirnya yg terkatup erat sejak tadi terbuka sedikit. saya menemukan telapak tangan Cie Stefanny, setelah kugenggam lembut, kita saling meremas jemari tangan kita.

saya merentangkan tangan Cie Stefanny, lalu menekuk tangannya ke atas. Kulepaskan genggamanku, lalu saya menyusuri kulit lengan perlahan, kembali ke bagian dada Cie Stefanny.

“Ohh…”, Cie Stefanny merintih pelan.

“Kenapa Cie…”, tanyaku dgn mesra.

“Kamu nakal… sayang…”, desah Cie Stefanny.

saya hanya tersenyum tanpa menjawab, jari tanganku terus kugerakkan melingkari toket Cie Stefanny. Kini tubuh Cie Stefanny mulai menggeliat pelan. saya tahu Cie Stefanny menginginkan sentuhan ataupun rangsangan pada kedua puting toket nya, tapi saya sengaja menurunkan belaianku ke bawah tanpa menyentuh puting toket Cie Stefanny.

“Mmmh…”, Cie Stefanny merintih serta menatapku seperti kecewa and memohon, membuatku harus sekuat tenaga menahan gairahku untuk tidak langsung mencumbui Cie Stefanny.

Sekarang ini saya ingin menggoda Cie Stefanny sampai terangsang dahulu, supaya nanti ketika kita bercinta, Cie Stefanny tak lagi canggung ataupun malu malu. saya yakin ini pengalaman pertama Cie Stefanny bercinta dgn sesama wanita, saya ingat keadaanku dulu. Butuh waktu yg cukup lama sebelum saya bisa membalas kemesraan Sherly serta Jenny.

saya ingin Cie Stefanny terbiasa dgn hal ini, supaya nanti saya bisa bercinta sepuas puasnya dgn guru lesku yg cantik ini.

Kini perut Cie Stefanny yg rata ini kubelai dgn lembut, sementara pemiliknya hanya bisa menggeliat lemah. ketika belaianku sampai ke pangkal paha Cie Stefanny, saya sedikit menggerakkan lututku ke depan sesaat, menekan memek Cie Stefanny hingga guru lesku ini langsung merintih serta mendesah, tubuhnya mengejang lemah.

Kemudian saya merangkak mundur, krn saya akan melanjutkan membelai kedua kaki Cie Stefanny. Tapi tentu saja saya tak lupa menggoda Cie Stefanny dulu. Tanpa sekalipun menyentuh liang memek milik Cie Stefanny, saya menggerakkan jemariku melingkari sekitar bibir liang memek , sesekali kutekan dgn lembut.

“Oooh…”, Cie Stefanny mengerang pelan.

Ternyata memang sudah lebih dari cukup, Cie Stefanny mulai menggerakkan pinggulnya ke kanan serta ke kiri perlahan, dgn kepalanya yg sedikit terangkat Cie Stefanny menatapku dgn pandangannya yg memelas, seperti memohon padaku untuk memberikan sentuhan jariku pada bibir liang memek nya.

saya tak berniat mengabulkan permohonan Cie Stefanny secepat . saya ingin menggodanya sampai gairahnya benar benar memuncak serta membangkitkan sisi liar Cie Stefanny. Kini saya mulai membelai kedua paha Cie Stefanny perlahan sementara Cie Stefanny mulai menggigil terangsang.

saya tak perduli serta belaian jemariku sudah sampai di ujung jari kaki Cie Stefanny. dgn lembut saya menyentuh tiap bagian di antara jari kaki Cie Stefanny, membuat guru lesku ini semakin menggeliat.

“Eliza… kamu…”, keluh Cie Stefanny, pastinya antara geli serta terangsang.

saya menatap Cie Stefanny mesra tanpa menjawab, Cie Stefanny yg dadanya sudah naik turun krn nafasnya yg mulai tak beraturan hanya memalingkan wajahnya yg merona merah, pasrah membiarkan saya mempermainkan gairahnya sesuka hatiku.

saya merasa Cie Stefanny masih terlalu malu untuk mengekspresikan gairahnya. Tapi saya tak menyerah, saya kembali melanjutkan belaian jemariku ke atas, sekali ini saya mulai menggunakan telapak tanganku.

Kedua betis Cie Stefanny yg pertama menjadi sasaranku, kubelai dgn lembut serta akhirnya belaian tanganku sampai ke bagian ke belakang lutut Cie Stefanny.

“Sshh…”, Cie Stefanny mendesah pelan.

saya merasakan kedua kaki Cie Stefanny sudah mulai mengejang perlahan, saya melanjutkan ke bagian paha, terus ke atas. saya sempat membelai bibir memek Cie Stefanny dgn gerakan seperti tidak sengaja.

“Eliza…”, desah Cie Stefanny sambil menatapku.

“Iya Cie…”, saya menjawab pelan dgn suara yg sedikit bergetar.

saya sendiri sebenarnya juga sedang diamuk gairaku sendiri. Tapi kelihatannya Cie Stefanny sudah tak tahan lagi, tiba tiba ia meraih tubuhku serta memeluk erat. Belum lagi saya bereaksi, bibirku sudah dipagut dgn ganas oleh Cie Stefanny.

“Mmmh…”, saya merintih mesra serta membalas ciuman ini dgn sepenuh hati.

Kudorong Cie Stefanny sampai kembali terbaring di ranjangku. Kini saya menindih Cie Stefanny, dgn kedua toket kita saling menggesek serta sesekali puting toket kita saling bersentuhan.

Akibatnya gairah kita makin menjadi jadi. Cie Stefanny menjepit paha kiriku di antara kedua pahanya, saya sendiri balas menjepitkan paha kananku hingga kita seperti sedang bergulat. Perlahan kurasakan liang memek Cie Stefanny yg sudah mulai membasah bergesekan dgn pahaku.

Kini saatnya saya menggoda liang memek Cie Stefanny. Selagi kita masih asyik berpagut, kuturunkan tangan kiriku mencari bibir memek Cie Stefanny. Begitu jari telunjukku menemukan bibir memek Cie Stefanny, segera kucelupkan perlahan.

“Angghk…”, Cie Stefanny melenguh kaget serta menggeliat.

Pelukan Cie Stefanny terlepas. saya mulai menggunakan tangan kananku untuk membelai serta meremas kedua toket Cie Stefanny bergantian. yg pasti jari telunjuk kiriku terus kudorong masuk sampai terbenam seluruhnya di dalam liang memek Cie Stefanny.

Hangat… licin… serta yg terutama denyutan denyutan dalam liang memek Cie Stefanny benar benar membuatku makin bergairah serta tanpa bisa kutahan lagi, tanganku yg masih menempel di atas toket Cie Stefanny kuremaskan dgn kuat pada toket Cie Stefanny hingga guru lesku ini kembali menggeliat.

“Aduuh… Eliza… sakit…”, keluh Cie Stefanny, saya sudah bisa merasakan nada manja dari suara Cie Stefanny.

“Mana yg sakit Cie…”, tanyaku dgn nada menggoda.

Cie Stefanny menatapku dgn gemas, tiba tiba kedua tangan Cie Stefanny bergerak, sekarang kedua toket ku balik diremas oleh Cie Stefanny.

“Oooh… Cieee…”, saya mengeluh terangsang.

Tak hanya remasan yg kurasakan, kini kedua putingku rasanya seperti terjepit. saya melihat sejenak, ternyata kedua puting toket ku dijepit jari telunjuk serta jari tengah kedua tangan Cie Stefanny, sementara tiga jari lainnya memberikan tekanan pada masing masing bukit toket ku, seperti sedang meremas saja.

serta untuk makin menyiksaku, kedua jari tangan Cie Stefanny tak hanya menjepit puting toket ku, tapi mulai memilin milin hingga saya mulai merintih serta terangsang hebat. saya sudah tak tahan lagi, saya kembali menatap Cie Stefanny, kali ini ganti saya yg memelas.

“Cie… cium Eliza dong”, saya merintih serta memohon, tangan kananku terkulai lemas ke bawah krn tenagaku sekarang ini entah lenyap ke mana.

“Iya sayang…”, desah Cie Stefanny, yg kemudian lebih menekuk siku tangannya hingga tubuh kita kembali menyatu.

kita kembali saling berpagut mesra, tanpa lupa untuk terus saling merangsang. Cie Stefanny masih terus mempermainkan kedua toket ku juga putingnya, sementara saya kembali meliuk liukkan jari telunjuk tangan kiriku dalam liang memek Cie Stefanny.

“Ooh… sayang… kamu nakal…”, Cie Stefanny merintih ketika saya mempercepat gerakkan jari telunjuk tangan kiriku serta terus mengaduk liang memek Cie Stefanny.

“Cie Cie juga…”, saya sendiri juga merintih mesra serta melingkarkan tangan kananku di belakang bahu Cie Stefanny.

“Ngghh…”, Cie Stefanny melenguh ketika saya menusukkan jariku sambil mengait dinding liang memek nya.

Kini Cie Stefanny sudah mulai tak mampu menguasai dirinya. Tubuhnya tertekuk ke belakang sesaat serta roboh terbaring ke ranjang ketika saya terus menggoda liang memek nya. Kedua kakinya tertekuk sedikit, sesekali mengejang. Cairan cinta Cie Stefanny mulai membasahi liang memek nya. saya tahu sekarang ini Cie Stefanny tidak akan merasa begitu sakit kalau saya mengikutkan jari tengahku untuk mengaduk aduk liang memek nya.

“Kamu… kamu mau apa Eliza…”, rintih Cie Stefanny ketika ujung jari tengahku mulai menguak membuka jalan ke liang memek nya yg sudah menampung jari telunjukku.

“Nggak apa apa Cie… ini nggak sakit kok…”, saya mendesah dalam keadaan terbakar gairah serta memang sekarang ini jalan masuk ke dalam liang memek Cie Stefanny sudah begitu licin, dgn mudah saya mencelupkan jari tengahku bersama jari telunjukku ke dalam liang memek guru lesku ini.

“Angghk…”, Cie Stefanny kembali melenguh.

saya mendiamkan kedua jariku sejenak supaya Cie Stefanny bisa beradaptasi. Sementara saya beranjak serta berbaring miring di samping Cie Stefanny, tentu saja dgn kedua jariku yg masih tercelup mengait liang memek Cie Stefanny.

“Sakit ya Cie…”, saya berbisik menggoda Cie Stefanny.

“Iya…”, keluh Cie Stefanny dgn manja.

“Tapi enak kan Cie…”, kataku sambil mulai mengaduk liang memek Cie Stefanny dgn kedua jariku.

“Auww… iyaah…”, erang Cie Stefanny keenakan serta memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku, menggeliat pasrah.

saya menggunakan kesempatan ini untuk mengecup lembut mata Cie Stefanny yg terpejam erat. Tak ada lagi perlawanan dari Cie Stefanny yg kini tubuhnya mengejang hebat dalam pelukanku. Cie Stefanny sudah berhenti meremasi kedua toket ku, sekarang ia hanya bisa merintih serta mendesah, bergulat dgn kenikmatan yg mendera liang memek nya.

Berulang kali tubuh Cie Stefanny tersentak ketika saya mulai menirukan gerakan kaki orang berjalan dgn kedua jariku yg masih terbenam dalam liang memek nya.

“Aduh… Elizaa… Cie Cie… mau… pipis… ngghhh…”, Cie Stefanny melenguh panjang, tubuhnya mengejang berulang ulang.

Rupanya Cie Stefanny sudah dilanda orgasmenya. Cairan cintanya membanjir serta membuat liang memek guru lesku ini begitu becek. saya sama sekali tak menurunkan kecepatan adukan jari tanganku pada liang memek nya hingga terdengar bunyi kecipak cairan cinta Cie Stefanny yg teraduk aduk , di antara desahan serta lenguhan yg amat sexy serta menggairahkan .

“Eliza… sebentar… berhentii… duluu… angghhk…”, Cie Stefanny terus merengek serta memohon, tapi tak ada yg bisa dilakukan Cie Stefanny selain melenguh ketika saya malah menyusu pada puting toket nya yg kiri.

Tubuh Cie Stefanny terus menggelepar serta mengejang, krn saya sama sekali tak menghentikan adukan kedua jari tanganku di dalam liang memek nya. Selain saya malah mencumbui kedua toket Cie Stefanny dgn nakal.

“Ngghh… sudah… Elizaa… ampun…”, Cie Stefanny melenguh tanpa daya, tubuhnya mengejang serta tertekuk sexy, kemudian kurasakan cairan cintanya kembali membanjir, sementara kedua betis Cie Stefanny melejang tak karuan.

saya kasihan juga melihat Cie Stefanny didera multi orgasme. Kedua jariku kini kudiamkan terbenam dalam liang memek Cie Stefanny, menikmati setiap denyutan otot liang memek Cie Stefanny.

Kulumanku pada puting toket Cie Stefanny juga kuhentikan, kini saya menikmati pemandangan indah di depanku, wajah Cie Stefanny yg menggambarkan dgn jelas kalau dirinya terangsang hebat, dgn matanya yg terpejam erat serta nafasnya yg tersengal sengal, sedang pasrah menghadapi semua kenakalanku.

Tubuh Cie Stefanny berkeringat banyak sekali, sesekali Cie Stefanny mendesah. saya memeluk guru lesku yg sejak hari ini pasti menjadi guru les kesayanganku ini.

“Cie… capai ya…”, tanyaku dgn mesra.

“Mmm…”, Cie Stefanny masih terlalu lemas untuk menjawab.

Perlahan saya menarik lepas jariku dari jepitan liang memek Cie Stefanny. saya melihat kedua paha Cie Stefanny mengejang tepat ketika ujung jariku keluar dari jepitan liang memek nya. Benar benar satu pemandangan yg membangkitkan gairahku, membuatku ingin menggoda Cie Stefanny.

Perlahan saya bergerak ke arah selangkangan Cie Stefanny. Selagi mata guru lesku ini masih terpejam, saya mendekatkan wajahku ke liang memek nya.

“Ngghkk… auww…”, Cie Stefanny kembali melenguh sejadi jadinya ketika saya mencucup bibir memek nya guru lesku ini.

saya terus menyeruput cairan cinta Cie Stefanny sepuas puasnya sampai tak tersisa, sementara Cie Stefanny terus menggelinjang kegelian serta menggelepar keenakan.

“Sayang… Cie Cie udah nggak kuat…”, erang Cie Stefanny memelas.

“Udah selesai kok Cie…”, kataku sambil menindih tubuh Cie Stefanny.

“Ooh…”, keluh Cie Stefanny dgn manja ketika saya memeluknya mesra.

“Eliza sayang Cie Cie…”, kataku pelan sambil menatap mata Cie Stefanny dgn sayu.

“Cie Cie juga sayang kamu… anak nakal…”, bisik Cie Stefanny lemah sambil melingkarkan kedua tangannya ke belakang punggungku.

Belaian tangan Cie Stefanny pada rambutku membuatku makin merasa nyaman. saya menyusupkan wajahku di dalam rambut Cie Stefanny yg terhampar di sisi kiri kepalanya. Walaupun bercampur keringat saat kita bercinta tadi, baunya wangi menyenangkan, membuatku ingin tidur dalam posisi seperti ini.

-x-

VI. Cerita Sedih
Agak lama kita saling berdiam diri dalam posisi seperti ini, kini nafas kita sama sama mulai teratur. Tapi kita masih berpelukan dgn mesra, dgn posisi tubuhku yg menindih Cie Stefanny. Sesekali saya mencium bibir Cie Stefanny yg cuma bisa pasrah menghadapi kenakalanku ini. Tapi setiap ciumanku selalu berbalas, saya menikmati belaian tangan Cie Stefanny pada rambutku serta juga punggungku.

“Eliza… sekarang kamu mau cerita nggak, kenapa kamu hari ini jadi nakal seperti ini serta mengajak Cie Cie bercinta?”, tanya Cie Stefanny dgn lembut sambil menyibakkan sebagian rambutku yg tergerai jatuh menutup keningku.

saya mengangkat kepalaku, mengecup bibir Cie Stefanny dgn mesra sebelum saya beranjak dari tubuh Cie Stefanny serta berbaring di sisi kiri Cie Stefanny. Sempat saya menerawang sejenak, baru kemudian saya menoleh ke kanan menatap Cie Stefanny.

“Tadi, yg Eliza pulang telat … waktu Cie Cie memeluk Eliza…”, saya menguatkan hatiku serta mulai bercerita.

Cie Stefanny tersenyum manis sekali, tapi ia menatapku dgn sungguh sungguh, terlihat sekali kalau ia siap untuk mendengarkan semua ceritaku.

“Eliza nggak pakai bra, Cie”, saya menunduk, ingin sekali menyembunyikan wajahku di belahan dada Cie Stefanny.

“Jadi, tadi terasa sekali tekanan dari toket Cie Cie di sini…”, kataku pelan sambil menggerakkan tangan kiriku untuk menunjuk ke arah puting toket ku.

Cie Stefanny tertegun menunggu kelanjutan ceritaku, sedangkan saya dgn perasaan yg campur aduk meneruskan ceritaku.

“Eliza tadi nggak pakai bra, soalnya tadi waktu di tempat tambal ban…”, saya memejamkan mata serta mulai menangis.

“Sayang, kalau kamu nggak mau cerita… jangan dipaksa”, bisik Cie Stefanny lembut serta memelukku dgn sayang.

“Eliza diperkosa Cie…”, saya berkata di antara tangisku.

