Pesta Seks Gadis Binal 17 Tahun Gangbang Dirumah (seri 2)

Hari ini, saya bangun agak telat, kira-kira jam 7 lewat. Itu pun krn sinar terik dari matahari yang menerpa wajahku dari kaca jendela, yang gordennya lupa kututup tadi malam. Sekarang rumahku pasti sedang lengang, tinggal Siti dan Sulikah, 2 pembantu wanita di rumahku. Keduanya berumur 20 tahun. Juga Suwito yang berumur 24 tahun, dan Wawan yang berumur 23 tahun, 2 pembantu laki laki di rumahku. Dan juga ada pak Arifin yang udah berusia 45 tahun, sopir yang setia mengantarku sejak saya masih kecil. Kedua ortuku saat ini lagi ada di luar negeri. Dan saya baru ingat, kakakku menginap di rumah temannya, mengerjakan tugas kelompok.

Juga saya baru ingat, Siti sedang pulang kampung, untuk mengurus KTPnya yang udah hampir habis masa berlakunya. Dengan malas saya bangkit menuju kamar mandi, menyalakan shower dan mandi sembari mengingat ingat kegilaanku kemarin, bikin saya sedikit tersenyum malu saat saya menyikat gigiku. Setelah selesai saya mengeringkan badan saya dan mengenakan baju santai. krn bangun kesiangan, saya yang biasanya ke ibadah jam 8 pagi, terpaksa datang ke sesi 9:30 nanti krn sekarang udah jam 8 lebih dan masih ada waktu kira-kira satu jam buatku sebelum pergi. Setelah itu, jadwal kegiatanku adalah latihan balet jam 5 nanti, dan saya harus berangkat setengah jam sebelumnya. Demikian rutinitas kegiatanku tiap minggu. Kadang memang di siang hari setelah pulang ibadah, saya jalan jalan ke mall, tapi hari ini rasanya saya amat lelah, bikin saya malas keluar, dan memutuskan untuk istirahat aja sepulang ibadah sampe saat ke sekolah balet nanti . Selain itu selangkanganku masih agak ngilu akibat digangbang kira-kira dua jam kemarin.

Setelah merapikan penampilanku dengan menyisir rambutku supaya gak awut awutan, saya keluar ke ruang makan. Setelah ngambil nasi dan lauk yang tersedia, saya berniat bikin susu kesukaanku, tapi saya lihat toples gula di meja pinggir udah kosong, jadi saya ke dapur sebentar untuk ngambil gula. Di sana saya disuguhi pemandangan yang bikin saya terbelalak. Sulikah yang menurutku berwajah cantik ini sedang mencuci peralatan masak, dan di entot dari belakang oleh Wawan yang menurutku tampangnya amburadul dengan ganas. Pakaiannya udah gak karuan, badan sexy nya yang mungil seukuran denganku terlihat mengejang sexy setiap kontol Wawan ngentot memek nya dalam dalam. Mereka mendesah bersahut sahutan, tanpa menyadari keberadaanku kini yang terpaku melihat adegan itu. pas saat Wawan ngecrot, tiba tiba Suwito masuk dari pintu belakang, gilanya, dengan telanjang bulat, bikin saya memekik kaget. Hal ini menyebabkan Sulikah dan Wawan menoleh ke arahku dengan wajah seperti orang yang baru melihat setan, dan mereka segera melepaskan kontol yang lagin ngentot dengan hot itu. Mereka terlihat gugup dan bingung, demikian juga Suwito yang tampak panik bertanya dengan tergagap gagap, "Lho.. Non Eliza. kok belum. berangkat?". Ditanya demikian saya menjawab, "Iya, saya tadi bangunnya kesiangan. Maaf mengganggu, saya cuma mau ambil gula di dapur". Mereka masih diam tertunduk saat saya ngambil gula di rak dapur, dan saya bergegas kembali ke meja makan dengan berusaha gak memikirkan hal yang baru aja terjadi. Waktu jadi terasa berjalan lambat ketika saya sarapan pagi, dan setelah selesai saya berniat kembali ke kamarku.

saya berdiri dari kursi, tapi baru saya akan melangkah, tiba tiba Sulikah, Wawan dan Suwito muncul dan menghadapku dengan takut takut. "Non Eliza, kita minta maaf. Tolong jangan bilang ke orang tua non atau kakak non ya.. kita gak tahu harus gimana kalau sampe kita dipecat", kata Wawan mewakili mereka. saya terdiam beberapa saat. Melihat mereka semua begitu tegang, saya merasa iba. "Kalian tenang aja. Saya memang gak ada niat sama sekali untuk melaporkan hal tadi. Cuma saya pesan, lain kali kalian hati hati ya, jangan tampak kakak saya, apalagi orang tua saya. Nanti urusannya bisa panjang", kataku sembari tersenyum. saya memang gak ada niatan sedikitpun untuk melaporkan hal ini pada siapapun. Mereka terlihat begitu lega dan mengucap terima kasih berulang ulang. Lalu setelah semuanya tenang kutinggalkan mereka kembali ke kamarku. sampe di dalam kamar, teringat apa yang mereka perbuat tadi bikin saya kembali membayangkan saat saat saya digangbang kemarin, bikin nafas saya sedikit memburu krn tiba tiba aja gairah sex saya naik. saya mulai melamun tentang keadaanku. saya masih belum punya pacar. Memang ada banyak cowok di sekolahku yang mendekatiku, tapi semuanya kutolak dengan halus, krn berulang kali ortuku mewanti wanti saya supaya nggak pacaran waktu masih sekolah. meski begitu, saya sebenarnya tertarik pada seorang dari mereka yang bernama Andi. Tapi, kini saya udah nggak perawan lagi, satu satunya yang sedikit saya sesali setelah acara gangbang itu, bikin saya murung membayangkan bagaimana pandangan Andi terhadap diriku kelak kalau dia tahu.

