Kisah istri nakal sensasi seks ngentot dua kontol

Cerita dari kisah seks nakal ku sebagai istri dimasa laluku adalah rahasia pribadiku. Tapi secara jujur udah kuceritakan semua kepada istriku. Tampaknya istriku penuh pengertian. Bahkan dengan tenang ia menanggapi pengakuanku, “Masih bagus Mas nggak main sama perempuan nakal. Jadi nggak ada penyakit yang dibawa ke masa depan anak-anak kita. Yang penting mulai sekarang Mas jangan macam-macam lagi ya.”


Oh, Chintia memang istri yang bijaksana. Bukan hanya cantik tapi juga memiliki jiwa yang besar. Membuatku semakin mencintainya.

Tapi pengalaman yang “aduhai” di masa laluku, seringkali menggodaku. Lalu mendatangkan fantasi baru. Fantasi yang ternyata banyak dikhayalkan oleh suami-suami lain. Aku masih ingat benar ketika aku menyetujui keinginan Aldi untuk gabung denganku, kemudian melakukan semuanya di villa Blue Roses. Kenangan itu melekat terus di batinku. Lalu kini berkembang. Mulai membayangkan seandainya istriku diajak melakukan seperti waktu di villa Blue Roses.

Pada mulanya aku sering berpikir apakah aku ini normal atau nggak. Tapi setelah membaca dari sebuah situs terkemuka di internet, katanya pikiran yang sering menggodaku ini normal-normal saja. Bahkan kata situs itu, lebih dari 40% para suami suka membayangkan seperti yang sering kubayangkan. Suka membayangkan, seandainya istri mereka di entot lelaki lain. Terutama mereka yang udah mulai dilanda kejenuhan dlm rumah tangganya.

Apakah aku udah mulai jenuh pada Chintia yang udah 10 tahun menjadi istriku dan menjadi ibu dari kedua anak-anakku? Bukankah dahulu aku begitu tergila-gilanya pada Chintia, jadi gak sabar lagi ingin cepat-cepat menikahinya waktu ia baru tamat SMA? krn takut keburu disamber pria lain?

Ya, tadinya Chintia adik kelasku di SMA. Waktu aku kelas 2, dia baru kelas 1. Dan aku hanya mengejar D2, lalu kerja dan cepat-cepat menikahi Chintia yang baru lulus SMAnya.

Chintia lahir dari keluarga yang cukup mapan. Sehingga ia nggak terlalu merongrong padaku, bahkan mertuaku mendorong agar aku melanjutkan kuliah sampai S1. Kerja sambil kuliah, akhirnya membuatku lumayan berhasil di kantorku. Setelah meraih S1, posisiku makin baik di kantorku.

Chintia bisa kusebut luar biasa bentuknya. Teman-temanku juga menganggapku sukses, krn berhasil mempersunting Chintia yang demikian cantik dan seksinya. Kulitnya termasuk putih bersih untuk ukuran orang Indonesia. Tubuhnya tinggi langsing, tapi toket nya lumayan montok, dengan bra ukuran 36, yang selalu dirawat agar tetap kencang. Wajahnya rada mirip Sarah Azhari. Bahkan di mataku, Chintia lebih cantik. Kulitnya pun lebih putih daripada kulit Sarah Azhari. Hanya hidungnya memang nggak sebesar hidung artis seksi itu. Tapi hidung Chintia tetap tergolong mancung.

Aku mau to the point mengapa aku membuat tulisan ini. Sekaligus untuk sharing dengan teman-teman yang memiliki kesamaan dengan pengalamanku.

Yang menjadi titik masalahku adalah gairah seksualku. Meskipun aku mempunyai seorang istri yang cantik dan seksi, gairah seksualku menurun sejak setahun yang lalu. Kalau aku ngentot dengan istriku, rasanya aku sangat memaksakan diri, mencari-cari gairah untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami. Padahal umurku baru 29 tahun, sementara istriku baru 26 tahun.

Aku sering merasa bersalah kalau nggak memenuhi kewajiban batin pada istriku. Padahal aku tahu Chintia sangat dominan nafsu seksnya. Terkadang ia sengaja merangsangku sedemikian rupa, dengan tujuan agar aku menyetubuhinya. Lalu aku pun mengkhayalkan macam-macam supaya gairah seksualku bangkit. Anehnya khayalanku lain dari yang lain. Aku suka membayangkan Chintia sedang di entot orang lain. Lalu aku merasa cemburu dan dari kecemburuan itu bangkitlah nafsuku. Kemudian aku berhasil membangkitkan kejantananku dan menggauli Chintia sebagaimana mestinya.

Aneh memang. Aku seperti mendapatkan obat yang mujarab kalau mengkhayalkan istriku sedang di entot orang lain, sementara aku seakan-akan berada di dekat mereka. Kemudian hal ini berlanjut dengan kebiasaan baru. Aku suka nonton dvd bokep. Tapi setelah sering digoda oleh khayalan aneh itu, aku jadi pilih-pilih waktu mau membeli plat dvdnya. Hanya yang 3some atau swinger yang kupilih. Yang 3some, hanya MMF (male-male-female) yang kupilih. Lalu aku nikmati dvd-dvd porno itu dengan membayangkan seolah-olah aku jadi salah seorang pria yang sedang menggauli wanita itu. Isteriku juga suka kuajak nonton bareng. Meski ia nggak begitu suka nonton film porno, tapi setelah sering kupaksa akhirnya mau juga menontonnya di dlm kamarku.