“Oh… sayang…”, kata Cie Stefanny sambil memelukku, dadanya Cie Stefanny berguncang krn sekarang Cie Stefanny juga menangis.

saya jadi semakin sedih. Kubenamkan wajahku di belahan dada Cie Stefanny, lalu saya menangis sejadi jadinya. Hatiku pedih sekali mengingat nasibku yg sedemikian buruk ini, berkali kali jatuh ke dalam pemerkosaan oleh berbagai orang, tanpa bisa berbuat apa apa.

Memang saya selalu orgasme dalam setiap perkosaan yg menimpaku, tapi lebih krn saya berusaha untuk tidak makin menyakiti hatiku serta membuang pikiran kalau saya ini sedang diperkosa. Toh rela ataupun tidak, tak ada yg bisa kulakukan serta saya tetap akan diperkosa. Maka daripada saya makin tersiksa, saya memilih pasrah memberikan tubuhku, bahkan saya cenderung berusaha menikmatinya.

Akibatnya saya malah selalu terangsang serta orgasme di tangan para pemerkosaku, bahkan tak jarang saya mempermalukan diriku di hadapan mereka. Sudah berkali kali tubuhku bergerak di luar kendaliku untuk memuaskan hasrat tubuhku sendiri saat saya ditenggelamkan dalam lautan kenikmatan oleh para pemerkosaku, membuatku benar benar terlihat seperti perempuan yg kegatalan atau haus seks, juga membuatku tak beda dgn pelacur.

Tapi kalau dalam keadaan tenang serta akal sehatku berjalan seperti ini, tetap saja saya merasa sedih sekali merenungkan keadaanku. Entah sudah sekotor apa diriku ini, yg sudah berkali kali dinodai siraman sperma dari para pemerkosaku. saya makin sedih serta tangisanku semakin menjadi. Entah berapa lama, belaian lembut Cie Stefanny pada rambutku perlahan membuatku menjadi tenang kembali.

Setelah kita berdua sama sama bisa menguasai diri, saya membenamkan wajahku di belahan dada Cie Stefanny.

“Eliza…”, kata Cie Stefanny sambil membelai rambutku.

saya menumpahkan semua isi hatiku serta mulai menceritakan pada Cie Stefanny, bagaimana saya harus kehilangan keperawananku krn diperkosa ramai ramai di UKS, kemudian sopir serta dua pembantuku yg jadi keranjingan menikmati tubuhku.

saya tidak menceritakan tentang pemerkosaan yg menimpaku di rumah Jenny, krn saya tak ingin menyangkutkan Jenny yg waktu dibantai bersamaku. saya juga memilih tak menceritakan kekurangajaran tukang sapu di sekolah baletku ataupun perselingkuhan Cie Elvira. saya hanya menceritakan pertama kalinya saya merasakan berciuman dgn seorang wanita, yaitu Cie Elvira.

“Jadi sejak kamu jadi suka sama sesama wanita ya”, goda Cie Stefanny.

“Yee… Cie Cie jahat… enggak Cie, belum”, kataku sambil meleletkan lidah.

“Jadi sejak kapan kamu jadi begini?”, tanya Cie Stefanny dgn cukup penasaran.

“Ada teman sekolah Eliza, Cie. Namanya Sherly. Orangnya cantik sekali, suatu hari waktu Eliza ngembalikan buku ke rumahnya, tiba tiba dia menciumi Eliza…”, kataku sambil senyum senyum sendiri.

“Anak nakal… jadi sekarang Cie Cie kamu jadikan korban pelampiasanmu ya…”, kata Cie Stefanny gemas sambil mencubit kedua pipiku.

“Auww… ampun Cie…”, saya merintih manja.

“Abisnya Cie Cie cantik sih…”, kataku sambil menatap nakal pada Cie Stefanny sambil memegangi kedua pipiku yg terasa panas akibat cubitan Cie Stefanny.

Cie Stefanny mengecup kedua mataku mesra, saya memejamkan mataku menikmati cumbuan guru lesku yg cantik ini.

“Nah, lebih parah lagi, suatu hari Eliza, Jenny, Sherly, juga tiga teman Eliza yg lain berlibur. Pertama Sherly yg nggodain serta menciumi Eliza, Eliza cuma bisa pasrah. Tapi Eliza nggak nyangka kalau Jenny melihat semua . waktu kita pulang liburan, Jenny juga ikut ikutan menciumi Eliza. Yah… akhirnya Eliza jadi seperti ini Cie”, kataku sambil terus menatap Cie Stefanny

Sekali ini Cie Stefanny sudah tak lagi canggung serta mau balas menatapku dgn mesra selagi saya menceritakan bagaimana saya bermesraan habis habisan dgn Sherly di vila, kemudian saling melumat bibir dgn Jenny di depan rumahnya, dari awal yg canggung, saya jadi terbiasa untuk bermesraan dgn kedua temanku ini.

“Terus, kenapa tiba tiba kamu mengajak Cie Cie bercinta… Cie Cie kan nggak melakukan apa apa selain memeluk kamu…”, tanya Cie Stefanny yg masih penasaran.

“Kalau puting toket Cie Cie ditekan seperti ini…”, kataku sambil beranjak duduk lalu menekan kedua puting toket Cie Stefanny yg masih menyembul .

“Sshhh…”, Cie Stefanny mendesah pelan.

“Nah gitu deh Cie, terus yg menekan punya Eliza tadi cewek yg cantik seperti Cie Cie. Apalagi Cie Cie terlihat sexy dgn rambut sedikit basah tadi, ya udah…”, kataku sambil mendekatkan wajahku ke wajah Cie Stefanny, lalu saya balas mengecup kedua matanya.

“Mmmh… kamu ini nakal ya… Tadi Cie Cie sampai kaget setengah mati waktu kamu menciumi serta menerkam Cie Cie seperti . Untungnya yg memperkosa Cie Cie cewek yg cantik seperti kamu, jadi Cie Cie rela deh…”, kata Cie Stefanny sambil tersenyum manis.

“Cie Cie baru pertama kali ya digodain cewek?”, tanyaku mencoba menebak.

“Bukan cuma pertama kali digodain cewek. Selama ini Cie Cie cuma tahu tentang orgasme wanita dari membaca artikel di majalah kesehatan ataupun internet, tapi baru tadi Cie Cie merasakan bagaimana rasanya orgasme, sayang”, kata Cie Stefanny sambil menggigit bibirnya.

“Ohh… tapi Cie Cie… oh nggak kok, tadi nggak ada darah”, saya sempat merasa ngeri kalau kalau ternyata tadi saya merenggut keperawanan Cie Stefanny, tapi saya ingat tak ada bekas darah di jariku, ataupun rasa amis darah ketika saya menyeruput cairan cinta dari liang memek Cie Stefanny tadi.

“Cie Cie udah nggak virgin kok sayang… Valentine Day tahun ini, Cie Cie sudah pernah bersetubuh, lebih tepatnya dipaksa…”, kata Cie Stefanny sambil menerawang.

“Ko Melvin ya, Cie?”, saya bertanya dgn hati hati.

“Iya… Melvin memaksa Cie Cie, merayu Cie Cie, pokoknya segala macam cara serta alasan dia pakai, sampai akhirnya Cie Cie luluh, lagipula waktu Cie Cie juga takut kehilangan Melvin”, kata Cie Stefanny datar, tapi kurasakan kesedihan dalam suara Cie Stefanny.

saya memeluk Cie Stefanny, ingin sekali saya mengurangi kesedihan Cie Stefanny.

“Setelah Melvin berhasil membuat Cie Cie menyerahkan tubuh Cie Cie, Melvin ninggalin Cie Cie begitu saja. Ditelepon selalu sibuk, di SMS nggak pernah dibalas, kalau ketemu di kampus selalu menghindar, pokoknya Melvin jelas jelas menunjukkan kalau dia menghindari Cie Cie… serta sudah nggak mau berhubungan lagi dgn Cie Cie…”, kata Cie Stefanny, sekali ini air matanya meleleh serta Cie Stefanny mulai terisak pelan.

“Akhirnya Cie Cie menyerah, lalu Cie Cie memutuskan hubungan dgn Melvin. Sakit rasanya, Eliza. Tapi adalah yg terbaik”, kata Cie Stefanny dgn suara serak.

saya tak tahu harus berkata apa, perasaanku benar benar campur aduk. Di satu sisi saya amat membenci perbuatan Ko Melvin yg sangat egois , sedangkan di sisi lain saya merasa harapanku semakin besar bisa terkabul, untuk mendekatkan Cie Stefanny dgn kokoku. Tapi saat ini, saya hanya bisa ikut sedih serta menangis bersama Cie Stefanny.

saya terus memeluk Cie Stefanny sampai akhirnya Cie Stefanny mulai tenang kembali. Sementara saya diam serta merenung. Apakah semua laki laki seperti ? Apakah Andi juga akan seperti ?

Beberapa saat kemudian, akhirnya Cie Stefanny sudah bisa menguasai dirinya, lalu mulai melanjutkan ceritanya.

“Belum lagi hilang sakit hatinya Cie Cie ini, hampir sebulan kemudian…”, keluh Cie Stefanny serta menceritakan tentang Caroline, adik perempuan Cie Stefanny yg baru saja berumur 20 tahun, masih kuliah semester V di universitas ternama di Surabaya.

“Malam Cie Cie keluar kamar, mau ambil minuman di kulkas. waktu Cie Cie melihat Caroline berjalan menuju pintu belakang. Penasaran, Cie Cie ke balik pintu serta mengintip apa yg akan dilakukan Caroline. Waktu Cie Cie melihat Caroline masuk begitu saja ke dalam kamar para pekerja mebel di rumah Cie Cie, rasanya jantung Cie Cie ini seperti berhenti”, Cie Stefanny menghentikan ceritanya sebentar serta memandangku sambil menarik nafas panjang.

“Cie Cie mendekat serta mengintip dari jendela kamar . Di dalam sana, Cie Cie melihat Caroline digumulin empat pekerja , shock rasanya melihat semua Eliza…”, kata Cie Stefanny yg kini jadi menerawang, seperti sedang membayangkan serta mengingat kejadian dalam pikirannya.

“Cie Cie akhirnya masuk ke dalam kamar Caroline, duduk di ranjangnya menunggu dia kembali. Satu jam baru akhirnya Caroline masuk, Cie Cie langsung bertanya tentang apa yg Cie Cie lihat . Caroline… dia menangis serta menceritakan semuanya… Awal tahun ini, dua minggu setelah Caroline berulang tahun ke 20, ganti Cie Cie yg berulang tahun…”, Cie Stefanny menunduk sejenak, tapi saya bisa melihat ekspresi wajahnya yg sendu.

“Cie Cie nungguin Caroline, ingin mengajaknya makan kue ulang tahun pemberian Melvin, tapi Caroline malah pulang tengah malam dari dugem, dalam keadaan setengah mabuk lagi”, Cie Stefanny kembali menarik nafas panjang, sekali ini kesedihan yg amat dalam kembali terpancar dari wajahnya yg cantik.

“Caroline… kamu anak bodoh…”, Cie Stefanny mengeluh serta mulai terisak.

Terlihat jelas sekali kalau Cie Stefanny amat kesal serta sedih. Cie Stefanny menggigit bibir sementara air matanya meleleh.

“Dia takut ketahuan Cie Cie kalau mulutnya berbau alkohol… dia malah mengambil jalan belakang. waktu salah satu pekerja mebel di rumah Cie Cie melihat Caroline, yg pasti wajahnya merah krn pengaruh alkohol. Tepat ketika Caroline akan masuk ke rumah dari pintu belakang. Caroline ditangkap, mulutnya dibekap, lalu dia diseret ke kamar mereka”, kata Cie Stefanny dgn air mata yg semakin deras membasahi kedua pipinya.

“Bajingan bajingan tahu betul, papa serta mama memang tidak mengijinkan anak anaknya pergi dugem apalagi pulang larut malam seperti . Mereka sempat bercerita pada Caroline, papa pernah mengobrol dgn temannya di tempat mereka berkerja, tentang ketidak sukaan papa serta mama terhadap anak anak jaman sekarang yg suka dugem serta pulang larut malam.”, Cie Stefanny menggigit bibir sesaat di antara tangisnya.

“serta di sana Caroline diancam akan dilaporkan ke papa, mama atau Cie Cie, kalau Caroline nggak mau menuruti nafsu bejat mereka. Caroline… dia diperkosa dalam keadaan setengah mabuk… serta sampai sekarang Caroline diperlakukan seperti budak mereka, . Oh… Eliza… kalau saja waktu Cie Cie nggak nungguin Caroline, harusnya ini nggak perlu terjadi…”, Cie Stefanny menangis dgn penuh penyesalan.

Tak ada yg bisa kulakukan selain menggigit bibir serta memeluk Cie Stefanny erat erat sambil menangis sedih.

“serta harusnya Caroline nggak perlu takut ketemu sama Cie Cie waktu … Oh Tuhan… kenapa harus jadi seperti ini… Cie Cie merasa bersalah sekali sama Caroline…”, Cie Stefany memelukku serta tangisannya makin menjadi jadi, membuat hatiku rasanya seperti teriris krn tak ada yg bisa kulakukan untuk mengibur Cie Stefanny, juga melihat nasib adik Cie Stefanny yg tak lebih baik dariku.

-x-

VII. Hampir Tertangkap
Tak ada lagi cerita. kita berdua tenggelam dalam duka. Tentu saja saya tak ingin malam ini kita lewatkan dgn menangis dalam penyesalan, saya mencoba mencairkan suasana ini.

“Cie… Eliza buatin sereal yah”, kataku pelan.

“Nggak usah deh sayang… kok malah ngerepotin kamu…”, jawab Cie Stefanny.

“Nggak repot kok Cie… kalau repot Eliza juga nggak mau buatin”, kataku mencoba mengajak Cie Stefanny bercanda.

“Ya udah anak nakal… kalau kamu nggak repot, Cie Cie mau…”, kata Cie Stefanny sambil membelai pipiku dgn sayang.

saya bangkit berdiri serta mengenakan bra serta baju rumahku. Sebenarnya reflek saja saya mengenakan bra, krn memang saya biasa memakai bra serta celana dalam walaupun saya berada di dalam rumah. Tapi ketika Cie Stefanny ikut berdiri serta hendak memakai bra serta celana dalamnya, saya langsung merengek.

“Cie… jangan… Cie Cie nggak boleh pakai…”, saya mendekati Cie Stefanny serta memegang kedua tangannya.

“Kamu… Sayang… ini kan nggak adil… masa kamu boleh pakai baju tapi kamu suruh Cie Cie telanjang terus?”, tanya Cie Stefanny dgn pura pura kesal.

“Eliza kan mau turun. Nanti Eliza juga nggak pakai bra kok… pokoknya Cie Cie jangan pakai ya…”, saya terus merengek serta pura pura merajuk sambil memeluk Cie Stefanny yg masih telanjang bulat ini, lalu kupagut bibirnya dgn sepenuh hati.

“Mmmh…”, Cie Stefanny merintih mesra serta membalas pagutanku.

Setelah puas saling berpagut bibir dgn Cie Stefanny, barulah saya melepaskan pagutanku, sementara Cie Stefanny menatapku dgn tatapan orang dewasa terhadap anak kecil yg nakal.

“Cie… Eliza mau turun buatin sereal… Cie Cie kunci pintunya dulu ya… nanti kalau Eliza udah mau masuk, Eliza panggil Cie Cie… tapi janji ya Cie Cie nggak boleh pakai baju”, kataku dgn tatapan nakal.

“Kamu ini memang… ya udah… terserah kamu sayang…”, kata Cie Stefanny sambil tersenyum geli.

Maka saya keluar dari kamarku serta Cie Stefanny langsung mengunci pintu. saya tersenyum geli serta turun ke ruang makan, untuk membuat dua gelas sereal instant yg hangat. Sebenarnya saya sudah lelah serta mengantuk sekali, tapi tiba tiba saja saya jadi bergairah membayangkan betapa Cie Stefanny yg sedang telanjang bulat menunggu pasrah di kamarku. Sambil mengaduk kedua gelas sereal ini, saya memikirkan hal yg membuatku tak sabar untuk segera ke atas serta kembali bercinta dgn Cie Stefanny.

“Eh?”, saya terkejut ketika kurasakan dua tangan yg mendekap tubuhku dari belakang.

“Non… kangen…”, suara , saya tahu kalau suara milik pak Arifin.

“Mmmhh…”, saya merintih ketika kurasakan remasan yg amat kuat pada kedua toket ku.

saya berhenti mengaduk sereal di kedua gelas , bermaksud melepaskan kedua toket ku dari remasan kedua tangan pak Arifin. Tapi ketika tanganku sudah akan meraih tangan pak Arifin, cengkeraman pada masing masing pergelangan tanganku menahan gerakan kedua tanganku ini.

Sesaat kemudian, kedua tanganku sudah terentang lebar. saya menoleh ke kanan serta ke kiri, mendapati Wawan serta Suwito yg sudah ikut mengerubutiku dgn pandangan yg sangat bernafsu.

“Eh… apa apaan kalian malam malam gini mpphh…”, omelanku terhenti ketika Suwito sudah melumat bibirku tanpa ampun.

saya mulai panik ketika Wawan sudah mengangkat kaki kiriku yg kini sudah tertekuk ke atas hingga menempel di perutku. Kancing baju yg kukenakan sudah dipreteli mereka dgn cepat, sementara tangan kanan Suwito sudah menyusup masuk ke dalam celana dalamku. Jarinya yg mencari serta dgn cepat menemukan bibir memek ku, langsung tercelup masuk serta membuatku menggeliat mengikuti irama adukan jari tangan Suwito pada liang memek ku.

