Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang

Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang | saat itu hubungan kawan saya, Ersita dngan Jemmi udah membaik, bahkan saya mendengar mereka telah bertunangan dan berencana untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Ketika itu mereka tinggal dalam sebuah rumah kost yg sama di daerah Selatan - Jakarta, meskipun berbeda kamar, karena saat itu Jemmi sedang mendapat training di Jakarta selama 6 bulan.

Sebagai teman dan bekas atasan Ersita, saya memang pernah dikenalkan dngan Jemmi. Jemmi ternyata begitu cemburuan. Memang harus saya akui kalau Ersita memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk ukuran Jemmi itu.

Padahal kalau menurutku sih, adalah hal yg biasa kalau serorang lelaki yg penampilan fisiknya biasa saja, ternyata memiliki seorang pacar yg cantik. saya mengatakan Ersita cantik, bukan merupakan penilaianku yg subyektif.

Banyak teman-temanku lain yg juga berpendapat begitu. Bahkan beberapa diantaranya berpendapat sama, bahwa Ersita memiliki sex appeal yg luar biasa tinggi. Bagi kaum lelaki, jika memandang mata Ersita, boleh jadi langsung akan berfantasi macam-macam.

Percaya atau tidak, mata Ersita begitu sayu seolah-olah pasrah ditambah lagi dngan bibirnya yg seksi dan suka digigit-gigit, kalau Ersita sedang gemes. Sungguh suatu ciptaan Tuhan yg sangat eksotis dan sensual.

Ketika saya sempat mengobrol dngan Jemmi minggu sebelumnya, secara tidak sengaja kita menemukan suatu peluang bisnis yg mungkin bisa dikerjakan bersama antara kantorku dngan kantornya. Pikiran dagangku segera jalan dan saya menjanjikan untuk menitipkan sebuah proposal kepada Jemmi untuk dibahas oleh tim kantornya di Malang.

Siang itu, sehabis meeting dngan salah satu klienku di sebuah kantor di daerah Kuningan, saya berencana untuk mampir ke rumah kost Jemmi ? yg juga rumah kost Ersita - untuk menitipkan proposal yg saya janjikan.

Saya mengendarai mobil menuju tempat kost Jemmi. Sesampainya di sana, saya ngeliat garasi tempat mobil Jemmi biasa diparkir dalam keadaan kosong yg menandakan Jemmi sedang keluar. Namun saya tidak mengurungkan niatku untuk bertemu dngan Jemmi.

Setelah saya memarkir mobil di depan halaman rumah kost itu, saya masuk menuju ruang tamu yg pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka, dan langsung menuju ke kamar Jemmi.

Di dalam rumah itu ada 4 kamar dan kamar Jemmi yg paling pojok, berhadapan dngan kamar Ersita. Masing-masing kamar kelihatan tertutup pertanda tidak ada kehidupan di dalam rumah itu.

Saya ingin menulis pesan di pintu kamar Jemmi karena memang saya sangat perlu dngannya. Sementara saya sedang menuliskan pesan, samar-samar terdengar suara televisi dari dalam kamar Ersita, di depan kamar Jemmi, pertanda ada seseorang di dalam kamarnya.

Saya memastikan kalau yg di dalam kamar itu adalah Ersita, bukannya orang lain. saya mengetuk pintu perlahan sambil memanggil nama Ersita. Tidak beberapa lama kemudian pintu dibuka kira-kira sekepalan tangan dan saya ngeliat wajah Ersita terlihat dari celah pintu yg terbuka.

"Eh, Mas. cari Mas Jemmi yaa. Tadi pagi sih ditungguin, tapi Mas Jemmi buru-buru berangkat Mas" , jawabnya sebelum saya bertanya. Entah mengapa, ketika menatap mata Ersita yg sayu itu, pikiranku jadi teringat masa-masa indah yg pernah kita alami dulu.

Saya sambil tersenyum menatapnya seraya bertanya, "Kamu nggak ke kantor hari ini? " "Lagi kurang enak badan nih, Mas, tadi Santi bangunnya kesiangan, jadi males banget ke kantor" , jawabnya singkat, sambil menggigit bibir bawahnya.

Ada rasa menyesal kenapa dia harus membolos ke kantor hari ini. "Terus, Jemmi biasanya jam berapa pulangnya, Santi? " , tanyaku sekedar berbasa-basi. "Mestinya sih jam 5 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Mas Jemmi hari ini ada tugas kelompok bersama teman-teman trainingnya" , jawabnya agak kesal.

Saat itu kira-kira jam 1 siang berarti Jemmi pulang kira-kira 4 atau 5 jam lagi, pikiranku mulai nakal. saya mencoba mencari bahan pembicaraan yg kira-kira bisa memperpanjang obrolan kita agar saya bisa lebih dekat dngan Ersita.

Agak lama saya terdiam. saya memandang matanya, memandang bibirnya yg basah. Bibirnya yg dipoles warna merah menambah sensual bentuknya yg tipis dan memang sangat indah itu. Semakin lama saya ngeliat nya semakin saya berfantasi macam-macam.

Sungguh, jantungku deg-degan saat itu. Mata Ersita tidak berkedip sekejap pun membalas tatapan mataku. Sebuah desiran hangat mengalir keras di dadaku, dan saya sungguh yakin Ersita pun masih memiliki getar rasa yg sama dnganku.

Setelah agak lama kita terdiam, "Teman-teman kamarmu yg lain lagi pada kemana semua, Santi? " , dngan mata menatap sekeliling saya bertanya sekenaku, menanyakan keberadaan anak-anak kost yg lain.

"Mas ini mau nyari Mas Jemmi atau. " , kata-katanya terputus tapi saya bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya. Akhirnya saya memutuskan untuk to the point aja.

