Ingin rasanya ku entot memek kakak ku yang lesbi

Cerita Dewasa Lesbian – Cerita dewasa ini mengisahkan serunya seorang adik suka ngintip kakaknya cewek masturbasi. Ga cuman suka masturbasi, ternyata sang kakak adalah seorang cewek lesbian, suka berhubungan dengan sesama jenis. Bahkan si adik pernah diajak ngentot bareng dengan teman pasangan lesbi nya sang kakak. Cerita sex dewasa yang seru, panas dan layak anda baca. Berikut ini ceritanya….


Namaku Dedy. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi. Saat ini aku kuliah semester 3 jurusan BI. Sejak awal kuliah, aku tinggal dirumah kakak ku. “Kak Devi” begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut 4 tahun denganku. Ia begitu perhatian dalam memperhatikan aku. Apalagi kini kami jauh dari orang tua.

Rumah yang kami tempati, baru dua tahun dibeli kak Devi. nggak begitu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. Kak Devi saat ini bekerja disalah satu KanCab bank swasta nasional. walaupun usianya baru 27 tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Berwibawa dan tangguh. Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya.

Tiga bulan pertama aku tinggal dirumah kak Devi, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Devi saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Devi.

Dari semua kekagumanku pada kak Devi, satu hal yang aku herankan. selama ini aku nggak melihat kak Devi memiliki hubungan spesial dengan laki-laki. Kupikir kurang apa kakaku ini ? cantik, sehat, cerdas, berpenghasilan mapan, kurang apa lagi ? Seringkali aku menggodanya, tapi dengan cerdas ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu…!”, aku percaya saja dengan kata-katanya. Yang pasti, aku menghomati dan mengaguminya sekaligus.

Hingga pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul 10.00, suasana rumah lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan, padahal biasanya kak Devi asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya. sebab khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu depan, ternyata sudah dikunci. Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku, “kok masih sore ini kak Devi sudah tidur ?”, lalu dengan sedikit iseng secara pelan-pelan aku mencoba mengintip kak Devi didalam kamar melalui lubang kunci. Agak kesulitan sebab anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang kecil aku masih dapat melihat kedalam.

Dadaku berdegup kencang, dan lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan nggak pada apa yang kulihat. Kak Devi menggeliat-geliat diatas spring bed. Tanpa busana sehelaipun !!!
Ya Ampun ! Ia menggeliat-geliat kesana kemari. Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu. Kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling. Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah apalagi namanya. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sesaat, pikiranku sungguh kacau, gak tau apa yang harus kuperbuat. Namun kemudian rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Devi masih menindih batal guling. Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudian dengan posisi agak merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal dan guling, lalu meraih langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Ngapain lagi tuh ?!!, aku tertegun.

Entah kenapa, rasa takut dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar badanku. Tanpa sadar ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan. Ahhh…

Ketika kembali aku mengintip ke dalam kamar, kulihat Kak Devi mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal itu, hingga posisinya benar-benar seolah menunggangi tumpukan bantal itu. Lalu badannya terutama bagian pinggul bergoyang goyang dan bergerak-gerak lagi, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek membuat aku semakin cepat meremas batang kontol ku sendiri. Entah berapa lama aku menyaksikan tingkah laku kak Devi didalam kamar. Nafasku memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan kak Devi yang semakin cepat. Mungkin ia hendak mencapai orgasme, dan benar saja, beberapa saat kemudian badan kak Devi nampak berguncang beberapa saat, jemari kak Devi mencengkram seprai.

Aku gak tahan lagi. Bergegas aku menuju kamarku sendiri. Lalu kukunci pintu. Kumatikan lampu, lalu berbaring sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun aku laki-laki normal. Aku merasakan gelombang birahi menyala dan semakin menyala didalam badanku. Dan makin lama makin membara. Ah… aku gak tahan lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka seluruh pakaian yang kukenakan, lalu aku berguling-guling diatas spring bad sambil mendekap bantal guling. Aku merintih dan mendesah sendirian. Diantara desahan dan rintihan aku menyebut-nyebut nama kak Devi. Aku membayangkan tengah berguling-guling sambil mendekap badan kak Devi yang putih mulus. Pikiranku benar-benar nggak waras. Aku membayangkan badan kak Devi aku gumuli dan kuremas remas. Sungguh aku nggak tahan, dengan sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan merintih lalu mengerang perlahan seiring cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal guling. (Besok harus mencuci sarung bantal…masa bodo…!!!!)…………….

Sejak kejadian malam itu, pandanganku terhadap kak Devi mengalami perubahan. Aku nggak saja memandangnya sebagai kakak, lebih dari itu, aku kini melihat kak Devi sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik ! wanita cantik dan seksi tentunya. Ah…….! (maafkan aku kak Devi !)