Kalau dgn keadaanku yg sudah amat lemas ini masih harus melayani mereka bertiga sekaligus seperti ini, bisa bisa mereka membuatku pingsan pingsan. saya segera berpikir keras mencoba menghindar dari sopir serta kedua pembantuku yg sudah makin bernafsu untuk menikmati tubuhku ini.

“Engghh… kalian berhenti… besok… saya ini… ada ulangan…”, saya memohon di antara rintihanku.

serta mereka memang langsung menghentikan rangsangan mereka terhadapku. Sekarang mereka sudah melepaskanku, tapi mereka masih mengelilingiku, membuat jantungku berdebar sedikit lebih keras, membayangkan apa yg masih akan meleka lakukan terhadapku.

“Yah… non, padahal saya sudah kangen nih”, kata pak Arifin.

“Kangen kangen… ngapain sih kalian ini malam malam gini di sini?”, saya bertanya dgn setengah kesal.

“Kan ortu serta kakak non lagi pergi, sayang dong kalau nggak pesta sama non”, kata Suwito sambil kembali meremas toket kiriku.

“Udah… berhenti… tunggu besok juga kenapa sih? Sekarang saya masih mau belajar untuk ulangan besok pagi tau”, kataku sambil menepis tangan Suwito.

“Yah… kalau gitu cium dulu non sebelum kita tidur”, kata Wawan yg langsung meraih tubuhku dalam pelukannya serta memagut bibirku dgn sangat bernafsu.

saya melemas dalam pelukan Wawan, membiarkan pembantuku ini melumat habis bibirku. Suwito serta pak Arifin jelas tak mau ketinggalan, mereka bergiliran melumat bibirku dgn ganas sampai nafasku tersengal sengal.

Dadaku masih naik turun ketika mereka semua selesai menikmati bibirku. saya terduduk di kursi, mencoba mengatur nafasku sejenak.

“Non Eliza kok tidak kembali ke atas?”, tanya Suwito

“Menunggu kita cium lagi ya?”, sambung Wawan usil.

Tak ingin bibirku kembali dilumat habis, saya segera bangkit berdiri. Bukannya saya tak mau, sebenarnya saya suka suka saja diperlakukan seperti ini oleh mereka bertiga ini, tapi sekarang ini selain saya sudah kelelahan, di atas Cie Stefanny sudah menungguku.

saya mengambil mengambil sebuah sendok teh, sebotol kecil susu kental manis serta sebotol besar air dingin. Bersama kedua gelas sereal buatanku tadi, saya letakkan semua di atas baki. Tanpa pamit pada mereka, baki ini kubawa ke atas menuju kamarku.

“Perlu bantuan non?”, tanya Suwito ketika saya sudah di tengah tangga.

saya sempat menoleh ke arahnya serta menggeleng tegas, lalu saya terus berjalan menuju kamarku.

-x-

VIII. Bercinta Lagi dgn Cie Stefanny
“Cie… ini Eliza…”, saya berkata pelan di depan pintu kamarku.

Pintu kamarku terbuka serta saya segera masuk. Cie Stefanny yg bersembunyi di balik daun pintu kamarku langsung mengunci pintu. Kutaruh baki ini di atas meja belajarku, kuberikan segelas sereal hangat ini pada Cie Stefanny, lalu Cie Stefanny kuajak duduk di depan meja belajar.

“Duh sayang, Cie Cie kira kamu ditangkap pembantu pembantumu tadi, abisnya kamu kok lama amat nggak kembali kembali”, kata Cie Stefanny.

“Oh, nggak kok Cie… sini… Eliza suapin ya…”, kataku sambil mulai mengambil sesendok sereal dari gelasku, lalu kusuapkan pada Cie Stefanny yg hanya tertawa geli menerima suapanku.

Berikutnya kita saling menyuapi sampai sereal di gelas kita habis, tentu saja diselingi canda tawa kita berdua. Kemudian setelah gelas gelas ditaruh di atas meja, saya melihat jam. Oh… sudah jam sembilan malam.

“Cie… bukain baju Eliza dong…”, kataku sambil memegang tangan Cie Stefanny.

“Eliza… lagi?”, Cie Stefanny mendesah pelan, ia menatapku sambil menggigit bibir serta menahan senyum.

saya mengangguk serta terus menatap Cie Stefanny dgn sayu penuh permohonan. Cie Stefanny sempat menunduk jengah, tapi kemudian tangannya mulai bergerak melepas baju rumahku. saya memejamkan mata menahan gairah yg makin menggelegak ini, saya pasrah saja ketika Cie Stefanny menuntunku serta berikutnya kita sudah sama sama terbaring di ranjang, dgn tubuhku ditindih Cie Stefanny.

“Cie…”, saya merintih ketika kedua toket ku dibelai dgn lembut oleh Cie Stefanny.

“Sayang… kamu … cantik sekali…”, desah Cie Stefanny terputus putus di tengah nafasnya yg memburu.

Oh, senang sekali rasanya dipuji seperti ini oleh Cie Stefanny. saya langsung memeluk serta memagut bibir Cie Stefanny, meluapkan semua gairahku. Sementara kurasakan kedua tangan Cie Stefanny menyusup ke belakang punggungku, sesaat kemudian kait bra yg kukenakan sudah terlepas.

dgn senang hati kuangkat kedua tanganku hingga Cie Stefanny dgn mudah menarik lepas bra ini dari tubuhku. seperti harapanku, Cie Stefanny sudah tak canggung lagi untuk bermesraan denganku, kini celana dalamku ditariknya lepas melewati kedua betisku, kita berdua sama sama telanjang bulat di atas ranjangku.

“Nah anak nakal, begini baru adil… sekarang Cie Cie akan balas kamu…”, kata Cie Stefanny dgn nafas memburu serta berikutnya saya sudah ditindih oleh Cie Stefanny.

“Mmmh…”, saya merintih manja serta pasrah ketika kedua pergelangan tanganku direntangkan oleh Cie Stefanny.

Wajahku dihujani ciuman mesra Cie Stefanny, saya sesekali berusaha membalas. Rasa geli sekaligus terangsang membuatku lemas dalam gairahku, kubiarkan Cie Stefanny berbuat sesuka hatinya terhadap diriku.

“Oooh… Cie…”, saya menggeliat serta mengejang sesaat ketika kedua puting payudarku dicubit oleh Cie Stefanny.

“Sayang… sakit ya…”, goda Cie Stefanny.

saya menggigit bibir serta menggeleng lemah.

“Auww… Cie… ampuun…”, saya menggeliat ketika Cie Stefanny memperkeras cubitannya pada kedua puting toket ku.

Selagi saya memejamkan mata menahan sakit yg sebenarnya tak terlalu menyiksa ini, Cie Stefanny menghentikan cubitannya, lalu tiba tiba kurasakan kedua puting toket dikulum bergantian oleh Cie Stefanny.

“Ssshh… aduuhh…”, saya mendesah tak karuan.

Ingin sekali rasanya sekarang ini saya menerkam Cie Stefanny, tapi saya mati matian menahan diri, supaya Cie Stefanny punya waktu untuk mengekpresikan gairahnya. Rambut Cie Stefanny yg terjatuh di dadaku ini terseret ke kiri serta ke kanan mengikuti gerakan kepalanya. saya menikmati rasa geli yg ditimbulkan ujung demi ujung rambut Cie Stefanny.

“Sayang… perut kamu indah sekali…”, Cie Stefanny mengguman serta mengecup kulit perutku.

saya tersenyum senang mendengar pujian Cie Stefanny. Kubelai rambut Cie Stefanny yg halus ini, selagi perutku dicumbui olehnya. Darahku berdesir ketika kurasakan cumbuan perlahan berpindah ke bawah menuju ke memek ku.

“Mmmhh…”, saya merintih ketika kurasakan ciuman dari Cie Stefanny pada bibir memek ku.

Cie Stefanny terus menggoda memek ku. Kedua pahaku sudah dilebarkan oleh Cie Stefanny, saya hanya pasrah.

Tak ada jilatan nakal yg kurasakan, tapi setelah beberapa kali mengecup bibir memek ku, kini jari jari tangan Cie Stefanny mulai ikut bermain. Liang memek ku dikuak sedikit, ketika sebuah jari menusuk liang memek ku dgn lembut, tiba tiba saya merasa sedikit nyeri. Mungkin krn sehari ini liang memek ku sudah berkali kali ditembusi kontol kontol pemerkosaku.

“Cie… sakit…”, saya mengeluh pelan.

“Kenapa sayang…”, tanya Cie Stefanny sambil menatapku sayu.

saya hanya menggeleng lemah sambil berusaha tersenyum. saya jadi tak tega menolak keinginan Cie Stefanny. Biarlah, saya akan menahan rasa nyeri yg moga moga hanya sebentar ini. Mungkin kalau nanti liang memek ku sudah basah oleh cairan cintaku, rasa nyeri yg mengganggu akan mereda atau bahkan hilang.

“Angghk…”, saya mengerang ketika dua jari Cie Stefanny terbenam dalam liang memek ku.

Tubuhku mulai mengejang, antara sakit serta nikmat. Ketika dua jari mulai mengaduk liang memek ku, saya mendesah serta menggeliat keenakan. Tak ada yg bisa kulakukan selain menggenggam sprei ranjangku, mencoba bertahan dari siksaan kenikmatan ini.

“Eliza… hangat sekali di dalam sini sayang…”, bisik Cie Stefanny mesra.

“Mmmh… iyah Cie…”, saya merintih malu.

Adukan jari tangan Cie Stefanny makin liar, membuatku menggigit bibir serta memejamkan mataku erat erat, sementara tubuhku menggigil merasakan ngilu yg amat nikmat pada liang memek ku. Cairan cintaku yg sudah membasahi liang memek ku benar benar meredakan rasa nyeri yg kurasakan sejak Cie Stefanny menyerang liang memek ku.

“Ngghhh… Ciee…”, pinggangku sampai terangkat ketika Cie Stefanny meliuk liukkan kedua jari tangannya dalam liang memek ku.

“Oooh… Ciee… jangan berhentii…”, saya mengeluh serta memohon ketika Cie Stefanny menghentikan gerakan jari jari tangannya yg masih terbenam dalam liang memek ku.

“Tapi… kamu sampai kesakitan gitu sayang…”, kata Cie Stefanny dgn ragu.

“Nggaaak… nggak sakit… ayo Cie… pleasee…”, saya merengek tak ingin kehilangan kenikmatan ini.

Dua jari tangan Cie Stefanny di dalam liang memek ku kembali bergerak, mengembalikan sensasi nikmat yg tadi sempat menurun. saya menggeliat menikmati semua ini, bahkan saya mendorong dorongkan pinggulku ke depan, rasanya ingin sekali membuat jari jari tertelan semuanya dalam liang memek ku, akibatnya saya malah merintih keenakan.

“Eliza… kamu nggak apa apa sayang…?”, tanya Cie Stefanny ragu.

“Ngghh… enak kok Cie…”, saya melenguh serta merintih

“Oh… sayang… kamu sexy sekali…”, Cie Stefanny mendesah pelan.

Sepertinya Cie Stefanny sendiri sedang terbakar oleh gairahnya sendiri. Tanpa menghentikan adukan jari tangannya pada liang memek ku, Cie Stefanny merayap di atas tubuhku, menindihku serta kemudian mencumbui wajahku. saya yg semakin tenggelam dalam kenikmatan ini, segera memeluk Cie Stefanny serta kupagut bibir Cie Stefanny sejadi jadinya.

Rintihan kita berdua bersahut sahutan memenuhi kamarku. Ngilu yg kurasakan pada liang memek ku ini semakin menjadi jadi, tubuhku mulai mengejang serta tersentak sentak, mengiringi orgasme yg mulai menderaku.

“Nngghh… Ciee… mmmph…”, saya menjerit keenakan dalam orgasme yg amat nikmat, tapi jeritanku langsung tertahan krn Cie Stefanny langsung memaksaku untuk kembali saling berpagut dgn panas.

Tentu saja saya tak menolak, saya mempererat pelukanku pada Cie Stefanny. pinggangku sampai tertekuk ke atas krn adukan jari tangan Cie Stefanny dalam liang memek ku ini sama sekali tidak mereda, malah semakin menjadi jadi. Kurasakan cairan cintaku membanjir di dalam sana, tubuhku juga basah oleh keringatku.

AC kamar yg harusnya terasa dingin ini tak mampu membendung rasa panas yg menjalari sekujur tubuhku. Nafasku sudah tinggal satu satu, tapi Cie Stefanny masih saja memagut bibirku dgn ganas, sedangkan adukan jari tangan Cie Stefanny belum menunjukkan tanda tanda akan berhenti. Akibatnya liang memek ku semakin ngilu, orgasmeku sama sekali tidak mereda, malah makin menjadi jadi.

Kedua betisku melejang lejang sampai rasanya kram. Diperlakukan seperti ini, lama kelamaan saya mulai jatuh dalam keadaan setengah sadar, pandanganku mulai kabur, entah krn kehabisan nafas atau kehabisan tenaga, atau mungkin kedua duanya. Pelukanku melemah, kedua tanganku terkulai pasrah di atas ranjang. saya memejamkan mata, pasrah membiarkan Cie Stefanny berbuat sesuka hatinya terhadap diriku.

Akhirnya Cie Stefanny melepaskan pagutannya pada bibirku, juga menghentikan adukan jari tangannya dalam liang memek ku. Kepalaku langsung terkulai lemas dgn nafas yg terputus putus. Sesekali tubuhku tersentak, sekujur tubuhku gemetar dalam kenikmatan, tulang tulangku seperti terlepas dari semua sambungannya. Benar benar lemas sekali, bahkan untuk bergerak pun rasanya saya sudah tak punya tenaga.

“Ngghh…”, saya melenguh lemah ketika Cie Stefanny menarik lepas kedua jari tangannya dari liang memek ku.

Entah apa lagi yg akan dilakukan Cie Stefanny, saya sudah pasrah. Mataku terpejam erat menikmati sisa sisa orgasmeku yg mulai mereda. Belaian belaian mesra Cie Stefanny benar benar membuatku merasa nyaman, saya mulai bisa mengatur nafasku.

“Sayang…”, guman Cie Stefanny serta bibirku dikecupnya dgn mesra.

“Mmm…”, saya merintih perlahan serta balas mengecup bibir Cie Stefanny dgn tak kalah mesranya.

Kedua telapak tanganku digenggam oleh Cie Stefanny, kemudian Cie Stefanny menyusupkan wajahnya di pundak kiriku. saya senang sekali serta balas menggenggam telapak tangan Cie Stefanny. Beberapa saat lamanya saya pasrah membiarkan tubuhku ditindih Cie Stefanny. Saat tenagaku mulai pulih, saya mekepaskan genggaman tangan kita, kemudian memeluk Cie Stefanny dgn mesra. Rasanya nyaman sekali, kita berdua terdiam menikmati semua ini.

-x-

IX. Menikmati Cairan Cinta Cie Stefanny
“Sayang… sekarang pakai baju aja ya… nanti kita masuk angin”, kata Cie Stefanny.

“Nggak boleh…”, saya memandang Cie Stefanny dgn nakal.

“Kamu ini…”, kata Cie Stefanny sambil menggeleng gelengkan kepalanya, lalu melepaskan tindihannya pada tubuhku serta berbaring di sebelahku.

“Malam ini, Cie Cie nggak boleh pakai baju… Eliza juga kok… sekarang kita selimutan aja ya Cie…”, kataku sambil duduk serta mengambil selimutku, yg sebenarnya adalah bed cover, kuhamparkan menutupi tubuh kita berdua yg masih telanjang bulat.

“Eliza ingin main main lagi sama Cie Cie …”, kataku dgn manja sambil menyusupkan kepalaku di pundak Cie Stefanny.

“Ya ampun… kamu nggak capek Eliza?”, tanya Cie Stefanny yg memandangku heran.

“Capek sih… enggak kok Cie, Eliza bukan mau ngajak Cie Cie bercinta lagi kok… Eliza cuma ingin…”, saya menggigit bibir sambil tersenyum senyum membayangkan rencanaku.

“Anak nakal… Cie Cie ini mau kamu apain lagi…”, tanya Cie Stefanny yg pura pura merajuk, tapi kemudian tubuhku dipeluknya dgn mesra.

saya melihat jam, masih jam sembilan malam. Sebentar lagi tenagaku akan cukup untuk kupakai bermain main sebentar dgn Cie Stefanny, habis barulah saya akan tidur mengistirahatkan tubuhku, yg sebenarnya sudah amat capek ini. Seharian ini saya sudah berkali kali orgasme, benar benar menguras tenagaku, juga membuat pinggangku terasa seperti akan patah.

Tapi saya tak mau melewatkan kesempatan untuk bermanja manja dgn Cie Stefanny malam ini. Sambil menunggu, kita berdua saling bercerita pengalaman lucu kita di sekolah. Bukan hal yg penting, tapi pastinya lebih baik daripada kita hanya berdiam diam saja.

Beberapa menit kemudian saya menyibakkan bed cover ini, jadinya kita berdua sama sama menggigil kedinginan.

“Eliza… dingin nih…”, kata Cie Stefanny memelas.

