ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14

Nggak tau sejak kapan gua berada di ruangan yg asing bagiku ini. Nyala sebuah lampu kecil di tengah langit langit tak cukup untuk menerangi tempat ini, semuanya remang remang serta tak begitu jelas. Hawa dingin yg kurasakan membuatku kadang menggigil, padahal saat ini gua berpakaian lengkap. gua mengenakan salah satu stel pakaian santai yg cukup sering kupakai kalau gua berpergian ke mall.


Namun yg membuatku merasa takut, sekarang ini gua duduk di sebuah kursi, tak bisa bergerak bebas. Kedua pergelangan tanganku yg menyatu di belakang sandaran kursi ini terikat erat. Sedangkan kedua pergelangan kakiku terikat erat pada ujung kiri serta ujung kanan kaki kursi ini. Perutku ini juga terikat pada sandaran kursi, hingga gua tak bisa ke mana mana lagi.

Eliza
Oh, apa yg terjadi padaku? Apakah gua diculik?

Selagi gua berusaha mengingat ingat mengapa gua sampai berada di tempat ini, tiba tiba pintu ruangan ini terbuka, gua melihat ada seseorang yg masuk serta mendekatiku.

“Siapa?” tanyaku dgn sedikit panik.

Tak ada jawaban. yg tambah membuatku merasa ngeri, pakaian orang serba gelap. Bahkan ketika ia sudah cukup dekat, gua baru melihat kalau orang ternyata memakai topeng yg menutupi bagian lingkar kedua matanya, hingga rasanya gua tak mungkin bisa mengenali wajahnya.

“Kamu siapa? Ka. kamu mau apa.?” desisku ketakutan tanpa bisa berbuat apapun.

Orang seperti tak perduli dgn pertanyaanku, ia malah membelai rambut dgn lembut. gua tertegun sejenak, belum sempat gua berpikir atau berbuat sesuatu, tiba tiba wajah orang bertopeng ini sudah berada sedekat ini di hadapan wajahku, hingga membuatku terhenyak menahan nafasku.

Sempat kuperhatikan, bentuk bibir, dagu, hidung, lingkaran juga bulu matanya, gua yakin kalau ia adalah seorang wanita. gua melihat ia tersenyum padaku, lalu ia mulai mencumbuiku wajahku dgn lembut. Diperlakukan seperti oleh seorang wanita yg gua tak tahu berwajah seperti apa, entah kukenal atau tidak, jantungku berdegup kencang serta wajahku terasa panas.

Setelah beberapa lama, kini gua antara pasrah serta menikmati cumbuan ini, tiba tiba bibirku dipagutnya dgn mesra. gua sudah tak bisa berpikir lagi. dgn memejamkan mata, gua langsung membalas pagutan wanita yg mengenakan topeng dgn penuh perasaan.

kita berdua saling berpagut dgn panas, baru berhenti setelah akhirnya kita sama sama kehabisan nafas. gua membuka mataku, kini wajah kita berdua tetap saling berhadapan hingga kita bisa saling merasakan hangatnya dengus nafas kita selagi saling bertatapan seperti ini.

“Kamu siapa?” dgn suara pelan gua memberanikan diri untuk bertanya lagi pada wanita , memang sebenarnya gua penasaran ingin tahu siapa wanita yg baru saja bercumbu denganku ini.

Tapi jawaban yg kuterima hanyalah sebuah kecupan lembut pada bibirku. Lalu ia meraba pipiku dgn mesra, membuatku merasa sedikit jengah, namun gua hanya bisa pasrah saja. gua memejamkan mataku ketika ia mengecup pipi kananku, ia terus melanjutkan cumbuannya sampai ke telinga kananku hingga gua sedikit menggigil kegelian.

“Eliza. Cie Cie bukain bajumu ya,” kudengar bisikan yg lebih mirip desahan di telinga kananku.

Cie Cie? Cie Cie siapa? gua menatapnya sejenak, heran krn ia mengetahui namaku. Apakah gua juga mengenalnya? Tidak, gua tak bisa mengenali suara Cie Cie ini. Tapi entah kenapa tiba tiba gua merasa aman, tanpa ragu gua mengangguk pasrah.

berikutnya ia membuka kancing bajuku, satu persatu. Ia melakukan dgn perlahan, membuatku merasa begitu sexy saat bajuku sudah terbuka sampai setengah bagian.

Remasan lembut pada kedua toket ku ini membuatku terbakar gairah. Dalam keadaan terikat di kursi seperti ini, gua balas mencium leher Cie Cie yg kebetulan berada di hadapan wajahku selagi Cie Cie mengecup telingaku.

“Ooh.” Cie Cie merintih mesra.

kita kembali saling bertatapan, Cie Cie memagut bibirku dgn penuh nafsu. gua membalas pagutan dgn sejadi jadinya.

“Cie. Cie Cie ini siapa?” gua bertanya lagi di tengah nafasku yg memburu setelah kita saling melepaskan pagutan ini.

Lagi lagi ia mengecup bibirku dgn lembut tanpa menjawab. Kemudian ia malah mengeluarkan sehelai kain hitam, yg lalu dilipatnya beberapa kali hingga kain berukuran kecil lalu memanjang. gua memejamkan mataku ketika ia menutupkan kain pada kedua mataku, gua diam saja ketika kain dilingkarkan serta diikatkan di belakang kepalaku.

gua tak bisa melihat apa apa lagi. Kini gua hanya bisa pasrah menunggu serta menebak nebak apa lagi yg kira kira akan dilakukan Cie Cie padaku. Tiba tiba kepalaku jadi sedikit pening saat gua mencoba mengingat mengapa gua sampai berada di tempat ini.
-x-
II. Penyesalanku Akibat Berpura Pura Tidur

“Yul. Yulita! Nanti Eliza bangun!” samar samar kudengar sebuah suara yg kukenal, yaitu suara Cie Natalia!

“Nggak apa apa deh Nat. kalau bangun, biar nanti kuajak ngentot sekalian,” kudengar suara seorang gadis yg dipanggil dgn nama Yulita , dari caranya memanggil Cie Natalia, sepertinya Cie Yulita ini teman sebaya Cie Natalia.

Entah apa yg terjadi, sekarang ini gua sedang dalam keadaan terbaring, bukan dalam keadaan duduk terikat. meskipun kini tak ada ikatan yg membelenggu kedua tangan serta kakiku, gua sedikit merasa aneh serta kuatir, krn dari tadi rasanya gua tidak bergerak sedikitpun, juga rasanya tak ada yg sempat memindahkanku untuk berbaring di sini.

Eh? Di mana ini? serta mengapa gua masih tak bisa melihat apapun? Apa yg terjadi padaku?

Tapi sekarang gua mulai mengenali aroma ruangan ini. gua masih berada di kamar Cie Natalia. gua mulai memikirkan tentang perkataan Cie Natalia serta Cie Yulita tadi.

Seketika gua menyadari tadi semua cuma mimpi, kini gua sudah terbangun. mendengar suara Cie Natalia tadi, gua tahu ia ada di dekatku, maka gua jadi merasa sedikit tenang.

Tentang mengapa gua tak bisa melihat, kini gua menyadari ada sesuatu yg menempel kemudian menutupi pandangan kedua mataku. Mungkin ini adalah kain hitam, seperti dalam mimpiku tadi, tapi rasanya bukan kain biasa.

Sebuah kecupan lembut hinggap di bibirku. gua hanya diam saja, tak tahu harus berbuat apa.

“Yuul. kamu kok ngawur sih!” gua mendengar bisikan Cie Natalia lagi.

Tapi kecupan ini malah berubah menjadi pagutan hingga gua menahan nafas saat jantungku berdetak kencang serta gairah mulai menghinggapi diriku.

Kalau yg disebut oleh Cie Natalia sejak tadi adalah Cie Yulita, berarti yg sedang memagut bibirku ini adalah Cie Yulita. gua tetap diam, bahkan gua berusaha tak bereaksi sambil tetap menahan nafasku.

“Yul. kamu gila ya? Jangan terusin ah!” Cie Natalia mulai mengomel meskipun dgn nada berbisik.

“Mmmhh.” desah Cie Yulita di tengah nafasnya yg tersengal sengal setelah melepaskan pagutannya yg kurasakan begitu mesra pada bibirku.

gua sendiri sudah hampir meronta krn dadaku terasa sesak, bahkan mungkin gua akan terbatuk batuk kalau ciuman tadi berlangsung beberapa detik lebih lama. Untung saja Cie Yulita sudah melepaskan pagutannya pada bibirku. dgn sebisanya gua mengatur nafasku yg juga sempat tersengal ini, setelah gua berhasil menenangkan nafasku, gua tetap berusaha untuk berpura pura masih dalam keadaan tidur.

“Yul. kamu ini gimana sih! Liat tuh, hampir aja Eliza bangun!” kudengar Cie Natalia mengomel dgn berbisik setelah mereka berdua sempat terdiam beberapa saat, mungkin krn tadi mereka melihat nafasku yg sempat tersengal sesaat.

“Tenang deh Nat, sleeping beautymu ini masih tidur kok,” jawab Cie Yulita pelan dgn nada yakin.

Saat juga gua merasakan belaian lembut pada rambutku, pipiku, akibatnya getaran halus kembali menjalari tubuhku, menambah siksaan padaku yg sudah cukup terangsang akibat pagutan bibir Cie Yulita yg semesra pada bibirku tadi.

“Tapi Yul.” Cie Natalia kembali berbisik dgn nada kuatir.

“Nat. kamu kenapa sih?” tanya Cie Yulita balik dgn berbisik pula. “Kamu cemburu ya?”

“Eh? Yu. Yul. mmmhh.” kudengar Cie Natalia merintih lemah.

Kini gua mendengar rintihan tertahan dari mereka berdua. gua membayangkan mungkin tadi Cie Yulita menyergap Cie Natalia, sekarang ini mereka pasti sedang saling berpagut bibir dgn panasnya. , mereka tega membiarkan gua yg kini jadi sedikit kecewa, krn sekarang ini gua sudah mulai terbakar gairah, namun gua tak tahu harus berbuat apa dalam kesendirianku ini.

Tiba tiba gua jadi ingin tahu, seperti apa ya Cie Yulita ? Apakah ia juga secantik Cie Natalia?

Tapi gua tak bisa melihat apa apa, sedangkan kalau gua nekat membuka kain yg menutup mataku ini lalu mereka tahu kalau gua sudah bangun, entah apa yg akan terjadi.

Mungkin saja kita bertiga jadi saling bermesraan lalu bercumbu, bahkan saling ngentot dgn panas malam ini.

Tapi mungkin juga kita bertiga malah menjadi canggung, krn Cie Natalia masih sepupuku sendiri, gua juga belum mengenal Cie Yulita.

Mengingat akan adanya kemungkinan yg terakhir , gua memutuskan untuk tetap diam, krn selain gua tak ingin merusak suasana, gua menyadari tadi gua amat menikmati sentuhan serta cumbuan Cie Yulita pada wajahku saat gua dalam keadaan tak bisa melihat apa apa. gua menginginkan hal terjadi lagi.

gua memang tak tahu bagaimana wajah Cie Yulita, bentuk matanya, bibirnya, ataupun bentuk tubuhnya, tapi semua malah menambah sensasi buatku saat Cie Yulita mencium bibirku tadi. gua berharap akan diperlakukan seperti lagi kalau Cie Yulita mengira gua masih tidur.

“Ngghhk. Yuul.” rengek Cie Natalia mesra.

Sedang apa ya mereka?

Duh, kalau begini kan mereka membuatku tambah iri aja.

“Mmphh. Yul. udah dong. Kalau Eliza sampai bangun, terus dia liat kita begini, nanti gua kan yg repot!” kudengar suara Cie Natalia memprotes.

Suasana jadi hening sejenak.

“Tapi Nat. gua.” Cie Yulita mengeluh.

“Udah, jangan terusin lagi, please Yul. besok besok kan masih bisa?” protes Cie Natalia. “Lagian, sekarang ini udah jam dua belas malam. Kamu nggak pulang ta Yul?”

Suasana kembali hening. Ternyata sekarang ini baru jam dua belas tengah malam. Ini artinya gua cuma sempat tertidur sekitar hampir satu jam saja.

“Ya udah deh. gua pulang sekarang. Tapi antarin gua sampai ke mobil ya sayang.” rengek Cie Yulita.

“Iya iya.” jawab Cie Natalia dgn nada suara seperti menghibur anak kecil yg manja.

‘klik’, kudengar handel pintu kamar ini terbuka, mereka meninggalkanku sendirian di dalam sini setelah menutup pintu. gua menunggu beberapa saat hingga gua yakin mereka sudah turun ke bawah, lalu gua meraba raba kain yg menempel serta menutupi kedua mataku ini, mencoba untuk mencari tahu benda apakah ini, sampai akhirnya gua menyadari serta bisa memastikan ini adalah sebuah blindfold.

Tapi gua tak melepaskan blindfold ini, gua menaruh tanganku ke dalam bedcover kembali. Jadi Cie Natalia tak akan tahu kalau gua sudah bangun. gua diam menunggu Cie Natalia kembali. Selagi menunggu, gua memikirkan apa yg baru saja terjadi.

gua tertidur hampir satu jam. gua jadi bertanya tanya, sejak kapan lalu seberapa lama Cie Yulita mencumbuiku? Apakah gua bermimpi aneh seperti tadi krn gua memang sudah dicumbui seperti oleh Cie Yulita saat gua masih tertidur?

Mungkin saja. teringat akan hal , tiba tiba wajahku terasa panas. gua tak tahu apakah gua sempat benar benar membalas pagutan Cie Yulita selagi gua masih tertidur tadi. harus kuakui, tadi saat gua dicumbui oleh Cie Yulita yg belum kukenal serta juga belum kuketahui wajahnya selagi gua mengenakan blindfold ini, adalah suatu sensasi baru bagiku. gua amat menikmatinya.

Kemudian gua teringat saat Cie Natalia juga Cie Yulita saling merintih. gua cukup yakin kalau waktu mereka sedang berciuman. dari percakapan mereka yg tadi, gua rasa mereka memang sudah terbiasa seperti , meskipun entah apakah juga sudah sejauh seperti yg gua lakukan dgn Jenny, Sherly ataupun Cie Stefanny.

teringat semua, nafasku jadi sedikit memburu seiring gairah seks gua yg kembali bergejolak. Tapi gua sadar kalau gua harus cepat menekan gairah seks gua ini. Bagaimana gua bisa tidur kalau semua hal erotis memenuhi benakku?

Tiba tiba kudengar pintu kamar ini terbuka, lalu tertutup kembali.

“Eliza.?” gua mendengar Cie Natalia berbisik pelan memanggilku.

gua diam, bingung entah gua harus menjawab atau tetap pura pura tidur.

“Eliza.” Cie Natalia memanggilku lagi dgn suara yg sepelan tadi.

Ingin rasanya gua bangun, memeluk Cie Natalia, memuaskan gairah seks gua yg bangkit akibat cumbuan Cie Yulita tadi, yg lalu terputus di tengah jalan serta tak diteruskan . Tapi gua takut membayangkan apa pikiran Cie Natalia tentang diriku kalau sampai ia mengerti bagaimana tadi gua pura pura tidur meskipun dihujani ciuman serta pagutan oleh Cie Yulita seperti .

Maka gua memutuskan untuk tetap berpura pura tidur, meskipun sebenarnya gua ingin sekali bercumbu dgn Cie Natalia.

“Hmmh. untung deh kamu nggak sampai bangun gara gara Yulita tadi,” kudengar Cie Natalia yg berkata pelan dgn nada lega, tampaknya ia sudah yakin kalau gua benar benar masih tidur.

Sesaat kemudian gua mendengar bunyi saklar lampu yg ditekan. Tampaknya Cie Natalia sudah mematikan lampu utama kamar ini.

gua segera memejamkan mataku ketika kurasakan Cie Natalia perlahan melepaskan tali blindfold ini dari kepalaku. gua berusaha menekan gairah seks gua, sebisanya gua tetap memejamkan mataku dgn sewajar mungkin.

Namun, gua tak menyangka kalau sesaat kemudian Cie Natalia malah membuat keadaan menjadi semakin sulit buatku.

“Tapi bukan salah Yulita. abisnya kamu memang cantik.” desah Cie Natalia sambil membelai rambutku.

sebuah kecupan yg begitu mesra pada bibirku membuat perasaanku tersengat. Berikutnya ketika Cie Natalia mulai mencumbui wajahku, perlahan sekali gua meremas sprei ranjang ini dgn kedua tanganku. Sekuat tenaga gua bertahan agar gua tak menuruti perasaanku untuk membalas ciuman serta cumbuan Cie Natalia, apalagi sampai memeluk tubuh Cie Natalia yg pastinya sedang berada dalam jangkauan kedua tanganku ini.

Entah sampai kapan gua kuat bertahan seperti ini. Pikiranku melayang ke mana mana, apalagi gua tak pernah membayangkan dicium dgn mesra seperti ini oleh Cie Natalia. Tapi untung akhirnya Cie Natalia menghentikan cumbuannya.

“Tapi. kalau kamu sampai tahu Cie Cie seperti ini. Cie Cie takut kamu nggak akan mau dekat sama Cie Cie lagi.” keluh Cie Natalia yg lalu mengecup keningku.

Oh. kalau saja Cie Natalia tahu, gua amat suka diperlakukan seperti ini olehnya. Kalau saja gua bisa memberitahunya. ingin rasanya gua menjerit meneriakkan isi hatiku pada Cie Natalia, gua mulai menyesal mengapa tadi gua harus pura pura tidur.

Kemudian Cie Natalia berbaring dgn perlahan di sampingku, kini kita berdua berada di dalam bedcover yg sama. Beberapa kali gua merasakan kulit tanganku bersentuhan dgn kulit tangan Cie Natalia, rasanya tubuhku menggigil ketika gua harus kembali berjuang menahan gairah seks gua agar gua tidak berbuat sesuatu terhadap Cie Natalia.

Entah berapa lama, akhirnya Cie Natalia sudah tertidur, gua tahu dari nafasnya yg mulai berat. Kini tinggal gua sendiri yg harus berjuang memadamkan gairah seks gua.

Sejak tadi gua merasa sedikit kecewa, krn sebenarnya gua sangat ingin bercumbu atau bahkan ngentot dgn Cie Natalia kalau mungkin. Dari kata kata Cie Natalia tadi gua merasa punya harapan Cie Natalia tidak menolak kalau gua mengajaknya ngentot denganku.

Tapi akal sehatku masih mampu mengingatkanku tentang tujuanku menginap di rumah Cie Natalia.

gua ingin bisa beristirahat dgn benar, paling tidak selama beberapa hari. meskipun jujur saja selama ini gua belum pernah sampai merasa diperkosa oleh tiga pejantanku , tapi gua berpikir tubuhku ini bisa remuk kalau harus terus menerus ngeseks dgn mereka setiap hari.

Bahkan kemarin , setelah gairah mereka bertiga terbakar hebat akibat kenakalanku, di sore harinya mereka berhasil menangkapku, mereka melampiaskan dendam padaku hingga membuatku tersiksa dalam kenikmatan. mereka bahkan membuatku pingsan, tak kuat menahan orgasme yg terus mendera tubuhku. Masih terbayang dalam pikiranku waktu mereka bertiga menggendongku begitu rupa lalu dgn kompaknya mereka menjarah tubuhku dgn seenak perut mereka sendiri.

Memikirkan semua , tiba tiba gairah seks gua naik kembali. hal ini menyadarkanku untuk berhenti menambah siksaan pada diriku sendiri, atau malah sampai bermasturbasi yg pasti semakin menguras tenagaku. Sebaiknya gua segera tidur untuk memulihkan kondisi tubuhku yg hancur hancuran ini.

Maka gua mencoba untuk mengusir semua bayangan tentang kehidupan seksku yg tak karuan ini dari dalam benakku. dgn mencoba mengingat tentang pelajaran di sekolah, memikirkan tentang ujian kenaikan kelas di akhir bulan depan, perlahan gua kembali mengantuk, tak lama kemudian gua sudah kembali tertidur pulas.
-x-
III. Pagi Hari yg Menyenangkan

Belaian lembut pada rambutku membangunkanku dari tidurku yg nyenyak ini. Tapi gua masih sangat mengantuk untuk membuka mataku serta melihat siapa yg akan menjarah tubuhku pagi ini. gua masih ingin menikmati tidurku selagi bisa tanpa memperdulikan ulah para pejantanku yg akan segera berbuat sesuka hati mereka pada tubuhku ini.

Tapi setelah beberapa saat lamanya, malah gua jadi sedikit heran. Hanya belaian lembut pada rambutku? Mana remasan yg penuh nafsu dari tangan tangan mereka pada kedua toket ku? Apa yg mereka tunggu, sehingga sampai sekarang ini masih belum ada satupun jari tangan mereka yg tercelup masuk ke dalam lobang memek ku?

Perlahan gua membuka mataku, gua sedikit terkejut ketika gua melihat wajah Cie Natalia yg tersenyum manis padaku. Pikiranku segera bercabang ke mana mana, gua jadi semakin bingung ketika gua sadar bahwa kamar ini bukan kamarku.

Akhirnya gua mulai mengerti mengapa sekarang ini gua berada di kamar Cie Natalia. gua segera ingat kejadian tengah malam tadi, tentang kecupan Cie Natalia pada bibirku. Tiba tiba gua sedikit jengah serta wajahku terasa panas.

“Mmm. pagi Cie.” gua menyapa Cie Natalia serta mencoba bersikap sewajarnya.

“Pagi Eliza. Sorry ya Cie Cie bangunin kamu, Cie Cie mau ajakin kamu makan pagi,” kata Cie Natalia pelan serta ia berhenti membelai rambutku ketika gua menatap wajahnya.

gua baru menyadari, Cie Natalia sudah berpenampilan rapi, tentu saja ia jadi terlihat semakin cantik. Beberapa saat kemudian tiba tiba gua melihat wajah Cie Natalia memerah, ia memalingkan wajahnya, hingga gua sadar kalau tadi gua terlalu lama menatap serta menikmati kecantikan wajah Cie Natalia.

“Eliza, kamu nggak marah kan Cie Cie bangunin kamu?” tanya Cie Natalia pelan.

“Eh. nggak apa apa Cie,” jawabku cepat sambil tersenyum malu.

Cie Natalia bangkit berdiri lalu membuka gorden kamarnya. Sinar matahari yg terang langsung menembus masuk ke dalam kamar ini, membuatku menoleh ke arah jam dinding.

Aduh, ternyata sekarang ini sudah jam setengah delapan pagi! Tanpa berkata apa apa lagi gua segera ke kamar mandi di kamar Cie Natalia ini untuk menyikat gigi, lalu gua membersihkan mukaku seperlunya serta sedikit merapikan rambutku supaya tak terlihat awut awutan.
Ketika gua keluar dari kamar mandi, gua melihat Cie Natalia yg menungguku, duduk manis di tepi ranjang, sepertinya sedang melamun, bahkan sepertinya ia tak menyadari gua sudah duduk di sampingnya. gua perlahan memegang pundak Cie Natalia.

“Ih kamu. Cie Cie sampai kaget,” Cie Natalia menjerit kecil serta memukul tanganku dgn perlahan.

“Aduh. hihi. hayo Cie Cie melamun yaa?” gua mulai menggoda Cie Natalia.

“Eh. Cie Cie. enggak kok!” bantah Cie Natalia.

“Enggak apa sih Cie? Eliza kan cuma nanyain Cie Cie melamun apa nggak. Eliza kan nggak tahu Cie Cie sedang ngelamun siapa?” kataku sambil meleletkan lidah dgn senang.

“Emm.” Cie Natalia menatapku sambil menggigit bibir, lalu ia menunduk serta tersenyum malu dgn wajah yg merona merah.

gua mulai yakin Cie Natalia sedang melamunkan seorang lelaki pujaan hatinya. Sebenarnya gua masih ingin terus menggoda Cie Natalia, sekalian membalas yg kemarin malam saat Cie Natalia menggodaku soal janjiku dgn Andy. Tapi gua kasihan juga melihat Cie Natalia yg kini tersenyum malu tanpa bisa berkata apa apa, hingga membuatku teringat akan keadaanku di saat gua digoda habis oleh Jenny serta Sherly tentang Andy.

“Ya udah deh, ayo kita turun Cie,” kataku sambil meraih serta menggenggam tangan Cie Natalia, lalu gua menggandengnya turun ke bawah menuju ruang makan.

Cie Natalia menurut saja, selagi menuju ruang makan kita saling bercanda hingga suasana hari ini rasanya menyenangkan sekali. Entah bagaimana dgn Cie Natalia, yg jelas gua merasakan getaran halus yg menjalari tubuhku saat gua menggandeng tangan Cie Natalia seperti ini. Tapi gua berusaha menekan perasaanku krn gua tak ingin suasana ini jadi rusak gara gara gua.
kemudian kita bersama sama menikmati sarapan pagi ini, sementara gua diam diam mencuri pandang, menikmati kecantikan wajah Cie Natalia. Sesekali gua menatap wajah Cie Natalia dgn cukup lama saat pandangan mata Cie Natalia sedang tertuju ke arah makanan atau minumannya.


Cie Natalia
tambah lama gua tambah terpesona dgn pemandangan indah di hadapanku. Rambut panjang sebahu yg menghias wajah Cie Natalia amat halus serta indah. Bibir Cie Natalia begitu mungil serta menggairahkan. Kulit Cie Natalia begitu putih, rasanya jauh lebih putih dariku. Lalu kedua mata .

“Hayo, kamu kok ngeliatin Cie Cie terus sih? Naksir ya?” tiba tiba gua terkejut mendengar suara Cie Natalia yg ternyata sudah selesai makan.

“Eh. iya. abisnya Cie Cie cantik sih,” jawabku sambil meleletkan lidah untuk memberikan kesan gua sedang balas menggoda Cie Natalia.

“Dasar. Kalau gitu kamu jadi teman kencan Cie Cie ke gereja ya,” Cie Natalia menggodaku lagi sambil tertawa.

Wajahku terasa panas serta gua merasa malu. Sepertinya gua terlalu lama memandangi wajah Cie Natalia hingga akhirnya ketahuan oleh Cie Natalia.

Duh, bodohnya gua.

Tapi gua juga merasa senang sekali, krn dgn menggodaku seperti tadi, berarti ada kemungkinan Cie Natalia memang tidak keberatan kalau gua memandanginya seperti tadi. Diam diam gua mulai berharap, gua bisa semakin dekat dgn Cie Natalia.

tentang ajakan Cie Natalia untuk menemaninya ke gereja, oh. gua akan senang sekali. tapi.

“Aduh. masih sempat nggak Cie?” gua baru teringat soal ini, sadar kalau gua tadi bangun kesiangan serta belum mandi, gua kembali mencari jam dinding. “Jam berapa ya sekarang?”

“Tenang deh sayang,” kata Cie Natalia. “Masih jam delapan lebih sedikit kok. Nanti kita ke gereja ******** aja. Misa terakhir di sana kan masih sekitar satu setengah jam lagi.”

“Oh iya. untung deh. kalau gitu Eliza siap siap dulu ya Cie,” kataku sambil menarik nafas lega, Cie Natalia mengangguk.

gua serta Cie Natalia sudah selesai makan, kita menaruh piring kotor kita di dapur. Setelah bergantian menggunakan wastafel untuk membersihkan mulut serta mencuci tangan, kita berdua segera naik ke atas menuju kamar Cie Natalia.

“Abis , kalau kamu nggak ada acara, kamu temanin Cie Cie pergi cari kado buat teman Cie Cie yg ulang tahun ya?” ajak Cie Natalia saat akan menaiki tangga.

“Iya Cie, Eliza nggak ada acara kok sampai waktu les balet nanti” gua menerima ajakan Cie Natalia dgn senang hati.

“Thanks ya Eliza. kamu baik deh,” kata Cie Natalia sambil tersenyum, manis sekali.

“Nggak apa apa Cie, Eliza malah senang kok diajak jalan jalan,” kataku dgn cepat untuk menutupi kecanggunganku krn saat ini jantungku kembali berdegup kencang.

gua serta Cie Natalia sudah berada di kamar Cie Natalia. gua membawa satu stel baju untuk berpergian serta juga handuk sebelum masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, gua mengeringkan tubuhku serta berganti baju. Lalu gua membersihkan wajahku, memakai bedak tipis di wajahku, tak lupa gua menyisir rambutku serapi mungkin.

Diam diam gua menelan obat anti hamil yg tadi juga kubawa bersama baju gantiku. Setelah semuanya selesai, gua segera keluar dari kamar mandi serta menemui Cie Natalia yg sedang menonton TV selagi menungguku.

“Cie. Eliza udah siap. Berangkat yuk,” gua mengajak Cie Natalia segera pergi

“Iya, ayo.” Cie Natalia mematikan TV melalui remote serta berdiri sambil menatapku, tapi tiba tiba kata katanya terhenti.

“Auw. kalau udah rapi gini kamu tambah cantik deh Eliza,” sesaat kemudian Cie Natalia memujiku. Tapi berikutnya ia juga menggodaku, “Nggak rugi deh Cie Cie jadiin kamu teman kencan, meskipun cuma sehari.”

“Thanks ya Cie. gua juga senang kok jadi teman kencannya Cie Cie,” gua berusaha balik menggoda Cie Natalia.

Senang sekali rasanya mendapatkan pujian dari Cie Natalia, kata kata Cie Natalia tentang teman kencan tadi membuat jantungku berdebar aneh.

Tiba tiba ponselku berbunyi, menunjukkan kalau ada sms yg masuk. gua langsung mengambil ponselku, berharap adalah sms dari Andy.

