Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar

Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar | Capek sekali badanku hari ini, seharian ini banyak sekali pekerjaan yang kuselesaikan, meski belum kelar semua rasanya puas juga menjalani kesibukan hari ini. Sore itu jam sudah hampir setengah enam sore, setelah membereskan berkas-berkas di ruangan aku siap pulang ke rumah, mobil Escudo hitamku sudah siap di tempat parkir mengantarku pulang.

Kulihat jalanan di depan kantor kagak macet, ternyata perkiraanku salah, kurang lebih 2 km dari kantor, jalanan macet total, yah sudahlah nikmati saja daripada menggerutu juga kagak akan ngurangin macet.

Kaca mobil kututup kunyalakan ac dan kuputar siaran radio di mobil, cari-cari channel kagak ada yang bagus, akhirnya ketemu channel musik slowrock, wah asyik juga daripada bengong. Lokasi kantorku kebetulan deket dengan jajaran pabrik-pabrik, dan jam segitu rupanya macet angkutan umum yang mencari penumpang, tiba-tiba ditengah kemacetan jalanan kulihat didepan sebuah toko ada seorang perempuan yang manis sekali, kulitnya putih, tingginya sekitar 165 cm dengan menggunakan seragam pabrik biru-biru ditutup blazer hitam terbuka yang kelihatan ketat keliatan dadanya begitu menyesakkan baju seragamnya, untuk ukuran karyawan pabrik, cewek itu terlalu cantik, meski bajunya begitu sederhana nggak sebanding dengan kecantikannya.

Kuperhatikan dengan seksama, dia kelihatan memandangku dan tersenyum tipis menatapku, akupun tersenyum memandangnya, tiba-tiba aku dikagetkan suara klakson mobil dibelakangku, cepat-cepat kutancap mobilku berhubung jalan didepan sudah lancar sekitar 30 meter ke depan.

Menyesal sekali aku nggak bisa berhenti waktu itu, kulihat di spion perempuan itu naik angkot di tiga mobil dibelakangku. Seandainya saja? Sekira 200 meter jalan lancer, tiba-tiba kemacetan datang lagi, makin sumpek aja aku, akhirnya kulihat didepan ada toko kecil dengan tempat parkir yang agak luas, akhirnya lampu sent mobil kunyalakan kekiri dan aku berhenti, meski masih ada rokok, kuniatkan beli lagi sambil beli minuman ringan, sambil berharap perempuan di angkot belakang bisa ketahuan lagi jejaknya.

Alamak. Sambil minum teh botol dingin, tiba-tiba saja angkot dibelakang yang membawa perempuan itu berhenti, aku berharap. Tiba-tiba benar saja perempuan itu turun kemudian membayar ongkos ke sopir di depan.

Wah memang benar kalau sudah jodohku nih. Kulihat perempuan itu masuk juga ke dalam toko, sambil tersenyum tipis dia menuju ke penjual toko itu dan kulihat membeli lima buah indomie, susu dancow dan kopi instant lima sachet.

"Lho rumahnya dimana Mbak? " tanyaku sambil tersenyum. "Oh saya kos dibelakang toko ini, Mas, " jawabnya sambil mencari dompet dari dalam tasnya. "Nama saya Adi, boleh kenalan Mbak? " tanyaku sambil menjulurkan tangan buat bersalaman.

"Saya Raisina, Mas, " jawabnya sambil senyum dan menjabat tanganku. Busyet tangannya mulus sekali dan hangat sekali agak berkeringat. "Berapa Mbak? " kata Raisina pada penjual toko sambil mengeluarkan dompetnya.

"Dua puluh sembilan ribu limaratus Mbak "jawab penjual toko itu. "Ini saja Mbak, sekalian teh botol satu dan rokok dua bungkus" kataku sambil ngeluarin uang seratus ribu ke wanita penjaga toko.

"kagak usah Mas, saya ada kok" kata Raisina sambil ngeluarin dualembar uang duapuluh ribuan. "Ya sudah gini aja, uang ini bawa dulu, tapi saya minta dibikinin kopi dulu, sekalian kalau boleh main ke kos-mu sambil nunggu macet, boleh kagak? " Kataku sambil ngembaliin uangnya.

