Janda sexy nafsu ngentot memek udah lama gak diasah

Cerita ML Janda gatel minta kontol masuk memek sampe puas - Sandy adalah seorang bujangan berumur 28 tahun yang saat ini sedang kebingungan. Pasalnya, panggilan pekerjaan dari sebuah perusahaan dimana dia melamar begitu mendadak. Dia bingung bagaimana harus mencari tempat tinggal secepat ini.


Perusahaan dimana dia melamar terletak di luar kota, jangka waktu panggilan itu selama empat hari, dimana dia harus melakukan tes wawancara. Akhirnya dia memaksa berangkat besoknya, dgn tujuan penginapanlah dimana dia harus tinggal. dgn bekal yang cukup malah berlebih mungkin, sampailah dia di penginapan dimana perusahaan yang dia lamar terletak di kota itu juga.

udah 2 hari ini dia tinggal di penginapan itu, selama ini dia udah mepersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna kelancaran dalam tes wawancara nanti. Sampai pada akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa disitu tertulis menerima kos-kosan atau tempat tinggal yang permanen. Kemudian dgn bergegas dia mendatangi alamat tersebut. Sampai pada akhirnya, sampailah dia di depan pintu rumah yang dimaksud itu.


Perlahan Sandy mengetuk pintu, nggak lama kemudian terdengar suara kunci terbuka diikuti dgn seorang wanita tua yang muncul.
“Iya, ada perlu apa, Pak..?”
“Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar, disitu tertulis bahwa di rumah ini menyediakan kamar untuk tempat tinggal.” sahut Sandy seketika.
“Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak, biar saya memanggil nyonya dulu,” wanita tua itu mempersilakan Sandy masuk.
“Hm.., baik, terima kasih.”
Sejenak kemudian Sandy udah duduk di kursi ruang tamu.

Terlihat sekali keadaan ruang tamu yang sejuk dan asri. Sandy memperhatikan sambil melamun. Tiba-tiba Sandy dikejutkan oleh suara wanita yang masuk ke ruang tamu.
“Selamat siang, ada yang perlu saya bantu..?”
Terhenyak Sandy dibuatnya, di depan dia sekarang berdiri seorang wanita yang boleh dikatakan belum terlalu tua, umurnya sekitar 40 tahunan, cantik, anggun dan berwibawa.

“Oh.., eh.. selamat siang,” Sandy tergagap kemudian dia melanjutkan, “Begini Bu..”
“Panggil saya Bu Clara..,” tukas wanita itu menyahut.
“Hm.., o ya, Bu Clara, tadi saya membaca surat kabar yang tertulis bahwa disini ada kamar untuk disewakan.”
“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”
“Sandy Bu,” sahut Sandy seketika.
“Memang benar disini ada kamar disewakan, perlu diketahui oleh Nak Sandy bahwa di rumah ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya, anak saya yang masih SMA dan pembantu wanita yang tadi bicara sama Nak Sandy, kami memang menyediakan satu kamar kosong untuk disewakan, selain agar kamar itu nggak kotor juga rumah ini biar tambah ramai penghuninya.” dengan singkat Bu Clara menjelaskan semuanya.

“Hm, suami Ibu..?” tanya Sandy singkat.
“Oh ya, saya dan suami saya udah bercerai satu tahun yang lalu,” jawab Bu Clara singkat.
“Ooo, begitu ya, untuk masalah biayanya, berapa sewanya..?” tanya Sandy kemudian.
“Hm, begini, Nak Sandy mau mengambil berapa bulan, biaya sewa sebulannya tujuh puluh ribu rupiah,” jawab Bu Clara menerangkan.
“Baiklah Bu Clara, saya akan mengambil sewa untuk enam bulan,” kata Sandy.
“Oke, tunggu sebentar, Ibu akan mengambil kuitansinya.”
Akhirnya setelah mengemasi barang-barang di penginapan, tinggallah Sandy disitu dgn Bu Clara, Ida anak Bu Clara dan Bik Sumi pembantu Bu Clara.

udah satu bulan ini Sandy tinggal sambil menunggu panggilan selanjutnya. Dan udah satu bulan ini pula Sandy punya keinginan yang aneh terhadap Bu Clara. Wanita yang anggun, cantik dan berwibawa yang cukup lama hidup sendirian. Sandy nggak dapat membayangkan bagaimana mungkin wanita yang masih kelihatan muda dari segi fisiknya itu dapat betah hidup sendirian. Bagaimana Bu Clara menyalurkan hasrat seksualnya. Ingin sekali Sandy bercinta dgn Bu Clara. Apalagi sering Sandy melihat Bu Clara memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk badan Bu Clara yang masih kelihatan kencang dan indah. Ingin sekali Sandy menyentuhnya.