‘Pagi Eliza. Sorry ya kemarin gua keterusan nelepon kamu sampai malam, nggak ingat deh kalau kamu masih butuh istirahat. Gimana kamu Eliza? Moga moga kamu udah enakan, tapi kamu jangan lupa istirahat yg cukup ya.’

dgn hati berbunga bunga, gua langsung mengetik balasan untuk sms dari Andy ini, supaya ia tidak mengkuatirkan keadaanku.

“Halo Eliza. gimana kamu pagi ini? Lagi ngapain? Udah makan belum?” tiba tiba Cie Natalia yg sudah berada di hadapanku ini mulai menggodaku.

“Cie Cieee.” gua merengek malu.

“Duh. yg lagi kasmaran. Lupa deh kalau udah mau berangkat ke gereja. Eliza, kamu nggak usah bawa mobil deh, kamu ikut Cie Cie aja, jadi kamu bisa balas sms kekasihmu di mobil,” Cie Natalia kembali menggodaku.

“Ya ampun! Sorry Cie,” kataku sambil cepat memasukkan ponselku ke dalam tasku, gua jadi malu serta merasa tak enak. “Ayo berangkat Cie.”

“Eeh. nggak apa apa kok Eliza, nggak usah sampai segitunya deh,” kata Cie Natalia yg tersenyum manis, lalu ia menggandeng tanganku. “Cie Cie cuman lagi godain kamu aja kok. Yuk!”

gua menurut saja mengikuti Cie Natalia yg menuju garasi, meskipun sekarang ini jantungku berdebar tak jelas. Selain gara gara senyuman , kini. apakah benar sekarang ini Cie Natalia meremas tanganku yg berada dalam gandengan tangannya? Atau ini cuma perasaanku saja?

Semua ini tetap menjadi teka teki bagiku, krn belum sempat gua bereaksi lebih jauh, kita berdua sudah berada di garasi, gua harus rela melepaskan gandengan tangan Cie Natalia ini. gua masuk ke dalam mobil bersama Cie Natalia, kita berdua memulai aktivitas di hari Minggu ini.
-x-
IV. Derita Dalam Gairah

“Akhirnya. selesai!” kata Cie Natalia dgn senang saat kita selesai membungkus kado ulang tahun ini dgn rapi.

“Iya Cie, padahal tadi Eliza udah kuatir lho gara gara jalanan macet waktu kita pulang tadi,” gua menimpali kata kata Cie Natalia dgn lega sambil bersandar di dinding.

“Cie Cie sih nggak kuatir, kan ada kamu yg bantuin Cie Cie. Makasih ya Eliza,” kata Cie Natalia yg tersenyum manis padaku, lalu ia juga bersandar di sebelahku.

“Nggak apa apa deh Cie, tadi kan Cie Cie udah nraktir Eliza. Tapi, besok Cie Cie juga harus nraktir Eliza lagi lho!” kataku sambil tersenyum senyum.

“Memangnya Cie Cie punya hutang apa lagi sama kamu sayang?” tanya Cie Natalia heran.

“Lhoo, kan nanti malam Eliza bantuin Cie Cie jagain piano?” tanyaku balik sambil meleletkan lidahku.

“Ooh. jadi gitu ya?!” Cie Natalia mencubit kedua pipiku dgn gemas.

“Aduh. iya Cie. ampun.” gua merengek manja sampai Cie Natalia melepaskan cubitannya, kita berdua tertawa geli. Lalu kita sempat bersantai serta mengobrol tentang beberapa hal, tentu salah satunya adalah soal bagaimana kita menemukan boneka panda yg dijadikan kado ini.

“Oh iya Eliza, kamu berangkat ke les balet nanti jam berapa?” tanya Cie Natalia.

“Jam setengah lima kurang sedikit Cie,” jawabku sambil melihat ke arah jam dinding, ternyata sekarang masih jam tiga sore.

“Ow. kalau gitu masih ada waktu bentar ya,” kata Cie Natalia sambil melihat ke arah jam dinding.kamu mau bantuin Cie Cie bentar kan? Yuk, ikut Cie Cie,” kata Cie Natalia yg lalu bangkit berdiri.

gua mengangguk serta ikut berdiri, lalu gua mengikuti Cie Natalia yg masuk ke sebuah kamar. Cie Natalia menyalakan lampu di dalam kamar ini, gua baru melihat kalau kamar ini adalah ruang olahraga.

“Eliza, kamu tunggu bentar di sini ya, Cie Cie mau ganti baju dulu,” kata Cie Natalia.

“Iya Cie,” gua menjawab sambil menganggukan kepalaku.

Cie Natalia masuk ke kamar mandi yg ada di ruangan ini. gua jadi bertanya tanya, apa Cie Natalia ingin berolahraga? Entah bantuan apa yg diperlukan Cie Natalia dariku, yg jelas sekarang ini jantungku jadi sedikit berdebar, krn gua mulai menebak nebak pakaian seperti apa yg akan dikenakan Cie Natalia nanti.
Apakah gua akan melihat tubuh Cie Natalia terbalut sebuah pakaian senam yg ketat seperti kostum baletku? Atau hanya kostum training biasa?

Eh? Mengapa gua sangat berharap Cie Natalia akan keluar dari kamar mandi dgn pakaian senam yg ketat?

gua segera berusaha mengalihkan pikiranku. Sambil menunggu gua mengamati ruangan ini, yg seperti sebuah gym mini saja. Fasilitasnya cukup lengkap. Sebuah treadmill, sepasang sepeda statis, sepasang exercise ball, beberapa set alat latihan angkat berat yg sepertinya untuk Ko Honggo.

Suasana di ruangan ini cukup hangat, gua tak melihat ada AC di sini. Empat set lampu neon panjang ditambah dgn cermin yg menutup satu sisi dinding, membuat ruangan ini jadi terang benderang.

gua mendengar sesuatu serta reflek gua menoleh. Mau tak mau gua terpaku dgn pemandangan indah yg terpampang di hadapanku. Tentu saja bukan krn gua melihat aktivitas Cie Natalia yg sedang membeber matras.

Melebihi harapanku tadi, sekarang ini Cie Natalia hanya mengenakan kostum training two piece yg ketat hingga gua bisa melihat jelas keindahan lekuk pinggang Cie Natalia, juga perutnya yg putih mulus serta begitu ramping benar benar membuatku kagum.

“Iih. kamu kok ngeliatin Cie Cie terus sih? Udah dong Eliza, jangan ngeledek Cie Cie terus. Cie Cie tau kok kalau badan Cie Cie ini agak endut. Makanya Cie Cie harus berolahraga!” tiba tiba gua mendengar Cie Natalia mengomel panjang pendek hingga gua terkejut setengah mati.

“Eh. Cie Cie. enggak kok. gua nggak.” gua tergagap panik tak tahu harus menjawab apa.

gua tahu Cie Natalia hanya pura pura marah, namun lagi lagi dalam hati gua mengomeli diriku yg mengulangi kebodohanku pagi tadi.

“Hihi. kamu ini. kok jadi tegang gitu sih? Cie Cie cuma godain kamu aja kok,” kata Cie Natalia sambil menyodorkan sebuah gulungan plastik. “Kamu tolong bantuin Cie Cie pakai ini ya.”

“Eh. i. iya Cie. Tapi. apa ini ya?” gua bertanya di tengah kegugupanku.

“Masa kamu nggak pernah liat? Ini namanya body wrapping, Eliza. Cie Cie kan nggak bisa balet seperti kamu, jadi Cie Cie olahraga di rumah sendiri. gunanya body wrapping ini, salah satunya bikin badan berkeringat lebih cepat. Harapannya, lebih banyak lemak di badan Cie Cie yg terbakar waktu Cie Cie berolahraga nanti. Yuk, Cie Cie ajarin cara masangnya ya,” kata Cie Natalia yg mulai membuka gulungan body wrapping .

Ingin gua mengatakan kalau tubuh Cie Natalia jelas jelas sangat ideal. Lekukan tubuhnya terlihat begitu kencang, tentu saja sama sekali tak ada tumpukan lemak di sana. Tapi gua takut kalau Cie Natalia malah menggodaku lagi.

Berikutnya, gua mengikuti petunjuk Cie Natalia untuk membalutkan body wrapping ini ke tubuhnya, mulai dari kedua paha serta betis yg indah , lalu perut yg rata serta sexy . Jantungku berdegup semakin kencang, gua merasa tubuhku sedikit gemetar saat gua membalutan body wrapping ini pada kedua lengan milik Cie Natalia ini.

“Thanks ya Eliza,” kata Cie Natalia yg tersenyum sambil memelukku ketika seluruh tangannya sudah terbalut dgn body wrapping ini.

meskipun hanya sebentar saja, tapi pelukan Cie Natalia tadi sudah lebih dari cukup untuk menambah siksaan padaku yg sedang berjuang menahan gairah seks gua ini.

“Mmm.” gua hanya mengguman tanpa berani menjawab.

Hatiku meronta berdebat dgn akal sehatku. Saat ini gua sudah terbakar gairah serta ingin sekali rasanya gua balas memeluk Cie Natalia. Perasaanku mengatakan bahwa jalan sudah terbuka lebar bagiku kalau gua ingin meluapkan isi hatiku pada Cie Natalia. gua membayangkan kita berdua sudah saling bercumbu, saling berpagut bibir, atau bahkan ngentot di ruang fitness ini.

Tapi gua masih ingat tujuanku ke sini adalah mengistirahatkan tubuhku selama beberapa hari dari berbagai aktivitas seks yg akhir akhir ini sudah semakin keterlaluan. gua juga masih sadar bahwa Cie Natalia ini masih sepupuku sendiri.

Lalu kalau gua mengajak Cie Natalia bermesraan, apakah ia akan pasrah saja serta melayani gairah seks gua seperti Cie Stefanny? Bagaimana kalau nanti Cie Natalia malah jadi canggung, atau marah padaku?

Tapi bukankah di malam kemarin , Cie Natalia sempat memagut bibirku dgn begitu mesra ketika gua terpaksa pura pura tidur?

“Eliza, masih ada waktu kan sebelum kamu les balet? Temani Cie Cie dulu yah. Kamu pakai aja alat fitness di sini yg kamu suka. Treadmill, bola, terserah kamu deh. Cie Cie mau warming up dulu,” kata Cie Natalia yg sudah mulai melakukan scretching.

Tapi perhatianku tertuju pada tubuh indah Cie Natalia yg kini bergerak meliuk serta menggeliat di hadapan pandang mataku, membuatku tambah sulit menahan gairah seks gua. Nafasku terasa tambah sesak, sedangkan gua tak tahu harus berbuat apa.

Tak lama kemudian gua melihat Cie Natalia mulai lari di atas treadmill. gua memutuskan untuk duduk santai di lantai dgn bersandar di dinding ruangan ini, sambil menonton Cie Natalia. Beberapa menit kemudian gua melihat body wrapping Cie Natalia basah oleh keringat, sedangkan Cie Natalia sama sekali belum terlihat lelah.

gua jadi berpikir, masuk akal juga cara yg digunakan Cie Natalia ini. gua jadi ingin memakai cara yg sama seperti yg dilakukan Cie Natalia ini. Tapi di rumahku kan tidak ada treadmill, masa gua lari keliling rumah dgn mengenakan body wrapping?

Mungkin gua bisa meminta papa mama untuk membelikanku sebuah ya? Harusnya papa mama juga nggak akan keberatan untuk membuatkan satu ruangan khusus untuk berolahraga di rumah. Lagipula mungkin kokoku tertarik juga.

Tiba tiba dalam pikiranku ini malah terbayang, bagaimana jadinya kalau gua lari keliling di dalam rumahku dgn tubuhku dalam keadaan terbalut body wrapping. yg benar saja! Dalam keadaan berpakaian lengkap pun gua harus sering menjadi obyek pesta seks tiga pejantanku , lalu bagaimana nasibku kalau mereka melihatku berpenampilan sexy serta menantang seperti Cie Natalia sekarang ini?

Sudah jelas kalau gua tak akan bisa berolahraga dgn benar, krn tak akan butuh waktu lama sebelum para pejantanku segera menangkapku. Lalu mereka mungkin akan langsung merobek robek body wrapping yg membalut tubuhku, berikutnya gua harus merelakan tiga lobang kenikmatanku ini terisi penuh oleh kontol mereka.

Atau gua bisa meminta mereka untuk membiarkan tubuhku tetap terbalut body wrapping, hingga keringat yg keluar dari tubuhku akan lebih banyak dari biasanya selagi mereka bertiga memuaskan hasrat mereka. berarti, lemak yg terbuang dari tubuhku juga semakin banyak.

Duh, apa yg baru saja kupikirkan ini? Kok bisa bisanya gua memikirkan manfaat body wrapping kalau gua terpaksa harus ‘berolahraga’ bersama tiga pejantanku ? Memang masuk akal, tapi gua jadi malu sendiri. Mestinya kan gua berpikir bagaimana caranya supaya gua tak harus terus menerus melayani nafsu mereka terhadap tubuhku?

gua berusaha tak memikirkan hal lagi, gua kembali memandang ke arah Cie Natalia yg ternyata sudah selesai menggunakan treadmill. Sekarang ini gua bisa melihat bagian tubuh Cie Natalia yg terbalut body wrapping begitu basah dibandingkan dgn yg lainnya.

meskipun begitu, gua tak menemukan tanda kelelahan yg berlebihan dari Cie Natalia, malah wajahnya yg merona merah terlihat segar sekali. Mungkin body wrapping memang membantu olahraga yg dilakukan Cie Natalia menjadi lebih efektif untuk membuang lemak.

“Eliza, masa kamu cuma nonton aja? Ayo dong, kamu coba aja alat yg kamu suka,” Cie Natalia berusaha mengajakku.

“Eh. enggak deh Cie. Takutnya kalau Eliza kecapekan, nanti sakit lagi seperti kemarin,” gua mencari alasan untuk menolak ajakan Cie Natalia dgn halus. “Lagian, nonton Cie Cie olahraga kayaknya lebih asyik deh.”

“Oh iya ya! Sorry Eliza, Cie Cie sampai lupa kalau kamu kemarin abis sakit,” kata Cie Natalia yg kini jadi terlihat kuatir.

“Eh, nggak apa apa lah Cie, kemarin Eliza kan cuma kecapekan,” kini gua yg jadi kuatir kata kataku tadi malah merusak mood Cie Natalia untuk berolahraga.

“Abisnya kamu sih bikin hari ini jadi asyik buat Cie Cie. Ya udah Cie Cie lanjutin dulu yah,” kata Cie Natalia yg lagi lagi tersenyum manis padaku.

“Iya Cie.” gua menjawab dgn nada yg kuusahakan sewajar mungkin.

gua sudah tak bisa memperhatikan olahraga yg dilakukan Cie Natalia. Senyuman yg semanis , ditambah dgn pemandangan yg menggairahkan di hadapanku ketika Cie Natalia menggerakkan tubuhnya yg indah serta sexy , oh. gua tak ingin tersiksa lebih lama lagi.

“Cie. Eliza mau ke kamar mandi dulu ya,” kataku pelan.

“Lhoo. kan masih ada waktu setengah jam lagi Eliza?” tanya Cie Natalia.

“Nggak. anu. perut Eliza sakit. Eliza ke atas dulu Cie,” jawabku dgn sedikit tergagap, mungkin krn gua berusaha mencari alasan apa saja.

“Ooo. iya deh sayang,” kata Cie Natalia.

Kata kata ‘sayang’ membuat jantungku berdetak tambah tak karuan.

gua mengangguk sambil tersenyum, gua cepat cepat keluar dari ruang fitness ini.

Setelah gua sempat bersandar pada dinding, secepatnya gua berusaha menenangkan diriku dari gairah yg berkali kali tersulut saat gua berada di dalam tadi. Perlahan nafasku mulai teratur kembali, gua mulai bisa menguasai diriku. Maka gua segera ke atas, krn gua memang sudah harus mulai bersiap untuk pergi ke les balet.

Saat menaiki tangga menuju ke kamar Cie Natalia, kembali terbayang dalam anganku tentang Cie Natalia yg tadi terlihat begitu sexy. balutan body wrapping pada tubuh yg indah benar benar membuat Cie Natalia tampak begitu menggairahkan bagiku.

Ya ampun, kenapa sih kok sulit sekali buatku untuk tidak memikirkan Cie Natalia?

Sambil menekan gairah seks gua, gua mulai menyiapkan semua keperluanku untuk mandi, juga sekalian menyiapkan kostum baletku. Sebisanya gua berusaha memikirkan yg lain, apa saja yg penting bukan tentang Cie Natalia, juga bukan tentang semua hal yg bisa membuat gairah seks gua semakin terbakar. gua tak ingin sampai lepas kontrol serta bermasturbasi di dalam kamar mandi hingga orgasme seperti kemarin.

Kini gua sudah berada dalam kamar mandi Cie Natalia. Perlahan gua melucuti pakaianku satu per satu lalu gua menaruh semua pakaianku tadi ke dalam keranjang. gua sempat tertegun ketika gua melihat bayangan tubuhku yg telanjang bulat ini di dalam cermin.

“Eliza. jangan. jangan bermasturbasi.” gua membisikkan kata kata dalam hatiku, berusaha mengingatkan diriku supaya gua tidak mulai menyiksa diriku sendiri.

gua mengerti sekali akibatnya kalau sampai jari tanganku terlanjur masuk serta menggoda lobang memek ku. Waktu tak akan ada satupun yg bisa kulakukan untuk menghentikan kenakalan jari tanganku, lalu akhirnya gua orgasme. Kalau terjadi, apa artinya gua menginap di rumah Cie Natalia?

Sesaat kemudian gua menikmati guyuran air shower yg hangat. nampaknya gua berhasil menekan perasaanku setelah gua mandi keramas hingga tubuhku terasa bersih serta segar. Paling tidak, untuk saat ini gua sudah tak lagi didera keinginan untuk bermasturbasi.

Rasa lelah yg menderaku beberapa hari ini sudah tak begitu terasa. tak lupa gua membersihkan lobang memek ku yg sempat terasa lembab. Mungkin saat gua terbakar gairah berkali kali akibat membayangkan yg tidak tidak tentang Cie Natalia tadi, lobang memek ku jadi basah oleh cairan cintaku.

Setelah semuanya selesai, gua mengeringkan rambutku serta juga seluruh tubuhku, lalu gua memakai bra serta celana dalam. gua keluar dari kamar mandi untuk memakai kostum baletku, kostum yg selalu membuatku merasa sexy.

Entah kenapa, tiba tiba gua jadi ingin sedikit berdandan. Maka gua menyaputkan lipgloss tipis pada bibirku, juga sedikit bedak tipis pada wajahku.
Lalu gua memilih kaus santai serta celana jeans untuk kupakai selama perjalanan menuju ke tempat les balet. Tentu saja tidak lucu kalau gua harus menyetir dgn mengenakan kostum balet, krn gua tak mau lekuk tubuhku menjadi tontonan gratis para pengamen, penjual koran ataupun pedagang asongan yg lalu lalang saat gua terhenti di lampu merah nanti.

Setelah gua menyisir rambutku hingga rapi, saat gua sudah siap untuk pergi, gua melihat jam dinding. Masih jam empat kurang sepuluh menit. Kalau gua berangkat sekarang, gua akan sampai di tempat les baletku kira kira jam setengah lima.

Berarti gua bakal menganggur kira kira setengah jam. Tapi tak apa lah, daripada kalau gua tetap di sini, bisa bisa gua semakin menderita krn harus menahan gairah seks gua terhadap Cie Natalia. Maka gua segera turun untuk berpamitan pada Cie Natalia. Ketika gua masuk ke dalam ruang fitness, gua melihat Cie Natalia sedang asyik mengayuh sepeda statis.

“Auw. cantiknya sepupuku yg satu ini,” kata Cie Natalia ketika tiba tiba ia menoleh ke arahku.

“Cie Cie ini. Cie, Eliza mau pergi sekarang ya,” gua berpamitan dgn wajah yg terasa panas.

“Iya. hati hati di jalan ya sayang. Mmm. oh iya jangan lupa lhoo. nanti kan.?” kata Cie Natalia sambil menatapku seperti ingin memastikan gua ingat tentang servis piano nanti.

“Iya, tenang deh Cie. Abis dari les balet nanti, Eliza langsung balik ke sini kok, jagain piano Cie Cie supaya nggak dibawa lari sama tukang servisnya. Asyik, besok ada yg nraktir Eliza lagi deh,” kataku sambil meleletkan lidah.

“Hihihi. awas ya kamu nanti kalau Cie Cie juga udah pulang,” Cie Natalia mengancam dgn mimik muka yg diserius seriuskan namun malah terlihat lucu, sesaat berikutnya kita berdua tertawa geli.

“Ya udah. dadah Cie,” kataku sambil melambaikan tangan, setelah Cie Natalia balas melambaikan tangannya, gua langsung keluar dari ruangan yg sejak tadi berkali kali membuatku tersiksa ini, gua melangkah menuju mobilku. Setelah mbak Lastri membuka pintu gerbang rumah Cie Natalia, gua berangkat menuju tempat les baletku.
-x-
V. Insiden Di Ruang Ganti serta Kamar Mandi

Setelah sempat merasa senang krn lalu lintas di jalanan hari ini begitu lancar, kini gua jadi sedikit kecewa melihat rombong batagor yg tidak dijaga oleh penjualnya . Masa sudah habis? Padahal dgn satu bungkus batagor pasti akan membuat empat puluh lima menit sebelum les balet ini jadi tak begitu membosankan.

gua berusaha menghibur diriku sendiri, dgn berpikir bahwa gua memang sebaiknya menjaga bentuk tubuhku agar tetap ideal, salah satu caranya adalah dgn tidak mengemil. dgn demikian gua tak perlu merasa kecewa, bahkan gua merasa beruntung.

Tapi berikutnya gua merasa heran ketika gua melihat bapak Agil sedang berdiri mengobrol dgn salah satu tukang parkir yg menjaga parkiran mobil di tempat les baletku ini.

Pembaca masih ingat dgn bapak Agil? Buat yg lupa, atau tak tahu tentang bapak Agil krn belum sempat membaca serta mengikuti semua serial Eliza High School Girl Series, silakan membaca serial Eliza bagian ke 6 yah ^^

Sekarang ini sudah beberapa bulan sejak kejadian yg waktu , ketika gua bersama Cie Elvira mampu ‘menaklukkan’ bapak Agil. gua masih ingat waktu Cie Elvira sempat memaksa bapak Agil supaya berjanji untuk tidak akan menggangguku lagi.

gua sangat berterima kasih kepada Cie Elvira, meskipun sebenarnya bagiku sudah tak ada bedanya kalau bapak Agil masih terus menggangguku atau tidak. Toh setelah gua masih harus menjalani kehidupanku sebagai betina dari tiga pejantan di rumahku, gua malas mengingat tentang berapa banyak lelaki yg telah beruntung mendapat kesempatan menikmati tubuku.

Kembali ke bapak Agil tadi, yg membuatku heran adalah gua sempat melihat mobil Cie Elvira yg sudah ada di areal parkiran. Biasanya kalau Cie Elvira sudah datang, bapak Agil pasti ada di dalam tempat les baletku, menikmati tubuh Cie Elvira yg memang sengaja menyerahkan dirinya pada bapak Agil. Tapi kalau bapak Agil sekarang ini berada di luar sini, bukankah berarti bahwa saat ini tak ada yg mengganggu Cie Elvira di dalam sana?

Tak ada sebungkus batagor untuk meredakan rasa bosan selama gua menunggu di luar sini, gua mulai merasa risih saat gua menyadari kalau bapak Agil beberapa kali memandang ke arahku selagi ia berbicara dgn tukang parkir . Mengingat les balet baru akan dimulai sekitar empat puluh menit lagi, gua berpikir tak ada salahnya kalau gua masuk ke dalam serta mengajak Cie Elvira mengobrol.

Maka gua turun dari mobil, setelah memastikan semua pintu mobilku terkunci, gua segera masuk ke dalam tempat les baletku. Saat melewati bapak Agil, gua menghindarkan kontak mata dengannya. Selain gua merasa tak ada perlunya, gua juga jadi sedikit takut kalau tiba tiba bapak Agil berubah pikiran setelah saling bertatap mata denganku, lalu ia mengikutiku ke dalam serta memaksaku untuk melayaninya.

Untung hal yg kutakutkan tak terjadi hingga gua sampai di pintu ruang ganti di tempat les baletku ini. gua cepat cepat mencari Cie Elvira di dalam ruang ganti, tapi anehnya gua tak berhasil menemukan Cie Elvira. Tak ada siapapun dalam ruang ganti ini.

Oh, makanya bapak Agil hanya berdiri berdiri di luar. Mana mungkin orang bejat seperti dia mau melepaskan kesempatan untuk menikmati tubuh Cie Elvira kalau Cie Elvira ada di dalam sini?

Tapi, ada dimana ya kira kira Cie Elvira sekarang?

Entahlah, gua pikir sebaiknya gua bersiap untuk latihan balet saja, gua masuk ke dalam ruang yg paling pojok untuk melepas kaus serta celana jeansku, yg kemudian kulipat rapi serta kumasukkan ke dalam tasku. gua sudah akan bersiap memakai sepatu baletku ketika gua mendengar bunyi ‘sreeek’.

gua terkejut sekali ketika gua mendengar suara tirai di bilikku yg tadi sudah kututupkan ini dibuka kembali. Siapa? Tenggorokanku serasa tercekat serta gua cepat membalikkan tubuhku.

“bapak Agil!! Mau apa bapak masuk ke sini?” gua membentak dgn suara pelan, meskipun sekarang ini gua jadi takut sekali.

Sama sekali bukan krn gua takut akan diperkosa, toh bapak Agil juga sudah beberapa kali menikmati tubuhku. yg kutakutkan adalah saat gua harus melayani nafsu bejat bapak Agil, ada teman les baletku yg lain yg datang serta melihat semuanya. Entah apa yg akan terjadi padaku saat , yg jelas setelah rahasiaku tersebar ke mana mana, mungkin nasibku akan semakin buruk.

“Tenang non Eliza. Waktu non kan juga tahu bu Elvira sudah memaksa bapak untuk berjanji supaya nggak akan macam macam sama non Eliza,” kata bapak Agil dgn santainya.

gua diam setengah tak percaya. Tapi memang gua akan lebih senang kalau bapak Agil memang benar benar tak berbuat apapun terhadap diriku.

“Tapi bu Elvira kan nggak bilang apa apa soal Vera serta. teman teman non Eliza yg lain,” sambung bapak Agil lagi, ia masuk ke dalam bilik ini.

gua sempat terkesiap mendengar kata kata bapak Agil yg barusan ini. Apa ia bermaksud mengatakan kalau ia sudah mencicipi tubuh beberapa teman les baletku selain Vera serta gua?

saat gua menyadari kalau posisi bapak Agil sudah sangat dekat denganku, reflek gua langsung berusaha menjauhkan diriku dari bapak Agil hingga punggungku tersandar pada sekat di belakangku. Tapi rasanya percuma saja, krn gua masih berada dalam bilik ini bersama bapak Agil. Kalau bapak Agil mau, ia bisa dgn mudah berbuat apa saja terhadapku sekarang ini, hingga gua merasa malu bercampur tegang.

“Felina, Mei Ling, yg satunya . oh iya, Viany yg manis . Aah. amoy amoy di sini memang sedap, meskipun jujur saja rasanya memek nya non Eliza ini masih lebih sedap,” bisik bapak Agil di telingaku.

Mereka? Viany yg selalu terlihat ceria ? Bahkan yg Felina kalem juga kena?

orang ini memang benar benar kurang ajar ya! Apa perlunya membandingkan nikmat yg ia peroleh dari lobang memek para korban kebejatannya ? gua sama sekali tak tersanjung dgn pujian cabul bapak Agil tadi, bahkan gua jadi sangat mendongkol.

“Bapak ini memang kurang ajar! Apa salah kita sama bapak Agil?” gua bertanya dgn setengah membentak.

“Hehe. non Eliza ini. masa non nggak tahu?” bapak Agil balik bertanya, ia mendekatiku dgn senyuman mesumnya hingga gua kembali berusaha melangkah mundur, tapi gua baru ingat kalau tubuhku sudah tersandar di dinding sekat bilik ini ketika gua merasakan punggungku tertahan.

“Salah mereka , ya sama seperti salahnya non,” kata bapak Agil sambil menyergapku. “Sudah cantik. pintar ngeseks lagi.”

Sesaat kemudian gua merintih kesakitan krn kedua toket ku yg berada di balik bra serta kostum baletku ini diremasi dgn kasar oleh bapak Agil. selagi gua terus merintih, bapak Agil mulai berusaha untuk memagut bibirku. gua tak bisa berbuat banyak untuk mengelak, ia berhasil memagut bibirku tanpa perlawanan yg berarti dariku. Lidahnya melesak masuk, mempermainkan lidahku, bahkan kemudian bapak Agil menyedot lidahku kuat kuat.

Diperlakukan seperti , perlahan gua melemas serta keinginanku untuk melakukan perlawanan sudah lenyap entah ke mana. yg ada kini gua malah terbakar gairah serta mulai menikmati serangan french kiss bapak Agil. Kedua mataku kupejamkan selagi gua membalas permainan lidah bapak Agil.

gua terus terhanyut dalam pergumulan ini ketika kurasakan tangan bapak Agil meraba raba daerah selangkanganku yg terlindung celana dalam plus kostum baletku. Jantungku berdebar keras, gua mendesis lirih ketika salah satu jari jari tangan bapak Agil menekan kostum baletku. Oh, bagaimana kalau jari benar benar berhasil masuk ke dalam lobang memek ku? Bukankah berarti jari akan merobek stocking yg kukenakan ini?

