Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa

Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa | Awalnya, informasi minim yg gue dapatkan dari seorang kawan yg tinggal di Jakarta tentang massage service (lebih tepat dibilang sex service, sebetulnya) di suatu tempat di Bandung (busyet, dia yg tinggal di Jakarta malah lebih tahu dari gue,


dasar gue masih hijau! ) "Namanya 'ANU Message', di jalan Otista, berseberangan dgn Pasar Baru, tarifnya seratusan sejam, " katanya. "Bagus engga cewenya?

" tanyaku. "Loe tahu kan selera gue? Pokoknya engga nyesel. " dgn agak ragu (masa sih seratusan cewenya yahut? ) akhirnya gue meluncur jg ke sana.

Tak sulit menemukan tempat ini. Hanya jangan ke sana siang atau sore, macetnya minta ampun. Waktu yg ideal sekitar jam 7 malam,

lalu lintas sudah lancar dan belum banyak pelanggan lain sehingga kita leluasa memilih "pemijat". Dari depan tempat ini memang tak menyolok,

hanya pintu kaca yg terbuka sebelah. dgn style yakin sembari deg-degan. gue langsung masuk jg supaya tak sempat ada yg mengenali di pinggir jalan raya ini.

Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa

Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa, cerita seks, cerita dewasa terbaru tentang panti pijat Jakarta

Di ruangan yg remang itu ada satu stel sofa yg diduduki 4-5 cewek yg berpakaian serba minim.

Sejenak gue menyapu pandangan, setengah bingung. Tapi hanya beberapa detik. Salah satu dari mereka langsung bangkit dari duduknya begitu ngeliat ku.

"Mau pijat Mas, Ayo! " Putih, berwajah mandarin, tingginya sedang, "massa depan" (double "s" lho, istilahku untuk susu ) besar dgn belahan yg terbuka jelas,

Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa

"massa belakang" yg menonjol ke belakang, rok supermini memamerkan sepasang paha putihnya yg jg. besar. Hasil evaluasiku: cewe ini serba menonjol dan serba besar.

"Ayo Mas, lihat-lihat ke belakang, " ajaknya lagi ketika gue masih terpaku. Digandengnya tanganku, dibawa melalui pintu kaca lagi di belakang ruangan itu.

Kami melewati lorong lumayan panjang yg di kanan-kirinya terdapat pintu-pintu kamar terus kebelakang. Pantat besarnya megal-megol seirama langkah kakinya.

Sampai di ujung lorong, dia berhenti di depan jendela kaca nako. "Silakan pilih, " katanya sambil menutup kaca nako itu. Rupanya jendela ini tempat mengintip ke ruangan besar di baliknya.

Kaca nako yg dilapisi "glass film" gelap memungkinkan gue ngeliat bebas ke ruangan besar itu tanpa dilihat penghuninya.

Wow! Temanku tak berbohong. Di ruangan besar itu banyak berisi sofa dan diatasnya "tergeletak" belasan "ayam" yg sungguh bikin ku menelan ludah beberapa kali.

Kebanyakan mereka duduk-duduk sambil nonton TV. Ada yg lagi ngobrol, ada yg berdiri di depan cermin mematut dandanannya.

Umumnya, model pakaian yg dikenakannya minim terbuka di dada dan paha. Bahkan cewe yg persis lurus pandanganku duduk acuh celdam putihnya "kemana-mana".

Hanya beberapa saat di situ mataku sudah menebar ke seluruh ruangan. Hasilnya, bingung! Semuanya menggiurkan. "yg mana, Mas? " tanya pengawalku Si Serba Besar ini.

"Entar deh. " "Si Anu pijitnya enak, Si Itu servicenya jago, Si Ini mainnya yahut. " katanya berpromosi.

Cerita Sex Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa

gue tak begitu mendengar ocehannya, lagi asyik meneliti satu persatu cewe-cewe itu buat menetapkan pilihan tubuh yg pas dgn idolaku. Pijit,

service, main? "Servicenya apa aja? " akhirnya gue nanya ke Si Besar, tapi mataku masih ke ruangan.

"Apa aja, terserah Mas aja. Di dalam nanti baru tahu, " katanya sok berteka-teki. Pakaian yg mereka kenakan, terbuka dada dan paha,

membantuku untuk lebih cepat menentukan pilihan. Akhirnya gue menetapkan 3 orang terbaik untuk di observasi lebih teliti.

yg bergaun coklat tua itu. hm. Wajahnya cantik, kulit bersih, paha mulus. Sayangnya, susu nya tak begitu "menjan kalau n". Bukannya kecil sih,

masih punya belahan. Hanya gue ingat pesan kawanku tadi. "Pilih yg berdada besar, " katanya. "Kenapa? " "Gak usah banyak tanya,

cobain aja. " Untungnya, seleraku memang dada yg berisi. yg bergaun hitam lebih seksi, bodynya menggitar, face-nya biasa-biasa aja.

