Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor

Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor | Namaku Susi, usia 25 tahun. Kulitku kuning langsat dan rambutku sebahu dgn tinggi 166 cm dan berat 51 kg. Aku telah menikah setahun lebih. Aku berasal dari keluarga Minang yg terpandang. Aku bekerja pada sebuah Bank pemerintah yg cukup terkenal.

Suamiku Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang. Di samping itu, dia juga memiliki beberapa usaha perbengkelan. Kami menikah setelah sempat berpacaran kurang lebih 3 tahun.

Perjuangan kami cukup berat dalam mempertahankan cinta dan kasih sayang. Di antaranya adalah ketidaksetujuan dari pihak orang tua kami. Sebelumnya aku telah dijodohkan oleh orang tuaku dgn seorang pengusaha.

Bagaimanapun, kami dapat juga melalui semua itu dgn keyakinan yg kuat hingga kami akhirnya bersatu. Kami memutuskan untuk menikah tapi kami sepakat untuk menunda dulu punya anak.

Aku dan Bang Ikhsan cukup sibuk sehingga takut nantinya tak dapat mengurus anak. Kehidupan kami sehari-hari cukup mapan dgn keberhasilan kami memiliki sebuah rumah yg asri di sebuah lingkungan yg elite dan juga memiliki 2 unit mobil sedan keluaran terbaru hasil usaha kami berdua.

Begitu juga dalam kehidupan seks tiada masalah di antara kami. Ranjang kami cukup hangat dgn 4-5 kali seminggu kami berhubungan suami istri. Aku memutuskan untuk memakai program kb dulu agar kehamilanku dapat kuatur.

Aku pun rajin merawat kecantikan dan kebugaran tubuhku agar suamiku tidak berpaling dan kehidupan seks kami lancar. Suatu waktu, atas loyalitas dan prestasi kerjaku yg dinilai bagus, maka pimpinan menunjukku untuk menempati kantor baru di sebuah kabupaten baru yg merupakan sebuah kepulauan.

Aku merasa bingung untuk menerimanya dan tidak berani memutuskannya sendiri. Aku harus merundingkannya dulu dgn suamiku. Bagiku naik atau tidaknya statusku sama saja, yg penting bagiku adalah keluarga dan perkawinanku.

Tanpa aku duga, Suamiku ternyata sangat mendorongku agar tidak melepaskan kesempatan ini. Inilah saatnya bagiku untuk meningkatkan kinerjaku yg biasa-biasa saja selama ini, katanya. Aku bahagia sekali.

Rupanya suamiku orangnya amat bijaksana dan pengertian. Sayang orang tuaku kurang suka dgn keputusan itu. Begitu juga mertuaku. Bagaimanapun, kegundahan mereka akhirnya dapat diatasi oleh suamiku dgn baik.

Bahkan akhirnya mereka pun mendorongku agar maju dan tegar. Suamiku hanya minta agar aku setiap minggu pulang ke Padang agar kami dapat berkumpul. Aku pun setuju dan berterima kasih padanya.

Aku pun pindah ke pulau yg jika ditempuh dgn naik kapal motor dari Padang akan memerlukan waktu selama 5 jam saat cuacanya bagus. Suamiku turut serta mengantarku.

dia menyediakan waktu untuk bersamaku di pulau selama seminggu. Di pulau itu aku disediakan sebuah rumah dinas lengkap dgn prasarananya kecuali kendaraan. Jarak antara kantor dan rumahku hanya dapat ditempuh dgn naik ojek karena belum adanya angkutan di sana.

Hari pertama kerja aku diantar oleh suamiku dan sorenya dijemput. Suamiku ingin agar aku betah dan dapat secepatnya menyesuaikan diri di pulau ini. Memang prasarananya belum lengkap.

Rumah-rumah dinas yg lainnya pun masih banyak yg kosong. Selama di pulau itu pun suamiku tidak lupa memberiku nafkah batin karena nantinya kami akan bertemu seminggu sekali.

Aku pun menyadarinya dan kami pun mereguk kenikmatan badaniah sepuas-puasnya selama suamiku di pulau ini. Suamiku dalam tempo yg singkat telah dapat berkenalan dgn beberapa tetangga yg jaraknya lumayan jauh.

dia juga mengenal beberapa tukang ojek hingga tanpa kusadari suatu hari dia menjemputku pakai sepeda motor. Rupanya dia meminjamnya dari tukang ojek itu. Salah satu tukang ojek yg dikenal suamiku adalah Pak Hermanus.