Jam dinding di kamarku berbunyi, menunjukkan jam 9. Oh, saat saya berangkat nih. saya segera bangkit dan berganti pakaian, lalu turun menuju garasi. Pak Arifin seperti biasa menawari saya "Non mau saya antar ke mana?". dia lupa kalau saya udah bisa membawa mobil sendiri, tapi kali ini saya pikir ada baiknya juga kalo saya nggak menyetir sendiri. Rasa pegal pegal pada badan saya masih belum hilang seluruhnya, padahal nanti sore masih ada balet. "ke tempat ibadah pak", kataku. dia membukakan pintu belakang mobil yang biasa dipakainya untuk mengantarku. Sepanjang perjalanan, saya cuma melamun, membayangkan apa yang kira kira terjadi sekarang. Apakah Sulikah kembali bermain sex dengan Wawan dan Suwito? gak terasa, saya udah sampe di tempat ibadah. Setelah melakukan kebaktian rutin yang lamanya kira-kira satu setengah jam dengan pikiran yang melayang kemana mana, saya segera pulang. Di dalam mobil, saya yang sejak di dalam tempat ibadah tadi udah mulai mengantuk, kini rasa kantuk saya tambah kuat rasanya, sehingga saya tertidur di kursi belakang mobil. nggak tau apa yang terjadi, saat saya bangun saya udah di ranjang kamar tidurku, bikin saya tersentak kaget. saya memeriksa keadaanku, yah, pakaian saya masih lengkap, bra dan celana dalam saya masih melekat dengan baik. Tapi celana dalam saya terlihat amat basah, tampaknya oleh cairan cintaku. pakaian saya juga kusut sekali. Sialan, siapa ya yang mempermainkan badan saya selagi saya tidur? Dan ketika saya berdiri, kedua betis saya terasa pegal seperti kemarin. Duh, sore ini saya harus latihan balet.

Jam menunjukkan pukul 2 siang. Berarti saya tidur kira-kira 3 jam. Mengingat saya tadi diantar pulang pak Arifin, kecurigaanku mengarah kepadanya. Hmm sialan tuh orang, cari kesempatan dalam kesempitan, pikirku. Dengan sedikit kesal saya turun mencarinya. Tapi saya berpikir, bagaimana kalo pak Arifin menanyakan apa bukti kalo tadi itu perbuatan dia? Akhirnya saya memutuskan untuk mendiamkan hal ini, dan saya pun ke ruang makan krn merasa lapar. Terlihat udah ada masakan untukku, pasti Sulikah yang masak. Masakannya memang selalu lumayan enak sesuai dengan selera saya, bikin saya makan sedikit lebih banyak dari biasanya, dan seperti biasa saya selalu minum susu, tapi kali ini tanpa gula. Selagi makan, saya mendapat ide. Nanti saya minta pak Arifin kembali mengantarku, lalu saya pura pura tertidur. Jadi saya bisa mengetahui, siapa yang tadi berbuat iseng padaku. saya tersenyum senang krn merasa dengan begitu saya bisa menemukan pelakunya. Selesai makan saya kembali ke kamarku, menyetel musik kesukaanku, dan mandi busa untuk menyegarkan badan saya. Selesai saya puas mandi memanjakan badan saya, jam menunjukkan pukul 4 sore. Wah, setengah jam lagi harus berangkat nih. saya pun mengeringkan badan saya dan rambutku. Setelah itu, saya mengenakan kostum baletku setelah memakai bra dan celana dalam ketat yang berwarna putih serta stocking ketat model jaring berwarna hitam, yang saya bisa pastikan saya terlihat amat sexy dan menggairahkan jika memakainya. Lalu saya mengenakan blus terusan berwarna biru, jadi nanti di sana saya gak perlu ganti lagi di ruang ganti, tinggal melepas blus biru yang cukup ketat ini dan cuma mengganti sepatuku yang kupakai sekarang dengan sepatu balet.

Setelah selesai saya segera menuju garasi, dan seperti yang saya harapkan, pak Arifin seperti biasa menunggu di samping mobil yang tadi itu. Sebelum dia menawari saya udah berkata "pak, tolong ke sekolah balet". Dan setelah membuka pintu mobil untukku, dia segera melajukan mobil ini ke tempat tujuan. saya memperhatikan pandangan matanya, kalau kalau dia melirik ke arah badan saya. Namun gak kutemukan tanda tanda itu sampe akhirnya kita sampe ke tujuan. saya mengangkat bahu, dan kemudian masuk seperti biasa, untuk berlatih tari balet. kita akan show di akhir tahun nanti, dan saya adalah penari utamanya, mungkin selain wajahku yang cantik dan badan saya yang indah, saya juga dinilai oleh guru balet kita sebagai yang paling lentur dan indah gerakannya. Namun hari itu, saya hampir gak bisa menunjukkan performa terbaikku, selain krn pikiranku yang melayang, badan saya juga gak mau diajak kompromi, terutama selangkanganku yang masih terasa sedikit ngilu dan betis saya yang terasa pegal pegal. Akibatnya hari itu saya lumayan bad mood, dan berlatih ala kadarnya. Untung aja, guru balet kita merasa itu udah cukup, dan setelah selesai, saya segera pulang. Dan seperti yang udah kurencanakan tadi, saya di mobil pura pura mengeluh, "Aduh.. hari ini kenapa ya.. dari tadi ngantuk terus." seperti mengguman pada diri sendiri, namun saya yakin cukup keras untuk terdengar oleh pak Arifin. Lalu untuk lebih meyakinkan, saya menguap berulang kali seperti tadi siang, dan pura pura bersandar tertidur. saya benar benar penasaran, apa yang akan terjadi.