Dadanya? Hanya dia satu-satunya yg pake gaun menutupi dada tapi membuka kedua bahunya. Cukup menonjol bulat, tapi jangan-jangan itu hanya model branya.

Bagiku, indikasi dada montok adalah punya "belahan" atau nggak. Si gaun hitam ini belahannya tertutup. yg ketiga, bergaun crem berbunga kecil,

agaknya yg paling ideal. Tubuh lumayan tinggi, pinggang ramping paha bersih panjang, dadanya. wow! dgn gaun model "kemben" (menutup separoh dada horisontal),

susu nya seakan "tumpah". Nilai plusnya lagi: berambut panjang lurus sepinggang. Tapi gue tak segera menyebut nomornya untuk dipesan.

gue masih menebar pandangan lagi jangan-jangan ada yg lebih bagus terlewat dari penelitianku. "Sama saya aja Mas, nanti 'dibody' sebelum main,

mau karaoke jg boleh, " kata pengawalku tiba-tiba. gue jadi tertarik sama omongannya. "Dibody? " "Iya, body massage.

" Body massage, karaoke, dan "main". Ehem. ! "Terus? " "Pokoknya Mas ditanggung puas. " Iya puas, tapi "You aren't my type" kataku,

dalam hati tentu saja. Kamu mustinya "menjalankan diet ketat" supaya pinggangmu berbentuk. "Kalo mereka servicenya sama gak? " tanyaku.

"Tergantung orangnya sih Mas. " gue sejenak ragu. Sama dia macam pelayanannya sudah jelas, tapi tubuhnya tak masuk seleraku.

Pilih Si "Dada tumpah" pas dgn selera, tapi bentuk pelayanannya belum jelas. gue kembali menebar pandangan. Rasanya gue tak menemukan "calon" lain sebaik Si Dada montok.

Tapi gue mendapatkan informasi lain. Di pojok agak atas tertempel karton di dinding dgn tulisan: "Mulai 1 Juli Rp.

150. 0 sejam". "Pilih yg di dalam jg silakan, gak papa, " katanya. Kudengar ada sedikit nada kecewanya.

"Kok gak ada tamu lain, sih? " tanyaku sekedar menetralkan. "Baru jam 7 masih sepi, entar malem rame, " jelasnya. Tak ada pesaing begini memberiku keleluasaan untuk berpikir sebelum memutuskan.

Anda jangan coba menimbang-nimbang begini jika lagi ramai, bisa-bisa pilihan Anda disambar tamu lain. Akhirnya keputusanku bulat, pilih Si Kemben. Keputusan yg agak spekulatif sebenarnya.

Tak apalah, ini kan kedatangan pertama, hitung-hitung "belajar". Kusebutkan nomornya pada si Besar ini. "Yen, tamu, " teriaknya.

Si Rambut panjang bangkit dan menuju pintu. Ehem, gue tak salah pilih. Secara keseluruhan bentuk badannya oke.

Cara jalannya mirip peragawati di catwalk, sehingga sepasang buahnya berguncang berirama. "Yuli, " katanya begitu dia muncul di pintu menyodorkan tangan.

gue tambah yakin, dadanya benar-benar "menjan kalau n". Yuli membimbingku menuju lorong. Tanganku langsung merangkul bahunya, bak sepasang pengantin yg menuju kamar bulan madu.

Begitu Yuli menutup pintu kamar dan menguncinya, gue menyerbu memeluknya. Mulutku langsung menuju belahan susu nya. Menciumi dan menggigit pelan. "Eh.

bentar dong Mas, " elaknya ramah. gue tak peduli. Kupelorotkan kemben dan branya, bulatan susu kanannya langsung nongol.

Bulat indah, tak ada tanda-tanda turun walaupun sudah tentu sering dijamah orang. Kuteruskan ciumanku didadanya, sampai kemudian gue "menyusu".

"Mas ini gak sabaran ya? " Tak ada nada marah, masih ramah. Pelukan kuperkuat, tangan kiriku turun meremas pantatnya.