"saya juga pengin ketemu dnganmu, Santi! " , jawabku berpura-pura. Dia tertawa pelan, "Mas, kenapa, sih? " , dia memandangku lembut. "Boleh saya masuk, Santi? Ada sesuatu yg ingin kubicarakan dnganmu, " , jawabku lagi.

"Sebentar, ya. Mas, kamar Santi lagi berantakan nih! " Ersita lalu menutup pintu di depanku. Tidak beberapa lama berselang pintu terbuka kembali, lalu dia mempersilakan saya masuk ke dalam kamarnya.

Saya duduk di atas kasur yg digelar di atas lantai. Ersita masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yg bertebaran di atas sandaran kursi sofa. saya menatap tubuh Ersita yg membelakangiku. Saat itu dia mengenakan kaos ketat warna kuning yg memperlihatkan pangkal lengannya yg mulus.

Saya memandang pinggulnya yg ditutup oleh celana pendek. Tungkainya panjang serta pahanya bulat dan mulus. peler saya menjadi tegang memandang semua keindahannya, ditambah dngan khayalanku dulu, ketika saya memiliki kesempatan membelai-belai lembut kedua pangkal pahanya itu.

Kemudian Ersita duduk di sampingku. Lututnya ditekuk sehingga celananya agak naik ke atas membuat pahanya semakin terpampang lebar. Kali ini tanpa malu-malu saya menatapnya dngan sepengetahuan Ersita. Dia mencoba menarik turun agak ke bawah ujung celananya untuk menutupi pahanya yg sedang saya nikmati.

"Mas, mau bicara apa, sih? " , katanya tiba-tiba. Saat itu otakku berpikir cepat, saya takut kalau sebenarnya saya tidak punya bahan pembicaraan yg berarti dngannya. Soalnya dalam pikiranku saat itu cuma ada khayalan-khayalan untuk bercinta dngannya.

"Mmm. San. saya beberapa hari ini sering bermimpi, " , kataku berbohong. Entah dari mana saya mendapatkan kalimat itu, saya sendiri tidak tahu tetapi saya merasa agak tenang dngan pernyataan itu.

"Mimpi tentang apa, Mas? " , kelihatannya dia begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku. "Tentang kamu, San" , jawabku pelan. Bukannya terkejut, malah sebaliknya dia tertawa mendengar bualanku.

Sampai-sampai Ersita menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar terlalu keras. "Emangnya Mas, mimpi apa sama saya? " , tanyanya penasaran. "Ya. biasalah, kamu juga pasti tahu" , jawabku sambil tertunduk.

Tiba-tiba dia memegang tanganku. saya benar-benar terkejut lalu menoleh ke arahnya "Mas ini ada-ada saja, Mas kan sekarang udah punya yg di rumah, lagian saya juga kan udah punya pacar, masa masih mau mimpi-mimpiin orang lain? " "Makanya saya juga bingung, Santi. Lagian kalaupun bisa, saya sebenarnya nggak ingin bermimpi tentang kamu, Santi" , jawabku pura-pura memelas.

Kita sama-sama terdiam. saya meremas jemari tangannya lalu perlahan saya mengangkat menuju bibirku. Dia memperhatikanku pada saat saya melabuhkan ciuman mesra ke punggung tangannya. saya menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dngan tubuhnya.

Saya memandangi wajahnya. Mata kita berpandangan. Wajahku perlahan mendekati wajahnya, mencari bibirnya, semakin dekat dan tiba-tiba wajahnya berpaling sehingga mulutku mendarat di pipinya yg mulus. Kedua tanganku kini bergerak aktif memeluk tubuhnya.

Tangan kananku menggapai dagunya lalu mengarahkan wajahnya berhadapan dngan wajahku. saya meraup mulutnya seketika dngan mulutku. Ersita menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku. "Mas. , cukup mas! " , tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku.

Saya menghentikan aksiku, lalu pura-pura meminta maaf kepadanya. "Maafkan saya, Santi. saya nggak sanggup lagi jika setiap malam memimpikan dirimu" , saya pura-pura menunduk lagi seolah-olah menyesali perbuatanku. "saya mengerti Mas, saya juga nggak bisa menyalahkan Mas karena mimpi-mimpimu itu. Bagaimanapun juga, kita pernah merasa deket Mas" , sepertinya Ersita memafkan dan memaklumi perbuatanku barusan.

Saya menatap wajahnya lagi. Ada semacam kesedihan di wajahnya cuma saja saya tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih kelihatan memerah bekas cumbuanku tadi. "saya juga ingin membantu Mas agar tidak terlalu memikirkanku lagi, tapi. " kalimatnya terputus.

Dalam hati saya tersenyum dngan kalimat "ingin membantu. " yg diucapkannya. "Santi, saya cuma ingin pergi berdua dnganmu, sekali saja. , sebelum kamu benar-benar menjadi milik Jemmi. Agar saya bisa melupakanmu" , kataku memohon.

"Kita kan sama-sama udah ada yg punya, Mas. , nanti kalau ketahuan gimana? " Nah, kalau udah sampai disini saya merasa mendapat angin. Kesimpulannya dia masih mau pergi dnganku, asal jangan sampai ketahuan sama Jemmi.

"Seandainya ketahuan. saya akan bertanggung jawab, Santi" , setelah itu saya memeluknya lagi. Dan kali ini dia benar-benar pasrah dalam pelukanku. Malah tangannya ikut membalas memeluk tubuhku. Telapak tanganku perlahan mengelus punggungnya dngan mesra, sementara bibirku tidak tinggal diam menciumi pipi lalu turun ke lehernya yg jenjang.

Ersita mendesah. saya menciumi kulitnya dngan penuh nafsu. Mulutku meraup bibirnya. Ersita diam saja. saya melumat bibirnya, lalu saya menjulurkan lidahku perlahan seiring mulutnya yg seperti mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga mulutnya.