“Iya… sebentar ya Cie…”, saya mencari remote AC serta mematikan AC kamarku.

Kemudian saya mengambil botol yg berisi susu kental manis dari baki yg tadi kubawa masuk ini, tak lupa juga sendok kecilnya. Lalu saya mendekati Cie Stefanny yg masih belum mengerti apa yg akan kulakukan.

“Kok…?”, tanya Cie Stefanny dgn heran.

“Pokoknya Cie Cie berbaring aja ya Cie…”, kataku sambil meleletkan lidah.

“Duh… kamu… kamu mau apa lagi sayang…”, keluh Cie Stefanny serta menatapku dgn pandangan memelas.

Kubuka botol , sambil sesekali menatap Cie Stefanny, saya mengambil sesendok kecil susu kental manis. Setelah cukup, saya menuangkan susu tepat pada puting toket kanan milik Cie Stefanny.

“Oooh…”, Cie Stefanny terkejut seperti tak percaya.

“Auww… Eliza…”, Cie Stefanny antara merintih serta tertawa geli ketika saya mencucup putingnya yg berlumuran susu kental manis .

“Mmm… enak lho Cie…”, saya menggoda Cie Stefanny dgn tatapan nakal setelah mengulum bersih puting susunya.

“Kamu…”, Cie Stefanny menatapku tanpa daya dgn gemas.

saya tertawa kecil, lalu kembali menuangkan sesendok susu kental manis pada puting toket kanan Cie Stefanny. saya segera mencucup puting , sementara Cie Stefanny kembali tertawa geli serta tubuhnya menggelinjang. Muka Cie Stefanny sampai memerah, entah krn malu atau terangsang.

Setelah kurasakan tak ada lagi sisa susu yg tersisa pada puting toket Cie Stefanny, saya beranjak ke belakang, kini kedua paha Cie Stefanny kulebarkan hingga memek nya tersaji di depanku.

“Ooh… Eliza… kamu ini nakal sekali…”, keluh Cie Stefanny memelas ketika saya bersiap siap mengoleskan susu kental manis ini di bibir memek nya.

saya hanya meleletkan lidah, lalu bibir memek Cie Stefanny yg indah ini mulai kubasahi dgn susu kental manis, kedua paha Cie Stefanny yg terbuka lebar ini kutahan dgn kedua tanganku. saya menatap Cie Stefanny dgn senyum menggoda. Cie Stefanny hanya menatapku dgn pandangan memelas serta hanya bisa pasrah dgn kenakalanku.

“Udah… nggak tau… terserah mau kamu apakan Cie Cie ini…”, keluh Cie Stefanny yg sudah menyerah pasrah.

“Angghhk…”, Cie Stefanny melenguh ketika saya dgn tiba tiba mencucup bibir memek nya.

Semua susu kental yg teroles di bibir memek Cie Stefanny ini kusedot sampai tandas. Sementara Cie Stefanny hanya bisa merintih serta melenguh, kedua pahanya mengejang hebat, kurasakan kedua betis Cie Stefanny juga melejang tak karuan.

Bibir memek Cie Stefanny sudah kubersihkan dari susu kental manis. saya melihat Cie Stefanny sekarang ini memejamkan matanya erat erat, nafasnya juga tersengal sengal. Kedua toket nya berguncang sexy seiring naik turunnya dada Cie Stefanny. selagi guru lesku yg cantik ini tak berdaya, saya mulai mencelupkan jari telunjuk tangan kananku ke dalam liang memek Cie Stefanny.

“Ngghh…”, lagi lagi Cie Stefanny melenguh.

Kedua tangan Cie Stefanny mencengkram sprei ranjangku ketika saya mulai mengaduk aduk liang memek Cie Stefanny. saya bermaksud membuat cairan cinta Cie Stefanny keluar membasahi liang memek nya, maka saya mempercepat adukan jari tanganku ini. Bahkan selagi Cie Stefanny terus merintih serta mengerang, jari tengah tangan kananku ikut kucelupkan ke dalam liang memek Cie Stefanny.

“Ngghh… Eliza… ini… kok lagi…”, Cie Stefanny mulai merengek di antara lenguhannya.

“Satu kali aja Cie…”, saya menjawab di antara deru nafasku yg memburu.

“Ngghh… aduuuh…”, Cie Stefanny tak kuat menahan siksaan kenikmatan yg kuberikan padanya, ia langsung orgasme dgn hebatnya.

Tubuh Cie Stefanny kembali terlonjak lonjak, saya cepat memasukkan sebuah guling di bawah pinggang Cie Stefanny. Kini memek Cie Stefanny sedikit menghadap ke atas. saya kembali mengambil botol susu serta sendok kecil , lalu kuambil sesendok susu kental serta kutuangkan tepat di bibir memek Cie Stefanny.

“Oooh…”, Cie Stefanny merintih serta kedua pahanya mengejang sesaat.

Tanpa ampun saya segera mencucup bibir memek Cie Stefanny yg berlumuran susu kental manis bercampir cairan cintanya ini. Cie Stefanny hanya bisa menggelepar tanpa daya, erangannya makin lemah serta akhirnya guru lesku ini terkulai pasrah dgn tubuhnya yg sesekali tersentak keenakan.

Akhirnya habis juga, cairan cinta Cie Stefanny yg bercampur susu kental manis ini. saya duduk serta menatap Cie Stefanny sambil tersenyum nakal, sedangkan Cie Stefanny hanya menatapku dgn sayu serta memelas. Tampaknya tenaga Cie Stefanny sudah terkuras habis, saya sendiri sebenarnya juga sudah sangat capek.

-x-

X. Tidur Dalam Pelukan Cie Stefanny
Setelah mengatur nafas sejenak, kukembalikan botol susu serta sendok ini ke atas baki. Lalu kutuangkan air dingin dari gelas besar ini ke dua gelas bekas kita minum sereal tadi. kubawakan gelas ini ke Cie Stefanny yg masih tergolek lemas di atas ranjangku.

“Cie… minum dulu ya”, saya berkata lembut.

Cie Stefanny perlahan mencoba bangkit serta duduk, lalu memandangku dgn gemas.

“Sudah puas kamu, anak nakal… Cie Cie sampai lemas gini…”, kata Cie Stefanny pura pura kesal.

“Mmm… belum sih Cie… tapi nggak apa apa deh… besok besok masih bisa dilanjutin kok”, kataku sambil meleletkan lidah.

“Dasar… kamu ini benar benar nakal ya Eliza… sampai sampai tadi… masa kamu olesin badan Cie Cie pakai susu kental manis… awas ya, sekarang ini Cie Cie memang capek, tapi besok Senin Cie Cie balas… serta… kok kamu ini bisa bisanya sampai punya pikiran seperti sih?”, tanya Cie Stefanny sambil mengambil gelas minuman untuknya dari tanganku.

“Duh… capeknya…”, Cie Stefanny memandangku seperti minta pertanggung jawaban, membuatku tak bisa menahan geli.

“Iya deh Cie, udah Cie Cie duduk aja, sini Eliza yg bawa”, kataku sambil mengambil kedua gelas dari tangan Cie Stefanny.

“Sayang… sekalian tolong ambilkan tissue basah di tasnya Cie Cie ya”, kata Cie Stefanny.

“Iya Cie”, jawabku serta setelah menaruh kedua gelas ini, saya mengambil tas Cie Stefanny yg tergeletak di meja belajarku.

saya membuka tas , mencari cari serta segera menemukan beberapa sachet tissue basah di dalamnya, tapi ketika saya melihat dompet Cie Stefanny, saya jadi penasaran. Apakah Cie Stefanny masih menyimpan foto ko Melvin di dalam dompet ?

Maka saya mengambil keduanya, tentu saja hanya satu sachet tissue basah yg kuberikan pada Cie Stefanny.

“Eliza ingin liat SIMnya Cie Cie… boleh yaa”, saya bertanya penuh harap

“Iya boleh kok”, kata Cie Stefanny sambil mulai membuka sachet tissue basah .

saya senyum senyum walaupun hatiku berharap harap cemas. saya lega ketika memang tak ada secuil pun foto ko Melvin dalam dompet Cie Stefanny, artinya kokoku benar benar punya harapan. saya pura pura memperhatikan SIM milik Cie Stefanny sebelum akhirnya dompet kukembalikan ke dalam tas.

Tapi tepat saat saya akan menutup dompet , pandanganku tertuju pada foto yg terpajang di bagian utama dompet , tiga orang gadis remaja yg sedang duduk di meja restoran. Entah mengapa saya jadi tertarik untuk terus melihat foto , Cie Stefanny serta dua temannya yg cantik.

“Cie… ini Cie Cie kan?”, tanyaku sambil menunjuk salah seorang cewek paling kanan dalam foto yg menurutku paling mirip dgn Cie Stefanny.

“Iya, waktu Cie Cie baru aja lulus SMA, lagi makan makan dgn keluarga”, kata Cie Stefanny sebentar setelah melihat ke foto .

“Ih… nggak terlalu beda lho sama Cie Cie sekarang…”, kataku sambil terus memperhatikan foto .

“Kalau yg ini?”, tanyaku sambil menunjuk ke cewek yg paling kiri.

“Ya Caroline, adik Cie Cie”, jawab Cie Stefanny.

“Oooh… kalau yg di tengah ini siapa Cie?”, tanyaku cepat cepat berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Cie Stefanny tak teringat masalah adiknya .

“yg di tengah ya… Katherine, sepupu Cie Cie. Kalau masih hidup, sekarang usianya sudah 24 tahun”, kata Cie Stefanny sambil menerawang.

“Lho… kenapa? Sudah nggak ada Cie?”, tanyaku dgn ragu.

“Iya. Empat tahun lalu, abis ikut acara makan makan untuk merayakan kelulusan SMA Cie Cie, Katherine serta tiga temannya berlibur ke villa di Bogor. Cie Cie masih ingat, temannya ada yg bule, yg dua lagi Chinese”, Cie Stefanny melanjutkan ceritanya.

“Oh…”, saya mulai merasa kalau tiga temannya Cie Katherine juga…

“Mereka sudah akan sampai ke villa ketika mobil mereka ditabrak oleh truk yg sopirnya ugal ugalan, hingga mobil terbalik. Semuanya, Katherine serta temannya, meninggal…”, kata Cie Stefanny dgn nada menyesal.

“Ya ampun…”, saya cuma bisa mengguman.

“Tiga teman Cie Katherine langsung meninggal krn benturan keras. Katherine yg terjepit mobil yg terbalik , menurut beberapa saksi mata sebenarnya masih hidup, tapi akhirnya juga meninggal dgn luka bakar yg sangat parah, krn mobilnya terbakar… Cie Cie waktu sampai berkali kali mimpi buruk melihat mayat Katherine di peti, hangus terbakar… “, Cie Stefanny menggigit bibir.

“Cie… udah jangan teruskan…”, kataku ngeri sambil memeluk Cie Stefanny, tak ingin mendengar detail cerita .

Lagi lagi masa lalu yg menyedihkan. saya sedikit merasa bersalah pada Cie Stefanny serta saya menunduk entah harus berkata apa ketika saya melepaskan pelukanku.

“Sayang, sorry ya Cie Cie tadi terlanjur cerita…”, kata Cie Stefanny.

“Nggak Cie, Eliza yg salah, harusnya Eliza nggak tanya tanya soal foto ”, saya masih menyesal mengapa saya harus menanyakan foto foto yg ada di dompet Cie Stefanny .

“Ya, abisnya sama kamu … mana bisa Cie Cie nggak cerita…”, kata Cie Stefanny yg tiba tiba meraih tubuhku dalam pelukannya serta memagut bibirku sejadi jadinya.

“Mmmhh…”, saya agak terkejut walaupun saya langsung pasrah bahkan langsung membalas pagutan Cie Stefanny ini, lagi lagi kita berdua berciuman dgn panas sampai sama sama kehabisan nafas.

“Cie…”, saya merintih manja serta menaruh kepalaku di pundak Cie Stefanny, saya tersenyum senang ketika kurasakan belaian tangan Cie Stefanny pada rambutku.

“Udah deh… yuk kita tidur… besok kamu ulangan lho sayang…”, bisik Cie Stefanny lagi.

Bibir yg mungil kukecup mesra. Weker kusetel jam setengah enam pagi, lalu saya berdiri serta mematikan lampu kamar. dgn cepat saya menarik Cie Stefanny hingga kita sama sama terbaring di ranjang. Remote AC kupencet supaya AC kamarku kembali menyala, lalu bed cover ini kutarik menutupi kedua tubuh kita yg polos ini. Di dalam selimut, saya memeluk tubuh Cie Stefanny, menyusupkan kepalaku ke pundaknya.

Rasanya nyaman sekali, apalagi ketika kurasakan tangan Cie Stefanny melingkar serta memeluk tubuhku.

“Cie… Eliza ngantuk…”, kataku sambil bermanja manja di pelukan Cie Stefanny.

“Cie Cie juga sayang…”, jawab Cie Stefanny sambil membelai rambutku.

saya memejamkan mata, menikmati pelukan Cie Stefanny yg mulai bercerita kalau tadi siang Cie Stefanny sempat disergap Wawan serta Suwito di ranjang ini, lalu dipermainkan mereka sampai lemas.

“Cie Cie tadi sudah hampir diperkosa mereka… untung kamu cepat datang sayang…”, kata Cie Stefanny sambil mencium keningku mesra.

“Eliza sih… nyaris tiap hari diperkosa mereka Cie…”, saya menjawab dgn sangat mengantuk.

“Kamu nggak ngelawan sayang?”, tanya Cie Stefanny.

“Mmm…”, saya hanya menggelengkan kepala.

“Kok nggak?”, Tanya Cie Stefanny mempererat pelukannya padaku.

“Nggak tau Cie, abisnya punya Wawan … enak…”, saya menjawab walaupun sudah hampir tertidur.

“Kalau sama mereka Cie Cie nggak tau, takut deh. Tapi kalau sama kamu tadi, mm… kalau saja tadi ada yg merekam waktu Cie Cie bercinta…”, kata kata Cie Stefanny sudah tak bisa kudengar lagi krn saya sudah tertidur pulas, dalam pelukan Cie Stefanny.

-x-

XI. Penderitaanku Di Sekolah
Nafasku masih tersengal sengal ketika tinggal saya sendiri yg masih berada di kamar ganti. Bagaimana tidak capek, tenaga masih belum benar benar pulih akibat perkosaan demi perkosaan yg kualami kemarin, ditambah semalaman saya bermesraan dgn Cie Stefanny, tadi saya serta semua teman teman harus berlari keliling lapangan berkali kali krn guru olahraga kita marah serta memberi kita hukuman.

Teringat tentang Cie Stefanny, saya jadi senyum senyum sendiri, setelah selesai berganti pakaian, saya keluar dari kamar ganti ini. Aula tempat kita berolahraga ini sudah kosong sama sekali, saya melangkah menuju pintu aula ini.

Tapi sesaat kemudian saya berhenti melangkah, saya tertegun melihat sosok lelaki yg berdiri di depan pintu aula. kan… Andi?

Jantungku berdegup kencang, ketika saya melihat Andi melangkah mendekatiku. Oh, apa yg akan dia lakukan di sini? Benarkah ini Andi yg sampai mencariku ke sini? saya diam mematung, menundukkan kepala tak tahu harus berbuat apa, di antara rasa tegang serta senang, tapi juga bercampur malu.

“Hai, Eliza”, Andi menyapaku.

“H… Hai juga Andi…”, saya membalas sapaan Andi.

“saya tadi diberitahu Jenny, kamu masih di sini”, kata Andi.

“Kamu… cari saya?”, saya bertanya dgn hati yg berbunga bunga.

“Iya”, kata Andi sambil memegang kedua lenganku, membuatku terkejut sekali.

Jantungku terus berdebar dgn hati yg berharap harap cemas. Apa yg ingin Andi katakan padaku di saat hanya ada kita berdua dalam aula ini? Apakah seperti biasanya, Andi hanya ingin meminjam buku catatan pelajaranku? Atau Andi akan menyatakan cintanya padaku? Atau apakah ada yg lain?

serta selagi saya masih bertanya tanya dalam hati, tiba tiba Andi mendorongku masuk kembali ke kamar ganti, setelah kita sama sama berada di dalam, pintu kamar ganti ini dikuncinya dgn cepat.

“Andi?”, tanyaku tak percaya.

“Eliza… sudah lama saya menginginkan kamu”, kata Andi dgn suara berat serta ia memandangku dgn penuh gairah, tapi anehnya saya merasakan pandangan juga sedikit merendahkan diriku.

Berikutnya ia sudah menubrukku, memeluk tubuhku serta menciumi wajahku. saya meronta dgn perasaan kecewa. Ternyata Andi tidak berbeda dgn mereka, mereka yg cuma menginginkan tubuhku saja. saya mulai menangis, rasanya sudah tak ada lagi harga diri yg tersisa dariku. Apakah saya memang dilahirkan hanya untuk memuaskan nafsu para lelaki bejat?

“Eliza… kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak tahu bagaimana perasaanku padamu?”, ejek Andi.

saya membuang muka. Tiba tiba saja saya merasa muak serta marah, saya kembali meronta serta berusaha mendorong Andi yg masih mendekap tubuhku. Tapi tenaga Andi terlalu kuat bagiku, tak ada perlawanan yg berarti dariku ketika Andi melucuti baju seragam sekolahku, lagipula tiba tiba saja saya jadi takut kalau kalau Andi mendadak jadi kalap serta merobek bajuku ini.