“Aku harus bisa mendapatkannya..!” gumam Sandy suatu saat.
“Saya harus mencari cara,” gumamnya lagi.

Sampai pada suatu saat kemudian, yaitu pada saat malam Minggu, rumah kelihatan sepi, maklum saja, Ida anak Bu Clara tidur di tempat neneknya, Bik Sumi balik ke kampung selama dua hari, katanya ada anaknya yang sakit. Tinggallah Sandy dan Bu Clara sendirian di rumah. Tapi Sandy udah mempersiapkan cara bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Clara. Lama Sandy di kamar, jam menunjukkan pukul delapan malam, dia melihat Bu Clara menonton TV di ruang tengah sendirian. Akhirnya setelah mantap, Sandy pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah.

“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Sandy berbasa-basi.
“Oh, silakan Nak Sandy..,” mempersilakan Bu Clara kepada Sandy.
“Ngomong-ngomong, nggak keluar nih Nak Sandy, malam Minggu loh, masa di rumah terus, apa nggak bosan..?” tanya Bu Clara kemudian.
“Ah, nggak Bu, lagian keluar kemana, biasanya juga malam Minggu di rumah saja,” jawab Sandy sekenanya.
Lama mereka berdua terdiam sambil menikmati acara TV.

“Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?” tanya Sandy tiba-tiba.
“Lho, nggak usah Nak Sandy, kok repot-repot..,”
“Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang buatkan minuman untuk Ibu, masak Ibu dan Bik Sumi saja yang selalu membuatkan minuman untuk saya.”
“Hm.., boleh kalau begitu, Ibu ingin minum teh saja,” kata Bu Clara sambil tersenyum.
“Baiklah Bu, kalau begitu tunggu sebentar.” segera Sandy bergegas ke dapur.

nggak lama kemudian Sandy udah kembali sambil membawa nampan berisi dua teh dan sedikit makanan kecil di piring.
“Silakan Bu, diminum, mumpung masih hangat..!”
“Terima kasih, Nak Sandy.”
Akhirnya setelah sekian lama terdiam lagi, terlihat Bu Clara udah mulai mengantuk, nggak lama kemudian Bu Clara udah tertidur di kursi dgn keadaan memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk badan dan payudaranya yang indah. Tersenyum Sandy melihatnya.

“Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di apotik siang tadi benar-benar manjur, obat ini akan bekerja untuk beberapa saat kemudian,” gumam Sandy penuh kemenangan.
“Beruntung sekali tadi Bu Clara mau kubuatkan teh, sehingga obat tidur itu dapat kucampur dgn teh yang diminum Bu Clara,” gumamnya sekali lagi.

Sejenak Sandy memperhatikan Bu Clara, badan yang pasrah yang siap dipermainkan oleh lelaki manapun. Timbul gejolak kelelakian Sandy yang normal tatkala melihat badan indah yang tergolek lemah itu. Diremas-remasnya dgn lembut payudara yang montok itu bergantian kanan kiri sambil tangan yang satunya bergerilnya menyentuh paha sampai ke ujung paha. Terdengar desahan perlahan dari mulut Bu Clara, spontan Sandy menarik kedua tangannya.