Akhirnya kita sampe di rumah. saya membuka mata sedikit untuk memastikan, kemudian saya kembali memejamkan mata dan berusaha bersikap sewajarnya seperti orang tidur. Setelah mobil ini masuk garasi, pak Arifin memanggil Sulikah, yang segera datang, membantu mengangkatku ke atas, krn kamarku memang di lantai 2. sampe di atas, saya mendengar suara Wawan dan Suwito yang bertanya, "Lho pak, ketiduran lagi seperti tadi siang?". "Iya, rupanya kecapaian nih non Eliza setelah berlatih balet", kata pak Arifin. Setelah saya rasakan badan saya terbaring di ranjang, jantungku makin berdebar, menunggu apa yang akan terjadi. Sulikah menyelimutiku, lalu berkata,"Ya udah, ayo kita turun". Dan mereka semua keluar dari kamarku, meninggalkanku yang tambah bingung dan penasaran. Namun naluriku berkata, saya harus tetap pura pura tertidur. Ternyata dugaanku benar, beberapa menit kemudian pintu kamarku kembali terbuka, dengan suara yang sangat pelan. Namun saya bisa mendengarnya, krn saya memang nggak tidur. Dengan jantung berdebar saya menunggu untuk mengetahui siapa yang akan berbuat iseng ini. saya sedikit membuka mataku dengan amat hati hati, dan segera memejamkan mataku lagi. Ya ampun, saya melihat Wawan dan Suwito berjalan mengendap endap ke arahku yang tergolek di ranjang. Ternyata merekalah pelakunya! Kurang ajar betul mereka ini, udah untung saya tadi pagi cuek dengan kelakuan mereka terhadap Sulikah, tapi kini mereka malah ngelunjak, hendak mengisengi anak majikan mereka. Sementara kudengar di bawah, Sulikah dan pak Arifin sedang bercanda, terdengar dari tawa Sulikah yang renyah, bikin saya menduga duga, apakah Sulikah juga ada main dengan pak Arifin.

Tapi, gak ada waktu untuk memikirkan orang lain, krn badan saya sedang dijahili kedua pembantuku ini. Kurasakan mereka menyingkap selimutku, kemudian mulai meremasi toket ku, bikin saya hampir gak tahan untuk mendesah. saya bertahan berpura pura tidur, selain takut mereka akan berbuat yang lebih jauh jika saya "terbangun", saya cuma berharap mereka akan menghentikan aktivitas mereka setelah bikin cairan cintaku membanjir keluar, seperti tadi siang. Duh, mana saya masih memakai stocking dan celana dalam yang ketat lagi. Mereka terus meremasi toket ku dan nafas mereka tambah memburu, tampaknya mereka udah terbakar nafsu. Sementara saya berusaha keras meredam gairah sex saya yang mulai naik, dengan cara membayangkan wajah orang yang sangat jelek. Celakanya, mereka melanjutkan remasan di toket ku dengan rabaan pada perutku, kemudian dengan nakal mereka bergantian menekan nekan memek saya yang masih tertutup 4 lapis pakaian, celana dalam, stocking, gaun baletku serta blus biru terusan yang sampe ke lutut. Lalu mereka menarik blusku sampe ke pinggangku. Agak kesulitan juga mereka, krn blusku yang memang agak ketat, juga posisiku yang tiduran. Kemudian gaun baletku juga mereka singkapkan, sehingga pertahanan memek saya tinggal stocking dan celana dalam saya. Dalam hati saya berkata, awas aja kalau mereka berani menyobek stockingku, gaji mereka akan kupotong! Stockingku ini mahal harganya, dan saya Cuma punya sedikit. Tiba tiba saya mengejang, menahan geli saat memek saya kembali ditekan tekan. Kini tekanan itu lebih terasa, krn tinggal stocking dan celana dalam ketat aja yang melindungi memek saya dari tangan jahil mereka.
Kudengar nafas mereka yang makin memburu, dan Suwito bertanya pada Wawan, "Wan, gimana nih, kali ini ribet nih pakaian si non ini. Apa jangan jangan dia tahu akan dikerjain lagi?". Wawan tertawa kecil. "saya rasa nggak mungkin To. Kalo nona kita ini tahu tadi ada yang ngerjain dia, pasti dia marah. Tenang aja To, gula yang non Eliza ambil tadi itu kan gula buat saya, yang udah saya campurin obat tidur dosis tinggi. Tahu kan saya susah tidur, dan suka minum yang manis? Tapi nona kita yang ayu ini lagi sial kali. Sesuai kebiasaannya, non Eliza ini kan suka minum susu. Dan gula tadi itu bikin dia sekarang dia pasti sedang dalam pengaruh obat tidur seperti tadi siang. Dan, sekarang waktunya non Eliza untuk menyusui kita berdua nih" katanya sok yakin sembari meremas toket ku dengan keras, bikin saya sedikit mengerutkan mukaku menahan sakit. Hmm, untung saya tadi minum susu tanpa gula sebelum balet. Ternyata kantukku tadi siang yang udah kuduga nggak sewajarnya ini, gara gara gula yang bercampur obat tidur itu. Sekarang keputusan ada di tanganku. saya bangun untuk menghentikan kekurang ajaran mereka berdua ini, atau meneruskan aksi pura pura tidurku sampe mereka puas. Setelah berpikir sembari menahan gairah sex saya yang tambah naik, saya putuskan saya harus bangun, tanpa memberitahukan kalau tadi saya minum susu tanpa gula. saya pikir jika gairah sex saya udah gak tertahankan dan saya mulai melenguh, gawat juga.

