ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6

“Stanley… jangan jauh jauh dari cie cie”, aku setengah berteriak mengingatkan Stanley yg terus berlari ke arah lain dari tempat duduk kami di kereta api. Aku terpaksa mengejarnya, kuatir kalau ada apa apa dgn sepupu kecilku itu. Keluargaku & keluarga Suk Sing sudah terlelap ketika tadi Stanley membangunkanku minta ditemani ke toilet.


Ketika selesai, aku masuk ke toilet sebentar untuk mencuci muka, waktu aku keluar, aku melihat Stanley berlari ke arah gerbong yg salah & begitu cepat menghilang dari pandanganku, memaksaku untuk berlari lebih cepat. Seorang pedagang asongan nyaris kutabrak ketika aku berlari memasuki gerbong kelas ekonomi, tempat yg sangat sangat asing bagiku.

“Non.. hati hati, kalo gue jatuh gimana?”, pedagang asongan itu mengingatkanku. “Maaf pak, saya buru buru, mencari sepupu saya”, aku meminta maaf dgn sopan, lalu segera melanjutkan mencari Stanley. Beberapa gerbong kulalui, sampai akhirnya aku tertegun saat menemukan seorang wanita cantik yg ternyata adalah Cie Elvira!

Bukan karena menemukan Cie Elvira duduk di gerbong kelas ekonomi seperti ini yg membuatku tertegun, tapi pandangan Cie Elvira yg dingin menusuk terhadapku, murid kesayangannya di sekolah balet. Cie Elvira benar benar terlihat lain, seolah ini adalah sisi lain dari dirinya yg biasanya lembut & harusnya menyayangiku seperti adiknya sendiri.

“Cie… Cie Vira juga ke Jakarta?” tanyaku berusaha memecah kekakuan yg tak wajar ini. Tiba tiba aku merasa ada sebuah tangan yg menyusup dari bawah rokku & meraba selangkanganku. Belum sempat aku menoleh untuk melihat siapa pelaku kekurang ajaran ini, kedua tanganku sudah terentang, kedua pergelangan tanganku yg mungil dicengkeram erat oleh dua orang penumpang yg sudah berdiri dari tempat duduknya.

Ketika kedua toket ku diremas oleh beberapa tangan, aku mulai meronta panik menyadari keadaanku yg sudah dalam bahaya ini, sambil berusaha meminta tolong. “Cie Vira.. tolong Liza cie…”, aku memohon pertolongan, tentu saja kepada Cie Elvira, satu satunya orang yg kukenal di gerbong ini. Tapi benar benar aneh, ia hanya mematung, sebuah senyuman sinis terukir di wajahnya.

“Kalian buka roknya. Amoy sok cantik ini pasti memakai g-string. Aku sudah tau kalau dia ini amoy penggoda. Wajahnya saja kelihatan kalem & baik baik seperti malaikat, tapi di sekolah kerjanya ngentot dgn satpam & tukang sapu. Paling di rumah juga ngentot sama sopir & kacung kacungnya”, kata cie Elvira dgn jahatnya.

“Cie..?”, kata kata cie Vira tadi membuat aku memandangnya pilu tak percaya, tanpa mampu membantah apa apa karena memang begitulah kenyataanya. yg membuatku heran, darimana Cie Elvira bisa tahu semua itu? Lamunanku terputus ketika Cie Elvira dgn kejam melanjutkan kata katanya, “Lepaskan roknya. Kalau ternyata memang dia pake g-string, kalian langsung gilir dia ramai ramai di gerbong ini, keroyok juga boleh”.

Celaka.. aku tak tahu apakah aku mengenakan g-string atau tidak. Aku sudah akan menjerit, ketika orang yg melorotkan rokku ke bawah berkata, “Teriak saja lo, amoy cantik. Gak usah lu teriak juga kami pasti panggil orang orang di gerbong tetangga, berbagi kesempatan mencicipi tubuh non amoy yg putih mulus ini”. Aku sadar, tak ada gunanya lagi aku berteriak ataupun meronta.

Maka aku hanya pasrah saja ketika mereka semua bersuit mengagumi keindahan selangkanganku yg memang terlapis g-string. Kaus tanpa lengan yg kukenakan ditarik dari berbagai arah hingga robek tercabik cabik. Kini aku hanya tinggal mengenakan bra tipis transparan & g-string, & mereka terlihat jelas sudah begitu bernafsu untuk melahap tubuhku ramai ramai.

“Betul kan? Dasar lonte. Dia kegatelan main seks sampai gak bisa bangun lagi, makanya pakai pakaian dalam yg menggoda kaum lelaki. Ya sudah, kalian perkosa saja perek ini habis habisan”, perintah cie Elvira dgn tanpa perasaan. Baru kali ini aku disebut lonte atau perek, dan itu dilakukan oleh orang yg aku kagumi, tanpa sadar aku tersipu malu mendengarnya dan membuat ku jadi horni berat.

Aku sudah tak bisa bereaksi apapun ketika braku yg transparan terbuat bahan yg tak mudah robek itu direnggut paksa hingga tali talinya putus, sementara g-stringku dgn mudah ditarik putus hingga kini aku sudah tersaji bugil di tengah kerumunan orang orang dari berbagai kalangan, sebagai budak seks mereka.

Sebuah tikar milik seorang pengemis yg tak terlihat tua, dibeber di lantai gerbong ini, lalu pengemis yg sudah melepas celananya hingga telanjang di bagian bawah itu tidur di tikar itu dgn kontol yg sudah mengacung tegak. Beberapa orang memondongku & mengangkat kedua pahaku ke samping kanan kiri, lalu membimbing tubuhku menindih pengemis itu, & memek ku mulai menelan kontol yg lumayan besar itu.

“Aduuh… sakiiit…”, aku mengerang, tubuhku menggeliat tapi mereka menekan tubuhku ke bawah hingga kontol itu tertelan seluruhnya oleh memek ku. Rasanya sakit sekali karena selain belum adanya pelumas sedikitpun di liang memek ku, proses penetrasi ini berlangsung begitu cepat. Kedua toket ku langsung diremas oleh pengemis itu dgn kasar, hingga aku menggeliat kesakitan.

Aku hanya bisa pasrah, perkosaan masal yg akan meluluh lantakkan tubuh mungilku ini sudah dimulai. Pedagang asongan tadi sudah membuka celananya, lalu menyodorkan ke mulutku. “Isep non amoy. Jangan coba coba menggigit, tahu sendiri akibatnya”, perintahnya penuh ancaman. Aku tahu aku harus menurutinya, daripada ia nanti melukaiku.

Kuhisap kontol yg bau itu, mungkin pemiliknya tak mandi berhari hari, membuatku hampir muntah, tapi kutahan sekuatnya. Selagi aku disibukkan 2 kontol yg sudah memasuki tubuhku, dua orang mengangkat tanganku, lalu memaksaku menggenggam & mengocok kontol mereka. Aku menuruti semuanya tanpa membantah, walaupun air mataku terus mengalir.

Hatiku amat pedih merasakan penghinaan ini, diperkosa ramai ramai di depan umum. Kurasakan ikat rambutku ditarik hingga rambutku tergerai bebas, tapi rambutku langsung ditarik oleh seseorang dari belakang, rupanya ia menggunakan rambutku untuk melibat kontol nya, & bermasturbasi. Aku benar benar tak berdaya, dijadikan obyek pemuas nafsu seks mereka semua.

“Nikmat ya, Liza? Kamu memang perek bermuka malaikat. Nggak heran banyak cowok yg mengejarmu, tapi mereka nggak tahu kalau kamu itu sebenarnya cewek bispak”, kata cie Elvira sinis ketika aku mulai merintih. Aku menangis tanpa suara mendapatkan hinaan demi hinaan dari cie Elvira yg entah kenapa begitu memusuhiku kali ini. Air mataku mengalir membasahi pipiku.

kontol yg ada di mulutku mulai berkedut, menyemburkan sperma yg kali ini bagiku tak terasa enak, malah memualkan. Tapi aku berusaha menelan semuanya, daripada nanti aku mendapat perlakuan yg lebih kasar oleh mereka. kontol itu kukulum dalam dalam, batang kontol yg mulai loyo itu kusedot & kujilat memutar, membersihkan sperma yg masih tertinggal.

“Ooohhh. non amoy yg doyan peju! Semangat amat menelan peju ku. Kalau begitu kalian semua lebih baik keluarkan peju kalian di dalam mulut non amoy ini. oooh.. enaaak…”, ia mengerang keenakan setelah selesai menghinaku, karena aku yg sudah tak perduli lagi terus menghisap & mengulum kontol itu sampai bersih.

yg lain tertawa tawa, & pedangang asongan yg kurang ajar ini memberikan giliran pada yg lain, menggantikan kontol nya yg sudah loyo. Kembali mulutku dijejali kontol yg rasanya tak karuan, sementara kurasakan leher belakangku basah. Ternyata orang yg bermasturbasi di belakangku dgn menggunakan rambutku sudah ejakulasi, semprotan spermanya entah berapa banyak membasahi rambutku.

Tiba tiba dua kontol yg kukocok dgn tangan itu juga berkedut, kemudian menyemprot tanpa terkendali membasahi wajahku. Kedua mataku terkena semprotan itu, hingga mau tak mau aku harus memejamkan mata. Aku sudah tak tahu lagi, apa yg terjadi denganku. Bergantian mereka memuaskan nafsu mereka dgn pelayananku, satu ejakulasi langsung digantikan oleh yg lain.

Wajahku sudah belepotan sperma, sementara rambutku sudah basah seperti keramas dgn sperma juga. Keadaan tubuhku tak lebih baik, entah berapa banyak sperma yg sudah kutelan, & kurasakan kedua toket ku juga basah, entah oleh semprotan sperma langsung atau terkena tetesan sperma yg mengalir dari wajahku.

Kurasakan kontol dari pengemis yg menggenjot memek ku dari bawah berkedut, membuatku sadar. Kini aku sedang dalam masa subur, & aku tak ingat kapan aku terakhir minum obat anti hamilku. Dalam kengerian yg amat sangat, aku meronta berusaha melepaskan diriku sebelum sperma pemerkosaku ini keluar di dalam rahimku.

“Jangaaan… jangan di dalaaaam…. Aku tak mau hamiiil…”, teriakku begitu mulutku terlepas dari kontol yg menyumbat erangan maupun suaraku sejak tadi. “Tahan tubuhnya! Jangan biarkan lonte ini melepaskan diri. Biar saja lonte ini hamil, supaya tak terus terusan merusak rumah tangga orang! Ini bayaran untuk ulahmu yg sudah memikat suamiku”, seru cie Elvira dgn jahatnya.

Semua membantu menekan tubuhku hingga kontol itu tak mungkin kulepaskan dari memek ku, & ketika kurasakan semburan cairan hangat di liang memek ku, aku menjerit pilu, “Cie Vira jahaaaat… apa salah Lizaaa…. Liza nggak pernah menggoda suami cie Viraaa….”. Tak kuasa menahan gejolak emosi ini, aku pingsan tak ingat apa apa lagi.

Entah berapa lama aku pingsan, sampai aku sadar & mendapati diriku ada di kamar tidurku, mataku basah oleh air mata. Aku berusaha mengingat ingat, apa saja yg sudah terjadi pada diriku. Perlahan aku mulai sadar, hari ini adalah hari minggu, & kemarin itu aku pulang jam 8 malam, lalu bercengkrama dgn keluarga. Baru aku mengerti, jadi tadi semua itu adalah mimpi buruk.

Sungguh mimpi yg aneh, makanya aku bingung, sejak kapan aku punya g-string? Juga, sejak kapan aku menggoda suami cie Elviira?? Aku memeriksa memek ku, & mendapati memek ku begitu basahnya oleh cairan cintaku sendiri. dgn panik aku mengorek memek ku sendiri untuk memeriksa apakah ada sperma di dalamnya, karena kalau ada kan berarti gawat. Masa aku harus mengandung anak dari para pembantu atau sopirku?

Satu-satunya hal dari mimpiku yg merupakan kenyataan adalah aku sedang dalam masa subur sekarang ini & aku lupa minum obat anti hamilku. Kalau sampai 2 pembantuku main gila seperti biasanya, membangunkanku dgn cara menyetubuhiku, aku kan bisa hamil? Untungnya aku tak menemukan adanya tanda tanda sperma di dalam liang memek ku.

Jariku yg basah kukulum sambil menghela nafas lega, aku baru teringat ada kedua ortuku di rumah. Para pembantuku itu tentu saja tak akan berani sembarangan. Sudah sejak kepulanganku dari villa 2 minggu lalu, mereka tak bisa seenaknya minta jatah padaku. Kesempatan mereka mendapat pelayananku hanya saat aku di rumah sepulang dari sekolah, sampai kedua ortuku pulang dari rutinitas sehari hari menjaga toko.