“Mengapa harus gugup, Bu Clara udah terpengaruh obat tidur itu sampai beberapa saat nanti,” gumam Sandy dalam hati.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Sandy kemudian membopong badan Bu Clara memasuki kamar Sandy sendiri. Digeletakkan dgn perlahan badan yang indah di atas tempat tidur, sesaat kemudian Sandy udah mengunci kamar, lalu mengeluarkan tali yang memang sengaja dia simpan siang tadi di laci mejanya.

nggak lama kemudian Sandy udah mengikat kedua tangan Bu Clara di atas tempat tidur. Melihat keadaan badan Bu Clara yang telentang itu, nggak sabar Sandy untuk melampiaskan hasratnya terhadap Bu Clara.
“Malam ini aku akan menikmati badanmu yang indah itu Bu Clara,” kata Sandy dalam hati.
Satu-persatu Sandy melepaskan apa saja yang dipakai oleh Bu Clara. Perlahan-lahan, mulai dari daster, BH, kemudian celana dalam, sampai akhirnya setelah semua terlepas, Sandy menyingkirkannya ke lantai. Terlihat sekali sekarang Bu Clara udah dalam keadaan polos, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi badannya. Diamati oleh Sandy mulai dari wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul indah, perut yang ramping, dan terakhir paha yang mulus dan putih dgn gundukan daging di pangkal paha yang tertutup oleh rimbunnya rambut.

Sesaat kemudian Sandy udah menciumi badan Bu Clara mulai dari kaki, pelan-pelan naik ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan terakhir ciuman Sandy mendarat di payudara Bu Clara. Sesekali terdengar desahan kecil dari mulut Bu Clara, tapi Sandy nggak memperdulikannya. Diciumi dan diremas-remas kedua payudara yang indah itu dgn mulut dan kedua tangan Sandy. Puting merah jambu yang menonjol indah itu juga nggak lepas dari serangan-serangan Sandy. Dikulum-kulum kedua puting itu dgn mulutnya dgn perasaan dan gairah birahi yang udah memuncak. Setelah puas Sandy melakukan itu semua, perlahan-lahan dia bangkit dari tempat tidur.

Satu-persatu Sandy melepas pakaian yang melekat di badannya, akhirnya keadaan Sandy udah nggak beda dgn keadaan Bu Clara, telanjang bulat, polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi badannya. Terlihat kontol Sandy yang udah mengencang hebat siap dihunjamkan ke dalam memek Bu Clara. Tersenyum Sandy melihat kontol nya yang panjang dan besar, bangga sekali dia mempunyai rudal dgn bentuk begitu.

Perlahan-lahan Sandy kembali naik ke tempat tidur dgn posisi telungkup menindih badan Bu Clara yang telanjang itu, kemudian dia memegang kontol nya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam memek Bu Clara. Sandy merasakan memek yang masih rapat sebab udah setahun nggak pernah tersentuh oleh laki-laki. Akhirnya setelah sekian lama, rudal Sandy udah masuk semuanya ke dalam memek Bu Clara.
Ketika Sandy menghunjamkan kontol nya ke dalam memek Bu Clara sampai masuk semua, terdengar rintihan kecil Bu Clara, “Ah.., ah.., ah..!”
Tapi Sandy nggak menghiraukannya, dia lalu menggerakkan kedua pantatnya maju munjur dgn teratur, pelan-pelan tapi pasti.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali ketika Sandy melakukan aktivitasnya itu, diikuti dgn bunyi tempat tidur yang berderit-derit.

“Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Sandy mengeluh kecil, sambil tangannya terus meremas-remas kedua payudara Bu Clara yang montok itu.
Lama Sandy melakukan aktivitasnya itu, dirasakannya betapa masih kencangnya dan rapatnya memek Bu Clara. Akhirnya Sandy merasakan badannya mengejang hebat, merapatkan kontol nya semakin dalam ke memek Bu Clara.
“Ser.., ser.., ser..,” Sandy merasakan cairan yang keluar dari ujung kontol nya mengalir ke dalam memek Bu Clara.
“Oh.. ah.. oh.. Bu Clara.., oh..!” terdengar keluhan panjang dari mulut Sandy.
Setelah itu Sandy merasakan badannya yang lelah sekali, kemudian dia membaringkan badannya di samping badan Bu Clara dgn posisi memeluk badan Bu Clara yang telah dinikmatinya itu.