Terkadang aku merasa berdosa manakala aku mencuri-curi pandang. Kini aku selalu memperhatikan bagian-bagian badan kak Devi. Goblok ! mengapa baru sekarang aku menyadari kalau badan kak Devi sedemikian putih dan montok. Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu. Ah lehernya apalagi, mhhh rasanya ingin aku dipeluk dan membenamkan wajah dilehernya.
“Hei, kenapa melamun aja ? Ayo makan rotinya !“, kata kak Devi sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan. Air itu melewati bibir kak Devi, lalu bergerak ke kerongkonganya…. Ahhh kenapa aku jadi memperhatikan hal-hal detail seperti ini ?
“Siapa yang melamun, orang lagi …. ammmm mmm enak nih, selai apa kak ?”, aku mengalihkan perhatian ketika kedua bola mata kak Devi menatapku dengan pandangan aneh.
“Nanas ! itu kan selai kesukaanmu. awas abisin yah !”, kak Devi bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan membelakangiku menuju wastafel untuk mencuci tangan.
“OK, tenang aja !”, mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku gak berkedip menyaksikan pinggul kak Devi yang dibungkus pakaian dinasnya. Alamak, betisnya sedemikian putih dan mulus…
“Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata kak Devi. Hari sabtu aku memang gak ada mata kuliah.
“Enggak…!”, kataku sesaat sebelum meneguk air minum.
“Periksa semua kunci rumah ya Ded kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan….!”.
“Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami.
Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan pintu garasi ditutup. Dan ketika aku keteras depan, Honda Jazz warna silver itu berlalu meninggalkan pekarangan.
Setelah memastikan kak Devi pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarin aku telah memiliki suatu rencana. Aku mau memasang Mini Camera kekamar kak Devi, biar bisa online ke TV dikamarku, he he !.
Sebulan berlalu, otakku benar-benar telah rusak. Aku selalu menunggu saat-saat dimana kak Devi bermasturbasi. Dengan bebas aku melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Devi. Aman ! sejauh ini kak Devi gak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang mengamati.
Benar rupanya hasil survai sebuah lembaga bahwa 60 % dari wanita lajang melakukan masturbasi. Kalau kuhitung bahkan ka Devi melakukanya seminggu dua kali. Pasti nggak terlewat ! malam rabu dan malam minggu. Kasihan kak Devi. Ia mestinya memang sudah berumah tangga. Tapi biarlah, kak Devi toh sudah dewasa, ia pasti tau apa yang dilakukannya. Dan yang terpenting aku punya sesuatu untuk kunikmati. Kalau kak Devi melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Ahh…..
Seringkali ditengah kekacauan pikiranku, ingin rasanya aku bergegas kekamar kak Devi ketika kak Devi tengah menggeliat-geliat sendiri. Aku ingin membantunya. Sekaligus membantu diriku sendiri. Gak usah beneran, cukup saling bikin happy aja. Tapi aku gak berani. Apa kata dunia ?
Malam ini. Aku gak sabar lagi menunggu, sudah hampir jam sembilan. Tapi kok gak ada tanda-tandanya. Kak Devi masih asyik nongkrongi TV diruang tengah. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang.
“Mau kemana Ded ?”,
“Kunci gerbang ah, udah malem !”, kataku sambil menggoyangkan anak kunci .

“Jangan dulu dikunci, temen kak Devi ada yang mau kesini !”,
“Mau kesini ? siapa kak ?”,
“Santi…yang dulu itu lho !”,
“Ohh…!”, aku mencoba mengingat. Shintya ? ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? Yah…! hangus deh.

Aku bergegas kembali kedalam. Dan ketika aku menaiki tangga ke lantai atas, HP kak Devi berdering. Kudengar kak Devi berbicara, rupanya temennya si Shintya brengsek itu udah mau datang. Huh !
Aku hampir aja ketiduran. Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul 10.30 malam, ya ampun aku memang ketiduran.

Cuci muka di wastafel, lalu aku ambil sisa kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin tapi lumayan daripada gak ada. Lalu seteguk air putih. Lalu sebatang Class Mild. Dan, asap memenuhi ruang kamar. Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk kekamarku. Sepi. Temennya kak Devi udah pulang kali ?!.
Kunyalakan TV, tapi hampir seluruh chanel menyebalkan, Kuis, Lawakan, Ketoprak, Sinetron Mistery, fffpuih ! kuganti-ganti channel tapi emang semua chanell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?!
Ya ampun ! sungguh pemandangan yang menjijikan. Apa yang akan dilakukan kak Devi dan temannya itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Aku nggak menyangka kalau kak Devi ternyata menyukai sesama jenis. Apa kata Mama. Ya ampuuuuun…!
Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat.
Aku ambil gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Aku habiskan air digelas besar sampai tetes terakhir.

Tapi…., aku tekan lagi tombol power TV, Upps… masih On Line ! Aku melihat kak Devi dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa busana. walaupun berselimut, bagian pundak mereka yang gak tertutup menunjukan kalau mereka gak berpakaian. Mereka saling menatap dan tersenyum. Tangan kiri kak Shintya mengelus-elus pundak kak Devi. Sementara kuperhatikan tangan kak Devi nampaknya mengelus-elus pinggang kak Shintya, nggak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik selimut menunjukan hal itu. Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum. Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku gak mendengarnya sebab aku nggak memasang Mini Camera dengan Mic.

Perlahan kepala kak Shintya mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut dan menelusuri punggung kak Devi. Aku Cemburu ! Mereka berciuman dengan penuh perasaan, perlahan saling mengulum dan melumat. fffpuih ! Ternyata benar-benar ada tugas pria yang dilakukan oleh wanita.

Untuk beberapa saat mereka berciuman dan saling meraba. Aku jadi menahan nafas. Mungkin aku juga ketularan nggak waras, rasanya ada satu gairah yang perlahan bangkit didalam badanku. Bahkan, aku mulai mendidih !
Sesaat kak Shintya nampak menelusuri leher kak Devi dengan bibir dan lidahnya, aku mengusap leherku sendiri. Entah kenapa aku merasa merinding nikmat. Apalagi melihat ekpresi kak Devi yang pasrah tengadah, sementara kak Shintya dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga. Aku gak tahan melihat kak Devi diperlakukan seperti itu. Setelah mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sementara mataku gak lepas dari layar TV.

Situasi semakin seru, kak Devi kini yang beraksi, ia kelihatan agak terlalu terburu-buru. Dengan penuh nafsu ia menjilati dan menciumi leher kak Shintya yang kini terlentang ditindih kak Devi. Kepala kak Shintya mendongak-dongak, aku yakin ia tengah merasakan gelenyar-gelenyar nikmat dilehernya. Kemudian kak Devi berpindah menciumi dada kak Shintya, sekarang baru nampak jelas wajah kak Shintya. Ia ternyata cantik sekali, bahkan sedikit lebih cantik dari kak Devi. Ah aku terangsang. Tonjolan dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan.

Kak Devi benar-benar beraksi, ia menciumi dan melahap toket kak Shintya. Wajah kak Shintya mengernyit, dan mulutnya terbuka, apalagi ketika kak Devi mengemut putting susunya. Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap kepala kak Devi. Bergantian kak Devi mengerjai kedua toket kak Shintya. Kak Shintya menggeliat-geliat. Semakin liar, apalgi ketika kak Devi menyelinap ke dalam selimut. Tiba-tiba kepala Kak Devi muncul lagi dari balik selimut, tengadah mungkin ia tersenyum atau tengah mengatakan sesuatu, sebab kulihat kak Shintya tersenyum, lalu sebuah kecupan mendarat dikening Kak Devi. Sesaat kemudian kak Devi menghilang lagi ke dalam selimut. Kak Shintya tampak membetulkan posisi badannya, selimutnya juga dirapihkan, aku gak dapat melihat apa yang tengah dilakukan kak Devi, tapi menurut perkiraanku kepala kak Devi tepat diantara selangkangan kak Shintya. Entah apa yang tengah dilakukannya. Namun yang terlihat, kak Shintya mendongak-dongak, kedua tanganya meremas-remas kepala kak Devi. Kepala kak Shintya bergerak kekanan dan kekiri. badannya juga menggelinjang kesana sini. Kondisi seperti itu berlalu cukup lama. Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan, lalu kulemparkan kain sarungku. kontol ku mengeras, menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah… edan !

