ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12

Ulangan mata pelajaran Bahasa Inggris itu sudah selesai, gua sangat yakin bisa mendapat nilai sempurna. Kini adalah jam istirahat pertama, gua benar benar merasa lelah. Padahal sebentar lagi adalah jam olahraga. Mimpi buruk yg kualami tadi malam sempat terlintas dalam ingatanku.


Di kantin sekolah, Jenny serta Sherly seperti biasa menemaniku. Tapi sekarang ini gua lebih banyak diam lalu mendengarkan dua sahabatku ini berceloteh. Bahkan tanpa sadar gua sudah melipat tanganku di atas meja, lalu gua menyandarkan kepalaku di atas tanganku.

"Eh Eliza, pagi pagi kok ngantuk sih? Bentar lagi jam olahraga lho. Kamu kurang tidur ya?", tanya Jenny.

"Iya nih Jen. ngantuk. semalam gua kurang tidur, belajar untuk ulangan tadi", jawabku lemah.

Kalau sekarang ini kita bertiga sedang berada di rumahku, gua mungkin saja sudah menceritakan tentang pemerkosaan yg menimpaku di tempat tambal ban kemarin, juga pesta seks semalam dgn Cie Stefanny. Tapi ini kan di kantin, nggak lucu kalau ada yg mendengar pembicaraan kita.

"Masa sih El? Kamu kemarin kan les sama Cie Stefanny? gua aja dua hari yg lalu udah tenang untuk urusan ulangan ini abis les sama Cie Stefanny. Masa kamu perlu belajar sampai malam? Lagian kamu itu bahasa Inggrisnya kan ciamik", celoteh Jenny lagi.

"Siapa Cie Stefanny itu Jen?", tanya Sherly penasaran.

"Itu, guru les bahasa Inggrisku beserta Eliza. gua dikenalkan Eliza. Orangnya baik juga pinter lho, Sher. cantik abis lagi", kata Jenny yg malah berpromosi tentang kecantikan Cie Stefanny, mengingatkanku bagaimana kemarin gua larut dalam gairah sampai akhirnya gua ‘memperkosa’ Cie Stefanny.

"Yeee. Eliza, kamu kok nggak ngenalin guru lesmu ke gua sih? gua juga mau dong les bahasa Inggris seperti kalian.", kata Sherly dgn gaya merajuk.

gua memandangi Jenny serta Sherly sembari tersenyum geli. Mereka berdua ini memang selalu mendatangkan keceriaan bagiku.

"Iya iya Sher. ini gua kenalin deh. Bentar ya gua telepon Cie Stefanny", kataku sembari mengambil handphoneku dari saku baju seragam sekolahku.

Ketika gua melihat layar handphoneku, terdapat tulisan 1 message received. gua baru tahu kalau ada SMS masuk. Memang gua selalu mengganti mode handphoneku ke mode silent selama di sekolah, itu sudah menjadi aturan di sekolahku. Kini gua jadi penasaran serta membuka SMS itu, sembari berharap harap kalau kalau SMS itu dari Andy.

‘Eliza, nanti siang ngentot yuk. Sudah tak sabar pingin ngerasain memekmu lagi. Satu ronde juga boleh.’

Mukaku rasanya panas membaca isi SMS itu. Kesal sekali hati ini. Mengharap kalau SMS yg masuk itu dari Andy, yg kudapat malah ucapan yg penuh pelecehan seperti itu.

"Ada apa Eliza?", tanya Sherly heran, mungkin krn ekspresi mukaku berubah.

"Oh nggak, ini gua salah pencet, makanya kok tidak ketemu nomer handphone Cie Stefanny", gua lagi lagi berbohong, supaya Sherly serta Jenny tidak tahu kalau gua baru saja dilecehkan seseorang lewat SMS.

gua sempat memencet tombol bawah sekali lagi, tapi gua tidak mengenal pemilik nomer si pengirim. Ya sudah hal ini kuurus nanti saja, sekarang gua harus mencari nomer handphone Cie Stefanny. Selain gua ingin memperkenalkan Sherly pada Cie Stefanny, gua juga ingin memberikan kabar gembira pada Cie Stefanny, kalau tadi itu gua sukses menjalani ulangan bahasa Inggris.

"Mmm. kok nggak diangkat ya.", gua mengguman sesudah mencoba menelepon Cie Stefanny sampai tiga kali tanpa jawaban.

"Ya udah Eliza, nanti aja kan ngga apa apa", kata Sherly.

gua mengangguk lalu menyimpan handphoneku kembali ke dalam saku baju seragamku. gua kembali terlibat celoteh riang dgn kedua temanku yg cantik ini, walaupun gua tak seaktif biasanya. Selain gua merasa capek juga mengantuk, perasaanku berkecamuk kalau teringat isi SMS yg kurang ajar itu.

Tiba tiba perasaanku jadi nggak enak!

"Sherly, Jenny, gua ke toilet dulu ya", pamitku dgn tergesa gesa serta gua langsung berdiri untuk meninggalkan mereka.

"Cepetan ya Eliza, jangan sampai pipis di celdam ya", goda Jenny, kudengar Sherly tertawa geli.

"Awas kamu ya Jen", sembari mulai berlari gua sempat menoleh ke arah Jenny dgn pandangan gemas, Jenny hanya meleletkan lidahnya.

gua pergi ke ujung lorong sampai di depan toilet perempuan, lalu gua mengeluarkan handphoneku lagi untuk menelepon ke rumah. gua mengkuatirkan keadaan Cie Stefanny.

gua teringat tadi pagi ketika gua akan berangkat sekolah, Cie Stefanny berkata kalau ia masih mengantuk serta ingin tidur lagi. gua memberikan kunci kamarku lalu menyuruh Cie Stefanny mengunci dari dalam, krn gua tahu tiga serigala di rumahku itu tidak mungkin membiarkan cewek yg cantik juga sexy seperti Cie Stefanny itu menganggur begitu saja.

"Halo. Sulikah? Cie Stefanny mana?", tanyaku dgn cepat ketika telepon rumahku terangkat.

"Itu non. ada di kamar non.", jawab Sulikah dgn nada ragu, membuatku mulai panik.

"Sendirian kan?", tanyaku lagi dgn penuh harap.

"Engg. tadi waktu non Stefanny mau pergi.", Sulikah menjawab seperti takut takut.

"Udah, tolong berikan telepon ini sama Cie Stefanny, cepat ya!", kataku dgn perasaan tak menentu serta khawatir.

"Iya sebentar non", kata Sulikah.

Dari cara Sulikah menjawab, gua tahu Cie Stefanny tidak sendirian. Jantungku berdegup kencang membayangkan Cie Stefanny sedang tak berdaya dikeroyok oleh mereka. Beberapa saat kemudian gua mendengar suara lenguhan dari handphoneku.

"Ngghh. Eliza. aduuh.", Cie Stefanny menjawab di antara lenguhannya yg terdengar makin keras.

"Cie. Ciee.", panggilku dgn kuatir.

"Iyah. sayang. eengghh.", jawab Cie Stefanny sembari mengerang.

"Cie Cie diapain.", gua bertanya ragu.

Sebuah pertanyaan tolol, tapi pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

"Cie Cie. diperkosa. sama. Wawan. emmhhh.", jawab Cie Stefanny terputus putus.

gua bingung tak tahu harus berkata apa. gua hanya bisa berharap kalau papa serta mamaku, juga kokoku, belum akan segera pulang dari hotel. gua juga berharap kalau kokoku langsung kuliah, di hari Jumat begini, semoga kokoku berweek end bersama temannya, jadi paling tidak situasi di rumah masih ‘aman’.

"Cie.", gua masih tak tahu harus berkata apa.

"Ngghh. Eliza. Cie Cie tutup dulu ya. Cie Cie mau oralin punya Suwito. ngghh.", lenguhan Cie Stefanny menutup pembicaraan kita.

gua termenung sejenak. Mendengar jawaban Cie Stefanny yg sepertinya malah sedang menikmati perkosaan serigala serigala itu, tiba tiba gairahku bergolak lalu nafasku jadi memburu. gua yg memang sudah berdiri di depan toilet perempuan ini, masuk ke dalam salah satu kamar di dalam toilet lalu mengunci pintunya.

Di dalam toilet ini gua menggigit bibir, tanpa bisa kukendalikan lagi gua menarik ujung rok seragam sekolahku ini ke atas dgn tangan kiriku, lalu tangan kananku kuarahkan ke selangkanganku, mencari bibir memek ku.

"Mmmhh. engghh.", gua merintih lalu melenguh perlahan ketika jari tanganku kutekan tekankan pada bibir memek ku.

Mendadak gua tersadar, gua memang tidak mengenakan celana dalam krn ancaman yg diberikan Dedi padaku. gua diam sejenak, mencoba mengusir semua godaan birahi yg melandaku ini dgn memikirkan nasibku sehari hari di sekolah sesudah kemarin gua mengintip persetubuhan Vera dgn Dedi serta Pandu di gudang sebelah ini.

gua mulai menduga duga, jangan jangan SMS kurang ajar yg masuk di handphoneku itu adalah SMS dari Dedi. Tapi, darimana dia tau nomer handphoneku?

‘kriiing.’, bel tanda istirahat selesai menyadarkan lamunanku, gua bergegas merapikan keadaanku secukupnya supaya kelihatan wajar wajar saja. Lalu gua kembali ke kelas, sembari merenungi betapa kacaunya hari ini bagiku.

-x-

II. Kemesraan Jenny
"Sayang, kamu kenapa sih kok seperti lemas gini?", tanya Jenny lembut sembari membelai keningku ketika gua sudah masuk ke dalam kelas serta duduk di sebelahnya.

"Ya ampun. Eliza. kamu demam.", kata Jenny dgn agak panik.

"Eh. nggak, nggak apa apa Jen. Ayo kita ganti baju di toilet.", kataku lemah.

"Jangan sayang. kamu sakit. Minta ijin pulang aja ya? gua antar kamu pulang ya?", tanya Jenny.

gua menggeleng lemah. Entahlah, rasanya sekarang ini gua malas berbuat sesuatu. gua menyandarkan kepalaku di atas tanganku yg kulipat di atas meja. Teman teman sekelasku yg lain sudah keluar semua menuju ke aula tempat kita akan berolahraga, tinggal gua serta Jenny yg masih di sini.

"Ya udah kalau kamu nggak mau pulang, kamu istirahat di UKS aja ya sayang. Mau yah?", ajak Jenny.

"Jangan, gua ikut olahraga aja Jen, nanti mungkin juga mendingan.", gua menjawab dgn lesu.

"Sayang. kamu ini gimana sih? Nanti kamu malah kenapa kenapa lho kalau kamu paksain", kata Jenny kesal.

gua amat merasakan nada kesal itu dari Jenny, kini ia sudah duduk di sampingku. Tangannya yg lembut itu membelai keningku lalu rambutku. gua menatap Jenny dgn senyuman mesra. Senang sekali rasanya disayang serta diperhatikan oleh teman baikku, atau lebih tepatnya kekasihku ini.

"Makasih ya Jen. gua tau kamu memang paling sayang sama gua.", bisikku pelan serta gua memeluk tangan Jenny, mendekapnya di depan dadaku.

Jenny menatapku sejenak, lalu menunduk serta tersenyum malu, membiarkan tangannya berada dalam dekapanku.

"Jen. kalau gua jadi jatuh cinta sama kamu, salah siapa coba?", tanyaku menggoda Jenny.

"Eliza.", desah Jenny yg makin menunduk malu, mungkin baru kali ini ada cewek yg mengatakan hal segila ini padanya.

"Gimana Jen?", tanyaku lagi sembari menatap Jenny dgn nakal.

"Mmm. nggak tau deh. tapi kalau kamu memang cinta sama gua, ya nikahi saja gua.", jawab Jenny sembari meleletkan lidah walaupun wajahnya merona merah.

kita sama sama tertawa geli, sesudah gua merasa agak enakan, gua memutuskan untuk segera bersiap mengikuti olahraga.

"Jen, ayo.", kataku sembari berdiri serta menggandeng tangan Jenny yg menurut saja mengikutiku ke toilet untuk ganti baju.

"Sayang, ganti di sini aja dong", kata Jenny manja sembari menarikku masuk bersamanya dalam satu dari enam kamar di dalam toilet ini.

"Jen, gua.", gua mencoba untuk ganti di kamar yg lain krn gua tak ingin Jenny tau kalau gua tidak pakai celana dalam.

"Ih kamu ini, katanya cinta sama gua", Jenny merajuk.

Jantungku berdegup kencang mendengar kata kata Jenny. gua menggigit bibirku sembari tersenyum, lalu gua pasrah saja, bersama sama Jenny gua mencopot baju serta rok seragam sekolahku.

"Eh. Eliza? Kamu kok.", Jenny tertegun menatap selangkanganku yg tidak tertutup celana dalam.

"Tadi waktu gua ke sini, celana dalamku basah kena air Jen", kataku mencoba berbohong.

"Oooh. lain kali hati hati dong sayang . kalau kamu lagi mens serta mesti pakai pembalut, gimana coba? Yaaa bisa sih kamu ganti pakai tampon", kata Jenny sembari tersenyum, manis sekali.

Lega rasanya, sepertinya Jenny percaya dgn kata kataku. gua berganti baju olahragaku. Walaupun rasanya aneh memakai celana olahraga ini tanpa mengenakan celana dalam, juga gua sebenarnya masih merasa sangat capek, tapi gua berusaha bersikap wajar, gua menatap Jenny sembari tersenyum.

"Nah. gua nggak terlihat seperti orang sakit kan Jen?", kataku mencoba meyakinkan Jenny kalau gua baik baik saja supaya ia tidak mengkhawatirkanku lagi.

"Iya deeh. Duh. cantiknya kekasihku ini", kata Jenny sembari membelai rambutku dgn mesra, membuatku tersenyum senang serta malu.

"Tapi jangan sampai ada cowok di kelas kita yg tau lho sayang, kalau bidadari di kelas mereka ini nekat nggak pakai celana dalam. Bisa bisa kamu diperkosa ramai ramai sama semua cowok di kelas kita nanti . hihihi.", kata Jenny usil sembari tertawa.

"Kamu ini ya.", gua berusaha menangkap Jenny untuk menggelitikinya.

"Atau malah diperkosa semua cowok di sekolah ini. hihihi. aduuuh.", Jenny tertawa geli serta berusaha menghindariku, tapi di kamar toilet yg sempit ini dgn mudah gua berhasil menangkap serta menggelitiki pinggang Jenny.

"Eeh. iyaaa. ampuuun.", Jenny merintih serta tubuhnya menggelinjang kegelian.

gua melepaskan Jenny serta memasang muka cemberut. Tapi Jenny malah terlihat semakin senang serta ia kembali menggodaku.

"Duh, marah ya sayang. jangan marah dong, masa kamu tega sih marah sama kekasihmu ini?", tanya Jenny dgn gaya usilnya, ia terus memandangku dgn matanya yg berkedip lucu, membuatku mulai berjuang menahan tawa.

Jenny memang selalu membuatku ingin tertawa kalau ia meledek atau menggodaku, tapi gua masih ingin pura pura merajuk. Tiba tiba Jenny memelukku serta memagut bibirku mesra. gua langsung memejamkam mata serta balas memeluk Jenny. Tak lupa pagutan bibir Jenny itu kubalas dgn sepenuh hati, sampai akhirnya kita harus saling melepaskan krn kehabisan nafas.

"Udah dulu sayang. kalau kita. gini terus. kita bakal di sini terus. kita bakal telat ke aula.", kata Jenny di sela nafasnya yg tersengal sengal.

"Lagian. siapa sih yg memulai.", kataku sembari meleletkan lidah pada Jenny.

"Iya deh. ayo sayang. kita ke aula sekarang", kata Jenny serta bersiap keluar dari toilet ini, tapi sekarang ganti gua yg terpana memandang Jenny, menikmati kecantikan kekasihku ini.

Model rambut Jenny yg baru ini membuat Jenny tampak seperti wanita dewasa, walalupun usia kita hanya terpaut beberapa bulan. Jenny benar benar tampak cantik jelita dgn rambutnya yg tergerai seperti ini. gua langsung saja mencium bibir kekasihku dgn mesra, ciumanku ini berbalas dgn tak kalah mesranya.

"Sayang. kamu cantik sekali.", gua berbisik mesra pada Jenny sembari menyibakkan rambut Jenny yg sedikit menutupi wajahnya.

Jenny tersipu malu, ia menyusupkan wajahnya di atas pundak kiriku.

"Kamu lebih cantik. Eliza.", guman Jenny yg memelukku erat erat.

gua kembali memeluk kekasihku yg cantik jelita ini dgn sepenuh hati, rasanya gua tak ingin cepat cepat melepaskan Jenny dari pelukanku. Tapi gua sadar kalau kita harus segera ke aula, sesudah kita berdua sama sama menenangkan diri dari gairah ini, kita berdua keluar dari toilet ini. sembari bergandengan tangan, gua serta Jenny masuk ke aula tempat kita mengikuti pelajaran olahraga.

Seperti biasa, lari keliling lapangan aula adalah rutinitas awal yg harus kita lakukan sebelum guru kita membagi giliran pada kita semua untuk bermain bola basket ataupun voli.

Namun gua tak menyangka, baru gua berlari satu putaran, kepalaku rasanya berat sekali, lututku juga lemas serta betisku rasanya pegal sekali. Mungkin tubuhku sudah tak tahan sesudah kemarin seharian ngentot berkali kali tanpa istirahat yg cukup.

gua menepi serta duduk di kursi panjang. gua tertunduk lemas serta Jenny yg tadi berlari di belakangku kini menghampiriku, lalu menyeka keringat di keningku.

"Benar kan sayang. kamu sampai jadi gini. kamu tahan bentar ya, gua mintakan ijin ke UKS", kata Jenny yg melihatku dgn iba.

gua mengangguk pasrah, menunggu Jenny yg segera menemui pak Harjono, guru olahragaku yg masih memberikan aba aba pada semua untuk terus lari keliling lapangan. sesudah berbicara sejenak sembari sesekali menatap ke arahku, mereka berdua mendekatiku.

"Eliza, kamu kok tidak bilang kalau sakit? Lihat wajahmu sampai pucat seperti itu. Coba bapak periksa sebentar", kata pak Harjono yg mengulurkan serta menempelkan punggung telapak tangan kanannya pada keningku.

"Wah badanmu panas sekali Eliza. Kamu istirahat saja di UKS. Lain kali kalau memang sakit ya jangan dipaksa berolahraga, Eliza", kata pak Harjono lagi.

"Jenny, tolong antar Eliza ke UKS. Bantu rawat Eliza di sana. Nanti kalau memang Eliza sudah bisa ditinggal, baru kamu kembali ke sini", kata pak Harjono.

"Iya pak, kita permisi dulu", kata Jenny sembari menganggukan kepala, lalu Jenny membantuku berdiri.

"Terima kasih pak", kataku pelan.

sesudah kita berpamitan, Jenny membimbingku ke ruang UKS. Ruangan ini, tempat gua kehilangan keperawananku akibat gangbang yg dilakukan satpam, tukang sapu plus wali kelasku yg bejat itu pada empat bulan yg lalu.

gua merasa sedikit tak nyaman berada di sini, tapi gua menurut saja dgn lemas ketika Jenny membaringkanku di ranjang. Tak ada pilihan lain krn kelihatannya gua memang harus mengistirahatkan tubuhku. Sementara itu Jenny melepaskan kedua sepatu serta kaus kakiku.

"Jen. kamu jangan tinggalin gua di sini sendirian ya", gua merengek pada Jenny, krn gua merasa risih berada sendirian di ruang ini, mengingatkanku ketika gua terikat di ranjang ini serta menunggu nasib.

"Iya sayang, gua memang mau jagain kamu kok", kata Jenny sembari menatapku mesra.

Senang sekali rasanya ditemani oleh Jenny yg kini duduk di ranjang tempat gua berbaring ini, di sampingku. Ia membelai keningku serta rambutku, membuatku memejamkan mata dgn senang serta menikmati sentuhan sayang dari Jenny ini. gua menyusupkan wajahku di paha Jenny, rasanya nyaman sekali.

"Sayang, kamu tidur aja ya", kata Jenny dgn lembut.

gua mengangguk serta tersenyum manja, lalu memejamkan mataku. gua mencari posisi berbaring yg paling nyaman untuk mengistirahatkan tubuhku, yg tulang tulangnya ini serasa akan patah semua.

-x-

III. Horror Kedua Di Ruang UKS
"Eliza. kamu kok sampai capek seperti ini, memangnya kamu abis ngapain sayang?", tanya Jenny.

"Mm. nanti aja gua jelasin di rumah ya Jen", gua berkata pelan tanpa membuka mataku.

"Iya deh, sekarang kamu istirahat dulu aja", kata Jenny sembari terus membelai rambutku.

"Jen.", gua mengguman ketika Jenny membelai pipiku dgn semesra itu.

Jantungku berdegup kencang, gua tahu apa yg akan segera terjadi sebentar lagi pada kita berdua.

gua membuka mata serta menatap Jenny. seperti yg sudah kuduga, sesaat berikutnya kita sudah saling berpagut dgn panasnya. gua menumpahkan semua perasaan sayangku pada Jenny serta bibirnya yg indah itu kupagut sepuas puasnya. Tapi kita segera saling melepas pagutan kita ketika pintu ruang UKS ini tiba tiba terbuka, membuatku serta Jenny menoleh ke arah pintu.

