Gue Istri Ngentot Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda

gue cewek 23 tahun, udah berkeluarga dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. gue emang kawin muda, 17 tahun. Begitu tamat SMU gue dinikahkan dengan pria pilihan orang tua. Suamiku, sebut saja Bimo, waktu menikah sama gue usianya 35 tahun, sudah mapan, punya usaha sendiri.

Kenapa gue mau menerima lamaran seorang pria yang 17 tahun lebih tua. Pertama, karena gue emang dididik untuk patuh kepada orang tua dan gue anak tunggal. Kedua, lingkunganku di pedalaman selatan Jakarta emang mengharuskan gadis seusiaku segera menikah. Ketiga, Bimo emang baik hati. Dia begitu sibuk mengurus usahanya sampai "lupa" mencari calon istri. Keempat, meskipun gue punya banyak kawan lelaki dan beberapa diantaranya naksir gue, tapi semuanya hanya sebagai teman biasa saja. gak satupun yang pernah gue "jatuhi" cintaku, kecuali seseorang yang sempat mengisi hatiku, tapi banyak halangan (nanti gue ceritakan tentang Mas Narto ini). Pendeknya, gue belum punya pacar. Kelima, gue termasuk tipe penyayang anak-anak. Sudah banyak anak-anak tetangga yang gue "pinjam" untuk kuasuh. gue ingin menjadi seorang Ibu.

Tahun-tahun pertama masa perkawinanku emang membuatku bahagia. Bimo begitu mengasihiku, penyabar, penuh pengertian. Apalagi setelah Si Randy, anak kita lahir, rasanya gue adalah ibu yang paling bahagia di jagat ini. Bimo juga sangat menyayangi anak lelakinya. Makin semangat mengurusi usahanya yang akhir-akhir ini terkena dampak krisis ekonomi.
"gue berjanji akan bekerja keras hanya untuk kamu dan Randy," katanya suatu ketika. Terharu gue mendengarnya. gue berterimakasih kepada orang tuaku udah mempertemukan gue dengan Bimo. Menikah dengan pilihan orang tua emang gak selalu pilihan yang salah.

Kerja keras Bimo dan anak buahnya membuahkan hasil. Perusahaannya udah berhasil memperluas pasar sampai Kualalumpur dan Chiang-mai. Krisis ├ękonomi gak hanya berdampak buruk, tapi malah membuat produk usaha kita jadi mampu bersaing dalam harga. Keberhasilan ini membawa dampak lain, yaitu pada gue sendiri. Waktu Bimo banyak tersita oleh pekerjaaannya, sehingga mengurangi waktu buatku. Apalagi Randy sudah dapat "dilepas", gue jadi punya banyak waktu luang. gue sering kesepian. Dalam sepi ini gue sering mengharapkan Bimo pulang, lalu mencumbuku, dan diteruskan dengan hubungan seks yang nikmat. Ya, akhir-akhir ini kehidupan seks kita jadi meredup. Bimo menjadi jarang memberiku "nafkah bathin", jarang menyetubuhiku.

Kehidupan seks-gue waktu remaja boleh dibilang "kuno". Kawan lelaki banyak, pacaran baru sekali, itu pun secara back street, diam-diam, karena orang tua gak memberi restu. Cara berpacaranpun gak seperti remaja kota jaman sekarang sampai tidur bersama sewa hotel. kita hanya sekedar cium-ciuman dan meraba-raba. Sehingga dengan Bimo suamiku lah hubungan seks gue yang pertama kulakukan. Kepada Bimolah keperawanan gue kupersembahkan.

Kadang gue menangis sendiri dalam sepi, ingat beberapa tahun lalu Bimo begitu menggebu-gebu melumatku sampai gue terasa melayang-layang, mandi keringat dan lalu kelelahan. Itu dilakukannya hampir setiap hari. Bahkan dikala libur, Bimo "minta" beberapa kali dalam sehari. Senyum sendiri gue ketika ingat kejadian pagi di hari libur, kita bersetubuh di ruang tamu dan hampir "tertangkap basah" oleh anak buah Bimo. gue dan Bimo sedang duduk-duduk santai di ruang tamu. Hari libur itu suamiku sedang menunggu stafnya yang akan melapor hasil penjualan bulan berjalan. kita duduk saling merapat, lalu mulailah Bimo mencumbuiku. Diciuminya seluruh wajahku, lalu leherku. Tangannya mulai menyusup ke dasterku. Dengan lembut disentuhnya puting dadaku, sentuhan lembut beginilah yang membuatku terhanyut. Lalu diremasnya buah dadaku perlahan. gue mulai terrangsang. Bimo emang nakal. Dipelorotkan sarungnya, dan nongollah batang kontol nya yang amat tegang. gue gak menyangka dia gak memakai celana dalam. Rasanya sehabis "permainan pagi" tadi kita mandi dan Bimo mengambil pakaian dalam lalu pakaian kebesarannya : oblong dan sarung. Entah kapan dia melepas cd-nya. Ditariknya tanganku ke selangkangannya, kubelai-belai kontol nya dengan penuh perasaan. Sementara gue sendiri tambah terangsang.

Bimo cepat-cepat melucuti pakaianku, lalu sarung dan oblongnya pun udah tergeletak di lantai. kita udah telanjang bulat. gue ingin Bimo segera "mengisi" selangkanganku yang udah melembab. Kutarik Bimo ke kamar.
"Di sini aja deh," katanya menahan tarikanku.
"Gile Bang, dilihat orang," protesku.
"Engga akan kelihatan dari luar deh," sahutnya. Ruang tamu kita emang ada jendela kaca lebar, tapi tertutup viltrage. Pandangan dari luar emang gak bisa menembus ke ruang tamu.
"Kunci dulu dong pintunya." Bimo melepaskan tindihan ke tubuhku, bangkit menuju pintu. Pria telanjang bulat dengan kontol yang tegang, lalu berjalan adalah suatu pemandangan yang agak lucu, walaupun hanya beberapa langkah.

gue mempersiapkan diri. rebah terlentang di sofa, sebelah kakiku terjuntai ke lantai. Sebelah lagi gue angkat ke sandaran sofa.
"Oh .! " Bimo terperangah melihat posisiku. Ditubruknya gue. Dibenamkan mukanya ke selangkanganku. Nafsuku makin memuncak ketika kurasakan "kilikan" lidah Bimo di bawah sana. Untung Bimo segera tahu bahwa gue sudah "siap". Dia bangkit, bertumpu pada kedua lututnya di antara kedua pahaku, mengarahkan "si gagah" ke mulut memek gue. gue memejamkan mata menunggu saat-saat nikmat ini.

Tiba-tiba pintu diketuk. Bimo bangkit, gak jadi ngentot memek gue.

Secara refleks gue menyambar daster dan menutupi tubuh telanjangku. Dari posisi rebahku ini gue bisa melihat melalu kaca jendela lebar, seseorang berdiri di depan pintu. Pak Sakir (samaran juga) pagi ini emang diundang suamiku untuk melapor. gue langsung beranjak sambil memunguti bra dan cd-gue, tapi Bimo mencegahku sambil menutup jari telunjuknya di bibir. Lalu, hampir tanpa suara dia kembali merebahkan tubuhku, membuka pahaku lebar-lebar, lalu mulai menusuk.
gue harus menutup mulutku dengan telapak tangan dan berusaha mati-matian untuk gak mendesah, apalagi merintih. Padahal, pompaan Bimo enak dinikmati sambil mendesah, melenguh, merintih, bahkan teriak! Apa boleh buat, kondisi gak mengijinkan. Aneh juga rasanya. kita sedang asyik menikmati seks, sementara beberapa meter di dekat kita, berdiri seseorang menunggu, sambil sesekali mengulang mengetuk pintu, gak tahu apa yang sedang kita lakukan. gak tahu? Entahlah. Orgasmeku gak optimal, sebab gak "lepas", harus menutup mulut. gak apalah, toh nanti malam kita akan lakukan lagi. gue cepat-cepat memunguti pakaianku yang berserakan di lantai, lalu masuk kamar. Bimo menemui Pak Sakir hanya dengan belitan handuk di pinggangnya, seolah bersiap mau mandi.

Pembaca, perkenankan saya flash-back dulu, agar Anda mendapatkan gambaran yang utuh tentang diriku.
Masa remajaku cukup menyenangkan. gue banyak dikenal di lingkungan sekolah, terutama cowoknya, karena gue gampang bergaul. Dari banyak teman cowok, beberapa di antaranya pernah mengungkapkan cintanya kepadaku, atau meminta gue jadi pacarnya. Tapi semuanya gue jawab sama, cuma berteman, gue belum ingin terikat. Mereka mengatakan gue mirip Ipeh, itu lho yang suka nongol bareng Bagito waktu melawak sebagai bintang tamu (makanya gue pinjam namanya).
"Tapi kamu lebih sexy," kata mereka. sexy apanya? Mereka gak mau terus terang mengatakannya. Akhirnya gue tahu sendiri. Bila gue sedang jalan-jalan, di Mall atau gedung bioskop, atau jalan kaki dari halte bus ke rumah dan sebaliknya, bila berpapasan dengan cowok, gue perhatikan mereka, terutama cowok dewasa, setelah menatap mukaku matanya langsung menuju dadaku. Mungkin bentuk dadaku ini sehingga mereka mengatakan gue sexy?