Tiba-tiba aku lihat kak Shintya mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya menjepit kepala kak Devi. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak kekanan dan kiri. Ia terengah-engah, lalu sesaat kemudian terdiam. Matanya terpejam. Kemudian kak Devi muncul dari balik selimut, ia nampak mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Shintya tersingkap sebabnya. Kak Shintya kemudian meraih kedua bahu kak Devi, mendaratkan kecupan dikening, pipi kanan dan kiri kak Devi, lalu merangkul kak Devi ke dalam pelukannya. Beberapa saat mereka berpelukan. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku meremas-remas dan mengurut kontol ku sendiri.

Dan, kemudian mereka nampak berbincang lagi, lalu kak Devi membaringkan badanya. Terlentang. Kak Shintya menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh. Kak Devi kelihatan protes, tapi protes kak Devi dibalas dengan lumatan bibir kak Shintya. badan kak Shintya menindih badan kak Devi. Aku melihat, dengan mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua badan indah dengan kulit putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun. Saling menyentuh.
Kak Shintya kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, toket kanan dan kiri. Kak Devi nampak pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Shintya nampak lebih terampil dari kak Devi, hampir setiap inci badan kak Devi dijilati dan dikecupnya. Bahkan kini ia menelusuri pangkal paha kak Devi dari arah perut dan terus bergerak ke awah. Kak Devi hendak bangun, kedua tanganya seolah menahan kepala kak Devi yang terus bergerak ke bawah, entah mungkin sebab geli atau nikmat yang teramat sangat. Tapi tangan kak Shintya menahanya, akhirnya kak Devi menyerah. Dihempaskannya badannya ke atas spring bad.

Kak Shintya kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki kak Devi. Tangan kanan kak Devi mengusap-usap memek nya, sementara jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat. badan kak Shintya kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha kak Devi. Kak Shintya menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul kak Devi, sehingga badan bagian bawah kak Devi makin terangkat. Kepala kak Devi terjepit persis diantara selangkangan kak Devi. Sebelah tangannya meremas-remas toket kak Devi. Aku lihat badan kak Devi mengelinjang-gelinjang. gak sadar aku turut merintih. Semakin kak Devi menggelinjang, nafasku semakin memburu. badanku kini mendekap dan mengesek-gesek bantal guling, dan batang kontol ku menggesek-gesek ujungnya. Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. Yang pasti aku turut larut dalam situasi antara kak Devi dan kak Shintya.
“Kak Deviii… kak Shintya……, ini Dedy… asssshhh..ahh kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih. http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com
Semakin lama kak Devi kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya. Kedua tangannya menangkup kepala kak Shintya. Semakin lama gerakan kak Devi semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam. Sialan ! lampu diluar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan ! Brengsekkkkkk !!!
Aku terengah-engah, dalam kegelapan. Sudah kadung mendidih, aku teruskan aksiku meski tanpa sensasi visual. Aku merintih dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Aku yakin disana kak Devi dan kak Shintya pun tengah merintih dan mendesah, juga dalam kegelapan…….

Dor ! Dor ! Dor !
“Dedy… bangun, udah siang !“, suara ketukan atau entah gedoran pintu membangunkan aku. Rupanya sudah siang.
“Bangun…!”, suara kak Devi kembali terdengar.
“Iya..! udah bangun…”, teriakku. Lalu terdengar langkah kaki kak Devi menjauh dari pintu kamarku.
Ya ampun ! aku terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Dan bantal guling…, bergegas aku buka sarungnya. Wah nembus !
Dengan terburu-buru kurapikan kamarku, jam menunjukan pukul 8 pagi. Kalau nggak khawatir mendengar kembali teriakan kak Devi yang menyuruh sarapan mungkin aku memilih untuk tidur lagi. Akhirnya aku keluar kamar, mengambil handuk, dan bergegas kekamar mandi.
Didekat ruang makan aku berpapasan dengan kak Devi yang membawa nasi goreng dari dapur. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Rambut lepek kak Devi yang belum kering benar jelas terlihat. Aku teringat kejadian tadi malam. “abis keramas nih yee !”, kataku dalam hati.
“Apa senyam-senyum gitu ?”, kak Devi menatapku heran.
“Enggak …! Siapa… lagi yang senyam-senyum. Mmm enak !”, kataku sambil menyuap sesendok nasi goreng hangat.
“Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata kak Devi sambil meletakan piring yang dipegangnya.
“Jorokan juga kak Devi, gituan dijilatin hiiii….”, kataku dalam hati, tapi kemudian bergegas mandi, eh keramas juga !
Segar sehabis mandi, hampir aku balik lagi ketika menyadari dimeja makan Kak Devi tengah sarapan ditemani kak Shintya.
“Ikutan Indonesian Idol dong Des !, jangan cuma berani nyanyi dikamar mandi aja !”, itu kalimat yang pertama kudengar dari kak Shintya. Cantik. Bener- benar cantik. Sumpah ! tapi matanya itu ! aku merasakan keliaran dimatanya ketika menatapku yang hanya terbungkus handuk sepinggang.
“Eh, maaf kirain gak ada kak Shintya, maaf yah…permisi !”, kataku sambil berlalu.
Buru-buru aku ganti baju, menyisir rambut. Ah kenapa aku ingin nampak keren. sebab ada kak Shintya yang cantik kali ya ? Pandang dari kiri dan kanan. Sip ! Turun kembali ke lantai bawah, menikmati dua wajah cantik, dan sepiring nasi goreng bertabur SoGood Sozzis.
“Nih buruan, sarapan dulu !”, kak Devi yang kemudian menyuruhku sarapan, sementara mereka sendiri telah selesai. Aku lalu sarapan dengan diawasi oleh dua mahluk cantik yang nggak buru-buru beranjak dari meja makan. Mereka berbincang ngalor ngidul seputar dunia kerja. Sesekali aku menimpali walaupun mungkin enggak nyambung. “Dasar kuli, hari libur gini masih aja ngurusin kerjaan !”, aku membatin.
“Tumben dihabisin ?”, kata kak Devi melihat aku makan dengan lahap.
“Abis enak sih !”,
“Biasanya, dia tuh ! susah makannya, di masakin ini-itu…!”,
“Bohong kak ! jangan dengerin !”, kataku menimpali ucapan kak Devi
“Alah… emang biasanya gitu kok !”, kak Devi memotong ucapanku. Kak Shintya hanya tersenyum aja. Manis lagi senyumnya. Mmmuah ! ingin rasanya kusentuh bibirnya itu.
Seminggu berlalu, setiap hari rasanya aku menjadi tambah bejat. Pikiranku kotor terus. Terbayang kak Devi dan kak Shintya. Namun yang lebih sering menari-nari dalam khayalanku kemudian adalah sosok kak Devi. Mungkin sebab ia yang tiap hari ketemu. Sehingga pikiran kotorku kemudian mengacu kepadanya. Aku merasa bersalah sebab kemudian khayalanku semakin kacau. Aku begitu terobsesi dengan kak Devi. Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan kak Devi. Aku ingin merasakan kehangatan badan mulusnya, mengecap setiap inci kulit halusnya. …ahhhhhh…..!!!