Entah apa adegan lesbian kita tadi itu terlihat oleh pak Edy, sekarang gua hanya menggigit bibir menyadari kemungkinan terburuk yg akan terjadi pada kita berdua.

"Siang pak", kata Jenny dgn gugup, melihat ekspresi wajah Jenny gua tahu kalau ia merasa tidak nyaman dgn keberadaan pak Edy di dekat kita.

"Siang Jenny, Eliza. Tadi waktu bapak melihat lihat anak kelas bapak berolahraga di aula, kata pak Harjono kamu sakit. Sakit apa Eliza?", tanya pak Edy sok perhatian sembari menutup pintu UKS.

Dasar guru bejat tak tahu diri, pakai pura pura nggak tahu lagi kalau kemarin itu ia adalah penyebab utama dari jatuhnya gua ke tangan Pandu serta Dedi, yg kemudian berlanjut dgn perkosaan terhadap diriku oleh Dedi serta 6 orang kasar di tempat tambal ban itu. Untungnya kelihatannya pak Edy tak sempat menikmati tontonan adegan lesbianku dgn Jenny.

"Iya pak. Eliza kecapaian", jawabku lemah, sekaligus menyindir ulah bejatnya kemarin yg dgn seenaknya memperkosaku di ruang sebelah bersama Pandu serta Dedi.

"Oh, kalau begitu sebentar, bapak ada perlu di ruang bapak, nanti bapak kembali untuk menemani kalian di sini", kata pak Edy, yg tanpa meminta persetujuan kita langsung saja keluar dari ruang UKS ini.

"Ih. ngapain juga sih pak Edy itu pakai acara menemani kita di sini? Mengganggu saja", omel Jenny dgn kesal.

gua hanya mengangkat bahu, tapi tiba tiba perasaanku jadi tak enak. sebelum gua sempat berkata sesuatu, pintu itu kembali terbuka. Tenggorokanku rasanya tercekik ketika gua merasakan hadirnya horror di ruang UKS ini untuk kali kedua buatku.

Pandu masuk serta diikuti Dedi, lalu terakhir pak Edy juga kembali masuk ke dalam ruang UKS ini. gua menatap pak Edy dgn marah sekaligus khawatir.

Wali kelasku ini sungguh gila! Bagaimana bisa ia yg malah mengatur skenario perkosaan terhadap gua serta Jenny di ruang UKS sekarang ini? Mengapa ia bisa setega itu padaku serta Jenny?

"Pak Edy? Mereka?", tanya Jenny dgn suara tak percaya.

"Iya Jenny, mereka", pak Edy berkata tenang sembari mengunci pintu ruang UKS ini.

"Tapi, mengapa pintunya dikunci pak?", tanya Jenny lagi yg kini mulai terlihat panik.

"krn bapak tak ingin ada gangguan waktu bapak menyampaikan beberapa hal penting ini pada kalian berdua, terutama pada kamu, Jenny", kata pak Edy.

dgn senyumnya yg memuakkan, pak Edy melangkah ke arah ranjang di sebelahku, duduk dgn santai seolah situasi ini bukanlah situasi yg luar biasa. Sementara itu Pandu serta Dedi tetap berdiri di tempatnya. Dedi menatapku, Pandu menatap Jenny. Tentu saja tatapan itu penuh nafsu, seperti ingin menelanjangi kita berdua yg masih memakai baju olahraga ini.

"Memangnya bapak ingin mengatakan apa?", Jenny bertanya dgn suara yg sedikit bergetar.

"Pertama, bapak ingin bertanya dulu pada kamu Jenny., kemarin sekitar jam yg sama dgn sekarang, kamu mengintip apa di gudang?", tanya pak Edy.

gua hanya bisa menggigit bibir serta menatap Jenny yg terlihat makin tegang mendengar kata kata pak Edy ini.

"Saya. saya.", kata Jenny terbata bata.

"Ya, waktu itu kamu serta Eliza mengintip Vera sedang bermain main dgn kedua teman sekolah kamu ini, Pandu serta Dedi", kata pak Edy sembari menunjukkan jari telunjuknya ke Pandu serta Dedi.

"Untuk itu, bapak pikir kamu harus berjanji untuk tutup mulut.", kata kata pak Edy terhenti ketika Jenny langsung memotong.

"Iya pak, saya janji. Bahkan tanpa bapak suruh pun saya nggak ada niatan untuk bercerita pada siapapun tentang apa yg saya lihat kemarin, apalagi saya tak kenal mereka berdua", kata Jenny dgn sungguh sungguh.

"Janji itu mudah diucapkan, Jenny. Tapi bapak juga perlu jaminan dari kamu, agar kamu tidak akan menceritakan apapun. menurut bapak, hal itu baru bisa dipastikan jika kamu justru sudah mengenal serta berteman baik dgn mereka berdua", kata pak Edy dgn senyumnya yg menjijikkan itu.

"Maksud. bapak.", tanya Jenny dgn sedikit menggigil, rupanya Jenny sudah tahu kemana arah pembicaraan pak Edy ini.

"Sederhana. Kemarin bapak sudah memperkenalkan Eliza pada mereka berdua, kelihatannya mereka cocok. Sebenarnya bapak sudah menyuruh Eliza untuk mengajakmu ke pertemuan di ruang UKS ini Sabtu malam besok. Tapi kebetulan kamu ada di sini, jadi bapak pikir ada baiknya kamu berkenalan sekaligus bermain main dgn kedua teman sekolahmu ini", kata pak Edy.

"A. apa pak Edy.", desis Jenny dgn raut muka tak percaya.

"serta nanti tentu saja kamu tidak akan bercerita pada siapapun tentang kejadian kemarin, krn mulai hari ini kamu sudah jadi teman Pandu serta Dedi. Iya kan Jenny?", sambung pak Edy sembari terus menatap Jenny seolah ingin menelanjangi kekasihku ini.

gua menatap pak Edy dgn marah. Ingin rasanya gua menampar muka wali kelasku ini sekeras yg gua bisa, tapi tentu saja gua tak mungkin berani melakukannya. Kini gua melihat Jenny yg hanya bisa menatap pak Edy dgn tegang.

"Oh iya, sebaiknya kamu serta Eliza tidak membuat keributan sampai urusan kita selesai", kata pak Edy dgn santai, padahal ucapan yg baru saja dikeluarkannya itu adalah ancaman yg mengerikan untuk kita berdua.

"Gile nih amoy. cantik amat. nggak kalah sama Eliza", puji Pandu dgn norak serta ia mulai mendekati Jenny yg kini makin terlihat panik.

Pandu segera menarik Jenny yg masih duduk di sampingku ini ke ranjang sebelah, tempat pak Edy duduk. Tak ada perlawanan yg dilakukan oleh Jenny. Sepertinya Jenny sadar, kalaupun ia melawan juga akan sia sia. Lalu Pandu duduk di samping Jenny, kini Jenny berada di tengah Pandu serta pak Edy, seperti seekor kelinci yg sudah tertangkap dua ekor serigala.

"Dedi, kamu tidak ikut berkenalan dgn Jenny?", tanya pak Edy pada Dedi yg herannya masih berdiri saja di tempatnya sejak tadi.

"Tidak usah dulu pak Edy, saya sih maunya sama Eliza saja", kata Dedi sembari menatapku, membuatku langsung membuang muka.

"Jangan. Eliza sedang sakit. kalian jangan ganggu Eliza.", tiba tiba Jenny berkata memohon.

"Wah, jadi kamu mau memonopoli kontol semua laki laki di ruang ini ya Jenny? Bapak tidak menyangka kamu doyan ngentot juga", tanya pak Edy dgn senyum mengejek.

"Bukan begitu pak. Eliza sedang sakit. bapak boleh apakan Jenny sesuka bapak, tapi biarkan Eliza istirahat", jawab Jenny lemah sembari menunduk, wajahnya memerah, mungkin saat ini Jenny amat marah krn mendengar penghinaan pak Edy yg keterlaluan itu.

"Jen.", gua mengguman pelan, rasanya air mataku sudah akan menetes.

gua terharu sekali, Jenny benar benar sayang padaku. Ingin rasanya gua memeluk Jenny serta bersandar di pundaknya, atau mencium bibirnya, pokoknya gua ingin menyayanginya. Ingin rasanya gua membawa Jenny keluar dari situasi ini, tapi sekarang ini posisi kita sama sama sedang terjepit.

"Ya, hari ini biarkan Eliza istirahat dulu Dedi, tadi dia sakit. Mungkin kecapaian sesudah main sama kita kemarin", kata pak Edy sembari tertawa.

Dasar sok tahu. gua memang kecapaian, tapi jelas bukan gara gara ‘cuma’ digangbang tiga orang seperti mereka ini, apalagi salah satunya, yaitu pak Edy, sudah hampir impoten ini, tapi tenagaku terkuras habis di tempat tukang tambal ban kemarin, juga akibat ngentot semalam suntuk dgn Cie Stefanny.

"Beres pak, saya sih duduk di sebelah amoy secantik Eliza ini juga sudah senang", kata Dedi sembari mendekatiku.

gua cukup terpengaruh dgn rayuan Dedi tadi. Ia masih memuji kecantikanku seolah tak melihat kecantikan Jenny yg sama sekali tak kalah dariku. kata kata Dedi tadi itu diam diam membuatku senang juga. Siapa sih cewek yg nggak senang kalau kecantikannya dipuji? Tapi gua berusaha tak memperlihatkan rasa senang ini, gua lebih memilih menjaga harga diriku yg mungkin sebenarnya juga entah sudah jatuh seperti apa di mata mereka.

Selagi gua hanya bisa menunggu Dedi berbuat sesuatu terhadapku, Jenny sudah mulai dikerubuti oleh pak Edy serta Pandu. Pak Edy dgn seenaknya merangkul Jenny serta melumat bibirnya, sementara Pandu yg seperti tak mau ketinggalan, dgn sedikit kasar meraba serta meremasi kedua toket Jenny yg masih tertutup kaus olahraga itu.

"Emmh. oooh. mmmhhh.", dgn mata terpejam, Jenny hanya menggeliat pasrah serta merintih tanpa perlawanan sedikitpun.

Pemandangan erotis ini membangkitkan gairahku, membuatku memalingkan mukaku dgn jantung yg berdebar. Tapi gua jadi melihat Dedi yg duduk di sampingku. Ia memandangi diriku seperti menginginkanku serta kedua tangannya mulai meremasi kedua toket ku yg masih tertutup kaus olahragaku.

gua segera menepis tangannya krn gua tak ingin makin terbakar oleh gairahku. tak ingin bertatap muka dengannya, gua kembali mengalihkan pandanganku ke arah Jenny yg terus digumuli oleh pak Edy serta Pandu itu.

Akhirnya pak Edy puas juga menciumi Jenny. Kini ia merebut toket kiri Jenny dari tangan Pandu, kini kedua toket Jenny jadi mainan kedua orang itu. Jenny kembali hanya bisa merintih pasrah, sesekali ia menatapku dgn pandangan memelas.

Maafkan gua Jen, gua tak bisa berbuat apa apa untuk menolongmu.


IV. Jenny yg Sexy serta Erotis
Tak ada yg bisa kulakukan untuk menolong Jenny. gua sendiri yg masih amat kelelahan, hanya bisa menepis serta menepis kedua tangan Dedi yg sibuk mencari kesempatan utnuk menggerayangi kedua toket ku selagi gua terbaring lemas di ranjang UKS ini.

toh kalaupun gua punya tenaga, gua sadar juga tak akan mampu berbuat apapun untuk menyelamatkan Jenny, ataupun diriku sendiri. gua makin merasa bersalah memikirkan Jenny yg bernasib seperti krn menemaniku di ruang UKS ini.

lamunanku terhenti ketika tiba tiba gua melihat Pandu berhenti memainkan toket Jenny, lalu ia medekati lemari kotak obat di dinding.

"Oh. kamu mau apa.", Jenny mendesis ketakutan ketika Pandu kembali mendekatinya sembari membawa gunting yg diambilnya dari lemari itu tadi.

"Kamu sudah gila ya?? Jenny kan sudah tidak melawan, kok kamu masih ingin melukai Jenny?" dgn suara pelan gua membentak Pandu antara marah, ngeri serta kuatir.

"Memangnya siapa yg ingin melukai cewek secantik Jenny ini?", bantah Pandu tanpa menoleh padaku, ia terus mendekati Jenny.

"Mmmh.", Jenny merintih ketika Pandu menekan nekan bagian selangkangan Jenny.

"Ini memekmu ya?", tanya Pandu sembari menekankan jarinya dgn nakal di tengah tengah daerah selangkangan Jenny.

"Angghhk. iyaa.", keluh Jenny.

"Tapi. tapi kamu.", Jenny makin panik serta tak meneruskan kata katanya.

Kini Jenny tak berani bergerak serta hanya memandang ngeri ketika Pandu menarik bagian selangkangan celana olahraga yg dikenakan Jenny itu, lalu menggunting pada bagian sambungan jahitan itu, membuat sebuah lobang kecil.

"Oooh.", Jenny memejamkan matanya sembari merintih ketika Pandu sudah menarik celana dalam Jenny yg terlihat dari lobang itu.

Sebuah guntingan segaris yg dilakukan oleh Pandu pada celana dalam itu meninggalkan lobang, yg membuatku mengerti apa yg kira kira ingin dilakukan Pandu.

Diam diam gua makin larut dalam gairahku, apalagi ketika gua bisa melihat bibir memek Jenny dari lobang yg dibuat Pandu pada celana olahraga serta celana dalam Jenny. gua sudah tidak ada niat untuk menepis tangan Dedi yg makin sibuk menggerayangi tubuhku.

Bahkan diam diam gua menikmati setiap remasan pada kedua toket ku ini, sembari membayangkan betapa sexynya Jenny kalau ia diperkosa dalam keadaan seperti itu, bahkan gilanya gua sampai hati membayangkan diriku yg berada di posisi Jenny sekarang ini.

Sementara Jenny sendiri memandang Pandu dgn memelas, seperti memohon agar Pandu tak meneruskan niatnya. Tapi gua tahu kalau Jenny sebenarnya juga sudah mengerti, sama sepertiku, bahwa kita berdua tak akan lolos begitu saja dari situasi sekarang ini.

"Ngghkk.", Jenny melenguh tertahan serta tubuh Jenny tersentak ketika Pandu memagut bibir memek nya.

Pandu terus melumat bibir memek Jenny, sedangkan Jenny meronta menggoyangkan pinggulnya ke kanan serta ke kiri, seperti ingin melepaskan bibir memek nya dari cumbuan Pandu. Tapi Pandu menangkap serta mengait kedua paha Jenny dgn kedua lengannya, hingga kini Jenny tak bisa kemana mana lagi. Tak ada lagi yg bisa dilakukan Jenny selain merintih rintih dalam siksaan kenikmatan seks yg menderanya.

gua mendengar jelas suara cairan yan diseruput oleh Pandu, mungkin itu cairan cinta Jenny. Tak lama kemudian tubuh Jenny mengejang serta pinggangnya tertekuk ke atas dgn sexy, tepat pada saat itu pak Edy dgn kejam meremas kedua toket Jenny kuat kuat.

"Ngghh. udah. ampuun.", Jenny merintih lemah.

Tapi Pandu terus memagut bibir memek Jenny. Kedua tangan Jenny mencengkram sprei ranjang UKS itu, sesaat kemudian Jenny mendesah tak karuan serta ia mencoba menekan kepala Pandu untuk melepaskan pagutan pada bibir memek sexy nya. Tampaknya Jenny sudah mulai tersiksa oleh kenikmatan seks yg menderanya.

"Sudah Jenny, kamu diam saja", kata pak Edy sembari menangkap serta menarik kedua pergelangan tangan Jenny itu ke atas kepala Jenny.

"Tapi. ooh.", Jenny merintih tertahan.

Jenny terus menggeliat dgn kedua tangannya yg tertahan oleh cengkeraman tangan pak Edy. Tiba tiba kepala Jenny terdongak serta tubuhnya mengejang ngejang tak karuan.

"Ngghh. adduuh.", Jenny melenguh serta merintih, kelihatannya Jenny sudah mengalami orgasme.

"Sluuurpp.", Pandu terus menyeruput cairan cinta Jenny sepuas puasnya, sementara Jenny terus menggeliat serta mengejang tanpa daya.

"Ongghh. sudah Panduu. amppuuun.", Jenny merintih serta menggelinjang tak karuan.

Pinggang Jenny sampai terangkat angkat dgn sexy ketika Jenny menggelepar sejadi jadinya melepaskan orgasmenya. semua gerakan erotis Jenny itu baru mereda ketika akhirnya Pandu selesai menikmati tetes terakhir cairan cinta Jenny.

Kini Jenny tergolek lemas dgn nafas tersengal sengal, sedangkan Pandu menjilat bibirnya sendiri sembari tersenyum penuh kemenangan.

Tanpa memberi kesempatan Jenny istirahat berlama lama, Pandu sudah melepaskan celana panjangnya berikut celana dalamnya. Kini kontol nya yg hitam panjang itu sudah tegak mengacung, membuat wajah jelita Jenny yg tadinya sayu memelas krn larut dalam orgasme, kini berubah menjadi ekspresi ngeri.

"Nggak usah takut amoy sayang", kata Pandu sok mesra pada Jenny.

Pak Edy mengangkat Jenny hingga terduduk, lalu ia memeluk tubuh Jenny dari belakang supaya Jenny tak kembali jatuh terbaring di ranjang. Jenny yg kini bersandar pada tubuh pak Edy itu menggigit bibir ketika ujung kepala kontol Pandu sudah menempel pada bibir memek nya.

Kedua betis Jenny diangkat melebar oleh Pandu, hingga lobang di celana itu ikut melebar serta mempertontonkan bibir memek Jenny, seolah memberikan jalan untuk kontol Pandu yg siap mengaduk aduk lobang memek Jenny.

Entah apa yg dirasakan oleh Jenny sekarang, apalagi pak Edy yg memeluknya dari belakang itu dgn tak tahu dirinya kembali meremasi kedua toket Jenny. gua ikut menggigit bibir menyaksikan proses penetrasi yg mulai dilakukan oleh Pandu itu.

"Ja. jangan.", Jenny merengek ngeri sembari terus memandang ke arah kontol Pandu.

Pandu dgn nakal malah menggoyang goyangkan pinggulnya hingga kepala kontol nya bergesekan dgn bibir memek Jenny. Muka Jenny terlihat memerah, entah apakah Jenny sedang marah, takut, atau ia malah mulai terangsang diperlakukan seperti itu oleh mereka.

"Aaahh.", Jenny merintih ketika kepala kontol Pandu itu mulai membelah bibir memek nya.

Pandu terus melesakkan kontol nya ke dalam lobang memek sexy Jenny. Setiap centimeter dari kontol Pandu yg masuk membuat Jenny makin menggeliat. Tapi Jenny tak bisa ke mana mana, krn tubuhnya sudah terjepit di antara pak Edy serta Pandu.

Jantungku berdegup makin kencang melihat kontol Pandu itu terus melesak makin dalam melewati lobang dari celana Jenny itu. Sungguh pemandangan yg amat erotis serta sexy melihat kontol itu tertelan sepenuhnya di dalam memek Jenny, selagi Jenny masih berpakaian lengkap itu, apalagi kini Jenny sudah pasrah dgn keinginan Pandu. Ia memejamkan matanya erat erat serta menyandarkan kepalanya di atas pundak kanan pak Edy.

"Mmmhh.", Jenny merintih tertahan ketika pak Edy dgn cepat memanfaatkan keadaan ini untuk memagut bibir temanku ini.

Beberapa menit digagahi oleh Pandu serta juga pasrah membiarkan bibirnya dilumat habis oleh pak Edy, Jenny akhirnya tak tahan lagi. Entah seperti apa kenikmatan seks yg diperoleh Jenny, sekarang ia mulai menggeliat hebat. gua melihat tubuh Jenny mengejang hebat, erangan serta rintihan dari Jenny yg tersumbat pagutan pak Edy membuat jantungku berdegup tak karuan.

-x-

V. Gairahku Di Ruang UKS
gua sudah tak bisa menahan diri, gua menoleh ke arah Dedi yg masih asyik meremasi kedua toket ku.

"Ded. gua. gua juga mau.", gua memohon dgn memelas.

"Juga mau apa cantik?", kata Dedi sembari mencolek daguku.

Sebenarnya gaya Dedi tadi itu kampungan sekali, tapi gua tak memperdulikannya. gua menguatkan hatiku, mengutarakan keinginanku lebih jelas.

"gua juga mau seperti Jenny", gua berkata dgn menahan malu, wajahku terasa panas sekali.

"Ohh. Elizaa. kamu ini kenapa. ngghh.", tanya Jenny di sela rintihan serta lenguhannya.

gua tak berani balas menatap Jenny yg kini kembali melenguh dalam himpitan Pandu yg terus memompa lobang memek nya serta pak Edy yg masih asyik meremasi kedua toket nya.

"Oooh. jadi kamu juga mau celanamu dilobangin seperti itu?", tanya Dedi lagi yg tersenyum lebar.

gua melupakan semua harga diriku, gua memejamkan mataku sembari mengangguk perlahan.

"Elizaa. jangaan.", Jenny merintih.

gua menggigit bibir menahan malu yg amat sangat ini, gua tak tahu harus menjawab apa pada Jenny. gua benar benar menginginkan kenikmatan seks yg dirasakan Jenny sekarang. gua berusaha tak memperdulikan tawa Dedi yg terdengar begitu senang itu. Kini gua hanya berharap harap cemas menunggu Dedi memenuhi keinginanku.

