ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8

Di hari Jumat ini, ketika sudah waktunya pulang sekolah, saya sudah akan berdiri dari kursi ketika Jenny memintaku menunggu sebentar. "El, jangan pulang dulu dong, bentar bentar! Kamu lagi mikirin apa sih El? Gini saya jelaskan lagi ya, besok Senin, Selasa serta Rabu kita kan libur.. yaaa saya tahu memang ada bazar, tapi kita bisa berlibur dulu kan, jadi baru datang hari Selasa serta Rabunya gitu", Jenny berkata panjang lebar. saya terbawa oleh sikapnya yg selalu riang itu, serta mendengarkannya sambil tersenyum.


"Gini nih Eliza, saya pinginnya, kita berlibur ke Tretes, tiga hari dua malam saja. Jadi besok sore kita berangkat, terus senin sore baru balik lagi ke Surabaya. Gimana El?", tanya Jenny. "Memangnya kita mau pergi sendiri berdua Jen?", saya bertanya heran. "Ya nggak lah El, kamu sih dari tadi nggak dengerin kita ngomong, ngelamun aja.. Lha ini Siany, Bella serta Rini ngumpul sama kita di sini buat apa?", gerutu Jenny, serta ketiga temanku yg lain itu memandangku dgn cemberut.

saya baru sadar kalau ada mereka bertiga ini yg sejak tadi ngobrol dgn kami berdua. "Aduh.. sori ya.. jadi, kita berlima ya Jen?", tanyaku lagi. Jenny mencubit kedua pipiku dgn gemas, "Nih anak memang minta dijitaaak… Sherly juga ikut Eeel!". saya mengeluh manja, "Aduh Jen.. iya ampun…". Kami semua tertawa dalam suasana yg riang. "Hei.. sori telat nih, saya tadi ada perlu bentar di kelas", Sherly mendadak muncul mendekati kami yg masih duduk duduk di dalam kelas serta menyapa kami semua.

"Sudah lengkap ya semua… Jadi gimana nih? Kita tidur di mana nanti di Tretes? Sudah ada yg membooking vila? Atau kita tidur di hotel Surya?", tanya Sherly setelah duduk bersama kami. Rini yg pada kelas 1 SMA sekelas denganku, langsung bertanya padaku, "El, langsung aja nggak pakai basa basi, kalau vila kamu dipakai nggak? Kalau nggak dipakai, bisa nggak kita menginap di vilamu?". saya agak terkejut mendengar kata kata Rini. "Vilaku…?", saya mengguman dgn ragu.

"Iya El, kalau di vilamu gimana? Selain Rini, nggak ada yg pernah ke sana lho.. please yaa?", Sherly menambahkan. "Iya nih El.. itu ide yg bagus kan. Kalau di vila Sherly, kayaknya bakal gak cukup..", seru Jenny dgn bersemangat, tapi terhenti karena diam diam di bawah meja saya menendang kakinya. Jenny rupanya sadar juga, mengapa saya menendang kakinya. Jenny pasti baru ingat, saya pernah menceritakan padanya kalau saya pernah dikerjain oleh penjaga vilaku, pak Basyir itu.

Rini yg jelas tak tahu apa apa, menceritakan kalau pada perpisahan kelas 1 SMA dulu, semua siswi di kelasku menginap di vilaku, sedangkan yg siswa menginap di vila Andi. Oh.. teringat kepada Andi, saya jadi merenung. Orang yg telah menjatuhkan hatiku sejak di kelas 1 dulu, tapi kini saya berlumuran dosa. saya tahu, Andi sendiri sebenarnya menaruh hati padaku. Sekarang kami sudah nggak sekelas, tapi Andi sering mencariku, dgn alasan untuk pinjam buku catatanku.

saya yakin itu cuma alasan, karena saya tahu Andi sendiri adalah anak yg rajin, tak mungkin dia perlu pinjam buku catatanku. Hal ini memang yg membuat saya tadi melamunkan Andi, yg baru saja meminjam buku catatan pelajaran Fisika dariku. Selain itu, Andi sering salah tingkah kalau ada di dekatku, dia tak pernah mampu menatapku lama lama. Oh seandainya saja Andi tau, saya juga suka padanya… tapi kini, saya sudah berlumuran dosa.

"Gimana El?", pertanyaan Sherly membuyarkan lamunanku. "Oh… itu ya", saya tergagap, serta memandang sekelilingku. Selain Jenny, mereka semua terlihat berharap untuk menginap di vilaku, serta ini membuatku tak enak untuk menolak. "Ya sudah, saya telepon penjaga vilaku dulu yah, saya suruh siapkan dua kamar untuk kita. Kita tidurnya bertiga bertiga ya?", kataku sambil mengambil handphoneku dari dalam tas sekolahku, walaupun sebenarnya perasaanku tak karuan. Ini kan sama saja seperti saya menyerahkan diriku kepada pak Basyir?

"Asyiik..", seru ketiga temanku, sedangkan Jenny tersenyum ragu, sementara Sherly duduk di kursi sebelahku, dia memelukku serta berkata, "Thanks ya Eliza". saya agak tersengat, karena saya merasakan toket Sherly menekan toket ku, membuat mukaku rasanya panas. "Mmm…", saya memejamkan mataku, tapi saya langsung sadar saya tak boleh larut oleh perbuatan Sherly ini. "Iya nggak apa apa kok Sher, bentar saya telepon dulu nih", kataku sambil mencoba melepaskan pelukan Sherly dgn agak panik, masa Sherly memelukku dgn semesra ini di depan teman teman?

Sherly melepaskanku, mungkin sungkan juga karena di sini ada teman teman kami yg lain. Kemudian saya segera menelepon penjaga vilaku, pak Basyir. "Halo, pak Baysir ya… Pak, ini Eliza, besok saya serta teman temanku mau menginap di vila, tolong siapkan kamarku serta kamar di seberangnya ya, yg lain nggak usah.". Pak Basyir menjawab, "Beres non Liza, aduh, senangnya bapak bisa lihat non Liza lagi…". saya segera memotong kata kata pak Baysir yg mulai melantur ini, "Ya sudah, terima kasih pak".

saya cepat cepat memutus pembicaraan ini dgn gelisah, membayangkan besok saat saya menginap di vila keluargaku, berarti saya mau tak mau pasti bertemu dgn pak Basyir. Jujur saja saya bahkan masih merasa panas dingin kalau teringat saya dipermainkan oleh pak Basyir sampai saya tak kuat serta memohon mohon untuk diantar menuju orgasme, serta saya masih teringat jelas, di hari terakhir sebelum pulang saya malah membuang harga diriku serta menyerahkan tubuhku pada penjaga vilaku yg sudah tua itu.

Tapi saya tak mau memperlihatkan kegelisahanku kepada mereka. saya berusaha tersenyum pada mereka. "Ya udah, besok kita berangkat. Tapi mobilku kan nggak cukup kalau diisi kita semua, bagaimana ini?", tanyaku pada mereka. "Tenang aja, Eliza. saya bisa bawa mobilku, jadi kita bawa dua mobil ke sana. Rumah Rini kan dekat Jenny, jadi kamu jemputin Jenny serta Rini aja El. Nanti saya jemput Siany serta Bella, terus kita ketemuan di hotel Surya dulu ya, vilamu kan dekat sana El", kata Sherly panjang lebar.

"Iya boleh", saya mengangguk setuju. Rini bertanya, "Besok kan kita pulang lebih awal, jadinya kita berangkat jam berapa?". Siany langsung menyambung, "Sebaiknya nanti malam kita sudah bersiap siap, besok jam satu siang kita langsung berangkat, jadi kita nggak kemalaman waktu sampai di vila nanti". Bella yg kutu buku itu bertanya juga, "Kita nggak perlu bawa bantal guling tambahan?". saya langsung melarangnya, "Nggak usah Bel, di sana ada cukup bantal guling juga selimut buat kita semua".

Maka semua sudah diputuskan, besok kami akan berangkat setelah makan siang. Rini, Siany serta Bella berpamitan pulang duluan pada kami. Jenny sendiri sudah menelepon sopirnya, "Pak Hari, saya nggak usah ditunggu, saya nanti pulang sekolah ikut temanku saja, soalnya ada perlu nih… … ya sudah, makasih pak". Lalu dgn riang Jenny berkata padaku, "El, abis ini temani saya beli camilan buat besok ya". saya sudah kembali terbawa oleh sikap Jenny yg riang ini, serta saya mengangguk senang.

Ketika saya berdiri, Sherly juga berdiri serta menggandeng tangan kananku, sedangkan Jenny juga sudah menggandeng tangan kiriku, serta kami semua berjalan keluar dari kelas ini. Selain Jenny, kini Sherly juga sudah menjadi teman akrabku sejak tiga minggu yg lalu ketika saya mengantarkan buku titipan Jenny, dimana Sherly waktu itu bahkan sudah akan menelanjangiku. Hal ini sempat membuatku teringat akan perkosaan yg brutal terhadap diriku setelahnya di hari itu juga, oleh 9 anak SMP serta 3 anak STM itu.

Tapi kedua temanku ini tentu tak pernah mengetahui kalau saya sejak tadi selain gelisah membayangkan nasibku besok malam di vila, saya juga gelisah melihat Girno, satpam sekolah kami yg mondar mandir di lorong depan kelasku ini, serta sesekali dia menatapku dari sana. Maka ketika kami berpapasan dgn Girno yg menatapku dgn pandangan lapar, saya hanya menundukan kepalaku dgn tegang mengikuti gandengan Jenny serta Sherly, saya sungguh takut Girno akan berbuat macam macam.

Untung saja tak terjadi apa apa sampai kami semua tiba di luar sekolah. saya akhirnya sudah tiba di depan mobilku. "Ya sudah El, saya pulang dulu ya", kata Sherly sambil mencium pipiku. "Iya Sher, see you", jawabku dgn muka yg terasa panas. Apalagi ketika di dalam mobil, Jenny menggodaku, "Cieee.. mesra amat Sherly dgn kamu, El?". saya menunduk malu, serta menjawab, "Mana saya tahu Jen?". Jenny tertawa sambil menggodaku, "Sherly jatuh cinta sama kamu kali, El".

saya segera mengalihkan topik yg gawat ini, "Ah kamu ada ada aja Jen. Udah ah, kita kemana nih?". "Kita ke Bonnet aja Jen, beli camilan yg banyaaak sekali, jadi kita nggak bakal mati kelaparan di vila besok", kata Jenny dgn lucu, membuatku tertawa geli. "Ya nggak sampai mati kelaparan lah Jen, paling juga kita cuma mati kebosanan", godaku. Jenny tertawa serta menyambung, "Tapi kan jadinya nanti kita tetap mati di vila? Nggak deh. Ya udah ayo kita berangkat El".

saya segera menjalankan mobilku ke Bonnet, menemani Jenny memborong banyak sekali makanan serta minuman ringan, serta setelah kami membayar semua belanjaan yg sampai harus dibungkus dalam 4 plastik besar ini, saya mengantar Jenny pulang ke rumahnya. "Ya udah, see you Eliza", pamit Jenny padaku. "See you Jenny", saya juga pamit padanya serta menjalankan mobilku ke rumah. saya harus segera menyiapkan perlengkapan untuk berlibur ke vila besok.

Sampai di rumah, semua belanjaan itu tidak kuturunkan, karena toh besok harus kubawa juga. saya turun dari mobil, serta saya menggeleng gelengkan kepalaku saat melihat Wawan serta Suwito yg sudah mendekatiku serta menyergapku di garasi ini. Perbuatan mereka menunjukkan kalau tak ada siapa siapa di rumah, serta saya hanya pasrah mengikuti kemaua mereka saat saya digiring ke kamar mereka berdua. "Kalian ini, nggak bisa kali ya melihat saya menganggur?", saya mengomel pada kedua pembantuku ini.

"Habis, siapa suruh nona kok cantik begini", Wawan menggombal. "Kurang ajar!, Terus memangnya kalau saya cantik itu berarti salahku? serta kalian jadi boleh berbuat begini padaku mmpph…", omelanku yg kulontarkan dgn pura pura ini terputus ketika Suwito sudah melumat bibirku dgn gemas. Tak lama kemudian baju serta rok seragam sekolahku, berikut bra serta celana dalamku sudah berserakan di lantai, serta serta begitu saya terbaring di kasur, Wawan dgn tak sabar sudah berada dalam posisi siap tempur.

Kedua pahaku diangkat ke atas serta dipeluk oleh Wawan, lalu dgn cepat dia membenamkan kontol nya dalam liang memek ku, membuatku melenguh pelan menahan rasa nikmat ini. "Non Eliza sendiri… yg membuat kami tambah bernafsu gini… pakai pura pura ngomel segala… nih…", kata Wawan di antara dengusannya, dia menatapku dgn gemas penuh nafsu saat menghunjamkan batang kontol nya kuat kuat.

"Annnnghhhh…", saya mengerang keenakan dgn manja, sedikit rasa sakit yg yg bercampur dgn kenikmatan yg melanda selangkanganku ini memaksa tubuhku menggeliat. Suwito memanfaatkan terbukanya mulutku saat saya mengerang tadi, dia langsung menjejalkan kontol nya ke dalam mulutku. dgn erangan serta lenguhan tertahan, saya kembali harus menjadi budak seks mereka berdua, hal yg sudah biasa terjadi kalau saya pulang saat tak ada papa, mama ataupun kokoku di rumah.

"Mmmppphh…", saya merintih keenakan saat Wawan makin kencang memompa liang memek ku. Tubuhku mulai bergetar, sementara Suwito sendiri sudah melenguh lenguh, "Onnnggghhhh.. non Elizaaa….", kontol nya berkedut serta menyemburkan spermanya dalam mulutku. saya menelan semuanya, menjilati serta menyedot kontol itu sampai Suwito mengejang ngejang serta melolong lolong minta ampun, serta begitu saya menghentikan seruputanku pada kontol itu, Suwito ambruk lemas ke lantai.

serta kini Wawan mengentot ku dgn bebas, membuatku terus dihajar badai kenikmatan, serta ketika akhirnya Wawan menyemprotkan spermanya dalam liang memek ku, saya sudah dibuatnya orgasme sampai dua kali. dgn lemas, saya membuka mulutku serta mengulum kontol Wawan. Setelah kubersihkan kontol nya pembantuku yg keranjingan ini, saya berdiri meskipun betisku rasanya pegal, lalu kupungut baju seragamku serta kukenakan di depan mereka. saya mengancingkan bajuku dgn gerakan perlahan.

Sesekali saya melihat mereka berdua, serta saya tahu mereka meskipun masih lemas karena baru ejakulasi, nafsu mereka sudah kembali menggelora melihat amoy cantik yg telanjang di depan mereka sedang mulai berpakaian. Setelah semua kancing bajuku terpasang, saya mengenakan rok seragamku, sengaja saya berlama lama saat menarik rok itu ke atas pinggang, membiarkan mereka melotot melihat paha mulusku yg perlahan tertutup oleh rok abu abu ini.

"Sudah, saya naik dulu.. dasar kalian ini..", saya menggerutu dgn suara manja, serta saya sengaja menatap mereka berdua dgn pandangan menggoda, hingga mereka berdua melihatku dgn makin bernafsu. Sengaja saya tak mengenakan bra serta celana dalamku, yg kini baru kupungut dari lantai, lalu saya sengaja memutar tubuhku ke arah luar kamar hingga rambutku berkibar mengikuti gerakan kepalaku, yg saya tahu hal ini merupakan pemandangan yg terlalu indah serta sexy buat mereka berdua.

"Wan.. nona kita itu kok bisa cantik kayak gitu ya?", kudengar suara Suwito, lalu kudengar Wawan menambahkan, "Sudah cantik, sexy, wangi lagi… memeknya itu lho, ngangenin…". Lalu kudengar Suwito berkata lagi, "Non Eliza itu badannya kecil, tapi kuat sekali ya, bisa tahan kita ajak main berlama lama". Duh, memang kalo orang dapat pujian, harusnya bangga. Tapi kalau pujian yg macam begini ini, kalau sampai terdengar ke telinga orang luar, mau ditaruh di mana mukaku ini?

saya mempercepat langkahku, mukaku rasanya panas, serta saya menggigit bibir sambil tersenyum malu mendengar percakapan mereka. Sampai di kamar mandi, saya keramas serta membersihkan seluruh tubuhku, serta yg pasti juga liang memek ku. Setelah mengeringkan rambutku serta juga tubuhku, saya memakai baju santai serta menyalakan AC kamarku karena rasanya panas. Lalu saya mengepak bajuku secukupnya serta keperluanku ke dalam tas, serta tas ini kusembunyikan di dalam lemariku.

Hal itu kulakukan karena saya takut kalau sampai kedua pembantuku yg keranjingan ini tahu saya akan pergi menginap selama 3 hari 2 malam di tretes, saya bisa diperkosa mereka sampai pagi. saya lalu berbaring di ranjangku, rasanya malas untuk turun makan siang. serta mungkin karena saya baru saja disuapi sperma Suwito yg berejakulasi di dalam mulutku saat kuoral tadi, juga tambahan sedikit sisa sperma di kontol Wawan yg berejakulasi dalam liang memek ku, jadi saya tak merasa begitu lapar.

Maka saya memilih tidur siang, mengistirahatkan tubuhku yg baru dipakai oleh kedua pembantuku untuk memuaskan hasrat mereka. Mungkin salahku juga tadi telah menggoda mereka dgn keterlaluan, serta saya harus membayar perbuatanku tadi karena saya lupa mengunci pintu kamarku. Rasa nikmat pada selangkanganku perlahan menyadarkanku dari tidur. Kurasakan liang memek ku terbelah oleh sebatang kontol yg amat keras, serta kontol itu terus melesak masuk, membuatku menggeliat perlahan.

"Ngghh.. Wan… kamu itu memang kurang ajar kok… oooh…", saya mulai mengomel di antara lenguhan serta desahanku, ketika saya sudah benar benar terbangun serta melihat Wawan yg sedang asyik memompa liang memek ku. Kulihat jam di kamarku, sekarang sudah setengah lima sore. Oh.. lama juga tadi tidur siangku. "Habis enak sih non Eliza", jawab Wawan dgn penuh nafsu. Suwito yg baru datang, seperti biasa mendekatiku serta meminta servis oralku. saya hanya bisa pasrah melayani mereka berdua yg baru berhenti menggumuliku ketika mendengar deru mesin mobil orang tuaku di garasi.

Keduanya meninggalkanku yg masih tergolek lemas di atas ranjangku. dgn malas saya bangkit serta kembali masuk ke kamar mandi untuk mandi keramas, juga membersihkan liang memek ku. Setelah saya mengeringkan rambutku serta tubuhku, saya memakai baju tidur serta turun untuk menyapa papa mama serta kokoku, sekaligus makan bersama. Di sela sela saat makan, saya menyampaikan maksudku untuk berlibur bersama teman temanku ke vila besok selama tiga hari. Papaku menanda-tangani surat permohonan yg saya buat untuk meminta ijin tidak masuk pada hari Senin besok ini.

Setelah selesai makan, mamaku memanggilku sebentar. "Iya ma?", saya bertanya ketika saya sudah berada di depan mamaku. "Eliza, ini buat kamu liburan besok", kata mamaku sambil memberikan sejumlah uang padaku. "Duh, terima kasih maa… Eliza tidur dulu ya ma", saya memeluk mamaku yg tersenyum melihatku begitu senang, serta saya mencium kedua pipinya dgn rasa terima kasih. Lalu saya kembali ke kamarku. saya belum begitu capai ataupun mengantuk, tapi saya tahu saya harus menyimpan tenaga, karena besok saya pasti akan jatuh ke dalam cengkeraman penjaga vilaku itu.

—ooOoo—

saya sedang saling mengganggu dgn Jenny di kantin sekolah ketika bel tanda berakhirnya jam istirahat yg kedua ini berbunyi. Kami masuk ke dalam kelas dgn riang, karena hari ini sekolahku memberlakukan jam pendek, 30 menit saja untuk setiap jam pelajaran. Setelah jam istirahat yg ke dua ini, tinggal dua jam pelajaran saja, yg artinya kami akan pulang satu jam lagi. serta kelas kami makin kacau ketika guru yg mengajar kimia menyuruh kami belajar sendiri.

saya, Jenny, Rini, Siany serta Bella mengobrol tentang rencana kami nanti sore. Selagi kami mengobrol, tiba tiba pak Edy, wali kelas kami yg sekaligus guru geografi itu masuk ke dalam kelas. Kami semua langsung diam, karena wali kelas kami ini termasuk galak. "Anak anak, jangan terlalu ribut, nanti kalian mengganggu kelas lain! Jam pelajaran saya yg berikut ini, kalian belajar sendiri". Maka kembali semua teman temanku bersorak senang, hanya saya yg bersikap cuek, saya memang muak pada wali kelasku ini.

"Eliza, saya minta kamu segera menuju ke ruangan saya. Ada beberapa hal tentang bazar yg diadakan mulai besok Senin ini, yg bapak ingin bahas dgn kamu selaku bendahara kelas!", kata pak Edy kepadaku. Jantungku berdegup kencang, serta saya menjawab, "Iya pak". saya berdiri mengikuti Pak Edy, entah kenapa saya punya firasat buruk. Sampai di ruangan pak Edy mempersilakanku untuk duduk. saya menurut saja walaupun jantungku terus berdegup kencang.

"Pak, apa apaan ini?", tanyaku panik ketika pak Edy mengunci pintu ruangannya, lalu duduk di kursinya. dia menatapku serta bertanya, "Eliza! Kamu tahu salahmu?". saya menggeleng perlahan. "Tidak tahu pak… Apa saya pak? Saya sungguh tidak mengerti", jawabku dgn bingung. Pak Edy berkata, "Saya tahu dari temanmu Siska yg juga wakil bendahara di kelas, bahwa kamu besok Senin hendak membolos".

saya amat terkejut, "Lho pak, Senin besok itu kan cuma bazar, serta bazar itu tiga hari lamanya. Harusnya tidak apa apa kan pak, jika saya tidak datang sehari saja?". Tapi pak Edy terus menekanku, "Tidak apa apa Eliza, kalau kamu bukan staff kelas. Kamu ini ketua bendahara kelas! Kalau hari itu kelas membutuhkan dana untuk keperluan bazar, siapa yg bertanggung jawab?".

saya merasa alasan itu terlalu dibuat buat oleh wali kelasku ini. "Pak, justru itu kan saya sudah menitipkan buku serta kas kelas pada Siska selaku wakil bendahara. Lagipula, Selasa saya kan sudah masuk", saya coba menjelaskan. "Tidak sesederhana itu Eliza. Kalau saya memberikan ijin, nanti itu akan jadi perseden buruk buat yg lain. Bisa saja nanti ketua koordinator yg mengatur stan kelas kita seenaknya minta ijin seperti kamu, serta menyerahkan pada wakilnya! Mau jadi apa stan kita di acara bazar nanti?".