"Baiklah kalau begitu terima kasih, tapi tempatnya jelek lho Mas, kata Raisina sambil tersenyum. "Ah jangan gitu, saya malah kagak enak nih ngrepotin minta kopi segala" Kataku sambil nerima kembalian dari penjaga toko. "Mbak, saya titip mobil ya, sekalian ini buat parkirnya, " sambil kukasih wanita penjaga toko uang limaribu" "Wah makasih ya Mas" kata penjaga toko.

Raisina tersenyum dan mengajakku berjalan di gang sebelah toko itu, jalannya kecil cuman satu meter lebarnya, jadi kalau jalan kagak bisa bareng, harus satu-satu, Raisina jalan di depan dan aku dibelakangnya.

Kuperhatikan selain dadanya yang membusung, ternyata pinggul dan pantat Raisina benar-benar montok habis, sampai-sampai rok yang dipakainyapun membungkus ketat pantat indah itu serasi sekali dengan pinggul yang ramping, ditambah bau tubuhnya yang wangi meski kutahu itu bau parfum biasa.

Kira-kira duapuluh meter jalan, Raisina berhenti dan membuka pagar besi kecil disebuah rumah tanpa halaman dan ternyata didalamnya berjajar kamar-kamar kontrakan dengan pembatas tembok satu meter antar kamarnya. "Disini Mas, kamarku paling ujung, dekat dengan kamar mandi, silahkan masuk dulu Mas, aku mau panasin air sebentar buat bikin kopi" kata Raisina nerocos.

Kamarnya ternyata cukup bersih, di ruang tamu ada karpet biru, meja kecil ditengahnya dan diujung tv 14 inch terpasang rapi ditambah hiasan manik-manik yang bagus, gak sempat kulihat kamar tidurnya, tapi ngeliat ruang tamunya tertata rapi aku yakin kamar tidurnya pasti bersih juga.

Kuambil remote tv dan kunyalakan, pas berita sore, kuikuti perkembangan pencalonan presiden dari para politikus negeri ini, tapi aku lebih tertarik ngeliat foto dibelakangku ternyata foto Raisina menggunakan kebaya dan samping, cantik sekali.

Nggak dandan saja dia cantik, apalagi dalam foto itu belahan dada kebaya agak rendah, sehingga sembulan toket putihnya kelihatan seksi dan erotis sekali. "Itu fotoku waktu di kampung bulan lalu Mas, waktu acara kawinan sepupuku" kata Raisina sambil membawa dua gelas kopi.

"Memangnya kampungmu dimana? Dan lagi jadi apa waktu acara itu? " Tanyaku sambil membantu nurunin gelas kopi ditaruh di meja. "Kampungku di Cianjur Mas, waktu itu aku kebagian ngisi nari Jaipongan, yah gini-gini aku penari Jaipongan Mas, meski hanya sebatas acara di kampung aja" Kata Raisina sambil tersenyum manis.

"Pantesan tapi cantik juga kamu baju kebaya ya, lebih sensual dan menarik" Kataku sambil memandang wajah cantiknya. "Pantesan apa Mas? Masak orang kampung gini dibilangin sensual dan menarik" Kata Raisina.

"Pantesan tubuh kamu bagus dan terawat itu karena rajin jaipongan ya" "Ah Mas, bisa aja, " katanya sambil mencubit tanganku. "Silahkan Mas diminum kopinya, aku tinggal sebentar ya mau mandi dulu, udah gerah banget nih rasanya" Raisina masuk ke dalam kamarnya dan mengambil peralatan mandi, letak kamar mandi kontrakan itu ada di luar tapi masih dekat dengan kamar Raisina mungkin cuma sekitar 4 meter saja dari pintu kamarnya.

"Tunggu sebentar ya Mas, silakan diminum kopinya" Raisina berjalan dengan berkalungkan handuk putih dipundaknya, sementara rambutnya diikat ke belakang, keliatan cantik dan alami sekali. Sekitar sepuluh menit Raisina di dalam kamar mandi, kudengar suara, 'waduh gimana nih bajunya basah gini, ' akhirnya aku mendekat kamar mandi dan berteriak.

"Ada apa Ti? Ada yang bisa saya santu? " kataku sedikit cemas dan heran. "kagak apa-apa kok Mas, bajuku pada jatuh dan basah, Mas apa diluar ada orang lain? " Tanya Raisina sambil teriak.