  • "Sabar ya Mas. " katanya melepas pelukan. gue melepas tubuhnya. "Pijit dulu aja, " sambungnya. "Udah itu? " "Mas maunya apa?
  • " tantangnya. "Maunya service yg memuaskan. " "yg memuaskan yg gimana? " "Body massage, karaoke, dan main, " serangku, meniru servis Si Besar tadi.
  • "Boleh. Buka baju dulu dong, " perintahnya. "Bukain, " gue balik memerintah. "Hi. manja, " tapi tangannya bergerak membuka kancing kemejaku,
  • lalu singletku, kemudian ikat pinggangku. "Ih, udah keras, " katanya menggenggam peler ku dari luar sebelum memelorotkan celanaku.
  • Yuli berhenti ketika tinggal celdamku saja. "Buka semua dong, " pintaku. "Gak ah, takut. Hi hi. Udah, mas tiduran deh, entar Yuli pijat dulu.
  • " gue merebahkan tubuhku ke kasur, terlentang. Tanpa malu-malu Yuli melepas gaun dan kemudian bra-nya. toket nya memang bulat dan besar.
  • Mungkin terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yg tinggi dan langsing. gue mengamati dadanya sambil tegang. toket kanannya nyaris sempurna, bulat, besar,
  • dgn puting coklat yg kecil. Tapi tak simetris, buah kirinya agak turun, tak bulat benar. Lalu menyambar handuk dan ke kamar mandi.
  • "Yuli mandi dulu ya Mas. " "Ya, cepet ya. " Keluar dari kamar mandi Yuli berbalut handuk.
Yuli membuang handuknya, hanya berceldam. "Telungkup dong Mas. " gue membalik tubuhku. Yuli menduduki pantatku. peler ku yg tegang terjepit, mengulas minyak ke punggungku,

lalu mulai mengurut. Cara mengurutnya kurang menekan, nggak seenak pemijat profesional tentu saja. "Kamu dari mana Yen? " "Cirebon, Mas. " Selesai di pinggang dan punggungku,

Yuli lalu melepas celdamku sambil bilang maaf. Sopan banget. gue berbalik. Pandangan Yuli sekilas ke peler ku yg mengacung tegang. "Hi hi.

udah tegang. " "Kamu lepas jg dong. " "Okey, " dgn tenang Yuli melepas satu-satunya kain penutup tubuhnya itu.

Jembut lebatnya menutupi seluruh permukaan kewanitaannya. "Balik lagi, dong. " Pantatku dipijat, lalu pahaku. Diurut dari belakang lutut ke atas. Sampai di pangkal pahaku,

entah sengaja atau nggak, jempol tangannya menyentuh-nyentuh biji pelirku. "Punggungnya lagi dong Yen. " Yuli menduduki pantatku lagi, bulu-bulu kelaminnya terasa banget mengelusi pantatku.

Memang inilah maksudku dgn meminta pijat dipunggung. "Katanya body massage. " tagihku. "Entar dong Mas. " "Dah, sekarang terlentang.

" Yuli menumpahkan minyak ke dada, perut, dan peler ku. Lalu. hup! Dia "berselancar" di atas tubuhku.

"Sreeng". gue bergidik, gemetar karena nikmat. Kedua susu nya diusap-usapkan (dgn tekanan) ke dadaku. Lalu turun ke perutku.

Ini sih bukan body massage, tepatnya "breast massage". toket nya yg mengkilat berlumuran minyak sering menggelincir di tubuhku.

Tiga kali berurutan dada dan perutku "dipijat" susu nya, lalu. inilah yg bikin ku berdesir kencang. Yuli menumpahkan minyak di telapak tangannya lalu mengoleskan di kedua susu nya.

Buah itu makin mengkilat, dan putingnya tegang! Lalu, bergantian kiri kanan, susu nya memijati kelaminku, mak! Tak itu saja.

Diletakkannya batang peler ku di belahan dadanya, lalu di"uyek". Yuli menggoyang tubuh atasnya bak penari salsa. Inilah sebabnya mengapa kawanku menyarankan agar gue memilih yg berdada besar.

Sepasang daging kenyal memijati peler ku, rasanya bagai terbang. Terbayang, kan, jika dada model "papan setrikaan", bukannya nikmat malah pegel. gue harus sekuat tenaga manahan diri untuk nggak ejakulasi.

Apalagi nampaknya Yuli mengkonsentrasikan tekanan dadanya ke peler ku. Untung saja baru kemarin gue "keluar". jika nggak, mungkin gue sudah menyiram maniku ke dada Yuli.

Kadang gue menghentikan gerakan liarnya, sekedar mengambil nafas panjang. Lalu memerintahkan menggoyang lagi ketika gue sejenak "turun tensi".

"Mau keluar ya? " komentarnya. Yuli menuruti komandoku. Oohh. cukuplah stimulasi ini, supaya gue bisa menikmati "service" Yuli lainnya.

gue berhasil menahan diri. Yuli bangkit. "Yuk, cuci dulu Mas, " Yuli menghilangkan minyak di dada, perut dan peler ku dgn sabun.