Saat tiba tiba gua tersadar dari nuansa erotis yg menghanyutkanku ini. Bukan harga mahal dari stocking ini yg kupermasalahkan, tetapi gua pasti akan merasa sangat tidak nyaman kalau nanti gua harus mengikuti latihan balet dgn stocking yg berlubang pada daerah selangkanganku. Belum lagi gua akan repot untuk mencari serta membeli stocking yg baru.

Maka dgn semua sisa tenagaku yg ada, gua langsung mendorong tubuh bapak Agil.

“Hentikan bapak! Atau gua laporin bu Elvira!” gua mengancam bapak Agil di sela nafasku yg masih tersengal sengal.

“Hehehe. padahal non Eliza suka kan?” ejek bapak Agil sambil tertawa mesum, membuatku semakin malu hingga gua terdiam tanpa bisa menjawab.

“Sayangnya bapak juga nggak bisa lama lama menemani non Eliza,” kata bapak Agil lagi.

gua tetap diam, malas menanggapi kata kata yg rasanya amat melecehkanku . berikutnya gua sedikit heran melihat bapak Agil naik ke kursi yg ada di bilik ini. Kursi seperti memang terdapat di setiap bilik yg ada di ruang ganti ini, kita para peserta les balet di sini biasanya menggunakan kursi untuk duduk saat mengenakan ataupun melepas sepatu balet.

“Non Eliza, kalau non mau, non bisa naik ke kursi ini. Di sini, ada lubang kecil yg bisa dipakai untuk melihat ke dalam kamar mandi,” kata bapak Agil yg menunjukkan jarinya ke satu titik pada bagian kiri atas tembok. “Sebentar lagi bapak mau ke sana.”

gua merenggutkan mukaku. Memangnya seleraku ini sudah segitu rendahnya apa, sampai gua harus mengintip orang macam bapak Agil ini di kamar mandi???

“Sekarang ini bu Elvira lagi berada di dalam kamar mandi,” kata bapak Agil.

Kini gua tertegun memikirkan kata kata bapak Agil yg seperti menjawab omelanku di dalam hatiku tadi. Jadi Cie Elvira berada di kamar mandi? Sendirian? Sedang apa Cie Elvira di dalam sana?

Setelah bapak Agil turun serta keluar dari sini, gua cepat merapatkan tirai yg menutup bilikku ini. lalu dgn terdorong oleh rasa penasaran, gua menguatkan hatiku serta naik ke atas kursi ini untuk mencari lubang kecil yg dimaksudkan bapak Agil tadi, lalu gua mencoba mengintip dari situ.

berikutnya apa yg kulihat dari lubang kecil membuatku sangat terkejut.


Cie Elvira

Cie Elvira serta Vera, mereka berdua sama sama telanjang bulat serta saling berciuman!

Lalu, siapa pria yg wajahnya diduduki Vera ? Apakah ini berarti suara kecipak yg samar samar kudengar sekarang ini berasal dari jilatan lidah pria pada bibir memek Vera?

Saat ini Cie Elvira serta Vera sendiri masih saling berpagut bibir dgn panasnya. tiba tiba saja gua merasa tak senang. Namun perhatianku kembali tertuju pada mereka krn gua mendengar suara ketukan yg cukup keras pada pintu kamar mandi.

“Bu Elvira, ini saya,” gua mendengar suara bapak Agil.

Cie Elvira berdiri hingga aksi saling pagut dgn Vera tadi berhenti. bapak Agil langsung masuk ke dalam kamar mandi begitu Cie Elvira membuka pintu . gua sempat melihat Cie Elvira mengunci pintu kembali, ketika gua mendengar Vera menjerit manja.
Ternyata bapak Agil yg tiba tiba sudah berada di dalam kamar mandi sedang menarik Vera hingga berdiri. Ketika pria juga ikut berdiri sehingga gua bisa melihat wajahnya, gua menutup mulutku yg ternganga ini dgn tanganku. Saat ini gua nyaris tak percaya dgn pengelihatanku.

Pria kan. tukang batagor langgananku?

Sempat kulihat bapak Agil memandang ke arahku tempatku mengintip ini, dgn senyumnya yg memuakkan. meskipun rasanya bapak Agil tak bisa melihatku, tapi gua jadi kesal bercampur malu. bapak Agil seperti begitu yakin kalau gua pasti akan mengintip melalui lubang yg baru saja diberitahukan padaku ini.

Tapi rasa penasaranku mengalahkan rasa malu yg melandaku sekarang ini, hingga gua masih terus mengintip untuk mengetahuhi lanjutan dari kegilaan yg akan dilakukan oleh bapak Agil serta penjual batagor terhadap Vera serta Cie Elvira di dalam kamar mandi tempat les baletku ini.

“bapak Agiiil. Vera masih mau sama bapak Bakir.” rengek Vera meskipun kelihatannya Vera sama sekali tidak terlihat keberatan diperlakukan seperti oleh bapak Agil.

“Sudah. sama bapak aja, non Vera. Bapak lagi pengin sama non nih,” jawab bapak Agil dgn suara yg dimesra mesrakan, kulihat bapak Agil kembali menatap ke arah tempatku mengintip ini.

“Iya deh. tapi bapak Agil harus bikin ini Vera enak ya.” kata Vera manja dgn jari tangannya yg menunjuk ke arah selangkangannya.

gua sampai tertegun mendengar kata kata Vera yg terakhir .

Berikutnya Vera mendesah serta merintih ketika tubuhnya dijarah habis oleh bapak Agil. Sedangkan Cie Elvira tak dibiarkan menganggur oleh bapak Bakir yg kini sudah mendekap tubuh guru les baletku dari belakang. sesaat kemudian gua melihat kedua mata Cie Elvira yg indah terbeliak, lalu meredup sayu diiringi rintihan sexy Cie Elvira saat tubuhnya terhentak hentak dalam kekuasaan bapak Bakir.

Vera

“Ayo dong bapak Agil. cepet masukin. Vera udah gatel nih.” rengek Vera.

Rasanya gua hampir tak percaya kalau Vera bisa mengucapkan kata kata sevulgar . gilanya, Vera tak berhenti sampai di situ saja. Sesaat kemudian, kedua tangan Vera merayap turun mencari kontol bapak Agil, berikutnya Vera sendiri yg mengarahkan kontol hingga masuk serta tertelan habis dalam lobang memek nya.

“Ngghh.” sesaat kemudian Vera melenguh manja, bahkan Vera mulai menggerak gerakkan tubuhnya, mencari kenikmatan dari kontol bapak Agil yg sudah bersarang dalam lobang memek nya .

Semua adegan yg kulihat membuat jantungku berdetak tak karuan. Rasanya tubuhku bergetar ketika kurasakan hawa panas menjalari sekujur tubuhku. Ada apa sih dgn hari ini? Mengapa sejak pagi hari tadi gua mengalami begitu banyak kejadian yg membuatku harus terus tersiksa dalam gairah seperti ini?
-x-
VI. Di Balik Keceriaan Viany

Suara pintu kamar ganti yg terbuka membuatku berhenti mengintip. gua segera duduk di kursi kotak ini sambil menenangkan nafasku yg memburu. ketika gua mulai memakai sepatu baletku, rasanya jantungku ini nyaris berhenti ketika tirai yg menutup bilikku ini kembali dibuka. Siapa?

Ternyata yg membuka tirai sekarang ini adalah salah seorang temanku di sekolah balet yg bernama Viany. Sekilas tentang Viany, ia baru saja berulang tahun yg ke 17 di akhir bulan Januari yg lalu. Viany memiliki tinggi badan sekitar lima senti lebih tinggi dariku. Viany memiliki mata yg sipit. Wajah yg memiliki kecantikan khas oriental hampir tidak pernah berhenti tersenyum, membuat Viany selalu tampak ceria serta jenaka. Rambut yg lurus serta halus, hitam panjang sampai ke setengah lengan selalu tertata rapi hingga tambah menambah pesona Viany.

Viany
Penampilan Viany selalu modis. dgn kulitnya yg begitu putih, memang bukan salah Viany kalau ia selalu tampak sexy dgn baju apapun yg melekat di tubuhnya, apalagi kalau Viany mengenakan kostum balet seperti ini. Namun sayangnya, semua karunia mengantarkan Viany menuju nasib yg sangat buruk, yaitu menjadi salah satu budak seks bapak Agil yg bejat .

Viany adalah salah satu teman di sekolah baletku ini yg cukup akrab denganku. Namun tetap saja gua menjadi kikuk ketika Viany membuka tirai bilik kamar ganti ini selagi gua ada di dalamnya.

“Liza?” Viany yg kelihatannya sama terkejutnya denganku menyapaku dgn nada tanya.

“Eh. halo Vian. gua.” dgn sedikit tergagap gua membalas sapaan Viany.

“Aduh. sorry ya Liiz, gua pikir nggak ada orang. Kok tumben sih, masih kurang setengah jam gini kamu udah datang?” tanya Viany.

“Iya Vian, kebetulan tadi ada perlu ke rumah teman. gua takut kena macet, jadi dari sana gua gua langsung ke sini. Nggak tahunya malah kepagian deh,” gua menjawab dgn sedikit berbohong, daripada nanti Viany malah bertanya yg macam macam padaku.

“Hihi. tapi untung deh kamu udah selesai ganti baju,” kata Viany yg lalu duduk manis di sebelahku.

Kali ini gua tak berani menanggapi perkataan Viany. Memangnya apa yg akan dilakukan Viany kalau tadi gua sedang tidak memakai baju ketika tirai bilikku ini dibuka Viany? Wajahku terasa panas, jantungku berdebar keras. Aduh, apakah semua usahaku untuk menekan gairah seks gua sepanjang hari ini akan sia sia gara gara Viany?

“Liz, mereka tuh udah selesai belum?” tanya Viany yg menatapku dgn jari telunjuknya yg diarahkan ke tembok di belakang kita berdua.

Tentunya yg ditunjuk jari Viany tadi adalah mereka yg berada di dalam kamar mandi yg ada di balik tembok di belakang kita berdua ini.

Apakah Viany berpikir kalau gua memang tahu tentang apa yg sedang terjadi dalam kamar mandi sekarang ini? gua memang sudah mendengar tentang rahasia lain di sekolah baletku ini dari bapak Agil, bahkan tentang Viany sendiri yg juga harus menjadi korban kebejatan bapak Agil.

Tapi gua sama sekali tak menyangka kalau Viany bertanya seperti . Apakah berarti Viany juga tahu tentang perbuatan bapak Agil kepadaku serta juga kepada yg lain?

“Mm. maksudmu Vian?” gua balik bertanya dgn hati hati.

“Duh. Liza, nggak ada yg perlu kamu sembunyikan deh. Toh kita udah sama sama tahu kan?” kata Viany sambil memegang pergelangan tanganku dgn lembut.

Sama sama tahu?

Tampaknya dugaanku benar. Tapi senyuman lembut dari Viany ini membuatku salah tingkah. Apalagi ketika Viany tiba tiba menyandarkan kepalanya di atas pundak kiriku. Mana genggaman tangan Viany pada pergelangan tanganku ini tak dilepas lagi.

gua tak tahu pasti mengapa Viany memegang tanganku dgn cara seperti ini. Apa krn Viany menganggapku sebagai teman senasib? Atau krn alasan yg lain? Memikirkan alasan yg lain , tiba tiba gua kembali merasa tegang.

Sekali ini yg kutakutkan adalah kalau sampai gua serta Viany terlibat adegan lesbian, kita berdua pasti akan mengeluarkan suara rintihan ataupun lenguhan. kalau kemudian bapak Agil ataupun bapak Bakir yg berada di kamar mandi mendengar suara kita berdua di sini, baik gua maupun Viany pasti akan mendapat masalah.

“Vian, kamu mau cerita nggak, gimana kamu bisa sampai jatuh ke tangan bapak Agil?” gua bertanya pada Viany untuk mengurangi keteganganku. dgn membuat Viany bercerita, gua berharap bisa mengurangi kemungkinan akan terjadinya hal yg macam macam di antara kita berdua.

Selain gua memang jadi ingin tahu bagaimana ceritanya hingga teman sekolah baletku yg satu ini bisa sampai bernasib buruk seperti diriku.

Viany diam sejenak sebelum mengangkat kepalanya sambil menatap wajahku, lalu ia menundukkan kepalanya serta menghela nafas panjang.

“Eh. sorry Vian,” kataku dgn kuatir setelah melihat reaksi Viany. “Kalau kamu nggak mau cerita ya nggak apa apa, gua nggak maksa kok.”

“Nggak. nggak apa apa kok Liz,” kata Viany dgn senyumnya yg gua tahu sedikit dipaksakan.

sesaat berikutnya dgn suara pelan Viany mulai menceritakan semuanya. Di hari minggu awal bulan ini, kebetulan papa serta mama Viany ada janji untuk bertemu dgn seseorang pada jam setengah lima sore. Viany sendiri tak keberatan untuk diantarkan lebih pagi ke sekolah balet, maka hari Viany sudah menunggu di teras sekolah balet ini sejak jam empat sore.

Itulah awal malapetaka buat Viany di sekolah balet ini. Rupanya sama sepertiku, Viany dijebak bapak Agil untuk masuk ke dalam.

“Waktu gua sadar kalau bapak Agil berniat buruk terhadapku, semua sudah terlambat,” keluh Viany yg lalu kembali menyandarkan kepalanya pada pundakku. “gua sudah berusaha memohon dgn segala cara supaya bajingan nggak memperkosaku. Tapi dia cuma ketawa serta terus nelanjangin gua.”

Kini gua yg menghela nafas panjang. Apa yg telah menimpa Viany ini mirip sekali dgn pengalamanku. gua tahu kalau saat tak ada pilihan lain buat Viany selain menuruti keinginan bapak Agil.

Sama sepertiku waktu , Viany pasti juga mengerti kalau ia mencoba melawan dgn cara menjerit minta tolong, hanya akan mengundang beberapa pedagang asongan serta tukang becak di depan sana, yg mungkin malah dgn senang hati bergabung bersama bapak Agil untuk ikut menggilir Viany.

Tiba tiba gua teringat dgn bapak Bakir, si penjual batagor yg sekarang ini sedang ikut bersenang senang di dalam kamar mandi. Apakah ia juga sudah pernah merasakan nikmatnya tubuh Viany?

“Waktu semua baju luarku udah lepas, tinggal baju dalamku aja,” tiba tiba Viany kembali meneruskan ceritanya. “serta gua berusaha untuk mempertahankan celana dalamku yg lagi ditarik tarik sama bapak Agil sambil terus memohon. Tapi bapak Agil bilang gini, ‘Sudah deh non, kamu nggak usah terus ngelawan! Eliza lho waktu pulangnya sampai nagih lagi ke bapak. masa kamu nggak kepingin?’”

Rasanya sekarang ini gua ingin sekali menampar wajah tukang sapu sialan . Seenaknya saja dia bicara. Apa dia nggak tau kalau kontol Wawan jauh lebih enak? Duh, mengapa malah kontol nya Wawan yg kupikirkan?

“Waktu , sangking kagetnya abis dengerin kata kata bapak Agil, gua sampai lupa menahan celana dalamku, yg terus ditarik bapak Agil sampai lepas. Akhirnya gua nggak bisa apa apa lagi.” suara Viany terdengar semakin lemah serta mulai sedikit serak. “serta bajingan . memperkosaku. Sakit sekali rasanya Liz. virginku hilang gitu aja.”

Kini rasa haru serta iba pada Viany memenuhi hatiku. gua memeluk Viany yg sudah mulai terisak menahan tangis.

“Cuma sama tukang sapu Liz. dia.” ucap Viany seperti berbisik sangking sedihnya, gua amat merasakan nada tak rela dari kata kata Viany tadi.

“Udah Vian. cukup. jangan cerita lagi.” gua berusaha menenangkan Viany, tapi gua sendiri juga sudah tak mampu menahan air mataku yg mulai meleleh melihat Viany yg tampak begitu menderita krn ia masih sulit untuk menerima kenyataan yg memang teramat pahit ini.

“Liz. gua ini udah punya pacar. kalau nanti dia nggak mau lagi sama gua, salah siapa Liz? Salah siapaa.? Kan bukan salahku Liiz.” kini tangis pilu Viany sudah tak terbendung lagi, hingga gua cepat menyembunyikan wajah Viany ke dadaku supaya tak ada yg bisa mendengar suara isak tangis Viany.

“Bukan salahmu Vian. bukan salahmu.” gua berusaha menghibur Viany selagi gua sendiri juga berusaha menahan serta menghentikan tangisku.

Dadaku terasa sesak akibat rasa marah yg amat sangat pada bapak Agil. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Apa sih yg dipikirkan oleh bajingan ? Apa dia tahu akan sampai sejauh mana akibat perbuatan bejat yg dilakukannya terhadap Viany ini?

Lalu bagiamana dgn Cie Elvira? Apakah Cie Elvira tahu akan semua ini?

Kira kira dua atau tiga menit kemudian, Viany mendongakkan wajahnya, ia menatapku dgn kedua matanya yg masih basah.

“Liz. sorry ya gua udah bikin kamu ikut nangis.” kata Viany, kelihatannya ia sudah mulai mampu menguasai diri dari emosi yg sempat melandanya .

“Nggak. nggak apa apa Vian,” gua menjawab sambil tersenyum dgn setulus hatiku.

gua melepaskan Viany dari pelukanku, lalu mengambil sebungkus tissue dari tasku. gua mengambil dua tiga helai, sisanya kuberikan pada Viany.

“Makasih ya Liza. kamu memang baik,” kata Viany yg kini mulai bisa tersenyum, meskipun dgn mata yg masih merah akibat baru saja menangis.

gua hanya tersenyum sambil menyusuti sisa air mataku dgn tissue. Viany juga melakukan hal yg sama, beberapa saat kemudian kita berdua sama sama tenang kembali.

“Liz. gua nggak percaya kok sama omongan bapak Agil soal kamu yg sampai nagih lagi . gua tahu kamu bukan cewek murahan seperti Vera ,” kata Viany pelan.

gua termenung sejenak. gua jadi teringat, waktu gua memang sempat mempermalukan diriku sendiri, bahkan gua sampai menganggukkan kepalaku ketika bapak Agil bertanya apakah gua juga mau dimandikan oleh bapak Agil. Tapi hanya sampai sebatas . gua tak sampai minta minta untuk disetubuhi bapak Agil seperti yg tadi telah dilakukan Vera di kamar mandi .

“Makasih ya Vian,” gua menundukkan kepalaku sambil tersenyum.

Kini Viany kembali menyandarkan kepalanya pada pundakku. Kelihatannya sikap Viany yg suka bermanja manja ini memang sudah pembawaannya, tanpa ada maksud lain. gua jadi malu sendiri mengingat tadi gua sudah mengira Viany yg tidak tidak.

“Liz. nanti malam kamu disuruh nunggu nggak?” tiba tiba Viany bertanya padaku.

“Nunggu? Enggak tuh. Menunggu siapa Liz?” gua balik bertanya pada Viany.

Viany mendongakkan kepalanya. Kini Viany duduk tegak sambil menatapku dgn heran.

“Masa kamu nggak pernah disuruh bapak Agil untuk tinggal dulu setelah pulang, . terus.” Viany tak meneruskan pertanyaannya, wajahnya yg cantik jelita merona merah.

gua mulai mengerti maksud Viany. Berarti, entah sudah berapa kali Viany disuruh bapak Agil untuk tinggal setelah jam pulang sekolah balet, nantinya setelah tempat ini sepi, bapak Agil akan memaksa Viany untuk melayani nafsu bejatnya terlebih dahulu sebelum memperbolehkan Viany pulang.

Kini gua yg jadi merasa tak enak pada Viany. Tapi gua merasa lebih tak enak lagi kalau gua berbohong pada Viany, maka gua memilih untuk mengatakan apa adanya.

“Vian,” gua mulai menjelaskan pada Viany. “Selama ini gua nggak pernah disuruh tinggal dulu sepulang les balet. Terus terang aja Vian, gua pikir gua ini adalah korban terakhirnya bapak Agil, soalnya sejak bapak Agil nggak pernah menggangguku lagi. Tapi tadi ini, dia sempat menakutiku”

“Oh.?” kata Viany yg terlihat tak begitu percaya padaku.

“Iya Vian,” gua melanjutkan ceritaku. “Tadi gua kan datangnya kepagian, tapi gua ngeliat mobil Cie Elvira udah ada, jadi gua masuk ke dalam untuk mencari Cie Elvira. Waktu itulah bapak Agil sempat menggangguku sebentar, yaa. sekedar main cium serta raba gitu sih. Waktu dia sempat cerita tentang kamu, juga Felina serta Mei Ling. Dia juga ngasih tau soal lubang di dinding atas sini. gua sempat ngintip sebentar, gua nggak pernah menyangka, bapak penjual batagor di depan ternyata.”

“bapak Bakir? Nggak usah heran deh Liz. Memang Vera udah langganan sama dia,” Viany menimpali ceritaku tadi dgn nada sinis.

“Langganan?” tanyaku ragu.

“Iya Liz,” jawab Viany. “Minggu lalu waktu gua nggak boleh pulang dulu, kan malamnya gua harus ngelayani bapak Bakir. dia cerita kalau hampir tiap minggu dapat jatah dari Vera. Kalau melihat tingkah si Vera sih, gua percaya deh sama cerita bapak Bakir .”

“Terus, kamu udah berapa kali nggak dibolehin pulang dulu oleh bapak Agil, Vian?” tiba tiba gua jadi ingin tahu serta menanyakan hal pada Viany.

“Sejak , gua baru dipaksa tinggal satu kali, tepatnya satu minggu lalu. Tapi waktu gua nggak sendirian Liz. Felina, Mei Ling serta Siska juga dipaksa untuk tinggal dulu,” jawab Viany.

Siska? Ya ampun, apa masih ada lagi di antara teman kelas baletku ini yg juga menjadi korban bapak Agil?
-x-
VII. Rahasia Lain Di Sekolah Baletku

Tapi gua jadi berpikir, mengapa bapak Agil begitu nekat memaksa Viany, Mei Ling, Felina serta Siska untuk tinggal? Mana mungkin bandot kuat ngeseks dgn mereka semua? Apalagi gua masih ingat dgn jelas kejadian waktu , baru gua serta Cie Elvira yg cuma berdua saja, sudah berhasil membuatnya terkapar serta minta minta ampun.

“Vian, mmm. masa bapak Agil . katakanlah ditambah bapak Bakir, apa mereka berdua kuat ngadepin kalian berempat?” tanyaku pada Viany meskipun sebenarnya gua merasa malu menanyakan hal seperti ini krn gua jadi terlihat tahu akan batas kemampuan bapak Agil dalam hal ngeseks.

“Oh, kamu nggak tau ya Liz? Kamu pernah liat kan, ada seorang pengemis yg pergelangan tangan kanannya buntung, yg suka lewat di depan sini? Kalau di sini udah pulang semua, pengemis ikut sama tukang parkir, masuk ke dalam sini.” jawab Viany serta kata katanya membuatku benar benar terkejut.

“Ya ampun? Pengemis ? Vian. kamu. kamu udah pernah digituin sama dia?” gua bertanya dgn perasaan ngeri.

“gua sih belum pernah digituin sama pengemis Liz, tapi yg lain sudah. Kalau nggak salah, minggu lalu giliran Mei Ling yg harus main sama pengemis . Kalau gua waktu dipaksa main dua kali. yg pertama sama bapak Bakir, abis ganti tukang parkir yg nggituin gua,” jawab Viany.

“Aduh Vian, kenapa tukang parkir juga? Jangan jangan tukang becak di dekat sini .?” gua bertanya dgn tegang. Mengapa sekolah baletku yg dulu aman aman saja, kini bisa mendatangkan mimpi yg begitu buruk bagi murid murid sekolah balet ini?

“Selama ini, tukang becak nggak pernah ikut. Kalau tukang parkir sih iya. Orang namanya Rizal. Dia yg paling brengsek Liz. Sejak dia tahu kalau dia bisa gituin gua, dia malah narik lima puluh ribu dari gua buat uang parkir,” kata Viany dgn kesal.

“Hah? Sampai segitu Vian?” gua amat terkejut serta kini gua jadi ikut kesal. Lima puluh ribu hanya untuk parkir? kan pemerasan?

“Iya. gua sempat tanya sama Felina, ternyata Felina sendiri sudah ditarik segitu sejak bapak Rizal bisa nggituin Felina. gua yakin Mei Ling serta Siska juga diperas seperti gua serta Felina oleh tukang parkir sialan ,” jawab Viany.

Sama sepertiku, Viany juga sempat menghela nafas panjang, lalu Viany melanjutkan ceritanya.

“bapak Bakir sih masih. mendingan Liz. Malam dia malah bilang kalau gua boleh ambil batagornya berapapun yg gua suka, gratis. Tapi nggak deh. gua nggak tau dgn Felina, Mei Ling atau Siska, tapi kayaknya gua sudah nggak mungkin deh mau nyamperin rombong batagor bapak Bakir lagi,” kata Viany yg kini memainkan rambutnya yg indah dgn jemari tangannya.

Dalam hatiku gua berpikir, ya tentu saja! Kalau gua jadi Viany, gua juga nggak akan perduli dgn tawaran batagor gratis .yg benar saja, memangnya gua ini cewek macam apa sampai mau menukar tubuhku dgn batagor?

Setelah mendengar cerita Viany, gua berpikir sebaiknya mulai sekarang gua pun juga harus berada jauh jauh dari rombong batagor bapak Bakir. Tapi ada satu hal yg sejak tadi membuatku penasaran serta ingin kutanyakan pada Viany.

“Vian, mmm. Cie Elvira?” tanyaku dgn hati hati.

“Iya Liz, gua udah tau kok tentang Cie Elvira dgn bapak Agil,” jawab Viany. “Tapi rasanya Cie Elvira nggak tahu tentang nasib kita berempat ini. Maksudku, Felina, Mei Ling, Siska serta gua. Kalau Vera sih, kata bapak Agil udah lama sebelum Cie Elvira, mmm.”

Viany tak meneruskan kata katanya, kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Oh iya, gua jadi ingat Liz. Vera ngaco deh. Minggu lalu , dia lho udah pulang. Tapi nggak tau kenapa, selagi si Vera balik lagi ke sini,” kata Viany yg kini kembali terlihat kesal. “Jadinya Vera kan ngeliat gua serta yg lainnya sedang digituin sama orang orang . kamu tau nggak? Dia bukannya nolongin, tapi malah nelepon sopirnya serta disuruh masuk.”

“Hah? Dia.?” gua bertanya sambil menggigit bibir.

“Iya. Memangnya dia pikir waktu di dalam sini lagi ada pesta seks apa?” Viany mengomel dgn sedikit berapi api. “Jadinya bagi dia sih memang pesta seks, tapi bagi gua serta yg lain ya menyebalkan sekali. Gara gara Vera, jadinya tambah lagi satu bajingan yg bisa maksain nafsunya ke kita kita. Tanya aja sama Siska yg waktu terpaksa harus gituan sama sopirnya Vera . Huh, kalau ingat rasanya gua masih ingin menampar tuh anak Liz!”

“Ssst. Vian!” gua cepat berbisik serta menempelkan jari telunjukku ke bibirku yg kukatupkan.

Viany langsung menutup mulut dgn menggunakan tangan kirinya, kedua matanya menatapku dgn terbelalak. Jadinya Viany malah terlihat begitu lucu. gua sampai tersenyum serta harus menggigit bibirku untuk menahan diriku agar tak sampai tertawa geli melihat tingkah Viany ini.

Tiba tiba gua mendengar suara pintu kamar ganti kita terbuka. gua memandang Viany dgn tegang. Masa tadi suara kita berdua sampai terdengar ke kamar mandi di sebelah?

Viany sendiri juga terlihat tegang. gua diam sejenak, namun gua segera sadar bahwa tak ada gunanya gua bersembunyi di sini. Selain gua merasa keadaan akan jadi lebih parah kalau siapapun orang yg datang sempat melihatku di dalam sini berduaan dgn Viany.
Maka gua memberi isyarat pada Viany supaya tetap di sini, sedangkan gua sendiri segera keluar dari bilik ini. Sesaat kemudian gua tertegun sekaligus lega krn yg ada di depan pintu sekarang ini ternyata Cie Elvira.

“Liza?” Cie Elvira menyapaku serta gua merasa ia terlihat seperti gugup.

“Halo Cie Vira,” gua balas menyapa Cie Elvira sambil tersenyum, sebuah senyuman lega.

gua sempat memperhatikan keadaan Cie Elvira yg udah mengenakan kostum baletnya . Keringat masih sedikit membasahi leher serta juga wajahnya, hingga ada sebagian rambut yg menempel pada kening serta kedua pipi Cie Elvira. Namun bagiku semua tak mengurangi kecantikan Cie Elvira.

“Kapan kamu datang Liza?” tanya Cie Elvira.

gua melihat jam tanganku, sekarang masih jam lima kurang seperempat.

“Baru aja Cie,” gua memilih berbohong. “Nggak sampai lima menit.”

Cie Elvira tersenyum tipis, lalu ia merapikan rambutnya yg sedikit awut awutan di hadapan cermin. gua sendiri juga ikut merapikan serta mengikat rambutku seperti Cie Elvira.

“Liza, nanti kamu langsung pulang ya,” kata Cie Elvira selagi membenarkan kuncir rambutnya.

“Iya Cie,” jawabku singkat sambil memasang senyumku.

Setelah Cie Elvira keluar dari ruang ganti ini. gua menarik nafas lega, lalu gua kembali ke Viany yg masih berada di dalam bilik tadi. melihat ulah Viany, gua tersenyum geli serta menahan tawaku.

Kalau saja gua tidak takut akan kemungkinan terburuk yg bisa terjadi, tentu gua akan sengaja mengagetkan Viany yg saat ini malah sibuk mengintip kamar mandi lewat lubang di atas . Tapi gua tak mau melakukannya, krn gua tahu akibatnya pasti akan sangat tidak lucu buat gua serta Viany.

