Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler

Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler | Namaku Dendi, umur 18 tahun, wajahku cukup tampan dan tubuh atletis karena aku memang suka olah raga, tinggi 175 cm. Aku dilahirkan dari keluarga yang mampu.

Tapi Aku merasa kesepian karena kakak cewekku kuliah di Amsterdam, sedang kedua orang tuaku menetap di Bali mengurusi perusahaannya di bidang garment, mereka pulang sebulan sekali.

Saat ini aku kelas II SMU swasta di kota Surabaya. Perkenalanku dgn pacarku, Rara setahun yang lalu.

Di sekolah kita, dia memang kembangnya kelas, banyak cowok yang naksir padanya tapi dgn sedikit kelebihanku dalam merayu cewek, maka aku berhasil menggaetnya.

Sebenarnya dia termasuk type cewek yang pendiam dan tongkrongannya biasanya di perpustakaan, karena itu dia sering dapat rangking kelas.

Keluarga Rara termasuk keluarga yang kaya. Ayahnya, Pak Bram berumur 45 tahun sedang ibunya Vani berumur 35 tahun, orangnya cantik, tingginya sekitar 164 cm, kulitnya putih, dia asli Menado, rambutnya sebahu, orangnya ramah dan berwibawa.

Kesibukannya hanya di rumah, ditemani oleh tantenya Rara yaitu Tante Nancy, berumur 31 tahun, tingginya 167 cm.

Dia baru menikah 4 tahun yang lalu dan belum mempunyai anak, sedang suaminya Om Nanto adalah pelaut yang pulang hampir 3 bulan sekali.

Dalam masa pacaran boleh dibilang aku kurang pemberani karena memang Rara orangnya selalu memegang prinsip untuk menjaga kehormatan karena dia anak tunggal.

Dia hanya mengijinkan aku untuk mencium pipi saja, itu juga kalau malam minggu.

Sebenarnya aku bukanlah orang yang alim, karena kawan- kawanku Andi, Dito dan Roy terkenal gank-nya Playboy dan suka booking cewek, maka sebagai pelampiasanku karena pacarku orangnya alim aku sering mencari kesenangan di luar bersama teman-temanku, rata- rata dari kita adalah anak orang gedean, jadi uang bagi kita bukanlah soal, yang penting happy.

Suatu hari, tepatnya minggu sore kita berempat pergi ke Tretes dan rencananya akan menyewa hotel dan booking cewek.

Sesampainya di sebuah hotel, kita segera ke receptionis, kita segera memesan 2 kamar, saat itu aku hanya duduk di ruang tunggu dan mengawasi Dito dan Andi yang sedang memesan kamar.

Tiba-tiba pandanganku jatuh pada cewek setengah baya yang berkacamata hitam di sebelah Dito yang sepertinya lebih dulu mau memesan kamar.

Aku seperti tak percaya, dia ternyata Tante Vani ibunya Rara dan yang bersamanya seorang pemuda yang aku sendiri nggak kenal.

Mereka kelihatan mesra sekali karena tangan pemuda itu tak mau lepas dari pinggang Tante Vani.

Timbul niatku untuk menyelidiki apa sebenarnya tujuan Tante Vani datang ke hotel ini.

Setelah mendapat kunci, mereka kemudian melangkah pergi untuk menuju kamar yang dipesan.

Lalu aku menguntitnya diam-diam, pada Roy aku pamit mau ke Toilet. Ternyata mereka menuju ke kamar Melati no.

4 yaitu salah satu kamar VIP yang dipunyai oleh Hotel itu. Kemudian aku balik lagi ke teman-temanku, akhirnya mereka mendapat kamar Mawar no.

7 dan 8 kebetulan lokasinya saling membelakangi dgn Kamar Melati, dan dipisahkan oleh parkiran mobil.

Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler

Tak lama kemudian, Roy dan Dito pergi mencari cewek. Sambil menunggu mereka, aku iseng-iseng pergi ke belakang kamar.

Saat itu jam 18:00 sore hari mulai gelap. Kebetulan sekali di Kamar Melati pada dinding belakang ada ventilasi udara yang agak rendah.

dgn memanjat mobil Roy, aku bisa ngeliat apa yang terjadi di dalam kamar itu.

Ternyata Ibu pacarku yang di rumah kelihatan alim dan berwibawa tak disangka selingkuh dgn pria lain yang umurnya jauh lebih muda darinya.

Keduanya dalam keadaan telanjang bulat, posisi Tante Vani sedang menaiki pemuda itu sambil duduk, nonok tante Vani tampak tertusuk oleh batang peler pemuda yang sedang terlentang itu.

Aku jadi ikut horny ngeliat dua sosok tubuh yang sedang bersetubuh itu.

Wajah Tante Vani kelihatan merah dan dipenuhi keringat yang membasahi kulitnya. Nafasnya terengah-engah sambil menjerit-jerit kecil.

Tiba-tiba gerakannya dipercepat, dia berpegangan ke belakang lalu dia menjerit panjang, kelihatannya dia mendapat orgasmenya lalu badannya ambruk menjatuhi tubuh pemuda itu.

Kelihatannya pemuda itu belum puas lalu mereka ganti posisi. Tante Vani berbaring di ranjang, kakinya di buka lebar lututnya dilipat, dgn penuh nafsu pemuda itu menjilati liang nonok Tante Vani yang sudah basah penuh dgn cairan maninya.

