Tukeran Istri Bikin Gairah Sex Suami Meninggi

Didi berusia 38 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. dia udah menikah dgn Mona, selama 14 tahun. Kehidupan seks mereka udah cukup membosankan dan bisa dibilang terasa cukup biasa saja tanpa variasi. Mereka hanya melakukan seks sekali dalam dua minggu, itupun kalau dia ngga kelelahan pulang dari kantor. Mona juga ngga terlalu suka dengan posisi yang macam-macam dan cuma ingin mau melakukan posisi misionaris. Mona sekarang udah berumur 34 tahun, walaupun begitu dia tetap cantik dan sexy. Entah apa yang bisa membuat kehidupan seks mereka terlalu membosankan bagi keduanya. Padahal dulu saat mereka sebelum menikah, mereka selalu melakukan hubungan sex setiap hari dari setelah kuliah dan juga pada saat weekend.

Pekerjaan Didi di kantorpun selalu mandeg sebab ngga ada hal yang baru. Bekerja di dalam sebuah kubikel yang sempit, dia selalu merasa lelah setiap kali mendapatkan tugas dan assignment yang itu-itu aja. Beruntung dia bersahabat dgn Yossi, rekan sekantornya yang kini berusia dua tahun lebih tua. Pada suatu hari, mereka yang sedang makan siang bersama menemukan persamaan dalam kehidupan seksualitas mereka.

"Di, gue boleh curhat gak sama lo?" tanya Yossi.

"Boleh? Emang kenapa, Yos?" timpal Didi.

"Istri gue nih. Entah kenapa sekarang-sekarang ini gue lagi hambar banget sama dia." jelas Yossi.

"Maksud lo?" Didi tak mengerti.

"Iya, gue cinta banget sama dia. Namun setelah menikah belasan tahun, gue ngerasa hambar aja gitu." mata Yossi menerawang.

"Hambar dalam?" Didi merasa penasaran.

"Dalam hubungan seks kami." cetus Yossi.

Didi tersentak mendengar pernyataan ini. dia ngga menyangka bahwa krisis yang dia alami juga bisa dialami oleh sahabat dan koleganya tersebut.

"Gue udah susah banget bergairah kalau sama dia. Rasanya tuh, biasa banget." kata Yossi.

"Lo udah pernah tanya ke Sinta?" tanya Didi.

Yossi cuma menggeleng lemas. "Gue udah tanya, kenapa dia ogah-ogahan kalau gue ajak, tapi dia nggak pernah ngasih jawaban yang jelas."

Mereka berdua terdiam.

"Sabar ya bro, gue juga ngalamin hal yang sama kok." kata Didi pada akhirnya.

"Lo dan Mona? Beneran?" Yossi bertanya tak percaya.

"Iya, gue juga rasanya udah hambar banget setiap kali ML sama dia. Udah nggak ada ‘spark’ lagi kayak pas kuliah dulu." jelas Didi.

"Iya ya, kok bisa begitu. Gue jadi bingung." Yossi mengidikkan bahunya.

"Lo udah berapa lama ngalamin ini?" tanya Didi.

"Dari anak gue naek kelas 4 SD." jawab Yossi.

"Udah lama dong?" sahut Didi.

"Lumayan." Yossi membenarkan.

"Lo pernah coba. ehmm," Didi ngga meneruskan kata-katanya.

"Maen ama pelacur?" Yossi menjawab dgn sedikit ketus.

Didi cuma mengangguk takut-takut. dia ngga ingin menyinggung perasaan sahabatnya yang sedang galau ini. "Sori, gue nggak maksud buat lo marah." dia berkata.

"No problem kok. Gue juga pernah berpikiran gitu." sahut Yossi.

"Trus?" Didi kembali penasaran.

"Gue nggak berani ambil resikonya, takut penyakitan gue." jawab Yossi.

Tiba-tiba sebuah benak bulus terlesat di pikiran Didi. dia pernah menonton sebuah film bokep mengenai pertukaran pasangan yang menggairahkan pasangan yang sebenarnya. Membayangkan tubuh molek dan perawakan Sinta yang cantik membuat kemaluannya berdiri tegang. "Gue punya rencana nih." dia tersenyum pada Yossi.

"Rencana apa?" tanya Yossi tak mengerti.

"Lo belom ambil jatah cuti lo kan?" Didi balik bertanya.

"Belom," Yossi menggeleng.

"Nah, jadi suatu hari kita cuti bareng, kita pura-pura pergi kerja tapi gue maen ke rumah lo dan lo maen ke rumah gue." Didi mengutarakan idenya.

"Terus? Buat apa gue maen ke rumah lo?" Yossi masih tak mengerti.

"Masa lo belom pernah sih ngebayangin begituan ama istri gue?" tanya Didi dgn senyum licik.

"AH, GILA LO!" sahut Yossi cepat.

"Eh, dengerin dulu. Gue udah ngasih ijin nih buat lo, sekarang tinggal lo aja. Rela nggak memberikan Sinta buat gue?" tantang Didi.

Yossi terdiam mendengarkan rencana yang dibuat oleh Didi. Perlahan dia membayangkan istrinya yang cantik bersenggama dgn laki-laki lain. dia terkejut saat betapa angan-angan itu ternyata membuatnya cukup terangsang. "Kalau gue rela gimana?" tanya Yossi pada akhirnya.

"Ya udah kalau gitu, kita ambil cuti besok dan lo maen ke rumah gue sekitar jam sembilan abis nganterin anak lo sekolah. Istri gue biasanya udah selesai beres-beres jam segitu." kata Didi.

"Oke, lo juga jam segituan ke rumah gue. Besok jangan lupa cerita-cerita di kantor pas jam makan siang ya." sahut Yossi

"Sip. Dan jangan hingga istri kita tahu." Didi menyanggupi.

Mereka pun berjabat tangan dan tersenyum lebar.

***

Didi – Kamis pukul 08.50

Didi menunggu di dalam mobilnya yang diparkirkan ngga begitu jauh dari kediaman Yossi. dia udah memikirkan masak-masak rencana ini dari kemarin siang. dia berusaha menutupi rasa semangatnya dari sang istri agar ngga dicurigai macam-macam. Membayangkan istrinya Mona dicabuli oleh sahabatnya sendiri membawa sensasi gila yang amat cukup bagi dirinya. Dan kini dia akan bersenggama dgn Sinta, istri Yossi, yang ngga kalah cantik dari Mona. Sungguh tindakan gila!

Didi pun turun dari mobil dan berjalan pelan menuju pintu gerbang rumah Yossi yang di cat hitam tinggi. dia membunyikan bellnya dan menunggu Sinta keluar. Perlahan dia mendengar suara langkah perempuan cantik itu, diselingi dgn desah nafasnya yang tersengal-sengal.

"Lho, mas Didi. Tumben datang jam segini?" Sinta memakai celemek yang diikat ketat di belakang, memamerkan buah dadanya yang ranum dan terbentuk indah. Di balik celemek itu, Didi bisa melihat tank top yang dipakai oleh Sinta, berwarna orange ketat dan memikat. Wanita itu juga memakai celana pendek berwarna hitam, dari sisi kanan dan kiri terlihat kulit pahanya yang kencang dan mulus. "Ayo masuk, silahkan." Sinta mempersilahkan sembari tersenyum ramah.

"Terima kasih, mbak Sinta." Didi mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah.