"Pak, itu kan lain. Keberadaan ketua koordinator itu memang penting, karena dia yg mengerti apa saja kebutuhan untuk mengatur keberadaan stan. Kalau saya kan cuma bendahara, yg jelas sekali tak ada kaitannya dgn bazar besok. Kalaupun memang ada dana yg diperlukan, saya kira juga tidak segawat itu kalau saya tidak ada. Lalu perlu apa ada wakil bendahara kalau saya harus selalu ada? Lagipula pak, saya keberatan jika bapak bilang saya membolos, itu kan surat permohonan saya yg sudah ditanda tangani orang tua saya?", saya mulai terbawa emosi serta berkata dgn nada keras.

"Tidak bisa! Saya sudah memutuskan, kalau kamu harus hadir besok Senin. Saya punya hak untuk menolak surat permohonan kamu, serta orang tuamu akan saya telepon sekarang juga, supaya mereka bisa membantu saya memastikan kamu datang besok Senin!", kata pak Edy, serta dia sudah mengangkat telepon di mejanya. saya mulai panik, terbayang acara liburan yg berantakan gara gara wali kelas sialan ini. "Pak Edy, saya mohon, biarkan saya minta ijin untuk satu kali ini saja pak", kataku dgn memelas.

Pak Edy meletakkan gagang telepon, lalu menatapku dalam dalam. "Kenapa saya harus menuruti keinginan kamu Eliza? Apa untungnya buat saya", tanya pak Edy. Pertanyaan ini membuatku tersudut. "Apa yg bapak inginkan?", tanyaku dgn suara pelan, saya sudah bisa menebak apa yg diinginkan wali kelasku yg bejat ini. "Eliza, saya cuma memberikan kamu satu kesempatan untuk memberikan tawaran yg sekiranya bisa menyenangkan saya..", tanya pak Edy sambil menyeringai mesum.

Jantungku berdegup kencang, saya tahu saya harus memberikan penawaran terbaikku. "Baiklah pak…", saya memejamkan mata sesaat untuk menguatkan hatiku, lalu saya berdiri, serta mulai melepas kancing baju seragamku satu per satu. Kulepaskan baju seragamku serta juga bra yg membungkus toket ku. Lalu saat saya melanjutkan melepas rok seragamku, pak Edy berdiri, rupanya dia sudah tak sabar lagi serta mendekatiku. Kedua toket ku yg sudah tak terlindung bra ini diremas dgn kasar oleh pak Edy.

saya menggigit bibir serta memejamkan mata menahan sakit, sambil terus melepas rok seragamku. Ketika saya sudah membungkuk untuk melorotkan celana dalamku, keadaan menjadi lebih buruk. Tiba tiba saya melihat sebatang kontol sudah mengacung tegak ke arah mulutku, serta saya tahu siapa pemilik kontol berukuran raksasa itu, Girno, satpam sekolahku yg akhir tahun lalu merenggut keperawananku di UKS. dgn marah saya menoleh ke pak Edy yg masih asyik meremasi kedua toket ku dari belakang.

"Apa apaan ini pak Edy? Aah… Mmpphh…". Kata kataku tersumbat ketika Girno sudah menolehkan kepalaku menghadap selangkangannya, lalu menahan kepalaku serta menjejalkan kontol nya ke dalam mulutku. saya hanya bisa mengerang tak jelas ketika kontol raksasa itu mulai menyodok sampai ke tenggorokanku. Girno mengerang keenakan, sedangkan saya amat menderita. Dalam hati saya mengutuk pak Edy, dasar guru biadab, masa sampai hati menjebakku serta memperkosaku bersama satpam sekolah?

Pak Edy menghentikan remasannya pada kedua toket ku, saya tahu dia pasti sedang melepas celananya, untuk memamerkan keimpotenannya itu. saya yg sekarang dalam keadaan menungging, tak perduli ketika merasakan kontol pak Edy yg tentu saja masih tetap kecil serta agak lembek itu kesulitan untuk menembus liang memek ku. Mungkin karena tak cukup keras, jadi pak Edy kesulitan menerjangkan kontol nya, tapi dia terus berusaha sambil mengeluh, "Kok nggak bisa masuk ya?".

Mungkin jika saya tidak sedang sangat kesal oleh kebiadaban pak Edy, serta juga menderita oleh sodokan kontol Girno yg memompa tenggorokanku, saya bisa tertawa geli karena ulah pak Edy yg konyol ini. Setelah beberapa menit berusaha, akhirnya kontol nya yg sedikit lebih tegang daripada waktu pertama berusaha tadi berhasil membuka bibir memek ku. Perlahan kontol yg pendek itu masuk membelah liang memek ku, serta pak Edy mengerang keenakan.

Mungkin karena pendek, kecil serta sedikit empuk, entot an yg dilakukan pak Edy ini tak begitu mempengaruhiku. serta untung saja, pak Edy masih tetap pak Edy, tak sampai tiga menit, dia sudah mengerang panjang, "Oooohh…". kontol nya yg baru berkedut itu langsung menyemburkan sperma membasahi liang memek ku. Lalu wali kelasku yg tak bermoral ini menarik lepas kontol nya.

saya tak tahu apa yg dia lakukan, karena mataku sudah mulai berkunang kunang, sulit sekali bernafas dalam keadaan tenggorokanku dipenuhi kontol raksasa ini. Untungnya, melihat memek ku sudah menganggur, Girno menarik kontol nya dari mulutku. saya jatuh berlutut serta terbatuk batuk sambil memegangi leherku, sakit sekali rasanya tenggorokanku. Tapi saya tak bisa beristirahat, Girno segera membalikkan tubuhku hingga saya terbaring telentang, serta dia berkata, "Giliranku, non Eliza!".

Lalu dgn tanpa belas kasihan sama sekali, kontol berukuran raksasa itu diterjangkan Girno ke dalam liang memek ku. saya mengerang panjang kesakitan. Meskipun sudah ada cairan sperma pak Edy yg seharusnya sudah cukup membantu melumasi liang memek ku, tapi tetap saja kontol sebesar milik Girno ini amat menyiksaku, rasanya tubuhku seperti dirobek jadi dua bagian, kepalaku seperti mau pecah saja.

"Paaak… tolong pelan pelan pak…", keluhku, serta Girno melambatkan irama sodokannya, hingga saya perlahan mulai bisa beradaptasi. Setelah rasa sakit di liang memek ku mulai berkurang serta mulai timbul rasa nikmat, tanpa sadar saya mulai melenguh. "Ngggh.. aduuh…", saya melenguh ketika merasakan berulang kali dinding rahimku terkena ujung kontol Girno yg mentok sampai ke dalam. saya mulai menggeliat keenakan, walaupun saya mulai ngeri melihat Girno menatapku dgn amat bernafsu.

"Dari kemarin…", kata Girno sambil menghunjamkan kontol nya dgn gemas. "Ngghh…", saya melenguh. "Melihat kamu… di kelas…", sambung Girno sambil menarik kontol nya sampai tinggal kepala kontol nya yg terjepit liang memek ku hingga saya menggeliat. "Menunggu kamu sampai lama…", kata Girno dgn gemas serta kontol nya kembali menghunjam dalam dalam. "Aduuuuh…", saya merintih antara keenakan serta kesakitan, serta saya teringat kalau kemarin memang Girno sempat memandangiku dari luar kelas.

"Kamu tahu kan…", Girno terus menyiksa diriku, dia menarik kontol nya sampai sebatas kepala kontol nya. serta tanpa memperdulikan saya yg hanya bisa merintih, lagi lagi kontol itu menghunjam begitu dalam saat Girno berkata, "Kalau saya sudah sangat kepingin memek kamu?". saya menggeliat hebat serta melenguh, "Ngghh… ampun paak…". saya mulai kehilangan kesadaran serta sudah tak bisa mendengar dgn jelas lagi, saya hanya bisa melenguh saat Girno entah meracau tentang apa sambil terus membuat tubuhku tersentak sentak mengikuti irama hunjaman demi hunjaman kontol nya ke dalam liang memek ku

Entah berapa lama Girno menyiksaku seperti ini, sampai saya merasakan otot memek ku mengejang dgn hebat, serta tanpa ampun lagi akhirnya saya berkelojotan, kedua betisku melejang lejang. "Ngggghhh… nggghhhh…", lenguhanku entah mungkin bisa terdengar sampai ke luar ruangan ini, tapi saya sudah tak mampu menahan kenikmatan yg melanda memek ku, rasanya cairan cintaku di dalam sana membanjir tak karuan mengiringi orgasme ini. Nafasku hampir putus rasanya, serta saya merasa amat lelah.

Orgasme yg baru saja melandaku ini membuatku lemas, serta untungnya Girno langsung orgasme beberapa detik kemudian. kontol nya berkedut keras, serta siraman spermanya dalam rahimku seperti meringankan rasa pedih yg sempat melanda memek ku ini. "Oooh.. enaknya… kesampaian juga akhirnya sejak kemarin kepingin menikmati memek kamu, Eliza..", kata Girno dgn nafas tersengal sengal. saya tak menanggapinya, serta mengumpulkan segenap kekuatanku lalu berdiri.

"Pak Edy, sekarang tolong jangan persulit saya pak. Bapak tadi sudah berjanji", kataku dgn memohon. dgn senyum yg menjijikkan, pak Edy berkata, "Cium bapak dulu Eliza, serta kamu boleh pergi". saya yg sudah kepalang tanggung, menuruti permintaan guru bejat ini, kucium bibirnya serta bau mulutnya yg tak enak segera menyerangku, juga toket ku diremasnya dgn kuat. Tapi saya bertahan sekuat tenaga supaya tidak muntah. serta setelah dia puas, selesailah penderitaanku di ruang kerja pak Edy ini.

saya mengambil tissue, serta melap cairan sperma yg belepotan di selangkanganku. Sebenarnya ingin kulemparkan tissue yg baru kupakai itu ke muka pak Edy, tapi saya tak ingin mendatangkan masalah. dgn sebal kubuang tissue itu ke tong sampah, lalu saya mengenakan bra serta celana dalamku, juga baju serta rok seragamku. "Terima kasih pak, saya keluar dulu", saya berpamitan, terpaksa sopan. "Terima kasih kembali Eliza, terutama buat servisnya", kata pak Edy dgn gaya mesumnya, diiringi tawa Girno.

saya melangkah keluar dari ruangan wali kelasku, dgn langkah yg kuusahakan sewajar mungkin. Rasa sakit pada selangkanganku belum terlalu reda, serta masih cukup mengganggu saat saya harus melangkahkan kedua kakiku ini. saya tahu penampilanku pasti berantakan setelah perkosaan tadi, serta saya tak boleh membiarkan hal ini memancing pertanyaan dari teman temanku. Untung saja semua orang masih ada di dalam kelas, jadi saya bisa segera ke toilet tanpa ada yg melihat keadaanku.

saya merapikan diriku sebentar lalu melihat jam tanganku. Tinggal sepuluh menit lagi, bel pulang sekolah akan berbunyi. Berarti saya tadi diperkosa lebih dari setengah jam. Entah apa dosaku harus menerima semua ini. Hampir saja saya menangis, tapi saya cepat cepat menenangkan diri, lalu kembali ke kelasku. saya melihat Jenny serta yg lain masih asyik ngobrol dgn seru, tapi kini saya tak begitu tertarik untuk ikut mengobrol lagi.

"Hai.. lama amat kamu El?", tanya Rini ketika melihatku berjalan ke arah mereka. dgn senyum yg kupaksakan, saya cepat mencari alasan, "Iya tuh, tadi sekalian membahas tentang perlu tidaknya menarik kas lebih dari kita kita, buat jaga jaga seandainya ada dana yg diperlukan stan kelas kita saat bazar nanti". "Dasar mata duitan. Iuran bulanan untuk kas kelas kita itu sudah yg paling besar di antara semua kelas. Bukannya dana di sana pasti sudah banyak?", omel Siany.

Rini serta Bella hanya geleng geleng kepala, sedangkan Jenny diam diam menggenggam tanganku di bawah meja, serta dia memandangku iba. saya teringat kalau saya pernah menceritakan perkosaan yg menimpaku di UKS dulu pada Jenny, jadi mungkin Jenny tahu apa kira kira yg baru saja terjadi padaku. Lalu dia berusaha mengalihkan pembicaraan, "Sudalah, ngapain juga kita bicarain hal ini.. Oh iya, kalian nggak ada yg lupa bawa pakaian renang kan?".

Rini menjerit kecil, "Aduh iya Jen. Duh, untung kamu bilang". Baru saja kami sudah terlibat obrolan seru, yg mana membantuku melupakan kejadian buruk yg baru saja menimpaku, bel pulang sekolah sudah berbunyi. Setelah pembacaan doa dari interkom selesai, kami segera meninggalkan kelas. Bahkan saat ini pun, rasa sakit masih mendera selangkanganku saat saya berjalan. Maka saya berjalan agak pelan, serta Jenny yg menemaniku tiba tiba menggandeng tangan kiriku, seakan ingin menguatkan diriku.

saya tersenyum penuh terima kasih pada Jenny, serta kami berjalan beriringan ke tempat parkir. Kebetulan tadi sopirnya Jenny memarkirkan mobilnya Jenny di sebelah mobilku. Saat akan melepaskan gandengan tangannya, Jenny berbisik lembut padaku, "Eliza, nanti di vila kamu jangan jauh jauh dari saya ya.. saya akan jagain kamu dari penjaga vilamu". saya memeluk Jenny, "Thanks ya Jen.. kamu baik sekali". Setelah itu kami saling berpamitan, serta masuk ke mobil masing masing.

Ketika mobil Jenny sudah jauh dari sini, saya masih diam, memikirkan apa saya sebaiknya langsung pergi saja daripada pulang ke rumah, toh tasku sudah ada di belakang sini, jadi saya sudah bisa berangkat sekarang kalau mau. Hampir bisa dipastikan, saya akan seperti menyerahkan diriku untuk digangbang di rumah oleh kedua pembantuku jika saya pulang sekarang, serta saya sedang sangat tidak mood setelah tadi terpaksa memilih diperkosa oleh wali kelasku.

Sedangkan pergi ke rumah Jenny juga bukan pilihan yg bagus, bisa saja nanti buruh buruh di rumah Jenny beraksi, serta saya akhirnya memutuskan untuk jalan jalan ke Tunjungan Plaza, sekalian makan siang di sana. Di sana saya hanya berjalan tak tentu arah sampai akhirnya saya makan siang, baru saya pergi menuju ke rumah Jenny. Sampai di sana, saya melihat jam, sudah jam satu kurang sedikit, serta saya belum melihat tanda tanda Jenny. Maka saya turun, hendak memencet bel pintu rumah Jenny.

Tiba tiba kudengar klakson mobil, yg ternyata mobil papa mamanya Jenny. Maka saya tak jadi memencet bel pintu, serta menyapa kedua orang tua Jenny. "Suk, Ai..", saya menyapa sambil mengangguk sopan, serta mereka juga menyapaku dgn ramah, "Halo Eliza…". saya melanjutkan berbasa basi sebentar, "Eliza mau ajakin Jenny pergi, apa Jenny udah bilang sama Suk Suk atau Ai?".

Mamanya Jenny menjawab, "Oh sudah kok, Eliza. Kalau sama kamu, Ai sih pasti boleh, tapi nanti kalian di sana jangan tidur terlalu malam ya, jaga kesehatan, nanti pulang pulang malah sakit". "Iya Ai, makasih ya Ai", kataku sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian Jenny keluar membawa tasnya, serta menyapa papa mamanya sekalian pamitan, "Pa.. Ma.. pergi dulu ya..". saya juga sekalian pamitan pada mereka berdua. "Hati hati ya kalian. Jenny, kamu jangan gangguin Eliza kalo sedang nyetir!", kata papanya Jenny.

Jenny terus masuk ke mobilku sambil menjawab, "Iyaaa beres paaaa…". saya tersenyum geli serta setelah melambaikan tangan pada kedua orang tua Jenny, saya masuk ke dalam mobil. "Yuk berangkat", kata Jenny. saya segera menjalankan mobilku ke rumah Rini, yg kira kira sekitar tiga kilometer dari sini. Jenny tiba tiba mengeluh serta memegangi toket nya yg sebelah kanan, "Aduh El.. sakit nih…". dia memandangku dgn memelas.

saya sempat bingung, tapi saya segera bisa mengira apa yg baru saja terjadi pada temanku ini. "Mereka lagi ya Jen?", tanyaku dgn iba. saya tahu buruh buruh Jenny itu "Iya lah El.. siapa lagi.. liat nih..", gerutu Jenny sambil membuka dua kancing bajunya, lalu menyingkap bajunya di bagian toket nya yg kanan. saya melihat memang banyak merah merah bekas cupangan di sana sini, serta saya menggigit bibir membayangkan tadi itu sakitnya seperti apa.

"Untung tadi kedengaran klakson mobil papaku, jadi mereka berhenti sebelum makin menyakitiku. Lihat nih El.. puting susuku digigiti mereka.. sakit nih…", kata Jenny dgn manja, dia kini menyingkapkan branya serta memperlihatkan semua toket nya kanannya. saya melihat toket Jenny yg sebelah kanan ini, serta sempat memperhatikan bentuk puting toket yg mungil serta lucu itu.. tapi…

"Ya ampun Jen?? Kok kamu buka di sini sih??", saya baru sadar apa yg sedang dilakukan Jenny, serta saya cepat cepat melihat ke depan. Untung saja tak ada siapa siapa, karena kami memang sudah memasuki kompleks perumahan dimana Rini tinggal. "Iya nih, saya lupa El, abisnya saya cuma mau nunjukin ke kamu aja, nanti kalo ada Rini kan nggak enak..", kata Jenny dgn manja sambil menutupkan bra serta bajunya kembali. Entah kenapa, jantungku berdegup kencang serta mukaku terasa panas.

saya tak yakin, hal ini apa karena saya baru saja melihat toket Jenny, atau karena kata kata Jenny yg manja tadi itu. Tapi saya berusaha tak memikirkannya lagi, apalagi kami sudah sampai di rumahnya Rini yg sudah menunggu dgn sebuah tas besar di depan pintu. Setelah dia masuk ke dalam mobil serta saling menyapa dgn saya serta Jenny, saya segera melajukan mobilku, menuju ke hotel Surya di Tretes.

—ooOoo—

Perjalanan ke Tretes yg hampir dua jam ini sama sekali tak terasa, karena dgn ikutnya Jenny yg memang selalu pandai membawa keceriaan ini di mobilku, kami bertiga selalu terlibat obrolan lucu maupun gossip. Akhirnya kami sampai di hotel Surya, serta ketika kami berputar putar di parkiran, Sherly yg sudah menunggu kami segera membunyikan klakson mobilnya, serta turun dari mobilnya. saya mendekatkan mobilku ke sana, lalu kami semua turun dari mobil.

"Gimana, kalian mau langsung ke vila, atau mau bersenang senang di sini dulu?", saya bertanya pada teman temanku. "Kita langsung ke vilamu saja El. Nanti kalau mau ke sini agak sorean juga bisa", kata Sherly. "Ya udah, kalo gitu ikutin saya ya Sher, kita ke arah Tretes Raya, serta terus ke bawah dikit, vilaku di sebelah kanan jalan", kataku. "Sip deh bos", Sherly mengedipkan matanya padaku sambil tersenyum, serta diam diam saya mengakui Sherly ini cantik sekali, serta saya balas tersenyum padanya.

Kami semua masuk ke dalam mobil, serta Sherly mengikutiku dari belakang ketika saya menjalankan mobilku ke arah vilaku. Ketika sampai, saya tak perlu menekan klakson, karena penjaga vilaku sudah menanti di pintu gerbang yg dia buka lebar lebar. saya terus melaju memarkirkan mobilku di tempat yg biasa, serta Sherly juga memarkirkan mobilnya di sebelah mobilku. Begitu kami semua turun dari mobil, celoteh riang yg amat ribut dari mereka semua segera terdengar.

saya tersenyum geli, membayangkan kalau sampai kami berenam sekelas, entah bakal ribut seperti apa kelas kami saat jam kosong. saya segera membuka pintu utama, serta mereka semua masuk sambil membawa barang barang mereka. "Gimana nih, yg semobil tetap sekamar, atau diseling biar nggak bosan? Atau… kita undi saja!", usul Jenny. Ada ada saja ini anak, tapi ide Jenny memang selalu menarik, serta semua setuju untuk mengundi di kamar mana mereka nanti akan tidur.

Jenny mengambil pensil serta kertas dari tasnya, serta kertas itu dibaginya menjadi enam potongan kecil, serta tiga potong di antaranya ditulisi huruf A serta tiga potong sisanya ditulisi huruf B. Lalu semua potongan kertas itu digulung oleh Jenny, serta dimasukkan ke dalam kantung baju seragamku. saya jadi teringat, saya memang masih pakai baju seragam sekolah, karena tadi saya tidak pulang dulu.

"Nah, sekarang semua ambil sepotong, kalau dapat A, tidur di kamar yg di sebelah kiri", kata Jenny sambil menunjuk kamar yg biasa kupakai. "serta yg dapat B tidur di teras, hahahaha..", celetuk Sherly serta kami semua tertawa. "saya duluan ya", kata Jenny. dia memasukkan tangannya, mengaduk aduk gulungan kertas pada bajuku. Tentu saja tangannya berkali kali menyenggol toket ku yg kiri ini, hingga saya menggigit bibir menahan diri supaya tidak mendesah, nafasku menjadi lebih berat.