Rasanya semua hal yang berkaitan dengan kak Devi membuatku terangsang. Melihat pakaiannya yang lagi dijemur saja aku terangsang. Bahkan entah berapa kali ketika kak Devi nggak ada dirumah, aku mempergunakan benda-benda pribadi kak Devi menjadi objek fantasiku. Dan makin lama aku makin berani, hingga aku melakukan self service, di kamar kak Devi, ketika nggak ada kak Devi tentunya. Seperti siang itu, sebotol Hand Body Lotion milik kak Devi kugenggam erat. Aku terlentang diatas spring bad kak Devi. Isi lotion telah kukeluarkan sehingga melumuri kontol ku yang mengacung. Kuurut perlahan, menikmati sensasi yang membuai, sambil sesekali aku menciumi celana dalam pink kak Devi. Aku benar-benar hanyut dan terbuai dalam kenikmatan. Sehingga aku gak begitu menghiraukan ketika ada suara-suara didepan rumah. Ah… kak Devi biasanya pulang jam 6.30, sekarang baru jam 2 siang…. Aman..Ach….shhhh…..
Aku terhanyut dan bergelenyar penuh kenikmatan hingga….
Jeckrek !!! kunci pintu depan dibuka dari luar, lalu pintu terbuka. Seseorang masuk. Ya ampun ! aku sungguh panik. Kak Devi Pulang !!!
Dengan gemetar dan penuh ketakutan aku mengenakan celana. Ya ampun, berantakan begini, dan… Hand Body Lotion tumpah… mati gue !
Tak dapat dicegah sebab pintu kamar memang gak kukunci. Blak…pintu didorong dari luar…
“Dedy…! Ngapain kamu ?”, mata kak Devi menatapku tajam.
“ng..mmm ini lagi !”, aku gak berkutik. Baju yang kugunakan mengelap ceceran Hand Body Lotion di seprai kugenggam erat. Wangi Hand Body Lotion tercium kemana-mana. Keringat dingin membasahi badanku yang hanya mengenakan training. Napasku tercekat manakala menyadari tatapan kak Devi ke atas tempat tidur, celana dalam ka Devi, langerie kak Devi, bantal guling, dan celana dalamku yang gak sempat kupakai atau kusembunyikan. Shittttt….sialan!
Kak Devi menghela nafas panjang dan berat, tatapannya sungguh menakutkan. Aku menggigil gemeteran. Kak Devi pastinya dapat menebak kelakuanku.
“Kok cepet pulangnya kak ?”, dengan susah payah aku bersuara. Tapi kak Devi gak memperdulikanku. Ia berlalu, langkah kakinya menjauhi kamar. Lalu terdengar dentingan gelas, dan pintu lemari es dibuka.
Bergegas aku membereskan segala yang berantakan, sekedarnya. Lalu buru-buru meninggalkan kamar kak Devi !
“Anjing…!, brengsek “, kataku sambil meninju dinding. “Bodoh, bodoh !”, aku mengutuk diriku sendiri. Aku malu sekali. Dengan penuh ketakutan aku bergegas ganti baju. Pikiranku kacau sekali. Aku dengan mengendap keluar rumah, motorku-pun kudorong keluar halaman. Lalu aku kabur…ketempat kost temanku.
Tiga hari aku aku gak pulang, temanku sampai terheran-heran dengan kelakuanku. Tapi aku simpan rapat-rapat masalah yang sebenarnya. Aku hanya bilang lagi berantem sama kakaku.
Tadinya aku kebingungan juga kelamaan nggak pulang, mau pulang juga rasanya bagaimana. Namun sebuah telpon dari kak Devi membuat semuanya lebih baik,
“Dedy kamu kemana aja ? kamu dimana ?”, terdengar suara kak Devi di HP ku, datar. “mm ng… dirumah temen kak ?”, kataku sedikit bergetar.
“Pulang…nanti kalo mamah nanya gimana ?”, suara kak Devi masih terdengar datar. Tapi setidaknya hal itu membuatku sedikit lega. “Iya kak !”, lalu gak terdengar lagi suara kak Devi. Aku tertegun beberapa saat, namun kemudian aku memutuskan untuk pulang.
Tiba dirumah, tatapan kak Devi menyambutku. Aku gak berani menatap wajahnya. “kamu kemana aja ?”, suara kak Devi masih terdengar datar seperti ditelepon. “Mmm…dari rumah Wawan kak !”,
“Makan dulu…tuh kakak udah masak !”, terdengar suara kak Devi dari ruang tengah. “Iya kak !”, bergegas aku ke meja makan. Melahap makanan yang tersedia dimeja makan, emang gua laperrrr !
Besoknya, suasana masih terasa amat hambar. Kak Devi gak mengucap sepatah katapun. Ia membuang muka ketika berpapasan dengan aku yang bermaksud ke kamar mandi. Selesai mandi, ganti baju, kembali keruang makan. Aku dan kak Devi sarapan seperti biasanya, tapi rasanya suasana betul-betul mencekam. Kak Devi nampak buru-buru menyelesaikan sarapannya. Akupun bergegas menghabiskan sisa makananku.
“Kak, maafin Dedy yah !”, kataku sambil meletakan gelas yang airnya habis kuteguk.
Kak Devi gak bersuara, tapi matanya menatapku, penuh keheranan dan tanda tanya, atau mungkin tatapan apa itu artinya. Entahlah.
Beberapa hari kemudian setelah situasi dirumah mulai terasa normal, malam itu kak Devi diruang tengah nonton TV atau mungkin membaca majalah. Entahlah atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca majalah sambil telungkup dipermadani. Dagunya diganjal dengan bantal guling. Aku kemudian duduk disofa, tepat dibelakangnya. Rasanya badanku gemetar menyaksikan pandangan dihadapanku. Sittttt !!!! Pikiran gilaku melintas lagi. Pantat kak Devi yang hanya dilapisi selembar baju tidur tipis begitu indah terlihat. Garis celana dalam yang dikenakanya nampak menggurat. Betisnya itu, alamak. Aku gak tahan ingin mengecapnya dengan lidahku. Dan…
“Bikin minum dong, haus nih…!”, Kak Devi membalikan badannya, dan melihat kearahku yang tengah menikmati bagian belakang badannya.
“Orange, atau susu ?”, tanpa sadar aku melirik kearah dadanya.
Kak Devi merasakan pandangan mataku, ia membetulkan leher bajunya.
“Susu deh ! tapi jangan penuh-penuh yah !”,
“Ok !”, lalu aku pergi ke ruang sebelah. Seperti kebiasaannya kalau bikin susu ia pasti hanya minta setengah gelas. “Takut gak abis”, katanya !