Itu berarti antara jam setengah dua siang sampai jam setengah enam sore.  waktu 4 jam ini bisa berkurang kalau aku sedang les privat bahasa Inggris dgn cie Stefanny di rumah, atau jika aku pulang telat karena mengikuti extra kurikuler bulu tangkis. Tentu saja mereka juga memperhitungkan, kokoku ada di rumah atau tidak, walau kadang mereka melakukan sembunyi sembunyi saat ada kesempatan, biasanya pagi hari di garasi saat aku akan berangkat ke sekolah.

Tapi yg jelas sudah 2 minggu ini aku tidak pernah terbangun dgn memek ku dalam keadaan tertancap kontol kontol para pembantu & sopirku ini. Aku melihat jam, masih jam 5:15 pagi. Karena sudah sekolah pagi, aku terbiasa bangun jam segitu. Maka aku ke kamar mandi yg ada di dalam kamarku ini. Menyikat gigi, mandi sesegar segarnya, mencuci muka, membuat batinku lebih tenang setelah mengalami mimpi yg begitu mengerikan tadi.

Aku merapikan rambutku, & tak lupa minum obat anti hamil sebelum turun ke bawah. Di masa suburku ini, aku merasa obat anti hamil harus kuminum tiap hari, daripada nanti aku kebobolan saat sedang sial. Berjaga jaga lebih baik daripada semuanya sudah terlambat, apalagi tadi aku mimpi buruk seperti itu.

Di bawah, aku menemukan mamaku yg sedang menyiapkan makan pagi di dapur. Aku menyapa mamaku yg tersenyum padaku, & membantunya sebisaku. Rupanya mamaku memasak sup jagung, kesukaanku. Sambil membantu mamaku aku berpikir tentang aktivitasku hari ini. Pagi ini aku akan ke gereja, siangnya entah jalan jalan ke mana menemani Jenny yg ingin membeli kado ulang tahun buat teman sekelasnya waktu kelas 1 dulu, Irene.

“El, di dapur jangan melamun, nanti bisa luka kalau gak hati hati”, mamaku mengingatkanku yg masih melamunkan mimpi itu, membuatku tersadar. “o… e.. iya ma”, kataku. Aku segera menyibukkan diri, hingga sesaat aku bisa melupakan mimpi yg menyeramkan itu. banyak sekali jagung yg aku ambil bijinya, capai juga tanganku melakukannya. Tapi aku terus membantu mamaku dgn tulus. Jam enam pagi, semua sudah selesai, sup jagung kesukaanku sudah terhidang di meja makan.

Senang sekali rasanya, setelah mencuci tanganku sampai bersih, aku lalu ke atas sebentar membangunkan kokoku yg pasti masih mendengkur. Usilku kambuh, aku mengambil gulingnya yg jatuh, lalu memukulkan ke tubuh kokoku yg masih tertidur pulas, hingga kokoku terbangun kaget,  menggeram “Elizaa.. sudah gila ya, bangunin aku kayak gini?”.

“Ko, nggak siap siap kuliah ya? Sudah jam 6 lebih nih!”, kataku. Kokoku segera meloncat bangun, pergi ke kamar mandi sambil berkata, “wah.. untung koko kamu bangunkan. Thanks me. Tapi awas ya, pukulan dgn guling tadi itu pasti kubalas”, seperti biasa, sok mengancam untuk membalas. Mana tega dia pada adiknya yg cantik ini? pikirku sambil meleletkan lidah.

“Makan pagi sudah siap ko, nanti langsung turun ya”, kataku meninggalkan kokoku ke bawah. “IYA”, seru kokoku yg sudah ada di dalam kamar mandi. Aku tersenyum geli, membayangkan bagaimana jengkelnya nanti kokoku kalau sadar hari ini hari minggu. Aku menyapa papaku yg sudah rapi, kami sempat mengobrol sebentar menunggu kokoku turun untuk makan bersama.

Akhirnya kokoku turun dgn membawa tas kuliahnya, membuatku mati matian menahan tawa. “Minggu pagi gini mau belajar buat UAS di rumah teman ya Heng? Ke gereja dulu ya… masih sempat kan?” tanya papaku. Kokoku melongo, kemudian melihat kalender. Ketika kokoku memandangku dgn gemas, tawaku pun meledak, & ortu kami yg menyadari bahwa kokoku tertipu olehku juga tertawa.

“Heng.. Heng.. sudah berapa kali masih juga tertipu sama mememu ini. Kamu memang kalah pintar kok sama mememu ya”, ejek mama yg disambung papa, “Masa sudah kuliah kalah canggih sama adikmu yg masih SMA ini?”, membuat tawaku makin meledak. Kokoku hanya bisa diam memandangku dgn gemas & terlihat menahan senyum kesal, dia pasti tak ingin lebih malu lagi kalau sampai tertawa, karena itu sama saja dgn menertawakan dirinya sendiri.

Kami kemudian makan bersama, & seperti biasa kami pergi ke gereja pagi pagi. Papa & mama duduk di belakang, aku di depan & kokoku yg menyetir. Aku kembali teringat mimpi tadi. Masa iya aku ini pernah menggoda suami cie Elvira? Kami memang pernah bertemu, tapi rasanya kami cuma saling sapa, bahkan aku tak pernah ingat kalau kami pernah terlibat dalam pembicaraan sedikitpun. Ah.. ada ada saja. Mimpi yg aneh sekali.

Aku memutuskan tak memikirkannya lagi, & menjalani kegiatan hari ini seperti biasa. Setelah pulang dari gereja, aku segera menyiapkan apa saja yg diperlukan untuk latihan baletku nanti & membawa ke mobilku, karena aku pikir akan langsung ke tempat lathihan setelah menemani Jenny mencari kado.

Setelah berpamitan pada papa mama & kokoku, aku segera turun ke garasi. Di sana, sudah menunggu pak Arifin, Wawan & Suwito yg membuat jantungku agak berdegup kencang. Tanpa basa basi, mereka bertiga bergantian melumat bibirku & seperti biasa, Sulikah berjaga kalau kalau keluargaku ada yg sedang menuju garasi.

Aku hanya bisa membalas lumatan mereka, supaya ini semua cepat selesai. Tubuhku digerayangi & toket ku diremas remas, kadang memek ku ditekan tekan oleh jari mereka. Gairahku mulai naik & aku melenguh pelan, rok yg kukenakan sudah terangkat sampai ke pinggangku, celana dalamku sudah melorot sampai ke paha. memek ku yg sudah basah oleh cairan cintaku sendiri dikorek korek oleh mereka.


Beberapa jari tangan mengaduk aduk memek ku membuat aku dgn cepat sudah orgasme hebat. Kuatir aku melenguh tak terkendali, kupagut salah satu bibir dari mereka yg mengerubutiku ini. Tubuhku mengejang keenakan & akhirnya lunglai dgn kedua tanganku melingkar di leher pak Arifin di sebelah kiriku & Suwito di sebelah kananku.

Untungnya mereka tak bermaksud hendak menyetubuhiku, hanya ingin membuatku orgasme habis habisan seperti ini sebelum aku pergi. Aku kehabisan nafas & tersengal sengal. Mereka memakaikan celana dalamku kembali ke tempat yg benar, barulah mereka membiarkanku, anak majikan mereka yg sudah menjadi budak seks mereka ini, masuk ke mobilku, tentu saja setelah semua mendapat giliran melumat bibirku & meremasi toket ku.

Tubuhku rasanya lemas sekali, & aku masuk ke mobilku, & duduk sebentar untuk menenangkan diriku yg masih dihantam gelombang orgasme yg dahsyat, sampai akhirnya aku mampu berpikir dgn tenang. Di dalam mobil, aku melihat dari kaca tengah, bajuku awut awutan, rambutku juga kacau karena tadi dibelai & dimainkan dgn seenaknya oleh mereka, juga dihirup hirup baunya oleh mereka bergantian.

Entahlah, rasanya tiap bagian dari tubuhku ini bagi mereka begitu menggairahkan untuk dinikmati kali ya? Kurapikan rambutku sebentar, juga sekalian bajuku yg kancingnya nyaris terlepas semua ini. Bahkan aku perlu membetulkan posisi bra yg menyangga toket ku ini, letaknya sudah kacau & amburadul akibat remasan remasan penuh nafsu tadi oleh mereka.

dgn kesal bercampur birahi yg tinggi aku menatap mereka bertiga, namun aku tak bisa apa apa selain cepat cepat meninggalkan mereka. Di jalan, aku berusaha untuk berkonsentrasi penuh setelah barusan tadi dirangsang habis habisan sampai orgasme oleh sopirku & dua pembantuku yg keranjingan itu. Butuh waktu lama sampai gairahku stabil & menurun.

Sesampainya di rumah Jenny, aku melihat ternyata Jenny sudah menungguku, maka kami segera berpamitan pada kedua orang tua Jenny. “Enaknya cari kado di mana Jen?”, tanyaku pada Jenny, yg setelah beberapa saat berpikir, menjawab, “Ke Tunjungan Plaza aja yah?”. Aku mengangguk & segera menjalankan mobil ke arah sana. Dalam perjalanan, aku & Jenny saling bertukar pengalaman pribadi kami selama liburan.

“Jen, gimana kamu selama liburan? Liburan kemana? Apa mereka masih terus melakukan itu?” tanyaku beberapa saat setelah kami mengobrol & bercanda. Jenny terlihat merenung. “Aku di akhir tahun memang berlibur bersama ortu ke vila kami di Trawas, tapi sebelumnya itu El, setiap ada kesempatan aku harus melayani mereka berlima. Begitu ortuku pergi, aku harus siap diseret ke ruang kerja mereka, melayani mereka sampai mereka semua puas”, kata Jenny sambil sesekali menghela nafas.

“Aku pernah mencoba ikut ortuku pergi, tapi aku mendapat ancaman keras dari mereka. Baiknya, ada 3 orang dari mereka yg pulang kampung, tapi yg tersisa justru Supri & Umar, ingat kan kamu El gimana ukuran barang mereka berdua itu?”, Jenny menggeleng gelengkan kepalanya & menghela nafas panjang mengakhiri ceritanya.

“Aduh.. kamu nggak apa apa kan Jen?”, tanyaku kuatir. Dua orang itu, tentu saja aku tahu betul ukuran barangnya. Tapi Jenny hanya mengangkat bahu & berkata, “gimana ya.. sudah biasa sih, sakit sakit enak gitu. Terus, liburanmu gimana El? Apa kamu juga terus dikerjain sama sopir & pembantumu itu?”. Aku mengangguk & menceritakan semua pengalamanku, termasuk insiden dgn penjaga vila yg menghasilkan kenangan baru di villaku itu.

Jenny menggeleng gelengkan kepalanya, “Ya ampun… penjaga vilamu yg tua itu Jen? Memangnya dia masih kuat gituan?”. Aku dgn tersipu malu menjelaskan, “Awalnya sih pak Basyir itu gak seberapa juga ya, tapi.. malam itu dia pakai obat kuat Jen. Jadinya aku ya tak tahan juga, orgasme abis deh dibuatnya. Ada hampir satu setengah jam aku disetubuhinya habis habisan”.

Tentu saja aku tak menceritakan pada Jenny, betapa aku dipermainkan pak Basyir sampai memohon mohon untuk dibuat orgasme, apalagi saat pulang aku malah tidak memakai celana dalam sejak selesai mandi pagi, bersiap memenuhi keinginan pak Basyir untuk menikmati tubuhku sebelum aku balik ke Surabaya.

Jenny lalu berkata, “Kurang ajar banget yah tua bangka itu. Ya udah deh El, jangan ngomongin ini lagi ah. Sebel deh, nasib kita benar benar buruk. Kok kita jadi sama dgn Vera, cewek bispak di sekul kita. Oh iya, nanti sebaiknya beli apa ya buat kado?”. Aku tak punya ide, & menjawab, “Ya coba nanti kita lihat lihat di sana gimana? Pasti bisa ketemu yg bagus”. Jenny tersenyum & mengangguk.

“Jen, Vera yg kamu maksud tadi, Vera yg sekarang sekelas dgn kita?”, tanyaku hati hati. “Iya lah El. Aku sudah tau kelakuannya sejak kami sekelas di kelas 1. Vera itu suka pulang bareng om om, & sudah 5 om yg berbeda yg aku tahu. Tapi.. sudalah.. kini rasanya kita nggak lebih baik deh dari dia”, Jenny menghela nafas panjang & menunduk, kurasakan kesedihannya yg mendalam, membuatku ikut sedih juga.