Pak Hermanus ini adalah laki-laki berusia 50 tahun. dia tinggal sendirian dipulau itu sejak istrinya meninggal dan kedua anaknya pergi mencari kerja ke Jakarta. Laki-laki asal tanah Batak itu harus memenuhi sendiri hidupnya di pulau itu dgn kerja sebagai tukang ojek.

Pak Hermanus, yg biasa dipanggil Pak Herman, orangnya sekilas keliatan kasar dan keras namun jika telah kenal dia cukup baik. Menurut suamiku, yg sempat bicara panjang lebar dgn Pak Herman, dulunya dia pernah tinggal di Padang yaitu di Muara Padang sebagai buruh pelabuhan.

Suatu saat dia ingin mengubah nasibnya dgn berdagang namun bangkrut. Untunglah dia masih punya sepeda motor hingga menjadi tukang ojek. Hampir tiap akhir pekan aku pulang ke Padang untuk berkumpul dgn suamiku.

yg namanya pasangan muda tentu saja kami tidak melewatkan saat kebersamaan di ranjang. Saat aku pulang, aku menitipkan rumah dinasku pada Pak Herman karena suamiku bilang dia dapat dipercaya.

Akupun mengikuti kata-kata suamiku. Kadang-kadang aku diberi kabar oleh suamiku bahwa aku tidak usah pulang karena dia yg akan ke pulau. Sering kali suamiku bolak-balik ke pulau hanya karena kangen padaku.

Sering kali pula dia memakai sepeda motor Pak Herman dan memberinya uang lebih. Suamiku telah menganggap Pak Herman sebagai sahabatnya karena sesekali saat dia ke pulau, Pak Herman diajaknya makan ke rumah.

Sebaliknya, Pak Herman pun sering mengajak suamiku jalan-jalan di pantai yg cukup indah itu. Suamiku sering memberi Pak Herman uang lebih karena dia akan menjagaku dan rumahku jika aku ditinggal.

Sejak saat itu aku pun rutin di antar jemput Pak Herman jika ke kantor. Tidak jarang dia membawakanku penganan asli pulau itu. Aku pun menerimanya dgn senang hati dan berterima kasih.

Kadang aku pun membawakannya oleh-oleh jika aku baru pulang dari Padang. Setelah beberapa bulan aku tugas di pulau itu dan melalui rutinitas seperti biasanya, suamiku datang dan memberiku kabar bahwa dia akan disekolahkan ke Australia selama 1, 5 tahun.

Ini merupakan beasiswa untuk menambah pengetahuannya. Aku tahu bea siswa ini merupakan obsesinya sejak lama. Aku menerimanya. Aku pikir demi masa depan dan kebahagiaan kami juga nantinya sehingga tidak masalah bagiku.

Suamiku sebelum berangkat sempat berpesan agar aku jangan segan minta tolong kepada Pak Herman sebab suamiku telah meninggalkan pesan pada Pak Herman untuk menjagaku. Suamiku pun menitipkan uang yg harus aku serahkan pada Pak Herman.

Sejak suamiku di luar negeri, kami sering telpon-teleponan dan kadang aku bermasturbasi bersama suamiku lewat telepon. Itu sering kami lakukan untuk memenuhi libido kami berdua. Akibatnya, tagihan telepon pun meningkat.

Bagaimanapun, aku tidak memperdulikannya. Selagi melakukannya dgn suamiku, aku mengkhayalkan suamiku ada dekatku. Tidak masalah jarak kami berjauhan. Aku mulai jarang pulang ke Padang karena suamiku tidak ada.

Paling aku pulang sebulan sekali. Itu pun aku cuma ke rumah orang tuaku. Rumahku di Padang aku titipkan pada saudaraku. Aku melewatkan hari-hariku di pulau dgn kesibukan seperti biasanya.

Begitu juga Pak Herman rutin mengantar jemputku. Suatu saat ketika aku pulang, Pak Herman mengajakku untuk jalan-jalan keliling pantai namun aku menolaknya dgn halus. Aku merasa tidak enak.

Apa nanti kata teman kantorku jika ngeliat nya. Kebetulan saat itu pun aku sedang tidak mood sehingga aku merasa lebih tenang di rumah saja. Di rumah aku beres-beres dan berbenah pekerjaan kantor.

