Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks

Pram terkejut ketika membaca dua kalimat singkat pada sepotong kertas yg terselip di antara hasil test murid-muridnya..

"Saya ingin punya cowok yg seperti Bapak, jantan! Apalagi kumis Bapak yg tebal itu, menggemaskan".

Setelah membacanya, dia menarik nafas panjang beberapa kali. dia menduga bahwa potongan kertas itu terselip di kertas test muridnya yg nakal, Nani. Lalu dia memutuskan untuk merobek kertas itu menjadi beberapa potongan kecil. dia gak ingin istrinya menemukan dan membaca kertas itu.

Tanpa disadarinya, pikiran Pram menerawang ke beberapa 'peristiwa menyenangkan' ketika dia mengajarkan matematika di kelas 2B. Kelas itu menjadi berbeda daripada kelas-kelas lainnya krn di kelas itu ada Nani yg cantik, berhidung bangir, berkulit kuning bersih, dan selalu duduk di kursi barisan paling depan. Kursi itu berjarak kira-kira 3 meter dari meja guru dan persis berhadap-hadapan.

Nani menjadi murid yg 'istimewa' krn bila sedang latihan mengerjakan soal, lututnya selalu agak renggang. Dari mejanya, Pram dapat memandang celah di antara kedua lutut itu. Dan krn murid-murid lainnya sedang sibuk mengerjakan soal masing-masing dgn kepala tertunduk, maka Pram merasa bebas menatap pemandangan indah di depannya.

Pertama kali, Pram merasa bahwa hal itu hanya sebuah ketidaksengajaan. Murid yg istimewa itu mungkin terlalu asyik dan serius mengerjakan soal latihan sehingga nggak menyadari posisi duduknya yg menggairahkan birahi seks lelaki. Sesekali kedua lutut itu dirapatkan, tapi gak lama kemudian terbuka kembali.

dia jadi terlena menatap keindahan paha dan kecantikan wajah cewek remaja yg duduk di depannya. Dan gak sengaja, dia ngeliat senyum kecil di sudut bibir cewek itu ketika memergoki arah tatapan matanya. Saat itu, dia langsung mengalihkan pandangan ke sekeliling ruang kelas. Tapi gak lama kemudian, seperti dihipnotis, pandangannya beralih kembali ke tempat semula. Ternyata kedua lutut itu terbuka semakin renggang hingga dia dapat ngeliat kemulusan paha bagian dalamnya.

Pram gak mampu mengalihkan matanya ketika muridnya itu kembali mengangkat wajahnya. Sesaat, tatapan mata mereka berbenturan. Lalu keduanya tersenyum. gak lama kemudian, kedua lutut itu semakin direnggangkan hingga dia terpana menatap segaris celana dalam berwarna putih. Barulah disadarinya bahwa paha itu memang sengaja direnggangkan agar dia dapat memandang keindahan yg tersembunyi di balik rok seragam berwarna abu-abu itu.

Pada kesempatan lain, Pram hanyut ke dalam fantasinya sendiri. Seandainya mungkin, dia ingin menghampiri dan ngeliat keindahan itu lebih dekat lagi. dia ingin mengusap kemulusan paha itu dan mengecup pori-porinya berulang kali. dia ingin mencicipi kehalusan kulit paha itu dgn ujung lidahnya. Lalu dia akan mengecup dan sesekali menjilat, mulai dari lutut hingga ke pangkal paha. dia juga ingin menyusupkan telapak tangannya ke bawah rok cewek remaja itu agar dapat meremas bongkah pinggul yg pasti masih kenyal.

Dan yg paling penting, dia ingin menyibak secarik kain tipis penutup pangkal paha cewek itu agar dia dapat menghirup aroma semerbak yg tersembunyi di situ. Aroma seorang cewek belia pasti sangat segar, katanya dalam hati. Aroma yg membius! Aroma yg membuat dia gak berdaya! Lalu dia akan menghirup aroma itu dalam-dalam. Setelah aroma itu memenuhi rongga dadanya, dia akan mencium dan menjilat-jilat kelembutan bibir memek yg segar itu. Lidahnya akan menari-nari dgn liar agar kedua belah paha mulus itu 'menggunting' lehernya sehingga lidahnya terperangkap dalam liang memek yg basah. Setelah melipat lidahnya seperti bentuk sekop, akan dihisapnya semua lendir yg tersembunyi di bibir dalam dan dinding memek itu. Akhirnya, dia akan meremas-remas bongkahan pinggul kenyal itu sembari membiarkan lidahnya merasakan denyutan-denyutan memek seorang cewek remaja yg sedang mencapai puncak orgasmenya.

Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks


Kira-kira seminggu setelah menyuguhi pemandangan indah di pangkal pahanya, tiba-tiba Nani berjalan menghampiri Pram. Saat itu bel jam istirahat telah berbunyi. cewek itu sengaja keluar paling akhir dari ruang kelas.

"Ini untuk Bapak!" katanya sembari meletakkan sepotong kertas di atas meja, lalu melangkah terburu-buru meninggalkan ruang kelas.

Pram membaca tulisan di kertas itu, 'Coba tebak, besok Nani pakai CD warna apa?'. Dan di bawah tulisan itu ada nomor HP. Setelah merenung sejenak, Pram memasukkan nomor HP itu ke dalam memory HP-nya. Sejenak dia ragu mengirimkan SMS untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi ada bisikan di lubuk hatinya, 'Ini hanya sebuah game, gak salah untuk dicoba.' Dan kemudian dia menuliskan satu kata, 'Pink.'

Kira-kira semenit kemudian, HP Pram berbunyi. dia membaca SMS yg masuk, 'Salah.' Lalu dibalasnya, 'Biru muda.' gak lama kemudian, masuk jawaban, 'Salah!'. Dibalasnya lagi dgn, 'Putih!'. Jawabannya, 'Masih salah!'. Setelah merenung sejenak, Pram membalas, 'Hitam.' Lalu dia menerima balasan, 'Ayo, itu CD siapa? Nani nggak punya CD warna hitam!'.

Pram tersipu. Lalu dia menulis SMS yg agak panjang, 'Nyerah deh. Yg pernah aku lihat hanya: putih, pink, dan biru muda. 2 hr y.l aku nggak bisa ngeliatnya krn pahamu kurang terbuka!' Dan dia pun menerima jawaban yg agak panjang, 'Jadi Bpk ingin bsk Nani pakai warna apa?' Merasa game yg mereka mainkan telah meningkat panas dan mesra, dgn berani Pram menulis, 'Jgn pakai!!' Dan setelah SMS itu dikirimkan, hingga menjelang tidur malam harinya dia nggak mendapat balasan. Mungkin dia marah dan tersinggung, pikir Pram.

