Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang

Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang | Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party setelah sekian lama otak kita dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari.

Waktu itu Viena protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Indah yang ikut mendukung Viena karena pacarnya juga tidak boleh diajak.

"Emangnya lu ngundang siapa aja sih Ci, masa si Chevy aja ga boleh ikutan? " kata Indah.

"Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih" timpal Viena.

"Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh".

Aku ingin sedikit bikin kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Koko dan Paijo.

Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Koko lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu.

Pak Koko tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kita telah mengatur skenario acaranya agar seru.

Beberapa jam kemudian kita sampai di villaku, Pak Koko seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya ngeliat jelalatan pada kita terutama Viena yang hari itu pakaiannya seksi berupa sebuah tank top merah berdada rendah dengan rok mini.

Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Paijo.

Setelah membereskan barang bawaan, kita menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat.

Indah yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. kita bangun sore hari sekitar jam 4 sore.

"Eh. sembari nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk" ajakku pada mereka.

Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya.

"Wei. gila lo Ci, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo terlihat orang gimana? " tegur Indah.

"Iya Ci, lagian kan kalo si tua Koko itu dateng gimana tuh" sambung Viena.

"Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Koko udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti" bujukku sembari menarik tangan Viena.

Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Viena baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Indah yang masih agak malu mempreteli pakaiannya.

Akhirnya kita bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun. Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kita tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya.

Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja.

Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono.

"Ci, sekalian ambilin kita minum yah" pinta Viena. Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air.

Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang

"Ok, it is the showtime" gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini.

Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Koko dan Paijo segera kesini karena pesta akan segera dimulai.

"Iya neng, kita segera ke sana" sahut Paijo sembari menutup gagang telepon.

cuma dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka.

"Wah udah ga sabaran nih, daritadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng" kata Pak Koko.

"Pokoknya yang rambutnya dikuncir itu buat saya dulu yah neng" ujar Paijo merujuk pada Indah.

"Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok" kataku "yang penting sekarang surprise buat mereka dulu".

Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Viena.

Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Indah sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Viena masih berendam di air.

"Vie, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih" pintaku padanya.

"Lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana". Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya.

Di balik pintu itu Pak Koko dan Paijo yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus.

Tak lama kemudian Viena memasuki kamarku sembari mengelap rambutnya yang masih basah.

"Kenapa Ci, ada perlu apa emang? " tanyanya. "Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok" jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka.

Sebelum Viena sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak.

Viena yang terkejut tentu saja meronta-ronta, tetapi pemberontakan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu.

Pak Koko dengan gemas meremas toket kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Paijo berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang.

Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Viena.

"Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng" komentar Paijo sembari menyentuhkan lidahnya ke liang memek Viena, diperlakukan seperti itu Viena cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Koko begitu kokoh.

"Hei, jangan rakus dong Jo, dia kan buat Pak Koko, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana" kataku padanya.

Mengingat kembali sasarannya semula, Paijo menurunkan kembali kaki Viena dan bergegas menuju ke kolam.

"Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu" godaku. Setelah Paijo keluar tinggallah kita bertiga di kamarku.

Pak Koko langsung menghempaskan dirinya bersama Viena ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Indah dari kolam, aku ngeliat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka.

Indah terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Paijo. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Paijo, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya.

"Jangan. tolong! " jeritnya sembari meronta-ronta dalam gendongan Paijo. Paijo dengan santai membawa Indah ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur.

Dia air Indah terus berontak saat Paijo menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Indah tentu saja bukan tandingan Paijo yang sudah kesurupan itu.

Perlawanan Indah mengendur setelah Paijo mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang.

Tidak terlalu jelas detilnya Paijo menggerayangi tubuh Indah, tapi aku dapat ngeliat Paijo memeluk erat Indah sembari melumat bibirnya.

Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku.

Aku lalu menghampiri Pak Koko dan Viena untuk bergabung dalam kenikmatan ini.