Waktu nonton film threesome atau bang my wife atau swinger, pada mulanya istriku berkomentar seperti nggak suka, “Ih…masa satu perempuan dikeroyok dua kontol laki-laki begitu?!”

Aku berusaha menjawab sambil memberi sugesti sedikit demi sedikit, “Tapi dengan threesome begitu, semua pihak jadi puas sekali.”

“Maksud Mas?” Chintia memandangku dengan sorot heran.

“Hehehe…cewek itu pasti akan merasa lebih puas digauli dua orang cowok daripada sama satu cowok. Lihat…dia dielus dari dua arah, jadi lengkap kan? Dan hehehe…pasti lebih variatif, karena jadi ada dua macam kontol ….”

“Tapi cowok-cowoknya?”

“Akan lebih puas juga. Waktu temannya sedang menyetubuhi perempuan itu, gairahnya jadi bangkit lagi. Jadi yang biasanya cuma kuat satu kali dlm semalam, kalau threesome begitu bisa tiga atau empat kali seorang. Kalau dua orang…ya bisa sampai delapan kali atau lebih perempuan itu menerima ejakulasi partner-partnernya.”

“Ihhh…” Chintia bergidik.

Lalu pandangan kami tertuju ke film lain. Tentang seorang suami yang udah tua, sementara istrinya masih muda. Judulnya juga “Please bang my wife”. Bisa ditebak seperti apa jalan cerita film itu.

Lagi-lagi istriku protes, “Kok bisa ya suami itu menyuruh orang lain menyetubuhi istrinya?”

“Itulah salah satu kreativitas dlm kehidupan seksual, untuk mengatasi kejenuhan. Di zaman sekarang hal seperti itu udah lazim.”

“Lazim?! Di barat kali Mas.”

“Di negara kita juga udah banyak sekali yang melakukannya. Nanti deh kuperlihatkan sebuah situs yang menawarkan swinger, threesome, gang bang dan sebagainya.”

Kemudian kujelaskan apa yang disebut swinger, threesome, gang bang dan sebagainya. Chintia seorang pendengar yang baik. Tapi malam itu ia memperlihatkan ketidaksetujuannya pada penjelasanku, “Manusia kok aneh-aneh sih? Masa istrinya dibiarin digauli orang lain? Disaksikan sama suaminya sendiri lagi. Apa suaminya nggak cemburu?”

“Tentu saja cemburu. Tapi dari cemburunya itu sang suami mendapatkan sensasi. Sehingga nafsunya jadi timbul secara luar biasa. Lebih hebat daripada memakai obat perangsang.”

“Ih,” istriku bergidik, “Kalau aku dibegituin sama orang lain, Mas begitu juga? Jadi tambah nafsu padaku?”

Pertanyaan itu agak mengejutkan. Terlalu cepat rasanya. Tapi aku berusaha menjawabnya sambil berusaha menenangkan diri, “Aku malah sering membayangkan kamu digauli pria lain. Khayalan itu memang nyebelin pada mulanya. Tapi anehnya, setelah membayangkan hal itu, nafsuku jadi timbul, sayang.”

Chintia menatapku dengan sorot penuh selidik, “Nggak salah tuh? Jangan memancing pertengkaran ah. Kita kan udah sepakat nggak mau bertengkar lagi, demi ketentraman anak-anak kita.”

Aku tersenyum. Kupeluk pinggangnya, lalu kuelus rambutnya sambil berbisik, “Aku serius, sayang. Hidup di zaman sekarang memang harus kreatif. Jangan berjiwa kampungan.”

“Maksud Mas? Mau ikut-ikutan seperti di film itu? Terus hubungan kita jadi rusak dan anak-anak jadi korban, begitu?”

Susah sekali meyakinkan istriku agar mengikuti jalan pikiranku. Padahal biasanya ia penurut, senantiasa mengikuti jalan pikiranku. Tapi seperti yang kubaca dari sebuah situs, hal seperti ini memang perlu waktu. Jangan memaksakan kehendak. Semuanya harus berjalan tenang dan smoothly.

Tapi diam-diam kubujuk terus istriku agar mau mengikuti apa yang senantiasa menggoda pikiranku. Jawabannya malah semakin tegas, “Nggak ah. Jangan ngaco Mas. Mungkin Mas udah bosan padaku dan ingin dapat izin untuk selingkuh dengan cewek lain kan? Buang saja jauh-jauh pikiran edan itu Mas. Ingat akibatnya nanti.”

Aku terhenyak. Tapi aku masih punya senjata. Dengan membelai rambutnya secara lembut dan berkata setengah berbisik, “Kamu salah paham, sayang. Fokusnya bukan seperti itu. Aku ingin mendapatkan manfaat yang fantastis dari keinginan itu. Sungguh, aku akan tetap mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku berjanji bahwa aku justru akan semakin mencintaimu, sayangku, buah hatiku, permataku….”