Sambil melajukan mobil, aku sempat berpikir tentang Vera. Kebetulan Vera itu satu sekolah balet denganku, tapi aku nggak pernah menyangka Vera seperti itu. Tak terasa kami sudah sampai di Tunjungan Plaza, & kami segera berburu barang yg tepat buat kado & kami menemukan barang yg dirasa tepat, yaitu bando. Setelah membeli kertas kado juga, kami menyempatkan makan siang di food court, sambil ngobrol ke sana kemari termasuk menggosip ^^ seperti yg sering kami lakukan.

Jenny membungkus bando itu dgn kertas kado saat kami selesai makan, & kami sempat berjalan jalan sebentar, ketika berpapasan dgn cie Stefanny. Aku terkejut melihat penampilan cie Stefanny yg tidak seperti biasanya, ia terlihat sexy abis. “Cie? Duh… cie cie.. tumben deh”, sapaku pada guru lesku ini. Cie Stefanny tersenyum manis sekali membalas sapaanku. Aku mengenalkan cie Stefanny pada Jenny yg memandangnya dgn kagum, hari itu memang cie Stefanny begitu modis.

Tubuhnya dibalut sweater putih, & bajunya hitamnya begitu sexy, memperlihatkan belahan dadanya. Rok hitam ketat yg hanya sampai setengah paha, memperlihatkan paha & betisnya yg indah. Kacamata yg biasanya dipakai juga diganti softlens yg berwarna kebiruan, membuat cie Stefanny tampak sempurna, beda sekali dgn penampilannya yg selalu biasa biasa saat datang ke rumahku sebagai guru les privatku.

“Jen, ini cie Stefanny, guru les inggrisku yg sering kuceritakan. Cakep kan Jen? & ini cie, temenku namanya Jenny”, aku saling memperkenalkan mereka. “Ah kamu itu ada ada saja El. Hai Jenny, namaku Stefanny, guru les Inggris Eliza”, cie Stefanny tersipu saat bersalaman dgn Jenny. “Hai cie Stefanny, aku Jenny, teman sekelas Eliza. Wah cie Stefanny memang cantik abis deh”, kata Jenny. Mendapat pujian Jenny, cie Stefanny makin tersipu.

Kami sempat berbasa basi sebentar, & cie Stefanny berkata, “Udah dulu ya, cie cie mau pulang dulu”. Aku sempat bertanya, “Nggak sama ko Melvin nih cie?”. Aku sempat merasa senyuman cie Stefanny itu terlihat getir, saat cie Stefanny menjawab, “Nggak, sendirian aja kok. Udah dulu ya, bye bye”. Kami berpisah, & Jenny berkata padaku, “Wow… guru lesmu keren deh. Aku mau dong les sama dia. Coba besok Senin kamu omongkan ya El, cie Stefanny ada waktu nggak ngelesi aku”.

Aku mengiyakan, “Jen, kamu pasti nggak rugi deh les sama dia. Orangnya pinter kok”. Setelah itu, aku mengantar Jenny ke rumah Sherly. Karena nanti sore aku harus latihan balet, selain itu memang aku nggak kenal sama Irene, jadi Jenny nanti pergi bersama Sherly. Mereka sih sekelas waktu kelas 1. Ternyata rumah Sherly sangat besar, kamarnya juga banyak, ada sekitar 10 kamar di sana.

Kebetulan di dekat situ ada kampus swasta yg cukup terkenal, makanya ortu Sherly menjadikan rumah itu sebagai tempat kost buat mahasiswi yg kuliah di kampus itu. Kami duduk di sofa ruang tengah. Jenny memperkenalkan aku pada Sherly. “El, ini Sherly, bosnya kost kostan ini, hehehe aduh…”, Jenny dipukul oleh Sherly yg memasang muka cemberut.

Tak butuh waktu lama, kami jadi akrab, Sherly ternyata orangnya menyenangkan. Kami membicarakan berbagai hal termasuk tentang sekolah, & mulai menggosip tentang beberapa hal di sekolah kami. Tiba tiba aku melihat pintu kamar yg ada di arah depanku terbuka. Hah? Ada 2 orang laki laki yg keluar dari kamar itu. Bukannya di sini itu tempat kost buat mahasiswi aja? Tapi, 2 orang tadi itu lebih mirip pembantu deh daripada mahasiswa.

& yg membuatku semakin terkejut, tak lama kemudian keluar seorang cewek, kelihatannya seumur dgn cie Stefanny. Rambut panjangnya terlihat kusut, seperti juga bajunya. Sinar matanya yg sayu itu… mirip orang yg baru orgasme habis habisan.

Keringat yg membasahi tubuhnya makin memperkuat dugaanku… “El, kenapa?”, tanya Jenny padaku. Aku agak tergagap, & berkata pelan pada Jenny, “Jen, aneh ya, masa dari tadi kita di sini, tahu tahu 2 orang pembantu tadi keluar dari kamar tuh cewek. Terus, nggak lama cewek itu juga keluar”.

Jenny melihat ke cewek itu, lalu bertanya pada Sherly, “Iya Sher, tadi kira kira kenapa ya kok dua pembantu itu lama di dalam?”. Sherly mengangkat bahu & berkata, “Mungkin bantu bantu angkat barang?”. Jenny bertanya lagi, “& lagi, cewek itu bajunya kusut abis ya?”.

Sherly terlihat kikuk, & menjawab, “Oh. Cie cie itu namanya Katherine. Tadi sih cie Katherine bilang agak pusing & mau tidur siang. Mungkin baru bangun tidur kali ya kusut gitu. Tapi lihat, biar kusut gitu, masih terlihat cantik yah”

Aku & Jenny saling pandang. Tak bisa kami pungkiri, cie Katherine yg tadi itu memang cantik & pasti menggairahkan sekali bagi para lelaki. Rambutnya lurus panjang, tubuhnya mungil, ramping ideal, bentuk toket nya sexy. Ketika melihat kami yg memandanginya, cie Katherine tersenyum pada kami semua, senyumnya begitu manis, hingga kami pun mau tak mau balas tersenyum padanya.

Setelah itu kami sempat ngobrol ke sana kemari, & tak terasa jam menunjuk pukul 4 sore. Mau pulang juga nanggung, aku memilih langsung menuju ke sekolah baletku. Maksudku nanti di sana aku akan menunggu di mobil atau gimana, daripada pulang ke rumah malah dibikin orgasme oleh para pembantu & sopirku yg sudah keranjingan itu.

Selain itu, aku merasa lebih baik menghemat bensin kali ya, maka aku pamit pada mereka. “Sherly, Jen, aku mau berangkat dulu ke sekolah balet, have a good time ya”, kataku pada mereka. Sherly & Jenny mengantarku ke pintu gerbang,  waktu menuju ke sana aku sempat melihat ada seorang cewek di beranda rumah ini, yg terlihat agak terloncat seperti terkejut.

Kulihat di belakang cewek itu ada seseorang, yg mungkin juga pembantu di rumah ini. Aku melihat cewek itu membalik badan, sepertinya marah pada orang itu, yg hanya cengengesan saja. Aku berpikir, mungkin saja tadi itu orang itu meremas pantat cewek itu, tapi nggak tau juga sih.

Aku merasa tempat ini semakin aneh di mataku, tapi bukan urusanku kali ya. Aku terus berlalu menuju mobilku, & setelah melambaikan tangan pada Jenny & Sherly, aku segera melajukan mobilku ke arah sekolah baletku. Sampai di sana, aku parkirkan mobilku, lalu duduk diam sambil menyetel musik. Tiba tiba hp-ku berbunyi, aku lihat nomer HP-nya Jenny.

Aku sudah akan mengangkat HP-ku itu, ketika aku melihat cie Elvira turun dari mobilnya, & masuk ke dalam sekolah baletku. Cepat amat ya cie Elvira kok sudah datang, sekarang masih jam 4:25 tuh. “Halo? Eliza.. tolong dong liatin, ada gak jam tanganku di mobilmu?”. Aku menoleh ke tempat duduk di sampingku, & karena tak kutemukan, aku mencari ke jok bawah, & ketemu.

“Iya Jen, ada di sini. Kok jatuh ke bawah gitu Jen?”, tanyaku. “Iya nih, tadi aku lepas bentar, soalnya keringatan. Ya udah, tolong besok kamu bawain ke sekolah ya El”, kata Jenny. “Iya beres. Udah ya”, kataku. “Iya El.. thanks”, suara Jenny yg riang menutup pembicaraan kami. Pandanganku tertuju pada batagor yg dijual di sebuah rombong.

Senang deh, aku ke sana, membeli sebungkus,  kembali ke dalam mobil. Aku makan dgn santai, menghabiskan waktu. Selesai makan pun, jam baru menunjuk pukul 16:40. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruang latihan balet untuk ngobrol dgn cie Elvira yg selalu ramah & sayang kepadaku sekalian menghapus ingatanku tentang kekejaman cie Elvira di dalam mimpi tadi.

Di dalam, aku mencari cie Elvira yg sudah masuk sejak tadi. Ada suara derit kursi panjang di belakang panggung, & aku langsung menuju ke sana.  jantungku hampir berhenti ketika aku melihat cie Elvira, digenjot oleh pak Agil. Cie Elvira terlihat pasrah, tubuhnya yg telanjang bulat tersentak sentak di atas kursi panjang tempat biasa kami duduk duduk, sedangkan pak Agil hanya mengenakan baju atasan.

Aku bisa melihat jelas, memek cie Elvira yg mungil diterobos kontol nya pak Agil yg kelihatan agak besar & berurat, & desahan pelan yg sexy dari cie Elvira sesekali terdengar, membuatku panas dingin melihatnya. Cie Elvira sama sekali tak terlihat diperkosa, bahkan dgn penuh penyerahan cie Elvira melayani setiap tusukan pak Agil dgn sedikit mengangkat pinggulnya.

Oh iya, pak Agil ini, tukang sapu di sekolah baletku ini. Pak Agil ini orangnya agak gemuk, kumisnya tipis & bibirnya itu.. tebal amat. Umur orang ini kira kira 45 tahun. Aku memang sempat merasa aneh, karena pak Agil suka berlama lama memandangi cie Elvira,  kini aku melihat dia sedang ngentot cie Elvira dgn bernafsu, sementara cie Elvira sendiri kelihatannya pasrah saja diperlakukan seperti itu.

Cie Elvira sendiri kini berumur 27 tahun. Tubuhnya langsing ideal, rambutnya agak bergelombang dihighlight kuning membuatnya tampak semakin cantik. Kulitnya putih mulus, seputih kulitku. toket nya kencang & indah. & kini kulihat cie Elvira melenguh keenakan. “enggghh… aduuuh… aaaah…”, cie Elvira menggelepar hingga derit kursi itu makin keras.

Rupanya cie Elvira sudah orgasme, & beberapa saat kemudian giliran pak Agil yg orgasme. Ia menggeram & tubuhnya bergetar, kulihat cairan putih kental menggelayut di kontol nya yg ditarik keluar. Saat itulah cie Elvira melihatku, ia begitu terkejut & gugup. “Eliza..?”, desis cie Elvira.

Pak Agil yg posisinya membelakangiku menoleh menghadapku, tapi pak Agil kelihatan cuek, & dgn tenang ia memakai celana panjangnya, lalu ia melewatiku yg masih terpaku. dgn kurang ajar pak Agil meremas toket kiriku, kasar & menyakitkan, membuatku tersadar & mengaduh, “Ah… aduuh… sakit paak!”.

Pak Agil melepas remasannya ketika cie Elvira membentak, “Gil, jangan kurang ajar ya sama Eliza!”. Ia pun berlalu sambil cengengesan. Aku memegangi toket kiriku yg masih terasa sakit. Cie Elvira membelakangiku, ia membersihkan memek nya & mengenakan pakaian dalamnya, lalu berganti baju balet.

Aku merasa canggung, dan memilih masuk ke kamar ganti, lalu berganti pakaian balet di sana. Ketika aku keluar, cie Elvira masih duduk di kursi panjang itu dgn sudah mengenakan kostum baletnya, & aku tak berani mendekatinya. Aku memilih menunggu di panggung tempat latihan.

Jam menunjuk pukul 4:50, ketika teman temanku satu per satu datang, kebanyakan sudah memakai kostum baletnya, tinggal melepas baju luar saja. dan latihan pun dimulai seperti biasa, tapi ketika cie Elvira mengajarkan gerakan baru, tentu saja di antara kami ada yg melakukan kesalahan. & tak seperti biasanya, kali ini Cie Elvira mudah marah.

Dalam sebuah gerakan yg memang cukup sulit, ia malah agak membentak temanku Vera, yg beberapa kali melakukan kesalahan. Suasana jadi tegang & tidak enak, kami semua agak gugup menjalani latihan ini. “Sudah, dari tadi kalian salah terus. Lebih baik latihan kita akhiri saja sekarang. Kalian ingat ingat tadi gerakan yg sudah cie cie ajarkan, minggu depan harus lebih baik!”, kata cie Elvira ketus, lalu ia berbalik ke ruang ganti.