"saya dapat B nih", kata Jenny saat membuka gulungan kertas yg dia ambil dari kantung bajuku. Berikutnya Siany serta Bella yg merogoh kantung bajuku, mereka tidak sampai mengaduk aduk gulungan kertas ini seperti Jenny, namun tetap saja saya merasa gesekan tangan mereka pada toket ku yg kiri ini, serta ini membuat jantungku makin berdegup kencang. saya menahan tangan Sherly serta mencoba melepaskan remasannya dari toket ku, tapi saya tak mampu, rasanya lemas sekali.

serta keadaanku jadi makin kacau ketika Sherly yg merogoh kantung bajuku. dgn nakal Sherly meremas toket ku. "Auwww.. Sheer…?", saya mengeluh malu sekaligus terangsang, entah sudah merah seperti apa mukaku yg rasanya panas ini. Teman temanku tertawa geli, entah apa yg mereka tertawakan, perbuatan Sherly, atau saya yg dibuat tak berdaya oleh Sherly ini. "Udah dong Sheer…", saya memohon pada Sherly untuk menghentikan perbuatannya, karena makin lama saya makin terangsang.

Entah setelah beberapa kali saya memohon, baru Sherly akhirnya menghentikan remasannya pada toket ku, lalu dia mengambil satu dari dua gulungan yg masih tersisa di kantung bajuku. saya terduduk lemas di lantai, serta Jenny ikut duduk di sebelahku lalu dia merangkulku. "Sher, kamu jahat ah. Masa Eliza mau kamu perkosa?", Jenny menggerutu pada Sherly dgn nada bercanda, serta mereka semua tertawa, kecuali saya yg semakin malu.

"Jen… kamu ini..", saya mulai mengomel, tapi saya terdiam saat Jenny malah membelai serta menggeraikan rambutku ke belakang, lalu menyandarkan kepalanya di pundak kananku. "Tapi bukan salah Sherly sepenuhnya… salah kamu juga sih El, kok kamu bisa secantik ini… sudah cantik… kalem… baik… mm.. rambut ini halus serta wangi..", Jenny mengguman sambil menghirup rambutku, lalu dia menatapku dgn pandangan mata yg sayu, sementara saya hanya bisa diam tertunduk malu dipuji Jenny seperti ini.

"Lho Jen, kok jadi kamu yg lesbi sama Eliza sih? Hayo.. iri ya sama Sherly?", goda Rini. Lagi lagi semuanya tertawa sementara saya hanya bisa tersenyum malu. Kemudian Jenny berdiri serta bertanya, "Jadi gimana, siapa yg hari ini tidur sekamar denganku?". Maka kami semua membuka gulungan kertas milik kami, serta hasilnya hari ini Jenny sekamar dgn Siany serta Rini, sedangkan saya sekamar dgn Bella serta Sherly! Oh, saya kuatir, jangan jangan nanti Sherly lupa diri serta menggumuliku di depan Bella.

Tapi… yah bagaimana nanti saja lah, selagi mereka semua masuk ke kamar yg sudah ditentukan sekaligus menaruh tas mereka, saya teringat tasku masih ada di mobil, serta saya keluar menuju mobiku yg bagasinya masih terbuka. Ketika saya mengambil tasku, kurasakan pantatku diremas oleh seseorang. Gaya meremas yg kurang ajar seperti ini, saya sudah tahu siapa pemiliknya..

"Pak Basyir…", kataku dgn suara pelan sambil menoleh ke arahnya. "Tolong jangan menyusahkan Liza, ini kan ada teman teman, kalau kelihatan mereka gimana? Nggak lucu kan?", sambungku dgn ketus walaupun masih dgn suara yg pelan. "Tapi non, bapak sudah kangen memeknya non.. sudah lama nih", pak Basyir masih terus asyik meremas pantatku. "Elizaa…", saya mendengar Jenny berseru dari dalam vila. "Iya Jeen?", saya langsung menjawab sambil mencoba menepis tangan pak Basyir.

"Kamu di manaa?", Jenny berseru lagi. "saya di taman Jen, di bagasi mobil", lagi lagi saya berseru menjawab sambil menepis tangan pak Basyir yg masih saja menggerayangi pantatku. "Kamu lagi ngapain El? Toiletnya di mana sih, temani saya dong, antarkan ke sana sebentar…", seru Jenny yg dari suaranya saya tahu kini dia sudah ada di teras. Tentu saja hal ini menyelamatkanku walaupun untuk sementara, serta pak Basyir segera melepaskan remasan tangannya dari pantatku.

"Pak, tolong bantuin saya nih", kataku sekalian menggunakan kesempatan ini untuk meminta bantuan pak Basyir. "Tolong bawakan tasku serta empat tas plastik ini ke kamarku ya pak, saya antar Jenny ke kamar mandi dulu", kataku sambil meninggalkan pak Basyir, yg mau tak mau harus menuruti permintaanku. "Iya, ayo saya antar Jen", kataku sambil berjalan mendekati Jenny. saya tersenyum lega serta menggandeng tangan teman terbaikku ini, menunjukkan toilet utama di vilaku.

"Kamu nggak diapa apain kan sama penjaga vilamu itu El?", bisik Jenny padaku. saya menggeleng, "Nggak Jen, tapi nggak tahu lagi kalau kamu nggak manggil saya tadi, mungkin lama lama dia bisa ngisengin saya". Jenny tersenyum lega, serta saya berkata dalam hati, kalau nggak terlalu parah, mungkin lebih baik saya sembunyikan dari Jenny saja. Setelah menunjukkan toilet utama pada Jenny serta Jenny melihat lihat dalamnya, kami langsung kembali ke ruang tengah, memang Jenny cuma pura pura saja mau ke toilet.

serta saat kami sudah ada di ruang tengah, kebetulan pak Basyir baru saja menaruh plastik yg berisi makanan kecil yg kemarin dibeli oleh Jenny. "Pak, sekalian tolong tutupkan bagasi mobilku ya, terima kasih", saya sekalian minta tolong pak Basyir supaya menutupkan bagasi mobilku, jadi saya nggak perlu keluar lagi untuk melakukan hal itu, yg mana mungkin beresiko saya akan mengalami pelecehan oleh pak Basyir seperti tadi.

Lalu tanpa memperdulikan penjaga vilaku yg sudah keluar melakukan permintaanku,, saya memasukkan tasku ke dalam kamar, saya mulai bersenang senang dgn teman temanku setelah kami mengatur semua yg diperlukan, seperti memasukkan bahan untuk memasak ke dalam kulkas serta menaruh makan ringan di meja. saya menyempatkan diri berganti baju santai, rasanya risih juga menjadi satu satunya yg memakai baju seragam sekolah di antara kami semua.

Kami semua berkumpul di ruang tengah ini, membicarakan rencana kegiatan kami hari ini. serta sore ini kami berjalan jalan ke atas, menikmati beberapa makanan kecil di sekitar hotel Surya serta sekitarnya. Setelah matahari benar benar tenggelam, kami membeli sate serta bakso agak banyak untuk dibawa pulang ke vila. Sampai di vila, teman temanku segera berkumpul di meja makan, sedangkan saya ke belakang sebentar untuk mengambil piring serta sendok garpu yg diperlukan.

Saat saya menumpuk piring ke enam, pak Basyir sudah ada di sebelahku. "Non Liza, jangan lupa ya non, nanti malam temani bapak", kata penjaga vilaku ini, serta lagi lagi dia meremasi pantatku. "Apa apaan sih pak? Kenapa saya harus menemani bapak?", saya bertanya dgn ketus. "Daripada bapak yg menemani non Liza nanti malam, kan nggak enak sama teman teman non yg lain?", kata pak Basyir dgn nada yg penuh kemenangan.

saya tahu memang saya tak akan bisa lolos, tapi saya tak pernah menduga pak Basyir akan mengancamku seperti ini. saya hanya bisa menahan kesal ketika dia menyambung, "Bapak tunggu non Liza sampai jam dua malam, kalau non Liza nggak datang untuk menemani saya, terpaksa saya yg akan menemani non ke kamar". Lalu pak Basyir meninggalkanku, dia bahkan tak membantuku mengangkat piring piring serta sendok garpu ini ke dalam.

saya sedikit menggigil, nanti malam saya harus menyerahkan diriku pada pak Basyir. saya menenangkan diri sebentar, lalu masuk membawa semua yg sudah kusiapkan ini. saya tak perlu membawa gelas karena semua gelas disimpan di lemari yg ada di sebelah kulkas. Setelah semuanya siap, kami semua segera makan malam, serta celoteh riang dari teman temanku membuatku ikut larut dalam suasana ceria ini. Setelah makan serta membawa semua piring kotor ke belakang, kami bergantian mandi membersihkan diri.

Setelah kami semua selesai mandi serta berganti baju tidur, kami beristirahat di ruang tengah serta menonton DVD yg dibawa oleh Sherly. Kini sudah jam delapan malam, berarti enam jam lagi sebelum saya harus melayani bandot tua di belakang itu. Sedangkan saya sendiri sudah mengantuk, mungkin saya kecapaian setelah diperkosa oleh wali kelasku serta satpam sekolahku tadi siang, hingga tanpa sadar saya tertidur ketika teman temanku sedang asyik nonton DVD.

—ooOoo—

"Eliza… bangun El", sayup sayup saya mendengar suara Sherly. Kurasakan rambutku dibelai lembut oleh Sherly, hingga saya makin malas bangun, malah menyandarkan kepalaku di pundak Sherly. "El, pindah kamar yuk, masa kamu tidur di sini?", Sherly mencoba membangunkanku. "Mmm…", saya masih belum bangun benar serta menjawab sekenanya. Setelah terdiam beberapa saat, tiba tiba kurasakan tangan Sherly merayapi tubuhku, serta kemudian tangan itu sudah meremasi toket ku dgn lembut.

"Oh.. Sheer..", keluhku dgn suara pelan. Perlahan saya membuka mataku, serta begitu saya mengangkat kepalaku, Sherly segera memagut bibirku. saya hanya pasrah saja mengikuti kemauan Sherly, tapi itu karena saya belum sadar benar dari tidurku. Begitu saya mulai sadar, saya terkejut serta mencoba melepaskan pagutan bibir Sherly dgn panik. Sherly yg mungkin terkejut dgn perubahan reaksiku yg tiba tiba ini, melepaskan pagutannya serta memandangku dgn penuh pertanyaan.

"Kenapa El?", tanya Sherly. "Nanti ketahuan teman teman Sher", jawabku pelan, walaupun nafasku mulai memburu. "Sher, nanti di kamar kan ada Bella, tolong kamu jangan begini ya Sher. Nanti kalau dia sampai tahu kita seperti ini, kan nggak enak, juga nanti kan bisa bisa dia cerita sama teman sekelasku yg lain", saya mencoba memberikan pengertian pada Sherly. Untungnya Sherly mengangguk sambil tersenyum, serta berkata, "Iya nona cantik, tapi sekarang saya cium kamu satu kali dulu yah".

serta Sherly mencium bibirku dgn mesra sekali, membuatku lemas serta hanyut dalam ciumannya. Tak hanya mencium bibirku, Sherly kembali meremas kedua toket ku, serta saya hanya bisa pasrah, tak ada lagi perlawanan dariku karena saya sudah amat terangsang. Perlahan saya mulai membalas ciuman Sherly, serta saya juga meremas toket nya, ini adalah pertama kalinya saya meremas toket seorang wanita. Sherly menatapku sayu, kelihatan sekali dia juga terangsang, pasrah saja ketika saya terus meremasi toket nya yg rasanya begitu empuk tapi kenyal ini.

yg terjadi kemudian, kami malah bergumul, saling memeluk dgn erat, serta yg pasti ciuman kami makin memanas. Tapi saya cepat menghentikan Sherly yg sudah menyusupkan tangannya di balik celana dalamku. "Sher.. jangan, nanti kita bisa ketahuan teman teman", saya mencoba membujuk Sherly. saya tahu saya pasti tak tahan untuk tidak melenguh jika Sherly mengaduk aduk liang memek ku. serta untungnya Sherly bisa mengerti, dia menarik keluar tangannya dari balik celana dalamku. "El.. tapi kapan kapan, saya boleh ya", kata Sherly yg terus memandangku dgn sayu, hingga saya merasa jengah.

saya mengangguk dgn tak yakin. Sherly kembali menciumi wajahku, bahkan berlanjut ke leherku. saya harus menahan sekuat tenaga untuk tidak merintih. Entah berapa lama kami berdua larut dalam kemesraan yg seharusnya tak boleh terjadi ini. Kami terus saling memeluk, diam diam saya melihat jam dinding. kini sudah jam satu pagi, satu jam lagi sebelum saya harus ke tempat pak Basyir. Maka saya tahu saya harus segera mengajak Sherly untuk tidur sekarang juga, jadi nanti saya bisa mengendap keluar tanpa ketahuan olehnya saat saya harus ke kamar penjaga vilaku di luar sana.

"Sher, udahan yuk, kita tidur sekarang ya", kataku pada Sherly, yg mengangguk sambil tersenyum, serta kami berdua segera melepaskan pelukan kami, lalu masuk ke dalam kamar. Bella sudah tertidur pulas di ranjangku, serta karena memang di tiap kamar ranjangnya cuma ada satu, maka kami berdua naik ke ranjang ini dgn pelan, karena tak enak kalau sampai membangunkan Bella. Bella sendiri tidur di pinggir. Sherly membaringkan tubuhnya di tengah ranjang, serta saya berbaring di sebelahnya.

Melihat Bella sudah tidur, Sherly memelukku, meremasi toket ku serta menciumi rambutku. saya hanya pasrah serta menggigit bibir menahan nikmat, tapi untungnya tak lama kemudian Sherly sudah tertidur. saya lalu melihat jam, setengah jam lagi paling lambat, saya sudah harus ada di kamar pak Basyir, maka saya memutuskan untuk ke sana sekarang saja. saya memindahkan tangan Sherly yg menindih toket ku, serta pelan pelan saya akhirnya bisa melepaskan diriku dari pelukan Sherly.

Perlahan saya turun dari ranjang, serta dgn langkah yg kuatur perlahan sekali, saya membuka pintu kamarku serta setelah saya keluar kamar, kututup kembali pintu kamarku, serta semua itu kulakukan nyaris tanpa suara. Lalu saya keluar dari bangunan utama vilaku ini, menuju kamar penjaga vilaku yg mesum itu. Tanpa mengetuk pintu, saya langsung masuk ke dalam kamar pak Basyir. Buat apa juga bersopan sopan pada orang yg tak tahu diri seperti dia ini?

"Wah akhirnya non Liza datang juga, bapak sudah nggak sabar nih", seru pak Basyir girang. saya hanya diam, malas menanggapinya. Karena saya ingin semua ini cepat selesai, saya segera melepaskan semua pakaianku hingga saya telanjang bulat. Pak Basyir juga melakukan hal yg sama, serta sesaat kemudian saya sudah berbaring di tempat tidur pak Basyir, yg segera ikut naik serta menindih tubuhku. dia menyibakkan rambutku sambil berkata, "Non Liza.. non cantik sekali". saya hanya diam saja tak perduli.

Lalu pak Basyir mulai mengecup bibirku, lalu berlanjut ke leherku serta kedua puting toket ku. saya tetap diam saja, menekan semua perasaanku supaya saya bisa menerima cumbuan dari orang yg umurnya sangat tua dibandingkan diriku ini. dgn demikian saya sama sekali tak merasa terpaksa atau sedang diperkosa, bahkan perlahan saya bisa menikmati semua cumbuan ini. Setelah puas mencumbuiku, pak Basyir mempersiapkan diri untuk menyetubuhiku, kepala kontol nya sudah menempel di bibir memek ku. Perlahan, liang memek ku terbelah oleh kontol pak Basyir yg terus membenamkan kontol nya dalam dalam.

"Ngghh..", saya melenguh pelan, serta tubuhku sedikit menggeliat saat liang memek ku menerima tusukan kontol pak Basyir. Bandot tua ini terus memompa liang memek ku dgn senyum kemenangan, sedangkan saya hanya bisa membuang muka, malu rasanya melihat penjaga vilaku sedang melecehkanku seperti sekarang ini. Tapi saya tak ada keinginan untuk melawan ataupun berontak, karena kini otot liang memek ku mulai mengejang setelah diaduk aduk oleh kontol pak Basyir, rasanya nikmat sekali.

"Oh… non Liza… memekmu memang enaak..", erang pak Basyir yg makin cepat mengentot ku. saya heran melihatnya seperti akan segera orgasme, tapi ini kesempatan buatku. Dari hanya pasrah, saya mulai menggerakkan pinggulku, menyambut tiap hunjaman kontol pak Basyir pada liang memek ku. "Nnggghh…", saya melenguh keenakan, karena kurasakan liang memek ku tertusuk sangat dalam oleh kontol pak Basyir, sedangkan pak Basyir sendiri tak kuat lagi, tubuhnya mulai berkelojotan.

"Ohh… non Lizaaa…", erang pak Basyir panjang, serta kontol nya yg berkedut keras menyemprotkan cairan spermanya membasahi liang memek ku, serta dia langsung ambruk menindihku. saya belum orgasme, tapi saya memang sedang tak ingin. Kudorong tubuh pak Basyir yg masih menindihku hingga kontol nya yg sudah loyo itu terlepas dari jepitan liang memek ku. dia terguling di sampingku, nafasnya tersengal sengal serta senyuman penuh kepuasan terukir di wajahnya yg sudah mulai penuh dgn keriput itu.

saya beranjak duduk, sambil mengatur nafasku yg memburu. "Udah puas kan pak.. Liza kembali dulu", kataku pada pak Basyir. "Non, masa cuma satu ronde? Bapak kan kangen sama memek non..", protes pak Basyir, hingga saya yg sudah turun dari ranjang untuk memakai baju, terpaksa kembali duduk di ranjang. "Pak, jangan lama lama, satu ronde lagi saja ya.. Liza juga mau tidur", saya mengingatkan pak Basyir agar jangan keterusan memperkosaku sampai pagi. "Iya non", kata pak Basyir sambil mendekapku.

saya membaringkan tubuhku di sebelah pak Basyir, serta membiarkan pak Basyir menyusu sepuasnya pada kedua toket ku dgn bergantian. saya memejamkan mataku, entah kenapa saya sudah mengantuk, padahal tadi saya sempat tertidur agak lama waktu bersama teman temanku menonton DVD di ruang tengah. Pak Basyir menindihku, menciumi wajahku, mataku, pipiku, serta melumat bibirku dgn begitu bernafsu. saya agak heran, orang setua pak Basyir ini bagaimana masih memiliki gairah setinggi ini…

Kurasakan perlahan kontol pak Basyir yg menempel di bawah perutku perlahan mulai membesar, kelihatannya pak Basyir sebentar lagi akan memulai ronde ke dua. saya menggeliat sebentar supaya lebih nyaman sebelum tubuhku harus tersentak sentak lagi oleh tusukan kontol pak Basyir pada liang memek ku sebentar lagi. "Non Liza… memeknya non Liza bapak masukin lagi ya", kata pak Basyir. dgn ketus saya menjawab, "Biar Liza jawab jangan juga, tetep bapak masukin kan? Buat apa sih pak Basyir pakai nanya? Cepat masukin sana!". Jengkel juga saya melihat penjaga vilaku yg pura pura lugu itu.

"Jangan marah non Liza, bapak kan permisi dulu supaya non Liza nggak kaget", kata pak Basyir dgn cengengesan. saya membuang mukaku mengarahkan pandanganku ke jendela, serta sesaat saya sempat agak panik ketika saya melihat bayangan berkelebat, serta saya tak bisa yakin apakah tadi itu bayangan seseorang yg berkelebat, atau hanya karena ada daun jatuh yg menutupi sinar lampu di halaman yg mengarah ke kamar ini. Tapi saya tak bisa berlama lama memikirkan hal itu, karena sesaat kemudian kurasakan liang memek ku kembali terbelah oleh kontol penjaga vilaku ini.

"Anngghh..", saya melenguh pelan menahan nikmat, sekali ini pak Basyir dgn tepat mengaduk liang memek ku di satu titik yg memberiku perasaan nikmat yg luar biasa. "Oooh..", saya merintih keenakan, serta pak Basyir makin bersemangat memompa liang memek ku. "Heghh.. Non Liza… enak yaa?", lagi lagi pak Basyir melecehkanku saat saya menggeliat hebat, serta saya hanya bisa melenguh serta merintih, "Ngghhh… mmhhh.. iyah paak…". Tubuhku terus tersentak sentak mengikuti irama entot an pak Basyir, sampai akhirnya saya merasa selangkanganku seakan hendak meledak.

"Aaaaahhh… paaak… akuu… ouughh.. ngggghhhh…", saya melenguh lenguh keenakan tak kuasa menahan terjangan badai orgasme yg melandaku, tubuhku menggeliat hebat, kedua betisku melejang lejang sementara kedua tanganku meremas sprei dgn kuat, yg merupakan ekspresiku untuk menahan nikmat, serta celakanya entot an pak Basyir sama sekali tidak mereda. "Aaduuh paaak.. ampuuun…", saya mengerang tak kuat menahan nikmat ini, tubuhku mengejang hebat sebelum perlahan saya mulai melemas tak berdaya di bawah keperkasaan penjaga vilaku ini setelah cairan cintaku membanjir.

"Non Liza.. enak ya?", ledek pak Basyir. saya sudah tak mampu menjawab, hanya mengangguk lemah. Tulangku rasanya copot semua, serta saya hanya bisa pasrah ketika pak Basyir terus melecehkanku. Betisku dijilatinya hingga saya kegelian, sementara kontol nya yg masih keras itu tetap bersarang di dalam liang memek ku dgn gerakan memompa yg perlahan. Entah mengapa di ronde ke dua ini pak Basyir malah makin perkasa, padahal di ronde pertama tadi dia sudah ejakulasi tanpa sempat membuat saya orgasme.

saya merasa seolah olah sebuah batangan kayu atau besi sedang keluar masuk di liang memek ku, yg membuatku tak bisa bergerak bebas. "Pak.. kok masih.. belum keluar sih? Liza capek nih..", keluhku. "Bentar lagi non.. sabar ya…", kata pak Basyir. saya diam saja, serta pak Basyir terus melanjutkan memompa liang memek ku. dia terus memandangi wajahku, hingga saya menjadi jengah serta membuang muka, walaupun saya tak bisa kemana mana karena tubuhku masih berada di bawah tindihan pak Basyir.