Ibu pacarku itu mengerang- erang manja. Setelah puas dgn permainan lidahnya, pemuda itu kembali mengarahkan batang peler nya ke bibir nonok tante Vani lalu dgn mudah, "Blueess" peler pemuda itu sudah amblas seluruhnya ke dalam lubang nonok Tante Vani.

Aku ngeliat nya semakin bernafsu sambil mengocok peler ku sendiri, aku antusias sekali untuk menikmati permainan mereka.

Pemuda itu terus entot batang peler nya keluar masuk lubang nonok Tante Vani sambil tangannya meremas-remas buah dada cewek itu yang berukuran lumayan besar, 36B.

Pinggulnya bergoyang-goyan g mengimbangi gerakan pemuda itu. Sekitar 6 menit kemudian pemuda itu mengejang, ditekannya dalam-dalam pantatnya sambil melenguh dia keluar lebih dulu, sedang Tante Vani terus menggoyangkan pinggulnya.

Tak lama kemudian dijepitnya tubuh pemuda itu dgn kakinya sambil tangannya mencengkeram punggung pemuda itu.

Kelihatannya dia mendapat orgasme lagi bersamaan dgn muncratnya mani dari nonok nya.

Lalu kusudahi acaraku mengintip Tante Vani, Ibu pacarku yang penuh wibawa dan aku sangat mengagumi kecanRaminnya ternyata seorang Hiperseks.

Ada catatan tersendiri dalam hatiku. Aku sudah ngeliat nya telanjang bulat, hal itu bikin terbayang-bayan g terus saat dia merintih-rintih bikin ku sangat bernafsu hingga timbul keinginan untuk dapat menikmati tubuhnya.

Paling nggak aku sekarang punya kartu truf rahasianya. Acaraku dgn teman-teman berjalan lancar bahkan saat menyetubuhi cewek yang bernama Ani dan Ivone justru aku membayangkan sedang menyetubuhi Tante Vani hingga aku cepat sekali keluar.

Aku hanya melakukan sekali pada Ani dan dua kali pada Ivone, sedang teman-temanku melakukan sampai pagi tak terhitung sudah berapa kali mereka mendapat orgasme.

Aku sendiri jadi malas untuk bersetubuh dgn mereka karena saat ini aku malah terbayang-bayang dgn keindahan tubuh Tante Vani.

Jam 10 malam setelah berpakaian, aku keluar dari kamar. Kubiarkan ketiga temanku mengerubuti kedua cewek itu.

Kunyalakan rokok dan duduk di teras kamar, rasanya udara di Tretes sangat dingin.

Kembali kutengok kamar melati no. 3 dari ventilasi, kelihatan lampunya masih menyala berarti mereka belum pulang, lalu kuintip lagi dari jendela ternyata mereka sedang tidur saling berpelukan.

Tiba-tiba aku ingat Tante Vani selalu bawa HP, aku sendiri juga kebetulan bawa tapi aku ragu apakah HP-nya diaktifkan tapi akan kucoba saja.

Begitu ketemu nomernya lalu kutekan dial dan terdengar nada panggil di dalam kamar itu.

Tante Vani terbangun lalu buru-buru mengangkat HP-nya, dia sempat ngeliat nomer yang masuk.

"Haloo. ini Dendi yaa, ada apa Dendi. ? " kata Tante Vani dari dalam kamar.

"Tante sedang di mana. ? " tanyaku. "Lhoo. apa kamu nggak tanya Rara, hari ini aku kan nginap di rumah neneknya Rara di Blitar, neneknya kan lagi sakit" kata Tante Vani beralasan.

"Sakit apa Tan" tanyak berlagak pilon. Dia diam sejenak, "Ah nggak cuman jantungnya kambuh. tapi sudah baikan kok, besok juga saya pulang" katanya pintar bersandiwara.

"Memangnya kamu, ada perlu apa. ? " tanya Tante Vani. "Maaf Tante. tapi. Tante jangan marah yaa. ! " "Sudah katakan saja aku capek nih. kalau mau ngomong, ngomong saja. aku janji nggak akan marah" kata Tante Vani.

"Tante capek habis ngapain. ? " tanyaku. "E. e. anuu tadi mijitin Neneknya Rara" katanya gugup.

"Bener Tante. ? masak orang sakit jantung kok dipijitin, bukannya mijitin yang lain. ? " kataku mulai berani.

"Kamu kok nggak percaya sih. apa sih maksudmu. ? " "Sekali lagi maaf Tante, sebenarnya saya sudah tahu semuanya. ? " "T. tahu apa kamu? " dia mulai gelagapan.

"Bukannya Tante sekarang berada di Tretes di Hotel **** (edited) di kamar melati no. 3 bersama orang yang bukan suami Tante" kataku.

"D. Dendi, kamu dimanaa? " katanya bingung. "Temui saya di belakang kamar tante, di dalam mobil Civiv Putih sekarang. kita bisa pecahkan masalah ini tanpa ada orang yang tahu" kataku menantang.

"B. b. baik, saya segera ke sana. tunggu lima menit lagi" katanya lemah.