Keesokan harinya, jantung Pram berdebar-debar ketika berada di ruang kelas. Setelah menjelaskan beberapa contoh soal, dia melangkah berkeliling di antara kursi murid-muridnya. dia berbuat demikian agar gak sempat bertatap mata dgn cewek remaja yg nakal itu. Tapi ketika sedang melangkah di sebelah kiri kursi Nani, cewek itu sengaja menjatuhkan pensilnya ke lantai persis di depan kursinya.

Tanpa sadar, dgn refleks dia berhenti lalu menunduk memungut pensil itu. Dan ketika menengadah, tiba-tiba wajahnya merona merah. Walau hanya sesaat, dilihatnya cewek itu sengaja mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar, lalu dgn cepat dirapatkan kembali. Memang hanya dalam hitungan detik, tetapi dia sempat ngeliat pangkal paha itu dari jarak yg sangat dekat. Di pangkal paha itu ada setumpuk kecil bulu-bulu ikal berwarna hitam. Bukan hitam pekat, tetapi hitam kecokelat-cokelatan krn bercampur dgn bulu-bulu halus, lurus, dan masih pendek. Bulu-bulu yg baru tumbuh!

Setelah berdiri kembali dan berhasil menguasai dirinya, Pram menatap ke sekeliling ruang kelas. gak terlihat ada tanda-tanda bahwa murid-murid lainnya mengetahui peristiwa itu. Lalu dgn suara tegas berwibawa, dia berkata..

"Kerjakan latihan soal nomor 1 dan 2."

*****

Sore itu, ketika baru saja menutup pintu mobilnya, HP Pram berbunyi. dia terpana ketika membaca nama yg muncul, Nani.

"Ya, ada apa Nani?"
"Bapak marah ya?! Kenapa setelah mengambil pensil Nani dari lantai Bapak nggak duduk kembali di kursi Bapak. Padahal hari ini Nani sengaja nggak pakai CD agar Bapak bisa memandanginya!"

Lidah Pram tiba-tiba terasa kelu. Gila, katanya dalam hati. Si Nani ini bicara to the point. Berkesan vulgar. Menantang. cewek itu seolah gak peduli, atau memang gak mau peduli efek dari kalimat-kalimat nakal yg diucapkannya.

"Aku nggak marah! Aku sedang memikirkan apakah aku masih akan mendapatkan kesempatan memandang pangkal pahamu dari jarak sedekat itu." kata Pram setelah memutuskan untuk 'masuk' ke game yg lebih dalam lagi.

Hanya orang bodoh yg menolakmu, katanya dalam hati. Bahkan kamu bisa membuat semua lelaki menjadi bodoh dan gak berani membantah keinginanmu. Lelaki mana yg berani menolak keinginan seorang cewek remaja yg cantik dan seksi seperti kamu? Lelaki mana yg akan membantahmu bila kau janjikan akan mendapatkan hadiah berupa sepasang paha ramping dan panjang yg akan membelit pinggangnya?

"Bapak suka?"
"Suka banget! Apalagi kalau boleh dicium!"
"Bapak mau mencium paha Nani?"
"Mau! Paha dan pangkalnya ya!"
"Ha?!"
"Apa memek Nani belum pernah dicium?"

Sejenak gak ada jawaban. Pram pun sempat ragu-ragu untuk melanjutkan. Apakah mungkin si Nani yg vulgar dan nakal itu masih perawan? Belum pernah merasakan lidah lelaki menjilat-jilat bibir memek nya, mengisap-isap klitorisnya? Apakah mungkin dia belum pernah menggosok-gosokkan dan menghentak-hentakkan celah memek di bibir dan hidung seorang lelaki? Kalau belum, mengapa dia mengatakan suka pada kumisku?, tanya Pram dalam hati.

Rasa penasaran membangkitkan gairah kejantanannya. Bagian bawah pusarnya mulai tegang ketika membayangkan keindahan bulu-bulu di sekitar memek itu. Bulu-bulu yg dapat dia tatap sepuas hatinya. nggak hanya pandangan sekilas seperti ketika dia memungut pensil dari depan kursi cewek belia itu. Bulu-bulu halus yg masih pendek, yg membuat dia gemas ingin menarikinya dgn bibirnya. Menggelitiknya dgn kumisnya yg kasar. Gelitikan yg membuat pinggul itu mengelinjang. Lalu dia akan menjilatnya. Dan krn gak sabar, cewek itu akhirnya menarik kepalanya agar dia mencium dan menjilati bibir memek yg mungil itu. Ini kesempatan emas yg mungkin terjadi hanya sekali seumur hidup, atau nggak akan pernah terjadi sama sekali! Take it or leave it, katanya dalam hati.

"Hallo Nani!"
"Kalau dicium di situ belum pernah. Kalau dahi dan pipi sering, dicium Papa."
"Terserah Nani deh. Aku akan menurut saja. Kalau hanya boleh memandang saja, aku suka. Kalu diijinkan mencium, aku pun suka. Dilarang, aku pun akan patuh."
"Kalau suka, Nani akan mengijinkan Bapak memandangnya lagi dari jarak dekat!"
"Kapan?"
"Mau sekarang?"
"Hah?!"
"Nani sekarang ada di Mall Arion. Bapak jemput Nani ya. Jangan parkir. Masuk ke halaman mall dan melewati pintu depan. Nani sekarang berdiri di situ, buruan ya!"
"OK!"


Pram tersenyum sembari melirik Nani yg duduk di sebelahnya. Secara material, walau hanya seorang guru matematika, dia nggak kekurangan. dia berasal dari keluarga yg berkecukupan. dia memiliki rumah dan mobil sedan yg baik pemberian orangtuanya. dia mencintai matematika dan ingin mengajarkannya kepada orang lain. Cita-citanya hanya ingin membuat matematika menjadi sebuah ilmu yg mudah untuk dimengerti. Sikapnya yg sabar ketika mengajar membuat dia disukai murid-muridnya. dia memang nggak ingin diarahkan orangtuanya menjadi seorang pengusaha seperti yg dialami adiknya.