Tak lama kemudian, kurasakan kontol pak Basyir mulai berkedut di dalam sana, serta dia mengerang panjang menyebut namaku, "Non Lizaaaa… oooooh". Semprotan sperma yg cukup banyak kembali membasahi rahimku. saya menggeliat menahan nikmat, serta kemudian terkulai seiring ambruknya pak Basyir menindih tubuhku. Masih belum puas, pak Basyir melumat bibirku serta melesakkan lidahnya ke dalam mulutku, membuat saya kembali harus menelan air ludah pemerkosaku.

Setelah pak Basyir melepaskanku karena kehabisan nafas, dia ambruk terguling di sebelah kananku. saya menarik lepas tanganku yg tertindih badannya yg penuh keringat. "Non Liza.. teman teman non Liza itu mau nggak main sama bapak?", tanya pak Basyir. saya langsung meradang serta membentak penjaga vilaku ini, "Pak, jangan macam macam ya! Belum cukup apa bapak memperkosa Liza seorang saja?".

"Sabar non Liza, bapak kan cuma berandai andai. Misalnya, teman non Liza yg tadi siang ngeremasin susunya non", kata pak Basyir sambil meremas toket ku. saya terkejut, ternyata tadi pak Basyir sempat mengintip kami, serta saya tahu yg dia bicarakan adalah Sherly. "Anaknya cakep, rambutnya indah, badannya seksi, bapak jadi pingin tahu apa dia juga sehebat non Liza kalau main sama bapak", sambung pak Basyir.

Dadaku rasanya sesak, ingin rasanya saya menampar pak Basyir karena kata katanya yg amat merendahkanku itu. Tapi belum lagi saya berbuat apapun, pak Basyir sudah melanjutkan, "yg tadi manggil manggil non di teras itu juga cakep, rambutnya panjang seperti punya non Liza, badannya juga kecil seperti non Liza. Mungkin memeknya juga enak seperti non Liza", kata pak Basyir sambil menerawang, tapi tangannya tak berhenti meremasi toket ku.

yg barusan dia impikan adalah Jenny, serta saya semakin jengkel. "Pak Basyir, sebaiknya bapak bisa menjaga kelakuan bapak. Kalau sampai bapak berulah serta teman teman Liza tahu tentang hal ini, berarti nggak ada gunanya rahasia ini Liza jaga, toh Liza nanti akhirnya malu juga karena rahasia ini pasti tersebar ke mana mana. serta karena sudah nggak ada bedanya lagi, saya pasti akan meminta papa untuk memecat bapak!", saya mengancam dgn keras.

Mendengar ancamanku, pak Basyir keder juga, serta berkata, "Iya non Liza, bapak janji nggak akan mendekati kedua teman non Liza itu. Kalau yg tiga itu sih.. bapak nggak berminat, mereka kurang menarik buat bapak . Tapi kalau kedua teman non Liza sendiri yg mendekati bapak, non Liza jangan menyalahkan bapak lho..". Mendengar kata kata pak Basyir, saya sedikit lega, walaupun agak muak juga.

"Pokoknya bapak jangan berani berani mendekati kedua teman Liza itu! Besok Liza mungkin agak terlambat datang ke sini!". saya lalu menepis tangan pak Basyir yg masih meremasi toket ku, serta saya berdiri lalu mengenakan bra serta celana dalamku juga baju tidurku, serta saya keluar dari kamar tidur penjaga vilaku itu menuju kamarku sendiri. saya tak langsung tidur, tapi saya mengambil baju tidur, bra serta celana dalamku yg baru, serta juga handuk kecilku, kemudian saya menuju ke dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, saya kembali menelanjangi diriku, serta saya membersihkan liang memek ku dari sperma penjaga vilaku itu. Sambil kusemprot dgn air shower, liang memek ku kukorek sebisanya sambil menggigit bibir menahan nikmat, lalu kuberi cairan pembersih memek hingga memek ku terasa nyaman serta pasti berbau wangi ^^

Lalu tubuhku kuseka dgn handuk kecilku yg sudah kubasahi dgn air serta sedikit sabun. saya membersihkan seluruh tubuhku dari keringat hasil persetubuhanku dgn pak Basyir tadi, serta tubuhku mulai terasa nyaman. Setelah saya mengeringkan tubuhku serta memakai bra, celana dalam serta baju tidurku yg baru, saya menyimpan semua pakaian kotorku dalam kantung plastik. Lalu saya segera masuk ke dalam kamar, serta saya berhasil membuka serta menutup pintu kamarku dgn nyaris tanpa suara.

saya melihat Bella serta Sherly sudah tertidur lelap, serta dgn hati hati saya naik ke ranjang serta membaringkan diri di sebelah Sherly. saya masuk ke dalam selimut untuk menghangatkan diri. Tiba tiba, seperti tadi, Sherly memelukku, erat sekali, hingga nafasku rasanya sesak. serta herannya, nafas Sherly terasa berat, seperti orang yg sedang terangsang. Tapi saya tak berani banyak bergerak, serta akhirnya saya tertidur dgn nyaman dalam pelukan Sherly yg mungkin sedang bermimpi sesuatu ini…


saya masih amat mengantuk ketika tiba tiba saya mulai merasakan remasan lembut pada toket ku yg kiri. "Eliza…", saya mendengar bisikan Sherly. "Mmm…", saya menjawab dgn mata terpejam serta masih ingin menikmati tidurku. "Kamu cantik…", bisik Sherly mesra, kurasakan hembusan nafasnya yg hangat menerpa pipiku. Walaupun saya masih memejamkan mata, saya tersenyum malu. "Mmm… Thanks Sher..", jawabku manja serta membenamkan mukaku di dada Sherly hingga menempel di tengah toket nya.

"Bella sedang ke toilet kok El.. kamu tenang aja, Bella itu kalau ke toilet, lama..", bisik Sherly sambil terus membelai rambutku. saya sempat agak terkejut saat teringat di sini ada Bella. Tapi mendengar kata kata Sherly, saya terus memejamkan mata serta menggerak gerakkan kepalaku menikmati empuknya toket Sherly. dia tak mengenakan bra hingga saya bisa merasakan tonjolan puting toket nya.

"Eliza.. kamu nakal.. auuw..", keluh Sherly dgn manja ketika saya sengaja mencium tonjolan itu yg ada di balik baju tidur ini. "Biarin..", jawabku dgn masih terkantuk kantuk. Ini memang sekalian untuk membalas perbuatan Sherly kemarin padaku. saya kembali membenamkan mukaku di tengah toket Sherly, rasanya begitu nyaman. Sherly mendekapku, serta kudengar detak jantungnya kencang sekali.

Tapi ketika kudengar suara pintu kamar mandi di belakang terbuka, saya tahu kalau saya serta Sherly harus segera menghentikan semua ini. "Sher.. Bella..", kataku, yg langsung dijawab Sherly, "Iya, kita udahan dulu deh". Sherly melepaskan pelukannya padaku, serta saya segera menaruh kepalaku di atas bantal. saya membuka mata serta melihat jam, ternyata sudah jam setengah enam pagi. Masih sempat kudengar bisikan Sherly sebelum Bella masuk, "Nanti kita lanjutin ya Elizaku". saya tersenyum geli mendengarnya.

Pintu kamarku terbuka, serta Bella yg sudah memakai baju trainingnya, masuk sambil menyapa kami berdua, "Hai.. kalian udah bangun ya? Met pagi". Kami berdua membalas sapaan Bella, serta beberapa menit kemudian saya membuka selimutku serta duduk sebentar sementara Sherly masih tiduran di dalam selimut. "Oh iya, yg di kamar sebelah udah pada bangun semua nggak ya? Kalau pagi pagi gini kita jalan jalan di luar, udaranya segar lho", kataku.

Baru saja saya berkata begitu, pintu kamarku sudah terbuka serta Jenny, Rini serta Siany masuk bergabung bersama kami. Jenny langsung memegang tanganku serta menarikku berdiri, "Ayo El, katanya kemarin mau jalan jalan pagi ini?". saya tersenyum serta menjawab, "Baru saja saya mau ngecek kamu udah bangun belum Jen". Jenny mencibir, "yg baru bangun siapa coba? saya Rini serta Siany sudah pakai baju training, Bella juga.. kamu serta Sherly ini aja yg.. hayooo… jangan jangan kalian…".

saya mencubit lengan Jenny, "Jangan jangan apa Jen?". Jenny mengaduh serta minta ampun, "Ampun El.. nggak.. nggak kok". Kami semua tertawa kecuali Jenny yg mengeluh manja, "El.. sakit nih.. kamu jahat". Jenny mengusap usap lengannya yg tadi saya cubit, serta saya hanya mencibir, "Biarin". Lalu saya segera ngambil pakaian olah ragaku serta saya sudah hendak pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian ketika Sherly berkata, "Mau ke mana El? Kalau ganti baju, di sini aja, kita kan sama sama cewek?"

saya agak ragu, serta selagi saya tak tahu harus bagaimana, saya yg sudah hampir keluar pintu ini ditarik oleh Rini kembali ke tengah. "Iya El, ganti di sini juga kenapa?", tanya Rini. dgn ragu saya melepas baju tidurku, serta untungnya semuanya termasuk Sherly serta Jenny bersikap wajar saja sampai saya selesai memakai baju trainingku, bahkan Sherly juga langsung berganti pakaian. serta akhirnya kami semua sudah siap, lalu keluar bersama sama, berjalan jalan di pagi hari menikmati udara segar di Tretes.

—ooOoo—

Kami sudah berjalan jalan lebih dari setengah jam ketika saya melihat ada seorang wanita yg sedang berjongkok serta memijit mijit pergelangan kakinya. Kebetulan kami berjalan mendekati wanita itu, serta saya bermaksud menanyakan keadaannya. "Emm.. Eh? Cie.. ", saya menyapanya dgn ragu ragu, saya yakin pernah melihat wanita ini. "Hai.. Eliza kan? Lupa yaa.. saya Liana, pegawai di kantor pak Alan", sapa wanita yg ternyata Cie Liana, pegawai papiku ini.

"Oh iyaa.. hai Cie Liana… oh ya, kenapa kaki Cie Liana?", saya bertanya pada Cie Liana. "Oh nggak apa apa kok Eliza, cuma capai aja kok, thanks ya", kata Cie Liana. "Oh iya Cie, kenalkan ini teman temanku", saya memperkenalkan semua temanku satu per satu. "Wah senang ya bisa kompak gini, iri deh Cie Cie sama kalian", kata Cie Liana setelah selesai berkenalan dgn semua teman temanku.

Sherly memandang Cie Liana dgn kagum. Cie Liana, seorang wanita yg kira kira sudah berumur 26 tahun, wajahnya manis serta terutama matanya indah, pasti membuat pria tak akan bosan memandangi Cie Liana yg mengenakan baju training yg lumayan ketat hingga menonjolkan lekuk tubuhnya yg indah. Rambutnya yg panjang sampai ke siku tangannya itu diikat dgn model ekor kuda, membuat Cie Liana tampak semakin manis.

"Memangnya Cie Cie sendirian aja ke sini?", tanya Sherly. "Iya nih, akhir minggu, refreshing dua hari satu malam, jadi Cie Cie nggak kepikiran untuk bawa teman", kata Cie Liana.Kami sempat mengobrol sebentar, serta kemudian kami bersama Cie Liana melanjutkan jalan jalan pagi ini. Cie Liana cepat sekali akrab dgn kami semua, serta pada saat pulang, kami melewati vila yg ternyata tempat Cie Liana menginap, yg mana kebetulan ada di dekat vilaku.

"Ini vila tempat Cie Cie menginap, kalau kalian nggak buru buru, mampir sebentar ya?", kata Cie Liana. "Nanti siang aja Cie, sekalian kami mau buat pudding siang nanti. Cie Cie mau kan?", tanya Sherly. "Aduh makasih lho. Kalian menginap di mana?", tanya Cie Liana. "Itu cie, dari sini kelihatan yg pintunya putih", kataku sambil menunjuk ke pintu vilaku yg kelihatan dari sini. "Oh dekat ya.. ya udah deh, Cie Cie tunggu ya puddingnya", kata Cie Liana sambil tersenyum manis sekali serta melambaikan tangannya.

Kami membalas lambaian tangannya serta kami segera kembali ke vila. kini matahari masih belum menyengat, serta terbayang betapa senangnya jika kami menceburkan diri ke kolam renang di vilaku. Begitu sampai, saya segera mengambil beras secukupnya serta melakukan semua yg diperlukan untuk memasak nasi pada rice cooker. Setelah semua beres, saya mengetuk pintu kamar, "Haloo, saya mau masuk". serta terdengar jawaban dari dalam, "Masuk aja El, nggak dikunci kok".

serta ketika saya masuk ke dalam kamar, saya terpukau melihat Sherly yg memakai pakaian renang minim, yg hanya menutup toket serta selangkangannya saja. Kulihat tubuhnya yg putih mulus, begitu indah serta menggairahkan, perutnya yg begitu rata serta pinggangnya yg ramping, benar benar sempurna. saya dikejutkan oleh Bella yg menggodaku, "El, kamu kok ngeliatin Sherly kayak gitu sih? Hayo naksir ya?". saya gelagapan serta mencoba membantah, "Nggak, saya.. saya..".

Bella tertawa serta makin menggodaku, "Ya udah, saya keluar dulu deh El, jadi kamu bisa bermesraan sebentar dgn Sherly". Ya ampun, saya tak tahu harus menjawab apa. serta setelah Bella keluar dari kamar, saya langsung berganti pakaian renang. Begitu saya selesai memakai pakaian renangku, Sherly mendekatiku, lalu memelukku dgn erotis, serta dia berbisik mesra padaku, "Eliza.. hari ini kamu harus ma jadi milikku.. saya pasti dapatin kamu…".

saya tak bisa bereaksi apapun, serta saya makin lemas ketika Sherly memagut bibirku sambil mempererat pelukannya, serta kurasakan toket itu menekan toket ku dgn tepat, hingga saya merasa tersengat, saya hanya bisa pasrah dalam pelukan Sherly. Cumbuan bertubi tubi dari Sherly membuatku hampir tak bisa berpikir jernih, tapi saya sadar kalau ini terus berlanjut, kami bisa ketahuan oleh yg lain. saya nggak tahu dgn Sherly, tapi saya tak bisa membiarkan teman temanku mengetahui kemesraan kami berdua yg tidak wajar ini.

"Sher… jangan sekarang Sher…", saya mulai meronta perlahan dari dekapan Sherly. "Nanti ketahuan yg lain…", keluhku tanpa daya ketika Sherly meremas kedua toket ku begitu saya lepas dari dekapannya. Tepat ketika Sherly melepaskan remasannya pada toket ku, pintu kamarku terbuka serta Jenny masuk serta memanggil kami berdua, "Ayo dong, kalian jangan pacaran melulu dong, nanti aja pacarannya kalo udah selesai renang".

"Kamu ini Jen, awas ya kalau ketangkap", saya langsung pura pura marah serta mengejar Jenny yg lari keluar sambil tertawa, serta saya terus mengejarnya sampai kami berdua mencebur ke kolam renang. saya sudah tak berminat mengejar Jenny, air yg dingin ini sungguh menyegarkan serta saya berenang sepuasnya. Mereka berenang santai sambil terus berceloteh, hanya saya sendiri yg sibuk menyelam serta berenang sampai saya agak lelah.

"Eh bentar nih, saya mau minum dulu.. haus juga nih. Kalian juga mau kan? saya bawain lima Aqua botol buat kalian ya", kataku ketika saya merasa agak haus. "Iyaa. Thanks ya El", kata mereka hampir berbarengan. saya tersenyum, lalu naik serta masuk ke dalam ruang tengah untuk mengambil minuman, serta saya minum sampai hausku terpuaskan, saya langsung menghabiskan setengah botol air minum.

saya mengambil lima botol air minum Aqua dari kulkas serta kutaruh di meja sebentar. Tepat ketika saya menutup pintu kulkas, tiba tiba sebuah tangan menerobos dari belakang melewati celah pahaku, kemudian dgn cepat tangan itu sudah mencengkeram selangkanganku. saya baru akan bereaksi ketika mulutku sudah dibekap oleh tangan yg satunya lagi. saya tahu ini pasti ulah pak Basyir, yg mengambil kesempatan dalam kesempitan.

saya tak berani banyak bergerak dgn lima botol Aqua yg kudekap dgn kedua tanganku, serta pak Basyir dgn leluasa meremasi daerah selangkanganku, serta menggunakan jarinya mencari cari serta menekan bibir memek ku, sementara kurasakan hembusan nafas pak Basyir yg hangat menerpa leherku ketika dia sedang menciumi rambutku yg basah ini.

"Emmphh…", saya menggeleng gelengkan kepalaku menahan nikmat yg melanda selangakanganku ketika jari tangan pak Basyir dgn tepat menusuk sebagian liang memek ku. Tubuhku mengejang kaku, merespon tusukan tusukan kecil yg dilakukan pak Basyir. "Empph.. ahhh.. pak.. jangan sekarang…", saya merintih serta memohon pak Basyir untuk menghentikan semua ini. "Non Liza…", desah pak Basyir dgn nafas memburu dari belakangku. "Bapak kangen..", sambung penjaga vilaku ini.

"Jangan gila pak, apa apaan sih, udah lepaskan Liza!", bentakku pelan. saya makin panik karena pak Basyir tak juga melepaskanku, dia malah membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya, lalu tiba tiba dia berjongkok serta menjilati memek ku yg tertutup oleh baju renangku ini. "Ohhh.. pak… jangan…", keluhku tak berdaya, saya tak bisa berbuat apa apa karena saya harus mendekap botol botol Aqua ini, daripada nanti terjatuh serta mengundang perhatian yg lain.

"Oooohh…", saya mendesah menahan nikmat ketika pak Basyir di bawah sana dgn rakus melumat memek ku, untungnya baju renangku memang basah, jadi tak akan mencolok kalau bagian yg itu basah oleh ludah penjaga vilaku. Sesekali tubuhku tersentak, saya tak bisa berjalan mundur karena kedua pahaku dipeluk oleh pak Basyir. saya benar benar tak berdaya serta sudah dalam kekuasaan penjaga vilaku ini, ketika tiba tiba kudengar Jenny memanggil manggilku.

"Elizaaa… kamu kok lama kenapaa? saya bantuin deh ambil botolnya", kata Jenny dgn suara yg cukup keras untuk terdengar sampai ke dalam sini. saya seperti tersadar serta seolah mendapat kekuatan untuk melepaskan diri dari pak Basyir. saya meronta sekuatnya, serta dekapan pak Basyir pada kedua pahaku terlepas, demikian juga dgn lumatan pak Basyir pada memek ku. Tubuhku masih bergetar menahan nikmat, sementara pak Basyir tak menunjukkan tanda tanda akan berhenti.

Dalam keadaan tersengal sengal, dgn kesal saya berkata pada pak Basyir dgn penuh ancaman, "Bapak jangan nggak tau aturan ya! Bisa nggak nunggu sampai nanti malam? Tolong pak Basyir jaga kelakuan bapak, jangan lupa diri pak, Liza ini masih anak majikan bapak! Kalau bapak sampai tega mempermalukan Liza di depan teman teman Liza, maka bagi Liza nggak ada yg perlu Liza pertimbangkan lagi serta jangan salahkan Liza kalo Liza minta papa untuk memecat pak Basyir!"

Pak Basyir keder juga, "Iya non.. saya ke belakang dulu.. maaf non, abis non ngangenin sih". Wajahku panas mendengar kata kata pak Basyir. Untung dia sudah keluar ketika Jenny sampai ke dalam ruangan ini serta saya sendiri sudah berhasil mengatur nafasku serta bersikap sewajarnya. "El.. kamu digangguin bapak itu lagi?", tanya Jenny dgn berbisik bisik. saya mengangguk serta berkata, "Iya Jen, untung kamu tadi panggil panggil.. thanks ya Jen".

Jenny memelukku serta berkata, "Tenang El, saya pasti jagain kamu". saya merasa nyaman dipeluk seperti ini, serta ketika Jenny melepaskan pelukannya saya memandangnya dgn penuh rasa terima kasih. Kami berbagi lima botol Aqua ini serta bersama sama membawa semuanya ke tempat kolam renang. serta sebelum sinar matahari mulai menyengat, kami semua sudah puas berenang, serta kami bergantian mandi pagi sebelum melanjutkan acara kami hari ini.

Tentu saja kami makan pagi dulu, serta kali ini saya mengajak Jenny membantuku di dapur menghangatkan makanan kaleng yg kami bawa kemarin. Sebenarnya untuk menghangatkan makanan kaleng itu tak begitu repotnya, tapi saya meminta Jenny menemaniku daripada saya nanti harus pasrah dilecehkan pak Basyir. Sementara itu teman temanku yg lain menyiapkan piring serta sendok garpu di meja makan, serta kami makan pagi dalam suasana yg santai.

Setelah makan pagi selesai serta piring piring kotor sudah kami letakkan di belakang, kami melewatkan pagi ini dgn melakukan berbagai kegiatan yg menyenangkan, seperti main kartu, tebak tebakan, menyanyi bersama serta yg paling seru, menggosip ^^ serta tak terasa sekarang ini sudah jam dua belas siang. "Gimana, jadi bikin pudding?", saya bertanya pada teman temanku. "Jadi dong!", seru Jenny, serta Sherly langsung beranjak dari duduknya sambil berkata, "Jangan lupa, kita buat agak banyak, kan udah janji dgn Cie Liana tadi".

"Iya, saya ingat kok Sher", kataku padanya, serta kami semua segera sibuk. Selagi mereka mempersiapkan bahan bahan untuk membuat pudding, saya ditemani Jenny menyiapkan nasi serta makan siang kami. Setelah rice cooker menyala, saya serta Jenny bergabung membantu menyiapkan bahan bahan untuk membuat pudding, serta setelah semuanya siap, kami semua makan siang dulu, baru kemudian kegiatan pembuatan pudding itu kami lanjutkan.