Ini masih baru setengah jam,  kami semua bingung, tapi aku mungkin mengerti kenapa cie Elvira begitu. Aku segera ke dalam, ikut berganti pakaian,  ketika berpapasan dgn cie Elvira, aku mendekatinya. “Cie Vira mau ikut makan malam sama Eliza?”, tanyaku lembut. Cie Elvira memandangku, & tak lama ia mengangguk.”Kalau gitu, ke restaurant Halim di Mayjen ya cie?”, tanyaku lagi.

Cie Elvira mengangguk & menjawab, “Ya, aku tahu tempatnya. Thanks ya, Eliza”. Ia tersenyum manis, membuat aku merasa mimpiku tadi pagi itu begitu konyol, & memutuskan untuk melupakannya saja. Mobil kami berjalan beriringan, menuju ke tempat yg tadi kami sepakati. Sampai di sana, kami memesan beberapa makanan.

Di tengah suasana yg kaku ini, cie Elvira mendadak minta maaf padaku, “Eliza, sorry ya cie cie nggak bisa ngelindungin kamu tadi. Sakit nggak tadi digituin sama Agil sialan itu?”. Aku jadi tak enak, & menjawab, “Cie, tadi kan untung ada cie Vira. Kalau cie Vira nggak membentak pak Agil, mungkin dia sudah berbuat lebih jauh terhadap Eliza”. Cie Vira masih menunduk.

Aku mencoba menghiburnya. “Cie Vira, yg tadi itu nggak usah dipikirin, Eliza nggak akan cerita cerita ke siapa siapa kok”. Cie Elvira tersenyum penuh terima kasih padaku, kini ia sudah tidak segalau tadi. “Eliza, cie cie jadi begini, bukan karena tanpa alasan. Kamu mau dengar cerita cie cie?”, tanya cie Elvira padaku. Kontras sekali dgn akhir tahun lalu, waktu itu cie Elvira begitu mesra dgn suaminya.

“Iya cie, cerita aja, mungkin nanti beban cie cie bisa lebih ringan”, aku tersenyum & bersiap mendengarkan curahan hati cie Elvira.

Cie Elvira menerawang & mulai bercerita, tentang masa lalunya ketika pacaran dgn ko Johan, mereka adalah pasangan yg amat berbahagia. Tiga tahun lalu, mereka menikah dgn restu kedua orang tua mereka,  cie Elvira ikut ko Johan yg tinggal bersama ortunya.

Setelah dua tahun menikah & tak dikaruniai anak, mama mertua cie Elvira mulai uring uringan. Tanpa bukti yg kuat, mamanya ko Johan dgn seenaknya menuduh cie Elvira yg mandul. “Aku sudah periksa, & hasil tes menunjukkan, aku sama sekali tidak mandul”, kata cie Elvira yg mulai menitikkan air mata. Aku bisa merasakan kepedihannya, tapi aku hanya diam tak tahu harus berkata apa.

Makanan yg kami pesan sudah datang,  di sela waktu kami makan, cie Elvira meneruskan ceritanya. Ko Johan yg ternyata tipe anak mama, tak pernah sedikitpun membelanya, tak berani mengakui kalau dirinya yg bermasalah, mengidap impotensi ringan, terbukti dari kontol nya yg tak begitu keras saat ereksi. Memang ko Johan bisa menyetubuhi cie Elvira, tapi selain kontol nya yg lembek tak bisa memuaskan cie Elvira, juga keluarnya amat cepat, di bawah lima menit.

Pernah waktu cairan sperma ko Johan tumpah di perutnya usai bersetubuh di pagi hari, cie Elvira diam diam menaruh cairan itu dalam sebuah tempat & membawa ke laboratorium siang itu juga Hasilnya ternyata ko Johan yg mandul. Ingin sekali cie Elvira mengatakan yg sebenarnya.

Tapi cie Elvira tak tega menyakiti ko Johan. Jadi ia memikul semua beban itu sendirian. Suatu hari, dalam sebuah pertengkaran mulut, mama mertuanya memaki cie Elvira dgn kejam, “Memang, kamu itu cantik, punya body yg sexy. Tapi apa guna semua itu kalau kamu nggak bisa melahirkan anak buat Johan?”.

Cie Elvira hanya bisa menangis, ia segera meninggalkan mama mertuanya, pergi ke sekolah balet kami, walaupun waktunya masih dua jam lagi. Di sana cie Elvira menangis sejadi jadinya, & tanpa cie Elvira sadari, pak Agil mendekatinya,  suara pak Agil mengejutkannya. “Bu Elvira, cakep cakep kok nangis?”, tanya pak Agil. Cie Elvira langsung menyusuti air matanya dgn tissue, lalu mengambil sebatang rokok dari tas.

Cie Elvira minta api pada pak Agil, yg segera mengeluarkan korek api dari sakunya, & menyalakannya buat cie Elvira. dgn cuek, cie Elvira merokok, diikuti pak Agil yg juga merokok. Mereka mulai terlibat obrolan ringan, sampai kemudian ketika rokok mereka sudah habis, pak Agil mengulangi pertanyaannya tadi, “Bu Elvira, tadi kenapa menangis?”.

Cie Elvira cuma diam, merasa tak ada perlunya orang macam pak Agil ini tahu urusan rumah tangganya. Tiba tiba cie Elvira terkejut ketika pak Agil membelai rambutnya, & belum sempat cie Elvira berbuat sesuatu, pak Agil sudah mendekap tubuh cie Elvira,  bibirnya dicium dgn ganas. Diperlakukan seperti itu tanpa disangka sangkanya, cie Elvira hanya bisa pasrah.

Pak Agil semakin berani, satu per satu pakaian cie Elvira dilucuti, kemudian setelah melepas pakaiannya sendiri ia membaringkan cie Elvira di bangku panjang itu, & mulai menyetubuhi cie Elvira yg tak memberikan perlawanan atau pemberontakan sedikitpun.

Cie Elvira yg sudah hanyut, merasa tak ada perlunya mempertahankan nilai kesetiaan, karena selama ini ia diperlakukan tidak adil. Cie Elvira masih mencintai ko Johan, tapi tusukan kontol pak Agil yg begitu keras dibandingkan milik ko Johan, membuat cie Elvira merasa melayang & larut dalam persetubuhan itu, tak kuasa menolak kenikmatan yg didapat dari pak Agil.

Kali pertama, cie Elviira meminta pak Agil mengeluarkan spermanya di luar. Setelah itu, setiap mengajar balet cie Elvira datang lebih pagi untuk menghindari stress akibat bertengkar dgn mama mertua. Tapi cie Elvira tahu pak Agil akan meminta jatah lagi, maka ia mulai rutin minum obat anti hamil, & memang, pak Agil tanpa malu malu terus terusan meminta jatahnya, & cie Elvira setengah terpaksa menurutinya.

“Begitulah, Eliza. Tiap cie cie ke sana, cie cie melayani pak Agil lebih dulu sebelum mengajar. Kamu boleh anggap cie cie murahan atau yg sejenisnya, tapi cie cie sudah tak ada jalan lain. Rasanya stress di rumah tiap hari bertengkar mulut dgn mama mertua, sementara suami tak bisa melindungi cie cie, hanya bisa diam melihat cie cie dibentak bentak mamanya”, kata cie Elvira pilu & menunduk sedih.

“Cie, aduh… Liza ikut sedih cie. Semoga cie cie tabah ya..”, kataku yg tak tahu harus bagaimana menghibur cie Elvira. Ia memandangku & tersenyum pahit, “Eliza, terima kasih ya. Kamu memang baik, semoga nasibmu kelak lebih baik dari cie cie”. Aku hanya bisa menunduk, merenungi nasibku yg sekarang ini sebenarnya tak lebih baik dari cie Elvira.

Tak terasa kami sudah selesai makan, & aku memaksa cie Elvira supaya kali ini aku yg traktir. Setelah itu, kami saling berpamitan & pulang ke rumah masing masing. Sampai rumah, sekitar jam 8 malam, aku tidak mendapati mobil kedua orang tuaku, juga mobil kokoku yg kata Sulikah pergi ke rumah temannya.

Aduh.. habis deh. Pak Arifin, Wawan & Suwito langsung menarikku ke kamar mereka, & aku segera jadi bulan bulanan mereka. Mereka seolah melepaskan segala kerinduan mereka padaku, setelah sekitar 2 minggu tidak mendapat kesempatan menikmati diriku.

Untung aku sudah minum obat anti hamil, maka aku hanya pasrah saat merasakan kontol demi kontol berkedut dalam memek ku, menyemburkan sperma yg membasahi rahimku. Dua jam lebih aku melayani mereka, tubuhku rasanya pegal pegal karena berulang kali orgasme habis habisan. Mereka berhenti setelah dua ronde menyetubuhiku, & tergeletak puas di sekitarku yg sudah amat lemas.

Setelah pesta seks ini selesai, aku kembali ke kamarku dgn telanjang bulat. Aku mandi membersihkan tubuhku. Setelah mengeringkan seluruh tubuhku, aku segera tidur tanpa mengenakan apapun, hanya berselimut bed cover. Rasanya nyaman sekali, & dgn cepat aku sudah tertidur pulas.

Tak terasa, sudah seminggu waktu berlalu sejak peristiwa itu. Tak ada kejadian spesial selama seminggu ini, selain aku memberitahu pada cie Stefanny kalau Jenny berminat untuk les privat, & mereka sudah saling kontak untuk membicarakan hal itu.

Di sekolah aku seperti biasa, bersikap cuek pada tatapan penuh nafsu dari pak Edy wali kelasku, juga pandangan mesum dari para satpam & tukang sapu yg sudah beberapa kali menikmati tubuhku. Sebenarnya sebal juga, tapi aku tak tahu harus berbuat apa.

Tapi ada satu hal yg membuatku tertegun, aku sempat melihat Vera, temanku yg dikatakan Jenny cewek bispak di sekolah kami, sepulang dari sekolah ia dijemput om om, yg sudah pasti bukan papanya. Aku pernah melihat papanya Vera ketika acara terima raport akhir tahun lalu. Aku sempat menduga duga, apakah orang itu saudara ortunya, atau …?

Hari minggu ini, setelah menjalankan rutinitasku, & sempat berjalan jalan dgn Jenny, aku memutuskan untuk tidak pulang & langsung ke tempat balet. Aku merasa bisa membantu cie Elvira untuk tidak terlalu terlibat dgn pak Agil itu. Ketika jam masih menunjuk pukul 4:15 sore, aku sudah duduk duduk di teras gedung sekolah balet kami, menunggu cie Elvira.

Rencananya nanti aku akan mengajak cie Elvira ngobrol daripada cie Elvira harus melayani pak Agil itu. Tapi apa yg terjadi berikutnya sungguh di luar dugaanku. Pak Agil tiba tiba keluar dari pintu masuk, & bertanya padaku, “Non Eliza, waktu saya bersih bersih minggu lalu, di ruang ganti ada barang yg tertinggal minggu lalu. Coba non lihat, apa itu kepunyaan non Eliza?”.

Ditanya demikian di depan orang banyak yg berjualan di depan situ, aku mau tak mau terpaksa masuk untuk melihat, daripada kesannya tidak sopan. Walaupun aku merasa tak meninggalkan barang minggu lalu, tapi andaikan memang barang itu kepunyaanku, aku tahu aku sedang masuk ke sarang penyamun. Seperti yg aku kira, di dalam ruang ganti memang tak ada apa apa.

Ketika aku membalik badan, kulihat pak Agil sudah di belakangku sejak tadi, ia tersenyum menyeringai kepadaku, & aku tahu aku akan bernasib buruk hari ini. Di dunia ini akan segera bertambah lagi satu maniak yg menjadikan aku budak seks nya. Aku mengutuki nasibku dalam hati.

Tapi aku masih berusaha untuk lolos dari cengkeraman bandot tua ini. “Pak, saya mau keluar dulu, di sini nggak ada apa apa kok”, kataku berusaha menjaga nada bicaraku tetap sopan. “Non, buat apa keluar lagi? Enakan di sini sama bapak. Minggu lalu saya sudah merasakan susu non yg kiri, sekarang saya mau susu non yg kanan”, katanya dgn kurang ajar.

Ingin aku menamparnya, tapi bisa bisa ia makin mengasariku nanti, maka aku meredam keinginanku ini. Tak terasa aku mundur & menyilangkan kedua tanganku menutupi toket ku yg sebenarnya masih tertutup bajuku.”Pak, jangan kurang ajar ya. Saya akan teriak!”, aku mencoba menggertaknya. Tapi pak Agil malah tersenyum, senyuman itu memuakkan tapi mengerikan juga.