Nafasnya mulai tidak teratur ketika lidahku memilin lidahnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk membelai buah dada nya. Perlahan telapak tanganku saya tarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Tanpa berhenti membelai, telapak tanganku kini udah berada pada sisi buah dada nya.

Saya benar-benar hampir tidak bisa menguasai birahiku saat itu. Apalagi saya udah sering membayangkan kesempatan seperti saat ini terulang lagi bersamanya. Kini telapak tanganku udah berada di atas gundukan daging di atas dadanya.

Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, justru yg seperti ini yg paling indah menurutku. Pada saat tanganku mulai meremas buah dada nya yg sebelah kanan, tangan Ersita mencoba menahan aksiku.

Payudara nya masih kencang dan padat membuatku semakin bernafsu untuk meremas-remasnya. "Mas, jangan sekarang Mas. Santi takut. " , katanya berulang kali. saya juga merasa tindakanku saat itu betul-betul nekat, apalagi pintu kamar masih terbuka setengah.

Jangan-jangan ada orang lain yg ngeliat perbuatan kita. Wah, bisa gawat jadinya. saya akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana. saya bukanlah tipe laki-laki yg suka terburu-buru dalam berbagai hal, khususnya dalam masalah percintaan.

Saya kini duduk di kursi sofa menghadap Ersita, sedangkan Ersita masih di atas kasur sambil memperbaiki rambut dan kaosnya kuningnya yg agak kusut. "Mas, mau ngajak Santi ke mana, sih" , Ersita menatap wajahku.

"Pokoknya tempat di mana tidak ada orang yg bisa mengganggu ketenangan kita, Santi" , jawabku sambil memandang permukaan dadanya yg baru saja saya remas-reMas. Ersita duduk sambil bersandar dngan kedua tangan di belakang untuk menahan tubuhnya.

Payudara nya jadi kelihatan menonjol. saya memandang nakal ke arah buah dada nya sambil tersenyum. Kakinya diluruskan hingga menyentuh telapak kakiku. "Tapi kalau ketahuan. Mas yg tanggung jawab, yaa. " , katanya mencoba menuntut penjelasanku lagi.

Saya mengangguk. "Terus kapan jalan-jalannya, Mas? " , "Gimana kalo besok sore jam 4, besok kan Jumat, bisa pulang lebih awal kan? " , tanyaku. "Ketemu di mana? " , tanyanya penasaran.

"Kamu telepon saya, kasih tahu kamu lagi dimana saat itu, lalu saya akan menjemputmu di sana, gimana? " , tanyaku lagi. Dia tersenyum menatapku, "Wah, Mas ternyata pintar banget untuk urusan begituan. " saya tertawa.

"Tapi saya nggak mau kalau Mas nakalin saya kayak dulu lagi! " tegasnya. saya terkejut namun pura-pura mengiyakan, soalnya tadi saya merasa besok saya udah bisa menikmati kehangatan tubuh Ersita seperti dulu lagi.

Cerita Sex Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang

Makanya besok sengaja saya memilih waktu sore hari karena saya ingin mengajaknya menginap, kalau dia mau. Namun saya diam saja, yg penting dia udah mau saya ajak pergi, tinggal penyelesaiannya saja.

Lagian ngapain dia mesti minta tanggung jawab, seandainya saya tidak berbuat apa-apa dngannya, pikirku lagi. Ah, lihat besok sajalah. jam 3 siang, akhirnya saya harus kembali ke kantorku, di samping memang Ersita juga meminta saya segera pulang karena dia juga takut kalau tiba-tiba Jemmi memergoki kita sedang berdua di kamar.

Namun sebelum pulang saya masih sempat menikmati bibir Ersita sekali lagi waktu berdiri di samping pintu. saya malah sempat menekan tubuh Ersita hingga punggungnya bersandar di dinding. Kesempatan ini saya gunakan untuk menekan peler saya yg sedari tadi butuh penyaluran ke selangkangannya.

Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena situasinya memang tidak memungkinkan. Di kantor. , di rumah. saya selalu gelisah. peler saya senantiasa menegang membayangkan apa yg telah dan akan saya lakukan terhadap Ersita nanti.

Keesokan harinya, disaat saya menunggu tibanya saat bertemu, saya merasa waktu berjalan begitu lambat. Hingga jam 5 sore, seperti waktu yg telah kita sepakati kemarin, saya sedang menanti-nanti telepon dari Ersita.

Saya mulai gelisah ketika 15 menit telah lewat, namun Ersita belum juga meneleponku. saya mulai menghitung detik-detik yg berlalu hingga hampir setengah jam, dan tiba-tiba handphoneku berbunyi. Seketika saya mengangkat telepon itu.

Dari seberang sana saya mendengar suara Ersita yg sangat saya nanti-nantikan. Ersita meminta maaf sebelumnya, karena kesibukannya hari itu tidak memungkinkan baginya untuk pulang dari kantor lebih awal. Banyak pekerjaannya yg menumpuk, karena kemarin dia tidak masuk ke kantor.

Saat itu dia memintaku untuk menjemputnya di sebuah wartel dekat pertigaan di seberang kantornya. saya langsung menyambar kunci mobil, lalu keluar dari kantorku dan bergegas menuju wartel tempat di mana Ersita sedang menungguku.

Saya memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama berselang saya ngeliat Ersita keluar dari wartel, dngan memakai kaos ketat warna orange bertuliskan Mickey Mouse (tokoh favoritnya) di bagian dadanya, dipadukan celana jeans warna abu-abu.

Blazer kerjanya telah dia lepas, dan ditenteng bersama tas kerjanya. saya masih ingat, dia memang selalu tampil ke kantor dngan pakaian casual setiap hari Jumat. Ersita langsung naik ke atas mobilku, setelah memastikan tidak ada orang lain yg mengenalinya di tempat itu.