"Kita kemana?" tanya Pram memecah keheningan.
"Ke rumah Nani saja. Di rumah Nani hanya ada pembantu. Papa dan Mama sedang ke Singapore."
"krn sekarang nggak sedang di kelas, sebaiknya panggil langsung nama, jangan pakai Pak."
"Benar? Nggak marah?"
"Benar! Walau perbedaan usia di antara kita mencolok, bukan berarti kita harus membuat sekat pemisah. Sekat seperti itu sangat membatasi ruang dan gerak. Secara formal, kadang-kadang sekat seperti itu memang diperlukan untuk menjaga jarak krn kita terikat pada norma dan etika. Kalau informal, sekat-sekat itu gak diperlukan krn akan membatasi seseorang dalam mengekspresikan dirinya. Setuju?" Nani tertawa kecil mendengar uraian Pram.
"Kayak menjelaskan rumus matematika saja!" komentarnya.

Ternyata cewek remaja itu tinggal di sebuah rumah besar dan mewah. Nani menggandeng tangan Pram menuju ruang keluarga yg terletak di bagian tengah, lalu menghilang di balik salah satu pintu setelah aku menghempaskan pantat di atas sebuah sofa besar dan empuk. gak lama kemudian, seorang pembantu datang meletakkan segelas minuman ringan di hadapanku dan kemudian dgn terburu-buru menghilang kembali ke arah belakang.

sembari menunggu, Pram melayangkan pandangan ke sekeliling ruangan. Semua furniture di ruangan itu tertata rapi dan bersih. Pada sebuah dinding, tergantung lukisan berukuran kira-kira 1 x 1 meter. Lukisan seorang anak perempuan kira-kira berumur 7 tahun yg berdiri diapit oleh ayah dan ibunya. Anak itu sedang tersenyum lugu. Rambutnya berponi. Lucu. Itu pasti Nani dan kedua orangtuanya, kata Pram dalam hati.

Kurang lebih 15 menit kemudian, Pram terhenyak. cewek remaja itu berdiri di hadapannya dgn gaun tipis berwarna putih yg ujung bagian bawahnya tergantung kira-kira sejengkal di atas lutut. Gaun tanpa lengan. Hanya dua utas tali di bahu kiri dan kanan yg mengikat gaun itu agar tetap tergantung menutupi tubuh pemiliknya. Cantik. Seksi. Mempesona. Rambutnya lurus sebahu. Tingginya yg kira-kira 165 cm membuat dia tampak anggun. Tonjolan dadanya proporsional. Gaun tipis itu seolah menebarkan sejuta misteri yg memaksa mata lelaki menatap gak berkedip untuk mengungkap rahasia lekuk-lekuk tubuh yg tersembunyi di baliknya. Bagian bawah gaunnya yg lebar dan berenda seolah menjanjikan telaga birahi seks yg akan menyeret lelaki menyelam dalam sejuta fantasi.

"Nani, kau cantik sekali," kata Pram memuji. Pujian jujur yg keluar dari lubuk hatinya.

Nani tersenyum. Selama ini belum pernah ada lelaki yg memujinya seperti itu. dia senang mendengar pujian itu. dia pun sangat senang krn sebelumnya gak pernah ngeliat guru matematikanya itu terpesona menatapnya. dia pun belum pernah ngeliat tajamnya sorot mata lelaki yg terpesona menatap. dgn sikap feminin, dia duduk di sebelah kiri Pram.

"Nani, mengapa kamu memakai gaun seperti itu?"
"krn Nani suka pada Bapak. Juga krn Bapak tampan dan jan.."
"Ehh, ehh! nggak pakai sebutan Bapak!"
"Lupa..! Juga krn Pram tampan dan jantan, itu jawabannya!"
"Alasan lain?"
"Nani nggak punya saudara. Nani anak tunggal. Sering kesepian di rumah krn sering ditinggal Papa dan Mama. Nggak punya sahabat krn banyak teman-teman perempuan yg iri sama Nani. Nggak punya pacar krn cowok yg seusia Nani rata-rata egois. Obsesinya mereka selalu tentang sex. Padahal Nani belum tentu suka. Jelas Bapak guru?"

Pram tertawa krn kata 'bapak guru' itu diucapkan dgn cara yg lucu. Dan sebelum tawanya berakhir, tangannya meraih bahu cewek itu. Dirangkulnya dgn ketat. gak ada perlawanan. Sisa sabun beraroma lavender yg memancar dari tubuh cewek itu terasa menyegarkan ketika aromanya menyengat hidung Pram. dgn gemas, di kecupnya pipi cewek itu. Kiri dan kanan.

"Seperti Papa," kata Nani sembari tertawa kecil.

Lalu dia bangkit dan berjalan ke arah pintu penghubung yg membatasi ruang keluarga dgn bagian belakang rumah. Setelah mendengar 'klik', dia melangkah kembali menghampiri Pram dan duduk rapat persis di sebelah lelaki itu.

Pram menggamit dagu cewek itu agar menoleh ke arahnya, kemudian dgn cepat bibirnya memagut bibir mungil cewek itu. Bibir yg terlihat basah walau tanpa lipstik. Sejenak gak ada reaksi. Diulangnya mengulum sembari menjulurkan lidahnya untuk mengait-ngait. Tapi lidah cewek itu masih tetap diam bersembunyi di rongga mulutnya. Sejenak, Pram melepaskan pagutan bibirnya. Ditatapnya wajah yg cantik itu sembari menggerakkan jari tangannya untuk menyibak beberapa helai rambut yg terjatuh di kening cewek itu. Dan ketika kembali mengulang ciumannya, dia merasakan ujung lidah yg menyusup di antara bibirnya.

Segera dipagutnya lidah itu. Dihisapnya dgn lembut agar menyusup lebih dalam ke rongga mulutnya. Kedua telapak tangannya turun ke bahu. Setelah mengusapkan jari-jarinya berulang kali, telapak tangannya meluncur ke punggung. Lalu dibelai-belainya punggung itu dgn ujung-ujung jarinya sembari mempermainkan lidah cewek itu dgn ujung lidahnya. gak lama kemudian, dia merasakan dua buah lengan melingkari lehernya. Semakin lama lengan itu merangkul semakin ketat. Kemudian dia mulai merasakan lidah cewek itu bergerak-gerak. nggak hanya pasrah menyusup, tetapi mulai bergerak membelit dan balas mengisap.

Pram melepaskan pagutan bibirnya. Sejenak mereka saling menatap. Terlihat bias-bias birahi seks di kedua bola mata mereka. Lalu dikecupnya dahi cewek itu dgn mesra. Kemudian bibirnya berpindah mengecup bahu. Mengecup berulang kali. Dari bahu bibirnya merayap ke leher. Sesekali lidahnya dijulurkan untuk menjilat.