Akhir-akhir ini, aku merasakan bahwa Pak Herman amat memperhatikanku. Tidak jarang dia sore datang sekedar memastikan aku tidak apa-apa sebab di pulau itu dia amat disegani dan berpengaruh.

Aku sadari kadang dalam berboncengan tanpa sengaja dadaku terdorong ke punggung Pak Herman saat dia menghindari lubang dan saat dia mengerem. Aku maklum, itulah resikonya jika aku berboncengan sepeda motor.

Semakin lama, hal seperti itu semakin sering terjadi sehingga akhirnya aku jadi terbiasa. Sesekali aku juga merangkul pinggangnya jika aku duduknya belum pas di atas jok motornya.

Aku rasa Pak Herman pun sempat merasakan kelembutan toket ku yg bernomer 34b ini. Aku menerima saja kondisi ini sebab di pulau ini mana ada angkutan. Jadi aku harus bisa membiasakan diri dan menjalaninya.

Tak bisa membandingkannya dgn di Padang di mana aku terbiasa menyetir sendiri kalau pergi ke kantor. Pada suatu Jumat sore sehabis jam kerja, Pak Herman datang kerumahku.

Cerita Sex Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor

Seperti biasanya, dia dgn ramah menyapaku dan menanyakan keadaanku. dia pun aku persilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Sore itu aku telah selesai mandi dan sedang menonton televisi.

Kembali Pak Herman mengajakku jalan ke pantai. Aku keberatan sebab aku masih agak capai. Lagipula aku agak kesal dgn kesibukan suamiku saat kutelepon tadi. dia tidak bisa terlalu lama di telpon.

"Kalau gitu, kita main catur saja, Bu. Gimana? " Pak Herman mencoba mencari alternatif. Kebetulan selama ini dia sering main catur dgn suamiku. Akupun setuju karena aku lagi suntuk.

Lumayanlah, untuk menghilangkan kekecewaanku saat ini. Aku pun lalu main catur dgn laki-laki itu. Beberapa kali pula aku mengalahkannya. Taruhannya adalah sebuah botol yg diikat tali lalu dikalungkan ke leher.

Seumur hidupku, baru kali ini aku mau bicara bebas dgn laki-laki selain suamiku dan atasanku. Tidak semua orang dapat bebas berbicara denganku. Aku termasuk tipe orang yg memilih dalam mencari lawan bicara sehingga tidak heran jika aku dicap sombong oleh sebagian orang yg kurang aku kenal.

Bagaimanapun, dgn Pak Herman aku bicara apa adanya, ceplas ceplos. Mungkin karena kami telah saling mengenal dan juga aku merasa membutuhkan tenaganya di pulau ini. Tanpa terasa, telah lama kami bermain catur hingga jam menunjukan pukul 10 malam.

Di luar rupanya telah turun hujan deras diiringi petir yg bersahut-sahutan. Kami pun mengakhiri permainan catur kami. Aku lalu membersihkan mukaku ke belakang. "Pak, kita ngopi dulu, yuk. ? Biar nggak bosan dan ngantuk, " kataku menawarinya.

Di pulau saat itu penduduknya telah pada tidur dan yg terdengar hanya suara hujan dan petir. Setelah menghabiskan kopinya, Pak Herman minta izin pulang karena hari telah larut.

Aku tidak sampai hati sebab cuaca tidak memungkinkan dia pulang. Rumahnya pun cukup jauh. Lagi pula aku kuatir jika nanti dia tersambar petir. Lalu aku tawarkan agar dia tidur di ruang tamuku saja.

Akhirnya dia menerima tawaranku. Aku memberinya sebuah bantal dan selimut karena cuaca sangat dingin saat itu. Tiba-tiba, lampu mati. Aku sempat kaget, untunglah Pak Herman punya korek api dan membantuku mencari lampu minyak di ruang tengah.

Lampu kami hidupkan. Satu untuk kamarku dan yg satu lagi untuk ruang tamu tempat Pak Herman tidur. Aku lalu minta diri untuk lebih dulu tidur sebab aku merasa capai.

Aku lalu tidur di kamar sementara di luar hujan turun dgn derasnya seolah pulau ini akan tenggelam. Aku berusaha untuk tidur namun ternyata tidak bisa. Ada rasa khawatir yg tidak aku ketahui sebab petir berbunyi begitu kerasnya hingga akhirnya aku putuskan ke ruang tamu saja.

