Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat

Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat, Aku menikah dgn seorang perempuan pilihan orangtuaku, aku mencoba hidup mandiri bersama istri sebagai bentuk rasa tanggungjawab aku sebagai suami dan kepala rumah tangga, meskipun rasa cintaku pada istriku tersebut belum mendalam, tapi tetap aku coba menerima kenyataan ini siapa tahu di kemudian hari aku kita bisa saling mencintai secara penuh, lagi pula memang aku belum pernah sama sekali jatuh cinta pada cewek manapun sebelumnya.


kita coba mengadu nasib di kota Kabupatenku dgn mengontrak rumah yang sangat sederhana. Beberapa bidang usaha aku coba tekuni agar dapat menanggulangi keperluan hidup kita sehari-hari, tapi hingga kita mempunyai 3 orang anak, nasib kita tetap belum banyak berubah. kita masih hidup pas-pasan dan bahkan harapanku semula untuk mempertebal kecintaanku terhadap istriku malah justru semakin merosot aja. Untung aja, aku orangnya pemalu dan sedikit mampu bersabar serta terbiasa dalam penderitaan, sehingga perasaanku itu tidak pernah diketahui oleh siapapun termasuk kedua orangtua dan saudara-saudaraku.

Entah pengaruh setan dari mana, suatu waktu aku sempatkan diri berkunjung ke rumah teman lamaku sewaktu kita sama-sama di SMA dulu. Sebut aja namanya Danu. Dia baru aja pulang dari Kalimantan bersama dgn istrinya, yang belakangan aku ketahui kalau istrinya itu adalah anak majikannya sewaktu dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di sana. Mereka juga melangsungkan perkawinan bukan atas dasar saling mencintai, melainkan atas dasar jasa dan balas budi.

Sekitar pukul 17.00 sore, aku udah tiba di rumah Danu dgn naik ojek yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah kontrakan kita. Merekapun masih tinggal di rumah kontrakan, tapi agak besar dibanding rumah yang kita kontrak. Maklum mereka sedikit membawa modal dgn harapan membuka usaha baru di kota Kabupaten kita. Setelah mengamati tanda-tanda yang telah diberitahukan Danu ketika kita ketemu di pasar sentral kota kita, aku yakin tidak salah lagi, lalu aku masuk mendekati pintu rumah itu, ternyata dalam keadaan tertutup.

"Dog.. Dog... Dog... Permisi ada orang di rumah" kalimat penghormatan yang aku ucapkan selama 3 kali berturut-turut sambil mengetuk-ngetuk pintunya, tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam. aku lalu mencoba mendorong dari luar, ternyata pintunya terkunci dari dalam, sehingga aku yakin pasti ada orang di dalam rumah itu. cuma aja aku masih ragu apakah rumah yang aku ketuk pintunya itu betul adalah rumah Danu atau bukan. aku tetap berusaha untuk memastikannya. Setelah duduk sejenak di atas kursi yang ada di depan pintu, aku coba lagi ketuk-ketuk pintunya, tapi tetap tidak ada tanda-tanda jawaban dari dalam. Akhirnya aku putuskan untuk mencoba mengintip dari samping rumah. Melalui sela-sela jendela di samping rumahnya itu, aku sekilas melihat ada kilatan cahaya dalam ruangan tamu, tapi aku belum mengetahui dari mana sumber kilatan cahaya itu. aku lalu bergeser ke jendela yang satunya dan ternyata aku sempat menyaksikan sepotong tubuh tergeletak tanpa busana dari sebatas pinggul sampai ujung kaki. Entah potongan tubuh laki-laki atau cewek, tapi tampak putih mulus seperti kulit cewek.