Maka perlahan saya menggeliat pura pura akan terbangun, berharap mereka terkejut dan kabur. Tapi mereka masih dengan penuh percaya diri menganggap aksi mereka aman aman aja krn saya masih dalam pengaruh obat tidur, meneruskan aktifitas mereka meraba raba dan menekan nekan memek saya serta meremasi toket ku. tampaknya gak ada pilihan lain, saya harus bangun dan "memergoki" mereka menjahiliku. Maka saya pura pura baru tersadar dan merintih pelan, "oh.. siapa kalian. apa yang
kalian lakukan di kamarku? Kalian.. emmmph. emmmph." Wawan yang panic membekap mulutku dengan telapak tangannya yang lebar, sementara Suwito yang juga panik memandangku dan Wawan bergantian. Wawan membentak kecil, "To! Goblok! Bantu saya cepat!!". Sama seperti saya, Suwito juga terlihat bingung dan bertanya "Bantu apanya Wan?". "Cepat ikat non Eliza, dasar goblok! Lu mau kita celaka?" bentak Wawan lagi walaupun suaranya dipelankan, pasti krn takut kedengaran Sulikah dan pak Arifin. Suwito cepat cepat keluar ngambil tali jemuran, kemudian segera kembali. saya yang mulai meronta ronta menyadari bahaya ini, ditindih oleh Wawan yang memang badannya besar sekali hingga ku gak berkutik. Bau keringatnya bikin saya mual, mengendurkan rontaan kakiku dan memudahkan Suwito merentangkan kakiku lalu mengikat kedua pergelangan kakiku pada ujung ujung ranjangku. Kemudian tangan kananku ditariknya kuat dan diikat ke ujung ranjang. saya udah hampir gak berdaya, tangan kiriku menggapai gapai namun segera ditangkap dan seperti tangan kananku, ditarik dan diikat erat di ujung kepala ranjangku satunya.

Kini keadaanku udah mirip seperti saat pertama saya ditangkap di UKS kemarin. Bedanya, kini mereka cuma berdua, dan saya masih menebak nebak, ancaman apa yang akan mereka turunkan padaku. Dengan cekatan Wawan melepaskan bekapannya pada mulutku, tapi langsung menyumpal mulutku dengan sapu tangannya. Aduh, rasanya benar benar gak karuan, bikin saya ingin muntah, tapi kutahan sekuatnya. Kini saya cuma bisa menatap Wawan penuh kemarahan namun juga ada rasa takut yang menghinggapiku ketika dia mengancamku. "Non Eliza, jangan memaksa kita untuk melakukan hal yang nggak nggak. Kalo non Eliza berteriak hingga mengundang Sulikah dan pak Arifin ke sini, kita bisa bikin mereka berdua pingsan, lalu menculik non dan menjadikan non budak seks kita untuk selamanya. Non Eliza mengerti?" bentak Wawan, lagi lagi dengan suara pelan. Dengan pasrah saya mengangguk. Kemudian Wawan dengan kasar melepaskan sumpalan pada mulutku, bikin saya terbatuk batuk, hampir aja bibirku yang bawah terluka krn terhantam gigiku sendiri. "Duh Wan, jangan kasar dong", saya sedikit membentak krn jengkel sekali. Belum pernah sebelumnya saya membentak para pembantuku. "Kalian ini kurang ajar betul ya. saya ini udah berbaik hati nggak akan memperpanjang kalian berbuat mesum di dalam rumah ini, tapi sekarang kalian malah berbuat mesum terhadapku. Ya udah, mulai hari ini kalian bisa menikmati badan saya kalau di rumah nggak ada papa mama dan kakakku, saat saya nggak sedang mens, dan saya sedang senggang, yaitu waktu saya gak ada PR, tugas, maupun ujian. tapi jangan kasar kasar. Juga jangan sampe kalian melukai saya ya. Awas kalau kalian berani menyakitiku!", saya mengancam balik.

Mereka saling pandang, kemudian seolah gak percaya dengan pendengaran mereka, mereka bertanya dengan ragu, "mulai hari ini?". Dengan ketus saya menjawab, "Iya. Mulai hari ini! Kalian ini munafik ya. saya tahu kalian pasti akan berusaha memperkosaku lagi di lain waktu. Daripada nanti kalian mengikatku, membekapku dan lain lain, itu nggak perlu. Sekarang lepaskan ikatanku. Sangat nggak nyaman tau!". Mereka terlihat ragu ragu. Wawan berkata "Wah gimana ya, kalo non kita lepaskan, apa jaminan .", yang langung kupotong "saya janji saya akan layani kalian. Toh saya udah nggak perawan lagi, jadi buatku nggak ada ruginya. Asal kalian juga berjanji, gak akan main di kompleks pelacuran. saya takut terkena penyakit kelamin menular. Kalian mengerti? Sekarang lekas, buka ikatan ini. saya mau mandi dulu!". Mereka melepaskan ikatanku, dan memandangiku dengan ragu ragu. Dengan kesal saya membuka semua pakaianku di depan mereka. "Nih. Kalo gak percaya, main aja denganku sekarang!" tantangku. Mereka meneguk ludah melihat body sexy indah saya yang terpampang polos di hadapan mereka, kemudian mereka saling mengangguk, dan Wawan berkata, "baik non, kita percaya. Sekarang bagaimana?". saya berkata, "saya mau mandi dulu, gerah nih abis latihan balet. Kalian juga, mandi semua sana. Baunya gak enak tau! Oh iya, ajak pak Arifin sekalian, biar adil. Terus minta Sulikah supaya berjaga, kalau kalau kakakku pulang". saya masuk ke kamar mandi, dan menyemprot badan saya dengan air hangat, mempersiapkan diriku yang akan segera digangbang lagi hari ini. Sebenarnya solusi ini menyebalkan juga, tapi saya pikir lebih baik saya mengalah. Seperti yang udah kukatakan tadi, toh saya udah gak perawan lagi, dan saya gak ingin tiba tiba disergap, diikat gak karuan, baju saya terobek, disakiti dan merasa diperkosa.