“Nih kak !”, kataku sambil meletakkan gelas susu disebelah kanan. Lalu aku bergerak kesebelah kiri kak Devi. Kak Devi segera mereguk minuman yang kusediakan untuknya itu. Aku sendiri meraih majalah yang tengah dibaca Kak Devi.
“Ih apaan nih, sini ! orang lagi dibaca juga !”, kak Devi berusaha meraih majalahnya kembali. Akhirnya kulepaskan. Aku mengambil remote TV. Sambil tengkurap disamping kak Devi, aku memindah-mindah chanel.
“Kebiasaan Dedy mah, pindah-pindah terus, balikin TransTV !”, katanya sambil berusaha meraih remote. Akupun menyerah, kukembalikan channel ke TransTV.
Lalu aku memiringkan badan, sekarang aku menghadap kearah kak Devi. Menatapnya dalam-dalam. Ah… kakak ku sayang, engkau cantik sekali. Lalu aku mutup kedua mataku rapat-rapat.
“Kak mau tanya, boleh ?”, kataku sambil tetap memejamkan mata.
“Tanya apa sih !”, ia menjawab tanpa menoleh.
“ng…mmmm kenapa Dedy akhir-akhir jadi aneh yah ?”,
“Maksudnya apa ?”,
“Tapi kak Devi jangan marah yah !”,
“Akhir-akhir ini, Dedy sering error. Pikiranya yang begituuu.. aja. Gak siang gak malem, pusing deh !”,
“Mikirin apa sih ?”,
“Ah… kak Devi ini. Maksud Dedy… mmm jangan marah yah. Rasanya Dedy gampang terangsang deh !”, kubuka mataku, keterkejutan nampak diwajah kak Devi. Lalu ia menghela nafas panjang.
“Kebanyakan nonton film jelek kali. Tuh dikomputer hapus-hapusin gambar gambar jelek kayak gitu !”,
“Bisa juga sih…, kalau masturbasi bahaya enggak sih kak?”, aku kembali melontarkan pertanyaan yang mengagetkannya.
”Apaan sih gituan di tanya-tanyain ?!”, nampak kak Devi agak gusar menimpali pertanyaanku.
“Kalau kata temen Dedy sih, mendingan masturbasi daripada main sama cewek nakal, bisa penyakitan !”,
Tak terdengar komentar. Waduh aku kehabisan kata-kata.
“Sebenarnya gara-gara kak Devi sih !”, dan aku menunggu. Benar saja, kak Devi bereaksi. Ia menatapku penuh tanya.
“Menurut sebuah survai, 60 % wanita lajang melakukan masturbasi, bener kan ?”, aku kembali melontarkan pukulan kata-kata.
“Kata siapa kamu ?”,
“Kata koran dannnnn… lubang kunci !”,
“Maksud Dedy apa sih…? Kakak jadi pusing !”,
“Dedy tau rahasia kak Devi !”,
“Rahasia apa ?”,
“Kak Devi suka menggeliat-geliat ditempat tidur tanpa pakaian dan memeluk bantal guling !”, akhirnya. Mata Kak Devi membeliak kaget. Tatapan matanya menyiratkan rasa marah dan malu, tapi ia berusaha menutupinya.
“Kamu ngintip ?”,
“Gak sengaja sih…!”, kubenamkan mukaku dipermadani sambil menunggu efek selanjutnya.
“Tapi tenang aja. Rahasia kak Devi aman kok ditangan Dedy. Dan rahasia Dedy ada ditangan kak Devi. Sama-sama aman ok ?!”, Kak Devi gak bersuara. Benar-benar terdiam. Ia malah membolak-balikan halaman majalah.
“walaupun ada satu rahasia lagi !”, tampak wajah kak Devi kembali menegang. Pandanganya mengarah kepadaku, yang kini juga menatapnya.
“Kak Shintya… !”, kataku. Kak Devi benar-benar terhenyak. Ia bangkit hingga terduduk. Aku membalikan badan, terlentang disamping kak Devi.
“Tenang aja. Dedy gak akan membocorkannya ke siapa-siapa kok !”,
“Dedy tau semuanya ?”, kata kak Devi tiba-tiba. Pandangan matanya kini memelas dan penuh ketakutan. Aku menganggukan kepala.
“Jangan bilang siapa-siapa, jangan bilang mamah. Please !”, kak Devi mengguncang bahuku.
“Tenang…pokoknya aman !”,
Kak Devi nampak gelisah. Aku nggak tega melihatnya. Kak Devi yang sangat baik padaku telah aku antarkan pada suatu kondisi serba salah dan menakutkan baginya. Tapi sudahlah.
Tiba-tiba terdengar dering telp, bergegas aku bangun dan mengangkat gagang telpon.
“Halloo..!”, terdengar suara perempuan diseberang sana.
“Hallo…!”, kataku
“Ini Dedy yah ?, kak Devi ada ?”, suara itu terdengar lembut.
“ng.. ini siapa yah ?”, kataku sambil menduga-duga.
“Ini Shintya…kak Devi-nya ada ?”,
“Ada…sebentar ya kak !”, kataku.
“Kak… ini kak Shintya !”, kataku pada kak Devi. Kulihat tiba-tiba expresi kak Devi menegang. Namun gak urung ia mendekatiku, dan menerima gagang telepon yang kusodorkan.
“Haloo..”,
Aku bergegas pergi, gak ingin mengganggu “sepasang kekasih” yang telepon-an. Aku naik ke lantai atas, menuju kekamarku sendiri. Kukunci pintu kamar, mematikan lampu, dengan perasaan campur aduk.
Beberapa saat kemudian kudengar langkah kaki kak Devi di tangga menuju kearah kamarku. Lalu tiba-tiba aku mendengar ketukan dan suara kak Devi. Aku terdiam, menunggu. “Dedy…!”, kembali terdengar ketukan. Kunyalakan lampu lalu membuka kunci pintu kamar.
Tanpa kupersilahkan kak Devi menyeruak masuk lalu duduk dipinggir tempat tidur. “Dedy…”, kak Devi tiba-tiba memecahkan keheningan.
Aku yang hendak menyalakan rokok, menoleh.
Kulihat kak Devi menatapku dalam-dalam. Nampaknya ada sesuatu yang ingin diucapkanya. gak jadi menyalakan rokok. Aku menarik kursi, dan membalikanya sehingga menghadap kearah kak Devi. Lalu aku duduk dihadapan kak Devi. “Dedy bisa pegang rahasia kan ?”, ia menatapku sungguh-sungguh. Ada ketakutan dimatanya.
“Masalah apa ?”,
“Shintya…!”,
“Oh…!”, aku mengangguk perlahan.
“Jangan sampai Mamah tau !’,
Aku hanya menatapnya, lalu tersenyum hambar.
“Janji ?!”, kak Devi menatapku dalam-dalam.
“Janji !”, kataku sambl mengacungkan telunjuk dan jari tengahku.
“Dedy boleh minta apa aja, pasti kakak turutin, syaratnya satu, gak boleh bocorin rahasia !”,
“Tenang…aman !’, kataku agak bergetar.
“Dedy mau minta apa sama kaka?”, nampaknya kak Devi mencoba bernegosiasi, he he….
“ng…gak minta apa-apa deh…mmm…”, sungguh gak terpikir untuk minta sesuatu pada kak Devi, lagi pula aku sama sekali gak kepirkiran untuk membocorkan rahasianya. Namun tatapan liarku kearah dada ka Devi sungguh dinterpretasikan oleh kak Devi.