Sama seperti Indah, Viena juga menjerit-jerit, tetapi jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Koko.

Waktu aku menghampiri mereka Pak Koko sedang menjilati paha mulus Viena sembari kedua tangannya masing-masing bergerilya pada toket dan kemaluan Viena.

"Aduh Ci. tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini. ahh! " kata Viena ditengah desahannya.

"Tenang Vie, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong" kataku seraya melumat bibirnya.

Aku berpagutan dengan Viena beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Koko mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas toket Viena secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok memek nya.

Desahan Viena tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara.

"Hhhmmhh. tetek Neng Viena ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng" kata Pak Koko disela aktivitasnya.

Memang sih diantara kita bereempat, toket Viena termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok peler mereka diantara himpitannya.

Pak Koko pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Viena ditelan olehnya.

Puas menetek pada Viena, Pak Koko bersiap memasuki memek Viena dengan peler nya.

Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Viena dia memegang peler nya untuk diarahkan ke liang itu.

"Ouch. sakit Vie, duh kasar banget sih babu lu" Viena meringis dan mencengkram lenganku waktu peler super Pak Koko mendorong-dorongkan peler nya dengan bernafsu.

"Tahan Vie, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja" kataku sembari meremasi kedua toket nya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Koko.

Pak Koko menyodokkan peler nya dengan keras sehingga Viena pun tidak bisa menahan jeritannya, Viena kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.

Pak Koko mulai menggarap Viena dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Viena menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh.

Cerita Sex Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang

aku mendesah merasakan jari-jari Viena menggerayangi kemaluanku. Aku lalu naik ke wajah Viena berhadapan dengan Pak Koko yang sedang menggenjotnya.

Viena langsung menjilati kemaluanku dan Pak Koko menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap.

Dengan terus menyodoki Viena, dia meraih toket ku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit.

Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok toket yang satunya. Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga dadaku pun makin membusung indah.

Ternyata dia tidak langsung mencaplok toket ku, namun cuma menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja.

Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Viena pada memek ku bikin daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Viena juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya.

Aku mendesah tak karuan merasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku.

Ciuman Pak Koko merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kita berciuman dengan penuh nafsu.

Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kita beradu dengan liar sampai ludah kita bercampur baur.

"Aahh. oohh. gua dah mau. Pak! " erang Viena bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas.

ngeliat reaksi Viena, Pak Koko semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya.

Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Viena, dibawah sana seperti mau meledak rasanya.

Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Viena mencapai klimaks, tubuh kita mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Viena.

Erangan kita memenuhi kamar ini bikin Pak Koko semakin liar. Setelah aku ambruk ke samping, Pak Koko menindih Viena dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Viena, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi toket montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya.

"Hhmmpphh. sluurrpp. cup. cup" demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing.

Pak Koko cukup pengertian akan kondisi Viena yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkannya memulihkan tenaga dulu.

Dan kini disambarnya tubuhku, padahal gairahku baru naik setengahnya setelah orgasme barusan.

Tubuhku yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir memek ku dan menyentuhkan kepala peler nya disitu.

Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke memek ku. Aku mendesah sembari meremas-remas sprei menghayati proses pencoblosan itu.

Permainan Pak Koko sungguh bikin ku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya.

Aku meraih tangannya untuk meremasi toket ku yang berayun-ayun. Tiba-tiba suara desahan Viena terdengar lagi menjari sahut menyahut dengan desahanku.

Gila, penjaga vilaku ini mengerjai kita berdua dalam waktu bersamaan, bedanya aku dikocok dengan peler sedangkan Viena dikocok dengan jari-jarinya.

Viena membuka pahanya lebih lebar lagi agar jari-jari Pak Koko bermain lebih leluasa.

"Aduhh. aahh. gila Vie. enak banget! " ceracauku sembari merem-melek. "Oohh. terus Pak. kocok terus" Viena terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.

"Yak. dikit lagi. aahh. Pak. udah mau" aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks.