(Di kemudian hari penegasan tentang hal ini gue dapatkan dari Mas Narto, cowok yang sempat mengisi hatiku). Mulanya gue emang gak menyadari akan "kelebihan"gue ini. Bentuknya sama dengan umumnya buah dada, dua bulatan kembar. Tapi setelah hampir setiap mata cowo mengarah ke sini, gue jadi memperhatikan, apanya sih yang menarik perhatian mereka? Ukurannya barangkali. Kalau kita rombongan cewe pulang sekolah jalan-jalan di Mall mampir ke lingerie-corner, bra yang kubeli emang nomornya paling besar. Menyadari hal ini, gue jadi lebih berhati-hati mengenakan pakaian atasan. Kalau gak perlu benar gue jarang memakai atasan yang ngepas, sebab tonjolan kembarnya makin nyata, walaupun bra yang kupilih jenis yang tipis .

Ayah, Ibu, dan gue menempati rumah di selatan Jakarta ini secara turun-temurun. Ini emang rumah warisan dari kakek. Rumah sederhana gak begitu besar, 4 kamar tidur, hanya halamannya cukup luas yang ditumbuhi banyak pohon rambutan dan belimbing. Waktu gue SD dulu lingkungan kampung ini amat sepi. tapi sekarang setelah wilayah ini berkembang menjadi lokasi pendidikan, banyak kampus baru dibangun, dari perguruan tinggi yang terkenal sampai institusi pendidikan yang kampusnya hanya "ruko" serta berbagai macam kursus, daerahku jadi ramai. Pembangunan kampus-kampus diikuti oleh pembangunan usaha ikutannya seperti restoran, warung makan (segala jenis makanan ada), toko buku dan alat tulis, usaha fotokopi, wartel dan warnet, kantor pos, bank, dan tentu saja usaha kost.

Rumah kita sering didatangi mahasiswa yang ingin kost, sewa kamar, atau ngontrak. Ayah gak pernah menerimanya.
"Tanggung," kata Ayah. "Cuma punya satu kelebihan kamar."
Sampai pada suatu saat Ayah terpaksa menyewakan kamar yang kosong itu, karena diminta oleh sahabat Ayah yang tinggal di Bandung untuk anaknya, Didin. Didin tinggal setahun lagi menyelesaikan kuliahnya. gue masih di SMP. Ketika Didin menamatkan kuliahnya dan cabut dari rumah pindah ke Jakarta, kamar diisi lagi oleh anak lelaki kawan Ayah yang tinggal di Salatiga, Narto (bukan nama sebenarnya) namanya. gue masuk SMU.

Awalnya gak ada apa-apa antara gue dan Mas Narto. gue mulai tertarik karena Narto sebagai anak kost bersedia membantu Ayah, Ibu dan gue, selain karena dia cerdas. gue serasa mendapatkan guru privat untuk mata pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia. Dia pernah usul pada Ayah untuk mengembangkan rumah kita menjadi kost-kost-an memanfaatkan lahan kosong yang terletak di samping-depan rumah. Desain kamarnya dia bikin, bisa jadi 20 kamar kalau 2 lantai.
"Biayanya dari mana?" kata Ayah.
"Pinjam dari bank, Pak."
"Emang gampang minjem duit di bank."
"Ada persyaratannya, emang. Sertifikat rumah untuk borg, dan proposal usaha."
"Proposal apa?"
"Saya dan teman-teman yang bikin proposal," ujar Narto.
Hitung-hitungan Mas Narto, kita bisa mendapatkan penghasilan lumayan dari usaha ini setelah dipotong cicilan dan bunga bank disamping bisa memberi pekerjaan paling nggak untuk 2 orang.
"Saya jamin kamar akan selalu terisi," tambah Mas Narto meyakinkan Ayah. Untuk hal ini gue sependapat dengan Mas Narto. Rumah kita emang letaknya strategis, gak jauh dari jalan raya, tapi cukup hening dan teduh, lingkungan yang hijau.
Tapi ayah masih pikir-pikir, belum mengiyakan.

Mas Narto selalu ada waktu buatku kalau gue nanya-nanya PR ketiga mata pelajaran itu. Penjelasannya malah lebih enak dibanding guruku, mudah dimengerti. gue bebas saja keluar masuk kamarnya. Sudah biasa kalau gue mendapati Mas Narto hanya bercelana pendek di kamarnya. Kadang Mas Narto juga masuk ke kamarku, dengan seijinku. Pernah ketika Mas Narto masuk ke kamarku dan kita ngobrol sambil gue terus melipat lengan di dadaku. gue baru saja selesai mandi dan belum sempat mengenakan bra, hanya t-shirt saja. gue dan juga seisi rumah menganggap kita seperti kakak-adik. Anehnya, kalau Mas Narto liburan semester dan pulang kampung, gue merasa sepi, gue merindukan kehadirannya. Sebaliknya, bila teman sekolah (cowok) main ke rumah, roman muka Mas Narto menunjukkan rasa kurang senang. Sampai suatu ketika, ternyata Mas Narto menganggapku bukan sekedar adik saja .

Sore itu kita sedang membahas satu soal PR Fisika yang rumit di kamarnya. gue tercenung memandangi soal, gak tahu apa yang musti gue buat, sementara Mas Narto sibuk membongkar buku referensi. Ketemu catatan kuliahnya. kita meneliti tulisan tangan yang sebagian kabur itu, sehingga wajah kita begitu berdekatan.
"Ketemu caranya ..!" teriak Mas Narto kegirangan, lalu tiba-tiba dia mengecup pipiku. gue sejenak kaget dan terpana. Tempelan bibir Mas Narto pada pipiku barusan terasa sampai di dalam dadaku, berdebar-debar. Berbeda rasanya dengan ciuman pipi dari pamanku, misalnya. Mas Narto tampaknya juga kaget sendiri atas kelancangannya. Matanya tajam menatapku. Lalu tangannya mengelus pipiku bekas kecupannya tadi. Terus tangannya bergeser ke daguku, diangkatnya daguku. gue masih terpana, gak berreaksi. Pun ketika dia menunduk mendekatkan wajahnya ke mukaku. Detik berikutnya bibirnya udah menempel di bibirku. gue merasa aneh. Belum pernah seorang pria sampai mencium bibirku. gue mendorong bahunya sampai ciuman terlepas. Entah kenapa, gue jadi pengin marah. Mas Narto tahu situasinya, cepat-cepat dia memegang tanganku dan meminta maaf.

"Sorry ya Santi ." hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa Mas seberani itu ?"
"Karena Mas sayang ama kamu, Santi .maafin Mas ya ..". Kenapa gue harus marah? Ucapannya barusan gak mengagetkanku. gue udah menduganya dari perilakunya selama ini, begitu perhatian padaku. Jujur saja, gue juga mulai menyayanginya.

"Okay deh Mas, Santi maafin."
"Mas sayang ama kamu."
"Iya, Santi tahu."
"Apa jawabmu, Santi?"
gue diam. Rasanya berat mau bilang, 'Santi sayang juga'. gak sepatahpun keluar dari mulutku.
"Santi ..?"
"Entahlah Mas .." sahutku, tapi gue merebahkan kepalaku di dada Mas Narto. Lalu Mas Narto mencium bibirku lagi, kali ini gue gak menolak, tapi masih pasif. Saat kurasakan nikmat menjalar ke kepalaku, gue mulai membalas lumatannya. Mas Narto makin semangat .
Sore itu gue merasakan ciuman pertamaku.

Pertemuan-pertemuan kita berikutnya selalu dihiasi dengan cium-ciuman. Bahkan Mas Narto mulai berani meraba-raba tubuhku. Pertama kali telapak tangan Mas Narto menyusup ke dalam bra gue kurasakan hanya geli. gak ada enaknya. Begitu pula ketika jari-jarinya menyentuh puting dadaku. hanya geli. Tapi lama kelamaan, gue menikmati isapan mulut Mas Narto di puting dadaku. Enak, serasa melayang, dan lalu kurasakan basah di bawah sana.
"Dadamu bagus" pujinya berulang-ulang.
Pelajaran lain yang kudapat adalah tentang ketegangan tubuh Mas Narto.

kita sedang duduk di karpet kamarku bersandar pada dinding sambil berciuman. gue bermaksud meraih pinggangnya mau kupeluk, tapi Mas Narto menggeser duduknya sehingga tanganku menyentuh selangkangannya. Sekilas gue merasakan sesuatu yang keras di balik celana pendek Mas Narto. Kembali gue meraih pinggang, tapi Mas Narto menahan tanganku untuk tetap di situ. Bahkan menuntun tanganku untuk mengusap-usap di daerah sana. gue menurut saja. Sambil terus berpagutan bibir, kini tanganku dituntun ke pinggangnya. gue peluk erat. gue merasakan tangan Mas Narto kembali ke selangkangannya dan melakukan sesuatu. gue gak bisa melihat apa yang dilakukannya, karena kita terus saling melumat bibir. Beberapa saat kemudian, tanganku diambil dari pinggangnya kembali ke selangkangan. gue kaget. Telapak tanganku merasai benda keras dan hangat. Ciuman terlepas. Mas Narto emang nakal. Tadi dengan diam-diam dia melepas rits celana dia, melorotkan cdnya dan mengeluarkan "isi"nya. Baru kali ini gue melihat kelamin lelaki dewasa yang sedang tegang. Melihat sesungguhnya, bukan hanya gambar. Dengan wajah "tanpa dosa" Mas Narto menuntun tanganku untuk mengocok kontol nya. Dan anehnya, gue nurut saja. Juga ketika dengan agak kasar dia membuka bra-gue dan menciumi putingku. Sampai akhirnya lenganku, sampai atas, serasa diciprati cairan hangat. Mas Narto ejakulasi. Entah apa yang kurasakan waktu itu. campuran antara rasa aneh, jijik, rasa bersalah, tapi juga sedikit kepuasan udah mengantarkan Mas Narto sampai ke puncak ejakulasi.