Chintia hanya menatapklu dengan sorot nanar. Lalu memelukku, tanpa kata-kata terlontar lagi dari mulutnya. Aku pun gak mau mendesak terus. Biarlah semuanya berjalan secara santai. Jangan ada unsur pemaksaan.

Tapi diam-diam aku pun semakin aktif mengcopy kisah-kisah dan pengakuan dari para pelaku swinger maupun threesome. Semuanya kusimpan di komputerku yang bisa selalu online ke internet di dlm kamarku. Dan pada suatu pagi, sebelum aku berangkat ke kantor, kubisiki istriku, “Nanti bacalah semua salinan dari situs terkenal itu. Aku udah saving di file dengan kode MMF. Minimal pelajari dulu, supaya kamu mulai mengerti, Yang.”

Istriku nggak menjawab. Tapi sorenya, setelah aku pulang dari kantor dan sedang menikmati kopi panas di depan TV, Chintia menghampiriku di sofa. Duduk di sampingku sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Dan berkata, “Tadi udah kubaca semuanya Mas.”

“File MMF itu?” tanyaku dengan jantung deg-degan, krn ingin tahu reaksinya.

“Iya,” sahut istriku perlahan, “Ternyata udah banyak yang melakukan itu, ya Mas. Hampir di semua kota besar di negara kita udah ada clubnya.”

“Iya. Dan kisah-kisah nyatanya udah dibaca juga?”

“Sudah. Ih…bikin aku degdegan bacanya.”

“Sekarang mari kita bicara jujur. Kamu terangsang nggak waktu membaca kisah-kisah nyata itu?” tanyaku sambil memperhatikan wajah istriku.

“Iya sih…terangsang banget….membayangkan dua orang cowok me…ah…pokoknya terangsang Mas. Tapi Mas nggak marah kan?”

“Kenapa harus marah? Kan semuanya itu aku yang mulai, aku yang menginginkannya, krn udah lama aku mengkhayalkannya.”

“Terus?”

“Sekarang ya terserah kamu, sayang. Aku nggak mau main paksa. Aku ingin agar seandainya hal itu terjadi, nggak ada yang merasa dipaksa.”

“Dan nggak boleh ada yang menyesal?!” Chintia menatapku dengan senyum malu-malu.

“Aku jamin, sayang. Kamu buktikan sendiri nanti, aku malah akan semakin sayang padamu.”

Istriku terdiam. Kuelus pipinya dengan lembut, “Sudah mulai mengerti apa yang kuinginkan?”

“Nggak tau Mas. Aku takut akibatnya. Lagian emang ada orang yang mau kita ajak?”

“Ada. Dijamin ada. Orangnya dijamin bersih. Tampan dan intelektual. Bukan orang urakan.”

“Lho…kok sepertinya udah dipersiapkan sematang itu, Mas?”

“Mmm…tadinya dia itu teman chatting. Dia orang baik. Sering datang ke kantorku. Dia udah 26 tahun, tapi masih bujangan. Dia trauma, krn pacarnya meninggal ketika dia sedang siap-siap mau menikahi cewek itu.”

“Kenapa meninggal? Kecelakaan?”

“Bukan. Kena kanker hati. Dibawa ke Singapura, tapi tetap nggak tertolong.”

“Terus…emangnya Mas udah janjian sama dia?”

“Baru diajak ngobrol sepintas saja. Dia cepat mengerti, krn pernah kuliah di Amerika. Dia bilang, di Amerika hal seperti itu udah biasa. Padahal sebenarnya di negara kita juga udah banyak yang melakukannya.”

Chintia terdiam. Ketika aku bertanya mengenai keputusannya, ia cuma berkata perlahan, “Nggak tau Mas. Aku masih takut…masih harus dipikirkan dulu baik buruknya.”

“Baiklah,” kataku sambil membelai rambutnya, “Pikirkan dulu sematang-matangnya. Yang jelas, aku menganggap hal itu positif. Sangat positif, demi keutuhan hubungan kita. Bukan sebaliknya.”

“Kedengarannya rada aneh memang. Demi keutuhan hubungan kita, tapi jalannya seperti itu,” kata istriku dengan nada dingin.

“Karena aku bisa memiliki khayalan yang fantastis. Lebih kuat daripada obat perangsang. Ini akan menimbulkan gairah yang luar biasa, baik bagiku maupun bagimu.”

Hari itu nggak ada keputusan. Keesokannya kudesak lagi istriku. Lalu ia berkata, “Kalau soft dulu bagaimana Mas? Jangan langsung…soalnya aku masih risih sekali.”

“Boleh,” sahutku gembira. Minimal udah ada “kemajuan” dlm pendirian istriku. “Misalnya ciuman saja dulu. Kalau kamu merasa kurang enjoy, ya jangan dilanjutkan.”

“Tapi Mas…jujur aja, aku belum bisa ngebayangin apa yang bakal terjadi nanti. Jangan-jangan aku pingsan sebelum ketemuan orang itu.”

“Hmmm…jangan takut, sayang. Kan ada aku di sampingmu,” kataku sambil mengelus punggungnya.

“Justru aku nggak bisa bayangin dipeluk…dicium dan sebagainya oleh laki-laki lain, di depan suamiku sendiri.”

“Yah…di situlah kita harus sama-sama tegar, demi sesuatu yang lebih bermanfaat buat batin kita.”