Lama Sandy dalam posisi itu sampai pada akhirnya dia dikejutkan oleh gerakan badan Bu Clara yang udah mulai siuman. Secara reflek, Sandy bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah saklar lampu dan mematikannya. Tertegun Sandy berdiri di samping tempat tidur dalam kamar yang udah dalam keadaan gelap gulita itu. Sesaat kemudian terdengar suara Bu Clara.
“Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”
Sebentar kemudian suasana menjadi hening.
“Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh.., badanku juga telanjang, kemana pakaianku, apa yang terjadi..?” terdengar suara Bu Clara pelan dan serak.
Suasana hening agak lama. Sandy nggak tau apa yang harus dilakukannya. Dia diam saja.
Terdengar lagi suara Bu Clara mengeluh, “Oh.., tolonglah aku..! Apa yang terjadi padaku, mengapa aku bisa dalam keadaan begini, siapa yang melakukan ini terhadapku..?” keluh Bu Clara.
Akhirnya timbul kejantanan dalam diri Sandy, bagaimanapun setelah apa yang dia lakukan terhadap Bu Clara, Sandy harus berterus terang mengatakannya semuanya.

“Ini saya..,” gumam Sandy lirih.
“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu kembali lagi padaku..?” sahut Bu Clara agak keras.
“Bukan, ini saya Bu.., Sandy..,” Sandy berterus terang.

“Sandy..!” kaget Bu Clara mendengarnya.
“Apa yang kamu lakukan pada Ibu, Sandy..? Bicaralah..! Mengapa Ibu kamu perlakukan seperti ini..?” tanya Bu Clara kemudian.

Kemudian Sandy bercerita mulai dari awal sampai akhir, bagaimana mula-mula dia tertarik pada Bu Clara, sampai pada keheranannya bagaimana juga Bu Clara dapat hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasrat birahi Bu Clara. Juga nggak lupa Sandy menceritakan semua yang dia lakukan terhadap Bu Clara selama Bu Clara nggak sadar sebab pengaruh obat tidur. Tertegun Bu Clara mendengar semua perkataan Sandy. Lama mereka terdiam, tapi terdengar Bu Clara bicara lagi.

“Sandy.., Sandy.., Ibu memang menginginkan laki-laki yang bisa memuaskan hasrat birahi Ibu, tapi bukan begini caranya, mengapa kamu nggak berterus-terang pada Ibu sejak dulu, kalaupun kamu berterus terang meminta kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya kepadamu, sebab Ibu juga merasakan bagaimana nggak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki.”
“Terus terang saya malu Bu, saya malu kalau Ibu menolak saya.”
“Tapi senggaknya kan, berterus terang itu lebih sopan dan terhormat daripada harus memperlakukan Ibu seperti ini.”
“Saya tau Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun, saya siap diusir dari rumah ini atau apa saja.”
“Oh, nggak Sandy, bagaimanapun kamu telah melakukannya semua terhadap Ibu. Sekarang Ibu nggak lagi terpengaruh oleh obat tidur itu lagi, Ibu ingin kamu melakukannya lagi terhadap Ibu apa yang kamu perbuat tadi, Ibu juga menginginkannya Sandy nggak hanya kamu saja.”
“Benar Bu..?” tanya Sandy kaget.
“Benar Sandy, sekarang nyalakanlah lampunya, biar Ibu bisa melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Clara kemudian.

Tanpa pikir panjang lagi, Sandy segera menyalakan lampu yang sejak tadi padam. Sekarang terlihatlah kedua badan mereka yang sama-sama polos, dan telanjang bulat dgn posisi Bu Clara terikat tangannya.
“Oh Sandy, badanmu begitu atletis. Kemarilah, entot badan Ibu, Ibu menginginkannya Sandy..! Ibu ingin kamu memuaskan hasrat birahi Ibu yang selama ini Ibu pendam, Ibu ingin malam ini Ibu benar-benar terpuaskan.”

Perlahan Sandy mendekati Bu Clara, diperhatikan wajah yang tambah cantik itu sebab memang kondisi Bu Clara yang udah tersadar, beda dgn tadi ketika Bu Clara masih nggak sadarkan diri. Diusap-usapnya dgn lembut badan Bu Clara yang polos dan indah itu, mulai dari paha, perut, sampai payudara. Terdengar suara Bu Clara menggelinjang keenakan.
“Terus.., Sandy.., ah.. terus..!” terlihat badan Bu Clara bergerak-gerak dgn lembut mengikuti sentuhan tangan Sandy.
“Tapi, Sandy, Ibu nggak ingin dalam keadaan begini, Ibu ingin kamu melepas tali pengikat tangan Ibu, biar Ibu bisa menyentuh badanmu juga..!” pinta Ibu Clara memelas.
“Baiklah Bu.”