Sentuhan jari Dedi pada bibir memek ku begitu terasa krn gua tak memakai celana dalam. gua menggeliat tertahan serta membuka mataku, menatap ke arah selangkanganku dgn sayu. Dedi menarik celana olahragaku di bagian selangkanganku itu, lalu mengguntingnya dgn hati hati.

Dedi tertegun sejenak menatap selangkanganku, lalu ia tersenyum lebar. Rupanya ia sudah tahu kalau gua memenuhi ancamannya untuk tidak memakai celana dalam di sekolah. dgn sebal gua membuang muka, tapi Dedi dgn nakal mengelus bibir lobang memek ku yg kini pasti bisa terlihat dari lobang yg baru saja dibuatnya di celana olahragaku ini.

"Mmm. Ded. ", gua menyerah serta merintih nikmat.

Benar benar gila, gua bahkan merasa kecewa ketika Dedi menghentikan elusan jari tangannya pada bibir memek ku. Dedi melepaskan pegangan tangannya pada bagian celana olahragaku yg tadi ditariknya, lalu mengembalikan gunting itu di lemari. Kini Dedi mendekatiku serta kepalanya terus turun menuju selangkanganku.

"Cantik, memekmu udah basah gini. udah pengin ya?", tanya Dedi yg terus menatap dgn penuh nafsu ke arah selangkanganku.

Walaupun wajahku rasanya panas mendengar pertanyaan mesum Dedi itu, gua sendiri sudah tak tahan lagi serta ingin rasanya gua berteriak memaksa Dedi segera menggoda, menyentuh atau malah memperkosa lobang memek ku.

Tapi gua belum setega itu untuk menghancurkan harga diriku sendiri. gua hanya bisa menatap Dedi dgn penuh permohonan, menunggunya memberiku kenikmatan seks seperti yg dirasakan oleh Jenny sekarang ini. Setiap desahan serta lenguhan Jenny yg kudengar hanya membuatku makin iri padanya, gua tak tahu apa yg harus kulakukan sekarang ini.

"Mmmhh.", gua merintih serta menggeliat ketika gua mendapat apa yg kuharapkan.

Dedi menjilati bibir memek ku serta gua sendiri mencengkreram sprei ranjang ini kuat kuat. Kepalaku terdongak serta badanku tersentak ketika Dedi melesakkan lidahnya menerjang lobang memek ku, Dedi memagut bibir memek ku sesudah lidahnya terbenam cukup dalam. dgn kejam Dedi memainkan lidahnya di dalam sana, membuatku menggelepar tanpa daya serta melenguh lenguh sejadi jadinya.

"Ssst. diam cantik, nanti yg di luar dengar!", kata Dedi mengingatkanku sembari meremas kedua toket ku.

gua tergolek lemas, jilatan itu sudah berhenti. gua memejamkan mata serta menenangkan diriku, tapi gua terus menunggu nunggu nikmatnya siksaan berikutnya dari Dedi.

"Cantik. gua perkosa kamu sekarang ya", bisik Dedi di telinga kiriku.

Kata kata Dedi membuat perasaanku makin tersengat, gua mengangguk pasrah sembari membuka mataku, menatap sayu pada Dedi yg kini melepas celana panjang serta celana dalamnya. Lalu ia naik ke ranjang tempat gua berbaring ini, mulai bersiap untuk menggagahiku.

"Siap ya cantik", kata Dedi ketika ia mulai menekankan kepala kontol nya pada bibir memek ku.

Urat urat tubuhku serasa mengejang ketika gua bersiap menerima tusukan kontol Dedi yg mulai membelah bibir lobang memek ku.

"Ahh. sakit Ded.", gua merintih serta mengeluh ketika Dedi menghunjamkan seluruh kontol nya begitu saja tanpa ampun.

Berikutnya Dedi melebarkan pahaku serta menekan nekan kontol nya dalam dalam menusuk lobang memek ku, lalu ia merebahkan tubuhnya di atasku. kita saling bertatapan. Kurasakan Dedi menatapku dgn mesra, gua memalingkan wajahku ke kiri ketika Dedi menurunkan kepalanya.

"Cantik, sudah terima SMSku tadi?", bisik Dedi di telingaku.

gua menatap Dedi dgn kesal sekaligus terangsang. Teringat kata katanya di SMS tadi itu membuatku kesal, sementara kontol nya yg bersemayam di dalam lobang memek ku ini berdenyut kuat, memaksaku larut dalam gairah.

"Kamu tahu nggak Eliza. kalau kamu melirik seperti itu. kamu makin cantik.", desah Dedi merayuku sembari memulai entot an kontol nya pada lobang memek ku.

gua mulai menggeliat nikmat di bawah tindihan Dedi. gua merasa begitu sexy menyadari kontol Dedi sekarang ini mengisi lobang memek ku melewati lobang di celana olahraga yg kukenakan ini. Apalagi kini kedua pergelangan kakiku dipegang oleh Dedi serta sudah tak bisa kugerakkan lagi sesuka hatiku. Rasa tak berdaya ini makin menambah sensasi kenikmatan seks yg kurasakan pada lobang memek ku.

Dedi terus menyetubuhiku serta menatapku dgn mesra seperti yg dilakukannya di tempat tambal ban kemarin. kontol nya itu bergerak gerak maju mundur mengorek dinding lobang memek ku, selagi gua hanya bisa pasrah serta menggeliat keenakan.

"Ooh. Eliza.", Dedi meracau keenakan.

Tapi si kurang ajar ini tega menghentikan entot an kontol nya pada lobang memek ku.

"Ooh.", gua mengeluh kecewa serta menatap Dedi dgn memelas.

"Eliza. capek nih. kamu sih kemarin hot amat di tempat tambal ban itu. sekarang kamu aja yg main ya", bisik Dedi yg kini hanya diam serta menatapku dgn pandangan nakal serta mesum.

gua melotot pada Dedi, berusaha memberinya isyarat untuk tak meneruskan cerita tentang kemarin.

gua jadi kuatir kalau kalau ucapan Dedi ini terdengar oleh Jenny, terutama pak Edy serta Pandu. Kalau mereka tahu kemarin gua dijadikan obyek pesta seks oleh Dedi di tempat tambal ban itu, bukan tidak mungkin nasibku akan semakin buruk.

Tapi untungnya pak Edy serta Pandu terlalu sibuk menggumuli Jenny, sedangkan Jenny sendiri keliatannya dalam keadaan berjuang menahan siksaan kenikmatan seks yg mendera dirinya. gua harap tak ada yg mendengarkan kata kata Dedi tadi.

gua menggigit bibir serta memejamkan mata menahan birahi yg bergolak semakin liar di dalam tubuhku ini. Selagi gua tak tahu harus berbuat apa, gua kembali terbeliak serta melenguh ketika Dedi tiba tiba kembali memompa lobang memek ku.

"Oooh. aduuh. ngghh.", gua merintih serta melenguh, tapi hanya sebentar krn Dedi kembali menghentikan gerakannya.

"Ayo cantik. goyang dong", Dedi kembali memintaku.

gua tak punya pilihan lain, gua menginginkan kenikmatan seks itu. Maka gua mulai menggoyangkan pinggulku serta membuat kontol Dedi terkocok dalam lobang memek ku. Dedi mendesis keenakan, sedangkan gua sendiri makin menderita krn gua malah terangsang hebat akibat adukan kontol Dedi pada lobang memek ku, tanpa bisa kutahan lagi gua mulai bergerak liar mencari kenikmatan seks ku sendiri.

Pinggulku kuangkat agak tinggi serta kudorongkan maju hingga kontol Dedi tertelan semakin dalam di lobang memek ku. gua terus mendorong dorong pinggulku ke arah Dedi, akibatnya rasa ngilu yg mendera lobang memek ku makin menggila.

"Engghhk.", gua melenguh serta merintih ketika Dedi menangkap serta menarik pinggulku ke arah tubuhnya, membuat tusukan kontol Dedi itu terasa begitu dalam.

Kini kita berdua sama sama menggoyangkan pinggul kita sejadi jadinya. Dinding lobang memek ku teraduk aduk dgn hebat, membuatku mendesis, merintih serta melenguh. Tubuhku rasanya semakin lemas, tapi setiap hentakan yg dilakukan Dedi memaksa tubuhku mengejang serta menggeliat.

gua benar benar menikmati semua ini serta tanpa ampun lagi orgasme ini mulai menderaku. Kedua betisku melejang lejang tak karuan serta sekarang ini tubuhku rasanya capek sekali. lobang memek ku terasa begitu ngilu krn otot lobang memek ku terus berdenyut tak karuan dalam keadaan terisi penuh oleh sebatang kontol , milik Dedi.

Otot perutku juga seperti tak mau ketinggalan menambahkan rasa sakit bercampur nikmat yg menderaku ini, dgn terus berkontraksi serta mengejang sampai rasanya hampir kram. Entah sampai kapan gua kuat menerima rasa sakit serta nikmat yg terus menderaku ini, juga orgasme ini terus menerus menyiksaku.

gua semakin kecapekan serta sudah kehabisan tenaga untuk menggeliat. Dalam keadaan orgasme, gua hanya bisa pasrah membiarkan tubuhku terhentak hentak dipermainkan Dedi yg semakin bersemangat menghunjam hunjamkan kontol nya mengaduk lobang memek ku. Sambungan tulang tulang di tubuhku rasanya seperti akan lepas semua, membuatku makin lemas serta tak berdaya.

Tapi gua amat menikmati siksaan orgasme yg terus menderaku sekarang ini. kontol yg memompa lobang memek ku tanpa henti itu benar benar membuatku makin tenggelam dalam birahi. gua merintih serta tubuhku bergetar hebat tak kuasa menahan nikmat yg melanda selangkanganku ini. Setiap denyutan yg kurasakan dari kontol Dedi menambah semua sensasi yg menjalari tubuhku.

Rintihanku, juga rintihan Jenny, bersahut sahutan dgn dengusan dua pejantan yg memperkosa kita di dalam ruang UKS ini, ketika.

‘tok tok.!’, terdengar suara ketukan di pintu UKS ini.

-x-

VI. Kedatangan Pak Harjono
Serentak kita semua menghentikan pesta seks ini. gua memandang panik ke arah pintu, lalu saling bertatapan dgn Jenny yg kini wajahnya pucat pasi. Entah siapa yg datang, tapi yg pasti jangan sampai ia mendapati suasana mesum di ruang UKS ini.

"Jenny? Eliza? Kalian masih di dalam? Kok pintunya dikunci?", terdengar suara pak Harjono.

Dedi segera mencabut kontol nya dari lobang memek ku, mencari cari celana panjang serta celana dalamnya yg berserakan di lantai. Demikian juga dgn Pandu, yg segera melepaskan Jenny yg masih di dalam pelukan pak Edy.

Jangan tanya raut muka pak Edy, dia terlihat paling panik di antara kita semua, hingga diam diam gua ingin tertawa. Dasar pengecut, sesudah tega menjerumuskan gua serta Jenny dalam situasi yg menyedihkan, kini ia sendiri ketakutan seperti seorang maling yg terpojok.

"Iya pak. saya serta Eliza masih di dalam", jawab Jenny.

"Lalu kenapa kok pintunya ini dikunci?", tanya pak Harjono lagi dgn cepat.

"Pintunya. soalnya tadi saya sedang mengompres badan Eliza pak. saya takut ada yg masuk", jawab Jenny yg kemudian tersenyum lega padaku, mungkin krn Jenny merasa telah berhasil mendapatkan jawaban yg bagus.

gua sendiri juga merasa lega, sungguh satu alasan yg sempurna, jadi pak Harjono tak akan curiga yg tidak tidak krn pintu yg terkunci itu.

"Ooo. coba kamu cepat selesaikan, bapak mau masuk serta melihat keadaan Eliza. Kalau memang panas badan Eliza masih mengkhawatirkan, sebaiknya bapak antar Eliza ke dokter", kata pak Harjono.

"Iya pak, sebentar.", kata Jenny.

gua serta Jenny cepat cepat merapikan diri sebisanya. Perasaanku campur aduk, antara merasa terselamatkan oleh kedatangan pak Harjono, tapi gua juga agak takut kalau kalau pak Harjono mengetahui apa yg baru terjadi padaku serta Jenny di ruang UKS ini.

Tapi. ya ampun, bagaimana ini? Mana mereka bertiga itu malah mematung seperti menunggu datangnya setan yg akan mencabut nyawa mereka.

"Pak! Kalian! Kalian semua ini gimana sih? Cepat sembunyi!", gua membentak mereka dgn suara pelan.

Seperti tersadar, mereka segera bergegas memunguti helai helai pakaian mereka yg masih tercecer tak karuan di atas lantai, mereka. malah berimpit impitan bersembunyi di pinggir lemari!

"Eh? Kok malah di sana semua sih??? Cepat sembunyi di bawah sini!", bentak Jenny yg juga dgn suara pelan, sembari menyeret mereka semua untuk bersembunyi di kolong ranjang tempat dimana tadi Jenny tadi digagahi oleh Pandu, lalu Jenny membeber selimut pada ranjang itu, menutup sisi kolong ranjang yg akan terlihat oleh pak Harjono nanti.

"Mana kunci pintunya pak?", Jenny meminta kunci pintu pada pak Edy.

Kulihat tangan pak Edy terjulur keluar dari kolong ranjang serta memberikan kunci itu pada Jenny. Lalu Jenny menatapku sembari mengangkat kunci itu, seolah meminta persetujuanku. sesudah gua merasa sekarang ini sudah aman, gua mengangguk serta kemudian Jenny membuka kunci pintu.

"Bagaimana Eliza? Masih sakit?", tanya pak Harjono yg melangkah masuk serta mendekatiku.

"Iya pak. tapi sekarang Eliza udah merasa agak mendingan kok", kataku lemah.

Untung saja tadi itu gairahku langsung padam, gua punya waktu yg cukup untuk mengatur nafasku hingga kini nafasku sudah kembali normal. tak lupa gua merapatkan kedua pahaku, agar lobang yg dibuat oleh Dedi pada bagian selangkangan celanaku ini tak sampai terlihat oleh pak Harjono. Nggak lucu kalau pak Harjono bertanya tentang lobang itu, atau tentang cairan cintaku yg membasahi daerah itu.

"Coba bapak periksa sebentar Eliza", kata pak Harjono sembari meraba keningku.

gua hanya tersenyum tipis, membiarkan pak Harjono memeriksa keadaanku. Hatiku rasanya sejuk mendapat perhatian seperti ini, yg kelihatannya bukan topeng yg menyelubungi niat tersembunyi pak Harjono untuk sekedar menyentuh tubuhku.

"Hmm. sepertinya panas badanmu sudah tidak terlalu tinggi seperti tadi, Eliza. Tapi jelas kamu masih sakit, kalau kamu mau pulang untuk beristirahat, atau menemui dokter, silakan. Bapak akan Bantu urus ijinnya. Kalau perlu bapak bisa mengantarkan kamu ke dokter", kata pak Harjono sembari menurunkan tangannya yg tadi meraba keningku.

Sayang sekali, seharusnya gua bisa saja mengiyakan tawaran pak Harjono ini. Tapi Jenny sudah menjadi korban kebejatan pak Edy serta Pandu krn menemaniku di ruang UKS ini, sekarang gua tak mau meninggalkan Jenny sendirian di sini bersama mereka.

Apalagi nanti jam terakhir adalah pelajaran geografi. Pak Edy yg mengajar geografi itu mungkin akan mencari segala macam alasan untuk memanggil Jenny ke ruangannya, di sana Jenny akan menanggung derita seperti yg selama ini sering kualami.

Selain itu, gua takut kalau nanti atau besok gua serta Jenny malah mendapat ‘hukuman’ tambahan dari wali kelasku yg bejat itu.

"Enggak pak, terima kasih. Eliza sudah agak enakan kok", gua menolak walaupun gua amat menyesali kata kataku ini.

Pak Harjono menggeleng gelengkan kepalanya.

"Memangnya kamu kenapa kok sampai jatuh sakit seperti ini, Eliza?", tanya pak Harjono.

"Mmm. kemarin Eliza belajar untuk ulangan sampai larut malam pak. Jadi sekarang Eliza mungkin kecapekan krn kurang tidur", lagi lagi gua berbohong soal penyebab kurang tidurku.

"Oh.. begitu. Memang seperti yg bapak dengar dari guru guru lain, kamu itu murid yg pandai serta rajin, tapi jangan lupa, kesehatan juga harus dijaga. Ya sudah. kamu istirahat saja di sini, sampai kamu sembuh", kata pak Harjono.

"Aduh. makasih pak", gua tersenyum malu.

"Oh iya Jenny, kalau kamu tidak keberatan, temani Eliza sampai jam olahraga selesai", kata pak Harjono pada Jenny.

"Iya pak, saya nggak keberatan kok", kata Jenny.

"Baik, kalau gitu saya kembali dulu ke aula. Kalau ada apa apa, cari saya di aula ya Jenny", kata pak Harjono yg disambut oleh anggukan serta senyum manis oleh Jenny.

‘kriiing.’, bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi, pak Harjono keluar meninggalkan kita.

Artinya jam olahraga sudah tinggal satu jam pelajaran lagi, itu adalah 45 menit. selama itu gua serta Jenny harusnya bisa mendapat ‘jatah’ beristirahat di dalam ruang UKS ini, tapi kelihatannya kita tak bisa menikmatinya krn kita masih harus berurusan dgn tiga pejantan bejat itu.

Jenny menutup pintu itu, tapi ia tak memutar kunci pintunya. Lalu Jenny menarik serta memegang kunci itu dalam genggaman tangannya. Jenny memandangku sejenak serta menghela nafas panjang, lalu ia memandang ke arah kolong ranjang tempat bersembunyinya tiga lelaki bejat itu.

"Kalian bertiga sudah boleh keluar", kata Jenny dgn dingin.

Perlahan mereka bertiga muncul dari balik kolong ranjang itu serta mereka terlihat masih tegang. Pak Edy sendiri langsung menuju ke kursi serta duduk menenangkan diri. Selagi Dedi serta Pandu memakai pakaian mereka, Jenny duduk di sampingku serta membelai keningku.

"Jen.", entah apa yg harus kukatakan, sekarang ini gua terharu krn gua merasa Jenny begitu sayang padaku.

"Kamu nggak apa apa kan Eliza. kamu istirahat aja ya", kata Jenny pelan sembari terus membelai keningku.

gua mengangguk lemah serta tak banyak bergerak, hanya melihat situasi di ruangan ini sekarang. Pak Edy masih diam, kelihatannya ia masih cukup shock dgn kejadian tadi. Pandu yg sudah selesai berpakaian itu mendekati Jenny serta mengulurkan tangannya.

"Maafkan saya Jen, terima kasih sudah menyembunyikan kita", kata Pandu.

"Tak perlu berterima kasih. Sekarang gua minta kamu keluar dari ruangan ini!", jawab Jenny ketus sembari membuang muka tanpa menyambut uluran tangan Pandu.

"Jenny, saya sungguh minta maaf untuk semua ini. Eliza, tolong maafkan saya untuk yg kemarin", kata Pandu dgn raut muka yg sedih, hingga gua merasa sedikit aneh.

Sesaat kemudian Pandu melangkahkan kakinya keluar dari ruang UKS ini dgn kepala tertunduk seperti seekor anjing yg baru kalah berkelahi. Kini tinggal Dedi yg juga hampir selesai mengenakan pakaiannya, pak Edy yg masih terduduk lemas di kursi itu. Sepertinya pak Edy masih shock serta belum bisa menguasai dirinya.

"Eliza, kamu kecapekan ya? Kalau kamu mau, kapanpun kamu boleh ke rumahku. Eh kalian jangan marah dulu, ayahku itu tukang pijat, tuna netra", Dedi buru buru menjelaskan ketika ia melihatku serta Jenny melotot padanya.

"Tuna. netra.?", tanyaku ragu, rasa kesalku langsung surut serta berubah menjadi rasa iba pada Dedi.

"Ya. Walaupun ayahku buta, tapi dia ahli menghilangkan rasa capek. Jadi kapan saja kamu merasa capek, kamu boleh ke rumahku untuk dipijat ayahku. khusus untuk kamu, gratis", kata Dedi.

gua memandang Dedi ragu, lalu gua memandang Jenny seperti meminta pendapat atau persetujuan darinya. Tapi Jenny cuma diam memandangku dgn raut muka kesal. Sepertinya Jenny nggak suka melihatku menanggapi kata kata Dedi tadi.

"Oh iya, kalau kamu juga capek, kamu boleh datang Jen. serta juga gratis untuk kamu", Dedi juga memberikan tawaran aneh itu pada Jenny.

"Memangnya gua pikir gua akan mau? serta lagian, ngapain juga kamu ngasih gua gratisan segala? Nggak perlu kali!", kata Jenny ketus.

"Anggap saja ini permintaan maaf serta tanda terima kasihku pada kalian berdua, krn.", kata kata Dedi terhenti krn Jenny dgn cepat memotong.

"Nggak ada perlunya kamu minta maaf atau terima kasih ke gua. Tadi itu kamu menyentuh gua juga nggak. Kamu itu harusnya cuma perlu minta maaf sama Eliza! Udah tau Eliza sakit, masih saja kamu perkosa", bentak Jenny dgn kesal sembari melotot pada Dedi walaupun dgn suara yg pelan.