Tak lama kemudian Tante Vani datang dgn hanya memakai piyama masuk ke mobil Roy.

"Malem Tante" sapaku ramah. "Dendi tolong yaa, kamu jangan buka rahasia ini" katanya memohon.

"Jangan khawatir Tante kalau sama saya pasti aman, tapii" aku bingung mau meneruskan.

Aku terus membayangkan tubuh seksi Tante Vani dalam keadaan telanjang bulat sedang merintih- rintih nikmat.

"Tapi. apa Dendi. ? , ngoomong ayo cepetan, jangan buat aku tengsin di sini. tolong deh jaga nama baik Tante. Tante baru dua kali begini kook. itu jugaa. Tante udah nggak tahaan lagii, bener lhoo kamu mau tutup mulut" katanya merajuk.

"Tunggu duluu. emang sama Om, Tante nggak Puas. ? " tanyaku. "Sebenarnya siih, Mas Har itu udah menuhin kewajibannya. cuman sekarang dia kan udah agak tua jadinya yaahh, kamu tahu sendiri kan gimana tenaganya kalau orang sudah tua. makanya kamu harus maklum, kalau kebutuhan yang satu itu belum terpuaskan bisa gila sendiri aku. kamu kan udah dewasa masalah kayak gitu harusnya udah paham, paling nggak kamu sudah tahu alasannya. sekarang tolong Tante yaah, jaga rahasia Tante. please! " katanya mengiba.

"Baik Tante, saya akan jaga rahasia ini, tapi tergantung" "Tergantung apa. ? " "tergantung. imbalannya. trus yang buat tutup mulut apa nih, masak mulut saya dibiarin terbuka. ? " "Kamu minta uang berapa juta besok saya kasih" balas Tante Vani agak sombong.

"Papa saya masih bisa kok ngasih uang berapapun, Emangnya uang bisa untuk tutup mulut, lihat Tante" sambil aku keluarin uang 100 ribuan lalu kutaruh di mulutku, kemudian uang itu jatuh ke lantai mobil.

Cerita Sex Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler

"Tuhh, jatuhkan uangnya" kataku sambil ketawa kecil. "Hihi. hi, kamu bisa apa aja becanda, terus kamu minta apa. ? " tanya Tante Vani.

"Hubungan pacaran saya sama Rara kan udah lama tapi Dia cuman ngasih ciuman di pipi saja, yang lainnya nggak boleh sama mamanya, sebenarnya saya pengin ngerasain yang lainnya" kataku.

"Gila kamu, anakku kan masih perawan, harus bisa jaga diri. ! " "Saya kan cowok dewasa Tante, pasti juga kepingin ngerasain gituan, gimana kalau selain ciuman dari Rara saya belajarnya sama Tante Vani. saja" tanyaku nakal.

"Wah kamu semakin kurang ajar saja, mulai besok kamu nggak boleh pacaran lagi sama anakku" ancamnya serius.

"Memangnya Tante pengin lihat berita di koran, Isteri anggota DPRD Jatim berselingkuh dgn gigolo" aku balik mengancam.

"Ett. jangan ah, kamu kok gitu sih, aku cuman bercanda kok, kamu boleh kok ngelanjutin hubungan kamu dgn Rara, terus kalau mau diajarin gituan. ee. Tante nggak keberatan kok, sekarang juga boleh" katanya, akhirnya dia mengalah.

"Tante mau ML sama saya sekarang. ? " tanyaku nggak percaya. "Udahlah, ayo ke kamar Tante tapi. biar pemuda itu kusuruh pulang dulu" katanya sambil melangkah pergi menuju kamarnya.

Malam itu kulihat arlojiku sudah menunjukkan jam 23:00 WIB. Kulihat seorang pemuda keluar dari kamar Tante Vani, aku segera masuk ke dalam kamar itu.

Kulihat Tante Vani sedang duduk di meja rias sambil menyisir rambutnya menghadap ke cermin.

"Nggak usah berdandan Tante, udah cantik kok" kataku memuji kecanRaminnya. "Emang Tante masih cantik. ? " tanyanya.

"Buat apa saya bohong, sudah lama saya mengagumi kecanRamin Tante, juga tubuh Tante yang masih seksi" jawabku.

"Benarkah kamu mengagumi Tante. ? " "Malah saya sering ngebayangin gimana yahh rasanya ngentot sama Tante Vani, pasti enak" kataku merayunya.

"Ya udah nggak usah dibayangin, orangnya udah ada di depan kamu kok, siap melayani kamu" katanya sambil berdiri dan berjalan ke arahku.

Lalu dgn kasar dibukanya reitsleting celanaku dan dilepasnya celanaku ke bawah juga celana dalamku hingga sampai lutut.

"Waaw. besar sekali punya kamu Dendi? " serunya, lalu secepat kilat tangannya menggenggam peler ku yang ukuran panjangnya 15 cm tapi diameternya kira- kira 3, 7 cm kemudian mengelus-elusny a dgn penuh nafsu.

Akupun semakin bernafsu, piyamanya kutarik ke bawah dan woow. , kedua payudara itu bikin mataku benar- benar jelalatan.

"Mm. kamu sudah mulai pintar, Dendi. Tante mau kamu" belum lagi kalimat Tante Vani habis aku sudah mengarahkan mulutku ke puncak bukit kembarnya dan, "Crupp" sedotanku langsung terdengar begitu bibirku mendarat di permukaan puting susunya.