"Ada perlu apa, mas? Mas Yossi udah pergi dari tadi." kata Sinta tanpa rasa curiga sedikit pun.

"Ini, katanya Yossi ketinggalan berkas di ruang kerjanya, tetapi dia sedang ada rapat penting, jadinya saya yang disuruh mengambil." Didi berbohong.

"Oh, gitu. Silahkan masuk, mas. Disitu tempatnya." Sinta menunjuk ruang kecil di bagian belakang rumah.

Didi berjalan masuk kesana mendahului Sinta yang sibuk menutup pintu depan. dia berjalan masuk melalui pintu belakang yang bertemu langsung dgn dapur dan bergerak cepat menuju ruang kerja Yossi. Didi berpura-pura mengambil satu dua buah berkas dan kembali menuju ruang dapur dimana Sinta kelihatan sedang sibuk memasak. "Masak apa toh, mbak?" dia bertanya.

"Ayam goreng, mas. Mas Yossi lagi demen sama makanan ini." sahut Sinta tanpa menoleh.

"Wah, rajinnya masak. Gimana mas Yossi enggak seneng." Didi mulai merayu.

"Ah, mas bisa aja, mbak Mona kan juga jago masak." pipi bulat Sinta merona. Dia kembali sibuk mengurusi ayamnya.

Didi memandanginya dari belakang, memperhatikan rambut panjang Sinta yang tergerai indah ke punggungnya. dia bisa melihat bra Sinta yang berwarna hitam dgn jelas sekarang. Didi meletakkan berkas di tangannya ke atas kulkas dan bergerak mendekati perempuan cantik itu. "Mbak Sinta kalau lagi keringetan tambah seksi ya." godanya berani.

"Ah, mas ngomong apa sih?" wajah Sinta makin merona. "Ah, MAASS!" dia menjerit keras saat dgn tiba-tiba Didi menyergap tubuh sintalnya dari belakang dan memeluk punggungnya erat-erat. Sinta berusaha melawan sekuat tenaga, namun Didi telah mengunci gerakannya. "Ah, mas! Lepasin saya, mas! Ahh... Ahh..." dia terus menjerit dan memberontak walau tahu itu cuma sia-sia.

"Mbak Sinta seksi banget. saya enggak kuat loh, mbak." Tangan kanan Didi bergerak naik untuk memainkan toket Sinta yang tersembunyi di balik celemek dan tank topnya. Tangan kirinya yang ngga mau kalah kini sibuk bergerak turun ke bawah untuk menekan-nekan memek Sinta yang masih ditutupi celana pendek dan celana dalam.

"Mas! Jangan, mas! Mas kan sahabatnya mas Yossi, Ohhh. Mas! Auuw!" Sinta menjerit dan menggelinjang.

"Beneran jangan nih, mbak? Tapi kok mbak jadi basah begini sih?" timpal Didi ketus.

"Ahh. mas! Ahhh." Sinta kembali merintih saat Didi membuka celemeknya dgn cepat dan membukanya bersamaan dgn tank topnya. Laki-laki itu memainkan tetek Sinta yang besar yang masih diselimuti bra putih tipis, juga memek Sinta yang makin membasah dgn semakin ganas.

"Mas. ouuuwh. mas!!" Sinta semakin merintih dan menggelinjang dibuatnya.

"Mbak udah jarang dapet jatah kan? saya tahu, mbak udah lama pengen dibeginikan." Tangan kiri Didi udah mulai membuka kancing celana pendek Sinta dan menyelipkan tangannya ke balik celana dalam itu. dia bisa merasakan jembut Sinta yang udah basah akibat memeknya yang terangsang hebat. Didi meremas toket Sinta yang kini udah terekspos dgn jelas akibat bra yang menyangganya udah terlepas. Putingnya yang pink mencuat ke depan sebab terangsang hebat. Didi memelintirnya berkali-kali dgn jepitan jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Ehmm... mas! Oughh..." Sinta cuma bisa mengerang-erang lemas saat Didi menciumi leher dan telinganya sembari sibuk menggosok-gosokkan penis nya yang udah cukup keras ke belahan pantat perempuan cantik itu.

Didi yang semakin bergairah kini memainkan toket dan memek Sinta begitu keras hingga keduanya menjadi benar-benar basah. Mereka berdua mengerang-ngerang nikmat sembari melenguh-lenguh keenakan. "Mas. ahhhh. jangan disini, mas." Sinta akhirnya menyerah.

"Hmmm... akhirnya. kenapa ngga dari tadi, mbak?" tanya Didi menggoda.

"Ah. mas!!" jawab Sinta dgn muka merah padam menahan gairah.

Didi memutar tubuh Sinta secara paksa dan menekannya ke meja dapur. Piring berisi daging ayam fillet yang ada di atas meja pun terlempar keras ke lantai akibat perbuatan bejat kedua manusia itu. Sinta melumat bibir Didi dgn begitu beringas bagaikan anak kecil yang belum dikasih makan. Lidahnya berputar-putar di dalam mulut Didi, menelusuri setiap inci bagian dalam mulut suami orang itu. Didi yang ngga mau kalah dan ikut memainkan lidahnya. dia memijat-mijat lidah istri nakal itu. Tangannya meremas pantat Sinta yang udah basah akan keringat. Didi mengangkat pantat Sinta dan menaikkannya ke atas meja dapur. dia pun berjongkok dan mengendus-ngendus area selangkangan Sinta. Aroma cairan memek yang membasahi celana dalam hitam yang dipakai Sinta membuat pikiran Didi melayang tinggi.

"Kamu wangi banget loh, Sin. Mas seneng banget." kata Didi terus terang.

"Ahh... mas! Ahh." Sinta mengejang-ngejang nikmat sembari memainkan toket nya sendiri. "Diisap dong, mas! Ahhh. jangan diciumin mulu! Ahhh." rintihnya.

Didi menarik turun celana dalam Sinta untuk menemukan harta karun yang dia cari dari pagi tadi. Memek Sinta bentuknya cukup indah, dgn bulu lebat yang semakin meningkatkan hasrat. Tanpa membuang waktu, Didi pun melahap habis memek itu dan memainkan lubang kenikmatannya dgn lidahnya. dia menekan-nekan lidahnya masuk untuk mencicipi kenikmatan duniawi yang amat memabukkan itu. Tangan kanannya yang ngga mau kalah ikut memijit dan memainkan itil Sinta.

"Ahhh... mas! Ahhh... enak banget, mas! Oooh. emmmmh!!!" Sinta semakin ganas meraung-raung dan menggelinjang kesenangan.

Didi melanjutkan kegiatannya memainkan memek Sinta sembari perlahan-lahan membuka baju kantornya yang udah lepek akan keringat. dia melemparkan kemeja kerja dan dasinya ke lantai, lalu berdiri mendadak, menghentikan kegiatannya memainkan memek Sinta.

"Mas, kenapa berhenti?" Sinta bertanya ngga rela.

"Kamu cantik banget, Sin, nggak kalah sama Mona." jawab Didi sembari memainkan kembali tonjolan toket Sinta yang membusung indah.