Saya tersenyum memandangnya. Ersita kelihatan begitu cantik hari ini. Bibirnya tidak dipoles dngan lipstik merah seperti biasanya. dia cuma menyapukan lipsgloss tipis, yg membuat jantungku semakin deg-degan. saya segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol.

Selama di perjalanan, saya dan Ersita bercerita tentang berbagai hal, termasuk Jemmi dan kehidupan keluargaku. Sesampainya di Ancol saya mengajak Ersita untuk makan di sebuah rumah makan di tepi laut yg nuansa romantisnya sangat terasa.

Tanpa canggung lagi saya memeluk pinggang Ersita, pada saat kita memasuki rumah makan tersebut. Ersita juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Setelah memesan makanan dan minuman, saya memeluknya lagi. Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yg terbuka.

Suasana lesehan di rumah makan itu, yg ruangannya disekat-sekat menjadi beberapa tempat dngan pembatas dinding bilik yg cukup tinggi, membuat saya bisa bertindak leluasa kepada Ersita. "Tadi malam mimpi lagi, nggak? " , tanyanya memecah keheningan.

"Nggak, tapi saya sempat gelisah nggak bisa tidur karena terus membayangkanmu" , jawabku tanpa malu-malu. Ersita tertawa, sambil tangannya mencubit pinggangku. Hari udah menjelang malam ketika kita meninggalkan tempat itu.

Setelah berputar-putar di sekitar lokasi pantai, akhirnya saya memutuskan untuk menyewa sebuah kamar pada sebuah cottages di kawasan Ancol. Semula Ersita menolak, karena dia takut kalau kita tidak bisa menahan diri.

Saya akhirnya meyakinkan Ersita bahwa sebenarnya saya cuma ingin berdua saja dngannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja. Akhirnya Ersita mengalah. Ketika kita telah berada di dalam kamar cottages itu, Ersita terlihat jadi pendiam.

Dia duduk di atas kursi memandang ke arah laut, sementara saya rebahan di atas tempat tidur. saya mencoba mencairkan suasana, dngan kembali bertanya mengenai kesibukan pekerjaannya hari itu. Selama saya bertanya kepadanya, dia cuma menjawab singkat dngan kata-kata iya dan tidak.

Cuma itu yg keluar dari mulutnya. "Mas, pasti kamu menganggap saya cewek murahan, yaa. kan? " , akhirnya Ersita mau mulai membuka pembicaraan juga. Ternyata, dngan mengingat statusnya saat ini sebagai tunangan Jemmi, Ersita masih belum bisa menerima perlakuanku yg membawanya ke dalam cottages ini.

Namun saya tidak menyesal karena dalam pikiranku sebenarnya dia udah tahu apa yg akan terjadi, sejak kejadian kemarin siang di kamarnya. Tinggal bagaimana caranya saya bisa mengajaknya bercinta tanpa ada pemaksaan sedikitpun.

"Santi, saya udah bilang sejak kemarin kalau saya ingin berduaan saja bersamamu, sebelum Jemmi benar-enar menikahi kamu. saya cuma ingin memelukmu tanpa ada rasa takut, itu saja. Dan saya rasa di sinilah tempatnya" , jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya.

"Tetapi, apa Mas sanggup untuk tidak melakukan yg lebih dari itu? " , Ersita menatapku dngan sorotan mata tajam. "Kalau kamu gimana? " , saya malah balik bertanya. "saya tanyam, kok malah balik nanya ke saya sih? " , dia bertanya dngan nada agak ketus.

"saya sanggup, Santi" , tegasku. Akhirnya dia tersenyum juga. Ersita lalu berjalan ke arahku menuju tempat tidur lalu duduk di sampingku. saya lalu merangkul tubuhnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.

"Janji ya, Mas. ! " , ujarnya lagi. saya mengangguk. Kini saya memeluk tubuh indah Ersita dngan posisi menyamping, sedang Ersita rebah menghadap ke atas langit-langit kamar. saya mencium pipinya, sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya.

Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. saya memandangi wajahnya yg manis, hidungnya yg mancung, lalu bibirnya. saya tidak tahan untuk berlama-lama menunggu, sehingga akhirnya saya memberanikan diri untuk mencium bibirnya.

Saya melumat bibir tipis itu dngan mesra, lalu saya mulai menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Cukup lama saya mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kita berdua menjadi tersengal-sengal tidak beraturan.

Sesaat kemudian, ciuman kita terhenti untuk menarik nafas, lalu kita mulai berpagutan lagi. dan lagi. Tangan kiriku yg bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Ersita, kini mulai saya aktifkan. saya membelai, meremasi pangkal lengannya yg terbuka.

Saya membuka telapak tanganku, sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil tetap membelai lembut pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu kulit putih di lehernya seiring telapak tanganku meraup bukit indah buah dada nya.

Ersita menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya, disaat lidahku menjulur, menjilat, membasahi, menikmati batang lehernya yg jenjang. "Mas, jangan. ! " , Ersita mencoba menarik telapak tanganku yg kini sedang mereMas, menggelitik buah dada nya.

Saya tidak peduli lagi. Lagi pula dia juga terlihat nya tidak sungguh-sungguh untuk melarangku. cuma mulutnya saja yg seolah melarang, sementara tangannya cuma sebatas memegang pergelangan tanganku, sambil tetap membiarkan telapak tanganku terus mengelus dan meremas toket nya yg mulai mengeras membusung.

Suasana angin pantai yg dingin di luar sana, sangat kontras dngan keadaan di dalam kamar tempat kita bergumul. saya dan Ersita mulai merasa kegerahan. saya akhirnya membuka kaosku sehingga bertelanjang dada.

"Santi, Mas sangat ingin ngeliat buah dada mu, yg. " , ujarku sambil mengusap bagian puncak puting buah dada nya yg menonjol. Ersita kembali menatapku tajam. Mestinya saya tidak perlu memohon kepadanya karena saat itupun saya udah membelai dan meremas-remas buah dada nya.