"Ntar aku lihat dulu, ke pintu depan" kataku sambil berjalan ke pagar dan gang kecil menuju rumahnya. "kagak ada siapa-siapa" Kataku sambil mendekat ke pintu kamar mandi. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan kulihat Raisina hanya berbalut handuk putihnya, kulihat pundaknya putih sekali, sementara toket nya yang montok sedikit menyembul dan pahanya yang putih dan mulus sekali keliatan tertutup handuk kira-kira 20 cm diatas lututnya, wah aku jadi kaget sekali dan tiba-tiba Raisina menengok dari belakang pintu dan berlari menuju kamarnya.

"Sorry ya Mas, bajuku pada basah semua, aku ganti baju dulu ya, " kata Raisina sambil berlari dengan tubuh mulus terbalut handuk. ngeliat pemandangan yang menggairahkan itu, mengakibatkan otot dalam celanaku berdenyut-denyut, dan sedikit mengembang, 'gile bener, tubuhnya montok bener'.

Cerita Sex Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar

Kataku dalam hati, sambil masuk ke kontrakannya dan ngeliat -lihat lagi foto sensualnya. "Maaf ya Mas, sebenarnya aku malu tadi, " kata Raisina sambil duduk di sampingku, Raisina sore itu memakai kaos kuning dan bawahan celana strit hitam ketat sebatas lutut, namun kaos panjangnya menutupi bagian bawah sampai 10 cm diatas lutut.

Malam itu kita hanya ngobrol saja sampai jam delapan malam, dari obrolan itu kutahu kalau Raisina sudah hampir setahun bekerja, pernah kuliah d-1 bagian Sekretaris dan sekarang bekerja di bagian administrasi keuangan sebuah pabrik, dan kutahu bahwa Raisina sudah punya pacar di kampungnya, namun orangtuanya kurang setuju.

"Jangan kapok main ya Mas, " kata Raisina berharap. "Justru aku yang berharap boleh main kesini lagi kalau kamu kagak keberatan, " kataku sambil memakai sepatu, sambil berjalan pulang kuberikan kartu namaku.

"Kalau ada apa-apa telpon aja, " kataku sambil bersalaman, perlahan kuremas tangan halusnya dan Raisina kelihatan malu dan tertunduk. "Daah" aku pamitan dan Raisina mengantarkan aku sampai ke tempat parkir.

Setelah perkenalan itu, kurang lebih dua bulan, kami hanya bersahabat saja, bahkan Raisina menyatakan kekaguman karena aku kagak pernah bertindak nggak sopan, meski kami sering pulang sampai jam 10 malam, paling hanya berpegangan tangan saja, entahlah mungkin lama-kelamaan dia mulai sayang, meski sudah kuceritakan bahwa aku sudah beristri dan punya seorang anak.

Hingga suatu hari, aku masih ingat itu hari Rabu, dia menelpon ke hp-ku, "Mas, aku pengen ngobrol bisa kagak, sore ini jemput aku ya? " kata Raisina di telepon.

"Oke, emangnya ada apa? " Tanyaku. "Yah pokoknya nanti aja deh, aku mau cerita, udah dulu ya, sampai nanti di tempat biasanya, " Raisina menutup telponnya. Tepat jam 16.

30 aku meninggalkan kantor, kulihat dari kejauhan Raisina sudah menunggu dan sedikit melambaikan tangan kegirangan. Raisina masuk ke mobilku dan tersenyum. "Mas, kita jangan pulang dulu ya, aku pengen cerita banyak dan menenangkan hatiku, " kata Raisina sambil menatapku.

"Oke, kita jalan-jalan ke Ciater aja ya, disana kita bisa berendam air panas sambil ngobrol, " ajakku sambil terpikir ada kolam renang yang memang cukup nyaman untuk berendam di malam hari.

"Oke, kayaknya asyik juga tuh, " Kata Raisina mengiyakan. Aku menelepon ke rumah, dan bilang ada pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan, kalau ada apa-apa ngebel aja ke kantor, kebetulan aku sudah setting teleponku tiga kali kring di-forwardkan ke hp-ku.

"Kamu ada masalah apa, kok kelihatan kusut begitu? " kataku sambil mencubit dagu Raisina. "kagak tahu kenapa aku pengen cerita masalahku ke Mas, kayaknya aku tenang kalau udah ada di sampingmu Mas, " kata Raisina sambil memegang lenganku.

Posisi mobilku memang agak susah untuk berdekatan, hingga akhirnya Raisina hanya bisa memegang lenganku saja. Sambil sedikit berkaca-kaca, Raisina menceritakan bahwa pacarnya di kampung sudah memutuskan hubungan dengannya. Selama di perjalanan aku banyak kasih nasehat dan pengertian kepadanya, dan diapun kelihatan lebih tenang.