"Ahh. mas! Emmmh..." Sinta melumat bibir Didi sembari turun dari meja dapur. dia meraba-raba punggung Didi yang atletis dan menghirup aroma tubuhnya yang membuatnya cukup terangsang. Perlahan dia melepaskan ciumannya dan mulai membuka celana bahan yang Didi pakai. Selepasnya kancing itu terlepas, Sinta menarik celana dalam putih Didi ke bawah dan terkagum-kagum melihat perkakas Didi yang udah mengacung tinggi ke langit.

"Wow, mas! Besar banget! Emmmh..." Sinta mengulum penis itu bagaikan anak kecil yang sibuk menghisap lolipop. dia melahap habis penis sepanjang 16 centimeter itu ke dalam mulutnya. Aroma jantan khas laki-laki yang berbeda dgn yang dimiliki Yossi membuatnya cukup horny. Sinta ngga pernah tiduri atau bahkan menghisap penis cowok lain selain batang kontol milik suaminya Yossi sejak mereka menikah, dan itu udah lama banget.

"Ahhh... Sinta! Euuummh. kuluman kamu nikmat banget! Oooouuuwh." rintih Didi keenakan.

"Mas suka?" tanya Sinta, tangan kirinya lagi sibuk mengelus-elus nonok nya yang udah basah sembari terus menghisap penis besar Didi.

"Kamu mau yang lebih enak?" tanya Didi penuh arti.

"Eummmh. sebentar, mas. Ini enak banget. eummmh!!" Sinta terus menyepong dan menghisap penis panjang yang memenuhi rongga mulutnya itu.

"saya nggak mau buru-buru keluar, Sin." Didi berkata.

"Tapi nanti mas Yossi marah loh kalau dokumennya nggak dikirim." jawab Sinta menggoda.

"Bilang aja macet." sahut Didi enteng. Dia kemudian melepas celana kerjanya yang nyangkut di kedua kakinya dan menggendong tubuh Sinta bagaikan pasangan suami istri yang baru menikah saat tubuh mereka udah sama-sama telanjang. Mereka berdua melanjutkan ciuman mereka sembari bertelanjang ria tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Didi melemparkan Sinta ke atas kasur yang biasa Sinta tiduri bersama Yossi dan menutup pintu kamar mereka.

***

Yossi – Kamis pukul 09.30

Mona mengerang keenakan. dia berkali-kali harus berteriak sembari menutupi wajahnya dgn bantal akibat sensasi yang begitu nikmat yang dia rasakan. dgn posisi doggy style, toket nya yang berukuran lumayan besar bergoyang-goyang seirama dgn gerakan pinggul Yossi yang bergerak maju dan mundur begitu cepat.

"Ahhh, Yossi! Ahhhh. eumhhhhhh. enak banget! Euuumh... penis mu! Ahhh." rintih Mona tanpa malu-malu.

"Memekmu juga enak banget, Mon! Eummmh. sempit!" Yossi menggoyangkan pinggulnya semakin kencang. Tubuhnya tiba-tiba mengejang-ngejang dan berkontraksi. "Ahhh. saya mau keluar! Eeummmh..." teriaknya parau.

"Jangan di dalem, mas! Ahhh." Mona menarik keluar penis Yossi dgn paksa dan memasukkannya ke dalam mulutnya dgn begitu cepat. dia mengulumnya sekuat tenaga hingga Yossi ngga dapat menahannya lagi.

"Argggh! saya. emmh... keluar! Ahhh. oooh!" dia merintih dan CROOT! CROOT! CROOT! Spermanya menyembur kencang dan banyak sekali.

Mona menelan semua peju putih yang Yossi keluarkan. "Enak banget, mas." dia berkata pelan dgn mulut belepotan. Tubuhnya yang lemas terhempas lelah ke atas kasur, Yossi menyusul tak lama kemudian dgn rebah telentang di sampingnya.

"Tubuhmu enak banget, Mon. Sinta kalah deh." ujar Yossi sembari menusuk lubang memek Mona dgn ujung jarinya. Lorongnya yang sempit terasa begitu licin dan basah.

"Penis mas juga enak banget, rasanya beda ama punya mas Didi." sahut Mona tak mau kalah, dia meremas pelan penis Yossi dan kembali mengocoknya lembut.

Yossi yang masih semangat akan sensasi baru dalam hidupnya belum berniat untuk mengakhiri petualangan seksualnya sekarang. dia mengangkat tangannya dan ganti meremas-remas toket Mona. "toket kamu lembut sekali." bisiknya mesra.

"Ah, mas! saya masih lemes, mas." kilah Mona saat tahu Yossi ingin minta jatah lagi.

"Tapi saya masih pingin, Mon." Yossi memaksa. "Kalau cuma kuisep nggak apa-apa kan?" tanyanya.

"Hmm, bolehlah." angguk Mona pelan.

Yossi kemudian memutar tubuhnya dan dgn rakus menghisap puting di toket kanan Mona yang berwarna coklat kemerahan dan memancung sebab terlihat dia cukup horny. dia menghisapnya keras-keras sembari sesekali mengigitnya gemas. Sementara tangan kirinya dia gunakan untuk memainkan puting yang lain dgn ngga kalah bernafsu.

"Ahhh. terus, mas! Netek ama saya, mas! Eeuuumh." Mona pun melenguh keenakan, tanpa mengetahui bahwa sang suami tercinta juga mengalami kenikmatan yang sama dgn dirinya bersama wanita lain.

***

Didi – Kamis pukul 11.28

Didi mengancingkan kancing kemejanya satu persatu dari bawah. Sinta cuma bisa tersengal-sengal kelelahan sebab melakukan tiga ronde tanpa istirahat sekalipun. dia bahkan ngga berusaha untuk menutupi auratnya yang udah basah berlumuran sperma Didi yang mengalir deras.

"saya pergi dulu ya, mbak Sinta. udah telat, nanti saya bisa diomelin bos." Didi berbohong tanpa memberitahu bahwa sebenarnya dia dan Yossi, suami Sinta, udah mengambil cuti untuk hari ini.

"Mas. emmhh. habis ini, mas sering-sering main ya kalau mas Yossi lagi dinas keluar." Sinta merangkan maju menuju tepi kasur yang sepreinya udah berantakan kemana-mana. Masih telanjang bulat, dia menjulurkan tangannya, minta dipeluk mesra oleh ‘mainan’ barunya.

"Tentu aja, sayang!" Didi menciumnya dan melumat habis bibir merah milik Sinta yang terlihat begitu mengundang. Tanpa Didi sadari, dia perlahan mendorong Sinta kembali ke kasur sembari terus berpelukan. Tangannya mulai kembali memainkan toket Sinta tanpa melepaskan ciuman penuh hasrat mereka.

"Ah, mas! saya mau lagi, mas! Euuummh." rengek Sinta.

"Sekali lagi aja yah?" tawar Didi.

"Itu juga kalau mas nggak mau lagi, hehe." Sinta tersenyum centil.

Didi melanjutkan ciumannya dan mulai membuka resleting celananya lagi. Penisnya udah kembali tegang dan mengacung maju, minta cepat-cepat diselipkan di lubang yang baru aja dia jelajahi hari ini. Sinta semakin bergairah mendapati putingnya bersentuhan dgn dada Didi yang berbulu halus dan jantan. dia melenguh penuh nafsu sembari mengangkat kedua tangannya ke belakang, memamerkan kemaluannya yang udah gatal pada Didi yang asyik menciumi leher dan bagian belakang telinganya dgn ganas sembari perlahan-lahan mengarahkan penisnya.