—-XXXXXXXXXXXXXX—-





BARU sampai di situ isi file “Istri Tercinta” itu. Jelas file itu belum selesai, kalau Mas Toni mau menyelesaikannya. krn aku paling tahu apa yang telah terjadi. Isi file itu baru awalnya, awalnya sekali.

Setelah membaca kisah nyata yang belum selesai itu, aku pun jadi tercenung dibuatnya.

Terbayang lagi semuanya dengan jelas di pelupuk batinku. Sangat jelas, krn itu awal dari suatu perjalanan yang tadinya kuanggap aneh, tapi lalu aku berusaha membiasakan diri. Dan lama kelamaan jadi suatu tuntutan batin, untuk melakukannya lagi dan lagi dan lagi.

Oh, kenapa aku harus mengalami kisah hidup seperti ini? Tapi, apakah aku bisa disalahkan? Bukan aku membela diri. Semua yang terjadi itu adalah untuk mengikuti keinginan suamiku. Tadinya aku malah gak pernah membayangkan akan terjadi seperti itu.

Aku masih ingat benar, sore itu aku masuk ke dlm hotel dengan jantung berdegup kencang. Mas Toni yang mengatur semuanya itu. “Kita harus datang duluan, supaya kamu nggak terlalu canggung, sayang.”

Kalau nggak salah jam 18.30 aku dan suamiku udah berada di dlm kamar hotel five star itu. Di kamar yang terletak di lantai 16. Padahal Mas Toni sendiri yang bilang bahwa janjinya dengan orang itu jam 19.30. Berarti harus menunggu sejam.

Aku menurut saja ketika suamiku menyuruhku mengganti pakaian dengan kimono yang dibawa dari rumah. “Biar lebih seksi,” katanya dengan senyum menggoda.

Kucubit lengan suamiku dengan jantung berdebar-debar. Lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti celana panjang dan blouse dengan kimono sutra putih bercorak sakura biru muda. Anehnya, di kamar mandi aku merasa harus menanggalkan behaku. Lalu menggantungkannya di kapstok kamar mandi. Apakah ini pertanda bahwa aku udah siap melakukan apa yang Mas Toni inginkan? Entahlah. Ketemu sama orangnya juga belum.

Waktu aku masih di kamar mandi, terdengar suara Mas Toni berbicara dengan seorang pria. Dengan siapa ya? Dengan bell boy? Tapi kedengarannya mereka cukup akrab. Membuatku penasaran. Lalu aku mengintip dari pintu kamar mandi yang kubukakan sedikit. Ada seorang cowok tinggi dan tampan sedang berbicara dengan Mas Toni. Ah…itukah orang yang udah dijanjikan oleh suamiku? Orangnya setampan itu? Ah…kenapa dia udah datang secepat ini? Bukankah janjiannya sejam lagi?

Lututku terasa gemetaran. Dengan perasaan bergalau.

“Chin…ini paul udah datang!” seru suamiku. Yang kusahut dengan “Iya,” sambil berkaca sebentar di depan cermin kamar mandi. Dengan jantung semakin degdegan.

Duh, apa yang akan terjadi nanti? Kenapa aku mendadak jadi grogi begini?

Aku keluar dari kamar mandi. Menghampiri suamiku dan tamunya yang…ah…benar-benar tampan orang itu!

“Kenalan dulu sayang,” kata suamiku sambil memegang bahuku.

Cowok yang kata suamiku udah berusia 26 tahun, tapi kelihatan jauh lebih muda, menjulurkan tangannya dengan senyum simpatik, sambil menyebutkan namanya, “Paul….”

“Chintia…” kataku mengenalkan diri, dengan suara tersendat.

Dan…tanganku yang sedang dijabat oleh Paul nggak dilepaskan. Bahkan ia menarikku untuk duduk di sofa panjang, sementara suamiku duduk di kursi lain sambil menggoyang-goyang kakinya.

“Cantik kan istriku?” kata Mas Toni.

Paul yang masih memegang tanganku dengan hangatnya, menatapku dengan senyum dan berdesis, “Iya Mas. Cantik sekali…”

Aku tersipu-sipu dibuatnya. Harusnya kutanggapi bahwa dia pun tampan sekali. Belakangan aku tahu bahwa Paul itu blasteran Menado dengan Belanda. Pantaslah tampang dan postur tubuhnya sebagus itu. Belakangan juga aku tahu bahwa kamar di hotel mahal itu dibayar oleh Paul.


“Mas, di kulkas hotel ini suka ada minuman, silahkan ambil sendiri,” kata Paul sambil menunjuk ke kulkas di kamar hotel berbintang lima itu.

Suamiku mengangguk, lalu melangkah ke arah kulkas itu. Sementara tangan Paul udah bukan memegang tanganku lagi, melainkan menyelinap ke belakang dan memeluk pinggangku. Ini membuatku semakin degdegan.

Apakah aku tergerak dengan semuanya ini? Ya, aku harus mengakuinya secara jujur. Tapi aku jadi begini gugupnya. Sementara harum khas parfum buat lelaki, tersiar ke penciumanku.

“Hebat,” seru suamiku sambil mengeluarkan beberapa botol minuman dari kulkas. Ada chivas regal, martini, tequila dan tiga sloki.