Hitung-hitung memancing kantuk dgn ngobrol bareng Pak Herman. Rasa khawatirku jadi berkurang sebab aku merasa ada yg melindungi. Sesampainya di ruang tamu, aku lihat Pak Herman masih berbaring namun matanya belum tidur.

dia kaget, disangkanya aku telah tidur. Aku lalu duduk di depannya dan bilang nggak bisa tidur. dia cuma tersenyum dan bilang mungkin aku ingat suamiku. Padahal saat itu aku masih sebal dgn kelakuan suamiku.

Tanpa sengaja kucurahkan kekesalanku. Aku tahu, mestinya aku tidak boleh bilang suasana hatiku saat itu pada Pak Herman namun entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja. dgn cara bijaksana dan kebapakan dia nasehati aku yg belum merasakan asam garam perkawinan.

Dalam suasana temaram cahaya lampu saat itu aku tidak menyadari kapan Pak Herman pindah duduk kesampingku. Aku kurang tahu kenapa aku membiarkannya meraih jemariku yg masih melingkar cincin berlian perkawinanku dan merebahkan kepalaku didadanya.

Aku merasa terlindungi dan merasa ada yg menampung beban pikiranku selama ini. Pak Herman pun membelai rambutku seolah aku adalah istrinya. Bibirnya terus bergerak ke balik telingaku dan menghembuskan nafasnya yg hangat.

Aku terlena dan membiarkannya berbuat seperti itu. Perlahan dia mulai menciumi telingaku. Aku mulai terangsang ketika dia terus melakukannya dgn lembut. Bibirnya pun terus bergeser sedikit demi sedikit ke bibirku.

Saat kedua bibir kami bertemu, seperti ada aliran listrik yg mengaliri sekujur tubuhku. Aku seperti terhipnotis. Aku seperti tak peduli bahwa yg mencumbuku saat itu adalah orang lain.

Mungkin aku telah salah langkah dan salah menilai orang. Jelas bahwa Pak Herman sama sekali tak merasa sungkan memperlakukanku seperti itu. Seolah-olah dia telah menyimpan hasrat yg mendalam terhadap diriku selama ini.

Malam ini adalah kesempatan yg telah ditunggu-tunggunya. Anehnya, aku seperti tak kuasa menahan sepak terjangnya. Padahal yg pantas berbuat itu terhadapku hanyalah suamiku tercinta. Sepertinya telah tertutup mata hatiku oleh nafsu dan gairahku yg juga menuntut pelampiasan.

Pak Herman pun mengulum bibirku beberapa saat. Aku pun membalasnya sambil menutup kedua mataku menikmatinya. Tangannya juga tidak mau tinggal diam dgn terus merabai toket ku yg terbungkus bh dan kaos tidur itu.

Aku lalu dibimbingnya ke kamar tidur dan direbahkannya di ranjang yg biasa aku gunakan untuk bercinta dgn suamiku, namun kini yg berada di sini, di sampingku bukanlah suamiku melainkan seorang laki-laki tukang ojek sepantaran ayahku yg notabene tidak pantas untukku.

Aku telah terlarut dalam gairah yg menghentak. Aku tahu akan terjadi sesuatu yg terlarang di antara kami berdua. Itulah yg menyihirku dan, entah bagaimana caranya, membuat aku memasrahkan diriku pada laki-laki ini.

Pak Herman menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Sedang lampu di luar telah dia matikan tadi. Aku diam saja menanti apa yg akan diperbuatnya padaku. Padahal selama ini aku tidak sekali pun memberi hati jika ada laki-laki lain yg iseng merabaku dan mencolekku.

Aku termasuk wanita yg menjunjung tinggi kesucian dan kehormatan sesuai dgn yg selalu diajarkan orang tua dan agamaku. Sekarang semua itu musnah oleh keangkuhanku sendiri. Aku terbaring tak berdaya.