“Ya Tuhan… kulitmu putih sekali Eliza… sudah lama saya ingin melihat tubuhmu, cantik”, kata Andi yg kini matanya seperti melotot hendak keluar memandangi toket ku yg masih terlindung bra ini.

“Andi… kamu gila… kenapa kamu jadi seperti ini…”, saya kembali mencoba meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan Andi yg sudah seperti kerasukan setan ini.

“Kenapa Eliza… kamu nggak mau bersenang senang denganku? Tapi kamu cuma mau bersenang senang dgn tukang tambal? dgn tukang becak?”, kata kata Andi ini membuatku merasa seperti disambar petir.

“Nggak usah pucat begitu, Eliza. saya tahu semuanya, kamu ini sebenarnya cewek bispak. Sudah banyak laki laki di sekolah ini yg mencicipi tubuhmu, termasuk kemarin Dedi serta Pandu. Waktu istirahat pertama tadi, mereka tadi sudah cerita ke semua orang yg ada di warung depan sekolah, tentang servis oralmu yg luar biasa, juga memekmu yg masih seret walaupun sudah nggak perawan lagi”, kata Andi dgn senyuman yg penuh ejekan.

“Ohh…”, saya mengeluh lemas, air mataku mengalir membasahi kedua pipiku serta saya sudah sama sekali tak berniat untuk meronta ataupun berteriak.

“Jadi, sekarang saya ingin coba servismu, perek… sebelum saya nggak kebagian”, kata Andi sambil melorotkan celananya.

Hatiku benar benar hancur mendengar perkataan Andi, rasa ngeri menyelimuti hatiku. Apa berarti satu sekolah ini sudah tahu kalau saya ini sudah bukan perawan lagi?

Entah apa yg harus kulakukan, entah apa yg terjadi kalau berita ini sampai ke telinga papa serta mamaku. Kini saya hanya menangis pasrah ketika Andi menaikkan ujung bawah rok seragam sekolahku ini sampai ke pinggangku.

Celana dalamku dgn cepat ditarik lepas ke bawah oleh Andi, tanpa melepaskan sepatuku, Andi menaikkan kedua kakiku ke pundaknya, lalu mulai mengarahkan kontol nya untuk membelah liang memek ku.

“Aduh… sakit Ndi…”, saya mengeluh ketika Andi menjejalkan kontol nya begitu saja ke dalam liang memek ku tanpa perasaan.

“Augh… benar benar sempit… persis seperti kata Dedi serta Pandu…”, Andi meracau tak karuan sambil mulai memompa liang memek ku.

saya menggeliat kesakitan, liang memek ku pedih sekali, rasanya seperti diterjang besi panas. kontol Andi ternyata cukup besar, cukup untuk menyakiti liang memek ku krn belum ada cairan pelumas sama sekali di dalam sana.

“Ndi… sakit…”, saya kembali memohon dgn memelas.

“Sudah diam perek, nanti juga enak”, Andi membentakku.

Kata kata yg baru saja keluar dari mulut Andi sangat melukai perasaanku. setelah berkata begitu, Andi langsung meremasi kedua toket ku dgn kasar, sampai bra yg kukenakan ini tertarik ke atas serta memperlihatkan puting toket ku. Sementara sodokan kontol nya Andi semakin menyiksaku. Entah sebesar apa kontol nya Andi ini, tapi sekarang ini liang memek ku rasanya seperti dirobek robek, rintihan kesakitan dariku sama sekali tak diperdulikan oleh Andi.

Hatiku benar benar sakit. Laki laki yg selama ini kuidam idamkan dalam hati, ternyata bejat tak bermoral, juga tega memperlakukan diriku dgn kejam seperti ini. Sakit di hatiku akibat penghinaan serta pelecehan yg dilakukan Andi jauh lebih besar dari rasa sakit yg mendera liang memek ku sekarang ini. Kini saya hanya memejamkan mata sambil menangis sedih, menanti selesainya pemerkosaan terhadap diriku.

“Mmph…”, sayup sayup saya mendengar rintihan wanita.

saya sangat mengenal suara rintihan . adalah suara rintihan Cie Stefanny!

Tentu saja hal ini membuatku bertanya tanya krn tadi hanya tinggal saya sendiri yg berada di dalam ruang ganti ini, kini seharusnya hanya saya serta Andi yg berada di dalam sini. lagi bagaimana Cie Stefanny bisa berada di sekolahku? saya membuka mata, tapi sinar lampu yg amat terang memaksaku kembali memejamkan mata serta membuka mataku dgn perlahan. Selagi saya masih berusaha beradaptasi dgn sinar lampu ini, Andi menghentikan entot annya pada liang memek ku.

-x-

XII. Terbangun Dari Mimpi Buruk
“Non, kok menangis?”, saya merasa terkejut, yg barusan bertanya ini jelas bukan suara Andi.

Apakah benar benar ada orang lain di ruangan ini? saya segera membuka mataku kembali, yg pertama kulihat adalah langit langit… kamarku sendiri!?

saya mengarahkan pandanganku ke depan, ternyata Suwito yg berada di depanku, dekat sekali, dgn kedua betisku yg tertumpang di pundaknya. Lalu di mana Andi? Kulihat jam digital di meja belajarku, ternyata sekarang ini hari Jumat jam 12:15… pagi!? Harusnya begitu, krn kalau ini siang serta masih jam segitu, saya pasti belum pulang dari sekolah.

Tapi tetap saja saya ragu. Siapa tahu saya pulang lebih awal? serta semua tadi adalah nyata?

Walaupun mataku memang basah oleh air mata, sesaat kemudian saya mulai berharap tadi semuanya hanyalah mimpi.

“Suwito… ini masih pagi kan?”, saya bertanya penuh harap.

“Masih tengah malam non”, jawab Suwito, yg terlihat heran dgn pertanyaanku.

Tapi jawaban Suwito yg belum jelas ini membuatku kembali kuatir. saya sendiri merenung sejenak, mencoba memahami keadaanku. Tubuhku yg telanjang bulat tanpa sehelai kainpun yg melekat, terduduk di kursi meja belajarku. Suwito sendiri seperti duduk di depanku, membuatku cukup tertarik untuk memperhatikan bagaimana ia melakukannya.

Ternyata ia memang sedang duduk di atas kursi satunya dari meja belajarku, yg ditaruhnya berhadapan dgn kursi yg kududuki ini. dgn kontol nya yg menancap dalam liang memek ku tentunya, yg kini denyutan denyutan kontol sedikit banyak membuatku jadi terangsang juga.

“Cie Stefanny…”, saya langsung teringat, dgn jantung berdegup kencang, berharap Cie Stefanny masih ada di sini, krn adalah hal yg paling bisa meyakinkanku kalau semua kejadian bersama Andi yg tadi hanyalah mimpi buruk.

“Guru lesnya non? Tuh, Wawan yg dapat bagian”, jawab Suwito sambil cengengesan.

saya segera menoleh ke sana kemari tanpa memperdulikan tawa Suwito yg kurang ajar ini, saya segera menemukan Cie Stefanny, sedang tergolek di ranjangku, dgn kedua tangannya yg terentang pasrah terikat pada kedua ujung ranjangku. Tubuhnya telanjang bulat sama sepertiku, kulitnya yg putih mulus jadi terlihat begitu putihnya dgn adanya tubuh Wawan yg kini sedang menindih serta mencumbui guru lesku ini.

Sesekali saya melihat Cie Stefanny meronta, tapi dgn kedua tangannya yg terentang serta terikat erat pada sudut sudut ranjangku, tak banyak yg bisa dilakukan oleh Cie Stefanny selain sesekali mengejang menerima rangsangan demi rangsangan yg diberikan oleh Wawan.

“Mmphh…”, kembali kudengar Cie Stefanny merintih.

Melihat Cie Stefanny masih di sini, saya sudah yakin kalau semua kekejaman Andi tadi hanyalah mimpi buruk. Oh Tuhan, entah bagaimana nasibku kalau mimpi tadi adalah kenyataan, kini saya menangis sejadi jadinya meluapkan kelegaanku.

“Non… maaf membuat non marah”, kata Suwito dgn panik sambil menjauhkan dirinya dariku hingga kontol nya terlepas dari jepitan liang memek ku.

Ingin sekali saya menahan Suwito, saya tak ingin kontol terlepas meninggalkan liang memek ku. Tapi sekarang ini saya memikirkan Cie Stefanny, maka saya harus menahan gairahku sendiri serta memastikan Cie Stefanny baik baik saja.

saya melihat Wawan sudah berhenti bergerak serta memandangku dgn tegang, kelihatannya ia juga kuatir melihatku menangis. Tepat ketika saya mulai memikirkan bagaimana mereka berdua ini bisa masuk ke kamarku, krn saya sangat yakin tadi saya sudah mengunci pintu kamarku, tiba tiba sesosok tubuh muncul dari jendela kamarku, setelah bunyi klik yg menandakan tertutupnya jendelaku, sosok mendorong serta menerobos gorden di kamarku yg menutup kaca jendela .

Ternyata sosok adalah pak Arifin!

saya menyesali kebodohanku yg tadi tidak memeriksa kunci jendela kamarku. saya memang hampir tak pernah membuka jendela kamarku hingga sama sekali tak terlintas di pikiranku untuk memeriksanya, selain jendela kamarku memang biasanya selalu terkunci. Siapa yg akan menyangka hal seperti ini akan terjadi?

“Wah bener Wan, cantik sekali, nggak kalah sama non Eliza”, seru pak Arifin mengagumi kecantikan Cie Stefanny.

serta saya makin kesal krn pak Arifin yg baru datang tanpa sungkan langsung naik ke ranjangku lalu ikut mengeroyok Cie Stefanny yg terus merintih tertahan. Tapi kemudian ia segera berhenti krn ditahan oleh Wawan.

“Kalian semua sudah gila ya?”, saya mendesis ngeri di sela isak tangisku.

Tak pernah saya berpikir mereka bertiga akan senekat ini, memasuki kamarku di tengah malam lewat jendela untuk memperkosaku, apalagi kini ada Cie Stefanny yg harus ikut menemaniku jadi bulan bulanan para pembantu serta sopir keluargaku ini.

saya berdiri serta berjalan mendekati Cie Stefanny. Kulihat mulut Cie Stefanny disumpal dgn segumpal kain, yg ketika kutarik ternyata adalah celana dalamku. Benar benar kurang ajar mereka ini, saya merasa sangat marah melihat hal ini.

“Aahh…”, keluh Cie Stefanny ketika mulutnya terlepas dari sumpalan ini.

saya cepat melepaskan semua ikatan pada kedua pergelangan tangan Cie Stefanny yg ternyata juga sedang menangis.

“Sorry Cie…”, saya tak tahu harus berkata apa selain mencoba menenangkan Cie Stefanny dgn memeluknya.

“Nggak sayang… Cie Cie nggak apa apa”, Cie Stefanny memelukku, tanpa kuduga sama sekali bibirku langsung dipagut Cie Stefanny dgn penuh gairah.

“Mmhhh…”, saya merintih mesra serta membalas pagutan Cie Stefanny dgn penuh gairah.

saya membayangkan, tiga orang lelaki di kamarku ini pasti terbengong bengong melihat dua bidadari di depan mereka ini saling berpagut mesra seperti ini.

Diam diam saya tertawa geli dalam hati, saya malah sengaja memamerkan kemesraanku dgn Cie Stefanny, walaupun saya sadar hal ini berarti kita berdua secara tidak langsung memberikan lampu hijau pada pak Arifin, Wawan serta Suwito untuk menikmati tubuh kita sepuas puasnya.

-x-

XIII. Live Show
Cukup lama saya serta Cie Stefanny berciuman serta bercumbu dgn mesra, ketika kurasakan dua tangan yg menyusup dari belakang tubuhku, mencari serta menggerayangi kedua toket ku. Hal ini membuat gairahku yg sudah terbakar krn saling berpagut dgn Cie Stefanny ini makin menjadi jadi.

“Non Eliza… bikin takut saja pakai nangis segala”, kata Wawan gemas serta meremas kedua toket ku dgn keras.

“Mmh… aah…”, saya merintih serta menggeliat kesakitan hingga pagutanku pada bibir Cie Stefanny terlepas.

“Eliza…”, Cie Stefanny merengek serta menatapku memelas ketika pak Arifin memeluknya dari belakang serta meremasi kedua toket nya.

“Udah non, sama saya saja”, kata pak Arifin sambil meremasi kedua toket Cie Stefanny yg hanya bisa merintih rintih.

Berikutnya, Cie Stefanny hanya pasrah ketika wajahnya dicumbui pak Arifin. Adegan sensual di depanku ini benar benar membuatku terbakar birahi, apalagi toket ku sendiri terus diremasi oleh Wawan. tiba tiba saya melihat Suwito yg kini sudah ada di samping kananku, memandangku dgn gemas, membuat jantungku berdegup kencang.

“Su… Suwito… mau apa kamu mmpph…”, kata kataku terputus ketika Suwito memagut bibirku dgn ganas.

Seperti biasa, Wawan serta Suwito dgn mudah membuatku tenggelam dalam lautan birahi. saya hanya bisa menggeliat pasrah dalam pelukan mereka berdua, menikmati pagutan gemas Suwito pada bibirku, juga semua cumbuan serta rangsangan oleh Wawan yg memeluk tubuhku dari belakang.

Sesekali kudengar rintihan pasrah dari Cie Stefanny yg digumuli oleh pak Arifin, sementara dengusan nafas pak Arifin yg sudah begitu bernafsu terdengar dgn jelas. saya makin terangsang membayangkan Cie Stefanny diperkosa oleh sopirku yg keranjingan ini.

“Ngghh…”, saya melenguh pelan ketika Suwito yg baru saja melepaskan pagutannya pada bibirku, kini sudah kembali memaksa memasukkan kontol nya ke dalam liang memek ku.

Entah apa yg membuatku berpikir seperti ini, tapi tiba tiba saja saya ingin Cie Stefanny menikmati keperkasaan Wawan yg kontol nya amat keras serta selama ini memang Wawan yg paling mampu berlama lama mempermainkan liang memek ku. Bukan hanya , kini saya bahkan ingin melihat Cie Stefanny dipuaskan oleh mereka bertiga sekaligus, seperti yg biasa dilakukan oleh mereka lakukan bertiga ini padaku.

“Cie…”, saya memanggil Cie Stefanny di antara deru nafasku.

“Iyah… sayaang…”, Cie Stefanny menjawab di sela rintihannya.

“Cie Cie… mau nggak… kalau sama Wawan… ngghh…”, saya kembali melenguh ketika Suwito menusukkan kontol nya begitu dalam pada liang memek ku.

“Mmpph…”, Cie Stefanny hanya merintih tertahan, mungkin krn bibirnya sudah dipagut lagi oleh pak Arifin, saya tak bisa melihat krn saya sendiri sedang digumuli oleh Wawan serta Suwito.

“Wan… kamu sama Cie Cie aja…”, saya berkata sambil memejamkan mata menikmati entot an Suwito.

Tanpa menjawab, Wawan melepaskan pelukannya pada tubuhku hingga kini saya terbaring di ranjang. Suwito tampaknya mengerti keinginanku, ia menggeser posisi persetubuhan kita hingga saya bisa melihat ke arah Cie Stefanny yg sedang pasrah dipagut oleh pak Arifin. Kedua tangannya lunglai tanpa daya, benar benar sebuah pemandangan yg amat erotis.

Kini Wawan sudah berada di depan selangkangan Cie Stefanny. Wawan segera melebarkan kedua paha Cie Stefanny, bersiap untuk menusukkan senjatanya yg perkasa . saya terus berusaha melihat ke arah mereka bertiga. Tapi Cie Stefanny yg sadar dgn keberadaan Wawan mencoba merapatkan kedua pahanya, tampaknya ia masih ragu untuk menerima hunjaman kontol lelaki pada liang memek nya.

Tiba tiba saya terkejut ketika memikirkan satu hal.

“Suwito… berhenti…”, saya beranjak duduk serta mendorong tubuh Suwito hingga kontol nya terlepas dari jepitan liang memek ku.

“Lho… kenapa lagi non…”, Suwito penasaran serta mencoba memeluk tubuhku, tapi saya menahannya.

“Sebentar Suwitoo… nggak sabaran amat sih…”, saya mengomel serta menjauhkan diri dari Suwito yg masih menatapku dgn penuh nafsu.

saya tak perduli serta segera merangkak mendekati Cie Stefanny, memaksa pak Arifin menghentikan pagutannya pada Cie Stefanny yg sudah hampir kehabisan nafas . Lalu saya memeluk Cie Stefanny serta menyusupkan kepalaku ke pundak kirinya.

“Cie… lagi subur nggak…”, saya berbisik di telinga Cie Stefanny yg terlihat sekali kalau sedang terangsang hebat ini.

Cie Stefanny menatapku dgn pandangan memelas serta ia menggeleng tanpa menjawab.

“Cie Cie mau nggak diperkosa mereka?”, tanyaku lagi dgn masih berbisik, sekali ini sambil menatap mata Cie Stefanny dgn nakal.

“Nggak mau…”, rintih Cie Stefanny dgn memelas. (kisah b b)

“Mmm… ya udah, Cie Cie lihat Eliza aja ya…”, kataku sambil menjauh dari Cie Stefanny.

saya tahu Cie Stefanny hanya belum biasa, kalau saya bisa membangkitkan gairahnya, bukan tidak mungkin kalau akhirnya malah Cie Stefanny yg menginginkannya. Maka kini saya akan mencoba menggoda iman Cie Stefanny, dgn melakukan live show di depan Cie Stefanny.