“Ayang suka ini kan?” kata suamiku sambil mendekatkan botol Martini ke dekatku. DI depan orang lain Mas Toni suka memanggilku dengan sebutan “ayang”, sebagai tanda menghargaiku.

“Tapi tequila lebih bagus,” kata Paul, “Bikin semangat.”

aku pernah mendengar bahwa tequila bisa membuat wanita jadi horny. Tapi aku belum pernah mencobanya. Aku memang bukan peminum, tapi sesekali bolehlah. Apalagi saat itu aku merasa butuh keseimbangan, mungkin bisa dibantu oleh minuman.

“Iya Mas. Aku ingin nyoba tequila,” kataku sambil berusaha menenangkan diri.

“Aku chivas regal aja, biar kerasa greng,” kata suamiku.

“Aku juga chivas, Mas,” kata Paul sambil mencium pipiku tanpa ragu. Aku terkejut. Tapi diam saja. Bahkan…aduh, aneh, tubuhku terasa lemas mendapatkan kecupan ini. Tapi harus kuakui sejujurnya, lemasnya ini krn belenggu birahi yang mulai mencuat di dlm batinku.

Dan setelah minum tequila, dinginnya AC nggak terasa lagi. Kecanggunganku juga mulai cair. Tapi tetap saja ada degdegan di dada, krn makin lama Paul makin merapatkan duduknya ke tubuhku, sementara Mas Toni malah menyalakan TV, dengan botol minuman di depannya dan sloki yang udah hampir kosong di tangannya. Aku mencuri pandang berkali-kali ke arah suamiku yang sedang memandang ke arah TV, dengan perasaan bersalah. krn tangan Paul mulai menyelinap ke balik belahan kimonoku di bagian dada. Pasti Paul tahu bahwa aku gak memakai beha di balik kimono sutra ini. Dan ketika tangannya memegang toket ku dengan lembut, oooh, aku benar-benar udah runtuh !

Desir darahku udah mulai merajalela dlm arus birahi yang gak terkendalikan. Tapi sebagai seorang wanita, aku masih menyembunyikan hasrat ini. Aku hanya membiarkan buah dadaku mulai diremas dengan lembut oleh belia tampan itu, sementara bibirnya berkali-kali mengecup pipiku. Aku juga tahu suhu badanku mulai meningkat.

“Mas Toni,” kata Paul pada suatu saat, “Mungkin lebih baik kalau lampunya dimatiin dulu, supaya kami nggak canggung. Nanti bisa dinyalakan lagi…kalau Mas setuju.”

“Iya, iya…” suamiku menjulurkan tangannya ke sakelar lampu yang nggak begitu jauh darinya. Lalu klik….lampu di kamar mewah ini pun mati. Hanya layar TV LCD yang masih membersitkan cahaya remang-remang.

Usul Paul bagus sekali.Karena setelah digelapkan, aku pun nggak merasa rikuh lagi. Bahkan ketika bibirnya mencium bibirku, kusambut dengan lumatan penuh gairah.

Sungguh, baru sekali inilah aku sangat bergairah untuk saling lumat bibir dan saling julurkan lidah. Maka tanpa ragu-ragu lagi aku mulai memeluk Paul erat-erat, terkadang bercampur dengan remasan bergelora.

Tapi…oh…jiwaku semakin diamuk nafsu, krn tangan Paul mulai merayapi lutut dan pahaku. Rasanya aku makin sulit bernafas. Sulit menahan gelora nafsu di dlm jiwaku. Aneh memang, elusan di pahaku terasa begini membangkitkan. Terlebih setelah menyelinap ke balik celana dlmku…mulai meraba-raba memek ku yang udah mulai merekah dan membasah. Mulai mengelus bibir memek ku, kelentitku dan ah…ini membuatku semakin tergetar dlm arus birahi yang semakin merajalela. Terlebih ketika jemari nakal itu mulai menyelinap ke dlm celah nonok ku, lalu bergerak-gerak binal di dlm liang nonok ku, ah, rasanya gak tahan lagi aku dibuatnya. Aku udah kepengen merasakan kejantanan. Tapi aku harus menahan diri. Kubiarkan saja tangan Paul mempermainkan liang nonok ku. Bahkan kubiarkan juga celana dlmku ditarik sampai terlepas dari kakiku. Berarti di balik kimono ini aku nggak mengenakan apa-apa lagi.

“Minta lagi tequilanya, Paul,” bisikku. Paul mengangguk, lalu menuangkan tequila ke slokiku. Kuteguk setengahnya. Lalu aku merasa semakin bergairah. Sesekali aku melirik ke arah Mas Toni yang masih tampak di keremangan, masih asyik menonton TV. Lalu kubiarkan tangan Paul mengelus dan mencolek-colek memek ku lagi. Bahkan seperti pencuri yang memanfaatkan kelengahan calon korban, diam-diam tanganku mulai menarik celana Paul. Lalu menyelinap ke balik celana dlmnya. Berdegup jantungku dibuatnya, krn aku sedang memegang kontol yang begini besar dan panjangnya…sudah keras dan hangat pula ! Secara jujur harus kuakui, kontol Paul jauh lebih besar dan panjang daripada punya Mas Toni.