Dedi tertunduk diam seperti tak tahu harus berkata apa. gua agak kasihan juga melihat Dedi dimarahi oleh Jenny, padahal tadi itu gua yg meminta Dedi untuk menggagahiku, atau lebih tepatnya menyetubuhiku.

Semua itu krn gua sama sekali tak bisa menahan gairahku ketika tadi gua melihat gerak serta liuk tubuh Jenny yg mengejang dgn sexy serta erotis ketika tadi Pandu merangsang Jenny, apalagi ketika Pandu melobangi celana olahraga Jenny pada bagian selangkangannya, gua merasakan sensasi yg sulit kugambarkan dgn kata kata ketika gua melihat kontol Pandu keluar masuk melalui lobang itu selagi Pandu menggagahi Jenny tanpa melucuti celana Jenny.

"Ded, soal itu nanti akan kupikirkan. Sekarang kamu keluar, gua ingin istirahat", kataku pelan sembari mengalihkan pandanganku ke pintu.

"Maafkan saya Eliza, sekali lagi terima kasih", kata Dedi yg kemudian terus keluar dari ruang ini dgn kepala tertunduk.

Kini di ruang ini tinggal gua, Jenny serta pak Edy. Kelihatannya pak Edy sudah bisa menenangkan diri, ia mulai mengenakan pakaiannya. gua serta Jenny saling berpandangan, menunggu entah apa yg akan dilakukan wali kelas kita yg bejat ini sesudah semua kejadian tadi.

"Bapak keluar dulu sekarang, bapak harus mengajar. Jenny, kalau ada apa apa atau ada perlu, kamu bisa panggil bapak di kelas II G", kata pak Edy.

Jenny hanya diam tidak menjawab, bahkan Jenny membuang muka seperti jijik melihat pak Edy.

"Pak Edy, besok malam saya nggak bisa datang pak. Saya sakit", kataku cepat sekalian mencoba memperbaiki nasibku.

"Ya, tidak apa apa. Pertemuan besok sudah tidak penting Eliza", kata pak Edy sembari terus melangkahkan kakinya serta keluar, diikuti Jenny yg kemudian langsung mengunci pintu ruangan ini.

-x-

VII. Istirahat Dalam Pelukan Jenny
Jenny kembali duduk di samping kananku, tapi ia terlihat seperti tidak senang, membuatku kuatir serta mengira ngira apa yg kira kira membuat Jenny bersikap seperti itu.

"Jen. kamu kenapa?", tanyaku dgn ragu.

"Eliza. apa sih maksud si Dedi bilang kamu kemarin hot amat di tempat tambal ban itu?", tanya Jenny.

"gua. ini. nanti gua ceritakan di rumah aja ya Jen. jangan di sini.", gua memohon.

Jenny termenung sejenak.

"Iya, kamu kan lagi sakit. Nanti pulang sekolah, kamu kuantar pulang ya sayang, sekalian nanti di rumahmu ceritain, kekasihku ini abis ngapain serta diapain kok sampai lemas seperti ini", kata Jenny sembari menatapku nakal.

"Iih. apaan sih", jawabku sembari meleletkan lidah.

"Pokoknya nanti kamu kuantar pulang! Nggak boleh menolak!", kata Jenny tegas.

"Iya iya. makasih ya sayang", gua menjawab pasrah.

"Ya udah, sekarang kamu tidur aja El.", kata Jenny yg kemudian ikut berbaring di sampingku.

Kini kita berdua berdesakan di atas ranjang UKS yg cukup kecil ini, gua memejamkan mataku menikmati pelukan Jenny.

"Tapi awas kalau kamu berani suka sama Dedi!", bisik Jenny di telingaku.

gua sampai menoleh kaget mendengar ucapan Jenny, krn sama sekali tak kurasakan nada canda dari suara itu. Apalagi cara Jenny menatapku sekarang ini persis seperti ketika gua menatap tak senang pada Andy, sewaktu gua mendapati Andy sedang bercanda dgn siswi lain. Itu adalah tatapan cemburu!

"Jen?", gua mendesis ragu.

"Tadi itu. waktu gua liat kamu nyerahin diri begitu aja. gua nggak suka! Kamu nggak boleh suka sama Dedi! Pokoknya nggak boleh! Lagian, ngapain juga sih kamu mau sama cowok sejelek itu?", tanya Jenny dgn ketus.

"gua nggak suka sama Dedi kok, Jen.", gua membantah dgn cepat, krn gua memang tak merasa seperti itu.

"Bagus deh kalau kamu nggak suka. tadi itu kamu sadar nggak sih kalau kamu itu lagi sakit?", tanya Jenny, masih dgn nada yg ketus.

"gua.", kata kataku terhenti krn gua sudah tak tahu harus berkata apa.

Malu sekali rasanya kalau teringat betapa tadi itu gua bukan hanya menyerahkan diri, bahkan gua yg minta untuk digagahi oleh Dedi. hal ini masih ditambah lagi dgn kekuatiranku akan nada cemburu yg kurasakan dari suara Jenny.

"Ya udah. yg penting kamu nggak boleh ninggalin gua. Eliza", bisik Jenny sembari melingkarkan tangan kanannya di atas dadaku.

"Ih. kamu ini ada ada saja Jen.", kataku sembari memeluk tangan Jenny yg menindih kedua bukit toket ku ini

gua berpikir untuk mencoba mengalihkan topik pembicaraan kita yg menurutku jadi semakin menegangkan ini. Entahlah, gua memang suka bermesraan dgn Jenny yg cantik jelita ini. Bahkan gua ingin ngentot dgn Jenny seperti kemarin gua ngentot dgn Cie Stefanny.

Tapi menurutku semua ini hanyalah untuk bersenang senang saja, bukan krn gua jatuh cinta pada Jenny. Aneh sekali rasanya kalau kemudian Jenny memintaku supaya tidak ‘meninggalkan’ dirinya, yg berarti gua tak boleh mencintai seorang laki laki, mencintai dalam arti sesungguhnya.

Harus kuakui, gairah yg melandaku saat berduaan dgn Jenny sering membuatku lepas kontrol, apalagi kedekatan hubungan kita berdua memang sudah tidak sewajarnya seperti persahabatan erat biasa.

Tapi gua sadar betul kalau kita berdua sama sama wanita. Seberapapun kita saling sayang, kita tak mungkin bisa menikah. Lagipula gua sudah mengidamkan seorang lelaki di dalam hatiku, maka gua makin khawatir dgn perkataan perkataan Jenny tadi.

"Tau nggak? gua jadi ingat waktu dulu kita liburan di villamu. udah capek capek ngelindungin kamu, eh malah kamunya yg nyerahin diri ke penjaga villamu itu", kata Jenny yg kini seperti merenung.

"Jeen.", gua merengek malu krn diingatkan kembali tentang kejadian itu.

"Apalagi waktu itu kamu pakai sayang sayangan sama Sherly, gua sampai iri ngeliat kalian berdua. Tapi nggak apa apa sih. Gara gara itu, sekarang kamu kan malah jadi kekasihku", kata Jenny yg kemudian mencium bibirku dgn mesra.

"Emmphh.", gua merintih senang, lagi lagi gua sudah lupa diri serta membalas ciuman Jenny dgn mesra serta sepenuh hati, kita berciuman sampai nafas kita sama sama tersengal sengal.

"Mmm. gua sayang sama kamu.", guman Jenny yg kini malah memejamkan matanya serta menyusupkan wajahnya di pundak kananku.

Jantungku makin berdegup kencang, sesaat gua sadar serta teringat akan kecemburuan Jenny tadi, lidahku rasanya kelu untuk menjawab atau berkata sesuatu.

"Sayang. kamu istirahat ya.", bisik Jenny dgn mesra.

gua mengangguk lemah serta diam saja. Sekali ini gua mencoba benar benar beristirahat. Mataku kupejamkan, kubuang semua pikiran yg memusingkan kepalaku ini serta gua mulai menikmati istirahatku dalam pelukan Jenny.

Akhirnya gua benar benar tertidur, memberikan istirahat pada tubuhku yg sudah terlalu lelah akibat ngentot berkali kali sejak kemarin.

-x-

VIII. Jam Istirahat Ke Dua yg Penuh Gairah
Dadaku tiba tiba terasa sesak. Kecupan lembut pada bibirku membuatku perlahan mencoba membuka mataku. sesudah gua benar benar terbangun, gua mendapati Jenny yg menindih tubuhku sedang mengecup mesra bibirku, hingga gua tersenyum serta merintih manja.

"Sayang. udah bangun ya.", desah Jenny menyapaku dgn tatapan mata yg sayu.

"Mmm.", gua hanya bisa merintih, jantungku berdegup kencang seiring dgn bangkitnya gairahku.

"Kamu udah nggak sakit sayang?", tanya Jenny sembari terus menciumi bibirku.

"Udah. mendingan sih, Jen. mmmhh.", gua berusaha menjawab di tengah hujan ciuman dari Jenny ini.

"Bentar lagi jam istirahat ke dua nih, Eliza. gua ambilkan baju seragammu di kelas, kita ganti baju di sini aja ya", kata Jenny yg beranjak bangun.

gua menganggukkan kepala walaupun sebenarnya gua sedikit kecewa krn Jenny menghentikan cumbuannya padaku.

Jenny mengecup bibirku sekali lagi, lalu ia pergi keluar meninggalkanku di ruang UKS ini. Dering bel sekolah tanda jam istirahat ke dua sudah berbunyi. gua kembali memejamkan mataku. sembari menunggu Jenny, gua tersenyum senyum sendiri mengingat ingat kemesraan kita berdua ini.

‘klik’, kembali pintu ruang UKS ini terbuka.

Jenny masuk dgn membawa tas plastik, mengeluarkan serta menaruh isinya yg ternyata adalah baju seragam kita itu di atas meja. Jenny sendiri sudah berganti baju seragam sekolah. Lalu Jenny menatapku dgn senyuman nakal, membuatku kuatir dgn hal apa lagi yg kira kira akan dilakukan kekasihku ini terhadap diriku.

"Eliza, tadi gua ketemu pacarmu lho, bentar lagi dia mau ke sini", kata Jenny.

"Eh? Siapa Jen?", gua bertanya dgn bingung sekaligus penuh harap jika yg dimaksud Jenny adalah Andy.

"Ih. senangnya. gua cemburu lho", Jenny merajuk.

"Cemburu sama siapa Jen?", tanya Sherly yg sudah masuk serta mengunci pintu ruang UKS ini, sekarang Sherly berdiri berada di samping Jenny.

"Sama kamu! Abisnya kekasihku ini senang sekali gitu waktu dia tau kamu mau ke sini", jawab Jenny yg lalu langsung merangkul Sherly serta bibir mereka berdua saling berpagut dgn panasnya.
Sherly

"Mmmhh.", Sherly merintih mesra sembari memeluk Jenny.

"Ka. kalian?", gua bertanya setengah tak percaya.

Pemandangan di depan mataku ini membuat nafasku mulai memburu. Kedua kekasihku yg cantik jelita ini saling memagut bibir serta saling peluk dgn begitu mesra. Kini pikiranku jadi melayang ke mana mana. Apa mereka berdua memang sudah terbiasa saling bermesraan seperti ini?

Terlintas di benakku tentang kekuatiranku tadi terhadap sikap Jenny yg sepertinya tak ingin gua mencintai orang lain. dgn kejadian ini, gua berharap dugaanku tadi sama sekali tidak benar, melihat Jenny yg kini bersikap begitu mesra dgn Sherly di hadapanku.

Bahkan tadi ia sempat menggodaku dgn mengatakan kalau Sherly itu pacarku. Mungkin saja tadi itu Jenny sekedar tidak rela melihatku menyerahkan diriku pada Dedi, mengingat penampilan Dedi yg sama sekali nggak setara denganku.

"Kenapa sayang. kamu jealous ya ngelliatin Jenny kucium seperti ini?", tanya Sherly sembari menatapku dgn pandangan menggoda

"Masa sih jealous? Maafin gua ya sayang. mmm. kalau gitu. sebagai permintaan maaf.", kata Jenny yg kemudian mendekatiku diikuti Sherly.

"Kalian mau apa.", gua bertanya dgn suara gemetar krn gua menjadi tegang melihat ekspresi wajah mereka yg jelas sekali sedang merencanakan sesuatu.

"Nggak ngapa ngapain kok sayang. Kita ini perhatiin kamu lho. kamu kan lagi sakit. Jadi gua serta Sherly mau membantu gantiin baju kamu", kata Jenny dgn senyum tertahan sembari duduk di samping kananku, bersamaan dgn Sherly yg sudah duduk di samping kiriku.

"Eh?", gua menoleh ke arah Jenny serta Sherly dgn agak terkejut, sebelum gua bisa berbuat sesuatu, mereka mulai menelanjangiku.

Kaus olahragaku ditarik mereka ke atas, gua hanya pasrah mengangkat tanganku, memudahkan Jenny serta Sherly melucuti kaus olahragaku ini.

"Duh. gua udah kangen deh sama punya Eliza ini", kata Sherly yg kemudian menyusupkan wajahnya pada bukit toket kiriku yg masih terbungkus bra ini, memaksaku menggeliat lemah menikmati cumbuan Sherly pada bukit toket kiriku ini.

"gua juga kangen." desah Jenny dgn tatapan matanya yg sayu, kemudian Jenny ikut menyusupkan wajahnya pada bukit kanan toket ku.

"Mmhh. ooh. kalian curang.", gua merengek manja sembari mulai meremas remas rambut milik kedua kekasihku ini.

"Kok bisa curang sih sayang.", desah Sherly di antara nafasnya yg memburu.

"Kalian kan. berdua. gua cuma satu. angghk.", gua tak mampu meneruskan omelan manjaku ini krn gua harus melenguh melepaskan gejolak birahi akibat rangsangan hebat yg melandaku ketika Sherly kembali menekan toket kiriku dgn wajahnya.

"Udah deh Sher. kalau kita sayang sayangan sama Eliza terus gini, kapan Eliza ganti bajunya?", kata Jenny yg tiba tiba menghentikan cumbuannya pada toket kananku.

"Iya iya. ayo Jen, kita bantuin Eliza untuk ganti baju", kata Sherly sembari menggigit bibirnya serta menatapku dgn penuh gairah, membuatku tersenyum malu serta jantungku berdebar semakin kencang.

Jenny mengambil baju seragam sekolahku, sementara Sherly sudah mulai mengaitkan kedua jari telunjuk tangannya ke bagian pinggangku, menurunkan celana olahragaku. gua hanya bisa menatap Sherly dgn tegang tanpa tahu harus berbuat apa selagi ia akan segera menelanjangiku.

Walaupun mereka berdua sudah pernah melihat tubuhku tanpa busana, tetap saja rasanya aneh serta kacau kalau mereka melucuti pakaianku di sekolah seperti sekarang ini. gua merasa seolah akan diperkosa saja oleh kedua kekasihku ini.


"Ya ampun. Eliza?", tanya Sherly yg terbelalak melihat ke arah selangkanganku.

Inilah salah satu hal yg kutakutkan sejak tadi. Sekarang ini Sherly pasti sudah melihat lobang yg tadi dibuat oleh Dedi pada jahitan di bagian selangkangan celana olahragaku. Reflek gua menurunkan kedua tanganku menutupi lobang itu, tapi gua sadar kalau Sherly tentu tak akan membiarkanku begitu saja.

"Buka dulu dong sayang, gua kan juga mau lihat", kata Sherly lembut sembari menyingkirkan kedua tanganku.

"Jangan Sher. gua mmpph.", kata kataku terputus ketika tiba tiba Jenny sudah memagut bibirku.

Selagi gua disibukkan oleh serangan Jenny, Sherly mulai menggoda lobang memek ku. Kurasakan satu jari tangan yg pasti milik Sherly itu mulai menguak sobekan pada bagian selangkangan celana olahragaku.

Kemudian jari itu menerobos masuk melalui lobang itu, membelah bibir memek ku yg masih terkatup rapat ini. Jari itu terus melesak masuk serta mulai mengaduk lobang memek ku. gua meronta lemah, tapi gua masih terlalu lemas untuk berbuat sesuatu.

"Mmpphh. ooohh. ngghhhk.", gua merintih serta melenguh diterjang rangsangan bertubi tubi yg diberikan oleh kedua kekasihku ini, kepalaku kugelengkan kuat kuat, rasanya gua tak kuasa menahan siksaan kenikmatan seks ini.

"Sayang. ayo dong gua cium dulu", bisik Jenny mesra serta menahan gelengan kepalaku dgn kedua tangannya, lalu ia memagut bibirku kembali.

"Mhhh.", gua merintih tertahan.

Kini gua hanya bisa pasrah membiarkan kedua kekasihku ini berbuat sesuka hati mereka padaku. Kedua tanganku yg tadinya kupakai untuk mencoba mendorong tangan nakal Sherly ini sudah melemas, membuat Sherly makin leluasa menggoda lobang memek ku.

gua sendiri mulai membalas pagutan Jenny untuk menikmati ‘perkosaan’ ini, sembari menunggu datangnya orgasme yg akan menyiksa tubuhku.

"Eliza. kamu sexy sekali.", kudengar bisikan Sherly yg kini dgn nakal melesakkan jari tangannya yg ke dua ke dalam lobang memek ku.

"Engghh.", gua terbeliak serta mengejang sembari melenguh antara kesakitan serta keenakan.

"Sayang, jangan ribut dong. nanti ketauan yg lain nih.", desah Jenny yg lalu kembali memagut bibirku, membungkam lenguhanku yg makin menjadi krn Sherly terus mengaduk lobang memek ku tanpa belas kasihan.

gua menggelepar sejadi jadinya di atas ranjang ini menikmati semua sensasi yg menjalari sekujur tubuhku. Kedua kakiku melejang tak karuan ketika rasa ngilu yg amat sangat ini mendera lobang memek ku.

Sprei ranjang tempat gua dibantai kedua kekasihku ini kucengkram kuat kuat dgn kedua telapak tanganku ketika gejolak liar itu mulai melanda tubuhku. Rasa ngilu yg makin menjadi pada lobang memek ku ini menandai datangnya orgasmeku. Kedua betisku melejang lejang tak karuan, cairan cintaku mulai membanjir.

Sherly dgn cepat mencabut jari tangannya, lalu ia tega menambah siksaan ini dgn memagut bibir memek ku serta menyeruput semua cairan cintaku. Getaran nikmat yg menjalari sekujur tubuhku ini makin menghebat ketika Jenny yg masih melumat bibirku ini dgn nakal meremasi kedua toket ku ini bergantian.

Pandanganku sudah mulai kabur serta gua mulai kehabisan nafas. gua benar benar tak berdaya digempur kedua kekasihku ini, yg seperti berkerja sama untuk membuatku tersiksa dalam orgasme. Kini gua hanya bisa berharap semoga mereka segera menghentikan kenakalan mereka ini.

Akhirnya Sherly selesai menghisap habis cairan cintaku serta melepaskan pagutannya pada bibir memek ku, sementara Jenny memang melepaskan pagutannya pada bibirku. Tapi kini Jenny mengecup mataku, pipiku, lalu sekujur wajahku. Mati matian gua berusaha mengatur nafasku serta menekan gairahku, walaupun kedua pahaku ini kurapatkan, menikmati sisa sisa dari sensasi orgasme tadi.

"Sayang. gua lepas celana olahragamu ya.", kata Sherly dgn senyum yg nakal.

"Mmmhh.", gua hanya bisa merintih di tengah hujan ciuman dari Jenny ini.

Sherly melucuti celana olahragaku ini, Jenny seperti bekerja sama dgn Sherly, ia melucuti kaus olahragaku. Kini gua tinggal mengenakan bra di hadapan mereka berdua. sesaat kemudian, Jenny serta Sherly memapahku hingga gua berdiri.

Tak bisa kupungkiri, gua memang suka ngentot dgn mereka, tapi kondisi badanku saat ini benar benar hancur hancuran. gua sudah akan merengek supaya mereka menghentikan penyiksaan ini, tapi Sherly meletakkan jari telunjuk kanannya pada bibirku.

"Enggak kok sayang, sekarang udah waktunya kamu pakai baju seragam. Kalau nggak, bisa bisa kita nggak keluar keluar dari sini", bisik Sherly pada telinga kiriku.

"Ini salah kamu juga Eliza. Abisnya kamu sexy sih", Jenny menggodaku dgn tatapan nakal.

"Tapi jangan kuatir deh sayang, nanti kita lanjutin di rumahmu kok", kata Sherly sembari mengecup telinga kiriku ini, membuatku menggigil dalam birahi.

"Hah?", sesaat kemudian gua nyaris memekik krn terkejut menyadari arti perkataan Sherly.

"Iya, kamu kan lagi sakit, jadi nanti kamu nggak boleh pulang sendiri Eliza! gua serta Sherly yg antar kamu pulang!", kata Jenny.

gua mengangguk pasrah, walaupun hatiku menjadi resah. gua teringat kalau di rumahku sekarang ini, Cie Stefanny mungkin masih menjadi bulan bulanan dua atau tiga serigala itu. Entah apa yg akan terjadi kalau Jenny serta Sherly melihat semua itu. entah apa pula yg terjadi kalau mereka itu melihat kecantikan dua kekasihku ini.

Lamunanku buyar ketika Jenny mulai menghanduki tubuhku yg banjir keringat ini dgn handuk kecil yg memang selalu kubawa kalau ada mata pelajaran olahraga. Lalu Jenny memakaikan baju seragam sekolahku. Sherly juga memakaikan rok seragam sekolahku hingga gua sudah tak telanjang lagi. gua duduk kembali di ranjang untuk mengenakan kaus kaki serta sepatuku.