Maka gua hanya duduk di sebelah Viany yg segera sadar kalau gua sudah kembali, ia langsung duduk di sebelahku.

“Liz, kamu tau nggak?” bisik Viany sambil menggelengkan kepalanya. “Tadi gua liat Vera baru aja selesai main sama bapak Agil. Abis Vera masih sempat sempatnya ngisepin burungnya bapak Agil serta bapak Bakir. Bener bener deh tuh anak!”

“Ha? Memangnya mereka masih mau terus?” tanyaku dgn heran. “Bukannya sebentar lagi udah banyak orang?”

“Harusnya sih enggak Liz,” jawab Viany. “Tadi waktu kamu udah balik ke sini, gua liat bapak Agil serta bapak Bakir sudah siap siap keluar dari jendela kamar mandi.”

gua serta Viany berhenti berbisik bisik ketika pintu kamar ganti ini kembali terbuka. Sekali ini teman teman kita yg masuk, kelihatannya mereka sudah mulai banyak yg datang, mungkin empat atau lima orang. seperti biasa, ruang ganti ini langsung menjadi gaduh dgn celoteh teman temanku .

“Halo Vian. Eh. halo juga Eliza. Ih, sejak kapan kalian berdua ini mesra amat seperti ini?” Felina yg tiba tiba sudah berada di hadapanku serta Viany ini menyapa sekaligus menggoda kita berdua.

“Halo Felina,” gua balas menyapa Felina sambil tersenyum malu.

“Memangnya kenapa Fel? Iri ya?” Viany balik menggoda Felina.

“Sedikit sih,” jawab Felina dgn kalemnya, berikutnya kita bertiga tertawa geli.

“gua ganti baju di sini ya,” tiba tiba Felina berkata sambil menutupkan tirai di bilik ini, belum sempat gua serta Viany menjawab, Felina sudah melepas semua pakaiannya di hadapan kita berdua ini begitu saja.

Felina serta gua sama sama menginjak usia yg ke 17 di akhir tahun lalu, ulang tahun kita terpaut hanya dua hari saja. Saat ini gua tak bisa mengalihkan pandangan mataku dari Felina yg dgn cueknya berganti baju di hadapanku serta Viany, Felina sama sekali tak terlihat canggung.

Felina

Felina memiliki pembawaan yg kalem. sama seperti Viany, Felina ini memiliki kulit yg begitu putih. Ia memiliki rambut yg panjang sampai ke siku tangannya. Rambut berwarna hitam dgn sedikit highlight, membuat Felina tampak semakin cantik jelita. Kedua toket Felina yg tertutup bra berwarna putih susu mungkin lebih besar sedikit dari milikku ini.

Ketika gua mulai mengira ngira tentang merk dari bra yg dikenakan Felina, gua baru sadar kalau gua terlalu memperhatikan Felina. Maka gua terpaksa mengalihkan pandanganku kepada Viany dgn wajah yg terasa panas. Viany sendiri hanya tersenyum manis padaku, ia malah menyandarkan kepalanya pada pundakku.

“Vian. nanti malam gua disuruh nungguin dulu. Kalau kamu?” tanya Felina pada Viany dgn suara pelan.

“gua disuruh minggu depan, Fel. Nanti malam sih nggak,” jawab Viany yg lalu balik bertanya pada Felina dgn suara yg sama pelannya, “Kamu sendiri, minggu depan gimana?”

“Nggak tau deh Vian,” jawab Felina dgn nada pasrah. “gua mesti liat nanti, maunya si Agil gimana. Kalau nanti gua disuruh ikut lagi untuk minggu depan, ya mau gimana lagi.?”

gua mendengar semua , gua merasa heran.

“Eh, kalian ini kok mau nurutin orang begitu aja?” gua bertanya ingin tahu. “Memangnya dia bisa apa kalau kalian nggak perduli serta pulang aja?”

“Yah, kamu nggak tau ya Liz?” keluh Viany. “Bajingan , pertama kali abis gituin gua, pulangnya dia maksain gua menulis kata kata ‘MILIK VIANY – UNTUK AGIL’ pakai spidol hitam di bagian belakang celana dalamku , sekalian dgn tanda tanganku juga. Terus, celana dalamku disimpan sama bapak Agil.”

“Nggak cuma punya Viany saja, celana dalamku juga dia rampas Liz,” timpal Felina selagi Viany menghela nafas. “serta gua juga disuruh menulis namaku di sana seperti Viany.”

“yg bikin gua nggak bisa apa apa Liz, bapak Agil sudah mencatat alamat rumahku. Kalau gua nggak nurutin kemauannya, gua takut celana dalamku.” Viany tak meneruskan kata katanya.

gua sudah mengerti lanjutan cerita Viany, yaitu celana dalam diantar ke rumah. Tubuhku jadi sedikit menggigil mendengar cerita mereka ini. Ngeri rasanya membayangkan kalau gua harus tunduk pada bapak Agil krn celana dalamku dijadikan sebagai sandera. gua jadi teringat bagaimana dulu bapak Agil mengancamku untuk tinggal di kamar ganti ini sepulang les balet setelah merampas celana dalamku.

Diam diam gua merasa lega, krn gua bisa meminta kembali celana dalamku yg sempat dirampas bapak Agil. Kalau tidak, sejak saat gua pasti sudah mengalami nasib yg sama dgn teman temanku ini. Tapi tentu saja gua berusaha menyembunyikan perasaanku yg terakhir ini dari mereka berdua.

“Udah dulu ah,” tiba tiba Viany berdiri. “Kalau kita terus cerita cerita di dalam sini, nanti malah nggak jadi balet deh. Yuk, udah waktunya ke ruang latihan nih!”

Maka kita bertiga merapikan letak tas serta sepatu milik kita masing masing sebelum keluar dari bilik ini. Entah dgn mereka berdua, yg jelas semua cerita Viany serta Felina terus terbayang dalam pikiranku, membuat perasaanku sekarang ini menjadi sedikit kacau.
-x-
VIII
Nuansa Erotis Di Perjalanan Pulang

Latihan balet hari ini berjalan seperti biasa. hari ini tidak ada gerakan baru, kita hanya disuruh menyempurnakan gerakan terakhir yg kita pelajari dari Cie Elvira. dgn diselingi istirahat beberapa kali, tanpa terasa gua serta sebelas teman les baletku yg lain ini sudah berlatih selama satu jam hingga tiba saatnya bagi kita semua untuk pulang.

Tapi mungkin tidak bagi Felina. gua kembali teringat tentang rahasia lain di sekolah baletku ini. gua tak menyangka, hanya dgn merampas celana dalam Viany, Felina, Mei Ling serta Siska, bapak Agil dgn otak cabulnya mampu menciptakan mimpi buruk yg mengerikan hingga keempat temanku tak bisa berbuat apa apa selain menuruti semua keinginan bapak Agil.

Kenyataan bahwa penjual batagor di depan yg entah sejak kapan juga ikut ikutan menikmati tubuh teman temanku, apalagi ditambah dgn cerita Viany tentang tukang parkir yg tak tahu diri serta juga pengemis yg bertangan buntung tadi, semua sudah lebih dari cukup untuk membuatku takut berlama lama di sekolah baletku ini.

Selain , gua memang harus segera pulang untuk membantu Cie Natalia dalam urusan servis piano di rumah nanti.

Maka ketika gua berada di ruang ganti, gua tidak berganti baju, hanya mengganti sepatu baletku dgn sepatu biasa. gua bermaksud langsung pulang, tidak seperti sore tadi, gua tak perlu risih meskipun mengendarai mobil dgn mengenakan kostum balet, krn toh tak akan ada yg bisa melihat jelas ke dalam mobilku dalam gelapnya malam.

“Vian, Felina, gua pulang dulu ya,” gua berpamitan pada kedua temanku ini.

“Iya Liz,” kata Viany sambil tersenyum manis, sementara Felina hanya menganggukkan kepalanya meskipun ia juga tersenyum padaku.

gua segera keluar menuju mobilku. Saat membayar uang parkir, gua membuka kaca jendela mobilku seperti biasa serta menyerahkan selembar uang seribuan, lalu gua memasang wajah tersenyum ketika bapak Rizal mengucap terima kasih sebelum gua melajukan mobilku. Memang gua berusaha bersikap sewajarnya di hadapan bapak Rizal, meskipun gua sudah tahu tentang perbuatan bejatnya pada Viany serta yg lainnya, supaya tukang parkir tidak curiga yg macam macam padaku.

Tiba tiba gua teringat kalau tadi Cie Elvira menyuruhku untuk langsung pulang. berarti malam ini Cie Elvira akan pulang telat.

gua mengerti bahwa setiap kali Cie Elvira pulang telat seperti ini, berarti Cie Elvira baru bertengkar dgn mama mertuanya . masalahnya adalah selalu sama, yaitu tentang kapan Cie Elvira akan mempunyai anak. Setiap kali hal terjadi, Cie Elvira selalu melampiaskan kekesalannya, dgn cara yg gua tahu sebenarnya juga menyakiti dirinya sendiri .

Tapi kalau Felina juga disuruh bapak Agil untuk tinggal dulu, bukankah berarti Felina akan bertemu dgn Cie Elvira? Kalau benar seperti apa yg dikatakan Viany bahwa Cie Elvira tak tahu apa apa tentang mereka, apa yg akan dilakukan Cie Elvira kalau melihat Felina nanti? Apakah Cie Elvira mau serta bisa menyelamatkan Felina?

Sadar kalau gua masih menyetir mobil, gua memutuskan untuk lebih memperhatikan jalan raya yg hari ini bisa dibilang cukup lancar.

Hampir sepuluh menit berlalu saat gua terhenti di sebuah traffic light. Sekitar satu menit kemudian, lampu merah sudah berubah menjadi lampu hijau. gua baru mulai melajukan mobilku ketika dering ringtone ponselku sedikit mengejutkanku.

Tak ingin mendapat marah dari pengemudi mobil di belakangku seperti kemarin, gua memilih untuk menepikan mobilku.

“Hai Liz,” kudengar suara Viany yg riang dari ponselku.

“Hai Vian, kamu udah pulang?” gua balas menyapa sekaligus bertanya pada Viany.

“Udah Liz. Tadi gua cuma sebentar menemani Felina, soalnya dia suruh gua cepetan pulang. gua pikir memang sebaiknya begitu sih. Tapi abis bayar parkir, gua pura pura pulang, padahal gua muterin sekolah balet, terus ini gua berhenti di seberang sini, agak jauh,” kata Viany.

“Terus, gimana Vian?” gua bertanya ingin tahu.

Sebetulnya tadi gua jadi sedikit heran, tapi sesaat berikutnya gua merasa bisa mengira apa maunya Viany. rasanya dgn bertanya seperti tadi, gua pikir Viany akan merasa tidak canggung lagi untuk terus bercerita padaku.

memang Viany langsung melanjutkan ceritanya. Setelah Viany sempat menunggu sekitar lima menit, ternyata bukan Cie Elvira yg pukang, melainkan Felina. Seperti dugaanku tadi, malam ini Cie Elvira memang pulang telat. bukan hanya Cie Elvira saja, Vera juga ikut ikutan pulang telat.

“Felina nggak jadi nunggu bapak Agil, soalnya Cie Elvira pulang telat Liz. gua pernah diceritain Mei Ling, kalau Cie Elvira pulang telat, Mei Ling bisa langsung pulang, soalnya bapak Agil nggak berani berbuat macam macam kalau ada Cie Elvira,” kata Viany.

“Ow,” gua baru mengerti ternyata bapak Agil kucing kucingan dgn Cie Elvira, hanya berani menyusahkan teman temanku kalau Cie Elvira pulang cepat.

“Nah, tukang parkir sialan udah masuk. Liz, udahan dulu ya,” Viany berpamitan padaku. “Tadi gua juga nunggu dia masuk, soalnya gua takut dia bisa ngenalin mobilku, terus minggu depan dia tanya tanya sama gua yg nggak nggak lagi.”

“Oh iya deh. Hati hati di jalan ya Vian,” kataku menutup pembicaraan kita ini.

“Iya. Kamu juga ya Liz. Daaah.” kata Viany dgn nada yg ceria seperti biasanya.

gua tersenyum geli mendengar suara temanku ini. Entah siapa yg lebih ceria antara Viany serta Jenny, tapi yg pasti bagiku sikap mereka berdua sama sama jenaka. gua sudah hampir menekan tombol end call di ponselku ketika gua mendengar suara Viany yg memanggil manggil.

“Iyaa. ada apa Vian?” gua bertanya sambil menahan geli krn suara Viany yg panik terdengar lucu sekali.

“Liz. . gua ngeliat pengemis ! yg tangannya buntung ! gua nggak berani jalanin mobil dulu Liz,” kata Viany.

“Hah? Vian, kamu cepetan kunci pintu mobilmu dulu! Terus dia di mana? Kamu nggak apa apa kan Vian?” kini ganti gua yg panik.

“Tenang deh Liz, enggak apa apa kok. Pintu mobilku sih sudah terkunci dari tadi Liz. . orang jauh kok dari sini, dia ada di depan sekolah balet. Duh. makasih ya Liz, kamu memang baik deh, masih sempat sempatnya mikirin gua,” kata Viany dgn nada manja.

“Yee. gua kan ngeri kalau mbayangin kamu diapa apain sama pengemis Vian,” gua memprotes.

“Iyaa. Makanya , berarti kamu care sama gua kan?” Viany terus menggodaku.

“gua. duh iya deh. Terus, orang ngapain Vian?” gua tak tahu harus berkata apa, tapi gua pikir sebaiknya gua mengalihkan pembicaraan kita kembali ke pengemis yg bertangan buntung sebelum Viany kembali menggodaku.

“Pengemis ? Tuh, dia masih pura pura minta minta di depan sekolah balet. Bentar lagi pasti dia pergi lewat sebelah kiri, . oh iya. gua belum bilangin kamu ya Liz. Selain bapak Agil, teman temannya yg lain masuk ke dalam sekolah balet lewat jendela di kamar mandi Liz,” jawab Viany.

“Aduh.” gua hanya bisa mengguman sambil berpikir, mungkinkah semua ini dimulai saat mereka mendengar lenguhan Cie Elvira yg sedang digagahi oleh bapak Agil di dalam kamar mandi? Atau jangan jangan bapak Agil sendiri yg memang merencanakan semua? serta sejak kapan Cie Elvira harus merelakan tubuhnya dinikmati oleh para lelaki bejat ?

Membayangkan bagaimana Cie Elvira harus rela melayani pengemis buntung yg berwajah tak karuan , tiba tiba gairah seks gua bergolak serta jantungku berdegup kencang. Apa yg kira kira dirasakan Cie Elvira saat pengemis buntung menjarah tubuhnya? Bagaimana ya rasanya saat bagian yg buntung dari tangan pengemis menyentuh tubuhku?

Tubuhku?

Mengapa jadi tubuhku?

gua memejamkan mataku, tapi tangan buntung tak juga berhenti, malahan mulai menyentuh serta meraba raba beberapa bagian tubuhku yg lain. Getaran halus mulai menjalari tubuhku saat ujung tangan yg buntung terus menyusuri seluruh kulit tubuhku.

“Liz.? Lizaa.?” tiba tiba suara Viany yg memanggil manggil gua dari ponselku membuyarkan lamunan erotisku ini.

“I. iya Vian.?” gua cepat menjawab panggilan Viany.

“Iih. kamu ini. Ngelamun siapa sih kok gua dicuekin dari tadi? gua pamit pulang Liiiiz.” Viany mengomel sambil pamit pulang lagi padaku.

“Duh. sorry ya Vian. iya deh, hati hati di jalan ya,” kataku sambil berharap Viany segera menutup telepon ini sebelum gua mulai melantur.

“Iya. kamu juga ya Liz. Daah.” kata Viany serta sekali ini pembicaraan kita lewat telepon ini benar benar berakhir.

Perlahan gua memejamkan mataku kembali, gua melihat ujung tangan buntung ternyata masih berada di sini, menggerayangi tubuhku dgn nakalnya. Tubuhku mulai menggigil diterpa rasa ngeri yg bercampur gairah ketika gua merasakan tekanan dari ujung tangan buntung pada salah satu puting toket ku, sementara remasan lembut pada toket ku yg satunya lagi ini membuatku tambah tak berdaya serta menyerah terhadap semua rangsangan yg mendera tubuhku ini.

Tapi selagi gua menikmati semua , kerasnya suara deru mesin mobil yg lewat sedikit mengejutkanku. Ditambah dgn sekelebat sinar lampu yg sempat menerpa wajahku ini, membuatku perlahan membuka mataku. Sekarang tangan buntung menghilang, kini yg nampak di mataku adalah kedua tanganku yg dgn nakalnya menggoda kedua toket ku sendiri.

“Mmmh.” gua merintih kecewa serta menurunkan kedua tanganku ini.

gairah seks gua masih begini tinggi, namun gua tak tahu harus berbuat apa. gua berusaha mengatur nafasku yg tak beraturan, namun rasanya semuanya menjadi semakin sulit ketika entah kenapa gua jadi teringat akan Cie Elvira.

Akibatnya saat ini pikiranku malah dipenuhi dgn bayangan tentang berbagai kemungkinan adegan seks yg saat ini terjadi antara Cie Elvira serta para pejantan . Namun gua tak berani memejamkan mataku, krn gua tahu bayangan tangan yg buntung akan datang kembali untuk menyeretku dalam lamunan erotis seperti tadi.

Semua membuat gua menjadi bingung, krn gua tak tahu apa yg harus kuperbuat selagi gua terus diamuk gairah seks gua yg semakin menjadi ini.

Oh, kalau saja saat ini ada Wawan di sampingku, ia tak mungkin tega membiarkan nona majikannya menderita seperti sekarang ini. kontol nya yg amat keras pasti sudah menusuk serta mengaduk habis lobang memek ku ini, untuk membuatku tenggelam dalam lautan orgasme.

“Ngghh.” gua melenguh lemah ketika gua merasakan tekanan beberapa jari tangan pada bibir memek ku yg masih terlindung celana dalam serta juga kostum baletku ini.

Ketika gua menundukkan kepalaku untuk melihat apa yg terjadi, gua hanya bisa pasrah melihat jari jari tanganku yg terus menari serta menekan selangkanganku.

Perlahan rasa panas mulai menjalari seluruh tubuhku. Berikutnya gua harus memejamkan mataku serta mendongakkan kepalaku hingga tersandar di sandaran kepala jok mobilku saat gua harus menahan nikmat. Sebuah jari tanganku berhasil menusuk selangkanganku hingga sedikit tenggelam dalam lobang memek ku bersama celana dalam serta kostum baletku.

“Waan. mmmhh.” gua menggeliat lemah serta merintih.

Nafasku mulai memburu, tubuhku terus bergetar serta sesekali menggeliat ketika gua merasakan sebuah jariku yg lain juga ikut melesak masuk menemani jariku yg satunya. Tak ada yg bisa kulakukan untuk menghentikan kenakalan kedua jari tanganku . Saat ini, tubuhku ini seperti bukan milikku lagi, bahkan gua hanya bisa memandang heran saat tanganku yg satunya bergerak sendiri, meraih ponselku yg tergeletak di jok kiri depan mobilku ini, entah apa yg sedang diperbuat oleh tanganku ini.

“Halo.?” tiba tiba gua mendengar suara yg cukup kukenal.

“Halo.?” suara kembali memanggilku, berikutnya gua sadar kalau adalah suara Sulikah, pembantu di rumahku.

Hah? gua melihat ponselku, gua kembali terkejut. Mengapa gua menelepon rumahku sendiri selagi gua dalam keadaan terbakar gairah seperti ini?

gua diam tak berani menjawab, bahkan gua menahan nafasku krn rasa nikmat pada lobang memek ku yg masih sedikit tertusuk oleh kedua jari tanganku ini membuatku ingin melenguh.

tiba tiba wajahku terasa panas. Apakah tadi gua sudah sebegitu inginnya untuk ngeseks, hingga di luar kesadaranku gua sampai menelepon rumah serta mencari Wawan? Memang selama ini Wawan adalah pejantanku yg paling mampu membuatku menjerit keenakan sewaktu gua harus ngeseks. gua tahu kalau sekarang ini Wawan benar benar berada di sini, mungkin gua sudah memohonnya untuk menggagahiku, menyetubuhiku sampai gua orgasme sejadi jadinya.

Duh, mengapa gua sampai jadi seperti ini?

Lalu, bagaimana dgn ponselku ini? Kumatikan, atau kujawab? Tapi kalau kujawab, apa yg harus kukatakan atau kutanyakan pada Sulikah?

Setelah sempat meragu beberapa saat, akhirnya gua menggerakan jari tanganku, memilih untuk menekan tombol end call di ponselku. gua menarik nafas panjang, perlahan kesadaranku mulai pulih, akhirnya gua berhasil juga menghentikan kenakalan jari tangan dari tanganku yg satunya ini.

gua masih mengatur nafasku yg tak karuan ini sambil berusaha untuk menekan gairah seks gua, saat gua hampir menjerit kaget krn ponsel yg masih kupegang ini berbunyi serta bergetar. Dari nadanya sih adalah sms masuk, gua cepat cepat membacanya.

‘Eliza, Cie Cie berangkat sekarang. Kamu udah pulang kan? Cie Cie udah taruh amplop untuk ongkos servis di atas piano, tolong ya sayang. Sorry ya jadi ngerepotin kamu, thanks ^^’.

gua cepat membalas sms , mengabarkan pada Cie Natalia kalau gua memang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Mungkin gua akan terlambat sedikit, tapi gua tak memberitahu Cie Natalia tentang kemungkinan ini, supaya ia tidak merasa kuatir, toh tukang servis piano sendiri juga belum tentu tepat waktu.

Lalu gua segera melajukan mobilku. Radio di mobil ini kunyalakan dgn harapan bisa membantuku untuk mengalihkan pikiranku dari semua bayangan yg menyiksaku sejak mendengarkan semua cerita Viany tadi. Pasti akan tidak lucu kalau gua harus menyetir pulang ke rumah Cie Natalia dalam keadaan terbakar gairah.
-x-
VIII
Tukang Servis Piano Buta

Harapan tinggal harapan, entah kenapa gua tak berhasil mengalihkan pikiranku dari bayangan tangan buntung . Hal sungguh amat menyiksaku, terutama setiap kali gua harus menghentikan mobilku kalau lampu merah pada traffic light menyala. Di saat seperti , gua bahkan beberapa kali menggigit bibir sambil memejamkan mataku, menikmati kenakalan ujung tangan buntung yg terus merayapi seluruh tubuhku serta sesekali bahkan menggoda bibir memek ku.

Tapi lamunan erotis tak bisa kunikmati sepenuhnya, krn gua kuatir kalau kalau nyala lampu merah pada traffic light sudah berganti lampu hijau. gua tak ingin kendaraan di belakangku sampai membunyikan klakson kalau kalau gua tidak segera menjalankan mobilku. Tampaknya hal masih cukup untuk mencegahku terseret lebih jauh dalam lamunanku ini.

Akhirnya gua sampai di depan rumah Cie Natalia dgn selamat, meskipun di sepanjang perjalanan pulang ini gua harus menyetir dalam keadaan terbakar gairah. Kebetulan gua melihat seorang bapak yg baru saja masuk dari pintu gerbang rumah Cie Natalia. mbak Lastri yg melihat kedatanganku, langsung melebarkan pintu gerbang yg sudah terbuka sedikit .

Maka gua terus melajukan mobilku ke dalam garasi serta sempat melewati bapak . Sekilas gua melihat ia mengenakan baju batik serta celana panjang berwarna coklat. Ia juga membawa sebuah tas berwarna putih yg tergantung di pundak kanannya. Tas terlihat sudah agak lusuh serta kumal.

gua sudah cukup yakin kalau bapak itulah yg akan memperbaiki piano Cie Natalia, gua merasa lega krn ini berarti gua belum terlambat pulang. Tapi ketika gua sudah memarkir mobilku di dalam garasi ini dgn rapi, bayangan tangan buntung sempat kembali melayang layang dalam pikiranku.

Hal membuatku menggigit bibirku, perlahan kedua mataku meredup, sementara nafasku kembali memburu. Tanpa kusuruh, jari tanganku ini bergerak sendiri meraba bibir memek ku yg masih terlindung celana dalam serta kostum baletku ini. Oh, bagaimana ya rasanya kalau ujung tangan buntung benar benar menusuk masuk ke dalam sini?

Tapi gua sadar kalau sebentar lagi gua harus berbicara pada bapak tukang servis piano . Maka gua berusaha untuk menekan gairah seks gua dgn sebisaku, agar nanti gua tak berbuat sesuatu yg mungkin akan mempermalukan diriku sendiri.

tiba tiba gua teringat sesuatu yg membuatku sedikit terkejut serta menyesal. Seharusnya sebelum pulang tadi, gua memakai baju gantiku yg tadi. Kalau begini kan gua harus menemui bapak dalam keadaan masih mengenakan kostum baletku seperti ini? Bagaimana kalau penampilanku sekarang ini membuat gairah bapak terbakar, lalu ia berbuat yg tidak tidak padaku?

Tapi bapak sudah berada di sini, sekarang ini tak ada pilihan lain untukku. Maka gua terpaksa memberanikan diri untuk turun dari mobilku.

“Malam bapak. Bapak ini siapa ya?” gua langsung bertanya padanya setelah menutup pintu mobilku.

“Malam non,” jawab orang dgn sopan. “Nama bapak Sigit, tukang servis piano panggilan. Bapak yg menyetel piano di sini sejak tahun sembilan-puluhan.”

“Ow gitu. Kalau gitu mari bapak, ikut saya ke ruangan piano,” gua mengajak bapak Sigit sambil melangkah ke dalam.

“Eh. non, tolong pelan pelan,” kata tukang servis piano . “Bapak ini nggak bisa melihat.”

Kata kata membuatku terkesiap serta gua menghentikan langkahku. gua mulai memperhatikan keadaan bapak Sigit, gua baru sadar kalau ia mengenakan kaca mata hitam serta tangan kanannya memegang sebatang tongkat penunjuk jalan. Keadaannya membuatku merasa iba, tapi diam diam gua juga merasa lega, krn berarti gua tak perlu kuatir lekuk tubuhku yg pastinya tercetak jelas pada kostum baletku ini terlihat oleh bapak Sigit.

“Maaf ya bapak, saya nggak tau,” gua berkata sambil mendekati bapak Sigit serta memegang tangan kirinya yg menganggur. “Mari bapak, saya bantuin ke dalam.”

“Terima kasih ya non. Boleh bapak tau siapa ya nama non yg baik hati ini?” tanya bapak Sigit.

“Aduh, nggak segitunya kali bapak. Boleh aja kok, nama saya Eliza,” jawabku dgn sedikit senang mendengar pujian bapak Sigit tadi.

Setelah kita sampai di dalam ruang piano, gua menyalakan lampu ruangan ini serta terus membimbing bapak Sigit sampai ke dekat piano yg berada di tengah tengah ruangan ini, sebuah amplop putih yg ada di atas piano seperti kata Cie Natalia di dalam SMS tadi. gua sempat memperhatikan piano milik Cie Natalia , sebuah piano dari merk terkenal, masih terlihat mengkilat seperti baru.

“Ini pianonya, bapak,” kataku sambil membimbing serta meletakkan tangan bapak Sigit di atas piano.

“Terima kasih non Eliza,” kata bapak Sigit.

“bapak Sigit mau minum apa?” tanyaku sambil mengambil serta memasukkan amplop ke dalam tasku, gua juga menyalakan AC ruangan ini dari remote yg juga ditaruh di atas kap piano ini.

“Apa saja non, pokoknya yg dingin dingin,” jawab bapak Sigit.

“Kalau gitu saya ambilkan dulu bapak,” kataku serta gua segera menuju ke dapur.

Ternyata di sana mbak Lastri memang sedang menyiapkan sebuah baki dgn dua gelas sirup yg dingin. dgn senang gua mengucapkan terima kasih sekaligus menawarkan diri untuk membawakan baki minuman , namun mbak Lastri tidak mengijinkan. Setelah beberapa kali gua memaksa, barulah mbak Lastri mengiyakan. Lalu gua langsung kembali ke dalam ruang piano tadi.

Saat gua kembali, ternyata bapak Sigit sedang sibuk menekan nekan tuts piano. Sepertinya ia sedang berkonsentrasi mendengarkan apakah ada yg salah pada nada yg dihasilkan oleh setiap tuts piano yg ditekannya. gua sempat melihat serta memperhatikan, dari deretan tuts yg ditekan bergantian secara berurutan, memang kurasakan ada beberapa nada yg sumbang.

Diam diam gua jadi penasaran, apakah orang buta seperti bapak Sigit ini benar benar bisa memperbaiki piano Cie Natalia?

gua tak ingin menggangu pekerjaan bapak Sigit, maka gua memilih untuk menunggu sampai ia selesai dahulu, baru gua akan menawarkan minuman ini padanya. dgn perlahan gua menaruh baki minuman yg kubawa pada meja kecil di ujung ruangan ini, tasku juga kuletakkan di sebelahnya.

Melihat sofa yg indah di samping meja , gua merasa senang. Berarti gua bisa bersantai di sana selagi menunggu selesainya servis piano ini. Lalu gua berjongkok di depan meja ini serta mengambil ponselku yg berada di dalam tasku untuk menemaniku selama menunggu bapak Sigit selesai bekerja.

Tepat pada saat tanganku menyentuh ponselku, bunyi dering ringtone ponselku yg cukup keras sekaligus getarannya membuatku sangat terkejut hingga secara reflek gua menarik tanganku yg masih berada di dalam tasku ini. Akibatnya tasku ikut tertarik serta menyenggol salah satu gelas minuman yg ada di atas baki ini.