“Kalian bisa ngeseks denganku, tapi jangan sentuh Cie Stefanny. Mengerti?”, saya berkata serius pada pak Arifin, Wawan serta Suwito.

“Siap bos”, jawab mereka serempak.

Sebenarnya saya ingin bercinta dgn Wawan, tapi tadi yg terakhir mendapatkan jatah liang memek ku adalah Suwito serta ia belum tuntas menikmati tubuhku. saya tak ingin mengecewakan Suwito, maka Suwito kusuruh tiduran di atas ranjangku, lalu saya menaiki tubuhnya untuk menunggangi kontol nya yg sudah ereksi serta amat tegang .

Selain kalau saya harus memberikan liang memek ku pada Wawan, saya takut kalau saya harus orgasme berkali kali, sedangkan tubuhku sebenarnya baru mendapatkan sedikit istirahat, yg pasti belum cukup kalau saya harus ngeseks sepuas puasnya dgn Wawan.

serta saya memang hanya ingin memberikan servis oral saja kepada Wawan, hingga nanti Wawan akan membantai Cie Stefanny dgn ganas krn nafsunya yg memuncak akibat spermanya yg harusnya tak mungkin keluar hanya krn kuoral saja.

saya menunduk serta memegang kontol Suwito, lalu saya memasangkan bibir memek ku ke kepala kontol Suwito. Tubuhku kuturunkan ke bawah hingga liang memek ku menelan kontol Suwito yg langsung saja merem melek keenakan. saya terus menekan pinggulku ke bawah sambil memandang sayu ke arah Cie Stefanny.

Cie Stefanny menggigit bibirnya serta menatapku antara malu serta bergairah, lalu ia kembali melihat ke arah selangkanganku. saya menahan gerakan pinggulku, malah menarik sedikit ke atas, lalu kuturunkan lagi perlahan hingga kontol Suwito akhirnya amblas sepenuhnya tertelan liang memek ku.

“Aakkh… enaknya noon…”, Suwito meracau tak karuan

Suwito sudah tak tahan lagi untuk memulai menikmati tubuhku. dgn sekali sentakan oleh Suwito, saya langsung memejamkan mata sambil menggigit bibir menahan nikmat. Liang memek ku mulai dipompa dgn kencang oleh Suwito, membuatku mulai lemas diamuk gairah. Namun saya masih harus melanjutkan rencanaku, saya menatap ke arah pak Arifin.

“Pak, sini… ke depan Eliza…”, kataku pelan.

Liang memek ku yg dipompa Suwito sudah mulai terasa ngilu ngilu enak. saya merintih pelan serta sedikit menggeliat, lalu dgn gerakan yg sengaja kubuat erotis, saya melucuti sabuk yg dikenakan pak Arifin, yg sudah berdiri di depanku. Sesekali saya melirik ke arah Cie Stefanny yg sepertinya makin gugup melihatku bertingkah seperti pelacur saja.

Dalam keadaan terangsang krn liang memek ku terus dipompa dari bawah oleh Suwito, saya melepaskan kancing celana panjang pak Arifin serta menurunkan resletingnya. saya melorotkan celana panjang ke bawah sambil menatap pak Arifin dgn nakal.

“Ngghh…”, saya melenguh pelan menikmati sodokan kontol Suwito yg makin gencar.

Tubuhku bergetar menahan nikmat, saya mati matian berusaha menguasai diri. Lalu saya membelai senjata pak Arifin yg masih terbungkus celana dalamnya hingga pemiliknya mengerang menikmati kenakalanku. Masih dgn perlahan serta dgn gerakan erotis yg pasti sangat menggoda iman sopir keluargaku ini, saya melorotkan celana dalam hingga kontol yg panjang serta besar langsung mengacung ke arahku.

“Pak, tadi katanya… kangen sama Eliza… Sekarang kok diam aja…”, desahku pelan sambil terus menggoda kontol pak Arifin.

saya jadi ingin tertawa geli melihat pak Arifin yg menatapku sambil melongo. saya mengulum kontol pak Arifin sambil menatap Cie Stefanny yg langsung menunduk malu, tapi sesekali Cie Stefanny menatapku sekilas.

Kira kira semenit saya mengoral kontol pak Arifin bahkan beberapa kali kupaksa masuk ke dalam liang tenggorokanku, sampai saya menganggap kontol cukup basah oleh air ludahku. saya melepaskan kontol dari mulutku, lalu saya menatap Suwito yg sama sekali tak menurunkan tempo entot annya pada liang memek ku. Sambil sedikit membungkuk saya menahan tubuhku dgn kedua tanganku yg kutekankan di ranjang.

“Pak… Arifin… ngghh… masukin… punya pak Arifin… juga… di belakang…”, kataku di antara lenguhanku ketika saya sudah tak mampu lagi menahan nikmat yg diberikan Suwito pada liang memek ku ini.

“Beneran nih non? Sudah lama bapak ingin menikmati lubang non yg belakang ini”, kata pak Arifin antusias.

“Eliza… kamu…”, desis Cie Stefanny yg kembali menggigit bibirnya.

Kini tubuhku sudah kurebahkan hingga dadaku menempel pada dada Suwito, sambil terus menatap Cie Stefanny dgn sayu, menunggu datangnya siksaan dari kontol pak Arifin pada liang anusku. Sebenarnya saya tak suka jika anusku dibobol, tapi demi membangkitkan gairah Cie Stefanny, saya merelakan kedua liang di selangkanganku ini dihajar ramai ramai oleh pak Arifin serta Suwito.

“Angghhk…”, saya melenguh kesakitan ketika kontol pak Arifin mulai membobol liang anusku.

“Elizaa… kamu nggak apa apa sayang?”, tanya Cie Stefanny.

“Nggak… apa apa… Ciee… ngghh…”, jawabanku terputus ketika saya harus melenguh serta hampir mengejan krn kontol pak Arifin yg panjang serta cukup keras terus melesak masuk memenuhi liang anusku.

Kini dua kontol sudah menancap erat di dalam kedua liang di selangkanganku yg terasa penuh. saya menguatkan diri serta dgn kedua tanganku yg kutekankan di ranjang, bagian depan tubuhku kuangkat sedikit. saya menatap Wawan sambil menggigit bibir.

“Wan… ayo saya emut… punya kamu…”, saya bahkan hampir tak bisa mempercayai kata kataku yg mungkin tak beda dgn rayuan pelacur rendahan, entahlah mungkin krn saya sudah diamuk gairah membayangkan saya akan dikeroyok habis habisan oleh mereka bertiga di depan Cie Stefanny.

“Weleh weleh, tumben tumbennya non yg minta satu lawan tiga. Ya sudah, emut non”, kata Wawan yg langsung berlutut menyodorkan kontol nya ke hadapan mulutku.

saya menatap Cie Stefanny sejenak, lalu saya segera menghisap kontol Wawan. mereka bertiga mulai menggerak gerakkan tubuh mereka, menyiksa serta menggelamkanku dalam kenikmatan yg luar biasa.

Setiap Suwito menekankan kontol nya ke dalam liang memek ku, kontol pak Arifin sedikit tertarik keluar dari liang anusku. Bersamaan dgn Wawan dgn kejam menjejalkan kontol nya hingga terus melesak masuk ke dalam kerongkonganku.

serta berikutnya ketika Suwito sedikit menarik keluar kontol nya dari liang memek ku, ganti kontol pak Arifin yg melesak masuk ke dalam liang anusku, membuat perutku terasa mulas serta saya harus menahan diriku supaya tidak mengejan. Wawan sendiri juga menarik kontol nya sampai keluar seluruhnya dari tenggorokanku, tapi kepala kontol hingga setengah batang kontol Wawan masih ada di dalam jepitan mulutku yg mungil ini.

“Mmpph…”, saya merintih antara kesakitan serta keenakan.

“Oooghh… punya non ini seretnya minta ampun…”, racau pak Arifin sambil meremasi kedua pantatku.

“Enak noon…”, erang Suwito yg kini menambah siksaan kenikmatan pada tubuhku dgn mulai meremasi kedua toket ku yg tergantung di depan wajahnya.

saya sendiri tak bisa menjawab apapun krn mulutku tersumpal kontol Wawan yg tak berkata apa apa serta terus menikmati servis deep throat dariku.

Mereka bertiga terus mengaduk aduk ketiga liang kenikmatanku, saya sendiri berusaha untuk menikmati semua rangsangan yg kuterima, terutama untuk melenyapkan rasa sakit yg mendera liang anusku. Kenikmatan sekaligus rasa sakit yg mendera tubuhku membuat rintihanku mulai berubah menjadi erangan tertahan, tubuhku mulai gemetar serta pandangan matakuku cepat sekali sudah kabur serta berkunang kunang.

saya sempat berpikir, keadanku yg lebih lemah dari biasanya ini mungkin krn staminaku yg sudah habis. saya masih ingat bagaimana kemarin seharian saya harus ngeseks berkali kali mulai dari berlesbian ria di toilet sekolah dgn Jenny, lalu digangbang di ruang guru oleh pak Edy, Pandu serta Dedi, lalu dibantai lagi oleh Dedi, tukang tambal ban serta 5 tukang becak siang kemarin. sorenya saya masih sempat sempatnya berlesbian ria dgn Cie Stefanny, bahkan keterusan sampai malam.

Semua diperparah dgn tidurku yg hanya dua jam serta sekarang saya harus ngeseks lagi dgn ketiga lelaki yg sekarang ini menikmati tubuhku. Memikirkan semua malah membuatku makin bergairah, di tengah jepitan tubuh ketiga orang lelaki ini saya orgasme tanpa bisa kutahan lagi.

“Mmpphh… mmmmhhh…”, saya merintih panjang tanpa daya menikmati orgasmeku.

“Ohh… kalian jangan siksa Eliza seperti ini…”, keluh Cie Stefanny yg memandangku dgn iba.

“Mpphh… mmhhh… enggak apa apa… enak kok Ciee… ngghhh”, saya sempat melepaskan mulutku dari jejalan kontol Wawan, tapi kata kataku kembali terputus krn saya harus melenguh keenakan, sesaat kemudian saya kembali harus mengulum serta menelan kontol Wawan di dalam tenggorokanku.

“Sayang…”, desah Cie Stefanny.

Cie Stefanny kini mendekatiku serta berlutut di sebelah kiriku. Ia menyibakkan serta membelai rambutku yg terjuntai ke bawah serta sedikit menutupi wajahku. saya menatap senang ke arah Cie Stefanny. saya memang suka kalau rambutku dibelai, apalagi yg membelai ini Cie Stefanny. Kutekankan tangan kananku kuat kuat ke ranjang, tangan kiriku kuangkat untuk kutempelkan di toket Cie Stefanny yg hanya menatapku sambil tersenyum malu.

“Mmmhh…”, Cie Stefanny merintih ketika saya meremasi kedua toket nya bergantian dgn tangan kiriku.

“Yah… enaaak noooon…”, kudengar pak Arifin melolong serta kontol nya yg sejak tadi menghajar liang anusku berkedut kedut.

Siraman cairan sperma yg hangat dari kontol pak Arifin seperti meredakan rasa nyeri serta sakit pada liang anusku. setelah kontol tertarik lepas, saya sedikit merasa lega. Paling tidak saya tak lagi harus menahan keinginanku untuk mengejan, rasa mulas pada perutku juga mereda. Kini saya tinggal menunggu Suwito berejakulasi, yg kalau kulihat dari wajahnya yg mengernyit keenakan tampaknya sebentar lagi ia juga sudah akan mencapai puncaknya.

“Non Elizaa…”, erang Suwito panjang ketika tubuhnya yg ada di bawahku ini berkelojotan serta bergetar hebat.

Kurasakan semprotan sperma yg kencang dari kontol Suwito yg masih bersemayam di dalam liang memek ku. Rasanya hangat serta saya gemetar menahan nikmat, hampir saja saya dibuat orgasme lagi oleh Suwito.

serta krn mulai kehabisan nafas, saya mendorong tubuh Wawan hingga kontol Wawan yg masih mengaduk liang tenggorokanku ini terlepas dari mulutku.

“Akh…”, saya memejamkan mata serta menarik nafas panjang sepuas puasnya hingga dadaku terasa lega.

Belum lagi saya membuka mata, tiba tiba kurasakan bibirku sudah terpagut, tanpa membuka mata saya sudah tahu bibir mungil yg memagut bibirku ini adalah milik Cie Stefanny. saya memeluk Cie Stefanny serta balas memagutnya, kita sampai bergulingan di atas ranjang hingga kontol Suwito juga terlepas dari liang memek ku. Kini Cie Stefanny yg menindihku, saya sampai menelan semua air ludah yg keluar dari mulut Cie Stefanny, saya benar benar menyukai rasa air ludah Cie Stefanny.

“Wooo…”, sorakan sopir serta kedua pembantuku mengiringi pergumulanku dgn Cie Stefanny.

Setelah puas saling berpagutan, kita berdua saling pandang dgn mesra. Cie Stefanny kembali menyibakkan rambutku yg kusut serta sedikit basah oleh keringatku, lalu ia mengecup kedua mataku dgn lembut. saya memejamkan mata menikmati cumbuan mesra Cie Stefanny.

-x-

XIV. Pesta Seks Di Tengah Malam
“Cie, Eliza ke kamar mandi dulu ya, mau bersihin ini”, kataku sambil menunjukkan tanganku ke arah selangkanganku.

Cie Stefanny mengangkat badannya yg menindih tubuhku sambil melihat arah tanganku. Lalu kita berdua sama sama berdiri. Sopir serta kedua pembantuku masih duduk di lantai kamarku, asyik memandangi kita berdua.

Tapi di luar dugaanku, tiba tiba Cie Stefanny berlutut serta melebarkan kedua pahaku, lalu liang memek ku yg masih belepotan sperma Suwito dicucupnya kuat kuat.

“Ngggh… Cieee…”, saya merintih keenakan.

“Woooww… isep… isep…”, kembali sopir serta kedua pembantuku bersorak menikmati tontonan adegan lesbian dari dua bidadari di hadapan mereka.

Cie Stefanny terus menghisap campuran sperma Suwito serta cairan cintaku dari liang memek ku. saya mulai menggeliat serta berkelojotan menahan nikmat. Setelah semuanya habis, Cie Stefanny malah memasukkan satu jari tangannya ke dalam liang memek ku, diikuti satu jarinya yg lain lagi.

“Ngghh… ampun Cieee…”, saya mengerang.

Tapi Cie Stefanny sudah terbakar nafsunya, ia mengaduk aduk liang memek ku dgn kedua jarinya hingga saya hanya bisa meracau keenakan. Gairahku yg belum turun sepenuhnya ini kembali meninggi dgn cepat, liang memek ku rasanya seperti akan meledak saja.

“Cieee… ooohhh… ngghhh…”, saya melenguh panjang mengiringi orgasme yg melandaku.

Cairan cintaku rasanya membanjir deras, gilanya Cie Stefanny lagi lagi mencucup liang memek ku. saya sudah dalam keadaan setengah sadar, tubuhku gemetar serta mengejang hebat. Seandainya sekarang ini saya terbaring di ranjang, kedua kakiku pasti melejang tak karuan. Tapi saya tak bisa melakukannya krn kedua kakiku masih harus kupijakkan kuat kuat untuk menopang tubuhku.

“Cieee… ampuuun…”, saya merintih serta memohon supaya Cie Stefanny menghentikan cucupannya pada liang memek ku, tapi Cie Stefanny baru mau berhenti setelah cairan cintaku habis dihisapnya.

saya terduduk lemas di lantai setelah bibir memek ku terlepas dari hisapan bibir Cie Stefanny. saya menatap Cie Stefanny dgn sayu serta mesra, kalau saja tenagaku belum habis seperti sekarang ini, mungkin saya sudah balik menerkam Cie Stefanny serta bercinta dengannya sepuas hatiku.

“Non, tadi gue belum keluar nih, ayo sekarang sama saya”, kata Wawan yg tiba tiba sudah berdiri di sampingku, lalu ia menggendongku serta membaringkan tubuhku ke ranjang.

“Wan… bentar lagi ya please… saya capek…”, saya memohon pada Wawan.

“Wah gak bisa non, tegangan tinggi nih punya gue”, kata Wawan yg sudah mengangkat kedua betisku serta ditumpangkan ke pundaknya.

“Tapi…”, saya mulai merengek ketika merasakan kontol Wawan yg sudah menempel di bibir memek ku.

“Nggghh…”, saya melenguh tanpa daya ketika Wawan mulai melesakkan kontol nya membelah liang memek ku.

saya hanya bisa pasrah menerima tusukan kontol Wawan pada liang memek ku, berharap semoga saya tak sampai berkali kali orgasme di tangan Wawan, bisa bisa saya pingsan lagi seperti siang kemarin.

“Em… Wan, kasihan Eliza… kamu sama saya aja”, kudengar suara Cie Stefanny yg terdengar sedikit bergetar.

“Makasih Cie…”, saya memandang Cie Stefanny mesra.

Wawan memandang ke arah Cie Stefanny yg menunduk malu, lalu Wawan kembali memandangku. saya mengangguk lemas, Wawan segera mencabut kontol nya dari jepitan liang memek ku. Cie Stefanny melangkah ragu ke arah kita, ketika tubuh Cie Stefanny sudah berada dalam jangkauan Wawan, Cie Stefanny ditarik oleh Wawan ke dalam pelukannya.