Sampai di Ayam Goreng Brebes, Lembang aku memarkirkan mobilku. "Kita makan dulu yuk, " ajakku. Berhubung tempat parkirnya penuh, aku agak jauh memarkir mobilku, dan baru kali ini Raisina berani berjalan disampingku sambil memeluk pinggangku, akupun akhirnya merapatkan tubuh dan memeluk pundaknya sambil menuju ke tempat makan.

Menuju ke Ciater, diperjalanan Raisina memandangku terus dan tiba-tiba saja bibirnya mengecup pipiku, aku agak gugup namun menikmati juga, sambil sesekali kuremas tangan halusnya. Wah mau kagak mau banyaknya rangsangan selama perjalanan mulai mempengaruhi adrenalinku juga.

Dan sesampai di Ciater ternyata suasananya hujan agak deras, jam sudah menunjukkan jam delapan malam, berendam di kolam renang rasanya kagak mungkin, pulang juga sudah telanjur, akhirnya kutawarkan ke Raisina.


Cerita seks Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar
  • "Gimana kalau kita berendamnya di kamar aja? " Aku agak khawatir dia keberatan, tapi katanya, "Ya terserah Mas aja" kata Raisina. Di front room hotel, aku booking satu kamar yang ada bathtub buat berendam air panas, didepan meja frontroom Raisina masih memeluk pinggangku, kali ini terasa kelembutan dadanya menyentuh badanku, dan ini mau kagak mau berpengaruh pada otot pejal didalam celana dalamku.
  • Malam itu Ciater dingin banget, kabut turun tebal banget setelah hujan, hingga perjalanan menuju ke kamarpun harus perlahan, petugas hotel sudah menunggu di depan kamar dan membukakan pintu kamar.
  • "Silahkan Pak, silahkan Bu, apa ada yang dipesan? " kata petugas hotel ramah, mengira kami pasangan suami istri. "Sementara belum Mas, nanti saja kalau perlu saya telpon dari kamar, " kataku sambil memberi sedikit tips buat petugas hotel.
  • Raisina masuk ke kamar dan aku masih duduk di ruang tv, sambil mencari-cari chanel yang bagus, sambil melepas penat dua jam lebih di belakang kemudi. Tiba-tiba Raisina keluar dari kamar, alamak Raisina sudah berganti baju dengan celana pendek pink ketat dan kaos senam ketat putih polos pendek hingga kelihatan pusarnya, kulihat bayangan puting toket nya yang kecoklatan, tanpa dibungkus beha, pahanya putih dan mulus menantang, sementara pantatnya yang bahenol tercetak ketat di celananya dan dadanya benar-benar montok menantang.
  • "Ayo Mas, katanya mau berendam? Jangan liatin gitu dong, " Kata Raisina sambil duduk disampingku. "Oke, tapi aku kagak bawa baju berendam nih, " kataku sambil membuka baju kerjaku, aku yang sudah nggak kuat ngeliat pemandangan yang memancing birahi itu.
  • "Mas, badanmu kekar juga ya, "kata Raisina sambil memeluk lenganku dari samping, terasa toket montoknya melekat erat di lenganku. Perlahan kuusap paha putih Raisina dan tiba-tiba Raisina berdiri dan duduk di pangkuanku, akhirnya tubuh montok itu kupeluk sambil kuangkat kakinya kuletakkan pahanya yang putih, mulus dan hangat itu diatas pangkuanku.
  • Perlahan Raisina menatap mataku, kemudian memelukku erat sekali, terasa sekali kekenyalan toket montoknya, meski terhalang kaos tipis yang dipakainya, cukup lama Raisina menyembunyikan wajahnya di bahuku, kemudian dia berkata lirih.
  • "Mas, aku sayang kamu, aku takut kehilangan kamu Mas, " kubelai perlahan rambutnya, kurenggangkan pelukannya dan kutatap mata Raisina, dalam hitungan detik, bibir kami saling melumat pertama agak perlahan, sambil kunikmati kelembutan bibirnya, cukup lama kami beratraksi dengan bibir kami dan makin lama pagutan dan ciumannya makin buas, dan kamipun saling melumat bibir.
Perlahan ciuman kami agak melemah, lembut kuciumi lehernya, belakang telinga dan pundaknya, kukecup lembut tanpa suara, tangan kananku mendarat perlahan di dadanya, begitu padat, kenyal dan kencang, sementara tangan kiriku pelahan mengangkat kaos ketatnya.