Beruntung gua masih cukup cepat menggerakkan tanganku yg kiri serta berhasil menahan gelas minuman hingga tidak sampai jatuh serta pecah, tetapi cukup banyak tumpahan air minuman dingin dari gelas yg mengguyur baju balet yg kukenakan ini, hingga bagian depan dari baju baletku ini basah kuyup. Bahkan gua merasa bagian depan celana dalamku juga basah terkena tumpahan ini.

gua mengeluh perlahan sambil menggigit bibirku, menahan rasa dingin dari air minuman yg membasahi baju baletku ini. gua tahu bahwa sebaiknya gua cepat berganti baju kalau gua tak ingin mendapat sakit flu, apalagi sebentar lagi AC di ruangan ini akan membuat hawa semakin dingin.

Sayangnya berarti gua harus mandi dahulu kalau gua tidak mau baju gantiku juga kotor serta lengket dgn air sirup. juga berarti gua harus meninggalkan bapak Sigit yg sedang memperbaiki piano untuk sekitar lima belas sampai dua puluh menit, padahal gua sudah berjanji pada Cie Natalia untuk membantunya menunggui tukang servis piano.

Maka dgn sedikit kesal gua terpaksa berusaha mengeringkan baju baletku ini untuk sementara, gua mengambil sebungkus tissue yg masih utuh dari dalam tasku. Namun tiba tiba saja terlintas sesuatu hal di pikiranku yg menurutku adalah sebuah ide yg bagus, yaitu baju baletku plus bra yg sudah basah kuyup ini sebaiknya kulepas, kulit tubuhku yg basah kuseka pakai tissue ini hingga kering, lalu gua bisa memakai baju gantiku yg ada di dalam tasku ini, tanpa bra juga tidak apa apa. Tak ada yg perlu kukuatirkan tentang bapak Sigit, toh ia buta serta tak akan dapat melihatku.

Tapi tepat sebelum gua melepas bagian atas baju baletku, terlintas satu hal lain yg membuat jantungku hampir berhenti berdetak serta tenggorokanku serasa tercekat. Bagaimana kalau gua terlanjur berganti baju di sini begitu saja, lalu ternyata bapak Sigit sama sekali tidak buta? Bukankah berarti gua seperti melakukan striptease di hadapannya?

Memikirkan semua gua jadi ragu ragu untuk meneruskan niatku berganti baju di sini. gua berpikir cepat, gua memutuskan untuk lebih baik bertanya pada Cie Natalia terlebih dulu. Maka gua mengambil ponselku serta bertanya lewat SMS pada Cie Natalia, tentang apakah ia tahu kalau bapak Sigit memang buta.

dgn harap harap cemas gua menunggu jawaban Cie Natalia. Semoga suasana di pesta ultah teman Cie Natalia tidak terlalu hingar bingar sehingga Cie Natalia masih bisa mendengar dering ringtone SMS masuk dari ponselnya serta menjawab pertanyaanku tadi secepatnya, krn gua sudah mulai tersiksa dgn rasa dingin.

“Non Eliza,” tiba tiba bapak Sigit memanggilku setelah ia berhenti menekan nekan tuts piano. “Bapak bisa minta tolong non untuk bantuin bapak?”

“Saya? Bantuin gimana ya bapak?” tanyaku dgn ragu.

“Non Eliza cuma perlu menekan tuts tuts ini kalau bapak minta, mulai dari yg paling kanan. Nanti non ganti ke tuts di sebelah kirinya setiap bapak bilang selesai. Bapak sendiri akan menyetel senar piano ini dari belakang,” jawab bapak Sigit.

“Mmm. sepertinya bisa sih. Saya coba bantuin ya bapak,” kataku serta gua segera beranjak ke arah piano sambil membawa ponselku, juga sebungkus tissue yg nantinya mungkin akan kuperlukan.

krn gua pikir bunyi dering ringtone ponselku mungkin bisa mengganggu kerjanya bapak Sigit, gua memutuskan untuk mengubah profile di ponselku ke mode silent.

“Oh iya, saya hampir lupa. Apa bapak mau saya ambilkan minum dulu?” gua menawarkan minuman yg masih ada satu gelas pada bapak Sigit.

“Terima kasih non, tapi nanti saja, bapak belum haus,” tolak bapak Sigit. “Oh iya, sepertinya tadi ada gelas yg hampir jatuh, juga ada air yg tumpah. Kalau dari bau sirup yg bapak cium sekarang ini, sepertinya baju yg non Eliza pakai ini ketumpahan air minuman. Mungkin non ingin ganti baju dulu sebelum balik ke sini serta bantuin bapak?”

gua terkejut mendengar kata kata bapak Sigit serta hal ini tambah membuatku curiga kalau sebenarnya ia hanya pura pura buta.

“bapak Sigit, maaf saya bertanya seperti ini. bapak Sigit kan nggak bisa melihat? Gimana caranya bapak sampai bisa tahu kalau baju saya ini ketumpahan minuman?” tanyaku dgn cepat.

“Buat orang buta seperti bapak ini,” jawab bapak Sigit sambil membuka kacamata hitamnya, “bunyi air yg tumpah ke kain tadi terdengar jelas. waktu non Eliza berdiri di dekat sini, bapak mencium harumnya bau sirup. Jadi bapak tahu air minuman yg non bawa tadi tumpah di bajunya non.”

Sekarang gua bisa melihat mata bapak Sigit yg sejak tadi tertutup kacamata hitam. Diam diam gua bergidik ngeri krn bola mata terus bergerak tak menentu. melihat bagian yg harusnya berwarna hitam dari mata bapak Sigit ternyata berwarna kelabu serta sedikit pudar, gua mulai yakin kalau ia memang buta.

“Wah, kalau gitu pendengaran bapak Sigit tajam sekali yah,” gua memuji dgn kagum sebelum gua menjawab pertanyaan bapak Sigit yg tadi. “Oh iya bapak Sigit, ini tumpahannya cuma sedikit kok, jadi saya nggak perlu ganti baju sih.”

“Kalau begitu bapak mulai sekarang saja ya non?” kata bapak Sigit yg sudah berdiri sambil membawa tasnya.

“Iya bapak,” jawabku singkat serta gua duduk di kursi piano yg baru ditinggalkan bapak Sigit ini.

Sebenarnya gua ingin mengganti bajuku, tapi gua sedikit berbohong pada bapak Sigit krn rasanya tak enak juga kalau gua sampai membuat bapak Sigit menunggu. Jadi gua berpikir soal ganti baju ini kulakukan nanti saja sekalian setelah urusan servis piano ini selesai.

Lagipula, setelah gua yakin bapak Sigit memang buta, gua bisa saja sementara menggunakan kaos yg ada di dalam tasku sebagai baju gantiku kalau gua mau. tentu saja gua tak mungkin mengatakan pada bapak Sigit kalau gua berniat untuk berganti baju di sini.

dgn hati hati gua menaruh ponselku di bagian atas piano yg kapnya sudah terbuka ini, sedangkan bungkusan tissue ini kutaruh di pinggir kursi piano ini. bapak Sigit sendiri mengeluarkan dua buah alat dari dalam tasnya yg kumal , dgn membawa dua alat , ia beranjak menuju ke bagian belakang piano.

sesaat kemudian tangan kananku sudah sibuk menekan tuts tuts piano ini sesuai permintaan bapak Sigit, kadang ia minta gua menekan dgn biasa, kadang keras. Hampir di setiap jeda sebelum gua diminta menekan tuts lagi, selalu diselingi dgn suara senar yg dikencangkan. Kadang gua juga mendengar suara ketukan. Duh, rumit juga yah ^^”

Setelah proses penyetelan piano ini berlangsung sekitar lima menit, tiba tiba gua melihat layar ponselku berkedip, gua cepat mengambil ponselku. Ternyata ada SMS yg masuk dari Cie Natalia, gua langsung membacanya.

Ternyata isinya adalah jawaban Cie Natalia untuk pertanyaanku tadi, yaitu bapak Sigit memang buta, sekalian Cie Natalia titip salam untuk bapak Sigit. Selain Cie Natalia juga ngucapin thanks krn gua sudah repot repot menggantikannya jagain piano. gua tersenyum serta membalas SMS .

Namun jawaban Cie Natalia mengingatkanku kepada penyebab gua menanyakan hal . Tiba tiba saja gua kembali merasakan dinginnya AC yg sudah cukup lama menyala ini, membuat tumpahan dari air minuman yg sangat dingin pada baju baletku ini terasa semakin dingin.
-x-
IX
Deritaku Selama Piano Diservis

Maka gua teringat kembali pada ideku tadi. Jadi, bagaimana ya? Apakah gua langsung berganti baju di sini saja selagi bapak Sigit menyetel piano ini? Atau sebaiknya gua menunggu sampai servis piano ini selesai serta bapak Sigit pulang?

Kalau gua memilih yg pertama, paling tidak gua mengenakan pakaian kering serta rasa dingin ini tak akan terus menyiksaku.

kalau gua memilih yg kedua, dgn kondisi tubuhku yg masih belum pulih sepenuhnya dari kelelahan akibat terlalu sering orgasme ini, gua mungkin sekali akan terkena sakit flu yg pasti akan lama sembuhnya, padahal sebentar lagi gua harus menghadapi ujian kenaikan kelas. Gimana nih?

Setelah beberapa saat gua bimbang di antara dua pilihan ini, akhirnya gua memutuskan untuk memilih yg pertama. Tapi entah kenapa meskipun gua tahu bapak Sigit buta, ia bahkan sibuk dgn bagian dalam piano ini, tetap saja gua merasa jantungku berdegup kencang saat gua mulai membuka baju baletku ini.

Rasa dingin yg tambah menyiksa ini membuatku tak punya pilihan lain. Setiap kali bapak Sigit sibuk menyetel senar, gua melanjutkan usahaku untuk menarik lepas baju baletku ini, hingga akhirnya tinggal bra saja yg melekat pada setengah tubuhku bagian atas ini, krn baju baletku ini sudah jatuh sampai ke pinggangku.

Eh. bapak Sigit memang tak akan bisa melihatku dgn kedua matanya yg buta . Tapi tadi , ia bisa tahu bajuku ketumpahan air minuman hanya dgn mendengar saja. Lalu, apakah ia juga bisa mendengar kalau gua sudah membuka baju baletku yg ketat ini?

dgn tubuhku yg sudah dalam keadaan setengah telanjang, memikirkan semua membuatku merasa tegang. Bagaimana kalau bapak Sigit ternyata juga bisa mengenali suara terlepasnya baju? Perlahan gua menggigit bibirku serta tiba tiba gua merasa malu sekali. Kalau benar seperti dugaanku, bukankah berarti gua sama saja seperti sedang melakukan striptease di hadapannya sekarang ini?

“Tekan lagi non,” tiba tiba gua mendengar suara bapak Sigit.

“Eh, i. iya bapak,” gua menjawab di tengah kegugupanku.

Sambil menekan tuts piano yg terakhir kutekan sebelum gua berhasil melepas bagian atas baju baletku tadi, gua terus memikirkan situasi sekarang ini. Rasaya suara bapak Sigit ketika menyuruhku menekan tuts piano tadi terdengar wajar wajar saja. proses penyetelan piano ini terus berlangsung tanpa ada hal yg aneh dari bapak Sigit.

Ah, mungkin gua terlalu curiga yg tidak tidak. Sepertinya aman saja bagiku untuk berganti baju di sini meskipun ada bapak Sigit. Maka selagi bapak Sigit kembali sibuk menyetel senar piano, gua berdiri dari kursi piano ini dgn perlahan untuk menarik lepas rok baletku, rok yg sedikit transparan ini. rok ini kutaruh di atas kursi piano.

Masih dalam keadaan berdiri, gua sempat harus menekan tuts piano lagi sebelum akhirnya gua berhasil melepaskan baju baletku yg lalu kutaruh di atas rok baletku tadi. Semua kulakukan dgn hati hati serta kuusahakan tanpa suara, kini gua hanya tinggal mengenakan bra, celana dalam serta stocking saja.

Ow, harusnya sekarang ini gua serta tubuhku merupakan pemandangan indah bagi bapak Sigit (duh, narsisnya kumat deh). entah apa yg akan terjadi padaku kalau saja bapak Sigit bisa melihat aksi striptease yg kulakukan ini. Kalau saja yg berada di hadapanku sekarang ini adalah Wawan cs, maka tak akan butuh waktu lama sebelum tubuhku ini diterkam serta dimangsa habis oleh mereka.

Lalu bagaimana dgn bapak Sigit yg sedang sibuk menyetel piano ini? Ah, dia kan juga lelaki, sama seperti ketiga pejantanku . Kalau benar bapak Sigit bisa melihat apa yg kulakukan sekarang ini, servis piano ini akan lebih lama selesainya krn ia pasti lebih memilih untuk sibuk denganku.

Memikirkan semua , gua merasa geli serta menahan senyumku, namun jantungku tetap berdebar dgn kencang. Bagaimanapun juga, memikirkan tubuhku yg hanya terbalut pakaian dalam seperti ini di hadapan seorang lelaki, membuatku sedikit merasa risih bercampur ngeri.

Tiba tiba rasa dingin yg sempat kulupakan kembali lagi, bahkan kini terasa lebih menusuk, terutama di kulit dada serta perutku yg sempat tersiram tumpahan air minuman tadi. Sebisanya gua menyeka bagian tubuhku yg basah ini dgn tissue yg tadi sempat kubawa sebelum gua membantu bapak Sigit.

Setelah menempuh semua kesulitan ini, akhirnya gua berhasil mengeringkan tubuhku, semua tissue yg telah kupakai kutaruh di atas tumpukan kostum baletku. Namun gua justru merasa lebih kedinginan. gua baru sadar, penyebabnya adalah AC yg membuat hawa di ruangan ini menjadi semakin dingin, ditambah dgn tubuhku yg hanya mengenakan pakaian dalam seperti ini.

“bapak Sigit, tolong berhenti sebentar yah,” kataku pada bapak Sigit. “Saya mau m. minum.”

gua tersenyum lega krn gua merasa alasanku yg tiba tiba terpikir ini tepat sekali. Kan tidak mungkin gua mengatakan pada bapak Sigit kalau gua ingin memakai kaosku krn gua baru melepaskan kostum baletku ini?

“Oh iya iya. Silakan non Eliza,” jawab bapak Sigit serta ia menghentikan penyetelan senar yg sedang dilakukannya .

“Bapak mau saya ambilkan minum juga?” gua sekalian menawarkan minuman tadi pada bapak Sigit.

“Oh, nanti saja non. Tanggung, ini sudah tinggal 8 senar lagi. bapak belum haus,” lagi lagi bapak Sigit menolak.

gua berpikir sejenak. Delapan tuts, kalau setiap tuts rata rata satu menit atau lebih, berarti masih sekitar sepuluh menit lagi. Maka gua tetap memilih untuk memakai kaos gantiku tadi daripada terus menggigil kedinginan sampai selesainya servis piano nanti.

“Kalau gitu saya minum dulu sebentar ya bapak,” kataku lagi.
bapak Sigit mengiyakan saja, setelah mengambil tumpukan kostum baletku yg kutaruh di kursi piano ini, gua segera menuju ke meja tempat dimana tasku sedang duduk manis menungguku. gua sempat menoleh ke arah bapak Sigit, entah kenapa tiba tiba gua merasa takut kalau ia mengintipku.

Tapi gara gara gua jadi melihat ponselku berkedip, hingga gua cepat menaruh tumpukan kostum baletku ini di samping tasku, lalu dgn masih dalam keadaan hampir telanjang bulat seperti ini, gua melangkah kembali ke piano untuk mengambil ponselku.

ternyata ada sebuah SMS masuk, dari Cie Stefanny? gua cepat membuka SMS .

‘Eliza, sorry ya, besok Cie Cie nggak bisa ngelesin kamu. Soalnya Cie Cie capek sekali, rasanya perlu istirahat. Tapi hari Kamis nanti, kamu langsung les dua kali, buat gantiin yg besok. Nggak apa apa ya sayang? Abisnya kamu juga sih, ngenalin Cie Cie ke Jenny serta Sherly. Dua anak . duh, mereka nggak kalah nakal deh sama kamu.’

gua memejamkan mataku, mencoba mengatur nafasku yg memburu akibat membaca SMS dari Cie Stefanny . Jenny, Sherly, kalian apain aja Cie Stefannyku ini sampai kecapekan seperti ? serta, mengapa gua kalian tinggalkan sendiri seperti ini?

Tiba tiba semua adegan mesra antara gua serta Cie Stefanny di malam hari melayang dalam anganku. Juga tentang kegilaan yg kita lakukan bersama Jenny serta Sherly pada keesokan harinya hingga ketiga pejantanku terkapar lemas.

Akibatnya, nafasku jadi tambah memburu. Sekujur tubuhku serasa bergetar halus serta gairah seks gua naik dgn cepat.

gua bergidik ngeri krn tiba tiba saja gua menyadari tangan kananku sudah meraba serta meremasi toket ku sendiri, meskipun dgn lembut. gua membelalakkan kedua mataku sambil menatap ke arah bapak Sigit.

Duh, untung bapak Sigit tak bisa melihat apa yg sedang kulakukan sekarang ini. Tapi ketika gua berusaha menghentikan kenakalan tanganku, entah kenapa tanganku yg satunya ini seperti tak mau kalah, mulai meraba bibir memek ku yg serasa tambah berdenyut saja.

Sekuat tenaga gua menahan diriku agar tidak mendesah, apalagi merintih. gua benar benar tersiksa krn gairah seks gua tambah menjadi, hingga di dalam hati gua memohon pada kedua tanganku ini untuk menghentikan kenakalan mereka. Namun keduanya seperti tak mau mendengar, bahkan seolah malah saling berlomba untuk menggoda tubuhku. Perlahan tapi pasti, rasa panas mulai menjalari sekujur tubuhku ini.

“Non Eliza, katanya tadi mau minum?” tiba tiba suara bapak Sigit mengejutkanku, membuat kenakalan kedua tanganku ini terhenti.

“Eh. enggak jadi bapak,” jawabku dgn tegang, tiba tiba saja gua berubah pikiran. “Rasanya lebih baik sekalian nanti aja, cuma kurang delapan tuts kan bapak?”

“Iya non. Kalau gitu bapak lanjutkan ya?” tanya bapak Sigit lagi.

“Iya bapak,” jawabku sambil kembali duduk di kursi piano serta menaruh tangan kananku di deretan tuts piano.

Sambil kembali membantu bapak Sigit menyetel piano ini, gua membalas SMS Cie Stefanny tadi. dgn susah payah gua menuliskan jawabanku di ponselku ini krn gua harus menekan semua gairah seks gua akibat kenangan erotis bersama Cie Stefanny yg sempat melayang dalam anganku tadi.

gua mengiyakan tentang masalah les yg diundur, jadi hari Kamis nanti gua akan les dua kali, tapi gua tak mengatakan apa apa tentang rasa penasaranku akan kegilaan yg dilakukan kedua temanku pada Cie Stefanny. gua hanya mengatakan kalau gua udah kangen sama Cie Stefannyku tersayang ini, meminta padanya untuk menjaga diri serta nggak terlalu capek, jadi nggak sampai sakit.

“Tekan. tekan. ya, selesai,” kata bapak Sigit mengakhiri servis piano ini.

Hampir bersamaan dgn , gua melihat ponselku berkedip. Ternyata ada SMS yg masuk dari Cie Stefanny lagi.

“Sama sama, bapak,” jawabku singkat, sambil membuka SMS .

‘Thanks ya sayang. Cie Cie juga kangen sama kamu, murid les Cie Cie yg paling pintar, paling cantik, paling baik, paling nakal :p’

gua tersenyum sambil menggigit bibirku saat membaca SMS Cie Stefanny . Senang sekali rasanya mendapat semua pujian dari Cie Stefanny , kata kata paling nakal dalam SMS membuatku tersenyum geli.

Suara denting peralatan milik bapak Sigit membuyarkan lamunanku. Ternyata bapak Sigit sedang menyimpan semua peralatannya yg tadi digunakan untuk menyetel piano ini ke dalam tas yg kumal . Hal menyadarkanku bahwa servis piano ini sudah selesai.

“Non Eliza, silakan dicoba pianonya,” kata bapak Sigit yg sudah berdiri sambil membawa tasnya.

Hah? Mencoba piano? Sekarang? Dalam keadaan hanya mengenakan pakaian dalam seperti ini? Tapi apa alasanku untuk menolak permintaan bapak Sigit ini?

“Eh. tapi bapak, saya udah lama nggak main piano,” gua mencoba mengelak.

“Ah, non Eliza jangan merendah,” kata bapak Sigit memaksaku. “Dari cara non menekan tuts piano tadi, bapak yakin kok kalau non ini pandai main piano.”

“Duh, makasih deh pujiannya bapak,” jawabku dgn sedikit senang. “Tapi, apa bapak nggak mau minum dulu?”

gua masih berusaha mencari kesempatan supaya paling tidak gua bisa memakai kaos yg ada di dalam tasku selagi gua harus mencoba piano. Rasanya tidak lucu kan kalau gua harus bermain piano dgn penampilan yg amat sexy seperti ini di hadapan bapak Sigit?

“Bapak sih masih belum haus,” jawab bapak Sigit. “Tapi non Eliza tadi kan nggak jadi minum ya? Kalau gitu silakan non minum dulu.”

“Iya bapak. Kalau gitu, saya minum sebentar ya,” jawabku cepat dgn rasa lega.

Tepat pada saat , gua sempat memperhatikan ponselku yg kembali berkedip. Maka tanpa menunggu jawaban bapak Sigit, gua segera beranjak menuju ke arah tasku sambil membawa ponselku ini. Ternyata ada SMS dari Cie Natalia.

‘Eliza, kamu mau nggak ikut Cie Cie karaoke? Daripada kamu sendirian di rumah, sayang. Kalau kamu mau, Cie Cie bisa jemput kamu dulu. Servis pianonya udah selesai kan?’

gua menghela nafas sambil melihat ke arah jam dinding. Rasanya nggak enak juga kalau gua ikut Cie Natalia pergi. gua kan nggak kenal dgn teman teman Cie Natalia? Lagipula, sekarang sudah jam delapan malam. Kalau mereka baru akan ke karaoke sekarang, lalu jam berapa mereka baru pulang? gua tak mau tidur terlalu malam dgn kondisi tubuhku yg masih didera rasa capek seperti ini.

Memang gua akan sendirian lagi, tapi tentu saja hal bukan merupakan masalah besar bagiku. Maka gua cepat membalas SMS Cie Natalia ini, memberitahunya kalau servis piano ini mungkin masih agak lama baru selesai, gua sendiri sudah mulai mengantuk, jadi gua nggak usah dijemput.

Lalu gua meneguk minumanku, dari gelas yg sebagian isinya sempat tumpah ke baju baletku tadi, hingga membuatku berpenampilan sexy seperti sekarang ini. Rasa segar melegakan tenggorokanku yg sempat terasa kering. Sesaat kemudian lagi lagi ponselku berkedip.
‘Duh, sorry ya Eliza, kamu jadi sendirian lagi deh. Ya udah, nanti kalau kamu udah benar benar mengantuk, kamu tidur aja dulu seperti kemarin. Thanks ya, kamu udah mau repot bantuin Cie Cie. Besok Cie Cie traktir kamu apa aja yg kamu mau, sayang.’

Membaca SMS Cie Natalia ini, gua menggigit bibirku serta nafasku kembali tak beraturan. gua masih ingat sekali tentang kejadian tadi malam, hal membuat jantungku berdegup kencang. dgn susah payah gua berjuang menahan deru nafasku, krn gua kuatir kalau bapak Sigit mendengar nafasku yg tambah memburu ini, lalu ia jadi bertanya yg macam macam padaku.

Namun semua kejadian tadi malam tetap melayang dalam pikiranku. Lalu, kalau nanti gua tidur lebih awal seperti kemarin, apakah kejadian tadi malam akan terulang kembali?

Membayangkan semua , perlahan tapi pasti gua kembali terbakar oleh gairah seks gua sendiri. gua memejamkan mataku, kedua tanganku ini kusilangkan di depan dadaku. gua tak perduli dgn traktiran yg dijanjikan oleh Cie Natalia tadi, krn saat ini gua hanya ingin dipeluk mesra oleh Cie Natalia.

Tapi sentuhan tanganku pada dadaku ini, membuatku tambah tersiksa. Ketika gua merasakan kulit tanganku bergesekan dgn bra yg masih menutup kedua toket ku ini, gua sudah tak tahu apa yg sebaiknya kulakukan untuk meredam gairah seks gua yg serasa hampir meledak ini.

Di tengah rasa dingin yg cukup menyiksa ini, gua ingin sekali mendapatkan kehangatan, entah dari Cie Natalia ataupun Cie Yulita yg mencumbuiku seperti malam tadi. Atau dari Cie Stefanny yg mau membalas cintaku. Atau dari dua kekasihku , Jenny serta Sherly yg begitu menyayangiku.

Atau mungkin tiga pejantan yg ada di rumahku , bapak Arifin, Suwito serta terutama Wawan yg selalu membuat tubuhku menggeliat keenakan di bawah tindihannya. Atau bapak Sigit, yg memelukku dari belakang sambil meremasi kedua toket ku ini dgn lembut, saat gua mencoba piano yg baru diservis olehnya .

Eh? Mengapa jadi bapak Sigit?
-x-
X
Akibat Dari Air Minum yg Tumpah

gua terkejut saat menyadari apa yg sempat kupikirkan tadi tentang bapak Sigit. Perlahan gua membuka mataku, gua menemukan bapak Sigit yg saat ini sudah berada di samping piano, dgn sabar menungguku.

Dalam keadaan terbakar gairah seperti ini, gua tak tahu harus berbuat apa. gua terus memandang ke arah bapak Sigit. Tiba tiba, kedua kakiku ini bergerak sendiri, melangkah tanpa perintahku, gua hanya pasrah saja ketika kedua kakiku ini mengantar tubuhku yg setengah telanjang ke hadapan bapak Sigit yg masih berdiri diam di samping piano.

“bapak Sigit. saya sudah selesai minum,” gua berkata dgn suara pelan, gua terkejut sendiri menyadari kenekatanku sekarang ini.

“Nah, kalau non Eliza tidak keberatan, coba non mainkan satu atau dua lagu,” kata bapak Sigit.

“Mm. saya coba mainkan satu lagu aja ya bapak,” kataku menawar.

“Nggak apa apa, terserah non mau main berapa lagu. Mari, bapak ingin dengar,” kata bapak Sigit.

dgn sedikit ragu, gua duduk di kursi piano. Setelah sempat memikirkan beberapa lagu, akhirnya gua memutuskan untuk memainkan sebuah instrumen lagu yg dulu sering kumainkan ketika gua masih ikut les piano, yaitu lagu “Ave Maria”, yg digubah oleh Bach serta Gounod, dipopulerkan oleh seorang pemain piano ternama, Richard Clayderman.

Entah apa gua memainkan lagu ini dgn baik, krn gua merasa tak bisa berkonsentrasi penuh selama jemariku menari di atas tuts piano. Selain gua terganggu oleh rasa dingin, bapak Sigit yg mondar mandir di belakangku membuatku kembali teringat dgn anganku tadi.

saat ini, ia kan sudah berdiri di belakangku. Lalu, apa yg ia tunggu? Mengapa ia tak segera memeluk tubuhku yg sesekali menggigil kedinginan ini, kapan ia akan meremasi kedua toket ku dgn lembut? Apa ia sama sekali tak tergoda dgn penampilanku saat ini yg begitu sexy? Apa nanti ia tak akan menyesali pilihannya untuk melewatkan rejeki yg ada di hadapannya ini begitu saja?

gua menggigit bibirku, sesekali gua menoleh ke arah bapak Sigit dgn tatapan memohon. Namun gua sadar bahwa ia tak akan memenuhi harapanku, krn ia memang tak bisa melihat semua ini. Maka dgn sebersit rasa kecewa, gua memilih berkonsentrasi dgn permainan pianoku, membiarkan bapak Sigit menikmati alunan musik yg kumainkan ini.

Ternyata suara piano ini memang sudah tidak aneh serta sumbang seperti tadi. Bahkan dentingannya terdengar jernih. Akhirnya gua selesai memainkan instrumen lagu ini. Ada sedikit rasa bangga yg menyusup dalam hatiku krn gua merasa masih bisa bermain piano dgn baik, padahal gua sudah berhenti les piano sejak lulus SMP dahulu.

“Benar kan seperti yg saya katakan, non Eliza memang pandai bermain piano,” kata bapak Sigit yg sudah berada di samping kananku ini dgn suara pelan.

“Makasih bapak,” gua kembali merasa senang mendapat pujian bapak Sigit.

Setelah kita berdua diam beberapa saat, sebelum gua teringat untuk kembali menawarkan minuman, sekalian membayarkan ongkos servis piano yg sudah dititipkan oleh Cie Natalia tadi.

“Oh iya, mari bapak, silakan minum dulu,” kataku pada bapak Sigit. “Saya ambilkan ya bapak?”

“Iya non, terima kasih,” jawab bapak Sigit

gua segera berdiri serta melangkah ke arah meja tadi. Gelas yg isi minumannya masih utuh kuambil untuk kuberikan pada bapak Sigit. Saat gua kembali sadar dgn keadaanku. Entah kekacauan seperti apa yg akan terjadi, kalau misalkan bapak Sigit ini tidak buta, melihatku yg dalam keadaan nyaris telanjang ini dgn santainya menawarkan minuman padanya.

“Aduh,” gua nyaris menjerit krn terkejut setengah mati. “Maaf bapak Sigit. saya nggak sengaja.”