Hanya begitulah pacaran kita yang paling "liar". mas Narto gak pernah memaksakan kehendaknya. Apa yang gue larang, dia menurut. Suatu siang di kamarnya yang terkunci, kita bercumbuan sampai "panas". mas Narto sudah telanjang bulat. Dia juga udah berhasil melepaskan jeansku. Ketika cdku hendak dilepaskannya pula, dengan tegas gue menolak.
"Mas engga akan berbuat itu, Yang ." katanya sambil terengah.
"Iya, Ipeh tahu. Tapi engga Mas"
"Pengin ciumin aja"
"Engga Mas, engga"
"Lihat aja deh, sebentar"
"Mas!" seruku sambil melotot.

Dia lalu seperti tersadar, dan minta maaf. Dia gak pernah mengulangi permintaannya yang bagiku nyeleneh itu.
Satu permintaan nyelenehnya lagi adalah waktu gue, seperti biasa, hendak melepaskan ketegangannya dengan mengonaninya. Tanganku baru mulai mengelusi kontol nya ketika dia minta hal yang gak biasa.
"Yang .. bisa engga."
"Napa?"
"Jangan pake tangan."
"Lalu?" tanyaku lugu.
"Dikulum."

gue marah, sehingga batal untuk membuatnya ejakulasi. Sejak itu dia gak pernah lagi minta dikulum. Bahkan kelak dengan Bimopun (suamiku) gue gak pernah melakukannya. Tapi justru dengan pria lain ini Ortuku gak menangkap perubahan hubunganku dengan Mas Narto. Mereka masih menganggap hubungan kita sebagaimana kakak beradik. Akupun takut bercerita hal ini kepada Ortuku. gue khawatir mereka gak merestui hubunganku ini. Yang jelas gue makin sayang kepada Mas Narto. kita emang saling mencintai.

Akhirnya Ayah memutuskan untuk membangun tempat kost, tapi hanya 10 kamar, satu lantai saja. Mas Narto menyambut gembira keputusan Ayah ini, bersama groupnya dia membuat proposal dan mengajukan kredit ke bank. Hanya dalam waktu 8 bulan bangunan udah selesai. Bangunannya emang sederhana, tapi kuat, dan biaya yang dicukupkan dengan dana kredit. Letaknya di samping kanan agak ke depan dari rumah utama dan bersambung dengan pintu tengah rumah. Terdiri dari 10 kamar, ada ruang tamu di tengahnya, 2 kamar mandi. Mas Narto benar, tanpa beriklan seluruh kamar udah disewa oleh mahasiswa. Sepuluh orang cowok semua.
Selama pembangunan kamar kost itu Mas Narto semakin dekat dengan Ayah. Sehingga ketika kuliahnya selesai dan meraih gelar insinyur, tanpa ragu dia melamarku melalui Ayah. Mas Narto kelihatan amat terpukul ketika lamarannya ditolak Ayah.

Entah kenapa dalam usiaku yang 23 tahun ini gairah seks gue jadi membara

gue mau Bimo melumat memek gue setiap malam, gue memimpikan hal itu, bagai kehausan yang gak kunjung puas. Mimpi tinggallah mimpi. Kenyataannya Bimo semakin tenggelam mengurus usahanya. Dia menyetubuhiku seminggu sekali, di hari libur. Sementara gue menginginkan setiap hari. Pernah suatu malam menjelang tidur gue kepingin banget. gue coba mulai mengelus-elus tubuhnya, dengan "kode" begitu Bimo udah mengerti bahwa gue menginginkan hubungan seks. Dengan halus dan sembari meminta maaf Bimo menolak, capek katanya. Dia emang benar-benar capek setelah seharian bekerja keras. Sebentar kemudian dia udah lelap. Tinggal gue sendiri, susah tidur dan akhirnya hanya bisa menangis.

Suatu pagi telepon berdering.
"Santi?"
"Iya benar, siapa nih?" sahutku
"Mas Narto". Kaget gue bukan main. Sejak gue menikah dengan Bimo, gue sudah melupakan lelaki ini. Sudah hampir 4 tahun gak ada kabar, kini dia tiba-tiba menelepon. Ada apa?
"Hai! Ada angin apa nih tiba-tiba nelepon?" tanyaku.
"Emmm . Ayah ada San?"
"Udah berangkat dong, kenapa gitu."
"Gini . Eh, anaknya udah berapa sekarang?" Mas Narto mengalihkan pembicaraan.
"Satu dong, laki, hampir 3 tahun, Mas sendiri gimana?"
"Masih seperti yang dulu, belum laku."
"Ah, masa?"
"Bener!" gue terdiam. Rasanya gue ikut bersalah.
"Santi?"
"Ya Mas."
"Tolong sampaikan ke Ayah ya, ada temen Mas mau lihat-lihat tempat kost."
"Udah penuh tuh Mas."
"Bukan mau kost, dia mau bikin tempat kost, mau lihat hasil karyaku dulu."
"Kalau cuman itu langsung aja Mas ke sini, engga perlu bilang Ayah dulu, pasti beliau izinkan."
"Bener nih? Kita mau ke situ, sekarang."

Tiba-tiba gue jadi berdebar. Bingung, bagaimana gue harus bersikap menemui mantan kekasihku ini. Jelas harus berbeda dibanding dulu. Kini gue sudah dimiliki orang. Kembali terbayang masa-masa kita pacaran dulu. Dengan dialah gue pertama kali berciuman. Juga dialah orang yang pertama kali menciumi buah dadaku. Juga milik dialah gue pertama kali melihat dan merabai kelamin lelaki. Untung hanya itu, gak berlanjut, sehingga gue bisa menyerahkan perawanku kepada suamiku.

gak seperti biasa, selesai mandi gue bingung memilih-milih pakaian apa yang akan kukenakan. Biasanya gue hanya memakai daster karena emang jarang bepergian, lebih banyak di rumah. Kalaupun keluar rumah gue memilih blouse biasa dipadu dengan rok panjang atau celana panjang, gak berani memakai blouse atau kaos ketat karena mata para lelaki yang nakal. Bimo juga kurang suka kalau gue menonjolkan bentuk dadaku di luar rumah. Sebaliknya, Mas Narto senang kalau gue mengenakan blouse atau kaos ketat. Untuk menyambut Mas Narto, apakah sebaiknya gue mengenakan yang ketat? Ah, nggaklah. Meskipun gue ingin, tapi nanti bisa menimbulkan kesan gak baik. Akhirnya gue pilih blouse yang gak begitu ketat dan rok panjang.

"Pa kabar?" sapa Mas Narto ramah sambil mengulurkan tangan. Wajahnya gak berubah, masih tampan. Hanya badannya agak gemukan
"Baik aja, Mas". Tanganku digenggamnya erat.
Mas Narto datang dengan 2 lelaki. Lelaki yang satu gue udah kenal, Si Adi, dia dulu asistennya sewaktu membangun kamar kost. Yang satu lagi kawannya yang mau lihat-lihat bangunan.
"Okey Di, langsung antar aja Pak Bambang lihat-lihat. Sama Adi aja ya Pak Bambang, udah lama engga ketemu sama Santi, pengin ngobrol"
"Okay, gak pa-pa" kata Pak Bambang. Berdua mereka beranjak. Mas Narto duduk lagi, gue duduk di sofa berseberangan dengan Mas Narto.

"Ibu ada?"
"Kan pergi sama Ayah."
"Bimo?"
"Lagi mengabsen nih ceritanya?"
"Ha .. ha ..kamu engga berubah juga. Eh. ada yang berubah ding."
"Apanya ?"
"Udah jadi Ibu, makin cantik aja .."
Mungkin mukaku jadi merah. Tapi terus terang gue senang dipuji oleh Mas Narto.
"Kenalin gue sama si Kecil dong."
"Lagi dibawa main ama pengasuh, Mas."
"Oo .. jadi kamu sendirian."
"Iya ..emang kenapa?"

"Ah engga, cuman ingat 4 tahun lalu." Ada seberkas senyum nakal di wajahnya. Dulu kita emang cari kesempatan sepi begini untuk bercumbu. gue menghela nafas panjang.
"Bentar ya Mas, eh, mau minum apa?" kataku mengalihkan perhatian.
"Apa aja yang kamu bikin Mas mau."
gue buatkan teh manis panas kesukaannya.
Sewaktu gue kembali ke ruang tamu, Mas Narto udah pindah duduk, di sofa. Dan ketika gue meletakkan cangkir di meja dengan sedikit membungkuk, gue merasa Mas Narto menatapi dadaku. gue kembali ke tempat dudukku semula, jadi kita duduk bersebelahan.
kita ngobrol, kebanyakan bercerita masa lalu yang manis. Tiba-tiba Mas Narto mencengkeram kedua lenganku.

"Santi .." matanya tajam menatapku. gue diam deg-degan. Mendadak tanpa kuduga Mas Narto mencium bibirku. Nekat juga ini orang. Beberapa detik gue merasai lumatan bibirnya di mulutku, lalu gue berontak, kudorong tubuhnya.
"Mas! Sadar engga sih kamu!"
"San . Mas gak bisa ngelupain kamu, hanya kamu wanita satu-satunya di hatiku."
"Santi tahu Mas, tapi sekarang Santi milik Bimo .."
"Berilah gue kesempatan buat melepas rindu, Yang ." katanya lagi.
"Mas .. Santi istri orang lho .. gak boleh gitu dong."

"Sekedar melepas kangen, Yang ." katanya sambil mendekat lagi. Tahu-tahu bibirnya sudah mendarat di mulutku. gue mengelak, tapi mulutnya terus mengejarku tubuhnya memepet tubuhku. gak bisa lain gue menyerah. Kubiarkan bibirnya melumati bibirku. Tangannya merangkulku. gue langsung teringat di sofa ini dia pernah juga mengulumiku. Kenangan yang indah. Mas Narto terus menciumiku, perasaan nikmat mulai menjalar. gak boleh berlanjut. Kudorong lagi tubuhnya. Mas Narto makin memperketat pelukannya. Tangannya mulai meremasi dadaku. Percuma saja gue berontak, Mas Narto lebih kuat. Lagi pula gue mulai menikmati serangannya setelah jari-jari Mas Narto mengelusi puting dadaku.