"Ahhh. massss. euuummmh." rengek Sinta saat penis Didi mulai menerobos pelan lubang kemaluannya.

"Sinta, kamu seksi banget! saya suka banget wangi tubuh kamu! Euuummmhhh." Didi mencucup dan menciumi puting toket Sinta.

"Ahh, mas! Buruan dong, mas! saya udah nggak kuat nih. eummmh. oooh." ratap Sinta penuh nafsu.

Dalam sekali sodokan kuat, Didi memasukkan semua batang kemaluannya diikuti erangan nikmat oleh Sinta. "Ahhh, mas. oooh."

Pinggul Didi mulai aktif, bergoyang ke depan dan ke belakang sesuai irama tusukannya. dia memandangi wajah Sinta yang penuh kenikmatan. Membayangkan istrinya memperoleh perlakuan yang sama oleh sang sahabat membuatnya semakin menggila. dia mempercepat sodokannya hingga Sinta menjadi semakin terengah-engah. Sinta mulai mengoceh ngga jelas sembari berusaha menahan rasa nikmat yang dia rasakan. Tangannya semakin liar, menarik-narik seprei kesayangannya yang terlihat semakin mengenaskan seiringan dgn sodokan liar Didi.

Tiba-tiba Didi berhenti. dgn segenap kekuatannya, dia merenggut punggung Sinta dan mengangkatnya dari kasur. Sinta mengerti posisi ini dari blue film yang diam-diam dia tonton bersama tetangganya, Maria, dan segera melingkarkan kakinya di punggung Didi. Bibirnya kembali berpagutan dgn Didi yang sekarang membantu Sinta bermain enjot-enjotan.

"Cepet, mas! Ahhh. emmmh. saya mau. emmmh... nyampe!!" rengek Sinta pilu.

"saya juga, Sin! Ooohh. ahhh." Didi memekik saat spermanya meledak.

"Mas! Ooohhh. aahhhh." jerit Sinta yang menerima guyuran cairan hangat pada lubang kemaluannya.

***

Yossi – Kamis pukul 12.34

Batang penisnya masih sedikit ngilu setelah melakukan memek l seks dgn Mona sebanyak lima kali berturut-turut. Entah setan apa yang merasukinya hari itu, namun dia seperti mendapatkan stamina baru. Stamina mengagumkan dimana biasanya dia udah lemas setelah berhubungan sekali aja dgn Sinta. dia masih bisa mencium aroma kencing Mona yang bercampur dgn cairan memek dari memek dan jembutnya. Aroma memabukkan itu yang membuatnya begitu ketagihan dan ngga bisa berhenti.

"Hai, kawan!" Didi memanggilnya tiba-tiba dari belakang.

Yossi yang sedang berangan-angan, terkejut dan berdiri secara refleks. Mereka udah berjanji untuk ketemu di sebuah kafe yang lumayan jauh dari lokasi kantor mereka. dia menyambut Didi dgn pelukan hangat dan bisa mencium aroma yang khas dari tubuh laki-laki itu. Aroma sabun mandi istrinya.

"Hai, sobat! Ayo duduk." Yossi menyambut dgn ramah.

"OK," Didi ngga membuang waktu dan duduk di seberang Yossi. Mereka berdua saling tersenyum lebar. Selama beberapa detik ke depan, ngga ada yang berkata apa-apa. Mereka cuma tersenyum cengengesan mengetahui bahwa sahabat mereka telah melakukan perbuatan bejat dan terlarang dgn istri mereka masing-masing.

Pada akhirnya, Didi memecahkan keheningan aneh di antara mereka berdua. "Jadi, bagaimana tadi?" tanyanya sedikit malu-malu.

"Bagaimana ya?" Yossi tersenyum kikuk dan nakal. "Menyenangkan pastinya."

"Hahaha, bagus lah kalau begitu. Istrimu juga ngga kalah menyenangkan." sahut Didi.

Yossi mengangguk malu, dan puas. Seakan-akan bangga istrinya dianggap ‘memuaskan’ oleh laki-laki lain. Sahabatnya sendiri. "Enggak kapok kan?" tanyanya kemudian.

"Apa yang harus dikapokin? Kalau bisa sih, kita lanjut lagi." kata Didi penuh semangat.

"Pasti lah itu. Ini enggak akan kita selesaikan secepat itu. Tapi yang pasti, lo jangan tiba-tiba berhenti berhubungan sama Sinta. Biar istri kita juga nggak curiga." ujar Yossi.

"Mengerti, sobat!" Didi mengangguk. "Ngomong-ngomong, lo mulai jam berapa tadi?" tanyanya penasaran.

"Jam sembilan kali ya? Pokoknya istri kamu baru selesai nyuci." sahut Yossi.

"Dia gampang diajaknya?" tanya Didi lagi.

Yossi tersenyum dan menjulurkan tubuhnya maju, menandakan dia mau membisikkan sesuatu. "Percaya atau enggak, istri kamu tuh baru aja masturbasi di dekat tempat cucian."

"Sumpah?!" Didi sedikit terkejut mendengar hal itu.

"Beneran! Pas gue datang, gue langsung sadar, kok celana pendeknya rada basah-basah ya di bagian itu. Dan dia juga lagi tersengal-sengal. Tinggal gue ungkit-ungkit dikit. Bles!" Yossi menunjukkan kode penis yang nusuk memek dgn jari-jarinya.

Didi merenung sedikit. dia ngga pernah menyadari bahwa istrinya bisa sebegitu binalnya.

"Bagaimana dgn Sinta?" tanya Yossi kemudian.

"Awalnya dia sedikit melawan, tapi pada akhirnya nyerah juga." jawab Didi.

"Nggak mungkin cuma satu ronde kan? Tiga jam loh itu." Yossi tersenyum.

"Masa cuma sekali, eman-eman dong. Lagian, jarang-jarang rudalku ini bisa bangun lebih dari sekali setiap harinya!" sahut Didi.

"Jadi?" Yossi mengejar.

"Ehmmm. segini!" Didi menunjukkan angka empat dgn jarinya.

"Kalah lo! Gue lima!" Yossi menyombong.

"Pffft. beneran?" Didi mendelik tak percaya.

"Beneran lah, ngapain gue bo’ong?" Yossi merasa menang.

"Mantap lah, kawan!" Didi menyalami sahabatnya itu.

Mereka berjabat tangan dgn begitu bersemangat, beberapa orang di sekitar mereka hingga kaget mendengar suara tangan mereka yang beradu begitu keras.

"Ngomong-ngomong, habis dari sini, bisa temani gue ke mangga dua?" tanya Yossi.

"Untuk apa?" tanya Didi tak mengerti.

"Gue ada rencana." Yossi tersenyum lebar dan mengerdipkan matanya, mengisyaratkan rencana bejat lain yang terlintas di otaknya.

***

Didi – Kamis pukul 8.49

Didi bersikap sebiasa mungkin malam itu. dia duduk di ujung kasur sembari mendengar suara istrinya yang sedang menggosok gigi. Anak laki-lakinya udah tertidur lelap di kamar atas. dia udah melakukan perintah Yossi dgn sebaik mungkin. Sesuai harapannya, dia meletakkan kamera camcorder itu di rak paling atas lemari kamar tidurnya. dia udah mengecek dan beruntungnya, kamera itu menangkap semua gambar sesuai harapannya; suasana kasur di kamar tidurnya!