Tiba tiba pintu kamar mandiku terbuka, dan masuk Suwito, Wawan dan pak Arifin yang udah telanjang bulat. "Non Eliza, kita mandi sama sama aja ya", kata Wawan. "Aduh, masa udah segitu gak sabar sih? Ya udah cepat. Nanti keburu kokoku pulang", kataku. Mereka bersorak gembira, mengerubutiku dan memandikanku. Kedua tanganku diangkat oleh Wawan yang memang jauh lebih tinggi dariku. Yang lain menyabuni badan saya dengan penuh semangat, terutama di bagian toket dan memek saya. Setelah selesai menyabuniku, mereka membilas badan saya sampe bersih, dan menggiringku ke ranjang. saya berkata, "Tunggu, saya keringkan badanku dulu. Dan kalian, mandi dulu sana! Supaya gak terlalu bau nanti waktu main!". Mereka menuruti permintaanku, mandi sebersih bersihnya dengan sabunku. Untung aja, sebab saya teringat waktu di UKS kemarin sebenarnya saya gak tahan dengan bau mereka berenam, tapi nafsu birahi yang menguasaiku bikin saya mampu bertahan. Dan kini mereka gak lagi berbau gak enak seperti tadi, dan saya yang udah selesai mencuci mukaku di wastafel kamarku, dan mengeringkan badan saya, tidur telentang di ranjangku dalam keadaan telanjang bulat, saya sempat melihat jam, pukul 19:00. Mereka langsung mengeringkan badan ala kadarnya, dan menyerbuku yang udah tersaji polos di atas ranjangku. Wawan mendapat jatah memek saya, sementara Suwito dan pak Arifin mendapat jatah kedua toket ku. Wawan menjilati memek saya yang katanya wangi, sementara Suwito dan Pak Arifin menyusu pada kedua toket ku sembari meremas remas cukup keras. Dan saya? Tentu aja birahi yang hebat segera melandaku, saya mengerang, mendesah dan menggeliat keenakan.

Dengan penuh nafsu Wawan terus menjilat bahkan mencucup memek saya. Perlahan tapi pasti, cairan cinta mulai mengalir membasahi dinding memek saya, yang segera diseruput oleh Wawan dengan rakusnya. saya sampe menggelinjang kegelian, tanpa sadar kedua tanganku menggenggam sprei menahan nikmat yang kurasakan sekarang ini. Desahan nafas saya tambah hebat ketika Wawan menusukkan lidahnya ke dalam memek saya. Sedangkan pak Arifin dan Suwito tambah bernafsu menyusu ke toket ku, akhirnya setelah 5 menit saya menggeliat dan mengejang, orgasme melandaku. Cairan cintaku mengalir banyak keluar, sehingga Wawan kelabakan gak mampu membendung Walaupun gak sedahsyat kemarin, tapi udah cukup untuk bikin nafas saya tersengal sengal, seluruh badan saya berkeringat dan terasa tambah lelah, terutama betis saya yang terasa tambah lelah, mungkin krn terlalu sering mengejang dua hari ini, reaksi saat orgasme saya yang enak ini. Kini Wawan udah ngambil posisi di memek saya, bikin saya memperhatikan, kontol seperti apa yang akan segera memompa memek saya ini. ternyata kontol Wawan gak sebesar dugaanku, paling gak sampe 20 cm, mungkin kira-kira 17 cm. Dan diameternya pun mungkin cuma sekecil kontol pak Edy, wali kelasku yang saya duga hampir impoten itu. saya jadi sedikit tenang dan nggak kuatir mengalami sakit yang berlebihan seperti ketika saya dipompa Girno kemarin. Namun saya sedikit bertanya tanya, apa kenikmatan sex yang akan saya dapatkan hari ini akan setara dengan yang saya dapat kemarin? saya jadi ingin tahu, kontol siapa di antara mereka bertiga ini yang paling besar. "He, kalian diam dulu, jangan bikin non Eliza mulet mulet, saya mau memasukkan punya saya dulu", seru Wawan yang kesulitan menusukkan kontol nya krn dari tadi saya menggeliat keenakan saat putingku disedot sedot oleh mereka berdua ini.

Mereka berdua pun diam, ikut memperhatikan proses penetrasi kontol Wawan ke anak majikannya ini. Clep, demikian bunyi tusukan yang menenggelamkan kepala kontol itu dalam lobang memek saya, bikin saya sedikit mengejang saat menerima tusukan itu. kontol ini terasa begitu keras, dan terus menusuk dalam, tapi rasanya gak akan sampe menyentuh dinding rahimku. Wawan melenguh kencang, "ooouuuugh. heeeeghh.", sementara saya menggigit bibir merasakan sedikit sakit yang bercampur sedikit nikmat. kemudian Wawan mulai bergerak memompa memek saya, bikin rasa nikmat menjalari sekujur badan saya. saya menggeliat pasrah, sementara kedua rekannya yang ikut terbakar nafsu, meminta pelayanan yang lebih dariku. Suwito menaiki perutku, dan meletakkan kontol nya di tengah toket ku. saya dipaksa merapatkan kedua susuku dengan kedua tanganku hingga menjepit kontol itu, lalu dia mulai menggesek gesekkan kontol nya yang juga gak terlalu panjang, dan gak terlalu lebar juga diameternya, di antara lipatan buah dadaku. Lalu pak Arifin menyodorkan kontol nya ke wajahku, yang bikin saya tertegun. Nyaris sebesar punya Girno, cuma yang ini lebih berurat. Dengan ragu saya mengulum kontol pak Arifin, yang tentu aja gak muat dalam mulutku yang mungil ini. Tiba tiba telepon di kamarku berdering, dan pak Arifin melepaskan kontol nya dari mulutku, ngambil telepon itu dan mendekatkan padaku. Sementara Wawan dan Suwito dengan cueknya meneruskan aktivitasnya. Wawan terus memompa memek saya dan Suwito terus menikmati jepitan toket ku pada kontol nya.