Entah apa yg tadi sedang kulihat, tiba tiba gelas yg kubawa ini membentur dada bapak Sigit, hingga air minuman membasahi bajunya, bahkan sampai ke celananya. Untung gua memegang gelas dgn cukup kuat hingga gelas tidak sampai terjatuh serta pecah. Tapi gua kesal sekali, kenapa gua hari ini begitu ceroboh? Masa dalam satu jam ini saja gua sudah menumpahkan air minum untuk kedua kalinya?

“Nggak apa apa non. Non sendiri gimana?” tanya bapak Sigit.

“Saya. saya nggak apa apa,” jawabku dgn sedikit tergagap. “Maaf bapak, saya nggak sengaja. Saya bantu keringkan sedikit ya bapak.”

“Oh, nggak usah non, nggak apa apa. Cuma gini aja kok,” kata bapak Sigit.

“Tapi bajunya bapak Sigit jadi basah gini,” kataku dgn rasa bersalah, tanpa memperdulikan bapak Sigit, gua mulai menyeka bagian yg basah dari bajunya .

“Aduh, jadi ngerepotkan non Eliza,” kata bapak Sigit. “Terima kasih ya non yg baik.”

gua tersenyum mendengar kata kata bapak Sigit. Ia selalu memujiku, membuatku merasa sedikit malu bercampur senang. gua terus menyeka bajunya bapak Sigit ini, setidaknya ini yg bisa kulakukan untuk meringankan rasa bersalahku.

“Sudah non Eliza,” kata bapak Sigit serta ia memegang kedua pergelangan tanganku yg sibuk menyeka bajunya yg masih basah . “Bapak jadi nggak enak.”

“Tapi bapak.” gua masih mencoba menyeka baju bapak Sigit, namun gua sedikit terkesiap merasakan kuatnya cengkeraman tangan bapak Sigit pada kedua pergelangan tanganku ini.

“Sudah, terima kasih non Eliza,” kata bapak Sigit. “Aduh, tangan non ini, halusnya. Eh. maaf non. bapak sampai lancang pegang tangan non. maaf ya non.”

Saat juga bapak Sigit melepaskan pegangannya pada kedua pergelangan tanganku. Ia terlihat tegang serta kikuk. gua tersenyum kecil, ada sebersit rasa senang juga dalam hatiku mendengar pujian bapak Sigit tentang halusnya tanganku ini.

“Nggak apa apa deh bapak. Masa pegang tangan gitu aja udah lancang?” kataku sambil kembali menyeka baju bapak Sigit. “Saya bantu keringkan sedikit lagi ya.”

Sekali ini bapak Sigit hanya diam saja, tidak menolak lagi. gua terus menyeka sampai gua merasa baju sudah tidak sebasah tadi. Namun gua melihat celana bapak Sigit juga basah. Maka gua berjongkok serta mulai menyeka bagian yg basah dari celana .

Beberapa saat kemudian, gua merasa melihat di bagian tengah celana seperti ada yg bergerak serta mendesak dari dalam. Wajahku terasa panas, krn gua tahu apa yg sedang terjadi. gua tahu apa yg bergerak di dalam situ.

Reflek gua membuang muka, mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Tapi kemudian gua sadar bahwa gua tak perlu melakukan hal , krn toh bapak Sigit tak tahu apa yg baru saja kulihat ini.

Maka gua mencoba untuk bersikap biasa saja. Namun gua jadi ingin tahu, mengapa tiba tiba kontol bapak Sigit meronta bangun? Sesaat kemudian, kerasnya cengkeraman bapak Sigit pada kedua pergelangan tanganku tadi malah terbayang dalam pikiranku. , ia mengaku telah lancang memegang tanganku.

gua menggigit bibirku sambil tersenyum kecil. bapak Sigit, ternyata sebenarnya ia menginginkanku. Tapi ia tak berani berkata ataupun berbuat yg macam macam padaku.
Rasanya aneh juga. Maksudku, kalau dibandingkan dgn semua pejantan yg pernah menikmati tubuhku. yg kualami selama ini, setiap ada pejantan yg menginginkan tubuhku, mereka tidak akan sungkan untuk langsung menerkam diriku, menggagahiku, bahkan memperkosaku.

entah dari mana datangnya, tiba tiba sebuah ide yg sangat nakal tercetus dalam benakku.

“bapak Sigit, saya bantuin keringkan celana dalamnya bapak ya,” kataku pelan.

Tanpa menunggu jawaban, gua mulai membuka kepala sabuk yg melingkar di celana bapak Sigit, lalu gua membuka kancing serta resleting celana bapak Sigit. Perlahan tapi pasti, gua mulai diamuk gairah seks gua, mungkin krn baru pertama kali ini gua menelanjangi seorang pria dgn maksud untuk menggodanya.

Tapi gua berusaha untuk tetap tenang. Setelah semuanya terbuka, gua menurunkan celana panjang bapak Sigit. tidak ada yg menarik bagiku dari celana dalam bapak Sigit yg masih terpasang di selangkangannya , selain tonjolan yg cukup besar pada bagian depannya.

Sambil menggigit bibirku, gua meneruskan kenakalanku ini.

“Oh.” kudengar bapak Sigit merintih perlahan ketika gua menyeka tonjolan di celana dalamnya dgn tissue.

“Aduh, maaf ya bapak. Sakit ya?” tanyaku pura pura kuatir.

“Eh. enggak non. anu.” bapak Sigit hanya mengguman tak jelas.

gua menahan tawa melihat reaksi bapak Sigit. Saat ini, kontol bapak Sigit pasti sudah ereksi sejadi jadinya, krn gua merasa tonjolan bahkan sedikit lebih besar dibandingkan dgn tadi saat gua baru membuka celana panjangnya.

Namun tiba tiba gua jadi sedikit penasaran. Memangnya, sebesar apa ya kontol nya bapak Sigit ?

“bapak Sigit, yg di dalam sini ini juga basah ya?” tanyaku sambil membelai tonjolan pada celana dalam bapak Sigit dgn lembut. “Mmm. kalau gitu, saya bantu keringkan dulu ya bapak?”

“Eh. non. i. e.” bapak Sigit hanya gelagapan tanpa menjawab.

Entah bapak Sigit hendak berkata apa , tapi gua tak perduli. Seperti tadi, tanpa menunggu jawaban bapak Sigit, gua mulai melucuti celana dalamnya . gua mengaitkan kedua jari telunjukku di ujung kiri serta kanan, lalu celana dalam kutarik ke bawah dgn perlahan, hingga benda nakal yg sejak tadi terus bergerak serta membuatku penasaran mulai terlihat olehku.

gua terus melucuti celana dalam bapak Sigit, hingga kini celana dalam serta celana panjang bapak Sigit tergeletak di lantai, melingkar di kedua pergelangan kaki bapak Sigit.

Ternyata kontol besar juga. Mungkin bahkan lebih besar sedikit dari punya Wawan. Melihat kontol bapak Sigit yg teracung ke arah wajahku ini, nafasku kembali memburu. gua merasa kontol seperti mengancamku, memaksaku untuk memberikan servis oralku, atau ia akan mengaduk aduk lobang memek ku hingga gua menggeliat serta melenguh keenakan.

Namun ancaman kontol sama sekali tak terdengar menakutkan buatku. Sekarang ini gua malah ingin menggoda pemiliknya. Sesuai “janjiku” tadi, gua mengambil tissue serta menyeka jembut bapak Sigit yg ternyata juga sedikit basah. Setelah bagian kurasa sudah cukup kering, barulah gua memberikan perhatianku pada kontol yg sempat kucuekin .

Bagian pertama yg kuseka dari kontol adalah kepalanya. Saat gua baru menyadari, ternyata kontol benar benar tegang. gua mencoba menekan kontol ke bawah sedikit, tapi kontol langsung kembali mengacung ke posisi semula saat gua melepaskan tanganku, diikuti suara keluhan bapak Sigit yg membuat gua mendongakkan kepala.

Melihat keadaan bapak Sigit, gua kembali merasa geli hingga gua harus menahan tawaku. Bagaimana tidak, baru kali ini gua melihat ada pejantan yg kelihatan gelisah serta tegang ketika gua sibuk dgn senjata andalannya.

“bapak, ini kok jadi besar gini sih?” tanyaku sambil terus menyeka ujung kepala kontol dgn tissue.

“Uh. anu non. .” bapak Sigit tak menjawab dgn jelas.

gua kembali memandang kontol . Ukuran kontol memang besar, tapi apakah juga keras seperti punya Wawan? dgn perlahan namun penuh rasa ingin tahu, gua menggenggamkan tanganku pada batang kontol .

Denyutan urat urat kontol yg kurasakan membuat jantungku berdegup semakin kecang, apalagi ketika gua merasa kontol bapak Sigit tambah mengeras saja. saat ini, kerasnya batang kontol rasanya hampir sekeras milik Wawan. Entah bagaimana rasanya kalau lobang memek ku yg mungil ini diaduk aduk oleh kontol bapak Sigit , pasti rasanya enak sekali.

Tapi, bagaimana caranya supaya hal terjadi? Masa gua yg meminta minta pada bapak Sigit untuk menggagahiku, seperti yg tadi dilakukan oleh Vera terhadap bapak Bakir? Rasanya gua belum setega untuk menghancurkan harga diriku sampai tak bersisa di hadapan bapak Sigit.

“Aah.” bapak Sigit kembali mengerang.

gua memejamkan mataku, itulah kesalahanku. Semua bayangan tentang kontol malah tergambar dgn jelas di hadapanku, membuatku tambah tenggelam dalam gairah. ketika gua membuka kedua mataku, gua tak mau melepaskan pandanganku dari kontol . gua. gua menginginkan kontol !

“bapak Sigit, burung ini boleh saya bersihkan nggak?” tanyaku sambil membelai kontol bapak Sigit.

“Boleh non!” seru bapak Sigit cepat. “Boleh. boleh.”

Ih, semangat sekali menjawabnya?! Ingin rasanya gua menggoda bapak Sigit tentang hal , tapi gua merasa kasihan kalau ia sampai merasa malu serta suasana erotis ini jadi rusak.

Maka tanpa berkata apa apa lagi, gua mulai membelai kontol beberapa kali, lalu kuseka dgn tissue yg masih baru. Berikutnya, dgn sedikit menahan malu, gua memberanikan diriku untuk memajukan wajahku serta mendekatkan bibirku pada kepala kontol bapak Sigit .

Hmm. bau sirup ^^

gua sempat mendongak untuk menatap bapak Sigit. Kepalanya bergerak gelisah serta raut wajahnya terlihat menunggu dgn penuh harap. gua tak tega membuat bapak Sigit menunggu lebih lama lagi, perlahan gua membuka bibirku sedikit, lalu gua mengecup kepala kontol .

“Oh. oooh.” erang bapak Sigit.

gua memejamkan mataku, dari sekedar mengecup, kini gua mulai mencucup kepala kontol , sementara pemiliknya tambah sibuk mengerang serta merintih. Lalu gua menggunakan lidahku untuk memanjakan kontol bapak Sigit. Ujung lidahku yg sudah menyentuh kepala kontol bapak Sigit kugerakkan memutar dgn perlahan, kusapukan ke seluruh bagian kepala kontol sampai beberapa kali.

“Ohh. oooooh.” bapak Sigit mengerang semakin panjang sambil membelai rambutku. “Makasih non. makasih banyaak. oooh.”

Mendengar ucapan terima kasih di antara erangan serta rintihan bapak Sigit, sebenarnya gua jadi merasa malu sekali. Tak pernah terbayang olehku, bagaimana seorang gadis terpelajar seperti diriku, dgn tak tahu malu memberikan servis oral kepada seorang pria tua yg bahkan baru kukenal satu dua jam yg lalu ini, yg kulakukan begitu saja, tanpa diminta ataupun dipaksa olehnya.

Ada sedikit rasa menyesal saat gua menyadari bahwa gua telah mempermalukan diriku sendiri seperti sekarang ini. Tapi semua sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Maka tanpa menjawab apa apa, gua malah memajukan kepalaku, hingga sedikit demi sedikit batang kontol tambah tertelan dalam mulutku.

“Oooh. aduh. enaknya non.” kini penikmat servis oralku ini mulai meracau.

gua memilih untuk tak perduli dgn segala reaksi bapak Sigit. Bahkan gua mulai menghisap batang kontol beberapa kali, lalu gua memaju mundurkan kepalaku, mulai dari dgn gerakan yg perlahan sampai dgn sedikit cepat seperti ini, hingga kontol mengaduk rongga mulutku. Sesekali gua menghentikan gerakan kepalaku ini, memberikan kesempatan pada kontol untuk merasakan nikmatnya kuluman mulutku.

Setelah beberapa saat, dgn perlahan gua menarik kepalaku ke belakang sampai kontol yg terbenam dalam mulutku ini tinggal setengahnya, bagian yg masih berada dalam mulutku ini kembali kumanjakan dgn lidahku.

Ketika mulutku terasa penuh oleh air ludahku sendiri yg tercampur dgn sisa sirup tadi, mungkin juga tercampur dgn sedikit getah kontol bapak Sigit, gua menelan semua cairan krn gua tak ingin sampai tersedak. Setelah gua kembali menarik kepalaku ke belakang, kini tinggal kepala kontol saja yg masih terbenam dalam mulutku.

gua sempat memberikan beberapa hisapan serta cucupan pada kepala kontol , lalu gua mengatupkan bibirku dgn rapat. dgn perlahan gua menggerakkan tubuhku ke belakang, hingga kontol yg masih terjepit oleh bibirku sedikit demi sedikit terlepas seluruhnya dari kulumanku.

Sebuah keluhan yg penuh dgn rasa kecewa pun terdengar. gua membuka kedua mataku sambil mengatur nafasku yg sedikit tersengal ini. Ketika gua menatap bapak Sigit, gua merasa ia terlihat seperti orang yg sedang kehilangan sesuatu. Tapi gua meneruskan niatku untuk sedikit jual mahal.

“bapak Sigit, burungnya udah bersih,” kataku pelan. “Saya bantuin pakai celananya ya bapak?”

“Non Eliza yg baik. bapak boleh minta tolong nggak?” tanya bapak Sigit dgn suara bergetar.

Suara , kini gua merasakan suara bapak Sigit diwarnai nafsu yg menggelegak, hingga jantungku berdebar kencang krn gua sudah tahu “pertolongan” seperti apa yg diinginkan oleh bapak Sigit dariku.

“Minta tolong apa bapak?” gua bertanya balik dgn suara pelan.

“Tolong non. kasihan burungnya bapak,” kata bapak Sigit, masih dgn suara bergetar seperti tadi.

“Mmm. gimana cara nolongin burung yg kasihan bapak?” tanyaku nakal meskipun wajahku jadi terasa panas.

“Cara. non. bapak ingin. main sama non,” bapak Sigit menjawab terbata bata.

Wajahku jadi terasa semakin panas. Tentu saja gua tahu dgn jelas apa maksud kata “main” dari dikatakan bapak Sigit .

“Main? bapak Sigit mau main apa?” tanyaku pura pura tak mengerti. “Tapi ini kan udah malam bapak, lain kali aja yah? Saya udah capek, ini juga baru pulang dari les balet.”

“Oh, non Eliza capek ya? Mau nggak non bapak pijitin?” tanya bapak Sigit dgn cepat.

“Aduh, makasih bapak, nggak usah repot repot deh,” gua menolak dgn ragu. “Saya cuma capek biasa kok. Abis istirahat serta tidur, besok juga hilang capeknya.”

“Tapi non, bapak juga bisa mijit badan untuk hilangkan capek serta pegal. Kalau non mau, bapak pijitin dulu non. Nanti sebelum non tidur, capeknya pasti sudah hilang. Mau ya non?” bapak Sigit menawarkan dgn nada penuh harap.
-x-
XI
Blind Date yg Panas

gua diam serta memikirkan tawaran bapak Sigit . Sepertinya gua tertarik juga untuk merasakan servis pijatan bapak Sigit, yg katanya bisa menghilangkan capek serta pegal pada tubuhku. Sekarang ini Cie Natalia serta teman temannya mungkin baru sampai ke tempat karaoke, paling sedikit mereka akan berkaraoke selama satu jam.

Jadi, mungkin masih aman untuk menikmati pijatan bapak Sigit sampai satu jam ke depan.

“Gimana non?” bapak Sigit menginginkan jawabanku.

“Mmm. berapa tarif satu jamnya bapak?” gua bertanya balik.

“Nggak usah non. Bapak cuma kepingin . Mau ya non?” tanya bapak Sigit dgn suara memelas hingga gua merasa tak tega untuk mempermainkannya lebih lama lagi.

“Iya deh bapak. aww.” gua hampir menjerit kaget krn bapak Sigit langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya, saat juga ia memajukan mukanya untuk mencari bibirku.

Kejadian berlangsung terlalu cepat, hingga gua jadi sedikit panik serta tak tahu apakah gua harus mengelak atau pasrah.

“Mmmhh.” gua merintih tertahan ketika bibirku sudah terpagut.

Dalam hati gua mengeluh. Gawat deh, sepertinya tinggal tunggu waktu saja sebelum bapak Sigit mengetahui keadaanku, tentang tubuhku yg hanya mengenakan bra, celana dalam serta stocking saja seperti ini.

Pagutan pada bibirku ini hanya berlangsung sebentar, krn sesaat kemudian bapak Sigit sudah mencumbui sekujur wajahku. Sementara gua merasa pelukan kedua tangan bapak Sigit pada pinggangku ini semakin erat, seolah ia takut gua akan mencoba melarikan diri darinya.

“Mmmhh. bapak. katanya mau mijitin Eliza??” gua memprotes di tengah rintihanku.

“Maaf non. bapak sudah kepingin sekali.” bisik bapak Sigit di telinga kananku yg memang kebetulan sedang menjadi korban cumbuannya.

“Ooh.” sesaat kemudian gua mengeluh pasrah krn seluruh daun telinga kananku sudah berada dalam kuluman mulut bapak Sigit.

Pandangan mataku mulai meredup seiring dgn tambah memburunya nafasku. Saat ini gua sudah menyerah pada nikmatnya sensasi yg kurasakan dari cumbuan bapak Sigit. Getaran halus menjalari sekujur leherku. Kedua tanganku tergantung lemas, tenagaku lenyap entah ke mana.

Sesaat kemudian bapak Sigit mengendurkan pelukannya pada pinggangku, hingga gua merasa sedikit lebih lega sewaktu bernafas.

“Hmm. rambutnya non Eliza ini. harumnya.” desah bapak Sigit sambil menciumi rambutku.

gua diam saja membiarkan bapak Sigit yg malah asyik dgn rambutku. Kedua tangan bapak Sigit membelai seluruh rambutku, setelah beberapa saat, gua merasakan ikat rambutku dipegang pegang dgn beberapa ujung jarinya.

“Non. bapak lepas ikat rambutnya ya?” tanya bapak Sigit.

“Kenapa bapak?” gua bertanya heran.

“Bapak suka sekali sama rambutnya non Eliza. Sudah halus, lembut, harum lagi. Bapak jadi ingin merasakan serta membayangkan gimana indahnya rambut non pas lagi digerai,” bapak Sigit menjelaskan alasannya dgn panjang lebar. “Boleh ya non?”

“Iya deh,” kataku sambil tersenyum senang. “bapak Sigit yg mau ngelepasin, atau saya aja?”

“Non aja ya? Kalau bapak, takutnya nanti non kerasa sakit kalau sampai ada rambut non yg ikut ketarik,” jawab bapak Sigit.

gua mengangkat kedua tanganku ini ke belakang kepalaku, selagi gua mulai melepas ikat rambutku, tiba tiba kedua tangan bapak Sigit yg melingkar di pinggangku ini merayap naik dgn perlahan ke atas punggungku, sampai akhirnya kedua tangan menemukan tali bra yg melingkar di sana.

“Non Eliza. non nggak pakai baju?” tanya bapak Sigit dgn nafas yg memburu.

“Iya bapak,” jawabku pelan, sementara jantungku berdegup kencang.

“Kenapa non?” tanya bapak Sigit lagi, sedang kedua tangannya mengikuti lingkar tali bra yg kukenakan ini, merayap ke arah dadaku.

Mendengar pertanyaan bapak Sigit , wajahku jadi terasa panas, gua hanya bisa mendesah sambil menggeliat pelan ketika kedua toket ku yg akhirnya ditemukan oleh tangan bapak Sigit ini mulai mendapat remasan lembut.

“Tadi baju Eliza kan ketumpahan sirup, emmh.” gua menjawab tersendat di antara rintihanku. “Terus jadi basah, dingin.”

“Terus?” desak bapak Sigit.

“Terus Eliza lepas aja sekalian, aaw.” gua merintih sambil menggeliat kesakitan ketika bapak Sigit tiba tiba meremas kedua toket ku dgn cukup keras.

“Ada apa non?” tanya bapak Sigit sambil tersenyum lebar.

“bapak Sigit jahat,” gua mengomel manja.

“Maaf ya non. Gimana nggak gemas, bapak sudah dari tadi merasa aneh, soalnya waktu terakhir bapak ada di deket non, bukan cuma bau sirup saja sudah berkurang banyak, tapi bapak juga nggak mencium harumnya bau baju non Eliza tadi,” kata bapak Sigit.

“Gemas sih gemas. tapi jangan keras keras dong, sakit bapak,” gua kembali mengomel meskipun dgn suara pelan krn gua merasa malu sekali.

bapak Sigit tertawa mendengar omelanku ini, ia membelai toket ku dgn lembut.

“Sejak tadi bapak sebenarnya sudah pingin tahu,” sambung bapak Sigit. “Apa benar non Eliza berani buka baju di depan bapak?”

Wajahku terasa panas, gua tak berani berkata apa apa.

bapak Sigit terus membelai toket ku dgn lembut. Saat ini gua merasa begitu sexy, dgn adanya tangan bapak Sigit yg terus menikmati empuknya kedua toket ku yg masih tertutup bra ini selagi kedua tanganku masih sibuk melepaskan ikat rambutku.

Sesaat kemudian rambut panjangku ini jatuh tergerai ke belakang punggungku. Tapi bapak Sigit masih saja asyik meremasi kedua toket ku, bahkan kini gua merasa remasan demi remasan yg kuterima ini dilakukan olehnya dgn penuh nafsu.

Apakah bapak Sigit memang lebih suka bermain dgn kedua toket ku ini daripada dgn rambutku, atau ia tak tahu kalau gua sudah melepaskan ikat rambutku sesuai dgn permintaanya tadi?

Maka gua memutuskan untuk memberitahu bapak Sigit tentang rambutku ini dgn cara yg kurasa cukup menggoda. Kedua tanganku ini kulingkarkan di belakang lehernya, lalu gua sedikit menundukkan kepalaku hingga sebagian rambutku jatuh tergerai di depan dadaku serta membelai tangan bapak Sigit.

Tapi bapak Sigit tak bereaksi seperti yg kuharapkan, ia masih saja asyik memainkan kedua toket ku ini.

“bapak. ikat rambut yg tadi udah Eliza lepas,” kataku pelan.

“Hmm.” bapak Sigit hanya mengguman.

meskipun begitu, tangan kanannya bapak Sigit yg tadinya asyik meremasi toket kiriku ini segera beralih melingkar ke belakang pinggangku. Ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya, lalu selagi tangan kirinya tetap mememasi toket kananku, tangan kanannya yg mendekap tubuhku mulai membelai rambutku yg sudah tergerai ini dgn lembut. gua hanya menggeliat pasrah membiarkan tubuhku dijarah bapak Sigit, dgn perlahan gua menyandarkan kepalaku di pundak kirinya.

“Rambutnya non Eliza ini benar benar halus,” puji bapak Sigit. “Bapak yakin, non Eliza ini pasti anak perempuan yg cantik.”

“Ah bapak Sigit ini. dari tadi muji Eliza terus deh,” kataku dgn rasa senang yg sepertinya tak bisa kututupi.

Rasanya kita ini seperti sedang berkencan saja, bahkan seperti sebuah hot blind date saja alias kencan buta yg panas. gua seperti datang menemui orang yg sama sekali tak pernah kukenal, sedangkan sampai sekarang bapak Sigit bahkan tak tahu gua ini berwujud seperti apa. , siapapun pasti tahu, bahwa dalam keadaan seperti ini, kencan ini pasti akan berlanjut ke hubungan seks.

Mendengar omelanku tadi, bapak Sigit hanya tertawa, lalu kedua tangannya yg tadinya sibuk sendiri sendiri , dgn kompaknya sama sama merayap turun sampai ke samping pinggangku, lalu merayap lagi ke belakang, meraba bongkahan sepasang pantatku yg masih terbungkus celana dalam serta stockingku ini.

“Non. rasanya, celana yg non pakai ini ketat sekali ya?” tanya bapak Sigit dgn heran. “Bahannya juga tipis serta halus sekali, seperti. stocking! Apa non hanya pakai stocking?”

“Iya bapak, ini memang stocking.” jawabku dgn sedikit malu. “Tapi. Eliza masih pakai celana dalam kok.”

“Oh Tuhan. kalau saja bapak masih bisa melihat.” keluh bapak Sigit selagi kedua tangannya mulai meraba raba kedua pahaku. “Apa warnanya stocking ini?”

“Warna kulit bapak. jadi nggak terlalu kentara kalau Eliza lagi pakai stocking. ssshh.” jawabanku terhenti krn gua harus merintih akibat ulah bapak Sigit yg tetap sibuk dgn kedua pahaku.

bapak Sigit tak berkata apa apa lagi, tiba tiba ia sudah merayapkan tangannya ke bagian atas tubuhku, kembali ke belakang punggungku. Sesaat kemudian gua merasakan bapak Sigit mencoba membuka kaitan tali bra yg kukenakan ini. Jantungku berdebar kencang menyadari diriku akan ditelanjangi oleh bapak Sigit, namun meski sudah berusaha cukup lama, ternyata ia tak segera berhasil melepaskan kaitan , hingga gua tersenyum geli.

“bapak, Eliza bukain deh,” kataku pelan.

“Sambil ciuman sama bapak ya non,” kata bapak Sigit yg lalu segera merayapkan tangannya ke atas mencari kedua pipiku, lalu ia mengarahkan kepalaku hingga wajah kita saling berhadapan, gua belum sempat menjawab ketika bapak Sigit sudah memagut bibirku dgn ganas.

“Mmmh.” gua merintih tertahan sambil memejamkan mataku.
Dalam keadaan terbakar gairah, gua membalas pagutan bapak Sigit yg sudah kembali memeluk pinggangku. Selagi kita saling berpagut, gua tak lupa untuk melepaskan kaitan tali bra di belakang punggungku ini, gua sengaja menyentuhkan bra ini ke tangan bapak Sigit dgn perlahan sebelum kujatuhkan ke lantai.

Hasilnya, bapak Sigit langsung menarik tubuhku serta mendekap erat, sementara pagutannya pada bibirku ini jadi semakin ganas. Lidah bapak Sigit melesak masuk ke dalam mulutku, mengait serta membelit lidahku, lalu lidah tega meninggalkan lidahku sendirian begitu saja. Tanpa bisa kutahan, lidahku sudah terjulur untuk mencari kehangatan di dalam mulut bapak Sigit

Tapi akibatnya lidahku malah tertangkap di dalam sana. bapak Sigit mencucup serta menyedot lidahku kuat kuat tanpa belas kasihan. Bahkan gua merasa cukup banyak air ludahku terseruput oleh bapak Sigit hingga gua sedikit gelagapan.

Diperlakukan seperti , beberapa saat kemudian nafasku mulai sesak. gua tak bisa mendorong dada bapak Sigit, krn tubuh kita melekat seperti ini. Maka gua berusaha menekan nekan kedua lengan bapak Sigit, sebelum akhirnya ia sadar serta melepaskan pagutannya pada bibirku.

gua sampai terbatuk batuk krn kehabisan nafas, selagi gua berusaha mengatur nafasku yg tersengal sengal ini, gua kembali menyandarkan kepalaku pada pundak kiri bapak Sigit.

“Non. bapak lepasin stockingnya ya?” desah bapak Sigit sambil menghirupi rambutku.

“Mmm.” gua mengguman pelan sambil menganggukkan kepalaku.

bapak Sigit melepaskan tubuhku dari pelukannya, lalu berjongkok serta mulai mencoba menarik turun stockingku ini. Sebenarnya gua sedikit takut kalau bapak Sigit akan merobek stockingku, tapi krn hal ternyata dilakukannya dgn perlahan serta hati hati, gua diam saja meskipun jantungku terus berdebar kencang menyadari gua akan segera telanjang bulat di hadapan bapak Sigit.

Beberapa saat kemudian, hanya celana dalamku saja yg masih melekat pada tubuhku. bapak Sigit sudah mulai meraba raba seluruh bagian celana dalamku ini, seolah ia sedang berusaha menggambarkan tentang bentuk celana dalam yg kukenakan ini.

Tapi akibatnya gua harus menggigit bibir, krn semua rabaan membuat gairah seks gua terasa tambah menyiksa. Apalagi ketika jari jari tangan bapak Sigit mulai menari nari pada bagian depan celana dalamku. Getaran halus menjalari seluruh tubuhku, gua merasakan denyutan yg nikmat di dalam lobang memek ku ini. Kedua pahaku kurapatkan hingga jari tangan bapak Sigit terjepit di antara pahaku.

“bapak Sigit.” gua merengek ketika gua udah tak tahan dgn siksaan ini.

“Iya non?” tanya bapak Sigit dgn lagak pilon.

“Nggh.” gua melenguh tanpa menjawab krn bapak Sigit justru menekan nekan, menggoda bibir memek ku yg berada di balik celana dalamku ini.

“Kenapa non?” bapak Sigit mengulangi pertanyaannya.