Dalam keadaan biji mataku tetap kujepitkan pada sela jendela itu untuk melihat lebih jelas lagi keadaan dalam rumah itu, dibenak aku muncul tanda tanya apa itu tubuh istrinya Danu atau Danu sendiri atau orang lain. Apa orang itu tertidur pula sehingga tersingkap busananya atau memang sengaja telanjang bulat. Apa ia sedang menyaksikan acara TV atau sedang memutar DVD porno, sebab sedikit terdengar ada suara TV seolah film yang diputar. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu mengganggu pikiranku sampai akhirnya aku kembali ke depan pintu semula dan mencoba mengetuknya kembali. tapi baru aja sekali aku ketuk, pintunya tiba-tiba terbuka lebar, sehingga aku sedikit kaget dan lebih kaget lagi setelah menyaksikan bahwa yang berdiri di depan pintu adalah seorang cewek muda dan cantik dgn pakaian sedikit terbuka karena tubuhnya cuma ditutupi kain sarung. Itupun cuma bagian bawahnya aja.

"Selamat siang," kembali aku ulangi kalimat penghormatan itu.

"Ya, siang," jawabnya sambil menatap wajah aku seolah malu, takut dan kaget.

"Dari mana pak dan cari siapa," tanya cewek itu.

"Maaf dik, numpang tanya, apa betul ini rumah Danu," tanya aku.

"Betul sekali pak, dari mana yah ?" tanya cewek itu lemah lembut.

"aku tinggal tidak jauh dari sini dik, aku ingin ketemu Danu. Beliau adalah teman lama aku sewaktu kita sama-sama duduk di SMA dulu," lanjut aku sambil menyodorkan tangan aku untuk menyalaminya. cewek itu mebalasnya dan tangannya terasa lembut sekali tapi sedikit hangat.

"Oh, yah, syukur kalau begitu. Ternyata ia punya teman lama di sini dan ia tak pernah ceritakan padaku," ucapannya sambil mempersilahkanku masuk. Sayapun langsung duduk di atas kursi plastik yang ada di ruang tamunya sambil memperhatikan keadaan dalam rumah itu, termasuk letak tempat tidur dan TVnya guna mencocokkan dugaanku sewaktu mengintip tadi

Setelah aku duduk, aku berniat menanyakan hubungannya dgn Danu, tapi ia nampak buru-buru masuk ke dalam, entah ia mau berpakaian atau mengambil suatu hidangan. cuma berselang beberapa saat, cewek itu udah keluar kembali dalam keadaan berpakaian setelah tadinya tidak memakai baju, bahkan ia membawa secangkir kopi dan kue lalu diletakkan di atas meja lalu mempersilahkanku mencicipinya sambil tersenyum.

"Maaf dik, kalau boleh aku tanya, apa adik ini saudara dgn Danu?" tanyaku penuh kekhawatiran kalau-kalau ia tersinggung, meskipun aku sejak tadi menduga kalau cewek itu adalah istri Danu.

"aku kebetulan istrinya pak. Sejak 3 tahun lalu aku melangsungkan pernikahan di Kalimantan, tapi Tuhan belum mengaruniai seorang anak," jawabnya dgn jujur, bahkan sempat ia cerita panjang lebar mengenai latar belakang perkawinannya, asal usulnya dan tujuannya ke Kota ini.

Setelah aku menyimak ulasannya mengenai dirinya dan kehidupannya bersama Danu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa cewek itu adalah suku di Kalimantan yang asal usul keturunannya juga berasal dari suku di Sulawesi. Ia kawin dgn Danu atas dasar jasa-jasa dan budi baik mereka tanpa didasari rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam, seperti halnya yang menimpa keluarga aku. Ia tetap berusaha dan berjuang untuk menggali nilai-nilai cinta yang ada pada mereka berdua siapa tahu kelak bisa dibangun. Anehnya, meskipun kita baru ketemu, tapi ia seolah ingin membeberkan segala keadaan hidup yang dialaminya bersama suami selama ini, bahkan terkesan kita akrab sekali, saling menukar pengalaman rahasia rumah tangga tanpa ada yang kita tutup-tupi. Lebih heran lagi, selaku orang pendiam dan kurang pergaulan, aku justru seolah menemukan diriku yang sebenarnya di rumah itu. Karena senang, bahagia dan asyiknya perbincangan kita berdua, sampai-sampai aku hampir lupa menanyakan ke mana suaminya saat ini. Setelah kita saling memahami kepribadian, maka akhirnya sayapun menanyakan Danu (suaminya itu).

Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat


"Oh yah, hampir lupa, ke mana Danu sekarang ini, kok dari tadi tidak kelihatan?" tanyaku sambil menyelidiki semua sudut rumah itu.

"Kebetulan ia pulang kampung untuk mengambil beras dari hasil panen orangtuanya tadi pagi, tapi katanya ia tidak bermalam kok, mungkin sebentar lagi ia datang. Tunggu aja sebentar," jawabnya seolah tidak menghendaki aku pulang dgn cepat cuma karena Danu tidak di rumah.

"Kalau ke kampung biasanya jam berapa tiba di sini," tanyaku lebih lanjut.

"Sekitar jam 8.00 atau 9.00 malam," jawabnya sambil menoleh ke jam dinding yang tergantung dalam ruangan itu. Padahal saat ini tanpa terasa jarum jam udah menunjukkan pukul 7.00 malam.

Tak lama setelah itu, ia nampaknya buru-buru masuk ke ruang dapur, mungkin ia mau menyiapkan makan malam, tapi aku teriak dari luar kalau aku baru aja makan di rumah dan melarangnya ia repot-repot menyiapkan makan malam. Tapi ia tetap menyalakan kompornya lalu memasak seolah tak menginginkan aku kembali dgn cepat. Tak lama sesudah itu, iapun kembali duduk di depan aku melanjutkan perbincangannya. Sayapun tak kehabisan bahan untuk menemaninya. Mulai dari soal-soal pengalaman kita di kampung sewaktu kecil hingga soal rumah tangga kita masing-masing.

Karena nampaknya kita saling terbuka, maka sayapun berani menanyakan tentang apa yang dikerjakannya tadi, sampai lama sekali baru dibukakan pintu tanpa aku beritahu kalau aku mengintipnya tadi dari selah jendela. Kadang ia menatapku lalu tersenyum seolah ada sesuatu berita gembira yang ingin disampaikan padaku.

"Jadi bapak ini lama mengetuk pintu dan menunggu di luar tadi ?" tanyanya sambil tertawa.
"Sekitar 30 menit barangkali, bahkan hampir aku pulang, tapi untung aku coba kembali mengetuk pintunya dgn keras," jawabku terus terang.
"Ha.. Ha.. Ha.. aku ketiduran sewaktu nonton acara TV tadi," katanya dgn jujur sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tapi bapak tidak sampai mengintip di samping rumah kan ? Maklum kalau aku tertidur biasanya terbuka pakaianku tanpa terasa," tanyanya seolah mencurigaiku tadi. Dalam hati aku jangan-jangan ia sempat melihat dan merasa diintip tadi, tapi aku tidak boleh bertingkah yang mencurigakan.

"Ti.. Ti.. Dak mungkin aku lakukan itu dik, tapi emangnya kalau aku ngintip kenapa ?" kataku terbata-bata, maklum aku tidak biasa bohong.

"Tidak masalah, cuma itu tadi, aku kalau tidur jarang pakai busana, terasa panas. Tapi perasaan aku mengatakan kalau ada orang tadi yang mengintipku lewat jendela sewaktu aku tidur. Makanya aku terbangun bersamaan dgn ketukan pintu bapak tadi," ulasnya curiga tapi tetap ia ketawa-ketawa sambil memandangiku.

"M.. Mmaaf dik, sejujurnya aku sempat mengintip lewat sela jendela tadi berhubung aku terlalu lama mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Jadi aku mengintip cuma untuk memastikan apa ada atau tidak ada orang di dalam tadi. aku tidak punya maksud apa-apa," kataku dgn jujur, siapa tahu ia betul melihatku tadi, aku bisa dikatakan pembohong.