"Neng Citra. Neng Viena. bapak juga. mau keluar. eerrhh" geramnya dengan mempercepat gerakkannya.

peler itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum.

Kemudian dia lepaskan peler nya dari memek ku dan berdiri di ranjang.

Disuruhnya Viena berlutut dan mengoral peler nya yang berlumuran cairan cintaku. Viena berlutut mengemut peler basah itu sembari tangan kanannya mengocok memek nya sendiri yang tanggung belum tuntas.

Aku bangkit perlahan dan ikut bergabung dengan Viena menikmati peler Pak Koko.

Viena mengemut batangnya, aku mengemut buah zakarnya, kita saling berbagi menikmati "sosis" itu.

Di tengah kulumannya mendadak Viena merintih tertahan, tubuhnya seperti menggigil, dan kulihat ke bawah ternyata dari memek nya mengucur cairan bening hasil masturbasinya sendiri.

Disusul beberapa detik kemudian, Pak Koko mencabut peler nya dari mulutku lalu mengerang panjang.

Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kita. kita berebutan menelan cairan itu, peler itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan "Sabar, sabar dong neng, bisa putus peler bapak kalo rebutan gini" katanya terbata-bata.

Setelah tidak ada yang keluar lagi Viena menjilati sisanya di wajahku, demikian pula sebaliknya.

Mereka berdua akhirnya ambruk kecapaian, wajah Pak Koko jatuh tepat di dada Viena.

Saat mereka ambruk, sebaliknya gairahku mulai timbul lagi. Maka kutinggalkan mereka untuk ngeliat keadaan Indah dan Paijo.

Aku tiba di kolam ngeliat Paijo sedang menggarap tubuh mungil Indah. Di daerah dangkal Indah dalam posisi berpegangan pada tangga kolam, Paijo dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot peler nya pada memek Indah.

Kedua toket Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Pasti adegan ini bikin para cowok di kampusku sirik pada Paijo yang buruk rupa tapi bisa ngentot dengan gadis seimut itu.

"Belum selesai juga lu orang, udah berapa ronde nih? " sapaku. "Edan Ci. gua sampe klimaks tiga kali. aahh! " desah Indah tak karuan.

"Neng. temennya enak banget, udah cantik, vagina nya seret lagi" komentar Paijo sembari terus menggenjot.

Indah tak kuasa menahan rintihannya setiap Paijo menusukkan peler nya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan peler penjaga vila itu pada kemaluannya.

Kepala Paijo menyelinap lewat ketiak sebelah kirinya lalu mulutnya mencaplok payudara nya.

Pinggul Indah naik turun berkali kali mengikuti gerakan Paijo. Jeritannya makin menjadi-jadi hingga akhirnya satu lenguhan panjang bikin nya terlarut dalam orgasme, beberapa saat tubuhnya menegang sebelum akhirnya terkulai lemas di tangga kolam.

Setelah menaklukkan Indah, Paijo memanggilku yang mengelus-ngelus kemaluanku sendiri menonton adegan mereka.

  • "Sini neng, mendingan dipuasin pake peler saya aja daripada ngocok sendiri". Akupun turun ke air yang merendam sebatas lutut kita, disambutnya aku dengan pelukannya, tangannya mengelusi punggungku terus turun hingga meremas bongkahan pantatku.
  • Sementara tanganku juga turun meraih kemaluannya. "Gila nih peler , masih keras juga. udah keluar berapa kali tadi? " tanyaku waktu menggenggam batangnya yang masih "lapar" itu.
  • "Baru sekali tadi. abis saya masih nungguin neng sih" godanya saambil nyengir.
  • Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh.
  • Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung.
  • Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya.
  • Dengusan nafas dan lidahnya bikin ku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya.
  • Tanganku meraba-raba kebawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot.
  • Ketika kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Paijo ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran.
  • Saat kepala peler nya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya.
Ciuman kita baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Paijo mengehentakkan pinggulnya hingga peler nya tertanam semua dalam memek ku.

Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku.

Aku cuma bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya. Kalau dibandingkan dengan Pak Koko, memang sodokan Paijo lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Koko yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu.

Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku ngeliat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku.

Kufokuskan pandanganku dan astaga. ternyata si Viena, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai toket nya menempel pada kaca jendela, mulutnya keliatan mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis.

Adegan itu ditambah serangan Paijo yang makin gencar bikin ku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga dadaku tertekan di dadanya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air.

Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini.

Paijo memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar. Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan.

Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya.

Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Paijo yang jatuh bersandar di pinggir kolam.

Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua toket ku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku.

Kugerakkan mataku, di jendela Viena dan Pak Koko sudah tak nampak lagi, di sisi lain Indah yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya.

kita beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kita tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan.

kita mengadakan permainan gila, ceritanya kita bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Viena, filenya akan disimpan dalam komputer Viena untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kita, mengingat kasus bokep Itenas.

kita duduk melingkar di ranjang, Pak Koko dan Paijo kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu cuma dengan memakai kolor, sembari sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai.

Suasana tegang menyelimuti kita bertiga, setelah akhirnya Indah melempar kartunya yang buruk sembari menepuk jidatnya, dia kalah.

Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Indah.

Indah sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya.

Paijo menyusupkan tangannya ke kimono Indah meraih toket nya yang tak memakai apa-apa di baliknya.

Pak Koko menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Indah dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu.

Perlakuan ini bikin rontaan Indah terhenti, kini dia malah mengelus-elus peler Paijo yang menegang sembari memejamkan mata menikmati memek nya dijilati Pak Koko dan dadanya diremas Mulkas. Cerita Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang

Aku ngeliat lidah Pak Koko menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Indah, lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya.

Indah tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan peler Paijo ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim.

Event menarik itu tidak dilewatkan Viena dengan kamera-HP nya. Indah terengah-engah melayani peler super Paijo, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya.

Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Viena sebagai juru kameranya.

Pak Koko yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu pada bibir kemaluan Indah, sebagai pemanasan sebelum memasukinya.

Kemulusan tubuh Indah terpampang begitu Paijo menarik lepas tali pinggang pada kimononya, sesosok tubuh yang putih mulus serta terawat baik diantara dua tubuh hitam dan kasar, sungguh perpaduan yang kontras tapi menggairahkan.

Pak Koko mempergencar rangsangannya dengan menciumi batang kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya.

Indah yang sudah kesurupan "setan seks" itu jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu "Ahh. aw. Pak enak banget. masukin aja sekarang! " rintihnya manja sembari meraih peler Pak Koko yang masih bergesekan dengan bibir memek nya.

Pak Koko pun mendorong peler itu membelah kedua belahan kemaluan Indah diiringi desahan nikmat yang memenuhi kamar ini sampai aku dibuat merinding mendengarnya.

Aku mengeluarkan toket kiriku dari balik kimono dan meremasnya dengan tanganku, tangan yang satu lagi turun menggesek-gesekkan jariku ke kemaluanku, Viena yang juga sudah horny sesekali mengelus kemaluannya sendiri.

Indah nampak sangat liar, kemaluannya digenjot dari depan, dan Paijo yang menopang tubuhnya dari belakang meremasi kedua toket nya serta memencet-mencet putingnya.

Rambutnya yang sudah terurai itu disibakkan Paijo, lalu melumat leher dan pundaknya dengan jilatan dan gigitan ringan.

Hal ini menyebabkan Indah tambah menggelinjang dan mempercepat kocokannya pada peler Paijo.

Serangan Pak Koko pada memek Indah semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat.

"Aaakhh. aahh! " jerit Indah dengan melengkungkan tubuhnya ke atas. Indah telah mencapai orgasme hampir bersamaan dengan Pak Koko yang menyemprotkan air mani nya di dalam rahimnya.