Mona bersikap biasa aja sepulang Didi dari kantor, walaupun Didi ngga ke kantor hari itu. dia menyambut Didi dgn ciuman di pipi dan mengambil jas kerja Didi dgn telaten. Suasana kamar tidur juga begitu rapih, Didi ngga pernah mengira Mona pernah bersenggama dgn Yossi selama lima ronde di atas kasur itu.

"Mas, nggak gosok gigi?" tanya Mona saat keluar dari kamar mandi.

"Oh ya, saya hampir lupa." sahut Didi cepat.

Mona melewatinya yang sedang setengah bengong menuju meja riasnya untuk memasang krim malam. Didi memperhatikannya sembari menyelinap masuk ke dalam kamar mandi. dia mulai menggosok gigi saat melihat beberapa bungkus kondom yang baru dipakai di dekat kloset. Didi bisa melihat jelas cairan sperma di dalam kondom itu yang masih basah oleh cairan memek Mona. Tiba-tiba, ajaibnya, alat kemaluannya berdiri untuk kelima kalinya hari itu.

Didi mulai terangsang memandangi istrinya yang baru aja selesai memakai krim wajah dan merapihkan rambut. Wajah polos Mona yang begitu pandai menutupi perbuatan kejinya siang tadi membuat Didi gemas, sedikit marah, tapi cukup terangsang. Selepas berkumur-kumur, Didi beralih ke kasur dan menyalakan lampu kamar tidurnya. Mona ikut menyelinap masuk dan berbaring di sampingnya.

"Mona?" Didi memanggil.

"Iya, mas?" Mona menjawab mesra.

"saya lagi mau nih." bisik Didi.

Mona seperti sedikit terkejut mendengar pernyataan Didi. "saya capek mas." wanita itu berkata.

Capek. Capek?! Jawaban Mona membuat Didi sedikit marah. dia mengaku capek padahal kelelahan berhubungan seksual dgn Yossi siang tadi. dia marah Mona menolak dirinya dan beralasan capek.

"Ayo dong, ma! Papa lagi mau nih!" Tangan Didi bergerak secepat kilat, menyelinap masuk ke dalam celana dalam Mona. Malam itu Mona cuma memakai daster satin yang tipis, menunjukkan branya yang berwarna putih dan celana dalam tipisnya yang berwarna sama. Didi menekan-nekan memek Mona dgn lembut, perlahan, dan pelan-pelan untuk merangsangnya. Bulu-bulu jembut Mona yang subur dia main-mainkan dan itil nya yang terasa mengganjal dia tekan-tekan dgn gemas.

"Ahh. mas! saya capek, mas! Beneran deh." kilah Mona dgn sedikit menggeser tubuhnya.

Didi yang ngga mau menerima alasan itu bangun dgn cepat dan membuka dgn paksa selimut yang mereka pakai. dia menyerang memek Mona dgn penuh amarah dgn menarik celana dalam putih perempuan cantik itu itu dalam sekali sentakan.

"Mas! Mas apa-apaan sih? Kok kayak gini." Mona berteriak.

Didi memaksa Mona mengangkang dan membuka paksa kedua pahanya. dia memandangi memek Mona yang udah mulai basah. dia membayangkan sperma dan precum Yossi yang udah menari-nari di dalam liang kenikmatan itu.

"saya enggak kuat, Mon. saya mau memuaskan kamu." Didi melahap habis memek Mona dan menjilat sisi-sisi memeknya dgn penuh semangat.

"Mas, ahhh. enak banget, mas! Ehmmmm." rintih Mona kegelian.

"Enak kan? Ehmm... memek kamu juga. ehmm, lezat banget!!" balas Didi.

"Mas beda dari biasanya. ahhhh. emmmmhhh!!" desis Mona saat lidah nakal Didi menekan-nekan masuk ke dalam lubang kecilnya. Lidah itu memelintir ke atas dan ke kiri, sementara tangan Didi asyik mengelus-ngelus paha mulusnya. "Mas, aaaah. mas semangat banget sih! Emmmh." membuat Mona makin merintih dan menggelinjang dibuatnya.

Didi melepaskan jilatannya dan memasukkan jari telunjuknya ke dalam memek Mona. dia menekan-nekan memek sang istri dgn penuh semangat. Membayangkan Mona masturbasi selama mencuci membuatnya sedikit malu. Sebegitu ngga jantan kah dia hingga istrinya harus masturbasi sendiri? Didi bertekad memuaskan Mona sebisa mungkin, sama seperti perlakuannya kepada Sinta siang tadi.

"Mas, ahhh... jangan cepet-cepet, mas! Emmmh." Mona merintih. Didi menjilat itil nya sembari terus mempercepat permainan tangannya. dia memasukkan jari tengahnya dan memandangi wajah Mona yang keenakan tanpa melepaskan jilatan mulutnya. Tangannya semakin cepat bergerak ke depan dan ke belakang. Memek Mona semakin basah dibuatnya, Didi bisa merasakan tubuh perempuan itu menggelinjang hebat.

"Ohhhh... mas! Mas! Mas!!! Ahhhh!! Ahhh! Ahhh!" Mona menggelinjang hebat dan tubuhnya berkontraksi dahsyat. dia mengerang penuh nafsu saat cairan memek nya berhamburan keluar melalui memeknya.

Didi yang ngga menyia-nyiakan kesempatan itu dgn ganas menjilat habis semuanya. Setia teguk yang dia telan membuatnya semakin bergairah dan bersemangat.

"Ohhh. mas! Enak banget, mas!" desah Mona dgn mata terpejam rapat.

"Kamu belum pernah digituin kan sama saya?" tanya Didi.

Mona cuma terdiam malu. Reaksi diam mendadak yang dilakukan Mona menimbulkan tensi aneh secara mendadak di antara mereka berdua. Mona menyembunyikan sesuatu, bukan cuma hubungan seksual dgn Yossi tadi, namun sesuatu yang lain. Didi yang ngga ingin membuang-buang waktu dgn berpikir panjang, mulai bergerak ke depan untuk mencium mulut manis sang istri. Bibir mereka beradu dan terpaut begitu panas. Didi dgn gemas melumat bibir dan lidah Mona, lalu menghisapnya dgn rakus. "Hmpphhh. ahhh!!"

Mona yang awalnya terkesan pasrah dan ogah-ogahan tiba-tiba ikut-ikutan menjadi aktif dan menekan kepala Didi menuju mulutnya. Tangan kanannya mengacak-ngacak rambut Didi dgn penuh semangat sementara tangan kirinya mulai bergerak menuruni perut Didi, berusaha mencapai batang kejantanan sang suami yang telah mendampinginya selama limabelas tahun ini. dia merindukan seks panas seperti ini yang udah jarang dia dapatkan dari Didi, walaupun seks yang dia lakukan siang ini ngga kalah merangsang dan hebatnya. Tapi melihat suaminya tiba-tiba semangat seperti ini membuat Mona menjadi semakin bergairah dan penasaran.

"saya masukin sekarang ya, sayang?" tanya Didi.

"Ahhh. iya, cepetan, mas! Emmmh." erang Mona sembari membuka kedua kakinya lebar-lebar.