Ini membuatku semakin bernafsu. Tanpa ragu lagi tanganku mulai meremas dan mengelus kontol Paul dengan lembut. Diam-diam Paul pun mulai menanggalkan celana panjang dan celana dlmnya.

Dan aku gak tahu lagi apa yang harus kulakukan, ketika Paul melepaskan ikatan tali kimonoku, lalu dengan hangat mencelucupi puting toket ku. Aku menggeliat dan merebahkan diri, terlentang di sofa panjang yang ukurannya hampir sama dengan bed nomor 3 itu.

Tapi jilatan dan sedotan Paul gak terbatas pada puting toket ku saja. Ia menjilati leherku. Lalu melumat bibirku, yang kusambut dengan lumatan hangat juga. Lalu turun lagi, dengan gigitan-gigitan lembut di payu daraku. Dengan jilatan-jilatan hangat di pusar perutku…dan turun terus…mulai menjilati memek ku. Oh, aku gak kuat menahan nafsu birahiku. Jilatan Paul memang enak sekali. Membuat sekujur tubuhku sering mengejang dan menggeliat.

Aku gak kuat lagi. Ingin segera merasakan persetubuhan yang sebenarnya. Maka kucubit-cubit bahu Paul, sebagai isyarat agar dia menghentikan jilatannya, lalu mulai dengan persetubuhan yang sebenarnya. Tapi bagaimana dengan suamiku yang tampak masih asyik menikmati minumannya?

Paul mengerti apa yang kuinginkan. Ia merayap ke atas tubuhku, sambil meletakkan puncak “pohon jamur”nya di antara sepasang bibir memek ku. Dan sebelum melakukan penetrasi, Paul berkata, “Silakan nyalakan Mas…”

Aku terkejut. gak menyangka Paul akan minta diterangin lagi. Padahal aku sedang di puncak hasrat birahiku. Dan kamar ini jadi terang kembali. Tepat pada saat Paul tinggal mendorong saja kontol nya yang udah siap di mulut nonok ku.

“Mas…mohon izin…” kata Paul sambil menoleh ke arah suamiku.

Aku juga menatap suamiku, seolah-olah minta izin juga.

Mas Toni menghampiri kami. Mengelus pipiku sambil tersenyum, “Ya, lakukanlah. Ini rahasia kita bertiga. Orang luar takkan ada yang tahu.”

Tanpa basa basi lagi Paul mendesakkan kontol nya yang panjang gede itu. Perlahan-lahan terasa liang kenikmatanku diterobos kontol yang jauh lebih besar daripada kontol suamiku. Membuatku terengah dan memegang pergelangan tangan Mas Toni erat-erat. Oh…ini adalah pertama kalinya nonok ku dimasuki kontol orang selain suamiku sendiri!

Tapi Mas Toni malah tersenyum dan berkata, “Nikmati saja. Ini kan keinginan aku, sayang. Jangan kaku…lebih hot lebih bagus.”

Lalu suamiku duduk lagi di kursi depan TV, sambil menyaksikan kejadian yang sedang kualami. Apakah aku mulai dipengaruhi tequila yang kuminum tadi, ataukah memang gairah birahiku sedang memuncak, atau krn ukuran kontol Paul yang aduhai…entahlah. Yang jelas aku mulai menikmatinya. Mulai merasakan enaknya ayunan kontol Paul, yang begitu mantap dan terasa sekali begitu kuatnya menggesek-gesek dinding liang nonok ku. Oh, ini membuatku mulai mendesah-desah histeris…aaaah….oooh…aaah….oooh….aaaah….

Lebih enak lagi ketika Paul mulai mengemut puting toket ku, menyedot-nyedot dan menjilatinya, sementara kontol nya demikian mantap mengentot nonok ku.

Tak peduli lagi dengan kehadiran suamiku, maka terlontar begitu saja celotehan histeris dari mulutku yang sedang diamuk kenikmatan, “Oo….paul…ooo….ini enak sekali Paul….aaaah….terus entot jangan brenti-brenti paul…ooooh….”

Ketika aku melirik ke arah Mas Toni, malah kulihat suamiku mengacungkan jempolnya. Mungkin ia sangat terangsang dengan apa yang sedang kulakukan dengan Paul yang tampan dan perkasa ini. Maka tanpa ragu lagi aku pun mulai mengayun pinggulku.

Rasanya Paul sangat memperhatikan titik-titik kenikmatan seorang wanita. Waktu mengayun kontol nya, bibir dan tangannya pun tiada hentinya menyelusuri titik-titik peka di tubuhku. Terkadang ia menggigit daun telingaku dengan lembut, kadang-kadang juga menjilati lubang telingaku, lalu menggigit-gigit kecil di leher dan buah dadaku, lalu melumat bibirku kembali, sementara batang kontol nya benar-benar perkasa bergerak ngentot dengan mantapnya di dlm liang nonok ku istri yang binal.

Aku jadi merasa punya tempat pelampiasan. Sambil mendekap pinggang Paul erat-erat, kulumat bibir cowok tampan itu.

Aneh memang. Berciuman dengan Paul terasa indah sekali. Malah lebih indah daripada berciuman di masa remajaku dengan Mas Toni dulu.