Tetapi entah mengapa saya lebih suka jika Ersita yg membuka kaosnya sendiri untukku. "Tapi janji Mas yaa. , cuma yg ini aja" , katanya lagi. saya cuma mengangguk, padahal saya tidak tahu apa yg mesti saya janjikan lagi.

Ersita akhirnya membuka kaos ketat warna orange-nya di depan mataku. saya terkagum-kagum ketika menatap dua gundukan daging di dadanya, yg masih tertutup oleh sebuah berwarna bra berwarna hitam. payudara itu begitu membusung, menantang.


Cerita seks Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang
  • Bukit-bukit di dada Ersita naik turun seiring dngan desah nafasnya yg memburu. Sambil berbaring Ersita membuka pengait bra di punggungnya. Punggungnya melengkung indah. saya menahan tangan Ersita ketika dia mencoba untuk menurunkan tali bra-nya dari atas pundaknya.
  • Justru dngan keadaan bra-nya yg longgar karena tanpa pengait seperti itu, membuat buah dada nya semakin menantang. payudara nya sangat putih kontras dngan warna bra-nya, sangat terawat dan sangat kencang, seperti yg selama ini selalu saya bayang-bayangkan.
  • " payudara mu masih tetap bagus sekali. Santi, kamu pintar merawat, yaa. " , saya mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya. "Pantes si Jemmi jadi tergila-gila sama dia, " , pikirku.
  • Lalu, perlahan-lahan saya menarik turun cup bra-nya. Mata Ersita terpejam. Perhatianku terfokus ke puting susunya yg berwarna merah kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar, namun ujung-ujung puncaknya begitu runcing dan kaku.
  • Saya mengusap putingnya lalu saya memilin dngan jemariku. Ersita mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi buah dada nya. "Egkhh. " , rintih Ersita ketika mulutku melumat puting susunya. saya mempermainkan dngan lidah dan gigiku.
  • Sekali-sekali saya menggigit lembut putingnya, lalu saya hisap kuat-kuat sehingga membuat Ersita menarik, menjambak rambutku. Puas menikmati toket yg sebelah kiri, saya mencium toket Ersita yg satunya, yg belum sempat saya nikmati.
  • Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Ersita. Sambil menciumi buah dada Ersita, tanganku turun membelai perutnya yg datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut Ersita.
  • Saya membelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum saya memutuskan untuk meraba bagian memek nya yg masih tertutup oleh celana jeans ketat yg dikenakan Ersita. Secara tiba-tiba, saya menghentikan kegiatanku, lalu berdiri di samping ranjang.
  • Ersita tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika saya membuka pantalon warna hitam yg saya kenakan. Sengaja saya membiarkan lampu kamar cottage itu menyala terang, agar saya bisa ngeliat secara jelas detil dari setiap inci tubuh Ersita yg selama ini sering saya jadikan fantasi seksualku.
  • Saya masih berdiri sambil memandang tubuh Ersita yg tergolek di ranjang, menantang. Kulitnya yg putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yg dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yg sempurna.
Puas memandangi tubuh Ersita, lalu saya membaringkan tubuhku di sampingnya. saya merapikan untaian rambut yg menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Ersita. saya membelai lagi buah dada nya.

Saya mencium bibirnya sambil saya masukkan air liurku ke dalam mulutnya. Ersita menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans-nya yg memang agak longgar.

Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Ersita yg masih tertutup celana dalamnya. Ersita menahan tanganku, ketika jari tengah tanganku membelai permukaan celana dalamnya tepat diatas memek nya. dia telah basah.

Saya terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yg paling pribadi pada tubuh Ersita. Pinggul Ersita perlahan bergerak ke kiri. , ke kanan. dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yg dialaminya.

"Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas. " , ujarnya perlahan sambil menatap sayu ke arahku. Matanya yg sayu ditambah dngan rangsangan yg tengah dialaminya, menambah redup bola matanya. Sungguh, saya semakin bernafsu ngeliat nya.

Saya menggeleng lalu tersenyum, bahkan saya malah menyuruh Ersita untuk membuka celana jeans yg dipakainya. Tangan kanan Ersita berhenti pada permukaan kancing celananya. dia kelihatan ragu-ragu. saya lalu berbisik mesra ke telinganya, kalau saya ingin memeluknya dalam keadaan telanjang seperti yg selama ini senantiasa saya mimpikan.

Ersita lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting celana jeans-nya. Celana dalam hitam yg dikenakannya begitu mini sehingga rambut-rambut pubis yg tumbuh di sekitar memek nya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya.

Saya membantu menarik turun celana jeans Ersita. Pinggulnya agak dinaikkan ketika saya agak kesusahan menarik celana jeans itu. Posisi kita kini sama-sama tinggal mengenakan celana dalam. Tubuhnya terlihat semakin seksi saja.

Pahanya begitu mulus. Memang harus saya akui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dngan sex appeal. Ersita menarik selimut untuk menutupi permukaan tubuhnya. saya beringsut masuk ke dalam selimut lalu memeluk erat tubuh Ersita.

Kita berpelukan. saya menarik tangan kirinya untuk menyentuh kepala peler saya. Dia terlihat terkejut ketika mendapatkan peler saya yg tanpa penutup lagi. Memang, sebelum saya masuk ke dalam selimut, saya sempat melepaskan celana dalamku tanpa sepengetahuan Ersita.

Saya tersenyum nakal. "Occhh. " , Ersita semakin kaget ketika tangannya menyentuh peler saya yg telah tegak menegang. "Kenapa, Santi? " , saya bertanya pura-pura tidak mengerti. Padahal saya tahu dia pasti terkejut karena merasakan betapa telah kuat dan kokohnya peler saya saat ini.

Ersita tersenyum malu. Sentuhan peler saya di tangannya membuat Ersita merasa malu, tetapi hati kecilnya mau, ditambah sedikit rasa takut, mungkin. Kini, Ersita mulai berani membelai dan menggenggam peler saya.

Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang cerita seks, istri selingkuh cerita hot bokep Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang, kisah sex porno Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang

Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang


Belaiannya begitu mantap menandakan Ersita begitu piawai dalam urusan yg satu ini. "Tangan kamu semakin pintar yaa. , Santi" , ujarku sambil memandang tangannya yg mulai mengocok-ngocok lembut sekujur peler saya.

"Ya, mesti dong. , kan Mas yg dulu ngajarin Santi! " , jawabnya sambil cekikikan. Mendapat jawaban pertanyaan seperti itu, entah mengenapa hasrat birahiku tiba-tiba menjadi semakin liar. Namun saya tetap berusaha bertahan untuk sementara waktu, sebelum saya merasakan dia benar-benar siap untuk berpaducinta dnganku.

Sambil meresapi kenikmatan usapan-usapan yg saya rasakan di sepanjang kulit batang peler ku, jari-jemariku yg nakal mulai masuk dari samping celah celana dalam Ersita. Telapak tanganku langsung menyentuh bibir memek nya yg udah merekah basah.

Jari telunjukku membelai-belai sejumput daging kecil di dalam lepitan celahnya, sehingga Ersitapun semakin merasakan nikmat semata. "Kamu mau mencium peler saya nggak, Santi? " , tanyaku tanpa malu-malu lagi.

Ersita tertawa sambil mencubit batang peler ku. saya meringis. "Kalau punya Mas yg sekarang, kayaknya Santi nggak bisa? " , ujarnya. "Kenapa memangnya, apa bedanya punya Mas yg dulu dngan yg sekarang? " , tanyaku penasaran.

"yg sekarang kayaknya nggak muat di mulutku, soalnya rasanya tambah besar dari yg dulu. " , selesai berkata demikian Ersita langsung tertawa kecil. "Kalau yg dibawah, gimana? " , tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam lubang memek nya.

Ersita merintih sambil menahan tanganku. Tetapi jariku udah terlanjur tenggelam ke dalam liang senggamanya. saya merasakan liang memek nya berdenyut menjepit jariku. Oooch. , pasti nikmat sekali kalau saja peler saya yg diurut, pikirku.

Tiba-tiba, matanya memandang tajam ke arahku, dngan muka yg agak berkerut masam. "Kenapa, Santi, ada apa yg? " , saya bertanya sambil menarik tanganku dari liang memek nya. saya tahu dia marah, tetapi apa sebabnya.

? "Anak ini, kok aneh banget, jual mahal lagi" , pikirku. ". atau dia ingat Jemmi, sehingga tiba-tiba dia merasa bersalah? " ". terus ngapain dia mau saya cumbu sejak kemarin? " , saya masih penasaran dngan sikapnya yg tiba-tiba berubah.

"Mas kan udah janji untuk tidak melakukannya, kan? " , tiba-tiba Ersita berbicara. saya terdiam. "saya tadinya nggak mau kita masuk ke kamar ini, karena saya takut kita nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya lagi, Mas" , tambahnya memberikan pengarahan kepadaku.

"Bagaimanapun juga khusus untuk yg satu ini, Santi tidak dapat memberikan buat Mas lagi. Bukan cuma Mas yg nggak tahan, saya juga sebenarnya udah nggak tahan. saya nggak munafik, Mas. Tapi. kumohon, please. Mas mau mengerti posisiku sekarang" , sambil berkata demikian Ersita mencium keningku.

Saya tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dalam posisi yg udah sama-sama telanjang, kecuali Ersita yg masih mengenakan celana dalamnya, berdua di dalam sebuah kamar di tepi laut yg romantis, dapat dibayangkan apa sebenarnya yg bakal terjadi.

Tetapi kali ini tidaklah demikian. Bayanganku tentang kenikmatan saat bercinta dngan Ersita sirna udah, atau setidaknya tidak dapat saya rasakan saat ini. Tapi sampai kapan? saya jadi berpikiran untuk memaksanya saja melakukan persetubuhan, tetapi hal itu bertentangan dngan hati nuraniku.

Akhirnya saya cuma bisa pasrah dan diam. peler saya yg tadi saya rasakan telah tegang menantang, tiba-tiba menjadi lemas dalam genggaman tangan Ersita. Ersita meminta maaf kepadaku, menyadari kalau saya kecewa dngan pernyataannya.

Saya merasa udah tidak mungkin bisa untuk melanjutkan permainan cinta lagi. saya akhirnya meminta ijin kepada Ersita untuk mandi. Sungguh,. saya merasa kecewa sekali. Di dalam kamar mandi, saya lama terdiam.

Saya memandang tubuhku di depan cermin. Kemudian saya guyur tubuhku dngan air yg mengalir deras dari shower di atas kepalaku. saya ingin mendinginkan suhu tubuhku. Tiba-tiba, saya merasakan ada orang lain yg memelukku dari arah belakang.

Saya terkejut, namun cuma sesaat setelah menyadari, ternyata Ersitalah yg ada di belakangku. Dia tersenyum memandangku. "Ecchh. kamu Santi, jangan deket-deket acchh. , saya masih kesel nih! " , gumamku berpura-pura sambil mencoba membalas senyumannya.

"saya ingin mandi bersamamu, Mas,. boleh? " , pintanya manja. saya tidak menjawab permintaannya. saya langsung menarik tubuhnya untuk berhadapan dnganku. Masih di bawah guyuran air yg mengalir dari shower, saya menangkap lengannya, lalu memandang tajam ke arahnya.

Berulang kali tanganku mencoba mengusap wajah cantik sensualnya dari guyuran air. Rambutnya yg basah semakin menambah keerotisan wajahnya. dngan perlahan tanganku menangkap buah dada nya dan mengusap, meremas kuat.