Cerita seks Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor
  • Pak Herman mulai melepaskan pakaianku satu persatu, mulai dari kaosku lalu celana panjang dan akhirnya bra dan celana dalam kremku terlempar ke bawah lantai. Aku hanya memejamkan mataku.
  • Aku pun semakin buta oleh nafsuku yg mulai menggebu-gebu merasuki jiwa dan tubuhku. Bahkan sepertinya aku tak sabar menanti tindakan Pak Herman selanjutnya. Selesai menelanjangi aku, dia pun melepaskan pakaiannya hingga lapis terakhir.
  • Aku berdebar-debar karena kini kami sudah sama-sama bugil. Kuperhatikan tubuhnya yg hitam. Meskipun sudah tua namun ototnya masih ada. Ada gambar tattoo tengkorak di lengannya. Aku rasa dia adalah laki-laki yg keras dan jarang ada kelembutan.
  • Itu aku ketahui saat dia mulai merabaiku dan menelanjangiku. Aku tersentak ketika dia mulai memelukku dan menciumiku dari leher hingga belahan dadaku dgn kasar. Rabaan tangannya yg kasar membuatku tak hanya kesakitan, melainkan juga terangsang.
  • Suamiku jika merabaiku cukup hati-hati. Nyata perbedaannya dgn Pak Herman yg keras wataknya. terlihat nya dia sudah lama tidak berhubungan badan dgn wanita, maka akulah yg menjadi sarana pelampiasan nafsunya.
  • Aku merasa tak kuasa apa pun atas tindakannya. Spontan air mataku terasa menetes karena tersirat penyesalan telah menodai perkawinanku, namun percuma saja. Sekarang semuanya sudah terlambat. Pak Herman semakin asyik dgn tindakannya.
  • Tiap jengkal tubuhku dijamahnya tanpa terlewatkan seinci pun. Kekuatan Pak Herman telah menguasai diriku. Aku membiarkan saja dia terus merangsangi diriku. Tubuhku pun berkeringat tidak tahan dan geli bercampur gairah.
  • Lalu mulutnya turun ke selangkanganku. dia sibakkan kedua kakiku yg putih bersih itu. Di situ lidahnya bermain menjilati klitorisku. Kepalaku miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yg melandaku.
  • Peganganku hanya kain sprei yg aku tarik karena desakan itu. Kedua kakiku pun menerjang dan menghentak tidak tahan atas gairah yg melandaku. Beberapa menit kemudian aku orgasme dan mulutnya menelan air orgasmeku itu.
  • Badanku lemas tak bertenaga. Mataku pun terpejam. Lalu aku kembali dibangkitkan oleh Pak Herman dgn meciumi balik telingaku hingga liang kehormatanku. Di sana jarinya dia masukkan dan mulai mengacak-acak liang kewanitaanku lalu mempermainkan celahnya.
Aku semakin sadar jika Pak Herman telah lama merencanakan ini. Bisa jadi telah lama dia berobsesi untuk meniduriku karena sama sekali tak nampak keraguan dalam seluruh tindakannya mencabuliku.

Berarti dia memang telah berencana melanggar amanat suamiku dan menguasaiku. Akupun akhirnya orgasme untuk yg kedua kalinya oleh tangan Pak Herman. Badanku telah basah oleh keringat kami berdua.

Aku benar-benar merasa lemas. Pak Herman lalu minta izin padaku untuk memasukkan peler nya ke lubang kehormatanku. Aku menggeleng tidak setuju sebab aku tahu konsekuensinya. Liang kehormatanku akan tercemar oleh cairan laki-laki lain.

Aku merasa terlalu jauh berkhianat pada suamiku. Bagiku cukuplah tindakannya tadi dan tidak usah diteruskan lagi hingga penetrasi. dia pun mau menerima pendapatku. Akan tetapi, aku bisa ngeliat ada rasa kecewa di matanya.

Aku bisa bayangkan dirinya yg telah terobsesi untuk menyenggamaiku. Aku lihat peler nya telah siap memasuki diriku jika aku izinkan. Panjangnya melebihi milik suamiku dan agak bengkok dgn diameter yg melebar.

Pak Herman minta aku untuk membantunya klimaks dgn mengulum peler nya. Aku kembali menggeleng karena aku dan suamiku selama ini tidak pernah melakukan oral sex baik suami kepadaku dan juga sebaliknya meskipun kami selalu menjaga kebersihan wilayah sensitif kami.

Pak Herman terus memohon sebab dia merasa tersiksa karena belum klimaks. Lama-kelamaan aku merasa kasihan juga. Tidak adil rasanya bagiku yg telah dibantunya sampai dua kali orgasme untuk membiarkannya seperti itu.

Akhirnya aku beranikan diri mengulumnya. dgn sedikit jijik aku buka mulutku, namun tidak muat seluruhnya dan hanya sampai batangnya saja. Mulutku serasa mau robek karena besarnya peler Pak Herman.