"Aahh. Dendi, oohh. sedoot teruus aahh" tangannya semakin mengeraskan genggamannya pada batang peler ku, celanaku sejak tadi dipelorotnya ke bawah.

Sesekali kulirik ke atas sambil terus menikmati puting susunya satu persatu. Tante Vani keliatan tenang sambil tersenyum ngeliat tingkahku yang seperti monyet kecil menetek pada induknya.

Jelas Tante Vani sudah berpengalaman sekali. Batang peler ku tak lagi hanya diremasnya, ia mulai mengocok-ngocok nya.

Sebelah lagi tangannya menekan-nekan kepalaku ke arah dadanya. "Buka bajumu dulu, Dendi" ia menarik baju kaos yang kukenakan, aku melepas sedotanku pada puting payudara nya, lalu celanaku dilepaskannya.

Ia sejenak berdiri dan melepas piyamanya, kini aku dapat ngeliat tubuh Tante Vani yang bahenol itu dgn jelas.

buah dada besar itu tegak menantang. Dan bukit diantara kedua pangkal pahanya masih tertutup celana dalam putih, bulu-bulu halus keliatan merambat keluar dari arah selangkangannya.

dgn agresif tanganku menjamah CD-nya, langsung kutarik sampai lepas. Tante Vani langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Aku langsung menindihnya, dadaku menempel pada kedua buah buah dada nya, kelembutan payudara yang dulunya hanya ada dalam khayalanku sekarang menempel ketat di dadaku.

Bibir kamipun kini bertemu, Tante Vani menyedot lidahku dgn lembut. "Uhh" nikmatnya, tanganku menyusup diantara dada kita, meraba- raba dan meremas kedua belahan susunya yang besar itu.

"Hmm. oohh. Tante. aahh" kegelian bercampur nikmat saat Tante Vani memadukan kecupannya di leherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada batang peler ku.

Bibirku merayap ke arah dadanya, bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya dgn bibirku.

Lidahku mulai bekerja liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti. "Hmm. pintar kamu Dendi. oohh" Desahan Tante Vani mulai terdengar, meski serak- serak tertahan nikmatnya jilatanku pada putingnya yang lancip.

"Sekarang kamu ke bawah lagi sayang" Aku yang sudah terbawa nafsu berat itu menurut saja, lidahku merambat cepat ke arah pahanya, Tante Vani membukanya lebar dan semerbak aroma selangkangannya semakin mengundang birahiku, aku jadi semakin gila.

Kusibak bulu- bulu halus dan lebat yang menutupi daerah nonok nya. Uhh, liang nonok itu keliatan sudah becek dan sepertinya berdenyut.

Aku ingat apa yang harus kulakukan, lidahku menjulur lalu menjilati liang nonok Tante Vani.

"Ooohh, yaahh. enaak, Dendi, Hebat kamu Dendi. oohh" Tante Vani mulai menjerit kecil merasakan sedotanku pada klitorisnya.

Sekitar lima menit lebih aku bermain di daerah itu sampai kurasakan tiba- tiba ia menjepit kepalaku dgn keras diantara pangkal pahanya, aku hampir-hampir tak dapat bernafas.

"Aahh. Tante nggak kuaat aahh, Dendi" teriaknya panjang seiring tubuhnya yang menegang, tangannya meremas sendiri kedua payudara nya yang sejak tadi bergoyang- goyang, dari liang nonok nya mengucur cairan kental yang langsung bercampur air liur dalam mulutku.

"Makasih yaa Dendi, kamu udah puasin Tante. makasih Sayang. Sekarang beri Tante kesempatan bersihin badan sebentar saja" ia lalu mengecupku dan beranjak ke arah kamar mandi.

Aku tak tahu harus berbuat apa, senjataku masih tegang dan keras, hanya sempat mendapat sentuhan tangan Tante Vani.

Batinku makin tak sabar ingin cepat menumpahkan peju ku ke dalam liang nonok nya.

Ahh, aku meloncat bangun dan menuju ke kamar mandi. Kulihat Tante Vani sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower.

"Tante Vani. ayoo cepat" teriakku tak sabar. "Hmm, kamu sudah nggak sabar ya? " ia mengambil handuk dan mendekatiku.

Tangannya langsung meraih batang peler ku yang masih tegang. "Woow. Tante baru sadar kalau kamu punya segede ini, Dendi. oohhmm" ia berjongkok di hadapanku.

Aku menyandarkan tubuh di dinding kamar mandi itu dan secepat kilat Tante Vani memasukkan batang peler ku ke mulutnya.