Kami membuat banyak sekali, selain untuk diberikan pada Cie Liana, juga untuk kami makan malam nanti. Kami pasti begadang di malam terakhir liburan di vilaku, yg juga malam terakhir bagi pak Basyir untuk menikmati tubuhku dalam acara liburan ini. saya mencoba tak mengingat ngingat keadaanku yg nanti harus melayani pak Basyir, kini saya hanya ingin bersenang senang dgn teman temanku.

Akhirnya beberapa cetakan pudding selesai, serta sambil menunggu pudding pudding itu mengeras, kami semua beristirahat sambil menonton DVD. Entah film drama apa yg ditonton mereka, saya tak berkonsentrasi serta lebih banyak melamun. saya merenungi keadaan diriku. Terbersit perasaan sedih, mengapa saya bisa tertimpa berbagai perkosaan yg tak habis habisnya. serta yg paling membuatku merasa kotor serta terhina, adalah gangbang sekaligus bukake yg menimpaku tiga minggu yg lalu.

Masih teringat jelas olehku, betapa sakitnya liang memek ku, betapa lemasnya kedua kakiku hingga saya bahkan sempat tak punya tenaga hanya untuk berdiri saja. Bagaimanapun saya masih bersyukur, mereka tak menyekapku untuk dijadikan budak seks mereka. Kembali terngiang di telingaku suara suara melecehkan dari anak anak SMP serta STM yg menggagahiku waktu itu. Tak terasa air mataku menitik, sakit sekali hatiku rasanya jika teringat itu semua.

saya terkejut sendiri, serta cepat cepat kuhapus air mataku yg sudah mengalir di pipi ini. Tapi lagi lagi saya terkejut, teman temanku semua juga sedang menangis. Ternyata film dari DVD yg sedang ditonton mereka ini adalah jenis cerita sedih, serta ini benar benar menyelamatkanku. Apa jadinya jika sekarang ini mereka sedang menonton film komedi serta saya malah menangis seperti ini?

saya hanya mengarahkan pandanganku ke TV, tapi pikiranku terus melayang layang. saya teringat saat terenggutnya keperawananku di ruang UKS, perkosaan yg akhirnya membuatku larut serta menyerahkan diri. Demikian juga halnya di rumah, berawal dari perkosaan, akhirnya saya memilih memberikan para pembantu serta sopirku kesempatan untuk menikmati tubuhku selagi situasi memungkinkan, serta yg terjadi akhir akhir ini saya malah amat menikmati persetubuhan dgn mereka bertiga.

Lalu buruh buruh Jenny yg juga pernah mendapat kesempatan untuk menikmati tubuhku, lalu penjaga vilaku ini yg berhasil membuatku memohon mohon untuk diantar menuju orgasme. Di sekolah baletku, saya harus memuaskan seorang tukang sapu, lalu saya merasakan berciuman dgn sesama wanita bersama Cie Elvira serta Sherly, lalu anak anak SMP serta STM yg membuatku menderita sengsara itu, serta kini saya kembali jatuh ke tangan pak Basyir. Lamunanku terhenti ketika Sherly mematikan DVD, serta saya tak perlu terlalu berusaha untuk tidak terlihat terkejut, karena semuanya masih sibuk menangis sedih.

"Sedih ya film ini…", komentar Rini sambil menghapus air matanya. "Eh udah dong, masa kalian mau nangis terus? Gimana, ayo kita lihat pudingnya", saya mencoba mencairkan suasana. "Iya nih", kata Sherly sambil tersenyum, serta kami semua ke meja untuk melihat pudding kami. Ternyata sudah siap untuk dimakan walaupun agak hangat. "Ayo, saya temani kamu antar pudding itu El", kata Sherly. "Iya boleh. Tapi kita cicipin dulu nih, ntar kuatirnya rasanya nggak enak", kataku pada mereka.

"Waah.. enaknyaa", kata Jenny, serta dia menyambung lagi, "Udah kasih aja, pasti Cie Cie itu senang. saya tambahin dulu es buahnya ya". Jenny menambahkan es buah dari kaleng yg sudah dingin sekali karena dimasukkan ke dalam kulkas sejak kemarin, serta setelah pudding buah ini siap, saya serta Sherly pergi ke vila tempat Cie Liana menginap tadi, meninggalkan Jenny serta yg lain yg memamerkan saat saat mereka menikmati es pudding itu. Entah apa yg mereka lakukan setelah ini sambil menunggu kami kembali, mungkin beristirahat, mungkin tidur siang atau sekedar tidur tiduran sambil mengobrol.

"El, Cie Liana itu cakep abis ya", kata Sherly. "Iya Sher..", saya menjawab sambil tersenyum. "Tapi kamu masih lebih cakep kok El", goda Sherly sambil tersenyum nakal. "Ih.. apaan sih Sher.. udah ah, ini kita udah sampai", kataku agak malu. Kami mencari cari bel, tapi tak menemukan. serta ketika saya akan mengetuk, Sherly mendorong pintu vila ini serta ternyata terbuka, tak dikunci. "Gimana ini Sher?", tanyaku pada Sherly, yg menjawab, "Ya kita masuk aja, toh maksud kita kan baik, mau ngasih pudding ini".

saya berpikir, benar juga kata Sherly. Maka saya serta Sherly masuk sekalian melihat lihat. Sempat saya memperhatikan jam tanganku, sudah jam tiga sore. Tiba tiba, saya menangkap suara desahan serta rintihan wanita, juga geraman dari pria, yg mungkin lebih dari satu. saya tercekat, tanpa sadar saya hanya ikut ketika Sherly sudah menarik tanganku serta dia berhenti di pojok tembok. Sherly mulai mengintip halaman belakang vila ini. saya mau tak mau mendengar suara desahan wanita yg makin jelas itu, serta saya berbisik, "Siapa Sher?". Sherly menjawab dgn nada suara yg tak percaya, "Cie Liana.. El..!?".

Jawaban Sherly itu amat mengejutkanku, serta saya memaksa diri untuk ikut mengintip. saya tercekat ketika melihat Cie Liana sedang tiduran di kursi panjang, tubuhnya telanjang bulat dgn pakaian yg berserakan di teras belakang ini dgn memek yg tertancap kontol seorang laki laki yg penampilannya terlihat seperti penjaga vila di sini, sementara satu tangan Cie Liana sedang sibuk mengocok kontol seorang laki laki yg saya rasa pernah melihatnya. Ya, laki laki itu adalah sopir Cie Liana.

saya tertegun melihat pemandangan yg harusnya tak asing buatku, karena keadaanku memang tak berbeda dgn Cie Liana, menjadi pemuas nafsu seks penjaga vila, sopir, malah saya masih harus rela menjadi pemuas nafsu dari beberapa orang yg tidak sedikit jumlahnya. Cie Liana kelihatan seperti menderita ketika kontol itu melesak dalam dalam pada liang memek nya, tapi ketika kontol itu ditarik sampai hampir keluar, saya merasa sepertinya kedua kaki Cie Liana menjepit pinggang laki laki itu seolah Cie Liana tak rela kontol itu sampai keluar dari liang memek nya.

"Ngghhh.. Aaaduuuh…", kudengar lenguhan serta erangan Cie Liana ketika liang memek nya diaduk aduk sampai pinggang Cie Liana terangkat angkat, serta saya bisa membayangkan bagaimana rasanya, karena saya sendiri sudah pernah mengalami yg seperti itu. Wajah Cie Liana yg mengekspresikan kesakitan saat liang memek nya disodok dalam dalam membuatku kuatir. "Sher.. menurutmu, apa Cie Liana.. diperkosa?", tanyaku dgn tak yakin.

"Ya nggak lah El, mana ada orang diperkosa tapi kakinya malah disilangkan melingkari pinggang pemerkosanya? Itu sih persetubuhan namanya", jawab Sherly sambil terus melihat ke arah Cie Liana yg sedang tersentak sentak dientot oleh laki laki itu. Mukaku rasanya panas, teringat saya sendiri sudah beberapa kali terlibat persetubuhan, yg pada awalnya selalu dimulai dari perkosaan, serta akhirnya saya harus larut dalam kenikmatan, malah kadang saya sampai mencari kenikmatanku sendiri.

saya melihat Cie Liana yg sedang dientot habis habisan tiba tiba menarik kontol dari sopirnya yg sedang dikocok oleh tangan Cie Liana, kemudian Cie Liana melahap kontol itu serta mengoralnya. Kini saya jadi yakin, kalaupun tadinya awalnya Cie Liana memang diperkosa, sejak Sherly serta saya melihat kejadian ini, keadaan Cie Liana pasti sudah mulai menikmati adukan pada liang memek nya. Wajah Cie Liana yg mengekspresikan penderitaan itu besar kemungkinan karena kontol dari laki laki yg mengaduk liang memek Cie Liana itu begitu besar serta panjang.

"Ooooh… Bu Lianaaaa…", erang sopirnya Liana itu, serta Cie Liana melepaskan kulumannya pada kontol sopirnya yg langsung mengocok kontol nya sendiri serta sesaat kemudian, spermanya berhamburan menyemprot wajah Cie Liana, sebagian semprotan itu mengenai rambutnya juga. serta kini ganti Cie Liana yg melenguh lenguh, "Nggghh… ngghhh… aduuhhh…". Tubuh Cie Liana berkelojotan, untung sopirnya menahan serta menjaga gerakan tubuh Cie Liana yg mungkin sekali sedang mengalami orgasmenya itu, hingga tak sampai terjatuh dari kursi yg menopang tubuh Cie Liana itu.

Tak lama kemudian Cie Liana melemas bersamaan dgn suara geraman dari laki laki yg beruntung menikmati liang memek dari Cie Liana itu. Laki laki itu lalu mencabut kontol nya, lalu dia cepat cepat beranjak serta mengarahkan kontol nya ke toket Cie Liana sambil terus mengocok kontol nya sendiri. "Aaah…", erang laki laki itu saat spermanya tersemprotkan keluar membasahi kedua toket Cie Liana.

Kini kedua pejantan yg menggagahi Cie Liana sudah terpuaskan, serta Cie Liana sendiri kelihatan lemas, wajah serta toket nya belepotan sperma serta nafasnya tersengal sengal. Nampak laki laki yg baru menyetubuhi Cie Liana itu mengelus-elus kedua toket Cie Liana sehingga cipratan spermanya merata. Sesaat kemudian bibir Cie Liana dipagut dgn buas oleh sopirnya. "Mmmphhh… mmmm…", Cie Liana membalas pagutan itu serta melingkarkan kedua tangannya di leher sopirnya, mesra sekali kelihatannya.

Sungguh pemandangan yg indah serta sexy, juga kontras sekali. Cie Liana yg begitu cantik serta berkulit putih mulus bak pualam, saling berpagut begitu ganas dgn sopirnya yg berwajah amburadul dgn kulitnya yg hitam tak terawat, serta kulit dari kedua insan yg berasal dari strata sosial yg amat berbeda itu, bergesekan serta menyatu dgn indahnya. Pemandangan ini membuatku jantungku berdegup kencang serta saya mati matian berusaha menekan gairahku yg meninggi ini.

Tanpa kusadari tiba tiba Sherly sudah mendekapku dari belakang serta menarikku ke arah tembok. Sherly dgn kejam merangsangku habis habisan di saat saya sendiri sudah terangsang melihat live show persetubuhan tadi. saya tak berani bersuara, hanya bisa diam tak tahu harus berbuat apa selain mati matian menahan diriku untuk tidak mendesah. saya menggigit bibir serta menggeliat menahan nikmat ketika tangan Sherly yg kiri sudah menyusup pada bagian depan celana dalamku, serta jari tangannya dgn cepat menemukan liang memek ku, lalu menusuk serta mengaduk aduk liang memek ku.

Tangan kanan Sherly sendiri bergantian meremasi kedua toket ku, serta saya mulai mengejang akibat terangsang begitu hebat. "Nggh.. Sheer..", saya melenguh perlahan serta mencoba melepaskan diriku dari dekapan Sherly. Setelah berhasil, dgn nafas yg memburu saya cepat ke arah pintu masuk vila ini, serta Sherly mengikutiku ke sana. "Kenapa El?", tanya Sherly dgn senyum menggoda. saya tersenyum malu tak kuat membalas tatapan Sherly yg sayu serta penuh hasrat padaku.

"Sher… kita jangan begini di sini, nanti kalau ketahuan Cie Liana kan nggak enak", saya berbisik lembut, mencoba memberi pengertian pada Sherly. "Ya udah, kamu sendiri yg bilang kita jangan begini di sini, artinya nanti ditempat lain yg memungkinkan, kamu harus mau. Pokoknya hari ini kamu harus jadi milikku, Eliza", jawab Sherly dgn mesra. saya tak tahu harus menjawab apa, malu sekali rasanya, serta saya hanya bisa menunduk malu seperti ada seseorang yg mengajakku untuk menikah saja.

"Gimana ini El, masa kita mau menunggu Cie Liana serta mereka itu bermain satu ronde lagi?", tanya Sherly. saya sendiri juga bingung, serta tiba tiba Sherly sudah berseru dgn suara keras, "Permisii.. Cie Liana, saya Sherly yg tadi Cie, lagi sama Eliza nih..". serta terdengan suara Cie Liana dari halaman belakang tadi, "Iyaaa.. tunggu bentar di sana ya, Cie Cie bentar lagi keluar". saya serta Sherly saling berpandangan, seolah bersepakat untuk pura pura tak terjadi apa apa.

Tak lama kemudian Cie Liana menemui kami, dgn pakaian yg terpasang lengkap serta cukup rapi, hanya saja agak kusut di sana sini. Wajah Cie Liana merah sekali serta tubuhnya berkeringat cukup banyak seperti orang yg baru berolahraga cukup berat. Rambutnya yg tadi diikat itu kini dibiarkan bebas tergerai, indah sekali rambut Cie Liana itu dgn highlight di beberapa bagian, hingga Cie Liana terlihat semakin cantik, serta saya terus memandangi Cie Liana dgn terpukau.

Tapi saya agak terkejut ketika saya melihat sedikit bekas sperma pada bagian atas rambut Cie Liana, yg tadi disemprotkan oleh sopirnya itu. serta sekilas saya juga bisa melihat beberapa warna merah bekas cupangan di bagian leher Cie Liana dari sela sela rambutnya, membuatku menahan nafas serta berusaha seolah olah saya tak melihat apapun. saya juga berharap Sherly tak membahas apa yg kami lihat tadi saat kami sempat mengintip tadi, serta tampaknya Sherly memang belum cukup gila untuk melakukan itu.

"Hai.. kalian…?", tanya Cie Liana dgn ragu. "Ya Cie Liana, lupa ya? Tadi kami kan janji mau bawain Cie Liana pudding?", goda Sherly. "Oh iya yaa.. ayo masuk", kata Cie Liana mengajak kami mampir sebentar. "Aduh, sorry ya Cie, saya serta Eliza udah ditungguin yg lain, kami lagi akan mengadakan game nih.. Cie Cie mau ikut?", kata Sherly.

"Oh, jangan deh Sherly, nanti Cie Cie malah menggangu saja. Lagipula Cie Cie mau istirahat nih", tolak Cie Liana dgn halus. saya agak heran tentang game yg Sherly maksud, tapi saya tahu saya tak boleh membuat suasana menjadi canggung, maka saya mengikuti kemauan Sherly serta tersenyum pada Cie Liana.

"Ini Cie, puddingnya", saya memberikan pudding buatan kami ini. "Ya udah kalo gitu, thanks ya puddingnya. Mmm, Eliza, tempatnya pudding ini, Cie Cie pindah sekarang, atau besok Cie Cie titipkan ke pak Alan?", tanya Cie Liana. "Oh nggak usah repot repot Cie, besok aja titipkan papiku", jawabku. Cie Liana mengangguk serta berkata, "Thanks ya pudingnya.. aduh ngerepotin deh… serta aduh.. kelihatannya enak nih, kalian buat sendiri ya? Wah kapan kapan Cie Cie mesti belajar sama kalian nih!".

saya serta Sherly tersenyum mendengar pujian Cie Liana. "Ya Cie Liana, belum dicoba kok udah bilang keliatannya enak… ntar nyesel lho udah berharap harap, nggak tahunya puddingnya kurang enak", kata Sherly serta Cie Liana tertawa, sungguh cantik sekali Cie Liana waktu tertawa seperti ini. "Ah kamu itu ada ada aja, Cie Cie ini udah senang sekali dikasih pudding gini", kata Cie Liana. Kami semua tersenyum, serta Sherly berpamitan pada Cie Liana, "Ya udah, kami pamit dulu Cie, sampai ketemu lagi ya". Setelah saya juga berpamitan, kami segera keluar dari vila tempat Cie Liana ini serta kembali ke vilaku.

Di tengah perjalanan, saya merasa seperti disambar petir ketika saya mendengar bisikan Sherly, "El, kamu kok sampai seperti orang bingung gitu sih waktu tadi lihat Cie Liana digituin sama penjaga vilanya? Bukannya, tadi malam kamu sendiri juga bersenang senang dgn penjaga vilamu? serta dari percakapan kalian, saya yakin sekali kalau tadi malam itu bukan pertama kalinya kamu menyerahkan dirimu kepada penjaga vilamu, El".

"Hah? Kamu ngomong apa sih Sher?", saya tergagap serta mencoba mengelak. "El, saya tahu kok, penjaga vilamu itu nyebutin saya waktu dia berkata, seperti teman non Liza yg tadi siang ngeremasin susunya non", kata Sherly dgn senyuman yg bukan merupakan senyuman kemenangan, sinis ataupun dingin, tapi senyuman itu begitu penuh hasrat. serta saya langsung lemas, tak tahu apa yg harus kulakukan. Rahasia ini sudah terbongkar, bukan karena kesalahan pak Basyir, melainkan karena Sherly sendiri yg tahu. Rupanya bayangan yg kemarin kulihat sekelebat itu memang bayangan orang, yaitu Sherly.

"Sher.. siapa lagi yg tahu tentang ini?", saya bertanya dgn panik. "Jangan kuatir nona cantik, saya nggak ngasih tahu siapa siapa kok, serta waktu itu yg mengintip cuma saya sendiri. Yah sebenarnya kemarin, saya ingin dapatin kamu El. Waktu kamu keluar dari kamar, saya kira kamu ke toilet, serta saya kira saya bisa dapatin kamu di sana. Tapi tak tahunya, kamu bukannya ke toilet, malah ke kamar penjaga vilamu. Ya saya jadi ingin tahu, apa yg kamu lakukan di dalam sana", kata Sherly panjang lebar.

saya makin terpojok. Masih untung, setidaknya cuma Sherly sendiri yg tahu sekarang ini. "Sher.. jangan bilang yg lain ya, please..", saya memohon pada Sherly. dgn tersenyum geli, Sherly berkata, "Aduh Eliza.. ngapain juga saya ngomongin ke yg lain.. kita ini sama sama udah nggak suci, buat apa saya harus merusak nama baikmu… kalau kamu mau pun, kamu harusnya juga udah cerita cerita tentang keadaan kosku yg rusak, yg kamu pasti bisa menduga duga dari kunjunganmu yg terakhir itu. Nah, meskipun sama sama nggak suci, tapi saya yakin kita sama sama nggak ember, jadi kamu tenang aja ya".

saya sedikit lega. Sherly kemudian mendekat serta berbisik di telingaku dgn mesra, "Tapi nanti, kamu mandi sama saya ya El.. saya ingin kamu…". saya mengangguk lemah serta menggigit bibir dgn senyum menahan malu. Sesampai di vila, saya masuk ke dalam kamar diikuti Sherly, serta saya tak menemukan Bella. Tapi saya mendengar suara ribut yg amat riang dari kamar seberang, serta ketika saya melihat toilet, ternyata kosong. serta terdengar tawa dari Bella dari kamar seberang, menandakan dia sedang ada di dalam sana.

"El, kalo gitu, kita mandi sekarang aja..", kata Sherly senang. dgn perasaan tak karuan, saya mengambil baju ganti serta handuk, serta Sherly juga melakukan yg sama. Lalu kami berdua masuk bersama ke dalam kamar mandi, serta setelah pintu tertutup serta terkunci rapat, juga baju ganti dah handuk kami tergantung di tembok, dgn sangat bernafsu Sherly menyergapku, serta mencumbuiku. saya memejamkan mata berusaha membiasakan diri, karena saya tahu pasti, ini bukan untuk yg terakhir kalinya saya harus bercumbu dgn Sherly.

Perlahan saya membalas cumbuan Sherly, yg makin membakar nafsu temanku ini. Tak lama kemudian Sherly sudah melucuti bajuku, serta saya sendiri mencoba melakukan yg sama walaupun agak canggung. Setelah kami berdua telanjang bulat, kami kembali berpelukan serta saling memagut bibir dgn ganas. saya sendiri sudah mulai dalam keadaan terbakar nafsu, lidahku kulesakkan ke dalam mulut Sherly serta saling bertaut dgn lidahnya di dalam sana sampai kami saling melepaskan diri karena kehabisan nafas.

"El, saya tahu kok, penjaga vilamu itu bilang kalau saya serta Jenny yg mau sama dia, kamu nggak boleh menyalahkan dia", kata Sherly. saya teringat betul, pak Basyir memang sempat berkata seperti itu. "serta penjaga vilamu itu benar El, kamu nggak boleh nyalahin dia, kalau saya yg deketin dia", kata Sherly, membuatku tak percaya dgn pendengaranku sendiri. "Hah? Kamu gila ya Sher? Kamu…?", saya memandangi Sherly mencoba memastikan temanku ini sedang bercanda atau tidak.

"Abisnya, waktu itu saya lihat walaupun penjaga vilamu itu sudah tua, tapi kemarin dia begitu perkasa serta bisa membuat kamu orgasme sampai kamu kelihatan nggak kuat nggak kuat gitu El. saya jadi kepingin ngerasain kenikmatan yg sampai seperti itu", kata Sherly, membuatku ternganga. "Tenang aja Sher, kita udah sama sama nggak virgin kok", bisik Sherly sambil menusukkan satu jarinya pada liang memek ku serta menggerak gerakkan jari itu dgn lembut, namun seperti mengorek seluruh dinding memek ku.