Raisina menengadahkan wajahnya dan membusungkan dadanya sambil mengangkat tangannya, dan segera kulepas kaos ketatnya, betul-betul keindahan toket seorang wanita yang kulihat didepanku, kulitnya yang putih bersih tanpa cacat, ditambah sepasang toket yang montok, padat dan menantang, perlahan kujelajahi dan kusapu lembut gunung indah nan menantang itu, dan perlahan kuusap putingnya yang menonjol keras kecoklatan, mungkin dia sudah terangsang.

"Mas, pantatku kayak ada yang mengganjal nih, dibuka celananya ya Mas, biar kagak sakit, " kata Raisina. Aku berdiri dan Raisina membuka reslutingku, melepas ikat pinggangku dan menurunkan celanaku.

"Apa itu Mas? " kata Raisina sambil menutup matanya dengan jari yang masih terbuka. Otot pejalku yang sudah membesar dan mengeras sekali, tercetak jelas pada celana pendek katun yang ketat, perlahan kutarik tangan Raisina, kutempelkan tangannya menyusuri bonggol keras dari luar celana pendekku, perlahan dan lama-lama Raisina berinisiatif meremas penis ku dari luar celana pendekku.

Kubiarkan Raisina mengelus dengan jemarinya dan sesekali meremas, kadang pelan kadang agak kuat, mungkin dia mulai menikmati mainan barunya, sementara kunikmati aliran kenikmatan, sambil kulihat ekspresinya. "Gimana Ti? " kataku sambil menatap matanya.

"Mas, aku belum pernah melakukan seperti ini, tadinya malu sekali aku ngeliat nya, ternyata kontol cowok bisa segede ini ya? " katanya sambil tersipu. "Kalau kamu mau, kamu boleh buka celanaku" kataku.

Perlahan tangan halus itu menurunkan celana pendekku dan tiba-tiba penis ku yang sudah tegak dan berdiri keras seolah miniatur tugu monas, Raisina menatap gak berkedip ngeliat kontol ku, pelan jarinya mengelus batang kontol ku yang tegang seperti kayu, urat-urat yang menonjol dia telusuri perlahan, alamak nikmat sekali, dan garis urat di tengah-tengah bagian belakang ditelusurinya perlahan, penis ku berkedut-kedut dan tiba-tiba diremasnya kantong pelirku, sungguh kenikmatan yang luar biasa.

Kutarik Raisina untuk berdiri, kebelai pinggul indahnya, berputar kebelakang meremas bongkahan pantatnya yang bahenol, kupeluk dan kuusap erat punggungnya, perlahan kukecup lehernya, belakang telinganya dan pundaknya, kulihat dan kurasakan kulitnya merinding, Raisina mempererat pelukannya dan menempelkan ketat dadanya yang padat membusung ke dadaku, paduan antara kehangatan dan aliran birahi yang mengalir lewat kulitnya.

Raisina yang hanya tinggal memakai celana dalam tipis warna pink, menggoyangkan dan menempelkan ketat kontol ku yang sudah tegang membesar ke daerah bukit venusnya, meski masih terpisahkan celana dalamnya, namun kurasakan ada kelembaban dari balik celana dalamnya.

Kulihat mata sendu Raisina menikmati foreplay yang panjang malam itu, kelihatan dia sudah terangsang sekali, dari sorotan matanya dan pelupuk matanya yang agak sembab, serta toket nya yang kencang menantang dengan puting yang mengeras.

Kuraba celana dalamnya dan kuturunkan, Raisina membantu menurunkan celana dalamnya dan melempar dengan ujung kakinya, sambil kucium dan kulumat bibir seksinya, kujamah dan kuremas toket montoknya, dan serta merta kuangkat tubuh telanjang nan mulus itu ke kamar dan kutidurkan diatas kasur bersprei putih bersih.

Sambil tetap menciuminya, aku tidur merapatkan ke tubuhnya, kaki kuangkat dan kegesek-gesekkan diatas paha putihnya, sementara tanganku kembali meremas dadanya yang kian montok dan menggunung dengan puting susunya yang menonjol kecil kecoklatan.