"Ouughh. sstt. nikmat Tante. oohh. oohh. ahh" geli bercampur nikmat bikin ku seperti melayang.

cerita seks Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler
  • Baru kali ini punyaku masuk ke dalam alat tubuh cewek. Ternyata, ahh.
  • , lezatnya setengah mati. Batang peler ku keliatan semakin tegang, mulut mungil Tante Vani hampir tak dapat lagi menampungnya.
  • Sementara tanganku ikut bergerak meremas-remas buah dada nya. "Waaouw. punya kamu ini lho, Dendi. Tante jadi nafsu lagi nih, yuk kita lanjutin lagi" tangannya menarikku kembali ke tempat tidur, Tante Vani seperti ngeliat sesuatu yang begitu menakjubkan.
  • cewek setengah baya itu langsung merebahkan diri dan membuka kedua pahanya ke arah yang berlawanan, mataku lagi-lagi melotot ke arah belahan liang nonok nya.
  • Hmm. kusempatkan menjilatinya semenit lalu dgn cepat kutindih tubuhnya, kumasukkan batang peler ku ke dalam lubang nonok nya.
  • "Sleepp" agak susah juga karena nonok nya lumayan sempit tapi kemudian amblas juga seluruhnya hingga sampai dasar rahim, lalu kupompa naik turun.
  • "Hmm. oohh" Tante Vani kini mengikuti gerakanku. Pinggulnya seperti berdansa ke kiri kanan.
  • Liang nonok nya bertambah licin saja. Batang peler ku kian lama kian lancar, kupercepat goyanganku hingga terdengar bunyi selangkangannya yang becek bertemu pangkal pahaku.
  • "Plak. plak. plak. plak" aduh nikmatnya cewek setengah baya ini. Mataku merem melek memandangi wajah keibuan Tante Vani yang masih saja mengeluarkan senyuman.
  • Nafsuku semakin jalang, gerakanku yang tadinya santai kini tak lagi berirama. buah dada nya keliatan bergoyang kesana kemari, mengundang bibirku beraksi.
"Ooohh Sayang, kamu buas sekali. Hmm. Tante suka yang begini, oohh. genjot terus" katanya menggelinjang hebat.

"Uuuhh. Tante, nikmat Tante. hmm Tante cantik sekali oohh" "Kamu senang sekali susu tante yah? oohh. sedoot teruus susu tantee aahh. panjang sekali kontol kamu. oohh, Dendiy. aahh" Jeritannya semakin keras dan panjang, denyutan liang nonok nya semakin terasa menjepit batang peler ku yang semakin terasa keras dan tegang.

"Dendi. ? " dengusannya turun naik. "Kenapa. Tante" "Kamu bener-bener hebat Sayang. oow. uuhh. Tan. Tante. mau keluar hampiirr. aahh" gerakan pinggulnya yang liar itu semakin tak karuan, tak terasa sudah lima belas menit kita bersetubuh.

"Ooohh memang enaak Tante, oohh. Tante oohh. tante Vani, oohh. nikmat sekali Tante, oohh" Tak kuhiraukan tubuh Tante Vani yang menegang keras, kuku-kuku tangannya mencengkeram punggungku, pahanya menjepit keras pinggangku yang sedang asyik turun naik itu, "Aahh. Dendi. Tante ke. luaarr laagii. aahh" liang nonok Tante Vani terasa berdenyut keras sekali, seperti memijit batang peler ku dan ia menggigit pundakku sampai kemerahan.

Kepala batang peler ku seperti tersiram cairan hangat di dalam liang rahimnya.

Sesaat kemudian ia lemas lagi. Batang peler ku masih menancap setia di liang nonok tante Vani.

"Sekarang Tante mau puasin kamu, kasih Tante yang di atas ya, Sayang. mmhh, pintar kamu Sayang" Posisi kita berbalik.

Kini Tante Vani menunggangi tubuhku. Perlahan tangannya kembali menuntun batang peler ku yang masih tegang itu memasuki liang kenikmatannya dan terasa lebih masuk.

Tante Vani mulai bergoyang perlahan, buah dada nya keliatan lebih besar dan semakin menantang dalam posisi ini, aku segera meremasnya.

Tante Vani berjongkok di atas pinggangku menaik-turunkan pantatnya, tampak jelas bagaimana batang peler ku keluar masuk liang nonok nya yang tampak penuh sesak, sampai bibir nonok itu tampak sangat kencang.

"Ooohh enaak Tante. ooh Tante. ooh Tante Vani. ooh Tante. hmm, enaak sekali. oohh" kedua buah buah dada nya seperti berayun keras mengikuti irama turun naiknya tubuh Tante Vani.

"Remas yang mesra susu Tante sayang, oohh. yaahh. pintar kamu. oohh. Tante nggak percaya kamu bisa seperti ini, oohh. pintar kamu Dendi oohh. ganjal kepalamu dgn bantal ini sayang" Tante Vani meraih bantal yang ada di samping kirinya dan memberikannya padaku.

"Maksud Tante supaya saya bisa. srup. srup" mulutku menerkam puting susunya. "Yaahh. sedot susu Tante lagi sayang. hmm. yak begitu teruus yang kiri sayang oohh" Tante Vani menundukkan badan agar kedua payudara nya terjangkau mulutku.

Cairan mani Tante Vani yang meluber membasahi dinding nonok nya. Akhirnya dia menjerit panjang, "Ouuhhgg. Tante keluuaar, lagii" erangnya.

Aku yang belum puas memintanya untuk menungging. Tante Vani menuruti perintahku, menungging tepat di depanku yang masih terduduk.

Hmm. , lezatnya pantat Tante Vani yang besar dan belahan bibir nonok nya yang memerah, aku langsung mengambil posisi dan tanpa permisi lagi menyusupkan batang peler ku dari belakang.