Baru beberapa kali kulum aku serasa mual dan mau muntah oleh aroma kelamin Pak Herman itu. Aku maklum saja karena dia kurang bersih dan seperti kebiasaan laki-laki Batak, peler nya tidak dia sunat hingga membuatnya agak kotor.

Mungkin juga disebabkan oleh makanan yg tidak beraturan. Satu menit, dua menit. lima menit berlalu. Entah berapa lama lagi setelah itu aku mengulumi peler Pak Herman sampai basah dan bersih oleh air liurku.

Aku lalu menyerah dan melepaskan peler Pak Herman dari mulutku. Aku heran Pak Herman ini sampai sekian lama kok tidak juga klimaks. Aku salut akan staminanya. Aku juga salut atas sikapnya yg menghargai wanita dgn tidak memaksakan kehendak.

Padahal dalam keadaan seperti ini, aku bisa saja dipaksanya namun tidak dia lakukan. Aku merasa bersalah pada diriku dan ingin membantunya saat itu juga. Di dalam pikiranku berperang antara birahi dan moral.

Akhirnya, kupikir sudah terlanjur basah. Di samping itu, aku tidak ingin menambah masalah antara aku dan Pak Herman. Jika aku larang terus nantinya Pak Herman bisa saja memperkosaku.

Seorang laki-laki yg telah berbirahi di ubun-ubun sering bertindak nekad dan lagi pula aku sendirian. Akhirnya, dgn pertimbangan demi kebaikan kami berdua, maka aku izinkan dia melakukan penetrasi ke dalam rahimku.

"Hm. Pak Herman. Begini deh. Kalau Bapak memang benar-benar mau mencampuri saya. Boleh, Pak. " Pak Herman pun keliatan nya gembira sekali. Padahal tadi sempat kulihat wajahnya tegang sekali.

"Ibu benar-benar ikhlas. ? " tanya Pak Herman menatap dalam-dalam mataku dgn penuh birahi. Tangannya membelai rambutku. Aku membalas tatapannya sambil tersenyum, lalu mengangguk dgn pasti. Pak Herman mencium dan mengulum bibirku dalam-dalam.

Seolah menyatakan rasa terima kasihnya atas kesediaanku. Setelah dilepaskannya pagutannya dari mulutku, kami pun berpandangan dan saling tersenyum. Aku lalu berbaring dan membuka kedua pahaku memberinya jalan memasuki rahimku.

Tubuh kami berdua saat itu telah sama-sama berkeringat dan rambutku telah kusut. Dari temaran lampu dinding aku lihat Pak Herman bersiap-siap mengarahkan peler nya. Posisinya pas diatas tubuhku.

Tubuhnya telah basah oleh keringat hingga membuat badannya hitam berkilat. terlihat nya dia masih berusaha menahan untuk ejakulasi. Di luar saat ini hujan pun seakan tidak mau kalah oleh gelombang nafsu kami berdua.

Pak Herman dgn hati-hati menempelkan kepala peler nya. dia tahu jika tergesa-gesa akan membuatku kesakitan sebab punyaku masih kecil dan belum pernah melahirkan. Aku pun berusaha memperlebar kedua pahaku supaya mudah dimasuki kejantanan Pak Herman sebab aku ngeliat kejantanannya panjang dan agak bengkok jadi aku bersiap-siap agar aku jangan kesakitan.

"Pelan-pelan ya, Pak. " Aku sempat bilang kepadanya untuk jangan cepat-cepat. dgn bertahap, dia mulai memasukan peler nya. Aku memejamkan mata dan merasakan sentuhan pertemuan kemaluan kami.

Untuk melancarkan jalannya, kakiku dia angkat hingga melilit badannya, lalu langsung peler nya masuk ke rahimku dgn lambat. Aku terkejut dan merasakan ngilu di bibir rahimku. "Auuch. ooh. auuch. " Aku meracau kesakitan.

Pak Herman membungkam mulutku dgn mulutnya. Kedua tubuh bugil kami pun sepenuhnya bertemu dan menempel. Tidak lama kemudian seluruh peler nya masuk ke rahimku dan dia mulai melakukan gerak maju mundur.

Aku merasakan tulangku bagai lolos, sama seperti saat aku dan suamiku melakukan hubungan intim pertama kalinya dan kuserahkan kegadisanku padanya di malam pengantin dulu. Tidak lama kemudian aku merasakan kenikmatan.