Semuanya membuatku lupa daratan. Saling lumat bibir dan lidah, sehingga gak peduli lagi dengan air ludah yang bertukar-tukar tampat, sambil saling dekap erat dan hangat, sementara nonok ku dienjot terus dengan mantapnya oleh kontol Paul yang “giant size” itu.

Aku malah dibuat lupa bahwa di kamar mewah itu ada suamiku yang sedang menyaksikan semuanya ini. Soalnya gesekan kontol Paul yang begitu terasa mendenyut-denyutkan kenikmatanku telah membuatku seolah tiada orang ketiga di kamar ini. Lagian aku teringat pada ucapan suamiku sendiri sebelum Paul datang tadi, “Lakukan semuanya seseksi mungkin. Semakin kelihatan bergairah, akan semakin positif pengaruhnya bagi jiwaku.”

Jadi, salahkah kalau aku menikmati semuanya ini demi kepuasanku dan demi keinginan suamiku sendiri?

Tapi terlalu enaknya geseran kontol Paul, ditambah dengan saling lumat bibir dan saling remas dengan hangat dan gairah birahi yang terlalu dahsyat ini, membuatku cepat mencapai titik orgasme…membuatku mengejang sambil merasakan puncak kenikmatan dari hubungan seksual yang aduhai ini. http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com Maka aku pun mengejang, menahan napas dan memeluk pinggang Paul seerat-eratnya. Lalu terasa liang nonok ku berkedut-kedut. Ini orgasmeku yang aduhai. Tapi aku nggak mau membisikkannya kepada Paul bahwa aku udah mencapai orgasme, krn malu.

Hanya saja aku jadi terdiam dlm lunglai dan kepuasan. Sementara kontol Paul jadi lancar bergerak maju mundur di dlm liang nonok ku yang udah mulai basah oleh lendir kenikmatanku.

Dalam kondisi yang masih lesu, tapi gairah masih berkobar, aku baru teringat pada suamiku yang sedang memperhatikan gerak-gerikku sambil tersenyum-senyum. Aku jadi merasa kasihan juga padanya. Lalu kulambaikan tanganku agar ia mendekat.

Mas Toni mendekatiku. Tanganku menjulur dan mrnarik-narik ritsleting celananya. Ia mengerti apa tujuanku. Disembulkannya kontol nya dari belahan celananya.

Sudah keras sekali! Lalu kutarik ke arah mulutku untuk ke sepong kontolnya.

Mas Toni jadi pindah untuk mencapai tujuanku. Dia jadi berlutut dengan kaki berada di kiri kanan kepalaku. Sementara Paul mengentotku sambil menahan badan dengan kedua tangannya.

Aku berhasil menarik kontol Mas Toni ke dlm mulutku. Akupuin mulai menjilati dan menyedot-nyedot kontol Mas Toni. Ini adalah pertama kalinya aku meladeni dua orang pria sekaligus.

Bukan main…aku jadi sibuk tapi nikmatnya luar biasa.Gesekan-gesekan kontol Paul yang makin gencar mengentot nonok ku, membuatku terengah-engah dlm nikmat. Lalu kulampiaskan ke arah kontol suamiku, dengan menyepong seliar mungkin.

Sungguh aku gak menduga akan mengalami peristiwa yang luar biasa bergairahnya ini. Tapi sayang sekali, baru beberapa menit kuselomoti kontol Mas Toni, lalu terasa menyembur-nyemburkan air mani di dlm mulutku! Mungkin ia sangat terangsang melihat persetubuhanku dengan Paul, sehingga cepat sekali ia mengalami ejakulasi. Tanpa banyak protes, kutelan seluruh cairan kental dari kontol suamiku ini. gak kusisakan setetes pun.

Supaya nggak mendatangkan kesan kurang enak, aku minta tequila lagi. Suamiku menuruti permintaanku. Kuminta agar Paul mencabut dulu kontol nya dari nonok ku. Lalu kuteguk tequila di slokiku sekaligus. Gairahku semakin menjadi-jadi setelah minum tequila yang konon dibuat dari sari buah nanas itu.

Aku mengajak Paul pindah ke atas tempat tidur. Paul setuju. Sementara suamiku merebahkan diri di sofa panjang itu. Pasti krn lemas setelah ejakulasi tadi.

“Tukar posisi ya,” kataku sambil mendorong dada Paul agar menelentang di kasur. Paul tersenyum dan mengikuti kehendakku. Kemudian aku merayap ke atas tubuhnya. Memegang kontol nya sambil mengarahkan ke mulut nonok ku.

Dengan gairah yang makin menggila, aku menurunkan pantat ku, sehingga kontol Paul membenam ke dlm memek ku.

Aku menjatuhkan diri ke dada Paul, sehingga toket ku terasa mendesak dadanya yang bidang dan atletis.

Seperti serigala lapar, aku dengan edan mengayun pinggulku, naik turun dan meliuk-liuk, sehingga liang nonok ku seperti membesot-besot kontol Paul…membuat Paul ternganga-nganga mungkin krn merasa enaknya besotan liang nonok ku. Tapi kututup mulut Paul dengan ciuman hangatku, yang lalu menjadi luamatan penuh gairah. Aku udah minum tequila lagi tadi, membuatku yakin takkan ada bau kurang sedap tersiar dari mulutku. dlm posisi seperti ini, terasa pantat montok ku diremas-remas oleh Paul, membuatku tambah bersemangat untuk mengayun pantatku dengan gerakan yang erotis, terkadang gerakan pinggulku seperti angka 8.