Nani menggelinjang krn geli, seolah sekujur tubuhnya sedang digelitiki oleh jari-jari yg nakal dan menggemaskan. dia menyukai hal itu, menyukai kecupan dan jilatan yg merambat di sekeliling lehernya. Apalagi ketika dia merasakan lidah itu menjilat-jilat kerongkongannya disertai telapak tangan yg meremas buah dadanya. Sesaat, dia menahan nafas ketika telapak tangan itu hanya menekan buah dadanya, tetapi gak lama kemudian, dia menghembuskan nafas lega merasakan telapak tangan itu meremas dgn lembut.

"Aahh, Pram," desahnya sembari menghembuskan nafas panjang.

Bibir Pram kembali merayap ke bahu. sembari sesekali mengecup, dia menggunakan giginya untuk melepaskan tali yg mengikat gaun itu. Lidah dan hembusan nafasnya membuat cewek itu menggelinjangkan bahunya.

Nani baru menyadari bahwa tali pengikat gaunnya telah terlepas setelah dia merasakan bibir lelaki itu menyusur menciumi belahan atas buah dadanya. Bulu roma di sekujur tubuhnya meremang. Belum pernah ada lelaki yg melakukan hal itu. dia ingin menolak, ingin mendorong kepala yg semakin mendekati buah dadanya, tetapi tangannya terasa lemah gak bertenaga. Ada rasa geli dan nikmat yg menjalar di pori-pori sekujur tubuhnya. Rasa yg membuat dia gak berdaya menolak. Apalagi setelah merasakan lidah itu menjilat-jilat dadanya. Jilatan-jilatan basah yg membuat jari-jari tangannya menekan kepala lelaki itu ke dadanya.

dia menarik nafas lega, merasa beruntung krn nggak mengenakan bra di balik gaunnya. Bibirnya sesekali mendesis-desis seperti kepedasan ketika dia merasakan jilatan-jilatan itu semakin liar menjelajahi buah dadanya yg baru mekar. Dan ketika putik buah dadanya terperangkap dalam jepitan bibir lelaki itu, dia merintih sembari menghentakkan telapak kakinya di atas karpet..

"Aarrgghh.. Pram, enaak! Aduuhh..!".

Sekujur tubuhnya merinding ketika merasakan putik dadanya dijentik-jentik dgn ujung lidah. Lalu digigit dgn lembut. Dilepaskan. Digigit kembali. Dilepas. Dan tiba-tiba dia merasakan buah dadanya dihisap agak keras, seolah ingin ditelan!

Nani mendesah ketika merasakan jari-jari tangan Pram mengelus-elus bagian dalam pahanya. dia mendesah dalam kenikmatan sembari menghempaskan lehernya di sandaran sofa. Secara naluriah, direnggangkannya kedua belah pahanya agar jari-jari dan telapak tangan itu dapat merayap lebih dalam. dia ingin segera merasakan jari-jari tangan itu mengelus-elus pangkal pahanya.

Isyarat itu dimanfaatkan Pram dgn baik. dgn sebuah tarikan kecil, dia menyingkap gaun cewek remaja itu. gak ada kesulitan ketika menyingkap gaun itu. Bagian bawahnya yg lebar membuat gaun itu tersangkut dgn mudah di bawah pusar. dia terpaksa menghentikan aktivitas bibirnya krn dia ingin menunduk agar dapat memandang pangkal paha itu lebih jelas.

"Aku akan menciumnya," kata Pram sembari bangkit dari sofa, kemudian duduk di atas karpet persis di antara kedua lutut Nani.
"Jangan dicium, Pram. Nani takut."
"OK, tapi kasih pemandangan yg paling indah ya," kata Pram sembari mengangkat kaki kanan cewek itu.

Lalu diletakkannya telapak kaki kanan itu di atas sofa. gak lama kemudian, bola matanya terbelalak menatap pesona yg terpampang di hadapannya! Sebelah paha tergeletak di atas sofa, sedangkan paha yg sebelah lagi tertekuk, telapaknya menginjak pinggir sofa. dgn sebuah dorongan kecil menggunakan jari, paha yg tertekuk di atas sofa itu terbuka lebar-lebarnya.

"Indah sekali!" sambung Pram sembari menengadah menatap wajah cewek remaja yg cantik itu. Nani tersenyum malu. dia ingin menutup pahanya, tapi gerakannya tertahan oleh tekanan jari di lututnya.
"Nani malu, Pram!" katanya dgn manja. Tapi di dasar hatinya, ada perasaan senang dan bangga ngeliat guru matematikanya berlutut di hadapannya, persis di antara kedua belah pahanya. Perasaan yg membuat dirinya merasa sangat dimanja dan dihargai.

Pram terbelalak menatap kemulusan paha dan celana dalam mini dari satin di hadapannya. Urat darah di kontol nya meronta menatap pemandangan indah itu. Bagian depan celananya terasa sempit. Apalagi ketika dia menatap segaris bagian basah yg tercetak di permukaan memek cewek itu. Bagian basah itu memperjelas bayangan bibir memek yg tersembunyi di baliknya. Dan krn celana dalam satin itu sangat tipis, dia bahkan dapat ngeliat bayangan bulu-bulu yg tumbuh di sekitar bibir memek nya.

Keindahan itu sangat mempesona sehingga dia terpaksa melepaskan ikat pinggang dan ritsleting celananya agar kontol nya terbebas dari penderitaan. Lalu diciumnya paha bagian dalam yg tertekuk di atas sofa itu. Diciumnya berulang kali seolah gak puas merasakan kehalusan kulit paha itu di bibirnya. Setelah itu ciumannya berpindah ke paha sebelahnya. sembari terus mencium dan sesekali menjilat, dielus-elusnya pula paha bagian luar. Semakin lama ciumannya semakin mendekati pangkal paha. Lalu dia berhenti sejenak untuk menghirup aroma semerbak yg semakin tajam menusuk hidungnya. Fantasinya di depan kelas telah menjadi kenyataan. dgn gemas, dibenamkannya hidungnya persis di antara bibir memek cewek remaja itu. Sesekali diselingi dgn menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Pramo..! Aauuw!" pekik Nani krn terkejut sembari menggelinjangkan pinggulnya.

Tapi beberapa detik kemudian, ketika dia merasakan lidah lelaki itu menjilat-jilat bagian luar celana dalamnya, dia merintih-rintih. dia merasa nikmat setiap kali lidah itu menjilat dari bawah ke atas. Jilatan yg lahap! Basah. Berliur. Jilatan yg membuat dia terpaksa memejamkan mata meresapi kenikmatan yg mengalir di sekujur tubuhnya. Jilatan yg membuat dia menjadi liar, yg membuat dia menghentak-hentakkan kakinya krn beberapa kumis kasar lelaki itu terasa seolah menyusup menembus celana dalamnya yg tipis. Di sela-sela kenikmatan yg mendera, kumis itu terasa menggelitiki memek nya, membuat dia menggeliatkan pinggulnya berulang kali.