“Ooh…”, rintih Cie Stefanny.

saya bergeser ke kiri, memberikan ruang untuk Cie Stefanny yg kini dibaringkan di sampingku. Wawan yg sudah sangat bernafsu segera mengarahkan kontol nya ke bibir memek Cie Stefanny.

“Wan, jangan langsung main tembak gitu dong… sakit tau! Bikin basah dulu kek…”, omelku lemah.

“Siap bos!”, jawab Wawan.

Kini Wawan yg tak jadi melesakkan kontol nya ke dalam liang memek Cie Stefanny, mulai mencumbui Cie Stefanny yg pasrah saja. Rintihan memelas Cie Stefanny terus terdengar, mendadak Wawan protes ketika ia sudah akan mencumbui liang memek Cie Stefanny.

“Non, sudah basah abis gini, masa masih harus dibikin basah?”, tanya Wawan yg seolah meminta persetujuanku untuk segera mengentot Cie Stefanny.

“Oh…”, Cie Stefanny merintih malu.

“Ya kalau udah basah ya udah Wan”, kataku pelan sambil memandang Cie Stefanny serta tersenyum nakal.

Setelah saya merasa cukup mengumpulkan tenaga, saya segera bangkit meninggalkan ranjangku yg akan segera menjadi arena pertempuran Cie Stefanny melawan Wawan.

“Eliza… kamu kok ninggalin Cie Cie…”, rengek Cie Stefanny.

“Enggak Cie… Eliza cuma mau membersihkan ini kok”, kataku sambil menunjuk selangkanganku yg becek ini dari belakang pantatku.

Cie Stefanny memandangku seperti ingin minta tolong diselamatkan dari perkosaan yg akan menimpa dirinya. Tapi saya cuma tersenyum nakal serta kemudian saya masuk ke kamar mandi. Di dalam sana saya mencuci liang anusku yg basah oleh cairan sperma milik pak Arifin. saya memutuskan untuk mandi keramas sekalian, badanku rasanya lengket semua akibat keringatku sendiri yg juga bercampur keringat tiga maniak yg akan berpesta tubuh Cie Stefanny .

Tentu saja saya juga sekalian mencuci bersih liang memek ku dgn cairan pembersih memek ku. Meskipun tadi campuran cairan cairan di dalam sana sudah diseruput habis oleh Cie Stefanny, tetap saja rasanya masih ada yg tertinggal.

Selagi saya menghanduki tubuhku, saya tiba tiba teringat kata kata Cie Stefanny yg kudengar sebelum saya tertidur, yaitu ‘mm… kalau saja tadi ada yg merekam waktu Cie Cie bercinta…’

saya menggigit bibir sejenak, gairahku kembali meninggi. Setelah kuhanduki seluruh tubuhku hingga kering, saya keluar dari kamar mandi tanpa terbalut sehelai kainpun alias telanjang bulat.

saya melihat Cie Stefanny sudah takluk serta pasrah berada dalam gendongan Wawan yg berdiri di samping ranjangku. Wawan yg dgn perkasa menyetubuhi Cie Stefanny dalam gendonganya.

saya berjalan dalam keadaan telanjang bulat seperti ini, melewati pak Arifin serta Suwito yg saya yakini masih lemas setelah ngeseks denganku. Mereka memang tak berbuat apa apa, hanya memandangi tubuhku dgn penuh nafsu.

saya tak berniat memakai bra serta celana dalamku, takutnya mereka akan mengajakku ngeseks lagi, yg bisa membuat bra serta celana dalamku jadi lembab lagi oleh keringatku. saya hanya menyisir rapi rambutku di depan meja riasku. Setelah selesai merapikan rambutku, saya mencari handycam milik kokoku di lemari bawah meja belajarku.

Suara rintihan serta erangan Cie Stefanny yg dibantai oleh Wawan memenuhi kamarku. saya terus mencari handycam sambil menahan gairahku. Begitu kutemukan, saya langsung memeriksa apakah ada isi rekamannya atau tidak. Setelah kupastikan isinya kosong, saya mencoba merekam sembarangan selama kira kira dua puluh atau tiga puluh detik, lalu memutar hasilnya. Lalu rekaman kuhapus, saya sudah siap untuk merekam adegan panas yg dibintangi Cie Stefanny ini :p

“Eh… Elizaa… kamu kok mmpphh…”, protes Cie Stefanny terhenti krn ia kembali harus berpagut dgn Wawan.

“Kan Cie Cie tadi malam berharap ada yg merekam waktu Cie Cie bercinta…”, kataku menggoda Cie Stefanny.

“Mmpphh… tapi maksud Cie Cie… bercinta sama kamu…”, rengek Cie Stefanny yg kembali berhasil melepaskan bibirnya dari pagutan Wawan.

“Nggak apa apa Cie, sekarang ini Cie Cie keliatan sexy kok”, saya meleletkan lidah serta mulai merekam adegan panas di depanku ini.

“Oooh… ngghh…”, Cie Stefanny merintih serta melenguh ketika Wawan yg perkasa terus mengentot Cie Stefanny sambil berdiri, kini Cie Stefanny menyembunyikan wajahnya dari sorotan handycam di tanganku ini dgn cara menyusupkan wajahnya di pundak kanan Wawan.

“Wooo…”, sorakan pak Arifin serta Suwito seolah menyemangati Wawan yg sudah bersimbah peluh, sementara keadaan Cie Stefanny sendiri juga basah kuyup mandi keringat.

Setelah kira kira lima menit, Wawan menurunkan Cie Stefanny dari gendongannya. Lalu Wawan berbaring di ranjang, rupanya Wawan ingin supaya Cie Stefanny melayaninya dgn posisi woman on top.

“Non, ayo naik ke sini”, panggil Wawan pada Cie Stefanny.

dgn menggigit bibir Cie Stefanny naik ke ranjangku. Ia memandangi kontol Wawan yg tegak mengacung, siap membelah serta mengaduk aduk liang memek nya. Beberapa saat lamanya Cie Stefanny diam seperti ragu hendak melakukan apa. Lalu Cie Stefanny menoleh ke arahku serta menatapku dgn wajah memelas.

“Eliza…”, rengek Cie Stefanny.

“Nggak apa apa Cie, ayo…”, kataku membujuk Cie Stefanny.

Cie Stefanny menghela nafas panjang seperti ingin mengumpulkan kekuatannya, lalu ia menaiki tubuh Wawan. Tapi Cie Stefanny malah diam seperti tak tahu harus berbuat apa. Maka Wawan mengarahkan kontol nya hingga kepala kontol nya menempel pada bibir memek Cie Stefanny. Langsung saja Cie Stefanny mendesah, tubuhnya sedikit menggigil.

“Jangan malu malu non, ayo turunin badannya. Tadi non kan juga sudah suka”, ejek Wawan.

Cie Stefanny mulai menurunkan badannya, perlahan senti demi senti kontol Wawan amblas tertelan dalam liang memek Cie Stefanny. saya tak mau melewatkan pemandangan indah ini, kusorot baik baik dgn handycam di tanganku.

“Ngghh.. ngghhh…”, Cie Stefanny melenguh serta menggeliat selama proses menyatunya tubuh Cie Stefanny dgn Wawan.

“Enak ya non?”, tanya Wawan.

“Iyah… oooh…”, rintih Cie Stefanny.

“Kalau enak, goyang dong”, Wawan melanjutkan godaannya pada Cie Stefanny.

Kini saya hampir tak bisa mempercayai pandangan mataku di LCD handycam ini. Cie Stefanny mulai menggoyangkan tubuhnya, mencari kenikmatannya sendiri. Wawan yg terbaring di bawahnya mulai melolong lolong keenakan. Cie Stefanny sendiri sesekali melenguh sambil mulai menggunakan kedua telapak tangannya untuk meremasi kedua toket nya sendiri.

“Oooh… enak… sempitnya punya non ini…”, racau Wawan.

“Non, sini saya bantu”, kata Suwito yg tiba tiba sudah berlutut di samping Cie Stefanny.

Kini Suwito mulai meremasi toket Cie Stefanny. Bahkan sesaat berikutnya mereka saling berpagut dgn panas. saya mengarahkan sorotan kameraku hingga cukup untuk melihat Cie Stefanny serta Suwito yg berciuman sampai bagian selangkangan Cie Stefanny yg ditembusi kontol Wawan dari bawah.

“Eh pak Arifin! Ke WC dulu sana, cuci dulu punya pak Arifin! yg bersih!”, saya setengah membentak ketika melihat pak Arifin tiba tiba lewat di belakang Cie Stefanny serta Suwito yg masih asyik berpagut.

“Oh iya non, maaf”, kata pak Arifin yg langsung minggir serta pergi ke kamar mandiku.

saya tak ingin pak Arifin dgn kontol nya yg pasti kotor serta bau membuat Cie Stefanny kehilangan mood untuk menjadi bintang pesta seks di tengah malam ini. Susah payah saya tadi mencoba membangkitkan gairah Cie Stefanny, apalagi kini Cie Stefanny yg di atas ranjangku sudah larut dikeroyok Wawan serta Suwito.

“Mmphh… aaah…”, rintih Cie Stefanny yg langsung mengambil nafas begitu bibirnya terlepas dari pagutan Suwito.

Rintihan Cie Stefanny masih terus terdengar, krn saat ini Suwito sudah menyusu di toket kanan Cie Stefanny. kini pak Arifin yg bergabung lagi langsung menyusu di toket kiri Cie Stefanny.

“Oooh… aduuuh…”, Cie Stefanny mulai mengejang di sela rintihannya.

Sorotan handycam ini begitu sempurna merekam orgasme Cie Stefanny. Wajahnya seperti menahan sakit yg amat sangat, mulutnya ternganga serta badannya tersentak sentak. Penderitaan Cie Stefanny makin lengkap krn Wawan yg kontol nya pasti masih sangat perkasa terus memompa liang memek Cie Stefanny dari bawah tanpa henti, memaksa Cie Stefanny untuk melenguh lenguh keenakan.

“Ngghhh… eengghh… aaangghh…”, Cie Stefanny terus melenguh tanpa daya dihantam badai orgasme.

Mungkin saat ini Cie Stefanny sedang merasakan multi orgasme. Pandangan matanya redup serta sayu, sementara badannya terus berkelojotan dgn irama yg kacau. Nafas Cie Stefanny tersengal sengal serta dadanya sesekali terhentak.

Melihat keadaan Cie Stefanny, Wawan yg mungkin merasa kasihan menghentikan entot annya sebentar.

“Ngghh… jangan berhenti…”, rengek Cie Stefanny memelas serta menatap Wawan dgn penuh permohonan sambil terus menggerak gerakkan pinggulnya, sungguh pemandangan yg amat sexy.

“Beres non”, kata Wawan tanggap serta langsung menghentakkan kontol nya yg masih menancap di dalam liang memek Cie Stefanny.

“Oooohh… auuughh… nggghhh”, Cie Stefanny kembali melenguh serta menggeliat sejadi jadinya.

Keringat Cie Stefanny membanjir deras ketika orgasmenya kembali memuncak. Tubuhnya yg indah melengkung sexy, kelihatannya Cie Stefanny tak kuasa menahan kenikmatan yg pasti sedang menjalari sekujur tubuhnya. Pagutan pak Arifin pada puting toket Cie Stefanny sampai terlepas ketika tadi Cie Stefanny menggeliat hebat.

Melihat hal , ku bermaksud memberikan isyarat kepada pak Arifin, dgn membuka mulutku sedikit serta menggerakkan tangan kiriku menirukan gaya mengoral kontol sambil menatap pak Arifin, yg kelihatannya langsung mengerti maksudku serta segera berdiri di samping kiri Cie Stefanny.

“Cie… sebelah kiri Cie”, saya memberikan ‘instruksi’ pada Cie Stefanny yg masih memejamkan matanya menikmati orgasmenya.

Cie Stefanny membuka matanya perlahan serta menolehkan kepalanya ke kiri. Ia sempat tertegun sejenak melihat kontol pak Arifin yg mengacung tegang di depan matanya.

“Non, ayo pegang”, perintah pak Arifin.

Cie Stefanny menggigit bibirnya, lalu perlahan tangan kirinya bergerak meraih kontol pak Arifin serta menggenggamnya. Jantungku berdebar kencang melihat Cie Stefanny yg pasrah melayani mereka.

Kini dgn tubuh yg terlonjak pelan krn liang memek nya kembali dipompa oleh kontol Wawan dari bawah, tangan Cie Stefanny yg mungil melakukan gerakan maju mundur untuk mengocok kontol pak Arifin.

“Yaa… terus noon…”, racau pak Arifin keenakan.

Cie Stefanny terus menatap kontol . saya menyorot wajah Cie Stefanny memelas sexy serta menggairahkan , lagi lagi saya nyaris tak percaya dgn pandangan mataku ketika tiba tiba Cie Stefanny menurunkan tangannya, tanpa diminta Cie Stefanny memajukan kepalanya hingga bibir Cie Stefanny tepat bersentuhan dgn kepala kontol pak Arifin. Tanpa ampun pak Arifin langsung memegang kepala Cie Stefanny serta dgn cepat ia mulai memaksakan kontol nya melesak masuk ke dalam mulut mungil milik Cie Stefanny.

Cie Stefanny pasrah saja serta membuka mulutnya untuk mengulum kontol pak Arifin. Tangan kiri Cie Stefanny memegang sisa kontol pak Arifin yg tak muat di dalam mulut mungil Cie Stefanny, sedangkan tangan kanan Cie Stefanny memeluk serta meremasi rambut di kepala Suwito yg masih asyik menyusu di toket kanan Cie Stefanny.

serta kini Wawan juga menggerakkan tangan kanannya untuk meraih serta meremasi toket kiri Cie Stefanny. Maka lengkaplah penderitaan Cie Stefanny, tanpa daya dikeroyok oleh sopir serta kedua pembantuku yg perkasa dalam urusan seks ini.

“Empphh… mmmhh…”, Cie Stefanny merintih tak jelas krn mulutnya tersumpal kontol pak Arifin.

Adegan panas di depanku ini kurekam dgn baik, celakanya saya sendiri sebenarnya juga kembali terbakar gairah. Tapi saya tak ingin gagal mendapatkan rekaman adegan demi adegan panas ini serta saya berusaha menahan keinginanku untuk bermasturbasi dgn mencelupkan jari tangan kiriku yg masih mengganggur ini ke dalam liang memek ku. saya takut peganganku pada handycam akan kacau serta membuat hasil rekaman ini jadi buruk.

“Aaah… sepongan non enak sekalii…”, racau pak Arifin memuji servis oral Cie Stefanny.

Cie Stefanny hanya mengguman tak jelas, tiba tiba pak Arifin menarik lepas kontol nya dari mulut Cie Stefanny. Lalu pak Arifin yg menyuruh Suwito melepaskan pagutannya pada puting toket Cie Stefanny, mengambil posisi di belakang Cie Stefanny, mendorong tubuh Cie Stefanny hingga telungkup menindih tubuh Wawan.

“Ohh… pak… jangan di sana… ngghhh…”, Cie Stefanny tak dapat melanjutkan protesnya krn Wawan menghunjamkan kontol nya dalam dalam mengaduk liang memek Cie Stefanny.

Suwito langsung mengambil posisi di depan kepala Cie Stefanny yg tertunduk pasrah. saya jadi kewalahan merekam semua adegan ini, maka saya sedikit mundur untuk dapat merekam semua. Pak Arifin sudah mulai menempelkan kontol nya yg basah oleh air ludah Cie Stefanny , ke belakang selangkangan Cie Stefanny.

Cie Stefanny mendongak dgn wajah yg menampakkan kekuatiran, tapi akibatnya kepalanya langsung dipegang oleh Suwito, kontol Suwito yg sudah mengacung menempel di bibir Cie Stefanny.

“Aaaah… mmmppph…”, tepat ketika pak Arifin mulai melesakkan kontol nya ke dalam liang anus Cie Stefanny, dgn keras Cie Stefanny merintih, tapi rintihannya langsung teredam krn Suwito memanfaatkan kesempatan untuk melesakkan kontol nya masuk ke dalam mulut mungil Cie Stefanny.

“Mmmppph…”, Cie Stefanny terus merintih panjang tak jelas, saya mengambil gambar handycam dari belakang, menyorot detail situasi yg terjadi di selangkangan Cie Stefanny.

Liang memek Cie Stefanny jelas penuh oleh kontol Wawan yg menancap dalam. perlahan liang anus Cie Stefanny terbelah oleh kontol pak Arifin yg terus melesak masuk. saya bisa membayangkan betapa sesaknya sekarang selangkangan Cie Stefanny sekarang ini.

Cie Stefanny mulai meronta, sepertinya Cie Stefanny kesakitan merasakan liang anusnya diperawani oleh kontol pak Arifin yg termasuk berukuran raksasa .

Wawan memeluk erat tubuh Cie Stefanny hingga Cie Stefanny tak akan bisa ke mana mana, kontol pak Arifin menancap makin dalam pada liang anus Cie Stefanny. Tak ada yg bisa dilakukan Cie Stefanny selain merintih.