“Ngg. nggak apa apa kok,” jawabku dgn mendongkol, namun nafasku tambah memburu serta pandangan mataku jadi semakin redup.

“Kalau gitu, ini bapak buka aja ya non?” tanya bapak Sigit sambil menarik narik celana dalamku.

“Mmm.” gua malas menjawab, krn toh apapun yg jadi jawabanku, hasilnya akan sama saja.

Sesaat kemudian bapak Sigit segera melucuti satu satunya pakaian dalam yg masih melekat pada tubuhku ini. Kini gua sudah telanjang bulat, tiba tiba bapak Sigit menubrukku serta membaringkan tubuhku ke lantai.

“bapak, sebentar dong,” gua memprotes. “Masa bapak tega biarin Eliza tidur di lantai yg dingin gini? Nanti Eliza kan sakit?”

“Jadi gimana non?” tanya bapak Sigit yg kelihatan sudah tak sabar lagi.

“Ya di situ aja,” kataku sambil menunjuk sofa . “Di sofa kan masih lebih baik.”

“Waduh, non Eliza lupa ya? Bapak kan nggak bisa lihat?” bapak Sigit balik memprotes.

“Eh iya. Maap, lupa,” kataku dgn sedikit merasa bersalah. “Ya udah, abis ini Eliza anterin bapak Sigit ke sana. Tapi tolong bantuin Eliza bangun dong?”

“Beres non,” kata bapak Sigit sambil mengulurkan tangannya, begitu gua menyambut tangan , ia segera menarikku hingga gua berdiri di hadapannya.
Lalu dgn masih berpegangan tangan, gua melangkah mundur serta membimbing bapak Sigit menuju ke sofa. Tiba tiba gua teringat baju bapak Sigit yg tadi ketumpahan air minum. Tentu baju masih sedikit basah.

“bapak, bajunya nggak dilepas saja?” tanyaku setelah kita sudah sampai di depan sofa.

“Oh iya non. iya iya,” kata bapak Sigit.

Selagi bapak Sigit buru buru melepas kemeja batiknya, gua duduk di sofa serta berbaring telentang, menyajikan tubuhku yg sudah telanjang bulat ini pada bapak Sigit.
-x-
XII
Sengsara (Menjadi Budak Seks) Membawa Nikmat

Tanpa menunggu lama, bapak Sigit yg kini juga telanjang bulat naik ke sofa untuk mencari tubuhku. Begitu menemukanku, bapak Sigit langsung menyerbu serta menindihku. gua hanya bisa merintih manja selagi cumbuan bapak Sigit menghujani wajahku, sementara sepasang toket ku yg malang ini kembali menjadi sasaran remasan kedua tangannya .

Setelah menggumuliku sebentar, bapak Sigit meraih pergelangan kaki kananku, lalu ia menaikkan kaki kananku ini ke sandaran sofa. Berikutnya bapak Sigit memajukan badannya sambil menaruh kaki kiriku di samping pinggangnya, hingga bibir memek ku kini sudah berhadapan dgn kepala kontol bapak Sigit.

gua menggigit bibir saat bapak Sigit dgn nafsu yg berkobar mulai menggesek gesekkan ujung kontol nya pada bibir memek ku.

“Non. kok udah basah kayak gini?” guman bapak Sigit.

“Mmm. nggak tau deh.” jawabku dgn wajah yg terasa panas, gua malu sekali krn gua merasa seperti diingatkan bahwa sejak dari sekolah les balet tadi, gua terus menerus terbakar gairah.

“Bapak masukin sekarang ya?” tanya bapak Sigit lagi.

Belum juga gua menjawab, gua merasakan kepala kontol mulai membelah bibir memek ku yg tadinya masih terkatup rapat. Jantungku berdegup semakin kencang. gua merasakan kedua pahaku serta otot perutku di bagian bawah ini sampai sedikit mengejang saat batang kontol berukuran raksasa mulai memaksa untuk mengisi lobang memek ku.

“Aaw. ngghh.” gua merintih serta melenguh nikmat.

“Aduuh. seretnya nooon.” bapak Sigit meracau tak karuan saat kontol nya sudah tenggelam dalam lobang memek ku.

dgn lobang memek ku yg sudah terpaku oleh kontol yg begitu keras , gua hanya bisa diam menunggu waktu sebelum didera nikmat orgasme. bapak Sigit sendiri sempat mendiamkanku beberapa saat sebelum ia mulai menggerakkan pinggulnya untuk ngentot lobang memek ku yg saat ini sebenarnya sedang terasa begitu penuh.

“Mmmh.” gua merintih serta menggeliat keenakan di bawah tindihan bapak Sigit.

Selagi kita bersetubuh gua sempat memperhatikan wajah bapak Sigit yg kira kira berusia empat puluhan ini. gua mulai mengomel dalam hatiku. Duh, orang ini, mengapa juga ia melepas kacamatanya? meskipun juga terlihat jelek, rasanya masih mendingan waktu ia memakai kacamata hitam daripada sekarang. Sudah begitu, matanya bergerak liar seperti jelalatan, hingga membuatku tambah bergidik ngeri.

gua nyaris menjerit ketika tiba tiba wajah sudah begitu dekat dgn wajahku, mencari bibirku. krn gua tak mungkin bisa menghindar, gua memejamkan mataku kuat kuat. Jantungku berdegup kencang saat gua merasakan pagutan pada bibirku.

Sementara , tusukan kontol bapak Sigit pada lobang memek ku tambah menghebat. Rasa panas sudah menjalar ke seluruh tubuhku, bahkan rasa ngeri yg sempat menghinggapiku tadi sudah lenyap serta berganti dgn gairah yg tambah memuncak. Apalagi kemudian bapak Sigit menambah semua sensasi yg menyiksaku ini dgn memberikan remasan pada toket kiriku.

Maka dgn penuh gairah, gua membalas pagutan bapak Sigit dgn sepenuh hatiku. gua tak keberatan saat lidah bapak Sigit mulai membanjir memasuki mulutku, bahkan hal serasa menambah nikmat yg kurasakan saat berpagut bibir dengannya.

“Mmmh. ngghhh.” gua merintih serta melenguh keenakan krn saat ini bapak Sigit sendiri tambah bersemangat menghunjam hunjamkan kontol nya ke dalam lobang memek ku ini hingga terasa begitu ngilu serta nikmat sekali

Beberapa saat kemudian lobang memek ku berdenyut tak karuan, sangking enaknya gua mulai menggelepar hingga pagutan pada bibirku terlepas. Tubuhku mengejang hebat, kedua kakiku melejang tak karuan. Perutku sampai terangkat saat tubuhku tersentak sentak diterjang badai orgasme.

“Aaah. angghkk.” gua mendongak tak kuasa menahan nikmat, gua meremaskan telapak tangan kananku ini sekenanya ke sofa, sedangkan telapak tangan kiriku ini kutekankan di bagian bawah perutku.

Sesaat kemudian tubuhku seperti kehilangan tenaga, gua cuma bisa terbaring pasrah dgn tubuh yg sesekali tersentak saat bapak Sigit masih terus mengentot lobang memek ku.

“Kenapa non?” tanya bapak Sigit di antara dengusan nafasnya yg memburu.

“Mmm. enak.” gua mengguman pelan.

“Nanti bapak keluarin di dalam sini ya non?” tanya bapak Sigit dgn bernafsu. “Pasti lebih enak lagi.”.

“Terserah.” gua tidak membantah.

dgn penuh semangat bapak Sigit terus menggagahiku, hingga gua kembali tersiksa oleh rasa ngilu yg begitu nikmat pada lobang memek ku ini. meskipun nafasku kembali tersengal sengal akibat gairah seks gua terus terbakar, tapi saat ini gua sudah terlalu lemas untuk menggeliat keenakan.

“Non, gantian bapak yg tiduran ya?” tiba tiba bapak Sigit bertanya serta ia menghentikan gerakannya.

“Mmmh. Eliza udah capek bapak,” gua merintih pelan mencoba menolak.

“Nanti kan bapak pijitin,” bapak Sigit memaksa.

dgn malas gua mencoba berdiri, tapi gua lupa sama sekali kalau kontol bapak Sigit masih bersarang di dalam lobang memek ku. Akibatnya saat gua sudah hampir dalam posisi duduk, lobang memek ku teraduk dgn sukses, hingga gua melenguh keenakan serta kembali roboh ke sofa.

“bapak. lepasin dulu dong burungnya,” gua mengomel pada bapak Sigit dalam keadaaan terangsang.

“Waduh, tadi bapak kira non nggak mau,” kata bapak Sigit membela diri. “Sebentar non.”

“Ngghh.” gua kembali melenguh saat kepala kontol tertarik keluar dgn perlahan serta akhirnya lepas dari lobang memek ku..

“Kenapa non?” tanya bapak Sigit yg menyeringai lebar, sepertinya ia senang telah menaklukanku seperti ini.

“Nggak. nggak apa apa,” gua menjawab dgn hati yg mendongkol.

gua kembali mencoba berdiri, lalu bapak Sigit yg mungkin merasakan kalau gua sudah meninggalkan sofa, dgn santainya menggantikan posisiku serta berbaring telentang di atas sofa .

“Ayo non,” kata bapak Sigit yg menungguku dgn kontol nya yg tegak mengacung.

Diperlakukan seperti layaknya seorang budak seks seperti ini, entah kenapa gairah seks gua malah semakin terbakar. Tanpa menjawab ataupun membantah, gua naik ke sofa serta bersiap untuk menunggangi kontol bapak Sigit , meskipun tubuhku sudah terasa seperti remuk.

“Iya. gitu. aah.” bapak Sigit merintih serta meracau saat gua memasangkan kepala kontol nya pada lobang memek ku.

“Ngghh.” ganti gua yg melenguh nikmat selagi bapak Sigit terus merintih, saat gua menurunkan badanku serta memaksa lobang memek ku untuk menelan kontol .

bapak Sigit tak membiarkanku diam berlama lama, krn sesaat kemudian satu sentakan dari tubuhnya membuat kedua mataku terbeliak krn lobang memek ku serasa dipaku dari bawah. gua kembali melenguh serta kepalaku terdongak pasrah, seiring dgn tertekuknya punggungku ke belakang.

Namun kedua tanganku ini ditangkap serta ditarik oleh bapak Sigit ke arahnya. Maka tubuhku kembali maju ke depan hinga rebah serta menindih tubuhnya. bapak Sigit tak membiarkan bibirku menganggur, ia segera mendekap tubuhku serta mencari bibirku lagi. Saat ini kalaupun gua ingin, tak ada yg bisa kulakukan untuk mengelak, akhirnya bapak Sigit berhasil menemukan bibirku.

“Mmmh. mmmhhk.” gua merintih serta melenguh krn bapak Sigit sudah memagut bibirku sambil mulai menggerakkan pinggulnya serta ngentot lobang memek ku.

Tak ada yg bisa kulakukan selain menggeliat pasrah saat tubuhku tersentak sentak dipermainkan bapak Sigit. Rintihanku yg tertahan ini membuat gairah seks gua tambah bergolak, apalagi sekarang ini lobang memek ku terasa enak sekali.

Semua masih ditambah dgn ganasnya pagutan bibir bapak Sigit. Lidahnya menyeruak masuk ke dalam mulutku, ia menyedot semua air ludahku dgn sekuat kuatnya. Pandanganku sudah meredup, kedua tanganku tergeletak lemas di samping kepala bapak Sigit.

Saat ini bapak Sigit sepertinya benar benar ingin menikmati diriku sepenuhnya. Ia memeluk pinggangku serta menghunjam hunjamkan kontol nya sepenuh tenaga, sambil meminum habis air ludahku. Akhirnya gua memejamkan mataku, pasrah membiarkan diriku menjadi mainan bapak Sigit. Pelan tapi pasti, nafasku jadi semakin tak beraturan. Dipompa habis habisan seperti , lobang memek ku berdenyut tak karuan, dgn cepat gua kembali menyerah dilanda orgasme.

“Aah. aduh paaak.” gua menjerit keenakan krn bapak Sigit terus ngentot lobang memek ku tanpa belas kasihan. Ia seperti tak perduli betapa gua sedang menggeliat tak karuan krn tubuhku luluh lantak diterjang badai orgasme.

“Nggghh.” gua hanya bisa melenguh lenguh, ketika cairan cintaku serasa terus membanjir. Tubuhku mengejang ngejang susul menyusul, sedangkan kedua betisku melejang tak karuan. Hampir semenit gua tersiksa dalam kenikmatan ini, sebelum akhirnya tubuhku ambruk menindih bapak Sigit.

Saat ini gua sudah malas untuk mengatakan sesuatu. Nafasku tinggal satu satu, seluruh sambungan tulang di tubuhku ini serasa terlepas. Keringatku sudah membanjir deras, gua bahkan sudah tak merasakan dinginnya AC di ruangan ini.

“Capek ya non?” tanya bapak Sigit.

“Mmm.” gua hanya mengguman pelan.

“Bapak terusin ya,” tanya bapak Sigit lagi.

“Terserah.” gua menjawab dgn lemah.

bapak Sigit kembali menggerak gerakkan pinggulnya. Dalam hati gua bertanya tanya, apakah bapak Sigit ini memang seperti Wawan yg bisa memaksaku orgasme berulang ulang sebelum ia sendiri mencapai kepuasannya?

yg jelas kontol tetap keras seperti tadi, akibatnya gairah seks gua yg memang belum turun ini kembali terbakar. gua merintih serta melenguh, namun gua sudah tak bisa berbuat apa apa lagi untuk menikmati semua ini. Tak ada tenaga yg bisa kupakai untuk sekedar meremaskan jemari tanganku pada sofa ini, apalagi untuk menggeliat keenakan seperti tadi.

Dengusan nafas bapak Sigit tambah jelas terdengar. Ow, akhirnya. gua merasa sedikit lega krn gua sudah merasa capek sekali, gua berharap bapak Sigit sudah berejakulasi sebelum gua harus orgasme lagi. Tapi celakanya, bapak Sigit tambah bersemangat mengentot lobang memek ku. Sodokan demi sodokan yg kurasakan pada lobang memek ku ini tambah menghebat seiring dgn dengusan nafas bapak Sigit yg tambah tak karuan.

“Aaah. aduh paak.”

“Kenapa nooon. ooooh.”

“Nggggh. enaak. rasanya masuk semuaa. ngghhh.”

“Suka ya noon. errgh.”

“Iyaah.”

Setelah sempat saling meracau, tiba tiba bapak Sigit mengangkat dadanya hingga tubuhku yg menindihnya ini juga sedikit terangkat. Akibatnya kontol bapak Sigit melesak semakin dalam seakan hendak mencari dinding rahimku.

“Paak.” gua hanya bisa merintih sangking enaknya.

Jawaban bapak Sigit hanyalah dengusan serta geraman, selagi ia melakukan gerakan seperti sit up. gua semakin menderita, krn hunjaman demi hunjaman kontol bapak Sigit pada lobang memek ku ini jadi semakin terasa nikmat.

“Ngggh. ampun paaak.” gua meracau di antara lenguhanku.

seperti tadi, bapak Sigit hanya menjawab dgn dengusan serta geramannya. Pandanganku mulai meredup, rasa panas kembali menjalari tubuhku. gua menyandarkan kepalaku di pundak kiri bapak Sigit dgn pasrah. gua merasakan air ludahku mengalir dari sudut kiri bibirku, perlahan membasahi bagian daguku.

Dalam keadaan hancur hancuran seperti ini, gua masih disiksa dgn rasa ngilu yg amat nikmat pada lobang memek ku. Akhirnya gua mendapatkan orgasme lagi untuk yg ke sekian kalinya. gua hanya bisa merintih serta melenguh, selagi tubuhku tersentak sentak dalam pelukan bapak Sigit. Seluruh otot perutku terasa mengejang, kedua betisku terus melejang tak karuan.

“Aduh. memek nya non Elizaa. enaknyaa.” racau bapak Sigit. “Burung bapak seperti diurut urut di dalam sini”

“Nggghh.” gua hanya bisa melenguh keenakan.

Tiba tiba bapak Sigit menghentikan gerakan sit up yg sejak tadi dilakukannya , saat kontol nya terhunjam begitu dalam pada lobang memek ku.

“Eeerrgh. nooon. bapak keluarin. di dalam yaaah.”

“Iyaa paak.”

“Kalau non hamil.”

“Biar ajaaah.”

“Huu. huoooh.” bapak Sigit melolong panjang, tubuhnya berkelojotan, gua merasakan cairan hangat menyemprot lobang memek ku sampai beberapa kali.

Setelah tertekuk beberapa saat, tubuhku ambruk menindih bapak Sigit. gua menyembunyikan wajahku di pundak kanan bapak Sigit, sementara kedua tanganku tergeletak lemas di samping kiri serta kanan begitu saja. Kini tinggal desah nafas kita berdua yg bersahut sahutan memenuhi ruangan ini.

“Udah keluar non.” kata bapak Sigit dgn suara lemas

“Mmm.” gua mengguman tanpa daya, krn tenagaku serasa tersedot habis, bahkan gua terlalu lemas untuk sekedar melepaskan kontol bapak Sigit yg masih asyik mengisi lobang memek ku ini.
-x-
XIII
Nikmatnya Pijat Plus Plus

Sudah sekitar setengah jam ini gua harus rela menjadi budak seks bapak Sigit. Rasa capek yg hari ini sempat berkurang, kini kembali mendera tubuhku, terutama pada bagian betisku yg kembali terasa begitu pegal. gua jadi teringat dgn tawaran pijat bapak Sigit yg tadi.

“bapak Sigit. ayo tanggung jawab!” gua menagih janji bapak Sigit yg kini memeluk tubuhku serta sibuk membelai rambutku. “Tadi bapak Sigit bilang mau mijitin Eliza untuk ngilangin capek. Tapi sekarang Eliza malah jadi capek gini gara gara bapak Sigit.”

“Oalah, tak kiro tanggung jawab ngawinin non mari metu nang njero maeng,” kata bapak Sigit sambil tertawa. “Tiwas bapak wis seneng non.”

“Yee. maunya!” gua mencibir sambil terus berusaha mengatur nafasku.

(Untuk yg tak mengerti, bapak Sigit mengatakan bahwa dia mengira tanggung jawab yg kumaksud adalah mengawiniku, krn tadi ia sudah mengeluarkan spermanya di dalam lobang memek ku. dia sudah terlanjur senang

“Oh iya, non Eliza punya minyak tawon?” tanya bapak Sigit.

“Nggak punya sih,” jawabku heran. “Memangnya buat apa bapak?”

“Supaya lebih licin waktu mijat non,” jawab bapak Sigit. “Jadi kulitnya non nggak sampai sakit kalau kena gesek jari tangan bapak.”

Tiba tiba gua teringat dgn Vaseline body lotion yg ada di dalam tasku.

“Mmm. Eliza punya body lotion,” kataku pelan. “Kalau pakai boleh nggak?”

“Kalau bisa bikin kulit non licin, boleh saja non,” jawab bapak Sigit.

“Eliza ambilin bentar ya,” kataku pelan.

gua mengangkat tubuhku yg masih menindih bapak Sigit ini, hingga kontol yg sudah lunak serta tambah mengecil terlepas dari jepitan lobang memek ku. hal membuatku menggigit bibir menahan nikmat. dgn sedikit tertatih, gua melangkah ke arah tasku, untuk mengambil sebotol Vaseline body lotion berukuran kecil, yg memang selalu kutaruh di dalam situ.

“Ini bapak,” kataku sambil memberikan botol Vaselineku yg tutupnya sudah kubuka.

“Oke non, ayo bapak pijitin,” kata bapak Sigit. “Non Eliza tidur di sofa dulu, tengkurap ya.”

dgn mengumpulkan sisa tenagaku, gua melangkah ke sofa untuk berbaring tengkurap di atasnya, setelah gua mencari posisi yg paling nyaman.

“bapak Sigit,” kataku pelan. “Tolong pijitin betis Eliza dulu yah?”

“Beres non,” jawab bapak Sigit. “Tapi sekalian saja, bapak mulai dari telapak kaki dulu ya?”

“Mmm. terserah deh,” jawabku pasrah.

Sesaat kemudian bapak Sigit mulai memijit telapak kaki kananku. gua mendesis pelan krn rasanya sedikit sakit. Tapi setelah hampir lima menit, entah gua yg mulai terbiasa atau bapak Sigit mengurangi tekanan dari pijitan tangannya, perlahan gua mulai bisa menikmati pijatan bapak Sigit. Mungkin juga krn bapak Sigit sudah mulai menggunakan Vaseline untuk melicinkan kulit tubuhku yg akan dipijit.

harus kuakui, pijitan bapak Sigit membuat rasa pegal yg mendera betisku kananku sudah berkurang banyak.

“Enak kan non?” tanya bapak Sigit.

“Iya.” jawabku pelan sambil tetap memejamkan mataku.

bapak Sigit meneruskan pijitan sampai ke belakang pahaku, tambah terbuai saja. Rasanya memang nikmat sekali, membuatku ingin kaki kiriku juga mendapat pijitan seperti ini sekarang juga. seperti tahu akan harapanku, tak lama setelah bapak Sigit beralih ke telapak kaki kiriku. Sama seperti tadi, dari awalnya gua merasa sedikit sakit, lama lama pijitan terasa nikmat.

gua berpikir pijitan ini akan berlangsung wajar saja, sampai ketika bapak Sigit selesai memijit paha kiriku serta beralih ke sepasang bongkahan pantatku. Ketika pjitan sampai ke arah bawah di antara kedua pahaku, gua tahu bapak Sigit sengaja menyentuhkan jari jarinya sampai beberapa kali pada bibir memek ku.

“Mmmh.” gua merintih pelan.

“Kenapa non?” tanya bapak Sigit sambil menghentikan pijitannya.

“Jangan be.” gua tercekat sejenak. “Jangan begitu bapak.”

Hampir saja gua berkata jangan berhenti.

“Begitu gimana ya non?” tanya bapak Sigit yg kini malah meneruskan kenakalannya.

“Sssh.” gua mendesah. “Ya bapak.”

“Ini kenapa non? Enak?” tanya bapak Sigit yg terus menggoda bibir memek ku.

“Iya. tapi.” gua terkejut dgn jawabanku tadi serta wajahku terasa panas sekali.

bapak Sigit tertawa panjang, gua mulai menderita akibat sentuhan sentuhan nakal pada bibir memek ku .

“Mmmhh.” tiba tiba gua merintih panjang krn salah satu jari bapak Sigit dgn perlahan melesak masuk mengisi lobang memek ku, dgn cepat gairah seks gua terbakar lagi ketika jari yg nakal mengaduk aduk memek ku sampai kembali terasa ngilu.

“Lho bapak. katanya. ngghh. mau mijitin??” gua memprotes di antara lenguhanku.

“Ya ini kan lagi mijitin, non,” jawab bapak Sigit serta tangan satunya mulai memijit belakang pinggangku.

“Tapi. .” gua merengek tak tahu harus berkata apa. “Aaah.”

Jari bapak Sigit menusuk begitu dalam, lalu mengaduk dgn tanpa belas kasihan. gua merintih keenakan, kedua tanganku kugenggamkan pada dudukan tangan di sofa ini. Rasa ngilu yg mendera lobang memek ku tambah menjadi jadi, gua mulai menggeliat keenakan, ketika jari tangan tiba tiba meninggalkan lobang memek ku begitu saja.

“Ooh.” gua mengeluh kecewa, tapi bapak Sigit pura pura tidak tahu serta ia meneruskan pijitannya pada belakang pinggangku, padahal nafasku masih tersengal sengal akibat ulah jari tangannya tadi.

gua jadi teringat dgn perlakuan bapak Basyir padaku sewaktu di villa dulu. dgn menahan rasa kecewa yg bercampur dgn gairah, gua membiarkan bapak Sigit terus memijit tubuhku. Sulit sekali memadamkan gairah seks gua ini, terutama ketika bapak Sigit memijit bagian pinggir punggungku.

gua tahu bapak Sigit memang beberapa kali dgn sengaja menyentuhkan ujung jari jari tangannya pada toket ku. Namun kali ini gua tak berkata apa apa, krn gua tak mau membuat bapak Sigit malah tambah bersemangat menggodaku seperti tadi. gua hanya bisa menggigit bibir menahan gairah seks gua serta kembali meremaskan kedua telapak tanganku sekenanya pada sofa ini.

“Ayo non, berbaring telentang,” kata bapak Sigit setelah cukup lama memijit punggungku.

Jantungku berdegup kencang. Tadi waktu masih tengkurap saja, bapak Sigit sudah mencuri curi kesempatan untuk membuatku terangsang, apalagi kalau gua harus telentang. gua tahu kalau sebentar lagi tubuhku akan dijarah habis oleh bapak Sigit, tapi gua tak membantah, perlahan gua membalik badanku, hingga sekarang gua sudah tidur telentang di sofa ini.

Setelah gua tidak bergerak gerak lagi, bapak Sgiit mulai mencari kakiku. Ia menemukan pergelangan kaki kiriku, tangannya terus merayap ke telapak kakiku. Sesaat kemudian gua mulai merasakan pijitan di telapak kaki kiriku , seperti tadi, pijitan terus merayap hingga ke paha kiriku ini.

Ketika kedua pahaku sudah selesai dipijit, jantungku berdegup kencang. Kenakalan apa lagi yg akan dilakukan bapak Sigit terhadap tubuhku?

Ternyata dugaanku meleset, krn bapak Sigit malah mencari tangan kananku. Lalu ia memijit dgn lembut, mulai dari lengan atas sampai ke lengan bawah.


“Tangannya non Eliza ini halus sekali ya,” kata bapak Sigit sambil membelai punggung telapak tanganku.

“Masa sih bapak?” kataku sambil tersenyum kecil.

“Iya non. Bapak yakin yg punya ini pasti nona yg cantik sekali,” kata bapak Sigit lagi.

“Gombal deh,” kataku dgn menahan geli. “Memang ada hubungannya?”

“Ya ada non,” jawab bapak Sigit sambil meraba wajahku. “Kulit muka non ini juga sehalus tangannya non ini, jadi bapak nggak mungkin salah!”

“Ah. bapak bisa aja,” kataku dgn hati senang meskipun gua tahu bapak Sigit sedang menggombal.

Berikutnya bapak Sigit ganti memijit seluruh tangan kiriku. gua benar benar terbuai, rasanya nyaman sekali. Kalau saja gua memikirkan keadaan tubuhku yg telanjang bulat seperti ini, gua pasti menuruti rasa kantukku serta tidur begitu saja.

Setelah kedua tanganku selesai, bapak Sigit mulai memijit kedua pundakku hingga ke leher. Beberapa kali gua merintih nyaman, menikmati pijitan bapak Sigit ini. Namun ketika pijitan beralih ke bagian dadaku, keadaanku kembali kacau krn terbakar gairah.

“Eh. sssh. mmmhh.” gua mulai sibuk mendesah serta merintih.

Kedua toket ku yg malang ini kembali menjadi mainan bapak Sigit. Rasanya hanya sebentar saja ia benar benar memijit, lalu berikutnya gua hanya merasakan rabaan serta belaian lembut pada kedua toket ku ini Sudah gitu, nih orang pakai senyum senyum lagi, membuat hatiku tambah mendongkol.

Tapi entah kenapa gua tak tega juga untuk menegur bapak Sigit. Mungkin krn gua merasa iba dgn keadaan matanya yg buta. Maka gua hanya diam saja, membiarkan bapak Sigit yg sekarang ini duduk di samping kiriku untuk berbuat sesuka hatinya pada kedua toket ku ini.

Ketika bapak Sigit mulai menurunkan kepalanya, gua sudah tahu apa yg akan ia perbuat. Jantungku berdegup kencang serta nafasku mulai memburu. Kedua mataku kupejamkan serta jemari tanganku kuremaskan pada sofa ini.

“Ssshh.” gua mendesah nikmat ketika ia sudah berhasil menemukan puting toket kiriku ini serta memagut dgn ganas.

“Eh. sakit bapak.” gua merintih ketika tiba tiba bapak Sigit beberapa kali meremaskan tangan kanannya kuat kuat pada toket kiriku selagi ia mencucup putingku ini.

“Maaf non, bapak lagi pingin nyusu,” kata bapak Sigit. “Kok nggak bisa keluar ya susunya non? Padahal bapak pingin sekali minum susunya non Eliza.”

“Ngghh.” gua melenguh serta menggeliat pelan. “Ya mana bisa bapak. Eliza kan belum punya bayi. aduuh.”

“Masa nggak bisa sih non?” tanya bapak Sigit dgn nada tak percaya, ia kembali mencucup puting toket ku kuat kuat.

“Aaaww.” gua merintih lemah.

“Kalau gitu bapak coba satunya aja,” kata bapak Sigit.

“Eh. bapak. jangan. ooooh.” gua kembali merintih ketika ganti puting toket kananku yg menjadi korban pagutan bibir bapak Sigit.

Setelah hampir setengah menit bapak Sigit mencoba meminum susu dari puting toket kananku ini, tentu saja tak berhasil, barulah ia menyerah.

“Wah, kok nggak bisa ya?” keluh bapak Sigit.

“Ya nggak bisa lah bapak,” gua menggerutu dgn hati mendongkol. “Kan tadi Eliza udah bilang kalau belum punya bayi. Lagian, memangnya Eliza ini sapi ya pakai diperas seperti ??”

“Aduh maaf ya non,” kata bapak Sigit. “Abisnya bapak tadi kepingin sekali.”

Baru saja minta maaf, bapak Sigit sudah kembali mengulum puting toket kiriku. Bahkan ia membelai serta meremasi toket kananku ini dgn kedua tangannya. Sekali ini gua hanya bisa memejamkan mataku, merintih serta menggeliat pasrah.