Adegan ini juga direkam oleh Viena, difokuskan terutama pada wajah Indah yang sedang orgasme.

Tanpa memberi istirahat, Paijo menaikkan Indah ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Kembali memek Indah dikocok oleh peler Paijo.

Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang, Bispak Pesta seks, dikerjain dientot bispak, memek bispak, cerita seks dewasa
Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang

Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan Paijo. Paijo yang merasa keenakan cuma bisa mengerang sembari meremas pantat Indah menikmati pijatan kemaluannya.

Pak Koko mengistirahatkan peler nya sembari menyusu dari kedua toket Indah secara bergantian.

Aku semakin dalam mencucukkan jariku ke dalam memek ku saking terangsangnya, sampai-sampai cairanku mulai meleleh membasahi selangkangan dan jari-jariku.

Bosan dengan gaya berpangkuan, Paijo berbaring telentang dan membiarkan Indah bergoyang di atas peler nya.

Kemudian dia menyuruh Viena naik ke atas wajahnya agar bisa menikmati kemaluannya.

Viena yang daritadi sudah terangsang itu segera melakukan apa yang disuruh tanpa ragu-ragu.

Seluruh wajah Paijo tertutup oleh daster transparan Viena, tetapi aku masih dapat ngeliat dia dengan rakusnya melahap kemaluannya sembari menyusupkan tangannya dari bawah daster menuju toket nya.

Pak Koko yang anunya sudah mulai bangkit lagi menerkamku, kita berguling-guling sembari berciuman penuh nafsu.

Dengan tetap berciuman Pak Koko memasukkan peler nya ke memek ku, cairan yang melumuri selangkanganku melancarkan penetrasinya.

Dengan kecepatan tinggi peler nya keluar masuk dalam memek ku hingga aku histeris setiap benda itu menghujam keras ke dalam.

Aku cuma bisa pasrah di bawah tindihannya membiarkan tangannya menggerayangi toket ku, mulutnya pun terus menjilati leherku.

Aku masih memakai kimonoku, cuma saja sudah tersingkap kesana kemari. Aku ngeliat Paijo masih berasyik-masyuk dengan kedua temanku, cuma kali ini Viena sudah bertukar posisi dengan Indah.

Sekarang mereka saling berhadapan, Viena bergoyang naik turun diatas peler Paijo sembari berciuman dengan Indah yang mekangkangi wajah Paijo.

Indah membuka kakinya lebar-lebar sehingga cairannya semakin mengalir, cairan itu diseruput dengan rakus oleh si Paijo sampai terdengar suara sluurrpp.

sshhrrpp. Ketika aku sedang menikmati orgasmeku yang hebat, dia tekan sepenuhnya peler itu ke dalam dan ini membawa efek yang luar biasa padaku dalam menghayati setiap detik klimaks tersebut, tubuhku menggelinjang dan berteriak tak tentu arah sampai akhirnya melemas kembali.

Pesta gila-gilaan ini berakhir sekitar jam 11 malam. Aku sudah setengah sadar ketika Pak Koko menumpahkan maninya di wajahku, tulang-tulangku serasa berantakan.

Indah sudah terkapar lebih dulu dengan tubuh bersimbah peluh dan ceceran air mani di dadanya, dari pangkal pahanya yang terbuka nampak cairan kewanitaan bercampur air mani yang mengalir bak mata air.

Sebelum tak sadarkan diri aku masih sempat ngeliat Paijo menyodomi Viena yang masih dalam gaun transparan yang sudah berantakan, tubuh keduanya sudah mandi keringat.

Karena letih dan ngantuk aku pun segera tertidur tanpa kupedulikan jeritan histeris Viena maupun tubuhku yang sudah lengket oleh air mani.

Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku cuma mendapati Indah yang masih terlelap di sebelah kiriku.