Kini tiga liang kenikmatan Cie Stefanny sudah terisi penuh. Mereka bertiga segera mulai menyiksa Cie Stefanny. Gerakan gerakan menghentak dari tubuh pak Arifin serta Wawan membuat kontol mereka keluar masuk bergantian dgn cepat, mengaduk liang memek serta liang anus Cie Stefanny. Erangan serta rintihan tertahan Cie Stefanny kelihatannya malah membangkitkan gairah mereka berdua yg terus menghajar selangkangan Cie Stefanny ini.

saya sempat menyorot sekilas ke arah wajah Suwito yg merem melek keenakan mendapatkan servis oral dari Cie Stefanny. Suwito masih menyempatkan meremasi rambut indah Cie Stefanny. Tapi saya langsung kembali menyorot pemandangan indah di depanku ini, dua kontol yg bergantian melesak masuk mengaduk aduk dua liang kenikmatan Cie Stefanny.

“Oooh… huooooh…”, pak Arifin melolong panjang serta saya melihat sperma meleleh keluar di sela sela liang anus Cie Stefanny yg tertancap kontol pak Arifin.

Eh, cepat juga pak Arifin berejakulasi. kulihat tubuh Cie Stefanny bergetar, entah krn kesakitan atau krn kenikmatan. Pak Arifin menarik lepas kontol nya dari jepitan liang anus Cie Stefanny, tapi saya masih terus menyorotkan handycam ini ke arah selangkangan Cie Stefanny krn saya tak ingin melewatkan pemandangan yg indah ini. Sperma pak Arifin terus meleleh keluar dari lubang anus Cie Stefanny, walaupun tidak terlalu banyak, liang memek Cie Stefanny masih terus dipompa oleh Wawan.

“Mmmhhh… mmmhhhh…”, Cie Stefanny merintih panjang serta tubuhnya kembali berkelojotan dgn liarnya, entahlah mungkin krn ia mendapatkan orgasmenya lagi.

saya mengalihkan sorotan handycamku dari pinggir, hingga saya mendapatkan rekaman sempurna saat tubuh Cie Stefanny menggelepar dalam pelukan Wawan. Kedua betis Cie Stefanny melejang lejang, sementara kedua tangan Cie Stefanny terentang mencengkram sprei ranjangku. Sungguh indah pemandangan yg ada di depanku ini, saya senang sekali bisa merekam semua ini dalam handycam yg kupegang ini.

“Oooh… noon… huoooohh…”, erang Wawan yg mempercepat entot annya pada Cie Stefanny.

saya cepat kembali menyorot selangkangan Cie Stefanny. Tepat sekali, Wawan memang akan berejakulasi, saya beruntung mendapatkan adegan dimana kontol Wawan menancap dalam dalam, sementara tubuh Cie Stefanny terlihat mengejang beberapa kali. Lalu perlahan sperma Wawan sedikit meleleh keluar dari liang memek Cie Stefanny yg masih tertancap kontol Wawan.

“Oooh… enaknyaaa…”, racau Wawan, yg kemudian melepaskan pelukannya serta mendorong tubuh Cie Stefanny hingga terbaring ke sampingnya, sisa sperma di memek Cie Stefanny yg sempat menyembur kecil membasahi paha Cie Stefanny.

Suwito yg kontol nya terlepas dari jepitan mulut mungil Cie Stefanny, kini ganti mengambil posisi di depan selangkangan Cie Stefanny. Lalu dgn posisi standar, Suwito mulai menyetubuhi Cie Stefanny yg masih tergolek lemas.

Sayangnya saya tak sempat merekam dgn detail proses masuknya kontol Suwito ke dalam liang memek Cie Stefanny. saya hanya merekam sekilas bagaimana Suwito menggagahi Cie Stefanny, lalu saya merekam dari belakang Suwito, menyorot ke arah Cie Stefanny yg terbaring pasrah.

“Arrghh… enak gilaaa…”, Tak sampai dua tiga menit, Suwito sudah berkelojotan sambil meracau.

saya langsung menyorot selangkangan Cie Stefanny, menangkap saat saat melelehnya sperma Suwito dari liang memek Cie Stefanny yg masih tertancap kontol Suwito . Begitu Suwito menarik lepas kontol nya, sperma dalam jumlah yg cukup banyak menyembur keluar dari liang memek Cie Stefanny yg warnanya main memerah. saya menyorot semua dgn detail, kali ini saya sudah tak mampu menahan gairahku lagi.

“Suwito, pegang handycam ini. Ya, seperti ini. Pokoknya kamu jangan sorot ke arah lain ya, tetap sorot ke arah ini”, kataku pada Suwito serta menunjukkan padanya di LCD handycam ini, yg memuat sorotan ke liang memek Cie Stefanny.

“Siap bos”, kata Suwito sok mengerti, saya hanya bisa berharap dia tak melakukan kesalahan.

serta begitu Suwito memegang handycamku, saya langsung memburu liang memek Cie Stefanny.

“Eh… Elizaaa…”, rintih Cie Stefanny ketika saya mencucup bibir memek nya yg masih belepotan cairan cairan .

saya terus mencucup dgn penuh gairah, semua campuran cairan cinta Cie Stefanny, sperma Suwito serta sperma Wawan kuseruput habis. Tanpa ampun lagi Cie Stefanny menggelinjang serta mengejang hebat dilanda orgasmenya. saya terus menelan semua cairan cairan , saya baru berhenti mencucup bibir memek Cie Stefanny setelah tak ada lagi yg bisa kuseruput.

Lalu saya langsung menindih Cie Stefanny, memagut bibirnya sejadi jadinya, tanpa perduli keringat Cie Stefanny menempel di tubuhku yg tadinya sudah kumandikan sampai bersih.

saya berharap Suwito cukup cerdas untuk merekam adegan ini, ketika saya melihat dari samping Suwito memang sedang merekam kita, saya makin ganas memagut bibir Cie Stefanny yg juga balas memagut bibirku. kita bahkan sampai duduk serta terus berpagut mesra, baru berhenti setelah kita sama sama kehabisan nafas.

“Oooh… sudah sayang… Cie Cie capek…”, Cie Stefanny merengek dgn wajahnya memelas serta ia langsung berbaring di atas ranjangku.

“Iya Cie, sudah selesai kok…”, jawabku dgn pelan, saya sendiri juga kecapaian serta ingin tidur saja, tapi saya masih harus mengganti sprei ini, juga mandi bersama Cie Stefanny yg basah oleh campuran keringatnya sendiri serta keringat tiga maniak tadi.

“Sini Suwito, handycamnya”, saya memanggil Suwito meminta handycam yg masih menyorot ke arah kita berdua ini.

Suwito memberikan kameraku serta langsung duduk lemas. saya langsung mematikan rekaman ini, mencoba melakukan replay untuk melihat hasilnya. Yah, tak bisa dibilang sempurna, rasanya caraku mengambil gambar masih terlalu kaku, namun adegan adegan terasa natural. Kulihat durasi rekaman ini sekitar 25 menit.

“Udah, kalian kembali ke kamar kalian sana”, usirku ketus.

“Yah non, galak amat. Boleh kan kita temani non tidur?”, tanya Wawan

“Tidak. Besok saya ada ulangan tau! Kalau kalian tidur di sini, bisa bisa nanti saya masih enak enak tidur kalian paksa ngeseks lagi. Lagian ranjangku kan nggak cukup buat ditidurin berlima. Pokoknya nggak boleh!”, saya mulai mengomel.

“Kalau gitu non Stepani boleh kita bawa ke kamar kita non?”, tanya pak Arifin.

“Tidak boleh!! Cie Stefanny ini tamuku ya, jangan macam macam! Udah ayo kalian keluar sana!!”, jawabku tegas.

Akhirnya mereka semua keluar tanpa banyak rewel. Mereka keluar dari jendela yg mereka bobol ketika masuk ke kamarku ini untuk memperkosa kita berdua sampai terbangun dari tidur. saya sampai teringat tadi saya mendapat mimpi yg begitu mengerikan, diperkosa serta dilecehkan oleh Andi di sekolah.

Sejenak jantungku berdebar cukup kencang, sekali lagi saya mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa tadi semua hanyalah mimpi. saya melihat lagi ke arah jam digitalku, saya menarik nafas lega melihat hari ini adalah hari Jumat jam 02:00, pagi.

-x-

XV. Mengakhiri Pesta Seks
saya menguatkan diri untuk bangkit, lalu saya mengunci jendela kamarku ini. Lalu saya berbalik badan serta bersandar sejenak sambil menatap Cie Stefanny.

“Cie… ayo mandi sama Eliza”, saya mengajak Cie Stefanny bersama sama membersihkan tubuh kita yg sama sama lengket ini tak karuan ini.

“Iya sayang, sebentar ya, Cie Cie masih lemas”, kata Cie Stefanny pelan.

saya melihat jam, sekarang jam dua pagi. Duh, mana besok saya ulangan lagi. Tapi jujur saja saya tak menyesal terseret dalam pesta seks di tengah malam ini, lagipula seperti yg dikatakan Cie Stefanny, saya sudah cukup belajar untuk ulangan besok.

Kini saya duduk di kursi meja belajarku, membuka laptopku. saya mentransfer hasil rekaman handycam ini ke dalam laptopku, lalu saya memastikan tak ada sisa rekaman Cie Stefanny yg jadi korban pesta seks tiga maniak tadi di dalam handycam ini. Sungguh tidak lucu kalau rekaman terlihat oleh kokoku.

“Sayang… kamu lagi ngapain?”, tanya Cie Stefanny yg tiba tiba sudah memeluk tubuhku dari belakang.

“Pindahin film ini ke laptop Eliza, terus hapus rekaman tadi di handycam Cie”, kataku sambil mengecek ulang isi handycam ini.

“Kamu jahat, masa Cie Cie kamu jadikan bintang film porno…”, Cie Stefanny merajuk walaupun masih tetap memeluk tubuhku.

“Kan cuma buat kita berdua aja kok Cie. Eliza janji nggak akan sebarin film ini, Eliza kan sayang Cie Cie”, kataku sambil menolehkan wajahku ke arah belakang hingga berhadapan dgn wajah Cie Stefanny, lalu bibir yg mungil kucium dgn mesra.

“Mmmhh…”, rintih Cie Stefanny yg langsung membalas ciumanku.

“Janji ya sayang, cuma kita berdua. Kokomu jangan sampai tahu…”, kata Cie Stefanny dgn nada memohon.

“Iya, Eliza janji. Tapi… yeee, kok takut ketahuan kokoku, kenapa hayoo…”, sifat usilku kumat serta saya langsung menggoda Cie Stefanny

“Ahh…”, Cie Stefanny menggigit bibirnya, mukanya mendadak memerah.

“Tenang Cie, Eliza pasti jaga rahasia ini dari koko, asal Cie Cie besook…”, saya sengaja berlambat lambat melanjutkan kata kataku serta menatap Cie Stefanny dgn pandangan menggoda.

“Duh… kamu jahat…”, Cie Stefanny merengek, rona mukanya semakin memerah.

“Enggak Cie, Eliza cuma godain Cie Stefanny kok. Eliza… Dari sejak Eliza tahu kalau Cie Cie udah putus sama ko Melvin, Eliza justru senang kalau Cie Cie mau kenalan sama koko, terus…”, saya tak melanjutkan kata kataku serta memeluk Cie Stefanny dgn penuh rasa sayang.

“Eliza… kalau kamu berpikir seperti … kenapa tadi kamu serahkan Cie Cie ke pembantu pembantu kamu… pakai kamu rekam segala…”, kata Cie Stefanny yg tiba tiba tubuhnya menggigil, tak kusangka Cie Stefanny menangis.

“Cie… maafkan Eliza, tadi Eliza cuma ingin Cie Cie bersenang senang. Eliza kan udah janji kalau film tadi jadi rahasia kita berdua saja. Cie, it’s just sex, not love”, saya sedikit tegang serta mencoba menenangkan pikiran Cie Stefanny.

“Eliza… Cie Cie ini udah nggak virgin… ditambah dgn tadi , apa sekarang Cie Cie ini masih layak untuk…”, kata kata Cie Stefanny langsung kuhentikan dgn menempelkan jari telunjukku ke bibir Cie Stefanny.

“Cie… kalau koko serta yg lain nggak tahu, Cie Cie nggak usah berpikiran aneh aneh. Eliza sayang Cie Cie, Eliza yakin koko juga suka sama Cie Cie. Papa serta mama juga suka sama Cie Cie”, kataku sambil terus memeluk Cie Stefanny serta menaruh kepalaku di pundak kanannya.

“Eliza pasti bantuin Cie Cie, kalau Cie Cie juga suka sama kokoku”, saya berkata sungguh sungguh sambil memejamkan mataku.

“Makasih sayang…”, guman Cie Stefanny yg diam dalam pelukanku.

“Cie… kita mandi yuk”, saya kembali mengajak Cie Stefanny membersihkan badan kita yg masih belepotan keringat ini.

Cie Stefanny mengangguk serta kita berdua segera menuju ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, kita mandi keramas serta saling membersihkan badan kita, yg tentu saja diselingi kenakalan kenakalan kecil kita seperti saling mencubit puting toket kita, bahkan sesekali kita saling mencelupkan jari ke memek kita berdua serta tanpa ampun lagi kita saling memagut bibir dgn mesra.

Tak lupa saya mengambil cairan pembersih memek yg biasa kupakai, jantungku berdegup kencang krn membayangkan saat saat saya menggunakan cairan untuk membersihkan liang memek Cie Stefanny.

“Ssshhh… mmmhhh…”, rintih Cie Stefanny ketika saya mencelupkan jariku yg sudah kuolesi cairan pengharum memek milikku ini ke dalam liang memek Cie Stefanny.

Sebenarnya kalau menuruti hawa nafsu birahiku yg kini sudah kembali bergejolak, ingin rasanya saya mengaduk aduk liang memek Cie Stefanny, kembali mengajak Cie Stefanny bercinta atau kalau perlu saya memperkosa Cie Stefanny. Tapi saya sadar ini sudah terlalu malam, saya harus segera tidur krn besok sekolahku tidak libur, belum lagi besok saya harus mengikuti ulangan bahasa Inggris pada jam pertama.

Selain , saya sadar kalau saya harus memberikan kesempatan pada tubuhku untuk beristirahat, demikian juga dgn tubuh Cie Stefanny. kita berdua baru saja jadi obyek pesta seks, apalagi saya yg dalam 20 jam ini harus ngeseks dgn banyak orang, rasanya memek ku seperti bengkak saja. Maka saya hanya diam menahan gejolak birahi ini.

“Sayang, sekarang kita pakai bra serta celana dalam ya?”, tanya Cie Stefanny ragu.

“Mmm… iya deh Cie”, jawabku.

kita berdua saling menghanduki tubuh kita, tanpa rasa canggung kita saling memakaikan bra hingga toket kita terbungkus rapi dalam bra kita masing masing. setelah sama sama memakai celana dalam, kita diam sejenak serta saling pandang.

“Cie, gini aja ya, nggak usah pakai baju”, kataku.

“Duh sayang, nanti kita keterusan lagi deh”, rengek Cie Stefanny.

“Mmm…”, saya berpikir sejenak.

“Nanti aja dipikir Cie, sekarang kita ganti sprei dulu yuk”, kataku lagi.

kita berdua mengganti sprei ranjangku yg penuh dgn bekas keringat, bahkan ada bercak bercak tetesan sperma entah milik siapa. Bed cover ranjangku juga harus diganti, kita sama sama melipat sprei serta bed cover ini sekedarnya, lalu semuanya kuletakkan di dalam keranjang baju kotor. saya mengambil sprei serta bed cover dari lemari, lalu kita berdua memasang sprei ini di ranjangku.

Bau harum langsung memenuhi ruangan ini. saya membayangkan tidur ranjangku yg nyaman, dalam pelukan Cie Stefanny, tanpa mengenakan baju. Maka saya tak bertanya lagi, tanpa peringatan saya langsung berlari mendekati Cie Stefanny, lalu menerkamnya hingga kita berdua jatuh ke ranjangku.

“Elizaa… ampun sayang… Cie Cie capeek…”, rengek Cie Stefanny.

“Nggak kok Cie, Eliza bukan mau mengajak Cie Cie bercinta lagi… Eliza cuma ingin malam ini kita tidur nggak pakai baju aja”, kataku manja.

“Duh anak nakal… iya iya Cie Cie nggak pakai baju”, kata Cie Stefanny yg pura pura merajuk.

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11 sexy menggairahkan cewek ngentot memek kemasukan kontol toket terlihat
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean | Klik foto untuk memperbesar gambar

saya tertawa geli, bed cover langsung kuselimutkan membungkus tubuh kita berdua. Di dalam bed cover ini kita berdua saling peluk dgn mesra layaknya sepasang kekasih. Sesekali bibir kita saling berpagut mesra, walaupun kita berdua sudah sama sama sangat mengantuk. saya sangat menikmati saat saat tidur dalam pelukan Cie Stefanny seperti ini.

saya tahu kegilaan kita kali tadi ini bukanlah kegilaan kita yg terakhir. Entah apa yg kelak akan kita berdua lakukan bersama, yg jelas saya tahu saya pasti akan sangat menikmatinya, bercinta dgn Cie Stefanny, calon kakak iparku. kini saya berharap bisa tidur dgn pulas sampai nanti wekerku berbunyi.

Bersambung..

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 1
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 2
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 3
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 4
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 5
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 7
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 9
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 10
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 13
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11, cerita seks , ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11 sexy menggairahkan cewek ngentot memek kemasukan kontol toket terlihat, kisah porno, kisah sex bokep, sex, ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com