"Nggghhh..", saya melenguh serta menggeliat, perasaanku sangat tersengat, baik oleh rangsangan fisik yg baru saja dilakukan Sherly dgn menusuk liang memek ku menggunakan jarinya, juga oleh perkataan Sherly tadi tentang keadaanku kemarin ketika saya tak berdaya di bawah keperkasaan pak Basyir, juga masalah kami berdua sudah sama sama sudah nggak virgin. serta saya jadi membayangkan bagaimana beruntungnya pak Basyir yg akan mendapatkan Sherly serta saya di malam nanti, yg entah kenapa membuatku makin bergairah.

saya balas menusuk liang memek Sherly dgn jariku, serta sesaat berikutnya bibir kami kembali saling berpagut. Puting toket kami saling menempel, serta perlahan kami menurunkan badan serta tiduran di lantai kamar mandi sambil terus bergumul. saya membiarkan Sherly berbuat sesuka hatinya padaku. Pagutan bibir kami terlepas, serta saya hanya bisa menggigit bibir serta menggeliat pelan menahan nikmat ketika Sherly mulai mencucup puting toket ku.

Rambutku basah oleh air yg membasahi lantai kamar mandi ini. Sherly memandangku dgn penuh nafsu sambil berbisik, "Kamu sexy abis El kalau rambutmu basah gini". Lalu dgn sangat bernafsu Sherly menciumi seluruh wajahku sementara kedua pergelangan tanganku yg sudah direntangkan lebar lebar ini dicengkeram erat oleh Sherly seolah olah dia sedang memperkosaku. Perasaan tak berdaya karena saya tak bisa menggerakkan kedua tanganku sementara ada Sherly yg terus mencumbuiku, membuatku dalam keadaan terangsang hebat.

"Sher…", keluhku. "Iya.. El..?", tanya Sherly dgn suara yg menggigil layaknya orang terbakar nafsu. "Masukin… Sher..", saya memohon. "Iya..", kata Sherly sambil memagut bibirku, serta tangan kanannya melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan kiriku, lalu Sherly mengarahkan tangannya ke selangkanganku. Awalnya Sherly mengaduk aduk liang memek ku hanya menggunakan satu jari, serta itu sudah cukup untuk membuatku terbeliak serta mengerang menahan nikmat. Kini satu lagi jari Sherly melesak masuk menguak liang memek ku, hingga tubuhku yg tertindih tubuh Sherly ini mengejang hebat.

"Aaaangghh..", saya mengerang ketika Sherly memainkan dua jari tangannya di dalam liang memek ku. saya merasa seolah olah liang memek ku sedang diserang dua kontol kecil, yg mengaduk aduk dinding liang memek ku kesana kemari, serta saya terus menggeliat keenakan. "Sheer… am..puuun…", saya orgasme dgn hebat, rasanya cairan cintaku keluar dgn sangat banyak. Sherly tiba tiba beranjak melepaskan tindihannya pada tubuhku, serta dia segera mencari liang memek ku.

"Auuuughh.. Sheeer… aaaahhh… nggghhhh", saya melenguh sejadi jadinya ketika Sherly mencucup bibir memek ku, dia menyedot semua cairan cintaku. Sedangkan tubuhku terus mengejang serta menggeliat sampai akhirnya melemas. saya benar benar kelelahan, kini saya sudah tak berdaya, nafasku tinggal satu satu. "Sher… udah dulu.. nggak kuat Sher..", saya memohon. "Mmmm…", guman Sherly, tapi sepertinya dia mengabulkan permohonanku, serta berbaring di sampingku sambil memelukku.

"El.. kapan kapan kamu ke kosku.. nginap yah… kita lanjutin sampai puas…", kata Sherly. saya hanya mengangguk pasrah sambil beringsut, saya meletakkan kepalaku di atas toket nya Sherly, menikmati keempukannya. Sherly membelai rambutku, serta saya terbuai dalam kenikmatan ini, rasanya saya ingin sekali tidur dalam keadaan seperti ini. Gesekan antara pipiku serta puting toket Sherly membuat gairahku bangkit, saya mencium serta mencucup puting toket nya Sherly walau dgn agak canggung.

Sherly menggeliat serta mengeluh, "Auuw.. El.. kamu nakal…". saya tersenyum geli serta terus mencucup puting toket itu sepuasnya. Kini ganti Sherly yg terus menggeliat seperti cacing kepanasan. "Ngghhh.. aduh Eel..", keluh Sherly. saya tak perduli, tenagaku sudah mulai kembali serta kini saatnya saya yg bersenang senang. Perlahan kumasukkan jari telunjukku dari tanganku yg kanan ke dalam liang memek Sherly sambil menatap wajahnya untuk melihat reaksinya.

Sherly menatapku sayu serta penuh penyerahan, membuatku sedikit merasa canggung serta jantungku berdegup kencang. saya belum terlalu terbiasa dgn semua ini, dimana saya sampai seintim ini dgn sesame wanita. Jariku benar benar terbenam dalam liang memek seorang wanita, serta kurasakan denyutan yg begitu sexy, saya membayangkan bagaimana perasaan para laki laki yg pernah membenamkan kontol mereka pada liang memek ku. dia mengejang perlahan selama jari tanganku terus melesak ke dalam liang memek nya yg terasa begitu hangat serta basah oleh cairan cintanya.

Perlahan, jari tengahku kulesakkan ke dalam liang memek Sherly, membuat dia terbeliak menahan nikmat selama proses tenggelamnya jariku yg kedua ini ke dalam liang memek nya. "El… aduuuuh…", keluh Sherly, tubuhnya menggeliat kaku, sementara tangan kirinya mencoba menyingkirkan tanganku yg sedang mengantarnya menunju kenikmatan, serta tak berhasil sama sekali karena tenaga Sherly sudah tidak ada, tubuhnya sudah di luar kuasanya sendiri.

saya mengerti sekali keadaan Sherly, sekarang ini dia dalam situasi yg sama seperti saya jika liang memek ku sedang diaduk aduk hingga saya kehilangan semua tenaga untuk meronta, hanya bisa menggeliat mengikuti adukan pada liang memek ku.. Tangan kanan Sherly tak bisa terlalu dia gerakkan karena tertindih badanku. serta tangan kiri Sherly terlalu lemah untuk menyingkirkan tanganku. saya sudah berkuasa atas tubuh Sherly sepenuhnya, kini tinggal saya ingin memaksanya segera orgasme atau tidak. Tapi saya malah ingin mencoba untuk mempermainkan nafsu birahi Sherly.

saya mempercepat adukan jariku pada liang memek Sherly, serta ketika kurasakan Sherly hampir orgasme, saya cepat menghentikan adukan jariku. "Ngghh.. Eel.. kamu jahat..", keluh Sherly manja. saya menciumi wajahnya seperti yg dilakukan Sherly tadi padaku, kemudian liang memek nya kembali kuaduk aduk dgn cepat. Saat Sherly hampir orgasme, lagi lagi saya menghentikan adukan jariku. "Eeel.. ayo dooong.. kamu tega ya…", keluh Sherly dgn memelas, membuatku tak tahan lagi serta ingin segera melihat temanku ini orgasme dgn hebat.

saya mempercepat adukan jariku hingga Sherly orgasme. "Ngggh… Elizaaa… aaauh…", Sherly melenguh sambil memelukku saat dia dalam keadaan orgasme hingga saya merasakan sentakan tubuhnya, rasanya jariku seperti diremas di dalam liang memek nya. Kukeluarkan jariku serta kujilat di depan Sherly dgn pandangan menggoda. Sherly terlalu lemas, dia hanya bisa tersenyum gemas padaku. Kini saya berniat membalas perbuatan Sherly yg terakhir.

"Aaaah…. ampun Eeeeel…", erang Sherly ketika saya mencucup bibir memek nya. Tubuh Sherly mengejang serta berkelojotan, tangannya berusaha mendorong kepalaku agar cucupanku terlepas, tapi Sherly terlalu lemah untuk melakukan itu. Akhirnya kurasakan Sherly melemas, dia pasrah saat saya menyedot habis cairan cintanya. serta rasa cairan cinta Sherly ternyata begitu nikmat, sesekali kulesakkan lidahku ke dalam liang memek Sherly untuk mendapatkan semua cairan cinta Sherly yg masih ada di dalamnya.

Sherly terus mengerang keenakan.Setelah puas, barulah saya melepaskan cucupanku, lalu membaringkan diriku di sebelah Sherly yg masih tersengal sengal. "Aduh… El.. kamu nakal juga ya…", kata Sherly di sela nafasnya yg memburu. saya tersenyum geli, mengingat perlakuan beberapa orang yg pernah menikmati tubuhku kuterapkan pada Sherly sekarang ini.

"Udah Sher, kita mandi beneran yuk. Nanti ketahuan yg lain lagi", saya mengajak Sherly untuk mengakhiri aksi lesbian kami ini. "Bentar ah.. saya masih capai tau!", omel Sherly manja. saya hanya tertawa geli, serta saya sudah bisa berdiri dgn benar, lalu saya mulai mandi di depan Sherly yg masih tiduran serta menatapku. Kusabuni seluruh tubuhku dgn gaya yg menggoda, sesekali toket ku serta memek ku kututupi dgn tangan, membuat Sherly memandangku dgn gemas.

"Awas kamu El…", Sherly berusaha berdiri serta saya menyiramnya dgn air dingin. "Aduh.. ampuun Eeel…", Sherly memohon mohon serta berusaha menghindar, saya melihat tubuhnya menggigil kedinginan. saya tertawa senang serta mendekatinya, lalu menyabuni seluruh tubuhnya dgn lembut. Sherly memandangku dgn mesra, dia menyandarkan kepalanya di pundak kiriku. "Thanks ya El", bisiknya. saya tersenyum serta mencium pipinya, serta ketika saya memeluknya dgn perasaan sayang, Sherly tiba tiba menangis terisak perlahan.

"Sher.. kamu kenapa?", tanyaku cemas. "Nggak apa apa El, saya cuma senang serta terharu, kamu baik sekali sama saya. saya sudah takut kamu akan memandang rendah saya setelah kamu tahu kelainanku serta juga setelah apa yg sudah kulakukan padamu, tapi.. kamu..", Sherly tak meneruskan kata katanya, dia memelukku dgn erat sambil menangis. saya terharu juga hingga menitikkan air mata. "Sher…", gumanku serta saya balas memeluknya.

Tak ada lagi nafsu birahi yg melandaku untuk saat ini. saya menenangkan Sherly yg menangis makin mengguguk. Setelah Sherly mulai tenang, kami melanjutkan mandi ini, serta setelah saling mengeringkan tubuh kami serta berganti baju, kami keluar dari kamar mandi sambil bergandengan tangan. Ternyata Jenny serta yg lain tak ada yg menyadari kedatanganku serta Sherly. Mereka masih di dalam kamar seberang entah asyik menggosip apa. saya melihat jam, kini sudah jam lima sore.

saya mengetuk pintu serta berseru, "Halooo, kita makan malamnya apa niih?". Terdengar jeritan senang dari dalam, "Kalian udah kembali yaaa…". serta beberapa saat kemudian Jenny sudah keluar dari kamar lalu berkata, "El, sesuai rencana kita waktu di kelas, kita adain barbeque yuk nanti malam, nanti kan malam terakhir di sini…".

Sherly segera bersorak senang, "Iya ya.. asyik juga tuh!". Rini berkata. "Udah kalo gitu kita beli bakso serta sate seperti kemarin aja deh. El, minta tolong penjaga vilamu untuk cegatin bakso serta sate sekarang dong!". saya mengangguk serta memanggil pak Basyir. "Pak Basyiiir…", saya berseru ke arah kamarnya, kamar yg menjadi saksi perbuatan mesumku dgn penjaga vilaku ini. Tak lama kemudian dgn tergopoh gopoh pak Basyir datang ke ruangan ini, serta bertanya, "Ada apa non Liza?".

"Tolong pak, kalau ada tukang sate serta tukang bakso, cegatin satu serta minta untuk masuk ke sini yah. Nanti bapak juga saya belikan kalau bapak mau", kataku yg segera disambut dgn senang oleh pak Basyir, "Baik non Liza, terima kasih". dia segera keluar, serta tepat setelah keempat temanku selesai mandi, pak Basyir sudah kembali ditemani seorang tukang sate serta seorang tukang bakso. Kami segera menyerbu serta makan secukupnya, tak lupa saya menyuruh pak Basyir memesan sesuka hatinya.

Setelah selesai, saya memberikan sejumlah uang lebih pada pak Basyir serta berkata, "Pak, ini tolong bayarkan, sisanya bapak simpan aja". Pak Basyir menerima uang itu serta mengucap terima kasih, lalu kami istirahat sebentar sambil mengobrol ke sana kemari. Tiba tiba kami melihat Cie Liana diantar pak Basyir masuk ke ruangan tengah ini. "Hai..", sapa Cie Liana.

"Hai juga Cie…", kami semua menyapa Cie Liana, yg kali ini berpenampilan santai, dgn rambut yg tergerai . "Eliza, ini tempat pudding tadi, udah Cie Cie cuci bersih kok", kata Cie Liana. "Aduh Cie, ngapain repot repot? Mestinya biarin aja.. gimana Cie, enak nggak puddingnya tadi?", tanyaku pada Cie Liana. "Aduh, enak lho. Kamu harus ajarin Cie Cie, Eliza! Nanti kalau ke kantor papamu, jangan lupa ajarin Cie Cie ya", kata Cie Liana samil tersenyum manis. "Aduh, Eliza bukan yg ahli gitu Cie, ini juga bikinnya bersama teman teman semua kok", kataku sambil tertawa senang.

Kami terlibat obrolan yg tak ada habisnya sampai jam delapan malam, serta sudah tiba saatnya kami menggelar barbeque. "Cie, kita kita mau barbeque nih. Cie Liana ikutan ya?", tanyaku. "Aduh, Cie Cie harus pulang sekarang nih, ntar kemalaman, besok dimarahin papamu kalo telat El", tolak Cie Liana. "Aduh.. sayang deh, biar saya yg bilang sama papa aja, supaya Cie Liana libur sehari", saya setengah merajuk. "Hei.. jangan El, hahaha kamu lucu deh. Lain kali aja El, Cie Cie pasti ikut ya", kata Cie Liana.

Maka saya serta yg lain mengantar Cie Liana keluar ke mobilnya yg sudah diparkir di halaman vilaku. saya sempat melihat pak Basyir sedang bercakap cakap dgn sopirnya Cie Liana, serta saya sempat melihat mereka tertawa tawa sambil memandangi Cie Liana. saya kesal sekali melihat sopirnya Cie Liana itu, pasti dia sedang bercerita tentang perbuatannya di atas sana saat menggagahi Cie Liana. Ingin sekali saya menampar sopir yg kurang ajar ini, tapi saya tahu saya harus menahan diri.

"Pak Sardi, ayo antar saya pulang sekarang", kata Cie Liana pada sopirnya yg masih tertawa tawa dgn pak Basyir itu. "Baik bu Liana", kata pak Sardi itu serta dia segera duduk di belakang setir mobil Cie Liana. "Ya udah, Cie Cie pamit dulu ya", kata Cie Liana yg masuk ke dalam mobilnya. Cie Liana duduk di belakang serta melambaikan tangan ke arah kami, serta kami balas melambaikan tangan pada Cie Liana, lalu mobil itu melaju keluar dari halaman vilaku.

"Ya udah, kita mulai barbeque sekarang?", tanyaku. "Iya, masa tahun depan?", goda Jenny, serta kami semua tertawa. Sesaat kemudian saya dibantu oleh mereka semua, mengeluarkan semua perlengkapan yg biasa digunakan keluargaku kalau mengadakan barbeque ke halaman belakang. Celoteh riang serta canda tawa mengiringi acara barbeque kami ini, serta kami memanggang berbagai macam bahan barbeque sesuka hati mulai daging sampai marshmallow.

Lama juga kami mengadakan barbeque ini, serta saya sempat melihat pak Basyir memperhatikan saya, Jenny serta Sherly. Pak Basyir pasti tak tahu betapa beruntungnya dia nanti, Sherly akan menyerahkan diri padanya. saya sempat teringat tadi dia entah berbicara apa dgn pak Sardi. Panas juga saya mengingat mereka berdua tertawa tawa seperti itu. Tapi saya tak boleh larut dalam emosi ini, sekarang ini waktunya bersenang senang.

Maka saya mencoba tak memikirkan hal itu, serta acara ini kami lanjutkan sampai kami semua puas sekali. "Aduh.. kenyangnyaa..", kata Bella dgn senyum puas. saya pun sudah merasa amat kenyang, serta teman temanku yg lain pasti tak jauh beda, karena semua sudah berhenti memanggang. Rasanya jadi mengantuk, serta kami menghentikan acara barbeque ini. "Udah ah, kita istirahat di dalam yuk, sambil nonton DVD terakhir", ajak Sherly mengakhiri malam terakhir liburan ini.

Kami semua masuk ke dalam, meninggalkan peralatan barbeque yg besok akan dibersihkan oleh pak Basyir. DVD itu dinyalakan setelah kami semua ada di ruang tengah. saya hanya menonton sambil lalu, serta ternyata itu adalah film komedi. Selagi teman temanku tertawa geli, saya yg memang tak begitu memperhatikan karena terlalu lelah serta mengantuk, serta akhirnya lagi lagi saya tertidur.

—ooOoo—

"El.. bangun El", saya mendengar suara yg saya tak yakin suara siapa. "Mmmm…?", saya membuka mata serta ternyata Jenny yg membangunkanku. "Ayo tidur di kamar dong.. kamu kecapaian ya kok ketiduran di sini lagi?", katanya lagi. "Iya..", jawabku dgn masih mengantuk, serta saya memaksakan diriku untuk bangun. Jenny membantuku berdiri lalu mengantarku ke kamar. Tanpa sengaja toket ku tertekan oleh tubuhnya Jenny serta mendatangkan rasa nikmat, tapi saya hanya diam saja, walaupun sebenarnya saya ingin memeluk Jenny untuk merasakan kehangatan darinya.

"Sherly mana Jen?", tanyaku ketika saya tak mendapati Sherly di kamarku. "Lagi di kamar mandi El", jawab Jenny. Lalu setelah saling pamitan untuk tidur, Jenny menuju kamar seberang serta saya merebahkan diriku ke ranjang. Bella sudah tidur, sedangkan Sherly entah kapan kembali. saya melihat jam, sudah jam 12 malam. Masih ada waktu satu jam lebih sebelum saya harus kembali menyerahkan diriku pada penjaga vilaku, serta saya memutuskan untuk bermain game di handphoneku sebentar setelah berganti baju tidur, sekalian menunggu Sherly kembali dari kamar mandi.

Setelah satu jam berlalu saya baru sadar, Sherly benar benar tak kembali. saya memutuskan untuk menyusulnya ke kamar pak Basyir. saya tahu tak mungkin Sherly berada di kamar mandi sampai selama ini. dgn perlahan saya turun dari ranjang supaya Bella tak terbangun, lalu saya membuka serta menutup pintu kamarku dgn nyaris tanpa suara. Lalu saya segera keluar serta melihat pintu kamar mandi yg terbuka, saya segera menuju ke kamar pak Basyir dgn perasaan tak karuan, membayangkan Sherly sedang melayani penjaga vilaku.

Sempat saya menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada yg melihatku, serta kini saya sudah berada di pintu kamar pak Basyir. "Ngghh… aaduuh paaak…", kudengar erangan Sherly. Entah mereka sudah memulai sejak kapan, yg jelas kini rasanya Sherly sedang orgasme. Jantungku berdegup kencang. saya memutuskan tak segera masuk, saya ingin mendengarkan sebentar apa yg terjadi selanjutnya, atau apa yg akan mereka bicarakan.

"Enak nggak non Sherly?", saya mendengar ejekan pak Baysir. "Iya.. pak..", jawab Sherly dgn lemah. Nafas mereka berdua tersengal sengal hingga terdengar ke sini. "Pantas Eliza kemarin sampai nggak kuat nggak kuat serta minta ampun..", sambung Sherly ketika nafasnya sudah mulai teratur, membuat wajahku terasa panas. Pak Basyir hanya tertawa. "Tapi pak Basyir curang, pakai obat kuat sih", protes Sherly.

"Lho non Sherly, bapak kan udah tua, kalau mau begini, ya harus pakai obat kuat dong. Kalau bapak nggak pakai, nggak sampai lama bapak sudah keluar. Lalu loyo dong, serta non Sherly pasti nggak bisa puas seperti barusan", kata pak Basyir menanggapi protesnya Sherly. "Eeeh… Auuww…", keluh Sherly, mungkin pak Basyir sudah mulai mencumbui atau menyetubuhinya lagi. saya memutuskan untuk masuk serta tanpa mengetuk pintu, toh mereka sudah tahu saya akan datang.

"Auuww… oh… Eliza", Sherly menyapaku di sela keluhannya. Sherly memandangku dgn sayu di bawah tindihan pak Basyir, tangannya menggapai seolah hendak meraihku selagi tubuhnya tersentak sentak ketika kontol pak Basyir menghunjam dgn kuat ke dalam liang memek nya. Tubuh Sherly mengkilap basah oleh keringat, hingga terlihat makin sexy serta menggairahkan, apalagi tangan satunya meremas sprei kuat kuat, membuat saya mulai terbakar nafsuku sendiri.

"Ngghh.. aduh paaak…", Sherly melenguh tak kuasa menahan nikmat ketika pak Basyir mempercepat entot annya. Kurasakan liang memek ku mulai basah, mau tak mau, saya terangsang juga melihat live show di depan mataku ini. Nafasku mulai tak teratur serta saya menatap mereka berdua dgn jantung berdegup. Tanpa sadar, setelah menutup pintu kamar pak Basyir ini, saya mendekati Sherly yg masih terus menggapaikan tangan kanannya ke arahku, entah apa saja yg ada di pikiranku saat ini.

saya menggenggam tangan itu dgn tangan kiriku, lalu entah siapa yg memulai, yg terjadi sekarang adalah saya serta Sherly saling berpagut dgn sangat bernafsu. saya merasakan pak Basyir membelai rambutku dari belakang, namun saya tak memperdulikannya. Kini saya hanya ingin mencumbui Sherly habis habisan seperti kemarin siang. Kedua toket Sherly kuremasi bergantian dgn tangan kananku. Sherly hanya bisa menggeliat lemah di bawah tindihanku serta memandangku dgn sayu.