Ersita meringis. Bukannya melarang, Ersita malah mengambil sabun, dan mulai menyabuni tubuhku. Mula-mula dari dada, ke belakang punggung lalu menuju ke bawah, ke batang peler ku. saya merasa aneh atas sikapnya yg berubah-ubah dan suka menggoda.

Diusapnya lembut batang peler ku yg sedikit demi sedikit mulai mengeras kembali. Tangannya yg penuh dngan busa sabun, begitu lembut mengocok batang peler ku sehingga saya merasa sangat nikmat.

Saya tidak tinggal diam, saya membalas menyabuni sekujur tubuh Ersita. saya mengikuti setiap gerakan yg dibuatnya terhadap tubuhku lalu saya mempraktekkan kepadanya. saya membalikkan tubuh Ersita, sehingga kini dia membelakangiku.

Sengaja saya memposisikan tubuhnya berada di depanku, agar saya dapat ngeliat bagian depan tubuhnya pada permukaan cermin di depannya. saya ngeliat ekspressi wajah Ersita pada permukaan cermin. Mata kita beradu pandang, sementara tanganku membelai-belai buah dada nya yg mulai mengeras.

Saya mempermainkan puncak-puncak putungnya dngan jemariku, sementara tanganku yg satunya mulai meraba bulu-bulu lebat di sekitar liang memek Ersita. dngan sedikit membungkukkan tubuh, saya meraba permukaan bibir memek Ersita.

Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yg mengeras terkena siraman air. batang peler ku yg kini udah siap tempur, berada dalam genggaman tangan Ersita. Sementara saya merasakan, celah memek Ersita juga udah mulai mengeluarkan cairan cinta yg meleleh melewati jemari tanganku yg kini sedang menyusuri lorong di dalamnya.

Saya membalikkan tubuh Ersita kembali, sehingga kini posisinya berhadap-hadapan dnganku. saya memeluk tubuh Ersita sehingga batang peler ku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggungnya, lalu turun meraba bukit-bukit pantatnya yg membulat indah.

Ersita membalas pelukanku dngan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Ersita. saya meremas dngan sedikit agak kasar, lalu saya mengangkat agak ke atas, agar batang peler ku berada tepat di depan gerbang memek nya.

Kaki Ersita kini tak lagi menyentuh permukaan lantai kamar mandi. Kaki Ersita dngan sendirinya mengangkang ketika saya mengangkat pantatnya. Meski agak susah namun saya tetap berusaha agar batang peler ku bisa masuk merasakan jepitan liang memek Ersita.

Saya merasakan kepala peler saya udah menyentuh bibir memek Ersita. saya menekan perlahan, seiring dngan menarik buah pantatnya ke arah tubuhku. Ersita menggeliat. saya merasa kesulitan untuk memasukkan batang batang peler ku ke dalam liang memek Ersita, karena peler saya yg terus-terusan basah terkena air shower.

Akhirnya, saya mengangkat tubuh Ersita ke luar dari kamar mandi. Bagaimanapun juga saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi terbukti tadi, Ersita cuma diam saja ketika saya berusaha menyusupkan batang peler ku ke liang senggamanya.

Pada saat saya membawanya menuju tempat tidur, Ersita melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. saya membaringkan tubuhnya di atas kasur. Lalu, denhan hati-hati tubuhku menyusul menimpa ke atas tubuhnya. kita tidak mempedulikan butiran-butiran air yg masih menempel di sekujur tubuh kita, sehingga membasahi permukaan kasur.

Saya menciumi lagi lehernya yg jenjang lalu turun melumat puting buah dada nya. Telapak tanganku terus membelai dan meremasi setiap lekuk dan tonjolan tubuh Ersita. saya kembali melebarkan kedua pahanya, sambil mengarahkan batang peler ku ke bibir memek Ersita.

Ersita mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yg semakin kuat. saya menatap mata Ersita penuh hasrat nafsu. Bola matanya seakan memohon kepadaku untuk segera memasuki tubuhnya.

"saya ingin bercinta dnganmu, Santi" , bisikku pelan, sementara kepala peler saya masih menempel di belahan liang memek Ersita. Kata-kataku yg terakhir ini ternyata membuat wajah Ersita memerah. Mungkin, ketika bersama Jemmi, dia jarang mendengar permintaan yg terlalu to the point begitu.

Saya bisa memastikan, Ersita agak malu mendengarnya. saya berhenti sesaat untuk menunggu jawaban permohonanku kepadanya, karena bagaimana pun saya tidak mau melakukan persetubuhan tanpa memperoleh persetujuan darinya. saya bukan tipe laki-laki yg demikian.

Bagiku berpaducinta adalah kesepakatan, sepakat berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan. Ersita menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. Bukan main rasa senangnya hatiku. Akhirnya. ". yes! ".

Saya berjanji akan memperlakukannya dngan hati-hati sekali, begitu yg ada dalam fikiranku. Kini saya berkonsentrasi penuh dngan menuntun batang peler ku yg perlahan mulai menyusup melesak ke dalam liang memek Ersita.

Mula-mula terasa seret memang, namun saya malah semakin menyukainya. Perlahan namun pasti, kepala peler saya membelah liang memek nya yg ternyata begitu kencang menjepit batang peler ku. Dinding dalam memek Ersita ternyata udah begitu licin, sehingga agak memudahkan peler saya untuk menyusup lebih ke dalam lagi.

Ersita memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku, hingga saya agak kesakitan. Namun saya tak peduli. "Mas, gede banget, occhh. " , Ersita menjerit lirih. Tangannya turun menangkap batang peler ku.

"Pelan maas. " , ujarnya berulang kali, padahal saya merasa saya udah melakukannya dngan begitu pelan dan hati-hati. Mungkin karena lubang memek nya tidak pernah lagi dimasuki batang peler seperti milikku ini.