"Jadi apa yang bapak lihat tadi sewaktu mengintip ke dalam? Apa bapak sempat melihatku di atas tempat tidur dgn telanjang bulat ?" tanyanya penuh selidik, meskipun ia masih tetap senyum-senyum.

"aku tidak sempat melihat apa-apa di dalam kecuali cuma kilatan cahaya TV dan sepotong kaki," tegasku sekali lagi dgn terus terang.

"Tidak apa-apa, aku percaya ucapan bapak aja. Lagi pula sekiranya bapak melihatku dalam keadaan tanpa busana, bapak pasti tidak heran, dan bukan soal baru bagi bapak, karena apa yang ada dalam tubuh aku tentu sama dgn milik istri bapak, yah khan ?" ulasnya penuh canda. Lalu ia berlari kecil masuk ke ruang dapur untuk memastikan apa nasi yang dimasaknya udah matang atau belum.
Waktu di jam dinding menunjukkan udah pukul 8.00, tapi Danu belum juga datang. Dalam hati kecilku, Jangan-jangan Danu mau bermalam di kampungnya, aku tidak mungkin bermalam berdua dgn istrinya di rumah ini. aku lalu teriak minta pamit aja dgn alasan nanti besok aja ketemunya, tapi istri Danu berteriak melarangku dan katanya,

"Tunggu dulu pak, nasi yang aku masak buat bapak udah matang. Kita makan bersama aja dulu, siapa tahu setelah makan Danu datang, khan belum juga larut malam, apalagi kita baru aja ketemu," katanya penuh harap agar aku tetap menunggu dan mau makan malam bersama di rumahnya.

Tak lama kemudian, iapun keluar memanggilku masuk ke ruang dapur untuk menikmati hidangan malamnya. Sambil makan, kamipun terlibat pembicaraan yang santai dan penuh canda, sehingga tanpa terasa aku sempat menghabiskan dua piring nasi tanpa aku ingat lagi kalau tadi aku bilang udah kenyang dan baru aja makan di rumah. Malu sendiri rasanya.

"Bapak ini nampaknya masih muda. Mungkin tidak tepat jika aku panggil bapak khan ? Sebaiknya aku panggil kak, abang atau Mas aja," ucapnya secara tiba-tiba ketika aku meneguk air minum, sehingga aku tidak sempat menghabiskan satu gelas karena terasa kenyang sekali. Apalagi aku mulai terayu atau tersanjung oleh seorang cewek muda yang baru aja kulihat sepotong tubuhnya yang mulus dan putih ? Tidak, aku tidak boleh berpikir ke sana, apalagi cewek ini adalah istri teman lamaku, bahkan rasanya aku belum pernah berpikir macam-macam terhadap cewek lain sebelum ini. Aku kendalikan cepat pikiranku yang mulai miring. Siapa tahu ada setan yang memanfaatkannya.

"Bolehlah, apa aja panggilannya terhadapku aku terima semua, asalkan tidak mengejekku. Hitung-hitung sebagai panggilan adik sendiri," jawabku memberikan kebebasan.
"Terima kasih kak atau Mas atas kesediaan dan keterbukaannya" balasnya.

Setelah selesai makan, aku lalu berjalan keluar sambil memandangi sudut-sudut ruangannya dan aku sempat mengalihkan perhatianku ke dalam kamar tidurnya di mana aku melihat tubuh terbaring tanpa busana tadi. Ternyata betul, cewek itulah tadi yang berbaring di atas tempat tidur itu, yang di depannya ada sebuah TV color kira-kira 21 inc. Jantungku tiba-tiba berdebar ketika aku melihat sebuah celana color tergeletak di sudut tempat tidur itu, sehingga aku sejenak membayangkan kalau cewek yang baru aja aku temani bicara dan makan bersama itu kemungkinan besar tidak pakai celana, apalagi yang aku lihat tadi mulai dari pinggul hingga ujung kaki tanpa busana. tapi pikiran itu aku coba buang jauh-jauh biar tidak mengganggu konsentrasiku.