“Kakak tau kok apa yang Dedy inginkan, sini…!”, kak Devi menepuk spring bad, mungkin maksudnya menyuruhku duduk disampingnya. Aku ragu sesaat.
“Sini….!”, katanya mengulang.
walaupun ragu aku kemudian beranjak, dan dengan bingung aku duduk disebelahnya. Darahku berdesir saat jemari lembut kak Devi mengusap punggung tanganku. Lalu ia meraih telapak tanganku. Jemari tanganku digenggamnya.
“Pasti Dedy sekarang lagi error !”, tiba-tiba kak Devi berkata datar,
“Apaan sih kak ?”, kataku agak jengah.
“Pake pura-pura lagi !”, kak Devi mendorong badanku. sebab Kak Devi mengisyaratkan agar aku terlentang maka aku segera terlentang dengan kakiku menjuntai kelantai.
“Dedy pengen ini kan ?”, jemari kak Devi merayapi pahaku. Aku terhenyak menahan nafas. Kemudian kak Devi tanpa ragu mulai meremas kontol ku perlahan, ahh….., kedua lututku terangkat parlahan, lalu kuturunkan lagi.
“Kak…”, kataku lirih
“sst…kakak tau apa yang Dedy inginkan, tenang aja…”, kak Devi benar-benar meremas-remas kontol ku. Geletar nikmat perlahan merayap, seiring makin mengerasnya batang kontol ku. Kuraih bantal, kudekap hingga menutupi mukaku. Rasa jengah dan nikmat membaur menjadi satu.
“Pake malu-malu lagi !”, kak Devi memaksaku melepaskan bantal. Akhirnya untuk aku hanya bisa menutup mata dan menikmati gelenyar kenikmatan dari setiap remasan tangan kak Devi. “Ah…shhh..kak….!”,
Tanganku perlahan merayap kearah pinggang sexy kak Devi, meremasnya perlahan seiring geliat kenikmatan. Aku semakin berani sebab kak Devi gak menolak remasan tanganku dipinggangnya.
Tiba-tiba, “Udah ya…cukup segitu aja !”, tiba-tiba kak Devi menghentikan remasan tanganya.
“Ah kakak !”, aku merintih kecewa, hampir aku melonjak bangun.
“Kenapa ?”, ia menatapku, sebuah senyum seolah menggoda aku yang tengah konak.
“Tanggung…please…!”, aku merintih dan memelas.
“Dasar….”, katanya sambil memijit hidungku.