Didi segera mengarahkan penisnya yang udah tegang mencuat secara sempurna menuju liang kemaluan sang istri. dia mulai menekan secara perlahan-lahan diikuti desah gelisah Mona. "Ahhh. emmmh... mas! Ooooh. emmh!!" Mona menggigiti bibirnya penuh nafsu. dia memandangi Didi yang udah bercucuran keringat sebab begitu bergairahnya. Mona seakan-akan melihat Didi sewaktu laki-laki itu masih menjadi pacarnya di SMA dulu. Setiap kali mereka berhubungan, semua begitu tabu dan menegangkan, membuatnya cukup bergairah. Mona merasakan sensasi itu lagi, entah sebab apa. Seks panas yang dia damba-dambakan dgn sang suami selama delapan tahun terakhir datang kembali udah, tepat setelah dia berselingkuh untuk pertama kalinya. Sungguh hari yang menyenangkan.

BLESS!!

"AAAAAHHH!! Emmmh. ooooh... sayang! Ahhh... tekan, sayang! Eemmmh... tekan yang kuat!" lirih Mona.

Didi mengabulkan permintaan wanita cantik itu, dia tekan pinggulnya kuat-kuat hingga batang penis nya amblas seluruhnya, kemudian tanpa membuang waktu lagi mulai memainkan pinggulnya maju-mundur, menggoyangnya ke depan dan ke belakang.

"Enak, say?" tanya Didi di sela-sela genjotan tubuhnya.

"Enak! Eemmmh. enak banget, sayangku! Eemmmh... oohhhh!" desis Mona menikmati gesekan batang kelamin Didi di liang senggamanya.

Didi menghujamkan penisnya semakin menggila. "Kamu hari ini enak banget! Emmmh... memekmu empuk, sayang! Eemmmh..." dia berbisik dan mencium mesra bibir tipis Mona.

"Ooohh, Di! Ahhh... cium saya! Emmmh... oooh. cium saya, Di!" pinta Mona lirih.

Didi segera melumat bibir perempuan cantik itu tanpa mengendurkan gerakan pinggulnya yang mulai ngga teratur akibat terlalu cepat menggoyang.

"Ahhhh. ooh." membuat Mona makin merintih keenakan dibuatnya.

Didi berbisik di telinga Mona. "Diputar ya, sayang, tubuhnya?"

Tanpa melepaskan tubuh Mona, Didi memutar tubuh sintal wanita berumur 38 tahun itu menjadi posisi menungging. dia melanjutkan tusukan penisnya dgn gaya doggy style, sama persis seperti gaya yang Yossi berikan kepada Mona pagi ini.

"Ahhhhh. kamu kasar banget, Di! Eemmmh. oooh." desis Mona kegelian.

"Tapi. mmmmh. kamu suka kan? Mmmmhhhh..." tanya Didi sembari mempercepat tusukannya.

"Ahhhh... Di, saya mau keluar lagi, Di! Mmmmh... aaaahhhh... Di! Di!" Mona meratap.

"saya juga, sayang, ooooh!" Didi membalas tak kalah menggairahkan.

Dan tak lama, CROOOT! CROOOT! CROOOT!!! Didi melepaskan semua pejuhnya di dalam memek Mona. Mereka mengerang lemas secara bersamaan. Didi merebahkan tubuhnya di atas punggung Mona yang masih menungging dan menciumi leher sang istri yang basah kuyup oleh keringat.
"I love you, honey." bisiknya mesra.

"Hah, hah, I love you too." Mona menutup matanya, berusaha mencerna kenikmatan bertubi-tubi yang dia rasakan hari ini.

Didi menoleh ke belakang, ke arah kamera camcorder yang dia sembunyikan dgn baik di dalam lemari pakaian. dia memandangi kamera itu tepat di tengah lensanya, seakan-akan bisa melihat langsung mata Yossi yang sedang tersenyum lebar melihat aksi mereka berdua, dgn tangan penuh peju setelah ’berolahraga’ solo dgn adik kecilnya.

***

Jumat – Pukul 07.27

"Selamat pagi, Pak Didi. Bagaimana cutinya kemarin?" seorang resepsionis manis berambut bob bernama Alia menyapanya ramah.

"Bagaimana ya... Ehm, cukup menyenangkan!" jawab Didi antusias.

Alia tersenyum centil. Entah mengapa setelah tiga tahun sekantor dgnnya, Didi baru menyadari betapa menariknya penampilan Alia sebenarnya. Kontak lensnya yang berwarna abu-abu terlihat cantik, terutama jika disandingkan dgn dada Alia yang berukuran jumbo. 36 B jika Didi perkirakan.

"Tepat waktu, kawan?"

Didi mengenali suara itu. Yossi berjalan di belakangnya dan merangkulnya tanpa ada aba-aba sama sekali. Didi cuma tertawa kikuk dan berjalan mengikuti irama langkah Yossi.

"Pertunjukkan hebat semalam, bos!" kata Yossi.

"Bahagia lo ya? Nonton dimana lo?" tanya Didi.

"Di kamar kerja gue. Istri gue udah tidur duluan." jawab Yossi.

"Hmm, jadi kapan giliran gue?" Didi bertanya lagi.

"Malam ini dia ada arisan ama tetangganya." jelas Yossi.

"Ah, sialan!" umpat Didi tak sabar.

"Denger dulu. Lo enggak tahu kan apa yang gue denger kemarin?" bisik Yossi penuh teka-teki.

"Apa? Lo denger apa?" tanya Didi penasaran.

"Nanti pulang lo gue ajak ke rumah gue. Bilang ke Mona kalau lo mau gue ajak maen capsa." jelas Yossi.

"Capsa? Maksudnya apaan sih?" Didi masih ngga mengerti.

"Percaya ama gue! Sini hape lo. Gue yang minta ijin ama Mona." Yossi menengadahkan tangannya.

Didi berusaha mengolah apa yang baru aja dia dengar dari Yossi. dia yang masih bingung mengeluarkan handphonenya dari dalam kantong celana dan menyerahkannya kepada Yossi.

***

Jumat – pukul 6.38

"Mas Didi, Mas Yos, saya pergi arisan dulu ya." Sinta berteriak dari ruang tamu.

"Oke, silahkan, sayang." Yossi berlagak malas-malasan menjawab dan fokus terhadap tayangan sepak bola di televisi.

Didi sempat melirik dan menangkap Sinta yang mengedipkan mata ke arahnya dgn centil. Setelah yakin Sinta telah keluar dari pagar luar rumah, Didi dgn ngga membuang waktu lagi segera menanyakan apa maksud rencana Yossi pura-pura main capsa pagi ini. "Eh, jadi apa maksud lo ngajak gue main ke rumah lo hari ini?"

"Dia udah beneran pergi? Sini, ayo lo ke kamar gue." ajak Yossi.

Didi mengikuti temannya itu dgn perlahan, mereka berjalan beriringan memasuki kamar tempat dimana Didi dan Sinta berhubungan badan kemarin pagi. "Ada apa disini?" tanya Didi ngga mengerti.

"Lo liat ya," Yossi membuka laci di samping kiri kasurnya. Di dalamnya terdapat berbagai obat-obatan dan barang-barang yang sepertinya ngga begitu penting.

"Ada apaan sih? Cuma obat-obatan gitu?" tanya Didi bingung.

"Sabar dulu. mmmmh!!" Dalam sekali gerakan, Yossi menarik lacinya kuat dgn sedikit dicondongkan ke atas. dia menarik keluar kabinet berisi obat-obatan itu, mengekspos sedikit celah gelap yang tersembunyi di dalam lemari, lalu memasukkan tangannya dan mengeluarkan setumpuk vcd.