Kuguncang tubuh Indah untuk membangunkannya. "Gimana Dah. puas semalem? " tanyaku. "Gila gua dientotin sampe kelenger, barbar banget tuh dua orang, eh. omong-omong pada kemana yang lain si Viena juga ga ada? " "Ga tau juga tuh gua juga baru bangun kok, duh lengket banget mandi dulu yuk. udah lengket gini" ajakku karena merasa tidak nyaman dengan air mani kering terutama di wajahku, rasanya seperti ada sarang laba-laba menempel di sana.

Baru saja keluar dari kamar, sayup-sayup sudah terdengar suara desahan, kuikuti asal suara itu yang ternyata dari kamar mandi.

kita berdua segera menuju ke kamar mandi yang pintunya setengah terbuka itu, kita tengok ke dalam dan ngeliat Viena dan kedua penjaga villa itu.

Darahku berdesir ngeliat pemandangan erotis di depan kita, dimana Viena sedang dikerjai oleh mereka di lantai kamar mandi.

Paijo sedang enak-enaknya mengocok senjatanya diantara kedua gunung bulat itu, sedangkan Pak Koko berlutut diantara paha jenjang itu sedang menyetubuhinya, air dan sabun bikin tubuh mereka basah berkilauan.

Kedatangan kita sepertinya tidak terlalu bikin mereka terkejut, mereka malah menyapa kita sembari terus "bekerja".

Aku dengan tidak terlepas dari live show itu berjalan ke arah shower dan membuka kimonoku diikuti Indah dari belakang.

Air hangat mengucur membasuh dan menyegarkan tubuh kita, kuambil sabun cair dan menggosokkannya ke sekujur tubuh Indah.

Demikian juga Indah dia melakukan hal yang sama padaku, kita saling menyabuni satu sama lain.

kita saling mengelus bagian tubuh masing-masing, suatu ketika ketika tanganku sampai ke bawah, iseng-iseng kubelai bibir kemaluannya sekaligus mempermainkan klistorisnya.

"Uuhh. Ci! " dia menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku sehingga payudara kita saling berhimpit.

Tangan Indah yang lembut juga mengelusi punggungku lalu mulai turun ke bawah meremas bongkahan pantatku.

Darahku pun mengalir makin cepat ditambah lagi adegan panas Viena dengan kedua pria itu bikin ku makin naik.

Indah mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku yang terbuka karena sedang mendesah, selama beberapa menit bibir kita berpagutan.

Kemudian aku memutar badanku membelakangi Indah supaya bisa lebih nyaman menonton Viena.

Aku ngeliat wajah horny Viena yang cantik, dia meringis dan mengerang menikmati tusukan Pak Koko pada memek nya, sementara Paijo hampir mencapai orgasmenya, dia semakin cepat menggesek-gesekkan peler nya diantara gunung kembar itu, tangannya pun semakin keras mencengkram daging kenyal itu sehingga pemiliknya merintih kesakitan.

Akhirnya menyemprotlah air mani nya membasahi dada, leher dan mulut Viena. Mataku tidak berkedip menyaksikan semua itu sembari menikmati belaian Indah pada daerah sensitifku.

Dengan tangan kanannya dia memainkan toket ku, putingnya dipencet dan dipilin hingga makin menegang, tangan kirinya meraba-raba selangkanganku.

Perbuatan Indah yang mengobok-obok memek ku dengan jarinya itu hampir bikin ku orgasme, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu.

Aku masih menikmati jari-jari Indah bermain di memek ku ketika Paijo yang baru menyelesaikan hajatnya dengan Viena berjalan ke arahku, peler nya agak menyusut karena baru orgasme.

Jantungku berdetak lebih kencang menunggu apa yang akan terjadi. Tangannya mendarat di toket kiriku dan meremasnya dengan lembut sembari sesekali memelintirnya.

Lalu dia membungkuk dan mengarahkan kepalanya ke toket kananku yang langsung dikenyotnya.

Aku memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan menggoda. Lalu aku merasakan kaki kananku diangkat dan sesuatu mendesak masuk ke memek ku.