Mulut pak Herman pun lepas dari mulutku karena aku tidak kesakitan lagi. Aku tersengal-sengal setelah selama beberapa waktu mulutku disumpalnya. Kekuatan laki-laki ini amat membuatku salut, sampai membuat ranjangku dan badanku bergetar semua seperti kapal yg terserang badai.

Kurang lebih 15 menit kemudian Pak Herman gerakannya bertambah cepat dan tubuhnya menegang hebat. Aku merasakan di dalam rahimku basah oleh cairan hangat. Tubuhnya lalu rebah diatas tubuhku tanpa melepaskan peler nya dari dalam rahimku.

Aku pun dari tadi telah sempat kembali orgasme. Kami pun tertidur sementara diluar hujan masih saja turun. Butiran keringat kami membuat basah sprei yg kusut di sana-sini.

Saat itu tidak ada lagi batas diantara kami, namun aku merasa telah berdosa kepada suamiku. Hingga tengah malam Pak Herman pun kembali menggauliku sepuasnya dan akupun tidak merasa segan lagi karena kami tidak lagi merasa asing satu sama lain.

Aku pun tidak merasa jijik lagi jika melakukan oral sex dgn Pak Herman. Bagi seorang wanita seperti diriku, sangat sulit rasanya untuk melepaskan diri dari kejadian ini.

Penyesalan pun tiada gunanya. Aku yg di luarnya keliatan keras, berwibawa dan kadang sombong, semuanya menjadi tiada arti lagi saat seorang laki-laki seperti Pak Herman telah berhasil menggauliku.

Kehormatan dan perkawinan yg aku junjung pun luntur sudah, namun apa lagi yg bisa kuperbuat. Pak Herman pun kini telah merasa jadi pemenang dgn kemampuannya menaklukkanku hingga aku tidak berdaya.

Aku semakin tidak berdaya jika dia telah berada di dalam kamarku, untuk bersebadan dengannya. Aku merasa telah terperdaya oleh gelombang gairah yg dipancarkan oleh Pak Herman. Sangat aneh bagiku jika Pak Herman yg seusia dgn ayahku ini masih mampu mengalahkanku dan membuatku orgasme berkali-kali tidak seperti suamiku yg hanya bisa membuatku orgasme sekali saja.

Begitu juga aku. Kuakui aku mendapatkan pengalaman baru dan mengaburkan pendapatku selama ini bahwa laki-laki paro baya akan hilang keperkasaannya. Selama kami berhubungan badan aku sempat bertanya padanya bagaimana dia bisa sekuat itu.

Pak Herman pun bercerita bahwa dia sering mengkonsumsi makanan khas Batak berupa sup anjing yg menurutnya dapat menjaga dan menambah vitalitas pria. Aku bergidik jijik dan mau muntah mendengarnya.

Aku jadi ingat, pantas saja saat bersebadan dengannya bau keringatnya lain. Juga saat aku mengulum kemaluannya terasa panas dan amis. Rupanya selama ini Pak Herman sering memakan makanan yg di agamaku diharamkan.

Pernah suatu kali aku kurang enak badan padahal Pak Herman ngotot ingin mengajakku untuk bersetubuh. Aku pun dibelikannya makanan berupa sate. Saat aku santap, rasanya sedikit aneh.

Setelah makan beberapa tusuk, aku merasakan tubuhku panas dan badanku seakan fit kembali. Setelah sate itu aku habiskan, kami pun melakukan persetubuhan dgn amat panas dan bergairah hingga aku mengalami orgasme sampai tiga kali.

Tubuhku seakan segar bugar kembali dan enak sekali. Setelah persetubuhan, Pak Herman bilang bahwa yg aku makan tadi adalah sate daging anjing. Aku marah dan ingin memuntahkannya karena jijik dan kotor.

Hanya karena pandainya dia memberiku pengertian, ditambah sedikit rayuan, aku jadi bisa menerimanya. Bagaimanapun, aku memintanya untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi walaupun terus terang, aku pun mau tak mau harus mengakui khasiatnya.

dia pun berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tanpa seizinku. Selama aku bertugas di pulau itu hampir satu tahun, kami telah sering melakukan hubungan seks dgn sangat rapi.