Pak Agil menjawab santai, “Teriak saja non. Sekalian biar orang orang di luar tahu keindahan tubuh non, & pasti mereka nggak akan menolak kalau saya ajak untuk ikut menikmati servisnya non Liza”. Aku langsung lemas, rupanya ini arti mimpi burukku minggu lalu. Aku mengurungkan niatku, daripada aku digangbang tukang sapu ini & beberapa penjual makanan kecil di luar.

Sudah cukup aku digangbang para pembantu & sopirku di rumah, juga para satpam & tukang sapu di sekolahku. Tanpa perlawanan yg berarti dariku, pak Agil sudah melucuti pakaianku hingga aku tinggal mengenakan bra & celana dalam. Matanya melotot seakan hendak copot ketika ia memandangi tubuhku yg putih mulus tanpa cacat ini.

“Oh.. amoy yg satu ini memang sip”, guman pak Agil, tapi aku dapat mendengarnya jelas. Aku mencoba untuk memohon, “Pak, tolong jangan begini pak. Pak Agil butuh uang? Katakan pak, saya bisa bantu. Tapi jangan perkosa saya pak, saya aaah…”, aku mengerang ketika pak Agil sudah menyergapku & meremas kedua toket ku yg masih tertutup bra ini dgn kasarnya.

Aku menggeliat kesakitan & berusaha melepaskan tangan kekar yg mencengkram kedua toket ku ini, tapi usahaku sia sia saja, tenagaku terlalu lemah, & rasa sakit ini membuatku semakin lemas. Selagi aku menahan sakit ini, pak Agil berbisik di telingaku, “Uang? Buat apa non? Saya tak ada keluarga, gaji saya sudah cukup untuk makan. Saya tak kepingin duit banyak, cuma kepingin mencicipi tubuh amoy cantik macam non gini”.

Hembusan nafasnya yg hangat di telingaku membuatku bergidik ngeri, aku tahu sudah tak ada jalan keluar setelah mendengar jawabannya. Kurasakan kedua toket ku sudah tak diremas, tapi tiba tiba pak Agil mengarahkan mukaku ke hadapannya, bibirku dipagutnya dgn ganas, sementara celana dalamku dilorotkan seperlunya supaya jari tangannya bisa menusuk nusuk memek ku.

Mendapat perlakuan seperti ini, aku hanya bisa menggeliat & mengerang mengeluarkan suara tak jelas, “Emmph… mmmhh..”. Aku terus meronta, tapi makin lama rontaanku makin lemah, & kudengar pak Agil tertawa menjijikkan, nampaknya ia yakin sekali aku sudah takluk padanya. Tapi aku tak bisa apa apa, tenagaku rasanya sudah melayang lenyap entah kemana.

Aku memejamkan mata, perlahan rasa nikmat yg menjalari tubuhku kembali mengalahkan akal sehatku. Desahan & lenguhanku mulai terdengar, makin lama makin keras. Entah sejak kapan, tapi braku sudah jatuh ke lantai, celana dalamku juga sudah melayang entah kemana. Pak Agil mengatur posisiku sedemikian rupa hingga aku berdiri agak doyong ke depan menghadap kaca rias, dgn kedua tanganku menumpu di sana, kedua kakiku terpentang lebar.

Aku makin keras mendesah ketika beberapa jari tangannya mengaduk aduk memek ku dari belakang. Kupejamkan mataku kuat kuat, rasanya malu memandang diriku di kaca dalam keadaan telanjang bulat & sedang dipermainkan dari belakang oleh orang yg seumur dgn papaku. “Non, enak ya non diaduk aduk gini?”, ejek pak Agil melihatku sedang menggeliat keenakan.

Aku hanya bisa diam menahan rasa malu ini, tapi aku tak mampu bertahan untuk tidak orgasme, akhirnya tubuhku mulai tersentak sentak. Saat orgasme pertama mulai melandaku, kurasakan pak Agil mencabut jari tangannya dari liang memek ku, & tiba tiba kurasakan memek ku yg pasti sedang mengeluarkan cairan cintaku ini, dijilati & dicucup oleh pak Agil.

Tiba tiba kurasakan lidah pak Agil membelah & menusuk memek ku, mengorek ngorek semua sisa cairan cintaku, membuat aku terbeliak menahan nikmat, nafasku tertahan, & tubuhku makin menggelinjang. Tak bisa kutahan lagi, aku melenguh keenakan, “nggghhhh… ooooohhhh”.

Aku melemas & jatuh berlutut, tanganku yg serasa lunglai kupakai menahan tubuhku yg bergetar getar merasakan nikmat yg luar biasa ini. Ketika aku masih belum selesai melewati orgasme ini, tiba tiba pak Agil sudah ada di depanku & membuka resleting celananya. Ia mengeluarkan kontol nya yg sudah menegang, & dgn seenaknya ia menyodorkan kontol nya di depan mulutku, seolah olah memerintahkan budaknya untuk menghisap kontol nya.

Aku merasa terhina diperlakukan seperti ini, tapi aku tak bisa berbuat apa apa, & terpaksa menurutinya. Aku sempat memperhatikan kontol yg minggu lalu mengaduk aduk memek cie Elvira ini. Panjang, paling tidak antara 18 – 19 cm. Walaupun diameternya hanya sekitar 3,5 cm,tapi urat urat yg menonjol membuat kontol itu terlihat kekar & menyeramkan, siap mengaduk aduk liang memek ku dgn ganas.

Kubuka mulutku perlahan, & pak Agil yg sudah tak sabar langsung menjejalkan kontol nya ke dalam mulutku. Aku segera berusaha membiasakan diri dgn rasa kontol pak Agil ini. kontol yg begitu keras itu kuulum kulum & kujilati memutar, perlahan akhirnya aku mulai menikmati mengoral kontol panjang ini. Kumasukkan kontol ini ke tenggorokanku dalam dalam, hingga pak Agil mengerang ngerang keenakan.

Aku sedang mencucup kepala kontol pak Agil ketika tiba tiba aku mendengar kata kata pak Agil, “Bu Elvira, bukan saya yg maksa lho, tapi memang murid ibu yg nafsu nyepongin punya saya ini”. Serasa bagai mendengar petir di siang bolong, aku melepaskan kulumanku pada kontol pak Agil, & memang di kaca rias ruang ganti yg memanjang itu kulihat cie Elvira yg menandangku dgn tertegun.

Terlihat jelas ia tak percaya melihat apa yg sedang kulakukan ini. “Eliza… kamu…?”, cie Elvira bertanya kepadaku yg hanya bisa menunduk, aku malu & takut sekali, tak berani melihat muka cie Elvira. Pak Agil yg tertawa tawa sejak tadi, tiba tiba mengangkat tubuhku, & aku kembali diposisikan seperti tadi, dgn kedua kaki terpentang lebar & tanganku kembali menumpu di kaca rias menahan badanku yg doyong ke depan.

Sekali ini tentu pak Agil tak hanya menggunakan jarinya, kontol nya yg baru saja kukulum tadi akan segera menghajar selangkanganku. “Bu Elvira, daripada nanti ngiri sama murid ibu, sekalian aja gabung ke sini bu”, kata pak Agil dgn nada yg benar benar mengejek kami berdua. Aku melihat dari kaca rias, cie Elvira medekati kami sambil melihatku dgn pandangan yg aneh.

& tiba tiba pak Agil memegangi pinggulku, lalu kontol nya ditempelkan ke mulut memek ku. dgn sekali sentak, kontol itu tertelan habis ke dalam liang memek ku yg sudah amat basah, sementara kontol itu sendiri sudah basah oleh air liurku tadi.

“Ngghhh…”, aku melenguh antara sakit & nikmat, merasakan urat urat yg menggerinjal pada kontol pak Agil ini menerobos keluar masuk, membuat setiap gesekan pada dinding liang memek ku terasa begitu nikmat” “Oooh.. sempitnya noon”, erang pak Agil. Aku menggigit bibir menahan nikmat yg mengalahkan rasa malu ini, disetubuhi di depan cie Elvira.

Tiba tiba kulihat dari kaca rias, pak Agil yg masih menggenjotku dari belakang, merangkul cie Elvira & memagut bibirnya habis habisan, & cie Elvira terlihat larut dalam pagutan pak Agil. Keduanya melakukan french kiss cukup lama, tapi pak Agil terus menggenjotku dgn tempo yg lumayan cepat.

Setelah puas melumat bibir cie Elvira, pak Agil menyuruh cie Elvira memposisikan dirinya sepertiku di sebelah kananku, kemudian segera kudengar cie Elvira mendesah & kulihat tubuh cie Elvira tersentak beberapa kali. Saat kulihat ke belakang, ternyata tangan pak Agil sedang berada di sekitar selangkangan cie Elvira. Mudah saja ditebak, pasti sekarang jari tangan pak Agil sedang mengaduk aduk memek cie Elvira.

“Aaaah…”, aku mengerang ketika dgn kasar pak Agil menyodokkan kontol nya dalam dalam, tubuhku mengejang menahan rasa sakit bercampur nikmat yg melanda tubuhku ini. Cie Elvira yg di sebelahku juga mulai menggeliat, tapi yg membuatku merasa kikuk, cie Elvira memandangku dgn tatapan yg sayu & aneh, membuat aku jadi salah tingkah & bulu kudukku serasa meremang. Masa iya cie Elvira sedang bermaksud lain padaku?

Cie Elvira tiba tiba meraih tangan kananku & dilingkarkan ke lehernya, sementara ia juga melingkarkan tangan kirinya pada leherku. Ia menolehkan mukaku, medekatkan mukanya & tiba tiba memagut bibirku dgn ganas, membuat jantungku serasa berhenti, tak tahu harus berbuat apa. Tak lama kemudian, aku sudah hanyut oleh ciuman cie Elvira, & dari awalnya tegang, lalu aku mulai pasrah.

Sekarang aku bahkan membalas ciuman ini. Lidah kami saling bertautan, aku merasa nikmat yg melandaku semakin berlipat ganda, dgn sodokan demi sodokan kontol pak Agil yg menghajar memek ku dgn ganas sementara aku berciuman dgn cie Elvira sampai akhirnya kami saling melepaskan diri setelah sama sama kehabisan nafas.

Aku hanya bisa tersipu malu tak berani memandang cie Elvira, tapi harus kuakui ada gairah aneh yg sempat melandaku tadi saat kami saling berpagut seperti layaknya sepasang kekasih. Setelah beberapa menit digenjot pak Agil, aku mulai merasakan akibatnya. “Ngghh… ooooh… aduuuh…”, aku mulai melenguh & mengerang, rasanya aku akan segera orgasme.

Di sebelahku kulihat cie Elvira juga mulai menggeliat & tubuhnya bergetar getar, terlihat sekali cie Elvira sedang dilanda kenikmatan yg maha dashyat. Aku sendiri sudah melayang di awang awang, tubuhu tersentak sentak dilanda orgasme yg kedua kalinya ini.

“Oooohh.. gilaaa.. seret abiiiis nooon”, erang pak Agil ketika otot memek ku rasanya berkontraksi, pasti saat ini pak Agil merasa kontol nya sedang diremas remas di dalam sana. Tak lama kemudian pak Agil menggeram, kurasakan kontol nya berkedut & menyemprotkan cairan hangat di dalam liang memek ku saat ia mengerang ngerang penuh kepuasan.

Aku langsung melemas & jatuh berlutut, kontol nya terlepas dari memek ku. Tak kuduga, cie Elvira tiba tiba merangsek ke selangkanganku, kini wajahnya sudah ada di hadapan memek ku dgn tatapan penuh nafsu. Aku agak ngeri & merambat mundur, tapi cie Elvira dgn cepat sudah memeluk kedua pahaku yg dilebarkannya.

memek ku sudah diserang habis oleh cie Elvira yg mencucup cairan cintaku yg sudah bercampur dgn sperma pak Agil. “Ciee.. ooooh… nggghhhh… “, aku mengerang & melenguh, tubuhku menggelepar tak berdaya dihantam kenikmatan yg tiada tara ini. Beberapa menit lamanya tubuhku tersentak sentak dihantam badai orgasme.

Rasanya tubuhku semakin lemas, & aku sudah pasrah, terserah mereka berdua yg hendak memperlakukan tubuhku seperti apa. Aku menurut saja ketika pak Agil memasukkan kontol nya ke mulutku, & tanpa diperintah aku sudah mengulum ngulum kontol itu, menyeruput semua sisa spermanya & cairan cintaku yg masih menempel di kontol itu.

Tiba tiba terdengar suara pintu ruang depan terbuka, membuat aku sadar dari pesta seks yg memabukkan ini. dgn panik aku segera melepas kulumanku pada kontol pak Agil, lalu menyambar semua bajuku yg berserakan & segera masuk ke salah satu kamar ganti lalu menutup tirainya.