"Udah yuk, kita balik ke kelas", ajak Jenny.

"Tapi sebelumnya cium dulu dong", kata Sherly yg langsung saja memagut bibirku dgn mesra.

"Mmm.", gua merintih manja serta membalas pagutan bibir Sherly.

"gua juga dong", kata Jenny begitu ciumanku serta Sherly terlepas, Jenny langsung memagut bibirku tanpa memberiku kesempatan untuk bernafas.

"Mmmh. udah dong. kalian ini mau memperkosa gua sampai kapan?", gua pura pura menggerutu ketika akhirnya Jenny puas memagut bibirku.

kita semua tertawa geli, akhirnya acara sayang sayangan antara gua, Jenny serta Sherly ini berakhir juga. sesudah saling merapikan penampilan, kita semua keluar dari ruang UKS ini, ruang yg kini tak hanya meninggalkan kenangan pahit buatku, tapi juga kenangan indah berupa saat saat ngentot dgn Jenny serta Sherly.

-x-

IX. Saat Saat yg Indah
"Hai Eliza. hai semua", Andy menyapa kita begitu kita bertiga keluar dari pintu ruang UKS ini.

"Eh. hai Andy", gua membalas sapaan Andy dgn gugup.

Entah sejak kapan Andy menungguku di luar ruang UKS ini, gua tak berani membayangkan kalau tadi lenguhanku saat Jenny serta Sherly merangsang tubuhku itu terdengar oleh Andy.

Selagi Jenny serta Sherly membalas sapaan Andy, gua merasa gelisah serta berharap harap cemas, semoga saja Andy tak mendengar apapun saat Jenny serta Sherly membuatku merintih serta melenguh di dalam ruang UKS tadi.

"Eee. gua bawain kamu Aqua ini. kamu tadi sakit ya?", tanya Andy yg menyodorkan satu Aqua gelas, tapi ia terus menunduk seperti tak berani menatapku.

"Cieee. kok baik amat sih sama Eliza? Hayoo.", Jenny mulai usil serta menggoda Andy.

"Eliza, ayo diterima dong. Kamu nggak kasihan ya sama Andy dari tadi terus megangi gelas itu buat kamu?", Sherly ikut meledek, membuatku semakin gugup.

"I. iya. makasih ya Andy", kataku dgn pelan.

"Ya udah kita kembali ke kelas dulu ya Eliza. Andy, jagain Eliza ya! Awas lho kalau sampai Eliza kenapa kenapa", kata Jenny yg lalu menggandeng tangan Sherly sesudah Andy mengangguk, mereka meninggalkanku dalam situasi yg membuatku menggigit bibir antara malu, tegang serta senang.

Beberapa saat kita saling diam. gua sendiri sekarang ini entah harus berkata apa, berhadapan dgn lelaki yg selama ini diam diam kuidamkan dalam hati ini.

"Eliza. kamu sakit apa?", tiba tiba Andy bertanya dgn suara pelan, namun cukup jelas bagiku kalau suara itu bergetar.

"gua nggak sakit kok Andy, tadi itu gua cuma kecapaian. Mmm. kamu kok tau sih gua ada di sini?", tiba tiba gua jadi penasaran serta sekalian mencoba mencairkan suasana yg menurutku sedikit canggung ini.

"Tadi waktu jam istirahat kedua, gua menyerahkan daftar absen ke pak Harjono. Oh iya, pak Harjono itu wali kelasku. tadi pak Harjono sempat bercerita, ada murid kelas sebelah yg pandai serta rajin, belajar sampai lupa waktu serta lupa istirahat. Akibatnya waktu jam olahraga, murid itu sampai harus istirahat UKS. Terus gua jadi ingin tahu siapa yg dimaksud pak Harjono, menanyakan nama murid itu. Ketika pak Harjono menyebut nama Eliza, gua pikir itu pasti kamu. gua. gua.", Andy mulai gugup.

gua menunduk dgn rasa senang yg entah bisa kusembunyikan atau tidak. Andy sampai membawakan minuman untukku sesudah ia tahu kalau gua sakit serta harus istirahat di UKS. Senang sekali mendapat perhatian seperti itu dari Andy.

‘kriiing.’, bel tanda jam istirahat kedua berakhir ini berbunyi, membuatku kecewa krn ini berarti saat saat bersama Andy sekarang ini juga harus berakhir.

"Eliza, kamu baik baik saja? Kamu nggak apa apa kalau jalan sendiri ke kelas? gua.", Andy tak melanjutkan kata katanya, ia malah menunduk.

Lagi lagi gua tersenyum senang, gua memandang ini adalah kesempatan untuk memberikan ‘signal’ pada Andy, semoga sesudah ini ia lebih berani mendekatiku.

"gua memang sudah enakan, tapi nggak tau ya. ada apa apa gimana maksudnya? Memangnya kenapa ya Andy, kok kamu nanyain itu?", tanyaku sembari memasang senyum semanis mungkin, terbersit setitik harapan di dalam hati ini kalau Andy akan menemaniku kembali ke kelasku.

"gua. kalau kamu nggak. gua. boleh gua temani kamu kembali ke kelas?", tanya Andy yg masih menunduk serta tak berani memandangku.

"Boleh sih. Tapi kalau nanti ada yg marah sama kamu gara gara kamu antarin cewek lain, gimana coba?", lagi lagi gua menggoda Andy sekaligus mencari tahu apa Andy sebenarnya sudah punya pacar.

"Ah. nggak ada. sungguh, nggak ada kok. Ayo Eliza", ajak Andy yg terlihat malu tapi sesekali ia menatapku, seperti berharap gua mau ditemaninya sampai kembali ke kelas.

gua mengangguk sembari tersenyum. kita berjalan berdampingan ke arah kelasku tanpa saling berbicara, namun sesekali Andy menoleh padaku serta tersenyum. Kurasakan tatapan iri dari beberapa mata murid perempuan yg memandangku, membuatku diam diam merasa bangga.

Kalau saja status kita ini adalah pacar, gua tak akan segan segan memamerkan sikap mesraku dgn menggandeng tangan Andy. Tapi gua memutuskan untuk menjaga sikap serta tak membuat Andy merasa risih padaku.

"Eliza, gua kembali ke kelas dulu. Oh iya, kamu jangan lupa istirahat ya, jangan sakit lagi", kata Andy.

"Iya. makasih ya Andy", gua menjawab sembari mengangguk dgn hati yg berbunga bunga.

gua berjalan menuju ke kursiku. Diam diam gua merasa lega, sepertinya tidak ada tanda tanda kalau Andy tahu tentang aksi sayang sayangan antara gua, Jenny serta Sherly di ruang UKS tadi.

Di samping kursiku, Jenny sudah menunggu, pastinya ia sudah siap untuk menggoda serta meledekku habis habisan. gua bisa melihat pandangan matanya yg jenaka serta usil itu. memang, itulah yg terjadi ketika gua sudah duduk di kursiku. Tapi gua sama sekali tak berusaha membela diri atau balas meledek Jenny, krn sebenarnya gua merasa bahagia.

Ya, gua sedang merasa bahagia. Tadi itu Andy sudah mulai memperlihatkan perhatiannya padaku. gua merasa mempunyai harapan besar, bahwa Andy menyukaiku. Semoga semua ini bukan sekadar mimpi indah untukku.

"Hei. digodain kok malah melamun. cieee, yg jatuh cinta.", bisik Jenny sembari mencubit tanganku.

"Aduh. sakit Jen.", gua mengeluh serta tersadar dari lamunanku, kata kata Jenny membuatku jadi teringat tentang kekuatiranku akan sikap aneh Jenny di ruang UKS tadi.

Tapi gua melihat Jenny tersenyum, gua merasa senyuman itu begitu tulus. gua menatap Jenny dalam dalam serta ketika gua melihat Jenny mengangguk lembut, gua merasa lega serta semua kekuatiranku lenyap dalam senyumanku.

Oh, hari ini benar benar indah. gua tak ingin mengingat semua kejadian pahit yg menimpaku di hari ini, gua juga tak ingin memikirkan apa nanti yg akan terjadi ketika Jenny serta Sherly mengantarku sampai ke rumah serta Cie Stefanny masih menjadi bulan bulanan oleh tiga pejantan itu. Sekarang ini gua hanya ingin mengingat saat saat bersama Andy.

Dua jam pelajaran terakhir ini terasa berlalu begitu cepat, termasuk Geografi, jam pelajaran terakhir yg diajar oleh pak Edy, wali kelasku yg bejat itu. gua tak memperdulikannya, tak ingin mendengarkan apapun darinya. Soal catatan, gua bisa meminjam Jenny, atau mungkin Rini si kutu buku itu kalau kalau Jenny juga malas memperhatikan serta mencatat pelajaran ini.

Lagipula kali ini sepertinya pak Edy masih agak shock akibat kedatangan pak Harjono di ruang UKS saat ia sedang asyik mencabuli Jenny. Sekarang ini pak Edy lebih banyak menerangkan sembari membaca bukunya, tak seperti biasanya yg berkali kali memandangiku di sela sela menerangkan pelajaran dgn tatapan cabulnya yg seperti ingin melihat isi bajuku ini.

Maka gua serta Jenny bisa lebih ‘tenang’ kali ini, bebas dari gangguan guru bejat itu. Bahkan gua serta Jenny sesekali mengobrol walaupun kita menjaga volume suara kita supaya tak sampai mengganggu yg lain serta dijadikan pak Edy alasan untuk membuat kita susah.

sesudah bel tanda pulang sekolah berbunyi, seperti biasa kita segera membereskan buku buku kita sebelum menutup dgn doa. gua terkejut ketika Jenny menadahkan tangannya di atas tasku, seperti sedang meminta sesuatu dariku.

"Mana kunci mobilmu, Eliza?", tanya Jenny.

gua baru ingat kalau nanti ini gua diantar pulang oleh Jenny, juga Sherly. Sebenarnya gua tak enak membuat mereka repot, tapi tadi gua sudah mengiyakan. Jadi gua lebih takut menyinggung mereka kalau tiba tiba gua menolak. Maka kuberikan kunci mobilku pada Jenny. Tak lama kemudian Sherly juga datang.

"Yuk kita antar bidadari kita ini pulang", kata Sherly pada Jenny.

"Iya, bidadari kita yg lagi jatuh cinta", ledek Jenny.

"Jeen.", gua merengek manja.

"Iya iya sekarang gua diam deh. Tapo nanti kita ledekin kamu di rumahmu sampai puas", kata Jenny sembari menggandeng tangan kananku serta mengajakku pulang.

"Bisa nggak ya kita buat pangerannya Eliza ini cemburu sama kita?", tanya Sherly sembari menggandeng tangan kiriku.

"Duh. kalian ini apaan sih.", gua kembali merengek, padahal hatiku senang sekali.

"Ih malah senyum senyum. awas kamu nanti di rumah, bibir kamu pasti abis", bisik Sherly.

"Nanti di kamarnya, bidadari kita ini enaknya diapain ya.", kata Jenny sembari menatapku nakal.

"Ya terserah deh kalian mau apain. Dasar, kalian ini memang curang, beraninya main keroyok", kataku sembari meleletkan lidah.

Mereka berdua tertawa geli sembari terus menggandeng kedua tanganku ke arah parkiran mobil. Ketika kita sudah sampai di depan mobilku, Jenny serta Sherly menelepon sopir masing masing. Jenny meminta sopirnya mengikuti mobilku ke rumah, sedangkan Sherly meminta sopirnya untuk langsung pulang krn nanti Sherly akan diantar pulang oleh Jenny.

"Makasih ya kalian sampai repot gini", gua menyatakan rasa terima kasihku dgn tulus.

"Nggak apa apa kok Eliza. yg penting.", kata Sherly sembari membuka pintu kiri depan mobilku.

"yg penting bidadari kita ini baik baik saja", kata Jenny serta membimbingku duduk di depan.

"Terus gua serta Sherly bisa merawat sembari menyayangi bidadari yg satu ini", kata Jenny.

"Duh. nasibku ini.", gua pura pura menghela nafas panjang, cukup untuk membuat mereka kesal serta menggelitiku sampai gua minta minta ampun.

Kini Sherly duduk di belakang serta Jenny yg menyetir mobilku. Sepanjang perjalanan pulang, mereka terus meledekku soal Andy, membuatku tersenyum malu namun senang. Sesekali Sherly membelai rambutku dgn mesra. Tak terasa akhirnya sampai juga kita di depan pintu gerbang rumahku.

gua memencet remote untuk membuka pintu pagar, lalu Jenny melajukan mobilku ke dalam garasi. Lalu mereka berdua membimbingku turun dari mobil, gua merasa beruntung diantar oleh mereka krn kini kembali merasa lemas.

Sherly menjagaku sementara Jenny menuju ke depan sebentar, kudengar ia meminta sopirnya untuk menunggu di mobil. sesudah itu Jenny serta Sherly kembali menggandeng kedua tanganku, mereka mengajakku ke kamarku.

Ketika kita sudah sampai di depan pintu kamarku, jantungku berdebar dgn kencang. gua tak bisa membayangkan apa yg akan terjadi kalau ternyata saat kita masuk nanti, tiga maniak itu masih asyik mereguk kenikmatan seks dari tubuh Cie Stefanny.

Kalau itu yg terjadi, entah apa reaksi Cie Stefanny melihat kedatangan kita, entah apa reaksi para pejantan itu kalau mereka melihat kecantikan Jenny serta Sherly, entah apa reaksi Jenny serta Sherly sewaktu mereka melihat pesta seks itu nanti.

-x-

X. Kemesraan Di Rumah
"Lho. ini kok seperti sepatu Cie Stefanny?", Jenny bertanya tanya sendiri ketika ia memandang sepasang sepatu yg terletak tak beraturan di depan keset pintu kamarku.

"Bener Jen? Eh kebetulan dong kalau gitu. Ayo Eliza. kenalkan gua ke Cie Stefanny dong", kata Sherly serta ia langsung membuka pintu kamarku lalu masuk ke dalam.

"Sher.", gua berkata ragu, tapi gua tak meneruskan kata kataku ketika gua melihat Sherly berhenti melangkah serta seperti tertegun krn melihat sesuatu.

"Ada apa Sher?", tanya Jenny yg ikut masuk ke dalam kamarku, kini Jenny juga tertegun.

gua tak punya pilihan lain, gua masuk ke dalam kamarku serta segera mengunci pintu. Lalu gua terus melangkah ke arah Jenny serta Sherly, untuk melihat sendiri apa yg dilihat mereka di situ sehingga mereka berdua tertegun seperti itu. gua tak terlalu terkejut melihat Cie Stefanny yg dalam keadaan telanjang bulat, terbaring begitu saja di atas ranjangku dgn rambut yg sedikit awut awutan.

Cie Stefanny entah sedang pingsan atau tertidur. gua menduga Cie Stefanny kelelahan sesudah diajak ngentot oleh Wawan serta Suwito tanpa henti, mungkin juga tadi pak Arifin ikut ambil bagian menikmati Cie Stefanny.

"Ya ampun. Eliza. ini.", Jenny mendesis lirih.

"Eliza. Cie Cie ini. ya ampun. cantik sekalii.", Sherly berkata kagum sembari terus menatap ke arah Cie Stefanny.

"Iya. Sher.. ini Cie Stefanny, Sher", gua berkata dgn pelan.

"Eh?", Sherly memandangku seperti tak percaya.

"Iya, ini memang Cie Stefanny, Sher", kata Jenny sembari melangkah maju, lalu duduk di ranjangku dgn perlahan sembari menatap ke arah Cie Stefanny yg masih terbaring pulas.

Sherly juga ikut duduk di samping Jenny. dgn hati hati mereka menyelimuti tubuh telanjang Cie Stefanny, tapi tiba tiba Cie Stefanny merintih perlahan. Ternyata Cie Stefanny tetap terbangun juga walaupun tadi itu Jenny serta Sherly sudah sangat hati hati menyelimutkan selimut itu.

"Eh. sorry Cie, tapi.", kata Jenny serta Sherly hampir berbareng.

"Nggak apa apa. makasih ya.", kata Cie Stefanny dgn lembut sembari mendekap selimut itu hingga menutup tubuh Cie Stefanny sampai ke dada.

"Cie. sorry ya. Eliza nggak tau kalau Cie Cie masih di sini.", gua berkata pelan serta gua sedikit merasa bersalah.

"Nggak apa apa, Eliza. ini salah Cie Cie juga kok.", kata Cie Stefanny sembari tersenyum manis padaku, membuatku teringat kembali bagaimana kemarin gua menyukai senyuman dari wajah yg amat cantik itu, jantungku kembali berdegup kencang.

"Cie, ini teman teman Eliza. Kalau Jenny Cie Cie udah tau kan, nah yg ini namanya Sherly. Sher, ini Cie Stefanny", kataku memperkenalkan Sherly dgn Cie Stefanny.

Cie Stefanny serta Sherly saling bersalaman serta tersenyum manis. Sherly langsung menyatakan keinginannya untuk les bahasa Inggris pada Cie Stefanny, mereka segera terlibat pembicaraan untuk mengatur jadwal les.

Sementara itu Jenny mendekatiku, menatap heran padaku, seperti bertanya tanya padaku apa mungkin bisa yg terjadi pada Cie Stefanny sampai tertidur dalam keadaan telanjang bulat di atas ranjangku seperti tadi.

gua sadar kalau Jenny juga sudah tahu bahwa jadwal les bahasa Inggrisku adalah kemarin. Seharusnya gua hanya akan menceritakan tentang perkosaan yg menimpaku di tempat tambal ban kemarin, tapi kelihatannya gua tak bisa berbohong kalau Cie Stefanny menginap di sini.

gua bisa saja menceritakan pada Jenny kalau gua telah ngentot dgn Cie Stefanny, tapi gua sendiri tak tahu bagaimana gua menjelaskan mengapa di siang ini Cie Stefanny tertidur dalam keadaan telanjang bulat di atas ranjangku.

"Cie Stefanny. kemarin malam menginap di sini.", gua berkata pelan.

"Terus.?", tanya Jenny yg kini terlihat semakin penasaran.

"Mmm. gua.", kembali gua tergagap tak tahu harus berkata apa.

gua teringat kalau gua sudah berjanji pada Cie Stefanny bahwa gua tak akan menceritakan kejadian kemarin pada siapapun. Tapi sekarang situasi menjadi sulit bagiku. Kalau gua bercerita, berarti gua melanggar janjiku pada Cie Stefanny. Tapi kalau gua tak bercerita, mungkin Jenny akan kesal padaku.

Bahkan sekarang Sherly juga melihatku seperti sedang menungguku menceritakan apa yg kuketahui, membuatku makin bingung serta memandang ke arah Cie Stefanny.

"Eliza, nggak apa, biar Cie Cie yg cerita", kata Cie Stefanny.

gua mengangguk lega, kini kita semua duduk di ranjangku, mengelilingi Cie Stefanny yg terbaring di tengah. Cie Stefanny menarik nafas panjang, lalu ia beranjak duduk, hingga kedua toket nya yg indah itu kembali terlihat.

"Kemarin, Eliza mengajak Cie Stefanny tidur di sini.", Cie Stefanny mulai menceritakan bagaimana gua tiba tiba mencumbuinya, kemudian memaksanya untuk menginap serta di malam harinya gua bahkan ‘memperkosa’ Cie Stefanny.

"Ih. sayang. kamu nakal sekali. masa Cie Stefanny kamu perkosa.", kata Sherly sembari merangkulku.

"Iya. kamu kok jadi nakal gini sih?", Jenny meledekku tapi kemudian ia mendekatiku serta mengecup bibirku dgn mesra.

"Mmmh. kalian ini. ya seperti sekarang ini. gua jadi gini kan juga gara gara kalian tau mmpph.", gua mulai mengomel, tapi omelanku terhenti ketika tiba tiba Jenny melumat bibirku dgn ganas.

"Mmhh. udah dong. kamu nggak kasian ya sama gua. gua kan capek. lagian ada Cie Stefanny nih. kamu nggak malu ya Jen", gua merengek manja ketika Jenny melepaskan bibirku.

"Kamu kan udah istirahat tadi di sekolah. lagian, nggak apa apa kan Cie?", tanya Jenny dgn manja pada Cie Stefanny.

"Kalian ini.", Cie Stefanny tersenyum geli.

"Terus, masih ada lanjutannya nggak Cie?", tanya Sherly dgn antusias.

"Iya, masih ada. Nah, abis itu Cie Cie serta Eliza tidur. Tapi malam itu.", kata Cie Stefanny melanjutkan ceritanya, tentang pak Arifin, Wawan serta Suwito yg menerobos masuk kamarku lewat jendela di tengah malam, sampai ketika gua melakukan ‘live show’ di depan Cie Stefanny, yg akhirnya membuat Cie Stefanny takluk juga dalam gairahnya serta mau mencoba keperkasaan tiga pejantan itu.

"Ya ampun. Eliza. Bukannya ngusir mereka, eh. malah. duh duh. kamu ini ternyata nakal abis", kata Sherly sembari menggeleng gelengkan kepalanya sembari menatapku dgn usil.

"Biarin.", gua membela diri sembari meleletkan lidah pada Sherly.

"Pantesan. kamu sampai ngantuk seperti itu di sekolah. Pakai alasan belajar sampai malam. Nggak taunyaaaa. kamu.", kata Jenny yg juga ikut menggeleng gelengkan kepalanya serta lalu memonyongkan bibirnya meledekku.