Tidak ada seorang pun yg mengetahuinya. Untungnya pula, akibat perbuatan kami ini aku tidak sampai hamil. Aku memang disiplin ber-kb supaya Pak Herman bebas menumpahkan air mani nya di rahimku.

Kapanpun, kami sering melakukannya. Kadang di rumahku, kadang di rumah Pak Herman. Kadang kalau kupikir, alangkah bodohnya aku mau saja digauli di atas dipan kayu yg cuma beralaskan tikar usang.

Bagaimamanapun, yg penting bagiku hasrat terpenuhi dan Pak Herman pun bisa memberinya. Pernah suatu hari setelah kami bersebadan di rumahnya, Pak Herman minta kepadaku untuk mau hidup dengannya di pulau itu.

Permintaan Pak Herman ini tentu mengejutkanku, rasanya tidak mungkin sebab aku terikat perkawinan dgn suamiku dan aku pun tidak ingin menghancurkannya. Lagi pula Pak Herman seusia dgn ayahku.

Apa jadinya jika ayahku tahu. Rupanya Pak Herman mulai mencintaiku sejak dia dgn bebas dapat menggauliku. Di samping itu, keyakinan kami pun berbeda karena Pak Herman seorang Protestan.

Bagiku ini masalah baru. Memang, sejak berhubungan intim dengannya, aku tak lagi menjalankan agamaku dgn taat. Kebiasaan Pak Herman menyantap daging anjing dan babi, juga menenggak tuak, sedikit demi sedikit ikut mempengaruhiku.

Kadang aku ikut pula menikmati makanan seperti itu. Sekedar menemaninya dan sebagai wujud toleransiku padanya. Lagipula, khasiat itu semua terhadap gairah seks kami telah terbukti. Apapun, perbedaan agama itu tetap saja terasa menjadi ganjalan.

Pak Herman pun pernah menanyakan padaku kenapa aku tidak hamil padahal setiap dia menyebadaniku air mani nya selalu dia tumpahkan di dalam. Aku tidak memberitahunya jika aku ber-kb karena tidak ingin mengecewakannya.

Jelas dia sebenarnya menginginkan aku hamil agar memuluskan langkahnya untuk memilikiku. Aku harus menyiasatinya agar dia tidak lagi bermimpi untuk menikahiku. Sebenarnya bagiku hubungan ini hanyalah sebagai pelarianku dari kesepian selama jauh dari suamiku.

Aku pun menjelaskannya kepada Pak Herman dgn lembut dan baik-baik saat kami usai berhubungan badan. Aku pun bilang jika kelak aku pindah kerja, dia harus rela hubungan ini putus.

cerita seks Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor, ngewe istri selingkuh binal ngentot boss cerita, ngentot dikantor, istri selingkuh, cerita ngentot dewasa istri selingkuh
Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor

Selama aku dinas di pulau ini dan suamiku tidak ada, dia kuberi kebebasan untuk memilikiku dan menggauliku. Syaratnya, asal jangan berbuat macam-macam didepan teman-teman kantorku yg kebetulan hampir semuanya penduduk asli pulau ini.

Akhirnya dia mau mengerti dan menerima alasanku. dia berjanji akan menutup rapat rahasia kami jika aku pindah. dia pun menerima segala persyaratanku karena rasa cintanya padaku. Selama aku tugas di pulau ini, Pak Herman terus memberiku kenikmatan ragawi tanpa kenal batas antara kami.

Bagiku cinta hanya untuk suamiku. Pak Herman adalah terminal persinggahan yg harus aku singgahi. Dalam hatiku, aku berjanji untuk menutup rapat rahasia ini karena masih ada penyesalan dalam diriku.

Kadang aku mengganggap diriku kotor dan telah merusak kesucian pernikahan kami. Bagaimanapun, mungkin ini memang tahapan kehidupan yg harus aku lewati.
***

cerita, ngentot dikantor, istri selingkuh, cerita ngentot dewasa istri selingkuh

Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor cerita, cerita, ngentot dikantor, istri selingkuh, cerita ngentot dewasa istri selingkuh cerita dewasa terbaru ngentot dikantor, cerita, ngentot dikantor, istri selingkuh, cerita ngentot dewasa istri selingkuh, cerita seks dewasa
Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor
Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor, cerita seks , cerita seks Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor, ngewe istri selingkuh binal ngentot boss cerita, ngentot dikantor, istri selingkuh, cerita ngentot dewasa istri selingkuh, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Istri Selingkuh Dientot Boss Dikantor

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com