Cukup lama saya mencumbui Sherly selagi liang memek nya terus dientot oleh pak Basyir. Rupanya rangsangan yg Sherly terima sudah di luar batas ketahanannya. "Mmmphh…", Sherly merintih serta saya menduga mungkin dia kehabisan nafas, maka saya melepaskan pagutanku pada bibir Sherly ini. serta Sherly langsung melenguh sejadi jadinya, "Aaanghhh.. ouhhh.. ngghhh…". Sherly menggeleng gelengkan kepalanya kuat kuat, matanya terpejam serta mulutnya ternganga, serta akhirnya dia mengalami orgasme.

saya merasakan tubuhnya berkelojotan serta mengejang hebat sampai pinggangnya terangkat angkat, oh… pasti Sherly sexy sekali dalam keadaan seperti ini. Kini Sherly sudah ambruk tak berdaya, dia kelihatan sangat lemas serta lelah. saya memandangi wajah Sherly yg terlihat begitu menggairahkan saat ini, matanya setengah terpejam serta kedua bibirnya seperti pasrah namun menantang, hingga saya tak tahan lagi serta memagut bibir Sherly dgn sangat bernafsu.

saya baru melepaskan pagutanku setelah saya sendiri kehabisan nafas. Sherly sudah tak berdaya, dia diam saja serta tak bergerak sedikitpun, hanya dadanya yg naik turun mengikuti nafas Sherly yg memburu. "Oooh…", Sherly mengeluh lemah, serta saya menoleh ke Pak Basyir. Kulihat dia menarik kontol nya dari jepitan liang memek Sherly, serta kontol itu masih mengacung dgn gagah, dgn cairan cinta Sherly yg melumuri seluruh permukaan batang kontol itu.

Mukaku terasa panas ketika saya menyadari tadi saya memperhatikan kontol pak Basyir, yg membuat pak Basyir mendapat kesempatan untuk melecehkanku. "Non Liza, sudah kangen ya sama punya bapak ini?", tanya pak Basyir dgn senyumnya yg sangat merendahkanku, tapi perasaanku malah tersengat dihina seperti ini. saya mengalihkan pandanganku ke Sherly, malu rasanya melihat pandangan pak Basyir yg seperti ingin menelanjangiku.

"El..", guman Sherly lemah. "Iya Sher?", tanyaku pada temanku yg kini tergolek lemas di ranjang pak Basyir ini. "Buka baju dong… sekarang… saya jadi milikmu… kamu boleh lakuin… apa aja…", kata Sherly sambil memejamkan matanya. Kini perasaanku benar benar tersengat, saya sudah dikuasai oleh nafsuku sepenuhnya, serta perlahan saya menanggalkan baju tidurku, berikut bra serta celana dalamku. Lalu saya naik ke atas tubuh Sherly serta menindihnya, hingga kedua puting toket kami bersentuhan.

Rambutku yg tergerai jatuh menyentuh kedua pipi Sherly, serta Sherly dgn lembut mencium rambutku. Ketika saya sedang memandangi wajah Sherly yg cantik ini, tiba tiba Sherly melingkarkan kakinya ke pinggangku, serta kurasakan bibir memek Sherly menyentuh daerah bawah perutku. Belum cukup dgn itu, tiba tiba Sherly memelukku erat serta memagut bibirku, serta saya hanya bisa pasrah menyerahkan diriku pada temanku ini.

saya memejamkan mata menikmati perlakuan Sherly ini, walaupun sekarang saya tak bisa bergerak ketika kedua pahaku sudah dilebarkan oleh pak Basyir yg sudah berlutut di belakangku. serta sesaat kemudian tubuhku menggeliat ketika liang memek ku harus menelan kontol pak Basyir. "Ooohh…", saya merintih perlahan serta membuka mataku, serta kulihat Sherly tersenyum mesra padaku. Pak Basyir diam sebentar, membiarkan kontol nya terbenam di dalam liang memek ku.

"Non Liza, bukan bapak yg memaksa non Sherly, tapi tadi non Sherly sendiri lho yg masuk ke kamar bapak ini. Bapak tidak pernah bilang apa apa lho non Liza", kata pak Basyir. "Iya pak.. Liza tahu", kataku pelan sambil menyingkap sebagian rambutku yg jatuh terurai hingga menutupi wajah Sherly. Sherly menatapku dgn mesra, serta saya kembali menurunkan kepalaku, lalu saya mulai menciumi Sherly dgn mesra, serta Sherly menerima semua itu dgn penuh penyerahan.

"El.. pak Basyir iri tuh", kata Sherly sambil melihat ke arah pak Basyir. "Biar aja Sher.. nggghhh…", saya melenguh sampai badanku tertekuk ke atas ketika pak Basyir mulai memompa liang memek ku. Sherly tertawa geli, pasti karena dia melihat ekspresi kenikmatan yg tergambar jelas di wajahku. "Sheer.. nggghhh… jangan ketawa dong…", keluhku, saya malu sekali. "Iya sayang…", kata Sherly sambil meremas kedua toket ku dgn lembut, membuatku merasakan sensasi yg luar biasa kali ini.

"Pak, enak mana, Sherly dibanding Eliza?", pertanyaan Sherly benar benar membuatku malu, namun saya jadi ingin tahu apa jawaban penjaga vilaku ini. "Kalian berdua, sama sama enaak… Bapak mau kok punya istri seperti kalian berdua..", jawab pak Basyir, yg segera ditanggapi Sherly. "Huu.. enaknya.. bapak umur berapa mau memperistri Eliza serta saya? Jangan mimpi ah!", kata Sherly sambil mencibir. saya hanya bisa tertegun melihat Sherly bisa sesantai ini.

"Sini sayang", kata Sherly sambil menarikku ke dalam dekapannya. saya hanya pasrah merasakan gelombang kenikmatan yg menghantamku dgn bertubi tubi ini. Liang memek ku rasanya seakan mau meledak saja karena dipompa pak Basyir habis habisan, sedangkan kedua toket ku tertekan oleh kedua toket Sherly hingga memberikan rasa nikmat yg luar biasa saat puting puting toket kami bergesekan. serta untuk menambah derita kenikmatan ini, Sherly memagut bibirku dgn ganas.

"Mmmpphh… mmm…", saya merintih tak jelas saat tubuhku mulai berkelojotan, serta Sherly rupanya tahu kalau saya akan segera orgasme, maka dia melepaskan pagutannya pada bibirku. "Oooohh… nggghhhh… aduuuuuh….", saya melenguh sejadi jadinya, kurasakan cairan cintaku membanjir tak karuan di bawah sana. Tubuhku mengejang hebat, lalu melemas menindih Sherly. "Auuw…", saya hanya bisa mengeluh lemah ketika pak Basyir mencabut kontol nya yg masih amat keras itu.

Kurasakan tubuhku didorong oleh pak Basyir hingga toket ku ada di atas wajah Sherly. saya harus menopang tubuhku dgn kedua tanganku kalau tak ingin wajah Sherly terbenam dalam belahan dadaku sampai kehabisan nafas. Celakanya, Sherly memanfaatkan kesempatan ini untuk mencucup puting toket ku, hingga saya yg sudah tak bisa kemana mana hanya bisa menggeliat menahan nikmat, apalagi tak lama kemudian kurasakan satu lagi jari tangan pak Basyir melesak masuk ke dalam liang memek ku, membuat saya makin tenggelam dalam kenikmatan.

"Ngghhh.. nggghhh…", saya serta Sherly melenguh bersahut sahutan. saya agak heran mengapa Sherly ikut melenguh, serta ketika saya bisa menguasai diri, saya melihat Sherly yg ada di bawahku tersentak sentak, rupanya pak Basyir kini sedang memompa memek Sherly. "Aduuuh…", keluh Sherly ketika pak Basyir mempercepat entot annya, sedangkan saya menggigit bibir menahan nikmat ketika kurasakan adukan jari tangan pak Basyir bertambah cepat, apalagi Sherly yg sedang sibuk menggeliat di bawahku dgn nakalnya beberapa kali mencucup puting toket ku.

Beberapa lama saya serta Sherly dipermainkan oleh pak Basyir. saya serta Sherly mulai menggeliat tak karuan serta nafas kami sudah tak beraturan. Tubuhku rasanya mengejang serta lagi lagi memek ku serasa akan meledak. "Ngghh… aaah…", saya melenguh sejadi jadinya saat saya harus kembali orgasme. serta penderitaanku tak segera berakhir, karena tubuhku bergetar hebat ketika pak Basyir terus mengaduk aduk liang memek ku dgn jarinya. Beberapa detik kemudian baru saya merasa sedikit lega setelah pak Basyir menarik lepas jarinya dari jepitan liang memek ku.

"Eeel… kesinikan dong…", kata Sherly sambil memegang pantatku serta menarik tubuhku ke arah atas badannya, hingga memek ku yg masih berlumuran cairan cintaku yg baru membanjir ini kini tersaji di depan wajahnya. saya tahu apa yg akan Sherly lakukan, serta saya mulai panik, "Sher.. jangan…. Aaduuuuh… nggghhh… amppuuun Sheeer….", saya melenguh tak karuan serta tubuhku menggeliat tak tentu arah, rasanya seluruh cairan cintaku tersedot habis oleh Sherly yg mencucup bibir memek ku dgn sangat bernafsu.

Beberapa saat lamanya saya harus berpegangan pada tembok kamar pak Basyir, serta akhirnya saya ambruk ke samping dgn nafas tersengal sengal, rasanya lemas sekali. Selagi saya masih harus mengatur nafasku, tiba tiba kudengar Sherly melenguh, "Ngghh… aduuuh…". Kulihat Sherly sedang menggeliat serta mengejang, rupanya Sherly sudah tak tahan ketika pak Basyir makin mempercepat entot annya. "Aduh El… saya… nggak kuat… lagii..", erang Sherly sambil menggeleng gelengkan kepalanya kuat kuat serta kedua tangannya meremas sprei dgn kuat.

serta kini kudengar pak Basyir mulai menggeram, serta Sherly sendiri sudah melemas. "Ooooohhhh..", pak Basyir mengerang panjang, rupanya pak Basyir orgasme juga akhirnya setelah sekian lama menggagahi kami berdua. Pak Basyir tak menarik lepas kontol nya, malah dari gerakannya pak Baysir membenamkan kontol nya kuat kuat ke dalam liang memek Sherly yg sudah tergeletak tanpa daya di ranjang penjaga vilaku ini, serta saya yakin Sherly sudah rutin minum obat anti hamil sepertiku karena dia tak panik sama sekali saat rahimnya dibasahi oleh sperma pak Basyir seperti sekarang ini.

Sesaat kemudian, pak Basyir sudah ambruk dgn nafas tersengal sengal. saya tak memperdulikan pak Basyir, kini saya memperhatikan Sherly, yg sorot matanya sudah meredup, terlihat sekali Sherly sudah kehabisan tenaga. saya beranjak menindih tubuh Sherly dgn lembut, serta saya mencium bibir Sherly yg ternganga sexy. Kemudian saya beranjak mundur supaya saya tidak berlama lama menindih tubuh Sherly serta memberinya kesempatan untuk bernafas.

Tapi ketika saya melihat bibir di memek Sherly terdapat ceceran sisa sperma pak Basyir, saya memandang Sherly dgn penuh nafsu. Sherly tak mampu bergerak, tapi dia kelihatannya tahu saya akan membalas perbuatannya tadi. "El… jangan… saya aangghhhh…", Sherly melenguh tanpa daya ketika saya mencucup bibir memek nya, serta dgn pelan kusedot semua cairan sperma pak Basyir yg bercampur cairan cinta Sherly sendiri.

"Udah Eeel… ampuuun…", erang Sherly lemah. Tapi saya terus menyedot semua cairan itu sampai habis. Sherly mengejang sampai pinggangnya terangkat, lalu dia roboh lemas ketika saya melepaskan cucupanku pada bibir memek nya. Kutelan semua cairan yg ada di mulutku, serta saya berbaring di sebelah Sherly serta memeluknya dgn lembut. "Auw… El… kamu nakal…", guman Sherly yg kini rambutnya kuciumi, wangi juga baunya, serta rasanya nyaman juga ketika pipiku bersentuhan dgn rambutnya Sherly ini.

"Sher… udahan yuk…", kataku pelan. "Iya El… tapi bentar ya… saya masih lemas nih…", jawab Sherly sambil mengangguk lemah. Keringat membasahi tubuh kami berdua, serta rasanya capai juga. Pak Basyir merangkak mendekati kami lalu membaringkan tubuhnya di antara saya serta Sherly. Kini penjaga vilaku ini pasti sedang sangat berbahagia, berbaring diapit dua bidadari cantik yg telanjang bulat, yg baru saja disetubuhinya. "Kalian tidur di sini saja sekarang, temani pak Basyir tidur ya", kata pak Basyir.

Sherly langsung beranjak duduk serta berkata, "Nggak mau, pak Basyir bau. Sherly bisa nggak tidur sampai pagi. Ayo El, kita masuk". saya ikut bangkit duduk serta mencari pakaian tidur serta pakaian dalamku yg tadi kugeletakkan di lantai. Selagi saya mengenakan semua pakaianku, saya mendengar kata kata pak Basyir, "Biar bau tapi tadi non Sherly sama non Liza puas kan?". Ingin rasanya saya mendamprat penjaga vilaku yg kurang ajar ini, tapi saya memutuskan untuk tak memperdulikannya.

Ketika saya selesai mengenakan semua pakaianku, ternyata Sherly juga sudah berpakaian, serta saya menggandeng tangan Sherly keluar dari kamar pak Basyir. "Non Liza, non Sherly, selamat tidur", kata pak Basyir. "Mmm…", saya malas menjawab serta Sherly hanya mengangguk. saya terus menggandeng Sherly yg langkahnya tak beraturan, kelihatannya Sherly memang amat kelelahan.

Di tengah halaman ketika kami sedang menuju ke ruang utama, Sherly berkata, "Aduh El… capai juga nih saya, kuat juga ya penjaga vilamu itu. Rasanya seperti mau copot saja semua tulang tulangku sekarang ini…". saya tertawa geli. "Habisnya, kamu sih, belum juga jam dua belas malam udah ke sana duluan, udah berapa ronde tuh sebelum saya datang?", godaku.

Sherly cemberut serta mencubit lenganku. "Iya Sheerr.. ampun…", saya mengaduh kesakitan. "Abisnya, saya pingin tahu, seperti apa rasanya kok kamu waktu itu sampai nggak kuat gitu kelihatannya", kata Sherly sambil melepaskan cubitannya, lalu dia mengusap lengan kiriku yg baru saja dicubitnya. Entah mengapa, rasa sakitnya langsung mereda, serta saya memandang Sherly sambil tersenyum.

"Ya sekarang kamu udah ngerasain sendiri kan? Tapi, itu cuma keperkasaan palsu sih, pak Basyir mampu seperti itu kan soalnya minum obat kuat", saya berkomentar panjang lebar. "Iya tuh… dia minum dua bungkus lagi. Ngomong ngomong, memangnya kamu pernah ngerasain yg asli El? Maksudku asli perkasa gitu?", tanya Sherly antusias, matanya bersinar sinar seperti anak kecil yg mengharapkan mainan baru.

saya mengangguk malu. "Di rumahku Sher, ada pembantuku yg namanya Wawan… tanpa obat pun dia bisa sampai satu jam lamanya mengerjai saya", kataku pelan, mukaku rasanya panas sekali waktu mengatakan hal ini, entah mengapa saya mengatakan semua itu begitu saja. Sherly tertawa geli serta menyandarkan kepalanya di bahu kiriku, serta kami tidak berbicara lagi sampai kami masuk ke dalam kamar. Kulihat Bella masih tidur dgn nyenyak, serta saya merasa lega.

Perlahan saya serta Sherly mengambil baju ganti, serta kami bersama sama ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami yg berkeringat ini. Tak ada niatan untuk berlesbi ria saat ini, kami berdua sama sama terlalu capai. saya serta Sherly hanya saling menyeka dgn lap yg dibasahi dgn air sabun, serta memang sesekali kami iseng berbuat nakal dgn saling meremas toket masing masing, serta kami sengaja saling mengaduk memek masing masing saat membersihkan bagian itu dgn cairan pembersih memek kami.

"Nggh… udah Sher…", keluhku sambil menarik lepas jariku dari liang memek Sherly. serta Sherly sendiri menggigit bibir sambil melepaskan jarinya dari jepitan liang memek ku. Setelah itu kami saling menghanduki tubuh kami berdua sampai kering, serta kemudian setelah selesai mengenakan pakaian serta menyimpan baju kotor kami dalam kantung plastik, saya serta Sherly saling pandang sambil tersenyum geli mengingat kegilaan kami berdua tadi.

"Yuk, kita tidur sayang", kata Sherly. saya mengangguk serta kami sempat berciuman dgn mesra sebelum masuk ke dalam kamar. Sherly masuk ke dalam selimut dgn perlahan serta dia berbaring di tengah. saya ikut masuk ke dalam selimut serta berbaring di sebelah Sherly. Kami saling berpandangan, kemudian saya memejamkan mataku serta memeluk Sherly yg juga memelukku. Sesekali kami saling meremas lembut pada toket kami, serta tak lama kemudian saya sudah tertidur pulas di dalam pelukan Sherly seperti kemarin.

—ooOoo—

"Heii.. kalian mau tidur sampai kapaan? Pakai peluk pelukan lagi, kalian ini pacaran ya?", saya terbangun mendengar suara Jenny yg sewot. "Aduh Jen.. kamu ngagetin aja.. masih ngantuk nih", kata Sherly yg juga terbangun, lalu dgn sengaja Sherly mendekapku di depan Jenny. saya serta Sherly melihat Jenny dgn pandangan seperti menggoda anak kecil, tapi Jenny balik menggoda kami, "Ya ampun… Eliza, Sherly, sadar dong… emang udah nggak ada cowok ya di dunia ini? Duh, bisa mati berdiri nih cowok cowok di sekolah kita kalau tau dua bidadari di sekolah mereka ini ternyata pasangan lesbian".

Kami semua tertawa geli, serta Sherly melepaskan saya dari dekapannya. saya melihat jam, ternyata sudah jam sepuluh pagi. "Eh, kita kesiangan amat nih Sher", kataku yg dijawab Sherly dgn senyuman penuh arti. "Ayo nih, cepat sikat gigi sana, yg lain udah nungguin kalian makan pagi nih!", kata Jenny sambil keluar dari kamar. Duh, tak enak juga nih, maka saya serta Sherly cepat cepat ke belakang serta sikat gigi, lalu kami kembali ke ruang tengah serta duduk di meja makan bersama Jenny serta yg lainnya.

"Kalian ini… kalau nggak dibangunkan Jenny, bisa bisa kita semua yg di sini tadi mati kelaparan nungguin kalian bangun", gerutu Bella sambil menggeleng gelengkan kepala dgn gaya yg lucu. "Iya nih, sori ya", kataku. "Abisnya kamu sih Bel, gordennya nggak kamu buka, kan gelap gelap di kamar, jadi enak aja tidurnya gitu", Sherly membela diri. "Udah gitu pakai dekap dekapan lagi", Jenny menyambung dgn nada prihatin, membuat kami semua tertawa geli.

Sambil makan, seperti biasa di meja makan kami berceloteh tentang apa saja. Setelah selesai makan serta membawa semua peralatan makan yg kotor ke dapur, kami bersantai sejenak di ruang tengah. "Sekarang di sekolah pasti sedang ramai nih…", kata Rini. "Tapi lebih asyik di sini kali", kata Sianny. saya teringat, untuk hari ini, saya harus membayar dgn penawaran yg terbaik dariku, yaitu menyerahkan tubuhku pada wali kelasku yg bejat itu, serta juga satpam sekolahku yg memiliki kontol raksasa itu.

"El, kamu kenapa?", tanya Jenny. "Nggak, nggak apa apa kok Jen. Yuk, kita beres beres, siang ini kita pulang kan", saya mengalihkan pembicaraan. Mereka semua setuju, serta kami segera membereskan barang bawaan kami. "saya buka bagasi mobil dulu El, jadi Siany serta Bella bisa naruh barang barang mereka dulu sekarang, saya mau mandi dulu nih", kata Sherly. "Iya Sher, saya juga ikut", kataku. "Liat deh, mesra amat kalian ini, sampai yg satu buka bagasi mobil, yg satunya nggak mau lepas", goda Jenny.

"Ya ampun Jen, saya kan…", saya tak meneruskan kata kataku ketika Jenny serta yg lainnya tertawa geli. "Udah ah, kalian ini ada ada saja kok… saya buka bagasi mobilku dulu", saya menggerutu serta mengikuti Sherly keluar. Sempat kudengar Rini serta Sianny menimpali, "Hayo, mau membuka bagasi mobil, atau mencari Sherly?". saya hanya bisa menahan senyum, mukaku rasanya panas. Sampai di mobil saya agak merajuk pada Sherly yg sedang membuka bagasi mobilnya, "Sher, liat tuh, mereka…". Sherly hanya tertawa pelan serta berkata, "Biarin lah sayang, mereka sirik kali".

saya hanya bisa diam sambil tersenyum jengah. "Udah El, saya mandi dulu ya, atau kamu yg mau mandi dulu?", tanya Sherly. "Nggak, kamu dulu aja Sher", jawabku, serta saya membiarkan Sherly masuk ke dalam dulu, beberapa saat kemudian setelah saya baru saya menyusul masuk ke dalam, untungnya teman temanku sudah ada di dalam kamar, mungkin sedang memeriksa apa ada yg ketinggalan. saya masuk ke dalam kamar serta melihat Bella yg melihatku sambil menahan tawa.

saya hanya bisa tersenyum malu, serta saya mengambil satu set baju yg akan kupakai nanti setelah mandi nanti. "Bel, kalau kamu mau naruh barang barang duluan, bagasi mobil udah saya buka kok", kataku. "Iya El, thanks ya", kata Bella. saya diam sebentar, lalu saya keluar menuju ke kamar mandi dgn maksud menunggu Sherly selesai mandi. Ternyata kamar mandi sudah kosong, maka saya masuk saja serta mandi keramas sepuasnya.