Celana dalam mini cewek itu semakin basah. Belahan bibir memek nya semakin jelas terlihat. Lendir semakin banyak bermuara di memek nya. Lendir itu bercampur dgn air liur. krn gak tahan lagi menerima kenikmatan yg mendera memek nya, sebelah tangannya menjambak rambut Pram, dan yg sebelah lagi menekan bagian belakang kepala.

"Pramo, aarrgghh! Nani seperti ingin pipis..!" kata cewek itu di sela-sela rintihannya. Pram menghentikan jilatan lidahnya. dia menengadah dan ngeliat mata cewek itu sedang terpejam.
"Nani ingin pipis, Sayang?" tanyanya sembari menyisipkan jari telunjuk ke balik celana dalam yg menutupi bibir memek cewek itu, lalu ditariknya ke samping.

Terpampanglah di hadapannya memek seorang cewek remaja yg sedang dilanda birahi seks . Masih kuncup tetapi menebarkan janji untuk segera merekah dihisap serangga yg menghinggapinya. dgn jari telunjuk, dibukanya sedikit bibir luar memek berlendir itu. Lipatan yg sedikit terbuka hingga memperlihatkan memek yg bersih, segar dan berwarna pink. ngeliat hal itu, dia memutuskan untuk memberikan cumbuan terbaik. Cumbuan yg sulit untuk dilupakan, yg akan membuat cewek itu menjadi jinak. dia merasa mampu untuk melakukan hal itu. Dan sebagai balasannya, mungkin dia akan mendapatkan perlakuan yg sama. Mempertimbangkan hal itu, dia menenggelamkan dan menggosok-gosokkan hidungnya ke belahan bibir memek cewek itu. Semakin ditekan hidungnya, semakin semerbak aroma yg memenuhi rongga paru-parunya.

Nani membuka kelopak matanya. Bola matanya seolah ditutupi kabut basah dan terlihat mengkilat ketika dia menunduk menatap wajah gurunya yg terselip di pangkal pahanya. dia gak dapat mengucapkan kata-kata. Bibirnya terasa kelu. Kaku. Nafasnya terengah-engah. Mulutnya setengah terbuka megap-megap menghirup udara. dia terpaksa menggeliatkan pinggulnya untuk menahan cairan yg terasa ingin mengalir keluar dari memek nya. dia nggak tega 'mem-pipisi' mulut guru matematikanya itu.

Dicobanya mendorong kepala itu agar terlepas dari memek nya. Tapi kepala itu malah sengaja semakin ditekan ke pangkal pahanya. Dicobanya untuk menarik pinggulnya. Tapi kedua lengan guru yg sangat disayanginya itu semakin kuat merangkul pinggulnya. Walau telah mencoba meronta, mulut yg memberinya kenikmatan itu tetap menghisap-hisap memek nya. Semakin meronta, semakin keras remasan tangan di kedua bongkahan pantatnya. Dan semakin keras pula tarikan di bongkahan pantatnya agar memek nya gak lepas dari hisapan dan jilatan mulut itu.

Akhirnya dia menyimpulkan bahwa mulut itu memang ingin 'dipipisinya'. Mulut itu memang sengaja ingin memanjakan memek nya. Kesimpulan itu membuat dia melayang semakin tinggi dalam kenikmatan, membuat lendir semakin banyak mengalir ke lubang memek nya. Sedikit pun dia gak merasa ragu ketika mengangkat kakinya yg terjuntai di atas karpet, dan melilitkan betisnya di leher lelaki itu. dia sudah gak ingin kepala itu lepas dari pangkal pahanya. Bahkan dia mempererat tekanan betisnya di leher lelaki yg sedang memanjakannya itu. Selain menggunakan betis dan paha, dia pun menggunakan kedua lengannya untuk menjambak rambut dan menekan bagian belakang kepala lelaki itu lebih keras. dia ingin membantu agar mulut itu terbenam di dalam memek nya ketika dia mengeluarkan 'pipisnya'.

Lidah Pram telah merasakan bibir dan dinding memek itu berdenyut-denyut. dia pun dapat merasakan hisapan lembut di lidahnya, seolah memek itu ingin menarik lidahnya lebih dalam. Sejenak, dia mengeluarkan lidahnya untuk menjilat dan menghisap bibir memek mungil itu. Dikulumnya berulang kali. Bibir memek itu terasa hangat dan sangat halus di lidahnya. dia menyelipkan lidahnya kembali ketika menyadari bahwa gak ada lagi cairan lendir yg tersisa di bibir luar. Dijilatinya kembali dinding dan bibir dalam memek cewek remaja itu.

"Pram, Pramo.., Nani nggak tahan lagi. Nani ingin pipiis!"

Pram semakin bersemangat menjilat dan menghisap-hisap. Lidahnya yg rakus seolah belum terpuaskan oleh lendir yg telah dihisapnya. Kumisnya sesekali menyapu bibir luar memek yg segar itu, membuat pinggul cewek itu terhentak-hentak di atas sofa. Walaupun kepalanya terperangkap dalam jepitan paha dan betis, tetapi dia dapat merasakan setiap kali pinggul cewek itu terangkat dan terhempas. Berulang kali hal itu terjadi. Terangkat dan terhempas kembali. Sesekali pinggul itu menggeliat menyebabkan kumisnya menjadi basah.

dia dapat memastikan bahwa dalam hitungan detik sejumput lendir orgasme akan mengalir ke kerongkongannya. Dan ketika merasakan rambutnya dijambak semakin keras diiringi dgn pinggul yg terangkat menghantam wajahnya, dia segera mengulum klitoris cewek itu. Dikulumnya dgn lembut seolah klitoris itu adalah sebuah permen cokelat yg hanya mencair bila dilumuri air ludah. Sesekali dihisapnya disertai tarikan lembut hingga klitoris itu hampir terlepas dari bibirnya. Ketika merasakan pinggul cewek itu agak berputar, dijepitnya klitoris itu dgn kedua bibirnya agar gak lepas dari hisapannya.

"Nani pipis, Pramo! Aargh.. Aarrgghh..!"