Pak Arifin mengangkat telepon itu, dan memegangkan gagang telepon untukku, krn kedua tanganku sibuk menahan toket ku menjepit kontol si Suwito. "Me, ini saya. saya pulangnya masih ntar malaman lagi, soalnya tugasnya belum selesai nih", terdengar suara yang ternyata kakakku. Dalam keadaan sedang di entot, saya harus menjawab dengan nada yang sewajarnya supaya dia gak curiga yang macam macam, "Iya ko. jadi. koko.. pulang jam berapa.. nanti", tanyaku sedikit terputus putus krn Wawan terus menggenjotku tanpa ampun. "Yaa, bentar lagi sih keliatannya udah selesai, tapi setelah selesai saya dan yang lain mau pergi dulu, minum es bareng bareng. Yaa, anggap aja merayakan kecil kecilan. Sulit lho ini tugasnya Kamu mau saya bawakan es juga me? saya bungkuskan buat kamu ya?" tanya kakakku. "Iya.. boleh ko. Jangan. terlalu malam. ya. hati hati.. ko", kataku, tambah terputus putus krn si Wawan dengan kurang ajar meningkatkan kecepatannya dalam memompa memek saya, bahkan saat menancap dalam dia sengaja membiarkan kontol nya tertanam sedikit lebih lama, bikin gairah badan saya tambah bergolak. Celaka, jangan sampe saya orgasme selagi telepon dengan kakakku nih. "Ya, mungkin saya sampe rumah jam setengah 12 malam. Me, kamu kenapa? Sakit ta? Kok seperti ngos ngosan gitu?" tanya kakakku. "Nggak. ko. Cuma. ingin. ke wc. udah dulu.. ya ko", kataku sembari menyuruh pak Arifin meletakkan gagang telepon dengan bahasa isyarat, sementara nafas saya makin memburu.

Begitu telepon tertutup, saya segera melepaskan lenguhan yang sejak tadi kutahan tahan, dan saya langsung orgasme, kali ini lebih hebat dari yang pertama tadi. badan saya sedikit terlonjak lonjak, kedua kakiku melejang lejang dan cairan cintaku keluar banyak sekali hingga membanjir membasahi kontol Wawan. saya memandangnya dengan jengkel sekaligus penuh gairah, apalagi Wawan terus memompaku dengan kecepatan yang makin tinggi, bikin gairah sex saya langsung bangkit meski baru orgasme hebat. Pak Arifin bertanya, "non, kakaknya non pulang jam berapa?". saya berkata tetap dengan suara yang terputus putus, "Setengah..dua..belas.. pak". Pak Arifin lalu keluar nggak tau kemana, saya juga udah gak perduli. Gila, stamina Wawan benar benar luar biasa, saya dibuatnya kewalahan. Sodokan demi sodokan seolah memompa gairah sex saya meuju orgasme, dan luar biasa, saya udah orgasme yang ketiga saat ini, dua kali akibat dipompa Wawan dengan ganas, sementara dia gak ada tanda tanda keluar. Jam udah menunjuk waktu 19:35, udah setengah jam saya dipompa Wawan, dan dia belum menunjukkan tanda tanda akan orgasme. Bahkan milik Suwito udah berkedut, dia buru buru memasukkan kontol nya ke dalam mulutku yang langsung mengulum rapat dan menyedot nyedot kontol nya, bikin Suwito mengerang dan melenguh, peju nya menyemprot deras ke dalam kerongkonganku. Rasanya sedikt lebih gurih dari 6 orang kemarin, atau saya yang udah mulai menikmati minum peju , saya juga gak tahu pasti. kontol Suwito terus kusedot sampe mengecil dan gak ada sisa peju yang menempel sedikitpun.

Kini sementara saya tinggal menghadapi Wawan satu lawan satu. Tiba tiba Wawan dengan perkasa menarikku bangun, dan dia turun dari ranjang berdiri, dengan tetap memeluk pinggangku dan kontol yang masih terus menancap erat dalam memek saya, bikin saya takut terjatuh hingga melingkarkan betis saya ke pinggangnya dan merangkul lehernya erat.

Wawan menggunakan kesempatan itu untuk mencium bibirku, sementara sodokan kontol nya yang begitu kokoh bagaikan sebatang besi, terasa makin dalam menancap di memek saya, bikin saya tambah melayang layang, mengantarku mengalami multi orgasme di pelukan Wawan. "Oooooh.. Waaaaan.. aaaa.duuuuh. e..naaaaak", erangku, tanpa terkendali saya mengejang ngejang susul menyusul di pelukan Wawan. Kepalaku menengadah, pantatku terasa kejang tersentak sentak ke depan, cairan cintaku membanjir membasahi lantai kamarku, nafas saya seperti orang yang habis lari berkilo kilo. Nikmat yang melandaku ini nggak taulah, mungkin setara dengan nikmat kemarin saat saya digangbang Girno, Urip dan Soleh. Namun Wawan melakukannya sendirian, bikin saya kini memandangnya agak lain. Wajahnya memang gak karuan, kontol nya juga gak terlalu besar dan gak terlalu panjang, tapi, kontol nya memang luar biasa keras, dan kalo staminanya seperti ini, saya berpikir bisa bisa kelak saya yang mencarinya untuk memuaskanku. saya benar benar udah larut dalam permainan seks ini, rasanya saya udah berubah dari cewek yang alim dan terpelajar, menjadi cewek bispak!

Lamunanku buyar saat Wawan tiba tiba memelukku makin erat, entotan kontol nya makin bertenaga, sementara badan nya terasa bergetar getar. Oh.. apakah akhirnya dia akan orgasme? dia mulai melenguh, "heeegh.. non. E...li..zaaaaaaa...", sembari menjepit badan saya dengan pelukan yang menyesakkan dadaku, namun bikin saya kembali orgasme kecil, menngiringi semprotan peju nya yang amat banyak di dalam memek saya. Wawan menaruhku di ranjangku, dan saya agak terbanting, untungnya ranjangku empuk. dia terus menanamkan kontol nya di dalam lobang memek saya, lalu menindih badan saya hingga kakiku makin terkangkang lebar. dia memagut bibirku dengan buas, bikin saya megap megap.