Oh .. dia udah membukai bra-gue!
Harus stop, gak boleh berlanjut.

Tapi rasa nikmat manjalar di dadaku dan terus ke bawah, dan gue basah! Oh . Mas .. jangan mulai! gue bisa gak tahan . gue emang sedang kehausan . tapi bukan begini, gue bukan istrimu ..
Entah bagaimana tadi, kenyataannya gue sekarang udah rebah di sofa dengan dada telanjang. Mas Narto menindih tubuhku sambil terus menghisap-hisap puting dadaku.
Kurasakan Mas Narto sekarang berbeda. Dulu cumbuannya begitu romantis, halus, kini nafsunya yang lebih kentara.
Bahkan rokku udah tersingkap.
Pinggulnya udah menindih selangkanganku.
Tubuhnya udah bergoyang-goyang .

Selangkanganku merasakan kerasnya gesekan batang kontol nya, walaupun masih ada beberapa lembar kain di antara kelamin-kelamin kita..
gue makin basah ..
Tubuhku mulai terangkat, rasanya ..

Mas Narto bangkit gugup. gue ikut bangkit, kulihat dari kaca jendela dua orang kawannya sedang menuju ke arah kita. Celaka!
Mas Narto bisa dengan cepat berberes, karena pakaiannya emang belum terbuka. Tapi gue? membereskan bra, menutup kancing blouse, mana sempat?
"Masuk aja ." bisik Mas Narto.
Setengah berlari sambil tangan menutupi buah dada, gue masuk ke ruang tengah, lalu langsung ke kamar. gue menenangkan diri. Nafasku masih tersengal, gemetaran menahan sesuatu. Kurang ajar. Dibikinnya gue tinggi, lalu dilepaskan. Hhhhh .. rasa menggantung emang gak nyaman. gue ingin "diselesaikan" ..
gue butuh waktu beberapa saat lagi untuk menurunkan nafsuku yang terlanjur naik.

Ketika Bimo pulang, entah kenapa gue jadi salah tingkah. gue gak berani menatap matanya. gue merasa bersalah. Kenapa gue tadi membiarkan Mas Narto meremasi dadaku dan lalu menghisap-hisap putingnya? Bukankah semua yang ada dalam diriku --termasuk kedua buah kembar ini-- sudah menjadi milik Bimo? Tapi Mas Narto lebih dulu memacariku dan gue dulu mencintaiku. Ah itu hanya alasan pembenaranmu saja San! Tapi toh gak terjadi apa-apa antara gue dengan Mas Narto, gak lebih dari hisap-hisapan. Itu juga gak seharusnya kamu lakukan. Pokoknya gak boleh ada pria selain Bimo yang boleh menyentuh tubuhmu. Tapi Bimo jarang menyentuhku. Itu juga bukan alasan! Baiklah, gue janji gak akan mengulanginya lagi. Oh, semoga Bimo gak tahu perubahan perilakuku ini.

"Mas jahat begitu sih," omelku begitu esoknya Mas Narto menelepon lagi.
"Sorry Yang .. habis kangen banget sih."
"Mas memang suka ganggu istri orang ya?"
"Ampuun .. engga lah. Sama sekali engga pernah. Mas engga ada maksud mengganggu istri orang. Kemarin itu Mas hanya melepaskan rindu sama kekasih."
"Huh . dasar ."
"Mas kesitu sekarang ya, Yang."
"Jangan!"
"Pokoknya Mas mau ke situ. Tunggu ya, daag." Telepon ditutup. Nekat bener.
Giliran gue yang cemas. Konflik antara menolak kehadiran Mas Narto karena ingin setia, dengan keinginan mengisi kesepian sambil mengulang kenangan manis. Antara menolak dan menginginkan. Mungkin terlambat untuk menolak. Mas Narto sekarang sudah duduk di sofa sebelahku. Kali ini dia datang sendirian, dan pandai memilih waktu. Saatnya anak-anak kost sedang kuliah, Ayah dan Ibu pergi dan Si Randi dibawa baby sitter main ke tetangga.

Dia juga pandai memanfaatkan waktu dengan efisien. Menolak kubuatkan minum tapi langsung mencumbuiku di sofa. Entah setan mana yang membujukku untuk menyambut lumatan bibirnya dengan lumatan pula. Mas Narto makin "ganas". Tubuhku ditindih dengan ketat, seluruh mukaku diciuminya, lalu leherku. Dengan agak kasar dibukanya dasterku, lalu direnggutnya bra-gue. Mulutnya dengan rakusnya melumati kedua buah dadaku bergantian kanan kiri. Lalu turun ke perutku, pusarku dijilatinya. Terburu-buru dia membuka celana dalamku. Eh! gue membantunya dengan mengangkat pantat gue. Dan ...oh!

kenapa gue kasih? Bagaimana dengan janjiku kemarin?
kenapa gue mengizinkan lidahnya menari-nari di sekitar clit-gue?
Karena membuatku terbang melayang di angkasa?

Kalau kemudian gue mendesah, melenguh, dan merintih-rintih, itu biasa. Tapi, di tengah rintihanku gue minta Mas Narto untuk segera masuk, adalah luar biasa bagiku.
Kenyataannya memang begitu.

Hanya dalam beberapa detik Mas Narto telah bugil. Pemandangan yang telah biasa gue lihat. Waktu pacaran dulu gue sering mengelus-elus kontol nya yang kini sedang menuju ke selangkanganku.
Saat-saat awal masuk inilah nikmatnya. Dari kondisi basah, "hampa", dan melayang gak tentu, menuju pada kondisi "terpenuhi" dan pinggul mendarat kembali ke bumi, dengan "masa transisi" berupa simulasi-simulasi nikmat pada dinding-dinding memek . Masa pendaratan gak lama. Ketika pinggul Mas Narto naik-turun, gue kembali melayang-layang.
Mas Narto memang keterlaluan. Kedua tangannya menyusup di bawah punggungku lalu mengunci tubuhku, dan dengan demikian dia bebas menyodokku dengan hentakan tanpa gue bisa "mundur" apalagi menghindar. Tapi untuk apa mundur dan menghindar kalau hentakan tadi malah menambah sensasi kenikmatan?

Untunglah, walaupun dalam keadaan melayang-layang begitu gue sempat ingat satu hal. Sehabis suatu sodokan, kedua tangan dan kakiku mengunci tubuh Mas Narto sebelum dia menarik pinggulnya kembali. gue peluk. Kubisikkan dekat kupingnya.
"Jangan keluarin di dalam."
Mas Narto mengangguk-angguk, lalu memompa lagi begitu gue mengendurkan kakiku.
Omonganku masih didengar, Mas Narto menepati janji. Ditumpahkannya seluruh maninya ke atas perutku. Banyak. Semoga dia gak telat mencabutnya. gue memang sedang "polosan", gak memakai proteksi apapun..

***

gue mengurung di kamar sendirian, menangis terus. gue benar-benar berdosa, merasa diriku ini kotor. gue telah membiarkan Mas Narto, bekas pacarku, menyetubuhiku. Bodohnya, gue menikmatinya. istri macam apa gue ini? Cinta Bimo yang tulus telah kukhianati, hanya karena dia akhir-akhir ini jarang menyentuhku. Bukankah sibuknya Bimo untuk keluarganya, gue dan Randy? Oh . gue hanya bisa menyesali dengan menangis terus-terusan.

Mengulangi suatu pengalaman yang memberikan rasa nikmat memang sifat manusia dan setan ada di mana-mana.. Beberapa kali Mas Narto nelepon mau datang, telah berhasil gue tolak. Untung gue punya alasan kuat, Ayah atau Ibu sedang ada di rumah. Tapi pembicaraan teleponnya pagi ini membuatku gak kuasa untuk menolak.
"gue kangen San, pengin ke situ."
"Ada Ibu Mas, lagian baby siter ngasuh di rumah."
"Kita jalan-jalan ke luar aja yuk."
"Kemana Mas?"
"Ya .. kemana ajalah. gue jemput ya."
"Engga enak Mas, ada Ibu."
"Ketemu di X aja," katanya menyebut nama restoran beberapa meter dari rumah.
"Males ah," sahutku. Masa gue perempuan muda nunggu cowo di restoran, nanti apa kata pengunjung restoran? Belum lagi banyak yang kenal.
"San, gue mohon kita bisa ketemu. Mungkin ini pertemuan untuk perpisahan."
"Kenapa gitu?"
"Minggu depan gue pindah tugas ke X," jelasnya. Ke Kaltim? Oh, jauh amat. Tiba-tiba gue merasa kehilangan. Baiklah gue mengalah.
"Oke Mas, kita ketemu di X aja," kataku menyebut nama shopping center, beberapa menit dari rumah dengan kendaraan umum.
"Makasih, sayangku."