Aku gak peduli lagi siapa diriku dan siapa lelaki muda yang sedang bersetubuh denganku. Mungkin Mas Toni benar, seperti yang diungkap dlm file pribadinya itu, bahwa aku ini pada dasarnya memiliki nafsu besar. Hanya aku sering menyembunyikannya, krn aku ini seorang wanita.

Gilanya, Paul belum ejakulasi juga. Padahal aku udah 3 kali merasakan orgasme.

“Kamu minum obat kuat?” bisikku terengah, tanpa menghentikan ayunan pinggulku.

“Nggak. Swear…nggak pernah menyentuh obat kuat segala macam…” sahut Paul sambil menciumi puting toket ku.

“Kamu kuat sekali sayang….kalau begini aku bisa ketagihan kontol mu nanti…” bisikku pelan, takut kedengaran sama Mas Toni.

“Emang biasanya suka berapa jam?”

“Nanti deh kuceritakan. aku memang lain dari yang lain…oooh….nonok mu enak sekali Mbak….aku juga pasti ketagihan nih…” Paul terpejam-pejam ketika liang nonok ku membesot dengan kencang. Ini sebenarnya untuk kenikmatanku juga. krn makin kencang aku membesotnya, makin enak juga rasanya buatku.

Aku nggak tahu apa yang ia maksud dengan “lain dari yang lain”. Aku cuma merasa ia terlalu tangguh, sehingga aku harus berjuang keras untuk membuatnya ejakulasi. Maka entotan liang nonok ku juga semakin kupergila. Tapi akibatnya…aku malah orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya. Gila, belum pernah aku mengalami persetubuhan seedan ini.Padahal keringat Paul udah membasahi tubuhnya, berbaur dengan keringatku.

Paul malah seperti menyukai keringat yang membasahi leherku. Ia pun menjilati keringat di leherku, membuatku merinding dlm nikmat. Sungguh…tak pernah kubayangkan bahwa ide suamiku telah memberikan kenikmatan yang aduhai begini.

Kelopak mataku juga gak luput dari kecupan dan jilatannya. Sehingga aku makin bersemangat untuk mengayun pinggulku, tanpa mempedulikan suamiku yang udah terkapar di sofa.

kontol Paul yang begitu panjangnya, membuat ujung liang nonok ku disundul-sundul terus. Sungguh fantastis rasanya, krn puranaku (seperti cincin yang berada di ujung liang nonok ) disundul-sundul terus, membuatku merem melek dlm nikmat yang sulit kulukiskan dengan kata-kata.

Paul sendiri sering membisikiku, “Mbak…oooh…Mbak enak sekali….luar biasa enaknya….”

Aku sendiri seolah nagih seks dengan kontol lain saking nikmatnya seks ini. Sehingga terkadang aku meremas setengah mencakar-cakar bahu Paul dlm keadaan lupa daratan.

Begitu lama Paul entot memek aku si istri nakal yang binal, sehingga aku merasa berkali-kali orgasme, tapi aku nggak mengatakannya, krn malu mengakui bahwa semuanya ini terlalu nikmat bagiku.

Sampai pada satu saat, Paul membisiki telingaku, pelan sekali, seperti takut terdengar oleh suamiku: “Aku mau keluar…gak kenapa kalau ku keluarin di dlm?”

Aku malah menjawabnya dengan spontan, “Iya, keluarin di dlm aja biar enak.”

Kisah istri nakal sensasi seks dua kontol, suami ku ingin threesome ngentot dengan cowok lain, istri binal tukang selingkuh
Klik foto untuk memperbesar gambar - Kisah istri nakal sensasi seks ngentot dua kontol

Lalu kugoyang pinggulku seedan mungkin. Dan pada satu saat Paul menekankan kontol nya sedalam mungkin, sampai aku terbeliak dlm arus birahi seks yang nikmat dan fantastis. Dan kontol perkasa itu terasa mengejut-ngejut di dlm liang nonok ku, sambil menyemprot-nyemprotkan peju hangat dan kental…srrrt…srrrt…srrttttt…srttttt…..oooh enak sekali semburan air mani Paul ini. Rasanya baru sekali ini aku meresapi arti nikmatnya bersetubuh,bukan dengan suamiku pula, sehingga aku mendekap pinggang Paul dengan penuh perasaan. Dan membiarkan keringatnya membanjiri tubuhku. Air maninya pun terasa meluap, meleleh dari nonok ku ke seprai. Begitu banyak dia memuntahkan air maninya.

Oh, indahnya malam yang penuh birahi ini…..seakan takkan berujung…seakan nafasku udah menyatu dengan perjalanan baru ini
Kisah istri nakal sensasi seks ngentot dua kontol
Kisah istri nakal sensasi seks ngentot dua kontol, cerita seks , Kisah istri nakal sensasi seks dua kontol, suami ku ingin threesome ngentot dengan cowok lain, istri binal tukang selingkuh, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Kisah istri nakal sensasi seks ngentot dua kontol

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com