Kupegangi pinggangnya, sebelah lagi tanganku meraih payudara besarnya. "Ooohh. ngg. Kamu hebaat Dendi. oohh, genjot yang cepat Sayang, oohh. tambah cepat lagi. uuhh" desah Tante Vani tak beraturan.

"Ooohh Tante. Taan. tee. oohh. nikmat Tante Vani" Kepalanya menggeleng keras kesana kemari, kurasa Tante Vani sedang berusaha menikmati gaya ini dgn semaksimal mungkin.

Teriakannya pun makin ngawur. "Ooohh. jangan lama-lama lagi Sayang, Tante mau keluar lagi ooh" rintihnya.

Lalu aku mempercepat gerakanku hingga bunyinya kecepak- kecepok akibat banyaknya cairan mani Tante Vani yang sudah keluar, lalu aku merasa ada sesuatu yang mau keluar. cerita dewasa Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler

"Aahh Tante. uuhh. nikmat sekali, oohh. Tante sekarang. Tante Vani, oohh. saya nggak tahan tantee. enaak. oohh" ceracauku tak beraturan.

"Tante juga Dendi. ohh. Dendiy sayaangg, oohh. keluaar samaan sayaang, ooh" kita berdua berteriak panjang, badanku terasa bergetar dan, "Croot. crott. croott. croott" entah berapa kali batang peler ku menyemburkan cairan kental ke dalam rahim Tante Vani yang keliatan juga mengalami hal yang sama, selangkangan kita saling menggenjot keras.

Tangan Tante Vani meremas sprei dan menariknya keras, bibirnya ia gigit sendiri.

Matanya terpejam seperti merasakan sensasi yang sangat hebat. Sejak itu hubunganku dgn Tante Vani bertambah mesra nggak jarang kita mengadakan perjanjian untuk saling ketemu atau saat dia menyuruhku mengantarkannya ke arisan tapi malah dibelokkan ke rumahnya yang satu di daerah perumahan elit yang sepi, sedang aku sama Rara tetap pacaran tapi perselingkuhank u dgn mamanya tetap kujaga rahasianya.

Suatu hari aku ke rumah Rara sepulang sekolah, ternyata Rara sedang les.

Sedangkan ayahnya ada meeting 2 hari di Malang. Karena sudah terbiasa, setelah masuk ke rumah dan kelihatannya sepi, saat bertemu Tante Vani aku langsung memeluknya dari belakang.

"Mumpung sepi Tante, saya sudah kangen sama Tante" kataku sambil menciumi leher dan cuping telinga Tante Vani.

"Jangan di sini Sayang, ke kamar tante saja" katanya sambil mengandengku masuk ke kamar, aku seperti kerbau yang di cocok hidungnya, hanya menurut saja.

Setibanya di dalam kamar tanpa ba-bi-bu kita saling berpelukan dan kulumat bibirnya.

Nafasnya terengah- engah. Kancing dasternya kubuka satu- persatu hingga semuanya lepas lalu kutarik ke bawah, sedang Tante Vani juga sudah melepas kemejaku, tangannya kini sibuk membuka reitsleting celanaku, aku membantunya.

Setelah celanaku lepas lalu dia buang di lantai. Aku diam sejenak, kupandangi tubuh Tante Vani yang hanya memakai BH warna putih dan celana dalam yang juga putih.

Lalu tali pengikat BH-nya kulepas, maka tersembullah payudara Tante Vani yang montok dan menantang itu.

Kemudian tanganku ganti memelorotkan celana dalam Tante Vani. Kini dia sudah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.

Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler, Ngentot Mama Pacar, cerita seks bacaan dewasa ngentot mama pacar, cerita seks terbaru
Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler

Kulitnya yang putih mulus memancarkan keindahan alami, aku jadi semakin bernafsu. Sesaat kemudian Tante Vani jongkok di hadapanku dan dgn sekali tarik celana dalamku dilepaskannya ke bawah, dgn kakiku CD-ku kulempar ke bawah ranjang Tante Vani.

Lalu kita saling menatap, bibirnya didekatkan dgn bibirku, tanpa buang waktu kupagut bibir yang merah merekah kita saling mengulum, terasa hangat sekali bibir Tante Vani.

Tanganku mulai bergerilya di dadanya, gundukan montok itu semakin lama semakin kencang dan putingnya terasa mengeras karena permainan tanganku.

peler ku tak luput dari tangan hangat Tante Vani yang begitu bernafsu ingin menguasai keperkasaan peler ku.

Tangan lentik itu kini mengocok dan meremas otot peler ku. Aku semakin tak tahan, lalu aku melepas pelukannya, nafas kita sama- sama ngos-ngosan.

Kulihat matanya memerah seperti banteng yang marah, dadanya naik turun inikah yang namanya sedang birahi.

Lalu tubuh telanjang Tante Vani kubopong dan kubaringkan terlentang di atas ranjang, dia menekukkan lututnya dan kedua pahanya direnggangkan.

melihat pemandangan liang nonok nya yang sudah basah dan merah merekah, aku jadi semakin nggak sabar.

Lalu kembali semua bagian dari liang nonok nya menjadi daerah operasi lidahku.

Klirotisnya tampak mengkilat karena banyaknya cairan yang membasahi liang nonok nya. Tiba-tiba aku dikagetkan saat secara refleks aku ngeliat ke pintu.