Soalnya saya tahu pasti ukuran peler Jemmi, pacar Ersita tidaklah sebesar yg saya miliki. Makanya Ersita agak merasa kesakitan. Akhirnya batang peler ku terbenam juga di dalam memek Ersita.

Saya berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yg timbul akibat kontraksi otot-otot dinding memek Ersita. Denyutan itu begitu kuat, sampai-sampai saya memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yg begitu sempurna. saya melumat bibir Ersita sambil perlahan-lahan menarik batang peler ku,.

Untuk selanjutnya saya benamkan lagi, masuk. , keluar. , masuk. , keluar. saya meminta Ersita untuk membuka kelopak matanya. Ersita menurut. saya sangat senang ngeliat matanya yg semakin sayu menikmati batang peler ku yg keluar masuk di dalam memek nya.

"saya suka memek mu, Santi, memek mu masih tetap rapet, yg" , ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang memek Ersita masih terasa enak sekali. "Icchh. Mas ngomongnya sekarang vulgar banget" , balasnya sambil tersipu malu, lalu dia mencubit pinggangku.

"Tapi enak kan, yg? " , tanyaku, yg dijawab Ersita dngan sebuah anggukan kecil. saya meminta Ersita untuk menggoyangkan pinggulnya. Ersita langsung mengimbangi gerakanku yg naik turun dngan goyangan memutar pada pinggangnya.

"Suka batang peler ku, Santi? " , tanyaku lagi. Ersita cuma tersenyum. batang peler ku terasa seperti diremas-reMas. Masih ditambah lagi dngan jepitan liang senggamanya yg sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedot meluluh lantakkan otot-otot peler saya.

"Makin pintar saja dia menggoyang" , batinku dalam hati. "Occhh. " , saya menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. saya mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dngan dadanya, dngan bertumpu pada kedua tanganku.

Dngan demikian saya semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan batang peler ku ke dalam liang senggama Ersita. saya memperhatikan dngan seksama peler saya yg keluar masuk lincah di sana.

Dngan posisi seperti ini saya merasa begitu jantan. Ersita semakin melebarkan kedua pahanya, sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Ersita yg semakin tidak terkendali.

"Santii. enak banget, yg, kamu makin pintar, yg. " , ucapku merasa keenakan. "Kamu juga, Mas. , Santi juga enakk. " , , jawabnya agak malu-malu. Ersita merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan.

Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata-kata, "aduh. occhh. " , yg diucapkan terputus-putus. saya merasakan liang senggama Ersita semakin berdenyut sebagai pertanda Ersita akan mencapai puncak pendakiannya. saya juga merasakan hal yg sama dngannya.

Namun saya mencoba bertahan dngan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan, untuk menurunkan daya rangsangan yg saya alami. saya tidak ingin segera menyudahi permainan ini dngan tergesa-gesa. saya mempercepat goyanganku ketika saya menyadari Ersita hampir mencapai orgasmenya.

Saya meremas buah dada nya kuat-kuat, seraya mulutku menghisap dan menggigiti puting susu Ersita. saya menghisap dalam-dalam. "Occhh. Mas. " , jerit Ersita panjang. saya membenamkan batang peler ku kuat-kuat ke liang senggamanya hingga mencapai dasar rongga yg terdalam.

Ersita mendapatkan kenikmatan yg sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya mengejang. Kepalaku ditarik kuat-kuat hingga terbenam di antara dua bukit buah dada nya. Pada saat tubuhnya menghentak-hentak, ternyata saya merasa tidak sanggup lagi untuk bertahan lebih lama.

"Saanntii. aakuu. mau keluaarr. saayang. occhh. hh. " , jeritku. saya ingin menarik keluar batang peler ku dari dalam liang senggamanya. Namun Ersita masih ingin tetap merasakan orgasmenya, sehingga tubuhku serasa dikunci oleh kakinya yg melingkar di pinggangku.

Saat itu juga saya merasa hampir saja memuntahkan cairan hangat dari ujung peler saya yg hampir meledak. saya merasakan tubuhku bagaikan layang-layang putus yg melayang terbang, tidak berbobot. saya tidak sempat menarik keluar batang peler ku lagi, karena secara spontan Ersita juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya, berulang kali.

Mulutku yg berada di belahan dada Ersita menghisap kuat kulit putihnya, sehingga meninggalkan bekas merah pada disana. Telapak tanganku mencengkram toket Ersita. saya meraup semuanya, sampai-sampai Ersita merasa agak kesakitan.

Saya tak peduli lagi. Hingga akhirnya. plash. plash. plash. (8X), air mani ku akhirnya muncrat membasahi lubang sorganya. saya merasakan nikmat yg tiada duanya ditambah dngan goyangan pinggul Ersita pada saat saya mengalami orgasme.

Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Ersita. batang peler ku masih berada di dalam liang kenikmatan Ersita. Ersita mengusap-usap permukaan punggungku. "Kamu menyesal, Santi? " , ujarku sambil mencium pipinya.

Ersita menggeleng pelan sambil membalas membelai rambutku. saya tersenyum kepadanya. Ersita membalas. saya meyandarkan kepalaku di dadanya. waktu udah menunjukkan jam 9 malam dan saya mesti cepat pulang ke rumah, karena tadi saya tidak sempat membuat alasan untuk pulang terlambat.

Begitu pula dngan Ersita, yg saat itu telah memiliki kebiasan baru selayaknya calon pasangan suami istri, yaitu makan malam bersama Jemmi di rumah kost mereka. Sebelum berpisah, kita berciuman untuk beberapa saat.

Itu adalah ciuman kita yg terakhir. , percintaan kita yg terakhir. , sebelum akhirnya Jemmi menikahi Ersita, 2 bulan kemudian.
Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang
Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang, cerita seks , Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang cerita seks, istri selingkuh cerita hot bokep Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang, kisah sex porno Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Kepala Peler Dicium Calon Istri Orang

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com