Ketika akhirnya bapak Sigit puas menjadikan kedua toket ku ini sebagai mainannya, ia beralih memijat perutku dgn lembut. Rasanya nyaman sekali, hingga meskipun gairah seks gua belum sepenuhnya reda akibat ulah bapak Sigit tadi, kini gua kembali mengantuk. gua terus memejamkan mataku serta merintih perlahan, menikmati pijatan bapak Sigit.

Tapi lagi lagi hal cuma berlangsung sebentar. Ketika pijatan mengarah tambah ke bawah perutku, gua mulai sibuk mendesah, krn bibir memek ku sudah menjadi korban kenakalan jemari bapak Sigit.

“Mmhh.” gua merintih perlahan. “bapak. tadi kan udah.”

“Udah apa non?” jawab bapak Sigit serta ia malah tambah bersemangat menggoda bibir memek ku dgn jari jarinya .

gua menggeliat pelan, rasa panas kembali menjalari seluruh tubuhku. ketika jemari mengintip lobang memek ku beberapa kali, jantungku berdegup kencang, krn gua sudah tahu apa yg akan terjadi pada lobang memek ku ini.

memang beberapa saat kemudian, salah satu jari tangan bapak Sigit tenggelam ke dalam lobang memek ku.

“Aduh. bapak. kok dimasukin lagi sih.” gua merengek.

“Abisnya hangat hangat enak non,” jawab bapak Sigit.

“Ngaco ah. aaah.” gua tak bisa mengomel lebih lama krn jari jari mulai bergerak mengaduk lobang memek ku.

tambah lama gerakan jari bapak Sigit di dalam sana menjadi semakin liar, membuatku menggelepar serta menggeliat keenakan.

“bapak. udaah.” gua meracau di tengah penderitaanku ini.

jawaban yg kuterima dari bapak Sigit membuat kedua mataku terbeliak. Tanpa belas kasihan bapak Sigit malah memasukkan satu jarinya yg lain, hingga lobang memek ku harus menelan dua jari tangannya sekaligus. Kedua kakiku mengejang sesaat, gua hanya bisa menggeleng gelengkan kepalaku kuat kuat saat dua jari mulai mengaduk aduk lobang memek ku.

“Ngggh. ampun paak.” gua melenguh keenakan saat cairan cintaku harus kembali membanjir.

Dengusan nafas bapak Sigit mengiringi orgasme yg menderaku. Ia begitu bersemangat mengaduk aduk lobang memek ku. Akibatnya tubuhku mengejang tak karuan, gua hanya bisa melenguh keenakan krn didera orgasme yg datang susul menyusul. Seluruh tubuhku terus tersentak hebat, tenggorokanku serasa tercekat hingga gua sulit sekali bernafas.

gua tambah tersiksa krn otot perutku ini mengejang serta mengejang. Keringat membasahi sekujur tubuhku. Entah sudah berapa banyak cairan cinta yg mengalir keluar dari lobang memek ku yg terasa ngilu tak karuan ini.

“Nggh.” gua melenguh lemah serta tubuhku tergeletak pasrah ketika akhirnya bapak Sigit menghentikan adukan kedua jarinya pada lobang memek ku ini.

Nafasku tersengal sengal tak karuan. Denyutan demi denyutan otot lobang memek ku masih begitu terasa. Sesekali tubuhku tersentak kecil menikmati sisa orgasmeku. Rasanya lemas sekali, sambungan tulang tulang di tubuhku ini sepertinya sudah terlepas semuanya. Jemari kedua tanganku ini kuremaskan sebisaku pada sofa ini.
-x-
XIV
Pembantaian Terakhir

Dengusan nafas kita berdua masih cukup keras, ketika tiba tiba gua mendengar suara bapak Sigit yg memanggilku.

“Non Eliza?”

“Mmm.”

“. burung bapak bangun lagi.”

“Burung kok nakal sekali sih bapak?”

“Nggak tau non, tapi bapak jadi kepingin sekali main sama non Eliza lagi.”

“Duh, lagi?”

“Iya non, satu kali iniii aja. Toh abis ini bapak kan belum tentu bisa ketemu non lagi?”

gua menghela nafas panjang serta membuka mataku untuk melihat kontol bapak Sigit . Ternyata kontol memang sudah kembali tegak mengacung. Tiba tiba lobang memek ku terasa ngilu ketika gua membayangkan kontol akan kembali mengisi lobang memek ku ini.

“Mmmh.” gua merintih pelan. “Iya deh.”

Setelah menjawab permintaan bapak Sigit, gua pikir ia akan segera menindih tubuhku serta mengentot lobang memek ku dgn penuh nafsu. Tapi ternyata dugaanku salah. bapak Sigit memang naik ke sofa serta menindih tubuhku, namun ia hanya menempelkan kepala kontol nya pada bibir memek ku, sementara ia mencari wajahku, lalu mencumbuiku dgn mesra.

Diperlakukan dgn lembut seperti ini, gua jadi merasa senang. Maka gua memeluk punggung bapak Sigit serta balas mencumbu wajahnya dgn sepenuh hatiku. gairah seks gua naik dgn cepat serta jantungku berdegup kencang, apalagi saat gua merasakan kepala kontol bapak Sigit bermanja manja pada bibir memek ku.

tambah lama, gua merasa bapak Sigit tambah bernafsu mencumbui wajahku. Bahkan kemudian ia mencari bibirku, lalu memagut dgn ganas. gua sedikit gelagapan, namun berikutnya gua bisa menguasai diri, bahkan gua mulai balas memagut bibir bapak Sigit.

“Mmmh. mmmm.” gua merintih dalam keadaan terbakar gairah.

Tiba tiba bapak Sigit menghentikan pagutannya. Lalu ia menarik tubuhku hingga gua terduduk di hadapannya.

“Non Eliza, bapak haus,” kata bapak Sigit.

“Eh? bapak Sigit mau minum?” tanyaku ragu. Air minum di kedua gelas yg kubawa tadi kan sudah habis.

“Iya non,” jawab bapak Sigit. “Mau minum air ludahnya non. Boleh nggak non?”

Mendengar permintaan bapak Sigit ini, perasaanku benar benar tersengat. gua menundukkan wajahku sejenak, namun kemudian dgn penuh gairah gua memeluk tubuh bapak Sigit serta menindihnya. Lalu gua memagut bibir bapak Sigit serta melesakkan lidahku ke dalam mulutnya.

Jantungku berdegup kencang sekali saat bapak Sigit yg balas memeluk tubuhku ini mulai mengulum lidahku. gua merasa semua air ludah di lidahku ini diseruput habis olehnya. Ciuman ini benar benar panas serta gairah seks gua tambah terbakar saja.

“Mmmhh.” gua merintih manja ketika akhirnya pagutan kita terlepas, gua menyembunyikan kepalaku di pundak kiri bapak Sigit.

“Non Eliza,” bapak Sigit memanggilku.

“Iya.” desahku pelan dgn pandangan yg tambah meredup.

“Bapak masih haus,” kata bapak Sigit mesra. “Pingin minum lagi. Tapi sambil main ya non?”

Tanpa menjawab, dgn tenaga yg tersisa, gua mengangkat pinggulku sedikit serta menggerakkan tangan kiriku ke tengah tubuhku serta bapak Sigit, mencari kontol nya yg sudah merindukan lobang memek ku ini. Setelah gua menemukannya, gua memasangkan kepala kontol pada bibir memek ku.

“Ngggh.” gua melenguh nikmat ketika pinggulku ini kuturunkan hingga kontol bapak Sigit kembali mengisi lobang memek ku.

“Ooooh.” rintih bapak Sigit. “Enaknya noon.”

gua tidak melupakan permintaan bapak Sigit. Sesaat kemudian gua mengangkat wajahku yg sejak tadi kusandarkan di pundaknya, lalu bibir kita kembali saling berpagut. dgn penuh penyerahan, gua melolohkan air ludahku ke dalam mulut bapak Sigit selagi ia mulai mengentot lobang memek ku.
Rintihan serta desahan kita berdua saling bersahutan memenuhi ruangan ini. kita bersetubuh dgn panas, gerakan kita berdua tambah liar. gua melenguh tertahan saat bapak Sigit kembali menyiksaku dgn gerakan sit up seperti tadi. Hunjaman kontol yg berukuran raksasa jadi semakin terasa, membuatku menggeliat keenakan dalam pelukan bapak Sigit.

“Mmmhhh. anggghhkk.” punggungku sampai terdongak ketika gua melenguh sejadi jadinya.

“Enak ya non? Heenggh!” geram bapak Sigit.

“Iya. enak.” gua meracau dgn tubuh yg terus menggeliat.

“Kenapa. kok enak non. eeergh.” geram bapak Sigit yg mempererat pelukannya pada pinggangku sambil menghunjamkan kontol nya dgn begitu dalam pada lobang memek ku ini.

“Aaawww. soalnya burung . masuk semuah.” gua terus meracau tak karuan menikmati rasa ngilu yg tambah menjadi pada lobang memek ku ini.

Tiba tiba bapak Sigit memeluk punggungku, lalu ia beranjak duduk hingga gua juga duduk di hadapannya dgn kontol nya yg masih menusuk lobang memek ku. Gerakan bapak Sigit membuat lobang memek ku teraduk kontol nya yg terus berdenyut , hingga tubuhku bergetar hebat. gua memejamkan mataku menikmati semua , gua terlalu malas untuk mengatupkan bibirku yg masih ternganga ini meskipun gua merasakan air ludahku mulai mengalir dari ujung kiri bibirku.

Dalam posisi duduk seperti ini, bapak Sigit menggoyangkan pinggulnya maju mundur, hingga kepalaku terdongak ke belakang saat rasa nikmat yg amat sangat mendera lobang memek ku. gua tak bisa ke mana mana, krn pelukan bapak Sigit begitu erat, tapi gua memang tak berniat untuk melepaskan diri, dalam keadaan terbakar gairah gua malah balas menggoyangkan pinggulku, hingga lobang memek ku tambah teraduk aduk oleh kontol bapak Sigit.

“Ngggh. ngggghh.” gua melenguh panjang saat gua harus kembali takluk pada terjangan badai orgasme untuk yg ke sekian kalinya ini.

Tubuhku menggeliat hebat. Kepalaku terkulai ke depan, tersandar di pundak kiri bapak Sigit. Jemariku kuremaskan pada kulit punggung bapak Sigit. Nafasku tersengal tak karuan. Kini gua mulai kelelahan, rasanya gua sudah capek sekali serta mengantuk. gua tak juga mengatupkan bibirku meskipun gua merasa air ludahku kembali mengalir dari ujung bibir kananku, rasanya saat ini gua begitu lemas untuk melakukan apapun.

Belum juga orgasmeku reda, bapak Sigit memajukan badannya serta menindih tubuhku. gua menggeliat lemah krn kontol bapak Sigit yg sejak tadi tertanam dalam lobang memek ku ini kembali bergerak mengaduk serta ngentot. gua merintih ldan menggeliat perlahan, namun tambah lama rasa ngilu pada lobang memek ku ini semakin menyiksaku.

“Aaaah. paaaak. aduuuh.” akhirnya gua kembali meracau serta sekali ini gua harus menjerit keenakan. “Nggghhh. ampun paaak.”

Tubuhku menggeliat serta mengejang hebat, kedua kakiku melejang lejang tak karuan. Cairan cintaku serasa membanjir begitu banyak. gua merasa mataku terbuka, tapi gua tak melihat apa apa. gua masih terus dihajar badai orgasme ini ketika bapak Sigit mulai mendengus tak karuan.

“Heengggh. enaknya noon.” bapak Sigit juga mulai meracau.

gua sudah tak bisa menanggapi, tubuhku terus tersentak serta nafasku tersengal sengal.

“Eerrghh.. huaaaah.” geram bapak Sigit selagi tubuhnya berkelojotan, gua kembali merasakan semburan cairan hangat dalam lobang memek ku.

gua tergeletak lemas di sofa dalam keadaan ditindih bapak Sigit, dgn kontol nya yg masih mengisi lobang memek ku. Tubuh kita berdua basah oleh keringat, meskipun sebenarnya AC ruangan ini dingin sekali. Sementara bapak Sigit terus mencumbui wajahku, gua hanya memejamkan mataku sambil berusaha mengatur nafasku.
-x-
XIV
Ketika Tukang Servis Piano Pulang

Setelah istirahat beberapa saat lamanya, akhirnya gua merasa tenagaku sedikit pulih.

“bapak Sigit, berat ah,” kataku sambil mencoba mendorong tubuh bapak Sigit yg masih enak enakan menindihku.

“Oh iya, maaf non,” kata bapak Sigit. “Abis enakan tidur di badannya non daripada di sofa.”

“Yee. Eliza kan bukan kasur,” gua memprotes. “Ayo bapak. turun dong.”

bapak Sigit tertawa, lalu ia melepaskan tindihannya hingga kontol juga ikut tertarik lepas dari lobang memek ku, membuatku sempat mendesis lirih. Lalu ia turun serta duduk di sampingku.

“bapak, liat nih, Eliza capek lagi gara gara bapak,” gua mengeluh pelan. “Tolong pijitin kaki Eliza lagi ya? Tapi jangan pakai gituan lagi bapak.”

“Iya non, cuma pijit saja kok,” kata bapak Sigit. “Bapak janji.”

Sambil memijit kakiku, bapak Sigit mulai mengajak gua mengobrol.

“Non Eliza, kalau piano ini sudah waktunya diservis lagi, non mau nggak, datang lagi untuk nemenin bapak?”

“Mmm. nggak janji deh bapak. Lagian, waktu kan belum tentu rumah Cie Natalia ini kosong lagi seperti sekarang?”

“Kalau gitu, saya bisa ketemu sama non Eliza lagi nggak?”

“Nggak tau juga sih. Memangnya kenapa bapak?”

“Bapak pasti kangen sama non Eliza.”

gua diam tak tahu harus menjawab apa mendengar kata kata bapak Sigit yg terakhir ini. bapak Sigit sendiri juga diam sambil meneruskan pijitannya pada kedua betisku. Sekitar lima menit kemudian, rasa pegal pada betisku sudah berkurang banyak.

“Udah bapak, pegalnya udah hilang. Terima kasih,” kataku pada bapak Sigit.

“Iya non,” kata bapak Sigit dgn nada sedih.

“Kok sedih gitu sih bapak?” tanyaku sambil beranjak duduk, dgn iba gua memandang bapak Sigit.

“Sungguh bapak berharap bisa ketemu non lagi,” jawab bapak Sigit. “Dari semua langganan bapak, cuma non Eliza yg memperlakukan bapak sebaik ini.”

gua sedikit terharu mendengar kata kata bapak Sigit. gua langsung membantu bapak Sigit yg meraba raba lantai mencari pakaiannya. Ketika gua memakaikan celana dalam bapak Sigit, gua melihat sisa cairan putih di ujung kepala kontol bapak Sigit, sedangkan batang kontol nya basah mengkilat, pasti oleh cairan cintaku. tiba tiba saja gairah seks gua kembali bangkit hingga nafasku jadi sedikit memburu.

“bapak Sigit,” gua berkata pelan sambil membelai kontol bapak Sigit. “Eliza boleh bersihkan burung ini sebelum bapak pulang?”

“Boleh non Eliza,” jawab bapak Sigit cepat. “Terima kasih non yg baik.”

Tanpa berkata apa apa lagi gua memajukan wajahku hingga kepala kontol berada dalam kuluman mulutku. kontol sudah tak sekeras tadi. Perlahan gua menggunakan lidahku untuk menjilat bagian ujungnya, lalu gua mencucup kepala kontol serta menyeruput semua sisa sperma bapak Sigit yg tadi disemprotkan ke dalam lobang memek ku.

“Oooh.” bapak Sigit mulai meracau. “Katanya jangan pakai gituan. oooh. terus noon.”

Mendengar racauan , gua menahan geli. Tapi gua terus membersihkan kepala kontol dgn lidahku. Setelah kurasa cukup, gua memajukan wajahku lagi, lalu mengulum cairan cintaku sendiri yg membasahi kontol . Batang kontol kujilat memutar, hingga pemiliknya berkelojotan. Reflek gua memeluk kedua paha bapak Sigit dgn kedua tanganku, krn gua tak ingin kontol sampai lepas dari kulumanku sebelum gua selesai membersihkan semua cairan cintaku yg menempel di sana.

“Aduuh. aduh nooon. eeergghh.” bapak Sigit menggeram keenakan menikmati servis oralku ini.

gua terus menghisap kontol sampai kurasa sudah bersih dari semua cairan cintaku, lalu dgn mengatupkan bibirku erat erat, gua menarik kepalaku menjauh, hingga akhirnya kontol terlepas seluruhnya dari kuluman mulutku. Melihat kontol terkulai lemas, gua hampir tak kuat menahan geli.

“Ooooh. oooh.” rintih bapak Sigit.

“Iya iya, udah selesai kok bapak,” kataku sambil mengelap kontol bapak Sigit dgn tissue.

“Lagi juga nggak apa apa non,” kata bapak Sigit.

“Ih, udah bersih kok,” jawabku sambil membelai kontol terakhir kali, sebelum gua membantu bapak Sigit memakai semua pakaiannya.


Setelah , gua membantu mengambilkan tas serta tongkat milik bapak Sigit. Ketika gua memberikan kedua barang , tiba tiba gua teringat sesuatu.

“bapak Sigit, abis ini bapak pulang naik apa?” tanyaku ingin tahu.

“Ada tukang becak yg masih tetangga bapak, yg biasa jemput bapak dgn becaknya. Dia selalu menjemput bapak kira kira satu setengah jam setelah antar bapak datang ke tempat langganan,” jawab bapak Sigit.

“Ooo.” gua mengguman pelan

tiba tiba saja jantungku berdebar kencang. gua ingat kalau sampai sekarang gua tidak mengunci pintu ruang piano ini. Kalau saja tadi tukang becak yg menunggu bapak Sigit sampai masuk ke dalam sini, lalu melihat gua sedang ngeseks dgn bapak Sigit, entah bencana seperti apa yg akan menimpa diriku.

“Ya sudah, bapak pulang dulu ya non,” bapak Sigit berpamitan padaku, menyadarkanku dari lamunanku.

“Iya. eh bapak, tunggu sebentar,” gua menahan tangan bapak Sigit. “Eliza anterin bapak ke depan, tapi Eliza pakai baju dulu ya.”

“Oh iya. Makasih non yg baik,” kata bapak Sigit.

gua tersenyum kecil. yg pertama kucari di lantai adalah celana dalamku. gua mengenakan benda mungil , lalu gua membuka tasku untuk mengambil kaos ganti serta celana jeansku yg ada di dalam sana, tapi perhatianku tertuju pada amplop putih, titipan Cie Natalia tadi.

teringat dgn Cie Natalia, tiba tiba gua merasa ngeri sekali. gua tak berani membayangkan apa yg terjadi kalau sampai tadi Cie Natalia tiba tiba masuk ke dalam sini serta melihat gua sedang ngeseks dgn bapak Sigit. Duh, gua harus cepat berpakaian nih.

“Aduh, maaf bapak. Eliza sampai lupa. Ini bapak, ongkos servis piano yg dititipkan Cie Natalia,” kataku sambil memberikan amplop pada bapak Sigit.

“Oh iya. bapak sendiri juga lupa. Habisnya, bapak mikirin non terus. Terima kasih ya non Eliza,” kata bapak Sigit yg lalu memasukkan amplop ke dalam tasnya.

“Sama sama bapak,” jawabku sambil mengenakan kaos ganti serta celana jeansku dgn sedikit terburu buru.

Setelah gua berpakaian dgn pantas, gua mengumpulkan bra serta kostum baletku yg sedikit basah , juga stockingku yg ikut berserakan di lantai serta ikat rambutku yg tadinya sempat kulepas , lalu gua menyimpan semuanya ke dalam tasku. Tak lupa gua sekalian memasukkan ponselku ke dalam tasku.

“Mari bapak, Eliza anterin keluar,” kataku pada bapak Sigit.

“Non Eliza, boleh nggak bapak minta cium sekali saja sebelum pulang?” tanya bapak Sigit penuh harap.

“Iya deh, boleh,” kataku dgn menahan geli. “Tapi sekali aja ya bapak?”

gua melingkarkan tanganku ke belakang leher bapak Sigit sambil menyerahkan bibirku padanya. bapak Sigit mencium bibirku dgn penuh perasaan, hingga gua memejamkan mata menikmati kemesraan serta hangatnya ciuman bapak Sigit .

“Makasih non,” kata bapak Sigit. “Makasih.”

gua menundukkan kepalaku tanpa menjawab. Tangan kiri bapak Sigit kugandeng, ia kutuntun sampai keluar ke pintu gerbang. Di sana, mbak Lastri sedang menunggu di pintu gerbang yg terbuka sedikit , kelihatannya ia sedang mengobrol dgn seseorang.

Setelah gua melangkah hingga cukup dekat dgn mbak Lastri, gua baru bisa melihat bahwa mbak Lastri sedang berbicara dgn seorang tukang becak. Tampaknya ia adalah tetangga bapak Sigit yg sudah menunggu di sini untuk menjemput.

Jantungku kembali berdegup kencang. Saat ini gua merasa sedikit tegang krn teringat dgn kedua toket ku yg tidak tertutup oleh bra. gua berharap bapak Sigit yg baru saja menikmati tubuhku ini tidak sampai hati untuk berbuat macam macam di hadapan tukang becak , apalagi sekarang ini ada mbak Lastri. Belum lagi kalau Cie Natalia tiba tiba muncul.

Setelah sedikit basa basi serta bapak Sigit akhirnya pulang, gua merasa lega serta segera masuk ke dalam rumah, menuju ke kamar Cie Natalia. gua menyiapkan handuk, satu stel baju tidur serta tentu saja bra serta celana dalamku, lalu gua masuk ke dalam kamar mandi yg ada di dalam kamar Cie Natalia.

dgn cepat gua mandi keramas sepuasku, membersihkan tubuhku dari semua sisa keringat serta Vaseline yg melekat pada tubuhku. Tentu saja gua tak lupa membersihkan lobang memek ku yg tadi sempat terisi sperma bapak Sigit sampai dua kali, sebelum akhirnya gua mengeringkan rambutku serta juga sekujur tubuhku dgn handuk yg kubawa tadi.

Diam diam gua bersyukur krn gua tadi pagi gua tidak lupa minum pil anti hamil. Setelah selesai, gua mengenakan semuanya, bra, celana dalam, juga baju tidurku. Saat ini kakiku sudah tak terasa begitu pegal. Mungkin krn pijatan bapak Sigit sebelum pulang tadi benar benar manjur.

Tiba tiba gua teringat, ruang piano tadi. Terutama sofa yg menjadi saksi bisu adegan panas antara diriku dgn bapak Sigit di dalam ruang piano tadi. Bagaimana kalau mbak Lastri sekarang ini masuk ke ruang piano untuk mengambil baki serta gelas minuman yg masih ada di sana, lalu ia melihat sisa sisa tanda persetubuhanku dgn bapak Sigit yg mungkin tertinggal di sofa ?

Memikirkan hal , gua cepat mengambil sekotak tissue serta sebotol spray pewangi ruangan yg ada di meja Cie Natalia , lalu dgn jantung berdebar gua melangkah dgn sedikit cepat menuju ke ruang piano. Ketika gua menyalakan lampu, jantungku serasa berhenti berdetak, krn baki minuman serta gelas gelasnya sudah tidak ada lagi.

yg pertama kuperhatikan adalah sofa . Jangan sampai sofa ternoda oleh ceceran sperma ataupun cairan cintaku. Untung sofa berbau Vaseline, jadi gua rasa mbak Lastri tak akan curiga yg tidak tidak.

Setelah gua memastikan tak ada sisa ataupun tanda dari persetubuhanku dgn bapak Sigit, gua menyemprotkan pewangi ke tengah ruangan ini. Lalu gua mematikan lampu serta keluar dari sini, untuk kembali ke kamar Cie Natalia.

Selagi melangkah ke sana, tiba tiba gua teringat tawaran Dedi. Ia mengatakan kalau ayahnya adalah tukang pijat tuna netra yg ahli menghilangkan rasa pegal serta capek. gua baru saja merasakan dipijat oleh bapak Sigit yg juga seorang tuna netra, rasanya memang nyaman sekali.

Tampaknya waktu Dedi memang tidak berbohong padaku. Setelah menutup kembali pintu kamar Cie Natalia, gua mengembalikan pewangi ruangan ini sambil terus melamun. Mungkin kelak gua akan mencoba untuk pijat di tempat ayahnya Dedi.

Tapi tiba tiba gua berubah pikiran. yg benar saja! dgn bapak Sigit yg cuma satu orang pun, tadi gua sampai orgasme berkali kali saat mendapatkan servis pijat plus plus. Lalu apa yg akan terjadi padaku kalau sampai gua nekat menerima tawaran Dedi untuk dipijit oleh ayahnya yg juga seorang tuna netra ?

gua sangat yakin, Dedi tak akan diam saja melihat gua menikmati pijitan ayahnya. Mungkin sekali ia akan menggagahiku selagi ayahnya memijit toket ku, lalu ganti ayahnya yg mengentotkan kontol nya pada lobang memek ku selagi Dedi memaksaku membersihkan kontol nya dgn mulutku.

Memikirkan semua , tiba tiba lobang memek ku terasa berdenyut denyut. pikiranku tambah kacau ketika gua membayangkan bahwa mungkin saja gua akan dipaksa oleh mereka untuk menginap. Bisa bisa gua mati orgasme akibat digilir oleh mereka ayah serta anak sampai berkali kali sepanjang malam.

Tiba tiba ketika gua merasakan sentuhan jari tangan pada selangkanganku. gua segera melihat ke bawah, mendapati jari tanganku yg mulai menggoda bibir memek ku ini, membuatkuku segera tersadar dari lamunan erotisku ini.

Duh, mengapa juga gua teringat sama si kurang ajar ? gua mengomeli diriku sendiri serta berusaha memikirkan hal yg lain, sambil memasukkan semua baju gantiku ke keranjang baju kotor. Lalu gua memastikan tas sekolahku sudah siap untuk besok.

gua sempat melihat jam dinding, sekarang sudah jam setengah sepuluh lebih sedikit. gua tak lupa mengambil ponselku yg masih berada di dalam tasku, untuk mengganti profilnya ke mode general, saat gua baru tahu ada SMS yg masuk beberapa menit yg lalu.

‘Eliza, hari ini kamu udah istirahat dgn baik kan? Jangan terlalu capek ya, nanti kamu bisa sakit lagi, apalagi sebentar lagi kan ada ujian.’

dgn hati yg berbunga bunga, gua cepat membalas SMS dari Andy, memberitahunya kalau gua seharian ini sudah beristirahat dgn baik. gua juga sudah merasa lebih segar. Tak lupa gua mengucapkan thanks di akhir balasanku.

Mendapat perhatian Andy seperti ini, gua merasa bahagia hingga gua tersenyum senyum sendiri. Tapi tiba tiba hatiku meronta pilu krn gua merasa telah membohongi Andy. Kedua mataku membasah serta gua hampir menangis.

Baru beberapa jam yg lalu, saat gua dgn tak tahu malu telah menggoda seorang tukang servis piano yg buta, mulai dari bertelanjang tubuh di hadapannya, lalu memberikan servis oral padanya hingga nafsunya bangkit terhadapku, melayani keinginannya untuk ngeseks denganku.

gua masih ingat bagaimana gua sempat meracau tak karuan menikmati persetubuhan kita hingga orgasme sampai berkali kali di dalam pelukannya. yg paling parah dari semua , gua bahkan menerima tawaran bapak Sigit untuk menukar tubuhku sebagai imbalan untuk servis pijat plus plusnya.
Lalu, apa bedanya gua dgn pelacur? Apakah gua masih layak untuk mendapatkan semua perhatian Andy? Apakah gua masih layak untuk menjadi kekasihnya? Apakah gua pantas untuk bermimpi menjadi istrinya? Bukankah Andy berhak untuk mendapatkan perempuan yg mampu mempersembahkan kesucian tubuhnya pada Andy di malam pertamanya sebagai pengantin?

Memikirkan semua , gua semakin terbenam dalam kesedihanku. Perlahan air mataku mulai jatuh membasahi kedua pipiku. Apalagi ketika ada lagi SMS yg masuk dari Andy, yg mengucapkan selamat tidur padaku.

Perhatian Andy yg harusnya membahagiakan diriku ini malah membuat hatiku semakin sakit. gua membalas SMS dalam isak tangisku, setelah gua merebahkan diri di atas ranjang Cie Natalia serta menyembunyikan tubuhku ke dalam bed cover.

“Andy. I’m sorry,” keluhku dalam hati, tangisku pun tambah menjadi.

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14 memek binal cewek cina doyan kontol seks bebas telanjang toket hisap
Klik foto untuk memperbesar gambar

gua memejamkan mataku, namun wajah Andy yg tersenyum malu malu saat melihatku malah tergambar semakin jelas dalam pikiranku. gua sadar bahwa gua tidak pantas menjadi kekasih Andy, tapi gua tak tahu harus bagaimana kalau gua sampai kehilangan dia. Maka gua hanya bisa menangis sedih, menyesali keadaanku sekarang ini.

Entah sudah berapa lama gua menangis hingga akhirnya gua merasa lelah serta mengantuk. Dalam kesedihanku ini, perlahan gua mulai tak ingat apa apa lagi serta gua sudah tertidur pulas, mengistirahatkan tubuh serta pikiranku dari hari yg melelahkan ini, setidaknya supaya gua cukup kuat untuk menjalani hari esok.

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 1
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 2
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 3
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 4
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 5
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 7
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 9
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 10
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 13
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14, cerita seks , ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14 memek binal cewek cina doyan kontol seks bebas telanjang toket hisap, kisah porno, kisah sex bokep, sex, ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com