Perlahan aku turun menciumi lehernya dan memutar-mutarkan lidahku ke gunung kembarnya bergantian, kusapu hingga basah dengan menyisakan puting, pada bagian akhir nanti, sementara tanganku menjelajah ke pangkal pahanya, menyibak rambut nonok nya yang halus menghitam itu, kuusap bibir nonok nya dan Raisina menggelinjangkan pinggulnya.

Kuperhatikan Raisina memejamkan matanya menikmati sentuhan dan rangsangan yang kuberikan, sementara tanpa sadar penis ku yang tegak dan keras, diremasnya perlahan dan kadang menguat saat rangsangan datang menguat. Kumainkan ujung jariku menyapu bibir nonok nya yang sudah membasah dan kusapu pelan belahan lubang nonok nya yang membasah, sambil kujilati putingnya dengan ujung lidahku bersamaan kuputar perlahan kelentitnya dengan ujung jari telunjukku, seirama antara jilatan lidahku di ujung putingnya dan usapan ujung jari telunjukku di ujung kelentitnya, serta merta Raisina menggoyangkan pantat dan pinggulnya, menggeleparkan dan membuka lebar pahanya dan membusungkan dadanya hingga kelihatan merangsang sekali, sambil menutup matanya dengan bibir yang membasah dan sedikit terbuka, sementara tangannya menggenggam erat sekali kontol ku yang masih mengeras dan berdenyut-denyut.

"Uuff mmaas, kau apakan tubuhku ini, " mulut Raisina mengerang menahan kenikmatan. Tubuhnya menggelinjang keras sekali, pahanya bergetar hebat dan kadang menjepit tanganku dengan erat saat jariku masih menyentuh kelentitnya, dan tiba-tiba penis ku dicengkeram dengan keras seolah mengajak untuk menikmati orgasmenya dalam foreplay itu.

Kuremas dengan irama perlahan toket nya yang tambah mengeras dan membusung itu dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku terjepit diantara kedua paha mulusnya, kontol ku diremasnya dan tangan satunya memelukku erat sementara paha dan kakinya menggelepar keras sekali hingga sprei putih itu berserakan gak karuan, orgasme pertama sudah dirasakannya.

Tanpa berhenti kumainkan pelan tanpa henti kelentitnya, dan mungkin sekarang Raisina sudah terangsang kembali. "Mas, tolong masukkan, aku ingin merasakannya sayang, " katanya sambil menghiba dan meringis menahan kenikmatan tiada tara yang dirasakannya.

Perlahan aku menaiki tubuhnya, pahaku menempel erat dipahanya yang mengangkang dan kepala penis ku menempel di kelentitnya menggantikan ujung jari telunjukku. Sambil kuciumi leher putihnya, pundak dan belakang telinganya, kepala penis ku bergerak-gerak mengelilingi bibir nonok nya yang hangat dan basah, kulihat Raisina merem melek menikmati benda pejal di bibir nonok nya, lidahnya menyapu bibirnya hingga membasah, dan wajahnya memerah dengan mata merem melek gak beraturan.

Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar cerita seks dewasa, cerita kisah bokep Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar, bacaan porno hot
Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar

Dengan perlahan akhirnya sedikit demi sedikit kumasukkan batang penis ku ke dalam nonok nya, saat kucoba menyelipkan kepala penis ku ke mulut nonok nya rasanya peret dan sulit sekali, kulihat Raisina sedikit meringis dan membuka mulutnya dan sedikit menjerit.

"Aah, " Namun akhirnya kepala penis ku sudah mulai masuk dan mulai kurasakan kehangatan nonok nya, perlahan kumasukkan sesenti demi sesenti, pada sekitar centimeter ke 4 menuju ke 5, Raisina tiba-tiba berteriak dan menjerit.

"Aduh Mas sakit sekali, " katanya, "Seperti ada yang menusuk dan nyerinya sampai ke perut, " katanya. "Aku cabut aja ya? " "Jangan, biarkan dulu kutahan rasa sakit ini, " Aku yang sudah merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit mulai kumasukkan lagi batang penis ku.

Kulihat Raisina meneteskan air mata, namun tiba-tiba dia menggoyangkan pantatnya dan tentunya akhirnya penis ku hampir seluruhnya masuk, kenikmatan yang belum pernah kurasakan, penis ku serasa digigit bibir yang kenyal, hangat, agak lembab dan nikmat sekali.