"Abisnya, masa gua cerita sama kalian kalau gua abis sayang sayangan sama Cie Stefanny? Ntar kalian malah iri lagi sama gua. Belum lagi kalau nanti ada yg lain yg nggak sengaja dengerin ceritaku, terus ikut iri juga, kan malah gua yg jadi sengsara di sekolah?", kataku sembari meleletkan lidah.

kita semua tertawa geli, lalu Cie Stefanny juga menceritakan tentang kejadian tadi pagi. Sebenarnya sekitar jam 8 pagi Cie Stefanny sudah bangun serta berniat untuk segera pulang. Cie Stefanny mandi dulu, lalu memakai bajunya yg kemarin.

sesudah merapikan penampilan serta menyisir rambutnya, Cie Stefanny membuka pintu kamarku yg tadinya masih terkunci, lalu Cie Stefanny berjalan menuju ke garasi. Di situ Cie Stefanny memanggil Sulikah, bermaksud meminta tolong dibukakan pintu gerbang.

Tapi yg menemui Cie Stefanny bukannya Sulikah, melainkan Wawan yg hanya bertelanjang dada serta bercelana pendek. Tak ada yg bisa dilakukan Cie Stefanny selain merengek serta memohon agar dilepaskan ketika Wawan langsung menyergap serta mendekapnya dgn bernafsu.

Ketika Suwito serta pak Arifin keluar krn mendengar rengekan Cie Stefanny, melihat Cie Stefanny sedang meronta dalam pelukan Wawan, mereka segera membantu Wawan menyeret Cie Stefanny ke dalam kamarku.

Mereka sama sekali tak memperdulikan rengekan Cie Stefanny yg terus minta dilepaskan serta diperbolehkan pulang. Cie Stefanny bahkan sampai berjanji pada mereka untuk datang lebih awal setiap memberikan les padaku sehingga mereka bisa menggagahi Cie Stefanny terlebih dahulu. Tapi mereka bertiga hanya tertawa tawa serta malah meremasi toket Cie Stefanny.

sesudah mereka membopong Cie Stefanny yg terus merengek sampai ke dalam kamarku, tanpa membuang waktu mereka segera menelanjangi Cie Stefanny, kemudian mereka beramai ramai menggagahi Cie Stefanny di atas ranjangku.

Cie Stefanny akhirnya menyerah, melayani nafsu tiga pejantan di rumahku ini. Ketika menerima telepon dariku di pagi tadi sewaktu jam istirahat pertama sekolahku, yaitu sekitar pukul 08:45, pesta seks itu baru dimulai sekitar 10~15 menit.

Mereka terus bergantian menggagahi Cie Stefanny sampai akhirnya sekitar jam 11:00 mereka semua kehabisan tenaga krn kelelahan. Puas menggagahi Cie Stefanny, mereka meninggalkan Cie Stefanny yg masih dalam keadaan telanjang bulat itu begitu saja.

Cie Stefanny sendiri terbaring lemas tanpa daya di atas ranjangku, kemudian Cie Stefanny tertidur krn kelelahan. kelihatannya Cie Stefanny sudah tak diapa apakan lagi oleh mereka sampai ketika kita semua pulang sekolah serta membuat Cie Stefanny terbangun.

"Mereka itu gimana sih. tadi malam udah ngerjain gua serta Cie Cie, paginya masih juga.", gua mulai mengomel dgn kesal.

"Dasar, beraninya cuma main gangbang saja", Sherly juga ikut mengomel, tapi kata kata Sherly itu membuat kita semua tertegun serta menatapnya.

"Coba kalau kita kita yg lebih banyak, gua yakin mereka yg akan merangkak tak bisa berdiri kalau kita peras abis spermanya", kata Sherly lagi dgn ketus.

"Ya ampun Sher.", kata Jenny yg tertawa geli.

gua serta Cie Stefanny saling pandang, lalu kita berdua juga tertawa geli. Sherly masih cemberut, ia menaruh tasnya di atas meja belajarku, lalu mulai merapikan penampilannya serta menyisir rambutnya dgn rapi di depan meja riasku hingga ia terlihat semakin cantik. Kemudian Sherly duduk di sofa kamarku sembari termenung sejenak, sepertinya Sherly sedang memikirkan sesuatu.

"Eliza, keluargamu ada yg sedang di rumah nggak sekarang ini?", tanya Sherly.

"Nggak ada siapa siapa sih Sher. Papa mamaku ada urusan kerja, kokoku juga kebetulan lagi ikut menemani papa mamaku. Kalaupun mereka pulang, kira kira nanti jam lima atau jam enam sore. Emang kenapa Sher?", tanyaku balik.

"Kalau gitu, yuk, kita balas mereka", kata Sherly membuat kita semua kembali terkejut.

"Maksudnya Sher?", gua bertanya heran.

"Ya kita balas. gua mau liat sampai di mana mereka bisa tahan melawan kita bertiga", kata Sherly dgn cueknya, seperti sedang mengatakan hal yg wajar.

"Eh? Kok kita bertiga?", Jenny juga bertanya heran.

"Iya. Kan Cie Stefanny masih lemas abis dibantai mereka bertiga. Jadi kita bertiga aja yg peras sperma mereka sampai abis. Sekalian membalas apa yg mereka lakukan sama Cie Stefanny", kata Sherly.

"Lho. kok gua jadi ikutan?", gua memprotes.

"Iya. Kok gua juga?", Jenny ikut memprotes.

"Abisnya sama siapa lagi dong? Masa gua sendiri yg melawan mereka bertiga? Nanti bisa bisa gua dibantai abis seperti Cie Stefanny dong? Udah ah, ayo! Masa kalian biarin gua sendirian?", Sherly merengek sembari mengajak kita untuk menemui tiga pejantan itu.

"Yah. sayang, kalau nurutin Sherly, kamu nggak jadi istirahat dong.", kata Jenny sembari membelai rambutku.

"Iya nih. Sherly ini ada ada saja kok", kataku sembari melirik Sherly.

"Ayolah. masa sih kalian benar benar tega biarin gua dikeroyok sama mereka?", rengek Sherly lagi.

"Iya iya deh.", keluh Jenny dgn gaya yg lucu, membuatku tertawa geli serta ikut mengangguk.

"Nah. gitu dong", kata Sherly senang sembari mengecup bibirku serta bibir Jenny dgn mesra.

"Kalian. anu. Cie Cie ikut", kata Cie Stefanny pelan dgn wajahnya yg cantik jelita itu merona merah.

gua menatap Cie Stefanny serta tertegun.

"Cie Cie? Apa Cie Cie nggak istirahat aja? Kayaknya Cie Ce masih lemas gini?", tanya Sherly dgn nada kuatir.

"Nggak, nggak apa apa Sherly. Cie Cie udah enakan kok. Cie Cie udah tidur kan tadi. Lagian, Cie Cie mau bantuin kalian. Kalau kita berempat serta mereka bertiga, kan lebih baik", kata Cie Stefanny sembari beranjak bangun sembari membelitkan selimut itu ala kadarnya untuk menutupi tubuhnya yg masih telanjang bulat.

-x-

XI. Pesta Seks yg Liar
Mendengar itu semua, gua serta Jenny saling pandang, kemudian sama sama mengangkat bahu. kita berdua yg masih mengenakan seragam sekolah, juga Cie Stefanny yg hanya menutupi tubuhnya dgn selimut, mengikuti Sherly yg minta ditunjukkan di mana kamar tiga pejantan itu.

Kini kita berempat sampai di depan pintu kamar mereka. gua menatap Sherly, mencoba memastikan apakah ia bersungguh sungguh. Tapi Sherly sudah tak sabar serta ia langsung membuka pintu kamar mereka.

"Hei, kalian ini, beraninya cuma kalau tiga lawan satu sama Cie Stefanny ya? Kalau kalian ini memang jantan, jangan main keroyok seperti itu", kata Sherly dgn ketus pada pak Arifin, Wawan serta Suwito yg kini terbengong bengong sembari memandang ke arah Sherly.

"Lho? Non kok nantang Wawan. Belum tau dia.", kata Wawan yg langsung berdiri serta mendekap Sherly, lalu menyeret Sherly yg sama sekali tak melawan itu ke atas ranjang mereka.

"Eh Arifin! Kamu mau apa? Nggak dengar ya kata kata Sherly tadi kalau jangan main keroyok? Biarin Sherly sama Wawan sendiri!", semprot Jenny yg memang sudah mengenal pak Arifin yg sering mengantarku ke sekolah, Jenny juga sudah mengenal Wawan serta Suwito krn Jenny memang sering datang ke rumahku.

gua tak tahu harus berbuat apa ketika gua melihat Jenny menarik tangan pak Arifin yg sudah mengarah kepada Sherly, lalu Jenny mendorong pak Arifin hingga jatuh terbaring ke ranjang. tanpa berkata apa apa lagi Jenny sudah menindih pak Arifin.

Kini tinggal Suwito, yg lagi tertegun. Ia mungkin tak pernah menyangka ada dua bidadari seperti Jenny serta Sherly ini, yg menyerahkan diri dgn sukarela untuk disetubuhi teman temannya seperti ini. selagi Suwito masih tertegun, tiba tiba Cie Stefanny yg sudah menghampiri Suwito, melorotkan celana Suwito serta mulai memberikan servis oral pada kontol Suwito yg langsung saja mengerang keenakan.

sesudah beberapa saat, Cie Stefanny membimbing Suwito agar berbaring di lantai. Cie Stefanny melepaskan serta membuang selimut yg membelit tubuhnya, lalu Cie Stefanny menurunkan tubuhnya menduduki selangkangan Suwito hingga kontol nya tertelan seluruhnya dalam lobang memek Cie Stefanny.

"Ngghh.", Cie Stefanny melenguh serta mulai menggoyangkan pinggulnya.

Tiba tiba, tinggal gua sendiri yg tak punya pasangan untuk ngentot. gua mulai memperhatikan live show dari tiga pasangan di hadapanku ini.

Sherly serta Jenny sudah tak berpakaian lengkap, baju seragam sekolah mereka sudah tak terkancing sama sekali serta mereka saling mencumbu dgn pasangannya masing masing. Sedangkan Cie Stefanny yg telanjang bulat itu meliuk liukkan tubuhnya dgn sexy saat mengendarai kontol Suwito.

Semua pemandangan ini membuatku jantungku berdegup kencang serta gua mulai terbakar gairahku, tapi entah harus kulampiaskan pada siapa krn sekarang ini tak ada lagi pejantan yg tersisa untukku.

Tanpa bisa kutahan lagi, gua mengangkat rok seragam sekolahku dgn tangan kiriku, lalu gua mulai menggunakan jari tangan kananku untuk mencari serta meraba bibir memek ku yg ternyata sudah mulai membasah ini. gua teringat kalau hari ini gua memang tak mengenakan celana dalamku akibat paksaan Dedi kemarin.

gua menggigit bibir mencoba menahan diri, tapi gua makin tenggelam dalam gairah ketika gua melihat Jenny serta Sherly sudah melucuti rok seragam sekolah mereka sendiri hingga keduanya tinggal mengenakan bra serta celana dalam.

Apalagi sentuhan serta gesekan jariku sendiri pada bibir memek ku ini membuatku makin tenggelam dalam birahi. gua sudah tak bisa berpikir jernih serta gua mulai mencelupkan jari telunjukku sendiri ke dalam lobang memek ku.

"Ngghh.", gua melenguh perlahan menikmati masturbasiku ketika gua mendengar Sherly mulai merintih keenakan.

"Ohh. Elizaa. gilaa. barang Wawan ini. keras amat.", Sherly meracau, ternyata Wawan sudah mulai mengggagahi Sherly yg terbaring di bawah tindihannya.

"Ngghh. Eliza. punya Arifin ini. besarnya. anghhk.", Jenny juga ikut meracau sembari melenguh lenguh dalam pelukan pak Arifin.

"Kalian.", gua tak tahu harus berkata serta mencelupkan jari tanganku lebih dalam pada lobang memek ku serta gua menggigit bibir menahan nikmat.

Pikiranku makin kacau melihat Sherly terus meracau sembari menggeliat. sesudah beberapa kali mendengar ceritaku tentang keperkasaan Wawan, ini adalah pertama kalinya Sherly merasakan sendiri secara langsung sekeras apa kontol Wawan kalau sedang ereksi. tentu sekarang ini Sherly merasakan apa yg sering kurasakan pada lobang memek ku saat Wawan sedang menggagahiku.

gua menjadi iri melihat Sherly yg mulai melemas serta merintih rintih keenakan seperti itu selagi Wawan terus mengentot kan kontol nya yg keluar masuk memompa lobang memek Sherly. Jantungku berdegup kencang serta gua menggigit bibir menahan gairahku.

"Ngghh. aduuuh. enaaak Waaan.", Sherly melenguh serta meracau tak karuan serta tubuhnya kembali menggeliat hebat.

Racauan Sherly ini membuatku makin kacau, gua mencelupkan jari tengah tangan kananku ke dalam lobang memek ku untuk menemani jari telunjukku di dalam sana, lalu gua mengadukkan kedua jari tanganku itu kuat kuat di dalam sana.

"Oooh. Arifiiin. teruuus.", gua kembali mendengar suara Jenny yg juga meracau keenakan.

gua makin memperhebat adukan jariku pada lobang memek ku, bahkan jariku kugerakkan kesana kemari untuk mengorek dinding lobang memek ku. Akibatnya kedua kakiku menjadi lemas hingga gua menyandarkan punggungku pada dinding kamar ini, gua mulai merintih keenakan selagi tubuhku menggigil merasakan sensasi nikmat yg menjalari tubuhku.

"Eliza. jangan. tunggu Cie Cie. oooh.", Cie Stefanny merintih serta tubuhnya tersentak sentak liar.

Ternyata Cie Stefanny sudah mengalami orgasme terlebih dahulu. gua mengerti maksud Cie Stefanny, gua seharusnya membantu Cie Stefanny, Sherly serta Jenny untuk memenangkan ‘pertandingan’ dalam pesta seks ini, bukan malah bermasturbasi mencari kenikmatan seks ku sendiri serta orgasme dgn percuma.

Tapi Suwito tak melepaskan Cie Stefanny begitu saja, tubuh mungil Cie Stefanny didekap erat serta Suwito menyentakkan pinggulnya ke arah Cie Stefanny sampai beberapa kali hingga Cie Stefanny melenguh lenguh keenakan serta kelihatannya orgasme yg mendera Cie Stefanny itu makin menghebat.

"Udah dong Suwito. sekarang sama gua dong. Cie Stefanny kan udah keluar.", gua merengek pada Suwito agar ia melepaskan Cie Stefanny.

gua tak perduli lagi dgn segala macam harga diri ini. Toh gua sudah sering ngentot dgn tiga pejantan ini termasuk juga Suwito.

juga, selain gua membutuhkan kontol Suwito yg masih ereksi itu untuk memuaskan hasratku, gua jadi ingin tahu apa yg terjadi kalau sperma tiga pejantan di ruang ini berhasil kita peras habis.

"Siap non. oooh.", Suwito mengerang keenakan ketika ia mendorong tubuh Cie Stefanny yg menindihnya hingga kontol nya terlepas dari lobang memek Cie Stefanny.

Cie Stefanny langsung ambruk ke lantai dgn nafas tersengal sengal. Beberapa kali tubuh Cie Stefanny tersentak sexy, rambut Cie Stefanny terurai serta sebagian melekat di punggung Cie Stefanny yg basah oleh keringat.

Sebenarnya gua ingin juga bermesraan dgn Cie Stefanny yg terlihat begitu sexy serta menggairahkan dalam keadaan seperti itu, tapi sekarang ini gua lebih menginginkan tusukan kontol Suwito pada lobang memek ku, untuk mengorek serta mengaduk dinding lobang memek ku.

Maka gua yg masih mengenakan baju serta rok seragam sekolah ini langsung menaiki selangkangan Suwito, menggantikan Cie Stefanny untuk mengendarai kontol Suwito yg masih ereksi dgn perkasa ini.

sembari mengangkat rok yg kukenakan ini sampai ke pinggangku, perlahan kuturunkan selangkanganku hingga kurasakan kepala kontol Suwito menyentuh bibir memek ku yg sudah semakin basah ini.

gua mendesah nikmat serta terus menurunkan tubuhku hingga kontol itu membelah bibir memek ku serta terus melesak masuk ke dalam lobang memek ku. Pegangan tanganku pada ujung ujung rok seragamku ini kulepaskan, gua berpegangan pada dada Suwito.

"Oooh. ngghh.", gua merintih serta melenguh ketika Suwito tiba tiba menyentakkan tubuhnya ke atas hingga rasanya kontol Suwito itu seperti memaku lobang memek ku.

Baru beberapa entot an dari Suwito, gua sudah merasa pening. Mungkin krn tenagaku masih belum begitu pulih sesudah ngentot seharian kemarin. gua mencoba bertahan serta terus berjuang mengendarai kontol Suwito, tapi setiap gesekan batang kontol Suwito pada dinding lobang memek ku membuat tubuhku menggeliat keenakan serta tentu saja gua terus merintih serta melenguh.

"Ngghkk.. aaaah.", tiba tiba kudengar Sherly melenguh serta menjerit keenakan.

Melihat Sherly yg menggeliat serta berkelojotan tak karuan, lalu lemas serta pasrah di bawah tindihan Wawan, gua tahu Sherly sudah mencapai orgasmenya. gua membayangkan nikmat yg dirasakan Sherly itu serta aibatnya semua bayangan yg ada di pikiranku itu membuat gerakanku makin liar. gua menekan nekan pinggulku ke bawah mengocok kontol Suwito yg langsung mengerang serta melolong keenakan.

"Huoooh. non Elizaaa.", Suwito melolong panjang serta tubuhnya berkelojotan.

Kurasakan kontol Suwito berkedut berkali kali serta sperma yg tersemprotkan dari kontol Suwito itu begitu banyak, membanjiri lobang memek ku. gua sendiri belum mencapai orgasmeku, saat kurasakan kontol Suwito mengecil, gua bermakud menikmati kerasnya kontol Wawan. Kan tadi itu Sherly baru saja orgamse, jadi gua bisa menggantikan Sherly untuk ngentot dgn Wawan.

"Ngghh. terus Waaan. ooooh.", Sherly kembali menggeliat liar serta meracau sejadi jadinya saat Wawan tiba tiba mempercepat irama entot an kontol nya pada lobang memek Sherly.

Ternyata Sherly masih ingin mereguk nikmatnya ngentot dgn Wawan walaupun orgasme sudah menderanya. gua sedikit kecewa serta hanya bisa menunggu giliranku sembari berharap Sherly segera takluk oleh keperkasaan Wawan.

"Arifiin. nggghh. enaaakk.", Jenny yg dari tadi mendengus serta merintih itu kini meracau tak karuan serta kembali melenguh lenguh keenakan.

Jantungku berdegup makin kencang, apalagi melihat Jenny yg sejak tadi ngentot dgn posisi woman on top itu menggelepar dalam dekapan pak Arifin yg dgn kejam melumat bibir Jenny yg dalam keadaan orgasme seperti itu. Jenny merintih tertahan serta kedua tangan Jenny itu menggenggam sesaat, lalu melemas mengikuti irama tubuh Jenny yg tersentak tak karuan.

gua sudah hampir gila ketika gua melihat Cie Stefanny merangkak ke arah Suwito, lalu memberikan servis oral pada kontol Suwito yg masih belepotan sperma sesudah tadi berejakulasi di dalam lobang memek ku. Semua adegan seks di depanku ini membuat menginginkan adanya pejantan yg memberikan kenikmatan seks seks padaku, menyetubuhiku, menggagahiku bahkan memperkosaku.

Untungnya gua melihat pak Arifin sudah melepaskan Jenny yg kini terbaring lemas di samping pak Arifin. Maka tanpa membuang waktu lagi, gua segera naik ke atas tubuh pak Arifin untuk merasakan nikmatnya terjangan kontol milik pak Arifin pada lobang memek ku ini.

Tapi, tiba tiba pak Arifin menahan tubuhku hingga rasanya gua ingin marah pada pak Arifin krn amat kesal, gua melotot pada pak Arifin.

"Non, saya ingin belakangnya non, enak", pinta pak Arifin.

"Apaan sih! Nggak ah, eh.", omelanku terputus ketika gua mendengar rintihan panjang dari Sherly, ketika gua menoleh ke arah Sherly, gua melihat Wawan baru saja beranjak dari tubuh Sherly.

"Akhirnya non Sherly K.O juga nih.", kudengar Wawan berkata dgn nada bangga.

Sepertinya Wawan sudah berhasil menaklukkan Sherly yg kini terkapar lemas tak berdaya dgn mata yg terpejam serta nafas yg tersengal sengal tak karuan. Berarti kini Wawan sudah menganggur, sekali ini gua tak ingin didahului oleh Cie Stefanny yg masih mengoral kontol Suwito, atau Jenny yg baru saja orgasme dalam pelukan pak Arifin.

gua ingin langsung ngentot dgn Wawan, maka gua rela memenuhi keinginan pak Arifin meskipun itu berarti gua harus siap disandwich oleh Wawan serta pak Arifin. Tapi sebenarnya diam diam gua merasa kesal juga, masa pak Arifin lebih suka menikmati anusku daripada lobang memek ku?

"Emm. pak Arifin, tunggu sebentar", kataku pada pak Arifin sembari beranjak dari tempat tidur.

"Lho kok malah turun non?", tanya pak Arifin.