Sejenak kubuka mataku untuk ngeliat , dan ternyata yang bertengger di memek ku bukan lagi tangan Indah tapi peler Paijo yang sudah bangkit lagi.

Kembali aku disetubuhi dalam posisi berdiri sembari digerayangi Indah dari belakang. Tubuhku seolah terbang tinggi, wajahku menengadah dengan mata merem-melek merasakan nikmat yang tak terkira.

Hampir satu jam lamanya kita melakukan orgy di kamar mandi. Akhirnya setelah mandi bersih-bersih kita bertiga mencari udara segar dengan berjalan-jalan di kompleks sekalian makan siang di sebuah restoran di daerah itu.

Setelah makan kita kembali ke vila dan mengepak barang untuk kembali ke Jakarta.

Indah dan Viena keluar dari kamar terlebih dulu meninggalkanku yang masih membereskan bawaanku yang lebih banyak.

Cukup lama juga aku dikamar gara-gara sibuk mencari alat charge HP-ku yang ternyata kutaruh di lemari meja rias.

Waktu aku menuju ke garasi terdengar suara desahan dan ya ampun. ternyata mereka sedang bermain "short time" sembari menungguku.

Indah yang celana panjang dan dalamnya sudah dipeloroti sedang menungging dengan bersandar pada moncong mobil, Pak Koko menyodokinya dari belakang sembari memegangi toket nya yang tidak terbuka.

Sementara di pintu mobil, Viena berdiri bersandar dengan baju dan rok tersingkap, paha kirinya bertumpu pada bahu Paijo yang berjongkok di bawahnya.

Celana dalamnya tidak dibuka, Paijo menjilati kemaluannya cuma dengan menggeser pinggiran celana dalamnya, tangannya turut bekerja meremasi toket dan pantatnya.

"Weleh. weleh. masih sempat-sempatnya lu orang, asal jangan kelamaan aja, ntar kejebak macet kita" kataku sembari geleng-geleng kepala.

"Tenang neng ga usah buru-buru, masih pagi kok, ini cuma sebentar aja kok" tanggap Pak Koko dengan terengah-engah.

Akhirnya setelah 15 menitan Pak Koko melepas peler nya dan memanggilku untuk bergabung dengan Indah menjilatinya.

Aku tadinya menolak karena tak ingin make upku luntur, tapi karena didesak terus akhirnya aku berjongkok di sebelah Indah.

"Tapi kalo keluar lu yang isep ya Dah, ntar muka gua luntur" kataku padanya yang cuma dijawab dengan anggukan kepala sembari mengulum benda itu.

Sesuai perjanjian tidak lama kemudian Pak Koko menggeram dan cepat-cepat kuberikan peler itu pada Indah yang segera memasukkan ke mulutnya.

Pria itu mendesah panjang sembari menekan peler nya ke mulut Indah, Indah sendiri sedang menyedot air mani dari batang itu, sepertinya yang keluar tidak banyak lagi soalnya Indah tidak terlalu lama mengisapnya.

"Yuk cabut, udah ga haus lagi kan Dah? " ujar Viena yang sudah merapikan kembali pakaiannya.

kita naik ke mobil dan kembali ke kota kita dengan kenangan tak terlupakan.

Dalam perjalanan kita saling berbagi cerita dan kesan-kesan dari pengalaman kemarin dan membicarakan rencana untuk mengerjai si Ratna yang hari ini absen.


Bispak Pesta seks, dikerjain dientot bispak, vagina bispak, cerita seks dewasa


Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang cerita seks dewasa , Bispak Pesta seks, dikerjain dientot bispak, vagina bispak, cerita seks dewasa Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang, cerita dewasa terbaru istri binal nakal , Bispak Pesta seks, dikerjain dientot bispak, vagina bispak, cerita seks dewasa, cerita seks dewasa
Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang
Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang, cerita seks , Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang, Bispak Pesta seks, dikerjain dientot bispak, memek bispak, cerita seks dewasa, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Bispak Pesta Seks Liar Dientot Sampe Menggelinjang

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com