Sedetik kemudian Sandy udah melepaskan ikatan tali di tangan Bu Clara. Setelah itu Sandy duduk di pinggir tempat tidur sambil kedua tangannya terus mengusap-usap dan meremas-remas perut dan payudara Bu Clara.
“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Clara.
Sesaat kemudian ganti tangan Bu Clara yang meremas-remas dan menarik maju mundur kontol Sandy, nggak lama kemudian kontol Sandy yang diremas-remas oleh Bu Clara mulai mengencang dan mengeras. Benar-benar hebat si Sandy ini, dimana tadi kemaluannya udah terpakai sekarang mengeras lagi. Benar-benar hyper dia.

“Oh.., Sandy, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu panjang dan besar, ingin Ibu memasukkannya ke dalam memek Ibu.” kata Bu Clara lirih sambil terus mempermainkan kontol Sandy yang udah membesar itu.
Diperlakukan sedemikian rupa, Sandy hanya dapat mendesah-desah menahan keenakan.
“Bu Clara, oh Bu Clara, terus Bu Clara..!” pinta Sandy memelas.
Semakin hebat permainan seks yang mereka lakukan berdua, semakin hot, terdengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang keluar dari mulut mereka berdua.

“Oh Sandy, naiklah ke atas tempat tidur, naiklah ke atas badanku, luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu pada Ibu..! Ibu udah tak tahan lagi, ibu udah tak sabar lagi..” desis Bu Clara memelas dan memohon.
Sesaat kemudian Sandy udah naik ke atas tempat tidur, langsung menindih badan Bu Clara yang telanjang itu, sambil terus menciumi dan meremas-remas payudara Bu Clara yang indah itu.
“Oh, ah, oh, ah.., Sandy oh..!” nggak ada kata yang lain yang dapat diucapkan Bu Clara yang selain merintih dan mendesah-desah, begitu juga dgn Sandy yang hanya dapat mendesis dan mendesah, sambil menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan memek Bu Clara. Reflek Bu Clara memeluk erat-erat badan Sandy sambil sesekali mengusap-usap punggung Sandy.

Sampai suatu ketika, tangan Bu Clara memegang kontol Sandy dan memasukkannya ke dalam memek nya. Pelan dan pasti Sandy mulai memasukkan kemaluannya ke dalam memek Bu Clara, sambil kedua kakinya bergerak menggeser kedua kaki Bu Clara agar merenggang dan nggak merapat, lalu menjepit kedua kaki Bu Clara dgn kedua kakinya untuk terus telentang. Akhirnya setelah sekian lama berusaha, sebab memang tadi Sandy udah memasukkan kemaluannya ke dalam memek Bu Clara, sekarang agak gampang Sandy menembusnya, Sandy udah berhasil memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam memek Bu Clara.

Kemudian dgn reflek Sandy menggerakkan kedua pantatnya maju mundur teru-menerus sambil menghunjamkan kontol nya ke dalam memek Bu Clara.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar ketika Sandy melakukan aktivitasnya itu.
Terlihat badan Bu Clara bergerak menggelinjang keenakan sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya mengikuti irama gerakan pantat Sandy.
“Ah.., ah.., oh.. Sandy.., jangan lepaskan, teruskan, teruskan, jangan berhenti Sandy, oh.., oh..!” terdengar rintihan dan desahan nafas Bu Clara yang keenakan.
Lama Sandy melakukan aktivirasnya itu, menarik dan memasukkan kemaluannya terus-menerus ke dalam memek Bu Clara. Sambil mulutnya terus menciumi dan mengulum kedua puting payudara Bu Clara.