Aku tak tahu apa yg dilakukan cie Elvira ataupun pak Agil, tapi akuku berharap mereka tak segila itu untuk membiarkan teman teman les balet tahu apa yg baru saja terjadi. Aku langsung mengenakan bra & celana dalamku, lalu mengenakan kostum baletku. Ketika aku memakai sepatuku, aku melihat bercak basah di bagian selangkanganku.

Kelihatannya cairan cintaku masih terus mengalir dari memek ku yg memang masih terasa berdenyut denyut. Urat urat kontol pak Agil tadi benar benar membuatku keenakan, tapi kini aku bingung, bagaimana jika di antara teman temanku ada yg menyadari memek ku baru saja memuntahkan cairan cinta?

Kudengar suara teman temanku yg gaduh seperti biasanya saat berganti di ruangan ini. Aku keluar dari ruang ganti, menyapa semuanya & segera pergi ke atas panggung latihan. Jantungku berdebar kencang, berharap acara latihan ini segera selesai, sebelum ada yg tahu tentang selangkanganku yg basah. Cie Elvira sudah datang ke atas panggung, & latihan pun dimulai.

Aku berada di depan sendiri seperti biasa, jadi aku masih punya harapan tak ada yg tahu tentang keadaanku. Ketika latihan baru berjalan 15 menit, cie Elvira tiba tiba menghentikan kami sejenak, & mendatangiku. Aku jadi agak panik & memandangnya dgn penuh tanda tanya, tapi perasaan tegang itu langsung sirna ketika aku mendengar kata kata cie Elvira.

“Liza, kamu kelihatan sakit? Badanmu tak biasanya sampai berkeringat banyak seperti ini. kalau kamu sakit, nggak usah dipaksakan deh, kamu boleh istirahat di ruang ganti, atau menonton saja di bawah panggung”, kata cie Elvira lembut.

dgn penuh rasa terima kasih, aku mengangguk pada cie Elvira, lalu aku segera keluar dari barisan menuju ke ruang ganti di belakang panggung. Tapi ketika aku masuk, aku sadar aku harusnya lebih baik menonton saja tadi, karena ruang ganti ini sudah menunggu pak Agil dgn senyumnya yg menjemukan.

“Wah wah, non sudah gak sabar ya, masa sampai bela belain meninggalkan latihan yg baru saja dimulai. Sudah kangen ngerasain ini lagi ya non?”, kata pak Agil dgn kurang ajarnya sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah selangkangannya. Aku hendak keluar untuk menyelamatkan diri, tapi pak Agil lebih sigap.

Pak Agil menangkap pergelangan tanganku, lalu menyeretku ke dalam salah satu kamar ganti & menutupkan tirainya. “Pak Agil.. jangan begini paak…”, aku berusaha memohon agar ia menghentikan semua ini. Tapi seperti orang yg kesetanan, pak Agil memepetkan aku ke dinding sekat, lalu mencumbuku dgn ganas & terus meremasi kedua toket ku & meraba raba sekujur tubuhku.

Aku mulai meronta, berusaha lepas dari semua ini. Kudorong mukanya yg dari tadi menyusuri mukaku dgn bernafsu, & tiba tiba aku kehilangan keseimbangan. Aku terjatuh ke tempat yg biasa dipakai duduk untuk mengenakan sepatu. Untung saja kepalaku tidak terbentur ke tembok. Pak Agil yg langsung menindihku, membuat posisiku semakin terjepit.

“Kalau non melawan terus, nanti sepulang latihan non akan saya bagikan pada orang orang yg berjualan di depan. Apa begitu maunya non?”, ancam pak Agil, membuat aku bergidik ngeri & perlawananku berhenti dgn sendirinya.

“Lagipula, non gak usah malu malu deh”, kata Pak Agil dgn nafas memburu. “Tadi bukannya non keenakan sampai keluar dua kali? kok sekarang pura pura nggak mau”, ejeknya lagi. Aku membuang muka, ejekan itu benar benar membuat aku tak berdaya. Ingin aku menyangkal tapi kenyataannya memang aku tadi orgasme dua kali dibuatnya.

“Non, ayo lepas bajunya. Atau saya bantuin melepas?” tanya pak Agil sambil berdiri & melepas celananya. “Pak, saya lepas sendiri saja”, kataku cepat. Aku tak ingin kostum baletku ini robek karena kebodohan pak Agil yg pasti tak tahu bagaimana melepas kostum balet dgn benar. Aku mulai melucuti bajuku sendiri, & kumasukkan ke dalam tasku di luar.

Kini tinggal bra & celana dalam yg menutupi tubuhku. Aku masuk kembali ke dalam ruangan eksekusi itu, dgn membawa tasku. Ketika aku melorotkan celana dalamku yg sudah becek itu, pak Agil kelihatan sudah tak tahan melihat pertunjukan striptease yg sedang kulakukan ini. Ia langsung menyergapku & merenggut lepas braku.

Aku kembali dirobohkan ke tempat duduk itu, & dgn buas pak Agil mencumbuiku habis habisan. Puting susu toket ku yg sebelah kanan dicucupnya kuat kuat, sesekali digigit kecil olehnya. Selagi aku menggeliat lemah menahan sakit, toket ku yg kanan mulai diremas remas dgn kasar. Dirangsang habis habisan seperti ini, akhirnya aku tak mampu bertahan untuk tidak mendesah.

Aku kembali menyerahkan diriku dgn putus asa, membiarkan pak Agil memperlakukan tubuhku sesuka hatinya. Tangan kiri pak Agil yg menganggur, kini mengaduk aduk memek ku dgn sedikit kasar. Selagi aku berusaha beradaptasi dgn kekasaran pak Agil ini, beberapa saat kemudian kurasakan kepala kontol pak Agil sudah bergesekan dgn bibir memek ku.

Tubuhku yg dipepet pak Agil tak bisa bergerak bebas, maka aku hanya bisa pasrah, kedua pahaku sudah terangkat melebar, & aku merasakan setiap milimeter gesekan kontol pak Agil pada dinding liang memek ku ketika penetrasi itu dimulai, & tubuhku mengejang antara sakit bercampur nikmat, & aku menggigit bibirku, berusaha segera beradaptasi dgn persetubuhan ini.

Hingar bingar suara musik di luar membuat aku lebih leluasa untuk melepaskan lenguhan tanpa kuatir terdengar oleh mereka. “Enngghh.. pak…”, aku melenguh keenakan ketika tiba tiba kontol pak Agil menyodok dalam dalam. Cairan cintaku yg sudah kembali meleleh melumasi memek ku membuat sodokan itu terasa begitu nikmat.

Apalagi urat urat yg menggerinjal itu berdenyut denyut, membuat aku kehilangan kontrol & mulai menggerakkan pinggulku menyambut tiap genjotan yg dilakukan pak Agil. “Enak ya non?” tanya pak Agil dgn senyum mengejek. “Iyah pak… nngghh.. ooohh” jawabku tanpa sadar. yg kupikirkan sekarang adalah mengejar orgasmeku, tak kuperdulikan pak Agil yg mengejekku dgn cara menirukan desahan, erangan & lenguhanku.

Genjotan itu makin lama makin kuat, akhirnya aku dilanda orgasme hebat, pinggangku sampai melengkung seolah mengekspresikan nikmat yg amat sangat ini. Beberapa kali tubuhku tersentak sentak sampai akhirnya melemas, kakiku yg melejang lejang terasa begitu pegal. Pak Agil masih menggenjotku dengen bersemangat, & aku yg sudah kelelahan hanya bisa menggeliat lemah.

Satu hentakan keras batang kontol yg amat keras itu mengakhiri genjotan pak Agil pada memek ku. Cairan hangat menyemprot dari kontol pak Agil, membasahi memek ku yg sudah amat basah ini, pak Agil menggeram & tubuhnya bergetar getar, terlihat sekali ia amat puas. Pak Agil menarik kontol nya perlahan dari liang memek ku, membuat dinding memek ku rasanya digesek perlahan oleh urat urat kontol pak Agil.

Hal ini menimbulkan sensasi tersendiri, & aku mendesah perlahan. “kenapa non? Masih belum puas? Nanti jangan pulang dulu non, kita lanjut lagi ke babak kedua, sekalian sama bu Elvira”, kata pak Agil. Mendengar kata katanya ini, aku terkejut & mendorongnya. “Pak Agil, jangan macam macam ya. Sudah cukup sampai di sini! Memangnya kenapa saya harus menuruti & melayani pak Agil!”, kataku sedikit membentak.

“Karena non pasti tak ingin celana dalam non ini saya berikan pada orang orang di luar sana kan?”, dgn santai pak Agil memegang celana dalamku, lalu dgn gaya menjijikan pak Agil menghirup bau celana dalamku. “mmm harumnya..”, guman pak Agil.

Aku hanya bisa memandang marah padanya, tapi aku tahu mau tak mau aku harus menuruti kemauan tukang sapu sialan ini daripada aku jadi bulan bulanan mereka yg biasa berjualan di luar. Pak Agil dgn senyum kemenangan menyodorkan kontol nya ke wajahku, & aku mengulum & menjilati kontol itu dgn kesal.

Ingin rasanya kugigit saja kontol yg sedang kukulum ini, tapi aku tak berani melakukannya. “Jadi nanti saya harap saya bisa menemukan non di ruang ganti ini waktu semua orang sudah pulang. Non mengerti kan siapa yg akan rugi kalau non sampai berani pulang duluan?”, kata pak Agil santai sambil menikmati hisapanku pada kontol nya.

Setelah puas ia meninggalkanku sendirian, & aku termenung beberapa saat, lalu memakai sisa pakaianku tanpa celana dalam. Kini aku hanya bisa berharap hari ini cepat berlalu. Suara musik di depan sudah berhenti, latihan balet sudah selesai. Aku segera keluar & berpapasan dgn teman temanku yg sudah menghambur ke ruang ganti.

Di luar aku duduk termenung di kursi panjang tempat Cie Elvira minggu lalu digarap oleh pak Agil. Aku pasrah menunggu nasib. Cie Elvira tiba tiba menghampiri & mengejutkanku, “Liza, kamu kok tidak pulang saja sekarang?”. Aku hanya tertunduk, & ketika cie Elvira duduk di sebelahku, aku berbisik pada cie Elvira tentang apa yg terjadi padaku di ruang ganti tadi.

“Dasar bandot sialan”, cie Elvira menghentakkan kakinya ke lantai dgn marah. Cie Elvira makin kesal ketika aku mengatakan tadi pak Agil juga berencana mengajak cie Elvira untuk babak kedua nanti. Tapi kami berdua tak bisa berbuat apa apa, hanya bisa menunggu dgn kesal. Tapi sejujurnya, ada sebersit perasaan terangsang yg melandaku, ketika aku memikirkan harus menyerah pasrah pada pak Agil itu.

“Liza, maafin cie cie kamu jadi terlibat sejauh ini. Semua juga gara gara minggu lalu kamu terpaksa harus melihat cie cie yg sedang main gila dgn bandot sialan itu sekarang cewek baik baik seperti kamu harus menanggung dosa seperti cie cie”, kata cie Elvira sedih.

“Nggak cie, Liiza bukan cewek yg suci suci amat kok”, kataku berusaha menghibur cie Elvira. Aku menceritakan sekilas tentang keadaanku, tentu saja dgn suara yg pelan & memastikan tak ada teman temanku di sekitar kami yg bisa mendengar. Cie Elvira tertegun mendengar semuanya, pengalaman seks ku di sekolah, di rumah, di rumah temanku Jenny, juga di villa.

Rambutku dibelai oleh cie Elvira yg terlihat amat prihatin pada nasibku. “Liza, tadi, cie cie menyedot habis sperma si bandot itu, cie cie berusaha mencegah kamu sampai dihamili oleh tukang sapu yg tak tahu diri itu, Liza”, wajah cie Elvira bersemu merah ketika mengatakan hal ini. “Untungnya kamu sudah minum pil anti hamil, Liza”, sambung cie Elvira yg menundukkan mukanya & tesipu malu.

Aku teringat kejadian tadi, aku menjadi sangat malu, terutama karena aku amat menikmati saat saat cie Elvira mencucup cairan cintaku yg bercampur dgn sperma pak Agil tadi. dgn wajah yg terasa sangat panas, aku memeluk cie Elvira & berkata, “Cie cie, nggak usah kuatir, aku udah minum obat anti hamil kok.”. Setelah itu semua teman temanku berpamitan pulang pada cie Elvira.