"Udah diam ah!", gua mengomel pada pak Arifin yg tak sabaran itu.

gua melucuti bajuku sendiri hingga gua telanjang bulat, lalu gua segera menarik tangan Wawan serta mendorongnya hingga ia terbaring di hadapanku. tanpa berkata apa apa gua segera menaiki tubuh Wawan yg terlihat senang senang saja menuruti keinginanku.

gua menekan pinggulku ke bawah serta dgn mudah kontol Wawan yg memang masih ereksi itu terbenam masuk ke dalam lobang memek ku. sesudah kontol Wawan tertelan seluruhnya dalam lobang memek ku hingga membuatku mendesis nikmat, gua menoleh ke arah pak Arifin.

"Ya udah pak, tunggu apa lagi? Tapi nanti jangan lupa langsung dicuci di kamar mandi ya!", kataku sembari merebahkan tubuhku di atas tubuh Wawan serta menoleh ke arah pak Arifin, memberikan kesempatan pada pak Arifin untuk membobol anusku.

"Beres non! Cihui.", jawab pak Arifin dgn senang seperti anak kecil yg mendapatkan mainan, ia segera mengambil posisi di belakangku.

"Ngghh. aaangghhk.", gua melenguh sembari mengejang sesaat serta perutku terasa sedikit mulas saat kontol pak Arifin yg panjang serta besar itu melesak masuk ke dalam anusku, menimbulkan rasa pedih yg nikmat pada lobang anusku.

"Oh. Eliza. kamu curang. gua nanti juga mau.", rengek Sherly.

gua tersenyum usil sembari meleletkan lidah pada Sherly, lalu gua memagut bibir Wawan yg langsung mengentot kan kontol nya bersamaan dgn pak Arifin yg mulai menyiksa anusku. Rasa sakit serta nikmat yg mendera lobang memek ku ini, ditambah rasa mulas akibat adukan kontol pak Arifin pada lobang anusku ini, semua itu benar benar membuatku melayang dalam kenikmatan seks .

Apalagi Wawan membalas pagutanku dgn menjepit lidahku dgn bibirnya, lalu menghisap air ludahku dgn gencarnya, membuatku merintih nikmat serta dgn penuh penyerahan gua membiarkan Wawan berbuat sesuka hatinya terhadapku.

Tiba tiba gua mendengar pak Arifin menggeram serta dalam sebuah sodokan yg membuat kontol pak Arifin terbenam begitu dalam pada lobang anusku, kuraskaan kontol pak Arifin berkedut serta menyemprotkan spermanya membasahi lobang anusku, meredakan rasa pedih pada lobang anusku ini.

"Ooohh. non Elizaaa.", pak Arifin melolong panjang, lalu ia menarik kontol nya dari jepitan lobang anusku.

"Ngghhh. ayo cepat. ke kamar mandi pak. ooohh", gua menyuruh pak Arifin untuk membersihkan kontol nya sembari terus melenguh keenakan krn Wawan makin gencar menghajar lobang memek ku.

Tak lama kemudian gua sudah mulai merasakan datangnya orgasme yg akan segera menderaku habis habisan. Cairan cintaku sudah membanjir. Rasa ngilu yg amat sangat pada lobang memek ku ini membuatku menggelepar. Kedua betisku ini melejang tak karuan serta rasanya seperti akan kram.

"Ngghh. angghh.", gua melenguh serta melenguh krn Wawan dgn kejam malah mempercepat entot an kontol nya pada lobang memek ku.

Perutku juga mengejang hebat, akhirnya pinggangku melengkung ke atas saat tubuhku tersentak tak karuan, lalu gua terkapar rebah di atas tubuh Wawan yg akhirnya berhenti juga menyiksa lobang memek ku ini.

Walaupun begitu gua masih merasakan nikmat akibat kerasnya kontol Wawan yg masih tertanam dalam lobang memek ku. Perlahan gua berusaha mengatur nafasku yg serasa hampir putus krn sensasi nikmat yg menyesakkan dadaku tadi.

-x-

XI. Kemenanganku, Jenny, Sherly serta Cie Stefanny

"Wan. ayo sekarang sama gua.", desah Jenny yg membuka kedua pahanya.

gua sempat mendengar Suwito melolong lolong, ketika gua melihat ke arahnya, ternyata Cie Stefanny sedang menyeruput sperma Suwito serta menyedot kontol Suwito yg belepotan sperma itu. Suwito terkapar lemas sesudah spermanya dihisap habis oleh Cie Stefanny.

"Jen. Cie Cie dulu dong.", rengek Cie Stefanny yg kini mendekati Jenny serta Wawan.

"Tapi. Cie Cie kemarin kan udah ngerasain punya Wawan.", Jenny balik merengek.

"Kamu kan baru aja keluar. Cie Cie udah dari tadi. ayo lah Jeen.", Cie Stefanny terus merengek

"Iya deh Cie.", jawab Jenny sembari tersenyum, tepat ketika pak Arifin masuk kembali, rupanya ia sudah selesai mencuci bersih kontol nya.

"Arifin. sini dong", Jenny memanggil pak Arifin yg tak perlu dipanggil dua kali segera mendekati Jenny.

Tanpa berkata apa apa lagi, Jenny langsung mengulum kontol pak Arifin yg langsung merem melek sembari mendesah keenakan.

gua berharap pak Arifin benar benar sudah mencuci bersih kontol nya, jadi tak ada kotoran dari anusku yg masih menempel di kontol pak Arifin yg sekarang dijadikan permen lolipop oleh Jenny itu.

Sesaat kemudian gua melihat Cie Stefanny berbaring di sebelah Jenny, lalu melebarkan pahanya. Wawan tanpa dipanggil lagi, segera mendekati Cie Stefanny yg sudah menyajikan tubuhnya untuk Wawan. sesaat kemudian Wawan sudah bersiap untuk menikmati tubuh Cie Stefanny.

gua masih sempat melihat kontol Wawan melesak masuk ke dalam lobang memek Cie Stefanny, lalu gua memejamkan mataku, menikmati sisa orgasmeku sembari mendengarkan suara rintihan yg sexy dari Cie Stefanny.

"Non. nanti dulu non, oooh.", kudengar suara Suwito melolong lolong.

Lagi lagi gua ingin tahu apa yg terjadi, maka gua membuka mataku serta mengarahkan pandangan mataku pada Suwito. Ternyata Sherly sibuk mengoral kontol Suwito serta sesekali Sherly menghisap kontol itu kuat kuat sampai kedua pipi Sherly terlihat kempot.

Cie Steffany
Cie Steffany
gua tersenyum geli serta teringat kalau gua pernah melakukan hal itu bersama Cie Elvira, ketika kita balik mengerjai pak Agil, tukang sapu di tempat gua bersekolah balet. kini Suwito melolong lolong seperti akan disembelih saja, entah apa yg dirasakan oleh Suwito sekarang ini. Tapi Sherly terus menghisap kontol Suwito tanpa ampun.

gua kembali memejamkan mataku sembari masih tersenyum geli. Suwito sudah menguik nguik, ia mulai minta minta ampun pada Sherly. gua juga mendengarkan rintihan Cie Stefanny yg kini sering kali tertahan krn Wawan berhasil memagut bibir Cie Stefanny.

Tiba tiba suara lolongan Suwito berhenti. gua membuka mataku serta mencari cari Suwito, ternyata ia terbaring dgn tubuh yg melengkung seperti udang. Sorot matanya terlihat mengantuk, rupanya Suwito sudah habis.

Sherly yg terlihat sudah pulih, menghampiri Jenny yg masih sibuk memberikan servis oral pada kontol pak Arifin.

"Jen, gentian dong", rengek Sherly.

"Yaaa. semua kok minta jatahku sih. Ya udah, nih. udah gua bikin berdiri lagi tuh", Jenny mengomel dgn lucu, tapi memberikan kesempatan pada Sherly yg rupanya sama sepertiku tadi ketika menginginkan terjangan kontol yg mengorek serta mengaduk dinding lobang memek ku.

"Lho. yg itu?", tanya Jenny sembari menunjuk Suwito.

"Udah game over kali Jen", kata Sherly dgn nada mengejek.

"Enak aja. nggak mau tau pokoknya", kata Jenny sembari menghampiri Suwito.

gua tak bisa menahan geli serta tertawa sejadi jadinya ketika gua melihat Suwito merangkak berusaha menghindari Jenny yg kini memburunya. tak butuh waktu lama, Jenny berhasil menangkap Suwito, lalu Jenny mulai memperkosa Suwito yg kembali menguik nguik krn kontol nya sudah mulai dioral oleh Jenny.

Kini perhatianku tertuju pada Sherly bersiap ngentot dgn pak Arifin. Sherly duduk di tepi ranjang serta melebarkan pahanya hingga kedua telapak kakinya masih menginjak permukaan ranjang, bibir memek nya sedikit terbuka mengundang tusukan kontol pak Arifin. Pose tubuh Sherly saat ini benar benar sexy.

Kemudian Sherly mengerling nakal pada pak Arifin yg langsung saja tak bisa menahan diri serta menyergap Sherly. dgn cepat pak Arifin sudah melesakkan kontol nya ke dalam lobang memek Sherly, sesudah pak Arifin menindih Sherly, mereka langsung ngentot sembari saling melumat bibir pasangannya dgn hot.

gua segera memalingkan pandanganku krn nafasku sudah mulai memburu lagi akibat melihat pemandangan itu. Kini gua melihat ke arah Jenny serta Suwito. Entah apa saja yg terjadi tadi pada Suwito, yg jelas sekarang ini Suwito sudah terkapar tak bergerak lagi dgn posisi tubuh seperti tadi, yaitu melengkung seperti udang.

Jenny duduk di ujung ranjang, sembari termangu melihat ke arah Cie Stefany yg kelihatannya sudah akan orgasme di pelukan Wawan. gua tak tahu apa yg dipikirkan Jenny sekarang ini, mungkinkah ia juga sedang menunggu gilirannya sepertiku tad?

"Ohh. Waan. ngghhh.", Cie Stefanny merintih serta melenguh mengiringi sentakan tubuh Wawan, pinggang Cie Stefanny itu melengkung ke atas dgn sexy.

Sepertinya Cie Stefanny sedang didera orgasme. Tubuh Cie Stefanny menggeliat liar di bawah tindihan Wawan. Rintihan serta lenguhan Cie Stefanny berkali kali terdengar, sedangkan Wawan malah tertawa tawa serta memeluk tubuh Cie Stefanny, lalu Wawan berdiri sembari mengangkat Cie Stefanny dalam pelukannya.

"Angghhk. ngghhh.", lenguhan Cie Stefanny makin menjadi ketika Wawan menggagahi Cie Stefanny dalam posisi seperti itu.

gua tahu apa yg sedang dirasakan Cie Stefanny yg kini menggelepar dalam pelukan Wawan, gua menjadi iri pada Cie Stefanny. Kedua betis Cie Stefanny melingkari pinggang Wawan, sedangkan kedua tangan Cie Stefanny melingkari leher Wawan. Kini Cie Stefanny hanya pasrah serta melayani keinginan Wawan.

"Eliza.", tiba tiba gua mendengar suara Jenny yg sudah berada dekat sekali denganku.

"Jeeen.", gua nyaris menjerit krn terkejut, namun belum sempat gua berbuat sesuatu, Jenny sudah menerkam serta menindihku.

"Sayang. gua sama kamu aja ya.", rengek Jenny yg lalu melumat bibirku.

gua hanya bisa memejamkan mataku sembari balas melumat bibir Jenny. gua memeluk Jenny dgn sepenuh hati, kita berdua sudah tak canggung lagi untuk saling memuaskan di hadapan mereka dgn cara saling mencelupkan jari tangan kita ke dalam lobang memek pasangan kita.

Lalu, satu tangan kita yg lain yg masih menganggur, kita gunakan untuk saling meremas toket kita, tak lupa kita saling memagut bibir dgn mesra.

"Lho, non Jenny kok malah sama non Eliza? Tadi katanya mau sama saya", tiba tiba kudengar suara Wawan yg disambung jeritan manja Jenny saat tubuhnya ditarik oleh Wawan dari pelukanku.

Wawan sudah menindih Jenny sembari mencengkeram kedua tangan Jenny hingga Jenny tak bisa bergerak, lalu Wawan mulai menggagahi Jenny. Sesekali Jenny mengangkat kepalanya, tanpa diminta Wawan melumat bibir Jenny dgn ganas sembari terus mengentot lobang memek Jenny.

sembari menekan gairahku, gua menggeleng gelengkan kepalaku tak habis pikir melihat keperkasaan Wawan. Ia sudah membuat Sherly, gua sendiri serta juga Cie Stefanny orgasme, namun Wawan masih saja mampu menggagahi Jenny dgn segencar itu.

Memang selama ini, setiap terjadi pembantaian terhadap diriku di rumah, Wawan seorang diri saja sudah mampu membuatku tersiksa dalam kenikmatan seks krn gua harus melayaninya sampai hampir satu jam lamanya hingga gua orgasme berkali kali, tak jarang gua sudah kehabisan tenaga ketika gua harus melayani pejantan yg lain.

Tiba tiba gua teringat akan Cie Stefanny. gua segera mencari cari serta menemukan Cie Stefanny, yg lagi lagi tergolek lemas di lantai. gua turun dari ranjang serta mendekati Cie Stefanny yg masih menikmati sisa sisa orgasmenya, terlihat dari tubuh Cie Stefanny yg sesekali tersentak hebat.

"Cie. jangan tiduran di lantai gini. ayo Cie naik ke ranjang aja ya, nanti Cie Cie masuk angin lho.", gua berkata pelan sembari membelai rambut Cie Stefanny, lalu gua mulai mencoba membantu Cie Stefanny berdiri dgn melingkarkan tangan kanan Cie Stefanny pada leherku.

"Mmh. makasih sayang", Cie Stefanny sempat mengecup bibirku dgn lembut, lalu ia menguatkan diri serta mencoba berdiri selagi gua terus memapah Cie Stefanny, hingga akhirnya kita sama sama berdiri.

dgn jantung yg berdegup kencang akibat kecupan Cie Stefanny tadi, gua menuntun Cie Stefanny sampai ke ranjang, lalu membaringkan Cie Stefanny. gua berbaring di samping guru lesku tersayang ini, sembari terus mengatur nafas.

Orgasmeku sendiri sudah mereda, namun capeknya ini masih cukup terasa. Sekarang ini Sherly sedang ngentot dgn pak Arifin, Jenny juga sedang ngentot dgn Wawan. Suwito sendiri sepertinya sudah benar benar habis serta malas bangun lagi.

Cie Stefanny baru saja orgasme, berarti nantinya gua yg harus melawan pejantan berikutnya dari dua pasangan ngentot ini, yg lebih dahulu berhasil menaklukkan betinanya. Maka gua harus memulihkan nafas serta tenagaku, sekuatnya gua berusaha menahan diri dari keinginanku untuk mencumbui Cie Stefanny seperti kemarin.

"Ngghhk. aduuuh.", kudengar Sherly melenguh serta merintih.

gua melihat ke arah Sherly, yg sekarang ini kepalanya terdongak serta ia memejamkan matanya erat erat sembari menggelinjang serta merintih keenakan di bawah tindihan pak Arifin. Tiba tiba dgn satu erangan panjang, tubuh Sherly mengejang hebat, lalu Sherly melemas serta gerakannya yg liar itu terhenti.

Rupanya Sherly sudah mengalami orgasme lagi. Nafas Sherly tersengal sengal, ketika pak Arifin melepaskan Sherly dari tindihannya, Sherly tetap tergolek lemas, telentang di atas ranjang.

gua segera bangkit serta menghampiri pak Arifin, lalu tubuhnya kudorong hingga kini pak Arifin terbaring di samping Sherly. Lalu gua menaiki tubuh pak Arifin, sekali ini pak Arifin tak menahan tubuhku ketika gua akan memasangkan kontol pak Arifin pada lobang memek ku.

Sebenarnya gua masih sedikit kesal pada pak Arifin kalau teringat tentang tadi, sewaktu pak Arifin bilang kalau ia lebih menyukai anusku daripada lobang memek ku. Tapi gua sudah amat menginginkan tusukan kontol lelaki ke dalam lobang memek ku, satu satunya pejantan yg tersedia untukku sekarang ini hanya pak Arifin.

Maka gua terus menurunkan tubuhku, menikmati terjangan kontol yg besar, panjang serta berurat ini pada lobang memek ku. Walaupun tak sekeras milik Wawan, kontol pak Arifin ini juga mampu memberikan siksaan yg nikmat pada lobang memek ku.

"Non Eliza. hari ini saya benar benar ketiban rejeki non, bisa main sama non serta temen temen non yg memeknya pada seret semua seperti non Eliza, sudah gitu semuanya cakep cakep lagi. Bener bener gak rugi kerja di sini non", kata pak Arifin panjang lebar, lalu ia menarik tubuhku hingga gua terbaring rebah menindih pak Arifin yg kemudian langsung mencumbuiku dgn sangat bernafsu.

"Mmmhh.", gua merintih serta menggeliat, krn lobang memek ku mulai tersiksa akibat dipompa kontol pak Arifin.

Seperti biasa, tanpa belas kasihan pak Arifin mengentot kan kontol nya yg berukuran raksasa itu memompa lobang memek ku, gua sendiri tak berani terlalu menggeliat krn lobang memek ku terasa penuh sekali.

"Non Eliza kok diam saja? Kok nggak mulet mulet seperti tadi? Enak lho non memeknya non ini kalau non Eliza mulet mulet", kata pak Arifin sembari menggoyangkan pinggulnya mengadukkan kontol nya yg terbenam dalam lobang memek ku.

"Ngghh.", gua melenguh antara kesakitan serta keenakan, akibat gerakan pak Arifin tadi tubuhku terus menggeliat lemah.

"Ayo non. goyang non. oooh. enaknya nooon.", pak Arifin mulai meracau ketika gua menuruti keinginannya dgn terus menggeliat, walaupun akibatnya siksaan kenikmatan seks pada lobang memek ku ini makin menghebat.

"Aduuh. paaak. enaaak.", kini ganti gua yg meracau keenakan, kepalaku terdongak serta pinggangku sampai melengkung lengkung sangking nikmatnya adukan kontol pak Arifin yg kurasakan pada lobang memek ku ini.

Cairan cintaku mulai membanjir lagi mengiringi orgasmeku, gua mulai lemas, lalu ambruk menindih pak Arifin yg masih saja bersemangat mengentot tubuhku. Untungnya gua mendengar pak Arifin mulai menggeram, sepertinya ia akan segera mencapai klimaks.

"Huoooh. non Elizaaa.", erang pak Arifin yg lalu memeluk tubuhku erat erat hingga kontol nya itu tertanam begitu dalam pada lobang memek ku.

Beberapa kedutan dari kontol pak Arifin mengawali rangkaian semburan spermanya yg membasahi lobang memek ku. gua berusaha mengatur nafasku, lalu gua beranjak turun dari tubuh pak Arifin. Kulihat sisa sperma pak Arifin masih belepotan pada kontol nya mulai mengecil itu.

"Sayang. kamu sexy sekali.", desah Cie Stefanny yg kini sudah ada di depan selangkanganku, membuatku terkejut.

"Cieee. anggghkk. ngghh.", gua melenguh tak karuan ketika Cie Stefanny memagut bibir memek ku serta menyeruput isinya, yaitu cairan cintaku yg bercampur dgn sperma pak Arifin.

gua hanya bisa pasrah sembari melenguh lenguh akibat ulah Cie Stefanny ini, celakanya gua kembali orgasme serta kurasakan cairan cintaku kembali membanjir. gua menggeliat liar, tapi Cie Stefanny malah memeluk kedua pahaku kuat kuat, Cie Stefanny sama sekali tak melepaskan pagutannya pada bibir memek ku.

"Aduh. Cie Cie jahat.", gua merengek sesudah Cie Stefanny puas menyeruput habis semua cairan cintaku.

"Mmmhh. maafin Cie Cie ya sayang. abisnya Cie Cie haus sih", kata Cie Stefanny sembari meleletkan lidah ketika gua menatap sayu padanya.

gua tertegun mendengar kata kata Cie Stefanny tadi, tapi belum sempat pikiranku melayang, gua melihat Cie Stefanny merangkak mendekati pak Arifin, Cie Stefanny langsung mengoral kontol pak Arifin yg masih berlumuran sisa spermanya serta juga cairan cintaku.

"Oooh. non.", pak Arifin mulai melolong ketika Cie Stefanny menghisap hisap kontol pak Arifin sembari memaju mundurkan kepalanya hingga sesekali terdengar suara seruputan dari mulut Cie Stefanny.

gua masih tersengal sengal serta terus berusaha mengatur nafasku sembari memperhatikan keadaan kita semua. Sherly terlihat sudah mampu mengatur nafasnya, walaupun ia masih terlihat kelelahan serta tubuhnya basah oleh keringat. Cie Stefanny sedang memeras sperma pak Arifin, sedangkan Jenny menggeliat liar berjuang menahan gempuran Wawan yg masih menindihnya.

Wawan sudah mulai mendengus dengus serta sesekali ia menggeram. Tapi Jenny sendiri yg terus merintih rintih dgn matanya yg terpejam erat, kelihatannya sudah akan orgasme. Tubuh Jenny mulai mengejang serta kepala Jenny terdongak ke belakang.

"Ngghkk. aduuhh.", Jenny merintih serta melenguh keenakan serta tubuhnya tersentak beberapa kali, lalu melemas tanpa daya di bawah tindihan Wawan.