Untungnya kontol nya tambah mengecil, dan dengan posisi badan saya yang terlipat iini kontol nya dengan cepat terlepas dari memek saya. Cairan cintaku menghambur keluar cukup banyak bercampur peju nya dan membasahi kedua pahaku ketika saya ditariknya berdiri. dia memelukku dengan erat dan kembali memagut bibirku seolah saya ini kekasih yang udah lama dirindukannya. Saat itu saya melihat jam udah menunjuk pukul 20:10. Edan. Ini berarti Wawan menggenjotku selama satu jam. Benar benar lelaki yang perkasa. Tiba tiba nggak tau sejak kapan, saya melihat Sulikah dan pak Arifin udah ada di kamarku, tampaknya sejak lama, cukup lama untuk melihat saya menyerah dalam pelukan Wawan. Pak Arifin mendekat ngambil giliran. saya masih tersengal sengal, ketika pak Arifin yang biasanya kalem ini dengan buas kontol nya yang berukuran raksasa langsung diterjangkan ke memek saya yang untungnya masih basah kuyup oleh campuran peju Wawan dan cairan cintaku tadi, sehingga masih sangat licin.

Pesta Seks Gadis Binal 17 Tahun Gangbang Dirumah, memek cewek dientot threesome
Klik foto untuk memperbesar gambar

"aaagh.aduh.oooh. heeegh.auuuh.nngggh ", erangku berulang ulang tanpa daya ketika pak Arifin dengan bersemangat sekali memompa memek saya yang langsung terasa amat sakit seperti saat pertama Girno memompa memek saya. Urat urat itu terasa begitu menggerinjal mengaduk aduk memek saya. Rasa sakit yang nyaris gak tertahankan ini bikin saya teringat sisa obat perangsang di tas sekolahku. saya meminta pak Arifin berhenti sebentar, dan minta tolong pada Sulikah untuk ngambilkan botol minuman yang isinya tinggal separuh itu di dalam tasku, yang langsung kuteguk habis begitu Sulikah memberikan padaku. saya sempat melihat sekelilingku, Wawan duduk di sofa kamarku, sementara Suwito tiduran di lantai. Dan Sulikah kembali duduk di kursi meja riasku. Lalu saya mempersilakan pak Arifin untuk mulai memompa memek saya begitu saya mulai merasa panas yang gak wajar menjalari badan saya. Ya, obat perangsang itu mulai bekerja. Tanpa mampu mengendalikan diri, saya melayani pak Arifin dengan penuh nafsu seks, sakit yang tadinya melanda memek saya udah lenyap sama sekali berganti kenikmatan seks yang luar biasa dahsyat. Lenguhan, desahan dan erangan kita berdua memenuhi kamarku, bikin siapa aja yang mendengar pasti bangkit gairahnya, termasuk Wawan dan Sulikah, yang saya lihat udah saling memagut bibir dengan serunya, bikin saya gak mau kalah dan menarik leher pak Arifin untuk kemudian kupagut bibirnya dengan ganas. udah 15 menit pak Arifin ngentot memek saya, nggak tau saya udah berapa kali mengejang dalam orgasme, akhirnya pak Arifin melenguh panjang, ngecrotin peju nya dalam lobang memek saya. Semprotan itu terasa begitu banyak dan kencang, rasanya mengenai bagian terdalam di lobang memek saya, mungkin menembus rahimku. saya tergolek lemas dalam keadaan penuh nafsu, memandang Suwito yang harusnya udah pulih krn dia yang pertama keluar tadi.

Suwito langsung tanggap dan mendekatiku. dia segera menusukkan kontol nya ke dalam memek saya, dan mulai memompa memek yang udah kehausan kontol lelaki. Obat perangsang itu benar benar dahsyat, saya mencumbu Suwito dengan buas, bikin Wawan yang udah bergairah gak tahan lagi dan mendekatiku. Suwito mengerti dan mendekapku erat lalu berbaring telentang hingga saya kini menindihnya. Dan Wawan menjilati lobang bool saya, mendatangkan sensasi aneh dan luar biasa bagiku. Lidahnya terus mengorek ngorek lobang bool saya yang tambah lebar, kemudian dia menyuruhku meludahi kontol nya yang disodorkan ke wajahku. Dalam kepasrahan kuturuti kemauannya, saya tahu dia akan segera membobol lobang bool saya. Tapi saya yang udah terangsang hebat ini gak perduli. Dengan beberapa kali dorongan, akhirnya kontol Wawan yang udah amat licin itu menembus lobang bool saya, bikin saya melolong panjang krn kesakitan. Bagaimanapun, saya belum terbiasa lobang bool saya di entot. Kini dalam keadaan disandwich threesome dengan dua cowok diatas dan dibawah saya, lobang memek dan lobang bool saya di entot kontol mereka bergantian dari atas dan bawah, hingga akhirnya gak sampe 10 menit kemudian saya udah orgasme, bersamaan dengan menyemprotnya peju Suwito dalam lobang memek saya. Dalam keadaan lobang bool saya masih tertancap kontol Wawan, pak Arifin menggantikan posisi Suwito. kontol nya yang raksasa itu udah menegang tegak, siap untuk kembali menyodok memek saya dengan buas. Suwito menyodorkan kontol nya ke wajahku dan saya gak perlu disuruh, segera kubersihkan peju yang tertinggal di kontol itu dengan mengulum ngulum dan menyedot nyedot kontol itu hingga bersih, sementara pemiliknya melenguh lenguh keenakan, lalu roboh di depanku.