Istri binal nakal perek Gue Istri Ngentot Sama Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda, cerita seks, sex bebas, cerita dewasa
Istri perek binal ngentot gangbang ramean | Klik foto untuk memperbesar gambar

Satu jam kemudian gue sudah di dalam mobil Mas Narto yang dipacu ke arah Jakarta.
"gue ingin pertemuan kita ini punya kesan yang mendalam," katanya.
"Ke mana kita Mas."
"Ke tempat yang berkesan."
"Apa itu."
"Nanti kamu tahu." Kulirik jam tangan, jam sembilan lewat sepuluh.
"Jangan jauh-jauh Mas, waktuku terbatas." Saat makan siang gue harus sudah ada di rumah. Bimo terkadang pulang untuk makan siang.
"Engga kok, bentar lagi sampai."
Mobil masuk ke pintu gerbang yang dijaga Satpam, lalu berjalan pelan menyusuri bangunan-bangunan semacam bungalow. Seorang lelaki setengah berlari memandu mobil sampai ke pintu garasi. Mas Narto membawaku ke suatu motel tempat pasangan selingkuh berkencan. Ada rasa gak enak sebenarnya. Tapi karena menyadari bahwa hari ini adalah pertemuan terakhir dengan mantan kekasihku ini, gue bisa menerima perlakuannya ini.
Di ujung garasi ada tangga ke atas dan berujung pada pintu. Melewati pintu ini kita masuk pada ruang dengan sofa set, ada TV besar, mini bar, dan kulkas. Lelaki tadi yang rupanya room-boy menyodorkan kuitansi dan langsung berlalu setelah menerima uang dari Mas Narto. gue duduk di sofa.
"Udah sering ya bawa cewe ke sini."
"Eemm . sering sih engga, sesekali. Maklumlah .."
"Jadi saya ini Mas anggap seperti mereka itu?"
"Eit, jangan begitu dong, Yang. Ini cuma masalah tempat."
"Ya, justru itu kenapa engga di rumah Mas aja?"
"Adik Mas yang dari Jawa sekarang tinggal di rumah. Engga enak."
Meskipun masih ada rasa gak enak, kenyataannya gue gak menolak ketika Mas Narto mulai menciumiku di sofa. Lalu menelanjangiku sebelum dia juga berbugil. Lalu step berikutnya seperti yang sudah-sudah. Mas Narto merebahkanku di sofa, membuka kakiku lebar-lebar untuk menempatkan tubuhnya diantaranya, mengarahkan kepala kontol nya ke selangkanganku, menekan, dan masuk. Lalu mulai bergoyang kiri-kanan dan memompa naik-turun. Tubuhnya kadang bertumpu di badanku sambil kedua lengannya mencengkeram, kadang bertumpu pada kedua telapak tangannya. Suatu proses tahap-tahap persetubuhan yang sama (dan biasa) yang dia lakukan beberapa hari lalu di rumahku.

Gue Istri Ngentot Sama Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda

Gue Istri Ngentot Sama Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda, cerita seks, sex bebas, cerita dewasa
Gue Istri Ngentot Sama Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda | Klik foto untuk memperbesar gambar

Yang nggak biasa adalah ketika stimulasi yang dia lakukan mulai membuatku "naik", Mas Narto telah "selesai". Ketika gue mulai merasa melayang-layang, tiba-tiba dihempaskan kembali ke bumi tanpa penyelesaian yang nikmat. Ketika gue sedang merambat naik menuju puncak kenikmatan, Mas Narto telah orgasme. Beberapa hari lalu Mas Narto mampu membawaku melayang tuntas, kali ini berbeda. Dia membuatku "tanggung", rasa menggantung.

Dia rupanya merasakan apa yang kurasakan. Pada second round di kamar yang keempat dindingnya dipenuhi cermin, benar-benar berusaha membuatku "tinggi". Seluruh tubuhku di eksplore dengan sabarnya, gak buru-buru masuk. Aktivitas Mas Narto di cermin yang sedang memompa tubuhku terlihat jelas dan mampu menambah rangsanganku. Bahkan ketika gue mengganjal kepalaku dengan bantal, gue bisa melihat keluarmasuknya kontol Mas Narto pada pintu memek gue melalui cermin dinding di depanku. gue memang sempat melayang tinggi, tapi apa boleh buat. Mas Narto lagi-lagi keburu selesai. Ah! Pertemuan perpisahan ini gak membuat kesan yang mendalam sebagaimana yang kita harapkan. Dua ronde persetubuhan hanya membuatku makin "geli-geli" saja. Dan tentu saja gue lalu jadi gelisah sepanjang siang, sore sampai malam.

Malam harinya gue coba melampiaskan hasratku yang menggantung ini kepada Bimo. Tapi lagi-lagi dia gak memberikan response positif atas "sinyal" yang kuberikan. Reaksi yang ditunjukkan Bimo cukup membuatku maklum, dia sedang gak berminat malam ini. Oh iya, ini memang bukan malam libur, masih 4 malam lagi, di mana Bimo akan melaksanakan kewajibannya memberiku nafkah batin, yang terjadwal dan jarang berubah!
Ketika malam semakin larut, gue masih juga belum bisa tidur. Kupandangi wajah Bimo yang terlelap nyenyak di sebelahku. Betapa damai wajahnya dan begitu bersih. Tiba-tiba gue merasa sedih dan lalu menangis. Teganya gue mengkhianati pria baik hati ini.

gue bangkit dan duduk di depan cermin. gue buka kancing baju tidurku. Sepasang buah bulat kembar ini masih indah. Bimo dan Mas Narto sering mengatakannya. Apakah Bimo sudah gak tertarik akan keindahan ini? Dan Mas Narto, oh . tadi siang dia begitu rakusnya menciumi dan mengulumi putingnya. Bahkan dia berniat menggigiti dan dengan tegas gue larang. gue berdiri. Kupandangi tubuh bagian bawahku lewat cermin. Lengkungan-lengkungan itu masih menggiurkan. Begitu pula yang dikatakan dua pria terdekatku. Perutku masih bisa dikatakan rata, setelah punya anak. Bawahnya lagi? Oh, lagi-lagi gue menangis. Menyesali kenapa gue mengizinkan kontol lain selain milik Bimo memasukinya?
Lama gue terisak pelan sendirian. Untung Bimo begitu pulas. Seandainya dia tahu gue menangis terus bertanya kenapa, bagaimana gue menjawabnya?
Untunglah kini Mas Narto telah pergi jauh, ke Kalimantan. Seandainya suatu saat dia datang lagi dan mengajak berhubungan seks, gue akan mampu menolak tegas. Selain karena rasa bersalah pada Bimo, juga karena Mas Narto "sama saja" dalam hal kualitas persetubuhan. Padahal gue sudah berkorban dengan mengkhianati Bimo.


Tadi malam susah tidur membuatkan pagi ini nggak fresh. Hari ini babysitter minta cuti, mau pulang kampung, tugasnya diambil alih oleh pembantu. gue beranjak hendak mandi ketika gue lihat Si Iyem (nama samaran) kerepotan menjemur pakaian sambil momong anakku.
"Yem, kamu urus Randy aja ya, biar Ibu yang jemur pakaian."
"Baik, Nyah."
Letak jemuran ada di samping rumah, persis di belakang bangunan kamar-kamar kost.
"Pagi, Mbak."
Dari sejak menerima kost dulu gue biasa dipanggil "Mbak" oleh anak-anak kost. Sampai sekarangpun begitu walau gue sudah menikah dan punya anak satu.
"Pagi, baru berangkat?"
"Iya Mbak, ada kuliah jam 10, mari mbak."
"Yuk."
Hubunganku dengan anak-anak kost memang sekedar bertegur sapa dan berbasa-basi saja. gue meneruskan kerjaanku. Kurasakan anak tadi gak langsung beranjak, tetap ditempatnya dan menatapiku. gue pikir mungkin dia terheran, gak biasanya gue menjemur pakaian, pekerjaan yang biasa dilakukan Iyem. Merasa ditatap begitu dengan sendirinya Akupun melihat ke arahnya. Mendadak anak itu mengalihkan pandangan, agak kaget, dan langsung berlalu.
Apa yang aneh pada diriku? Anak tadi seperti mencuri-curi pandang. Oh! Kancing depan dasterku ada yang terlepas, belahan dadaku jadi lebih terbuka. Cepat-cepat gue betulkan. Sialan anak itu. Bukan cuma belahan dadaku saja yang sempat dilihatnya. Beberapa kali tadi gue sempat membungkuk mengambil pakaian basah dari ember. Celaka duabelas!, gue gak memakai bra! gue baru sadar, tadi memang berniat mau mandi. Bahkan ternyata hanya daster ini saja satu-satunya pakaian yang kukenakan sekarang. Begitulah kalau gue mau mandi.

gue berniat mau masuk untuk berganti baju, tapi ah, tanggung, tinggal beberapa potong yang harus dijemur, sudah itu baru mandi, pikirku. gue jadi merasa sexy, dadaku berguncang-guncang ketika bergerak membungkuk atau mengangkat ke atas. Di beberapa bagian dasterku basah kena cipratan air cucian makin mempertegas bentuk tubuhku. Apalagi di bagian toket.
Ups! Dari sudut mataku gue melihat di salah satu jendela kamar kost suatu sosok bayangan di balik viltrage. Sosok bayangan kepala sedang mengintipku. Lelaki muda memang suka iseng tapi masih takut-takut. gue pura-pura gak tahu dengan meneruskan pekerjaanku, toh gak lama lagi. Kubiarkan Si Pengintip ini menikmati guncangan-guncangan tubuhku, pusing tanggung sendiri .

Dan rupanya gue 'menemukan' cara untuk mengisi kesepian yang makin memuncak ini dengan 'acara jemur pakaian' tiap pagi. Mungkin gue sudah gila. Entahlah. gue menjemur pakaian yang sebelumnya merupakan tugas Iyem, dan dengan pakaian seadanya. Kadang hanya berdaster seperti tempo hari, atau pakai celana pendek dan t-shirt longgar panjang sampai menutupi celana pendek, sehingga seolah hanya kaus itu saja yang kukenakan. Tapi kalau sedang berkaus gue gak berani melepas bra, bulatan kembarku terlalu kentara. Herannya, gue menikmati sensasi baru saat sosok bayangan di jendela mulai muncul mengintipku. Berdasarkan letak jendela gue memperkirakan Si Pengintip ini adalah Tono (sebut saja begitu) atau Andi (samaran juga). Tono adalah yang biasa mewakili teman-temannya bicara dengan induk semang (Ayah, Ibu, atau kadang-kadang gue) untuk urusan per-kost-an. Rupanya ia dianggap pemimpin oleh rekannya, mungkin karena dia penghuni paling lama. Andi adalah mahasiswa paling senior.