Setelah aku duduk kembali di kursi tamu semula, tiba-tiba aku mendengar suara TV dari dalam, apalagi acaranya kedengaran sekali kalau itu yang main adalah film Angling Dharma yaitu film kegemaranku. Aku tidak berani masuk nonton di kamar itu tanpa dipanggil, meskipun aku ingin sekali nonton film itu. Bersamaan dgn puncak keinginanku, tiba-tiba,

"Kak, suka nggak nonton filmnya Angling Dharma ?" teriaknya dari dalam kamar tidurnya.
"Wah, itu film kesukaanku, tapi sayangnya TV-nya dalam kamar," jawabku dgn cepat dan suara agak lantang.
"Masuk aja di sini kak, tidak apa-apa kok, lagi pula kita ini khan udah seperti saudara dan udah saling terbuka" katanya penuh harap.

Lalu aku bangkit dan masuk ke dalam kamar. Iapun persilahkan aku duduk di pinggir tempat tidur berdampingan dgnnya. Aku agak malu dan takut rasanya, tapi juga mau sekali nonton film itu.
Awalnya kita biasa-biasa aja, hening dan serius nontonnya, tapi baru sekitar setengah jam acara itu berjalan, tiba-tiba ia menawarkan untuk nonton film dari DVD yang katanya lebih bagus dan lebih seru dari pada filmnya Angling Dharma, sehingga aku tidak menolaknya dan ingin juga menyaksikannya. Aku cemas dan khawatir kalau-kalau DVD yang ditawarkan itu bukan kesukaanku atau bukan yang kuharapkan.

Setelah ia masukkan kasetnya, iapun mundur dan kembali duduk tidak jauh dari tempat dudukku bahkan terkesan sedikit lebih rapat daripada sebelumnya. Gambarpun muncul dan terjadi perbincangan yang serius antara seorang cowok dan seorang cewek Barat, sehingga aku tidak tahu maksud pembicaraan dalam film itu. Baru aja aku bermaksud meminta mengganti filmnya dgn film Angling Dharma tadi, tiba-tiba kedua insan dalam layar itu berpelukan dan berciuman, saling mengisap lidah, bercumbu rayu, menjilat mulai dari atas ke bawah, bahkan secara perlahan-lahan saling menelanjangi dan meraba, sampai akhirnya aku menatapnya dgn tajam sekali secara bergantian menjilati memek nya, yang membuat jantungku berdebar, tongkatku mulai tegang dan membesar, sekujur tubuhku gemetar dan berkeringat, lalu sedikit demi sedikit aku menoleh ke arah cewek disampingku yakni istri teman lamaku. Secara bersamaan iapun sempat menoleh ke arahku sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke layar. Tentu aku tidak mampu lagi membendung birahiku sebagai cowok normal, tapi aku tetap takut dan malu mengutarakan isi hatiku.