"Vcd apa?" tanya Didi.

"Bokep lah." jawab Yossi pede.

"Punya lo?" Didi bertanya lagi.

"Bukan, punya Sinta." sahut Yossi.

"Beneran? Sejak kapan istri lo punya bokep?" tanya Didi tak percaya.

"Dari arisannya." jelas Yossi.

"Arisan?" Didi makin bingung sekarang.

Yossi mengangguk dan tersenyum lebar. dia memasukkan kembali tumpukkan kaset bokep koleksi Sinta dan meletakkan kembali kabinet itu di laci samping kiri kasur.

"Lalu apa tujuan lo nunjukkin ini semua ke gue?" tanya Didi tak mengerti.

"Mau yang nggak kalah seru sama yang kemarin?" tawar Yossi nakal. Sebelum Didi sempat menjawab, dia mengisyaratkan sang sahabat agar mengikutinya keluar. Yossi mulai menaiki tangga menuju lantai dua, mengajak Didi yang masih kebingungan menuju kamar anaknya.

"Anak gue lagi jalan-jalan ke mall, jadi lo bisa lihat kegiatan mereka secara jelas." jelas Yossi.

"Mereka?" Didi masih bingung saat Yossi mengajaknya melangkah masuk menuju balkon kamar. "Lihat apaan, Yos?" tanyanya penuh rasa curiga.

"Lirik ke kiri bawah lo." kata Yossi.

Didi melirik ke bawah dan bisa melihat dgn jelas kegiatan apa yang Yossi maksudkan. Di sebuah taman yang terdapat di perkarangan tetangga Yossi, terlihat tiga orang wanita; mulai dari ibu muda hingga setengah baya, mereka kelihatan saling tertawa dan bergosip bersama.

"Apaan, Yos? Cuma ibu-ibu lagi arisan gitu." kata Didi.

"Lo liat tivi di pojoknya kan?" tanya Yossi.

"Iya, liat. Emang kenapa?" tanya Didi.

"Tunggu aja apa yang bakal dipasang sebentar lagi." Yossi menyahut.

Seorang wanita berambut panjang berjalan masuk, disambut oleh pekikan hangat para ibu-ibu. Didi bisa melihat jelas bahwa wanita itu adalah Sinta, terlihat dari bentuk tubuhnya yang seperti gitar spanyol. Dari gerak-geriknya, Didi bisa melihat Sinta mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya; sebuah kaset vcd. ngga menunggu lama, dia memasukkan video cd itu ke dalam dvd player dan menyetelnya. Kini jelaslah udah apa yang sedang mereka tonton.

***

Sinta – Jumat pukul 07.34

"Ibu-ibu, saya kemarin baru dapat jatah loh." Sinta berpromosi.

"Ih, Sinta mah asik banget. Suami saya mana kuat lagi berdiri?" Wanita berusia paling matang di antara mereka menjawab dgn penuh antusias.

"Ah, jeng Martha bisa aja. Emm, tapi bukan dari suami saya!" jelas Sinta terus terang.

Semua langsung nyerocos secara bersamaan. "Ama siapa, jeng? Ih, nggak cerita-cerita!" kata Maria, sang pemilik rumah, berusia sepantaran dgn Sinta namun rambutnya di cat pirang mentereng.

"Kamu kok beruntung banget sih bisa sering-sering, suami saya mah sibuk melayar di laut sana." cetus Ratih, yang berusia paling muda diantara mereka, baru memasuki usia kepala tiga.

"Temen suami saya." jelas Sinta. "Padahal dia udah kawin juga loh, tapi dia jago banget mainnya! Enak banget deh, jeng!" Sinta terkikik.

"saya jadi mulai horny nih." Maria udah mulai mengelus-ngelus selangkangannya.

"Eh, tunggu dulu! Dvd yang saya pesen dari forum asik itu baru dateng kemarin." kata Sinta.

"Ayo cepetan dong dipasang, jeng! Ih, kelamaan nih." Martha mulai membuka kancing dasternya.

Perlahan suara musik elektrik mulai terdengar. Di layar teve, kelihatan dua orang wanita bertubuh seksi memasuki ruangan ditemani empat orang laki-laki macho yang batangnya udah tegang semua. Melihat adegan ini, semua ibu-ibu itu dgn ngga membuang waktu lagi langsung melucuti semua pakaian masing-masing hingga telanjang bulat.

Martha memiliki toket yang paling besar, lumayan menakjubkan dgn puting coklat yang mencuat keras. dia mulai menggesek-gesekkan tangannya ke atas memek penuh bulunya yang udah basah. Dari kursinya, dia mulai melenguh-lenguh sembari memainkan toket nya dgn tangan yang lain.

"Jeng Martha semangat banget deh, sini saya bantu." kata tuan rumah hari itu, Maria, yang berusia sekitar 37 tahun. Suaminya terlalu sibuk berpergian ke luar negeri hingga dia menemukan bahwa dirinya juga cukup terangsang dgn bermain bersama-sama sesama wanita. toket nya yang lumayan besar dan memeknya yang terawat bersih dari bulu dijamin bakal membuat banyak laki-laki ngiler. dia mulai mengelus-ngelus toket Martha sembari menggigiti leher tetangganya itu.

"Ooooh... Mar! saya nggak pernah bosan deh kalau kamu gituin. Emmmh." rintih Martha kegelian.

Maria semakin aktif dan mengajak Martha bagun dari kursinya. dia telah menyediakan matras besar di tengah kursi-kursi yang dipasang melingkar. dgn tangannya, Maria mengisyaratkan agar Martha merebahkan diri disana. Bertindihan, dia dgn leluasa bisa menciumi pentil coklat Martha dan menyedot-nyedot pentil yang udah mancung sebab horny berat itu. Maria menggesek-gesekkan memeknya agar clitoris mereka berdua dapat bertemu.

"Ratih mau ikutan?" tanya Sinta pada wanita yang tersisa.

"Emmh. boleh, mbak." jawab Ratih malu-malu, dia menerima ajakan Sinta dgn melumat bibir wanita itu penuh nafsu. Tangannya mulai sibuk memainkan toket Sinta yang bundar dan mencubit-cubit putingnya. Mereka mengambil posisi di sebelah Maria dan Martha, keduanya ngga mau kalah sibuk, Sinta dan Ratih merubah posisi mereka menjadi 69 sekarang dan mulai menjilati memek pasangan mereka masing-masing.


"Emmm... memek kamu enak banget, Rat." bisik Sinta.

"Oooooh. ahhhh... mbak, jangan disitu, mbak! Emmmh." rintih Ratih kegelian.

Aroma jembut Ratih membuat nafsu Sinta semakin membara. dia mengemut dan menghisap-hisap itil Ratih yang menyembul keluar dgn begitu semangat. Sembari melakukan itu, Sinta memasukkan tiga buah jarinya untuk mengobel-ngobel memek Ratih yang sempit dgn ngga kalah semangat.

Diserang seperti itu, cairan memek Ratih langsung mengalir keluar dgn deras diikuti dgn dengus nafasnya yang semakin tersengal-sengal. "Ahhh... mbak Sinta! Emmmh. aaaaahhhhhh." desah Ratih keenakan. dia membalas dgn menghisap memek Sinta tak kalah keras.