Birahiku yang tambah tinggi bikin saya antara sadar dan nggak, dengan penuh nafsu melayani sodokan dua kontol sekaligus di selangkanganku. Kugerakkan badan saya mengikuti irama sodokan itu, berulang ulang saya mencapai klimaks, sampe akhirnya pak Arifin orgasme duluan. Kini tinggal Wawan yang lagi asik ngentot lobang bool saya saya dengan gencar, memang Wawan luar biasa. Pak Arifin menyodorkan kontol nya untuk kubersihkan, dan saya dengan semangat mulai mengulum dan menyedot nyedot kontol itu sampe mengecil, sementara Suwito udah berada di bawahku, namun bukan untuk menikmati memek saya, melainkan menyedot toket ku yang tergantung krn kini saya dalam posisi doggie style. Pak Arifin duduk dan mencium dan menjilat bibirku dengan bernafsu. Sulikah kulihat mulai bermasturbasi dengan mengaduk memek nya dengan jarinya sendiri. dia pasti terangsang hebat melihatku begitu pasrah dikeroyok oleh 2 orang rekannya ditambah sopirku. setengah jam kemudian Suwito udah pulih, dan menusukkan kontol nya ke memek saya, bikin lobang memek saya kembali terasa sesak membangkitkan gairah sex saya, dan gak lama kemudian saya langsung orgasme hebat. Seolah bekerja sama dengan Wawan, mereka menusukkan senjatanya dalam dalam bersamaan dan berlama lama menahan kontol mereka di sana, bikin saya melenguh lenguh gak kuasa menahan nikmat. saya udah setengah sadar saat jam 10 lewat. nggak tau udah berapa puluh atau berapa ratus mili liter cairan cinta yang udah diproduksi badan saya selama 3 jam ini. Mereka bertiga bergantian memuaskanku, sampe akhirnya ambruk satu per satu di sekelilingku. Kondisiku sendiri gak lebih baik, tenagaku terasa terkuras habis. Untungnya saya besok masih sekolah siang. Ya, semester depan saya akan sekolah pagi. Yang jelas besok saya masih ada kesempatan bangun agak siang.

Deru nafas yang memburu bersahut sahutan di kamarku. saya mulai sadar dari pengaruh obat perangsang tadi, dan bangkit menuju kamar mandiku dengan sempoyongan. Kukeluarkan peju yang bisa saya keluarkan dari memek saya dengan bantuan tangan dan siraman air shower. saya mandi keramas menghapus sisa keringatku dan keringat mereka yang menempel di sekujur badan saya, lalu mengeringkan badan saya serta rambutku. Kemudian, masih bugil, saya kembali ke ranjangku yang masih awut awutan akibat seks gangbang yang baru terjadi. Wawan masih tergeletak di ranjangku, saya memintanya turun, krn saya harus mengganti sprei ranjangku. saya gak mau tidur dengan bau keringat, peju dan cairan cinta di kira-kiraku. Dibantu Sulikah saya memasang sprei yang baru, sementara sprei tadi dibawanya turun ke tempat cucian setelah dia pamit padaku untuk tidur. Sementara 3 begundal ini, saya masih ada urusan yang harus kubicarakan dengan mereka semua. "Pak Arifin, Wawan dan Suwito. Sekali lagi, saya ingatkan, hal barusan ini cuma bisa terjadi jika kedua ortuku dan kakakku nggak ada di rumah, juga jika saya nggak ada PR atau tugas ataupun ujian, juga pada saat saya nggak sedang mens. Di luar itu, jangan coba coba memaksaku. Kalo ketahuan, selain kalian dipecat, saya sendiri juga bakal susah. Daripada hal yang sama sama merugikan kita semua terjadi, tolong kalian jangan berlaku ngawur. Kalian juga bisa menikmatiku, tapi kalian harus janji gak akan jajan di luar. saya gak ingin kena penyakit kelamin yang menular. Apa kalian mengerti?" tanyaku panjang lebar, yang dijawab mereka semua, "akuuuur.".

Lalu dengan langkah gontai krn sama sama kehabisan tenaga, mereka bertiga keluar dari kamarku menuju ke kamar masing masing. Tinggal saya sendiri yang menunggu kakakku pulang sembari merenung. Masih ada sejam lagi sebelum kakakku pulang, saya berpikir saya lebih baik tidur aja, toh kakakku bawa kunci pintu depan. saya mengenakan baju tidur satin yang nyaman seperti kemarin, lalu mengistirahatkan badan saya yang udah amat kepayahan ini di atas ranjangku yang empuk. saya membayangkan, Jumat depan saya harus melayani 6 begundal kemarin. Apa lokasinya tetap di ruang UKS itu? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika mereka gelap mata menyeretku ke mess yang dihuni kira-kira 60 orang itu? saya bisa apa? Apa mereka tetap mau melepaskan diriku seperti kemarin? Lalu, sampe kapan saya akan jadi budak seks kedua pembantu dan sopirku ini? Pertanyaan demi pertanyaan menghiasi pikiranku, mengantarku tidur yang kali ini gak begitu nyenyak. Beberapa jam sekali saya mengalami mimpi buruk, dimana saya berada di tengah kerumunan 60 orang yang mengepung diriku hingga saya panik dan terbangun. Oh.. apakah ini tanda bahwa nanti saya benar benar harus melayani penghuni mess tempat tinggal Girno?
Pesta Seks Gadis Binal 17 Tahun Gangbang Dirumah (seri 2)
Pesta Seks Gadis Binal 17 Tahun Gangbang Dirumah (seri 2), cerita seks , Pesta Seks Gadis Binal 17 Tahun Gangbang Dirumah, memek cewek dientot threesome, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Pesta Seks Gadis Binal 17 Tahun Gangbang Dirumah (seri 2)

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com