Tanpa ragu aku melepaskan training yg kukenakan, kontol ku yg sungguh telah mengeras, mendongak…
Nampak ada rasa jengah pada tatapan kak Devi, aku bangkit dari tidurku, “Please…!”, lalu kuraih tangan kak Devi agar menjamah kontol ku. Akhirnya gak urung kak Devi menuruti kemauanku.
Kembali kuhempaskan badan, lalu menunggu kak Devi melakukan hal yg seharusnya. Tangan lembut dan halus kak Devi menggenggam kontol ku, nampaknya ia agak ragu, badanku mengerjap sesaat, ketika tangan kak Devi mulai meramas kontol ku dengan perlahan. Kupenjamkan mata, menikmati setiap kenikmatan yang datang. Semakin lama keinginanku semakin kuat. Aku merintih, mendesah dan sesekali menggeliat.
Remasan tangan kak Devi memang nikmat, namun semakin lama aku menginginkan lebih, lalu aku meraih Hand Body dari sela-sela pinggir springbad, dengan gemetar kusodorkan pada kak Devi.
“Apa ini ?”,

Meski terlihat ragu, perlahan kak Devi meraih Hand Body Lotion, membuka tutupnya, menumpahkannya ditangan kanannya. Lalu ia melumuri kontol ku. Ahhh..
“Maafin Dedy ya kak !”,
“Iya anak nakal !”, katanya. Mungkin seharusnya ia tersenyum tapi aku nggak melihatnya.
“Digimanain ?”, katanya berbisik perlahan.
“Urut aja, keatas dan kebawah, pelan-pelan !”,
“Begini…!”,
“Ya…ah… shhh… kak Devi…!”, akupun tenggelam dan terbuai dalam kenikmatan. Belaian lembut tangan Kak Devi sungguh membuat aku terlena. Dan tanpa kuminta kak Devi telah cukup paham ketika sudah agak mengering dan kesat ditambahkannya lagi cairan Hand Body itu. Ia telah tau yang kuinginkan. Caranya mengurut dan meremas sungguh sempurna. Aku kemudian hanya bisa pasrah, merintih dan mendesah.
“ssshhhh… kaka…mkasihhhh…. Mmmm shhhhh enak !”,
Aku terus merintih dan merintih. Kak Devi benar-benar memanjakan aku. Ia mengurut dan membelai membuat aku terasa melambung-lambung. Tapi lama kelamaan ada rasa ngilu dikontol ku. Makin lama makin ngilu.

“kenapa ? udah ?”, kak Devi bertanya ketika tanganku menahan gerakan tanganya yang masih mengurut dan membelai. “Ngilu…!”, kataku berbisik.
Lalu aku bangkit dari tempat tidurku, sehingga kami duduk berdampingan. Kak Devi terlihat berusaha mengelap cairan Hand Body yang berlepotan ditanganya. Trainingku menjadi korban. Tanggung sekalian kotor, akupun mengelap kontol ku dari cairan handbody. Kami terdiam, beberapa saat.
“Tahu enggak sebenarnya Dedy suka pake bantal guling. Seperti Kak Devi !”,
“Apa enaknya…!”, pertanyaan itu seolah terlontar begitu saja.
“Ya enak aja. Gesek-gesek. Sambil membayangkan sedang memeluk kak Devi !”.
“Dasar !”, ia memelintir kupingku.
“kak Devi…!”,
‘Apa..?”,
‘Tanggung nih !”,
“Tanggung apanya ?”,
“Pura-pura jadi bantal guling mau ?”,
“Apalagi nih !”,

“Dedy gak tahan nih. Tapi kak Devi gak usah khawatir. Dedy gak merusak apapun. Kak Devi tetap berbaju lengkap. Kak Devi hanya berbaring aja. Nanti Dedy…!”, kak Devi terdiam gak menjawab.
“Cuma gesek-gesek aja !”, aku kemudian menandaskan.
“Gimana ? kamu ini aneh-aneh aja ?”,
“Berbaring dulu kak Devi-nya. Pokonya aman deh. Dedy gak bakalan merusak apapun. Janji !”, kataku sambil setengah mendorong badan kak Devi.
Kak Devi gak urung menurut. Ia beringsut keatas spring bad, lalu kubaringkan badannya hingga terlentang.
Dengan bergetar kemudian aku berbaring menyamping. Lalu kakiku menyilang keatas dua kakinya. Selangkanganku kini menempel ke pahanya. Sayang masing terlindung pakaian yang dikenakannya. Tapi lumayan enak. Lalu aku mulai menggesek-gesekan kontol ku kepaha kak Devi. Rasa nikmat perlahan mengalir seiring gesekan itu. Makin lama makin terasa enak. Tangan kak Devi kupaksa agar mau melingkari pinggangku. Aku terus menggesek dan menggesek. Sesaat aku lepaskan bajuku, aku kini telanjang bulat, menelungkup badan kak Devi yang masih terbungkus Langerie…

”shhhh…. Mmmm enak kak. Enak ! shhhhh ahhhh shhh !”, tanpa sadar aku menciumi bahu kak Devi. Aku semaki berani sebab kak Devi membiarkan aku menciumi pundaknya. Makin lama badanku makin bergeser. Tahu-tahu aku kini berada diantara dua paha kak Devi. kontol ku menggesek-gesek persis memek kak Devi. Sungguh nikmat. Geletar-geletar birahi makin memuncak. Aku mendesis dan merintih sambil sesekali mendaratkan ciuman ke pundak kak Devi. Lambat laun aku menyadari, setiap aku bergerak dan menggesek, badan kak Devi ikut bergerak seirama gerakan badanku. Bahkan beberapa kali ia membetulkan posisi pinggangku. kontol ku terus menggesek-gesek memek kak Devi. Dan terus bergoyang-goyang berirama.
“Kurang keatas…sakit tau !”, suara kak Devi terdengar memburu.
Aku menurut. Aku bergerak lebih keatas. Paha kak Devi bergerak seolah memberi ruang agar badanku bergerak lebih leluasa.
“Pelan…pelan…”, ia mendesis,
“Enak kak?’, akhirnya kulontarkan pertanyaan itu. Kak Devi terdiam. Namun nafasnya semakin terdengar memburu. Jemari tangannya terasa meremas-remas punggungku.
Tanpa meminta persetujuan aku berusaha meraih celana dalam kak Devi.
“Mau apa ?”,
“Biar gak sakit lepasin aja yah ?”, ia sedikit mempertahankanya.
“Please !”, kataku. Akhirnya kak Devi menurut. Bahkan kakinya bergerak-gerak membantuku melepaskan celana dalam itu. Aku nggak bermaksud menyetubuhi kak Devi. nggak benar-benar maskudku. Biar bersentuhan lebih dekat aja. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku. kontol ku menempel pada kemaluan wanita. Sungguh sensasinya luar biasa.
kontol ku mengarah kebawah, terjepit diantara paha kak Devi. Lalu aku mulai menggesek-kesekanya. Ada sesuatu yang hangat namun basah dibawah sana. Semakin kugesekkan semakin terasa nikmat. Tiba-tiba aku mendengar kak Devi mendesah pelan. Kepalanya mendongak. Kuulangi gerakan dan gesekanku, kembali ia mendesah. Akhirnya kuulangi gesekan diwilayah itu. Aku senang mendengar kak Devi mendesah-desah dan merintih. Kami ternyata berada pada posisi saling berdekapan. Wajah kami begitu dekat. Aku merasakan semburan nafas hangat kak Devi. Dengan lembut kudaratkan bibirku didagunya. Kemudian bergeser, perlahan. Akhirnya bibir kami bertemu. Bibir kak Devi awalnya diam gak bereaksi ketika bibirku berusaha melumat, tapi lama kelamaan bibir itu membalas lumatan bibirku.