Suatu pagi Tono masuk ke rumah utama ingin bicara dengan induk semang. Karena Ayah dan Ibu sedang gak ada di rumah, maka dia bicara kepadaku.
"Gini Mbak, akhir-akhir ini ruang tamu jarang dibersihkan," katanya. Matanya menatapku, hanya sebentar, lalu pandangannya turun ke dadaku.
"Oh iya". gue mengenakan celana jeans dan t-shirt ketat. gak heran kalau matanya tertuju ke dadaku. Walaupun gue mengenakan bra, tapi ketatnya kausku menyebabkan kedua bukitku makin menonjol.
"Gini Dik, kebetulan saat ini Si Nah lagi pulang kampung. Tugas-tugasnya dikerjakan oleh Si Iyem. Bahkan saya sendiri membantu tugas Iyem. Nanti kalo Nah udah balik pasti dibersihkan. Atau nantilah saya nyuruh Si Iyem kalau kerjaannya udah beres."
"Oh maaf Mbak, saya engga tahu kalo Si Inah pulang kampung, kirain dia mulai males .." Lagi-lagi gue menangkap basah bola matanya sedang menatapi dadaku.
"Oo engga, tolong Dik Tono bisa ngerti ya .."
"Iya Mbak, saya hanya menyampaikan keluhan teman-teman. Nanti saya sampaikan sama mereka. Ngomong-ngomong, Babe kemana Mbak?" Jelas sekali, jakun Tono turun-naik. 'Babe' memang cara anak kost memanggil Ayahku.
"Lagi pacaran ama Nyak tuh .."
Lalu diam. gue rasa Si Tono ini salah tingkah. Biasanya dia gak begitu. Apa karena dia tertangkap sedang menatapi dadaku?
"Mari Mbak, terima kasih."
"Yuk."

Dari gelagatnya gue jadi yakin, yang setiap pagi mengintipku menjemur pakaian adalah Tono. Apalagi dia jadi sering datang sewaktu gue sedang sendiri di rumah. Alasannya macam-macam, mengisi air minum, pinjam majalah, ngajak main Randy dan lain-lain. Setiap kedatangannya selalu saja dia mencuri-curi pandang menatapi dadaku sambil menelan ludah. Pandangan matanya menyiratkan dia menginginkanku, seolah dia ingin menelanku bulat-bulat, tapi gue tahu dia ragu-ragu, takut, atau gak tahu cara memulainya. Anak ini memang menarik. Suka menolong dan sifat kepemimpinannya menonjol. Tapi salah dia kalau berharap mendapatkanku. gue gak berminat lagi untuk bermain api. Affairku dengan Mas Narto yang mantan kekasih saja membuatku merasa bersalah. Tiba-tiba gue punya ide nakal untuk mengganggu Tono. gue punya rencana tampil lebih 'menggiurkan' ketika Tono datang dan ketika gue menjemur pakaian. Biarlah dia semakin tersiksa .. Buat fun saja mengisi kesepian. Asal gak sampai jatuh ke pelukan Tono, kenapa nggak? Dasar perempuan kurang kerjaan .!

Pagi ini gue sibuk memilih pakaian yang sexy untuk diintip Tono. Celana pendek plus kaus longgar, ah ini sudah pernah. Bagaimana kalau kali ini no-bra? Perubahan yang terlalu drastis.
Atau baju tidur tipis yang biasa gue pakai tanpa pakaian dalam untuk 'membangunkan' Bimo, tapi dengan pakaian dalam. gue ngaca. Ah, tubuhku nampak, pakaian dalamku terlihat jelas. gak pantas. Akhirnya gue pilih daster pendek model tank-top yang bahannya gak terlalu tipis. Bahu dan bagian atas dadaku terbuka, belahannya nampak jelas, juga separoh pahaku terbuka. Membungkuk sedikit saja kedua bulatannya tampak. Begitu gue keluar sosok di jendela itu sudah nampak. Kadang gue sengaja berlama-lama membungkuk dan menghadap ke arah jendela. gue gak tahu apa reaksi Tono melihat penampilanku dan tingkahku pagi ini. gue senyum-senyum sendiri. Selesai menjemur kusuruh Iyem membersihkan ruang tamu kamar kost, gue momong Randy. Tepat seperti yang kuduga, Tono masuk, berbasa-basi sebentar lalu ambil koran dan duduk.
Masih mengenakan pakaian yang tadi tentu saja pahaku makin terbuka karena duduk. gue gak peduli beberapa kali mata Tono menatapi dadaku bergantian pahaku. gak hanya menelan ludah, beberapa kali kulihat Tono menghela nafas. Wajahnya yang mulai merah dan nafas yang agak tersengal menandakan "aroma" nafsunya. "Rasain lu" kataku dalam hati. Ah . seandainya Bimo bernafsu melihatku seperti Tono sekarang.

Sepi demi sepi yang berhasil gue lalui ini tampaknya akan semakin meningkat. Sabtu malam sehabis kita bertiga gue, Bimo, dan Randy jalan-jalan sekalian belanja ke Mall "X", gue telah siap tergolek di ranjang dengan pakaian tidur sexy kesukaan Bimo dan tanpa pakaian dalam. gue berharap malam ini, seperti setiap malam libur, kita dapat menikmati hubungan suami-istri sehingga dahagaku yang telah sepekan kurasakan dapat terpenuhi. Beberapa saat setelah Bimo merebahkan diri disampingku, gue seperti biasa mulai "mengganggunya" dengan menyilangkan sebelah kakiku ke tubuhnya dan menggesek-gesek. Belum ada reaksi. Kugosokkan paha telanjangku ke selangkangannya. Bimo memelukku. Kukeluarkan buah dadaku dari baju tidur dan menyodorkan ke mulutnya dan dia mulai menciuminya. Bimo memang suka 'netek', gak kalah sama anaknya. Putingku disedot-sedotnya, nafsuku mulai merambat naik, di bawah sana mulai terasa lembab.

Tanganku mulai menyusup di balik sarung Bimo dan terus merambat naik. Biasanya telapak tanganku akan langsung 'berjumpa' dengan ketegangan di dalam sana, tapi kali ini gue harus menarik dulu tali elastis CDnya (tumben, Bimo masih mengenakan CDnya) sebelum mengelusi batang zakar kesayanganku. Batang yang belum keras benar, telapak tanganku harus bekerja keras untuk mengeraskannya, sementara kelembaban di selangkanganku telah berdenyut-denyut minta 'dipenuhi'. Hanya dengan melepas baju tidurku gue sudah bugil, lalu kutelanjangi Bimo dan tubuhnya gue raih jadi menindih tubuhku. Kubuka kakiku lebar-lebar menunggu dengan memejamkan mata. Menunggu saat-saat nikmat ketika milik Bimo memenuhi selangkanganku yang telah lembab 'matang' dan berdenyut.

Bimo dengan gagahnya memposisikan kedua lututnya di antara bentangan kakiku, lalu tubuhnya merendah. Saat nikmatpun dimulai, kurasakan benda itu menempel di mulut memek gue, lalu menekan, kemudian melesak, dan .aaahh . gue menikmati gesekan di dinding-dinding memek gue sebelum akhirnya seluruh batang kontol Bimo tenggelam. Nikmatnya saat 'pemenuhan' ini susah diceritakan, pokoknya nikmat. gue mulai menggoyang pantatku dan tubuh Bimo mulai mundur maju. gak hanya pinggulku yang beraksi, tangan, dada, kepalaku bergoyang. Tentu saja termasuk mulutku.

Akupun mulai mendaki lereng bukit terjal kenikmatan hubungan seks. Tapi apa yang terjadi gak seperti biasanya. Puncak itu terasa masih jauh ketika tubuh Bimo mengejang. Kejangan tubuh yang khas menandakan pemiliknya telah sampai di puncak mendahuluiku. gue merasa 'ditinggal' di lereng bukit dan 'digantung'.. Tanda-tandanya sudah kurasakan waktu Bimo memasuki tubuhku tadi. ereksinya gak begitu keras.
Apa boleh buat, gue harus menerima. Tahun-tahun pertama bersama kita masih bisa mulai pendakian lagi, tapi beberapa tahun terakhir ini Bimo gak pernah 'nambah'. Sebenarnya gak masalah benar kalau tadi gue juga bisa menyelesaikan pendakianku. Tapi kini . kuhabiskan sisa malam dengan terisak di tengah dengkuran Bimo. gue harus menunggu minggu depan. Betapa lamanya menunggu minggu depan itu dengan selangkangan yang selalu membara.

***

Malam-malam berikutnya kuisi dengan pergulatan bathin yang hebat. Pergulatan antara tetap setia kepada Bimo dan mengundang masuk Tono, si anak kost. Ah, seandainya Mas Narto nggak di Kaltim. Mas Narto? Sama saja! Toh dia juga 'menggantungku' di lereng bukit! Yang sedang kupikirkan memang Si Tono. Mengajak Tono bersetubuh adalah mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Perilakunya akhir-akhir ini mengisyaratkan dia sudah begitu 'siap' menerkamku. Tapi janjiku pada diriku sendiri untuk setia kepada Bimo setelah Mas Narto pergi, menghalangi niatku. Pada malam keempat akhirnya keputusanku sudah bulat: mengundang Tono! Resiko apapun yang akan terjadi, gue siap menanggungnya.