Begitu ruangan ini kosong, pak Agil masuk menghampiri kami berdua yg menatapnya dgn kesal tanpa daya. “Kurang ajar kamu itu Gil. Belum cukup apa kamu gituin saya?”, bentak cie Elvira. Pak Agil tertawa tawa & mendekatiku, tiba tiba tangannya merangsek ke selangkanganku melewati rok yg kukenakan. dgn tepat salah satu jari tangannya melesak masuk ke liang memek ku, mengaduk aduk liang kenikmatanku dgn kasar.

“Oooh…”, aku mengerang menahan sakit yg bercampur nikmat ini. “Masa saya kurang ajar bu? Murid ibu yg memang rela kok, buktinya dia nggak pakai celana dalam, & memeknya sudah becek seperti ini”, pak Agil berkata sambil mencabut jari tangannya dari liang memek ku, membuatku sedikit menggeliat, rasanya amat nikmat ketika bagian dalam memek ku ikut terseret keluar ketika jari itu tercabut lepas.

Ia mempertontonkan jari tangannya yg sudah becek sekali berlumuran cairan cintaku. Aku membuang muka, malas aku melihat muka orang yg buruk rupa ini yg kini sudah berkuasa atas tubuhku. “Bu, kok masih belum buka bajunya? Jangan malu malu di depan murid ibu lah, kita kan sudah biasa mengarungi surga dunia bersama sama?”, kata pak Agil sambil kembali menancapkan jari tangannya ke liang vagnaku, & ia mulai melanjutkan aktivitasnya mengaduk aduk liang memek ku dgn jarinya.

“Kamu…”, cie Elvira tak bisa meneruskan kata katanya, hanya memandang marah pada pak Agil, sementara aku mulai larut oleh permainan jari tangan pak Agil di memek ku. Tubuhku sesekali mengejang, & aku memandang sayu pada cie Elvira, yg membalas tatapanku dgn pandangan aneh seperti tadi. Oh.. apakah cie Elvira akan…?

Dugaanku benar, tiba tiba cie Elvira mendekatiku, & dgn nafas yg memburu cie Elvira tiba tiba memagut bibirku. Aku benar benar kelabakan, perasaan aneh yg menjalari tubuhku ditambah sensasi adukan jari tangan pak Agil pada liang memek ku, benar benar membuatku kehilangan kontrol atas diriku.

Tanpa sadar aku memeluk cie Elvira & membalas pagutannya dgn tak kalah bernafsunya. “Lho lho… kok malah asyik sendiri toh kalian?”, ejek pak Agil pada kami yg masih saling berpagut. Kami tak memperdulikan ejekannya, & ciuman kami makin hot saja seolah saling tak ingin melepaskan. Lidahku & lidah cie Elvira saling bertautan & mendesak ke mulut lawan ciuman, pelukan kami juga makin erat.

Tiba tiba pak Agil kembali mengeluarkan jari tangannya dari liang memek ku, lalu ia menyusup duduk di antara aku & cie Elvira. Aku melihat celana dalam cie Elvira dilorotkan oleh pak Agil. & pak Agil mulai bergantian menyedot & mencucup cairan cinta dari memek ku & memek cie Elvira, membuat kami berdua mulai melenguh tak tahan dilanda kenikmatan ini.

“Ohh.. cieee…”, aku mengerang keenakan, sementara cie Elvira juga kelihatan terangsang berat, sesekali ia melenguh, “ngghhh.. Lizaa..”. tubuh kami berdua bergetar getar, akhirnya setelah disedot entah yg ke berapa oleh pak Agil, aku terbeliak, nafasku tertahan, tubuhku mengejang hebat.

Aku orgasme di pelukan cie Elvira, yg malah dgn ganas mencumbuku, membuat aku semakin tenggelam dalam nikmatnya orgasme yg makin menggelegak ini. Keringatku mengucur membasahi bajuku. Kurasakan cairan cintaku membanjir tapi kelihataanya semua ditelan habis oleh pak Agil yg masih saja mencucup mulut memek ku.

Aku & cie Elvira saling melepaskan pelukan dgn nafas yg tersengal sengal, & cie Elvira hanya pasrah saat tubuhnya dibaringkan oleh pak Agil di kursi panjang, & pak Agil melepas celananya, siap untuk bertempur.

Kini dgn bernafsu pak Agil mulai menggenjot cie Elvira yg masih memakai baju lengkap kecuali celana dalamnya yg sudah terlepas dari tadi. Aku duduk lemas memandangi mereka berdua yg sedang berpacu menuju orgasmenya. Aku tak pernah menyangka, cie Elvira yg biasanya terlihat alim itu kini begitu liar & larut dalam persetubuhannya dgn tukang sapu di sekolah balet ini.

Cie Elvira terlihat begitu menikmati saat saat memek nya dipompa habis habisan oleh pak Agil, ia melenguh & menggeliat keenakan, sesekali menjerit menahan nikmat yg melandanya. Tak lama kemudian cie Elvira orgasme, tubuhnya tersentak sentak di bawah tindihan pak Agil yg ternyata juga mengalami orgasme.

Pak Agil menggeram, tubuhnya bergetar, & ia mengerang, “ooooh… bu Elviraaa…”. Pak Agil sempat berkelojotan beberapa saat, & kontol nya ditusukkan dalam dalam pada liang memek cie Elvira. Mereka berdua mereguk kenikmatan itu bersamaan, & pak Agil jatuh tergeletak di lantai dgn nafas ngos ngosan.

Cie Elvira sendiri masih terbaring lemas di kursi panjang itu, tubuhnya bergetar getar, & cairan putih kental meleleh dari mulut memek nya. Nafas & desahan cie Elvira sesekali terdengar mengeras, bajunya basah oleh keringat. Kami semua diam & beristirahat sebentar, & aku melihat jam menunjuk pukul setengah delapan malam.

Beberapa menit kemudian, pak Agil berdiri, ia memandangi cie Elvira yg sudah mulai sadar dari orgasmenya. “Bu Elvira, sampai keringatan gitu, gimana kalau kita mandi saja?”, tanya pak Agil dgn pandangan mesumnya. Cie Elvira hanya pasrah saat pak Agil mengangkatnya berdiri & setengah menyeret cie Elvira ke kamar mandi di sekolah balet ini.

Aku bingung tak tahu harus berbuat apa. Tapi saat pak Agil akan menghilang ke pintu kamar mandi, ia memanggilku, tentunya dgn gaya yg amat melecehkanku. Jari telunjuk kanannya diarahkan padaku, lalu ditekuk ke arahnya beberapa kali seolah memanggil seorang budak.

dgn kesal namun penasaran apa yg akan terjadi dgn cie Elvira, aku mengikuti mereka masuk. Di dalam aku melihat pak Agil yg sudah telanjang bulat, sedang menanggalkan baju cie Elvira satu per satu. Cie Elvira sempat menahan tangan pak Agil ketilka hendak menanggalkan bra merah mudanya, tapi , hingga tubuh cie Elvira yg putih mulis kini sudah polos tak tertutup apapun.

Ikat rambut cie Elvira dilepas oleh pak Agil, hingga rambut cie Elvira tergerai melewati bahunya. Cie Elvira terlihat makin cantik saja, & hal ini entah kenapa membangkitkan gairahku. Pak Agil menyemprotkan air dari selang yg dipasangnya di kran kamar mandi itu ke tubuh cie Elvira. Entah dinginnya air yg membasahi tubuh cie Elvira, atau belaian pak Agil yg membuat tubuh cie Elvira menggigil…

Pak Agil membasahi seluruh tubuh cie Elvira, & dgn lembut ia membelai sekujur tubuh cie Elvira yg hanya memejamkan matanya. Pak Agil mulai menyabuni tubuh cie Elvira, perlahan dari pundak, punggung, pantat, lalu beralih ke depan, mulai dari dada & kedua toket nya. Sesekali pak Agil meremas lembut kedua toket cie Elvira, & cie Elvira mendesah pasrah.

Cie Elvira bahkan mengangkat kedua lengannya yg sudah selesai disabuni, & pak Agil menyabuni ketiak cie Elvira. Setelah bagian atas selesai, pak Agil menyiram tubuh cie Elvira dgn penuh perhatian, membersihkan semua sisa busa sabun yg masih melekat di tubuh cie Elvira. Tentu saja itu dilakukan pak Agil sambil sesekali membelai & meremas kedua toket cie Elvira, yg kembali hanya bisa mendesah & menggeliat lemah.

Cie Elvira terlihat menikmati perlakuan pak Agil yg melanjutkan menyabuni tubuhnya bagian bawah. Pahanya sedikit terentang, & pak Agil menyabuni selangkangan cie Elvira, yg mulai berkelojotan ringan & menjerit kecil ketika jari tangan pak Agil mengaduk aduk memek nya. Pak Agil mengeluarkan sisa spermanya yg ditembakkannya saat menyetubuhi cie Elvira tadi, & cie Elvira sampai harus berpegangan pada tembok selagi tubuhnya semakin hebat menggeliat.

Siraman air yg disemprotkan deras pada memek cie Elvira oleh pak Agil, membuat cie Elvira tak tahan lagi, ia orgasme hebat & melenguh keenakan. “Eeenngggh…”, erang cie Elvira yg lalu mulai melemas, & jatuh terduduk di lantai. Pak Agil menyabuni paha & betis cie Elvira, lalu menyiram lembut sampai tak ada sisa busa sabun di sana, lalu mengeringkan tubuh cie Elvira dgn handuk

Tiba tiba aku merasa ingin dimandikan juga. Tapi masa aku yg meminta? Maka aku hanya diam, memandangi mereka berdua yg sedang asyik ini dgn sedikit iri. Hah? Masa aku sudah separah ini, sampai menginginkan diriku diperlakukan seperti cie Elvira? Aku berusaha meredam birahiku yg makin tinggi ini.

Tapi ketika kulihat Pak Agil menyusu pada cie Elvira yg mulai mendesah & menggeliatkan tubuhnya, aku makin tak tahan, kurasakan cairan cintaku mulai meleleh sedikit dari liang memek ku. Aku benar benar sudah terangsang, nafasku makin memburu. “Non Liza, ini yg sering bapak lakukan sama bu Elvira. Kelihatannya non Liza juga kepingin ya?”, tanya pak Agil sambil terkekeh.

Aku tak bisa menjawab, mukaku makin panas saja rasanya. Aku pun membuang muka ketika pak Agil meninggalkan cie Elvira & mendekatiku. Sekarang pak Agil sudah memepetku di tembok, jantungku berdegup kencang menanti apa yg akan terjadi padaku. Kudengar ia berbisik di telingaku, “mau saya mandikan seperti bu Elvira, non Liza?”

Gilanya, tanpa bisa aku tahan, aku mengangguk lemah. Sadar dgn apa yg baru saja kulakukan, aku memejamkan mata menahan malu yg amat sangat ini. Pak Agil tertawa penuh kemenangan, & mulai melucuti pakaianku. Aku merasa tak ada harga diriku yg tersisa lagi di depan tukang sapu ini, & beberapa saat kemudian aku sudah telanjang bulat, & aku dibawa ke dekat mulut selang itu.

Ikat rambutku dilepas oleh pak Agil hingga tergerai bebas. Aku sempat teringat, semua orang yg mengenalku berkata aku bertambah cantik waktu rambutku tergerai seperti ini. Tapi ini bukan waktu untuk bernarsis ria. Cie Elvira beralih ke tempat yg aman dari semprotan air, & memandangiku yg mulai dimandikan oleh pak Agil. Seluruh tubuhku dibasahi oleh pak Agil, rasanya segar & nyaman.

Sesekali aku menikmati belaian lembut oleh tangan pak Agil pada leherku, pundakku & kedua toket ku. Ketika mulut memek ku digesek pelan oleh pak Agil, aku merintih pasrah, kubiarkan pak Agil melakukan apa saja pada tubuhku yg sudah basah seluruhnya, lalu ia mulai menyabuni tubuhku.

Dimulai dari leherku bagian belakang ke depan, kemudian punggungku digosoknya lembut & melingkar ke depan. Aku sedikit menggeliat ketika kedua tangan pak Agil yg menyabuni toket ku sesekali meremas lembut. Kedua ketiakku tak luput dari perhatian pak Agil, ia menyabuni keduanya sebelum meneruskan ke arah perutku.

Merasakan sekujur tubuhku dibelai seperti ini, aku mulai mendesah & menikmati setiap rabaan tangan pak Agil, juga busa sabun yg lembut ini menambah sensasi yg kurasakan. Perutku digosok oleh pak Agil dgn sedikit ditekan, lalu memutar ke belakang, & ketika sampai pada bagian pantatku, pak Agil dgn nakal meremas keras, membuatku sedikit meloncat & menjerit kecil karena terkejut.