Kami berciuman dan saling melumat. Semakin lama segalanya semakin liar. Aku kini bahkan sudah mengecap, menjilat bahkan setengah menggigit leher kak Devi. Ketika jilatan lidahku menyerang pangkal leher dibawah telinganya, kak Devi mendesah dan merintih. Aku kini benar-benar membuat kak Devi menjadi hilang kesadaran. Ia telah menjadi benar-benar liar. Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Aku maklum dengan apa yang diinginkan kak Devi. Aku bangit dari cengraman badannya. Lalu dengan gemetar kubuka Langerie yang dikenakan kak Devi. Kemudian Bra yang dikenakannya. Kini badan kak Devi gak berbalut selembar benangpun, sebagaimana aku. gak tahan berlama-lama aku merangkul badan kak Devi. Aku menggumulinya dengan penuh nafsu. Aku jilat setiap inci badannya, semakin kak Devi merintih semakin aku mejilat dan menggigit. Putting susunya bergantian aku lahap. Aku bagai orang yang kesetanan. Tanpa terasa aku mulai menjilati badan kak Devi bagian bawah. Bahkan aku kini mulai menciumi pangkal paha dan selangkangannya. Kak Devi merintih dan melenguh. Aku gak tau bagaimana cara menjilat yang baik dan benar. Pokonya semakin keras rintihan kak Devi semakin lama aku menjilat. Kupingku terasa berdenging dan pekak sebab terjepit kedua paha kak Devi. Aku menjilat dan terus menjilat memek kak Devi. walaupun hidungku mencium aroma yang aneh, dan lidahku mengecap rasa yang aneh pula. Aku terus menjilat. Bahkan bibirkupun mencium bagian-bagian memek kak Devi. Aku bahagia mendengar kak Devi Merintih-rintih dan menjerit. Sampai kemudian kak Devi menarik kepalaku.

“Sudah-sudah ! ngilu !”,
“Ngilu ?”, batinku. Bukanya enak ?
Nafas kak Devi tersengal-sengal. Aku segera mengelap mulutku dengan baju kak Devi, mengusir perasaan nggak nyaman dimulutku. Namun aku masih bernafsu. Ketika aku bermaksud menaiku badan kak Devi.
“Tunggu sebentar. Masih ngilu !?”, katanya.
Akhirnya aku hanya dapat menciumi perut dan dada serta toket kak Devi. Kedua tangan kak Devi membelai-belai rambutku.
Tubuhku perlahan mulai merayap kembali. Masuk kedalam dekapan hangat badan kak Devi. Rasa nikmat itu perlahan kembali mengalir. Kemaluan kami kembali bergesekan. Dan aku mulai meracau…
“Jangan !”, kak Devi menahan badanku. Aku gak tahan lagi. Aku ingin memasukannya. Aku ingin merasakan terbenam dalam lembah kenikmatan itu.
“Jangaaaaannn… please ! Dedy jangan !”, kak Devi memohon ketika aku mencoba dan memaksa untuk kedua kalinya.
“Dedy udah gak tahan kak ! gak tahan lagi !”,
“Tapi Dedy udah janji, gak bakalan merusak.!”, kak Devi menghiba.
“Dedy udah gak tahannnnnn….shhhh !”,
“Kak Devi juga sama. Tapi please jangannnn shhh !”,
Kak Devi berbisik dengan nafas memburu. Aku gak tahan lagi. Namun kemudian otak warasku hadir. Kalau dengan bantal guling saja aku bisa puas, kenapa sekarang enggak.
Aku ambil celana dalam kak Devi, lalu kugunakan untuk menutupi memek kak Devi. “Dedy pengen keluar disini, boleh yah !”. setengah memohon aku berbisik.

Ingin rasanya ku entot memek kakak ku yang lesbi hot sexy putih mulus montok, badan menggairahkan, ngintip cewek ngewe cewek, seks sejenis
Klik foto untuk memperbesar gambar - Ingin rasanya ku entot memek kakak ku yang lesbi

karena gak dilarang segera aku memposisikan kontol ku. Mengarah kebawah dan terjepit paha kak Devi. Kedua Kemaluan kami hanya dipisah selembar celana dalam. Dan aku kemudian mulai menggesek. Mencari sensasi kenikmatan itu. Aku menggesek dan menggesek. akhirnya celana dalam itu terlepas hingga kontol ku malah masuk kedalam memek nya, karena sudah terlanjur dan kak devi pun hanya diam saja, maka aku terus entot memeknya dengan kasar.. Kak Devi hanya memalingkan wajah nya tidak mau melihat mataku "Deddy kan sudah janji" katanya sambil tersengal menahan nafsu... dan gak beberapa lama, gelombang kenikmatan itu datang. Crott crott... aku lupa melepas kontol ku sehingga sebagian masuk kedalam memek kak Devi.. ohhh nikmatnya

Aku terkapar diatas badan kak Devi. Terdiam beberapa saat, sebelum kak Devi tanpa berbicara banyak mendorong badanku yang menindih badannya. Aku terbaring ke samping. Ingin rasanya aku memeluk kak Devi berlama-lama. Tapi kak Devi buru-buru bangkit. Dikenakannya Langerie-nya kembali. Lalu bergegas ia keluar dari kamarku !

Sejak saat itu, rahasia dirumah ini bertambah, sampai sekarang kami terus melakukanya, awalnya kak Devi tidak pernah berkata apa-apa dan tidak melarang ku, tapi akhirnya saat ini dia bisa tersenyum saat ku entot memek atau anus nya... nggak terlalu sering memang, namun ketika aku menginginkan atau ketika kak Devi lagi horny, maka kami akan melakukannya. Didapur, dikamar mandi, diruang tengah, bahkan diruang tamu. Aku teramat menyayangi kak Devi...
Ingin rasanya ku entot memek kakak ku yang lesbi
Ingin rasanya ku entot memek kakak ku yang lesbi, cerita seks , Ingin rasanya ku entot memek kakak ku yang lesbi hot sexy putih mulus montok, badan menggairahkan, ngintip cewek ngewe cewek, seks sejenis, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Ingin rasanya ku entot memek kakak ku yang lesbi

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com