"Mas, pak, suka nggak filmnya ? Kalau nggak suka, biar kumatikan aja," tanyanya seolah memancingku ketika aku asyik menikmatinya.
"Iiyah, bolehlah, suka juga, kalau adik, memang sering nonton film gituan yah ?" jawabku sedikit malu tapi mau dan suka sekali.
"aku dari dulu sejak awal perkawinan kita, memang selalu putar film seperti itu, karena kita sama-sama menyukainya, lagi pula bisa menambah gairah sex kita dikala sulit memunculkannya, bahkan dapat menambah pengalaman berhubungan, syukur-syukur jika sebagian bisa dipraktekkan.
"Sungguh kita ketinggalan. aku kurang pengalaman dalam hal itu, bahkan baru kali ini aku betul-betul bisa menyaksikan dgn tenang dan jelas film seperti itu. Apalagi istriku tidak suka nonton dan praktekkan macam-macam seperti di film itu," keteranganku terus terang.
"Tapi kakak suka nonton dan permainan seperti itu khan ?" tanyanya lagi.
"Suka sekali dan kelihatannya nikmat sekali yach," kataku secara tegas.
"Jika istri kakak tidak suka dan tidak mau melakukan permainan seperti itu, bagaimana kalau aku tawarkan kerjasama untuk memperaktekkan hal seperti itu ?" tanya istri teman lamaku secara tegas dan berani padaku sambil ia mendempetkan tubuhnya di tubuhku sehingga bisikannya terasa hangat nafasnya dipipiku.

Tanpa sempat lagi aku berfikir panjang, lalu aku mencoba merangkulnya sambil menganggukkan kepala pertanda setuju. cewek itupun membalas pelukanku. Bahkan ia duluan mencium pipi dan bibirku, lalu ia masukkan lidahnya ke dalam mulutku sambil digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan, akupun membalasnya dgn lahap sekali. Aku memulai memasukkan tangan ke dalam bajunya mencari kedua payudaranya karena aku sama sekali udah tidak mampu lagi menahan birahi seks ku, lagi pula kedua benda kenyal itu aku udah hafal tempatnya dan udah sering memegangnya. Tapi kali ini, rasanya lain daripada yang lain, sedikit lebih mulus dan lebih keras dibanding milik istriku. Entah siapa yang membuka baju yang dikenakannya, tiba-tiba terbuka dgn lebar sehingga nampak kedua benda kenyal itu tergantung dgn menantang. Akupun memperaktekkan apa yang barusan kulihat dalam layar tadi yakni menjilat dan mengisap putingnya berkali-kali seolah aku mau mengeluarkan air dari dalamnya. Kadang kugigit sedikit dan kukunyah, tapi cewek itu sedikit mendorong kepalaku sebagai tanda adanya rasa sakit.

Selama hidupku, baru kali ini aku melihat pemandangan memek yang indah sekali di antara kedua paha cewek itu.

Karena tanpa kesulitan aku membuka sarung yang dikenakannya, langsung aja jatuh sendiri dan sesuai dugaanku semula ternyata memang tidak ada pelapis memek nya sama sekali sehingga aku sempat menatap sejenak kebersihan vagina cewek itu. Putih, mulus dan tanpa selembar bulupun tumbuh di atas gundukan itu membuat aku terpesona melihat dan merabanya, apalagi setelah aku memberanikan diri membuka kedua bibirnya dgn kedua tanganku, nampak benda kecil menonjol di antara kedua bibirnya dgn warna agak kemerahan. Ingin rasanya aku telan dan makan sekalian, untung bukan makanan, tapi sempat aku lahap dgn lidahku hingga sedalam-dalamnya sehingga cewek itu sedikit menjerit dan terengah-engah menahan rasa nikmatnya lidah aku, apalagi setelah aku menekannya dalam-dalam.

"Kak, aku buka aja semua pakaiannya yah, biar aku lebih leluasa menikmati seluruh tubuhmu," pintanya sambil membuka satu persatu pakaian yang kukenakan hingga aku telanjang bulat. Bahkan ia nampaknya lebih tidak tahan lagi berlama-lama memandangnya. Ia langsung serobot aja dan menjilati sekujur tubuhku, tapi jilatannya lebih lama pada biji pelerku, sehingga pinggulku bergerak-gerak dibuatnya sebagai tanda kegelian. Lalu disusul dgn memasukkan kontol ke mulutnya dan menggocoknya dgn cepat dan berulang-ulang, sampai-sampai terasa peju ku mau muncrat. Untung aku tarik keluar cepat, lalu membaringkan ke atas tempat tidurnya dgn kaki tetap menjulang ke lantai biar aku lebih mudah melihat, dan menjamahnya. Setelah ia terkulai lemas di atas tempat tidur, akupun mengangkanginya sambil berdiri di depan gundukkan itu dan perlahan aku masukkan ujung kontol ku ke dalam vaginanya lalu menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan maju dan mundur, akhirnya dapat masuk tanpa terlalu kesulitan.