“Oh.., ah.. Bu Clara, oh.., kamu memang cantik Bu Clara, akan kulakukan apa saja untuk bisa memuaskan hasrat birahimu, ih.., oh..!” desis Sandy keenakan.
“Oh.., Sandy.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan seterusnya, oh Sandy.., Ibu udah tak tahan lagi, oh.., ah..!”
Semakin cepat gerakan Sandy menarik dan memasukkan kemaluannya ke dalam memek Bu Clara, semakin hebat pula goyangan pantat Bu Clara mengikuti irama permainan Sandy, sambil badannya terus menggelinjang bergerak-gerak nggak beraturan.

Semakin panas permainan seks mereka berdua, sampai akhirnya Bu Clara merintih, “Oh.., ah.., Sandy.., Ibu udah tak tahan lagi, Ibu udah tak kuat lagi, Ibu mau keluar, oh Sandy.., kamu memang perkasa..!”
“Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan hasrat Ibu sampai ke puncaknya..!” desis Sandy menimpali.
“Mari kita keluarkan bersama-sama Bu Clara..! Oh, aku juga udah tak tahan lagi,” desis Sandy kemudian.
Setelah berkata begitu, Sandy menambah genjotannya terhadap Bu Clara, terus-menerus tanpa henti, semakin cepat, semakin panas, terlihat sekali kedua badan yang basah oleh keringat dan telanjang itu menyatu begitu serasi dgn posisi badan Sandy menindih badan Bu Clara.

Sampai akhirnya Sandy merasakan badannya mengejang hebat, begitu pula dgn badan Bu Clara. Keduanya saling merapatkan badannya masing-masing lebih dalam, seakan-akan nggak ada yang memisahkannya.
“Ser.., ser.., ser..!” terasa keluar cairan kenikmatan keluar dari ujung kontol Sandy mengalir ke dalam memek Bu Clara, begitu nikmat seakan-akan seperti terbang ke langit ke tujuh, begitu pula dgn badan Bu Clara seakan-akan melayang-layang tanpa henti di udara menikmati kepuasan yang diberikan oleh Sandy.
Sampai akhirnya mereka berdua berhenti sebab merasa kelelahan yang amat sangat setelah bercinta begitu hebat.

Sejenak kemudian, masih dgn posisi yang saling menindih, terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Clara.
“Sandy, terima kasih atas apa yang telah kau berikan pada Ibu..,” kata Bu Clara sambil tangannya mengelus-elus rambut Sandy.
“Sama-sama Bu, aku juga puas sebab udah membuat Ibu berhasil memuaskan hasrat birahi Ibu,” sahut Sandy dgn posisi menyandarkan kepalanya di atas dada Bu Clara.
Suasana yang begitu mesra.

Janda sexy nafsu ngentot memek udah lama gak diasah, ngentot hot janda sexy binal doyan ngewe badan minta jatah kontol
Klik foto untuk memperbesar gambar - Janda sexy nafsu ngentot memek udah lama gak diasah

“Selama disini, mulai malam ini dan seterusnya, Ibu ingin kamu selalu memberi kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Clara.
“Saya berjanji Bu, saya akan selalu memberikan yang terbaik bagi Ibu..,” kata Sandy kemudian.
“Ah, kamu bisa saja Wan,” tersungging senyum di bibir Bu Clara.
“Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dgn Ida dan Bik Sumi..?” tanya Sandy.
“Lho, kita kan bisa mencari waktu yang tepat. Disaat Ida berangkat sekolah juga bisa, dan Bik Sumi di dapur. Di saat keduanya tidur pun kita bisa melakukannya. Pokoknya setiap saat dan setiap waktu..!” jawab Bu Clara manja sambil tangannya mengusap-usap punggung Sandy.

Sejenak Sandy memandang wajah Bu Clara, sesaat kemudian keduanya sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua terlampiaskan udah. Sambil dgn keadaan yang masih telanjang dan posisi saling merangkul mesra, mereka akhirnya tertidur kelelahan.
Janda sexy nafsu ngentot memek udah lama gak diasah
Janda sexy nafsu ngentot memek udah lama gak diasah, cerita seks , Janda sexy nafsu ngentot memek udah lama gak diasah, ngentot hot janda sexy binal doyan ngewe badan minta jatah kontol, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Janda sexy nafsu ngentot memek udah lama gak diasah

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com