Setelah mengeringkan rambut serta tubuhku, saya mulai mengenakan bra serta celana dalamku.Saat saya sedang mengenakan celana dalamku, saya teringat dulu saat saya memutuskan tak mengenakan celana dalam, karena saya memang memberikan kesempatan pada pak Basyir untuk menikmati liang memek ku sebelum pulang. saya tersenyum malu sendiri, serta saya terus mengenakan celana dalamku lalu kaos santai serta hot pants.

Lalu saya keluar dari kamar mandi serta baru sekarang saya memperhatikan kalau di lantai luar kamar mandi ini ada sisa air di jejak sandal, yg mengarah ke gudang di ujung lorong yg menuju ke halaman depan. saya sedikit tercekat, serta jantungku berdegup kencang memikirkan kemungkinan ini adalah jejak sandal Sherly. Ceroboh sekali Sherly ini, bagaimana kalau sampai ada teman lain yg melihat? saya mengambil segayung air serta menyiramkan ke arah jejak sandal itu untuk menyamarkan semuanya.

Lalu saya melihat ke dalam untuk memastikan tak ada temanku yg berada di ruang tengah, serta saya berjalan perlahan ke arah gudang itu. Ketika sudah dekat, sayup sayup kudengar desahan Sherly. Kubuka perlahan pintu gudang ini, serta saya tak terlalu terkejut melihat Sherly sedang disetubuhi oleh pak Basyir. Tapi saya agak panik karena mungkin saja ada temanku yg ke dekat sini serta tertarik mendengar suara suara dari dalam gudang ini.

"Sher… kamu gila yah? Nanti kalau ketahuan teman teman gimana?", tanyaku dgn suara pelan. "Biar aja El… habis enak sih…", kata Sherly di antara desahannya. Sherly terbaring pasrah di atas meja dgn baju lengkap dgn rok yg terangkat sampai ke pinggang. Entah Sherly mengenakan bra atau tidak, tapi yg jelas Sherly tak mengenakan celana dalam. saya cuma bisa menggeleng gelengkan kepala melihat kegilaan temanku ini.

serta saya melihat tubuh Sherly tersentak sentak ketika pak Basyir yg memeluk kedua paha Sherly itu memompa selangkangan temanku ini. "Kamu… nggak ikutan… El…?", tanya Sherly terputus putus sambil melihatku dgn pandangan mata yg sayu. saya menggigit bibir menahan gejolak nafsuku sendiri, lalu saya menggeleng mantap serta memutuskan meninggalkan mereka. "Nggak Sher, saya lebih baik menjaga supaya kalian nggak ketahuan teman teman", kataku sambil menutup pintu gudang ini.

Kutambah lagi siraman satu gayung air penuh pada lantai di sekitar kamar mandi ini, serta saya masuk ke dalam kamarku. saya tak melihat Bella, serta tasnya juga sudah tidak ada, kelihatannya Bella sudah menaruh tasnya di dalam bagasi mobil Sherly. Lalu saya keluar dari kamar serta bertemu Bella, serta saya mengajaknya masuk ke kamar Jenny.

"Bel, ayo ke kamar Jenny, mereka kelihatannya lagi asyik tuh", kataku sambil menggandeng tangan Bella yg menurut saja ketika saya membawanya masuk ke kamar Jenny. Ternyata Jenny, Rinny serta Siany sedang main ular tangga, maka saya serta Bella ikut menonton. Tak lama kemudian, Jenny bersorak senang setelah mencapai finish duluan, sedangkan Rini menggerutu, "Nih anak…". Siany menimpali, "Iya nih, beruntung melulu". Jenny tertawa geli, lalu duduk di sampingku sambil merangkulku.

"Kekasihmu mana El?", tanya Jenny padaku. Reflek saya menjawab, "Tadi saya sempat ketemu Sherly sebelum mandi, katanya dia mau ke atas bentar, ketemu temannya di hotel Surya…". Meledak tawa teman temanku, serta saya langsung tersadar. "Jeeeen… kamu ini", saya langsung mencubit Jenny sampai dia memohon mohon, "Aduh Eel… ampun…".

saya melepaskan cubitanku, serta wajahku rasanya panas sekali. Tapi saya sebenarnya memang tak bisa membantah dgn tegas, karena kenyataanya memang sekarang ini saya serta Sherly sudah seperti sepasang kekasih saja. "Jen… awas ya kalau kamu bilang gitu lagi", saya mengomel dgn cemberut. Jenny merangkulku dgn lembut serta berkata, "Iya deh El, ayo kita main ular tangga".

saya mengangguk serta ikut bermain, demikian juga Bella. Kebetulan, dgn begini saya bisa menjauhkan mereka semua dari Sherly yg kini sedang asyik bersama penjaga vilaku. Kami semua bermain dalam suasana yg riang serta saling menggoda kalau ada yg harus turun mengikuti ular. Ternyata lagi lagi Jenny yg menang, serta Jenny tertawa senang sambil menggoda kami semua hingga akhirnya kami semua seperti sepakat kalau Jenny harus menerima hukuman.

"Hih.. ini anak. Yuk, kita kasih hukuman", ajak Rini. Kami semua setuju serta menangkap Jenny serta menggelitik pinggangnya. "Iya… ampuuuun… hahahahaha.. aduuuuhhh… saya hahahahaha… nggak akan… hahahahaha", Jenny memohon mohon ampun serta matanya sampai berair karena tertawa kegelian. saya nggak tega juga serta setelah saya berhenti menyerang Jenny, teman temanku juga menghentikan serangan mereka.

"Kalian jahat… hahahaha…", Jenny mengomel serta tertawa karena masih merasakan geli pada pinggangnya, hingga mau tak mau kami juga tertawa. "Udah ah, tinggal saya yg belum menaikkan tasku ke mobil", kata Jenny sambil menyimpan set permainan ular tangga miliknya ke dalam tasnya. "saya mau naruh tasku ke bagasi mobil El", kata Jenny. "Bentar, saya ke kamar mandi dulu, nanti saya bantuin kamu bawa tasmu yg satunya Jen", kataku. Jenny tersenyum manis padaku serta berkata, "Makasih ya El, kamu memang baik deh".

saya tersenyum padanya lalu meninggalkan mereka semua ke belakang, cepat cepat saya ke gudang serta membuka pintu. saya melihat mereka sedang dalam posisi dogie di lantai serta pakaian Sherly sudah lebih terbuka sehingga toket nya tersembul keluar serta tentu saja kedua toket nya itu tak mungkin menganggur begitu saja. Pak Basyir meremasi kedua toket itu serta saya bisa melihat remasan itu begitu keras, sehingga Sherly menggeliat serta mulutnya ternganga menahan sakit. Gilanya, dia tak memperdulikan kedatanganku ataupun pintu gudang yg sedang kubuka ini

"Sher, kamu gila yah? Cepetan nih, kita kita udah mau pulang!", seruku sambil melihat ke arah ruang tengah dgn kuatir. Sesaat kemudian, pak Basyir mulai menggeram, serta kulihat tubuh pak Basyir bergetar ketika dia menghunjamkan kontol nya ke selangkangan Sherly dgn kuat. Sherly memandangku sambil tersenyum serta menjawab, "Iya El, ini penjaga vilamu baru keluar". sedangkan pak Basyir yg baru saja menarik kontol nya langsung ambruk dgn nafas tersengal sengal.

"Selamat tinggal… non Sherly… serta non Liza… sampai kita ketemu lagi ya", kata pak Basyir. saya malas menjawab serta hanya diam saja. Sherly beranjak bangun dgn lemas, ujung roknya yg ada di pinggang jatuh ke bawah menutupi setengah pahanya. "Sampai ketemu lagi pak Basyir", kata Sherly sambil melangkah ke arahku, serta kami meninggalkan gudang ini. "Sher, kamu ke kamar mandi dulu deh, awut awutan tuh, nanti ditanyain teman teman nih", kataku perlahan sambil membelai rambut Sherly yg agak kusut. "Iya El, bentar ya", kata Sherly sambil masuk ke kamar mandi

saya teringat hal yg sangat penting, serta saya menghentikan Sherly sebentar lalu berbisik, "Sher, nanti kalau teman teman tanya, kamu bilang abis dari hotel Surya nemuin teman ya. Tadi teman teman cari kamu soalnya". Sherly mengangguk serta memelukku, "Thanks ya El". Lalu Sherly masuk ke kamar mandi sesuai saranku untuk merapikan penampiannya. saya sendiri harus menekan gairahku karena saya tahu Sherly tidak mengenakan celana dalam, saya berusaha tidak memikirkannya.

saya kembali ke dalam kamar dgn lega. "Yuk, kita keluar, Sherly udah datang tuh, lagi di kamar mandi", kataku sambil membawa salah satu tas Jenny. "Iya El", kata Jenny sambil membawa tasnya yg satunya, lalu kami semua keluar ke arah mobilku. Setelah kedua tas Jenny sudah ada di dalam bagasi, saya berkata, "Tinggal tasku nih, bentar ya saya ambil dulu".

saya melangkah masuk ke dalam kamarku serta menemukan Sherly yg ada di dalam. Kami berpandangan sejenak sambil tersenyum penuh arti, lalu bersama sama saya serta Sherly keluar membawa tas kami masing masing, serta saya mengunci pintu utama dari vilaku. "Sher, kamu kok keringatan gitu?", tanya Siany. "Iya nih, tadi abis lari dari hotel Surya sana, capek juga nih", kata Sherly.

saya tersenyum geli, untung saja saya sudah memberi tahu Sherly. Maka setelah semua tas ada di dalam bagasi, serta tentu saja setelah semua peserta liburan ini sudah ada di dalam mobil dgn susunan separti pada waktu kami berangkat, saya serta Sherly segera menyalakan mobil, serta kami semua akan segera pulang ke Surabaya.

Setelah kami semua saling berpamitan dgn ributnya, saya serta Sherly segera menjalankan mobil. Pak Basyir membuka pintu gerbang sambil tersenyum, mungkin cuma saya serta Sherly yg mengerti arti senyuman pak Basyir ini. Tapi saya hanya menganggukkan kepala pada pak Basyir ketika melalui pintu gerbang vilaku. Di depan teman temanku saya tak boleh terlihat terlalu akrab dgn penjaga vilaku ini, daripada nanti mereka bertanya yg tidak tidak.

—ooOoo—

Seperti pada waktu berangkat, kini perjalanan pulang yg hampir dua jam ini terasa begitu cepat dgn celoteh Jenny yg seperti tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Akhirnya kami sampai ke rumah Rini, serta setelah saya membantu Rini mengambil tasnya dari bagasi mobilku, Rini saling melambaikan tangan padaku serta Jenny, lalu saya segera melanjutkan perjalanan ke rumah Jenny. Sekali ini saya merasa agak heran, karena Jenny diam saja sampai akhirnya kami tiba di rumahnya.

"Jen?", saya bertanya heran ketika Jenny tak segera turun dari mobilku, malah memandangku dgn tatapan aneh. Tiba tiba Jenny mendekat ke arahku, rambutku yg tergerai menutupi sebagian pipiku disibakkannya ke belakang leherku, serta di luar dugaanku sama sekali, Jenny langsung melumat bibirku. "Mmmpph…?", saya mendesah tertahan, masih terlalu terkejut untuk bereaksi, sampai akhirnya Jenny melepaskan pagutannya serta dia menyandarkan kepalanya di pundak kiriku, membuatku semakin bingung.

Jenny menatapku sayu sambil berkata dgn manja, "Kamu nakal ya El, percuma saya bela belain jagain kamu capek capek… tapi kamu sendiri malah asyik sama penjaga vilamu…". saya amat terkejut, tak kusangka Jenny tahu semuanya. Mungkin Jenny juga sedang mengintip waktu saya serta Sherly lagi di dalam kamar pak Basyir. Berarti Jenny juga melihat waktu saya serta Sherly bercumbu dgn begitu panas.

"Udah gitu, saya iri sama Sherly tau! saya… saya juga ingin kamu El", kata Jenny dgn penuh nafsu. "Tapi Jen, kemarin itu..", saya semakin gugup ketika Jenny menarik panel di kursi yg saya duduki ini hingga punggung kursi ini turun mendatar serta saya terbaring di bawah tindihan Jenny, lalu Jenny melingkarkan tangan kirinya ke leherku, sedangkan tangan kanan Jenny meremas toket ku yg sebelah kiri dgn lembut. saya sudah tak berdaya dalam pelukan Jenny.

"Nggak bisa.. pokoknya… ini.. hukuman buat kamu Eliza…", kata Jenny di sela nafasnya yg memburu sambil kembali memagut bibirku. saya tak bisa menghindar lagi, bahkan kalaupun saya bisa, saya tak akan menghindar. Perasaanku yg sudah tersengat sejak tadi, membuat saya membalas pagutan bibir Jenny dgn sepenuh hati sampai kami berdua sama sama kehabisan nafas, serta Jenny masih sempat mencium kedua mataku dgn mesra sebelum dia melepaskanku.

Kami terdiam beberapa saat, lalu Jenny turun dari mobilku serta menatapku dgn senyum yg penuh arti, serta saya juga melakukan hal yg sama. saya turun membantu Jenny mengeluarkan kedua tasnya dari bagasi mobil. "Thanks ya sayang", kata Jenny sambil mencium bibirku dgn mesra. saya membalas ciumannya walaupun agak kuatir kemesraan kami yg diluar batas ini terlihat oleh orang lain. "Thanks juga Jen… saya pulang dulu ya", kataku berpamitan padanya. Jenny melambaikan tangannya serta saya segera menjalankan mobilku menuju ke rumah.

Tak sampai setengah jam, saya sudah berada di depan rumahku. Kupencet remote pagar lalu mobilku kuparkirkan di garasi. Ketika saya akan turun dari mobil, saya melihat Suwito mendekati mobilku, serta dari spion kanan mobilku kulihat Wawan juga mendekat. saya hanya bisa menggeleng geleng, kulihat jam di mobilku menunjukkan jam setengah tiga sore. Melihat kelakuan mereka, pasti tak ada siapapun di rumah saat ini, serta di hari minggu seperti ini, biasanya mereka baru akan pulang malam nanti.

Untung saja saya tadi menghindari persetubuhan dgn pak Basyir di vilaku, jadi kini saya masih punya banyak tenaga untuk melayani mereka berdua, serta saya tahu mereka berdua akan membantaiku hingga mereka puas. saya bisa merasakan padangan mereka yg penuh nafsu, serta dgn pasrah saya turun dari mobil, menyerahkan diriku untuk mereka perkosa sesuka hati. Begitu saya ada di dalam jangkauan mereka berdua, Suwito langsung memagut bibirku, sedangkan Wawan dari belakang meremasi kedua toket ku dgn bernafsu.

"Emmphh… mmmmhh…", saya hanya bisa merintih, serta tak lama kemudian saya hanya bisa melangkah menuruti mereka yg menggiringku ke kamar tidur mereka berdua. "Aduh…", keluhku ketika saya dibaringkan di ranjang mereka dgn kasar. "Apa mau kalian?", tanyaku dgn pura pura ketakutan, serta kedua tanganku kusilangkan menutupi kedua toket ku yg memang masih terlindung di balik bra serta bajuku.

saya memang sengaja menggoda mereka, serta tak tahan melihat apa yg kulakukan, dgn buas mereka melucuti pakaianku serta melempar lemparkan tiap helai penutup tubuhku ini dgn sembarangan hingga berserakan di lantai kamar ini, sementara saya hanya bisa membiarkan mereka menelanjangiku. Kemudian saya membaringkan diriku sendiri di tempat tidur sambil menutupi kedua toket ku dgn kedua telapak tanganku.

"Non Eliza, hari ini non Eliza harus melayani kami sampai kami puas… sudah sejak sabtu pagi kami merindukan non Eliza…", kata Wawan yg menyingkirkan kedua tanganku dari kedua toket ku, lalu memelukku dgn gemas. "Auuw… toloong… saya diperkosa mmmmpph", teriakanku terputus ketika Suwito memagut bibirku dgn gemas. saya menggoda Wawan sambil pura pura hendak mendorong badannya yg menindihku, serta kakiku kugerakkan seolah olah saya meronta.

serta seperti yg kuperkirakan serta kuharapkan, Wawan semakin bernafsu menggumuliku, serta tak lama kemudian saya terbeliak ketika kurasakan liang memek ku menelan kontol nya Wawan. "Ngghhhh…", saya melenguh keenakan ketika Suwito melepaskan pagutannya pada bibirku, serta sesaat kemudian saya tak bisa bersuara dgn bebas karena Suwito sudah menjejalkan kontol nya ke mulutku.

Kedua tanganku digenggam oleh Wawan yg terus memompaku, serta tak lama kemudian saya mengejang hebat, lagi lagi saya dipaksa orgasme oleh pembantu pembantuku ini.Setelah beberapa kali saya harus orgasme, hampir bersamaan akhirnya Suwito serta Wawan ejakulasi menyemprotkan spermanya ke dalam tubuhku , Suwito di dalam mulutku, serta Wawan di dalam liang memek ku. Mereka duduk dgn lemas, namun memandangiku dgn nafsu yg terbakar hebat.

saya sampai geli melihat mereka yg sampai sebegitunya, padahal baru saya tinggal tiga hari dua malam. Setelah hampir sepuluh menit, saya beranjak bangun, lalu turun dari ranjang mereka dgn gerakan yg sengaja saya buat perlahan. Mata mereka melotot seakan hendak keluar ketika saya menusukkan jari telunjuk kiriku ke liang memek ku serta mengeluarkan cairan sperma Wawan yg kutadahi dgn telapak tangan kananku. Kuseruput cairan sperma Wawan yg bercampur dgn cairan cintaku sampai habis.

"Dasar kalian… nggak bisa ya sehari aja membiarkan saya istirahat meskipun nggak ada orang di rumah?", saya menggerutu dgn mimik muka pura pura marah setelah menghabiskan cairan di telapak tanganku ini. Tapi tentu saja itu tak mempan terhadap kedua pembantuku yg keranjingan ini. Mereka hanya menatapku dgn penuh nafsu, sementara saya kembali menggoda mereka dgn perlahan mengenakan celana dalamku.

Lalu saya sengaja tak mengenakan bra, hanya mengenakan kausku saja. Kemudian perlahan saya mengenakan hot pants milikku, seperti Jumat kemarin, saya sengaja berlama lama ketika menarik hot pantsku ke atas, serta mereka kelihatan meneguk ludah ketika hot pants itu terpasang menutupi celana dalamku.

Setelah saya selesai berpakaian, saya mengambil braku dari lantai dgn dua jari tanganku serta kemudian saya melangkah menuju pintu keluar kamar ini dgn pandangan menggoda kea rah mereka. saya tahu gerakan ini teramat sexy buat mereka. Akibatnya Suwito yg nafsunya sudah terbakar dgn hebat tak membiarkanku pergi, dia langsung menyergap serta menyeretku kembali ke dalam kamar.

Bra yg masih kupegang dirampas oleh Suwito, serta dibuang olehnya ke pojok kamar ini. Lalu saya dibaringkan Suwito ke atas ranjang, serta dia menindihku dgn pandangan yg seolah ingin menelanku bulat bulat. "Kenapa sih kamu ini? Masih belum puas memperkosaku ya?", tanyaku dgn suara manja, serta dgn pandangan menggoda saya pura pura menahan badan Suwito yg sudah akan menindihku.

Suwito sudah tak kuat lagi, dia langsung mencumbuiku sepuas puasnya. Mungkin sekarang ini Suwito ingin sekali menelanku bulat bulat. Sesekali Suwito menghentikan cumbuannya, membelai rambutku dgn lembut, menciumi rambutku, entah saya tak tahu apa yg dia suka dari rambutku ini. Mungkin baunya yg wangi karena saya memang selalu keramas tiap hari, atau mungkin dia menyukai halusnya rambutku.

Tanpa melucuti bajuku, tiba tiba Suwito menciumi toket ku yg sebelah kiri, bahkan kini dia mulai menjilati bagian itu. Tentu saja bagian bajuku yg membungkus toket ku itu jadi basah oleh air ludahnya, mendatangkan sensasi yg lain dari sebelumnya, Karena saya tak mengenakan bra, jilatan dari Suwito sangat terasa pada puting toket ku. "Ohh.. kamu…", saya merintih serta menggeliat perlahan menahan nikmat.

"Aahhh…", saya mendesah hebat ketika Suwito memaksakan mengulum puting toket ku yg ada di balik bajuku ini. Wawan sendiri mengikuti ulah Suwito, dia menciumi serta menjilati toket ku yg sebelah kanan sampai akhirnya dia juga ikut menyusu, membuatku menggeliat hebat digumuli oleh kedua pembantuku ini.

Cerita seks ngentot ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8 ngentot memek remas pantat cewek majikan memek doyan seks
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8 | Klik untuk memperbesar gambar

"Oh.. kalian…", saya mengeluh pasrah serta memejamkan mataku, menikmati segala perlakuan mereka. Sementara mereka berdua menikmati tubuhku, saya memikirkan hubunganku dgn mereka yg sudah berubah sejak saya merasa berterima kasih pada mereka karena apa yg sudah mereka lakukan padaku tiga minggu yg lalu ketika saya baru saja digangbang selusin anak berandal dgn kejam. saya sudah rela menyerahkan tubuhku pada mereka.

Kemudian saya teringat Sherly, bidadari pertama yg mencumbuiku serta saya tak bisa menolak bahkan saya menginginkan cumbuan Sherly. Ya, hubunganku dgn Sherly sudah berubah seperti itu, serta saya memikirkan tentang Jenny. Entah akan berubah menjadi seperti apa hubunganku serta Jenny, tapi saya sudah siap menjalaninya. serta kini saya tak bisa memikirkan apa apa lagi, karena saya kembali ditenggelamkan ke dalam lautan kenikmatan oleh Wawan serta Suwito.

Bersambung..

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 1
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 2
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 3
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 4
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 5
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 6
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 7
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 9
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 10
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 11
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 12
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 13
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 14

ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8
ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8, cerita seks , ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8 ngentot memek remas pantat cewek majikan memek doyan seks, kisah porno, kisah sex bokep, sex, ABG Amoy binal doyan gangbang ramean 8

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com