Begitulah, didorong oleh keputusanku yang bulat Kamis pagi ini kembali gue menggelar "aksi menjemur pakaian" yang setengah gila, hanya dengan T-shirt panjang sebagai penutup tubuhku! gak heran kalau ketika selesai menjemur pakaian gue duduk di sofa, Tono mendatangiku. eh, ternyata gue jadi amat gugup di hadapan Tono dengan pakaian gila ini. Apalagi Tono terus menatapi dadaku --yang tercetak bulat oleh T-shirt, gue makin salah tingkah. Yang jelas gue gak akan memulai. Menunggu apa yang akan dilakukan anak muda ini. Pengin tahu bagaimana dia memulainya.

"mBak, boleh saya minta tolong?" katanya. Suaranya agak serak.
"Tolongin apa?"
"Saya tahu mBak pandai menulis."
"Tahu dari mana?"
"Saya sering baca tulisan mBak di tabloid Anu."
gue memang sering mengirimkan tulisan ke tabloid wanita itu.
"Ah, itu hanya iseng aja," kataku.
"Ya, tapi bahasa mBak bagus dan enak." Aha, dia mulai merayu.
"Trus, saya bisa nolong apa?"
"Gini, tolong periksa makalah saya ini, terutama dari bahasanya". Taktis juga dia.
"Bahasa makalah kan beda sama bahasa tulisan populer."
"Ayolah mBak ." Tono beranjak sambil membawa lembaran-lembaran kertas dan duduk di sebelahku, meletakkan kertas-kertas itu di pangkuanku. gue berdebar. Duduknya begitu dekat. Lalu dia menunjukkan bagian-bagian tulisannya untuk kukoreksi. Kesempatan dia untuk menekan-nekan pahaku. gue merinding dibuatnya. Puting dadaku mengeras. Nafasnya kudengar memburu, dan eh, ternyata gue juga begitu, tiba-tiba gue jadi sesak nafas. gue memang membaca tulisan itu tapi gak satupun nyantol di otakku. Dari sudut mataku gue melihat, Tono gak memandangi tulisannya lagi, tapi matanya bergantian menatapku dan dadaku. Oh, puting dadaku begitu jelas menonjol, gue yakin Tono bisa jelas melihatnya. gue jadi malu.
Risih ditatap begitu, gue menoleh. Wajah kita begitu berdekatan.
"Kenapa?" Ah, suaraku juga serak!
"Mbak ."
"Hmm?"
"MBak cantik." gue gak komentar.
"Dan sexy."
Lagi-lagi rayuan. Setelah itu apa?
gak kusangka Tono begitu nekat. Diciumnya bibirku. gue berontak. Kertas di pangkuanku bertebaran ke lantai.
"Ton!" teriakku begitu bibirku terbebas. Tono bukannya mundur, malah tangannya merangkul bahuku dan memeluknya erat-erat, sementara kembali bibirnya mencari-cari bibirku. Dia melumatku lagi. Berontakku berikutnya hanya pura-pura saja. gue menyerah, apalagi lumatan bibirnya mulai membuatku melayang. Tangannya melepaskan pelukan dan pindah ke dadaku, meremas. Remasan kasar sebetulnya, tapi gue mulai menikmatinya. Remasan yang masih terhalang kain kaos. Kain bukan halangan bagi Tono, dia bahkan bisa 'menemukan' putingku dan memelintirnya. Pelintiran kasar juga, yang gak nyaman bagiku, bahkan cenderung sakit. Oleh karenanya gue jadi tersadar dan melepaskan ciumannya. Dengan refleks gue menoleh ke belakang.
"Engga ada orang Mbak, Tono sendirian .." Tono menangkap maksudku. gue bangkit.
"MBak.." Tono juga bangkit mengikutiku. Kubiarkan. gue hendak mengunci pintu, siapa tahu Randi dan pengasuhnya masuk.

gue kembali ke sofa dan Tono langsung menubrukku. Eh, dadanya sudah telanjang, entah kapan dia melepas bajunya. gue rebah, Tono menindihku. Sesuatu yang keras menekan pahaku. Leher T-shirtku ditariknya ke bawah lalu diciuminya dadaku. Ditariknya lagi kausku sampai bibirnya bisa mencapai puting dadaku, dan dikemotnya.
Tangannya menelusuri pahaku dan terus menyusup ke atas. gue cegah tangannya. gue malu kalau dia tahu gue gak pakai CD. gue juga mencegah tangannya yang berusaha menarik ujung bawah kausku. gue gak mau dia melihat milikku lebih dulu sebelum dia telanjang bulat. Beberapa kali usahanya melucutiku kutolak, Tono seolah mengerti maksudku. Dia bangkit dan turun dari sofa, lalu mencopot celana jeans-nya. Kurang ajar, Tono gak pakai CD! Kurang ajar lagi, kontol nya itu beda. Maksudku dibanding milik Bimo dan Mas Narto (memang hanya dua orang itu yang pernah gue lihat miliknya). Besarnya sih gak berbeda dengan milik suami dan mantan kekasihku tadi, hanya panjangnya lebih dan bagian ujungnya --mulai dari sebelum leher-- sedikit melengkung ke atas. Lengkungan kecil yang justru menambah 'indah'nya barang itu. Satu hal lagi yang menambah nilai, warnanya muda dan mulus. Kesan keseluruhan (dalam keadaan tegang) panjang mengacung dan 'bersih'.
"Kenapa mBak .." rupanya Tono melihatku lama menatap miliknya. gue gak komentar.
"Kecil ya mBak .". Lelaki cenderung menganggap miliknya 'gak sesuai ukuran ideal', tapi kalau ditanya berapa ukurannya cenderung melebihkan, kata literatur.
"Panjang ." komentarku jujur.
"Ah masa ." katanya dengan roman muka senang. Kedua belah tangannya lalu menelusuri pahaku sambil menyingkap ujung kausku, gue membiarkannya.
"Hah .." serunya kaget, matanya berbinar menatapi selangkanganku yang bugil.
"Dari tadi mBak engga pakai CD ya . ah.." tubuhnya membungkuk dan sejurus kemudian kurasakan kelembutan lidah Tono bermain di bawah sana. Kilikannya menunjukkan bahwa Tono berpengalaman dalam hal ini. gue memejamkan mata dan menggigit bibir menahan sesuatu, hanya sebentar, keluar juga eranganku. Geli-geli enak. Hanya sebentar juga, Tono bangkit dan mengarahkan senjatanya siap masuk, lagi-lagi gue merem menunggu. Uh! sialan nih anak, kasar benar.
"Aduh .. pelan-pelan dong Ton."
"Oh .maaf mBak . habis engga sabaran."
Tono jadi lebih berhati-hati, pompaannya yang lebih perlahan justru memberikan sensasi lain. Sensasi yang ditimbulkan dari gesekan pada relung-relung memek gue oleh panjangnya kontol .

'Merasakan' Tono memang agak berbeda. Ada sentuhan 'baru' di dalam sana yang selama ini gak terjamah oleh suamiku dan Mas Narto. Pendakian serasa lebih mudah oleh sensasi-sensasi baru ini. Begitu tampaknya. Tapi kenyataannya nggak. gak berbeda dengan Bimo Sabtu lalu. gue ditinggal di lereng, sementara Tono berlarian ngos-ngosan menuju puncak. Untung Tono masih sempat mencabut dan menumpahkan cairannya ke perutku.
"Maafkan saya mBak," Tono membaca kekecewaanku.
"Mbak begitu sexy membuat saya jadi bernafsu banget," tambahnya lagi.
gue diam saja, musti komentar apa? Dalam foreplay tadi kelihatan sekali dia telah pengalaman, tapi kenapa dia cepat selesai?Setelah beberapa malam berperang batin hingga sampai pada keputusan berat untuk mengkhianati Bimo, hasilnya ternyata hampir sama, gak memuaskan. Merindukan pungguk di bulan burung dara di tangan dilepaskan. gue memang perempuan konyol, istri yang konyol, tepatnya. Nasib .

***

gue masih tergolek di sofa dengan t-shirt tersingkap sampai di bawah dada. Tono mengelap ceceran maninya di perutku dengan tissu. gue mengamati kerjanya. kontol nya yang masih mengacung berkilat ikut berguncang seirama gerakan tubuhnya. Selesai mengelap dia minta izin menggunakan kamar mandi di dalam, gue izinkan, toh gak ada siapa-siapa.
Keluar dari kamar mandi anak ini masih telanjang bulat melangkah mendekatiku lalu menggeser pahaku dan duduk. kontol nya gak lagi mengacung. gue masih tergeletak di posisi semula.
"Jangan gitu dong mBak .. saya jadi engga enak." katanya melihat gue mematung.
gue senyum. Nafsuku sedikit mereda.
"Nah . gitu dong."
"Trus mBak harus gimana."
"Senyum gitu aja cukup," lalu matanya turun menatapi kewanitaanku. Refleks gue menurunkan kaus menutupinya. Tono mencegah tanganku.
"Bentar mBak . emm .lebat," dielus-elusnya bulu-bulu kelaminku. Lalu mulai menyentuh clit-gue. Anak ini mau mulai lagi? Sanggupkah 'menuntaskan'gue? Tiba-tiba gue punya ide.
"Ciumin Ton," perintahku. Tono nurut padahal gue belum membasuhnya. Bulu-bulu itu diciuminya, bahkan sesekali menggigiti 'daging'nya. Tanpa gue minta Tono telah mengerti kelanjutannya. Lidahnya mengulik clit-gue. Nafsuku mulai naik. Lalu pindah ke labia-gue. gue makin gerah, bangkit duduk dan melepas t-shirt, pakaianku satu-satunya. Aksiku ini membuat Tono melepaskan kilikannya dan mendongak.
"Oohh .. bukan main ..!" serunya menatap ketelanjangan kedua bukit kembarku. Mulutnya langsung menyerbu dadaku.
"Gila kamu Ton," kataku mendorong kepalanya. Buah dadaku digigitnya, kalau sampai ada bekas gigitan 'kan gawat.
"Sorry mBak . habis gemes sih."
"Teruskan yang ini dulu Ton ." kataku menunjuk selangkanganku.
Tono menurut, kembali dengan rakus mulutnya mengerjai memek gue. Demikian intens-nya mulut Tono bekerja sampai gue hampir sampai.
"Udah . udah .."kataku terengah-engah. Tono bangkit, kontol nya sudah tegang mengacung, ujungnya melengkung ke atas dan berkilat menarik perhatianku. gue mendekat dan kontol nya gue elus-elus.