Pram menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Bahkan ditekannya lidah dan kedua bibirnya agar terperangkap dalam jepitan bibir memek itu. dia gak ingin kehilangan kesempatan mereguk cairan orgasme langsung dari memek seorang cewek remaja yg cantik dan seksi. Cairan orgasme yg belum tentu dia dapatkan dari murid lainnya. Setelah mencicipi rasa di ujung lidahnya, dihisapnya cairan itu sekeras-kerasnya. Direguknya lendir itu dgn lahap. Lalu dibenamkannya kembali hidungnya di antara celah bibir memek yg berdenyut-denyut itu.

dia ingin menghirup aroma paling pribadi yg dimiliki seorang cewek belia. dgn gemas, dia menghirup aroma itu dalam-dalam. Dan ketika merasakan pinggul cewek itu terhempas kembali ke atas sofa, Pram menjilati memek nya. Setetes lendir pun gak dia sisakan! Bahkan lendir yg membasahi bulu-bulu ikal dan bulu-bulu halus di sekitar memek cewek itu pun dijilatinya. Bulu-bulu itu jadi merunduk rapi seperti baru selesai disisir!

"Pram.., ooh, aarrgghh.., Pram! Enak banget, Pramo..! Aargh.., pipis Nani kok diminum?" desah cewek itu terbata-bata sembari mengusap-usap rambut Pram. Setelah menjilati memek Nani hingga bersih, Pram menengadah.
"Pipis Nani enak banget! Kecut. Agak asin. Tapi ada manisnya!" jawabnya.
"Suka ya minum pipis, Nani?"
"Suka banget! Mau pipis lagi?"
"Hmm.." kata cewek itu dgn manja. Merajuk.
"Benar suka?" sambungnya.
"Suka! Ini tanda sayang dan suka," kata Pram sembari menunduk dan mengulum sebelah bibir luar memek cewek itu.

Nani tertawa kecil. Senang. Bangga. Merasa dimanjakan. Tersanjung krn telah merasakan nikmatnya menjepit kepala guru matematikanya di pangkal pahanya. Nikmat yg baru pertama kali dia rasakan. Tapi tiba-tiba bola matanya terbuka lebar ketika ngeliat Pram membungkuk melepaskan celana sekaligus celana dalamnya dgn sekali tarikan. Dalam hitungan detik, celana itu teronggok di atas karpet. Dan dia bergidik ngeliat kontol gurunya. kontol berwarna cokelat. Panjangnya kira-kira 15 cm. kontol itu hanya berjarak setengah meter dari matanya. Dan krn baru pertama kali ngeliat kemaluan lelaki, cewek remaja itu terkesima. Kelopak bola matanya terbuka lebar ketika dia mengamati urat-urat berwarna biru kehijauan yg terlihat menghiasi kulit kontol itu.

Pram menarik pinggul Nani hingga sedikit melewati pinggir sofa. Lalu dia mengarahkan kontol nya ke memek cewek itu. Nani tekejut. dgn refleks dia menarik pinggulnya.

"Nani masih perawan, Pram," katanya setengah berbisik. Nadanya memelas.

Pram terpana mendengarnya. Sejak awal mencumbuinya, dia memang sudah menduga bahwa cewek itu masih perawan. Terutama krn dia merasakan celah yg sangat sempit ketika menyusupkan lidahnya di antara bibir memek cewek itu. Tapi bila mengingat keberaniannya menggoda dgn cara merenggangkan kedua lututnya, dia menjadi ragu-ragu. Apalagi krn muridnya itu berani bersekolah tanpa celana dalam. Setelah menarik nafas panjang, diraihnya lengan kanan cewek itu.

"Aku gak akan melakukan hal-hal yg nggak Nani sukai. Aku pun gak akan menyakitimu," katanya dgn raut wajah tulus.
"Tapi adik kecil ini sedang menderita, Nani," sambungnya sembari menunjuk kontol nya yg terangguk-angguk.
"Nani elus-elus ya. Kalau dibiarin, kasihan..!"

Lalu diletakkannya telapak tangan cewek itu di kontol nya. Nani terkejut merasakan panas yg mengalir dari kontol itu ke telapak tangannya. Sejenak dia terlihat ragu. dia menarik lengannya, tetapi Pram meraih dan meletakkannya kembali ke kontol nya. Akhirnya kontol itu digenggamnya sembari menengadah menatap wajah lelaki yg disayanginya itu. gak lama kemudian, dia menunduk kembali untuk mengamati kontol dalam genggamannya.

"Sesekali agak diremas seperti begini," kata Pram mengajari.
"Dan sesekali dimaju-mundurkan seperti ini," sambungnya sembari menggerakkan tangan cewek itu maju-mundur.

Nani mulai mengelus-elus. Ada sensasi yg menggelitik dirinya ketika merasakan kehangatan kontol itu di ujung jari-jari tangannya. dia mendekatkan wajahnya untuk mengamati urat-urat berwarna kehijauan yg semakin menggelembung di ujung jarinya. Lalu dia mulai menggenggam dan memaju-mundurkan telapak tangannya. Dan ketika mendengar lelaki itu menarik nafas panjang, dia menengadah.

"Kenapa? Sakit?"
"Enak!"
"Enak?!"
"Enak banget! Apalagi kalau pakai dua tangan."
"Begini?" tanya cewek itu sembari menggenggamkan kedua telapak tangannya.
"Ya, ya, begitu, oohh!"

Nani menjadi bersemangat. dia merasa senang krn dapat memberikan sesuatu yg menyenangkan kepada gurunya itu. dia ingin membalas kenikmatan yg telah dia dapatkan. Apalagi sikap lelaki itu penuh pengertian. gak ada sikap memaksa ketika dia mengatakan bahwa dia masih perawan. dia hanya diminta untuk mengelus-elus dan sesekali meremas kontol itu. Oleh krn itu, tangannya mulai digerakkan maju dan mundur, dari leher kontol hingga ke pangkalnya. Wajahnya semakin mendekat krn dia ingin mengamati kepala kontol yg menghiasi kontol itu. kepala kontol yg semakin lama semakin berwarna merah tua. Dielus-elusnya pula kepala kontol itu dgn ujung jari jempolnya.

"Ooh.., nikmat, Sayang!"
"Kalau diremas seperti ini, nikmat nggak?" tanya cewek itu sembari meremas biji kemaluan Pram.
"Ooh, ya, ya!" sahut Pram sembari meletakkan kedua belah telapak tangannya di atas kepala cewek itu.