"Dik, model yang bagaimana kita terapkan sekarang ? Apa kita ikuti semua posisi yang ada di layar TV tadi," tanyaku berbisik.

"Terserah kak, aku serahkan sepenuhnya tubuhku ini pada kakak, mana yang kakak anggap lebih nikmat dan lebih berkesan sepanjang hayat serta lebih memuaskan kakak," katanya pasrah. Akupun meneruskan posisi tidur telentang tadi sambil aku berdiri menggocok terus, sehingga menimbulkan bunyi yang agak menambah gairah sex ku.

"Ahhh... Uhhh... Sssttt... Hmmm... Teeeruuus kak, enak sekali, entot terus kakak, aku sangat menikmatinya," demikian pintanya sambil terengah dan berdesis seperti bunyi jangkrik di dalam kamarnya itu.

"Dik, gimana kalau aku berbaring dan adik mengangkangiku, biar adik lebih leluasa goyangannya," pintaku padanya.

"Aku ini udah hampir memuncak dan udah mulai lemas, tapi kalau itu permintaan kakak, bolehlah, aku masih bisa bertahan beberapa menit lagi," jawabnya seolah ingin memuaskan nafsu seks ku malam itu.

Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat

Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat, cerita sex, ngentot kontol gede
Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat | klik foto untuk memperbesar gambar

Tanpa kita rasakan dan pikirkan lagi suaminya kembali malam itu, apalagi setelah jam menunjukkan pukul 9.30 malam itu, aku terus berusaha menumpahkan segalanya dan betul-betul ingin menikmati pengalaman bersejarah ini bersama dgn istri teman lamaku itu. tapi sayangnya, karena keasyikan dan keseriusan kita dalam bersetubuh malam itu, sehingga baru sekitar 3 menit berjalan dgn posisi aku di bawah dan dia di atas ngentot kontol aku, serta menggoyang kiri kanan memek nya ikut menjepit, akhirnya peju aku pun tumpah dalam rahimnya dan diapun kurasakan bergetar seluruh tubuhnya pertanda juga memuncak gairah sex nya. Setelah sama-sama puas, kita saling berciuman, berangkulan, berjilatan tubuh dan tidur terlentang hingga pagi.

Setelah kita terbangun hampir bersamaan di pagi hari, aku langsung lompat dari tempat tidur, tiba-tiba muncul rasa takut yang mengecam dan pikiranku sangat kalut tidak tahu apa yang harus aku perbuat. aku menyesal tapi ada keinginan untuk mengulanginya bersama dgn cewek itu. Untung malam itu suaminya tidak kembali dan kita pun berusaha masuk kamar mandi membersihkan diri. Walaupun terasa ada gairah baru lagi ingin mengulangi di dalam kamar mandi, tapi rasa takutku lebih mengalahkan gairahku sehingga aku mengurungkan niatku itu dan langsung pamit dan sama-sama berjanji akan mengulanginya jika ada kesempatan. aku keluar dari rumah tanpa ada orang lain yang melihatku sehingga aku yakin tidak ada yang mencurigaiku. Soal istriku di rumah, aku bisa buat alasan kalau aku ketemu dan bermalam bersama dgn sahabat lamaku.

Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat, cerita sex, ngentot kontol gede, gairah sex , cerita dewasa, Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat, cerita sex, ngentot kontol gede, gairah sex, cerita dewasa
Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat
Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat, cerita seks , Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat, cerita sex, ngentot kontol gede, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Cerita Seks Dewasa Memek Istri Temanku Lebih Nikmat

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com