"Ah, ya... begitu! Jilat terus, mbak! Enak banget! saya ketagihan sama jilatanmu, mbak! Emmmmh. jilat terus punyaku, mbak." rintih Sinta.

Ratih mengangguk cepat dan mulai kembali sibuk menghisap-hisap memek mulus Sinta. Lidahnya dia sempilkan masuk ke dalam lubang kecil nan rapat itu dan dgn leluasa dia putar-putar dan ditekan-tekannya penuh nafsu. sembari tangan kanannya memainkan toket Sinta yang lumayan besar, putingnya yang udah mancung dia pilin sekeras mungkin. Sensasi nakal yang Ratih peroleh dari hubungan senggama penuh nafsu dgn Sinta memang begitu hebat, membuatnya horny setengah mati. Sementara tangannya yang lain dia turunkan ke bawah untuk mengelus-ngelus pantat Sinta yang mengkal dan halus menawan. Sesekali Ratih juga mengelus lubang anus Sinta dan menekan-nekan bagian luarnya dgn jari telunjuk, membuat Sinta menggelinjang dan memekik lirih.

"Mbak, ahhh. jangan teken yang itu, mbak! Emmmh." rintih Sinta.

"Mbak beneran nggak mau?" goda Ratih.

"Mbak, jangan, mbak! Emmmh. ooooh." lirih Sinta.

Ratih tersenyum nakal dan menyelipkan jari telunjuknya masuk. Liang anus Sinta yang sempit langsung menjepit jarinya dgn begitu kencang dan rapat. Tubuh Sinta seketika juga bergetar hebat oleh sensasi baru itu. "Ahhh. mbak! saya nggak kuat, mbak! Ohhhh..." wanita itu menjerit.

"Masa sih, mbak? Emmmh. kok kayaknya mbak malah menikmati gitu!" Ratih menusukkan jari telunjuknya dan menekannya masuk semakin dalam.

"Ahhhh... mbak!" Sinta kembali mengerang hebat dan membenamkan kepalanya semakin jauh ke dalam selangkangan Ratih.

Maria melepaskan gigitannya dari puting Martha dan memandangi wajah wanita yang kelelahan itu. dia menjilat habis bibir Martha dan melumatnya penuh nafsu. Martha cuma bisa mengerang keenakan sembari tangannya semakin ganas memainkan memeknya sendiri.

"Mbak mau coba mainan baru saya nggak?" tanya Maria.

"Emm... mainan baru apa, Mar? saya mau dong!" kata Martha antusias.

"Liat nih, jeng, oke kan?" Maria tersenyum nakal dan mengeluarkan sebuah dildo panjang dgn dua buah sisi.

"saya mau dong, mbak! Kayaknya, emmmh. enak banget!" Martha menjilat bibirnya.

Maria mulai merangkak turun dan bergeser ke selangkangan Martha. dgn dildo panjang di tangan kanannya, dia mulai menjilati memek Martha yang sebenarnya udah amat cukup basah itu. Martha cuma bisa menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, keenakan. dia melenguh panjang bagai sapi yang mau disembelih saat Maria mulai memasukkan kepala dildo yang berujung tumpul perlahan-lahan ke dalam memeknya yang udah terbuka lebar.

"Kumasukkan ya, mbak!" kata Maria, tangannya terus mendorong.

"Ahh. Maria, emmmh. enak banget! Ahhhh..." dengus Martha dgn tubuh berjengit nikmat. BLESSS!!! Dildo itu dgn mudah menembus memeknya, mentok hingga ke mulut rahimnya.

"Ooohhh... emmmmhh. yang cepet, Maria! Eemmmmh." lenguh Martha saat Maria mulai menyodok-nyodokkan dildo itu keluar masuk dgn cepat di lubang kemaluannya. Dia cuma bisa menggelinjang hebat saat menerimanya. toket nya yang besar bergerak naik turun seiring dgn irama kocokan dildo di tangan Maria.

"Ahhhh. emmmmmh. ooooh." Maria menghentikan gerakannya dan mulai memasukkan ujung dildo yang lain ke dalam memeknya sendiri. Dia dan Martha sama-sama tidur telentang dgn kedua pantat saling bersentuhan, sementara sebuah dildo panjang menghubungkan kedua memek mereka yang terkuak lebar.

"Ahhh... mbak Martha, goyangin pinggul mbak dong! Oooh." pinta Maria.

"Mmmmh. ahhh. kamu juga dong, mbak! Emmmh. emmmh." sahut Martha.

Ratih dan Sinta yang berbaring tak jauh dari situ, mulai mengubah posisi mereka dgn tetap saling berpagutan mulut. Sinta menciumi Ratih penuh nafsu sembari meremas-remas kencang toket wanita cantik itu. Ratih yang ngga mau kalah menarik rambut panjang Sinta ke belakang dan menjilati leher Sinta yang halus dan menggairahkan.

"Emm... mbak Sinta, kita bantuin mereka yuk?" bisik Ratih pada Sinta.

"Boleh, ayo kita ikut nimbrung." angguk Sinta.

Mereka berdua tersenyum dan merangkak menuju Martha dan Maria yang sama-sama menutup mata penuh kenikmatan. Ratih menggenggam dildo tepat di bagian tengah dan mulai menggerakkannya maju-mundur, menusuk alat kelamin Martha dan Maria secara bergantian, sembari sesekali menekan dildo itu keluar masuk secara bersamaan di memek mereka berdua. Tangan kirinya ikut bekerja dgn memainkan itil Sinta yang semakin bergairah melihat erangan penuh nafsu dari Maria dan Martha. Sinta sendiri mendekati selangkangan Martha dan menjilati itil wanita setengah baya itu yang tersembul manis di balik hutan rimba miliknya. itil itu dia pelintir dgn lidahnya dan sesekali dia hisap penuh nafsu.

"Mbak Sinta, ahhhhh. isapan mu, oooh. Ratih! Emmmmh. dildonya. ahhhh..." rintih Martha kebingungan.

Tukeran Istri Bikin Gairah Sex Suami Meninggi

Tukeran Istri Bikin Gairah Sex Suami Meninggi, cerita 17 tahun dewasa, seks swinger
Klik foto untuk memperbesar gambar

"Makin cepet, Rat! Ayo, emmmmh. aahhhh... oooohhhh..." desah Maria tak mau kalah.

"Ahh. segini gimana, mbak, cukup cepet nggak?" tanya Ratih sembari mengocok dildo di tangannya semakin kencang.

"Ahhhh... ahhhhh. emmmh." membuat Martha dan Maria menjerit berbarengan penuh gariah kenikmatan.

Ratih mulai menyondongkan tubuhnya menuju Maria dan menjilati puting merahnya yang udah mencuat sebab horny. Keempat wanita itupun melanjutkan ‘arisan’ penuh nafsu itu selama satu jam ke depan tanpa menyadari bahwa ada dua orang laki-laki yang memperhatikan kegiatan mereka dari beranda di rumah sebelah.
Tukeran Istri Bikin Gairah Sex Suami Meninggi
Tukeran Istri Bikin Gairah Sex Suami Meninggi, cerita seks , Tukeran Istri Bikin Gairah Sex Suami Meninggi, cerita 17 tahun dewasa, seks swinger, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Tukeran Istri Bikin Gairah Sex Suami Meninggi

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com