Siraman air dingin kembali mengguyur tubuhku, membersihkan tubuhku dari busa sabun ini. Setelah itu, seperti cie Elvira tadi, pak Agil mulai menyabuni daerah selangkanganku, & mengorek ngorek memek ku dgn jari tangannya. Aku menggeliat & menggigit bibir menahan nikmat diperlakukan seperti ini. Semprotan air dari selang ke arah memek ku membuat sensasi ini makin dahsyat.

Hampir saja aku orgasme saat pak Agil menghentikan semprotannya pada memek ku. Aku mengeluh tapi untungnya pak Agil kembali mengorek ngorek memek ku, & tak lama kemudian ia berhasil mengantarku menuju orgasmeku. Tubuhku berkelojotan & melemas, perlahan aku jatuh terduduk di lantai yg basah ini.

Setelah menyabuni kedua kakiku & betisku, pak Agil menyemprotkan air membersihkan semua sisa busa sabun pada tubuhku ini. lalu aku diangkatnya, & didudukkan di sebelah cie Elvira. Tubuku yg basah kuyup dikeringkan oleh pak Agil dgn handuk tadi. Lalu pak Agil menarik berdiri cie Elvira, & kaki kiri cie Elvira diangkat tinggi oleh pak Agil.

Kini memek cie Elvira cukup terbuka, & pak Agil menancapkan kontol nya ke liang memek cie Elvira. Lalu pak Agil mulai menggenjot cie Elvira, yg hanya bisa menggeliat lemah & melenguh keenakan. Tiba tiba samar samara kudengar ada bunyi HP. Aku memperhatikan sejenak, ternyata dari luar. Aku segera berlari menuju arah bunyi itu, & ternyata dari HPnya cie Elvira.

Aku mengambil & membawa HP itu masuk kembali ke dalam kamar mandi tempat kami pesta sex, sambil membaca siapa peneleponnya. “Cie, ini dari ko Johan. Gimana cie?”, tanyaku. Cie Elvira menatapku sayu sambil meminta HPnya dariku, “Berikan.. pada cie cie.., Liza..”. Aku memberikan HP itu & cie Elvira segera menekan tombol jawab.

“Halo… iya sayang…”, cie Elvira mulai bercakap cakap dgn ko Johan. Tentu saja kata kata cie Elvira terputus putus, karena pak Agil tak menghentikan genjotannya sama sekali. Terlihat sekali cie Elvira berusaha menjaga kewajaran gaya bicaranya, tapi tetap saja ia sedikit melenguh saat. “Nggak… apa apa… sayang.. aku… ada di wc… kok… iyah.. aku agak telat.. pulangnya…”.

Aku teringat waktu aku digangbang kedua pembantu & sopirku di rumah & kebetulan kokoku telepon, maka aku tahu apa yg sedang dirasakan cie Elvira sekarang ini. Entah kenapa aku malah mulai terangsang melihat cie Elvira yg sedang berjuang keras menahan lenguhannya. Kudengar keraguan dari cie Elvira ketika ia mengucapkan “Iyah sayang… aku… aku juga… cinta kamu…”

Cie Elvira menutup HPnya, & segera saja cie Elvira melepaskan lenguhannya sejadi jadinya. “Ngggghhh… oooohhhh… aduuuuhhh…”, erangan & lenguhan cie Elvira memenuhi ruangan ini. Cie Elvira dilanda orgasme yg amat dahsyat. Tubuhnya berkelojotan, sampai pak Agil tak kuat menahan sentakan demi sentakan dari tubuh cie Elvira. kontol nya tertarik lepas karena tubuhnya terdorong saat cie Elvira menggeliat hebat, & terlihat cairan cinta cie Elvira menetes netes dari mulut memek nya.

Pak Agil berlutut & mencucup memek cie Elvira yg masih bersandar di tembok. Cie Elvira terus mengerang & melenguh, & hal ini malah membuatku menjadi liar. Tanpa memperdulikan martabatku yg aku rasa memang sudah hancur ini, kudorong pak Agil hingga roboh, lalu kontol nya yg masih tegak mengacung itu kududuki hingga tertelan oleh memek ku.

Aku mulai menaik turunkan tubuhku yg masih basah ini, hingga memek ku terpompa kontol itu. Pak Agil agak kelabakan & mengerang ngerang. Cie Elvira tak tinggal diam. Ia menduduki muka pak Agil hingga memek nya tepat ada di atas mulut pak Agil. “Gil, ayo jilatin punyaku”, perintah cie Elvira. Kini pak Agil kewalahan menghadapi keliaran kami berdua. Aku & cie Elvira seolah berlomba mencapai orgasme.

Tentu saja aku yg menang, karena memek ku dipompa oleh kontol pak Agil, sementara memek cie Elvira hanya dijilatin saja. “Eeenngghhh… “, aku melenguh & tubuhku berkelojotan di atas pak Agil, yg ternyata juga orgasme bersamaan denganku. Pak Agil menggeram & sempat meracau ketika cie Elvira sedikit mengangkat badannya.

“Ooohhh.. memang punya non Liza ini… paling enaaak… lebih enak dari punya non Veraa”, pak Agil meracau, membuat aku & cie Elvira saling pandang. Kurasakan kontol pak Agil berkedut & menembakkan cairan hangat di dalam liang memek ku. Aku agak melemas, & menarik lepas memek ku dari tusukan kontol pak Agil yg mulai loyo.

Cie Elvira yg masih belum orgasme, segera mengubah posisinya jadi 69. Cie Elvira membungkukkan badannya, & mulai menghisapi kontol pak Agil dgn gencar, membuat pak Agil mengerang ngerang & berkelojotan, tapi cie Elvira tak perduli. Aku melihat semua itu dgn birahi yg perlahan kembali naik, tapi aku hanya melihat saja apa yg sedang dilakukan cie Elvira.

Kata kata pak Agil tentang Vera tadi juga membayang di pikiranku. Oh.. ternyata selain cie Elvira, Vera juga jadi pemuas nafsu seks pak Agil ini sebelum aku juga terlibat. Tapi pemandangan di depanku terlalu indah untuk kulewatkan dgn melamunkan hal itu. Cie Elvira & pak Agil saling memuaskan pasangannya dgn gaya 69, akhirnya cie Elvira orgasme duluan.

“Ohh… aduuuuh…”, erang cie Elvira, tubuhnya kembali berkelojotan. Cie Elvira duduk lemas di sebelah pak Agil, & aku berpikir, mungkin kali ini aku & cie Elvira bisa bekerja sama mengalahkan pak Agil ini. Aku segera menggantikan cie Elvira menghisap kontol pak Agil, yg mulai mengerang kembali, makin lama makin keras.

Aku tak tanggung tanggung lagi menghisap kontol pak Agil ini. Kujilati memutar, kucucup perlahan & saat kontol itu sudah mengeras kembali, aku memasukkan ke dalam tenggorokanku dalam dalam. Pak Agil melolong keenakan, tapi jelas sekali staminanya sudah terkuras. Ia hanya pasrah saja saat aku terus melakukan deep throat ini, sampai akhirnya kontol nya berkedut & menyemburkan spermanya.

Aku melepaskan kulumanku pada kontol pak Agil yg kini sudah terengah engah seperti baru saja berlari maraton. Cie Elvira dgn iseng kembali menghisap kontol pak Agil yg sudah loyo itu, membuat pemiliknya sampai memohon mohon supaya cie Elvira & aku menghentikan semua ini. lho? Kok ganti kami para cewek ini yg memperkosa pak Agil?

Tapi cie Elvira tak perduli, ia terus memaju mundurkan kepalanya, sementara pak Agil terus memohon supaya cie Elvira menghentikan hisapannya. Beberapa saat kemudian, pak Agil mengerang ngerang & melemas, rupanya pak Agil kembali mengalami ejakulasi. Wajahnya memucat, ia terlihat semakin lemas & kelelahan.

Cie Elvira melepaskan kulumannya pada kontol pak Agil, & memberiku tanda untuk melanjutkan. Aku segera maju menggantikan cie Elvira, & ketika pak Agil memohon mohon padaku agak aku menghentikan hisapanku, kupakai kesempatan ini untuk meminta kembali celana dalamku. “Begini saja pak, kembalikan celana dalam saya, maka saya akan menghentikan semua ini”, kataku memberikan tawaran pada pak Agil.

Pak Agil segera menjawab, “Iya non, bapak kembalikan. Ambil saja di gudang sebelah kamar mandi ini, bapak taruh di dalam tas coklat besar”. Mendengar ini, aku pamit pada cie Elvira untuk ke gudang yg dimaksud pak Agil, & memang di sana kutemukan tas coklat seperti kata pak Agil tadi. Kubuka tas itu, kuambil celana dalamku & kusimpan dalam tasku sendiri yg tergeletak di kursi panjang itu.

Lalu aku masuk kembali, & kulihat cie Elvira sedang menghisap pak Agil. Ketika melihatku, cie Elvira menghentikan sejenak hisapannya, & bertanya padaku, “Gimana Liza, sudah kau temukan?”. Aku mengangguk sambil tersenyum, & cie Elvira melanjutkan hisapannya kembali, membuat pak Agil yg sudah amat lemas itu mengerang lemah, nafasnya makin ngos ngosan.

Setelah beberapa menit, tubuh pak Agil berkelojotan, & cie Elvira terus menghisap sampai tak ada lagi sperma yg tertinggal di kontol pak Agil. Barulah setelah itu, cie Elvira berdiri & berkata pada pak Agil, “Ini bayaranmu Gil karena berani mengganggu murid kesayanganku”. Pak Agil hanya diam, spermanya yg sudah diperas habis oleh kami berdua membuatnya amat lemas. Aku & cie Elvira saling tersenyum, kemudian kami menyempatkan untuk mandi bersama karena tubuh kami kembali berkeringat setelah melakukan pesta sex ini.

Aku & cie Elvira saling memandikan & menyabuni tubuh kami masing masing, tanpa larut dalam nafsu birahi. Kami memang bukan lesbian, tadi itu hanya letupan gairah yg luar biasa yg membuat kami berdua melakukan ciuman maut seperti itu. Setelah saling mengeringkan tubuh, kami segera berpakaian, lalu tanpa perduli kami keluar meninggalkan pak Agil yg masih tergolek lemas tak berdaya di lantai kamar mandi ini.

“Cie, Liza pulang dulu ya”, aku pamit pada cie Elvira yg tersenyum manis padaku & menjawab, “Iya Liza, cie cie juga mau pulang kok. Masa mau di sini terus menemani bandot sialan itu?”. Aku & cie Elvira tertawa geli, mengingat tukang sapu itu sudah kami taklukkan. Hatiku senang sekali, rasanya aku & cie Elvira makin akrab saja. Selain itu, besar harapanku bahwa pak Agil tak akan mengulangi perbuatannya hari ini terhadapku pada minggu depan & seterusnya.

Kami keluar dari sekolah balet ini saat jam menunjuk pukul 9. Beberapa abang becak yg mangkal di sekitar situ agak heran melihat kami berdua, mungkin mereka bertanya tanya ngapain aja dua cewek cantik ini dari tadi di dalam… Tapi aku & cie Elvira tak perduli. Kami masuk ke mobil & pulang ke rumah masing masing. Di dalam perjalanan pulang aku kembali teringat akan Vera, & menduga duga, sejak kapan ya Vera jadi budak seks pak Agil?

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6 seks dengan siapa aja ngentot memek kontol enak terangsang seks nikmat toket
Klik foto untuk memperbesar gambar

Sampai di rumah, aku berharap tak masih harus jadi bulan bulanan pak Arifin, Wawan & Suwito seperti minggu lalu. Untungnya aku melihat mobil ortuku & kokoku ada di rumah & kebetulan sekali kokoku ada di garasi sedang mengutak atik mobilnya. Jadi para pembantu & sopirku tak berani macam macam untuk mengerjaiku. Aku menyapa kokoku yg juga menyapaku balik. Kokoku pasti tak tahu betapa aku berterima kasih padanya yg ‘menyelamatkanku’ dari kemungkinan digangbang oleh mereka ini

Aku segera masuk ke dalam. Kedua ortuku sudah beristirahat di dalam kamarnya, & aku segera naik menuju kamarku di lantai dua. Di kamarku, aku segera berganti baju tidur karena tadi sudah mandi di sana. Lalu aku mengistirahatkan tubuhku yg telah berkali kali orgasme di sekolah balet tadi. Rasanya nyaman sekali. Cepat sekali aku tertidur pulas, malas memikirkan kejadian apa lagi yg akan menghiasi kehidupan seks ku ini.

Bersambung..

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 1
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 2
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 3
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 4
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 5
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 7
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 9
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 10
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 13
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6, cerita seks , ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6 seks dengan siapa aja ngentot memek kontol enak terangsang seks nikmat toket, kisah porno, kisah sex bokep, sex, ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com