Lalu dgn tarikan yg sangat lembut, dia menarik kepala itu agar semakin mendekat ke kontol nya. Nani nggak menolak tarikan lembut di kepalanya krn kontol itu terlihat sangat indah dan menarik. dia pun dapat merasakan kontol itu berdenyut di telapak tangannya, seperti bernafas. Ada sensasi yg mulai menggelitiki saraf-saraf birahi seks di sekujur tubuhnya ketika dia mengamati kontol itu. Sensasi itu membuat dia gak menyadari bahwa kontol yg digenggamnya hanya tinggal berjarak kira-kira 20 cm dari mulutnya.

"Pram, ada sedikit pipis di lubang ini."
"Bukan pipis sayang. Itu lendir enak."
"Enak?"
"Ya, enak!" jawab Pram sembari memegang jari jempol yg baru saja mengusap-usap lobang memek nya.
"Coba deh dicicipi," sambungnya.
"Hmm.." gumam Nani ketika menjilat ujung jarinya.
"Enak 'kan?!"
"Enak!"
"Cicipi lagi! Jangan pakai jari. Langsung pakai lidah!"

Nani menengadah. dia sangat ingin menyenangkan hati gurunya itu, tetapi ragu-ragu untuk melaksanakannya. Sesaat, dia manatap bola mata lelaki yg disayanginya itu. Dilihatnya binar-binar ketulusan cinta. gak ada tersirat niat untuk menyakiti. Lalu dia menunduk dan mendekatkan bibirnya ke bagian tengah kepala kontol itu. Lidahnya terjulur dan ujungnya mengoles sisa lendir yg masih tersisa. sembari memejamkan mata, dia mencicipinya.

"Enak 'kan?!" Nani menengadah kembali. dia mengangguk sembari tersenyum malu.
"Sekarang dicium dan dijilat-jilat biar lendirnya keluar lagi! Dan jangan terkejut kalau nanti tiba-tiba ada segumpal lendir yg muncrat ya, Sayang."

Nani menunduk kembali, dan tanpa keraguan lagi dikulumnya kepala kontol itu. Leher kemaluan itu dijepitnya dgn bibirnya sembari mengoles-oleskan lidahnya.

Pram mendesah. Setelah menghirup udara yg memenuhi rongga dadanya, dia menunduk. Matanya berbinar menatap takjub. Nafasnya tertahan menatap seorang cewek belia yg cantik dan seksi sedang berjongkok sembari menghisap-hisap dan mengulum kepala kontol nya. Darahnya mendidih menatap cewek yg berjongkok dgn gaun bagian atas dan bawah bertumpuk terlipat-lipat di pinggangnya yg ramping. Matanya nanar menatap buah dada yg belum sepenuhnya mekar. Sejuta pesona dia rasakan ngeliat seorang cewek yg sedang berjongkok di hadapannya dgn paha terkangkang. Indah sekali!

"Argh.., aduuhh..!" desah Pram sembari menekan bagian belakang kepala cewek itu lebih keras. Setengah kontol telah masuk ke dalam mulut mungil itu.

Nani menengadah krn mendengar desahan itu. dia merasa khawatir krn giginya menggesek kulit kemaluan yg sedang dikulumnya. Tapi lelaki yg telah memberinya kenikmatan itu ternyata hanya meringis. dia masih menengadah ketika merasakan lagi tekanan di bagian belakang kepalanya, tekanan yg membuat dia menelan kontol itu lebih dalam.

Pram mengusap-usap rambut cewek remaja itu. Perlahan-lahan, ditariknya kemaluannya hingga hanya kepala kontol yg masih tersisa. Dan dgn perlahan-lahan pula, didorongnya kembali kontol nya. Diulangnya gerakan itu beberapa kali sembari mengamati bibir mungil yg melingkari kontol nya. Setelah yakin bahwa cewek itu telah terbiasa dgn gerakan kontol nya, tiba-tiba didorongnya lagi dgn keras hingga bibir mungil itu menyentuh bulu-bulu di pangkal kemaluannya.

Nani terkejut. Nafasnya terhenti sesaat. dia tersendat krn ujung kontol itu menyentuh kerongkongannya. Sebelum dia sempat meronta, dgn cepat kontol itu telah bergerak mundur kembali.

"Nggak apa-apa 'kan sayang," kata Pram membujuk sembari mengusap-usap pipi cewek remaja itu.

Nani ingin mengatakan 'jangan ulangi', tapi kata-kata itu gak terucapkan krn kepala kontol itu masih tersisa di bibirnya. dia menengadah. Sejenak mereka saling tatap. Dan dia ngeliat sorot mata yg memancarkan kenikmatan birahi seks , seolah memohon untuk dipuaskan.

krn merasa gak tega untuk menolak, kembali kepala kontol itu dihisapnya. Mungkin krn aku belum terbiasa, katanya dalam hati. Akhirnya dia memutuskan untuk memberi kenikmatan total. Kenikmatan sebesar kenikmatan yg telah dia dapatkan. Bila mungkin, dia akan memberi melebihi dari apa yg telah dia nikmati. Percintaan yg membara adalah percintaan yg pasrah dalam memberi, bisik hatinya. Percintaan yg lebih mementingkan kenikmatan pasangannya dari pada kenikmatan dirinya sendiri. Dan dia akan pasrah memberi agar guru yg disayanginya itu dapat pula meraih puncak kenikmatannya.

Lalu kontol itu dikeluarkannya dari mulutnya. dia ingin totalitas. Oleh krn itu, beberapa detik kemudian, dia mulai menjilati kontol itu hingga ke pangkalnya. Bahkan ujung lidahnya beberapa kali menyentuh biji kemaluan itu. Semakin sering lidahnya menyentuh, semakin keras pula didengarnya dengusan nafas lelaki yg disayanginya itu. Ketika merasakan jambakan lembut di kepalanya, tanpa ragu, dihisap-hisapnya biji kemaluan itu.

dia semakin bersemangat krn merasakan erotisme yg luar biasa ketika kontol itu menggesek-gesek ujung hidungnya. Ada sensasi yg membakar pori-pori di sekujur tubuhnya ketika bulu-bulu di biji kemaluan itu bergesekan dgn lidahnya! Gesekan itu merangsang lidahnya melata ke arah bawah untuk mengecup dan menjilat-jilat celah sempit antara biji kemaluan dan lubang dubur.

"Aarrgghh..!" desah Pram ketika merasakan lidah muridnya itu menjilat-jilat semakin liar.

Bahkan dia mulai merasakan bibir cewek itu mulai mengisap-isap celah di dekat lubang duburnya. Sangat dekat dgn lubang duburnya! Dan sesaat dia berhenti bernafas ketika merasakan ujung lidah cewek itu akhirnya menyentuh lubang duburnya. dia menggigil merasakan nikmat yg mengalir dari ujung lidah itu. Nikmat yg bahkan nggak pernah dia dapatkan dari isterinya.