Akhirnya Jenny sudah orgasme, Wawan sendiri mempercepat entot annya hingga Jenny merintih rintih sembari mencengkeram sprei ranjang tempat dirinya dibantai oleh Wawan. Tak lama kemudian Wawan menggeram panjang, lalu menekankan pinggulnya ke arah Jenny serta tubuhnya tersentak beberapa kali.

Kini Wawan ambruk menindih tubuh Jenny. gua melihat Sherly yg ternyata masih terlihat lelah serta memejamkan matanya. Wajahnya masih terlihat agak merah, tapi nafas Sherly sudah mulai teratur.

"Sher. gua duluan ya?", gua bertanya pada Sherly sembari menunjuk ke arah Wawan.

Sherly membuka matanya, sesudah mengerti maksudku Sherly mengangguk lemah. Kelihatannya sekarang ini Sherly memang masih kelelahan.

Maka gua langsung beranjak ke arah Wawan. Tubuh Wawan kugulingkan ke samping Jenny, lalu kedua tangan Wawan kutarik sehingga Wawan harus berdiri. Kemudian gua berjongkok di depan Wawan, gua mulai mengulum kontol Wawan yg masih belepotan sisa sperma serta cairan cinta Jenny itu.

kontol Wawan yg tidak sekeras ketika ereksi ini kuhisap kuat kuat hingga Wawan mulai melolong lolong keenakan. gua terus memaju mundurkan kepalaku, mengulum ngulum kontol itu dalam mulutku. Sudah beberapa menit gua mengoral kontol Wawan, ketika kurasakan kontol Wawan mulai mengeras dalam mulutku.

gua melirik ke arah Cie Stefanny yg masih berjuang memeras sperma pak Arifin. gua jadi tak mau kalah, seperti sedang berlomba dgn Cie Stefanny yg mengoral kontol pak Arifin, gua dgn bersemangat mengulum serta menyedot kontol Wawan, lalu batang kontol itu kujilat memutar hingga pemiliknya mengerang keenakan.

Namun Cie Stefanny yg sudah mengoral kontol pak Arifin sejak tadi itu berhasil membuat pak Arifin melolong lolong serta akhirnya pak Arifin berejakulasi juga. gua tak tahu apa yg terjadi, yg jelas pak Arifin juga roboh lemas sesudah Cie Stefanny melepaskan kulumannya pada kontol pak Arifin.

Entahlah, yg pasti gua memilih untuk berkonsentrasi membuat Wawan juga berejakulasi, gua memutuskan untuk melakukan deep throat pada kontol Wawan ini.

"Uuugh. ampun nooon.", tiba tiba kudengar pak Arifin melolong lolong kembali.

gua menoleh untuk melihat ke arah pak Arifin, ternyata Jenny sedang mengulum kontol pak Arifin yg terus berkelojotan serta melolong lolong. Diam diam gua tertawa geli dalam hatiku, kelihatannya kita para cewek akan mendapatkan kemenangan telak dalam pesta seks ini.

"Non Eliza. oooh", Wawan kembali mengerang keenakan ketika gua terus melakukan deep throat, gua beberapa kali melakukan gerakan menelan pada tenggorokanku, hingga Wawan mulai berkelojotan.

"Huuooooh.", Wawan menggeram serta melolong, lalu kurasakan lobang tenggorokanku basah oleh sperma Wawan.

Sperma itu tersemprot saat ujung kontol Wawan masih terbenam pada lobang tenggorokanku, ketika Wawan menarik lepas kontol nya dari mulutku, gua tersedak beberapa kali hingga sebagian dari sperma Wawan yg sempat tertelan olehku ini keluar lagi ke dalam mulutku.

Rasanya sungguh aneh, seperti habis batuk berdahak saja. gua cepat cepat menelan sperma itu kembali supaya tak perlu berlama lama merasakan sperma itu di lidahku, gua sudah akan mengulum kontol Wawan yg masih belepotan sperma, tapi Sherly sudah maju mendekati Wawan terlebih dahulu.

Sebenarnya Wawan sudah mulai lemas sesudah gua berhasil memaksanya berejakulasi dalam mulutku, tapi Sherly yg sudah menghampirinya tak memberi Wawan kesempatan untuk beristirahat. Tanpa berkata apa apa Sherly mengulum kontol Wawan yg langsung melolong lolong.

"Huooh. noon. sudah. ampun noon.", Wawan mulai menguik nguik seperti sedang disembelih.

Tiba tiba gua melihat Jenny sudah berdiri, pak Arifin sudah tak bersuara lagi, terkapar dalam posisi melengkung seperti udang. Rupanya pak Arifin sudah K.O seperti Suwito. Lalu Jenny membantu Sherly dgn memegangi tangan Wawan yg mencoba mendorong kepala Sherly dari selangkangannya, Jenny melumat bibir Wawan hingga erangan serta lolongan Wawan itu teredam.

Benar benar pemandangan yg aneh, dua orang bidadari yg cantik jelita sedang memperkosa seorang lelaki yg wajahnya hancur hancuran. Semua ini adalah ide Sherly, yg akhirnya berhasil memaksa Wawan berejakulasi sekali lagi di dalam mulutnya.

Wawan sendiri terkapar tanpa daya, ia terlihat lemas sekali serta sudah tak bergerak lagi. Pak Arifin serta Suwito juga tak bergerak sama sekali. Hanya kita para cewek ini yg masih mampu berdiri tegak, yg berarti kita telah meraih kemenangan telak atas para pejantan itu. Kini hanya terdengar dengusan serta desahan nafas dari kita semua yg kelelahan sesudah menjalani pesta seks yg amat liar ini.

-x-

XII. Akhir Dari Hari yg Penuh Warna

Sherly memejamkan matanya serta menelan semua sperma Wawan yg ada dalam mulutnya. Lalu Sherly memeluk Jenny serta bibir mereka saling berpagut dgn mesranya. Beberapa saat kemudian mereka berdua turun dari ranjang serta berdiri, sembari menatap Wawan dgn senyum kemenangan.

"Tuh kan, kalau jumlah kita sama banyak gini, ternyata kalian cowok cowok yg abis duluan", ejek Sherly dgn senang.

"Makanya jangan sombong dulu, kalau kalian bertiga main gangbang sama Cie Stefanny serta kalian yg menang, itu memang udah biasa kali. Tapi lain kan kalau kita sama banyaknya gini?" timpal Jenny.
"Terus. siapa ya yg tadi pakai bilang ‘belum tau dia’?", Sherly kembali meledek ketiga pejantan di rumahku ini, Cie Stefanny hanya tersenyum malu mendengar celoteh kedua kekasihku ini.

"Udah ah, yuk kita balik ke kamar", gua mengajak Sherly, Jenny serta Cie Stefanny untuk keluar, kasihan juga gua melihat tiga pejantanku yg sudah lemas seperti itu, masih harus diledek habis oleh Sherly serta Jenny.

kita memunguti helai demi helai pakaian kita yg berserakan di mana mana, lalu sesudah mengenakan pakaian dgn ala kadarnya pun kita berempat keluar dari kamar ini dgn senyum kemenangan, kita semua langsung menuju ke kamarku.

Sesampainya di kamarku, kita semua tertawa geli sembari membahas pesta seks yg liar tadi. Sherly senang sekali krn tadi kita begitu kompak memeras sperma para pejantan itu. seperti yg kuperkirakan, kita semua sependapat kalau Wawan memang yg paling perkasa serta kontol nya itu paling nikmat di antara semua pejantan tadi.

Memang tadi itu jelas sekali kalau Wawan yg paling tahan lama. Ia mampu memaksa Sherly, gua, Cie Stefanny serta Jenny orgasme di pelukannya, barulah ia berejakulasi di dalam lobang memek Jenny. Tapi ternyata Wawan tetap bisa kita buat terkapar loyo sesudah spermanya kita peras habis.

Tiba tiba Sherly mengomel krn ia tak sempat merasakan bagaimana enaknya disandwich oleh Wawan serta pak Arifin, seperti yg dilakukan oleh mereka padaku. kita semua tertawa geli, tapi sebentar saja gua sudah harus berhenti tertawa, gua hanya bisa menggigit bibir krn Sherly serta yg lain mulai meledekku.

gua jadi teringat bagaimana liarnya diriku ketika gua memilih menikmati kerasnya kontol Wawan dalam lobang memek ku, untuk itu gua rela meluluskan permintaan pak Arifin untuk membobol anusku hingga gua disandwich oleh mereka berdua.

"Eliza. tadi itu waktu kamu disandwich, Arifin keluar nggak? Kalau keluar, berarti kamu satu satunya yg dapat sperma di sini, di sini serta di sini ", goda Sherly lagi dgn senyumnya yg usil sembari menunjuk ke arah anusku, memek ku serta tenggorokanku.

"Sheeer.", gua merengek malu serta memukuli Sherly dgn kedua tanganku yg kugenggamkan, tapi Sherly malah menangkap kedua pergelangan tanganku, lalu ia memagut bibirku dgn mesra.

"Eh eh. jangan pacaran dulu dong. Nggak capek apa kalian ini?", Jenny mengomel dgn gaya merajuk.

"Iya iya. kamu cemburu ya sayang. sini deh.", kata Sherly yg sesudah melepaskanku langsung saja menerkam Jenny serta mencumbuinya.

"Mmmh. toloong. gua diperkosaaa ammphh.", teriakan usil Jenny itu terhenti ketika gua memagut bibirnya dgn sepenuh hatiku.

"Ya ampun. jadi kalian ini tiap hari ya seperti ini?", tanya Cie Stefanny yg tertawa geli.

gua, Jenny serta Sherly sama sama tersenyum malu serta menghentikan kenakalan kita ini. Obrolan kita berlanjut, sesudah kita selesai membahas pesta seks yg tadi, topik obrolan kita berubah ke arah pesta seks kemarin malam.

Cie Stefanny menceritakan dgn lebih detail tentang apa saja yg kulakukan, termasuk tentang susu kental manis yg kutuangkan pada kedua puting toket Cie Stefanny, bahkan juga pada bibir memek Cie Stefanny.

"Kalian aja nggak liat yg kemarin, ampun deh anak nakal ini.", kata Cie Stefanny yg menutup ceritanya sembari melirikku sembari tersenyum.

"Nggak tau kok. nih anak makan apa ya kok bisa sampai punya ide senakal itu?", ledek Jenny.

"Udah gitu berani nakal sama guru lesnya lagi. gua belum pernah dengar sih ada sih murid cewek yg memperkosa guru lesnya sendiri", Sherly juga meledekku.

"Biarin, kalian iri kan?", balasku sembari meleletkan lidah walaupun sebenarnya gua merasa malu juga mendengar ledekan mereka.

"Dasar. kamu ini masih bisa bisanya balas ngeledek", kata Sherly yg kemudian tiba tiba menyergapku, lalu Sherly memelukku serta menindihku, membuatku menjerit kecil sembari tertawa.

"Cie, kita ditinggal mereka pacaran lagi tuh. Ya udah, kita juga pacaran sendiri aja ya Cie", kudengar suara Jenny, yg kemudian disambung dgn rintihan manja Cie Stefanny.

Ketika gua menoleh ke arah mereka, kulihat Jenny juga menindih tubuh Cie Stefanny, mereka saling berpelukan, wajah mereka sudah nyaris menempel. Jenny tanpa sungkan lagi mulai mencumbui wajah Cie Stefanny yg hanya pasrah sembari sesekali merintih mesra.

"Sayang, kamu kok ngeliatin mereka sih. liat gua dong. kamu tau nggak. sejak terakhir di vila itu. gua udah kangen abis sama kamu.", bisik Sherly dgn nafas yg memburu, kemudian Sherly juga mencumbui wajahku ketika gua menatapnya.

gua memejamkan mataku menikmati cumbuan Sherly ini, kita ngentot dgn mesra di samping Jenny serta Cie Stefanny yg juga sedang ngentot dgn panasnya. Dalam sekejap pakaian kita kembali berserakan di lantai, kita sudah sibuk untuk saling memuaskan pasangan kita, dgn megadukkan jari tangan kita ke dalam lobang memek pasangan kita, tak lupa kita saling cium serta saling cumbu dgn pasangan kita.

gilanya kita semua bertukar pasangan ngentot tiap salah satu pasangan ngentot kita orgasme, hingga kita berempat ini sudah pernah saling berpasangan. Entah dgn yg lain, gua benar benar menikmati semua ini serta ngentot semesra mesranya dgn semua pasanganku, meluapkan rasa sayangku pada mereka.

gua, Jenny, Sherly serta Cie Stefanny seperti tak puas puasnya mereguk kenikmatan seks ini, sampai kita semua tergolek lemas kehabisan tenaga krn mengalami orgasme berkali kali.

Pesta seks antar sesama cewek ini ini berakhir sekitar jam 5 sore, kita semua berbaring di atas ranjangku, beristirahat memulihkan tenaga sembari mengobrol ke sana kemari. sesudah tubuh kita tak begitu lelah, kita mandi bersama di dalam kamar mandiku.

Sudah bisa ditebak, acara mandi bersama ini malah kacau krn kita lebih sibuk untuk saling merangsang daripada saling memandikan teman mandi kita.

Entah berapa lama, akhirnya acara mandi bersama ini selesai. gua meminjamkan pakaianku serta juga pakaian dalamku pada Jenny, Sherly serta juga Cie Stefanny. Mereka semua bisa memakai bra serta celana dalamku, juga baju serta celana panjang yg kuberikan pada mereka, krn tubuh kita memang nyaris seukuran, mulai dari tinggi badan kita yg hampir sama, lingkar pinggang kita yg sama kecilnya, juga toket kita yg sama sama berukuran sedikit mungil.

"Aduh. Cie Cie lapar sekali", keluh Cie Stefanny

"gua juga.", keluh Jenny serta Sherly hampir berbareng.

gua sendiri juga merasakan yg sama. Kini barulah kita sadar kalau kita semua lapar sekali krn belum makan siang. Terutama Cie Stefanny yg bahkan belum makan sama sekali hari ini. sesudah kita semua merapikan penampilan kita, Jenny mengajak kita untuk makan bersama di luar, dgn menumpang mobilnya Jenny.

Mengingat kita semua masih lemas akibat pesta seks tadi, Jenny memutuskan kalau lebih baik sopirnya yg menyetir. sesudah kita semua siap di depan rumah, Jenny memanggil sopirnya yg ternyata setia menunggu di samping mobil Jenny dgn duduk di kursi kayu, yg entah didapatkannya dari mana.

kita semua masuk ke dalam mobil. Cie Stefanny duduk di depan, sedangkan kita bertiga duduk di belakang, mobil ini segera berangkat menuju depot yg dipilihkan oleh Jenny.

dgn posisiku yg duduk di tengah Jenny serta Sherly, gua tahu kalau saja sekarang ini tak ada sopirnya Jenny, gua pasti sudah menjadi barang mainan dua kekasihku ini. Tapi untung saja mereka berdua serta gua bisa menahan diri supaya tak bermesraan di depan sopirnya Jenny ini.

gua sempat memikirkan, apakah tadi kita para cewek ini masih akan menang tetap kalau sopirnya Jenny juga ikut serta menggagahi kita dalam pesta seks tadi. Entahlah, kalau melihat bentuk badan sopir Jenny yg gembul seperti pak Edy, wali kelasku yg hampir impoten itu, gua tak tertarik untuk membayangkan diriku harus melayaninya. Mungkin saja si sopir ini juga hampir impoten seperti pak Edy.

Lamunanku berakhir saat kita sampai di depot favorit Jenny, yg juga kesukaanku serta Sherly. Suasana akrab saat kita makan bersama itu begitu menyenangkan. kita berempat saling bercanda serta saling menggoda, tapi kali ini gua yg paling tersudut krn mereka bertiga tiba tiba kompak meledekku tentang Andy. gua tersenyum malu sekaligus bahagia, tapi gua sedikit kesal juga krn gua tak bisa balas meledek mereka.

Akhirnya acara makan ini selesai juga, lalu kita semua diantar pulang ke rumah masing masing oleh Jenny. Pertama adalah Cie Stefanny, lalu Sherly serta barulah gua yg diantar paling terakhir. Selama perjalanan menuju ke rumahku, Jenny meremas jari tanganku dgn mesra, gua juga balas meremas jari tangannya dgn tak kalah mesranya.

Untung saja kita tak sampai lupa diri serta ngentot di hadapan sopirnya Jenny ini hingga akhirnya mobil Jenny ini berhenti di rumahku. Jam tanganku menunjukkan sekarang ini pukul 9 malam. gua segera pamit pada Jenny serta mengucap terima kasih padanya, juga pada sopirnya.

Beruntung gua membawa remote pagar, jadi gua bisa langsung masuk ke dalam tak perlu memencet bel rumah. sesudah pintu pagar terbuka, gua kembali melambaikan tangan ke arah Jenny lalu masuk ke dalam.

Ketika sampai di garasi, gua masih tak melihat mobil orang orang tuaku, juga mobil kokoku. Artinya lagi lagi mereka meninggalkanku di rumah sendirian, mungkin krn masih ada urusan dgn tamu tamu papa mama kemarin.

biasanya tiga pejantan itu tak mungkin diam saja membiarkanku menganggur, mereka pasti sudah menungguku di garasi untuk kemudian memangsa tubuhku ramai ramai. Tapi aneh juga rasanya ketika sekali ini garasiku sepi sepi saja, tak ada satupun dari mereka.

gua melangkah menuju kamar para pembantuku itu serta perlahan gua membuka pintunya, lalu gua melongokkan kepalaku ke dalam. Kulihat pak Arifin, Wawan serta Suwito masih terbaring lemas, mereka semua terlihat kecapaian serta mengantuk.

"Masih loyo semua ya? Kasian deh lu.", kataku sembari melingkar lingkarkan jari tanganku dari atas ke bawah di hadapan mereka, lalu gua meleletkan lidahku serta gua menutup pintu meninggalkan mereka bertiga yg masih tak berdaya itu.

Sebenarnya gua tak keberatan kalau mereka sekarang ini menggagahiku, bahkan sejujurnya tadi itu gua sedikit berharap mereka akan melumat habis diriku, krn saat di rumah tak ada orang seperti sekarang ini, adalah saat dimana gua bisa melenguh serta menjerit keenakan saat digagahi oleh mereka tanpa kuatir ada yg mendengar.

Entahlah, rasanya gua sedikit merasa kecewa. Tapi ada baiknya juga sih, kini gua bisa benar benar beristirahat tanpa gangguan. Apalagi sebenarnya gua juga merasa lelah sekali. Jelas saja, siapa sih yg bisa tahan kalau harus orgasme berkali kali dalam sehari?

sesudah gua keramas serta mandi sepuasnya, tak lupa gua membersihkan lobang memek ku dgn menggunakan cairan pembersih memek yg biasa kupakai. Lalu gua segera menghanduki tubuhku serta mengeringkan rambutku dgn hair dryer.

sesudah tubuh serta rambutku kering, gua mengunci pintu kamarku, tak lupa gua memeriksa keadaan semua jendela kamarku, memastikan semuanya dalam keadaan terkunci. Lalu tanpa memakai apapun gua segera membaringkan tubuhku di atas ranjangku yg spreinya sudah diganti ini.

dgn cepat gua menyelimutkan bedcover menutupi tubuhku, untuk melindungi tubuhku dari dinginnya AC kamarku ini. sesudah gua merasa nyaman, gua mulai memejamkan mataku.

Tiba tiba ponselku berbunyi, dari ringtonenya gua tahu kalau itu SMS, bukan telepon. dgn malas gua bangkit berdiri serta meraih ponselku yg ada di meja belajarku, gua membaca isi SMS itu.

‘Eliza. udah jam 9 malam. Cepat tidur ya, good nite’

ketika gua menekan tombol bawah untuk melihat nama pengirimnya, gua melihat nama Andy!

Hatiku benar benar berbunga bunga, secepatnya gua balas SMS itu dgn ucapan terima kasih. sembari berbaring kembali di atas ranjangku serta menyembunyikan tubuhku di bawah bedcover, gua mulai tersenyum senyum sendiri ketika gua teringat perhatian Andy tadi siang.

Lalu pikiranku mulai menerawang, membayangkan apa yg akan terjadi nantinya sewaktu Cie Stefanny sedang memberi les pada Sherly di rumahnya. Juga ketika di rumah Jenny. Apakah mereka juga akan ngentot seperti ketika gua ngentot dgn Cie Stefanny?

gua juga teringat kalau gua belum menceritakan pada Jenny tentang apa yg menimpaku di tempat tambal ban kemarin. Mungkin tadi kita terlalu asyik sampai gua serta Jenny sama sama lupa tentang hal itu, gua berpikir kalau tak perlu memang hal seperti itu tak usah kuceritakan lagi.

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12 cewek liar memek entot kontol besar hitam main toket pantat cina
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean | Klik foto untuk memperbesar gambar

Tapi bagaimana kalau besok besok Jenny teringat akan kata kata Dedi yg mengatakan gua hot sekali di tempat tambal ban itu?

Entahlah, sekarang ini gua sudah sangat mengantuk serta tak lama kemudian gua tertidur pulas, mengistirahatkan tubuhku yg entah sudah berorgasme berapa kali hari ini.

Bersambung..

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 1
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 2
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 3
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 4
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 5
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 7
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 9
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 10
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 13
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12, cerita seks , ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12 cewek liar memek entot kontol besar hitam main toket pantat cina, kisah porno, kisah sex bokep, sex, ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com