Memang pintu itu hanya di tutup kain gorden sedang daun pintunya nggak kita tutup.

Kain gorden itu tersingkap sedikit dan tampak sepasang mata mengintip perbuatan kita.

Aku sempat deg-degan, jangan- jangan Om Har, kalau benar mati aku. Lalu saat gorden itu tertiup angin dari jendela samping aku baru tahu kalau ternyata yang berdiri di balik pintu adalah Tante Nancy, adik Tante Vani.

Aku jadi lega, paling nggak dia bukan suami Tante Vani ataupun pacarku Rara.

Aku meneruskan permainanku dgn harapan semoga Tante Nancy bisa ngeliat bagaimana aku bisa memuaskan kakaknya.

Harapanku mendekati kenyataan, ternyata mata itu terus mengawasi permainan kita bahkan saat batang peler ku hendak masuk ke dalam liang nonok Tante Vani, aku sempat mendengar Tante Nancy menahan nafas.

Kembali ku entot liang nonok itu hingga yang punya mengejang sambil mulutnya keluar erangan dan rintihan yang seperti mungkin pembaca pernah ngeliat Film Blue versi mandarin saat si cewek dientot lawan mainnya.

Aku sendiri semakin tambah bernafsu mendengar rintihan kecil Tante Vani karena suaranya merangsang sekali.

Paling nggak 20 menit lamanya aku bisa bertahan dan akhirnya jebol juga pertahananku.

"Ccroot. croot. croot" cairanku banyak yang masuk ke dalam rahim Tante Vani, sedang sebelum itu Tante Vani juga sudah keluar dan setelah aku hampir selesai mengejang dan mengeluarkan air mani ku, giliran Tante Vani mengejang yang kedua kalinya.

Lalu tubuhku ambruk di samping Tubuh indah Tante Vani. Kulihat mata Tante Vani terpejam sambil tersenyum puas.

Lalu aku pamit mau ke kamar mandi. Sebenarnya aku hanya ingin menemuai Tante Nancy tapi saat kucari dia sudah nggak di belakang gorden lagi.

Lalu kucari di kamarnya. Kulihat pintu kamar terbuka sedikit lalu kutengok, ternyata kamarnya kosong.

Akhirnya kuputuskan ke kamar mandi karena aku memang mau kencing, dgn tergesa-gesa aku berlari ke kamar mandi, kulihat pintu kamar mandi nggak tertutup.

Saat aku di depan pintu, aku samar-samar mendengar bunyi air yang dipancurkan berarti ada yang mandi shower.

"Ohh. my God" saat itu terpampang tubuh molek Tante Nancy sedang mandi di pancuran sambil mendesah-desah, dia menggosok tubuhnya membelakangi pintu.

keliatan bagian pantatnya yang padat dan seksi, karena suara air begitu deras mungkin Tante Nancy nggak mendengar saat aku melebarkan pintunya.

Dari luar aku memandangnya lebih leluasa, tangannya sedang menggosok payudara nya dan kadang payudara nya yang berukuran 36C itu diremasnya sendiri, aku ikut terhanyut ngeliat keadaan itu.

Saat dia membalikkan badan, kulihat dia mendesis sambil matanya terpejam seperti sedang membayangkan sesuatu yang sedang dialaminya.

Waaouuw. , dari depan aku semakin jelas ngeliat keindahan tubuh Tante Nancy.

buah dada nya yang sedang diremas tangannya sendiri kelihatan masih tegak menantang bulat sekal dgn puting yang mencuat runcing di tengahnya, mungkin karena dia belum pernah menyusui bayi maka kelihatan seperti payudara seorang perawan, masih segar.

Aku sempat terperangah karena berbeda sekali dgn kepunyaan Tante Vani yang sudah agak menggantung sedikit tapi ukurannya lebih kecil sedikit.

Lalu pandanganku semakin turun, kulihat hutan rimbun di bawah perutnya sudah basah oleh air, kelihatan tersisir rapi dan di bawahnya sedikit daging kecil itu begitu menonjol dan lubangnya lebih kecil dari lubang milik Tante Vani.

Tak lama kemudian tangannya meluncur ke bawah dan menggosok bagian demi bagian.

Saat tangan mungilnya digosokkan pada klirotisnya, kakinya ikut direnggangkan, pantatnya naik turun.

Aku baru menyadari bahwa peler ku sudah tegak berdiri malah sudah keluar cairan sedikit.

Aku semakin tak tahan, aku lalu main spekulasi aku harus bisa menundukkan Tante Nancy paling nggak selama ini dia merasa kesepian, selama dua bulan terakhir ini dirinya nggak disentuh cowok berarti dia sangat butuh kepuasan batin.

Satu persatu pakaianku kulepas hingga telanjang bulat, burungku yang sudah berdiri tegak seperti tugu monas ini sudah nggak sabar ingin mencari sarangnya.

Lalu diam-diam aku masuk ke kamar mandi dan aku memeluk Tante Nancy dari belakang, tanganku ikut meremas payudara nya dan kuciumi tengkuknya dari belakang.

Tante Nancy kaget, "Haii. apa-apaan kamu Dendiy! " bentaknya sambil berusaha melepaskan pelukanku.