Lalu dia membersihkan tubuhnya sendiri. Ini memberiku kesempatan untuk mengerem nafsuku yg tadi hampir meledak. gue menurut saja ketika Yuli mengelap tubuhku dgn handuk,

lalu merebahkan tubuhku terlentang. Mulailah servis ketiga. Diciuminya perutku, terus turun ke pahaku, kanan dan kiri sampai ke dengkul.

Naik lagi menciumi pelirku, bahkan mengemotnya, satu persatu bergiliran bijiku masuk ke mulutnya. Giliran lidahnya menjilati batang peler ku, dari pangkal ke ujung.

Disini dia memasukkan "kepala" peler ku ke mulutnya. Hanya sebentar, dilepas lagi dan mulai menjilati dari pangkalnya lagi.

Begitulah berulang-ulang sampai akhirnya dia melakukan blow job seperti adegan oral sex di film biru. Kembali gue harus "berjuang" untuk nggak meledak.

Lagi-lagi gue harus menyetopnya ketika kurasakan gue hampir muncrat. Bagian keempat, dimulai. "Pake kondom ya Mas. " Maksudku jg begitu. gue tak mau ambil resiko bermain seks dgn perempuan sewaan begini tanpa pengaman.

"Tolong ambilin di saku celanaku. " "Saya bawa kok Mas. " dgn terampil dia memasangkan kondom di peler ku.

Berpengalaman dia rupanya. "Mas termasuk kuat, lho. " Ah, ini sih basa-basi standar seorang profesional. "Ah, bisa aja kamu.

" "Bener lho, biasanya baru dibody aja udah keluar. " gue mencegah Yuli yg mulai menaiki tubuhku.

gue kurang suka dgn posisi di bawah. Membatasi gerakanku. Yuli terlentang dan membuka kakinya lebar-lebar. Sambil mengulumi putingnya gue masuk. Belum sempat gue menggoyang,

Yuli duluan memutar pantatnya. Yah, posisi "missionarist" tak perlu diceritakan prosesnya kan? Anda sudah tahu. Kecuali, beberapa kali gue terpaksa menyuruh Yuli diam,

agar gue bisa memompa sambil merasakan sensasi gesekan peler ku pada dinding-dinding memek Yuli. Oh ya, ada lagi yg perlu gue ceritakan.

Ketika gue mengambil "pause" dari gerakan memompa, dgn trampilnya Yuli memainkan bagian dalam memek nya berdenyut-denyut teratur menyedoti peler ku. Rasanya Bung!

Susah digambarkan. Semacam "kompensasi" dari lubangnya yg tak begitu erat menggenggam peler ku. Maklum, sering "dipakai". Bahkan sampai gue "selesai" dan rebah lemas menindih tubuhnya,

Yuli masih memainkan denyutan memek nya! gue tak menyesali keputusanku untuk memilih Yuli dibanding Si Serba Menonjol tadi.

"Semua cewe di sana tadi servicenya memang begini ya? " tanyaku membuka kebisuan. gue masih menindih tubuhnya, peler ku masih di dalam.

"Engga tahu dong, Mas. Cobain aja, " Ada nada kurang senang yg tersirat. "Bukan begitu, cuman pengin tahu aja.

" "Eh, bener kok Mas, Saya engga ada apa-apa. Tamu kan berhak memilih. " "Mas sering ngeseks ya, " kata Yuli ketika dia melepas kondom dan "memeriksa" isinya.

"Keluarnya dikit, " sambungnya. Tahu aja loe. "Jangan kapok ya, Mas. " "Engga dong, " Serangkaian servis yg disuguhkan Yuli memang memuaskanku.

"Sering-sering ke sini ya, " Lagi-lagi ucapan basa-basi yg standar. "Iya dong, jika ada kesempatan lagi saya ke sini dan pilih kamu lagi. " "Ah engga usah basa-basi, pasti Mas pengin coba yg lain kan? ' Lagi-lagi, tahu aja loe!
Sex Dipanti Pijat, Cerita seks panti pijat, ngentot dipanti pijat

Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa Cerita Sex, Sex Dipanti Pijat, Cerita seks panti pijat, ngentot dipanti pijat Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa cerita sex,Cerita Seks, Sex Dipanti Pijat, Cerita seks panti pijat, ngentot dipanti pijat, cerita seks dewasa
Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa
Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa, cerita seks , Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa, cerita seks, cerita dewasa terbaru tentang panti pijat Jakarta, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Sex Dipanti Pijat Bonus Ngentot, Cerita Seks Dewasa

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com