Akhirnya kamipun mulai menikmati hubungan badan ini. "Mas rasa sakitnya sudah agak berkurang, sekarang keluar masukkan penis mu Mas, rasanya nikmat sekali" Perlahan aku mulai mengayun batang penis ku keluar masuk ke nonok Raisina, kulihat tangannya diangkat dan memegang erat-erat kepalanya dan akhirnya menarik sprei tempat tidurnya, sementara pahanya dia kangkangin lebar-lebar dan mencari-cari pinggulku, hingga akhirnya kakinya melingkar di pantatku dan seolah meminta penis ku untuk dimasukkan dalam-dalam ke nonok nya.

Beberapa kali ayunan, akhirnya aku agak yakin dia sudah nggak begitu merasakan sakit di nonok nya, dan kupercepat ayunan penis ku di nonok nya. Raisina berteriak-teriak dan tiba merapatkan jepitan kakinya di pantatku, kepala menggeleng-geleng dan tangannya menarik kuat-kuat sprei tempat tidurnya, mungkin dia mau orgasme, pikirku.

Tiba-tiba tangannya memelukku erat-erat dan kakinya makin merapatkan jepitannya di pantatku, kurasakan toket besarnya tergencet dadaku, rasanya hangat dan kenyal sekali, aku diam sejenak dan kubenamkan penis ku seluruhnya di dalam nonok nya.

"Oh, mmas aku keluar. Ahh. Ahh. Ahh, " Aku merasakan nikmat yang amat sangat, penis ku berdenyut-denyut, rasanya aliran darah mengalir kencang di penis ku, dan aku yakin penis ku sangat tegang sekali dan begitu membesar di dalam nonok Raisina, sepertimya aku juga akan mengeluarkan air kejantananku.

Beberapa saat kemudian, kubuka sedikit jepitan kaki Raisina dipantatku, sambil kubuka lebar-lebar paha Raisina, kulihat ada cairan kental berwarna kemerah-merahan dari nonok Raisina, penis ku rasanya licin sekali dialiri cairan itu, dan akhirnya dengan cepat aku kayuh penis ku keluar masuk dari nonok Raisina, nikmat sekali rasanya.

Ada mungkin delapan sampai sembilan kayuhan penis ku di nonok Raisina, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam penis ku dan akhirnya. Croot. Croot. Croot. Croot. memek nya berdenyut-denyut menikmati aliran maniku yang hangat, sementara kurasakan batang kontol ku masih berdenyut-denyut nikmat, kubenamkan batang kontol ku dalam kehangatan nonok nya yang basah.

Kupandang wajahnya yang berkeringat, perlahan kusapu dengan tanganku dan kuciumi dengan penuh rasa sayang, akhirnya kamipun terkulai lemas dan Raisina memeluk tubuhku erat, tanpa mempedulikan cairan yang merembes keluar dari lubang nonok nya.

Ada lebih sejam kami tertidur dalam kenikmatan, dan selanjutnya berdua kita berendam dengan air hangat di bathtub, hingga badanpun terasa segar kembali. Setelah menikmati makan malam di cafeteria, akhirnya kamipun kembali ke kamar jam 12.

00 malam, mengulangi permainan dengan lebih ganas hingga jam 1 dinihari, kamipun tertidur tanpa busana, dan kupeluk tubuh telanjangnya dalam kehangatan selimut. Hingga esoknya kuputuskan untuk mengambil cuti sehari dan sebelum checkout jam 12 siang, kami masih menyisakan dua kali permainan di kamar tidur dan di bathtub.

Lain kali akan kuceritakan pengalamanku dengan Raisina di kampungnya saat aku mengantarnya mudik.
Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar
Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar, cerita seks , Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar cerita seks dewasa, cerita kisah bokep Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar, bacaan porno hot, kisah porno, kisah sex bokep, sex, Nonok Nya Berdenyut Dientot Kontol Besar

10
205

Tags cerita dewasa paling populer di blog ini: cerita seks, Cerita Dewasa, 17 Tahun, sex, Ngentot, Memek, Istri, selingkuh, Kontol, Entot, Mama, gangbang, tante, threesome, ABG, Binal, sexy, toket, payudara.
Aktifkan javascript lalu tekan F5, untuk membuka halaman
meng-klik link cerita secara normal
dan membuka gambar lebih besar.
Cerita dewasa seks terpanas, update setiap hari cerita terbaru Cerita seks dewasa ngentot memek isteri, perek, bispak.
http://cerita-dewasa-terpanas.blogspot.com