Aku nggak menyerah, terus berusaha. "Dendi. Lepaaskaan Tantee. Jangaan" Dia terus berontak.

"Tenang Tante. saya cuma ingin membantu Tante, melepaskan kesepian Tante" aku terus menciuminya sedang tanganku yang satunya bergerilya ke bawah, kugantikan tangannya yang tadi menggosok liang nonok nya sendiri.

Bibir nonok nya kuremas dan kuusap-usap pelan. "Tapi Dendi, Ouhhg. Aku kaan. sshah" dia sepertinya juga sudah menikmati permainanku.

"Sudah berapa lama Tante mengintip kita tadi. Tante kesepian. Tante butuh kepuasan. saya akan memuaskan Tante. nikmati saja" aku terus ngentotin memek nya.

"Ouugh. Ahh. Jangaann Oohh" dia terus melarang tapi sesaat kemudian dia membalikkan badan.

"Dendi, puaskan dahaga Tante" katanya sambil melumat bibirku, kini dia begitu agresif, aku ganti kewalahan dan berusaha mengimbanginya, tanganku meremas kedua payudara Tante Nancy.

"Hmm kamu hebaat. sayaang" tanpa sadar keluar ucapan itu dari mulutnya. Selama 25 menit kita saling mencumbu, saling meremas dalam keadaan berdiri hingga.

"Ahh. Dendi, cukuup Dendi. lakukanlah, aku sudah tidaak tahaan. Ohh" rintihnya. Lalu kudorong tubuh Tante Nancy menepi ke dinding, kurenggangkan kakinya.

Sesaat kulihat bibir nonok nya ikut membuka lebar, klitorisnya tampak meriang memerah dan sudah banyak cairan yang membasahi dinding nonok nya.

Lalu kuletakkan batang peler ku yang sudah mengeras itu di bibir nonok tante Nancy, pelan- pelan kumasukkan.

"Uhh. ss, pelaan sayang, punyamu terlalu besar" jeritnya kecil. Memang kelihatannya liang nonok yang satu ini masih sempit mungkin jarang dipakai.

Perlahan batang peler ku mulai masuk lebih dalam hingga akhirnya amblas seluruhnya.

"Aouuw" Tante Nancy menjerit lagi mungkin dia belum terbiasa dgn batang peler yang berukuran besar.

Setelah keadaan agak rileks, aku mulai menggerakkan batang peler ku maju mundur.

"Oohh. teruskaan Sayaang. rangkul aku" katanya sambil menaikkan kakinya dan dijepitkan di pinggangku.

Saat itu batang peler ku seperti dijepit oleh dinding nonok nya tapi justru gesekannya semakin terasa nikmat.

Tante Nancy terus melakukan goyang pinggulnya. "Ohh. ennaak Tantee" aku semakin terangsang.

"Tantee jugaa nikmaat. Dendi, punya kamu nikmaat banget. Ohh, rasanya lebih nikmat dari punya suamikuu. Ahh. Uhh. Tusuk yang lebih keras sayang" desis Tante Nancy.

"Aaahh. Aaagh. Ohh. Sshh" Tante Nancy merintih tak karuan dan gerakan pinggulnya semakin tak beraturan.

"Dendi, Ohh. genjoot teruuss" dia setengah menjerit, "Dendi, masukin yang dalam, yachh" "Enaak Tante, mmhh" aku merasakan sukmaku seperti terbang ke awan, liang nonok cewek ini nikmat betul sih, sayang suaminya kurang bisa memuaskannya.

"Ouuhh, Dendi. Tantee. Mauu Keel. Aaahh" dia menjerit sambil menekankan pantatnya lebih dalam.

"Seerr" terasa cairan hangat membasahi batang peler ku di dalam rahimnya. Tapi aku terus memacu gerakanku hingga aku sendiri merasakan mau mencapai orgasme.

"Tantee. dikeluarkan di dalam apa di luar" aku masih sempat bertanya. "Di dalam sajaa, berii aku bibitmu sayang" pintanya.

Tak lama kemudian aku merasakan ada dorongan dari dalam yang keluar, "Crroott. crroott. croott" cairan maniku langsung memenuhi rahim Tante Nancy, lama kita berpelukan kencang hingga akhirnya aku merasa kakiku lemas sekali, tapi aku terus mencumbu bibirnya.

"Terima kasih Dendi, kamu telah menghilangkan dahagaku" kata Tante Nancy.
***

Ngentot Mama Pacar, cerita seks Tante Binal, bacaan dewasa ngentot mama pacar, cerita seks terbaru tante binal, pacar sexy

Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler cerita seks dewasa , Ngentot Mama Pacar, cerita seks Tante Binal, bacaan dewasa ngentot mama pacar, cerita seks terbaru tante binal, pacar sexy Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler, cerita dewasa terbaru istri binal nakal , Ngentot Mama Pacar, cerita seks Tante Binal, bacaan dewasa ngentot mama pacar, cerita seks terbaru tante binal, pacar sexy, cerita seks dewasa
Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler
Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler, cerita seks , Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler, Ngentot Mama Pacar, cerita seks bacaan dewasa ngentot mama pacar, cerita seks terbaru, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Mama Pacar Ku Jago Goyang Nonok Diatas Peler

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com