Tiba-tiba tubuhnya maju, kontol nya diangsurkan ke mukaku.
"Mbak .. " katanya memandangku penuh arti.
"Kenapa?". Tono gak menjawab, hanya mendorong tubuhnya lagi makin dekat sehingga kepala kontol nya beberapa senti di depan mulutku.
"Kulum ."
"Gila .. engga mau!" tegasku. Dengan suamiku sendiri saja gue gak pernah mengulum. Juga dengan Mas Narto. Kenapa begitu sebab mereka berdua memang gak pernah minta dikulum, entah kenapa. Seandainya Bimo minta mungkin gue akan mau. Tapi ini, bukan suami dan bukan pacar minta oral sex.
"Ayolah mbak .. sebentar aja."
gue mulai bimbang. gak ada salahnya mencoba, bukan? Apalagi milik Tono ini kelihatan 'cute'.
"Okay, jangan sampai keluar ya ."
Benda hangat keras-keras lunak memenuhi mulutku, terasa ganjil. gue memang sudah gila.
Mustinya milik Bimolah yang kukulumi begini, bukan milik anak kost ini. Baiklah, gue berjanji nanti akan kulakukan pada Bimo, siapa tahu akan menambah gairahnya.

Tono bergerak maju mundur seperti entotan kontol ke memek memek gue, cuma kali ini mulut gue yang jadi memek nya. Makin lama entotan kontolnya kemulut gue makin dalam, sampai menyentuh kerongkonganku. Sampai suatu saat gue hampir terbatuk, kontol nya kulepaskan.

"Lagi mBak .."
"Engga!"
"Bentar lagi aja."
"nggak!" Kupegang kontol nya dan kutuntun mendekati selangkanganku. gue ingin Tono masuk sekarang. Di bawah sana sudah kurasakan denyutan-denyutan minta diisi.
Tono masuk.
Dan langsung membenam.
Seluruh panjang batangnya telah 'lenyap'.
Ini baru sedap.
Dan mulai mempompa.
Dan ini lebih sedap.
Gerakan tubuh kita makin liar. gue heran, Tono sekarang berbeda dengan Tono sejam lalu. Yang tadi baru belasan gerakan tusuk-tarik dia telah sampai. Kini, entah udah berapa lama dia masih perkasa memompa. Dari gerakan tusukannya yang amat bervariasi, gue jadi yakin Tono memang telah banyak pengalaman sex-intercourse. Hingga gue "berani" berharap kali ini gue akan mampu mendapatkan orgasme.

Rasanya yang sedang menyetubuhiku sekarang ini adalah Bimo. Ya, bayangan Bimo muncul ketika gue memejamkan mata menikmati tusukan Tono. Tapi bayangan Bimo beberapa tahun lalu, saat bulan-bulan pertama kita menikah. Saat Randi belum ada. Saat Bimo mampu menghadiahkanku multiple orgasm.
Entah karena bayangan Bimo, atau keperkasaan pompaan Tono sekarang, atau karena milik Tono mampu mencapai kedalamanku yang 'untouchable', tubuhku mengejang dan lalu menggelepar. Rasanya gue sedang melayang-layang di awan kenikmatan. Ya, gue mendapatkan beberapa detik event yang kudamba-dambakan. gue telah orgasme.
Tono menghentikan gerakannya, kelihatannya memberi kesempatan padaku untuk menikmati saat-saat puncak ini. Tapi begitu kejanganku melemah, dia mulai memompa lagi.
"Ooh.."teriakku.
Gila! Pompaannya makin cepat.
Makin cepat .
Dan .. cepat pula dia mencabut.
Air maninya berhamburan di dadaku, bahkan menciprati daguku.

***

Apa yang telah kamu lakukan, Santi? Pelanggaran janji sendiri, pengkhianatan pada suami, dan sebuah dosa besar! Itu semua hanya demi kenikmatan orgasme yang cuma beberapa saat. istri macam apa gue ini? Lihatlah apa yang kau korbankan untuk kenikmatan itu. Perang batin berkelanjutan, kepura-puraan setiap hari, kebohongan demi kebohongan, dan tentu saja penumpukan dosa.
Kini, memandang mata Bimopun kau gak berani.
Sementara anak kost itu dengan amannya memuaskan nafsunya, kapanpun dia mau. Teganya kau membiarkan tubuh mulusmu menjadi alat pemuas nafsu.
Ah . toh hanya memek gue aja yang dinikmatinya, hati dan jiwaku tetap milik Bimo.
nggak bisa. Sekali kau mengikatkan diri dengan suatu pernikahan, jiwa dan ragamu telah dimiliki pasanganmu. Demikian pula sebaliknya.

Baiklah, hal ini gak boleh berlanjut. gue telah membuat keputusan final. gue harus menghentikan ini. gue lelah berpura-pura terus, gue capek mengarang kebohongan demi kebohongan, dan gue letih merasakan perang di dalam dada.

Dua hari lalu gue bahkan mendatangi kamar kost-nya untuk minta disetubuhi. Sungguh memalukan dan menjijikan. Biarlah itu merupakan hubungan seks-gue yang terakhir dengan Tono. Kemarin gue sengaja minta pengasuh anakku untuk gak keluar rumah seperti biasanya dan lalu gue mengurung di dalam kamar. gue dengar suara Tono menanyakan gue dan pengasuh itu melaksanakan instruksiku dengan baik
"Ibu gak boleh diganggu," katanya.

Pagi ini gue menunggu kedatangan Tono. Bukan untuk saling mengumbar nafsu, tapi "dalam rangka penyampaian keputusan penting" (uh, kaya bahasa kantoran saja) yang akan menjadi titik balik kehidupanku.
"Met pagi mbak . ah makin cantik aja". gue memang tampil beda, pakaian 'sopan', blouse rapat menutup tubuh dipadu dan celana panjang.
"Kemana aja mBak?"
"Duduk Ton, Mbak mau bicara."
"Eh, ada apa nih?"
"Kita harus menghentikan semua ini, Ton."
"Mbak ."
"Mbak yakin kamu bisa mengerti, kita gak boleh lagi melakukannya." kupotong perkataannya, gue gak ingin ada 'diskusi' panjang tentang hal ini.
"Ada apa mbak sebenarnya?"
"Kamu udah tahu."
"Iya mbak, tahu, tapi kenapa tiba-tiba begitu?"
"Mbak gak ingin menambah dosa lagi."
Tono mendadak diam, matanya menatapku tajam, lalu menunduk, gak bersuara.
Sungguh suasana yang amat gak enak, di luar dugaanku. Kukira Tono akan protes keras.
Akupun jadi diam juga.
"Ketahuilah mBak.." akhirnya dia buka suara setelah beberapa menit hening.
"Saya bukan sekedar memuaskan nafsu saya saja."
gue gak komentar. Dia diam lagi.
"Saya ..sayang .. sama mBak."
Ah, kalimat seorang playboy yang akan kehilangan mangsa. gue tetap diam.
"Okay mBak, kalau itu kehendak Mbak, saya nurut," dia bangkit lalu ngeloyor pergi.
gue gak bisa menduga apa yang berkecamuk di dalam hatinya. Roman mukanya aneh, susah dibaca.
Tapi gue kini lega .!

gue lebih tenang sekarang. gak perlu berpura-pura lagi, gak perlu mengarang kebohongan. gue berusaha menjadi istri setia. gue menerima saja apa yang diberikan Bimo. gue melayaninya dengan ikhlas, walaupun gak pernah mencapai puncak. Toh seks bukan satu-satunya kenikmatan dalan perkawinan. Masih banyak kenikmatan yang lain apabila kita ikhlas menjalankannya. Tampaknya kehidupan kita kembali normal lagi.
Bagaimana dengan Tono?
Tiga minggu setelah gue memutuskan hubungan itu, Tono pindah kost. Yang agak menggangguku adalah dia gak pamitan kepadaku. hanya menitipkan secarik surat tertutup yang isinya singkat :
"Mbak, saya pergi. Saya tetap sayang sama Mbak dan berharap suatu saat kita bisa bersama lagi -- Tono."
Yah .. mungkin dia marah, gak lagi bisa mengumbar nafsu seksualnya. gak masalah benar bagiku.

Bergegas gue mengarahkan mobilku menuju rumah. gue baru saja berbelanja kebutuhan sehari-hari di supermarket terdekat.
Sabtu sore itu gue seperti biasa harus mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan Bimo. Minggu lalu gue mencoba mengoral Bimo dan tampaknya dia menikmatinya. Kali ini gue akan melakukannya lagi. gue terburu-buru pulang karena gue masih butuh waktu lagi untuk mandi dan lain-lainnya.

Gue Istri Ngentot Sama Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda, cerita seks, sex bebas, cerita dewasa, cerita istri selingkuh ngentot pantat gede, payudara besar, dada montok, Gue Istri Ngentot Sama Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda, cerita seks, sex bebas, cerita dewasa
Gue Istri Ngentot Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda
Gue Istri Ngentot Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda, cerita seks , Gue Istri Ngentot Sama Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda, cerita seks, sex bebas, cerita dewasa, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Gue Istri Ngentot Kontol Suami, Selingkuhan, dan Daun Muda

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com