Sebelumnya dia nggak pernah merasakan lidah menyentuh lubang duburnya. Apalagi lidah seorang cewek remaja yg cantik dan seksi. Matanya terbeliak ketika merasakan tangan cewek itu membuka lipatan daging di antara bongkah pantatnya. Hanya bagian putih di bola matanya yg terlihat ketika dia meresapi nikmatnya lidah cewek itu saat menyentuh lubang duburnya.

"Oorgh.., aarrgghh.. Nikmat, Sayang!" desah Pram sembari menggerakkan pinggulnya menghindari jilatan-jilatan di duburnya.

dia sudah gak kuat menahan kenikmatan yg mendera tubuhnya. kepala kontol nya sudah membengkak. Lalu dia mengarahkan kontol nya ke mulut cewek itu.

"Aku sudah gak tahan, Nani!!" sambungnya sembari menghunjamkan kontol nya sedalam-dalamnya.

Nani tersendat kembali ketika merasakan kepala kontol itu menyumbat kerongkongannya. Tapi sudah nggak menyebabkan rasa mual seperti ketika pertama kali tersendat. Dan ketika kontol itu bergerak mundur, dia mengisap kepala kontolnya dgn keras hingga terdengar bunyi 'slurp'. Kedua telapak tangannya mengusap-usap bagian belakang paha lelaki itu.

Lalu dia kembali menengadah. Mereka saling tatap ketika kontol itu kembali menghunjam rongga mulutnya. Telapak tangannya ikut menekan bagian belakang paha lelaki itu. Kepalanya ikut maju setiap kali kontol itu menghunjam mulutnya. dia merinding setiap kali ujung kepala kontol itu menyentuh kerongkongannya.

"Aarrgghh.., Nani, aku sudah mau keluar. Mau pipis, aarrgghh..! Telan sayang. Telan lendir enaknya ya!"
"Hmm.." sahut cewek itu sembari mengangguk.

Pram semakin tegang setelah ngeliat anggukan itu. Sendi-sendi tungkai kakinya menjadi kaku. Nafasnya mengebu-gebu seperti seorang pelari marathon. Sebelah tangannya menggenggam kepala cewek itu, dan yg sebelah lagi menjambak. Pinggulnya bergerak seirama dgn tarikan dan dorongan lengannya di kepala cewek itu. Hentakan-hentakan pinggulnya membuat cewek itu terpaksa memejamkan matanya.

kontol nya sudah menggembung. Lendir berwarna putih susu terasa bergerak dgn cepat dari kantung biji kemaluannya. dia berusaha untuk menahannya. Tapi semakin dia berusaha, semakin besar tekanan yg menerobos saluran di kemaluannya. Akhirnya dia meraung sembari menghunjamkan kontol nya sedalam-dalamnya. Berulang kali. Ditariknya, dan secepatnya dihunjamkan kembali.

Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks

Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks, cewek doyan kontol masuk memek
Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks - klik foto untuk memperbesar gambar

"Aarrgghh.., aduuh! Aarrgghh..!" raung Pram sekeras-kerasnya ketika dia merasakan air maninya muncrat 'menembak' kerongkongan cewek itu.

Sesaat dia merasa kejang. Dibiarkannya kontol nya terbenam. Tangannya mencengkeram kepala cewek itu dgn keras krn gak ingin kepala itu meronta. dia gak ingin kepala itu terlepas ketika dia sedang berada pada puncak kenikmatannya. Keinginan itu ternyata menjadi kenikmatan ekstra, yaitu kenikmatan krn 'tembakannya' langsung masuk ke kerongkongan cewek itu. 'Tembakan' itu akan membuat kerongkongan itu agak tersendat sehingga air maninya akan langsung tertelan. Setelah 'tembakan' pertama, dia masih merasakan adanya tekanan air mani di saluran lobang memek nya. Maka dgn cepat dia menarik kontol nya, dan menghunjamkannya kembali sembari 'menembak' untuk yg kedua kalinya.

"Hisap sayang, aarrgghh..! Aarrgghh..!"

Ditariknya kembali kontol nya. Tapi sebelum kembali menghunjamkannya, dia merasakan gigitan di leher kontol nya. dia pun berkelojotan ketika merasakan gigitan itu disertai kuluman lidah. 'Tembakan' kecil masih terjadi beberapa kali ketika lidah cewek itu mengoles-oles lobang memek nya.

"Ooh.., nikmatnya!" gumam Pram sembari membelai-belai kedua belah pipi cewek itu. Belaian mesra yg mengalir dari lubuk hatinya yg paling dalam. Belaian ungkapan kasih sayang dan tanda terima kasih!

sembari menengadah dan membuka kelopak matanya, Nani terus mengulum dan menjilat-jilat. gak ada lendir berwarna susu yg mengalir dari sudut bibirnya. gak ada setetes pun yg menempel di dagunya. Dan gak ada pula lendir yg tersisa di kepala kontol kemaluan Pram! Bersih. Semua ditelan! cewek belia itu 'membayar' tuntas kenikmatan yg dia dapatkan sebelumnya!

gak lama kemudian, Pram menghempaskan pinggulnya ke atas karpet. dia merasa sangat lemas. Lunglai. dia gak mampu berdiri lebih lama lagi. Nani tersenyum puas. dia pun bangkit dari sofa, dan kemudian duduk di pangkuan Pram. Kedua belah kakinya melingkari pinggang lelaki yg masih terengah-engah itu. Posisi duduknya menyebabkan memek nya bersentuhan dgn kontol yg mulai mengkerut. Terasa hangat dan mesra.

"Puas?" tanya cewek itu.
"Puas banget!" jawab Pram.
"Enak lendirku?" sambungnya.
"Enak banget!"
"Mau lagi?"
"Ha?!" jawab Nani sembari mencubit pipi Pram dgn manja.
"Kapan-kapan ya, kita nabung dulu."
"Nabung apaan?"
"Nabung pipis!"

Dan mereka serentak tertawa. Renyah. Lalu saling berangkulan dgn mesra. Pipi mereka saling bersinggungan. Kedua belah tangan membelai-belai punggung pasangannya.

Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks, cewek doyan kontol masuk memek, ngentot memek cewek SMU, cerita seks dewaa perawan, cewek perawan belajar ngentot sepong kontol
Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks
Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks, cerita seks , Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks, cewek doyan kontol masuk memek, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Cerita Dewasa Guru dan Murid Menikmati Seks

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com